You are on page 1of 9

Jurnal Saintech Vol. 06 - No.02-Juni 2014 ISSN No.

2086-9681

PENGOLAHAN KAOLIN SEBAGAI BAHAN PENGISI PADA


TERMOPLASTIK HIGH DENSITY POLYETHYLENE
Oleh:

Erna Frida1, Nurdin Bukit2 Mulroni Manalu2


1
2

Universitas Quality, Medan, Indonesia

Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Medan, Indonesia

Abstract
This study aims to determine the composition of kaolin and minerals and, mechanical properties
(tensile strength, elongation at break and elastic modulus) and thermal properties of thermoplastic
HPDE mix with filler kaolin activated by compatibelizer PE-g-MA. The research method is that the
activation process kaolin natural to the process of grinding to a size of 200 mesh (74m) and then
purified with a solution of HCl and calcined at a temperature of 600 C for 2 hours, kaolin activated
used as filler. To make composites performed in the internal mixer laboplastomil with a temperature of
140 C for 9 min and rotor speed of 50 rpm.
Characteristics done is mechanical analysis (tensile strength, elongation at break and elastic modulus)
with Universal Testing Mechanic (UTM) and thermal analysis with Defrensial Scaning Calorimetry
(DSC). From the research results of XRD analysis of activated natural kaolin contains Al2Si2O5 (OH)4
with SiO and mineral kaolinite (Silicon Oxide) which is higher than the other elemental constituents.
A decrease in the mechanical properties of elastic modulus obtained but for the tensile strength and
elongation at break increased with the addition of kaolin. Thermal properties of composites of HDPE
with kaolin increased melting point and enthalpy with increasing weight percent of kaolin.
Keywords : Kaolin Activation, Mechanical Analysis, Thermal, XRD
I.

Pendahuluan

Kaolin adalah batuan yang tersusun dari


material lempung yang memiliki kandungan
besi rendah Kaolin atau Kaolinite termasuk
jenis mineral clay dengan rumus kimia
hydrousalumunium
silicate
(AlO2SiO2HO). Kaolin merupakan
masa batuan yang tersusun dari material
lempung dengan kandungan besi yang rendah,
dan umumnya berwarna putih atau agak
keputihan (RidlaBakri, 2008). Menurut
(Sukamta, 2009) kaolin terdiri atas 39% oksida
alumina, 47% oksida silika, dan 14% air.
Bahan pengisi mempunyai peranan penting
dalam memodifikasi sifat-sifat dari berbagai
bahan polimer sebagai contoh, dengan cara
menambahkan pengisi akan meningkatkan

78

sifat mekanik, elektrik, termal, optik dan sifatsifat pemrosesan dari polimer, sementara dapat
juga mengurangi biaya produksi. Peningkatan
sifat-sifat tergantung pada banyak faktor-faktor
termasuk aspek rasio dari bahan pengisi,
derajat distorsi dan orientasi dalam matriks,
dan adhesi pada interface matriks-bahan
pengisi. Salah satu cara untuk meningkatkan
sifat mekanik adalah dengan menggunakan
bahan-bahan pengisi yang sering digunakan
adalah fiber glass, mika, talk, SiO dan
CaCO, Koalin, serat alam dan serat gelas
biasanya membentuk mikro komposit dengan
peningkatan sifat-sifat mekanik (Anjana R, et
al, 2012).
Peningkatan sifat fisik bahan polimer
dikaitkan dengan ukuran partikel pengisi.
Contohnya, tegangan dan modulus polimer
berpengisi bergantung kepada ukuran partikel.

Jurnal Saintech Vol. 06 - No.02-Juni 2014 ISSN No. 2086-9681

Ukuran partikel pengisi yang kecil


meningkatkan derajat penguatan polimer
berbanding dengan ukuran partikel yang besar
(Leblanc, 2002). Ukuran partikel mempunyai
hubungan secara langsung dengan luas
permukaan persatuan massa bahan pengisi.
Oleh itu, ukuran partikel yang kecil
menyediakan luas permukaan yang besar bagi
interaksi di antara polimer matrik dan bahan
pengisi, seterusnya meningkatkan penguatan
bahan polimer secara umum, semakin kecil
ukuran partikel semakin tinggi interaksi antara
bahan pengisi dan matrik polimer. (Kohls, et
al, 2002), melaporkan jumlah luas permukaan
dapat ditingkatkan dengan adanya permukaan
yang berpori pada permukaan pengisi.
Dimungkinkan
bahwa
polimer
dapat
menembus masuk ke dalam permukaan yang
berpori ketika proses pencampuran. Selain dari
luas permukaan, ke homogen sebaran partikel
dalam matriks polimer juga penting bagi
menentukan kekuatan interaksi di antara
pengisi dan matriks polimer. Pengisi penguat
pada umumnya mempunyai ukuran partikel
yang kecil, permukaan yang aktif secara kimia,
permukaan yang memiliki pori dan bentuk
yang tidak seragam dapat meningkatkan
adhesi.
Kaolin merupakan pengisi putih yang
paling banyak digunakan, karena memiliki
beberapa kelebihan, terutama karena harganya
yang murah. Kaolin yang mempunyai rumus
molekul O
Al SiO2HO, merupaka n
bahan mineral yang disediakan dengan empat
cara berbeda, yaitu pengapungan udara (airfloated), pembasuhan air (water-washed),
kalsinasi (calcined), dan modifikasi kimia.
Untuk memadukan material polimer dan
kaolin modifikasi pada penelitian ini
diperlukan compatibilizer, dan compatibilizer
yang di gunakan adalah PE-g-MA.
Compatibilizer PE-g-MA merupakan
senyawa spesifik yang dapat digunakan untuk
memadukan polimer yang tidak kompatibel
menjadi campuran yang stabil melalui ikatan
intermolekuler (Mehta, et al, 2007). Maleic
anhydrate grafted polietilen (PE-g-MA) adalah
bahan yang secara umum digunakan sebagai
kompatibilizer. Penambahan komposisi kaolin
pada polietilene dapat meningkatkan sifat
mekanik (Mustafa Nassaf Samir, 2012).
Tujuan penelitian ini modifikasi kaolin
diproses dengan aktivasi kimia dan fisika

digunakan sebagai filler pada termoplastik


High Density Polyethylene (HDPE) PE-g-MA
sebagai kompatibilizer dengan menganalisis
sifat termal (DSC), analisis struktur (XRD)
dan
sifat
mekanik
(Kekuatan
tarik,
Perpanjangan putus, Modulus elastis).
II. Metodelogi Penelitian
2.1 Alat dan Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian
ini : Kaolin yang digunakan pada penelitian ini
adalah kaolin yang berasal dari Kabupaten
Deli Serdang Sumatera Utara. High Density
Polyethylene (HDPE) yang diproduksi PT
Titan Petrokimia Indonesia, PE-g-MA, HCL,
dan Akuades.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini
adalah Erlenmeyer, gelas ukur, spatula, neraca
analitik, labo plastomill model 30RI50 Volume
chember 60 cc, alat cetakan, Hot Press dan
cold press hidraulic cold press 37 ton Genno
Japan, ayakan, oven, mesin uji tarik stograph
R-1 merek Toyoseki, Jepang, Differential
Scanning Calorimetry (DSC) Mettler Teledo
Type 821, model Zeiss dan Jeol, X-Ray
Diffractometry (XRD), Dumb Bell.
2.2. Aktivasi Kaolin Secara Kimia
dan Fisika
Adapun proses pengolahan kaolin dengan
aktivasi secara kimia dan fisika yaitu: Kaolin
yang masih dalam bentuk bongkahan terlebih
dahulu di hancurkan, kemudian digerus atau
diremukan dengan menggunakan gilingan
kemudian yang sudah digerus tersebut diayak
dengan menggunakan ayakan 200 mesh (74
) kemudian dicampur dengan larutan HCl
dengan kadar 2 M dengan perbandingan 1:10
dalam waktu 2 jam dengan magnetik stirer.
Setelah itu larutan HCL dengan kaolin
dipisahkan dengan kertas saring, kemudian
dicuci dengan air aquades dan kembali
dipisahkan antara kaolin alam dengan aquades,
sampai diperoleh pH netral. Kaolin yang sudah
dimurnikan, dikeringkan di bawah sinar
matahari.
Setelah itu butiran-butiran halus kaolin
kemudian dipanaskan dengan furnice pada
suhu 600C selama 2 jam. Kaolin tersebut
digunakan sebagai filler pada termoplastik
HDPE.

79

Jurnal Saintech Vol. 06 - No.02-Juni 2014 ISSN No. 2086-9681

Sampel di ukur tebalnya menggunakan


micrometer scrup digital dengan ketelitian
0.001 mm. Penarikan dikerjakan dengan
menggunakan load cell 100 kgf, kecepatan 50
mm/s, hingga sampel putus. Hasil pengujian
sifat mekanik berupa grafik dengan tinggi
puncak tertentu. Selanjutnya kekuatan tarik,
perpanjangan putus, dan modulus didapat dari
pembacaan pada skala yang diperoleh dari
mesin uji dengan print-out dari computer
mesin uji.

2.3. Pembuatan Mikro Komposit Dalam


Internal Mixer
Setelah
itu,
bahan-bahan
tersebut
dicampur di dalam Internal Mixer jenis Labo
Plastomill volume chamber 60 cc dengan
persentase pengisian 70% atau setara dengan
50 gram. Suhu blending 140 C dan kecepatan
rotor 50 rpm selama 14 menit.
Tabel 1. Komposisi Campuran Bahan Pada
Internal Mixer
Sampel

HDPE(%)

PE- gMA(%)

Kaolin
(%)

100

95

92

87

10

82

15

77

20

2.6 Analisa Sifat Termal


Differential Scanning Calorymetri (DSC)
digunakan untuk mengetahui sifat termal
komposit
HDPE
dengan
penambahan
fillerkaolin aktivasi, dalam penelitian ini
digunakan alat DSCMettler Teledo Type 821.
pengukuran dilakukan pada atmosfer inert
argon dengan kecepatan aliran gas argon
10ml/menit dengan rentang suhu antara 25C
sampai 400C.
III. Hasil Dan Pembahasan

2.4. Analisis XRD (X-Ray Diffractometry)

3.1. Hasil Pengujian XRD Kaolin Alam


Aktivasi

Karakterisasi
X-Ray
Diffractometry
(XRD), yang digunakan dalam temperatur
ruang dengan alat Shimadzu XRD 600 X-ray
diffractometer (40 kV, 30 mA) dengan
menggunakan nikel untuk menyaring radiasi
CuK dimana laju scanning yang digunakan
adalah dari 20/menit pada range 2 = 50 - 600.

Pola difraksi sinar-X dari kaolin alam


yang dimurnikan dengan HCL dan di aktivasi
pada suhu 600C dalam waktu 2 jam, diuji
dengan XRD dan memberi hasil puncakpuncak intensitas hamburan sinar-X untuk
sudut tertentu dan memberi jarak antar bidang
hamburan dan fasa kristal yang dapat dilihat
dari gambar pola-pola difraksi Gambar 1,
Tabel 2 hasil analisa tiga puncak difraksi
XRD.

2.5.Pengujian Sifat Mekanik


Sifat mekanik yang di uji adalah kekuatan
tarik (tensile strength), perpanjangan putus
(elongation at break), dan modulus elastisitas.
Specimen uji dengan alat pemotong Dai
wallace dengan JIS K 6781 sebanyak 5 sampel
diambil dari setiap variasi komposisi sampel.

Tabel 2. Hasil Analisa Difraksi Sinar-X Kaolin Alam Aktivasi

80

No.

Pos.
[2Th.]

d-spacing
[]

Rel. Int.
[%]

FWHM
[deg]

Intensitas
(Counts)

Integrated
[Counts]

26,6289

3,34484

100

0,17310

747

7411

19,7600

4,48931

25

0.43200

186

2626

20.8451

4.25801

23

0.19980

171

2572

Jurnal Saintech Vol. 06 - No.02-Juni 2014 ISSN No. 2086-9681

Gambar 1. Pola Difraksi Kaolin Hasil Aktivasi


Gambar 1 memperlihatkan pola difraksi
sinar-x antara intensitas terhadapsudut 2, dari
gambar
terlihat
pola
unsur
kaolin
alammodifikasi (aktivasi kimia dan fisika)
masih bersifat amorf.
Analisa alat X-Ray diffraction (XRD)
dimaksudkan untuk mengetahui untuk
mengetahui fase dan struktur kristal, serta
kristalinitas hasil identifikasi komposisi yang
dominan pada kaolin adalah SiO (Silicon
oxide), kandungan Al2Si2O5(OH)4 dengan
mineral Kaolinite. Hal ini juga sesuai dengan
penelitian (Sukamta, 2009) bahwa kaolin
terdiri atas oksida alumina dan oksida silika.
Dari Gambar.1 terlihat pola difraksi berbentuk
seperti struktur amorf, hal ini karena pada
serbuk yang sudah menjadi halus, kristalinitas
menurun, dimana tingkat keteraturannya
menjadi lebih kecil dan terjadi tubukan difraksi
yang lebih banyak pada kristal. Dari Tabel 2
dapat dilihat puncak maksimum terdapat pada
2 = 26,6289 dengan jarak spasi 3,34484 dan
FWHM 0,17310.

sebesar 20% juga mengalami peningkatan nilai


kekuatan
tarik
sebesar
1.496
MPa
dibandingkan komposit HDPE murni. Namun
dalam pengujian ini berarti bahwa penambahan
kaolin aktivasi tidak memberikan peningkatan
nilai kekuatan tarik yang signifikan terhadap
komposit HDPE. Demikian juga halnya hasil
penelitian pada campuran kaolin dengan
polipropilena dan EPDM (H. Salmah, et al,
2009).
Hasil
pengujian
mekanik
untuk
perpanjangan putus (elongation at break)
ditunjukkan pada Gambar 3.
Pengujian sifat elongation at break
(perpanjangan putus) dimaksudkan untuk
mengetahui pertambahan panjang dari
spesimen karena beban penarikan sampai
sesaat
sebelum
spesimen
mengalami
perpatahan. Berdasarkan hasil pengujian
mekanik komposit HDPE dengan filler kaolin
aktivasi yang ditunjukkan pada Gambar 3.

3.2. Pengujian Sifat Mekanik Komposit


Pengujian sifat mekanik meliputi kekuatan
tarik, perpanjangan putus, dan modulus elastis
yang diperlihatkan pada Tabel 3. Hasil
pengujian untuk kekuatan tarik diperlihatkan
pada Gambar 2.
Pengujian kekuatan tarik dimaksudkan
untuk mengetahui kemampuan suatu bahan
komposit untuk menerima beban tanpa
menjadi rusak atau putus. Dari hasil uji
mekanik komposit HDPE dengan filler kaolin
aktivasi yang ditunjukkan pada gambar 2.
diketahui bahwa komposit HDPE dengan
penambahan PE-g-MA menunjukkan nilai
kekuatan tarik tertinggi sebesar 31.383 MPa,
dan mengalami kenaikan sebesar 7,84 MPa
dari nilai kekuatan tarik HDPE. Pada komposit
HDPE dengan komposisi kaolin aktivasi

81

Jurnal Saintech Vol. 06 - No.02-Juni 2014 ISSN No. 2086-9681

Tabel 3. Data Hasil Uji Mekanik Komposit


Komposisi Kaolin

Kekuatan
Tarik
(MPa)

Perpanjangan
Putus
(mm)

Modulus
Elastis
(MPa)

Yield Stress
(MPa)

HDPE

23.543

221.25

709.95

22,588

HDPE + PE-g-MA

31.383

5,884

529.12

20,893

HDPE + PE-g-MA +5%

19,574

265,853

538,82

19,571

HDPE + PE-g-MA +10%

20,871

6.0366

615,25

20,871

HDPE + PE-g-MA +15%

20,33

5.214

646,14

20,337

HDPE + PE-g-MA +20%

25.039

6.1022

601.593

21,082

Kekuatan Tarik (MPa)

35
30
25
20
15
10
5
0
HDPE MurniHDPE + PE-g-MA

5%
10%
Komposisi Kaolin

15%

20%

Perpanjangan Putus (mm)

Gambar 2. Hubungan Komposisi Kaolin Terhadap Kekuatan Tarik


300
250
200
150
100
50
0
HDPE Murni HDPE + PE-gMA

5%

10%

15%

20%

Komposisi Kaolin
Gambar 3. Grafik Hubungan Komposisi Kaolin terhadap Perpanjangan Putus

80

Modulus Elastis (MPa)

Jurnal Saintech Vol. 06 - No.02-Juni 2014 ISSN No. 2086-9681

800
700
600
500
400
300
200
100
0
HDPE MurniHDPE + PE-g-MA

5%
10%
Komposisi Kaolin

15%

20%

Gambar 4. Grafik Hubungan Komposisi Kaolin terhadap Modulus Elastis

Diketahui bahwa komposit HDPE


komposisi Kaolin Aktivasi sebesar 5% dan
PE-g-MA memiliki nilai perpanjangan putus
tertinggi sebesar 265.853 mm, dan mengalami
kenaikan sebesar 44,603 mm dari nilai
perpanjangan putus komposit HDPE murni.
Hal ini berarti bahwa penambahan Kaolin
aktivasi dan PE-g-MA dapat meningkatkan
nilai perpanjangan putus terhadap komposit
HDPE namun tidak secara signifikan. Hal
yang sama hasil penelitian (Kusmono, 2010).
Penggabungan clay lebih dari 4 phr justru
sebaliknya memberikan efek negatif yakni
menurunkan kekuatan tarik. Hal ini
kemungkinan disebabkan karena terjadinya
penurunan derajat penyebaran eksfoliasi dari
lapisan silikat clay pada komposit. Dan hasil
pengujian mekanik untuk modulus elastis
diperlihatkan pada Gambar 4. Penambahan
Kaolin Aktivasi dan PE-g-MA mengakibatkan
penurunan nilai modulus elastis dari komposit
HDPE. Dapat disimpulkan bahwa penambahan
kaolin aktivasi dan PE-g-MA terhadap
komposit HDPE tidak memberikan efek yang
lebih baik terhadap peningkatan nilai modulus
elastisitas. Berdasarkan hasil pengujian
mekanik (kekuatan tarik, perpanjangan putus,
dan modulus elastis) diketahui bahwa dengan
penambahan filler kaolin mengakibatkan
pertambahan nilai sifat mekanik yang meliputi
kekuatan tarik dan perpanjangan putus. Namun
tidak mengalami peningkatan pada nilai
modulus elastis. Paduan polimer tak dapat
campur (immiscible blend) mempunyai tarikan

fisik antara komponen yang lemah pada batas


fasa, sehingga dapat menyebabkan pemisahan
fasa pada kondisi tertentu dan menyebabkan
sifat-sifat mekanik campuran menjadi kurang
baik (Utracki, 1999). Dalam hal ini semakin
banyak kandungan pengisi yang ditambahkan
maka bahan tersebut semakin kaku sehingga
nilai pemanjangan pada saat putus semakan
rendah. Sesuai menurut (Ray, 2003)
penambahan pengisi akan menimbulkan
pengaruh
terhadap
sifat
perpanjangan
komposit.
3.3. Hasil Analisis Termal Komposit
Hasil analisis termal komposit High
Density Polyethylene (HDPE) + PE-g-MA
ditunjukkan Gambar 5.

81

Jurnal Saintech Vol. 06 - No.02-Juni 2014 ISSN No. 2086-9681

Gambar 5. Termogram Komposit HDPE + PE-g-MA

Gambar 6. Termogram Komposit HDPE dengan Komposisi Kaolin 5%

Gambar 7.Termogram Komposit HDPE dengan Komposisi Kaolin 10%

Gambar 8.Termogram Komposit HDPE dengan Komposisi Kaolin 15%

82

Jurnal Saintech Vol. 06 - No.02-Juni 2014 ISSN No. 2086-9681

Gambar 9. Termogram Komposit HDPE dengan Komposisi Kaolin 20%


Tabel 4. Data Hasil Uji Termal Komposit High Density Polyethylene (HDPE)
Onset
C

Endset C

Titik Leleh
C

H
J/g

Heat Flow

124.37

140.13

128.82

138.97

43.41

0%

119.71

130.59

130.59

166.70

59.75

5%

119.86

135.75

130.27

164.30

58.81

10%

119.99

136.48

130.82

163.69

64.12

15%

120.59

135.80

130.78

141.52

49.73

20%

121.00

135.84

130.75

129.86

50.08

Berdasarkan Tabel 4. diketahui bahwa


untuk HDPE murni mencapai titik leleh pada
suhu 128.820C pada onset 124.37C dan endset
140.13C dengan H 138.97 J/g. Sedangkan
pada komposit HDPE dengan komposisi
Kaolin Aktivasi dan PE-g-MA secara
keseluruhan mengalami peningkatan nilai Tm
(titik leleh) entalpi H dan endoterm. Namun
pada komposisi kaolin aktivasi sebesar 10%
mencapai nilai titik leleh tertinggi pada suhu
130.820C pada onset 119.99C dan endset
136.48C dengan H 163.69J/g.
Berdasarkan pernyataan diatas maka
komposit HDPE dengan filler kaolin aktivasi
dan PE-g-MAmemiliki nilai titik leleh dan
entalpi yang lebih besar dibandingkan
komposit HDPE murni. Kurva gabungan uji
DSC komposit HDPE dengan filler kaolin
aktivasi dan PE-g-MA yang ditunjukkan
Gambar 10.Hal ini sesuai dengan hasil
penelitian (Salmah, 2005) bahwa penambahan
jumlah pengisi meningkatkan stabilitas termal
dan kristalinitas komposit.

70
60
50
40
30
20
10
0

A= Kaolin Aktivasi 0%
B=Kaolin Aktivasi 5%
C= Kaolin Aktivasi 10%
D= Kaolin Aktivasi 15%
E= Kaolin Aktivasi 20%

Hat Flow Endo Up (mW)

Komposisi
Kaolin

100

200

300

Suhu (C)
Gambar 10. Termogram DSC Komposit
HDPE dan Kaolin
IV. Kesimpulan
Pada kaolin aktivasi setelah di uji XRD
diketahui
komposisi yang dominan pada
kaolin adalah SiO (Silicon oxide) kandungan
Al2Si2O5(OH)4 dengan mineral Kaolinite.

83

400

Jurnal Saintech Vol. 06 - No.02-Juni 2014 ISSN No. 2086-9681

Kaolin terdiri atas oksida alumina dan oksida


silica, pada pola difraksi kaolin aktivasi
terbentuk struktur amorf. Sifat mekanik
diperoleh adanya penurunan modulus elastis
akan tetapi untuk kekuatan tarik dan
perpanjangan putus mengalami peningkatan
dengan penambahan kaolin. Penambahan
kaolin memberi pengaruh pada sifat termalnya,
serta meningkatkan titik leleh komposit HDPE
Daftar Pustaka
Anjana R, K E George. (2012). Reinforcing
effect of nano kaolin clay on PP/HDPE
blends
International
Journal
of
Engineering
Research
and
Applications,Vol. 2, Issue 4, JulyAugust 2012, pp.868-872
H. Salmah C.M. Ruzaidi and A.G. Supri.
(2009).
Compatibilisation
of
Polypropylene/ Ethylene Propylene
Diene Terpolymer/ Kaolin Composites:
The Effect of Maleic AnhydrideGrafted-Polypropylene
Journal
of
Physical Science, Vol. 20(1), 99-107
Kusmono, ZA Mohd Ishak, WS Chow, T.
Takeichi
Rochmadi.
(2008).
"Enhancement of properties of PA6/PP
nanocomposites
via
organic
modification and compatibilization
1M".J Polym Lett 2/9, 655
Kohls,J.L, and Beaucage. (2002). Rational
Desing of Reinforced Rubber, Cur
OP.Solid St Mat Sci ,6:183-194
Leblance,J,R. (2002). Rubber-filler Interaction
and Rheology properties in Filled
Coumpaund, Prog.Polym. Sci 27:627687
Mustafa Nassaf Samir. (2012). Effect
Of Kaolin On The Mechanical Properties Of
Polypropylene/
Polyethylene
Composite Material Diyala journal of
Enggireing Sciences,Vol. 05 , No.02 ,
pp. 162 - 178
Mehta AK., dan Jain D. (2007). Polymer
blends and alloys part-I compatibilizersageneral
survey,

84

http://www.plusspolymers.com
September 2012)

(20

Ridla Bakri, Tresye Utari, dan Indra Puspita


Sari. (2008). Kaolin Sebagai Sumber
Sio2 Untuk Pembuatan Katalis Ni/Sio2:
Karakterisasi Dan Uji Katalis Pada
Hidrogenasi
Benzena
Menjadi
Sikloheksana. Makara, Sains, Volume
12, No. 1, 37-43
Ray, S.S., and Okamoto, M. (2003). Polymer/
layered silicate nanocomposites : a
review from preparation to processing.
Progress in Polymer Science. 28: 153164
Salmah. (2005). Pencirian dan Sifat-sifat
Komposit Polipropilena (PP)/Etilena
propilena Diena Monomer (EPDM)
Terisi Sludge Kertas, Disertasi
University Sain Malaysia
Sukamta. (2009). Pemecahan Senyawa
Kompleks
dalam
Kaolin
dan
Pengambilan Alumina dengan Metode
Kalsinasi dan Elutriasi, Universitas
Gadjah Mada. Yogyakarta
Utracki, L.A. (1999). Polypropylene Blends
with
Elastomers.
In:
KargerKoccis,K.Polypropylene:
A-Z
Reference.
Dordrecht:
Kluwer
Publishers, 1999; 621