Bagian I

Seks dan Kroni-kroninya

1.Apa yang Perlu Kita Ketahui? 2.Drug ‘n Free Sex, dua Sejoli 3.Ini Dia Para Penyulut Free Sex! 4.Pendidikan Seks yang Benar, Seperti apa?

1

Bab I Seks dan Kroni-kroninya
1. Apa yang Perlu Kita Ketahui ??? Bukannya mengajak kalian yang baca buku ini berpikir ngeres; kalau belum-belum buku ini sudah dibuka dengan nge-geber masalah seks. Jangan dulu protes bila nanti pembaca buku ini jadi mencak-mencak gara-gara buku ini sepintas terkesan terlalu vulgar. Kalau kebetulan buku ini dibaca oleh para remaja (dan memang seharusnya) , masalah di bab awal ini bisa menjadi bahan renungan bahwa semua kemaksiyatan itu bermula dari hal-hal yang berhubungan dengan syahwat. Kalau para orang tua yang kebetulan kepergok baca buku ini, bagus juga karena ternyata dunia anakanak mereka saat ini telah didominasi oleh hal-hal berbau seksual, yang penyalurannya engga’ bener. Sementara orang tua masih sungkan ngasih pendidikan seks yang benar kepada anak-anaknya. Walhasil, setelah anakanaknya nyoba-nyoba sama hal-hal yang tidak benar para ortu pada pusiiiiiing! Trus juga, bukan masalah tabu dan malu-maluin kalau kita bicara tentang seks (asal dengan bahasa yang mendidik dan cara-cara benar). Memang tidak semua bisa kita dapetin dari buku ini,lagi-lagi, bab ini memang hanya sebagai pengantar kerangka berpikir menuju masalah inti dari buku ini. OK ? Cuman, kalian mesti paham, bahwa ada banyak sisi dari hal-hal yang berbau seks yang bisa dijadikan peringatan supaya kita nggak sembarangan dengan persoalan yang satu ini. Gimana? Seks dan Kehidupan Manusia
Dijadikan indah pada(pandangan )manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini,yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda pilihan,, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia ( Ali Imran: 14)

2

Sobat, bicara soal seks memang nggak ada habisnya. Dia ada saat manusia ada. Sebab itulah seks merupakan salah satu kebutuhan primer manusia sekaligus anugrah dari Allah SWT. Allah memberikannya manusia mendapatkan kemudahan untuk meneruskan merasakan kecenderungan antara perempuan dan laki-laki. Sigmun Freud, dalam psico analise-nya bahkan mengatakan bahwa semua perilaku manusia dilatarbelakangi oleh nalusri seks. Ya makan, bekerja, berdandan dan lainnya. Tapi, kita tidak boleh sembarangan dengan masalah ini. Maka dari itu Islam memberikan perhatian dan penjagaan yang cukup ketat dalam masalah ini. Meskipun sebenarnya membahas masalah seks bukan masalah nafsu atau keturunan saja, tapi juga masalah hubungan sosial ( termasuk pacaran ). Pemahaman kita secara benar mengenai seks akan membawa kita pada perilaku yang benar pula. Seks dan Peradaban Manusia Sobat, perilaku seks yang benar bukan yang sembarangan. Kita akan simak pemaparan Maududi (1993) dalam al-Hijab,bagaimana perilaku seks yang ngga’ benar sudah terjadi dimasa lampau. Sejarah sudah membuktikan bahwa pada jaman Yunani, moralitas masyarakatnya semakin bobrok gara-gara pemujaan terhadap nafsu seks yang sudah dianggap sebagai bagian dari kebudayaan mereka. Makanya kalian mungkin pernah mendengar kisah-kisah klasik Yunani diantaranya kisah Odhiepus yang suka sama Ibunya sendiri atau Electra yang mencintai ayahnya. Jadilah keduanya sebagai contoh istilah penyimpangan perilaku seks pada saat ini (Odhipus complex, Electra complex). Trus, pasti kalian juga sama tahu bagaimana patung-patung telanjang Yunani yang dibuat dan dianggap sebagai seni. Istilah pornografi, ternyata juga muncul dari penggalan kata phorne dari bahasa Yunani (yang artinya gadis liar, nakal, penjaja seks) dan graphien ( tulisan, gambar-gambar dan sebagainya) Pemujaan seks bangsa Yunani juga diwujudkan pada pemujaan terhadap Dewi kecantikan dan cinta, Aphrodite.Dalam mitologi Yunani mengisahkan , sang dewi yang telah bersuami, berselingkuh pada tiga orang agar keturunan,

3

dedewa, salah satunya adalah dewa kematian yang mebuahkan seorang dewa bernama Cupid yang dikenal sebagai dewa asmara. Weleh-weleh! Jaman peradaban Romawi lain lagi. Pada jaman ini bahkan ada pula wanita-wanita yang diadu telanjang ( hiiiii…) dan pada jaman itu para wanita boleh memiliki banyak suami! Na’udzubillah min dzalik. Pada Fase Eropa Kristen, Maududi menjelaskan bahwa awalnya Kristen dapat memperbaiki kebobrokan seks yang ditinggalkan oleh peradaban Romawi, akan tetapi mereka terjerat perangkat lain yaitu doktrin gereja yang menganggap seks sebagai sesuatu yang menjijikkan , dibenci dan menjadi sumber dosa yang harus dijauhi. Nah, memasuki abad 18, para filosofi Eropa mulai menyadari hakhak mereka dan mulai menolak otoritas gereja. Seks yang tadinya dianggap menjijikkan, dan hina mulai diletakkan kembali pada kodratnya dengan lebih mengapresiasi hak-hak wanita. Tapi, lagi-lagi kebebasan ini mulai menyeret mereka pada arah ekstrim lainnya. Maududi mengatakan ada tiga doktrin yang mengarahkan masyarakat Eropa kearah kehidupan seks seperti sekarang 1)kebebasan wanita dalam ekonomi 2) Persamaan pria dan wanita dan 3) kebebasan bercampur baur antara laki-laki dan perempuan. So, dari sedikit paparan diatas, kita bisa mengambil pelajaran bahwa peradaban dapat kacau balau bila tidak mengikuti aturan. Disatu peradaban ada yang melakukan perilaku seks sebebas-bebasnya, dan yang lain ada yang terlalu ketat melarang seks (yang pada awalnya adalah kebutuhan fitrah) .Agama-agama yang ada ketika itu gagal memberikan sebuah tatanan nilai moral, sebab seks hanya dipandang sebagai sifat-sifat biologis yang pada akhirnya menjadikan mereka saling bertindak diluar batas. Itulah kenapa Islam memberikan perhatian pada masalah syahwat (seks) dengan sangat adil dan manusiawi. Islam mengakuinya sebagai sebuah kecenderungan yang lumrah dan wajar. Pun begitu, Islam juga memberikan aturan agar hal-hal yang boleh tidak menjadi haram hanya karena cara-cara yang tidak benar dalam menyalurkannya. 2. Drug ‘n Free Sex, Dua Sejoli

4

Udah pada ngerti ‘kan

kalau masalah syahwat (seks) itu bisa

berdampak gedhe banget. Tidak cuma buat orang perorang tapi juga bagi sebuah peradaban! Dahsyat kan ? Apalagi dampak dari perilaku seks modern saat ini yang semakin memberi lampu hijau terhadap budaya gaul bebas, free sex, dan sex pra-marital. Siapa lagi yang paling pengen coba-coba kalau nggak para remaja. Tapi friends, ternyata masih banyak teman-teman kita yang demen banget ambil resiko sama persoalan yang satu ini. Nggak cuma buat cari pengetahun, tapi mereka pratekkin ! Tentu aja dengan cara-cara yang nggak syar’i. Kok sampai segitunya? Swear ini bukan guyonan! Mereka rela melakukan apa saja buat nyobain free sex. Sobat, buat sekedar kamu tahu aja, pelampiasan seks yang sering dilakonin para muda ternyata banyak yang udah stadium 4 ! Parahnya lagi, mereka juga sudah mulai memadukan antara kebiasaan nglakonin free sex dengan nge-drug (drug disini obat terlarang bukan sekedar obat pusing atau obat batuk)! Yang bikin miris, banyak teman-teman kita yang harus terpangkas masa indah remajanya gara-gara perilaku ini. Seks dan drug (ekstasi, shabu, dan bolo-bolonya) ternyata emang dua hal yang saling berkaitan. Sekali lagi, cuma buat kamu ketahui, saat ini para remaja yang udah kecanduan keduanya mulai gampang diajak nge-date sama orang yang punya obat, nongkrong di mall-mall dan jalanandan rela ngelakuin free sex sama sembarang cowok (kalau yang cewek dan sebaliknya) cuma buat ditukar sama drug. Hhhh….! Simak deh cerita si Lusi (bukan nama sebenarnya)
Aku sebenernya dari keluarga baik-baik. Mapan dan lumayan harmonis. Waktu lulus SMU aku memilih melanjutkan sekolah di Bandung. Karena aku terbiasa dapet semua dengan mudah, aku jadi susah banget di kota orang. Karena itu aku awalnya nggak begitu punya banyak teman. Kebetulan aku dapet kost yang lumayan “elit”, mahal dan fasilitas lengkap. Tapi tempat kost-ku lebih mirip aparteman daripada rumah kost. Kitapara penghuninya- bebas mau ngapain juga di kamar ukuran lumayan gedhe. Kami cuma berlimabelas. Asyik sih, privacy kita ga’ ada yang ganggu. Tapi ya gitu deh….kita pada sibuk sama

5

urusan sendiri. Apalagi aku yang emang nggak akrab-akrab banget sama temen. Awal-awal kuliah aku sih masih bisa jaga diri, serius kuliah, semua biasa aja. Di semester lima aku mulai sering jalan en kongkow sama tementemen. Dari sekedar malem mingguan sampai pergi bareng-bareng. Maklum, aku jarang bisa punya temen banyak. Aku mulai berani. Tau ‘ndiri kan , Bandung? Parisnya Indonesia, Boo’!Aku mulai sering nginep dirumah teman. Kost-an ku sih nggak terlalu bermasalah. Aku mulai pacaran sejak semester satu, tapi putus karena pacarku lulus dan aku males pacaran jarak jauh. Nggak asyik, kan ? Aku dapet pacar lagi pas semester lima itu juga karena aku sering ketemu dia dia acara-acara yang dibikin teman-teman. Dia juga yang bikin aku mati kutu. Abis gimana.. cool banget. Soal drug, .. gimana ya… sebenarnya malu. Awalnya aku dikasih teman.Nyoba aja katanya. Nggak enak nolak, soalnya aku sering gaul malem sama mereka.Sebenarnya aku nggak mau juga nyalahin pacarku, abis dia sebenarnya udah pernah bilang kalau nggak mau nggak usah nyoba. Aku nyoba pertama kali sendiri di kamar kost.Aku nikmatin aja. Pas lagi fly, kita nggak akan nyadar sama sekitar. Apalagi kalau pas sama pacarku dan konco-konconya. Waktu semester tujuh, pacaranku udah mulai berani. Aku nggak bisa nglepasin dia, apalagi aku mulai ketagihan. Sampai suatu saat aku pernah ngelakuin hal yang.. sebenarnya cuma pantes kalau dilakuin kalau kita udah married (tau sendiri kan). Waktu itu kami lagi fly. Dan yang bikin aku makin berani, karena pacarku bilang, kita kan tanggung semua bareng.Aku blo’on . Semua omong kosong. Setahun kemudian kami putus.sementara aku udah mulai kecanduan. Makanya aku sudah nggak peduli lagi. Kadang aku mau aja diajakin kencan temen cowokku yang kebetulan bisa kasih drug. Palingpaling aku nemenin dia ke disko atau lebih dari itu. Aku udah nggak takut! Terlanjur basah. Temen-temen kostku sampai sekarang belum pada ngeh. Kalaupun aku pulang larut mereka paling cuman nanyain aku darimana, dan aku basa-basi aja. Ortu ? mereka taunya aku tetaplah anak manis mereka,toh kuliah tetep aku jalanin. Aku nggak ngerti sampai kapan.Sekarang aku jadi pramuria di diskotik tempat aku biasa mangkal. Kadang aku suka weekend bareng temen-temen ke Lembang sambil cari tambahan.Tahu kan? Drug itu mahal dan aku nggak mungkin minta ortu.

6

Gitulah….. secara fisik mungkin sampai sekarang aku masih bisa menipu. Tapi aku sudah terlanjur tergantung.Apalagi kalau aku sakau, aku jadi lebih agresif.Aku nyalurinnya paling ke disko, atau telphon temen-temen yang bisa ngasih aku imbalan obat. Jangan salah, cowok-cowok juga banyak yang kaya’aku.Mereka kadang lebih parah, karena kalau pacarnya nggak mau atau takut diajakin ngelakuin free sex… ya, cewek-cewek kaya’ aku ini gantinya….

Hiii… horor banget ya?? Sekali lagi, jangan bikin pikiran kalian ikutan ngeres. Kaya’ begitu bukan buat di tiru tapi dipikirin akibatnya. Ternyata, kadang yang bikin diri kita rusak ,ya diri kita sendiri .Iya kan ? Si Lusi itu, kalau dia nggak tergantung sama orang lain mungkin bisa dia nggak terjun bebas kedaerah maksiyat. Udahlah… dua hal yang diharamkan itu kalau dijadiin satu semakin bikin setan jejingkrakan. Kalau kita simak ceritanya si Lusi, masalahnya bukan cuma karena kita dari keluarga baik-baik. Kasihan orang tua yang udah mendidik kita dari kecil sampai segedhe gini. Udah gitu dibohongin terus-terusan. Kalau ntar resikonya udah semakin besar, e……kita baru ampun-ampunan dan minta ditolongin. Makanya, jangan deket-deket deh sama yang begituan. Trus, kenapa sih kok drug sama free seks bisa kompakan gitu nyerang seseorang ? Ilmiahnya begini, orang yang sudah kecanduan, kalau lagi ngedrug, hormon esterogennya tuh terpacu. Makanya, mereka jadi lebih agresif, apalagi kalau dideketnya ada “mangsa” .Ya udah langsung aja. Ada lagi yang berpendapat bahwa kalau ngelakonin seks bebas tanpa drug, kadang muncul perasaan bersalah, makanya mereka pakai drug biar fly.Huh! na’udzubilah min dzalik, deh! Bodoh sekali ya mereka?! Sudah pasti mereka yang akrab sama begituan, nyarinya tempattempat yang berkedok hiburan dan tempat-tempat nongkrong cewek-cowok macam Lusi dan pacarnya itu. Makanya ada istilah sex on the street-lah, sex on the mall-lah, mereka melakukannya bareng pacar, atau temen. Welehweleh.

7

Trus, kalau nggak punya pacar ? ini juga sama parahnya. Mereka yang sudah nggak bisa menahan nafsunya, menyalurkan ke hal-hal yang nggak bener. Nonton film atau buka situs-situs jorok di internet, mantengin majalah-majalah atau gambar-gambar porno, atau –maaf- merangsang diri sendiri (masturbasi, onani) padahal itu semua nggak sehat . Lho, kan kaya’ gitu kan lebih “save” dan nggak terlalu beresiko ke orang lain ? Hei! Siapa bilang? Mereka yang nggak bisa mengendalikan nafsu biologisnya ,apalagi di usia remaja, trus melakukan hal-hal kaya’ diatas jangan dikira lebih aman. Mungkin secara fisik mereka nggak punya dampak. Tapi secara psikologis? Wha!!!!gedhe banget! Mau tahu ? 1. Perasaan berdosa. Bohong deh kalau perasaan ini nggak muncul. Apalagi yang baru pertama kali .karena sebenarnya mereka tahu kalau hal-hal seperti itu nggak benar.Terlepas banyak pendapat yang mengatakan masturbasi atau onani lebih baik dari pada zina beneran, tetep aja nggak bener . Masih untung kalau kemudian sadar dan masih punya malu. Lha kalau enggak? Mereka akan mengabaikan rasa berdosanya . Udah dehhhh! 2. Sensitif Disini maksudnya sensitif yang negatif. Bisa juga karena merasa bersalah, malu dan sebagainya, dia jadi gampang tersinggung. Mereka yang melakukan hal-hal begini, khawatir kalau orang lain tahu. Orang-orang kaya’ gini biasanya jadi pemurung. Nggak asyik kan? Masa muda mestinya kan giat, nggak letoy gitu. He..he.. 3. Kecanduan Pokoknya as drug as sex , deh! sama saja ! Kalian yang hobi mantengin halhal porno ,suka nyalurin syahwat dengan cara-cara nggak benar, pasti kecanduan. Percaya deh! Karena kalian merasa nikmat dan secara fisik resikonya nggak kelihatan. Kalau sudah begini kalaian bisa jadi sex addict! Kalian bawaannya kesanaaaaaa terus nah, kalau sudah nggak terkendali, kalian akan meningkat ke pelampiasan yang sesungguhnya (ke pacar, atau lawan jenis yang lain, bisa tetangga, bahkan saudara!) makanya, banyak

8

pelecehan dan kejahatan seksual yang pelakunya justru orang-orang terdekat. 4. Konsentrasi Turun, Prestasi anjlok Swear yang ini benar! Kalian pasti pernah merhatiin temen-temen yang jago nge-drug, juga maniak banget sama hal-hal berbau porno, pasti kebanyakan mereka blo’on. He..he…Bener kok! Mereka mana mau diajak mikir yang serius-serius.karena mereka malas kalau berhadapan dengan segala macam tanggung jawab. Orang-orang macam begini maunya yang enak-enak.Pas giliran disuruh tanggung jawab; NGACIR! Dan menurut penelitian, orangorang yang lagi nge-drug ngeluarin hormon yang namanya endophrin (penghilang rasa sakit) yang efek “fly” nya sama dengan orang yang lagi kecanduan “cinta”. Bikin bodoh! Walah-walah. Mereka juga letoy ga’ punya semangat. Prinsi mereka: Nyantai, Jack! Soalnya semua persoalan bagi mereka solusinya gampang : hilangkan dengan fly! 5. Criminal Yup! Ini sering juga kejadian. Orang-orang yang kepepet karena mabuk, ngobat dan sejenisnya , bisa agresif dan nekat. Mereka juga mau ngelakuin apapun buat menuhin kecanduan mereka. Dari mulai yang kecil-kecil sampai kejahatan kelas kakap. Hhhhhhh…… padahal, nggak jarang orang semacam ini justru sangat penakut dan pengecut. Mereka rela mengggadaikan harga dirinya. Ya.. kaya’ cerita Lusi diatas. Payah. Nah, itu tadi efeknya dari drug dan juga free seks. Jangan cobacoba. Seks yang sebenarnya kecenderungan fithrah yang suci jangan diumbar sembarangan. Nggak usah, deh terpengaruh dengan gaya hidup yang bertentangan dengan syar’i. Buku ini cuman pengen ngulas sedikit. Tapi semoga yang sedikit ini bisa bikin kita ngerti dan bisa mengambil pelajaran. Allah sudah haramkan hal-hal yang membuat kita tidak mampu berpikir jernih dan bertindak benar, sebagai isyarat cinta-Nya pada manusia. Yaitu hal-hal yang merusak pikiran dengan cara-cara memabukkan dan merusak jiwa, dan kita seharusnya cukup cerdas untuk menyambut bukti cinta Allah itu, bukan?

9

Mengapa kita mengambil yang haram sementara yang dihalalkan Allah dan menyelamatkan hidup kita lebih banyak? Bukankah Allah selalu memberi pilihan kepada manusia untuk menjadi manusia terbaik? Lalu, mengapa kita menurunkan derajat kita dengan melakukan hal-hal dibenci Allah dan dicibir oleh manusia???? Wallahu a’lam bishawwab 3. Ini Dia Para Penyulut Free sex! Masa remaja adalah masa dimana seseorang dipenuhi gejolak psikologis.Sedikit saja seorang remaja terusik kepentingannya, langsung deh meledak. Masa remaja juga masa yang penuh fantasi atau khayalan.nah, antara kekuatan emosi-psikis plus khayalan tadi , memungkinkan digunakan dalam berbagai hnegatif, termasuk free sex dan penyimpangan seksual yang lain. Seks (syahwat) itu pada dasarnya kekuatan, energi. So, bisa saja mendorong seseorang untuk melakukan apapun. Syahwat bisa mempengaruhi seseorang untuk berbuat apa saja untuk menuruti nafsunya. Seks (syahwat) juga dapat berarti api. Sedikit tersulut…..maka…Wusss! langsung bikin gelombang bara. Dan lazimnya sifat api, akan membesar jika ada respon atau bahan yang mudah terbakar didekatnya. Parahnya, sekarang disekitar remaja sudah jamak yang namanya mantengin “bahan bakar” tersulutnya syahwat. Mereka menganggap biasa saja bergaul bebas dan campur baur antara laki-laki dan perempuan, namanya juga anak muda! Gitu katanya. Free seks sudah menjadi menu obrolan bahkan perilaku yang biasa dikalangan remaja dan masyarakat kita. Free seks dari yang cuma kissing sampai –maaf- koitus dipicu oleh hal-hal dibawah ini. 1. Pendidikan Seks yang Salah/ Kurang diperhatikan Sebenarnya bukan mau nyalahin ortu, tapi pendidikan tentang semua hal bermula dari rumah. Termasuk mengajarkan moral dan pendidikan seks. Budaya Timur yang kita anut bagus dan positif tapi serbuan informasi dan teknologi menjadikan para muda ingin tau banyak hal. yang

10

Orang tua dan guru sebaiknya memberikan informasi yang benar tentang seks dan segala hal yang berhubungan dengannya pada remaja (tentunya dengan cara yang benar dan tetap etis). Misalnya tentang fungsi-fungsi alat reproduksi dan ditekankan pada tanggung jawab untuk menjaga kesehatan reproduksi dan jangan dimanfaatin sebelum waktunya. Balik kemasalah “tabu psikologis” ortu buat ngasih pengetahuan ini ke anak-anak reamaja mereka. Alhasil, para remaja mencari sebebas-bebasnya diluaran. Parahnya, kalau mereka nyari dan ketemu hal-hal yang melebihai kadar yang semestinya mereka belum boleh tau. Nah lo! 2. Majalah-majalah dan Cerita-cerita Porno Ups! Ini nih yang sering kita lihat. Tau ‘kan majalah-majalah dan tabloid yang berjajar rapi dipinggir jalan ? Dengan baca cerita-cerita stensilan, dan cerita-cerita “horor” orang bisa jadi “berkhayal” yang enggak-enggak. Ditambah gambar-gambar atau foto.Aduh. Remaja yang emang masa-masa khayal dan berfantasi e….. dikomporin dengan majalah-majalah dan posepose vulgar yang dijual bebas. Tentu saja bikin syahwat bergolak. Na’udzubilahi min dzalik. Makanya, mestinya para remaja jadi pelopor di garis depan buat nentang yang beginian. Habisnya , yang kaya’ begini nih yang bikin kita bodho, dosa lagi! 3. BF Blue Film. Ini juga biangnya ngerusakin moral kita-kita. Asal kalian tahu aja, hasil polling Deteksi- harian umum Jawa Pos menunjukkan bahwa para muda metropolis saat ini banyak yang sudah berpengalaman nonton blue film (film-film porno) di usia 15-an tahun! Gila kan ?! Film-film yang mengumbar abis tentang hubungan lawan jenis yang horor bahkan nggak jarang diikuti dengan tindakan-tindakan sadis itu ditonton ABG-ABG! Beberapa artis bahkan dengan tidak tahu malu cengar-cengir ngaku di sebuah majalah remaja kalau mereka nonton tontonan haram ini di usia – usia SMP ! Terang aja dengan nonton beginian para remaja jadi “terkesima” dan melakukan hal-hal serupa yang mempengaruhi gaya pacaran mereka jadi berani. HHHHHhhh!!! Kacau.

11

Masih dari mulut para selebritis dan kaum muda metropolis, mereka nonton beginian bareng temen-temen atau pacar atau sendirian ! Bohong kalau ada yang bilang kaya’ gini upaya mereka nyari “pendidikan seks” ! Parahnya, nggak cuman dikota-kota besar, Friends! Tontonan ma’siyat ini udah masuk ke daerah-daerah dan lingkungan rumah kita dalam bentuk asli maupun bajakan! Sekali lagi, na’udzubillahi min dzalik. Jangan pernah ditiru ya! 4. Internet Teknologi, dimanapun menjanjikan dua hal: positif dan negatif. Internet demikian juga. Disamping semua manfaatnya, media ini juga bisa jadi suporter pemancing syahwat.  Situs Porno: Nah lo! Kalian yang hobbi searching, nggak usah deh tergoda buka situs-situs beginian. Pengaruhnya sama dengan mantengin BF atau majalah-majalah porno. Mulai dari gambar atau foto sampai kombinasi warna, suara yang bikin syahwat kepicu. Apalagi saat ini dimana saja dan kapan saja semua orang dapat mengakses internet. Bahkan dari dalam kamar sendiri pun! Jadi siapa yang tahu ??? Bisa-bisa kecanduan. Ingat : as sex as drug! Sama aja. Udah deh, hindari  Chatting aja. Ngabisin waktu !Mendingan buka situs lain yang lebih bermanfaat. : Ati-ati Non! Ati-ati Brur! Apalagi kalian yang hobbi

banget chatting, pasti tahu dong kalau tiba-tiba ada yang PV kamu trus ngajakin kamu gabung di situs-situs jorok atau situs sex? Atau kalian yang mudah ketipu sama nickname “baik-baik” ternyata ditengah aktivitas chatting dia ngajakin aneh-aneh. Atau (lagi) kalian yang mudah ‘terpesona’ sama cewek-cowok dunia maya. Ada yang sampai bikin komitmen sama banyak “pacar” di chatting. Wadduh !!Malah ada lagi yang terjerat ‘cinta’ segitiga. Ha..ha… bodo banget ya! Emang pas chatting itu, biasanya ada kedekatan emosional (sok tahu) Apalagi kalau komunikasi dan pertemanan itu ditindaklanjuti di dunia nyata. Tapi hati-hati saja dengan ajakan-jakan dan omongan-

12

omongan jorok disana. Langsung aja cut kalau ketemu makhluk nyebelin plus gila model begini. Ya, itu tadi modus-modus operandi di internet buat ngomporin syahwat. Jadi mendingan kita yang udah ngerti , jangan sampai terjebak yang kaya’ begitu. Gunakan teknologi untuk yang bermanfaat. Kalaupun chatting, pilih channel-channel yang lumayan “save’ dimana obrolan-obrolan kalian bermanfaat (meskipun kadang masih tetep ada oknum yang nyebelin kaya’ diatas). Tapi jangan lupa waktu; karena hal-hal yang bikin senang itu…. melenakan. Sayang ‘kan waktu dan doku kita! 5. Nigt Club Tempat ini emang identik dengan hura-hura dan bebas-bebasan. Liat aja mbak-mbak baik yang pramuria ataupun pengunjungnya,pasti pakaiannya ”full preesed body”. Emang gitu. Dunia gemerlap malam hari (dugem) adalah salah satu gaya hidup yang mulai dicicipi kaum muda. Rupa-rupa alasannya. Weekend-lah, jenuhlah. Night Club identik tempat ma’siyat! (hayo yang ngga’ setuju dilarang protes). Yang namanya ma’siyat kan bisa dipicu karena suasana. Nah, tempat ini emang disetting kaya’ gitu. Relax, bebas, nyantai, hepi, termasuk menggiring ke seks dan obat terlarang Takutnya, kebiasaan ketempat beginian bikin kita (remaja) akrab dengan dunia malam.Termasuk masalah free sex ‘n drug ! Apalagi kalau kalian ngaku remaja muslim.Kaya’ begini kan hal yang sia-sia. Daripada kalian nyobanyoba “gaul” ternyata pas disana jadi “kuper” (karena ga’ mau ngikut gaya hidup mereka) mendingan dibilang “kuper” karena emang nggak pernah kenal sama tempat-tempat beginian. Kalau kuper sama hal-hal begini bikin selamat , kenapa enggak? 6. SMS Sex message system. Begitu plesetannya. Makanya hati-hati buat kalian yang berponsel ria. Bisa-bisa itu jadi sarana yang merugikan. Takutnya, kalian diteror sama orang-orang yang suka bikin ulah nggak lucu en nggak sopan dengan ngirimin sms-sms horor soal seks. Kalau ada yang nyelonong, ga’ usah direspon.

13

Apalagi yang pada kesengsem sama temen-temen baru di cyber world tadi.Jangan gampang-gampang ngumbar nomor HP. Ingat ya Friends, kema’siyatan yang besar itu bermula dari hal-hal yang kecil. Bisa-bisa kalian malah cekakak-cekikik ngomongin hal-hal yang tidak berguna. 7. Acara-acara TV Ini nih biangnya. Sobat, Televisi rupanya sudah menjelma jadi “tuhan kedua” . Bagaimana tidak? Semua yang ditayangkan TV hari ini pasti akan ditiru keesokan harinya. Dari mulai gaya hidup dan trend. Remaja dan seks juga sudah menjadi komoditi nomor wahid untuk industri pertelevisian. Banyak acara yang memuat misi-misi kebebasan seks didalamnya. Alhasil, remaja-remaja kita mulai berani menampakkan sisi-sisi sensual dari tubuhnya dan semua didukung dari segala aspek. Penampilan, kosmetik, cara bicara, dan perilaku yang genit dan mengundang perhatian lawan jenis (biar dibilang seksi, cantik, PD, funky, gaul) . Semuanya. Jadi ada benernya tuh si Sigmund Freud tadi, yang bilang bahwa semua perilaku manusia itu cenderung pada pemenuhan naluri seks-nya. Acara katakan cinta misalnya, yang menunjukkan ‘perjuangan ‘cewekcowok cuma sekedar untuk bilang I love You ! Huh norak. Padahal cuma “dilamar” jadi pacar. Belum lagi film-film impor Jepang-Korea- yang romantis abis, yang disadur dari komik-komik juga Film India (dengan tarian-tariannya) dan serial-serial Barat , trus ide ceritanya disadur sama sinetron-sinetron kita jadi Ciuman Pertama, Pacarku Jutek, ABG, Cinta SMU,Bintang Laut (mirip Baywatch), Metropolis dan Borju ( yang mirip-mirip Friends dan Beverly Hill 90210). Huaaaaah! Pokoknya memang mentalitas plagiat (mencontek,meniru) tuh mengakar sampai ke masalah budaya. Parahnya, remaja kita kebanyakan kadung gandrung sama yang begituan. Makanya, jangan heran kalau merekamulai niru-niru gaya gothic-nya Agnes Monika (yang menurut penulis justru kumuh ,he…he..).

14

Semua sinetron dan film remaja pasti “diajarin” buat nentang pendapat orang tua atas nama cinta. Gombal banget. Itu belum cukup. Acara-acara seks juga ditayangkan di TV dari mulai cuma talk show sampai yang terang-terangan ngebahas dan menayangkan pose-pose cewek seksi. Acara begituan (talk show tentang seks) didapik sebagai ajang pendidikan seks, tapi kadang terlalu vulgar dan ngasih contohnya juga kurang pas. Acara-acara begitu memang terapannya buat orang dewasa. Makanya, biasanya acara-acara seperti itu atau film-film “semi blue” (biru muda kali yaa,he..he..) ditayanginnya tengah malam atau diatas pukul sembilan-sepuluh malam. Tapi apa iya para remaja nggak penasaran buat “ngintip”? wong mereka tinggal ngejogrok di depan TV (apalagi yang ortunya cuek atau ada TV di kamar ) ditambah lagi promo/iklan acara-acara begituan ditayangin pada waktu-waktu remaja lagi nonton TV. Belum lagi iklan-iklan yang menjurus ke hal-hal berbau seks, baik produknya, modelnya, kata-katanya.Hhhhhhh… bikin miris dan risih kan? Makanya nggak salah kalau anak-anak SD pun sekarang sudah pada ngerti masalah-masalah begitu. Whaaaa!!!! Banyak banget kan? Dan hal-hal diatas nggak jarang kita terima dengan bersahabat di dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin juga kita termasuk “penikmat” sebelum baca buku ini , tapi Insya Allah perubahan akan terjadi setelah ini. Bukankah tidak sama orang yang mengetahui dan tidak/ belum mengetahui ? dan hanya orang yang mengetahui yang dapat mengambil pelajaran

4. Pendidikan Seks Yang Benar, Seperti Apa Masa Remaja Kita, apa yang Berbeda ???
Proses manusia menuju kedewasaan fisik dan psikologis berjalan sangat alami. Manusia mengalami masa remaja sangat berbeda dengan masa kanak-kanak. yang tentunya

15

Ketika masa kanak-kanak, manusia cenderung berekspresi bebas dan lugu. Masa kanak-kanak biasanya penuh dengan nuansa-nuansa bermain dan bersosialisasi bebas. Lalu pada remaja? Para pakar mengatakan bahwa masa remaja merupakan masa strom and stress, frustasi dan penderitaan, konflik dan krisis penyesuaian, mimpi dan melamun tentang cinta , dan merasa teralienasi (tersisih) dari kehidupan orang dewasa (Dr. Syamsu Yusuf, 2001) Dr. Zakiyah Drajat mendefinisikan remaja sebagai masa peralihan dara kanak-kanak menuju dewasa. Pada masa ini biasanya terjadi perubahan fisik dan psikis.Baik dari bentuk badan, cara berpikir, dan bertindak. Masih banyak lagi definisi masa remaja yang intinya, mengarah pada mulai berfungsinya hormon-hormon seksual. Makanya, pada saat ini remaja mulai tertarik pada lawan jenisnya dan itu diekspresikan perilaku-perilaku lain. Nah , maka dari itu mengapa di usia remaja (sekitar 13-24 tahun; bahkan sekarang banyak remaja dini, ya!) kasus-kasus kena virus merah jambu alaias “jatuh cinta” ini mulai merebak. Di masa yang sering disebut masa puber ini, mulai deh remaja-remaja jadi bersikap suka menyendiri, kurang tenanng, nggak PD, cepat bosan. Itu pula sebabnya mengapa pada masa akil baligh Rasulullah mengajarkan agar para remaja putri mulai menutup auratnya (semua anggota tubuh kecuali wajah dan telapak tangan). Sebab, pada masa itu pesona-pesona fisik seorang perempuan mulai tampak. Laki-laki juga ! Nggak boleh sembarangan melototin cewek. Dituntunkan oleh Allah supaya kita menundukkan pandangan. Yang laki-laki menundukkan pandangan dan yang perempuan juga plus menutup aurat. Hikmahnya? Jelas! Nggak bakal ada tuh suitan-suitan nakal dan mata-mata yang jelalatan. Juga nggak mungkin ada perilaku-perilaku ganjen he..he..! Indah kan Islam ???? Dari situlah Islam meletakkan penjagaan-penjagaan terhadap laki-laki dan perempuan yang beriman dari fitnah, dan dari cinta yang salah. Giiiiiituu!!!! (untuk mencari perhatian he..he…) dengan cara berdandan, berpakaian dan

16

Tips Buat Kamu-kamu yang lagi puber !
 Minta ortu misahin kamar tidur kalian dari adik/ kakak laki-laki (buat yang cowok juga sebaliknya) Juga , jangan bobo’ sama adek-or kakak cewek atau cowok dalam satu selimut, ya! Kalau emang bisa pisah tempat tidur itu lebih baik   Budayakan rasa malu dikeluarga walaupun sama kakak atau adek kandung yang berlawanan jenis , apalagi sama orang lain!  Mulai doong buat yang cewe’ tutup auratmu! Jangan pakai baju yang tipiiiiiis, ketat atau transparan.Bayangin deeh tubuh kamu yang telanjang jalan-jalan he..he.. malu banget kaaan???  Yang cowok, jangan jelalatan...!hargain doong para cewek dengan nggak nyuitin atau jahil sama mereka! Kalau adek atau kakak perempuan kamu digituin pasti ga’ suka kan ???  Ga’ Usah deh pakai coba-coba mengkonsumsi para pemicu free sex tadi Cuma gara-gara takut dibilang kuper!

Well ! gitu aja deeh!

17

Bagian II

EKSPRESI CINTA MASA MUDA : PACARAN ?!
1. Romantika dari Masa Ke masa 2. Ini Dia Fase Romantis itu!  Jatuh cinta  Pe de Ka Te Jadian  Gaya Pacaran Generasi Extravaganza! 3. Masyarakat dan Legalitas Pre-marital sex

18

Bagian 2 EKSPRESI CINTA MASA MUDA: PACARAN ?! 1. Romantika dari Masa ke Masa

Dari jaman Baheula’ sampai sekarang yang namanya cinta memang sudah ada. Kata Mashabi, rasa cinta pasti ada pada makhluk yang bernyawa he..he.. Nggak ada salahnya ‘kan? Manusia terutama yang memiliki cipta rasa dan karsa pasti jadi makhluk ciptaan Allah yang paling bisa mengekspresikan cinta. Fase romantis selalu nangkring dalam sejarah kehidupan seseorang. Bukan begitu ? Kata A.H. Maslow dalam Teori Psikologi Humanistiknya, manusia memiliki beberapa kebutuhan dasar yang harus dipenuhi secara bertingkat. Seseorang akan berajnjak pada fase kebutuhan yang lebih tinggi ketika telah memenuhi kebutuhan dasar yang sekarang. Kebutuhan fisiologis seperti makan, minum, tempat tinggal, termasuk kebutuhan untuk mencintai serta memberi dan menerima perhatian. Paling gampang dan wajar dalam kultur masyarakat kita, perasaan cinta dan perhatian itu diberikan pada lawan jenis. Sejarah selalu meninggalkan fase romantis dan cerita-ceritanya yang terangkum apik. Bahkan sejarah “pembunuhan” manusia pertama yang

19

dilakukan anak pertama Adam, Qobil terhadap saudaranya habil juga dilatarbelakangi ….CINTA! Setiap peradaban memiliki cerita romantis baik yang luhur maupun yang menjijikkan (seperti contoh kemesuman peradababn Yunani dan Romawi di bab I).Mulai dari Rama –Shinta, Layla Majnun,Romeo-Juliet yang mati konyol he..he.., Kisah Klasik Yunani-Romawi sampai cerita-cerita pop masa kini. Cinta selalu menjadi inspirasi bagi karya-karya besar pujangga ternama sekelas Gibran, misalnya. Ya… begitulah romantika dalam segala bentuknya, gembira, suka, harapan, permusuhan selalu ada unsur cinta disana, The power of Love, gitu judulnya lagunya Celine Dion. Kita tidak sedang bicara salah benar tentang cinta dibuku ini .Namun lebih pada merefleksikan begitu ? Cara pengekspresian cintanya kakek-nenek dan orang tua kita dahulu mungkin berbeda dengan kita atau teman-teman kita sekarang. Betapa dahulu, para orang tua cukup dengan pengekspresian yang lugu, penuh dengan etika dan pertimbangan norma. Dalam setiap perilaku mereka terhadap lawan jenis. Apakah denga batasan-batasan itu mereka “kehilangan” fase romantis mereka? Bukankah ekspresi yang tidak terumbar menjadi sesuatu yang justru dapat dinikmati ? Menurut Hukum Gossen I , kenikmatan terhadap sesuatu akan berkurang bila kita terus menerus memenuhi kebutuhan akan sesuatu tadi. Ibarat haus, minum satu gelas aja udah nikmaaaat banget. Coba gelas ke etiga, keempat, waaaah pasti sudah nggak pengen lagi. Nah lo! Ini baru awalan, Friends! diri terhadap perilaku diri sendiri dan perilaku orang lain dan sekitar terhadap satu naluri fithrah bernama….CINTA! bukan

@@@@@@@@@

20

2. Ini Dia Fase Romantis Itu !!!
 Jatuh CINTA !!!! Jatuh cinta berjuta rasanya….. Siapa bilang jatuh cinta nggak bikin orang senang ? Apa yang paling asyik dirumpiin kalau nggak topik ini ? Semua orang juga pernah ! Fitrah, Neng ! Ini dia tahap pertama dari fase romantis seseorang (ABG, remaja, bahkan nenek- kakek juga bisa!) Kenapa Sih bisa jatuh Cinta ??? Jatuh cinta tuh nggak pilih-pilih datengnya. Nggak cuma sama orang yang sudah akrab sebelumnya, tapi juga sama makhluk yang kebetulan lewat depan rumah atau tempat kost atau lebih parah sama kebetulan ketemu di Mall ! Eleuh-Eleuh! Orang bisa jatuh cinta karena penampilan fisik, cuantiiiik , cakeeep. Atau bisa juga karena kekaguman sama kepribadiannya. Ehmm…. Ini sih buat ABG jarang! Atau karena sering interaksi. Biasanya para aktivis nih! Nih Prosesnya Jatuh Cinta ! Pasti kalian pernah doong merasa kuch-kuch hota hai sama seseorang (ngaku aja!) Pasti kalian ngalamin satu dari beberapa proses orang yang

21

dibawah ini. Kan udah dibilang katanyanya cinta muncul nggak pilih-pilih tempat, ruang ,waktu.  First sight Love. Cinta pandangan pertama. Ini yang sering kejadian. Umumnya sih, sasaran pandanganya,ya.. wajah dong! Dari mata turun ke hati katanya. Gombal banget ya… tapi emang kejadian!  Persahabatan. Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Hhh… ya . gitu deh ! Ada lagi psikolog yang mengatakan , nggak ada persahabatan antara lawan jenis ! Emang betul . Mulanya biasa saja, suka ‘diskusi’-lah, cuma temenan –lah, nggak ada apa –apa , kok! Lama-lama.. boleh juga nih! Hayooo ! Ngaku!!!  Prestasi. Ini jarang lho! Abis kan nggak semua orang punya prestasi. Apalagi buat para ABG yang masih menganggap fisik itu nomer satu. Tapi, cewek-cowok pinter, smart biasanya memang keluar inner beauty atau inner handsomenya sendiri. Bangga doong naksir cewek-cowok berprestasi ! Glek!  Peran Pihak Ketiga. Dicomblangin! Hayooo! Siapa yang pernah ? Bisa juga karena nggak PD atau emang benerbener ‘dijodohin’ tapi kalau buat yang tujuannya inyar’I sih ok aja. Apalagi kalau pihak ketiga itu memang untuk tujuan yang mulia , menikah misalnya daripada yang ketiga setan ? Kalau cuman ‘nemenin’ pacaran ? ntar dulu. Katanya siih.. cinta model beginian biasanya terpaksa, apalagi yang cumin iseng pacaran. He..he… Biasanya cinta para monyet Eh… …cinta monyet modelnya beginian.  Peran Media. Persis kaya’ dibahas dimuka . Biasanya dari chatting nih! Sama juga dengan surat-suratan. Dari sana jadi jatuh cinta! Eleuh-eleuh!  Peristiwa tak terduga. Wha kak-kak! Ini sih sinetron banget , ya! Karena kesandung batu, mengalami sesuatu yang

22

sama dan tak terduga he..he.. ditolongin, trus jatuh cinta! Wah gampang sekali ,ya! Itu tadi beberapa proses yang lagi jatuh cinta. Ada lagi! Perilaku orang jatuh cinta. Pernah liat kan ? atau pengalaman pribadi? Kalau udah jatuh cinta, mulailah rajin cari info soal si Dia. Komentarnya juga macem-macem dan kadang ennga’ pas : yang katanya si Itu kaya’ Gunawan-lah, Si A kaya’ Hua Ce Lai- lah. Kaum adam? Jangan salah ! mereka nyamainnya lebih parah diem-diem suka ngerumpi katanya cewek itu kaya’ Shancai, Britney atau Christina Aguillerra yang norak tapi (katanya) seksi ! Puih! Yang bener aja ???!!!! Orang jatuh cinta emang bener-bener aneh. Yang biasanya pake’ apa aja PD, pas lagi jatuh cinta malah jadi serba salah. Jadi senewen, malu bahkan malu-maluin tingkahnya. Cuman dikasih senyum sekilas aja (padahal yang punya senyum, sih cuman menganggap itu shodaqoh, nggak lebih) senengnya bukan main. Apalagi kalau sampai direspon, diajak ngobrol, walah ! pasti dipikiiiir sampai detil-detilnya. dibumbui atau rasa asli. Bener-bener, Deh!  Pe - De - K - Te Ehmm…. Perasaan itu tadi (jatuh cinta) bisa jadi sama dengan feeling-nya Sang Gebetan. Setelah berusaha gerilya, cari tau sana-sini, pada tahap inilah dimulai usaha mandiri. Tahap ini yang membuat seseorang jadi heroik. Gunung’kan kudaki, Laut kusebrangi, akan kugendong rembulan, kukantongi bintang-bintang…. Ah, kalau bulan bisa ngomong ! (maka dia akan ngomong : Gombal! Dibohongin luuuu!) Istilah kerennya PeDeKaTe .Pendekatan. Apa yang beliaunya suka pasti akan coba dirasa suka. Empati gitu. Emang sih menurut teori manajemen cinta ( tau’ deh teori siapa) cinta itu bermula dari suka, simpati, kagum, empati, cinta, ketergantungan (hiiiii…. Bisa juga jadi ‘menuhankan’). Nah , di tahapan pendekatan inilah mulai ada khayalan, analisis perasaan suka, Plan A ,Plan B buat bikin strategi paling jitu! Sudah nggak peduli tadi

23

Bagi

yang

berani,

pendekatan

akan

dilakoni

secara

“pemberani”.Bicara terus terang sampai aksi gila-gilaan kalau perlu. Apalagi dikomporin acara katakan Cinta yang ditayangkan RCTI. Mulailah atraksiatraksi penuh perjuangan PDKT berlangsung.Anehnya, yang paling norak justru yang paling sukses. Gila! Malu-maluin kan ? Padahal cuma buat status yang boleh jadi nggak tahan lama sama sekali : PACAR ! Fase pendekatan-yang sarat dengan hal-hal terbalik inimemang membuat orang nggak tanggung-tanggung. Perasaan empati itu yang mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal yang sama dengan sang pacar .padahal boleh jadi hal-hal itu bikin sebel sebelumnya. Atau bisa jadi tiba-tiba jadi suka sama sesuatu yang bikin dia inget sama someonenya. Yang diincar sama aja. Jadi mulai luluh. Kata DEWA Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta kepadaku / Beri sedikit waktu biar cintadatang karena telah terbiasa…. Memang , cowok itu menurut psikologi, lebih bersifat agresif, penakluk, pantang menyerah.sedang cewek kebalikannya, kalem, pasif. Tapi jaman sekarang sepertinya sama saja, ya? Banyak cewek-cewek yang berjuang mati-matian (muka tembok kalau perlu) untuk nyari perhatian dan sekedar dapet ‘salam’ dari cowok gebetannya. Wadduh! Wit ing trisno jalaran soko kulina . Terjemahan bebasnya, tumbuhnya cinta karena biasa. Karena tiap hari dikirimin salam, ultah dikasih hadiah yang imut , mo’ bobo’ di SMS-in ( pengalaman temen nih !) , ujian dipinjemin catetan, pulang dianterin, Valentinan di coklatin (he..he.. dikasih coklat maksudnya!) trus dikirimin kaset yang romantis abis! Pokoknya yang begitu-begitulah! Pantang menyerah. Kalau sudah begitu… Siapa yang tahaan godaannyaa???? Mau nolak nggak enak (udah terlanjur banyak pemasukan, sudah baiiik banget, pakai pasang tampang melas segala!). Mau diterima padahal engga’ selera (kaya’ donat aja). Padahal terlanjur digosipin sana-sini. Suporter dan para comblang juga nggak kalah semangatnya…. Udahlahh…jelek-jelek dia tajir lhooo! Gitu komentar salah satu temen . (yang model begini, nih, pasti kalau kalian jadian minta ditraktir! ) Ya udah… DITERIMA ! Yess!

24

 JADIAN Inilah moment penuh sejarah itu! Dimana sebuah janji diucapkan. Tiga kata, judul lagunya Kafein. I love You, Abdi Bogoh ka Anjeun, Ana Uhibbuki, dan lain-lain. Sukses PDKT, ada respon, jadian deh! Mulai deh nyaingin jadi suami istri aja. Macam-macam ekspresinya. Kata yang berpengalaman, orang jadian tuh seperti punya kedekatan emosional, bumbunya ya.. romantisme lah! Kata teman, dia merasa menemukan soulmate alias belahan jiwa (iddih segitunya!) karena ada ngedengerin curhat-curhatnya, nurutin maunya selama nggak yang ngeresngeres ( emang bisa ngasih jaminan ?) Mau ngertiin perasaannya (hik! Hik!) Iya , deh! Cup! Cup! Pasangan yang baru jadian, biasanya so cool banget. Manja, gandengan tangan. Persis di film-film India, Korea dan sinetron-sinetron remaja kita yang having fun abis! (dasar generasi fun,food and fashion!) Sudah bukan rahasia-rahasiaan lagi. Sudah punya status, Boo’ ! Si A pacarnya Si B, Lhoo! Satatusnya P A C A R ! Cuma pacar. Mulailah aktualisasi rasa cinta dan saling memiliki dua orang yang sedang kasmaran itu jadi konsumsi publik juga. Dari mulai bergandengan tangan, boncengan sampai mepet, dan berangkulan dimuka umum adalah gaya biasa. Toh, emang mereka pacaran kok! Biasa kan ? Gitu aja kok repot (pakai dibuat buku segala!) Ini belum yang horor-horornya. Aktualisasi rasa cinta dan saling memiliki seseorang yang dicintai untuk mendapatkan perhatian dan penghargaan orang lain , menurut ilmu psikologi, tercermin dari perilaku-perilaku orang yang sedang berbahagia itu. Pegangan tangan atawa berangkulan dimuka umum seolah mengumumkan bahwa mereka tak kan terpisahkan dan mengekspresikan cinta mereka yang hebat. Saling menjaga dilambangkan dengan berusaha untuk tidak saling

25

menyakiti atau melukai perasaan pasangannya.

Kalau salah satunya

ngambek , pasti deh yang lain uring-uringan buat nenangin ( alamak!) . Kalau ketahuan ‘jalan bareng’ cewek atau cowok lain, mulailah janji berbusa-busa untuk tidak mengulangilagi. Cemburu tanda cinta katanya. Lucu ya?? Emang gitu katanya yang namanya bumbu pacaran, jadian. Habis gimana lagi ? Pacaran sudah dinobatkan sebagai masa

indah dalam hidup manusia dalam masyarakat pada umumnya. Lihat saj, sewaktu mereka merayakan hari ‘jadiannya’ . Rupa-rupa tingkahnya. Aada yang dugem sampai pagi sama pacarnya, ada yang dinner pakai dua lilin (sok seleb and sok Barat), ada yang gila sekaligus horor kaya’ kisah Bandung lautan Asmara (pada ngerti kan?) . laha wong katanya kalau tahu-tahu nikah justru bikin tanda tanya, je! Jamaknya ya, runtang runtung dulu, pacaran dulu. Atau kalau sudah dilamar ya.. pengkondisian dulu… gitu. Maaf lho, yang kesindir..emang sengaja. Begitulah…. Aktifitas baku syahwat bertajuk pacarnpun

dimulai.Satu tahun duatahun….dan seterusnya.  Gaya Pacaran generasi Extravaganza! Ini dia biangnya! Generasi bebas hambatan. Mau apa juga terserah. Mau slonong sana-sini nggak pa-pa udah jadi pacar. Mau dilarang ortu ? backstreet! Simak aja sok! Tapi inget Friend, ini bukan untuk kalian nebak orangnya ya! Get a learn aja ! Ambil ibroh/ pelajarannya.
 Cewek itu datang sambil teriak histeris , “vid ( nama akrab penulis, ed) gimana doong gue takut pregnant ! Gue belum haidh !” Ups! Memang kenapa si mBak??? Setelah agak tenang aku biarin aja dia cerita. Ternyata , si Mbak itu melakukan hubungan badan sama pacarnya secara nggak sengaja waktu mereka berdua aja disebuah ruang UKM

26

dikampus ini!) Nggak sampai horor . Cuma lepas baju atas aja ! ha?!!! Dan ini yang kedua kalinya! Besoknya, belum habis saya mikir teriakan histeris dan cerita horornya kemarin. E… dia udah cengar-cengir ‘ Vid, nggak kejadian! Alhamdulillah ya, Vid!” ha?! Alhamdulillah ? untuk perbuatan kaya’ gitu ? Saya cuman senyum kecut. Bayak taubat sajalah kau! Kurang lebih seminggu setelah itu. Saya melihatnya gontai. Saya tanya kenapa; jawabnya : Gue diputusin kemarin, Vid! Dia pacaran sama cewek lain. Glek! !!!!  Temanku itu duduk sejurus dengan kursiku. Bajunya Full

Pressed Body dan saat dia membungkuk maka aku bisa membayangkan bagaimana perasaan sebagian besar kaum adam yang tadi duduk dibelakangnya. Kebetulan aku ada acara setelah kuliah maka aku tetap disana. Setelah ruangan agak sepi , pacarnya datang , basabasi sebentar dengan beberapa teman, lalu dia menghampiri temanku (cewek) . Disorongkannya tubuhnya ke depan pacarnya sambil memainkan anak rambut temanku. Setelah itu mereka berangkulan sambil berlagak sok romantisromantisan. Udah lama nunggunya ? gitu kata pacarnya. Aduh! Mereka bebenah diskotik ! Berangkulan, melirikku sebentar , lalu melenggang. Ini di kampus! Bukan di kafe atau di

 Vid, anak saya, itu pacaran sama temanmu, lho! Untung..
aku ga’ gitu kenal sama itu cowok meski tau orangnya. Bla! Bla! Ujung-ujungnya si budhe ini khawatir karena pacar anaknya itu sepertinya menjauhi anaknya. He..he.. Si Budhe ini khawatir kalau-kalau mereka tuh nggak jadi nikah. Atau calon mantunya itu punya pacar lain. Gelagatnya itu lho, Vid kata si Budheitu lagi.

27

Hmm….lanjutnya, “Gimana ya, Vida, lha wong kalau nggak boleh pacaran katanya orang tua kuno, kalau pacaran kok kaya’ gini. Saya kan sebagai pihak perempuan khawatir, malu tho kalau nggak jadi nikah ” …… Kaya’ gitu deh kebanyakan ortu sekarang… kebo nyusu gudhel kata orang Jawa. Ortu nurutin maunya anak! Nggak berdaya!

 Gue pacaran sama dia udah empat tahun. Kita awalnya
cuman temenan kok. Tapi ya, gitulah gue depend on sama dia akhirnya. Sebenarnya kita komitmen cuman sebatas deep kiss aja, tapi lama-lama ga’ betah juga. Apalagi kita sering barengan. Trus kita lanjut ke petting dan seterusnya.ga’ ada yang coba ngingetin komitmen itu diantara kami. Aku pikir , kita sama suka kok! Resiko bisa ditanggung bareng.

 Mbak , Vida gimana sih biar kita bisa jaga diri? Habis ,sebenarnya- aku malu lho Mbak. Aku tuh udah pernah Kecanduan waktu SMA. Sekarang aku mau balik jadi anak baik-baik susah karena pacarku juga ngerti kalu aku pernah make’ . Swear deh mBak aku pengen jadi lebih bisa nahan nafsu. Yang lebih bikin malu, aku sering diejek sama pacarku itu didepan temen-temennya: Ini mantan udah

nih

pengalaman fly dan yang lain….ha..ha..! Kok dia tega ya, Mbak! Aku nggak tahan lho, Mbak!  Alah.. menurut gue ,sih pacaran asal nggak macem-macem boleh aja. Emang mau tau-tau nikah ? kaya’ jaman kuno aja.  Cewek agresif tuh lebih asyik buat temenan. Tapi kalau buat pacaran sih.. nggak terlalu asyik karena mereka pemberontak, biasanya asyik tuh pacaran sama cewek

28

yang kalem, nurutan, nggak macem-macem, tapi kalau pacaran sama cewek telmi males juga . Cewek agressif tuh, asyik buat kongkow, gaul, tapi kalau emang selera ya.. jadiin aja pacar. (komentar, JP, Deteksi: cewek Agre Vs Cewek kalem, pilih mana?)  Perilaku seks kaum muda metropolis jakarta, Surabaya, dan juga kota-kota semacam Jogja, bandung mengkhawatirkan. Bukan hanya di Jakarta Undercover, tapi di Surabaya hal-hal seperti layanan-layanan seks bebas, tarian-tarian erotis, sudah dikonsumsi oleh banyak eksekutif muda…. (JP, 2003)  Komunitas Lesbian semestinya tidak dikucilkan. Kami (suara

mencoba berjuang untuk mempertahankan eksistensi kami (kaum Lesbian) lewat situs-situs semacam ini Srikandi) kami sering lakukan hal-hal yang positif bersamasama. Mungkin beda dengan teman-teman Gay yang lebih sering tersorot kehidupan glamournya. (nn, JP )  ……….Dalam setiap pertemuan-pertemuan anti pornografi, yang sering tidak datang adalah komunitas non-muslim. Terutama nasrani. Mengapa ? karena mereka pikir, toh yang banyak jadi korban juga orang-orang muslim, anak-anak muda muslim, kok! Mereka serang anak-anak muda kita lewat kultur, mereka jadikan remaja-remaja muslim malu dengan simbol-simbol atau identitas muslim. Inilah startegi mereka lewat food, fun (kesenangan, gengsi) dan fashion yang membuat para muda-mudi enggan menutup auratnya. Sayang terhadap bahaya ini kita terlelap.Sementara misimisi perusakan aqidah terus kita nikmati dan menghadang didepan pintu rumah kita lewat biarawati) budaya , kesenangan, pergaulan bebas….( ceramah seorang ustadzah, mantan

29

Udah ngerti kan gimana parahnya ? itu cuman sekilas komentarkomentar dan potongan cerita. Banyak yang menganggap perilaku seks bebas bahkan dengan sejenis itu biasa aja. Mereka termakan liberalisasi seks yang dibawa ke Indonesia dan negara-negara muslim. Dan kalau kita cermati semua misi PACARANISASI dan free-sex diselipkan disemua aspek yang disukai remaja .Seperti yang diulas dimuka … semua mempengaruhi gaya remaja kita dalam pacaran dan bergaul dengan lawan jenis. Lewat majalah, film, VCD, gaya hidup, permakluman pacaran-nikah beda agama. Semua kecenderungan menjijikkan dalam urusan gaul bebas dan free sex ini dilakukan kaum remaja tanpa tanggung-tanggung! Setelah jam sekolah, nggak cumin ‘buku ini aku pinjam’ kaya’ lagunya Iwan Fals, tapi sudah meminjam semuanya dari sang pacar. Sex abis kuliah ngeri lagi! Para Mahasiswa-mahasiswi sudah mulai berani memanafaatkan tempat kost mereka sebagai tempat memadu kasih sebelum menikah dengan segala kebebasannya. Dan.. lagi-lagi aktivitas bertajuk PACARAN lah sebagai terdakwa dalam merusak kefitrahan naluri manusia yang semestinya terjaga! @@@@@@@@@

3.Masyarakat dan Legalitas Pre-marital Sex
jangan bicara moral sebab masyarakat kita kini hanya mengenalnya lewat buku-buku.dan anak-anak muda hanya mengenalnya lewat PMP dankini lewat para aktris-dan aktor Jangan bertanya mengapa para gadis dan perjaka mengumbar auratnya .tapi tanyakan bagaimana para orangtua mereka dahulu bertatakrama (aku, dalam sebuah perenungan) ########

30

Masyarakat kita tidak lagi memiliki kontrol yang jelas terhadap pergaulan remaja. Semua nilai hancur karena gaya hidup telah terpola dengan standar fun, food and fashion; sex, sport and song . Semua standar kehidupan dan perilaku adalah gengsi. Seks sudah menjadi komoditi sehari-hari remaja dan orang tua. Single dan yang sudah berkeluarga. Ruang-ruang privacy tentang seks dibuka lebar dengan alasan pendidikan. Siapa yang untung? Tentunya para pemodal-pemodal besar. Industri hiburan dan semua yang biasa menjadikan masyarakat sebagai objek mengeruk keuntungan. Masyarakat kita melegalkan perilaku seks sebelum menikah sebagai permakluman atas perilaku modern. Mungkin tidak bagi orang perorang dan keluarga yang faham terhadap Islam , tapi berapa persen ? hanya sekitar 10 % dari kaum Muslim yang faham dien . Masyarakat kita yang lain? Yang dalam agama dan keyakinan mereka tidak ada larangan bergaul campur baur, tidak ada larangan memakai baju terbuka dan memajang aurat? Anggota masyarakat yang mendengung-dengungkan kebebasan masa muda dan mencekoki remaja dengan serbuan cerita-cerita khayal dan memposisikan ajaran Islam dan simbol-simbolnya sebagai hal yang kuno, ndeso , kumuh dan kampungan di sinetron-sinetron ? Artis-artis yang memanfaatkan moment-moment keagamaan sebagai ajang menebus perilaku dan penampilan mesum mereka? Umat Islam dan masyarakat pada umumnya dirusak dengan menggunakan para manusia badut dan semua saran-saran kebebasan dan kesenangan. Mirisnya, badut-badut dan antek musuh Islam itu tak jarang adalah orang-orang Islam sendiri. Yang mau menukar dan menggunakan status muslimnya dengan materi. Yang malas belajar islam dengan sepenuh hati sebab ‘takut’ akan kesempitan materi dan “pengekangan’ perilaku . Mari kita lihat komentar-komentar beberapa publik figur dibeberapa tabloid dan media massa tentang pre marital sex :
 Bagi gue sih kaya’ gitu biasa aja. Gue kissing sama pacar gue pas usia SMP cuman buat pengalaman aja. Nggak sampai deep kiss kok.Baru pas Lulus SMU gue berani (HAI, 2000)

31

 Bagi gue sih asal dilakuin dengan tanggung jawab It’s oke. Keluarga gue sih demokratis. Mama gue single parent kan ? jadi deket. Gue udah pernah ngelakuin sama pacar gue pre-marital sex. Trus gue bilang ke mama. Mama cuma bilang yang penting gue tanggung jawab sama apa yang gue pilih dan gue lakuin (HAI, anak artis, desainer)  Gue ngertilah soal itu .tapi buat ngelakuain enggak deh. Gue pikir kaya’ gitu tetep harus after married ( and, WI)

 Nikah muda itu banyak resikonya, mendingan pacaran dulu aja,sampai siap secara mental dan fisik. Asal pacarannya sehat dan tidak terlalu jauh, kan nggak pa-pa… (seksolog)
 Awalnya gue Cuma dry kiss aja (cium pipi) , trus berlanjut ke wet kiss (cium bibir) . Abis gitu , gimana, ya.. aku tuh sering petting sama yayangku, aku intercourse penuh pas semester satu. Dosa? Ya, aku pertamanya ngerasa bersalah. Pre marital sex itu pengalaman. Jadi.. nikmatin aja!

Bikin jijay aja! Nggak salah deh kalau para seleb itu banyak yang bikin para muda “jadi bebek” ngikutin semua perilaku dan gaya hidup mereka. Makanya, banayk para ABG kecil-kecil sudah pengalaman sunsunan sama ‘pacarnya’! Itu tadi komentar-komentar vulgar dan bikin risih (bagi yang masih risih) . Di masyarakat kita sex bebas memang sudah jadi gaya hidup ! Nikah dini juga yang penting ‘kan udah nikah (formalitas) . Yang menggelikan dan mesti jadi koreksi. Ada kyai kondang yang dateng di pernikahan mantan artis cilik yang married by accident. Paling-paling dan lagi-lagi jawabannya , kan mereka sudah mengakui perbuatannya, mereka kan nggak harus dikucilkan. Dan yang salah kaprah semacam itu terus di blow-up media. Aturan Islam ? Ngaak ada! Nggak usah deh mikir jauh-jauh kesana. Kemanusiaan aja lah. Legalitas sex pra-marital memang didengung-dengungkan termasuk yang memacari cewek beda agama dikampus dan di sekolahsekolah. Toleransi katanya. Ini kan cuman masalah hati kata yang lain. Sayang, masyarakat Islam terlalu lengah dan terlalu “ramah” untuk menerima banyak strategi penjebolan dan pengikisan aqidah termasuk lewat jalan ini!

32

Well!!! Masih ada yang mesti kamu ketahui, Sobat. Jangankan pacaran beda agama, yang agamanya sama aja ga’ boleh! Kita akan bahas banyak hal dibagian selanjutnya ! Yang penting kalau yang serius kaya’ gini belum bikin kamu mandeg dari aktivitas rawan z I Allah bikin kita menertawakan aktivitas ini . Ok ?!! n a kaya’ pacaran, sepertinya kalian mesti simak alasan ringan tapi masuk akal yang Insya

@@@@@@@

Bagian III

MENERTAWAKAN PACARAN
1. Kenapa siih, Milih pacaran ???? 2. Pacaran; Ga’ Jelas Definisinya 3 .Pacaran; ga’ Jelas Ikatannya 4. Makin Mengenal , Emang Iya ? 5. Apa disebaliknya ? 6. Pacaran: Cukupkah Bertanggungjawab Aktivitas ini ? 7. Oiiiiiiii!!! Ternyata CINTA tuh Ga’ Abadi ! 8. HATI-HATI Kecanduan CINTA 9. VIRGINITAS, Taruhan Berharga Masa Pacaran!

33

10. Cuma Sekedar “pacar “? Kesiaaan deh Lu! 11. PACARAN ?? KUNO!!!!!
12. PACARAN ?? Ya…. PA kai CARA Nikah !

13. PACARAN BEDA AGAMA ? AKTIVITAS DOUBLE ZINA! Be careful! (Especially You, Girls !) 14. Mengapa ‘Jangan Mendekati Zina’? Larangan Pacaran dalam Islam Memang Nggak Ada! Tapi…….. 15. MARI MENERTAWAKAN PACARAN ! BAB III 1. Kenapa sih, milih pacaran ???
Bab ini memang bikin kamu gregetan kali ya.. (apalagi yang lagi

getol-getolnya pacaran ) Apalagi yang termasuk kategori temperamen tinggi , pasti tersinggung. Abis gimana , wong judulnya aja bikin kalian tersipu-sipu. Atau malah naik pitam ?! Memang yang bikin buku ini pasti terlanjur bikin kalian panas kuping, nyengir kuda trus ngeluarin semua geraham, aja sekalian bacanya ! Kalau dipikir-pikir, kenapa ya, orang pada milih pacaran? Menurut hasil survey dan pengamatan perilakau (he..he..) ternyata emang ga’ bisa lepas itu budaya dari kaum muda kita yang paling demen sama yang namanya nyerempet-nyerempet bahaya. Tantangan, lagiiii! (gitu katanya) Pertama, katanya yang pada pacaran tuh pertanda kalo dia udah “gedhe” Eleuh-eleuh! Tapi bener juga sih. Kalo diamati emang pacaran tuh gigi susu plus gigi

taring. (bagi yang kesindir, sekali lagi : ANDA BERUNTUNG ). Jadi ? terusin

34

bikin kalian ngerasa sudah fahaaaam banget apa itu hidup. Ceile! Atau … sebenarnya cuma sok faham ? Pernah denger ‘kan selentang-selenting disekitar kita apalagi yang pada mabok kepayang sama budaya sono , sweet seventeen ....! Katanya, kalo umur kita tujuh belas tahun keatas tuh sudah boleh mau ngapa-ngapain juga. Mau nonton filem-filem yang bikin ehm juga boleh, mau dugem sampai malem juga boleh, kalo ditegur ortu ?? jawabnya pasti kaya di sinetronsinetron ABG itu, yang bisa kalian pantengin di Prime time, diwaktu-waktu yang kudunya kita belajar. Gini jawabnya, “kita kan bukan anak kecil lagi!” Nah lo! Nah , pas sweet seventeen itu, katanya kita sudah boleh punya “gandengan” (emangnya truk). Ortu kita kebanyakan sama memberi lampu hijau. Malah, kayaknya wagu kalau kita ga’ ada yang “nembak” pas masih ABG. Masa muda kurang bahagia ? ha..ha... emang iiya ? Emang sih, nggak salah , kaum muda kita udah semakin cepet dewasa. Pertumbuhan hormonal kita sudah semakin cepat. Itu juga gara-gara konsumsi kita ke hal-hal yang dulunya dianggap tabu sekarang mah ayo’ aja! Kalian yang sudah dewasa secara fisik (ngerti doong maksudnya) kaya’nya selalu cenderung buat mencari perhatian yaa , sama LJ ( lawan jeniz). Makanya kalian jadi super pede gitu! Wah pasti ga’ mau kalah Apalagi buat yang pada menganut aliran bahwa pacaran adalah salah satu agenda wajib masa muda! berkompetisi cari gebetan paling keren. Alahalah....! Emang salah kaprah. Kalian selalu mencari-cari alasan buat pacaran ya.. ini salah satunya ; kan udah gedhe. Gedhe fisik iya ! tapi tanggung jawabnya ? Huh! Kedua, nyari hiburan. Glek! Bener kok. Nggak ‘ caya? Orangorang yang dirumahnya udah diliputi kasih sayang ortu, hangat sama adek kakak, pasti deh prosentase keinginan buat pacarannya lebih kecil dari pada (sori) yang broken home, ortunya jarang dirumah, nggak asyik sama adek, kakak, kakek nenek, pembantu (he..he.. semua bala kurawa keluarga lah pokoknya)

35

Alhasil, mereka yang kurang beruntung dikeluarganya nyari hiburan ya, diluaran. Apalagi usia-usia ABG biasanya lebih kuat tarikan ke lingkungan teman sebaya. Lha apalagi kalau semua temen sebayanya doyan pacaran ? kena doong! Kalian yang pada pacaran, kebanyakan dari kalian pasti paling demen curhat sama yayang mu kan ? (hayo ngaku!) kalian berdua. Gubrak! (yang lain ngontrak). Trus, Seolah dunia milik kalian lebih banyak

seneng-senengnya ‘kan ? ngaku aja! Lha wong kalian (kalau masuk kategori yang kedua ini) kan niat pacarannya nyari seneng, makanya kalian juga pasti maunya dapat yang senang-senang. Rugi doong kalo pacar kamu malah bikin stres. Makanya, kalian nyari-nyari cara paling romantis , runtang-runtung kaya’ truk gandeng, mojok, nggak perduli semua orang pada jijay ngeliat prilaku kalian.... Tapi, liat aja kalau pacar kamu yang ngedapetinnya kadang sampai ngabisin kocek itu salah dikiiit aja, pasti kalian pada meletup-letup kaya’ meriam. Maklum, dua-duanya masih pada pengen menang sendiri. Setelah itu baikan lagi Wha..ha..ha... kaya’ anak kecil ‘kan ? Maklum lah apalagi kalau dua-duanya juga punya ‘orientasi’ sama diatas: sumpek dirumah cari diluaran. Praktis, ga’ mau kalah. Atau juga kalau kalian sebenarnya punya ambisi yang beda, ya wis ! jadi perang terus! Alaaah udah lah pokoknya yang pacarannya nyari senengseneng juga nggak selamanya dapet seneng, apalagi kalau senengsenengnya kelewatan sampai horor! Ketiga.yang ini alasannya dibilang agak “ logis” katanya pacaran tuh buat ‘penyemangat” belajar lah, katalisator jadi lebih baik lah, suporter . Ih yang benar saja ! Apa iya pacaran bikin semangat belajar ? (emang energi drink?) Tapi emang ini yang paling sering di akui secara jama’ sama tementemen kita. Gimana enggak? yang biasanya lelet , males bin suntuk sama yang namanya ruang kelas, sekolah dan semacamnya tiba-tiba jadi benerbener ekstra joooos! Rajin skul, catetan rapih Brubaaah! kaya’ ksatria baja hitam. Alasannya ? ya pasti buat ehm ... jaim (jaga image) sama si pencuri hati .Walah!

36

Jangan dikira yang pacaran tuh cuma temen-temen yang umum, anak-anak yang pada ngaku-ngaku aktivis masjid, Rohis, LDK juga banyak yang nyuri-nyuri kesempatan pakai begaya berpacaran “islami” segala. Jadi getol kemasjid, ikut kajian ternyata lagi mantengin sang Idol Boy atawa Idol Girl. HHhh... payah ,deh! kalau aktivisnya aja masih kaya’ begini. Ketawain yUUUUUUk! Sekali lagi, emang bener pacaran bikin semangat belajar dan semacamnya? Kaya’nya ini alasan yang tidak terlalu benar . Lebih banyak nggak benarnya gitu! Apa iya orang bisa konsen belajar wong tiap detik begitu berharga untuk dilewatkan tanpa mantengin wajah kekasihnya? Apalagi yang sesumbar makan ga’ enak, tidur ga’ nyenyak lah apalagi belajar! He..he.. (yang nulis tega banget ,yaa! ) Biarin. Praktis semua pelajaran hafal diluar kepala alias menguap. Ssssst lagian, orang-orang yang jatuh cinta tuh menurut penelitian, ngeluarin hormon yang bikin bodho . Maksudnya hormon itu sama dengan hormon yang mempengaruhi orang yang lagi fly akibat nge-drug. Makanya otak kirinya ga’ kerja. ‘caya ga’ ‘caya buktiin aja (eh jangan buktiin dengan pacaran apalagi sambil nge-drug. Ingat mereka dua sejoli ! ).Gitu kok bikin alasan pembenar bahwa pacaran atau hubungan nggak syar’i sebelum halal (baca: nikah) ini bikin orang semangat belajar. Huh bohong banget tuuuh! Kalaupun ada orang yang tetap pintar dan jadi primadona kelas mesti sudah jungkir balik pacaran, itu juga karena memang sudah dari sononya dia pinter. Lagian, banyak juga kok para muda yang bilang kalau aktivitas yang satu ini (pacaran) bener-bener buang waktu, tenaga dan....duit ! he..he...banyak yang malah jeblok karena pacaran . ‘Tul nggak? Kalaupun ada yang sekolah, kuliah, belajar disambi pacaran (atau malah pacaran disambi belajar?) dan tetap pintar, ini bukan alasan pemaaf apalagi pembenar untuk melakukan aktivitas ini. Yang jelas kalaupun ada yang pada punya pacar trus jadi tambah alim, tambah pinter, tambah yang baik-baik justru kaya’nya perlu dipertanyakan lagi. Perubahan pada diri kita itu karena apa?

37

Kalau jadi lebih rajin, lebih sholeh-sholihah, lebih pinter, lebih rajin dateng kajian karena ada makhluk yang kita jadikan pujaan. Aduuh sayang sekalleee!! Sudah belum tentu dapet respon dari para malaikat (karena ga’ ikhlas), trus kalau makhluk yang kalian cari perhatiannya itu ternyata biasa aja, pasti kalian akhirnya dongkol, sebel, ujung-ujungnya mogok ngelakuin hal-hal baik tadi.Kesimpulannya? RIYA’... syirik kecil! Hati-hati sebab berarti kita sudah terjebak pada pemujaan selain Allah. Sesungguhnya segala sesuatu tergantung pada niatnya.maka, barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya karena Allah dan Rosul-Nya dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau wanita yang ingin dinikahinya1 maka hijrahnya atas apa yang dia hijrah padanya ( H.R. Muttafaq ‘Alaih) Makanya sobat.... kenapa enggak kita telaah lagi (kita ketawain kalo perlu ) semua aktivitas baku syahwat ini, yang mungkin sekarang kita lakukan atau baru ingin kita lakukan

2.Pacaran : Ga’ jelas Definisinya!
Melakukan sesuatu yang nggak jelas juntrungnya? Ah, bikin mumet aja. Lha ini dia salah satunya. Nggak tahu darimana asal istilah “pacaran” itu pertama kali diperdengarkan dan langsung jadi budaya dimasyarakat kita. Kalau pacar air pasti udah pada ngerti. Ituuu pewarna kuku yang biasa didapat dari menggerus daunnya atau pakai yang udah jadi bubuk. Trus merah bat gitu abis itu lama-lama ilang . he...he.. Mungkin definisi pacaran ga’ jauh-jauh dari makna filosofis “pacar air” tadi. Yang mewarnai satu fase hidup kita (fase romantis he..he..) lalu lamalama kalau hilang atau bosan bisa diganti “pacar” yang baru.
1

kalau cewek ya... kerena pria yang ingin dinikahi. Termasuk gebetan yang

lagi disasar he..he...

38

Menurut yang nulis buku ini , pacaran itu pengekspresian perasaan “suka” pada lawan jenis trus ditindaklanjuti dengan prilaku-prilaku yang dianggap romantis dan kemudian publik memberikan pengakuan pacaran dengan si B. Si A pacarnya si B. Kalau mau didefinisikan bahwa pacaran adalah proses awal untuk saling mengenal sebelum menuju pernikahan juga ngga’ sepenuhnya benar . Apalagi kalau kita hubungkan dengan latar belakang pacarannya seseorang. Nggak semuanya yang pacaran untuk menikah kan? Lihat saja bagaimana gencarnya seseorang yang memperjuangkan untuk “memacari” seseorang ternyata nggak-serius-serius amat kalau udah jadian. Hhhhhhhhhhhmmmm. Pacaran yang nggak jelas definisinya itu sebenarnya cuma ekspresi “mentabayunkan” rasa. I love you. You love me , trus kita JADIAN! Gitu kan??? Jadi sebenarnya kalau nggak nekat-nekat banget pengen “pacaran” juga bisa!! Malah ada yang bikin definisi yang menurut penulis buku ini justru membelokkan tujuan yang baik. Gini: pacaran pra nikah No! pacaran pasca Nikah Yes!. Walah Sudahlah! Pokoknya yang namanya pacaran tuh hubungan laki-laki perempuan yang bukan mahrom dalam sebuah komitmen selain Nikah! Titik. Supaya simple dan kita nggak terjebak pada definisi yang mengaburkan. Sedang setelah menikah (asal dengan cara yang syar’i) kaya’nya terlalu “mulia” deh kalau kita sebut juga dengan “pacaran”. Sepertinya akan lebih pas apabila mengenal lebih jau setelah menikah itu kita sebut “ta’aruf kedua” kali yaaa.... Ketidakjelasan definisi pacaran juga terlihat pada ketidakjelasan batasannnya. Apakah dua orang yang saling suka dan mengungkapkannya sudah bisa disebut pacaran atau bahkan yang lebih dari itu masih juga disebut pacaran? Makanya, sudahlah.. mendingan kita nggak usah cari-cari kesempatan untuk ikut bagian orang-orang yang menyuburkan aktivitas baku syahwat ini . Abis nggak jelas gitu! Lagian peluang banyak deh daripada manfaatnya. Gimana? nggak baiknya lebih si A

39

3.Pacaran : Ga’ Jelas ikatannya
Duh sedihnya, kalau ternyata aktivitas baku syahwat ini semakin banyak pengikutnya. Abis gimana? Wong semua yang seneng-seneng dan romantis ada disini. Tapi , kebayang nggak sih kalau sesuatu yang senang-senang ini ternyata banyak bikin mumet dikemudian hari. Biar kata orang bilang “sehidup semati” kalau cuma pacaran juga nggak banyak berguna tho? Ikatan pacaran tuh sama sekali nggak jelas, baik dari sisi syar’I maupun ikatan sosial dan hukum. Sebab, aktivitas ini bermula dari ketidakjelasan orientasi dan batasannya Bayangin aja gimana nggak enaknya sebuah hubungan yang awalnya happy jadi bikin kacau semua rencana hidup seseorang. Karena ikatan nggak jelas itulah maka aktivitas ini cuma bisa dinikmati sesaat. Nggak lebih. Apalagi kalau aktivitas ini sudah lebih jauh . Sobat, yang namanya hubungan atara laki-laki dan perempuan selain nikah tuh rawaaan banget,. Abis gimana ? wong seusia remaja sampai dewasa awal itu kita masih sering terpukau pada penampakanpenampakan fisik. Agak bohong deh kalau banyak yang sumpah “sehidup semati” pas pacaran . he…he… bohong banget. Kalau nggak jodoh gimana? Ini juga jadi alasan pemaaf. Sebagai contoh, kalau seseorang yang semula “berniat’ cuma pacaran, kemudian ternyata mereka melakukan aktivitas yang semestinya hanya halal untuk dilakukan suami- istri trus si cewek pregnant by accident gimana? Apa bisa disalahin si cowoknya ? kan niatnya pacaran ????? Bisa aja kan si cowok merasa nggak masalah karena sampai seperti itu masih mereka anggap “pacaran” . Kalaupun harus menikah, bukankah akhirnya cinta yang semula mereka “agungkan” jadi sebuah penyesalan? Bukankah suatu tindakan bodoh ketika kita menyerahkan semua yang kita miliki bukan pada orang yang benar-benar berhak untuk

40

mendapatkannya? Komitmen untuk “tetap setia” dijamin nggak berlaku bagi orang yang pacaran. Gak ada ikatan jelas dalam pacaran, Titik. Ikatan yang nggak jelas itulah yang akhirnya menimbulkan keengganan bertanggung jawab. Betul nggak? Makanya, udah deh, mendingan tinggalin aja aktivitas yang kaya beginian. Pacaran cuma bikin kita semakin tidak bisa memaknai sebuah perasaan dan rasa tanggung jawab. Hubungan pra-nikah yang nggak syar’I ini cuma bikin kita terbelenggu pada sebuah ikatan-ikatan semu yang membuat kita tidak merdeka. Gimana ?

4. Makin Mengenal ? Emang Iya ????
Bohooong !!! Bohong banget kalau orang yang pacaran itu makin mengenal satu sama lain. Kalaupun iya, paling juga kenal luarnya doang. Kita lihat ‘kan berapa banyak orang pacaran dengan dalih “mengenal” sebelum menikah, toh saat menikah mereka juga malah pada berantem terus Hi..hi.. abis gimana? Wong abis nikah kebuka semua sih sifat aslinya. Nah lain lagi yang pacaran cuman buat having fun, ini sih lebih nggak perlu kali ya .. kenal-kenal banget, wong pada saat itu emang sisi-sisi tertentu dari pacarnya doang yang dia suka . Jadi.. buat apa kenal-kenal banget . Malah ada yang bilang, untung kan kalau pacaran dulu, kita nggak cocok belum terlanjur nikah. Pendapat ini bodoh dan nggak dewasa. Nanti dibagian lain buku ini kita akan singgung lagi ‘pendapat’ nggak dewasa ini Mengenal adalah sebuah proses yang paling alami dari seorang manusia dengan manusia lain. Proses mengenal tidak dapat “dipaksakan” atau juga tidak dapat direkayasa. Ketika seseorang mencoba mengenal seseorang, bukankah akan lebih alami jika mereka tanpa punya sebuah harapan muluk terhadap orang yang ingin dikenalnya?

41

Sobat, bagaimana mungkin seseorang bisa mengenal orang lain sementara sebenarnya ia tidak siap untuk membuka dirinya dalam arti sejujur-jujurnya? Contoh, pasangan yang lagi pacaran, sebenarnya lebih banyak menipu pasangannya . he..he. kejem ya. Sebenarnya dalam pacaran itu ada kebohongan paling “jujur” dan kejujuran yang paling “bohong” . Maksudnya, seseorang yang bicara jujur tentang dirinya pada pacarnya, sesungguhnya sedang menutupi sebagian sisi dirinya dimana hal yang ditutupinya itu sebenarnya juga dilakukan si Pacar. Makanya sang pacar “bisa menerima” soalnya boleh jadi dia juga menutupi kelemahan yang sama. Sederhananya, sejujur-jujurnya orang yang “pacaran” tetap berusaha menutupi kelemahan dirinya sendiri dan hal tersebut dikarenakan, dia sedang ingin menarik simpati. Kelemahan- kelemahan yang ia paparkan pada pacarnya juga kelemahan-kelemahan yang saat pacaran. Yang lebih menggelikan, kebohongan-kebohongan dalam proses “mengenal” itu yang membuat lebih lama pacaran. Standar mengenal juga nggak bisa dipastikan. Logisnya, kalau pacaran itu sebagai tahap awal untuk menikah, semestinya kan seseorang tidak ragu untuk segera meresmikan sebuah hubungan ‘kan? , tapi banyak diantara orang yang sudah pacaran lamaaaaaaa baget juga nggak nikah-nikah ! Apa masa “mengenal”nya kurang ? bukan! Yang pasti karena kekhawatiran akan sebuah tanggung jawab yang lebih besar, ketakutan apabila mereka akan menemukan kelemahankelemahan pasangannya (apalagi kalau indikasi kelemahan dan ketidakcocokan itu tercium saat pacaran) atau alasan klise yang disodorkan orang tua masaalh usis, belum kerja de-el-el. Makanya berbagai alasan dilancarkan untuk “menunda” pernikahan . Padahal, setelah menikah akan banyak hal yang bisa jadi membuat seseorang lebih “kecewa” bukan? Maka yang menjadi masalah sebenarnya bukan seberapa mereka “mencoba mengenal” namun seberapa siap seorang laki-laki dan perempuan masih dalam kadar “dimaklumi” oleh sang pacar karena hal tersebut “wajar” dilakukan pada

42

untuk memahami dan bertanggung jawab dalam bingkai sebuah hubungan yang dihalalkan. Bukan begitu ????

5. Apa Disebaliknya ???
Ini dia alasan lain kenapa kita sebaiknya “menertawakan ‘ pacaran. Sebenarnya , sekali lagi bohong kalau aktivitas yang dimaklumi dan dilegalkan oleh masyarakat ini nggak mengandung resiko. Bohong sekali kalau aktivitas –aktivitas yang menjadi bumbu dalam pacaran ini nggak merusak moral dan mental generasi muda. Banyak hal yang semestinya kita kulik dibalik indahnya hubungan romantis selain nikah ini. Aktivitas ini sarat dengan pelecehan dan kekerasan. Apalagi bagi kamu kaum hawa. Gimana enggak ? kalau kita , para cewek peka terhadap aktivitas-aktivitas yang menyertai pacaran, kaum cewek yang paling sering menerima perlakuan pelecehan. Ingat, pelecehan itu nggak cuma berbentuk pelecehan yang kelihatan secara fisik, tapi juga pelecehan dan atau kekerasan non fisik. Pertama, Pelecehan fisik ? Waaaah! Jelas banget! Misalnya kalian yang pacarannya udah tahap “horor” nggak cuman kenal nama, boncengan and kesana kemari kaya truk gandeng, tapi sudah dalam stadium empat , (Kissing, necking, petting dan intercouse- cari ‘ndiri terjemahan bebasnya ya..) aduhh… ngeri banget ! pelecehan banget tuh! Kalian para cewek yang nggak bisa “pasang harga” tinggi ha..ha.. alias njagain diri dan nafsu dari tangan-tangan jahil “orang yang ngaku cinta” sama kita. Alamat deh! Cuma dengan satu kalimat “buktiin doong cinta kamu ke aku” banyak sobat cewek yang langsung “tertantang” untuk nyerahin semua-muanya. Bukankah itu pelecehan ? Kekerasan fisik laen lagi. Ini sih bisa dialamin cowok atau cewek. Pernah liat kan pasangan yang baru pacaran aja udah berani “ main kasar” sama pacarnya. Ye…….. emang anak siapa dikasarin, ngasih nafkah juga enggak ha..ha.. ha… !

43

Sobat , banyak banget yang seperti itu. Pake nampar-nampar anak orang. Itu belum pasti jadi pasangan hidupnya. Lha kalau ‘ntar jadi suami-istri gimana??? Jahat banget ’kaaaan ? Kedua, kekerasan atau pelecehan non fisik atau psikologis. Nah lo!!! Ini yang paling sering nggak disadarin sama sepasang insan yang lagi seneng-senengnya pacaran atau lagi kesandung virus merah jambu Pelecehan dan kekerasan non fisik itu misalnya, nggak PD, munculnya rasa takut kehilangan (possesive), ketergantungan, bahkan nggak merdeka dalam mengambil pilihan . Gubrak !! segitunya! Bener ,kok. Lihat aja , banyak orang yang nggak siap untuk “jujur” sama si pacar sampai dibela-belain nyiram air ke kepala, trus ngaku kehujanan cuman karena nggak PD karena rambutnya lepeek ( hi..hi.. ini sih iklan shamphoo) , atau yang ditinggalin “pacarnya” karena kulitnya iteeem, trus dapet cowok baru karena udah putih (emang sapi ??). Emang sih, itu bahasa iklan. Tapi, bukankah sebagian besar dari kita lebih sering tidak percaya diri dengan keadaan asli diri kita hanya untuk dipilih dan “dicintai” ? Itupun hanya sesaat sebagai “pacar”??? kasiaan deh kita kalau kaya gitu! Bener sih seseorang nggak bisa lepas dari kecenderungan untuk menyukai yang cantik, yang keren, yang kaya, yang pinter, tapi kalau itu justru membuat kita memaksakan diri , apa boleh ???? Belum lagi yang pada punya kecenderungan untuk selalu “jadi pemenang” maka dia akan menjadi sosok-sosok possesive yang selalu ingin menguasai orang lain, mengekang kebebasan orang lain atau berbuat apapun untuk mempertahankan “miliknya” ,. Bukankah dengan begitu pacaran nggak beda dengan “kepemilikan” sementara nggak ada ikatan yang jelas antara mereka. Sekali lagi, cuma pacar. Payahnya, semua hal yang terungkap diatas itu sudah kadung menjadi semacam “pengorbanan” yang harus dibuktikan kala seseorang mengaku cinta pada pacarnya. Segala yang dialami meskipun perih dan sesaat (terutama bagi kaum hawa) adalah semacam pembuktian. Padahal, pembuktian-pembuktian tersebut , sekali lagi diberikan pada orang yang belum pasti berhak menerimanya.

44

Menurut Iip Wijayanto dalam bukunya Pemerkosaan Atas Nama Cinta, nggak jarang para cewek tuh luluh karena harus merasa nggak enak hati kalau nolak ajakan pacarnya yang selalu menuntut ‘lebih’ dalam pacaran. Takut diputus lah, takut dianggap nggak setia lah. Terjadilah hal-hal yang kata mereka ‘diluar kesadaran’. Pokoknya, dalam pacaran atau hubungan-hubungan antar manusia yang terjalin tidak atas landasan yang syar’I (baik akan prosesnya, pengekspresiannya, tujuannya) maka hanya meninggalkan

kekecewaan, melambungkan harapan dan menjadikan kita sosok-sosok yang tidak dapat memaknai keberdaan diri dan orang lain. Ketergantungan kita, harapan kita semestinya bukan pada seseorang yang hatinya dalam genggaman Allah. Bukankah bila kita terpasung dan justru kehilangan sebuah eksistensi, kepercayaan diri dan kemerdekaan sebagai diri hanya karena hubungan-hubungan yang tidak syar’I berarti kita harus mempertanyakan lagi “cinta” yang sering kita pakai sebagai atas nama dari semua perilaku baku syahwat ini ?

6. PACARAN , Cukup Dewasa & Bertanggungjawabkah Aktivitas Ini??
Dikalangan tertentu pacaran tidak dikenal, pun mereka tahu tapi sepertinya pacaran nggak lagi merupakan cara jitu yang mutlak harus dilakukan sebelum menikah. Selain hubungan pra- nikah ini tidak sesuai dengan norma agama (sepanjang sejarah nggak ada yang namanya aktivitas pacaran kok nggak kelewat batas, bahkan udah banyak yang amoral) juga dalam kebanyakan kehidupan masyarakat yang berbudaya Timur, bukankah sebenarnya hanya mendapatkan legalitas sebuah hubungan lelaki dan perempuan dengan menikah resmi?

45

Apalagi kesia-siaan

sebenarnya sudah berkembang pemikiran bahwa suatu

saja “ jalan “ bersama seseorang yang belum tentu seratus

persen menjadi pasangan hidupnya. Bagaimana mungkin bisa yakin bahwa seseorang yang selama ini “jalan bareng” and give (pacaran) memiliki komitmen untuk tetap setia , lha wong Tidak yang terjadi dari waktu kewaktu hanya sebatas saling curhat dan saling take yang nggak jelas juntrungnya, dasarnya, ikatannya. meningkat pada sesutau yang lebih bertanggungjawab dan ksatria : MENIKAH! Atau minimal mengajukan lamaran keorang tua si gadis dengan sebuah itikad baik. Segala argumen dan alasan kemudian muncul sebagai ‘pemakluman” dan pemaafan atas ketidakkesatriaan itu. Akhirnya masa pacaran semakin panjaaaaang dan laamaa. Ya, mungkin menikah beda dengan pacaran. Justru itulah mengapa pacaran hanyalah aktivitas penuh apologi dan mengikat tanpa konsekwensi yang jelas terhadap status seseorang. Orang-orang yang mengadakan hubungan pranikah semacam pacaran sesungguhnya tidak benar-benar dewasa untuk kemudian karena telah menjadi keumuman seperti belum bekerja, kenalan pernyataan-pernyataan semacam ini pasti memaknai sebuah hubungan. Mungkin dalam masyarakat kita , maka mengundang pro- kontra. Alasan-alasan

dulu, jangan buru-buru dan sebagainya menjadi sebuah ikatan-ikatan menggurita bahkan bagi seseorang yang sebenarnya telah faham terhadap adab-adab menjalin hubungan laki-laki dan perempuan dalam Islam. Menyinggung masalah kedewasaan, bukankah dalam hubungan interelasi, sikap bijkaksana , tidak possesive, konsekwen dalam bicara dan bertindak, merupakan sebagian dari ukuran kedewasaan itu sendiri ? Itulah makanya, sebuah hubungan laki-laki dan peremppuan nggak bisa diukur dari kedewasaan fisik saja , tapi juga secara psikologis, misalnya kemampuan untuk mengatasi konflik dalam satu ritme kehidupan yang panjang, tidak egois , tidak manipulatif dan juga tulus. Selain itu dalam hubungan yang ideal seharusnya ada sebuah kedewasaan sosial ekonomi.

46

Nah, makanya seseorang yang sudah siap untuk mengayuh sebuah biduk hubungan dengan laki-laki atau perempuan yang dipilihnya, harus pula bertanggung jawab dalam pemberian nafkah dan sebagaianya, bukan hanya having fun. Makanya, berdasarkan standarisasi kedewasaan-kedewasaan yang terpapar diatas, apakah layak pacaran dinobatkan sebagai aktivitas yang “cukup dewasa dan bertanggungjawab?” Bukankah setiap perbuatan dan hubungan kita dengan orang lain membawa serta pertanggungjawaban yang melekat pada diri kita pada orang yang bersangkutan Allah ? Wallahu a’lam bishshawwab utamanya pada

7. Oiiiiiiiii …. Ternyata Cinta Tuh Ga’ Abadi !!!
Nah lo! Ini kabar paling mutakhir tentang cinta. Makanya, yang lagi pada pdkt atau lagi pada seneng-senengnya pacaran kalian kudu baca bagian ini . Atau… bagi kalian yang udah terlanjur sumpah sumprit sama pasangannya kalau cinta kalian seabadi edelweis! Ini penemuan dari seorang antropolog asal AS, namanya Helen Fischer. Udah tau doong gimana dahsyatnya cinta . Bisa bikin orang jadi seneng, terpacu kreativitasnya, jadi agak salting, deg-degan, jadi lebih PD he..he.. Nah menurut Helen Fischer ketika seseorang merasakan reaksi romantis yang muncul saat seseorang lagi kena “virus merah jambu” itu, timbul karena kerja sejumlah hormon yang diproduksi otak. Tapi, gimana bisa sih hormon dalam otak bekerja saat seeorang sedang jatuh cinta? Sabaaaar. Begini prosesnya. Ehm.. saat kontak mata sedang berlangsung, pada saat itulah ada sebuah “kesan”. Ini dia fase pertama. Otak bekerja seperti sebuah komputer yang merekam sejumlah data dan mencocokkannya

47

dengan data sebelumnya. Makanya, pada saat itu mulailah seseorang mencari-cari sebab ketertarikannya pada lawan jenis. Fase kedua, mulailah muncul hormon phenylethelamine (PEA) , -nggak usah diapalin- Itulah makanya saat ada kesan, Hormon dopamine tiba-tiba spontan senyumpun terlontar. Spontan pula pabrik PEA dalam otak mulai bekerja. dan norepinephrine yang juga terdapat dalam syaraf manusia ikut-ikutan nimbrung . Hormon-hormon inilah yang menjadi pemicu timbulnya “gelora cinta” . Tapi setelah dua-tiga tahun efektivitas hormonhormon ini mulai berkurang. Fase ketiga, ini fase dimana cinta yang menggebu-gebu tadi mulai mereda. Yang tersisa hanyalah kasih sayang. Hormon endorphins , senyawa kimia yang identik dengan morfin, mengalir ke otak dan efek yang ditimbulkannya mirip dengan nyaman, tenang. Nah, ternyata daya tahan PEA itu cuma sekitar empat tahun! Teori ini disebut Fischer four years itch dan sebagaimana sebuah reaksi kimia, maka setelah itu nggak berbekas lagi. Memang sih, cinta nggak semata-mata muncul karean hormon aja. Tapi banyak juga faktor sosial yang mempengaruhinya. Fischer , yang juga menulis buku “ Anatomy of Love” , menemukan bahwa kasus-kasus perceraian muncul ketika telah mencapai empat tahun masa perkawinan (masa rawan gitu! ) kalaupun bertahan pasti karena faktor-faktor lain Kalau mau pakai perhitungan asyik juga kali ya…! Misalnya, orang yang pacarannya udah tiga tahun berati kan cuma setahun setelah menikah bisa bertahan he..he.. kalaupun sampai lamaaaaa pacarannya, berarti pasti ada faktor-faktor lain. Menurut Diane Lie-seorang psikolog- orang yang pacaran lama atau dalam kehidupan perkawinan bisa bertahan karena faktor friendship, pertemanan. Kalau dipikir-pikir dengan hukum Gossen , bukankah ketika manusia berusaha memenuhi kebutuhan akan sesuatu , maka lamakelamaan akan mengalami kebosanan ? Dan bukankah kebutuhan akan cinta baik secara biologis dan maknawiah telah lebih dahulu diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya dengan cara-cara yang lebih anggun ? Dan bukankah Cinta narkotika, saat itulah tubuh merasa damai,

48

yang abadi hanyalah bersumber pada Sang Pemilik Keabadian ? Dzat yang akan menjaga cinta orang-orang yang dikehendakinya yang berusaha menjaga kesucian cinta mereka ? Makanya kalau yang masih pada pacaran sesumbar bahwa cintanya bakal abadi, Mmmmmmm…. kayanya perlu ditelaah lagi. Apalagi ekspresi cinta -yang mungkin lebih dominan ke nafsu pada usia-usia mudaseharusnya dapat lebih indah dan agung dalam bingkai yang halal. Bukan begitu ?

8. Hati-hati Kecanduan Cinta !
Kecanduan narkoba, rokok, alkohol udah biasa kita dengar. Tapi kecanduan Cinta? Emang bisa ? Nah ini dia candu yang bikin orang dari jaman baheula jadi bunuh diri , berantem, mati konyol. Sudah baca kan tulisan di bab depan tentang banyaknya “pemicupemicu’ timbulnya free sex, apalagi dikalangan muda Liat aja, tiap hari kita disuguhin tontonan, lagu-lagu, sinetron, film yang mengusung cerita-cerita tentang percintaan. Semua ikut andil dalam merancukan pengertian tentang cinta. Ketidakberdayaan, pengorbanan konyol dan syair-syair penuh makna picisan, justru dinilai sebagai ekspresi cinta sejati padahal itu justru ekspresi kecanduan cinta. Huh! Bohong banget Siapa lagi coba yang kena kalau bukan para muda yang lagi getolgetolnya sama urusan beginian. Pada saat pacaran bahkan sampai nikah banyak orang yang kena penyakit ini. Mau tau tanda-tandanya ? Nggak beda-beda amat sama korban “pelecehan psikologis “ yang udah sekelumit diulas diatas. Orang-orang yang kecanduan cinta , lebih sering ngefek ke psikologisnya. Pertama, Pikirannya obsesif, misalnya curigaan mulu sama kekasihnya , akibatnya kemana-mana ngekor, takut lepas kali yaa. Kedua, Tidak punya toleransi terhadap kehidupan pribadi pasangannya maunya diperhatiiin mulu. Alhasil, pasangannya jadi nggak

49

punya waktu untuk melakukan apapun . Ih.. kejem ya..Udah gitu pakai menuntut atau mengancam pasangannya agar selalu menuruti maunya. Ketiga, Menganggap seks sebagai alat untuk mengendalikan pasangannya, dan sebagai sarana mengekspresikan cinta. Padahal cinta bukan cuma masalah seks. Keempat, Tidak bisa memutuskan hubungan meskipun sangat tertekan karena berharap pada janji-janji muluk pacaranya atau pasangannya Kelima, rela kehilangan sesutau yang terpenting dalam hidupnya demi mempertahankan hubungan. Gimana coba kalau ini berhubungan dengankehormatan diri , apalagi aqidah! Nah, ngeri kan? Apalagi dalam masa-masa pacaran seriing banget hal-hal semacam itu dialami oleh pasangan yang lagi getol-getolnya pacaran. Biasanya orang yang udah kecanduan cinta mampu membagikan cintanya yang tulus pada orang lain. Akibatnya orang yang mengalami kecanduan cinta akan merugikan orang lain. Parahnya bila tidak seorangpun bisa mengubah perilakunya -tidak juga pacarnya- maka keduanya akan menjurus pada cinta buta yang nggak terkendali. Parah kan ???? tidak pernah bisa

9.Virginitas, Taruhan Berharga Masa Pacaran
Banyak yang bilang virginitas (keperawanan) pada masa sekarang adalah hal kesekian yanng dipertimbangkan dalam masalah memilih pasangan hidup . Alasannya, jaman sekarang, mana ada sih cewek yang masih virgin ? Aduh menyedihkan, ya? Kita sudah mulai permissive terhadap semua ideologi yang menelisip halus disetiap otak masyarakat. Pacaran yang katanya ajang bagi sepasang kekasih untuk saling mengenalpun tak hanya sekedar itu. Bahkan lebih. Fase pendekatan yang lebih banyak dilakukan oleh para cowok apalagi yang nggak punya prinsip hidup yang lurus, jago maksiat dan suka

50

bikin cewek mati kutu alias ahli tebar pesona , dan militan dalam mengikuti hawa nafsu, sudah pasti menyimpan bom waktu yang sewaktu-waktu meledak dan menuntut taruhan yang sangat berharga. Memang nggak semua cowok dan cewek brengsek, tapi masalahnya , setan ada dimana-mana Non, Brur! Dan sudah tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini aktifitas baku syahwat (pacaran) ini makin dibumbui dengan semua tips dan rayuan yang merebak hebat disinetron-sinetron dan tabloid remaja. Virginitas, keperawanan, biasanya menjadi sesuatu yang paling dipertahankan oleh kaum hawa. Tapi masalahnya, saat ini banyak sobat cewek yang mau aja dirayu dengan janji-janji yang manis bak permen oleh ‘sang pacar” . Sudah baca dong bab sebelumya tentang kisah horor dikampus? Belum lagi penelitian heboh Iip Wijayanto yang menyatakan bahwa 97, 05 % cewek di Jogja sudah nggak perawan lagi. Atau simak saja hasil survey beliau bahwa “perkosaan atas nama cinta” terjadi pada masa ini (pacaran) . Swear atas nama cinta banyak remaja dan para muda yang jadiblo’on dengan nyerahin semuanya ke yayangnya .Gombal dan bikin jijay. Bukannya melecehkan, tapi para cewek lebih nggak tegaan saat ia sudah jatuh cinta pada seorang cowok yang punya banyak kelebihan dalam dirinya. Makanya begitu ada yang nembak jadi pacar langsung mau. Atau kalaupun harus jaga image paling nggak lama. Abis itu , nggak jarang aksi “pembuktian” dituntut para cowok yang doyan bikin cewek sebagai mainan . Nah lo!!!! Pacaran adalah media paling memungkinkan untuk memancing hubungan seks diluar nikah. Bagaimana tidak ? dalam aktivitas ini, semua hal mubah (boleh) hukumnya , berboncengan, menyentuh bahkan berciuman pun saat ini sudah lumrah bahkan lebih dari itu. Padahal, setiap yang baik atau yang buruk ‘kan terjadinya bertahap, bukan begitu ? Bukankah segala aktifitas yang memancing hawa nafsu biasanya bermula dari yang sepele? Virginitas dikalangan cewek saat ini meskipun tidak secara nyata terenggut, namun bila kita memaknai keperawanan secara

51

luas dimana seluruh tubuh seorang wanita

hendaknya “terjaga” dan

“perawan” dari sentuhan-sentuhan lelaki yang tidak berhak atasnya maka berapa banyak kaum muda putri-gadis-wanita belum menikah yang telah “tidak perawan” ? Mungkin agak kasar, namun bukankah setiap hari banyak gadis-remaja putri-wanita yang ‘mengumbar” auratnya ? Maka apakah keperawanan hanya berhubungan dengan –maaf – utuhnya selaput dara? Mungkin lebih bisa difahami dengan cerita dibawah ini.
Sebut saja namanya Irvan. Sebentar lagi dia akan menikah. Tapi dia jadi ragu saat tahu bahwa calon istrinya sudah pernah pacaran sebanyak tiga kali. Memang sih itu masa lalu. Tapi, karena menurut penuturan banyak teman Irvan dan pengakuan pacarnya, pacarannya lumayan ‘modern” he..he.. boncengan minimal. Irvan yang kebetulan nggak pernah pacaran itu merasa aktivitas-aktivitas yang dilakukan calon istrinya dimasa lalu itu akan menimbulkan dampak psikologis. Bukannya dia tidak dapat “memaafkan” masa lalu atau memakluminya. Tapi….wajar kan seseorang mendambakan istri-suami yang benar-benar belum ‘tersentuh’ ? Berarti aku “suami “ keberapa kalau dia melakukan hal-hal tersebut sebelumnya?

Itulah.. dalam tulisan ini, keperawanan fisik bukan masalah rusakutuhnya selaput dara. Tapi termasuk pada keutuhan bagian tubuh yang lain dari sentuhan-sentuhan lawan jenis yang tidak berhak! Berapa banyak priawanita yang bagian-bagian tubuhnya kulit, tangan, bibir dan bagian-bagian tubuh pria dan wanita yang lain yang diumbar dan berganti-ganti ‘pemakai’? Maaf bila penulis buku ini vulgar,ya! Kalau perilaku-perilaku pacaran dari mulai menyentuh, meraba, berciuman dan seterusnya masih dianggap sebagai perilaku yang semestinya dilakukan setelah menikah ( meskipun banyak yang melakukan sebelum menikah dan dengan perasaan agak malu, sembunyi-sembunyi yang justru menunjukkan bahwa mereka sebenarnya takut melakukan aktivitas-aktivitas tersebut . Berarti? Semua perbuatan yang dilakukan dengan perasaan takut ketahuan manusia lain = dosa, bukan ?) maka berapa banyak laki-laki dan perempuan yang saat ini menjadi tidak perawan dan perjaka karena telah melakukan dengan laki-laki dan perempuan sebelum istrinya yang sah.

52

Permakluman atas hilangnya Virginitas saat ini juga selalu di gembar-gemborkan di semua talk show remaja, seminar-seminar yang pada intinya menyiratkan bahwa keperawanan adalah sesuatu yang tidak harus selalu diributkan. Lebih menyedihkan, justrubanyak pihak yang mengaku ‘pejuang perempuan’ yang permissive terhadap luruhnya nila-nilai keperawanan (apa ini juga yang dinamakan ‘setara’ ?). Lebih lanjut dampak dari menipisnya rasa malu dan kesadaran menjaga virginitas adalah semakin bebasnya sarana-sarana yang mendukung seks before marriage dijual dan dikonsumsi ,bahkan oleh para remaja! Laki-laki dan perempuan yang tidak dapat mengendalikan diri dan hati mereka untuk memiliki istri yang saling menjaga kesucian, apakah mereka berhak virgin, namun sebelum menikah ia telah melakukan mendapat sesuatu yang baik dikemudian hari ? laki-laki yang menuntut banyak kontak fisik dengan banyak wanita apakah berhak mendapatkan perempuan yang “suci” ? Bukankah Allah telah peringatkan bahwa setiap orang berpasangpasangan ? Bahwa laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, perempuan pezina untuk laki-laki pezina? Dan bukankah dengan melancangi hukum Allah (melakukan hubungan tidak halal dengan laki-laki dan perempuan) berarti kita telah tidak sabar untuk mempersiapkan diri menjadi “wanita dan lelaki” yang baik untuk kemudian dipasangkan Allah dengan lelaki dan wanita yang baik pula ? Tidakkah orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya dengan mencari-cari pembenaran atas aktivitas “mendekati zina” ini telah merendahkan harga dirinya ? Renungin sendiri, deh..

@@@@@@@@@

10.Cuma Sekedar “PACAR” ? Kasiaaaaan deh lu!

53

Analogi pacar air menunjukkan, pacar air yang jadi pemerah kuku, pabila telah usang dan pudar warnanya, maka akan diganti dengan pacar air yang baru . he..he… Pacar. Dibilang calon istri atau suami belum bisa. Tapi aktifitasnya kadang nggak cuma seperti “calon istri atau suami” Hhhh…! Bingung kan statusnya ? ya, cuma “pacar” nggak lebih! Kalau masih merah dan menyenangkan dipakai kalau sudah pudar dan meyebalkan atau bahkan mengotori … diganti. Sebuah percakapan ringan antara saya dan seorang teman. Katanya, saya enggak pacaran karena nggak ada yang “nembak “ (ih.. serem) atau karena saya terdoktrin kultur, dimana dalam sejarah keluarga saya –alhamdulillah- belum ada yang kesrimpet pacaran. Wah… dalem juga nih! Batin saya. Tapi … saya menjawabnya dengan ringan-ringan saja, kaya’ makanan kecil-ringan tapi mengena- Sebut saja namanya… Sandra ( soriii banget kalau ada yang sama, yaa). Si Sandra bilang, “Coba kalau ada seorang cowok yang nembak kamu buat jadi pacarnya apa kamu bisa bertahan ?” . Ups!! boleh juga ‘ni anak ! “San, untungnya sampai sekarang belum ada cowok yang nembak aku jadi pacar. Mungkin kamu benar, siapa sih yang bisa jaga hati kita selain Allah ? he..he… Trus, sampai sekarang juga nggak pernah ada sepucuk suratpun yang nyasar ke aku cuma sekedar nggak kalah PD “ Apalagi kalau surat itu cuma dititipin temen, dari kertas buku sobekan, nggak diposin , diselipin di buku, sori lah yaw! (jadi inget nasehat guru SMU saya, katanya kalo cewek ditembak dengan model begini trus mau ..ih…kasian sekalli ) Ha..ha…” jawab saya penuh percaya diri. Dibikin enak aja. Lagian emang betul kan? Begitulah, setiap kali saya berkoar dalam diskusi-diskusi tentang cinta, pacaran dan sejenisnya, cerita itu selalu saya sampaikan. Begitu berkesan. Sebab dari cerita itulah saya semakin mantap bahwa pacaran bilang I love You. Ha…. ha..ha… nggak ada yang berani San, bukannya kagak ada…!” Jawab saya

54

hanyalah sebuah ekspresi “sesaat” bagi orang-orang yang mengaku saling “jatuh cinta” . Bahkan beberapa teman sempat ‘khawatir’ dan kurang yakin saat saya nekat menulis buku ini , jangan-jangan ada yang menganggap tulisantulisan di buku ini subjektif karena yang menulis belum pernah merasakan ‘asyiknya’ pacaran. Saya jawab ringan : it’s Oke! melakukan sesuatu bisa karena Seseorang melakukan dan tidak pengalaman pribadi (yang baik maupun

buruk) atau pengamatan terhadap sekitar. Maka itulah mengapa kita selalu dianjurkan untuk mengambil pelajaran dari apa-apa yang kita lakukan dan yang dilakukan orang lain. Bukan Begitu ? lanjuut!!!! Jawaban saya selanjutnya pada Sandra: “Bukankah apa yang kita lakukan dengan sebuah keyakinan yang besar terhadap sesuatu yang kita anggap benar , maka Allah akan menyingkirkan pula hal-hal yang merusaknya ? Allah pasti SANGAT TAHU bahwa kalau ada yang nembak aku, mungkin aku nggak akan kuat he..he… makanya Allah sampai detik ini nggak pernah “rela “ kalau seseorang cuman njadiin aku pacar . Wha..ha…ha.. (betapa ge-er nya saya ke Allah , ya?? It’s Ok ! khusnuzhon ke Allah harus kan ?) . Lagian kalau cuma jadi pacar….. kayaknya masih banyak yang lain,dehI !” wadduh mungkin saat itu teman saya ciut nyali, kali ya ?! Seminggu setelah itu ternyata teman saya itu sudah berhasil kaya’ mendapatkan PACAR. Dia membisiki saya karena akhirnya ketahuan juga…. Katanya, “aku nggak bisa kalau bertahan nggak pacaran kamu” It’s ok! Kata Saya; kalau nggak sekarang mungkin besok atau lusa …..atau setelah buku ini jadi ???? Hidayah Allah siapa yang tahu ??? Begitulah. Kenapa kita “bangga” hanya karena jadi ‘pacar” orang ? kenapa kita tidak lebih bangga kelak menjadi istri atau suami seseorang yang kita tempuh dengan proses dan cara yang syar’I , diridhoi oleh Yang di langit dan di bumi ?

55

Bayangin kalau kita cuma jadi pacar. Kita dijadikan pacar oleh orang lain, trus abis gitu (karena pacaran, kan sah-sah aja kalau putus-sambung tho? Begitu katanya ) setelah itu e… kita di putusin , pacar kita dapet gebetan baru, karena si do’I lebih cantik, putih, pinter atau yang lain-lain deh..! Ternyata pas mereka putus, “mantan” pacar kita itu balik kekita atau pindah lagi ke orang lain. Berarti ???? bukankah kita hanya selalu diperbandingkan sama yang lain ? Bukankah pacaran akhirnya tak jauh beda dengan sebuah kamar pas yang orang bisa membandingkan berbagai macam baju semaunya ? Atau menjadikan seseorang seperti piala bergilir .Iya kan ? Lagian, nggak enak banget ‘kan kedengarannya menyandang status “mantan pacarnya si A” , mantan pacarnya si B” . Bukankah lebih terhormat menyandang gelar janda atau duda karena setidaknya pernah lebih berani mengambil tanggung jawab menjadi istri atau suami ? daripada sebuah status yang “rawan” pelecehan” dan nggak punya ikatan jelas kecuali hanya sebuah pengakuan bahwa “Si A pacarnya si B’ ? Itulah……betapa banyak disekitar kita yang menyandarkan kepercayaan dirinya dari pacar, status, kepandaian, kekayaan,… maka mereka akan berperilaku dan mengejar apapun apapun yang menjadikannya “tampak lebih percaya diri” kasiaaan deh orang-orang seperti itu !

11. Pacaran ? KUNO!!!!!
Sorii banget lho ya, pada kalian yang masih melakukan aktifitas baku syahwat ini. Abis gimana, emang sebenarnya udah nggak jamannya sih orang ngelakuin aktifitas me-matchkan rasa trus diekspresikan dengan caracara yang sudah norak , dosa lagi ! Jamannya apa-apa musti cepet kok masih sempat-sempatnya sesayangan yang nggak jelas juntrungnya gitu. Lagian, waktu bagi kehidupan seorang muslim kan nggak cuman buat ngelamun dan diisi hal-hal yang bikin angan melambung trus jatuh. Gubrak!

56

Yang lebih penting, Islam tuh agama yang sempurna lagi menyempurnakan. Dari bangun tidur sampai tidur lagi selalu ada aturannya. Manusia yang ngaku muslim tuh mestinya memprogram hidupnya dengan jelas, memprogram aktivitasnya dan setiap aktivitasnya itu disesuaikan dengan aturan-aturan Islam bukannya Islam yang musti nurutin kita. Kebalik tuuh ! Islam mengatur segala aspek manusia termasuk yang berhubungan dengan itu.. naluri fitrah manusia : mencintai dan dicintai. Dahulu, semasa jaman jahiliyah, boro-boro diatur, seorang ibu pun bisa diwarisin sama anaknya. Trus, Di Peradaban Romawi dan Yunani Kuno, sudah jamak tuh para laki-laki dan perempuan melampiaskan nafsu seksualnya nggak jauh beda sama binatang, bahkan dengan sesama jenisnya. Makanya peradaban Yunani dan Romawi kuno -dalam hal ini kaum Sparta -menurut Socrates hancur lebur juga karena para lelaki dan perempuannya sudah tidak bisa lagi dikendalikan dari sisi nafsu seksualnya. Na’udzubillahi min dzalik! Trus, hubungannya dengan kita ? ya.. liat aja deh model gaulnya anak-anak muda sekarang termasuk remaja muslim, sudah nggak tabu-tabu lagi yang namanya nge-kiss yayangnya dimuka umum, trus para cewek mulai pada kegerahan dengan memakai baju yang nggak pas potongannya, ada yang kekecilan, ada yang sengaja diliatain sedikit bahunya, katanya sih biar seksi . Puih.. padahal norak plus nggak nambah poin ha..ha…ha! Makanya ente-ente yang pada pacaran pake gaya KKN (kenalkenal nubruk) nggak beda jauh kan sama orang-orang primitif ??? Yang kalau sudah ada feeling langsung main serobot anak orang tanpa pakai cara-cara “manusia”. Apa itu modern ? Iddih! Makanya kagak ada maklum-makluman deh sama aktifitas yang ndeketin zina ini. Biar kata anak mesjid, kalau masih getol aja meneriakkan “pacaran Islami” berarti masih sayang tuh sama sisa-sisa maksiat. Ente-ente para cewek yang pake baju full pressed body apa nggak risih tuh jadi bahan suitan mata-mata yang jelalatan ? Trus abis gitu dipacarin sama cowokcowok yang cuman pengen ngelus rambut dan mamerin kamu ketementemennya, kalau udah puas kalian diputusin dan kalian jadi piala bergilir lagi

57

untuk tebar pesona ke yang lain ? (Ih….kok kejem banget sih nulisnya? Sukasuka ,dong ! ) Apapun modus operandinya, yang namanya PACARAN tetep haram , titik. Mau pake modus operandi belajar berdua? Ngajakin pengajian hi..hi.. alesan doang tuuh! Yang kaya’ gitu mah sudah kena hukum berkhalwat tau ‘??? yang ketiga syetan, Nah lho! Mau bebarengan ? tapi pasangpasangan? Weleh Itu juga kena hukum IKHTILAT perempuan . Hayoooo! Gimana lagi coba ? Sudahlah, mendingan kalian yang masih mengaku manusia modern dan beradab segera saja udahan pacarannya. Putusin saja tuh pacar-pacar kamu dari pada bikin mumet dan dosa. Yang belooom….. jangan coba-coba! PD aja lagi kalau Allah sebenarnya sudah menyiapkan jodoh buat kita, tinggal kita menempuhnya dengan cara yang baik, Ibarat mau minta sesuatu dari rumah orang tuh ya.. salam dulu, izin trus bilang baik-baik . Jangan kaya pencuri gitu.. ngendap-endap, pakai backstreet segala, abis gitu pakai ngrusak masa depan anak orang . Duuuh pengecut banget kan ??? Buat kamu-kamu yang baru jadian en lagi mesra-mesranya, pasti tulisan ini bikin kamu naik darah, naik pitam, udah….. turunin lagi aja pitamnya! Abis gimana? Amar ma’ruf nahi munkar ‘kan nggak pandang kalian baru jadian atau enggak. Daripada putusnya ntar-ntar keburu maksiatnya tambah gedhe mending sekarang aja. Hi..hi.. Khusnodzhon (baik sangka) saja kalau yang nulis buku ini cintaa banget sama kalian... jangan marah ya…. Kesindir ? Malu ? Berarti hati kalian masih memungkinkan dapat hidayah : ANDA MASIH BERUNTUNG!!! campur baur laki-

12. PACARAN Ya… PAkai

CARA Nikah !

Mau jungkir balik pada bilang kalau Islam tuh “kejam” karena nggak memberi kesempatan seseorang mencurahkan kasih sayang ke lawan jenis selain cara nikah ? sebodo amat. Memang dalam Islam tuh nggak ada kok model-model nggak pasti kaya pacaran itu. Kalau memang pada mau

58

nyurahin kasih sayang ke laki-laki atau perempuan yang dicintainya ya… Nikah! Yang pasti-pasti aja deh ! Akronim yang digunakan Ustadz Ihsan Arlansyah Tanjung tentang ‘pacaran’, ‘pakai cara nikah’ itu solusi konkrit. Perkara kemudian pada heboh karena menurut mereka nggak lumrah doong kalau tau-tau nikah tanpa kenal dulu, itu kan masalah belum pahamnya sebagian masyarakat kita tentang tata cara menuju jenjang pernikahan yang diajarkan Islam. Kalaupun tau, nggak jarang mereka sungkan pakai cara nikah untuk mengekspresikan sayangnya Nah, Islam sebenarnya sudah memfasilitasi media untuk mengenal antara laki-laki dan wanita yang akan menikah yang lazim disebut ta’aruf (perkenalan) dalam proses ini saling mengenal antara kedua belah pihak, saling memberitahu keadaan keluarga masing-masing, harapan dan prinsip hidup, saling mengungkapkan apa yang disukai dan tidak disukai. Prinsip ta’aruf, adalah non defensif, tidak bereaksi berlebihan terhadap feedback yang negatif, serta terbuka. Jujur, tidak curang, tidak berbohong, pasangannya, menghormati tidak batas-batas ,prioritas dan tujuan apalagi calon pakai mencoba manipulatif ,mengontrol kasih-

mengancam he..he.. Itulah bedanya dengan pacaran, dimana pada tahap ini seseorang yang ta’aruf tidak kemudian berdua dan semaunya. Lagipula Ada kemungkinan pada tahap ini batal, maka pada umumnya pada tahap ini ada yang belum sampai pada orang tua sebab dikhawatirkan orang tua menganggap hal tersebut sudah pasti jadi. Ta’aruf memang diniatkan untuk segera pada prosses halal dengan khitbah jelas. Iya ‘kan ? Tapi ini yang perlu diingat terutama justru pada para aktivis yang ngakunya udah “paham”. Seringkali banyak pasangan yang terjebak “pacaran” dengan sampul ta’aruf, papar Ustadz Ihsan . Ya, apa bedanya dengan pacaran bila ada rutinitas kunjungan, intensitas interaksi dan komunikasi yang melegitimasi silaturahmi dengan embel-embel “ingin lebih jika sudah mantap kemudian nikah. Tapi pacaran ? lebih dominan “mengenalnya” dan batasannya gak

59

mengenal “ ? Nah…. Soal yang ini sih pasti ada banyak buku yang lebih afdhol dibaca kan ???? Buruan, cari aja, biar lebih faham, oke ??? @@@@@@

13.Pacaran Beda Agama ? Aktivitas Duoble Zina!
( Be Careful! Especially You, Girls!) Ini lagi aktivitas yang katanya mendukung program toleransi antar umat beragama, ha..he… PMP kali ,ye…..! Ini juga aktivitas yang paling gampang bikin para muda muslim (terutama para cewek) menggadaikan aqidahnya. Atas nama Cinta! Sudahlah nggak usah sok modern, deh! Apalagi yang sok PD sudah bisa nge-gaet cowok-cowok bule! Biasanya yang beginian, lebih bule daripada Bule-nya sendiri. Sok seksi, nggak kenal malu melenggang diantara tatapan para lelaki dengan pakaian yang keliahatan puser dan punggungnya. Weleh-weleh belum lagi dandanannya yang full colour (ini dilihat si penulis di jalanan Slamet Riyadi –Solo) Pacaran dan nikah beda agama tetap saja riskan. Allah dan rasulNya telah memberikan peringatan, jauh sebelum hari ini. Dalam Pedoman Hidup terlengkap, Al-Qur’an al- Karim, Allah telah memberikan aturan-Nya, “….Mereka (wanita-wanita beriman) tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal pula bagi mereka…” (al-Mumtahanah:10) “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman.Sesungguhnya wanita budak yang beriman itu lebih baik bagimu daripada wanita musyrik meskipun dia menarik hatinya. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Seungguhnya budak yang mukmin itu lebih baik dari orang musyrik walaupun ia menarik bagimu ……” (al-Baqoroh :221) Rasulullah bersabda,

60

“Kita boleh menikah dengan perempuan-perempuan Ahlul Kitab tapi, mereka tidak boleh menikah dengan perempuan-perempuan kita” (HR. Ibnu Jarir) Sudah ngerti kan ? Betapa Allah dan Rasul-Nya memberi ketegasan soal yang satu ini ? Kesimpulannya, laki-laki dan perempuan mu’min tidak boleh menikah (sekedar pacaran juga nggak usah!) dengan perempuan dan laki-laki musyrik. Tapi laki-laki mu’min ‘boleh’ menikah dengan Ahlul Kitab , tapi perempuan mu’min ga’ boleh ! Nggak adil bagi perempuan muslim ? Siapa bilang ? Justru ini adil banget! Ini masalah aqidah. Perempuanperempuan muslim yang dinikahi atau hanya dipacari oleh orang-orang yang berlainan aqidah dampaknya akan melahirkan keturunan-keturunan yang bukan muslim! Ini bukan masalah cinta saja, tapi masalah prinsip, Non! Bahkan sekarang ada kecenderungan menikah dengan laki-laki non-muslim yang kemudian pindah agama. E…. pas ditengah-tengah perniikahan mereka kembali lagi ke agama asalnya! Gimana kalau begini ? padahal sang muslimah sudah terlanjur berstatus sebagai istri. Kalau si muslimah itu kukuh dengan aqidahnya, dia berani untuk cerai. Lah kalau udah tergantung secara materi dan status social ? buukankah akan lebih gampang jadi..murtad? Ngeri kan???? Lagian, definisi “ahli Kitab” perlu ditelaah, bahwa Ahli Kitab adalah orang-orang yang ditunkan Kitab sebelum Al-Quran, pada masa itu masih Suci. Masalahnya, apakah Kristen- Katholik sat ini termasuk Ahli Kitab / sedangkan kitab mereka (injil yang sekarang ) bukan lagi kitab asli ! Wah , mulai serius nih ngomongnya! Iya dong! Jadi sudahlah, nggak usah tergiur dengan seruan-seruan toleransilah, inilah-itulah, bukankah menyelamatkan aqidah sejak awal lebih baik daripada menyesal dikemudian hari ? .Inget ya, Brur, Non! Ini bukan masalah sesayangan saja tapi untuk kepentingan yang lebih besar…prinsip kita sebagai muslim, yang telah dijaga Allah dengan segala peraturan-Nya. Inget… Islam itu system hidup, mengatur semua hal, bukan sekedar agama yang mengajarkan kita ritual-ritual belaka. Sungguh, menukar hidayah yang telah diberikan Allah (Islam) dengan sesuatu yang tidak abadi (cinta sesaat, pacaran, romantika picisan,apalagi sampai menyerahkan kehormatan) adalah sesuatuyang akan

61

kita sesali seumur hidup! Nah , lo! Hubungan cinta sebelum nikah (baik dengan yang seakidah) aja sudah mendekati zina, kok. E… ditamabah lagi “mendekati zinanya” bareng non-Islam. Double ZINA tuh! Sesungguhnya Yahudi dan Nashrani tidak akan berhenti mempengaruhi kita sampai kita mengikuti milah (agama, keyakinan) mereka… “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kam uambil teman kepercayaanmu orang-orang yang diluar kalanganmu2 (karena)mereka tidak hentihentinya (menimbulkan) kemadharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkanmu.Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat kami, jika kamu memahaminya .” (Ali Imran :118)

Inget ya.. ini seruan Allah, bukan seruan yang menulis buku ini!  Makanya, Friends, kuatin akidah kita , sebab aqidah merupakan dasar terkuat dari perilaku kita. Semakin kuat akidah kita, semakin yakin pula kita bahwa Islam dan orang-orang muslim adalah kawan dan partner terbaik! Makanya, saling menguatkan dan menjagalah diantara kalian para muslim-muslimah. Tapi juga jangan mencari kesempatan untuk pacaran sesama aqidah. Itu juga mesti dijaga. Wadduh.. Islam subhanallah ya, nge-jagain hati-hati kita dari virus merah jambu yang bikin hati dan akidah kita rusak ???! Tips buat kamu-kamu yang barusan ada di lingkungan baru

,kampus, sekolah ,tempat kerja yang rawan ‘penggadaian’ aqidah atas nama cinta
 Cari dan perbanyak teman-teman seiman, seakidah, dan sediakan diri untuk selalu peduli dengan masalah teman-teman sesama muslim  Ikuti banyak aktifitas yang membentengi dan meningkatkan kepahamanmu akan Islam  Banggalah menjadi seorang Muslim, sebab derajat seseorang dilihat dari agamanya,akidahnya, akhlaknya bukan cantik, pandai atau standar materi lainnya
2

Diluar ‘kalangan mu’, disini standarnya akidah , bukan harta atau kelas social. Jadi, maksudnya orang-orang diluar Islam

62

 Perdalam wacana dan pemahaman Islam agar kamu tidak terjebak wacana-wacana “toleransi” yang membuat kita jadi lengah terhadap hal-hal yang melunturkan aqidah. So, be smart!  Berkawanlah tapi.. jangan menggadaikan prinsip. Jadilah muslimmuslimah yang supel namun teguh! Oke? Don’t sell your ‘aqidah’ just for ‘boyfriend ‘ or ‘girl friend’

14. Mengapa ‘Jangan Mendekati ZINA’ ? Larangan pacaran dalam Islam memang nggak ada! Tapi….
Allah itu Maha Cerdas. Maha Romantis, Maha Pemberi Pelajaran. Maha Segala. Ya, Allah selalu menggunakan bahasa-bahasa penuh dengan ungkapan filosofis dan bahasa-bahasa yang mengajak kita berpikir kedepan. Bukan hanya sekarang saja. Allah Maha Mengetahui kecenderungan makhluk-makhluk ciptaanya. Lagi-lagi, Qur’an adalah Pedoman Terlengkap tentang aturan hidup. Disana terdapat referensi kehidupan dari masa lalu, sat ini dan yang akan dating. Pernahkah kita merenung, bahwa ayat-ayat Allah dalam Qur’an AlKarim selalu mengajak kita berpikir dan mengajak kita berhati-hati sebelum bertindak? Itu bagi kita-kita yang mau jernih berpikir dan mau mengimaninya secara keseluruhan, bukan hanya sepotong-sepotong! Termasuk upaya ‘preventive’ Allah di dalam mengatur pergaulan antara laki-laki dan perempuan adalah ayat yang mengatur tentang zina… ‘ Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk “ (Al-Isra’:32) Ini adalah ayat yang sangat menarik untuk dibahas dan direnungkan. Mengapa Allah tidak memakai kata-kata yang langsung pada poinnya Misal, ‘jangan Zina!’ ? Ayat itu sebenarnya dapat kita jadikan perenungan bahwa aktivitas apapun berawal dari hal-hal kecil. Tidak mungkin seseorang tiba-tiba langsung Zina kan ??? Pasti sebelumnya ada aktiviatas awalannya. Itulah, bahwa Allah mengatur sesuatu jauh sebelum sesuatu itu terjadi.

63

Memang, Islam nggak pernah ada statemen ‘nggak boleh pacarn” tapi, coba doong kita lebih cerdas untuk menganalisis, aktivitas apa saja yang dilakukan orang-orang yang lagi kasmaran dan pacaran ? (memikirkan, berkhayal, bersentuhan, berpelukan, mencium, berduaan (khalwat), bercampur baur (ikhtilat) ) nah.. semua itu berarti “mendekati zina, kan”? aktivitas-aktivitas itulah yang selalu menjadikan para pelakunya inginterus menerus melakukan, sampai kadang tak terkendali. Akhirnya, terjerumus pada zina sesungguhnya yangberarti persetubuhan antara laki-laki dan perempuan yang belum menikah! Swear itu benar! Semua aktivitas pacaran selalu menjurus pada seks! Atau minimal kecenderungan syahwat, gairah! Zina sendiri artinya luas. Bukan hanya masalah persetubuhan yang tidak halal.Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah : Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinahan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua telinga zinanya mendenganr, lidah zinanya berbicara, tangan zinanya memaksa (memegang, dsb),kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhasrat dan berharap. Semua itu diwujudkan oleh kelamin atau digagalkannya” (HR.Bukhori) Nah, makanya, semuanya bertahap kan ? apa-apa yang dilihat, didengar, dibicarakan, disentuh dan apa saja yang kita berjalan menujunya, yang tidak halal dan berharap pada hal-hal yang belum halal untuk kita berarti ‘mendekati zina’ dan akhirnya, semua akan menggiring pada zina sesungguhnya. Karenanya, Allah sudah membarengi aturan-aturan pergaulan lawan jenis dengan menundukkan pandangan, menutup aurat supaya antara lakilaki dan perempuan tidak saling memancing aktivitas deket-deket zina! Apa masih mau bikin alasan lagi ? Makanya, dengan begitu, apa kira-kira pacaran pantas dilakukan oleh para muda muslim? karena jelas aktivitas ini akan melegalkan seseorang untuk mencoba semua tahapan ‘mendekati zina itu’! Emang nggak pernah ada istilah La tapaccaru (jangan pacaran) he..he.. Tapi, mbok ya

64

cerdas dikit doong kalau aktivitas ini jadi pintu masuk zina. Sesungguhnya hanya orang-orang yang mengerti yang dapat mengambil pelajaran Eit… jangan nyari alasan bahwa pacaran kalian nggak pakai aktivitas-aktivitas begituan , jangan mencari alasan pembenar kalau kalian “pacaran islami” segala ! Itu makin parah. Wong ndeketin zina aja nggak boleh, kok! Apalagi pakai Istilah pacaran Islami segala! Makin nggak nyambung!! Pacaran Islami yang gimana, coba? Yang kalau nulis surat romatis pakai kalimat-kalimat thoyyibah ? Yang mengganti dan mencari pembenaran “apel” dengan ‘menjalin silaturahim’  ? yang ngajakin yayangnya pengajian ? Diboncengin tapi nggak nyentuh? Gimana kalau ngerem mendadak? Yang ngaku ‘kakak’ atau ‘adek’ ?  Weleh-weleh! Kalau semua kemakshiyatan atau aktivitas yang syubhat bahkan cenderungf haram dilabelin “islami” semua…. Bisa-bisa semua kacau balau! Sudahlah,… jangan menjalankan Islam hanya sebagian, yang menyenangkan saja bagi kita. Tapi Ok??? please, pahamai Islam secara menyeluruh dan berproses untuk melakukannya setahap demi setahap,

15 Mari Menertawakan Pacaran !!!
Pernah meerhatiin (sengaja atau nggak sengaja) orang lagi pacaran kan ? Gimana kelihatannya ? norak ya ? Abis, kadang mirip anak kecil, trus pada suka nggak tahu sikon dan tempat. Bikin jijay yang liat aja (bukan ngiri lhoo) Apalagi kalau alasan-alasan yang diatas (nomer 1-13 ) masuk diotak kiri kalian.. swear deh! Kayaknya aktivitas baku syahwat ini emang bener-bener nggak bikin orang jadi lebih baik. So.. kalian wajib non aktif dari sana !

65

Orang-orang yang jadi aktivis pacaran apalagi yang udah nyandu, bikin alasannya juga jago. Meskipun semua alasan-alasan mereka itu sebenarnya cuma buat bikin pembenaran aja sama aktivitas rawan zina ini. Sudahlah friends, semua yang telah diwanti-wanti sama Allah tuh jangan dilancangin . Kalau nekat bisa berabe. Kalian yang masih pacaran mendingan segera bebenah deh. Kalau emang udah siap nikah, nikah aja kalau belom….. banyak puasa, perbanyak aktivitas positif he..he.. Pacaran adalah pemenuhan yang salah akan kebutuhan fitrah manusia. Makanya orang yang pacaran itu sebenarnya tidak benar-benar terpenuhi kebutuhan fitrahnya karena dia nggak jadi tambah tentram, E… malah tambah kacau. Padahal kan Allah berfirman, dalam surah Ar-ruum:21 bahwa manusia diciptakan berpasang-pasangan supaya merasa tenteram satu sama lain . Nah ketentraman itu hanya bisa dicapai dengan cara yang disukai oleh Allah bukan cara-cara maksiat yang justru semakin hari semakin menjerumuskan para pelakunya kepada kenistaan dan ketakutan. sudah begitu, apa iya kata cinta selangit itu masih berlaku ??? Mari menertawakan pacaran, sebagai aktivitas yang nggak jelas definisinya, batasanya, orientasinya , dan cuma buang-buang waktu. Nggak maksa sih, tapi kayaknya wajib diikuti sebagai generasi-generasi modern, mestinya kita juga nggak meniru orang-orang jahiliyah dan budaya jahiliyah modern yang sudah mulai menghembuskan pemikiran-pemikiran untuk kembali ke cara-cara primitif dan bebas moral dalam bergaul, berpakaian dan berpola pikir. Na’udzubillahi min dzalik! Jodoh ditangan Allah, bukan ditangan pacarmu. Maksudnya, biar sudah pacaran jungkir balik kalau Allah menentukan bukan jodoh ya… nggak kesampaian, nah kalau udah gitu, kita nggak bisa kan mendahului kehendakNya ??? Minta saja sama Allah dan tempuh jalur yang bener buat mewujudkan perasaan cinta dan kasih sayang. Ketawain saja dan tinggalin semua aktivitas –aktivitas yang melenakan sambil bertekad bahwa kalian pasti bisa jadi para perempuan dan laki-laki yang dijanjikan Allah akan mendapat yang terbaik. He..he.. No pacaran no cry! Gitu kan ???? Kalau

66

Jangan bertoleransi terhadap kema’shiyatan sekecil apapun! Sebab kita tidak pernah tahu kapan kita dapat menutup keburukan-keburukan yang pernah kita lakukan dan bertaubat atasnya

Wallahu a’lam bish-shawwab

Bagian IV

Terus Gimana, dooong ?????

1. Mencari sumber “PD” Kita 2. Sekali Lagi; Kalau Sekedar Pacar ….. (ogah, ah!) 3. Bergabung dengan geng IJO dan semacamnya 4. Nggak pacaran = Kuno ? (yang bener aja!) 5. Cinta Buat Semua! 6. Say No to ‘taqrabuzzina’ 7. Save our aqidah! Nggak ada toleransi buat pacaran-nikah beda agama! 8. Ortu, dengerin kita-kita , dong!

67

Bagian IV Terus Gimana, doong ????
Memang susah kalau aktivitas pacaran sudah terlanjur menjadi agenda masa muda. Habis gimana ; wong katanya yang namanya anak muda itu lagi seneng-senengnya melototin makhluk cantik atau tampang keren ?! Para aktivisnya (pacaran) juga sudah pasti agak sayang cabut dari aktivitas baku syahwat ini . Tapi Sobat, kalian sudah terlanjur baca buku ini! Sudah terlanjur ngerti kalau yang namanya pacaran itu, bagaimanapun alasannya kagak pernah ada dalam aturan Islam. Buat kalian yang terlanjur mengaku muslimmuslimah, menuruti Islam mah bukan resiko, tapi memang sudah menjadi konsekwensi seorang muslim untuk masuk Islam secara kaffah (menyeluruh) meskipun untuk menuju kesana memang butuh atau menentang ajarannya. Hukumnya orang yang mengerti itu ya…melakukan. Coba deh, nonaktif dari aktivitas rawan zina ini. Susah memang tapi bisa kalau diniatin, karena Islam nggak pernah memberikan kesusahan untuk orang-orang yang mau meniatkan dirinya menjadi lebih baik. Rasa pengen coba-coba pasti masih suka pasang tampang manis dan memelas supaya kita mau ngikutin hawa nafsu lagi. Jangan mauuuuuuuu!!!!! berproses. Jadi, jangan merasa jadi hero apalagi merasa sok modern kalau sudah bisa melanggar

68

Yang namanya pengen jadi lebih baik ‘kan setannya juga tambah banyak, gedhe-gedhe dan tambah keren, he..he.. (masa’ kalah cerdas sama setan ?) Dibagian ini ada beberapa terapi yang mungkin bisa kalian coba untuk proses ngilangin kecanduan pacaran kamu, terus yang belum tercebur kedalam aktivitas ini, juga boleh mencoba terapi ini untuk menjaga stamina ruhiyahmu !

1. Mencari Sumber ‘PD’ Kita
Atas apa kita bertingkah laku ? Apa yang menjadi sumber percaya diri kita selama ini ?  Setiap percaya dirinya. Sayang kalau kita masih menjadikan ukuran-ukuran materi menjadi sumber percaya diri. Orientasi hidup dan sumberpercaya diri akan menjadikan seseorang berbuat baik atau buruk. Orang yang tujuan hidupnya kekayaan maka semua orientasinya adalah uang, gelar, kedudukan. Maka tidak heran bila dia akan bekerja keras banting tulang (awas remuk), jungkir balik , bahkan bila dalam dirinya tidak ada penyeimbang moral yang baik , akan memakai cara yang tidak halal untuk menca[pai tujuan hidupnya. Orang tipe seperti ini akan merasa percaya diri atau lebih percaya diri apabila dia telah memiliki deposito yang tujuh turunan kagak habis, nongkrong di mobil terbaru, rumah bagus dan lain-lain yang membuat dia tampak ‘wah’ didepan orang lain. Orang yang orientasinya popularitas gitu juga. Dia akan melakukan apa saja supaya popular. Misalnya cari gebetan yang tajir, terkenal, makanya kadang jelek juga it’s ok asal tajir ‘n terkenal kan lumayaan.. Atau berpenampilan aneh agar diperhatikan, sampai melakukan perilaku-perilaku orang akan berperilaku sesuai degan apa yang diorientasikan,. Termasuk berperilaku yang dengan itu terdongkrak rasa

69

yang membuat orang jijik agar dia popular (ngebor misalnya, he..he..) Orang akan percaya diri dengan hal-hal yang dapat muncul dari dalam dirinya. Salah ? tidak selalu. Kepercayaan diri adalah sesuatu yang harus dimiliki oleh semua orang agar dia dapat eksis dan memberikan kontribusi untuk sekitarnya, bukan hanya dirinya. Hubungannya dengan pacaran dan tidak pacaran ? Jelas ada! Pasti masih banyak diantara kita yang belum pernah merasakan gimana sih pacaran (termasuk yang nulis). Lihat saja disekitar kita atau malah pada diri kita sendiri. Bila seseorang telah menjadikan pacar , penampilan fisik, dan penaklukan lawan jenis sebagai orientasi hidupnya. Ya,wis! Dia akan berperilaku yang mendukung kesana. Orang semacam ini (cewek atau cowok) akan merasa percaya diri bila kulitnya putih, misalnya (sampai memaksakan diri dan menghabiskan bertube-tube krim pemutih, padahal dari sononya emang sudah iteeem!!!), bodinya dibikin sempurna, latihan otot, maksain diet, kalau olahraga buat memenuhi hak tubuh memang wajib tapi kalau niatnya Cuma untuk sekedar tampil ‘menarik’ ?! Nah, pokoknya model – model cowok-cewek seperti ini akan berusaha sedemikian rupa supaya menarik didepan lawan jenisnya! Kalau perlu sampai banting harga (diri)! Parah kan ?! Nggak PD karena sampai segedhe ini belum punya pacar ? hmm itu menggelikan! Masih banyak yang dapat dilakukan dimasa muda selain pacaran ! Nggak mungkin pacaran menjamin kita jadi lebih percaya diri. Buktinya? Justru banyak orang yang tampil penuh polesan saat mereka punya pacar. Jerawatanlah, nggak putihlah, rambutnya nggak baguslah (karena kalau bagus kan bisa dibelaiiii!!), cinta karena inner beauty waktu pacaran? Itu jarang! Percaya ,deh! Bila salah satu ukuran kepercayaan diri kita adalah pacar; sayang sekali! Bila ukuran itu hanya hal-hal fisik, apalagi! Semua cuma bertahan sesaat! Akibatnya ? Kita tidak akan bisa tampil sebagai diri kita saat semua polesan itu lenyap, memudar. Seperti Cinderella saat pukul 12 malam! Makanya, PD aja ! Jangan jadi pacaran oriented yang kalau sudah keterusan bisa jadi sex addict!

70

Seseorang yang sumber percaya dirinya bukan terletak pada orang lain (pacar, temen, sahabat) maka dia akan menggali potensi baik yang ada pada dirinya dan tidak tergantung pada orang lain (misal: kebaikan hati, keramahan, ketulusan hati, kepribadian yang dinamis, wawasan yang luas, pergaulan yang sehat dan luas). Orang muda model begini, nih (apalagi yang mentalnya sehat, orientasi hidupnya jelas) yang biasanya nggak terlalu bernafsu untuk neko-neko (kalau ada, itu sih luar biasa alias kasus!) Karena orang-orang seperti ini orientasi hidup dan cita-citanya pasti dan jelas, maka mereka tidak akan mau apabila ada hal-hal yang sia-sia merecoki rencana-rencana masa depannya; termasuk pacaran! Mereka juga biasanya tampil wajar tanpa berusaha memaksakan diri untuk ‘sempurna’ di depan orang lain. Sebab mereka yakin bahwa setiap kali ia terus belajar dan untuk lebih baik dan memacu prestasinya, maka mereka secara otomatis akan menjadi lebih percaya diri dan menyenangkan bagi orang lain. Gituuu! Nah, gimana ??? Temukan rasa percaya diri kita, maka kita akan semakin yakin bahwa kita yang masih sorangan wae saat ini diberi kesempatan oleh Allah untuk lebih banyak beramal, berbuat baik, senantiasa optimis bahwa dengan banyak berbuat lebih baik ,kita akan dipertemukan dengan orang yang tepat, dengan proses yang baik, indah dan halal. Lagian dengan begitu kita akan lebih banyak bersyukur dan tidak tergantung pada orang lain, tidak terjebak pada ‘kesetiaan’ yang kita berikan pada manusia yang belum tentu tepat apalagi kalau justru bikin hidup kita amburadul ditambah predikat dosa lagi! Nggak kuaaat! Sumber percaya diri ada pada Allah SWT sebab Allah selalu mengerti apa yang kita butuhkan. Allah pencipta dan penggenggam hati, rasa, kehendak, akal dan jasad. Maka sudah barang tentu interaksi kita, komunikasi kita dan intensitas kedekatan kita pada Allah-lah yang menjadi sarana mendapatkan kepercayaan diri yang hebat. Dia tidak pernah bosan pada kita, mendengar keluhan kita dan memberi solusi. Kekasih kita , Allah, justru semakin mendekat saat hambanya memohon padanya. Nggak seperti pacar-pacar kita yang sudah mulai main bentak sampai main nampar (emang

71

situ siapa? Pakai nampar-nampar anak orang?!), E….. minta putus, lagi! Ngacir, ngumpet kalau lagi ada masalah. Mari mulai dengan menjadikan Allah sebagai sumber

kepercayaan diri, sehingga perilaku kita, (termasuk didalamnya rasa cinta yang halal) berproses dengan cara-cara yang disukai Allah

2. Sekali Lagi, Kalau Sekedar Pacar? (ogah, ah!)
Ini sikap tegas yang musti kamu lakukan kalau ada makhluk yang pengen njadiin pacar (buat yang cewek) atau makhluk yang enggan kamu putusin (buat cowok) atau buat makhluk yang ‘maksa’ pengen jadi pacarpacar kalian! Biar hati kalian naksir berat, kamu musti teguh bahwa nggak pengen cuma jadi pacar orang atau sekedar macarin anak anak gadis orang. Emang susah, tapi swear! Kalau kamu sudah bisa menaklukkan hawa nafsu. Dijamin kamu bakal bangga banget (itu namanya juga jihad, lho) . Selain itu, berpegang teguh pada ajaran Allah kan pahalanya gedhe banget! Tapi kan nggak gampang nglupain semua kenangan manis bak permen yang pernah dijalanin ? (hik..hik) Apalagi kalau tiba-tiba ngasih kartu merah tanda putus sama do’i. Tapi kan memang orang pacaran lumrah kalau putus-nyambung ? Bukankah sewaktu kalian pacaran dahulu memang sudah punya niat ‘cadangan’ ? (kalau nggak cocok ntar kan bisa gue putusin dan cari lainnya) iya kan ??? Nah, sekarang itu kamu benerin. Kamu putusin pacar kamu karena memang sudah tahu kalau pacaran itu mendekati Z- I-N-A. Makanya kamu harus ksatria dengan ngasih pengertian ke pacar kamu atau cewekcowok yang naksir kamu, kalau pacaran itu nggak ada dalam Islam. Lagian, kalau memang sudah cocok ‘n siap… serius saja, nikah kalau berani!. Kalau jodoh pasti akan dipertemukan Allah dengan cara yang lebih baik. Diketawain ? Dibilang sok suci ? It’s oke! Memang kita dalam rangka ‘mensucikan’ diri kaaan? Itung-itung da’wah!

72

Perih, sakit, nyesel itu wajar kok! Tapi pasti bisa sembuh. Nggak akan lama. Toh sama saja kamu putus sekarang atau nanti, kamu ditolak sekarang atau nanti, mendingan kan sekarang saja! Bersakit-sakit dahulu berbahagia kemudian (asal yakin sama Allah). Perlu latihan, sih tapi Islam itu nggak sulit, kok! Tinggal masalah yakin atau nggak, mau atau tidak! Buat kalian yang ditolak ‘lamaran’ jadi pacarnya orang, atau kalian yang baru saja diputusin. … Nggak masalah! Mungkin memang sudah saatnya kalian kembali kejalan yang lurus he..he..dan itu bukti kasih sayang Allah supaya kalian nggak kelamaan jadi aktivis maksiat dengan lawan jenis atau supaya kalaian (yang ditolak) nggak kecebur ke aktivitas rawan zina ini. So… kagak usah lah sampai dibela-belain daftar ke RCTI cuma buat nimbrung di acara Katakan Cinta yang menampilakan perjuangan norak cuma buat ngomonng I love You en ngedapetin ‘seseorang’. Wong cuman jadi PACAR, ogah aaah!

3. Bergabung Dengan Komunitas IJO dan Semacamnya
Ha..ha..ha.. bener, tuh! Kalian yang nggak punya pacar, berbahagialah! Bukannya menghibur diri, lho! Tapi bener, kok!. Kalian nggak perlu frustasi karena nggak ada yang nembak! tapi swear itu justru karena kalian memang orang-orang pilihan yang beruntung masih nge-jomblo sampai sekarang (PD aja lagi!) . Justru dengan ke-jomblo-an kita sekarang , banyak hal positif yang bisa kita lakukan ! dan yakin, deh .. kelak kita akan mendapatkan seorang pendamping yang baik yang dikehendaki Allah. Asal, kalian jadi para ‘jomblo’ yang baik. Nggak jelalatan apalagi tebar pesona. Cool and confident gitu! Bagi para jomblo (ga’ punya gandengan, pacar dan sejenisnya) segera saja bergabung dan atau membuat dengan ‘Geng IJO’ , bukan ikatan jenggot osamah  tapi Ikatan Jomblo Oke, atau Jojoba (Jomblo-Jomblo Bahagia) ha..ha.. Bikin hidup kamu lebih hidup dengan aktivitas yang nggak

73

rawan maksiat. Siapa bilang pacaran wajib dimasa muda? Bohong, tuh! (iklan banget, ya!) Semestinya kita yang nggak pernah dipacarin, ditembakin, diisengin, dinikmatin tanpa hak (aduh kasar banget) mempersiapkan diri perlu bersyukur dan bahagia. Kenapa? Karena banyak waktu yang diberikan Allah untuk menjadi para muda yang punya banyak peran bagi dirinya dan orang lain. Nggak masalah kok kalian hengkang dari aktivitas pacaran atau menobatkan diri untuk tidak pacaran. Kagak ade ruginye! Gabung atau bikin komunitas yang saling memberi motivasi untuk berprestasi, yang didalamnya berisi orang-orang muda yang asyik punya, energik, nggak cuma melamuuun melulu Percaya nggak percaya, anak-anak muda yang sibuk dengan banyak aktivitas, keinginan pacarannya juga rendah. Karena nafsu seksnya terkendali . Karena memang menurut Abdullah Nashih ‘Ulwan, masa muda adalah masa yang penuh gairah, energi, tujuan hidup yang kuat, dan juga kreatifitas. Nah, kalau pada masa itu kita melakukan 2 hal yang terpenting: memilih pertemanan yang baik dan juga melakukan alternatif kegiatan yang bermanfaat (juga mengiringi perbuatan buruk dengan kebaikan-kebaikan) . Insya Allah, deh! kita mudah untuk memperbaiki diri dan nggak ngiler sama hal-hal yang bikin kita jadi sohibnya para setan. Friend, kalau dipikir-pikir, coba kalau kita paksakan pacaran, berarti kita memperpendek masa sendiri kita dengan mengambil beban yang sebenarnya belum waktunya! Misal, kita mesti ngeluarin duit setiap kali apel, padahal masih minta ortu, stress mikirin kalau pacar kamu mulai ngambek, dll, pusyiiing! Wah, itu sih menghambat revolusi!ha..ha.. Makanya, mending perbanyak tuh, gaul sama orang-orang yang masa mudanya sudah sibuk dengan hal-hal yang nggak cuma buat diri sendiri! Banyak teman, banyak karya! Sobat, sudah kuno, semboyan : kecil dimanja, muda hura-hura, tua kaya raya, mati masuk sorga. Ih. Emang bisa begitu??? Omong kosong, tuh! Sudah nggak jamannya orang muda cuma ngelamun di kamar, ndengerin

74

lagu-lagu cengeng, nangis en ga’ mau ngapa-nagapin, ngurung diri di kamar cuma gara-gara putus sama si do’I, seenaknya sendiri di sekolah,kekampus cuma buat prestise. Wahhh, kuno! Buat diri kita jadi jomblo-jomblo bahagia yang orientasinya tidak cuma having fun. Tua itu biasa, tapi dewasa itu pilihan. Hidup itu biasa tapi hidup mulia itu pilihan (gitu nasehat seorang teman) Makanya, jangan nyesel kalau kalian yang masa mudanya militan banget jadi kadernya ‘setan’, fundamentalis maksiat, jago ngrusakin anak gadis orang, dan yang gadis doyan ngumbar bagian tubuh, biar jadi piala bergilir, dipacarain sana-sini padahal ‘bahenol’ (badan uzur tapi hebat otak eNol). Hati-hati saja kalau kita termasuk yang beginian. Jangan-janagn nanti kalian nggak sadar usia makin belum sempat membuat sejarah! Boro-boro bikin sejarah buat Well! Say no to Pacaran and Sex before marriage! PD saja bahwa kita adalah orang-orang muda yang punya cara berpikir ‘berbeda’ dari para muda kebanyakan, yang sekarang sudah mulai mengukur kepercayaan dirinya dengan polesan-polesan. Saatnya akan tiba, seseorang datang dengan cara yang baik, yang nggak cuma pengen kita jadi ’pacar’ nya, yang nggak cuma ‘cinta’ sama kulit mulus dan rambut hitam tergerai. Yang memetik bunga dari tangkainya dengan izin, bukan menebas apalagi merampok! Bukan jadi Rahwana yang menculik dan merusak masa depan Shinta! Bukannya ini bikin kalian berkhayal bak Cinderella yang merindukan Pangeran. Tapi, kalau emang mau dapet seseorang yang sholeh ya… berusaha jadi sholihah, doong. Kalian para cowok juga gitu! Kalau pengen dapet perempuan yang sholihah, ya… perbaiki diri, doong! Dan semua itu butuh kesabaran nggak gubrak-gabruk , tembak sana-sini. Seleksinya pakai waktu, pakai kesabaran, pakai tanggung jawab bukan pakai strategi gontaganti pacar! Kaya’ kamar pas aja! OK? Selamat bergabung di komunitas IJO dan sejenisnya, lebih baik ngejomblo sementara dari pada jadi Gen BI (generasi Bianag) ma’siat sama lawan jenis! Wallahu a’lam bish-shawwab orang lain , buat diri sendiri saja masih kacau beliau, gitu!!

75

4. Nggak Pacaran = Kuno??? (yang bener, aja!)
Bohong banget kalau konco-konco kalian pada bilang nggak pacaran itu kuno. Itu cuma buat bikin kalian minder saja. Kalau temen-temen gaul kita adalah orang-orang yang jago banget pacaran. Dari mulai stadium rendah sampai horo, nggak salah kalau kalian yang pada berjuang keluar dari aktivitas baku syahwat ini dibilang kuno. Sobat, sudah jamak kalau orang-orang yang mau mencoba mIslam secara syumul (menyeluruh) pasati tantangannya justru dari orangorang terdekat. Teman, keluarga, pacar, sahabat. Wis, lah! Itu sudah jamak aliasa lumrah. Sudah lumrah dan sunnatullah kalau oranmg-orang yang nyoba memulai menggunakan cara-cara Islam dari mulai berpakaian, makan, sampai cara gaul selalu dianggap asing. Karena masyarakat (bahkan orangorang Islam sendiri) sudah mulai ‘malu’ memakai budaya dan cara hidupnya sendiri (Islam). Berbahagialah orang-orang yang dianggap asaing, karena kita nggak mau ikut-ikutan rusak! Gimana enggak asing, coba ??? Lha wong disaat para cewek melepas hampir semua bajunya, atau memperketat pakainya hingga yang paling jelas kelihatan relief tubuhnya, justru dianggap yang paling seksi, gaul, funky, modern, ngetrend! Eh… Islam malah ngajari para perempuan yang sudah mulai baligh, mulai gedhe, ABG, untuk menutup semua tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan! Bukan cuma itu, syarat pakaian para perempuan nggak boleh ketet (kalau ketat sama saja, doong!), nggak boleh transparan (kalau transparan kan malah kaya aquarium, yang ditutup tapi kelihatan jelaaas banget lekuk-lekuknya, nggak boleh nyerupain cowok, trus juga harus menutup dada (bukan kerudung yang cumin ngiprit dan menekak leher, soriiii banget , deh yang kesindir! Dilarang protes, abis emang aturan qur’an dan sunnah kaya’ gitu ! ). Asing, kan ??? Padahal, mana ada yang tahan godaan mode sekarang? Islam, ya Islam tapi gaul doong! Jilbaban, ya, jilbaban, tapi modis, doong! Gitu alasan pemaafnya . Jadilah mereka nanggung dalam berpakaian. Mulailah menjamur mudi-mudi muslimah yang pakai baju, ketat, trus pakai ‘kerudung’

76

nanggung dan malah lebih parah, kalau pas nungging kelihatan juga punggungnya! Nggak beda sama yang non-muslim! Padahal, dengan berpakaian seperti syarat diatas , dengan desain langsung dari Allah, kaum muslimah itu diangkat derajatnya supaya ‘beda’ sama kebanyakan orang, agar berbeda, agar nggak diganggu! Firman Allah,
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mu’min3, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya dikenal, karena itu mereka tidak diganggu” (al-Ahzab : 59)
4

keseluruh tubuh mereka’. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk

Itu baru masalah pakaian. Belum lagi masalah menjaga pergaulan. Para lak-laki dan perempuan muslim nggak boleh berdua-duan, atau campur baur tanpa batas. Dituntunkan menjaga pandangan, nggak boleh jelalatan karena dari mata turun ke hati dan dari hati memancing syahwat. Makanya kaum Adam dituntunkan lebih menjaga panadangannya dan kaum Hawa diwajibkan menutup aurat. Adil kan ? Nggak malah ngumbar pusar, paha dan semua bagian tubuh tanpa sensor. Huh! Kalian pasti banyak yang ngerasa jadi orang Islam itu beraaaaaaaaaaat banget, ya? Tapi Insya Allah nggak masalah kok, kalau kita berusaha melatih diri. Lagian, ini bukan resiko, Friends! Tapi konsekwensi buat kita yang memang sudah memilih Islam sebagai agama dan pedoman hidup. Balik kemasalah pacaran, kalian yang insyaf dari aktivitas ini sedini mungkin , Insya Allah beruntung banget! Perkara kuno atau tidak itu sih relatif ! Kalian yang pakai baju terbuka dan mengumbar semua aurat itu juga bisa dibilang kembali ke masa kuno atau termasuk orang-orang yang masih primitif! Soalnya, mana ada sih manusia yang berpakaian lengkap dijaman purba ? atau .. dengan kata lain, hanya manusia –manusia yang belum tersentuh ‘kebudayaan beradab’ saja yang pakai pakaian ‘seadanya’. Kesimpulannya; kalau kita ngumbar aurat ??? Pikir aja sendiri! He..he..

3 4

3. termasuk seluruh kaum perempuan muslim, yang sudah akil baligh Jilbab: serangkaian pakaian longgar yang menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan , berarti termasuk kepala!

77

Kalian yang pacaran sampai berpuluh-puluh kali (apalagi sampai ngelakonin sex before marriage) juga bisa dibilang kuno. Habis, nggak beda sama ayam dan kerbau (ih, sadis!) Pasalnya, orang-orang beradab akan memakai cara-cara beradab dalam memenuhi naluri fitrahnya. Lagian, kalau enggak pacaran itu dibilang kuno, dan yang kuno itu membuat kita ‘lebih berharga’, kenapa nggak??? Ibaratnya, barang antik itu mahal harganya. Betul nggak?Barang antik itu mahal harganya karena nggak semua orang bisa memiliki! Nyari cewek-cowok yang terjaga dan nggak pernah ngumbar syahwat untuk dipacari atau memacari orang (padahal baru seru-serunya gejolak jiwa muda) itu jarang, lho sekarang! Langka! Makanya, kalian yang kukuh nggak pacaran atau langsung non-aktif dari aktivitas ini karena yakin akan tuntunan Islam , berarti masih orisinil! Kita-kita yang nggak pacaran ini bukannya minder, tapi memang karena kita ‘barang langka’, stok terbatas! Hanya untuk orang-orang yang mau serius dan bertanggungjawab, nggak cuma buat para penggagumpenggagum keindahan fisik ! Kalau cuma niat cari pacaran suruh saja cari yang lain dan yang mau cuma dipacarin ! He..he.. Jangan mudah dirayu! Percaya deh…, cewek-cowok berperinsip teguh itu banyak yang nyari, So… PD aja, lagi!

5. Cinta Buat Semua
Usia remaja adalah masa-masa penuh warna. Seperti sudah ditulsi diatas, masa muda adalah masa terbaik untuk mengembangkan diri dalam sebuah komunitas pertemanan yang luas. Saat usia kita antara 13- 19 tahun adalah masa yang paling tepat untuk mencari banyak teman. Ta’’aruf (dalam arti umum= mengenal) banyak orang. Jangan hanya dipantengin pada satu orang. Rugi !  Soalnya, pada masa-masa itu kita punya tahap pan memilih banyak teman jadi harus banyak referensi. Makanya, alami saja, just a friends, ga’ lebih! Nggak usah deh paaki istilah pacarku, pacarmu, pacarnya. Malah nggak jarang bikin mumet. Jujur saja, biara kata punya pacar, toh kita masih

78

pengen punya banyak teman kan ?Padahal biasanya pas punya pacar justru banyak yang sok memiliki dan sok ngatur. Buat terapi diri sendiri dan nggak berusaha memberi ‘harapan’ sama orang lain. Tebar cinta dan kasih sayang kita saat remaja dan hingga nanti menjelang dewasa pada semua makhluk Tuhan, jangan pilih-pilih. Biar kita juga banyak yang sayang. Tapi pakai cara yang bener. Lebih baik nggak usah TP (tebar pesona) pada satu makhluk Allah saja. Ini bisa bikin kita salah tingkah dan salah beneran. Bisa-bisa malah broken heart. Eleuh-eleuh! Soalnya, hati orang kan Allah yang tahu. Teman, Islam dari sononya adalah agama yang sarat kasih sayang. Pada orang yang lebih tua, pada yang lebih kecil, laki-perempuan, miskin-kaya semua sama. Cinta untuk semua, cinta komunal. Bisa dibiasakan, kok! Bagi kamu yang lagi terpinky-pinky (alias kena virus merah jambu, alias ‘jatuh cinta’) sama seseorang mendingan kamu juga kasih pengaruh cinta kamu itu keorang-orang disekitar kamu juga. Paling-paling juga pada heran, kok kamu tiba-tiba baik hati, jadi makin murah senyum, misalnya. Cinta itu energi positif, makanya orang yang merasakannya semestinya juga bisa memancarkan energi positif itu kepada semua makhluk Allah. Ke-GR-an itu nggak nyaman, nggak enak! Bikin orang lain GR juga tidak baik. Daripada bertepuk sebelah tangan dan kaki, mendingan kita membuat semua orang bertepuk tangan menyambut cinta kita yang tulus, tanpa pamrih, dan selalu membuat suasana selalu menyenangkan. Ukhuwah jadi tanpa hambatan! Nah, bila saatnya tiba, dan mantap untuk mengkhususkan cinta dan menjadikan seseorang sebagai partner hidup, tempuh dengan cara yang lebih baik. Dengan proses-proses yang terjaga dari sekedar kecenderungan fisik dan kekaguman sesaat. Tempuh dengan cara yang halal (tau doong maksudnya!) . Soal yang ini sih.. bukan disini dibahasnya (nggak enak dong sama para ahlinya!)

6. Say No To ‘Taqrobuzzina’

79

Ini sikap tegas untuk kita

para muda Islam. Para muda-mudi

Islam harus jadi pelopor bagi perang melawan Zina , melawan aktivitas dan sarana-sarana pemantik syahwat. Seperti yang sudah dibeberkan daiatas, nggak mungkin Allah dan Rasul-Nya memberi wanti-wanti yang sangat tegas terhadap apapun yang bisa mendekatkan manusia pada salah satu dosa besar : ZINA Kita yang menobatkan diri sebagai para aktivis Islam dan juga yang sudah ‘telajur’ mengerti kalau Zina itu bermula dari ‘deket-deket’ ke halhal yang memancing zina itu sendiri. Atau kita yang sat ini baru saja berjuang untuk non-aktif adri aktivitas rawan zina berjudul PACARAN, harus tegas menanamkan pada diri sendiri: “La taqrobuzzina! Apalagi zina beneran, na’udzubillah min dzalik” Biar buku ini nanti dibilang jadi’provokator’ anti pacaran dan bikin kalian yang nge-fans dengan aktivitas ini kegerahan, kita mesti maju terus! He..he.. Tegas saja lah.. nggak ada pacaran , nggak ada zina. Sebenarnya, kalau mau jujur, nggak ada alasan yang bisa menguatkan bahwa pacaran itu bebas zina! Mau pakai alasana apapun, tetap saja semua hal yang ‘nyerempet’ ke zina itu dilarang dalam Islam. Wong memandang saja disuruh nunduk apalagi pakai sentuh-sentuhan tangan. Nggak Mauuuuu!!!! Friends, aturan-aturan Islam kalau diamati memang lebih menekankan upaya pencegahan ‘preventive’. Aturan Islam mencegah suatu perbuatan sebelum perbuatan itu menimbulkan akibat buruk yang lebih besar. Makanya, sekali lagi, Allah menuliskan aturannya dengan ‘jangan mendekati zina’ supaya kita berpikir kedepan. Allah Maha Cerdas. Kalau kita mau hengkang dari hal-hal yang sudah kita ketahui hukumnya (haram atau syubhat), ya kita harus berusaha mencobanya secara total. Cuma buat ngingetin lagi, banyak peradaban yang hancur gara-gara para penghuninya maniak sama kema’siyatan. Seks bukan buat coba-coba. So… buang semua niat buat deket-deket zina. Termasuk sarananya! Maka, yuk bareng-barenga jadi ‘pejuang’ anti Zina!

80

Cuma kita yang bisa menerapi diri sendiri. Orang lain mah cuma mengingatkan. Anti pacaran anti zina. Biar sorangan asal nggak nyerempet dosa. Daripada sesayangan tapi bikin celaka.

Stop Free sex and Free’love’ NOW!

 7. Save Our Aqidah! Nggak ada toleransi Untuk Pacaran-nikah Beda Agama!
Ibarat bangunan, Islam terdiri dari tiga bagian ; fondasinya, bangunan diatasnya, trus atapnya. Coba bayangkan (bayangkan lho,ya!) gimana kalau sebuah bangunan itu fondasinya tidak dibuat sekokoh mungkin ? Atau ibarat pohon akarnya nggak menghujam ketanah? Otomatis bangunan itu akan roboh sat diterpa angin. Betul, nggak? Islam berfondasikan aqidah, bangunan diatasnya adalah ibadah dan akhlaq, dan atapnya (pelindung bangunan itu) adalah jihad dan amar ma’ruf nahi munkar (jihad nggak cuma perang fisik, Boo’!) Seseorang yang aqidahnya mantap, keyakinannya pada Allah 100%, nggak ada seselip pun syirik-syirik yang bikin hati ciut dan bikin kita menduakan Allah, so pasti akan mempengaruhi cara hidup, akhlaknya dan semua hal dalam dirinya. Dia akan menjadikan Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman sebagai kawan dekat. Aturan Allah dan Rasul juga menjadi rujukan berpikir. Ibaratnya, mau ngapa-ngapain, lihat dulu bagaimana Allah dan Rasul memberi pedomannya. Saat ini, ditengah deras arus pelunturan aqidah, kita para pemuda muslim-muslimah wajib bersatu padu untuk salaing menguatkan aqidah sesama muslim. Kita masing-masing wajib menjawab : TIDAK! Untuk semua hal yang menjadikan kita melecehkan Allah dan Rasul dan orang-orang mu’min.

81

Nggak ada toleransi untuk hal-hal yang berhubungan dengan aqidah! Bukannya memprovokasi (tapi memang iya,sih) semua hubungan mu’amalah dengan sesama manusia itu dibolehkan. Tapi untuk urusan nikah dan cari partner hidup, cari sahabat kepercayaan , jangan coba-coba! Apalagi kalian yang saat ini lagi kesengsem sama cewek atau cowok diluar Islam, atau yang sudah ngelakonin hubungan kelas berat sama pacar-pacar diluar aqidah! Asal kalian tahu, upaya ‘pacaranisasi’ yang sekarang marak dilakukan orang-orang diluar muslim terhadap para pemudi muslimah adalah bagian dari skenario besar upaya perusakan atau minimal pengenduran semangat beraqidah dikalangan muslim. Kalau sudah begitu.. mana peduli sama aturan-aturan Islam yang menurut selera hawa nafsu memang bikin manusia kelihatan ‘dikekang’ . Siapa lagi yang diserang kalau bukan kita-kita para muda! Sudah saatnya kita tegas mempertahankan prinsip. Ini bukan masalah kan cuma pacaran, kan cuma temenan…justru dari sanalah timbul masalah yang lebih komplek. Barengan yuk, saling jaga aqidah. Termasuk nggak gampanggampang kagum sama makhluk keren atau cantik yang tebar pesona tapi lain aqidah (wong sama yang seakidah, saja dijagain sedemikian rupa,kok!) Orang beriman laki-laki (muslim) hanya untuk orang beriman perempuan (muslimah). Ingat, baca lagi tentang double zina! Bentengi diri. Ibarat bangunan Islam tadi… akhlak dan ibadah yang sudah kita lakukan , yang bersumber dai aqidah kita (islam) harus dilindungi dengan selalu melakukan ‘amar ma’ruf nahi munkar (saling menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran) diantara sesama muslim juga jihad ( bersungguhsungguh) memerangi hawa nafsu diri sendiri. Ini terapi paling utama.

8. Ortu, Dengerin Kita-kita, dong! (Surat pendek buat Ortu)

82

Mama-papa, Bunda…tercinta….

Bapak-Ibu,

Abi-Umi,

Mami-papi,

Ayah-

Sekarang kami mulai remaja, bahasa kerennya ABG. Kami mulai merasa ada banyak hal yang berbeda. Kami selalu ingin melakukan hal-hal berbeda dari masa kanak-kanak kami. Kalian pasti pernah merasakannya, bukan ? Kami mengerti bahwa kalian cemas dan juga bangga terhadap kami. Semoga saja begitu. Semoga kalian termasuk para orang tua yang peduli terhadap perubahan kami. Bukan orang tua cuek yang tetap memperlakukan kami seperti bocah. Mami-Papi, Ayah-Bunda, Abi –Umi, Bapak- Ibu, Mama-papa…….. Dimasa-masa kami tumbuh remaja dan menjelang dewasa. Betapa ingin kalian menyapa kami dengan penuh perhatian, betapa ingin kami mencurahkan semua kegelisahan dan gejolak masa puber kami dengan santun pada kalian. Betapa ingin kami menceritakan tentang kawankawan kami dan semua yang kami inginkan pada kalian dengan suasana yang saling menghargai dan penuh pengertian. Bukan tanggapan dingin, reaktif, kecemasan yang berlebihan, dan juga bentakan-bentakan yang membuat kami ciut. Dan akhirnya mengemis dan mengais perhatian dankehangatan diluar rumah kita . Betapa kami ingin kalian memahami bahwa anak-anak gadismu telah mulai merekah, dan anak-anak perjakamu mulai gelisah. Betapa ingin kami kalian bimbing dengan penuh kesabaran, tentang bagaimana Allah dan Rasul kami mengajarkan tentang cinta, tentang pergaulan, tentang syahwat, tentang semua naluri fitrah manusia. Orang Tua kami tercinta… Janganlah sampai kami menjadikan VCD-VCD porno, majalahmajalah porno, pergaulan tanpa batas dengan teman-teman lakiperempuan kami sebagai sahabat dan pelampiasan kami untuk mengetahui apa yang saat ini ingin kami ketahui. Janganlah kalian mengabaikan gejolak hati kami yang begitu gelisah akan makhluk lain jenis kami yang saat ini mencuri perhatian

83

kami . Jadilah sahabat pertama setelah Rabb kami, jadilah sahabat pertama kami saat kami gelisah dan jadilah tempat pertama kami menanyakan tentang hidup, menyandarkan perih, menyandarkan letih, mengurai cita, menyemaikan canda dan bahagia. Jadilah sahabat terbaik kami….. Yang mengajarkan pada kami bagaimana menjaga harga diri, yang mengajarkan pada kami tentang rasa malu , tentang menghormati orang lain. Yang mencontohkan pada kami bagaimana orang tua yang bijaksana, sebab kelak kamipun akan menjadi seperti kalian. Orang tua kami tercinta… Yakinkan pada kami bahwa saatnya akan tiba kami bersanding dengan manusia yang tepat. Jangan paksa kami untuk ‘bergaul bebas’ hanya karena seusia ini kalian selalu memberikan kebebasan-kebebasan yang kalian anggap itu wajar. Namun… setelah kami (para gadis) terenggut harga diri dan kehormatannya dan putra-putra perjakamu merusak bunga ditaman orang lain… Kalian bertubi-tubi menyalahkan kami semata. Dan mengambil jalan pintas penyelesaiannya Orang tua kami tercinta…. Allah menitipkan kami dalam perlindungan, pengayoman dan pendidikan kalian. Jadikan kami asset untuk meraih surga. Sebab kalian guru pertama kami, teladan pertama kami, kesan yang kalian tanamkan pada kami sejak belia, yang akan terus tumbuh dan menentukan apakah kami akan menjadi terhormat atau rendah, binal atau santun, liar atau sopan, mandiri atau nabja, pengecut atau ksatria, teguh atau lacur.. Orang tua kami tercinta Mari berbicara dari hati kita yang paling lembut, berbicara lebih terbuka dan bijaksana. Mari bersama kembali pada aturan Allah dan Rasul-Nya agar kami menjadi anak-anak kalian yang teguh dan meneguhkan, hanif dan menghanifkan, cerdas dan mencerdaskan, sholih dan mensholihkan ….

84

Dan tidak ada keinginan sebesar debu pun untuk mendekati kema’siyatan yang menjadikan Sang Pemelihara dan Maha Mencintai mencabut Cinta-Nya Penuh Cinta, Putra-Putrimu yang mulai ranum

Gimana Friends ? sudah merasa lebih percaya diri ‘kan untuk nggak ndeketin zina dengan jalan Pacaran ? Atau.. masih ada yang belum rela putus ?  Terserah sih! Agama itu kan nashihat. Kalau mau dinasihatin , ya mari melakukan perubahan! Pilihan ada di tangan Anda tapi jangan nyesel kalau salah pilih (sama juga maksa, ya) Akhirnya….. inget nih ucapan Nabi yusuf (yang keren itu) yang diabadikan Allah dalam Qur’an Yang Mulia ; “…….sesungguhnya nafsu selalu mengajak pada kejahatan, kecuali nafsu yang Diberi Rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Yusuf : 53)

Biar Nafsu Dirahmati Allah ?

1. Jaga Sholat, Usahakan nambah yang sunah-sunah  2. Ingat Allah setiap tempat dan waktu 3. Puasa sunnah, Friends! agar kita bisa naklukin hawa nafsu

4. Banyak gaul sama temen-temen dan lingkungan

yang sholeh

5. Kondisikan keluarga supaya

sholehnya bareng-bareng

85

6. Jangan meremehkan kesalahan-kesalahan atau dosa-dosa
kecil

7. Banyak taubat dengan taubat yang sungguh-sungguh, trus,
iringi perbuatan buruk dengan perbuatan baik  tapi jangan diulangi lagi,lho! 8. Mohon pada Sang Maha Pelindung dan Maha Baik, Allah azza wa jalla supaya Allah nolongin kita-kita yang lagi ‘berjihad’ melawan nafsu jahat!

Well, Good Luck! Brother’n Sister Fillah!

Bagian V

ROMANTIKA Aktivis Da’wah (sebuah kaca diri)

1. Ekspresi Cinta Para Aktivis Da’wah 2. Backstreet Dijalan Da’wah 3. Pernikahan Dini daripada Pacaran ???

86

4. Jangan Jadi Pemicu Roman Picisan! 5. Cinta karena Allah, mari membuktikannya! 6. Semestinya Kita Lebih Tahu (catatan kecil )

Bagian V

ROMANTIKA Aktivis da’wah..! (sebuah kaca diri)
Aktivis da’wah bukan robot Bukan pula manusia yang merobot. Tiba-tiba menjadi asosial dan tidak merasakan sensitifitas rasa humanis Aktivis da’wah tetap sah mengatakan ‘itu cantik’, ‘itu tampan’dalam rangkain kekaguman pada Pencipta si makhluk tampan dan cantik Aktivis da’wah hanya mengambil sikap berbeda dalam mensikapi gejolak perasaannya Sebab jalan yang dipilihnya memang menempanya untuk tidak menjadi manusia kebanyakan dalam mengolah rasa, cinta dan kekaguman…! Aktivis da’wah bukan robot

87

Bukan pula manusia yang merobot, kaku dan tanpa rasa, Bedanya….mereka mengekspresikan kekagumannya, cintanya, dengan cara yang (semestinya) berbeda Sebab… jalan yang ditempuhnya menempanya untuk menjadikan segala sesuatu… menjadi indah dan terjaga… termasuk cintanya pada makhluk ciptaan Rabbnya! (aku, dalam sebuah perenungan,Solo 5 Juli 2003)  Bab ini sengaja saya tulis dan masalah romantika aktivis da’wah sengaja saya sisipkan dalam buku ini . Bukan apa-apa tapi rasanya tidak adil jika kita tidak mengangkat sesuatu yang kadang dialami oleh para aktivis da’wah dalam menebarkan antisipasai “gaul bebas” . Bukankah para aktivis da’wah (di sekolah, di kampus, di kampung) adalah manusia juga? Yang kadang-kadang terjebak pada sebuah kekaguman pada lawan jenis? Apa iya seorang aktivis da’wah kemudian steril dari rasa hebat bernama CINTA? Bagaimana dahsyatnya mereka berjuang meredam rasa ? Mengeeliminir kemungkinan “mendekati zian “ ? Jangan-jangan para aktivis da’wah lebih “pacaran” dari pada temanteman awam ? Jangan-jangan kita lebih ‘mesra’ memancing cinta lawan jenis ? dari sekedar jaga image, tebar pesona sampai dengan terpesona dan ‘bergerilya’ di jalan da’wah ? Mungkin agak sinis , tapi, saya hanya ingin mengamati secara jujur dan bahkan mungkin menegur diri sendiri! Beberapa topik yang coba diangkat di bab ini memang hanya sekedar pengamatan prilaku, pengalaman pribadi (he..he..) serta kejahilankejahilan penulis dalam menguji feeling antara “mengamati’ dan meraba-raba special feeling and attitude antar aktivis da’wah di beberapa komunitas yang penulis agak aktif di sana. Parahnya, kadang-kadang feeling itu benar! he..he..So.. apa salahnya sebagai bahan renungan penuh guyon yang mungkin ‘menampar’ diri sendiri .

1. EKSPRESI Cinta Para Aktivis Da’wah

88

“Subhanallah..” gumam saya sambil cepat beralih pandang minimal menurunkan titik pandang saya ketempat lain. Sekali memandang itu boleh yang kedua dst itu memancing dosa…. “Kenapa ?” Tanya teman saya “Enggak, ikhwan tadi keren” jawab saya jujur “Masya Allah, Istighfar, Vid!” teman saya seperti ketakutan saya akan terkena dosa yang tak terampuni. Pasti dia mengira saya tidak bisa gadhul bashar ‘kali ,ya! Padahal tidak sengaja dan memang sudah spontan ketika saja melihat sesuatu yang baik, nggak pas atau semacamnya saya akan merespon dan menanggapi apa yang saya lihat. Dan untuk masalah ini saya pancing teman saya “he..he.. iya, iya! Emang kamu nggak pernah gitu merasa senang melihat akhwat atau ikhwan yang cantik atau cakep ?” “ Ya pernahlah!” “Trus?” teman saya diam sejenak. Saya melanjutkan, “ Ya sudah . Itu bedanya. Saya mengaktualisasikan kekaguman saya bukan pada manusianya langsung. Pujian terhadap seseorang itu kadang muncul pada saat yang tidak duga dan bila diberikan secara wajar, bukankah itu tidak salah ? Bedaya, Saya mengekspresikannya dan kamu tidak. Apa memuji itu salah ?” Saya paham bahwa teman saya tadi berusaha untuk mengingatkan saya dari hal-hal yang mungkin timbul dari sekedar iseng memuji. Dan itu baik lagi benar. Sayapun sangat paham bahwa banyak teman aktivis da’wah yang sangat menjaga teguh hal-hal yang memancing reaksi ikutan terhadap hati yang sudah mulai terserang VMJ (virus merah Jambu )itu Tapi …. Kadang kebanyakan kita justru lupa bahwa aturan Islam tentang rasa, pergaulan dan segala hal yang dijaga oleh Allah dan diajarkan akhlaqnya oleh Rasulullah adalah sesuatu yang dialami oleh manusia kebanyakan. Apalagi, jika ekspresi kekaguman itu diekspresikan dengan cara-cara yang justru kontraproduktif empunya rasa. untuk kepentingan da’wah, merusak hati si

89

Seorang teman (laki-laki) menanyakan pada saya apakah para ‘akhwat’ nggak pernah jujur dengan perasaannnya, tidak mengekspresikan rasa sukanya, kagumnya de-es-be? Dan berusaha selalu terlihat ‘tenang’? Saya jawab, tidak juga. Saya, misalnya, termasuk orang yang sangat ekspresif. Tapi tidak ngawur, tidak agresif. Seorang akhwat tetap manusia, ikhwan juga.Hanya saja, lanjut saya, mereka ada dalam sebuah etika yang memberikan mereka tuntutan bagaimana harus mengekspresikan rasa simpati, kagum, dan semacamnya (semoga begitu ). Seorang ikhwan , sahabat karib saya pernah berkomentar bahwa cara-cara yang sudah kebanyakan kita tidak mengekspresikan cinta

dibolehkan dan dicontohkan oleh Rasulullah terhadap para shahabat. Tapi justru lebih sering memakai strategi kita sendiri yang akhirnya membuat hati berkabut he..he… Misal? Ya! Rasulullah sebenarnya telah memberikan contoh bagaimana seorang muslim dibolehkan untuk mengekspresikan cinta pada saudaranya dengan ucapan-ucapan yang hanif, dan penuh dengan ketulusan. Ekspresi cinta yang bukan dilumuri nafsu. Juga, tradisi memberikan hadiah dan perhatian diantara para sahabat. Itu boleh, sah! Masalahnya, hal-hal seperti itu tidak dibiasakan. Akhirnya, ketika kita saling memberi hadiah atau sebentuk perhatian antara ikhwan-ikhwan atau akhwat ke-akhwat sepertinya canggung. Apalagi ikhwan ke akhwat atau sebaliknya ! Waw!!!! Gempar! Lha apalagi berucap , ana uhibbuka akhi, ana uhibbuki anti.. lillah Insya Allah… ! Bisa bikin deg-degan ! (bagi yang deg-degan apalagi bagi yang sering ke-GR-an) Mengapa Ekspresi-ekspresi tersebut jarang kita ungkapkan sehingga kita merasa aneh dan bahkan berprasangka terhadap saudara-saudari kita ketika mengatakan itu ? Parahnya, kalau memang ekspresi itu hanya disempitkan untuk satu orang ! Ekspresi cinta, kasih sayang yang kering dalam aktivitas da’wah yang membuat kadang ukhuwah islamiyah hanya sebatas ucapan saja. Kita para aktivis miskin dari cinta komunal, jarang merasa rindu terhadap saudarasaudaranya tapi kadang mencuri-curi kesempatan untuk melumuri cinta kita

90

dengan hal-hal yang ‘terlegalkan’ oleh kondisi . Misalnya : aktivitas bersama, kelenturan-kelenturan pergaulan ikhwan-akhwat. Semoga ini teguran untuk penulis sendiri. Ekspresi cinta para aktivis selayaknya lebih elegan, tulus, hanif bukan seenaknya. Apalagi yang masih menjadi pengikut aktivis pacaran Islami  para aktivis dakwah bukan manusia yang kehilangan perasaan manusiawinya hingga tanpa rasa, tidak peka. Pun begitu mereka juga bukan orang-orang yang tidak tahu malu dan mencari-cari celah untuk mengekspresikan perasaannya (seharusnya begitu ) Wajar, natural, elegan, nyar’I . Itu maksud saya. Bahwa orang-orang yang ada dalam putaran aktivitas da’wah adalah contoh itu benar, tapi mereka justru lebih harus mencontohkan bagaimana ekspresi cinta komunal dan universal itu ditebarkan! Bagaiamana???

2. Backstreet di Jalan Da’wah!
Kata seorang teman judul itu bandel. Tapi menggelitik,kan ? Istilah itu tiba-tiba saja muncul. Bagus untuk beberapa fenomena yang saya amati di kalangan aktivis da’wah saat ini .Sungguh, bukan maksud saya menggeneralisir, tapi sepertinya tidak ada yang salah jika kita melakukan autokritik terhadap diri kita dan kondisi di sekitar kita. Mungkin agar lebih mudah memahami maksud saya, cerita. Kisah 1. Teman saya itu kelihatan kebingungan. Antara bahagia (mungkin) dan merasa aneh . Antara merasa bersalah dan malu. Maklum, baru saja saya sampaikan keinginan seorang sahabat karib laki-laki yang ‘biasa’ (artinya bukan ada di lingkungan aktivis da’wah. Atau lebih adilnya, yang memilih strategi da’wah berbeda dengan teman-teman di lembaga da’wah kampus saya akan ilustrasikan dengan sebuah

91

atau fakultas, seseorang yang Insya Allah paham terhadap apa itu da’wah dan menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak harus dittempuh dengan cara yang ‘seragam) Sahabat saya itu sendiri ciut juga nyalinya karena merasa dia nggak level dengan teman akhwat saya yang ‘subhanallah sekali’ itu ) Katanya, dia pasti kalah ‘saingan’ dengan para ikhwan ‘militan’ dan sudah lebih dulu teguh dijalan da’wah. Dan pasti si Akhwat itu lebih memilih mereka. Ehmmm itu kan kelihatannya batin saya! Nggak semua ikhwan lho! He..he.. (maaf yang kesinggung) Tapi teman saya itu sepertinya menyimpan suatu yang luar biasa pada sahabat akhwat saya itu. Pencerahan spiritual katanya. Pun begitu sahabat laki-laki saya itu sadar kalau perubahannya hanya karena Sang Akhwat berarti dia riya’ , tho? Ternyata, lagi-lagi kasus SMS “romantis” itu dialami si Akhwat. Si akhwat yang saya kenal hanif dan teguh itu ternyata lebih memilih membentengi dirinya dengan mematikan HP nya yang beberapa saat menjadi sarana tak terduga yang menimbulkan rasa . WuaaaH!!!!!! Message terakhir dari teman laki-laki saya itu begini : I love you because Allah . Alamak! Tapi kemudian teman laki-laki saya itu agak merasa bersalah dengan pesan itu. Dan dia sepertinya “diperingatkan’ oleh Sang Akhwat untuk tidak melanjutkan SMS-SMS nya … Dan subhanallah. Ternyata teman laki-laki saya itu tidak ’segombal’ yang diduga orang. Katanya, ‘Saya tidak mau membuat ukhti itu merasa tidak nyaman’ Komunikasi tidak berjalan. Sebab, ukhti itu ternyata tidak terpancing dengan segala romantisme yang menyapanya. Dia teguh dalam sebuah pendirian. Begini Katanya, “Vid, (panggilan akrab penulis., ed) saya merasa bersalah dengan SMS-SMS itu. Saya tidak pernah merasa memberikan respon berlebihan. Kalau saya teruskan, bukankah saya berkhalwat lewat HP ?”

92

“vid, akhir-akhir ini saya sering mendapatkan SMS begini , bahkan tengah malam dan dari seorang ikhwan yang semestinya paham bahwa SMSSMS begiani bikin salah tafsir, bukannya saya ke-GR-an. Saya takut Zina, Vid! Saya mending dirajam di duni deh dari pada saya terus-terusan nyerempet-nyerempet zina begini. Apa saya nanggapinnya ga’ wajar ,ya, Vid!” sahabat perempuan saya itu menjabarkan gelisahnya. Saya salut. “Itu ujian kamu. Seseorang akan mendapatkan ujian sesuai dengan perinsip yang diyakininya. Saranaa apapun mo’ HP, mo’ internet, bisa jadi penguji kita, kok” jawab saya. Deg! Saya merasakan keteguhan akhwat itu. Saya justru diam-diam berdo’a semoga mereka bersatu dalam ikatan yang kuat  Si teman laki-laki itu juga ‘mengikuti’ saran saya untuk

memperlakukan si akhwat dengan ‘terhormat’. Jadilah rasa agung itu tersimpan dalam hati kami… masing-masing.. Menjadikan saya selalu berdo’a agar sahabat saya itu ada dalam sebuah bingkai yang indah dalam mengekspresikan ‘cinta’nya dengan orang yang tepat, tepat , disaat yang tepat. dengan cara yang

Kisah 2 Ini kisah sahabat saya yang saya kenal dari sekedar diskusi lewat email dan chatting . Dia mengirimkan e-mailnya dari sebuah kota. Dia menceritakan perjalanan romantisnya dengan seorang ikhwan . Begini, tulisnya: Vida, minta saran, dong! Saya sedang mengalami sesuatu yang membuat saya tidak berdaya. Dorongan kuat untuk mengagumi seseorang yang memang nampak begitu sempurna. Seseorang yang membuat saya kagum sejak pertama saya melihatnya, mengamati kehanifannya, membuat saya kagum dengan sikapnya yang selalu menawan dan kecerdasannya . Saat itu tiba. Kekaguman saya diam-diam bersambut. Meski awalnya saya merasa tidak yakin dan agak jengah. Namun, saya merasa beliau serius. Saya masih

93

mencoba mentralisir perasaan saya terhadapnya. Tapi komunikasi kami berlanjut (biasa.. SMS, doong!) Dia ikhwan yang menurut saya dapat membawa kebaikan. Kami mencoba pada sesuatu yang lebih serius. Tapi lama-kelamaan saya menjadi seperti tergantung pada beliau. Ikhwan itu memberi saya pengaruh kuat dalam mengambil keputusan Vida, apa ini efek dari kekaguman saya yang berlebihan ? Saya juga menjadi agak jengah ditengah teman-teman ADK (aktivis da’wah kampus, ed) saya kadang merasa bersalah sebab teman-teman tidak ada yang tahu hubungan kami yang semakin lama semakin serius. Sedang kami semakin merasa dekat. Saya merasa teman-teman ADK tetap bersikap biasa dan itu menjadikan saya justru merasa bersalah. Meskipun ada juga yang mencium gelagat khusus kami berdua, ada yang memilih mentabayunkan ada yang memilih.. diam. Sampai saat ini.. kami masih terus mengalir saja… belum ada tanda-tanda kami segera menikah. Vida… bagaimana ini? Sebenarnya , bukankah cinta itu permasalahan pribadi ? tapi saya juga sadar bahwa saya ada ditengah kebersamaan…..aturan, etika kebersamaan. Sampai sat ini.. kami masih terus mengalirsaja… belum ada tanda-tanda kami segera menikah. Waw! Entah apa karena saya belum pernah merasakan hal-hal seperti itu, atau karena saya akhir-akhir ini sering menjadi tempat curhat banyak orang masalah ‘cinta’. Dari para ABG sampai ikhwan yang sering saya olok-olok di channel cahatting karena pakai nick yang terkesan “tebar pesona” . Jujur saja, untuk membuat buku ini lebih jujur, saya jadi sering mengorek fenomena ikhwan akhwat di channel chatting! Kadang geli juga kalau melihat percakapan mereka yang justru lebih mesra daripada orang awam  Dan dua kisah tadi jadi membuat saya berpikir : mana yang lebih ‘lumayan’ (bukan lebih baik) : seorang ikhwan/akhwat ammah (biasa saja pemahaman Islamnya, tapi cukup paham) yang mencoba meraih kebersihan cara untuk mencintai seseorang yang dianggapnya ‘lebih terjaga’ dari dirinya, dengan para aktivis yang semestinya sudah mengerti etika dan dapat terhindar dari

94

hal-hal yang mengkabutkan jalan da’wah tapi justru melakukan upaya-upaya backstreet di jalan da’wah? Menafikan hal-hal yang menimbulkan prasangka, menafikan akhlak dan etika dalam sebuah pembelaan bahwa tidak ada larangan syar’I ? Memang, tidak sepenuhnya benar bahwa dalam kerangka da’wah segalanya harus formalis. Memang tidak pula salah sebuah kecenderungan fisik seorang laki-laki terhadap perempuan baik dia aktivis da’wah atau bukan. Sah-sah saja. Namun. Kadang Izzah seorang aktivis da’wah justru luruh ketika mengahadapi ujian yang memang sangat sulit! Rasa! Cinta! Itulah sebabnya di pengantar buku ini saya katakana bahwa masalah hubungan laki-laki dan perempuan , cinta dan semacamnya bukan masalah yang lebih rendah dari masalah ‘perekrutan’ kader, misalnya! Ah, lagi-lagi aktivis da’wah bukan malaikat, ya! Yang penting bagaimana seorang aktivis da’wah dapat selalu merefleksikan dirinya , bahwa mereka adalah teladan yang baik serta buruknya kadang hanya dinilai oleh orang-orang disekitanya. Bahkan kalaupun itu sebenarnya tidak buruk tapi karena tidak semua orang dapat ‘mentabayunkan’ pada mereka, maka alangkah lebih baik jika para aktivis da’wah tidak mengumbar sikap yang menimbulkan turunnya izzah da’wah (bukan hanya izzah diri sendiri) .Dan berusaha memakai standarisasi kepentingan da’wah dalam mengambil keputusan. Karena.. da’wah adalah jalan yang kita pilih, bukan da’wah yang membutuhkan kita tapi kita yang mebutuhkan jalan ini untuk semakin’berbeda’ dalam menyikapi banyak hal, termasuk.. CINTA! Backstreet dijalan da’wah. Ekspresi-ekspresi tak langsung dan ‘lembut’ antar aktivis da’wah dengan menggunakan banyak sarana dan juga lebih pada keseringan interaksi serta permakluman-permakluman sikap atas nama da’wah. Dengan berbagai sarana kita bisa ‘memancing ‘ banyak prasangka dan rasa. Dari mulai SMS, Chatting, Tanya kabar, curhat, de-es-be. Insya Allah ini bukan justifikasi tapi lebih pada sebuah perenungan tentang sebuah pemaknaan cinta yang semestinya terjaga dari banyak hal melemahkan. Cinta komunal antar aktivis da’wah yang bukan hanya basa-basi perlu

95

dibudayakan. Proses-proses manajeman rasa dan kekuatan ma’nawiyah harus selalu diyakini sebagai sumber terpenting dalam da’wah. Disayangkan jika para aktivis da’wah mulai terganggu komitmennya hanya karena baban-beban psikologis yang diciptakannya sendiri, berkaitan dengan masalah cinta. Bukan dibunuh! Sama sekali bukan! Bahkan saya termasuk orang yang lebih senang melihat para aktivis da’wah memulai dan mengakhiri fase romantisnya dengan berpegang teguh dalam sebuah etika tanpa harus kaku dan tetap mempertimbangkan rasa dan kecenderungan fitrah laki-laki dan perempuan namun dengan cara yang hanif . Entahlah, semoga ini terutama saya tujukan untuk diri sendiri. Semoga Allah menjaga diri dari banyak ujian yang serta merta dihadapkan-Nya Maha Bijaksana. pada kta, bahkan tak berjarak lama setelah kita mengikrarkan dan mengatakan sesuatu yang menuntut pembuktian. Allah

3. Nikah Dini daripada Pacaran ???

Saat

wacana nikah dini beredar deras dikalangan mahasiswa, saya

terus terang termasuk yang sering melebarkan wacana itu sampai ke hal-hal nyeleneh dikalangan akhwat. Dan termasuklah saya dinobatkan ‘pendukung’ PD. Tapi sepertinya banyak pengamatan-pengamatn usil yang harus saya lakukan soal ini, batin saya waktu itu. Bukan sekedar ‘semangat’ Nikah di usia muda! Dan sejak wacana itu beredar manis dikalangan teman-teman aktivis da’wah. Semakin seringlah hal-hal romantis bermunculan dari obrolanobrolan . Entah itu terjadi juga dikalangan ikhwan atau tidak, yang jelas

96

semangat untuk ‘nikah dini’ baca; nikah muda usia dikalangan aktivis dakwah sepertinya melejit. Apalagi saat buku Di jalan da’wah aku Menikah menjadi semacam buku yang menggelitik dikalangan akhwat (karena saya mengamati di akhwat saja) untuk dibaca atau sekedar di pilih-pilih beberapa bagian untuk dibaca. Terus terang kalau boleh sedikit su’udhon, wacana-wacana dan suasana romantis dikalangan para aktivis da’wah jadi makin terasa sejak saat itu. Tidak salah tapi…saya tergelitik juga saat menemukan salah satu bahasan Iip Wijayanto di bukunya sex in The Kost tentang fenomena nikah dini, nikah sirri dikalangan mahasiswa. Ya, kadang memang akhirnya , Nikah dini tidak selalu menjadi solusi tepat untuk mencegah seks bebas. Tidak bisa pula dikatakan daripada pacaran, lebih baik nikah dini. Tapi, jika ternyata pernikahan tersebut tidak dibarengi dengan kesiapan mental, kesiapan pemahaman Islam yang baik dan menyeluruh. Akhirnya, justru banyak dikalangan mahasiswa yang menikah dini hanya untuk menyalurkan hasrat roamntisnya atau yang kurang paham Islam jystru sebagai pemenuhan kebutuhan seks saja. Dikalangan aktivis da’wah, tak jarang justru ada fenomena saling pilih dan dipilih dengan proses yang justru jauh dari penjagaan-penjagaan izzah. Fenomena ‘saling membuat komitmen’ antar ikhwan-akhwat juga menjadi masalah di kalangan aktivis da’wah. Komitmen untuk apa? Sampai kapan ? Apa bedanya seorang aktifis da’wah laki-laki dan perempuan yang ‘berkomitmen’ untuk menikah misalnya, 2,3,4 tahun lagi, dengan interaksi intens, apa bedanya dengan PACARAN tapi berbalut proses ta’aruf???? Terus terang saya sering geli dengan panggilan-panggilan ‘sedikit mesra’ beberapa teman yang diprediksikan bakal ‘jadi’ dengan salah satu ikhwan atau akhwat. Begitulah pada kenyataannya, banyak yang justru hanya menjadikan etika kehidupan berjama’ah kecenderungan romantis tersebut. sebagai sesuatu yang mungkin menjemukan untuk menunggu lebih lama hasrat dan ‘niat baik’ meresmikan

97

Masalahnya, jalan da’wah kadang menutut lebih dari sekedar kecenderungan fisik dan rasa . Jalan da’wah kadang menentukan banyak cara yang ‘sedikit’ berbeda dengan kehendak hati. Menuntut bahwa pernikahan para aktivis adalah sebuah sarana berjuang , bukan hanya sekedar pemenuhan fitrah untuk dicintai dan mencintai. Sekali lagi, memilih dan dipilih untuk menjadi istri atau suami itu hak pribadi! boleh! Terlebih bahwa mawaddah dan rahmah bukan adalah perpaduan apik antar ketentraman fisik dan ruhani. Betapa ternyata banyak hal yang harus kita tempuh untuk memurnikan diri sebagai para aktivis, ya! Yang tidak bisa hanya berwacana dalam tataran kampus dan sekolah. Yang tidak bisa sekedar mengatakan ‘saya siap menikah’ dan kemudian menempuh proses-proses formalistik. Kepekaan seorang yang ‘dituakan’ dijalan da’wah (murabbi, murabbiyah, ustad) terhadap sebuah kebutuhan akan pernikahan mutarabbinya dan kesiapan untuk menjadi benar-benar siap dari mutarabbi (baik secara fisik, kesiapan menerima siapapun sebagai partner yang terbaik, dan kesiapan menempuhnya dengan cara yang juga baik danpenuh etika) ternyata sangat berpengaruh terhadap komitmen seorang aktivis pra dan atau pasca menikah. Maksudnya? Ya! Salah satu kejahilan yang saya lakukan adalah mengamati beberapa akhwat yang diisukan akan segera menikah menikah  Kadang saya survey sana-sini, yang jelas bukan ghibah, mengamati beberapa aktivitas mereka. Bagaimana tanggung jawab mereka di beberapa washilah yang mereka geluti. Sejauh mana amanah-amanah da’wah itu tetap dijadikannya prioritas disaat mereka disibukkan dengan persiapan pernikahan, atau mengondisikan keluarga. Sejauh mana mereka tetap ada dalam sebuah aktivitas-aktivitas kebersamaan. Tetap membina dan dibina Pasca menikah pun perlu diamati, berapa akhwat (atau juga ikhwan) yang tetap ada dalam agenda-agenda da’wah. Sejauh mana mereka tetap menjaga komitmen-komitmennya setelah menikah ? Berapa banyak ummahat yang mungkin menjadikan anak sebagai sebuah alasan syar’I untuk menghilang dari amanah-amanah kebersamaan?

98

Ah..betapa menikah dijalan da’wah itu perlu dibuktikan dari cara, saat dan setelah menikah. Sebab da’wah tetap berjalan, aktivitas-aktivitas tarbawi tetap berjalan, tidak memilih apakah kita sedang, akan dan telah menikah, melahirkan dan sebagainya. Semoga tulisan ini tidak menjadi hukum karma bagi saya dikemudian hari. Dan sekali lagi, tulisan ini adalah teguran besar untuk diri sendiri, Insya Allah Wallahu a’lam bisshawwab

4. Jangan Jadi Pemicu Roman Picisan !
Terus terang ini tulisan yang membuat saya harus siap dikritik dan ditertawakan. Ceritanya, saat saya mengisi sebuah up grading sebuah organisasi mahasiswa ekstra kampus untuk bagian akhwatnya, saya disuruh mengisi motivasi. Kebetulan kajian itu ada di rumah kost yang dijadikan base camp divisi Keputrian Organisasi tersebut. Dan setiap mengisi kajian-kajian motivasi saya selalu membukanya dengan membagikan kertas kosong dan meminta mereka menuliskan potensi positif diri sendiri, dan hal-hal atau situasi yang membuat para peserta merasa tidak , kurang atau kehilangan kepercayaan diri. Alhasil, ada tiga ranking besar yang membuat para peserta (yang kesemuanya putri) dan saya yakin juga dialami banyak remaja putri (terutama para aktivis muslimah) : a)Berbicara di depan umum , b) berada di lingkungan dengan wacana heterogen, c) Berhadapan dengan ikhwan (laki-laki) . Tentu saja ini kesempatan saya untuk ‘jahil’ ,membuat mereka melihat bahwa kadang apa yang terjadi dihadapan mereka tidak sama dengan perilaku-perilaku mereka di kost, atau dengan orang-orang terdekat. Sesuai dengan judul tulisan ini, tentu saja saya akan membahasnya secara agak apa adanya. Ternyata rasa sungkan dan malu berhadapan dengan ikhwan (kalau ikhwan sebaliknya,ya!) itu tidak selamanya . Karena sejatinya, kalau kita mau jujur, batapa banyak di kost-kostan para akhwat yang masih sering terdengar obrolan-obrolan asyik tentang Ikhwan ini tentang ikhwan itu, ber- ehm-ehm

99

saat seorang saudarinya (teman se-kost) menerima telephon dari ikhwan tertentu. Kebetulan pas saya ada di situ peristiwa itu terjadi jadilah spontan saya jadikan contoh . Tidak tahu apakah dikalangan aktivis da’wah putra (ikhwan) juga begitu. Contoh kedua , kebetulan saya sering mengamati bahwa begitu banyak kecenderungan untuk beromantis ria di kalangan aktivis da’wah itu justru dipicu dan ‘dikondisikan’ oleh teman-teman sendiri. Paling jelas apabila dipicu dari kedekatan interaksi melalui amanah yang sama dalam struktural. Kadang perhatian yang memang lebih intens terhadap teman-teman yang berada dalam satu amanh srtuktural menyebabkan ‘kasak-kusuk’ juga. Komentar-komentar macam ini : Eh, Akh Ini kok kaya’nya perhatian banget, ya sama Mbak itu. Eh, mbak ini kalau sama Mas ini kok akrab sekali ya. Dan sebagainya pasti ada. Walhasil, dari sekedar tabayyun tentang seputar gosip akhirnya malah timbul rasa beneran.Nah, lo! Kadang yang bersangkutan biasa-biasa saja , tapi teman-teman yang lain malah tanpa sadar ‘memicu’ dan ngomporin timbulnya benih-benih virus merah jambu. Nah, itu sebagian kecil pengamatan dan pengalaman pribadi saya. Begitulah. Kadang kita justru menjadi pemicu timbulnya hal-hal picisan dan harapan-harapan akan rasa spesial (pakai telor) yang mungkin timbul karena kita ‘jahil’ untuk selalu ingin tahu urusan pribadi orang lain. Atau justru menjadikannya gossip gurih di seputar aktivitas da’wah Contoh ketiga, kalau ada aktivis da’wah laki-laki , kemudian ‘terjangkit ‘virus merah jambu atau ‘terendus’ ada rasa dan sikap spesial pada seseorang (yang jelas cewek, akhwat atau perempuan) , trus apa urusan kita para akhwat????, bukannya nggak peduli ,tapi bukankah semestinya para ikhwan curhat atau mendapatkan teman yang memberikan ‘terapi’ yang sama-sama ikhwan ? atau pada murabbinya, misalnya? Tapi, ya… gitulah.. ikhwan-akhwat jadi seting salaing curhat. Hi..hii… mungkin para pelakunya nggak masalah tapi yang lain?

100

Apa yang salah ? mengapa kenyamanan justru lebih dirasakan ketika para aktivis kampus curhat dengan teman-teman lawan jenisnya? Ada banyak sebab, dua diantaranya : 1.Teman-teman sesama Ikhwan atau Akhwat kurang memiliki empati terhadap saudaranya, kurang peka. Mereka mungkin menganggap sepele apa-apa yang dirasakan saudara atau saudarinya. Akhirnya ? mereka memilih ‘bersahabat’ dengan lawan jenis. Meskipun menurut sebuah pendapat psikologi, bisa dibilang nggak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan (mau aktivis, amau bukan aktivis, sama saja) pasti menimbulkan perasaan yang lebih . 2.Fungsi-fungsi halaqah, atau komunitas pembinaan yang mungkin kurang terbuka, kurang akrab atau hanya melulu mengurusi kebutuhankebutuhan wacana, kurang memperhatikan kebutuhan-kebutuhan psikologis yang boleh jadi dibutuhkan. Disinilah pentingnya kepekaan seorang pembina, murabbi , murabbiyah atau ustadz, ustadzah. Bukankah seorang laki-laki semesrinya belajar tentang perempuan dan sebaliknya? Bukankah halaqah idealnya adalah tempat dimana para aktivis memompa kembali energi psikologis , spiritual dan kemantapan tsaqofiyah (wacana)nya ? Pun begitu, tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api. Hendaknya para aktivis da’wah ikhwan-akhwat bergaul sewajar mungkin dengan semua teman dalam jaringan aktivitas da’wah. Kecocokan dan mungkin juga ‘kenyamanan-kenyamanan’ interaksi saat para aktivis (ikhwan-akhwat) dihadapkan pada amanah-manah da’wah bersama hendaknya menjadi sesuatu yang perlu dijaga pengekspresiannya sewajar mungkin . Sebab bila itu menjadi perilaku yang penuh kelonggaran akan melahirkan ekspresiekspresi ‘kurang wajar’ yang ditangkap oleh teman-teman lain. Pun begitu teman-teman lain juga nggak usahlah doyan bergosip ria tentang orang lain. Ingat… bahwa kita aktivis da’wah yang menjadikan Islam sebagai suatu sistem gerak yang humanis , kritis namun etis. Begitu.. OK ???

101

Intermezzo…
Assalamu’alikum..
Ukhti, malam ini purnama belumlah sempurna, mungkin kilau sinarnya belum cukup untuk menerangi malam nan gulita, apalagi coba menyaingi terang dan hangatnya mentari Namun, justru disanalah kata Dunia, kau akan menemukan keindahannya. Semuanya mengajakku mengembara menjelajahi relung hati yang amat dalam dan mungkin sangat kelam. Ya, seperti katamu, Ukhti : ‘coba temukan perbedaan antara cinta dan angkara tatkala bergumul menjadi satu, hendak menyesatkanmu! Tak hendak berpisah’ Ukhti, aku berlindung kepada Allah atasnya. Ukhti akau tak tau kumulai darimana. Tapi aku akan memulainya dari CINTA! Aku sendiri tak tau bagaimana rasa itu bisa tumbuh sedemikian rupa, menggangu , mengusikku, mengganggu ketenanganku, semua begitu tiba-tiba Aku jatuh cinta! Tapi bagaimana mungkin rasa benci berubah menjadi cinta ? dan pada satu kelokan waktu semuanya tiba-tiba berubah! Ukhti, malam ini tepat seminggu sejak kuikuti pesan terakhirmu. Kutemukan sesuatu dalam hidupku, sesuatu yang telah meluluhkan hati setelah kebekuannya, sesuatu yang telah menerangi qalbu setelah kekelamannya, sesuatu yang telah menguatkan jiwa setelah kerapuhannya… Tapi Ukhti.. Sungguh tersesat imanku kalau semua perubahan ini hanya karena mu semata, menjadikannya Riya’, mendustai jiwa. Tapi bersyukurlah, saudariku.. kalau kau ikut menyalakan lentera dalam hatiku. Semoga Allah menjaga nyalanya dan memijarkannya keseluruh ruang Bahkan… kalau bunga hati yang kini tumbuh itu harus patah sekalipun! Karena telah kutemukan tambatan yang lebih utama dalam diri-Nya Yang Maha. Ukhti, Sungguh tersesat pula hatiku, jika aku hanya mencintai sesuatu yang fana dalam dirimu.

102

Bukan, Bukan itu! Tiada kata yang bisa menggambarkan selain kemuliaan hatimu. Ukhti, kini malam semakin larut. Aku laksana purnama itu, bahkan jauh dari sempurna. Takkan pernah cukup sinarnya menerangi semesta. Apalagi jika harus bersanding bersama saudara-saudarku yang telah lebih dahulu berdiri teguh disisi-Nya. Saudara-saudaraku yang telah biasa kau temui dalam keseharianmu Tapi… biarlah kusemaikan harap dalam ridho-Nya . Semoga. Semoga ini yang dinamakan cinta karena Allah SWT. Subhanallah maha Suci Allah yang telah menuntun penaku…

Wassalamu’alaikum
(Tulisan seorang sahabat untuk seorang teman. Hak meniru ada pada penulis asli dan penulis buku ini, he..he.. dilarang keras mengutip puisi ini untuk kepentingan pribadi  )

Kado tercantik sebelum saat itu
Tak pernah kulihat sebelumnya, kado secantik ini. Entah dari mana datangnya, aku tak peduli, karena yang pasti kado itu akan menjadi milikku. Sungguh aku tak bisa bercerita kepada Anda perasaan yang menderu saat pertama kali ditawari untuk menerima kado tersebut. Seseorang dengan ikhlas sepenuh hati akan menyerahkannya kepadaku, hari ini. Melihat bungkusnya yang indah berwarna putih dengan motif bunga-bunga kecil merah jambu, tak salah penilaianku, kado itu memang teramat cantik. Yang kutahu, tidak hanya hari ini ianya berbungkus seindah itu, setiap hari, setiap waktu, selalu terbungkus rapih. Isinya? Jangan pernah tanyakan kepadaku, karena aku, juga orang lain tak pernah tahu apa dan bagaimana rupa isinya. Jangankan tersentuh, terlihat pun tak. Terutama oleh orang-orang yang memang terlarang untuk melihatnya. Seistimewa apakah kado itu? Sehingga tak seorangpun pernah melihat kado cantik ini? Dan seistimewa apa diriku ini sehingga seseorang berkenan mempercayakannya kepadaku?

103

Terbayang dari bungkusnya, yang setiap saat selalu terlihat rapi dan terjaga dengan baik, yang tak tersentuh kecuali oleh yang berhak menyentuhnya, aku yakin, isi dan rupa didalamnya, jauh lebih indah dari cantik bungkusnya. Kumengerti, kalaulah kado itu mampu sedemikian cantiknya terjaga kulit luarnya, bagaimana lagi aku meragukannya tak senantiasa diperindah rupa dalamnya, juga inti terdalam dari semua isinya, yang sejujurnya, adalah hal terpenting dari semua kecantikan sesuatu. Maaf, aku tak bisa mengajak Anda ikut membayangkan indah rupa isinya, dan kalaupun aku tahu Anda mencoba melakukannya, sebaiknya Anda berhadapan denganku. Kado tercantik itu milikku, akan kujaga ia dan takkan kubiarkan orang lain ikut menikmatinya, meskipun sekedar membayangkan. Ingin sekali kucari pita pembuka kado yang biasanya berwarna merah, agar segera kusingkap isinya. Tapi satu hal mengganjalku, masih tersisa beberapa saat agar aku benar-benar mendapatkan izin untuk membukanya. Bahkan, lebih dari itu (sensor by redaksi). Harus kutunggu pemiliknya, yang menjaganya, dan merawatnya selama ini benar-benar menyerahkannya kepadaku dalam satu upacara sakral. Kenapa sedemikian sakral? Sesuatu yang cantik nan suci harus diserahkan dalam koridor keagungan yang juga suci, itu jawabnya. Tak apalah, sebagai satu jalan untuk tetap mensucikan diriku, juga kado cantik itu, wajib kujalani upacara sakral itu. Aku berjanji, setelah kuterima dalam kharibaanku kado tersebut, akan kujaga, kurawat, kuperlakukan ianya agar tetap menjadi kado tercantik, terindah, terbaik, terbagus, selamanya. Sampai tak ada lagi yang membuatku harus melirik kadokado diluar yang terkadang hanya bagus dan cantik bungkusnya. (tulisan seorang teman)

5. CINTA KARENA ALLAH, MARI MEMBUKTIKANNYA!
Cinta karena Allah! Sebuah kata indah yang selalu saya dengar dari teman-teman aktivis da’wah di kampus.

104

Indah terdengar tulus. Cinta yang kata banyak orang sulit mencari definisinya. Apa mungkin ada cinta karena Allah? Bagaiman menurutmu cinta kerena Allah ? Begitu cecar seorang teman yang rupanya sedang tersapa energi besar bernama, Cinta! Dan ini jawaban saya :

Cinta karena Allah adalah… Cinta yang menyalurkan energi positif, energi yang dirasakan juga oleh orang-orang disekitarnya, oleh alam sekitarnya Cinta karena Allah adalah cinta yang terjaga dari hal-hal syubhat (apalagi haram) baik dalam mendapatkannya atau mengarunginya Cinta yang memerdekakan jiwa, siap menerima perbedaan,siap untuk kehilangan, siap patah tanpa harus berpura-pura Tapi, sebenranya, ketika kita mencintai sesuatu atau seseorang karena Allah, kita justru akan siap berbagi, siap mencintai pula apa-apa yang dicintai ‘kekasihnya’ , mencintai semua kebaikan dan membuat nya menjadi baik pula. Orang-orang yang saling mencintai karena Allah (sebagai saudara, sahabat, pasangan hidup) tidak pernah merasa patah hati berlarut-larut  Sebab, dia tidak memaksakan kehendak dan keinginannya Dia pandai menyimpan perasaannya , namun tidak pula berdusta. Kebesaran jiwanya tak terbatas… Setiap kegagalan untuk mencintai dan dicintai, bukanlah alasan baginya untuk berbalik menjadi benci. Justru itu semua menjadikannya semakin kuat dan tegar untuk kemudian semakin dekat dengan Sang pemilik hatinya dan hati orang yang dicintainya itu : Sang Maha lembut, Maha Romantis, Allah azza wa jalla. Cinta karena Allah akan menambah banyak teman, saudara, sebab cinta yang seperti itu akan terus bersinergi, terus membelah, memberikan berkahnya…

105

Cinta karena Allah adalah cinta yang ditempuh dengan ikhtiar yang bersih,, bukan dengan menipu bahkan ‘merampok’,bukan dengan cara-cara liar.. Orang-orang yang mencintai karena Allah akan ‘memetik bunga’ dari tangkainya dengan izin pemiliknya, bukan merebutnya atau mencurinya! Sebab, dia (cinta karena Allah) suci, maka hanya dengan cara yang suci pula dia (cinta itu) dapat memberikan ketentraman jiwa dan terhindar dari gejolak syahwati semata. Cinta itu… Akan menjadikan orang-orang yang merasakannya justru semakin menjaga dirinya dan diri orang-orang yang dicintainya. Tidak melakukan hal-hal yang membuat harga dirinya dan orang tercintanya hancur Cinta karena Allah adalah cinta yang memiliki keberanian yang luar biasa, yang bersumber pada penjagaan fithrah, penjagaan jiwa. Cinta itu memberi energi untuk berjuang, mencapai spiritualitas cinta yang bersumber pada kecintaan Pada Dzat yang menciptakan makhluk hanif yang membuatnya…semakin mencintai Penciptanya. Hanya orang-orang yang teguh dan meneguhkan Hanif dan menghanifkan Cerdas dan mencerdaskan Dan orang-orang tetap istiqomah di dalam bingkai tuntunan-Nya, Yang mengadukan semua rintihnya , azzamnya akan cintanya kepada Sang pemilik rasa agung yang dirasakannya itulah…. Hanya orang-orang seperti itulah.. Yang selalu dapat mengambil dan merasakan makna , hakikat dan kebesaran CINTA KARENA ALLAH
(Aku dalam sebuah perenungan akan rasa demi rasa yang diujikan Allah pada ku untuk Menyimpan dan menjaganya, hingga saatnya tiba)

106

Begitulah, bahwa banyak yang harus kita buktikan dan kita teladankan agar cinta karena Allahbukan hanya ucapan yang tanpa realisasi. Jika hanya ucapan, maka ekspresi cinta tak oernah dapat kita wujudkan dan kita maknai dengan ketulusan dankebesaran jiwa.

6. Semestinya Kita lebih Tahu………
Ya, semestinya para aktivis da’wah lebih paham apa itu interaksi yang hanif dan tidak. Semestinya kita lebih paham bahwa kita adalah manusiamanusia yang tidak hanya bisa menasehati dan menebarkankebaikan namunkita luruh darikebaikan itu sendiri. Cinta dan semua hal yang dirasakan oleh semua manusia tak bisa hanya diteorikan Pembuktian ucapan dan keteguhan kita (para aktivis da’wah) ketika hati kita tersapa cinta adalah sebuah ‘fase jeda’ kita untuk mengingatkan kembali orientasi hidup kita sesungguhnya. Menyelami bahwa sapaansapaan rasa adalah ujian Maha Hebat yang menjadikan kita semakin memilki izzah atau justru melunturkannya. Jalan da’wah memang bukanjalan yang membuat kita merahib atau merobot. Biarkan saja romantika itu ada dalam ekspresi-ekspresi wajar dan penuh penjagaan diri. Bukan mencari-cari kesempatan untuk mengeksprsikannya dengan car-cara yang sama dengan kebanyakan orang. Bagaimana mungkin kita yang setiap hari berupaya menjaga pergaulan binaan-binaan kita ternyata justru melakukan hal-hal yang berlawanan meskipun ‘tak terlihat’? Memang, bagaimana lagi? Jalan ini telah kita pilih sebagai rujukan utama kita melakukan atau tidak melakukannya. Dan Izzahnya yang akan mengangkat kita dari kehinaan. Sedang kehinaan dan kelenaan perilaku kita akan meluruhkan izzah jalan da’wah itu. Wallahu a’lam bishawwab.

107

Bagian VI

Mari Belajar Lebih Benar (sebuah epilog)

108

1. Tentang Cinta dan Ekspresi Cinta 2. Tentang Harga Diri 3. Tentang Tanggung Jawab

Bagian VI MARI BELAJAR LEBIH BENAR (Sebuah Epilog)

109

1. TENTANG CINTA dan EKSPRESI CINTA
Manusia mempunyai begitu banyak kecenderungan untuk

mengekspresikan apa yang dirasakannya. Emosinya ( marah, senang, sedih, gembira). Pun juga segala bentuk hubungan interpersonal .Berinteraksi,saling memberikan perhatian, simpati,empati dan semua hal yang menjadikannya (manusia) sebagai makhluk yang berbeda dengan makhluk yang lain. Ya, sebuah fitrah yang sangat wajar. Manusia,laki-laki dan perempuan pada sebuah fase kehidupannya,memahami benar dalam bagaimana sebuah kecenderungan dan

perasaan asing yang ingin diekspresikannya pada orang lain. Keinginan untuk memperhatikan dan diperhatikan, memberi dan menerima. Wajar bila kita melihat seorang ABG cewek kadang begitu konyol dan naif ketika ia harus “mencuri perhatian” teman laki-lakinya, misalnya. Atau ABG laki-laki yang tiba-tiba berlagak “superhero” untuk mengekspresikan rasa-rasa asing yang kata mereka bernama cinta. Namun, kecenderungan seperti apa? Kewajaran seperti apa pula? Kewajaran atas dasar apa ? dan Kecenderungan dengan derajat yang mana? Ingat, kecenderungan derajat manusia mempunyai “tingkatan” dari yang rendah sampai yang tertinggi. Kecenderungan “menyerupai” malaikat dengan mengoptimalkan potensi ke-ilahiahannya atau kecenderungan untuk menjadi binatang ternak bahkan lebih rendah ? ( kal an’am bal hum adhdhol ) Allah menciptakan harmonisasi indah dalam kehidupan pada manusia. .Memberikan pilihan-pilihan konkrit . Itu bukti cinta Allah

Selalu ada 2 pilihan.Mulia hina,surga-neraka, benar-salah. Cinta Allah bukan semata-mata kemanjaan belaka. Bukan hanya dengan rayuan-rayuan dan hanya kabar gembira namun Allah juga memberikan ancaman, tentang siksa, kepedihan, adzab dan bahasa-bahasa cinta yang mungkin kurang mampu kita ( manusia) memaknainya sebagai i cinta. Mari belajar lebih benar tentang cinta. Apakah cinta bila seseorang begitu takut kehilangan ? Apakah cinta apabila seseorang begitu “ragu” untuk

110

bertanggung

jawab? Apakah

cinta

apabila

laki-laki

begitu

bebas

memperlakukan adab ?

perempuan dengan “bebas hambatan ” ? dan Perempuan begitu pula? Tanpa batas-batas

pun memperlakukan dirinya dan laki-laki

Mari belajar lebih benar tentang cinta. Cinta adalah sebuah potensi yang dapat mendatangkan yang dapat ditiupkan oleh Allah sekian banyak tanda-tanda perlakuan yang hina kebaikan atau sebaliknya. Cinta adalah fitrah satu dari dengan ? pada setiap makhluk-Nya sebagai dan hal-hall yang dicintainya

kekuasaan-Nya. Dengannya (cinta) manusia

memperlakukan dirinya

atau mulia. Bukankah selalu ada dua pilihan

Bukankah selalu ada dua sikap? Adalah cinta bila seseorang menjadi merdeka karenanya. Dan bukan cinta bila kita justru “terjajah” karenanya . Jika kita mencintai orang lain (terutama laki-laki mencintai perempuan dan sebaliknya) namun kita lebih sering “menjajah” kemerdekaannya atau kita justru semakin jauh dari sebuah kemerdekaan diri, mari kita coba pertanyakan sekali lagii cintakah yang kita rasakan ? atau sebuah ambisi untuk “memiliki” ? Lihat, betapa banyak pasangan yang telah menjadi “penjajah” satu sama lain padahal sebuah ikatan yang resmi tidak pernah mereka ikrarkan kecuali untuk sebuah hubungan temporall bernama “pacaran”. Lihat bagaimana meraka belum lagi menikah sudah menetapkan “banyak aturan” pada sang pacar. Lihat bagaimana sebuah kepercayaan diri para muda yang “moderat” itu hanya tampak dari Mari belajar hal-hal fisik yang kadang dipaksakan. Lihat, agar kita dapat belajar lebih benar lebih benar tentang cinta. Cinta adalah sebuah dari hal-hal yang dapat orang yang kebijaksanaan .Penghormatan dan penghargaan terhadap martabat orang lain. Mencintai seseorang berarti menjaganya dicintainya . Tidak mungkin seseorang yang sebenar-benar cinta akan “merusak” sesuatu dia memiliki “kesempatan” untuk itu. merendahkan,melecehkan, mempermalukan dan menjajah

mencintai orang lain dengan yang dicintainya,meskipun

111

Cinta adalah sebuah energi bahwa cinta untuk orang-orang proaktif

untuk menjadi lebih baik, lebih mengatakan selalu dipandang sebagai kata

produktif. Stephen Covey dalam bukunya The Seven Habbit

kerja yang produktif, sehat, tulus. Orang yang memandang cinta sebagai “kata kerja” akan selalu melakukan hal-hall positif dan terhormat. Namun orang-orang yang hanya memandang mereka cenderung bersikap cinta sebagai “perasaan” maka buta, lemah, posesif, pencemburu

mempunyai sebuah ketergantungan yang tidak sehat. Mari belajar lebih yang menguji kepekaan benar tentang kita terhadap rasa cinta. Sebagai sebuah rasa orang lain. Mari mencoba seseorang . Benarkah

mendefinisikan “kecenderungan” seolah-olah begitu banyak

kita pada

itu cinta,atau sekedar “kekaguman yang kita hiperboliskan” sehingga kita “berkorban” padahal itu hanyalah kekaguman yang menyiksa kita pada sesuatu yang belum pasti. Mari belajar lebih benar tentang ekspresi cinta. Bila memang yang kita rasakan pada seseorang atau sesuatu itu cinta (yang benar) berhati-hati kita sadari maka,sudahkah kita mencoba itu dengan ekspresi-ekspresi merusak niatan cinta kita? dihadapan Allah dan manusia. Cara kita mengekspresikan cinta kita itulah sebuah awalan kita menjaganya. Semakin kita berhati-hati dalam dari ambisi-ambisi mengekspresikannya, semakin suci pula niat kita, sebab kita akan selalu tergiring pada nafsu yang terkendali, terhindar memiliki yang tidak halal. pada pasangannya sebab kecenderungan perasaan Jangankan pacaran , seorang yang sah menjadi suami atau istri saja tidak boleh memiliki “ketergantungan” berlebihan hanya Allah Mari yang kuasa menumbuhkan diantara mereka. Nah ???? belajar untuk mengekspresikan cinta-cinta kita kepada makhluk-Nya secara lebih benar. Cinta-cinta “kecil” yang dititipkan Sang Maha Pemilik Cinta hanyalah sebuah ujian bagi kepahaman kita terhadap menjaga cinta itu dengan ‘picisan’ yang Atau justru kadang tanpa

dalam mengekspresikannya? Ataukah kita justru merusak rasa yang agung menjatuhkan nilai cinta itu

112

hakikat cinta yang sebenarnya. Jika Allah mencintai kita dengan sebuah akad yang jelas, ikrar hanya dengan sepucuk yang kuat, mengapa kita “mencintai” surat picisan dan seseorang rayuan-rayuan yang

menggelikan ? Jika Allah –karena cinta-Nya-- memberikan begitu banyak pilihan bagi makhluk-Nya ,mengapa kita “menjajah” orang lain atas nama “cinta” ?

2. TENTANG
Mari belajar lebih benar

HARGA DIRI
tentang harga diri kita. Yang semakin

Wahai perempuan, saudariku…… lama semakin hanya ternilai dari ukuran-ukaran dan standarisasi fisik. Dalam sebuah perenunganku tentang kaum kita, aku berfikir tentang perdaban yang akan kita wariskan kepada Bagaimana mungkin kita bisa mempertaruhkan sebuah putra-putri kita. harga diri untuk

sebuah hubungan pra-nikah yang kadang tidak memiliki kepastian? Lalu bila nanti bocah-bocah negeri ini lahir dari sebuah “kecelakaan sejarah” yang dibuat ibunya atau pasangan ibunya ( “pacar ibunya”) bagaimana kita menjelaskan tentang moral dan kebaikan pada mereka ? Tidakkah kita akan terus menerus tertuntut oleh anak-anak kita? Semoga kita sempat merenung tentang itu. Saudariku, perempuan,mari belajar lebih dan untuk benar tentang harga diri. Mari selalu bertanya pada diri sendiri atas dasar apa kita mencintai dicintai ? Sudahkah kita menghormati diri kita sehingga kita layak dihormati orang lain? Apa yang kau rasakan saat wanita yang nasibnya bukankah perempuanakan begitu

perempuan lain “terpacari” oleh mantan pacarmu? Tidakkah kau merasa bahwa mereka adalah seorang boleh jadi akan “sama” denganmu beberapa bulan atau tahun lagi ? “Diputus” oleh orang yang berpaling darimu? Ah, saudariku, menyakitkan menyandang gelar “ mantan pacar si A”? Sedangkan si A

dengan PD-nya memacari saudari-saudarimu yang lain? Bukankah akan lebih “berharga” jika engkau menyandang gelar “mantan istri”? Mungkin tulisan ini sedikit sebab menohok, namun lebih baik seorang istri yang dipilih dan dinikahi dengan proses yang benar

113

masih lebih baik daripada seseorang yang selama empat,lima bahkan bertahun-tahun hanya menjadi ‘pacar’ yang sewaktu-waktu dapat ‘putus’ hanya karena sedikit ketidakcocokan. Lagi-lagi….. batasan mengenal dalam ”pacaran” memang tidak dapat kau prediksikan. Sebab boleh jadi kau tampakkan hal-hal yang disukainya saja. Begitupun dia. Saudaraku laki-laki, mari belajar lebih benar. Tentang harga dirimu, disekitarmu. Atas dasar meraka yang putih apa dan harga engkau diri perempuan-perempuan mereka? Karena kulit yang menawan? hal-hal saat ini mencintai

bersinar ? Penampilan mereka

Kemanjaan-kemanjaan kaumku? Atau memang karena ia begitu terhormat ? Aku faham kecenderunganmu untuk menyukai kecantikan dan yang indah itu fitrah. Tapi, saudaraku, apakah engkau tidak berpikir bahwa sebenarnya engkau semakin tidak dapat mencintai “pacarmu” sebab, engkau akan terus berpetualang dengan kecenderungan mu ? Saudaraku laki-laki, aku faham bahwa kalian berhak kaumku hanya membuatmu terpesona menyukaimu berusaha karena hal-hal yang kau untuk memilih. Tapi dimana pula kau tempatkan harga dirimu bila seorang dari karena kecantikannya? Atau tampakkan baik dihadapannya? dan dia untuk ini kecenderungan-

Bukankah akan ada kecenderungan-kecenderungan mu menutupi sangat dapat selalu dibantah

kelemahan-kelemaham diri ? Mungkin tulisan

dengan kata “belum tentu, tidak juga dan

yang lain”. Harga dirimu, wahai saudaraku laki-laki, terletak pada sejauh mana engkau memperlakukan secara terhormat kaum ibumu.

3. TENTANG TANGGUNG
untuk bertanggung jawab. tanggung

JAWAB
ini sebenarnya dalam kerangka Kita dapat saja

Mari belajar lebih benar. Tentang tanggung jawab dan keberanian Semua hal dalam kehidupan Kita diciptakan juga dan Tuhan. antara kita adalah persoalan tanggungjawab. jawab dalam ikatan

berbuat semau kita tentang semua hal . Tapi masalahnya, adakah sebuah pertanggungjawaban yang mampu kita tunjukkan dengan ksatria ? Sekali lagi saya singgung bahwa semua hal yang kita lakukan adalah sebuah

114

pilihan yang

telah ada

secara

niscaya.

Pilihan-pilihan

itulah

yang

melahirkan konsekwensi

dan konsekwensi itulah

yang akan selalu kita

pertanggungjawabkan diakhir kehidupan. Mengapa kita tidak memulai meretas sebuah tanggung jawab bersama akan satu rasa yang dititipkan Allah untuk kita jaga dan kita berikan pada orang yang tepat dan dapat kita pertanggungjawabkan semua perilaku kita atasnya ? Tanggung jawab yang meluruhkan segal sikap egois dan meluruhkan segala keingina syahwat semata ? Tanggung jawab yang menjadikan semua yang sebelumnya ‘haram’ untuk disentuh dan menimbulkan fitnah menjadi suatu yang halal dan menetramkan ? Mari belajar lebih benar tentang semu hal… agar kita tidak menjadi makhluk yang hanya hidup dan mati tanpa makna. Agar kita tidak menjadi orang-orang yang sangat sulit menrima kebaikan dan cahaya hidayah meskipun cahaya itu ada di sekitarnya . Agar kita tidak menjadi lebih rendah daripada binatang ternak. Sebab.. Allah yang Maha Kariim dan Rahman menciptakan kita dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Memberi kita tuntunan agar kita tetap menjadi manusia ! Bukan terlempar pad derajat yang lebih rendah. Semoga Allah mengampuni tulisan yang tajam, kata yang mungkin menyakitkan dan semua hal yang menimbulkan kesombongan diri . Namun… semoga pula Allah melimpahkan Rahmat dan keteguhan pada orang-orang yang bersegera memperbaikai diri setelah peringatan Allah datang melalui para penyeru-penyeru di jalan da’wah-Nya Wallahu a’lam bisshawwab

Buku-buku Pendukung Ide

Abu Al-Ghifari, Remaja dan Cinta, Memahami Gelora Cinta Remaja dan menyelamatkannya dari berhala cinta, Mujahid press, 2002

115

Abu

Al-Ghifari, Pernikahan Dini, Dilema Generasi Ekstravaganza,Mujahid press, 2002

Abu Al-Ghifari, Gelombang Kejahatan Seks Remaja Moden, Mujahid Press,2002 Abdul Halim Abu Syuqqah, kebebasan wanita jilid 4,Gema Insani Press,1997 Ali Akbar,H, DR, Merawat Cinta Kasih, Pustaka antara, Jakarta,1997 Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Taman Orang-orang Jatuh cinta dan Memendam rindu,Darul falah, Jakarta,1420 H-2000M Iip Wijayanto, Pemerkosaan Atas nama Cinta, potret Muram Interaksi Sosial Kaum Muda,PenerbitTinta,Yogyakarta, 2003 Iip Wijayanto, Sex in The Kost ,Realitas dan Moralitas Seks kaum “terpelajar”, Penerbit Tinta, Yogyakarta,2003 Kartini Kartono,DR, Psikologi Wanita Jilid I, Mandar Maju, 1992 Marzuki Umar Sa’abah, Perilaku Seks Menyimpang dan Seksualitas Kontem[porer Umat Islam,UII press, 2001 Oleh Sholihin, Jangan Jadi Bebek, Gema Insani Press, 2002

Curiculum Vitae Penulis
Nama Lengkap Nama Akrab Nama Ayah : : : Robi’ah al-Adawiyah Vida M.Farzan Ali

116

Nama Ibu

:

Aisyah Solo, 15 Mei 1980 Kp.Dhewutan, Semanggi 01/16 Pasarkliwon,Solo 57117 (0271) 644795 : r_aladawiyah@yahoo.com Menulis, traveling, koleksi buku Pendidik, Penulis, Ibu!

Tempat /Tgl Lahir : Alamat: :

No. Telphon E-mail Hoby Cita-cita

:

: :

Riwayat Pendidikan: 1. TK MTA Solo 2. SD Negeri Semanggi Lor Solo 3. SMP Negeri 6 Solo 4. SMU MTA solo 5. Fakultas hokum Universitas Negeri Sebelas Maret Solo (FH UNS) Riwayat Organisasi: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Pelajar Islam Indonesia (PII) Daerah Solo ( kaderisasi ) PII (Ketua Umum PII-Wati Solo Th. 2000) Lembaga Pers Mahasiswa FH UNS Koordinator Bidang Jurnalistik FOSMI FH UNS Koordinator Forum belajar Perempuan “ Benih” (Sekarang) Forum Lingkar Pena (FLP) Solo , Divisi Karya Non Fiksi (sekarang ) Anggota Korps Instruktur PII Jawa Tengah (2000-sekarang)

Pengalaman menulis: 1. Radar Solo, Jawa Pos Group : Menyentuh Ranah Domestik, Mengapa tidak ?, 2000

117

2. Radar Solo, Jawa Pos Group: Mentalitas mumpung, Penyakit Kronis masyarakat, 2000 3. Radar Solo, Jawa Pos Group : Ibu dan Masa Depan Peradaban, 2001 4. Al-Izzah, Meretas Pergerakan Muslimah, 2002 5. Aktif mengirim tulisan di beberapa website Islam Prestasi Menulis :

1. Juara I Lomba Esai Majalah Karima, 2002 :Hijrah dan revolusi Diri 2. Juara I Lomba Esai HAM Se-Jawa&DIY,UII, Maret 2002: Peran LSM Perempuan dalam upaya Perlindungan HAM Terhadap Perempuan 3. Juara I Lomba Esai Hari Kartini Korps HMI-Wati, Juli 2003: Meretas Kesadaran Politik Perempuan : Sekarang!

118

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful