You are on page 1of 30

PRESENTASI KASUS

MORBUS HANSEN
(KUSTA, LEPRA)

Disusun Oleh :
Annisa Amalia Fitriani

G1A2120073

Pembimbing :
dr. Ismiralda Oke, Sp.KK

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
SMF ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN
RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
PURWOKERTO
2013

HALAMAN PENGESAHAN
MORBUS HANSEN (KUSTA, LEPRA)

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Tugas Mengikuti


Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin
RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto

Disusun oleh :
Annisa Amalia Fitriani

G1A210073

Telah dipresentasikan
Pada Tanggal :

Mei 2013

Menyetujui

dr. Ismiralda Oke, Sp.KK

I.

PENDAHULUAN
2

I.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. S

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Usia

: 50 tahun

Pekerjaan

: Buruh

Alamat

: Perum Penambongan Karangmanyar RT 01/03


Banyumas

II.

Agama

: Islam

No. CM

: 27-50-98

ANAMNESIS
Diambil dari autoanamnesis pada tanggal 1 Mei 2013,pukul 10.50 WIB
Keluhan Utama

: kulit di tangan kiri mulai tidak terasa

Keluhan Tambahan : Kulit menjadi berwarna putih seperti panu


Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang ke Poli Kulit dan Kelamin RSMS dengan keluhan
sebagian kulit di tangan kanan menjadi tidak terasa. Awalnya keluhan
didahului dengan bercak putih seperti panu yang berukuran kecil
kemudian bercak dirasakan semakin meluas dengan bagian tengahnya
menjadi mati rasa. Bercak mulai muncul sejak 6 bulan yang lalu kemudian
keluhan mati rasa dirasakan sejak 1 bulan yang lalu.
Pasien mengaku sudah diberi obat kalpanak namun tidak membaik
dan bercak putih tetap meluas. Pasien belum pernah berobat kemanapun
dan hanya membeli obat kalpanak saja.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Keluhan serupa sebelumnya disangkal
3

Tidak ada.Riwayat Alergi


Tidak ada Riwayat Penyakit Diabetes Mellitus, Hipertensi
Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada yang menderita penyakit dengan keluhan yang sama dengan
pasien. Tetangga maupun teman kerja pasien juga tidak ada yang
mengalami keluhan serupa.
Tidak ada yang menderita Alergi, Penyakit Asma pada keluarga pasien

III.

STATUS GENERALIS
Keadaaan umum

: Baik

Kesadaran

: Compos mentis

Keadaan gizi

: Baik

Vital Sign

: Nadi

: 80 x/menit

Pernafasan

: 20 x/menit

Suhu

: afebris

Kepala

: Normochepal, rambut hitam, distribusi merata

Mata

: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)

Hidung

: Simetris, deviasi septum (-), sekret (-)

Telinga

: Bentuk daun telinga normal, sekret (-)

Mulut

: Mukosa bibir dan mulut lembab, sianosis (-)

Tenggorokan

: T1 T1 tenang , tidak hiperemis

Thorax

: Simetris, retraksi (-)


Jantung : BJ I II reguler , murmur (-) , Gallop (-)
Paru

Abdomen

: SN vesikuler , ronki (-/-) , wheezing (-)

: Supel,datar,BU (+) normal

Kelenjar Getah Bening: tidak teraba pembesaran.


Ekstremitas

: Akral hangat, edema (

hipopigmentasi.

) terdapat makula

IV.

STATUS DERMATOLOGIKUS
1. Lokasi

: Ekstremitas Superior

Effloresensi

: Terdapat makula hipopigmentasi plakat pada bagian

fleksor antebrachii dextra.

V.

2. Lokasi

:Ekstremitas inferior

Effloresensi

: tidak ada kelainan kulit.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hasil tes sensoris nyeri terdapat hipestesi pada bagian tengah lesi dan pada
palpasi terdapat perbesaran pada nervus Radialis.

VI.

RESUME
Pasien Tn S datang ke Poli Kulit dan Kelamin RSMS dengan
keluhan sebagian kulit di tangan kanan menjadi tidak terasa. Awalnya
keluhan didahului dengan bercak putih seperti panu yang berukuran kecil
kemudian bercak dirasakan semakin meluas dengan bagian tengahnya
menjadi mati rasa. Bercak mulai muncul sejak 6 bulan yang lalu kemudian
keluhan mati rasa dirasakan sejak 1 bulan yang lalu. Pasien mengaku
sudah diberi obat kalpanak namun tidak membaik dan bercak putih tetap
meluas. Pasien belum pernah berobat kemanapun dan hanya membeli obat
kalpanak saja. Pasien menyangkal dikeluarga maupun lingkungan kerjanya
ada

yang memiliki keluhan serupa. Pada pemeriksaan dermatologis

ditemukan makula hipopigmentasi plakat pada bagian fleksor antebrachii


dextra. Hasil tes tusuk terdapat hipestesi pada bagian tengah lesi.

VII.

DIAGNOSA KERJA
Kusta tipe Plausibasiler.

VIII. DIAGNOSIS BANDING


5

Ptiriasis versikolor (melebar, terdapat squama halus)


Vitiligo (muncul sejak lahir, meluas, nyeri bila terkena sinar matahari)
IX.

PEMERIKSAAN ANJURAN
Swab kulit.

X.

PENATALAKSANAAN
1.

Non Medikamentosa
a. Menjelaskan kepada pasien mengenai penyakitnya.
b. Mencegah iritasi pada daerah yang hipestesi.
c. Menjaga kebersihan kulit
d. Menjaga imunitas tubuh
e. Menjelaskan tentang pengobatan dan komplikasi pengobatan
dan penyakit.
2. Medikamentosa
MDT-PB
Sohobion 1x1

XI.

PROGNOSIS
Quo ad vitam

: dubia ad bonam

Quo ad kosmeticum : dubia ad bonam


Quo ad sanationam

: dubia ad bonam

Effloresensi Pada Pasien Tn S

II.

1.1.

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi
Istilah kusta berasal dari bahasa Sansekerta, yakni kushtha berarti
kumpulan gejala-gejala kulit secara umum. Penyakit kusta disebut juga
Morbus Hansen, sesuai dengan nama yang menemukan kuman yaitu Dr.
Gerhard Armauwer Hansen pada tahun 1874 sehingga penyakit ini disebut
Morbus Hansen (Djuanda, 2007).
Penyakit Hansen adalah sebuah penyakit infeksi kronis yang
disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini adalah tipe
penyakit granulomatosa pada saraf tepi dan mukosa dari saluran pernapasan
atas; dan lesi pada kulit adalah tanda yang bisa diamati dari luar. Bila tidak
ditangani, kusta dapat sangat progresif, menyebabkan kerusakan pada kulit,
saraf-saraf, anggota gerak, dan mata. Tidak seperti mitos yang beredar di
masyarakat, kusta tidak menyebabkan pelepasan anggota tubuh yang begitu
mudah, seperti pada penyakit tzaraath yang digambarkan dan sering
disamakan dengan kusta (Djuanda, 2007).
Kusta merupakan penyakit menahun yang menyerang syaraf tepi,
kulit dan organ tubuh manusia yang dalam jangka panjang mengakibatkan
sebagian anggota tubuh penderita tidak dapat berfungsi sebagaimana
mestinya. Meskipun infeksius, tetapi derajat infektivitasnya rendah. Waktu
inkubasinya panjang, mungkin beberapa tahun, dan tampaknya kebanyakan
pasien mendapatkan infeksi sewaktu masa kanak-kanak. Tanda-tanda
seseorang menderita penyakit kusta antara lain, kulit mengalami bercak putih,
merah, ada bagian tubuh tidak berkeringat, rasa kesemutan pada anggota
badan atau bagian raut muka, dan mati rasa karena kerusakan syaraf tepi.
Gejalanya memang tidak selalu tampak. Justru sebaiknya waspada jika ada
anggota keluarga yang menderita luka tak kunjung sembuh dalam jangka
waktu lama. Juga bila luka ditekan dengan jari tidak terasa sakit (Djuanda,
2007).
Kelompok yang berisiko tinggi terkena kusta adalah yang tinggal di
daerah endemik dengan kondisi yang buruk seperti tempat tidur yang tidak
8

memadai, air yang tidak bersih, asupan gizi yang buruk, dan adanya
penyertaan penyakit lain seperti HIV yang dapat menekan sistem imun. Pria
memiliki tingkat terkena kusta dua kali lebih tinggi dari wanita (Djuanda,
2007).
Kusta tipe Pausi Bacillary atau disebut juga kusta kering adalah
bilamana ada bercak keputihan seperti panu dan mati rasa atau kurang merasa,
permukaan bercak kering dan kasar serta tidak berkeringat, tidak tumbuh
rambut/bulu, bercak pada kulit antara 1-5 tempat. Ada kerusakan saraf tepi
pada satu tempat, hasil pemeriksaan bakteriologis negatif (-), Tipe kusta ini
tidak menular.Sedangkan Kusta tipe Multi Bacillary atau disebut juga kusta
basah adalah bilamana bercak putih kemerahan yang tersebar satu-satu atau
merata diseluruh kulit badan, terjadi penebalan dan pembengkakan pada
bercak, bercak pada kulit lebih dari 5 tempat, kerusakan banyak saraf tepi dan
hasil pemeriksaan bakteriologi positif (+). Tipe seperti ini sangat mudah
menular (Djuanda, 2007).
1.2.

Sinonim
Nama lain dari Morbus Hansen adalah Kusta dan Lepra.

1.3.

EtioPatogenesis & Patofisiologi


Penyebab penyakit kusta adalah Mycobacterium leprae yang
berbentuk pleomorf lurus, batang panjang, sisi paralel dengan kedua ujung
bulat, ukuran 0,3-0,5 x 1-8 mikron. Basil ini berbentuk batang gram positif
dan bersifat tahan asam, tidak mudah diwarnai namun jika diwarnai akan
tahan terhadap dekolorisasi oleh asam atau alkohol sehingga oleh karena itu
dinamakan sebagai basil tahan asam, tidak bergerak dan tidak berspora, dan
dapat tersebar atau dalam berbagai ukuran bentuk kelompok, termasuk masa
irreguler besar yang disebut globi. Micobakterium ini termasuk kuman aerob.
Kuman Mycobacterium leprae menular kepada manusia melalui kontak
langsung dengan penderita dan melalui pernapasan, kemudian kuman
membelah dalam jangka 14-21 hari dengan masa inkubasi rata-rata 2-5 tahun.
Setelah lima tahun, tanda-tanda seseorang menderita penyakit kusta mulai
9

muncul antara lain, kulit mengalami bercak putih, merah, rasa kesemutan
bagian anggota tubuh hingga tidak berfungsi sebagaimana mestinya.,
Mycobacterium leprae mempunyai 5 sifat, yakni : 1. Mycobacterium leprae
merupakan parasit intraseluler obligat yang tidak dapat dibiakkan pada media
buatan. 2. Sifat tahan asam Mycobacterium leprae dapat diekstraksi oleh
piridin. 3. Mycobacterium leprae merupakan satu-satunya mikrobakterium
yang mengoksidasi D-Dopa (D-Dihydroxyphenylalanin). 4. Mycobacterium
leprae adalah satu-satunya spesies mikobakterium yang menginvasi dan
bertumbuh dalam saraf perifer.. Ekstrak terlarut dan preparat Mycobacterium
leprae mengandung komponen antigenik yang stabil dengan aktivitas
imunologis yang khas yaitu uji kulit positif pada penderita tuberkuloid dan
negatif pada penderita lepromatous (Lewis, 2010).
1.4.

Epidemiologi
Kusta menyebar luas ke seluruh dunia, dengan sebagian besar kasus
terdapat di daerah tropis dan subtropis, tetapi dengan adanya perpindaham
penduduk maka penyakit ini bisa menyerang di mana saja (Lewis, 2010).
Penyakit ini diduga berasal dari Afrika atau Asia Tengah yang
kemudian menyebar keseluruh dunia lewat perpindahan penduduk ini
disebabkan karena perang, penjajahan, perdagangan antar benua dan pulaupulau. Berdasarkan pemeriksaan kerangka-kerangka manusia di Skandinavia
diketahui bahwa penderita kusta ini dirawat di Leprosaria secara isolasi ketat.
Penyakit ini masuk ke Indonesia diperkirakan pada abad ke IV-V yang diduga
dibawa oleh orang-orang India yang datang ke Indonesia untuk menyebarkan
agamanya dan berdagang (Lewis, 2010).
Pada pertengahan tahun 2000 jumlah penderita kusta terdaftar di
Indonesia sebanyak

20.742 orang. Jumlah penderita kusta terdaftar ini

membuat Indonesia menjadi salah satu Negara di dunia yang dapat mencapai
eliminasi kusta sesuai target yang ditetapkan oleh World Health Organisation
yaitu tahun 2000.

10

1.5.

Klasifikasi Penyakit Kusta


1) Jenis klasifikasi yang umum
a. Klasifikasi Internasional (1953)
1. Indeterminate (I)
2. Tuberkuloid (T)
3. Borderline-Dimorphous (B)
4. Lepromatosa (L)
b. Klasifikasi untuk kepentingan riset /klasfikasi Ridley-Jopling
(1962).
1. Tuberkoloid (TT)
2. Boderline tubercoloid (BT)
3. Mid-berderline (BB)
4. Borderline lepromatous (BL)
5. Lepromatosa (LL)
c. Klasifikasi untuk kepentingan program kusta /klasifikasi WHO
(1981) dan modifikasi WHO (1988)
1. Pausibasilar (PB)
Hanya kusta tipe I, TT dan sebagian besar BT dengan BTA
negatif menurut kriteria Ridley dan Jopling atau tipe I dan T
menurut klasifikasi Madrid.
2. Multibasilar (MB)
Termasuk kusta tipe LL, BL, BB dan sebagian BT menurut
kriteria Ridley dan Jopling atau B dan L menurut Madrid dan
semua tipe kusta dengan BTA positif. Untuk pasien yang
sedang dalam pengobatan harus diklasifikasikan sebagai
berikut : Bila pada mulanya didiagnosis tipe MB, tetapi
diobati sebagai MB apapun hasil pemeriksaan BTA-nya saat
ini. Bila awalnya didiagnosis tipe PB, harus dibuat klasifikasi
baru berdasarkan gambaran klinis dan hasil BTA saat ini
(Zulkifli, 2003).

Tabel 1. Gambaran Klinis, Bakteriologik, dan Imunologik Kusta Multibasiler


(MB)

11

Tabel 2. Gambaran Klinis, Bakteriologik, dan Imunologik Kusta Pausibasiler (PB)

Tabel 3. Bagan diagnosis klinis menurut WHO

12

1.6.

Gejala Klinis
Penderita Adapun Gejala Klinisnya:
1. Kelainan pada kulit, berupa bercak yang berwarna putih (hipopigmentasi)
yang tak berasa atau kemerahan (eritematosus) yang mati rasa. Gejala pada
kulit, penderita kusta adalah pada kulit terjadi benjol-benjol kecil berwarna
merah muda atau ungu. Benjolan kecil ini menyebar berkelompok dan
biasanya terdapat pada mata dan mungkin juga timbul di hidung hingga
menyebabkan perdarahan (Lewis, 2010).
2. Penebalan syaraf tepi. Gejala pada saraf, berkurangnya perasaan pada
anggota badan atau bagian tubuh yang terkena. Kadang-kadang terdapat
radang syaraf yang nyeri. Adakalanya kaki dan tangan berubah bentuknya.
Jari kaki sering hilang akibat serangan penyakit ini. Penderita merasa
demam akibat reaksi penyakit tersebut (Lewis, 2010).
Tiga tanda utama (Cardinal Sign):
1. Kelainan pada kulit pada kulit, berupa bercak yang berwarna putih
2.
3.

(hipopigmentasi) atau kemerahan (eritematosus) yang mati rasa


Penebalan saraf tepi dengan gangguan sensasi di area lesi
Pada pemeriksaan apusan kulit (skin smear) ditemukan adanya Basil
Tahan Asam (BTA)
Keluhan utama biasanya sebagai akibat kelainan saraf tepi, yang dalam
hal ini dapat berupa bercak pada kulit yang mati rasa, rasa tebal,
kesemutan, kelemahan otot-otot dan kulit kering akibat gangguan
pengeluaran kelenjar keringat. Gejala klinis yang terjadi dapat berupa
kelainan pada saraf tepi, kulit, rambut, otot, tulang, mata, dan testis.
Klasifikasi kusta menurut Ridley dan Jopling:
1. Tipe Tuberkuloid (TT)

13

Lesi ini mengenai baik kulit maupun syaraf, jumlah lesi bisa satu atau
beberapa, dapat berupa makula atau plakat yang berbatas jelas dan
pada bagian tengah dapat ditemukan lesi yang regresi atau central
healing. Permukaan lesi dapat bersisik dengan tepi yang meninggi,
bahkan dapat menyerupai gambaran psoriasis atau tinea sirsinata.
Dapat disertai penebalan saraf perifer yang biasanya teraba, kelemahan
otot, dan sedikit rasa gatal. Tidak adanya kuman merupakan tanda
terdapatnya respon imun pejamu yang adekuat terhadap kuman kusta.
2. Tipe Borderline Tuberkuloid (BT)
Lesi pada tipe ini menyerupai tipe TT, yakni berupa makula atau plakat
yang sering disertai lesi satelit di tepinya. Jumlah lesi dapat satu atau
beberapa, tetapi gambaran hipopigmentasi, kekeringan kulit atau
skuama tidak sejelas tipe TT. Adanya gangguan saraf tidak seberat tipe
TT dan biasanya asimetris. Lesi satelit biasanya ada dan terletak dekat
saraf perifer yang menebal
3. Tipe Mid Borderline (BB)
Merupakan tipe yang paling tidak stabil, disebut juga sebagai bentuk
dismorfik dan jarang dijumpai. Lesi sangat bervariasi, dapat berbentuk
makula infiltratif, permukaan lesi dapat mengkilap dan batas lesi
kurang jelas. Ciri khasnya adalah lesi punched out, yaitu, suatu lesi
hipopigmentasi dengan bagian tengah oval dan berbatas jelas
4. Tipe Borderline Lepromatosus (BL)
Secara klasik lesi dimulai dengan makula, awalnya sedikit dan dengan
cepat menyebar ke seluruh badan. Walaupun masih kecil, papul dan
nodul lebih tegas dengan distribusi lesi yang hampir simetris dan
beberapa nodul nampaknya melekuk pada bagian tengah. Lesi bagian
tengah sering tampak normal dengan infiltrasi di pinggir dan beberapa
tampak seperti punched out. Tanda-tanda kerusakan saraf lebih cepat
muncul dibandingkan dengan tipe LL.
5. Tipe Lepromatous Leprosy
Jumlah lesi pada tipe ini sangat banyak, simetris, permukaan halus,
lebih eritematus, berkilap, berbatas tidak tegas, dan pada stadium dini
tidak ditemukan anestesi dan anhidrosis. Distribusi lesi khas, yakni di
daerah wajah, mengenai dahi, pelipis, dagu, cuping telinga; sedangkan
di badan mengenai bagian badan yang dingin, seperti lengan,
14

punggung tangan, dan ekstensor tungkai. Pada stadium lanjut, tampak


penebalan kulit yang progresif, cuping telinga menebal, facies leonina,
madarosis,iritis, keratitis, deformitas pada hidung, pembesaran kelenjar
limfe,

dan

orkitis

yang

selanjutnya

dapat

menjadi

atrofi

testis.Kerusakan saraf yang luas menyebabkan gejala stocking and


glove anesthesia dan pada stadium lanjut serabut-serabut saraf perifer
mengalami degenerasi hialin atau fibrosis yang menyebabkan anastesi
dan pengecilan otot tangan dan kaki.
Namun ada juga tipe kusta yang tidak termasuk dalam klasifikasi
Ridley dan Jopling, tetapi diterima secara luas oleh para ahli kusta,
yaitu

tipe

Intermediate

(I)

.Lesi

biasanya

berupa

makula

hipopigmentasi dengan sedikit sisik dan kulit disekitarnya normal.


Lokasi biasanya di bagian ekstensor ekstremitas, bokong atau muka,
kadang- kadang dapat ditemukan makula hipostesia atau sedikit
penebalan saraf.
Deformitas dapat

terjadi

pada

kusta.

Pada

kusta

sesuai

patofisiologinya ada dua yaitu primer dan sekunder. Deformitas primer


sebagai akibat langsung oleh granuloma yang terbentuk sebagai reaksi
terhadap M.leprae, yang mendesak dan merusak jaringan disekitarnya,
yaitu kulit, mukosa traktus respiratorius atas, tulang tulang jari, dan
wajah. Deformitas sekunder terjadi sebagai akibat kerusakan saraf,
umumnya deformitas diakibatkan keduanya, tetapi terutama karena
kerusakan saraf.
Gejala kerusakan saraf pada nervus ulnaris adalah anestesia pada
ujung jari anterior kelingking dan jari manis, clawing kelingking dan
jari manis, dan atrofi hipotenar dan otot interoseus serta kedua otot
lumbrikalis medial. Pada N.medianus adalah anestesia pada ujung jari
bagian anterior ibu jari, telunjuk, dan jari tengah, tidak mampu aduksi
ibu jari, clawing ibu jari, telunjuk, dan jari tengah, ibu jari kontraktur,
dan juga atrofi otot tenar dan kedua otot lumbrikalis lateral. Pada
N.radialis adalah anestesi dorsum manus, serta ujung proksimal jari
telunjuk, tangan gantung (wrist drop) dan tak mampu ekstensi jari
jari atau pergelangan tangan. Pada N. Poplitea lateralis adalah anestesi
15

tungkai bawah, bagian lateral dan dorsum pedis, kaki gantung (foot
drop) dan kelemahan otot peroneus. Pada N.tibialis posterior adalah
anestesi telapak kaki, claw toes dan paralisis otot intrinsik kaki dan
kolaps arkus pedis. Pada N. Fasialis adalah cabang temporal dan
zigomatik menyebabkan lagoftalmus dan cabang bukal, mandibular
serta servikal menyebabkan kehilangan ekspresi wajah dan kegagalan
mengatupkan bibir. Pada N.trigeminus adalah anestesi kulit wajah,
kornea dan konjungtiva mata. Kerusakan mata pada kusta dapat primer
dan sekunder. Primer mengakibatkan alopesia pada alis mata dan bulu
mata, juga dapat mendesak jaringan mata lainnya. Sekunder
disebabkan oleh rusaknya N. Facialis yang menyebabkan paralisis
orbikularis palpebrarum sebagian atau seluruhnya, mengakibatkan
lagoftalmus yang selanjutnya, menyebabkan kerusakan bagian
bagian mata lainnya. Secara sendirian atau bersama sama akan
menyebabkan kebutaan. Infiltrasi granuloma ke dalam adneksa kulit
yang terdiri atas jaringan keringat, kelenjar palit, dan folikel rambut
dapat mengakibatkan kulit kering dan alopesia. Pada tipe lepromatous
dapat timbul ginekomastia akibat gangguan keseimbangan hormonal
dan oleh karena infiltrasi granuloma pada tubulus seminiferus testis.
Kusta histioid, merupakan variasi lesi pada tipe lepromatous yang
titandai dengan adanya nodus yang berbatas tegas, dapat juga
berbentuk nodus yang berbatas tegas, dapat juga berbentuk

plak.

Bakterioskopik positif tinggi. Umumnya timbul sebagai kasus relapse


sensitive atau relape resistent. Relapse sensitive terjadi, bila penyakit
kambuh setelah menyelesaikan pengobatan sesuai dengan waktu yang
ditentukan. Dapat terjadi oleh karena kuman yang dorman aktif
kembali atau pengobatan yang diselesaikan tidak adekuat, baik dosis
maupun lama pemberiannya.
Gejala pada reaksi kusta tipe I adalah perubahan lesi kulit, demam
yang tidak begitu tinggi, gangguan konstitusi, gangguan saraf tepi,
multiple small satellite skin makulopapular skin lesion dan nyeri pada
tekan saraf. Reaksi kusta tipe I dapat dibedakan atas reaksi ringan dan
berat. Pada reaksi kusta tipe II adalah neuritis, gangguan konstitusi,
16

dan komplikasi organ tubuh. Reaksi kusta tipe II juga dapat dibedakan
atas reaksi ringan dan berat.
Fenomena lucio berupa plak atau infiltrat difus, merah muda,
bentuk tidak teratur, dan nyeri. Lesi lebih berat tampak lebih
eritematosa, purpura, bula, terjadi nekrosis dan ulserasi yang nyeri.
Lesi lambat sembuh dan terbentuk jaringan parut. Dari hasil
histopatologi ditemukan nekrosis epidermal iskemik, odem, proliferasi
endotelial pembuluh darah dan banyak basil M.leprae di endotel
kapiler.
Eritema nodosum lepromatous (ENL), timbul nodul subkutan yang
nyeri tekann dan meradang, biasanya dalam kumpulan. Setiap nodul
bertahan selama satua atau dua minggu tetapi bisa timbul kumpulan
nodul baru. Dapat terjadi demam, limfadenopati, dan athralgia (Lewis,
2010; Djuanda, 2007).

1.7.

Pemeriksaan Penunjang
Inspeksi pasien dapat dilakukan dengan penerangan yang baik, lesi kulit juga
harus diperhatikan dan juga dilihat kerusakan kulit. Palpasi dan pemeriksaan
dengan menggunakan alat alat sederhana yaitu jarum untuk rasa nyeri, kapas
untuk rasa raba, tabung reaksi masing masing dengan air panas dan es,
pensil tinta Gunawan (tanda Gunawan) untuk melihat ada tidaknya dehidrasi
di daerah lesi yang dapat jelas dan dapat pula tidak dan sebagainya. Cara
menggoresnya mulai dari tengah lesi, yang kadang kadang dapat membantu,
tetapi bagi penderita yang memiliki kulit berambut sedikit, sangat sukar untuk
menentukannya (Zulkifli, 2003).
a. Pemeriksaan Saraf Tepi
Untuk saraf perifer, perlu diperhatikan pembesaran, konsistensi dan nyeri
atau tidak. Hanya beberapa saraf yang diperiksa yaitu N.fasialis,
N.aurikularis magnus, N.radialis, N. Ulnaris, N. Medianus, N. Poplitea
lateralis, N. Tibialis posterior. Pada pemeriksaan saraf tepi dapat
dibandingkan saraf bagian kiri dan kanan, adanya pembesaran atau tidak,
pembesaran reguler/irreguler, perabaan keras/kenyal, dan yang terakhir
dapat dicari adanya nyeri atau Pada tipe lepromatous biasanya kelainan
17

sarafnya

billateral

dan

menyeluruh

sedangkan

tipe

tuberkoloid

terlokalisasi mengikuti tempat lesinya. Berikut cara pemeriksaan saraf


yang dilakukan pada penderita kusta:
1) N. Aurukularis magnus
Pasien disuruh menoleh ke samping semaksimal mungkin, maka
saraf yang terlibat akan terdorong oleh otot di bawahnya sehingga
acapkali sudah bisa terlihat bila saraf membesar. Dua jari pemeriksa
diletakkan di atas persilangan jalannya saraf tersebut dengan arah
otot Bila ada penebalan, maka pada perabaan secara seksama akan
menemukan jaringan seperti kabel atau kawat. Jangan lupa
membandingkan antara yang kiri dan yang kanan
2) N. Ulnaris
Tangan yang diperiksa harus santai, sedikit fleksi dan sebaiknya
diletakkan di atas satu tangan pemeriksa Tangan pemeriksa yang lain
meraba lekukan di bawah siku (sulkus nervi ulnaris) dan merasakan,
apakah ada penebalan atau tidak. Perlu dibandingkan antara yang
kanan dan yang kiri untuk melihat adanya perbedaan atau tidak
3) N. Paroneus lateralis
Pasien duduk dengan kedua kaki menggantung, diraba di sebelah
lateral dari capitulum fibulae, biasanya sedikit ke posterior

Tes Fungsi Saraf


1) Tes Sensoris
Rasa Raba: Sepotong kapas yang dilancipkan ujungnya digunakan
untuk memeriksa perasaan rangsang raba dengan menyinggungkannya
pada kulit. Pasien yang diperiksa harus duduk pada waktu dilakukan
pemeriksaan. Terlebih dahulu petugas menerangkan bahwa bilamana
merasa disinggung bagian tubuhnya dengan kapas, ia harus
menunjukkan kulit yang disinggung dengan jari telunjuknya dan
dikerjakan dengan mata terbuka. Bilamana hal ini telah jelas, maka ia
diminta menutup matanya, kalau perlu matanya ditutup dengan
sepotong kain. Selain diperiksa pada lesi di kulit sebaiknya juga

18

diperiksa pada kulit yang sehat. Bercak pada kulit harus diperiksa pada
bagian tengahnya
Rasa Nyeri: Diperiksa dengan memakai jarum. Petugas menusuk
kulit dengan ujung jarum yang tajam dan dengan pangkal tangkainya
yang tumpu dan pasien harus mengatakan tusukan mana yang tajam
dan mana yang tumpul
Rasa Suhu: Dilakukan dengan menggunakan 2 tabung reaksi yang
satu berisi air panas (sebaiknya 400C), yang lainnya air dingin
(sebaiknya sekitar 200C). Mata pasien ditutup atau menoleh ke tempat
lain, lalu bergantian kedua tabung tersebut ditempelkan pada daerah
kulit yang dicurigai Sebelumnya dilakukan kontrol pada kulit yang
sehat. Bila pada daerah tersebut pasien salah menyebutkan sensasi
suhu, maka dapat disebutkan sensasi suhu di daerah tersebut terganggu
2) Tes Motoris
Periksa fungsi saraf ulnaris dengan merapatkan jari kelingking
pasien. Peganglah jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis pasien,
lalu mintalah pasien untuk merapatkan jari kelingkingnya. Jika
pasien dapat merapatkan jari kelingkingnya, taruhlah kertas diantara
jari kelingking dan jari manis, mintalah pasien untuk menahan kertas
tersebut. Bila pasien mampu menahan coba tarik kertas tersebut
perlahan untuk mengetahui ketahanan ototnya
Periksa fungsi saraf medianus dengan meluruskan ibu jari ke atas
Minta pasien mengangkat ibu jarinya ke atas. Perhatikan ibu jari
apakah benar-benar bergerak ke atas dan jempolnya lurus. Jika
pasien dapat melakukannya, kemudian tekan atau dorong ibu jari
pada bagian telapaknya.
Periksa fungsi saraf radialis dengan meminta pasien untuk
menggerakkna pergelangan tangan ke belakang. Uji kekuatan otot
dengan mencoba menahan gerakan tersebut.
Periksa fungsi saraf peroneus communis dengan meminta pasien
melakukan gerakan fleksi pada pergelangan kaki dan minta juga
pasien untuk melakukan gerakan ke lateral, lalu nilai kekuatan
ototnya dengan mencoba untuk menahan gerakan tersebut (Djuanda,
2007; Zulkifli, 2003).

19

b. Pemeriksaan Bakterioskopis
Pemeriksaaan bakterioskopik sediaan dari kerokan jaringan kulit
atau usapan mukosa hidung yang diwarnai dengan pewarnaan BTA ZIEHL
NEELSON. Pertama tama harus ditentukan lesi di kulit yang diharapkan
paling padat oleh basil setelah terlebih dahulu menentukan jumlah tepat
yang diambil. Untuk riset dapat diperiksa 10 tempat dan untuk rutin
sebaiknya minimal 4 6 tempat yaitu kedua cuping telinga bagian bawah
dan 2-4lesi lain yang paling aktif berarti yang paling eritematosa dan
paling infiltratif. Pemilihan cuping telinga tanpa mengiraukan ada atau
tidaknya lesi di tempat tersebut oleh karena pengalaman, pada cuping
telinga didapati banyak M.leprae.
Kepadatan BTA tanpa membedakan solid dan nonsolid pada
sebuah sediaan dinyatakan dengan indeks bakteri ( I.B) dengan nilai 0
sampai 6+ menurut Ridley. 0 bila tidak ada BTA dalam 100 lapangan
pandang (LP) (Djuanda, 2007; Zulkifli, 2003)..

c.

Pemeriksaan
Histopatologis
Pemeriksaan

histopatologi,

gambaran histopatologi tipe tuberkoloid adalah tuberkel dan kerusakan


saraf yang lebih nyata, tidak ada basil atau hanya sedikit dan non solid.
Tipe lepromatosa terdpat kelim sunyi subepidermal (subepidermal clear
zone ) yaitu suatu daerah langsung di bawah epidermis yang jaringannya
tidak patologik. Bisa dijumpai sel virchow dengan banyak basil. Pada tipe
borderline terdapat campuran unsur-unsur tersebut. Sel virchow adalah
histiosit yang dijadikan M.leprae sebagai tempat berkembangbiak dan
sebagai alat pengangkut penyebarluasan (Djuanda, 2007; Zulkifli, 2003).
20

d. Pemeriksaan Serologis
Kegagalan pembiakan dan isolasi kuman mengakibatkan diagnosis
serologis merupakan alternative yang paling diharapkan Pemeriksaan
serologik, didasarkan terbentuk antibody pada tubuh seseorang yang
terinfeksi

oleh

M.leprae.

Pemeriksaan

serologic

adalah

MLPA

(Mycobacterium Leprae Particle Aglutination), uji ELISA dan ML dipstick


(Djuanda, 2007; Zulkifli, 2003).

e. Pemeriksaan Lepromin
Tes lepromin adalah tes non spesifik untuk klasifikasi dan prognosis lepra
tapi tidak untuk diagnosis. Tes ini berguna untuk menunjukkan system
imun penderita terhadap M.leprae. 0,1 ml lepromin dipersiapkan dari
ekstrak basil organisme, disuntikkan intradermal. Kemudian dibaca setelah
48 jam/ 2hari ( reaksi Fernandez) atau 3 4 minggu ( reaksi Mitsuda).
Reaksi Fernandez positif

bila terdapat indurasi dan eritemayang

menunjukkan kalau penderita bereaksi terhadap M. Leprae yaitu respon


imun tipe lambat ini seperti mantoux test ( PPD) pada tuberkolosis. Reaksi
Mitsuda bernilai :
0 = Papul berdiameter 3 mm atau kurang
+ 1= Papul berdiameter 4 6 mm
+ 2 = Papul berdiameter 7 10 mm
+ 3=papul berdiameter lebih dari 10 mm atau papul dengan ulserasi

1.8.

Diagnosis

21

Penyakit kusta disebut juga dengan the greatest immitator karena memberikan
gejala yang hamper mirip dengan penyakit lainnya. Diagnosis penyakit kusta
didasarkan pada penemuan tanda kardinal (cardinal sign), yaitu:
1. Bercak kulit yang mati rasa Pemeriksaan harus di seluruh tubuh untuk
menemukan ditempat tubuh yang lain, maka akan didapatkan bercak
hipopigmentasi atau eritematus mendatar (makula) atau meninggi (plak).
Mati rasa pada bercak bersifat total atau sebagian saja terhadap rasa raba,
rasa suhu, dan rasa nyeri.
2. Penebalan saraf tepi
Dapat disertai rasa nyeri dan dapat juga disertai dengan atau tanpa
gangguan fungsi saraf yang terkena, yaitu:Gangguan fungsi sensoris:
hipostesi atau anestesi, gangguan fungsi motoris: paresis atau paralisis,
gangguan fungsi otonom: kulit kering, retak, edema, pertumbuhan rambut
yang terganggu.
3. Ditemukan kuman tahan asam
Untuk menegakkan diagnosis penyakit kusta, paling sedikit harus
ditemukan satu tanda kardinal. Bila tidak atau belum dapat ditemukan,
maka kita hanya dapat mengatakan tersangka kusta dan pasien perlu
diamati dan diperiksa ulang setelah 3-6 bulan sampai diagnosis kusta
dapat ditegakkan atau disingkirkan (Djuanda, 2007; Zulkifli, 2003).
1.9.

Diagnosis Banding
Pada lesi makula differetial diagnosisnya: vitiligo, Pitiriasis Versikolor,
Ptiriasis alba, Tinea korporis. Pada lesi papul: Granuloma annulare, lichen
planus dll. Pada lesi plak: Tinea korporis, Ptiriasis rosea, psoriasis dll. Pada
lesi nodul: Acne vulgaris neurofibromatosis dll. Pada lesi saraf: Amyloidosis
diabetes, trachoma dll (Djuanda, 2007; Zulkifli, 2003).

1.10.

Penatalaksanaan
Tujuan utama penatalaksanaan yaitu memutuskan mata rantai
penularan

untuk

menurunkan

insiden

penyakit,

mengobati

dan

menyembuhkan penderita, mencegah timbulnya penyakit, untuk mencapai

22

tujuan tersebut, srategi pokok yg dilakukan didasarkan atas deteksi dini


dan pengobatan penderita.
Dapson, diamino difenil sulfon bersifat bakteriostatik yaitu
mengahalangi atau menghambat pertumbuhan bakteri. Dapson merupakan
antagonis kompetitif dari para- aminobezoic acid (PABA) dan mencegah
penggunaan PABA untuk sintesis folat oleh bakteri. Efek samping dari
dapson adlah anemia hemolitik, skin rash, anoreksia, nausea, muntah, sakit
kepala, dan vertigo
Lamprene (Clofazimin), merupakan bakteriostatik dan dapat
menekan reaksi kusta. Clofazimin bekerja dengan menghambat siklus sel
dan transpor dari NA/K ATPase. Efek sampingnya adalah warna kulit bisa
menjadi berwarna ungu kehitaman, warna kulit akan kembali normal bila
obat tersebut dihentikan, diare, nyeri lambung.
Rifampicin, bakteriosid yaitu membunuh kuman. Rifampicin
bekerja dengan cara menghambat DNA- dependent RNA polymerase pada
sel bakteri dengan berikatan pada subunit beta. Efek sampingnya adalah
hepatotoksik, dan nefrotoksik.
Prednison, untuk penanganan dan pengobatan reaksi kusta. Sulfas
Ferrosus untuk penderita kusta dgn anemia berat. Vitamin A, untuk
penderita kusta dgn kekeringan kulit dan bersisisk (ichtyosis). Ofloxacin
dan Minosiklin untuk penderita kusta tipe PB I.
Regimen pengobatan kusta disesuaikan

dengan

yang

direkomendasikan oleh WHO/DEPKES RI (1981). Untuk itu klasifikasi


kusta disederhanakan menjadi Pausi Basiler (PB) dan Multi Basiler (MB).
Dengan memakai

regimen

pengobatan

MDT = multi drug

treatment.Kegunaan MDT untuk mengatasi resistensi Dapson yang


semakin meningkat, mengatasi ketidakteraturan penderita dalam berobat,
menurunkan angka putus obat pada pemakaian monoterapi Dapson, dan
dapat mengeliminasi persistensi kuman kusta dalam jaringan.
Regimen Pengobatan Kusta tersebut (WHO/DEPKES RI).PB
dengan lesi tunggal diberikan ROM (Rifampicin Ofloxacin Minocyclin).
Pemberian obat sekali saja langsung RFT/=Release From Treatment. Obat
diminum di depan petugas. Anak-anak Ibu hamil tidak diberikan ROM.
Bila obat ROM belum tersedia di Puskesmas diobati dengan regimen
23

pengobatan PB lesi (2-5).Bila lesi tunggal

dgn pembesaran saraf

diberikan: regimen pengobatan PB lesi (2-5)

Dewasa

Rifampicin
600 mg

Ofloxacin
400 mg

Minocyclin
100 mg

(50-70 kg)
Anak (5-14 th)

300 mg

200 mg

50 mg

PB dengan lesi 2 5.Lama pengobatan 6 dosis ini bisa diselesaikan selama


(6-9) bulan. Setelah minum 6 dosis ini dinyatakan RFT (Release From
Treatment) yaitu berhenti minum obat.

Dewasa

Rifampicin
600 mg/bulan Diminum

Dapson
100 mg/hr diminum

Anak-anak

didepan petugas kesehatan


450 mg/bulan Diminum

dirumah
50 mg/hari diminum di

didepan petugas kesehatan

rumah

(10-14 th)
MB dengan lesi > 5.Lama pengobatan 12 dosis ini bisa diselesaikan selama 12-18
bulan. Setelah selesai minum 12 dosis obat ini, dinyatakan FT/=Realease From
Treatment yaitu berhenti minum obat. Masa pengamatan setelah RFT
dilakukan secara pasif untuktipe PB selama 2 tahun dan tipe MB selama 5 tahun.
Rifampicin
Dewasa

600

Dapson
100 mg/hari

Lamprene
300

mg/bulandiminum di diminumdi rumah

mg/bulandiminum di

depan petugas

depan petugas

kesehatan

kesehatan dilanjutkan
dgn 50 mg/hari
50 mg/hari

diminum di rumah
150

Anak-anak

450

(10-14 th)

mg/bulandiminum di diminumdi rumah

mg/bulandiminum di

depan petugas

depan petugas
kesehatan dilanjutkan
dg 50 mg selang
24

sehari diminum di
rumah
Pengobatan reaksi kusta. Bila reaksi tidak ditangani dengan cepat dan
tepat maka dapat timbul kecacatan berupa kelumpuhan yang permanen
seperticlaw hand , drop foot, claw toes dan kontraktur. Untuk mengatasi hal-hal
tersebut diatas dilakukan pengobatan prinsip pengobatan reaksi kusta yaitu
immobilisasi/ istirahat, pemberian analgesic dan sedatif, pemberian obat-obat anti
reaksi, MDT diteruskan dengan dosis yang tidak diubah.
Pada reaksi ringan, istirahat di rumah, berobat jalan, pemberian
analgetik dan obat-obat penenang bila perlu, dapat diberikan Chloroquine 150
mg 31 selama 3-5 hari, dan MDT (obat kusta) diteruskan dengan dosis yang
tidak diubah. Reaksi berat, immobilisasi, rawat inap di rumah sakit, pemberian
analgesic dan sedative, MDT (obat kusta) diteruskan dengan dosis tidak diubah,
pemberian obat-obat anti reaksi dan pemberian obat-obat kortikosteroid misalnya
prednison.Obat-obat anti reaksi,Aspirin dengan dosis 600-1200 mg setiap 4 jam (4
6x/hari ) , Klorokuin dengan dosis 3 x 150 mg/hari, Antimon yaitu stibophen
(8,5 mg antimon per ml ) yang diberikan 2-3 ml secara selang-seling dan dosis
total tidak melebihi 30 ml. Antimon jarang dipakai oleh

karena

toksik.

Thalidomide juga jarang dipakai,terutama pada wanita (teratogenik). Dosis 400


mg/hari kemudian diturunkan sampai mencapai 50 mg/hari.
Pemberian Kortikosteroid, dimulai dengan dosis tinggi atau sedang.
Digunakan prednisone atau prednisolon. Gunakan sebagai dosis tunggal pada pagi
hari lebih baik walaupun dapat juga diberikan dosis berbagi. Dosis diturunkan
perlahan-lahan (tapering off) setelah terjadi respon maksimal (Djuanda, 2007;
Zulkifli, 2003; Depkes, 2008).

1.11. Prognosis
Setelah program terapi obat biasanya prognosis baik, yang paling sulit adalah
manajemen dari gejala neurologis, kontraktur dan perubahan pada tangan dan
kaki. Ini membutuhkan tenaga ahli seperti neurologis, ortopedik, ahli bedah,
prodratis, oftalmologis,

physical

medicine, dan rehabilitasi. Yang tidak


25

umum adalah secondary amyloidosis dengan gagal ginjal dapat mejadi


komplikasi (Djuanda, 2007; Zulkifli, 2003).

26

27
Penatalaksana
an

MDT-PB

Terdapat makula hipopigmentasi plakat pada bagian fleksor antebrachii


dextra.

St
dermatologis

RPK

keluhan serupa di keluarga,di lingkungan sekitar dan tempat kerja disangkal

RPD

pasien menyangkal pernah mengalami keluhan serupa

Pasien mengeluhkan terdapat bercak pada lengan bawah tangan kanan


mulanya bercak putih seperti panu ini hanya kecil namun semakin melebar
bagian tengah bercak tersa semakin mati rasa

Anamnesis

III.

PEMBAHASAN

Pasien mengeluhkan terdapat bercak pada lengan bawah tangan kanan


mulanya bercak putih seperti panu ini hanya kecil namun semakin melebar
bagian tengah bercak tersa semakin mati rasa

Sesuai dengan menurut Adhi Juanda Pada Ilmu Penyakit Kulit FKUI bahwa:
Penderita mengeluh adanya bercak putih seperti panu pada tangan yang semula
hanya kecil dan semakin melebar. dengan bagian tengah yang menjadi mati rasa

St. Dermatologis:
Terdapat makula hipopigmentasi plakat pada bagian fleksor antebrachii dextra dengan
hipestesi pagian tengah lesi

Sesuai dengan Adhi Juanda Pada Ilmu Penyakit Kulit FKUI.


Bahwa: Lesi dapat berupa makula hipopigmentasi.dengan hipestesi pagian tengah
lesi

28

:Penatalaksanaan:
M
D
T-PB
Sesuaidjuandaadhi,danpedom
anD
epkes2008
bahw
apasiendengankustatipePBm
endapatkanterapiM
D
T-PB

29

DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 2008. Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007. Departemen


Kesehatan R.I, Jakarta dalam www.depkes.go.id diunduh tanggal 11 Mei 2013
Djuanda, Adhi, 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Kelima. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. h. 73-88.
Lewis, Felisa S. 2010. Leprosy dalam http://emedicine.medscape.com diunduh
tanggal 11 Mei 2013
Zulkifli. 2003. Penyakit Kusta dan Masalah yang ditimbulkannya. Fakultas
Kesehatan

Masyarakat

Universitas

Sumatera

http://library.usu.ac.id/ diunduh tanggal 11 Mei 2013

30

Utara,

Medan

dalam