Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxp;;;;;;;;;;;;;;;;;;; ;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA
---------------------

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 140/PUU-VII/2009 PERIHAL PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 1 PNPS TAHUN 1965 TENTANG PENYALAHGUNAAN DAN/ATAU PENODAAN AGAMA TERHADAP UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 ACARA MENDENGARKAN KETERANGAN AHLI YANG DIHADIRKAN MK DAN AHLI DARI PEMERINTAH (XI)

JAKARTA JUMAT, 19 MARET 2010

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA -------------RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 140/PUU-VII/2009 PERIHAL Pengujian Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1965 tentang Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. PEMOHON Perkumpulan Inisiatif Masyarakat Partisipatif untuk Transisi Berkeadilan (Imparsial) dkk. ACARA Mendengarkan Keterangan Ahli yang dihadirkan MK dan Ahli dari Pemerintah (XI) Jumat, 19 Maret 2010, Pukul 09.05 – 11.05 WIB Ruang Sidang Pleno Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat. SUSUNAN PERSIDANGAN 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Prof. Dr. Moh. Mahfud MD., S.H. Prof. Dr. Achmad Sodiki, S.H. Prof. Dr. Maria Farida Indrati, S.H., M.H. Dr. H.M. Akil Mochtar, S.H., M.H. Hamdan Zoelva, S.H., M.H. Dr. Muhammad Alim, S.H., M.Hum. Dr. Harjono, S.H., MCL. Drs. Ahmad Fadlil Sumadi, S.H., M.Hum. (Ketua) (Anggota) (Anggota) (Anggota) (Anggota) (Anggota) (Anggota) (Anggota) Panitera Pengganti

Fadzlun Budi SN, S.H., M.Hum.

1

Pihak yang Hadir: Pemohon: Ingwuri (Yayasan Desantara) Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, M.A.

Kuasa Hukum Pemohon: Uli Parulian Sihombing, S.H., LL.M. M. Choirul Anam, S.H. Febi Yonesta, S.H. Wahyu Wagiman, S.H. Muhammad Isnur, S.H. Vicky Silvanie, S.H. Judianto Simanjuntak, S.H. Siti Aminah, S.H.

Pemerintah: Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar (Dirjen Bimas Islam) Drs. Stef Agus (Dirjen Bimas Katolik) H. Mubarok (Kepala Biro Hukum Kementerian Agama) Mualimin Abdi (Kabag dari Menkumham untuk Penyajian pada Sidang MK)

Ahli yang dihadirkan Pemerintah Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa

Ahli yang dihadirkan MK Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc. Prof. Dr. Ahmad Fedyani Saifuddin.

Pihak Terkait (Forum Kerukunan Umat Beragama) Drs. Rudy Pratikno, S.H.

2

Pihak Terkait (Forum Umat Islam) Wirawan Adnan, S.H. (Kuasa Hukum)

Pihak Terkait (Dewan Dakwah Islamiyah): Azam Khan, S.H.

Pihak Terkait (Majelis Ulama Indonesia/MUI): H.M. Lutfi Hakim, S.H., M.H. (Anggota) Dr. H. Amirsyah Tambunan, M.A. (Sekretaris) Wirawan Adnan, S.H.

Pihak Terkait (BKOK): Arnold Panahal

Pihak Terkait (KWI): Rudy Pratikno R. Astuti Sitanggang Tosong Dilham

DPP PPP: Muhammad Naril Ilham (Kuasa Hukum)

Pihak Terkait (BASSRA) Nairul Rochman Dr. Eggi Sudjana, S.H., M.Si. (Kuasa Hukum BASSRA)

3

SIDANG DIBUKA PUKUL 09.05 WIB

1.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. untuk mendengar keterangan Ahli dalam perkara Pengujian UndangUndang Nomor 140/PUU-VII/2009 dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum. KETUK PALU 3 X Silakan Pemohon untuk memperkenalkan yang hadir hari ini.

Assalamualaikum wr. wb. Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi

2.

KUASA HUKUM PEMOHON : ULI PARULIAN SIHOMBING, S.H., LL.M. Terima kasih Yang Mulia. Selamat pagi, Majelis Hakim yang mulia dan hadirin sekalian. Kami dari Pemohon yang hadir adalah Pemohon Prinsipal dan juga Kuasa Hukumnya. Saya akan perkenalkan dari sebelah kiri saya, yang paling kiri Vicky Silvanie. Kemudian sebelahnya, Judianto Simanjuntak. Saya sendiri, Uli Parulian Sihombing (Kuasa Hukum), dan sebelah kanan Muhammad Choirul Anam (Kuasa Hukum), dan sebelah kanannya Ibu Siti Musdah Mulia sebagai Pemohon Prinsipal. Kemudian, Pak Ingwuri (Pemohon Prinsipal), Muhammad Isnur sebagai Kuasa Hukum, kemudian di barisan belakang yang paling kanan Wahyu Wagiman (Kuasa Hukum), paling kanannya lagi Ibu Siti Aminah, dan paling kiri Febi Yonesta. Itu saja, terima kasih.

3.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Terima kasih, selamat datang Ibu Musdah Mulia, ditunggutunggu. Hari ini kami beri kesempatan Ibu untuk berbicara nanti sebagai Pemohon Prinsipal kalau mau memberikan penegasan-penegasan atas permohonan itu. Kemudian, saya persilakan Pemerintah.

4.

PEMERINTAH : DR. MUALIMIN ABDI, S.H., M.H. (KABAG DARI MENKUMHAM UNTUK PENYAJIAN PADA SIDANG MK) Terima kasih, Yang Mulia. Assalamualaikum wr. wb. Selamat datang juga kepada Prof. Musdah Mulia, mestinya Beliau di sini Yang Mulia karena beliau kan jajaran Departemen Agama, mustinya ngawanin (…)

4

5.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Saudara tidak boleh mengomentari begitu. Kenalkan saja siapa yang datang.

6.

PEMERINTAH : DR. MUALIMIN ABDI, S.H., M.H. (KABAG DARI MENKUMHAM UNTUK PENYAJIAN PADA SIDANG MK) Dari sebelah kanan ada Bapak Pak Stef Agus (Dirjen Khatolik), yang sebelah kirinya ada Prof. Nasaruddin Umar (Dirjen Humas Islam), ada Bapak Mubarok (Kepala Biro Hukum Kementerian Agama), saya sendiri Mualimin Abdi. Kemudian Yang Mulia, kami juga hari ini Pemerintah menghadirkan Ahli Ibu Khofifah yang sudah hadir, kemudian di belakang juga ada kawan-kaan dari Kementerian Agama dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi manusia. Terima kasih, Yang Mulia.

7.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Terima kasih Saudara Mualimin. Selamat datang juga Ibu Khofifah, berhadapan dengan Ibu Siti Mulia. Nanti, kami undang juga Ahli yang diundang oleh MK, yaitu Bapak Jalaluddin Rakhmat. Itu bukan undangan Pemohon, bukan undangan Pemerintah, tapi Mahkamah yang membutuhkan keterangan Beliau ini bersama Prof. Fedyani. Silakan Pihak Terkait.

8.

PIHAK TERKAIT (MAJELIS ULAMA INDONESIA) : H.M. LUTFI HAKIM, S.H., M.H. Terima kasih, Yang Mulia. Dari Majelis Ulama Indonesia, saya sendiri Muhammad Lutfi Hakim, kemudian Amirsyah, dan kemudian Wirawan Adnan yang juga mewakili dari FUI.

9.

PIHAK TERKAIT (FORUM UMAT ISLAM) : WIRAWAN ANDAN, S.H. yang hadir pada sidang hari ini, saya sendiri Wirawan Adnan. Terima kasih.

Assalamualaikum wr. wb. Yang Mulia, dari Forum Umat Islam

10.

PIHAK TERKAIT (BASSRA) : K.H. NAIRUL ROCHMAN

Assalamualaikum wr. wb. Terima kasih, Yang Mulia. Kami dari BASSRA (Badan Silaturrahi Ulama) Pesantren Madura. Saya Nairul Rochman, dan kami bersama Kuasa Hukum kami Bapak Dr. Eggi Sudjana, S.H., M.Si. Terima kasih. Wassalamualaikum wr. wb.
5

11.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Dewan Dakwah Islamiyah, silakan.

12.

PIHAK TERKAIT (DEWAN DAKWAH ISLAMIYAH) : AZAM KHAN, S.H.

Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum wr. wb. Yang Mulia, saya mewakili dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Azam Khan. Terima kasih.
13. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Berikutnya? 14. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT (PPP) : M. NARIL ILHAM, S.H.

Assalamualaikum wr. wb. Saya Muhammad Naril Ilham, Kuasa Hukum Dewan Pimpinan Pusat Partai Persatuan Pembangunan, Terima kasih. Wassalamualaikum wr. wb.
15. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Silakan berikutnya? 16. PIHAK TERKAIT (KWI) : RUDY PRATIKNO Selamat pagi, Yang Mulia, salam sejahtera untuk kita semuanya. Dari KWI yang hadir hari ini, saya, Rudy Pratikno bersama Ibu R. Astuti Sitanggang, dan juga bersama Tosong Dilham. Terima kasih. 17. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Bapak sekaligus mewakili FKUB DKI ya? (Forum Kerukunan Umat Beragama) Oke. Silakan berikutnya. 18. PIHAK TERKAIT (BKOK) : ARNOLD PANAHAL Terima kasih, Yang Mulia. Selamat pagi, saya dari BKOK, Arnold Panahal. Rahayu. 19. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Habis, masih ada lagi? Baik. Baik, sidang kita tinggal hari ini dan terakhir hari Rabu tanggal 24. Sesudah itu, kira-kira pertengahan April

6

begitu, nanti sudah akan diputus perkara ini oleh Mahkamah karena sudah banyak bahan yang masuk untuk bahan pertimbangan. Sudah cukup komprehensif, dan akan lebih komprehensif lagi nanti sampai dengan hari Rabu tanggal 24. Untuk itu sekarang para Ahli dimohon maju. Kalau menurut catatan kami di sini, Bu Khofifah beragama Islam. Ibu beragama Islam disumpah dengan agama Islam. Pak Jalaluddin Rakhmat beragama Islam, Pak Ahmad Fedyani Saifuddin juga beragama Islam, silakan maju, Pak Fadlil? 20. HAKIM ANGGOTA : DRS. AHMAD FADLIL SUMADI, S.H., M.HUM.

“Bismillalhirohmanirohim, demi Allah saya bersumpah sebagai Ahli akan
memberikan keterangan yang sebenarnya sesuai dengan keahlian saya”. Cukup, terima kasih. AHLI : SELURUHNYA akan memberikan keterangan yang sebenarnya sesuai dengan keahlian saya” 22. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Silakan duduk, baik hari ini Pemohon Prinsipal yaitu Prof. Musdah Mulia hadir di persidangan ini karena ini Pengusul Prinsipal yang langsung, maka kami akan beri kesempatan kepada Beliau kira-kira 10 menit. Kalau mau menyampaikan kembali pokok-pokok permohonannya itu. Memang kemarin Prinsipal juga ada yang datang, tapi bukan yang langsung mewakili institusi, yang bukan Pemohonnya sehingga kita juga tidak beri kesempatan. Karena Ibu Prinsipal yang langsung menjadi Pemohon, maka..., mau Ibu menggunakan waktu 10 menit? Tidak ada. Oke, baik, kalau begitu kita dengarkan dulu keterangan dari Prof. Jalaluddin Rakhmat, silakan maju Bapak Jalaluddin. 23. AHLI YANG DIHADIRKAN OLEH MK: PROF. DR. JALALUDDIN RAKHMAT, M.SC. Saya di sini atau di situ Bapak? 24. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Boleh, kalau lebih mudah duduk juga boleh.

Untuk

pengucapan

sumpah,

tirukan

kata-kata

saya.

21.

“Bismillalhirohmanirohim, demi Allah saya bersumpah sebagai Ahli

7

25.

AHLI YANG DIHADIRKAN OLEH MK: PROF. DR. JALALUDDIN RAKHMAT, M.SC.

Assalamualaikum wr.wb. Yang Mulia dan Para Hadirin semua saya ingin bacakan saja bahan yang saya sampaikan di sini. Orang pertama yang dihukum karena "penodaan agama" adalah Socrates. "Socrates bersalah karena menolak dewa-dewa yang diakui oleh negara dan karena membawa dewa-dewa baru. Ia juga bersalah karena merusak anak-anak muda, begitu keputusan pengadilan Athena. Dan Socrates menjadi korban pertama dari Undang-Undang Penodaan Agama, ia harus minum racun. Beberapa waktu sebelum menjadi terdakwa, Socrates dipaksa untuk mendefinisikan keadilan. Thrasymachus menolak relativisme moral Socrates dan menyampaikan realisme moral. "Dengarkan!", kata Thrasymachus, "Aku mendefinisikan keadilan atau kebenaran sebagai apa yang menguntungkan kepentingan partai yang lebih kuat." Hukuman bagi pelaku penodaan agama tidak selalu berdasarkan undang-undang dan tidak selalu didasarkan oleh pengadilan. Berlangsung sejak itu selama berpuluh-puluh abad. Semua negara maju mempunyai Undang-undang Penodaan Agama. Inggris, baru menghapuskan Undang-Undang Penodaan Agama pada Mei 2008, dua tahun yang lalu. Rasional dari Undang-Undang Penodaan Agama di Inggris dan di negara-negara Eropa lainnya adalah melindungi masyarakat dari serangan terhadap nilai-nilai tinggi yang menjadi dasar tatanan sosial. Kalau Socrates dituding "corrupt to the youth", pada zaman modern penista agama dianggap "liable to shake the fabric of society". Lord Denning dalam pidatonya tahun 1949 ketika ia ingin meninjau kembali Undang-Undang Penodaan Agama berkata, "The reason for this law was because it was thought that a denial of Christianity was liable to shake the fabric of society, which was itself founded upon the Christian religion.” Dan kata dia, “There is no such danger to society now and the offence of blasphemy is a dead letter."

Jadi mulai tahun 1949, Undang-Undang Penodaan Agama di Inggris itu sebetulnya sudah tidak berlaku lagi dalam kenyataannya, walaupun kemudian dicabutnya pada kira-kira dua tahun yang lalu. Mungkin penodaan agama tidak membahayakan masyarakat di Inggris sekarang ini. Kristianitas tidak lagi menjadi pondasi kesatuan masyarakat. Sekularisme sudah menyingkirkan peran agama. Tetapi betulkah penodaan agama tidak merusak masyarakat Indonesia? Sebagai bandingan, marilah kita lihat bahaya penodaan agama pada suatu bangsa yang sangat sekuler, Denmark. Buat bangsa Denmark, agama adalah urusan pribadi. Negara tidak mempersoalkan agama apapun yang Anda anut. Bahkan sekalipun Anda tidak beragama sama sekali. Walaupun begitu, mereka mempunyai pasal penodaan agama dalam KUHP-nya, Danish Criminal Code, section 140: “Any person who,

8

in public, ridicules or insults the dogmas or worship of any lawfully existing religious community in this country shall be liable to imprisonment for any term not exceeding four months or, in mitigating circumstances, to a fine.”

Pasal ini menjadi sangat terkenal, karena kasus Jyllands-Posten. Kelompok Muslim mengadukan ke polisi pemuatan karikatur Nabi Muhammad SAW yang mereka anggap telah melanggar KUHP tersebut. Pengadilan membebaskan Jyllands-Posten dan menimbulkan reaksi keras di seluruh dunia. Diperkirakan 139 Orang meninggal dunia dan 823 orang luka-luka parah, dan kerusuhan-kerusuhan yang terjadi di mana-mana. Kerusakan pada kedutaan-kedutaan Denmark di seluruh dunia, digabungkan dengan akibat boikot pada ekspor Denmark mencapai $ 1.6 miliar. Walhasil Yang Mulia, kita memerlukan Undang-Undang Penodaan Agama untuk melindungi kerugian atau risiko yang muncul karena ulah segelintir orang. Tetapi di sini kita berhadapan dengan dilema. UndangUndang Penodaan agama seperti yang dapat kita lihat dalam Undangundang Nomor 1/PNPS/1965 telah, sedang, dan akan menghukum kebebasan beragama. Paling tidak memperlakukan kelompok-kelompok agama tertentu secara diskriminatif. Dengan pengetahuan yang sederhana saja tentang hak-hak asasi manusia dan dengan melihat korban-korban Undang-Undang Nomor 1 tersebut undang-undang ini telah menimbulkan bencana bagi kelompok-kelompok minoritas. Dengan menggunakan pernyataan Thrasymachus, dalam dialognya dengan Socrates tentang keadilan undang-undang ini telah menguntungkan kepentingan partai yang lebih kuat. Saya lihat dari ruang pengadilan ini telah bertarung dua aliran besar. Aliran pertama, tetap mempertahankan undang-undang ini dan aliran kedua mengusulkan agar undang-undang ini dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat dengan segala akibat hukumnya. Aliran pertama kuatir undang-undang ini akan menimbulkan kerusakan pada tatanan sosial dengan akibat-akibat yang mengancam kita bukan saja secara moral, sosial, tetapi juga secara ekonomis. Kebebasan beragama dicurigai bahkan akan menghancurkan umat beragama. Aliran kedua melihat undang-undang ini membatasi kebebasan berekspresi dan kebebasan beragama. Mereka juga melihat undangundang ini telah digunakan oleh partai yang lebih kuat untuk menindas kelompok agama yang lemah. Undang-undang ini bukan saja bertentangan dengan hak-hak asasi manusia, tetapi juga dengan prinsipprinsip demokrasi dan pluralisme. Saya mengusulkan yang ketiga, undang-undang ini dipertahankan sambil memperhatikan kekuatiran aliran kedua. Mahkamah Konstitusi, saya tidak tahu bagaimana, apa, dan wewenang..., dan bagaimana, apa wewenang Mahkamah Konstitusi

9

tapi kita berharap bahwa Mahkamah Konstitusi membuat penafsiran resmi yang lebih spesifik, begitu rupa sehingga kebebasan beragama tidak dibatasi, pluralisme dihormati, dan hak-hak kelompok lemah dilindungi. Sekedar contoh saja, saya mengusulkan undang-undang ini sekiranya bisa direvisi. Saya tidak tahu apa istilah hukumnya, tapi saya mengusulkan agar undang-undang ini dipertahankan dengan revisi atau mungkin istilahnya dicabut dengan revisi, tapi saya memang memerlukan adanya undang-undang untuk menghindari terjadinya penodaan terhadap agama dan karena masyarakat Indonesia masih merupakan masyarakat yang religius dengan penafsiran apapun, penodaan terhadap agama akan menghancurkan tatanan sosial dan menimbulkan kerugian besar. Jadi sekedar contoh saja, saya ingin undang-undang ini tetap dipertahankan tetapi dengan beberapa catatan penting undang-undang ini tidak boleh dijadikan alat untuk mempidana orang yang datang dengan penafsiran baru dalam satu kelompok agama. Selama penafsiran itu bertopang pada sumber-sumber agama yang dibersama. Sepanjang sejarah pemikiran Islam, penafsiran-penafsiran agama yang baru selalu ada dan karena itulah agama masih tetap relevan dalam berbagai zaman karena ada selalu rekonstruksi baru terhadap pemahaman. Sekiranya undang-undang ini nanti membatasi rekonstruksi pemikiran keagamaan kita akan membatasi malah peran agama didalam kehidupan sosial. Penodaan tidak boleh dihubungkan dengan penafsiran dan kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama. Apa yang disebut pokok ajaran agama bisa berubah-ubah sesuai dengan penafsiran. Dalam perkembangan sejarah politik hukum, penafsiran yang dijadikan hukum selalu kembali lagi kepada Thrasymachus adalah penafsiran aliran yang berkuasa. Yang ketiga Penjelasan dan penegasan kembali bahwa setiap penelitian seperti yang dicantumkan di dalam penjelasan undang-undang ini, setiap penelitian yang obyektif, saklek, dan ilmiah tentang agama atau tokoh-tokoh agama tidak boleh dianggap sebagai penodaan pada agama. Dan secara konkeitnya di sini saya mengusulkan beberapa contoh Undang-Undang Penodaan Agama di beberapa negara maju termasuk juga dari Pakistan. Dari berbagai undang-undang ini saya menemukan beberapa kata kunci, pertama bahwa kita sebut penodaan agama itu kalau dia bersifat contemptuous, reviling, scurrilous dan ludicrous. Mencemoohkan, mengejek, menghina, atau mempermainkan ajaran-ajaran agama dan dengan begitu sebetulnya bukan saja menyebarkan kebencian, tetapi sebetulnya menyinggung perasaan keberagamaan. Dan seperti dicantumkan dalam undang-undang Australia kata-kata menyinggung itu harus di sananya mengandung..., kata menyakiti itu bukan ditafsirkan dengan perasaan subyektif bahwa setiap orang merasa disakiti karena penafsiran itu tetapi unsurnya di situ ada vilification, merendahkan kehormatan dari tokoh-tokoh agama misalnya ridicule atau tidak

10

memberikan penghormatan kepada apa yang dihormati dalam setiap agama dan penolakan saja atau argumen saja tidak cukup. The publication sangat sopan dan haruslah juga diperhitungkan bahwa serangan atau penghinaan itu outrage the fellings of sympathizer with Christianity, kalau di Australia. Jadi secara singkat saya mengusulkan kepada Majelis Hakim untuk merevisi undang-undang ini dengan memperhatikan dan mempertimbangkan kebebasan beragama, kebebasaan untuk merekonstruksi pemikiran agama dan kebebasan untuk mengembangkan agama sesuai dengan perkembangan zaman dalam menghadapi dokumatisme dan ortodoksi. Sekian, Assalamualaikum wr.wb. 26. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Terima Kasih Prof. Jalaludin Rahmat. Berikutnya, Prof. Ahmad Fedyani Saefudin silakan. 27. AHLI YANG DIHADIRKAN OLEH MK : PROF. DR. AHMAD FEDYANI SAIFUDDIN.

must be so scurrilous and offensive as to pass the limits of decent controversy. Dan hanya kalau sudah melewati batas-batas kontraversi yang

Assalamualaikum wr.wb. Selamat pagi dan Salam Sejahtera bagi kita sekalian. Yang Mulia, perkenankanlah saya menyampaikan beberapa pandangan saya terhadap Penetapan Presiden Republik Indonesia Nomor 1/PNPS/Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan atau Penodaan Agama. 1. Penetapan Presiden RI Nomor 1/PNPS/Tahun 1965 dibuat dalam pendekatan positivistik dalam semangat integrasi nasional, kewaspadaan nasional, pengamanan revolusi, dan demokrasi terpimpin. Dalam konteks suasana politik ini, pengaturan agama dibuat ketat sehingga mengurangi sekecil mungkin kemungkinan kekacauan politik karena benturan kepercayaan di dalam masyarakat kita. Kebijakan top-down dan sentralistik pada saat itu dianggap relevan dan logis. 2. Negara Kesatuan Republik Indonesia dari dahulu hingga sekarang, memiliki ciri-ciri atributif yang sama, yaitu keanekaragaman dalam banyak hal. Antara lain geografis (kepulauan yang sangat luas dengan jumlah penduduk salah satu terbesar di dunia), ras, etnik, agama, golongan sosial-ekonomi, dan lain-lain. Yang membedakannya adalah perubahan zaman dan perspektif dalam memandang manusia. Sebagaimana kita ketahui, pendekatan positivisme di dalam memandang manusia dan kemanusiaan telah mengalami kritik-kritik yang tajam dan panjang menjelang berakhirnya abad ke-20 yang lalu dan permulaan abad 21 ini. 3. Masa kini dapat dikatakan sebagai masa demokrasi global yang mengedepankan hak-hak asasi manusia, yang salah satu dari hak asasi
11

4.

5. a.

b.

c.

itu adalah hak untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, dan aspirasi termasuk dalam konteks agama. Selain itu, setiap individu juga memiliki hak untuk dihormati, dihargai, dan diberi ruang kebebasan untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, dan aspirasi tersebut. Pada saat yang sama, setiap individu juga dituntun dan mempunyai kewajiban untuk menghargai dan menghormati, dan memberikan ruang kebebasan kepada orang lain untuk mewujudkan hal-hal yang tadi saya sebutkan. Oleh karena hak dan kewajiban itu ibarat sebuah koin dengan dus sisi yang seimbang, maka setiap orang tidak hanya memiliki hak untuk dihormati, dihargai, dan diberi ruang kebebasan, tetapi juga mempunyai kewajiban yang setara untuk menghormati, menghargai, dan memberi ruang kebebasan kepada orang lain yang mempunyai pikiran, pandangan, dan aspirasi yang berbeda. Dengan kata lain, setiap individu (warga negara) harus mampu menghormati, menghargai, dan hidup dalam perbedaan-perbedaan, termasuk perbedaan agama. Penetapan Presiden RI Nomor 1/PNPS/Tahun 1965 perlu ditinjau kembali dan direvisi karena alasan-alasan sebagai berikut: Masyarakat bangsa kita kini hidup di masa yang sangat berbeda pada masa demokrasi terpimpin pada tahun 1960-an. Tadi saya katakan jelas sekali di dalam penetapan presiden itu tercantum beberapa kata seperti ‘kewaspadaan nasional, pengamanan revolusi dan demokrasi terpimpin’ yang sudah menjadi sejarah masa lampau kita. Secara langsung ataupun tidak, gagasan demokrasi global sudah memasuki kehidupan bangsa kita dan nampaknya fenomena ini tidak lagi dapat dihindari. Selain itu interaksi antarkebudayaan di Indonesia semakin meningkat intensitasnya. Antara lain sebagai konsekuensi dari semakin majunya teknologi komunikasi, semakin terbukanya akses informasi dari tingkat lokal hingga internasional, meningkatnya gerak penduduk atau mobilitas penduduk sebagai akibat dari meningkatnya tingkat pendidikan dan pekerjaan, dan sebagainya. Semua perubahan ini membutuhkan suatu sistem pengaturan baru, khususnya yang terkait dengan interaksi antarkebudayaan dan termasuk dalam hal ini interaksi antarpenganut agama. Konsekuensi dari gagasan demokrasi global itu adalah semakin pentingnya posisi manusia sebagai subyek (tidak lagi sebagai obyek) yaitu subyek yang mampu berpikir, produktif, kreatif, inovatif, dan bahkan manipulatif. Dengan kata lain, demokrasi sejalan dengan meningkatnya kebebasan individu maupun kelompok untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, dan aspirasinya, termasuk dalam konteks agama. Kita membutuhkan peraturan-peraturan baru terkait dengan hubungan antarumat beragama dalam kehidupan masyarakat bangsa yang plural ini, untuk menggantikan Penetapan Presiden RI Nomor 1/1965 tersebut. Peraturan-peraturan baru tersebut harus mampu mengakomodasi keanekaragaman agama-agama yang ada dengan semangat toleransi

12

dan multikulturalisme yang tinggi, demi membangun integrasi baru yang lebih kultural bagi bangsa Indonesia. d. Saya yakin bahwa para ahli hukum kita niscaya dapat merumuskan suatu sistem aturan yang baru, yang mampu mengakomodasi keanekaragaman kebudayaan dan agama yang hidup di Indonesia, sehingga dapat dicapai suatu integrasi bangsa yang lebih berbasis kebudayaan. Terima kasih, Assalamualaikum wr.wb. 28. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Terima kasih Prof. Fedyani, selanjutnya Ibu Khofifah Indar Parawansa, silakan. 29. AHLI DARI PEMOHON: DRA. HJ. KHOFIFAH INDAR PARAWANSA

Assalamualaikum wr.wb. Yang Mulia Bapak Majelis Hakim Ketua dan Anggota Pimpinan Mahkamah Konstitusi, Bapak Ibu semua yang saya hormati. Saya ingin memberikan pandangan terhadap beberapa hal. Dari mulai Rasulullah Muhammad SAW memimpin masyarakat di Madinah yang plural maka Rasulullah sudah mencoba membuat regulasi dan proteksi dari seluruh masyarakat yang beda suku, beda agama di bawah kepimpinan Beliau. Artinya regulasi dan proteksi itu ternyata memang dibutuhkan untuk mengatur kehidupan intern dan antarumat beragama sejak zaman Rasulullah Muhammad SAW memimpin kota Madinah. Bapak Ibu Yang Saya Hormati. Ada beberapa kesepakatan PBB. Dua di antaranya saya ingin mengutip di sini pertama adalah convention on the rights of the child. Di Pasal 14 disebutkan bahwa freedom to
Yang saya ingin sampaikan bahwa bagaimana kebebasan seseorang untuk menyatakan agamanya atau kepercayaannya hanya dapat dibatasi oleh undang-undang. Saya ingin menyampaikan di sini betapa pentingnya regulasi sekaligus proteksi terhadap kehidupan keagamaan bagi individu manusia. Ada juga kesepakatan yang dilakukan pada Durban Review Conference, forum ini adalah forum seminar resmi yang diselenggarakan oleh PBB dan baru dilaksanakan April 2009 di Geneva yang menyatakan bahwa “Reaffirms that any advocacy of national, racial or religious hatred

manifest once religion or believes maybe subject only to such limitation as are prescribed by law, dan seterusnya.

that constitutes incitement to discrimination, hostility or violence shall be prohibited by law” yang menegaskan bahwa setiap anjuran kebencian

karena rasa kebangsaan, ras atau agama yang mendorong kepada diskriminasi, permusuhan atau kekerasan harus dilarang dengan undangundang. Di sini kemudian masing-masing negara memiliki kewenangan untuk membuat regulasi dan proteksi. Ada negara yang kemudian membuat regulasi dengan melarang masjid yang ada menaranya. Ada

13

negara yang kemudian membuat regulasi bahwa pemeluk agama tidak boleh menunjukkan atau mengekspresikan identitas agamanya. Beberapa perkembangan yang terakhir terjadi bahwa yang muslim tidak boleh pakai jilbab, tapi kemudian yang agama lain juga tidak boleh menunjukkan identitas agamanya untuk diekspresikan kepada publik, bahkan mengekspresikan seperti saya dilarang di negara itu. Tapi bahwa ada kewenangan negara untuk membuat regulasi seperti itu. Bapak, Ibu yang saya hormati. Di tahun 1965 Indonesia membuat regulasi. Penetapan Presiden yang kemudian menjadi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1965 setelah disepakati tahun 1969, ada Pasal 1 yang menyebutkan bahwa setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceriterakan, menganjurkan dan sebagainya, dan sebagainya, saya rasa Bapak, Ibu yang hadir di forum ini sudah sering mengungkap pasal-pasal ini. Tapi saya ingin menyampaikan bahwa pada posisi regulasi yang dilakukan oleh pemerintah di dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1965, sesungguhnya pemerintah tidak pada posisi penafsir tunggal, karena Pasal 1, Pasal 2 dan seterusnya tentu bersambung pada penjelasanpenjelasan pasalnya. Bahwa misalnya sebelum ada pelarangan, maka presiden mendapat pertimbangan dari Menteri Agama, Menteri atau Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri. Tentu pertimbanganpertimbangan ini tidak hanya di tangan seorang menteri, tetapi juga pada tim yang dibentuk oleh kementerian. Lalu kemudian pada penjelasan di Pasal 2 disebutkan bahwa pada tataran tertentu maka proses yang dilakukan, sebetulnya permulaannya dirasa cukup dengan memberi nasihat seperlunya. Jadi sebetulnya pola yang dilakukan sangat persuasif, bukan represif. Lalu kemudian bagaimana di Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1965 ini, meskipun secara eksplisit di penjelasan Pasal 1 disebut ada 6 agama, tetapi kemudian kita juga melihat di penjelasan berikutnya, enam agama yang sudah ditulis secara eksplisit di dalam undang-undang ini tidak berarti bahwa agama-agama lain, ini di penjelasan pasalnya, misalnya Yahudi, Zarasustrian, Shinto, Taoism dilarang di Indonesia. Mereka mendapat jaminan penuh seperti yang diberikan oleh Pasal 29 ayat (2) dan mereka dibiarkan adanya asal tidak melanggar ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam peraturan ini atau peraturan perundangan lainnya. Bahkan terhadap Badan atau Aliran Kebatinan, pemerintah berusaha menyalurkannya ke arah pandangan yang sehat dan ke arah Ketuhanan Yang Maha Esa. Bapak Majelis Hakim, saya ingin menyampaikan ada kaidah ushul fiqih, “almuhafadatul ala qodimi sholeh wal akhdu bil jadidil aslah’. Yang sudah ada yang baik itu perlu dipertahankan kecuali kalau ada yang baru yang lebih baik lagi. Undang-Undang Nomor 1/1965 ini sudah terbukti bisa mengantarkan harmoni, meskipun ada percikan-percikan saya rasa ini sesuatu yang harus kita lihat dengan berbagai dinamika kehidupan intern dan antar umat beragama, ideologi-ideologi nasional maupun

14

perkembangan ideologi trans-nasional. Nah, ini sudah sesuatu yang bisa menjaga harmoni kehidupan intern dan antar umat beragama. Tetapi ketika kemudian kita melihat bahwa undang-undang ini terlahir pada saat demokrasi terpimpin dan pada saat Undang-Undang Dasar 1945 belum diamandemen. Berbagai dinamika kehidupan intern dan antar umat beragama nasional maupun internasional menjadikan kita perlu melakukan adaptasi dari dinamika itu. Betapa bahwa kemudian suatu saat saya menengok teman yang ada di Rutan Pondok Bambu, itu tradisi kami setiap bulan Ramadhan menyapa mereka yang ada di Rutan termasuk di Lapas. Saya ketemu dengan seorang perempuan yang mengaku sebagai Malaikat Jibril. Jadi Bapak Majelis Hakim, saya jelek-jelek begini saya sudah pernah ketemu malaikat. Ini kalau tidak diantisipasi dalam proses regulasi dan proteksi apakah terhadap hakekat individu yang mengaku sebagai malaikat itu atau regulasi terhadap kelompok lain yang mungkin mereka akan melakukan penghakiman sendiri, punishment sendiri, saya khawatir bahwa energi bangsa ini akan sangat banyak yang terkuras untuk membangun stabilitas yang bisa memberikan jaminan kehidupan yang harmoni. Bahkan misalnya dengan tafsir mereka seseorang yang mengaku sebagai Nabi itu memberikan tafsir begini Nabi Muhammad memang “khatamun mursalin” tapi bukan khatamul ambiya.” Dia sebut Nabi Muhammad adalah Rasul terakhir tetapi bukan Nabi terakhir. Berarti dia merasa sah dan tidak bersalah ketika dia menyebut sebagai Nabi dan kemudian di Sumedang ada orang yang mengaku sebagai Nabi namanya Sumiskun, bayangkan kalau mau baca shalawat Nabi,

Allahuma sholi ala saidina sumiskun,

bayangkan ini terjadi dan kemudian masyarakat melakukan penghakiman sendiri kepada beliau yang kebetulan mengaku sebagai Nabi. Nah pada tataran seperti ini, saya ingin memberikan pandangan bahwa undang-undang ini di dalam proses penghantaran umat, karena dia sudah terbukti bisa memberikan proteksi, regulasi, dan harmoni pada tataran tertentu, maka ini harus tetap dipertahankan dan untuk mengantisipasi berbagai perkembangan intern dan antar umat beragama, dinamika nasional dan dinamika internasional, maka dengan segala hormat sesungguhnya Mahkamah Konstitusi sangat memungkinkan untuk bisa membangun komunikasi, apakah dengan Pemerintah ataukah dengan DPR, antara lain adalah dengan merevisi dengan menambah pasal yang terkait dengan peran serta masyarakat. Di dalam perkembangan banyak undang-undang yang lahir dari DPR sejak 8 tahun terakhir, sangat banyak bab atau pasal di dalam undang-undang itu yang mencantumkan peran serta masyarakat. Peran serta masyarakat ini menjadi penting untuk bisa bersama-sama membangun dialog antar dan intern umat beragama, lalu kemudian mereka bisa memberikan nasihat pada kelompok-kelompok yang mungkin mereka cenderung mengalami kesesatan di dalam pelaksanaan ibadah masing-masing agamanya.

wa alla lai saidina sumiskun,

15

Lalu kemudian sampai dengan terbitnya undang-undang baru, kalau nanti akan direvisi dan disempurnakan maka undang-undang ini masih harus tetap berlaku tidak dicabut, tidak dibatalkan, karena undang-undang ini harus tetap menjadi payung hukum untuk memberikan kepastian hukum bagi masyarakat. Saya khawatir jikalau ini dicabut maka kemungkinan konflik horisontal itu tidak akan tercegah. Kelompok mayoritas tentu sangat potensial untuk bisa menterjemahkan apapun yang mereka bisa tafsiri dari proses sesuatu yang dianggap menodai atau menistai agamanya. Maka yang yang menjadi potensial victim adalah minoritas yang di dalamnya adalah perempuan dan anak-anak. Perempuan dan anak-anak adalah vulnerable group kelompok yang rentan. Saya bisa membayangkan, disetiap konflik sosial apalagi konflik bersenjata selalu kelompok perempuan dan anak-anak yang potensial menjadi korban. Kita tentu berharap bahwa proteksi ini akan bisa berjalan, apakah oleh Pemerintah, apakah oleh elemen-elemen masyarakat, apakah oleh intern maupun antar umat beragama. Oleh karena itu revisi dari undang-undang ini perlu dilakukan tetapi sebelum lahir undang-undang yang baru maka Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1965 atau UndangUndang Nomor 1 PNPS Tahun 1965 tetap harus dipertahankan. Terima kasih, assalamualaikum wr.wb. 30. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Baik, semuanya cukup jelas untuk itu dipersilakan kepada Pemohon, Pemerintah, Pihak Terkait untuk meminta penjelasan lebih jauh, tapi bukan untuk mencari kesepakatan. Karena tidak ada kesepakatan di forum ini karena nanti Majelis Hakim yang akan menentukan putusannya. Pemohon ada? Kemudian Bassra, Pak Egi Sudjana, Majelis Ulama, KWI, Dewan Dakwah. Baik silakan Pemohon dulu. 31. KUASA HUKUM PEMOHON : M. CHOIRUL ANAM, S.H. Ya, terima kasih. Yang pertama untuk Kang Jalal. Terima kasih atas penjelasannya dan terima kasih juga membuka mengingatkan kita pada Socrates, karena dua diantara orang besar yang terbunuh dengan racun, racunnya Arsenic adalah Socrates dan Munir. Pertanyaannya, tadi begitu bagus tentang soal penodaan agama. Yang mengingatkan bahwa penodaan agama tidak boleh.., catatan yang paling penting adalah dengan subjektifitas. Pertanyaanya adalah kenapa Anda risau dengan subjektifitas? Pertama itu. Yang kedua adalah kalau seandainya dipaksakan subjektifitas, ini subjektifitas siapa? Apakah kelompok, apakah tokoh agama, ataukah negara atau memang seperti yang Anda pertegas tadi

16

memang tidak bisa bisa subjektifitas? Harus ada ukuran-ukuran yang bisa diterima secara akal sehat dan menjamin kepastian hukum itu, yang untuk Kang Jalal. Berikutnya untuk Mbak Khofifah. Anda tadi mengatakan bahwa PNPS ini sudah menjamin, tidak terjadi diskriminasi bahkan melinudngi kelompok minoritas. Akan saya bacakan penjelasannya yang tadi Anda juga mengatakan bahwa dalam tafsir Anda bagi kelompok minoritas, menghayat aliran kepercayaan dilindungi di negeri. Di alenia di penjelasan Pasal 1 alenia 1, 2, 3, 4 oh 3 “terhadap apakah kalimat sejak awal tidak mendudukkan kelompok aliran kepercayaan adalah orang yang dianggap berbeda, sehingga harus di arahkan? Itu satu. Yang kedua, apakah memang soal pandangan yang sehat itu diterjemahkan oleh Pemerintah atau diberikan kepada kelompokkelompok yang memang mengamini itu sendiri? Kalau dalam kalimat ini jelas diskriminatif dan jelas dia diskriminatif dan jelas Pemerintah masuk dalam konteks tafsir. Berikutnya adalah bahwa, Anda mengatakan juga bahwa ini adalah tidak diskriminatif dan ini melindungi perempuan dan anak. Di dalam Penjelasan Pasal 1, enam agama disebut pertama dan yang lainnya disebut dalam alenia berikutnya dengan kalimat-kalimat yang berbeda, dalam pandangan kami itu diutamakan dan pengutamaan adalah diskriminasi. Pertanyaannya bagaimana pendapat Anda dengan surat yang dikeluarkan oleh Departemen Dalam Negeri tahun 2006 kepada Gubernur Jawa Tengah dan ini salah satu contoh karena banyak contohcontoh yang lain, yang dalam argumentasinya nomor tiga mengatakan bahwa “status perkawinan tidak bisa dicatatkan untuk kelompok penghayat” karena mereka menganggap bahwa dia bukan enam agama resmi dan jelas-jelas enam agama resmi sesuai dengan diatur oleh PNPS Nomor 1 Tahun 1965. Saya bacakan lengkap, “lembaga pencatatan

badan/aliran kebatinan, Pemerintah berusaha menyalurkannya karena pandangan yang sesat dan ke arah Tuhan YME.” Pertanyaannya adalah,

adalah banyak perempuan dan banyak anak dari komunitas penghayat tidak mendapatkan hak sebagai warga negara, administrasi kependudukan dan banyak jaminan sosial yang dia tidak mendapatkan.

sipil sesuai dengan koridor hukum yang berlaku, salah satunya berfungsi hanya mencatatkan setiap perkawinan dan peristiwa penting dalam lingkup pencatatan sipil bagi masyarakat selain Islam, utamanya dalam rangka tertib administrasi kependudukan untuk memberikan perlindungan terhadap hak-hak keperdataan setiap warga negara. Dengan demikian bagi masyarakat pemeluk di luar agama dimaksud sementara belum dapat dicatatkan kecuali bersedia dia menundukkan diri pada salah satu agama berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 PNPS tersebut.” 6 agama di sini. Jadi bagaimana Anda konsekuensi dari sini

17

Apakah ini tidak model diskriminasi yang dilakukan oleh Pemerintah dengan mengakui enam agama seperti diutamakan tentunya bentuk diskriminasi, yang kedua bagaimana Anda membayangkan perempuan dan anak yang tidak mendapatkan jaminan administrasi kependudukan yang konsekuensinya di dalam kehidupan dia banyak. Dia tidak bisa mendapatkan jaminan sosial dan sebagainya, sehingga saya berharap memang pandangan ahli Mbak Khofifah bisa berubah dengan fakta-fakta ini. Mungkin dari saya itu. 32. KUASA HUKUM PEMOHON : ULI PARULIAN SIHOMBING, S.H., LL.M. Terima kasih, Yang Mulia. Saya ingin menegaskan kembali apa yang dikemukakan oleh Saudara Ahli Khofifah Indar Parawansa. Tadi sudah Saudara Ahli menyebutkan Konvensi Hak Anak, khususnya Pasal 14, ada pembatasan terhadap manifestasi anak dalam hal keagamaan. Memang benar itu ada, cuma di sini kami tegaskan kembali itu manifestasi bukan forum inernum, bukan keyakinan. Nah kami di sini tegaskan bahwa penafsiran adalah keyakinan, jadi itu tidak bisa dibatasi, terlepas apa penafsiran itu bertentangan dengan mainstream atau tidak. Nah kemudian mengenai dokumen review dan juga kesepakatan Jenewa, itu memang PBB sudah memang menyetujui untuk religious hatred bukan untuk defamation. Nah, jadi saya perlu tegaskan kembali itu hanyalah kebencian terhadap agama. Jadi advokasi, bentuk-bentuk advokasi yang menimbulkan kebencian terhadap agama, ras atau etnis. Itu saja tanggapan dari saya terima kasih. 33. KUASA HUKUM PEMOHON : MUHAMMAD ISNUR, S.H. Terima kasih, Yang Mulia. Ahli tadi menyebutkan undang-undang ini terbukti mengantarkan kepada kerukunan umat beragama. Pertanyaan saya, apakah memang pernah ada riset atau ahli membaca atau ahli pernah riset sendiri tentang faktor undang-undang ini dalam mengantarkan kepada kerukunan umat beragama atau hanya mengkaitkan saja? Kalau memang ada riset soal undang-undang ini terbukti mengantarkan pada kerukunan, berapa persentase dibanding faktor-faktor lain? Apakah faktor ini yang paling utama atau memang faktor masyarakatnya atau faktor yang lain? Yang kedua juga tadi ahli menyebutkan betul ada percikanpercikan di dalam undang-undang ini pelaksanaannya. Pertanyaannya, percikan seperti apa? Apakah percikan yang tadi dikatakan oleh rekan saya, karena itu ada diskriminasi, terus bagaimana mengahdapi percikan ini jika betul tadi mengenai pihak-pihak yang minoritas atau yang lain.

18

Demikian, terima kasih. 34. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Dr. Eggi Sudjana. 35. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT (BASRRA) : DR. EGGI SUDJANA, S.H., M.SI. Terima kasih, Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang dimuliakan Allah, assalamualaikum wr. wb. Pemahaman kita di dalam beragama memang bisa bervariasi, tetapi kita sudah diberikan tata nilai berupa Al-quran dan Sunnah Rasullulah atau disebut hadist. Yang berhak membuat hukum adalah Allah, banyak ayat itu. Cuma kita karena pakai mekanisme demokrasi hak Allah ini dirampas lewat DPR dan Presiden melahirkan undang-undang. Akhirnya kita berkonflik-konflik seperti ini karena kita tidak samina wa atho’na kepada Allah SWT. Tapi mari kita bicara dengan dialog yang sehat dan cerdas. Di dalam pengertian yang disampaikan semua tadi itu menurut pemahaman saya ada kekeliruan dari pihak ahli Kang Jalal dengan Prof siapa tadi, saya tidak tahu. Terhadap fungsi kerja MK itu tidak bisa merevisi undang-undang, tidak bisa. Mekanisme review itu hanya menolak atau menerima, itu yang saya pahami kecuali saya keliru. Jadi dalam konteks ini kalau mau revisi, mau memperbaiki mau segala macam DPR, ajukan ke DPR, supaya proporsional. Nah konteksnya hari ini Undang-Undang Nomor 1 PNPS Tahun 1965 ini muatannya tiga hal besar itu, penodaan agama, penyalahgunaan dan penistaan agama. Nah muatan dari itu sudah exactly kalau dikaitkan dengan Islam, ada aturan-aturan yang sudah jelas, yang memungkinkan kita untuk tidak subjektif, tidak ada istilah subjektif. Bagaimana subjektif? Dan tidak ada diskriminatif? Pengertian diskriminatif itu membeda-bedakan atau berlaku ketimpangan karena dalam ruang yang hampa, dalam pengertian yang belum ada satu pun dalam konteks kita berkesetaraan. Tapi kalau sudah masuk Islam, harus samina wa atho’na bahkan di surat Al-Ahzab ayat 36 dengan jelas “jika Allah dan Rasul telah membuat ketetapan tidak boleh ada pilihan lain, tidak boleh sekalipun Mahkamah Konstitusi mau tidak ada itu Quran boleh kita lihat. Jadi kalau sudah ada ketetapan gitu kok, kemudian kita melarang sesuatu di bilang diskriminatif tidak ada. Diskriminatif itu kalau kita sama-sama semua dan Islam sudah kasih peluang, “laa Iqro hafidin,” tidak ada paksaan masuk agama. Tetapi kalau sudah masuk agama ya sa’mina wa athona, tidak bisa yang lain, tidak bisa mengurangi ini dan lain sebaginya. Maka oleh karena itu muatan dari sekarang kita mengadakan judicial review cuma satu yang ingin kita tegaskan, tidak ada istilah revisi, tidak ada istilah

19

diskriminatif, tidak ada yang lain-lain. Undang-undang ini telah melingkupi satu kekuatan bagaimana agama tidak ternodai, tidak disalahgunakan dan tidak terjadi penistaan. Sudah jelas, kalau masih merasa kurang ke DPR bukan di sini. Jadi itu yang harus.., dan di sini sudah tegas agama dinyatakan enam. Saudara-Saudaraku yang beraliran kepercayaan tidak kita mengatakan diskriminatif , tidak dinyatakan agama. Itu problemnya, kalau mau dinyatakan agama boleh saja usul ke DPR bikin undang-undangnya lagi, bukan di sini. Kalau logika konstitusional yang kita harus bangun. Maka oleh karena itu, di dalam kesempatan ini sudi kiranya Majelis Hakim Yang Mulia dari kawankawan kita juga sudah jelas, Kalau harus direvisi apalagi dicabut malah justru berbahaya. Peluang kita untuk membunuh satu sama lain lebih sangat mungkin. Kan kita tahu tadi tahun 1965 1.5 juta orang mati garagara persoalan-persoalan begini juga, kaitan Komunis dan lain sebagainya. Jadi tetaplah undang-undang ini, Undang-Undang Nomor 1 PNPS 1965 jangan ada sedikit pun…, apa namanya catatan lain-lain. Ini tetap dipertahankan, Kalau ada kekurangan, di DPR bukan di sini, Saya kira itu Majelis Hakim. 36. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Terimah kasih, Majelis Ulama. 37. PIHAK TERKAIT (MAJELIS ULAMA INDONESIA) : H.M. LUTFI HAKIM, S.H., M.H. Terima kasih, Yang Mulia. Yang pertama saya tujukan kepada Ahli Jalaludin Rakhmat. Tadi Saudara menyebutkan tentang kita masih memerlukan Undang-Undang penodaan agama. Saya sepakat karena persoalan agama itu adalah sesuatu yang clear sesuatu yang relatif lebih mudah dipahami dari undang-undang ini dan Undang-Undang Undang Penodaan Agama atau yang berkaitan dengan penodaan agama pada PNPS ini terletak pada Pasal 4 bukan pada Pasal 1, Pasal 2 atau Pasal 3. Artinya, penodaan agama itu masuk wilayah hukum atau ranah hukum. Hakim yang akan memutuskannya, subyektifitas hakim yang akan memutuskannya. Kalau kita bicara itu berarti subyektif, subyektif siapa dan sebagainya. Kita kalau tidak melihat konteks dari pasalnya bisa terdengar absolute. Kita harus melihat itu adalah wilayah hukum, pada Pasal 4 yang dimasukkan pada KUHP 156A dimana Hakimlah yang akan memutuskan. Hakim bisa saja bila perlu mendengar berbagai keterangan Ahli Agama tersebut, dan kemudian dengan subyektifitas hakim itulah yang memutuskan. Kemudian yang kedua, tadi Ahli menyebutkan undangundang ini menguntungkan partai yang lebih kuat. Saya akan mengkritisi pernyataan ini. Yang pertama keterangan dari perwakilan agama-agama selain agama Islam yang tentunya kita akan katakan bukan sebagai

20

partai yang kuat di Indonesia ini. Seperti Walubi, juga dari Mataqin, dan yang lainnya telah memberikan keterangan di sini bahwa mereka masih memerlukan PNPS ini, Sehingga saya tidak melihat adanya suatu yang sinkron dengan keterangan Ahli. Kecuali pada KWI yang menyebutkan sepakat dengan permohonan Pemohon, walaupun pada kemudian perwakilan yang hampir selalu hadir dalam sidang ini sepakat dengan FKUB bahwa masih diperlukan PNPS ini. Jadi saya perlu klarifikasi apa yang dimaksud dengan partai yang lebih lemah itu berarti tidak merasa diuntungkan itu seperti apa itu persisnya? Demikian juga pendapat Ahli dari Eddy Hiariej yang menyebutkan Undang-Undang Penodaan Agama dalam KUHP Belanda yang manyoritas dikuasai Parlemennya oleh Kristen itu, justru mereka mengadakan ketentuan tentang penodaan agama untuk melindungi kaum minoritas di Belanda. Jadi sebetulnya logikanya justru PNPS itu untuk melindungi minoritas daripada untuk mayoritas. Demikian juga baru saja diterangkan oleh Ibu Khofifah, demikian juga Hasyim Muzadi bahwa PNPS ini lebih dibutuhkan oleh minoritas daripada mayoritas karena kalau yang mayoritas memiliki kemampuan untuk melakukan pembelaan diri dibandingkan kalangan minoritas dalam menghadapi penodaan agama ataupun berbagai penafsiran yang menyimpang. Saya mohon ada tanggapan Ahli terhadap yang pertama tersebut. Kemudian Ahli juga menyebutkan undang-undang ini dipertahankan sambil memberikan kebebasan beragama terutama terhadap upayaupaya penafsiran-penafsiran baru terhadap agama. Saya sependapat bahwa undang-undang ini tidak bisa memberantas, menghapuskan kebebasan untuk melakukan suatu tafsir terhadap agama. Tafsir suatu agama itu suatu yang niscaya, suatu yang tidak mungkin bisa di batasbatasi. Persoalannya bahwa undang-undang ini hanya memasuki wilayah yang sempit saja dari soal penafsiran yaitu persoalan yang menyimpang dari pokok-pokok suatu ajaran agama. Saya melihat ada dua isu di situ yang saya mengharapkan pendapat dari Ahli. Isu pertama tentang penafsiran. Adakah suatu pembatasan terhadap suatu penafsiran agama? Ataukah penafsiran itu bebas tidak terbatas tidak mengenal suatu batas apapun, termasuk tidak mengenal suatu batas untuk menyampaikan kepada orang lain, mengajarkan pada orang lain? Saya kasih contoh yang paling absolut begitu ya, kalau saya misalnya mengaku saya adalah Ahmad, sebagaimana yang tersebut di dalam Alquran. Saya Ahmad itu misalnya begitu, saya menafsirkan kata Ahmad dalam Al-quran itu adalah saya, apakah itu termasuk bagian dari penafsiran yang diperbolehkan? Karena tidak ada pembatasan suatu penafsiran. Jadi mohon dipastikan apakah ada pembatasan atau tidak? Dan kalau ada pembatasan kita akan masuk ke wilayah yang kedua yaitu pembatasan karena adanya pokok-pokok suatu ajaran agama. Apakah

21

ada yang dinamakan atau nomenklatur pokok-pokok ajaran suatu agama sebelum kita bicara tentang apa saja isi dari ajaran pokok-pokok agama? Dalam diskusi di sini atau dalam suatu tanya jawab di sini, perdebatan di sini, Ulil Abshar adalah tiba pada di suatu kesimpulan memang ada pokok-pokok ajaran suatu agama, hanya berbeda antara satu ini dan satu yang lain itu. Fine saya tidak mempersoalkan perbedaan itu yang penting kita sepakat dengan itu yang penting kita sepakat memang ada. Kalau ada yang dinamakan pokok–pokok ajaran suatu agama, maka PNPS ini sudah benar, gitu. Lain persoalannya PNPS menyebutkan pokok–pokok ajaran suatu agama, sedangkan kita mengatakan tidak ada itu pokok–pokok ajaran suatu agama itu, baru bermasalah PNPS-nya. Kemudian, terhadap pernyataan…, sedikit mohon maaf Yang Mulia, tadi dari Pemohon menunjukkan surat dari Depdagri tahun 2006. Menurut hemat saya, atau saya sangat menyayangkan mengapa dari Pemohon tidak menyampaikan surat tersebut kepada ahli dari Prof. Sudarsono yang beliau itu adalah Mantan Dirjend Kesbang, tentu beliau jauh kompeten untuk menjawab itu. Saya sangat menyayangkan sekali, ketika beliau hadir tidak dipertanyakan soal tersebut. Daripada diajukan kepada Ibu Khofifah tentunya dia lebih kompenten untuk menjawabnya. Demikian Yang Mulia, terima kasih. 38. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Baik, nanti yang soal itu tidak usah dijawab, itu nanti Majelis Hakim yang akan menilai. Silakan, Dewan Dakwah Islamiyah. 39. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT (DEWAN DAKWAH ISLAMIYAH): AZAM KHAN, S.H. Saya melihat ketiga saksi ini memang tidak jelas mengatakan, apakah Undang-Undang Nomor 1 PNPS Tahun 1965 ini, konstitusional atau inkontitusional. Hanya, berputat pada keterangan-keterangan yang dikaitkan kepada HAM. Tapi khusus untuk Ibu Khofifah, tidak. Untuk yang langsung, akan saya tanyakan kepada Prof. Jalaludin, tadi sudah cukup jelas Anda menyingung soal masalah Socrates dan segala macam, itu benar faktanya. Tetapi, fakta lain Anda tidak melihat bahwa undang-undang ini sudah diterapkan. Artinya, sudah berjalan termasuk sudah ada putusan terhadap Ahmad Musadek, Lia Eden, Tantowi dan sebagainya. Artinya bahwa undang-undang ini sudah memiliki payung dan berkekuatan hukum. Tidak lagi Anda berbicara dengan tidak jelas, revisi atau dicabut. Ini kan, abu-abu. Kalau memang dicabut ya, dicabut, tapi, kalau direvisi pasal yang mana yang mau direvisi? Apakah dari seluruh pasal dari 1 sampai 4 itu direvisi, dan Anda

Bissmillahirahmannirahim. Terima kasih, Yang Mulia.

22

sendiri tidak memberikan sebuah solusi. Artinya solusi menerangkan kalau dicabut kempat pasal, direvisi keempat pasal tersebut semuanya ada solusi begini, memang saya setuju apa yang dikatakan Bung Eggi tadi, seharusnya kalau mau mengajukan ini, ke DPR RI, itu tempatnya. Jadi, sedikit itu saja yang saya sampaikan kepada Kang Jalaludin. Yang kedua kepada Prof. Fedy. Prof Fedy, tadi mengatakan bahwa Undang-Undang Nomor 1 PNPS Tahun 1965 ini perlu ditinjau kembali atau direvisi, karena sudah lampau. Padahal, rasionalnya kalau Anda mau mengatakan undang-undang Ini sudah lampau, uzur. KUHAP mohon KUHP itu sudah lama juga malah lebih, lebih lama, lebih-lebih Alquran tadi. Jadi, saya juga bingung pandangan para saksi ini. Artinya yang saya lihat di sini tidak melihat pada fakta hukum. Yang mungkin mohon maaf ini bukan karena ahli hukum. Tapi yang jelas, ini yang jelas seharusnya Anda lebih jelas lagi apa yang dikatakan berinteraksi, antara agama, adanya saksi membutuhkan peraturan-peraturan baru dari Pemerintah demi membangun cultural antara agama dan bisa diakomodasi. Padahal, ini sudah saya pikir cukup jelas ini. Apalagi dengan apa yang saya sebut tadi putusan kepada Ahmad Musadek, Lia Eden dan segala macam yang sudah ada artinya inkracht-nya itu. Sehingga, saya melihati Anda ini kebingungan dalam menerapkan undang-undang ini. Artinya, masih butuh lagi untuk mendalami. Saya pikir itu saja dan untuk Ibu Khofifah juga mohon diperjelas, apakah revisi-revisi ini lebih didahulukan kepada undang-undang yang ada. Itu aja, sekian, terima kasih.

Wassalamualaikum wr.wb.

40.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. KWI.

41.

PIHAK TERKAIT (KWI): RUDY PRATIKNO Terima kasih, Yang Mulia. Pertanyaan dari kami ingin ditujukan untuk Ibu Khofifah. Ibu tadi sudah berbicara mengenai regulasi dan juga proteksi kepada Pemerintah terhadap umat beragama tapi di luar negeri. Yang kami ingin pertanyakan, bagaimana pendapat dan pandangan Ibu tentang regulasi di Indonesia, khususnya, di Provinsi Jawa Timur, dimana Ibu sudah masuk sampai pelosok-pelosok Jawa Timur itu pada saat Pilkada. Pada abad ke-21 ini, hampir tidak terdengar lagi adanya kekerasan dan gejolak-gejolak kehidupan Umat beragama di Jawa Timur. Ini sangat berbeda dengan apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar saat-saat sekarang yang terjadi di Provinsi Jawa Barat, ataupun di Provinsi Banten.

23

Nah, menurut pendapat Ibu, apakah peredaman gejolak-gejolak ini, yang terjadi di Jawa Timur disebabkan oleh adanya Regulasi atau Proteksi dari pemerintah daerah dan penegak-penegak hukumnya? Atau karena peran dari pemimpin-pemimpin komunitas umat beragama yang dapat membimbing umatnya untuk bertindak secara lebih baik dan lebih santun dan juga sekaligus dapat mencegah adanya tindakan melanggar hukum dari umatnya terhadap umat beragama yang lain terlepas dari segala macam adanya perbedaan ataupun ada hal-hal yang tidak berkenan dari umatnya itu? Terima kasih. 42. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Hakim Muhammad Sodiki. 43. HAKIM ANGGOTA : PROF. DR. ACHMAD SODIKI, S.H. Terima kasih. Saya mohon pandangan Ahli Kang Jalal dan Prof. Fedyani. Terutama untuk Prof. Fedyani dari makalahnya ini tentang pengaruh global, pengaruh majunya teknologi, komunikasi, terbukanya informasi, gerak penduduk, mobilitas penduduk, dan sebagainya, tingkat pendidikan. Di dalam menafsirkan kata penodaan, yang harus ditafsirkan kembali, itu letaknya di mana? Kalau dulu orang definisi mencuri, sampai sekarang definisi itu tetap ada, tidak berubah. Hanya medianya barangkali mungkin berubah, tapi subtansinya kan tidak berubah. Nah, sekarang saya ingin penjelasan, dalam kata penodaan itu, kalau itu harus direvisi, indikasi adanya suatu pengertian yang harus berubah itu ada di mana dari devinisi ini? Yang kedua, saya pun sesungguhnya juga memperhatikan. Pertanyaan yang selalu saya kemukakan adalah contoh-contoh yang diberikan itu, itu adalah di negara-negara yang tidak seperti pluralisme di Indonesia. Prof. Soetandyo mengatakan pada kesaksian yang lalu, negara-negara Eropa itu adalah rakyat yang relatif homogen, barangkali Australia dan sebagainya relatif homogen. Sedangkan di Indonesia adalah Plural. Yang sekarang ingin di masalahkan adalah bagaimana mendengarkan dan mengapresiasi pluralisme ini, nilai-nilai yang tumbuh dari bawah ini dalam kerangka memaknai penodaan ini supaya bisa diterima oleh semua pihak? Arah revisinya kan ke sana. Dan sekarang masalahnya adalah ketika contoh itu tidak menggambarkan aspek pluralisme seperti di Indonesia, dengan segala ideologi yang didukung, apakah yang demikian itu lalu bisa kita petik suatu kemanfaatan yang berguna bagi Indonesia? Artinya apa? Artinya bahwa contoh-contoh yang diberikan tersebut, mustinya mirip, walaupun tidak persis sama dengan apa yang kita alami di Indonesia ini dengan segala pluralismenya itu. Yang keempat, tentang peranan negara. Ini juga jadi masalah. Ketika suatu masyarakat tidak bisa menyelesaikan sendiri konflik karena

24

pemahaman yang demikian ini dan menimbulkan chaos, maka saya pikir apakah tidak negara itu wajar untuk turun tangan? Ketika modernisasi dengan segala bentuk makanan yang tersaji dan itu kemungkinan mengandung racun yang masyarakat juga tidak tahu apakah di situ ada racun apa tidak, maka negara harus mempunyai..., kewajiban negara untuk campur tangan. Nah, di sini saya tidak bicara tentang makanan, tetapi juga berbicara tentang orang yang memahami agama dalam berbagai aspek itu, dari segi pemahaman-pemahaman yang sudah lanjut dan pemahaman-pemahaman yang masih barangkali tidak seperti itu. Nah di sini saya mohon pandangan dari Pak Ahli, sampai dimana negara itu boleh campur tangan dan sampai dimana negara itu harus lepas tangan dalam hal-hal kalau terjadi hal-hal yang membahayakan untuk chaos di dalam masyarakat. Terima kasih. 44. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Hakim Muhammad Alim. 45. HAKIM ANGGOTA : DR. MUHAMMAD ALIM, S.H., M.HUM. Terima kasih banyak, Pak Ketua. Saya tujukan untuk ketiga ahli. Kata orang bijak bahwa sebenarnya pemahaman terhadap sesuatu itu tergantung dari sudut pandang, kemudian falsafah yang dianut seseorang. Ketika kita menganggap para pejuang kemerdekaan itu merebut kemerdekan dari Belanda, itu kita bangsa Indonesia melihatnya sebagai pejuang. Tapi oleh Belanda itu bukan pejuang tetapi ekstrimis, itu dari sudut pandang berbeda. Ketika Ayatullah Rohullah Khomeini mengeluarkan pernyataan memberi hadiah satu juta US dolar bagi siapa yang bisa membunuh Salman Rusdi, menurut pandangan dia maka Inggris serta merta melindungi dia, Salman Rusdi. Ketika di Indonesia ramai-ramainya membicarakan Undang-Undang tentang Pornoaksi dan Pornografi waktu itu, di Indonesia ada orang segelintir orang mengedarkan majalah “playboy.” Ini barangkali antara kebebasan dan pembatasan-pembatasan menurut sudut pendapat masing-masing. Dalam pandangan yang antroposentris, setahu yang saya tahu bahwa manusia adalah ukuran segala-galanya, itu antroposentris. Tapi kalau pandangan itu teosentria, Allah atau Tuhan lah yang menjadi ukuran segala-galanya. Jadi kalau antroposentris yang terbaik menurut manusia itu adalah yang terbaik, kalau teosentris yang baik adalah apa yang baik menurut Allah SWT. Di sini masalah sudut pandang atau falsafah yang dianut. Nah dengan demikian berarti terhadap undang-undang yang diuji ini boleh jadi terjadi demikian, bukan boleh jadi sudah pasti terjadi

25

bahwa ada dua pandangan tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Kalau kita memang individualis pasti ini bertentangan, karena ada kebebasan yang semutlak apa, sebebas-bebasnya. Tapi kalau kita menghendaki adanya suatu kehidupan kolektif yang mungkin lebih tentram, mungkin akan berbeda. Ini saya tunjukan pada ahli, sudut pandang mana yang Anda pertahankan. Terima kasih, Pak Ketua. 46. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Ada lagi, Hakim Akil Mochtar. 47. HAKIM ANGGOTA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Kepada Ahli ya, yang Pak Ahmad Fedyani. Undang-Undang ini PNPS ini Nomor 1 Tahun 1965 ini lahir dengan semangat positivis. Kemudian dalam situasi membangun integrasi nasional, dengan pendekatan kewaspadaan dan top down. Artinya peran negara dalam mengambil atau dalam melakukan antisipasi terhadap situasi yang berlaku saat itu tentu menjadi dominan. Dalam masa demokrasi terpimpin yang dikatakan merupakan bagian dari sejarah dari bangsa kita, yang tentu sekarang lebih besar dan lebih baik sampai kita bersepakat kemudian untuk melakukan perubahan terhadap Undang-Undang Dasar kita. Dalam konteks sosial tentu sangat banyak perubahan yang terjadi, bukan saja bahkan dalam bentuk bangunan kenegaraan pun, bentuk pemerintahan pun atau sistem yang kita anut mengalami berbagai perubahan yang mendasar. Nah dalam menjalani proses kebangsaan itu juga menurut saya masih cukup banyak juga berbagai aturan yang melingkupi proses pelaksanaan demokrasi yang sedang kita bangun sekarang. Tentu melihat kepada konteks dan substansi dari satu aturan itu dengan kondisi kekinian yang sedang melanda kita, tentu proses yang kita cari adalah bagaimana proses penguatan national building kita sehingga kita menjadi bangsa yang besar yang sangat pluralistik dengan berbagai hal yang sulit untuk bisa dilakukan sebuah proses penyeragaman. Dalam konteks aturan yang sedang dilakukan pengujian pada hari ini saya ingin satu pikiran yang lebih dalam lagi. Jelas bahwa dalam beberapa kali persidangan yang dilakukan di ruangan ini memang muncul perdebatan apakah yang berhak melakukan suatu penafsiran terhadap pandangan suatu agama itu menjadi otoritas dari negara. Tentu jawabannya berkali-kali juga di ruangan ini bahwa otoritas itu berada pada otoritas agama-agama yang diwakili oleh para pemimpin agama, sehingga atas dasar itulah negara bisa mengambil suatu tindakan. Apakah satu perbuatan dari golongan masyarakat itu masuk

26

kategori sesuatu yang dilarang atau tidak dibolehkan menurut ketentuan ini? Dalam konteks tafsir yang ingin saya katakan tentu sangat majemuk juga tafsir yang muncul. Oleh karena itu, saya hanya ingin satu pikiran apakah dalam konteks Ahli, dalam konteks pikiran atau kemampuan Ahli tentang suatu penodaan…, biasanya yang dinodai itu kan sesuatu yang suci. Jadi kalau sudah ternoda itu biasanya dalam perspektif bahasa Indonesia itu kayanya sangat tidak bagus. Noda itu sesuatu yang tidak boleh, atau harus kita hilangkan, atau sesuatu yang suci kalau sudah ternoda itu sulit untuk bisa disucikan kembali. Oleh karena itu, apa sih batasan dalam konteks Ahli ini, suatu bentuk penodaan? Apakah suatu tindakan penafsiran itu bisa sampai atau bisa dikatakan suatu penodaan atau sampai batas mana suatu penafsiran itu bisa sampai kepada suatu bentuk penodaan? Apakah karena pengikutnya banyak? Apakah dia menimbulkan suatu perbedaan yang mencolok kemudian perbedaan itu lalu menimbulkan suatu kebencian? Atau dia mengajarkan suatu ajaran baru yang…, tapi bersamaan dengan keyakinan yang dipeluk oleh orang lain? Misalnya, saya ingin memberi contoh, misalnya kalau dia meyakini sebagai orang Islam misalnya, yang saya katakanlah Muslim, ya tentu, ajaran-ajaran pokoknya kan dua kalimat syahadat. Itu yang sederhana-sederhanalah. Saya bukan ulama gitu. Saya boleh sembahyang di masjid mana pun sebagai orang Islam, kan gitu. Tapi kalau misalnya ada satu ajaran yang dia melakukan tindakan-tindakan seperti sembahyangnya atau melaksanakan sholatnya seperti Islam, tapi saya tidak tahu niatnya karena niatnya ada yang dilafazdkan ada yang dalam hati juga kan begitu, persoalannya itu macam-macam. Tapi dia misalnya, kalau sholatnya 4 rakaat lalu dia sholatnya 5 rakaat, nah itu sudah pasti menyimpang itu, tanpa dijelaskanpun orang sudah tahu. Yang tindakantindakan seperti itu apakah itu suatu tindakan yang merupakan suatu penafsiran atau sesuatu yang dia yakini berdasarkan kemampuan yang dia yakini. Jadi karena memang tentu ini dalam kondisi yang demikiankan kita bisa melahirkan berbagai tafsir terhadap sesuatu hal termasuk juga dalam perkara ini berbagai Ahli melahirkan berbagai tafsir juga. Itu menunjukkan kepada kita bahwa agama itu, atau sesuatu yang kita yakini itu memang begitu banyak. Dalam kondisi yang demikian, apakah satu otoritas…, tentu kan hukum itu bukan semata-mata untuk menegakan aturan tapi untuk kemanfaatan, untuk kemaslahatan, untuk kepentingan yang lebih luas, saya kira hukum juga perlu ditegakan dalam konteks yang itu. Saya mohon penjelasan Ahli. Terima kasih, Ketua.

27

48.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Pak Harjono tidak ya? Baik, kalau begitu masing-masing 10 menit untuk tigas ahli. Silakan Prof. Jalalludin Rakhmat, kemudian Prof. Fedyani, dan Ibu Khofifah…………..

49.

AHLI YANG DIHADIRKAN OLEH MK : PROF. DR. JALALUDDIN RAKHMAT, M.SC Majelis Hakim Yang Mulia, perkenankan saya untuk menjawab tidak berdasarkan orang perorang, tetapi berdasarkan topik yang tampaknya berbagi bersama di antara para pembicara. Pertama saya kira berkaitan dengan faktor subjektifitas, saya berbicara dalam hubungannya tentang penafsiran dan penjelasan dari Majelis Hakim tadi sudah cukup jelas bagaimana subjektifitas itu bermain ketika kita menafsirkan setiap kata. Dalam hal ini kata atau konsep yang patut menjadi perhatian kita adalah konsep penodaan. Apa sih yang dimaksud dengan penodaan? Siapa yang berhak untuk memberikan tafsir tentang terjadinya penodaan? Dan saya ingin mengulangi kembali beberapa asumsi saya, pertama, saya setuju harus ada Undang-Undang Penodaan Agama, undang-undang itu diperlukan untuk memelihara the fabric of society untuk memelihara tatanan sosial. Dan undang-undang itu juga tidak membatasi hak asasi manusia, undang-undang itu malah mendukung hak asasi manusia yaitu bahwa kehormatan setiap orang, termasuk kehormatan agamanya, itu harus dilindungi untuk tidak dilanggar oleh pihak manapun, defamation lable misalnya yang melanggar kehormatan seseorang menjadi hukum yang saya kira universal di seluruh negara maju yang berdasarkan hukum. Jadi penghinaan, pemfitnahan dan sebagainya, untuk pribadi disepakati sebagai pelanggaran terhadap hukum. Sekarang kita anggaplah penghinaan, penodaan, pencemaran kehormatan, penjatuhan kehormatan itu dari tingkat individu kepada sebuah institusi, yaitu institusi keberagamaan. Ketika kita melakukan defamation lable untuk individu, kita hanya menyerang satu orang, tetapi ketika kita melakukan hal yang sama, menghina, mencemooh, merendahkan kehormatan dari sebuah institusi, kita menyerang seluruh anggota institusi itu. Tadi saya sebetulnya mengusulkan sebagai solusi apa saja sih yang termasuk lingkup penodaan itu? Dan kapan penafsiran itu dianggap sebagai penodaan? Tapi sebelum saya sampai kesitu izinkan saya memberikan beberapa contoh konkret, bagaimana penafsiran resmi yang dimiliki oleh pemegang otoritas telah menghukum orang karena penafsirannya yang berbeda. Al-Hallaj karena pengalaman rohaniahnya memberikan tafsir baru tentang keberagamaan dan dia dituntut hukuman mati, tubuhnya dicincang, dan malah dibakar dan debunya

28

disebarkan ke seluruh dunia katanya supaya, saya tidak tahu mungkin supaya nanti ada korban berikutnya juga yang memberikan penafsiran yang berbeda dari penafsiran mainstream waktu itu. Pernah pada suatu saat ada pertentangan Jabariah dan Qodhariyah kebetulan kelompok Jabariah didukung oleh penguasa. Karena penguasa berfikir kalau kita ini diperintah oleh seorang penguasa yang zhalim, penguasa yang zhalim itu memerintah dengan takdir Tuhan. Jadi rakyat tidak boleh menetang kezaliman itu karena menetang kezhalim berarti menentang takdir Tuhan. Kemudian muncul seorang yang berpendapat dan dengan dalildalil Al-Quran juga dengan merujuk kepada Al-quran dia menegaskan bahwa kita memiliki kebebasan memilih, apakah kita mau menerima pemimin yang zalim atau menentangnya, kita memiliki kebebasan. Dan penafsiran itu kemudian dihukum pelakunya digantung. Di Pakistan belakangan ini ada seorang guru SD berpendapat bahwa sebelum Rasulullah SAW menerima wahyu, dia bukan seorang muslim karena sejarah keislaman itu dimulai setelah Rasulullah menerima wahyu. Dia dihukum berdasarkan undang-undang di Pakistan pada waktu itu dan dia dihukum mati, hanya karena kesalahan untuk, karena kesalahan penafsiran. Dan saya kira, saya ingin penafsiranpenafsiran yang seperti itu tidak dianggap penodaan. Apa lagi kalau penafsiran itu, sekali lagi batasannya penafsiran seperti penjelasan undang-undang ini. Penafsiran itu bersifat obyektif, saklek dan ilmiah. Jadi sekiranya ada seorang yang menulis, Ibn Arabi misalnya menulis tentang wahdatul wujud dengan tulisan yang sangat ilmiah menjadi kajian para ilmuan sepanjang zaman, kemudian dihakimi oleh pemegang otoritas sebagai penafsiran yang sesat dan itu pernah terjadi di Indonesia. Cak Nur misalnya pernah menerima kumpulan pamflet yang menjelaskan kekafiran Ibn Arabi. Untungnya yang menulis pamflet itu bukan pemegang otoritas hukum. Sekiranya dia pemegang otoritas hukum maka bukan saja Ibn Arabi juga Cak Nur akan dituntut di pengadilan dan dijatuhi hukuman paling tidak 5 tahun penjara berdasarkan undang-undang ini. Nah, sekarang kita harus bisa membedakan mana penafsiran yang dianggap penodaan dan saya memberikan beberapa batasan satu penafsiran yang ilmiah, saklek itu tadi yang disebutkan, mungkin urusan Majelis Hakim untuk mendefinisikan apa itu ilmiah dan saklek dan obyektif? Penafsiran yang obyektif tidak boleh dipidana, karena kalau itu dipidana kita akan memberangus perkembangan pemikiran Islam. Maka setiap Reconstruction of Islamic Thought seperti yang dikatakan Iqbal akan mengalami nasib yang mengenaskan di sidang pengadilan. Mahukah kita memperbanyak lagi Al-Hallaj, Ibn Arabi. Sekedar contoh kecil lagi, Saya menemukan bahwa Undang-Undang Penodaan Agama di Kuwait dan Bahrain ditujukan untuk, sebetulnya targetnya adalah sasarannya adalah orang-orang Syiah yang mereka anggap

29

bertentangan dengan penafsiran resmi keagamaan. Bahkan mereka menggunakan istilah bertentangan dengan Al-quran dan As-sunnah menurut penafsiran mereka. Sekaligus saya menjawab Saudara saya Mas Eggi Sudjono, betul bahwa.., oh Sudjana, sorry-sorry, apa itu dianggap pencemaran nama baik? Itu saya kira urusan penafsiran. Ini tadi Mas gki menunjuk kepada beberapa ayat Al-quran dan beliau berkata bahwa sebetulnya hukum yang benar itu adalah hukum Al-quran, pasti Mas Egi mengutip itu dalildalil yang dulu sering saya kutip ketika saya masuk ke dalam gerakan yang ekstrim. wamalam yahkum bima anzallahu fa ula ika humul kafirun, fa ula ika humul fasiqun, fa ulla humul dzolimun. Dan bahwa sistem ini adalah sistem jahiliyah karena sistem ini merampas hak Tuhan untuk memerintah dunia ini. Dengan segala penghormatan saya kepada Mas Eggi, kapan itu sesuatu itu disebut Hukum Tuhan? Itu sebetulnya adalah masalah penafsiran manusia. Pada akhirnya ada sekelompok manusia yang mewakili Tuhan untuk menegakan hukumnya di bumi. Atas dasar hak apa kemudian dia mengklaim bahwa dia wakil Tuhan di bumi dan bahwa dia penafsir satu-satunya dari Al-quran Nulkarim? Sekedar sebagai contoh saja menurut saya menyantuni fakir miskin, membantu orangorang yang teraniaya adalah bagian dari hukum Islam. Membela orangorang teraniayah adalah bagian dari hukum Islam dan itu jelas dalilinya, Sekedar contoh saja, saya pernah dipanggil oleh Kotamadya Bandung dengan mencoba menyingkatkan pembicaraan saya. Walikota Bandung beberapa waktu yang lalu untuk menegakan syariat Islam di Bandung. Dan saya tanya apakah yang Bapak maksud dengan syariat Islam? Apakah syariat Islam itu adalah wajib membaca Al-quran bagi pegawai negeri seperti di Buluumba atau wajib sholat berjamaah di Masjid Agung seperti di Cianjur, apa yang dimaksud dengan syariat Islam itu? Karena Bapak bisa mewakili Tuhan dan mengatasnamakan Tuhan dengan mengatakan syariat Islam. Saya mengusulkan agar di Bandung ini didirikan syariat Islam yang disepakati bersama yaitu misalnya membantu fakir miskin, memberikan modal kepada pengusaha yang lemah dan saya bisa berikan kepada Bapak seabreg ayat Al-quran tentang pembelaan kepada fuqara dan masaqin. Lebih banyak ketimbang ayat-ayat tentang jilbab. Jadi mana sih ayat-ayat yang kita jadikan syariat Islam itu bergantung kepada penafsiran kita dan bergantung kepada pemilihan ahli. Akhirnya sambil menjawab itu sekaligus, apa pembatasannya, penafsiran itu Pertama saya mengusulkan sebagai solusi, bahwa yang dimaksud dengan penodaan itu dengan belajar dari undang-undang di negara yang lain misalnya Pakistan, yang dimaksud dengan penodaan itu ialah misalnya menggunakan kata-kata baik diucapkan atau dengan tertulis atau dengan gambar atau dengan insinuasi atau penyiratan tertentu langsung atau tidak langsung yang menodai kehormatan yang suci dari Nabi Muhammad SAW. Jadi itu sudah sangat jelas, yang dimaksud

30

penodaan itu bukan penafsiran. Kita tidak boleh menyebutkan penafsiran itu sebagai penodaan kecuali kalau orang mengklaim penodaan sebagai penafsiran dan saya kira kita tahu mana penafsiran, mana penodaan? tapi undang-undang itu memberikan contoh yang sangat jelas. Misalnya saya menodai kehormatan Nabi SAW, menginjak-menginjak Al-quran atau misalnya mencemoohkan, melecehkan Al-kitab atau kitab-kitab suci lainnya. Jadi tidak berkaitan dengan penafsiran terhadap agama. Nah, itu sebetulnya berkaitan Pasal 1 kalau saya tidak salah di dalam undangundang itu, itu yang populer, yaitu di sini dibatasi penafsiran itu dengan.., ini “setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum, dan batasannya di sini ialah penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu, Nah, ini masalahnya seperti pernah, saya kira saya munculkan ke persidangan ini. Apa yang dimaksud dengan pokok-pokok ajaran agama, itu bisa berbeda. Tetapi, saya kira ada beberapa pokok agama yang sangat universal. Marilah kita berpegang kepada yang universal itu, misalnya kehormatan Nabi Muhammmad SAW itu universal, apapun mahzabnya. Kehormatan Alquran itu universal apapun mahzabnya. Saya kira itu sangat jelas, tapi janganlah masuk, memasukan secara meluas ini pokok-pokok agama yang tidak universal. Dalam istilah agama ini, “jelek-jelek juga ini dibandingkan Ibu Khofifah, saya kira ilmu pengetahuan agama saya lebih luas, bahkan dibandingan dengan Mas Egi sekalipun. Artinya, maksudnya tidak untuk menunjukkan otoritas saya dalam hal itu. Tapi memang di dalam agama ada yang disepakati bersama, Itu qod’iyat namanya. Semua orang sepakat di situ dan kalau orang mulai mencemooh, mengejek, menghina dengan penuh permohonan maaf, saya, misal pada kelompok Islam Liberal, misalnya menyamakan Rasulullah SAW dengan Lia Amiludin itu termasuk menurut saya , itu termasuk Undang-Undang Penodaan Agama ini. Sekali lagi walaupun itu hanya slip atau tang saja, anyway. Tapi itu, buat saya itu disepakati bersama penodaan terhadap kehormatan kanjeng Nabi SAW, disepakati oleh semua umat. Tapi yang lain-lainnya itu yang disebut dengan zooniyat, yang mengundang tafsir yang ambigu di dalam agama. Sejak dahulu para ulama pun memberikan kebebasan seperti itu. Oleh karena itulah agama terus berkembang, mengalami rekonstruksi pemikiran. Nah, untuk menunjukkan mana sih yang dimaksud dengan qod’iyat? Kapan suatu itu disebut penodaan? Mungkin tidak bisa diputuskan di Majelis ini. Mungkin harus ada pertemuan khusus untuk menunjukan mana yang qod’iyat dalam setiap agama dengan mewakili setiap agama tertentu. Nah karena saya tidak bisa memahami wewenang Majelis Konstitusi, menurut saya sekiranya revisi itu harus diajukan kepada Mahkamah Konstitusi kepada DPR, ya go head yang penting ini direvisi mau dicabut dulu atau tidak dicabut. Tapi, menunggu sambil dibuatnya undang-undang baru seperti usul itu, itu go head. Tapi

menceritakan, mengajurkan atau mengusahakan dukungan umum untuk melakukan penafsiran tentang suatu agama yang dianut di Indonesia.”

31

pada intinya, saya melihat undang-undang ini harus disesuaikan dengan perkembangan zaman. Dan terakhir, hanya sekedar memberikan contoh-contoh bahwa undang-undang ini pernah memasung hak minoritas. Saya kira apa yang dialami oleh aliran dan kepercayaan sekarang ini adalah salah satu contoh yang jelas. Belum lagi contoh-contoh yang dikemukakan oleh Pemohon secara luas dalam data-data yang diajukan ke Mahkamah Konstitusi. Itulah contoh-contoh yang jelas, bagaimana undang-undang ini Ibu Khofifah sudah pernah menimbulkan persoalan, bencana “kepada kelompok minoritas” Terima kasih Majelis Hakim dan Mohon maaf kalau lebih dari 10 menit. 50. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Silakan, Prof. Fedyani. 51. AHLI YANG DIHADIRKAN OLEH MK : PROF. DR. AHMAD FEDYANI SAIFUDDIN Terima kasih, Majelis Hakim. Saya akan menanggapi semua pertanyaan itu sekaligus karena waktu yang singkat hanya 10 menit. Dan saya, ada beberapa poin di sini. Pertama, memang benar kehadiran saya di sini bukan sebagai sarjana hukum, saya antropolog. Karena saya ini antropolog maka, tanggapan saya atau pendapat saya pun tentulah sangat diwarnai oleh pendekatan antropologi itu. Nah, salah satu dari basis pemahaman atau pembahasan antropologis itu adalah basis empirik. Jadi, masyarakat itu berubah dan lain-lain itu bagaimanapun harus masuk itu. Bahwasanya Penetapan Presiden Nomor 1/1965 ini sudah berumur hampir satu setengah abad, itu adalah suatu hal, artinya minimal kita sudah mengalami beberapa pergantian generasi, manusia berganti dan lain-lain itu harus masuk ke dalam ranah pembahasan empirik ini. Nah, tadi dikatakan bukankah Kitab Undang-Undang Hukum Pidana misalnya sudah lama juga. Nah, ini saya mohon maaf kalau sedikit juga mengeritik bahwasanya kalau hukum dilihat secara antropologi, maka ada yang namanya pendekatan antropologi hukum. Maka saya pun akan mengusulkan agar hukum di Indonesia juga direformasi, nah ini masalahnya, gitu ya. Ini, ini masalahnya gitu, ini yang pertama. Yang kedua, di dalam antropologi itu ada satu prinsip dasar, yaitu prinsip relativisme kebudayaan. Di dalam relativisme kebudayaan ini jelas sekali ditunjukkan bahwa keanekaragaman adalah satu hal yang harus di perhitungkan, ya. Untuk, untuk at the first place gitu,

32

diprioritaskan gitu. Nah, terikat dengan relativisme kebudayaan itu ada yang namanya prinsip atau pendekatan emik. Nah, yang dimaksud dengan pendekatan emik itu tafsir tadi itu, kita mendahulukan dulu pengetahuan, pengalaman, pikiran-pikiran dan keyakinan dari warga masayarakat termasuk dalam hal ini penganut suatu agama itu musti didengar dulu, diposisikan dulu. Apalagi pada masa kini, dimana tadi di dalam tanggapan itu saya katakan semakin ke abad 21 ini, kita semakin menyaksikan posisi manusia itu bergeser dari posisi sebagai objek menjadi posisi sebagai subjek. Demikian juga falsafah pemikiran dalam ilmu pengetahuan itu juga sangat menarik kita perhatikan juga mengalami hal yang sama. Bahkan beberapa ahli ilmu sosial mengatakan, misalnya di sini saya tulis ada satu buku yang terbit baru 2 bulan yang lalu. Power Of Identity dari Meanwell kessel, ahli sosiologi. Dia mengatakan bahwa abad ke-21 ini, adalah abad berakhirnya kenabian dalam ilmu-ilmu sosial. Jadi bukan kenabian dalam agama, bukan ya. Kenabian di dalam ilmu-ilmu sosial. Pada abad ke-19 abad 20 kita menyaksikan begitu banyak nabi, ada Durkheim, ada Max Weber, ada Karl Marx, ada Herbert Spencer, macam-macam. Sepertinya nama-nama itu agak sulit kita temukan menjadi sangat besar. Memang banyak tokoh, banyak ahli, tapi tampaknya masing-masing sudah terfokus pada satu keahlian tertentu yang juga dinyatakan setara dengan ahli-ahli lain. Jadi artinya, kalaupun ada nabi, maka terjadilah di situ terbentuknya nabi-nabi kecil yang banyak sekali yang tidak ada satupun yang dominan begitu. Nah ini. Ini salah satu konsekuensinya untuk mengatakan bahwa manusia itu sekarang memang kita saksikan bergeser dari posisi sebagai objek menjadi semakin subjek. Nah, inilah sebenarnya kejadian yang terjadi pada abad terakhir ini, abad 21 ini. Dimana kita sekarang menyaksikan begitu banyak perubahan. Abad ke-21 ini juga ditandai oleh semakin menguatnya kekuasaan segitiga, ekonomi, teknologi, informasi. Terbentuknya masyarakat-masyarakat jaringan di seluruh dunia. Makin meningkatnya gejala Trans. Trans itu cross boundary, artinya lintas batas. Lintas batas wilayah, lintas batas kebudayaan, lintas batas etnik, lintas batas bangsa, dan lain-lain. sehingga ini komunikasi dan interaksi antar orang-orang itu juga diasumsikan semakin meningkat. Nah, karena itulah, saya kira di dalam perspektif Antropologi ini kita berasumsi bahwasanya..., termasuk juga hukum, termasuk juga undang-undang itu harus mengikuti perkembangan zaman. Ini argumentasinya. Nah kemudian, tadi ada persoalan tafsir dan penodaan. Kalau saya melihat bahwa jikalau saya boleh mendefinisikan barangkali penodaan itu ada 3 hal di sini. Pertama, adanya suatu gejala dimana penganut suatu agama, kalau kita ingin memusatkan perhatian kepada agama, memasuki ranah agama lain yang bukan haknya, itu satu.

33

Kemudian yang kedua, orang atau pihak tersebut..., tadi penganut suatu agama memasuki ranah agama yang lain yang bukan haknya, orang atau pihak itu mewujudkan kelakuan atau tindakan stigmatisasi, kalau boleh saya katakan stigmatiasi di sini, atau labeling negatif dengan maksud memberikan citra buruk. Nah, citra buruk itu, ada ranges-nya, ada rentangnya dari penghinaan sampai kekerasan. Itu saya masukan dalam satu kategori besar penodaan. Dan yang ketiga, tafsir memang bukan penodaan, tapi tafsir dapat diimplikasi oleh kepentingan-kepentingan politik terhadap agama lain. Jadi kalau boleh saya menguraikan kata penodaan itu di dalam 3 unsur itu tadi. Kemudian yang terakhir, ini masalah yang tadi saya katakan bahwa menganut agama, menafsirkan sesuatu dan lain-lain, itu kan semuanya masuk di dalam konteks hak dan kewajiban yang saya ibaratkan sebagai sebuah koin dengan dua sisi yang setara. Nah, jadi apabila kita ingin membahas tentang undang-undang dan lain-lain, sebetulnya yang kita bahas itu kan tentang kontekskonteks perwujudan kelakuan dan tindakan terhadap agama lain sebetulnya, begitu. Jadi bukan tafsir, bukan ranah dari doktrin, dari setiap agama, ataupun aliran-aliran agama tertentu. Tapi, kalau tafsir itu kemudian dipolitisir, tadi perbedaan itu pun menjadi potensial untuk mewujudkan terjadi konflik. Jadi, Saya kira demikian Majelis yang terhormat. Terima kasih. 52. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD. S.H. Terakhir, Bu Khofifah. 53. AHLI DARI PEMERINTAH : DRA. KHOFIFAH INDAR PARAWANSA Terima kasih. Beberapa hal yang saya ingin respon. Apakah dari Pihak Pemohon atau dari Pihak Terkait atau dari Majelis Hakim. Jikalau tadi saya memberikan contoh beberapa fenomena yang kebetulan terjadi di Eropa, sesungguhnya saya ingin menyampaikan pentingnya regulasi. Itulah perbedaan adanya Pemerintah dan tidak adanya Pemerintah. Bahwa Pemerintah memiliki kepentingan untuk mengatur kehidupan yang harmoni, yang bisa memberikan maksimalisasi dari produktifitas bangsanya, lalu masuklah pada arealareal yang memungkinkan itu akan memiliki potensi terhadap kehidupan yang destruktif. Nah pada tataran seperti ini jikalau tadi Pak Majelis Hakim, Pak Alim menyampaikan mana yang didahulukan, apakah kebebasan ataukah kolektifitas kehidupan itu yang harus diatur? Artinya kemudian relatif akan ada restriksi-restriksi. Saya rasa kita bisa kembali pada aturan konstitusi kita kalau di Undang-Undang Dasar 1945 di Pasal 21J, ini dari seluruh hak asasi

34

manusia apakah berdasarkan Undang-Undang HAM, maupun.., apakah berdasarkan Undang-Undang Dasar atau Undang-Undang Dasar 1945. Di Pasal 28J itu disebutkan bahwa “setiap orang itu wajib menghormati kemudian dibatasi atas nama kehidupan yang tertib dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kemudian yang kedua masih Pasal 28J, “dalam menjalankan hak

hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.” Jadi ada konteks dimana kebebasan itu

kemudian kalau disebutkan bahwa Undang-Undang PNPS ini sempat menimbulkan korban. Kalau itu kita jadikan referensi KUHP itu sudah berapa puluh ribu yang menjadi korban? Nah pada tataran seperti ini, saya ingin menyampaikan beberapa hal yang memang harus kita bangun, kebersamaan kita di dalam melihat pluralisme dan multikulturalisme ini. Lalu payung regulasinya seperti apa? Sekaligus saya akan menyampaikan bahwa kalau tadi ada percikan-percikan dari implementasi undang-undang ini, jadi saya lebih melihat bagaimana sebetulnya komitmen kita untuk melaksanakan pada tataran-tataran yang tadi misalnya sudah sempat dikutip oleh Pak Jalal. Dengan demikian maka uraian-uraian tertulis maupun lisan yang dilakukan secara objektif, exactly dan ilmiah mengenai suatu agama yang disertai dengan usaha, ini yang tadi belum sempat dikutip. Yang disertai dengan usaha untuk menghindari adanya kata-kata atau susunan kata-kata yang bersifat permusuhan atau penghinaan, bukanlah tindak pidana menurut pasal ini. Nah bagaimana kita saling memberikan penjelasan, pemahaman supaya tidak ada sesuatu apakah itu yang terkait dengan perilaku, apakah itu yang terkait dengan tulisan atau itu terkait dengan lisan, lalu kemudian dilakukan, ada nuansa permusuhan ada nuansa penghinaan? Nah kalau kemudian ini dikaitkan di Jawa Timur, apakah kohesifitas kehidupan intern dan antar umat beragama di Jawa Timur yang relatif kondisif itu karena undang-undang ini, karena regulasi atau karena misalnya pejabat pemerintah atau tokoh agama? Saya rasa payung besarnya tetap undang-undang ini, regulasi. Payung besarnya tetap regulasi. Setelah itu kemudian bagaimana komitmen pejabat negara, pusat lalu kemudian pejabat daerah lalu pimpinan intern umat beragama sendiri itu mampu membangun penguatan kualitas kehidupan umatnya. Jadi menurut saya payungnya tetap pada regulasi, lalu kemudian implementasi dari aturan yang sudah kita sepakati. Lalu kemudian yang terkait dengan konvensi. Saya ingin menyampaikan bahwa di dalam kesepakatan yang ada di Jenewa pada bulan April tahun 2009 yang lalu itu memang terkait dengan kebencian. Tetapi hal-hal yang terkait dengan kebencian, jadi penggunaan kalimatnya…, mohon maaf. Penggunaan kalimatnya memang inside

dan kebebasannya setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang, dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak kebebasan orang lain,” dan seterusnya terutama untuk memenuhi tuntutan keadilan. Lalu

35

man of hatred, pengobaran kebencian yang didasarkan atas agama, tidak menggunakan misalnya religious blasphemy atau religious defamation misalnya, yang terkait dengan penodaan agama. Tetapi hal-hal ini akan sangat mungkin impelmentasi dari kebencian terhadap agama itu akan sangat berdekatan dengan penodaan atau penistaan agama. Nah pada tataran seperti ini saya rasa referensi yang tadi saya sampaikan berdasarkan apa, Keputusan Jenewa pada bulan April tahun 2009 yang lalu, saya rasa ini tetap bias dijadikan bagian referensi bahwa betapa PBB pun memiliki semacam political commitment untuk bisa membangun harmoni antar umat beragama di dunia ini, sehingga satu dengan yang lain tidak menimbulkan kebencian sekaligus tidak menimbulkan penodaan dan tidak menimbulkan penodaan antara yang satu dengan yang lain. Memang penggunaan kalimat di dalam forum ini adalah kebencian, tetapi bahwa ketika itu diekspresikan itu akan sangat banyak bergesekan atau berhimpitan dengan persoalan-persoalan yang terkait dengan penodaan dan sangat mungkin kemudian agama yang bersangkutan melihat itu bagian dari penistaan. Lalu kemudian yang terakhir, yang terkait dengan administrasi pencatatan. Saya rasa itu address-nya itu adalah ke adminduk. Dan paling akhir soal undang-undang ini, kami tadi menyampaikan begini. MK kami mohon bisa mengkomunikasikan kepada Pemerintah dan kepada DPR. Posisinya adalah pada legislative review, karena sangat mungkin, ada revisi undang-undang lalu dimasukan kepada prolegnas, nah legal drafting-nya bisa dari DPR bisa dari Pemerintah. Kami tadi menyampaikan, mungkin ada pasal atau bahkan atau bahkan mungkin bab baru yang bisa dimasukan, yaitu tentang peran serta masyarakat. Karena sangat banyak undang-undang yang belakangan hadir itu ada bab khusus atau pasal khusus tentang peran serta masyarakat. Peran serta masyarakat di sini akan memungkinkan terbukanya ruang dialog yang lebih intensif dan lalu bagaimana masingmasing tokoh agama bisa lebih intens membangun kualitas kehidupan umatnya. Nah selagi undang-undang baru, kalau nanti memang akan dilakukan revisi itu belum hadir maka undang-undang ini tetap harus dipertahankan, seperti yang tadi kami sampaikan, kaidah ushul fikihnya adalah al muhafadatu alla ghati misholi wal akhlu biljaditil aslah. Kalau ini belum bisa digantikan oleh yang lebih baik maka sebaiknya ini masih dijadikan dasar referensi bangsa dan negara kita. Terima kasih.
54. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Baik Saudara sekalian, saya kira sidang hari ini sudah cukup dan Rabu tanggal 24 adalah sidang terakhir, sidang penutup dari keseluruhan pemeriksaan di persidangan akan menghadirkan ahli dari Pemohon, itu ada W. Cole Durham yang akan teleconference dari sini ke Amerika.

36

kemudian Budi Santoso, kemudian dari Pemerintah ada Roni Nitibaskara, kemudian dari MKRI yang diundang oleh Mahkamah Konstitusi adalah Garin Nugroho, Yusril Ihza Mahendra, Komarudin Hidayat, Muslim Abdurrahman, Taufik Ismail dan Mardjono Reksodiputro. Itu saya kira bisa selesai sidang hari itu, kalau tidak selesai pagi bisa diselesaikan sampai sore. Dengan demikian, sidang dinyatakan selesai dan ditutup.

KETUK PALU 3 X SIDANG DITUTUP PUKUL 11.05 WIB

37

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful