You are on page 1of 36

TUGAS PROFESI NERS

KEPERAWATAN ANAK
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK
DENGAN POLIOMYELITIS

OLEH
MESAKH BESSIE S.Kep

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NUSANTARA
KUPANG
2015

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN POLIOMYELITIS


I. Konsep Dasar
a. Definisi
Polio, kependekan dari poliomyelitis, adalah penyakit yang dapat merusak sistem
saraf dan menyebabkan paralysis. Penyakit ini paling sering terjadi pada anak-anak di
bawah umur 2 tahun. Infeksi virus ini mulai timbul seperti demam yang disertai panas,
muntah dan sakit otot. Kadang-kadang hanya satu atau beberapa tanda tersebut, namun
sering kali sebagian tubuh menjadi lemah dan lumpuh (paralisis). Kelumpuhan ini paling
sering terjadi pada salah satu atau kedua kaki. Lambat laun, anggota gerak yang lumpuh ini
menjadi kecil dan tidak tumbuh secepat anggota gerak yang lain. Poliomielitis adalah penyakit
menular yang akut disebabkan oleh virus dengan predileksi pada sel anterior massa kelabu
sumsum tulang belakang dan intimotorik batang otak, dan akibat kerusakan bagian susunan
syaraf tersebut akan terjadi kelumpuhan serta autropi otot. Poliomielitis atau polio, adalah
penyakit paralysis atau lumpuh yang disebabkan oleh virus. Agen pembawa penyakit ini,
sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV), masuk ketubuh melalui mulut, menginfeksi
saluran usus. Virus ini dapat memasuki aliran darah dan mengalir kesistem saraf pusat
menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan (paralysis).
b. Klasifikasi
1. Polio non-paralisis Polio non-paralisis menyebabkan demam, muntah, sakit perut, lesu,
dan sensitif. Terjadi kram otot pada leher dan punggung. Otot terasa lembek jika
disentuh.
2. Polio Paralisis Kurang dari 1% orang yang terinfeksi virus polio berkembang menjadi
polio paralisis atau menderita kelumpuhan. Polio paralisis dimulai dengan demam. Lima
sampai tujuh hari berikutnya akan muncul gejala dan tanda- tanda lain, seperti: sakit
kepala, kram otot leher dan punggung, sembelit/konstipasi, sensitif terhadap rasa raba.

Polio paralisis dikelompokkan sesuai dengan lokasi terinfeksinya, yaitu:


1) Polio Spinal Strain
Polio Spinal Strain polio virus ini menyerang saraf tulang belakang,
menghancurkan sel tanduk anterior yang mengontrol pergerakan pada batang tubuh
dan otot tungkai.
Meskipun strain ini dapat menyebabkan kelumpuhan permanen, kurang dari satu
penderita dari 200 penderita akan mengalami kelumpuhan. Kelumpuhan paling sering
ditemukan terjadi pada kaki. Setelah polio virus menyerang usus, virus ini akan
diserap oleh kapiler darah pada dinding usus dan diangkut ke seluruh tubuh. Polio
virus menyerang saraf tulang belakang dan motor neuron yang mengontrol
gerak fisik.
Pada periode inilah muncul gejala seperti flu. Namun, pada penderita yang tidak
memiliki kekebalan atau belum divaksinasi, virus ini biasanya akan menyerang
seluruh bagian batang saraf tulang belakang dan batangotak. Infeksi ini akan
mempengaruhi sistem saraf pusat dan menyebar sepanjang serabut saraf. Seiring
dengan

berkembangbiaknya

virus

dalam

sistem

saraf

pusat,

virus

akan

menghancurkan motor neuron. Motor neuron tidak memiliki kemampuan regenerasi


dan otot yang berhubungan dengannya tidak akan bereaksi terhadap perintah dari
sistem saraf pusat. Kelumpuhan pada kaki menyebabkan tungkai menjadi lemas.
Kondisi ini disebut acute flaccid paralysis (AFP). Infeksi parah pada sistem saraf
pusat dapat menyebabkan kelumpuhan pada batang tubuh dan otot pada dada dan
perut, disebut quadriplegia. Anak-anak dibawah umur 5 tahun

biasanya akan

menderita kelumpuhan 1 tungkai, sedangkan jika terkena orang dewasa, lebih sering
kelumpuhan terjadi pada kedua lengan dan tungkai.
2) Bulbar Polio
Polio jenis ini disebabkan oleh tidak adanya kekebalan alami sehingga batang
otak ikut terserang. Batang otak mengandung motorneuron yang mengatur
pernapasan dan saraf otak, yang mengirim sinyal ke berbagai otot yang mengontrol
pergerakan bola mata; saraf trigeminal dan saraf muka yang berhubungan dengan
pipi, kelenjar air mata, gusi, dan otot muka; saraf auditori yang mengatur
pendengaran; saraf glossofaringeal yang membantu proses menelan dan berbagai

fungsi di kerongkongan; pergerakan lidah dan rasa; dan saraf yang mengirim sinyal
ke jantung, usus, paru-paru, dan saraf tambahan yang mengatur pergerakan leher.
Tanpa alat bantu pernapasan, polio bulbar dapat menyebabkan kematian. Lima
hingga sepuluh persen penderita yang menderita polio bulbar akan meninggal ketika
otot pernapasan mereka tidak dapat bekerja. Kematian biasanya terjadi setelah terjadi
kerusakan pada saraf otak yang bertugas mengirim perintah bernapas ke paru-paru.
Penderita juga dapat meninggal karena kerusakan pada fungsi penelanan; korban
dapat tenggelam dalam sekresinya sendiri kecuali dilakukan penyedotan atau diberi
perlakuan trakeostomi untuk menyedot cairan yang disekresikan sebelum masuk ke
dalam paru-paru.
Namun trakesotomi juga sulit dilakukan apabila penderita telah menggunakan
paru-paru besi (iron lung). Alat ini membantu paru-paru yang lemah dengan cara
menambah dan mengurangi tekanan udara di dalam tabung. Kalau tekanan udara
ditambah, paru-paru akan mengempis, kalau tekanan udara dikurangi, paru-paru akan
mengembang. Dengan demikian udara terpompa keluar masuk paru-paru. Infeksi
yang jauh lebih parah pada otak dapat menyebabkan koma dan kematian.
Tingkat kematian karena polio bulbar
c.

Epidemologi
Selama 3 dekade pertama di abad ke 20-,80-90% penderita polio adalah anak balita,
kebanyakan dibawah umur 2 tahun. Tahun 1955, di Massachusett Amerika Serikat pernah
terjadi wabah polio sebanyak 2.771 kasus dan tahun 1959 menurun menjadi 139 kasus.
Hasil penelitian WHO tahun 1972-1982,di Afrika dan Asia Tenggara terdapat 4.214 dan
17.785 kasus. Dinegara musim dingin, sering terjadi epidemic dibulan Mei-Oktober,tetapi
kasus sporadic tetap terjadi setiap saat. Di Indonesia, sebelum perang dunia II, penyakit
polio merupakan penyakit yang sporadic-endemis, epidemi pernah terjadi di berbagai
daerah seperti Bliton sampai ke banda, Balikpapan, bandung Surabaya, Semarang dan
Medan Epidemi terakhir terjadi pada tahun 1976/1977 di Bali Selatan. Kebanyakan infeksi
virus polio tanpa gejala atau timbul panas yang tidak spesifik. Perbandingan asimtomatik
dan ringan sampai terjadi paralisis adalah 100:1 dan 1000:1.

Terjadinya wabah polio biasanya akibat:


a. Sanitasi yang jelek
b. Padatnya jumlah penduduk
c. Tingginya pencemaran lingkungan oleh tinja
d. Pengadaan air ber`sih yang kurang
Penularan dapat melalui:
a. Inhalasi
b. Makanan dan Minuman
c. Bermacam serangga seperti lipas dan lalat.
Penyebaran dipercepat bila ada wabah atau pada saat yang bersamaan dilakukan pula
tindakan bedah seperti tonsilektomi, ekstraksi gigi dan penyuntikan.
Walaupun penyakit ini merupakan salah satu penyakit yang harus segera dilaporkan ,
Namun data epidemiologi yang sukar didapat. Dalam salah satu symposium imunisasi
dijakarta (1979) dilaporkan bahwa:
1. Jumlah anak berumur 0-4 tahun yang tripel negative makin bertambah (10%)
2. Insiden polio berkisar 3,5-8/100.000 penduduk.
3. Paralytic rate pada golongan 0-14tahun dan setiap tahun bertambah dengan 9.000 kasus.
Namun, 10 tahun terakhir terjadi penurunan drastic penyakit ini akibat gencarnya
program imunisasi diseluruh dunia maupun Indonesia.
Mortalitas tinggi terutama pada poliomyelitis tipe paralitik, disebabkan oleh
komplikasi berupa kegagalan nafas, sedangkan untuk tipe ringan tidak dilaporkan adanya
kematian.Walaupun kebanyakan poliomyelitis tidak jelas /inapparent (90-95%);hanya 510% yang memberikan gejala poliomyelitis.

d. Etiologi
Penyebab poliomyelitis Family Pecornavirus dan Genus virus, dibagi 3 yaitu :
1. Brunhilde
2. Lansing
3. Leon ; Dapat hidup berbulan-bulan didalam air, mati dengan pengeringan /oksidan.
Masa inkubasi : 7-10-35 hari
Klasifikasi virus
Golongan: Golongan IV ((+)ssRNA)
Familia: Picornaviridae
Genus: Enterovirus
Spesies: Poliovirus
Secara serologi virus polio dibagi menjadi 3 tipe, yaitu:
-

Tipe I Brunhilde

Tipe II Lansing dan

Tipe III Leoninya


Tipe I yang paling sering menimbulkan epidemi yang luas dan ganas, tipe II kadang-

kadang menyebabkan wajah yang sporadic sedang tipe III menyebabkan epidemic ringan.
Di Negara tropis dan sub tropis kebanyakkan disebabkan oleh tipe II dan III dan
virus ini tidak menimbulkan imunitas silang.
Penularan virus terjadi melalui
1. Secara langsung dari orang ke orang
2. Melalui tinja penderita
3. Melalui percikan ludah penderita
Virus masuk melalui mulut dan hidung, berkembang biak didalam tenggorokan dan
saluran pencernaan, lalu diserap dan disebarkan melalui system pembuluh darah dan getah
bening

Resiko terjadinya Polio:


a) Belum mendapatkan imunisasi
b) Berpergian kedaerah yang masih sering ditemukan polio
c) Usia sangat muda dan usia lanjut
d) Stres atay kelelahan fisik yang luar biasa (karena stress emosi dan fisik dapat
melemahkan system kekebalan tubuh).
e. Patofisiologi
Virus hanya menyerang sel-sel dan daerah susunan syaraf tertentu. Tidak semua neuron
yang terkena mengalami kerusakan yang sama dan bila ringan sekali dapat terjadi penyembuhan
fungsi neuron dalam 3-4 minggu sesudah timbul gejala. Daerah yang biasanya terkena
poliomyelitis ialah :
1. Medula spinalis terutama kornu anterior
2. Batang otak pada nucleus vestibularis dan inti-inti saraf cranial serta formasio
retikularis yang mengandung pusat vital
3. Sereblum terutama inti-inti virmis
4. Otak tengah midbrain terutama masa kelabu substansia nigra dan kadang-kadang
nucleus rubra
5. Talamus dan hipotalamus
6. Palidum, dan
7. Korteks serebri, hanya daerah motorik
f. Manifestasi Klinis
Poliomyelitis terbagi menjadi empat bagian yaitu:
a) Poliomyelitis asimtomatis
Gejala klinis : setelah masa inkubasi 7-10 hari, tidak terdapat gejala karena daya
tahan tubuh cukup baik, maka tidak terdapat gejala klinik sama sekali.
b) Poliomyelitis abortif
Gejala klinisnya berupa panas dan jarang melebihi 39,5 derajat C, sakit
tenggorokkan, sakit kepala, mual, muntah, malaise, dan faring terlihat hiperemi. Dan
gejala ini berlangsung beberapa hari.

c) Poliomyelitis non paralitik


Gejala klinis : hampir sama dengan poliomyelitis abortif, gejala ini timbul beberapa
hari kadang-kadang diikuti masa penyembuhan sementara untuk kemudian masuk dalam
fase kedua dengan demam, nyeri otot.
Khas dari bentuk ini adalah adanya nyeri dan kaku otot belakang leher, tulang tubuh
dan anggota gerak. Dan gejala ini berlangsung dari 2-10 hari.
Poliomielitis non-paralitik (gejala berlangsung selama 1-2 minggu)
1. demam sedang
2. sakit kepala
3. kaku kuduk
4. muntah
5. diare
6. kelelahan yang luar biasa
7. rewel
8. nyeri atau kaku punggung, lengan, tungkai, perut
9. kejang dan nyeri otot
10. nyeri leher
11. nyeri leher bagian depan
12. kaku kuduk
13. nyeri punggung
14. nyeri tungkai (otot betis)
15. ruam kulit atau luka di kulit yang terasa nyeri

16. kekakuan otot.


d) Poliomyelitis paralitik
Gejala klinisnya sama seperti poliomyelitis non paralitik. Awalnya berupa gejala
abortif diikuti dengan membaiknya keadaan selama 1-7 hari. kemudian disusun dengan
timbulnya gejala lebih berat disertai dengan tanda-tanda gangguan saraf yang terjadi pada
ekstremitas inferior yang terdapat pada femoris, tibialis anterior, peronius. Sedangkan
pada ekstermitas atas biasanya pada biseps dan triseps.
Poliomielitis paralitik
1. demam timbul 5-7 hari sebelum gejala lainnya
2. sakit kepala
3. kaku kuduk dan punggung
4. kelemahan otot asimetrik
5. onsetnya cepat
6. segera berkembang menjadi kelumpuhan
7. lokasinya tergantung kepada bagian korda spinalis yang terkena
8. perasaan ganjil/aneh di daerah yang terkena (seperti tertusuk jarum)
9. peka terhadap sentuhan (sentuhan ringan bisa menimbulkan nyeri)
10. sulit untuk memulai proses berkemih
11. sembelit
12. perut kembung
13. gangguan menelan
14. nyeri otot

15. kejang otot, terutama otot betis, leher atau punggung


16. ngiler
17. gangguan pernafasan
18. rewel atau tidak dapat mengendalikan emosi
19. refleks Babinski positif.
g.

Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan laboratorium meliputi pemeriksaan darah, cairanserebrospinal dan isolasi
virus polio.
Pemeriksaan Lab lainnya :
a. Pemeriksaan darah
b. Cairan serebrospinal
c. Isolasi virus polio
2. Pemeriksaan radiologi

Penatalaksanaan Medis
1. Poliomielitis aboratif
a. Diberikan analgetik dan sedative
b. Diet adekuat
c. Istirahat sampai suhu normal untuk beberapa hari, sebaiknya dicegah aktifitas yang
berlebihan selama 2 bulan kemudian diperiksa neurskeletal secara teliti.
2. Poliomielitis non paralitik
a. Sama seperti aborif
b. Selain diberi analgetika dan sedative dapat dikombinasikan dengan kompres hangat
selama 15 30 menit, setiap 2 4 jam.
3. Poliomielitis paralitik
a. Perawatan dirumah sakit
b. Istirahat total

c. Selama fase akut kebersihan mulut dijaga


d. Fisioterapi
e. Akupuntur
f. Interferon
Poliomielitis asimtomatis tidak perlu perawatan. Poliomielitis abortif diatasi
dengan istirahat 7 hari jika tidak terdapat gejala kelainan aktifitas dapat dimulai
lagi. Poliomielitis paralitik/non paralitik diatasi dengan istirahat mutlak paling sedikit 2
minggu perlu pemgawasan yang teliti karena setiap saat dapat terjadi paralysis
pernapasan.
Fase akut :
a. Analgetik untuk rasa nyeri otot.
b. Lokal diberi pembalut hangat sebaiknya dipasang footboard (papan penahan pada
telapak kaki) agar kaki terletak pada sudut yang sesuai terhadap tungkai.
c. Pada poliomielitis tipe bulbar kadang-kadang reflek menelan terganggu sehingga dapat
timbul bahaya pneumonia aspirasi dalam hal ini kepala anak harus ditekan lebih
rendah dan dimiringkan kesalah satu sisi.
d. Sesudah fase akut : a. Kontraktur atropi dan attoni otot dikurangi dengan fisioterapy.
Tindakan ini dilakukan setelah 2 hari demam hilang.
Diagnostik Medis
Penyakit polio dapat didiagnosis dengan 3 cara yaitu :
1. Viral Isolation
Poliovirus dapat dideteksi dari faring pada seseorang yang diduga terkena penyakit
polio. Pengisolasian virus diambil dari cairan cerebrospinal adalah diagnostik yang
jarang mendapatkan hasil yang akurat.
Jika poliovirus terisolasi dari seseorang dengan kelumpuhan yang akut, orang
tersebut harus diuji lebih lanjut menggunakan uji oligonucleotide atau pemetaan
genomic untuk menentukan apakah virus polio tersebut bersifat ganas atau lemah.
2. Uji Serology
Uji serology dilakukan dengan mengambil sampel darah dari penderita. Jika pada
darah ditemukan zat antibody polio maka diagnosis bahwa orang tersebut terkena polio

adalah benar. Akan tetapi zat antibody tersebut tampak netral dan dapat menjadi aktif
pada saat pasien tersebut sakit.
3. Cerebrospinal Fluid ( CSF)
CSF di dalam infeksi poliovirus pada umumnya terdapat peningkatan jumlah sel
darah putih yaitu 10-200 sel/mm3 terutama adalah sel limfositnya. Dan kehilangan
protein sebanyak 40-50 mg/100 ml ( Paul, 2004 ).

h. Penatalaksanaan
Begitu penyakit mulai timbul, kelumpuhan sering kali tidak tertangani lagi karena
ketidakadaan obat yang dapat menyembuhkannya. Antibiotika yang biasanya digunakan
untuk membunuh virus juga tidak mampu berbuat banyak. Rasa sakit dapat diatasi dengan
memberikan aspirin atau acetaminophen, dan mengompres dengan air hangat pada otototot yang sakit.
1. Poliomielitis abortif
1) Diberikan analgesic dan sedative
2) Diet adekuat
3) Istirahat sampai suhu normal untuk beberapa hari, sebaiknya dicegah aktivitas yang
berlebihan selama 2 bulan kemudian diperiksa neuroskeletal secara teliti.
2. Poliomielitis non paralitik
1) Sama seperti abortif
2) Selain diberi analgesic dan sedative dapat dikombinasikan dengan kompres hangat
selama 15-30 menit, setiap 2 4 jam.
3. Poliomielitis paralitik
1) Perawatan dirumah sakit
2) Istirahat total
3) Selama fase akut kebersihan mulut dijaga
4) Fisioterafi
5) Akupuntur
6) Interferon
Poliomielitis asimtomatis tidak perlu perawatan. Poliomielitis abortif diatasi dengan
istirahat 7 hari jika tidak terdapat gejala kelainan aktivitas dapat dimulai lagi. Poliomielitis
paralitik/non paralitik diatasi dengan istirahat mutlak paling sedikit 2 minggu perlu
pengawasan yang teliti karena setiap saat dapat terjadi paralysis pernapasan.
Fase akut :
a. Analgetik untuk rasa nyeri otot.
b. Lokal diberi pembalut hangat sebaiknya dipasang footboard (papan penahan pada telapak
kaki) agar kaki terletak pada sudut yang sesuai terhadap tungkai.

c. Pada poliomielitis tipe bulbar kadang-kadang reflek menelan terganggu sehingga dapat
timbul bahaya pneumonia aspirasi dalam hal ini kepala anak harus ditekan lebih rendah
dan dimiringkan kesalah satu sisi.
Sesudah fase akut :
Kontraktur, atropi, dan attoni otot dikurangi dengan fisioterapi. Tindakan ini dilakukan
setelah 2 hari demam hilang.
i. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita poliomielitis antara lain :
a. Melena cukup berat sehingga memerlukan transfusi, yang mungkin diakibatkan erosi
usus superfisial.
b. Dilatasi lambung akut dapat terjadi mendadak selama stadium akut atau konvalesen
(dalam keadaan pemulihan kesehatan/ stadium menuju kesembuhan setelah serangan
penyakit/ masa penyembuhan), menyebabkan gangguan respirasi lebih lanjut.
c. Hipertensi ringan yang lamanya beberapa hari atau beberapa minggu , biasanya pada
stdium akut, mungkin akibat lesi pusat vasoregulator dalam medula.
d. Ulkus dekubitus dan emboli paru, dapat terjadi akibat berbaring yang lama di tempat
tidur, sehingga terjadi pembususkan pada daerah yang tidak ada pergerakan (atrofi otot)
sehingga terjadi kematian sel dan jaringan)
e. Hiperkalsuria, yaitu terjadinya dekalsifikasi ( kehilangan zat kapur dari tulang/ gigi)
akibat penderita tidak dapat bergerak.
f. Kontraktur sendi,yang sering terkena kontraktur antara lain sendi paha, lutut, dan
pergelangan kaki.
g. Pemendekan anggota gerak bawah, biasanya akan tampak salah satu tungkai lebih
pendek dibandingkan tungkai yang lainnya, disebabkan karena tungkai yang pendek
mengalami antropi otot.
h. Skoliosis, tulang belakang melengkung ke salah satu sisi, disebabkan kelumpuhan
sebagian otot punggung dan juga kebiasaan duduk atau berdiri yang salah.
i. Kelainan telapak kaki, dapat berupa kaki membengkok ke luar atau ke dalam.

j. Prognosis
Pasien dengan penyakit minor dan jenis nonparalitik dapat sembuh total, dan
kebanyakan orang dengan penyakit mayor yang lumpuh juga dapat kembali sembuh total. Kurang
dari 25 % dari orang-orang dengan polio yang hidup cacat.Meskipun Anda dapat sembuh
sepenuhnya dari gejala polio, polio meninggalkan beberapa kerusakan.
Seiring pertambahan usia, sistem saraf Anda mungkin menjadi kurang mampu
mengkompensasi kerusakan yang disebabkan polio, sehingga gejala secara bertahap dapat
muncul kembali. Hal ini dapat terjadi 15 atau 30 tahun setelah infeksi polio aktif. Gejala
berulang dari polio yang disebut post-polio syndrome.
k. Penularan
Virus masuk melalui mulut dan hidung lalu berkembang biak di dalam tenggorokan
dan saluran pencernaan atau usus. Selanjutnya, diserap dan disebarkan melalui sistem
pembuluh darah dan pembuluh getah bening.
Penularan virus terjadi secara langsung melalui beberapa cara, yaitu:
* fekal-oral (dari tinja ke mulut)
Maksudnya, melalui minuman atau makanan yang tercemar virus polio yang berasal dari
tinja penderita lalu masuk ke mulut orang yang sehat.
* oral-oral (dari mulut ke mulut)
Yaitu melalui percikan ludah atau air liur penderita yang masuk ke mulut orang sehat
lainnya. Sebenarnya, kondisi suhu yang tinggi dapat cepat mematikan virus. Sebaliknya,
pada keadaan beku atau suhu yang rendah justru virus dapat bertahan hidup bertahuntahun. Ketahanan virus ini di dalam tanah dan air sangat bergantung pada kelembapan
suhu dan adanya mikroba lain. Virus ini dapat bertahan lama pada air limbah dan air
permukaan,

bahkan

dapat

sampai

berkilo-kilometer

dari

sumber

penularan.

Meskipun cara penularan utama adalah akibat tercemarnya lingkungan oleh virus polio
dari penderita yang terinfeksi, namun virus ini sebenarnya hidup di lingkungan yang
terbatas. secara ringkas, Cara penularannya dapat melalui :
a. Inhalasi
b. Makanan dan minuman
c. Bermacam serangga seperti lipas, lalat, dan lain-lain.
Penularan melalui oral berkembang biak diususverimia virus+DC faecese beberapa
minggu.
l. Pencegahan
Cara pencegahan dapat dilalui melalui :
1. Imunisasi
2. jangan masuk daerah endemis
3. jangan melakukan tindakan endemis
Tempatkan anak yang sakit di kamar terpisah, jauh dari anak-anak lainnya. Ibu harus
mencuci tangan setiap kali menyentuhnya. Perlindungan terbaik terhadap polio ialah
dengan memberikan vaksin polio/pemberian kekebalan.
Seorang anak yang cacat akibat polio harus makan makanan bergizi dan melakukan
gerak badan untuk memperkuat otot-ototnya. Selama tahun pertama, sebagian kekuatan
dapat pulih kembali.
Bantulah anak agar belajar berjalan sebaik-baiknya, pasanglah 2 buah tiang, sebagai
penyangga dan kemudian buatkan tongkat penopang. Cegah Virus Polio dengan
Vaksinasi.
Hingga saat ini belum ditemukan cara pengobatan penyakit polio. Yang paling efektif
hanyalah pencegahan dengan cara imunisasi. Kasus penyakit polio di Sukabumi, Jawa
Barat, sangat mengejutkan pemerintah dan masyarakat. Penyakit yang diakibatkan
infeksi virus ini jelas mencemaskan para orang tua yang punya anak balita karena
begitu mengerikan dampak buruk yang bisa ditimbulkan. Sayangnya lagi, hingga saat
ini belum ditemukan cara pengobatannya. Yang paling efektif hanyalah pencegahan
dengan cara imunisasi. Virus polio (poliomyelitis) sangat menular dan tak bisa
disembuhkan. Virus ini menyerang seluruh tubuh (termasuk otot dan sistem saraf) dan

bisa menyebabkan kelemahan otot yang sifatnya permanen dan kelumpuhan total
dalam hitungan jam saja. Bahkan sekitar 10-15 persen mereka yang terkena polio
akhirnya meninggal karena yang diserang adalah otot pernapasannya.
Virus polio terdiri atas 3 tipe (strain), yaitu tipe 1 (brunhilde), tipe 2 (lanzig) dan tipe 3
(Leon). Tipe 1 seperti yang ditemukan di Sukabumi adalah yang paling ganas
(paralitogenik) dan sering menyebabkan kejadian luar biasa atau wabah. Sedangkan
tipe 2 paling jinak
m. Pengobatan
Tidak ada pengobatan yang spesifik. Diberikan obat simtomatis dan suportif. Istirahat
total jangan dilakukan terlalu lama, apabila keadaan berat sudah reda. Istirahat sangat
penting di fase akut, karena terdapat hubungan antara banyaknya keaktifan tubuh dengan
berat nya penyakit.
Poliomielitis Abortif
a. Cukup diberikan analgetika dan sedatifa, untuk mengurangi mialgia atau nyeri kepala,
b. Diet yang adekuat dan
c. Istirahat sampai suhu normal untuk beberapa hari, sebaiknya aktivitas yang berlebihan
dicegah selama 2 bulan, dan 2 bulan kemudian diperiksa sistem neuroskeletal secara
teliti untuk mengetahui adanya kelainan.
Poliomielitis nonparalitik
a. Sama seperti tipe abortif, Pemberian analgetik sangat efektif
b. Selain diberi analgetika dan sedatif sangat efektif. Bila diberikan bersamaan dengan
kompres hangat selama 15 30 menit, setiap 2 4 jam, dan kadang kadang mandi air
panas juga membantu
Poliomielitis Paralitik
a. Membutuhkan perawatan di rumah sakit.
b. Istirahat total minimal 7 hari atau sedikitnya sampai fase akut dilampaui
c. Selama fase akut kebersihan mulut dijaga
d. Perubahan posisi penderita dilakukan dengan penyangga persendian tanpa menyentuh
otot dan hindari gerakan menekuk punggung.

e. Fisioterapi, dilakukan sedini mungkin sesudah fase akut, mulai dengan latihan pasif
dengan maksud untuk mencegah terjadinya deformitas.
f. Akupunktur dilakukan sedini mungkin
g. Interferon diberikan sedini mungkin, untuk mencegah terjadinya paralitik progresif.
Poliomielitis bentuk bulbar
a. Perawatan khusus terhadap paralisis palatum, seperti pemberian makanan dalam bentuk
padat atau semisolid
b. Selama fase akut dan berat, dilakukan drainase postural dengan posisi kaki lebih tinggi
(20- 25), Muka pada satu posisi untuk mencegah terjadinya aspirasi, pengisapan
lendir dilakukan secara teratur dan hati hati, kalau perlu trakeostomi.

II.

TEORI ASUHAN KEPERAWATAN

a. Pengkajian
Identitas Pasien
Nama Pasien

No. RM

Tempat Tanggal Lahir :


Umur

Agama

Status Perkawinan

Pendidikan

Alamat

Pekerjaan

Jenis Kelamin

Suku

Diagnosa Medis

Tanggal Masuk RS

Tanggal Pengkajian

Sumber Informasi

Penanggung Jawab
Nama

Tempat Tanggal Lahir :


Umur

Agama

Alamat

Pekerjaan

Jenis Kelamin

Hubungan dengan Pasien


No. Telepon

Pengkajian
1. Riwayat kesehatan
Riwayat pengobatan penyakit-penyakit dan riwayat imunitas
2. pemeriksaan fisik
a. Nyeri kepala
b. Paralisis
c. Refleks tendon berkurang
d. Kaku kuduk
e. Brudzinky
MENDETEKSI LUMPUH LAYUH

Bayi
-

Perhatikan posisi tidur. Bayi normal menunjukkan posisi tungkai menekuk pada lutut
dan pinggul. Bayi yang lumpuh akan menunjukkan tungkai lemas dan lutut menyentuh
tempat tidur.

Lakukan rangsangan dengan menggelitik atau menekan dengan ujung pensil pada
telapak kaki bayi. Bila kaki ditarik berarti tidak terjadi kelumpuhan.

Pegang bayi pada ketiak dan ayunkan. Bayi normal akan menunjukkan gerakan kaki
menekuk, pada bayi lumpuh tungkai tergantung lemas.

Anak besar
-

Mintalah anak berjalan dan perhatikan apakah pincang atau tidak.

Mintalah anak berjalan pada ujung jari atau tumit. Anak yang mengalami kelumpuhan
tidak bisa melakukannya.

Mintalah anak meloncat pada satu kaki. Anak yang lumpuh tak bisa melakukannya.

Mintalah anak berjongkok atau duduk di lantai kemudian bangun kembali.


Anak yang mengalami kelumpuhan akan mencoba berdiri dengan berpegangan
merambat pada tungkainya.

Tungkai yang mengalami lumpuh pasti lebih kecil.

Pemeriksaan Fisik
a. B1 (breath)

: RR normal, Tidak ada penggunaan otot bantu pernafasan Suhu (38,9 C)

b. B2 (blood)

: normal

c. B3(brain)

: gelisah (rewel) dan pusing

d. B4 (bladder) : normal
e. B5 (bowel)

: mual muntah, anoreksia, konstipasi


f. B6 (bone) : letargi atau kelemahan, tungkai kanan mengalami kelumpuhan,
pasien tidak

mampu berdiri dan berjalan

Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium
a. Viral Isolation
Polio virus dapat di deteksi secara biakan jaringan, dari bahan yang di peroleh pada
tenggorokan satu minggu sebelum dan sesudah paralisis dan tinja pada minggu ke 2-6
bahkan 12 minggu setelah gejala klinis.
b. Uji Serologi
Uji serologi dilakukan dengan mengambil sampel darah dari penderita, jika pada
darah ditemukan zat antibodi polio maka diagnosis orang tersebut terkena polio benar.
Pemeriksaan pada fase akut dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan antibodi
immunoglobulin M (IgM) apabila terkena polio akan didapatkan hasil yang positif.
c. Cerebrospinal Fluid (CSF)
Cerebrospinal Fluid pada infeksi poliovirus terdapat peningkatan jumlah sel darah
putih yaitu 10-200 sel/mm3 terutama sel limfosit, dan terjadi kenaikan kadar protein
sebanyak 40-50 mg/100 ml (Paul,2004).
2. Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan ini hanya menunjang diagnosis poliomielitis lanjut. Pada anak yang sedang
tumbuh, di dapati tulang yang pendek, osteoporosis dengan korteks yang tipis dan rongga
medulla yang relative lebar, selain itu terdapat penipisan epifise, subluksasio dan dislokasi
dari sendi.
Diagnosa

1. Perubahan nutrisi dari kebutuhan tubuh b/d anoreksia, mual dan muntah
2. Hipertermi b/d proses infeksi
3. Resiko ketidakefektifan pola nafas dan ketidakefektifan jalan nafas b/d paralysis otot
4. Nyeri b/d proses infeksi yang menyerang syaraf
5. Gangguan mobilitas fisik b/d paralysis
6. Kecemasan pada anak dan keluarga b/d kondisi penyakit.

Intervensi
Dx 1 :
1. Kaji pola makan anak
Mengetahui intake dan output anak
2. Berikan makanan secara adekuat
Untuk mencakupi masukan sehingga output dan intake seimbang
3. Berikan nutrisi kalori, protein, vitamin dan mineral.
4. Timbang berat badan
Mengetahui perkembangan anak
5. Berikan makanan kesukaan anak
Menambah masukan dan merangsang anak untuk makan lebih banyak
6. Berikan makanan tapi sering
Mempermudah proses pencernaan
Dx 2 :
1. Pantau suhu tubuh
Untuk mencegah kedinginan tubuh yang berlebih
2. jangan pernah menggunakan usapan alcohol saat mandi/kompres
Dapat menyebabkan efek neurotoksi
3. hindari mengigil
4. Kompres mandi hangat durasi 20-30 menit
Dapat membantu mengurangi demam

Dx 3 :
1. Evaluasi frekuensi pernafasan dan kedalaman
Pengenalan dini dan pengobatan ventilasi dapat mencegah komplikasi.
2. Auskultasi bunyi nafas
Mengetahui adanya bunyi tambahan
3. Tinggikan kepala tempat tidur, letakkan pada posisi duduk tinggi atau semi fowler
Merangsang fungsi pernafasan atau ekspansi paru
4. Berikan tambahan oksigen
Meningkatkan pengiriman oksigen ke paru
Dx 4 :
1. Lakukan

strategi

non

farmakologis

untuk

membantu

anak

mengatasi

nyeri

Theknik-theknik seperti relaksasi, pernafasan berirama, dan distraksi dapat membuat nyeri
dan dapat lebih di toleransi
2. Libatkan orang tua dalam memilih strategi
Karena orang tua adalah yang lebih mengetahui anak
3. Ajarkan anak untuk menggunakan strategi non farmakologis khusus sebelum nyeri.
Pendekatan ini tampak paling efektif pada nyeri ringan
4. Minta

orang

tua

membantu

anak

dengan

menggunakan

srtategi

selama

nyeri

Latihan ini mungkin diperlukan untuk membantu anak berfokus pada tindakan yang
diperlukan
5. Berikan analgesic sesuai indikasi.
Dx 5 :
1. Tentukan aktivitas atau keadaan fisik anak
Memberikan informasi untuk mengembangkan rencana perawatan bagi program rehabilitasi.
2. Catat dan terima keadaan kelemahan (kelelahan yang ada)
Kelelahan yang dialami dapat mengindikasikan keadaan anak
3. Indetifikasi

factor-faktor

yang

mempengaruhi

pemasukan makanan yang tidak adekuat.

kemampuan

untuk

aktif

seperti

Memberikan kesempatan untuk memecahkan masalah untuk mempertahankan atau


meningkatkan mobilitas
4. Evaluasi kemampuan untuk melakukan mobilisasi secara aman
Latihan berjalan dapat meningkatkan keamanan dan efektifan anak untuk berjalan.

Dx 6 :
1. Kaji tingkat realita bahaya bagi anak dan keluarga tingkat ansietas(mis.renda,sedang,
parah).
Respon keluarga bervariasi tergantung pada pola kultural yang dipelajari.
2. Nyatakan realita dan situasi seperti apa yang dilihat keluarga tanpa menayakan apa
yang dipercaya.
Pasien mugkin perlu menolak realita sampai siap menghadapinya.
3. Sediakan informasi yang akurat sesuai kebutuhan jika diminta oleh keluarga.
Informasi yang menimbulkan ansietas dapat diberikan dalam jumlah yang dapat
dibatasi setelah periode yang diperpanjang.

LAPORAN KASUS
Contoh Kasus Poliomielitis :
Anak W berumur 3 tahun dibawa oleh kakaknya ke RS. Kakak pasien menyatakan bahwa
adiknya tiba-tiba merasa lemas di sekujur tubuhnya, dan tungkai kanan susah digerakkan. Gejala
awal demam, kemudian mual-mual dan muntah disertai pusing, hingga sekarang tidak mampu
berdiri dan berjalan. Kakak pasien merasa cemas karena adiknya belum pernah mendapatkan
vaksin polio sejak kecil.
Asuhan Keperawatan pada Pasien Poliomyelitis Berdasarkan Pola Fungsional Gordon :
PENGKAJIAN
1.Identitas
a.Id en titas Pasien
Nama

: An. W

Usia

: 3 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Suku / bangsa

: Jawa/ Indonesia

Alamat

: Setro BaruUtara Gg.7 No.50, Surabaya

Agama

: Islam

Tgl MRS

: 7/6/2012

Jam MRS

: 16.00 WIB

Diagnosa

: Poliomyelitis

b. Identitas Penanggung Jawab :


Nama

: Tn. P

Umur

: 40 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Pendidikan/ pekerjaan : SLTA/ wiraswasta


Hubungan dg klien

: ayah klien

2.Riw ayat Kes eh atan Kep eraw atan


1. Keluhan Utama :
pasien merasa lemas di sekujur tubuhnya.
2. Riwayat Penyakit Sekarang :
Kakak pasien menyatakan bahwa adiknya tiba-tiba merasa lemas di sekujur tubuhnya,
dengan gejala awal demam (Suhu 38,9 C), kemudian disertai pusing, hingga sekarang tidak
mampu berdiri dan berjalan. Imunisasi polio (-).
3. Riwayat Penyakit sebelumnya :
Riwayat Tumbuh Kembang anak :
Imunisasi : Hepatitis B-1 diberikan waktu 12 jam setelah lahir, BCG diberikan saat lahir,
Polio oral belum pernah diberikan
Status Gizi : Baik Tahap perkembangan anak menurut teori psikososial : Klien An. W
mencari kebutuhan dasarnya seperti kehangatan, makanan dan minuman serta
kenyamanan dari orang tua sendiri.
4. Riwayat Kesehatan Keluarga :
Komposisi keluarga : Keluarga berperan aktif terutama ibu klien An. W dalam merawat
klien.
Lingkungan rumah dan komunitas : Lingkungan sekitar rumah berada di area pemukiman
kumuh.
Kultur dan kepercayaan : Perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan : Persepsi keluarga tentang penyakit anak : cobaan Tuhan
Pengkajian Pemenuhan Kebutuhan Dasar Manusia Menurut Gordon (11 Pola)
1) Pola Persepsi dan Pemeliharaan Kesehatan
Kakak pasien tampak merasa cemas karena adiknya belum pernah mendapatkan vaksin
poliosejak kecil, Persepsi keluarga tentang penyakit anaknya itu karena cobaan Tuhan.
2) Pola Nutrisi
Sebelum sakit

: normal.

Selama sakit

:nafsu makan berkurang.

3) Pola Eliminasi
Sebelum sakit

BAB : normal 1X sehari, warna kulit kecoklatan, tekstur lunak, aroma terapik.
BAK : normal, warna kunimg, aromatik.
Selama sakit

BAB : konstipasi
BAK : normal, warna kuning, aromatik.
4) Aktivitas dan Latihan
Kemampuan Perawatan Diri
0
1
2
3
4
Kemampuan melakukan ROM

Kemampuan Mobilitas di tempat tidur

Kemampuan makan/minum

Kemampuan toileting

Kemampuan Mandi

Kemampuan berpindah

Kemampuan berpakaian

Ket. : 0 = Mandiri 1= Menggunakan alat bantu 2 = dibantu orang lain


3 = Dibantu orang lain dan alat

4 = Tergantung Total

5) Tidur dan Istirahat


Sebelum sakit

: 10 jam sehari, 2 jam tidur siang dan 8 jam tidur

malam.
Selama sakit

: sering terbangun.

6) Sensori, Persepsi dan Kognitif


7) Konsep diri
klien belum mampu memaparkan konsep dirinya karena klien masih berusia 3tahun.
8) Sexual dan Reproduksi
Klien belum berkeluarga
9) Pola Peran Hubungan
Sebelum sakit : Interaksi dengan keluarga, teman, dan lingkungan baik.
Selama sakit : pasien mengalami perubahan pada interaksi keluarga, teman, dan lingkungan.
Aktivitas meningkat, tetapi terganggu.
10) Manajemen Koping Stress

Sebelum Sakit : Baik.


Selama sakit : klien belum mampu memaparkan secara tepat keadaan jiwanya karena klien
masih balita, klien dibantu dengan orang tua (ibu) untuk menyelesaikan masalahnya.
11) Sistem Nilai dan Keyakinan
Sebelum sakit : pasien beragama Islam.
Selama sakit : pasien tidak pernah melaksanakan sholat karena keterbatasan aktivitas akibat
nyeri sendi.
Pemeriksaan Fisik
a. B1 (breath) : RR normal, Tidak ada penggunaan otot bantu pernafasan Suhu 38,9C
b. B2 (blood)

: normal

c. B3(brain

: gelisah (rewel) dan pusing

d. B4 (bladder) : normal
e. B5 (bowel)

: mual muntah, anoreksia, konstipasi

f. B6 (bone)

: letargi atau kelemahan, tungkai kanan mengalamikelumpuhan, pasien

tidak

mampu berdiri dan berjalan


Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium :
pada

pemeriksaan

sampel

fesesditemukan

serumditemukan adanya peningkatan antibody.


2. Pemeriksaan radiologi

b. Analisa Data
Nama kilen

: An. W

Ruang Rawat

: Rumah Sakit

adanya

Poliovirus.

Pada

pemeriksaan

Diagnosa medik

: Poliomyelitis

DATA
DS : pasien mengatakan
lemas, mual muntah.
DO : konstipasi

DS : - kakak pasien

ETIOLOGI

MASALAH

- anoreksia
-mual muntah

- Perubahan nutrisi kurang

-proses infeksi

- hipertermi

Paralysis

-gangguan mobilitas fisik

dari kebutuhan.

mengatakan belum pernah


diimunisasi polio
DO : demam, S: 38,9c,
adanya peningkatan
antibody
DS : kakak pasien
mengatakan badan pasien
lemas disekujur tubuhnya,
tungkai kanan sulit
digerakkan
DO : tidak mampu berdiri
dan berjalan, letargi

Diagnosa keperawatan sesuai perioritas


1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d anoreksia, mual dan muntah
DS : pasien mengatakan lemas, mual muntah.
DO : konstipasi

2. Hipertermi b/d proses infeksi


DS : - kakak pasien mengatakan belum pernah diimunisasi polio
DO : demam, S: 38,9c, adanya peningkatan antibody
3. Gangguan mobilitas fisik b/d paralysis
DS : kakak pasien mengatakan badan pasien lemas disekujur tubuhnya, tungkai kanan sulit
digerakkan
DO : tidak mampu berdiri dan berjalan, letargi

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


NO.
1.

DIAGNOSA

TUJUAN DAN

INTERVENSI

RASIONAL

KEPERAWATAN
KRITERIA HASIL
Perubahan nutrisi kurang kebutuhan nutrisi anak
1. Kaji pola makan anak

2. Kolaborasi dengan ahli gizi dalam


dari kebutuhan tubuh b/d terpenuhi.
pemberian nutrisi
anoreksia, mual dan
Kriteria Hasil :
3. Berikan makanan secara adekuat
muntah
- Pasien memperlihatkan 4. Berikan nutrisi kalori,

DS : pasien mengatakan peningkatan berat badan


protein,vitamin dan mineral
5. Timbang berat badan
lemas, mual muntah.
yang progresif

6. Berikan makanan kesukaan anak


DO : konstipasi
- Nilai laboratorium pasien7. Berikan makanan porsi sedikit tapi
(albumin, protein,

sering

sehingga output dan intake


seimbang
Mencukupi kebutuhan nutrisi
dengan seimbang
Mengetahui perkembangan anak
Menambah masukan dan
merangsanganak untuk makan lebih

elektrolit)menunjukkan
nilai normal

Mengetahui intake dan output anak


Untuk mencakupi masukan

banyak
Mempermudah proses pencernaan.

Untuk mencegah kedinginan

- Mual muntah berkurang


dan nafsu makan
bertambah.

2.

Hipertermi b/d proses

Tujuan suhu akan kembali

Pantau suhu tubuh

3.

infeksi d/d

normal dalam waktu 1x 24

DS : - kakak pasien

jam.

mengatakan belum

Kriteria hasil :- Suhu

pernah diimunisasi polio

normal 36,5C- 37,5C

DO : demam, S: 38,9c,

- Nadi dan pernapasan

adanya peningkatan

dalam rentan normal (N= <

antibody

160x/ menit , RR= 30-40

Jangan pernah menggunakan usapan


alcohol saat mandi/kompres3.
Hindari mengigil.

sulit digerakkan
DO : tidak mampu

dalam program latihan.

berdiri dan berjalan,

- Tidak terjadi kontraktur

letargi

sendi.

fisik b/d paralysis d/d


DS : kakak pasien
mengatakan badan
pasien lemas disekujur
tubuhnya, tungkai kanan

- Bertambahnya kekuatan
otot.
- Klien menunjukan
tindakan untuk
meningkatkan mobilitas

neurotoksi
Mengurangi penguapan tubuh
Dapat membantu mengurangi

Kompres mandi hangat durasi 20-30


menit.

x/menit)
Tujuan: Dalam waktu 3 x 1. Tentukan aktivitas
2. Catat dan terima keadaan
24 jam, klien mampu
kelemahan(kelelahan yang ada).
melaksanakan aktivitasfisik
3. Indetifikasi factor-faktor
sesuai dengan
yangmempengaruhi kemampuan
kemampuannya.Kriteria
untuk aktif seperti pemasukan
hasil :
makananyang tidak adekuat.
- Klien dapat ikut serta
4. Evaluasi kemampuan

Gangguan mobilitas

tubuhyang berlebih
Dapat menyebabkan efek

demam

Memberikan informasi
untuk mengembangkan rencana

perawatanbagi program rehabilitasi.


Kelelahan yang dialami
dapatmengindikasikan keadaan

anak.
Memberikan kesempatan
untuk memecahkan masalah

untuk melakukan mobilisasi secara

untuk mempertahankan atau

aman
5. Kolaborasi dengan fisioterapis

meningkatkanmobilitas.

Latihan berjalan dapat


meningkatkankeamanan dan
efektifan anak untuk berjalan.

CATATAN PERKEMBANGAN
Nama Pasien :

An. W

No. RM

Umur

3 tahun

Dx Medis :

Hari/Tgl

Dx. Keperawatan

Jumat

Perubahan nutrisi

8/6/12

kurang dari kebutuhan


tubuh b/d anoreksia,
mual dan muntah d/d
DS : pasien
mengatakan lemas,
mual muntah.

Jam

Implementasi

08.001. Mengkaji pola makan anak


2. berkolaborasi dengan ahli
WIB
gizi dalam pemberian nutrisi
3. memberikan makanan secara

Hari/Tgl

Jam

Poliomyelitis

Evaluasi

TTD/
Nama
Linda

Sabtu

08.00

S : keluarga klien mengatakan

9/6/12

WIB

klien sudah tidak mual muntah


O : nafsu makan meningkat
A : masalah keperawatan

adekuat
4. memberikan nutrisi kalori,

teratasi

protein,vitamin dan mineral


5. menimbang berat badan
6. memberikan makanan kesukaan

DO : konstipasi

P : lanjutkan asuhan
keperawatan

anak
7. memberikan makanan porsi
sedikit tapi sering

Jumat

Hipertermi b/d proses

09.00

08/6/12

infeksi d/d

WIB

DS : - kakak pasien
mengatakan belum

pernah diimunisasi
polio

memantau suhu tubuh


Jangan pernah menggunakan
usapan alcohol saat
mandi/kompres3.
menghindari mengigil

Jumat

09.00

S : kakak pasien mengatakan

08/6/12

WIB

tidak demam lagi,


O : S: 37c
A : masalah keperawatan
tercapai sebagian
P : lanjutkan asuhan

Mute

DO : demam, S:
38,9c, adanya
peningkatan antibody
Jumat

Gangguan mobilitas

8/6/12

fisik b/d paralysis d/d


DS : kakak pasien
mengatakan badan
pasien lemas disekujur
tubuhnya, tungkai
kanan sulit digerakkan
DO : tidak mampu
berdiri dan berjalan,
letargi

keperawatan

mengompres mandi hangat


durasi 20-30 menit.

10.001. menentukan aktivitas


Senin
2. mencatat dan terima keadaan
WIB
11/6/12
kelemahan(kelelahan yang
ada).
3. mengindetifikasi factorfaktor yangmempengaruhi
kemampuan untuk aktif

10.00

S : kakak pasien mengatakan

WIB

pasien masih lemas


O : pasien belum mampu
berjalan
A : masalah keperawatan
belum tercapai

seperti pemasukan
makananyang tidak adekuat.
4. mengevaluasi kemampuan
untuk melakukan mobilisasi
secara aman
5. Kolaborasi dengan
fisioterapis

P : lanjutkan asuhan
keperawatan

Laily

DAFTAR PUSTAKA
Lisa Rustiani. Makalah Askep Polio dan Contoh Kasus. Askep Polio.html. (20 Oktober 2015)