You are on page 1of 11

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik
dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk
maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah
satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam pengetahuan tentang ilmu kalam
dalam pendidikan.
Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi
para
pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga
kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat
kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan
masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Karawang, 07 September 2015

Penyusun

1

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................................... 1
BAB II ISI MAKALAH
A. Pengertian Ilmu Kalam ......................................................................................
B. Sumber – Sumber ilmu Kalam ...........................................................................
............................................................................................................................
C. Jenis – Jenis Ilmu Kalam ...................................................................................
D. Manfaat Ilmu Kalam ..........................................................................................
E. Akibat dan Efek Ilmu Kalam .............................................................................
.............................................................................................................................

2
3
4
5
6
7
8

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ........................................................................................................ 9
DAFTAR PUSTAKA

...........................................................10

2

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Aqidah ilmu kalam sebagaimana diketahui, membahas ajaran-ajaran dasar dari suatu
agama. Setiap orang yang ingin menyelami seluk-beluk agamanya secara mendalam, perlu
mempelajari akidah yang terdapat dalam agamanya. Mempelajari akidah/teologi akan
memberi seseorang keyakinan-keyakinan yang berdasarkan pada landasan yang kuat , yang
tidak mudah diombang-ambingkan oleh peredaran zaman. Teologi dalam Islam disebut juga
ilmu At-Tauhid. Kata Tauhid mengandung arti satu/esa dan keEsaan dalam pandangan Islam
merupakan sifat yang terpenting diantara sifat-sifat Tuhan. Teologi Islam disebut juga ilmu
kalam.

1

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Ilmu Kalam
Ilmu Kalam adalah suatu ilmu yang membahas tentang akidah dengan dalil-dalil
aqliyah (rasional ilmiah) dan sebagai tameng terhadap segala tantangan dari para penentang.
Abu Hanifah menyebut nama ilmu ini dengan fiqh al-akbar. Menurut persepsinya, hukum
islam yang dikenal dengan istilah fiqh terbagi atas dua bagian. Pertama,fiqh al-akbar,
membahas keyakinan atau pokok-pokok agama atau ilmu tauhid. Kedua, fiqh al-ashghar,
membahas hal-hal yang berkaitan dengan masalah muamalah, bukan pokok-pokok agama,
tetapi hanya cabang saja. Al-Farabi mendefinisikan Ilmu Kalam sebagai disiplin ilmu yang
membahas Dzat dan Sifat Allah beserta eksistensi semua yang mungkin, mulai yang
berkenaan dengan masalah setelah kematian yang berlandaskan doktrin Islam. Penekanan
akhirnya adalah menghasilkan ilmu ketuhanan secara filosofis. Adapun Ibnu Khaldun
mendefinisikan Ilmu Kalam adalah disiplin ilmu yang mengandung berbagai argumentasi
tentang akidah imani yang diperkuat dalil-dalil rasional. Sedangkan Musthafa Abdul Raziq
berpendapat bahwa ilmu ini ( ilmu kalam) bersandar kepada argumentasi-argumentsi rasional
yang berkaitan dengan aqidah imaniah, atau sebuah kajian tentang aqidah Islamiyah yang
bersandar kepada nalar. Menurut Ahmad Hanafi, di dalam nash-nash kuno tidak terdapat
perkataan al-Kalam yang menunjukkan suatu ilmu yang berdiri sendiri sebagaimana yang
diartikan sekarang. Arti semula dari istilah al-Kalam adalah kata-kata yang tersusun yang
menunjukkan suatu maksud Kemudian dipakai untuk menunjukkan salah satu sifat Tuhan,
yaitu sifat berbicara. Sebagai contoh, kata-kata kalamullah banyak terdapat dalam al-Qur’an,
diantaranya pada Surah al-Baqarah ayat 75, 253, dan Surah an-Nisa’ ayat 164.
Penggunaan al-Kalam sebagai suatu ilmu yang berdiri sendiri sebagaimana kita kenal saat ini
pertama kali digunakan pada masa kekhalifahan Bani Abbasiyah, tepatnya pada masa
khalifah Al-Ma’mun.Sebelumnya, pembahasan tentang kepercayaan-kepercayaan dalam
islam disebut al-fiqh fi ad-din, sebagai imbangan terhadap al-fiqh fi al-ilm yang diartikan
ilmu hukum ( ilmu qanun ). Biasannya mereka menyebutkan al-fiqhi fiddiniafdhalu minal
fiqhi fil ‘ilmi, ilmu aqidah lebih baik dari ilmu hukum. Adapun yang melatarbelakangi
mengapa ilmuini dinamakan Ilmu Kalam adalah :
1. Permasalahan terpenting yang menjadi tema perbincangan pada masa permulaan
Islam adalah masalah firman Allah ( Kalam Allah ), yaitu al-Qur’an. Apakah
Kalamullah tersebut qadim atau hadits ( baru )? Walaupun permasalahan ini
hanya merupakan salah satu bagian dari pembahasan ilmu ketuhanan dalam
Islam, namun karena ia menjadi bagian terpenting maka ilmu ini dinamai Ilmu
Kalam.
2. Dalam membahas masalah-masalah ketuhanan, para mutakallim ( ahli Ilmu
Kalam ) menggunakan dalil-dalil aqliyah dan dampaknya tercermin pada
keahlian meraka dalam berargumentasi dengan mengolah kata-kata. Dengan
demikian, mutakallim diartikan juga dengan ahli debat yang pintar memakai katakata.

2

3. Secara harfiah, kata kalam berarti “pembicaraan”. Tetapi secara istilah, kalam
tidaklah dimaksudkan “pembicaraan” dalam pengertian sehari-hari, melainkan
dalam pengertian pembicaraan yang bernalar dengan menggunakan logika. Maka
ciri utama Ilmu Kalasm ialah rasionalitas atau logika .
B.

Sumber-Sumber Ilmu Kalam
Sumber-sumber ilmu kalam dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu dalil naqli ( alQur’an dan Hadits ) dan dalil aqli ( akal pemikiran manusia ). Al-Qur’an dan Hadits
merupakan sumber utama yang menerangkan tentang wujud Allah, sifat-sifat-Nya, perbuatanperbuatan-Nya dan permasalahan aqidah Islamiyah uang lainnya. Para mutakallim tidak
pernah lepas dari-dari nash-nash al-Qur’an dan Hadits ketika berbicara masalah ketuhanan.
Masing-masing kelompok dalam ilmu kalam mencoba memahami dan menafsirkan al-Qur’an
dan Hadits lalu kemudian menjadikannya sebagai penguat argumentasi mereka.
Berikut ini adalah sumber-sumber ilmu kalam:
1. Al-Qur’an
Sebagai sumber ilmu kalam, Al-Qur’an banyak menyinggung hal yang berkaitan
dengan masalah ketuhanan,di antarannya adalah :
 Q.S. Al-Ikhlas : 1-4. Ayat ini menunjukkan bahwa Allah Maha Esa.
 Q.S. Asy-Syara : 7. Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak menyerupai apapun di
dunia ini. Ia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.
 Q.S. Al-Furqan : 59. Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan Yang Maha Penyayang
bertahta di atas “Arsy”. Ia pencipta langit,bumi, dan semua yang ada diantara
keduannya.
 Q.S.Al-Fath : 10. Ayat ini menunjukkan Tuhan mempunyai “tangan” yang selalu
berada diatas tangan orang-orang yang melakukan sesuatu selama mereka berpegang
teguh dengan janji Allah.
 Q.S. Thaha : 39. Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan mempunyai “mata” yang selalu
digunakan untuk memgawasi seluruh gerak, termasuk gerakan hati makhluk-Nya.
Ayat-ayat diatas berkaitan dengan dzat, sifat, asma, perbuatan,tuntunan, dan hal-hal
lain yang berkaitan dengan eksistensi Tuhan. Hanya saja, penjelasan rinciannya tidak
ditemukan. Oleh sebab itu, para ahli berbeda pendapat dalam menginterpretasikan rinciannya.
Pembicaraan tentang hal-hal yang berkaitan dengan ketuhanan disistematisasikan yang pada
gilirannya menjadi sebuah ilmu yang dikenal dengan istilah ilmu kalam.

2. Hadist
Masalah-masalah dalam ilmu kalam juga disinggung dalam banyak hadits,
Diantarannya yaitu hadits yang menjelaskan tentang iman, islam, dan ihsan termasuk
menyinggu ilmu kalam,salah satu di antaranya juga. Adapula beberapa Hadits yang kemudian
dipahami sebagian umat sebagai prediksi Nabi mengenai kemunculan berbagai golongan
dalam ilmu kalam, diantaranya :

3

“Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. Ia mengatakan bahwa Rasulullah
bersabda, “ Orang-orang Yahudi akan terpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan.”
“Hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar. Ia mengatakan bahwa Rasulullah
bersabda, “ Akan menimpa umatku yang pernah menimpa Bani Israil, Bani Israil telah
terpecah belah menjadi 72 golongan dan umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan.
Semuanya akan masuk neraka, kecuali satu golongan saja, “ Siapa mereka itu, wahai
Rasulullah?” tanya para sahabat. Rasulullah menjawab ‘mereka adalah yang mengikuti
jejakku dan sahabat-sahabatku’.
Syaikh Abdul Qadir mengomentari bahwa Hadits yang berkaitan dengan masalah
faksi umat ini, yang merupakan salah satu kajiiian ilmu kalam, mempunyai sanad sangat
banyak. Diantara sanad yang sampai kepada Nabi adalah yang berasal dari berbagai sahabat,
seperti Anas bin Malik, Abu Hurairah, Abu Ad-Darba, Jabir, Abu Said Al-Khudri, Abu Abi
Kaab, Abdullah bin Amr bin Al-Ash, Abu Ummah, Watsilah bin Al-Aqsa[2]. Adapula pada
riwayat yang hanya sampai kepada sahabat. Diantaranya adalah Hadits yang mengatakan
bahwa umat islam akan terpecah belah kedalam beberapa golongan. Diantara golongangolongan itu, hanya satu saja yang benar, sedangkan yang lainnya sesat.
3. Pemikiran Manusia
Sebagai salah satu sumber ilmu kalam, pemikiran manusia berasal dari pemikiran
umat islam sendiri dan pemikiran yang berasal dari luar umat islam. Di dalam al-Qur’an,
banyak sekali terdapat ayat-ayat yang memerintahkan manusia untuk berfikir dan
menggunakan akalnya. Dalam hal ini biasanya Al-Qur’an menggunakan redaksi tafakkur,
tadabbur, tadzakkur, tafaqqah, nazhar, fahima, aqala, ulul al-albab, ulul al-ilm, ulu al-abshar,
dan ulu an-nuha. Diantara ayat-ayat tersebut yaitu :
Artinya : “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan. Dia
diciptakan dari air yang memancar. Yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang
dada perempuan.” ( Q.S. At-Thariq Ayat 5-7 )
Ayat-ayat yang lain dapat ditemukan pada Surah Muhammad : 24, An-Nahl : 68-69,
Al-Isra’ : 44, Al-An’am : 97-98, At-Taubah : 122, Shad : 29, Az-Zummar : 9, Adz-Dzariyat :
47-49, Al-Ghatsiyah : 7-20, dan lain-lain.
Oleh karena itu, jika umat islam sangat termotivasi untuk memaksimalkan
penggunaan rasionya, hal itu bukan karena ada pengaruh dari pihak luar saja, melainkan
karena adanya perintah langsung dari ajaran agama mereka. Hal inilah yang akhirnya
menyebabkan sangat jelasnya penggunaan rasio dan logika dalam pembahasan ilmu
kalam. Adapun sumber kalam berupa pemikiran dari luar Islam, Ahmad Amin menyebutkan
setidaknya ada tiga faktor penting.
Pertama, kebanyakan orang-orang yang memeluk Islam setelah kemenangannya,
pada awalnya mereka memeluk berbaga agama yaitu Yahudi, Nasrani, Manu, Zoroaster,
Brahmana, Sabiah, Atheisme, dan lain-lain.Mereka dilahirkan dan dibesarkan dalam ajaranajaran agama ini. Bahkan diantara mereka ada yang benar-benar memahami ajaran agama
aslinya. Setelah fikiran mereka tenang dan mereka benar-benar teguh memeluk agama Islam,
mulailah mereka memikirkan ajaran-ajaran agama mereka sebelumnya dan mengangkat
persoalan-persoalanya lalu memberinya corak baju keislaman.
4

Kedua, golongan Mu’tazilah memusatkan perhatianya untuk dakwah Islam dengan
membantah argumentasi-argumentasi orang-orang yang memusuhi Islam. Untuk itu, mereka
tidak akan bias menolak lawa-lawannya kecuali sesudah mereka mempelajari pendapatpendapat serta alas an-alasan lawan mereka. Maka terjadilah perdebatan-perdebatan yang
rasional antar agama saat itu.
Ketiga, sebagaimana pada faktor kedua dimana para mutakallimun sangat
membutuhkan filsafat Yununi untuk mengalahkan lawan-lawannya, maka mereka terpaksa
mempelajari dan mengambil manfaat dari ilmu logika, terutama dari sisi ketuhanannya.
Misalnya An-Nadham, seorang tokoh Mu’tazilah, ia mempelajari filsafat Aristoteles dan
menolak beberapa pendapatnya, demikian juga Abu al-Hudzail al-‘Allaf.
4. Insting
Secara Instingtif, manusia selalu ingin bertuhan. Oleh sebab itu, kepercayaan adanya
Tuhan telah berkembang sejak adanya manusia pertama. Abbas Mahmoud Al-Akkad
mengatakan bahwa keberadaan mitos merupakan asal-usul agama dikalangan orang-orang
primitif. Tylor justru mengatakan bahwa animism-anggapan adanya kehidupan pada bendabenda mati- merupakan asal-usul kepercayaan adanya Tuhan. Adapun Spencer mengatakan
lain lagi. Ia mengatakan bahwa pemujaan terhadap nenek moyang merupakan bentuk ibadah
yang paling tua. Keduanya menganggap bahwa animisme dan pemujaan terhadap nenek
moyang sebagai asal-usul kepercayaan dan ibadah tertua terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
lebih dilatarbelakangi oleh adanya pengalaman setiap manusia yang suka mengalami
mimpi. Didalam mimpi, seorang dapat bertemaan terhadap, bercakap-cakap, bercengkerama,
dan sebagainya dengan orang lain, bahkan dengan orang yang telah mati sekalipun. Ketika
seorang yang mimpi itu bangun, dirinya tetap berada di tempat semula. Kondisi ini telah
membentuk intuisi bagi setiap orang yang telah bermimpi untuk meyakini bahwa apa yang
telah dilakukannya dalam mimpi adalah perbuatan roh lain, yang pada masanya roh itu akan
segera kembali. Dari pemujaan terhadap roh berkembang ke pemujaan terhadap matahari,
lalu lebih berkembang lagi pada pemujaan terhadap benda-benda langit atau alam
lainnya. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kepercayaan adanya Tuhan, secara instingtif,
telah berkembang sejak keberadaan manusia pertama. Oleh sebab itu, sangat wajar kalau
William L. Reese mengatakan bahwa ilmu yang berhubungan dengan ketuhanan, yang
dikenal dengan istilah theologia, telah berkembang sejak lama. Ia bahkan mengatakan bahwa
teologi muncul dari sebuah mitos (thelogia was originally viewed as concerned with myth).
Selanjutnya, teologi itu berkembang menjadi “ theology natural “ (teologi alam) dan
“revealed theology “ (teologi wahyu).
C. Jenis-jenis Ilmu Kalam
“Al Kalam terbagi menjadi tiga jenis, yaitu isim (kata benda), fi’il (kata kerja), dan harf
(kata bantu) yang mengandung makna”
Setiap ungkapan atau kalimat yang digunakan oleh orang-orang Arab, semuanya tidak
akan terlepas dari ketiga pembagian diatas, yaitu: isim, fi’il, dan harf.

5

a.
Isim
Menurut etimologi (bahasa), isim berarti kata yang menunjukkan kepada sesuatu (benda).
Menurut terminologi ahli nahwu, isim berati kata yang menunjukkan satu makna tanpa terkait
dengan waktu.
Contoh: ‫( محمد‬Muhammad); ‫( علي‬Ali); ‫( رجججل‬laki-laki); ‫( جمججل‬unta); ‫( نهججر‬sungai); ‫( تفاحججة‬Apel);
‫(ليمونة‬Lemon); ‫( عصا‬tongkat)
b.
Fi’il
Menurut etimologi, fi’il berarti peristiwa. Menurut terminologi ahli nahwu, fi’il berarti kata
yang menunjukkan satu makna (pekerjaan) dan terkait dengan salah satu dari tiga batasan
waktu, yaitu masa lampau (fi’il madhi), masa sekarang (fi’il mudhari‘), dan masa yang akan
datang-yaitu waktu yang terjadi setelah terucapnya kata tersebut (fi’il mudhari‘ dan fi’il amrbermakna perintah). Sebagai contoh: ‫( كتجججب‬telah menulis) – ‫( يكتجججب‬sedang/akan menulis)
– ‫(أكتب‬tulislah!).
c.
Harf
Menurut etimologi, harf berarti ujung/tepi, sedangkan menurut terminologi ahli nahwu, harf
berarti satu kata yang hanya mempunyai makna jika digabung bersama kata lain. Misalnya,
huruf ‫من‬. Huruf ini menunjukkan makna “permulaan’ / “dari”, dan ia hanya mempunyai
makna jika digabung dengan kata lain.
Beberapa contoh dari Harf: ‫ حجتى‬,‫ سوف‬,‫ بل‬,‫ بلى‬,‫ أن‬,‫ إن‬,‫ لكن‬,‫ إل‬,‫ على‬,‫ عن‬,‫ إلى‬,‫ من‬- (hingga, akan,
bahkan, ya, untuk, sesungguhnya, akan tetapi, kecuali, atas, dari, ke, dari) dan yang lainnya.
Contoh dalam kalimat: ‫“ ذهبت من البيت‬saya (telah) berangkat dari rumah.

D.

Manfaat Ilmu Kalam
Salah 1 fungsi ilmu kalam yaitu menyampaikan aqidah dan melindunginya dari ajran
yang dapat menyesatkan umat islam. Dasar ajaran aqidah yaitu meyakini Alllah swt. sebagai
satu-satunya Tuhan dan tidak ada tuhan selain Allah swt . lahirnya ilmu kalam setelah
lahirnya beberapa kelompok islam, dimana awal terbentuknya kelompok-kelompok tersebut
karena peristiwa politik. Namun, seiring berjalannya waktu kelompok-kelompok tersebut
menjadi sebuah paham atau aliran-aliran baru dalam islam. Diluar kelompok-kelompok yang
terbentuk karena peristiwa politik akhirnya banyak terbentuk aliran-aliran baru yang tidak
dilatarbelakangi peristiwa politik. Aliran tersebut menganut paham yang berbeda satu sama
lainnya. Ilmu kalam sebagai ilmu yang membicarakan masalah kepercayaan dan membuat
orang semakin yakin akan keimanan terhadap Allah swt. Dapat dijadikan sebagai bidang ilmu
yang dapat mempertahankan aqidah yang benar dari aqidah yang menyesatkan. Di dalam
ilmu kalam dipelajari tentang pemikiran masing-masing aliran. Selama paham yang
digunakan masih menjadikan Al-Quran dan hadis sebagai dasar, maka paham tersebut dapat
diartikan bukan aliran yang salah. Akan tetapi jika pemahaman dan penafsiran yang salah
tentang isi Al-Quran dan hadis dijadikan dasar ,maka aliran tersebut menjadi salah. Apalagi
aliran yang secara terang terangan tidak menjadikan Al-Quran dan hadis sebagai dasar sebuah
pemahaman dari ajaran agama islam. Pada masa sekarang ini kita harus berhati-hati atas
politik yang dilancarkan oleh orang atau kelompok yang ingin melihat kehancuran umat
6

islam. Mereka mulai membuat aliran-aliran tau pemahaman baruyang salah tentang islam.
Bahkan mereka mendanai kelompok yang salah tersebut untuk menyebarkan ajarannya.
Banyak orang munafik yang berbicara tentang kemajuan islam tetapi kenyataannya dia
sendiri yang menjatuhkan dan menghancurkan islam. Paham ilmu kalam menunjukkan
kepada kita ajaran yang benar dan ajaran yang salah tentang islam, sehingga diharapkan kita
dapat mempertahankan aqidah islam sampai akhir hayat.
Dengan demikian manfaat Ilmu Kalam hanya untuk:
1. Menjaga orang awam dari gangguan ahli bid`ah
2. Mengajak orang awam ahli bid`ah kepada jalan yang benar dengan berbagai
perdebatan yang berprinsip kepada kebenaran, bukan kepada panatisme Ilmu
debat dan Ilmu Kalam.
3. Memberikan alas an mengenai keykinan atau keimanan yang ada pada ajaran
Islam

E.

Mengupas dan membantah terhadap orang-orang yang menyalahi, mengingkari
serta menyeleweng dari aqidah Ialam

Memberikan kepuasan kepada fikiran dari keraguan dalam keimanan

Untuk memahami dari kepercayaan agama di luar Isam.

Akibat dan Efek Ilmu Kalam
1. Al-Quran di dalam seruannya kepada tauhid membentangkan aliran-aliran penting
dan agama-agama yang bertebaran pada zaman Nabi s.a.w., lalu al-Quran menolak
perkataan-perkataan mereka. Secara tabi'I, para ulamak telah mengikut cara al-Quran
di dalam menolak mereka yang bertentangan, di mana apabila penentang
2. memperbaharui cara, maka kaum muslimin juga memperbaharui cara menolaknya.
3. Perselisihan di dalam masalah politik menjadi sebab di dalam perselisihan mereka
mengenai soal-soal keagamaan. Jadilah parti-parti politik tersebut sebagai satu aliran
keagamaan yang mempunyai pandangannya sendiri. Parti (kelompok) Imam Ali r.a.
membentuk golongan Syiah, dan manakala mereka yang tidak bersetuju dengan
Tahkim dari kalangan Syiah telam membentuk kelompok Khawarij. Dan mereka yang
membenci perselisihan yang berlaku di kalangan umat Islam telah membentuk
golongan Murji'ah.:
4. Adanya pemahaman dalam islam yang berbeda. Perbedaan ini terdapat dalam hal
pemahaman ayat Al-Qur’an, sehingga berbeda dalam menafsirkan pula. Mufasir satu
menemukan penafsiranya berdasarkan hadist yang shahih, sementara mufasir yang
lain penafsiranya belum menemukan hadist yang shahih. Bahkan ada yang
mengeluarkan pendapatnya sendiri atau hanya mengandalkan rasional belaka tanpa
merujuk kepada hadist.

7

5. Adanya pemahaman ayat Al-Qur’an yang berbeda Para pemimpin aliran pada waktu
itu dalam mengambil dalil Al-Qur’an beristinbat menurut pemahaman masingmasing
6. Adanya penyerapan tentang hadis yang berbeda. Penyerapan hadist berbeda, ketika
para sahabat menerima berita dari para perawinya dari aspek “matan” ada yang
disebut hadist riwayah (asli dari Rasul) dan diroyah (redaksinya disusun oleh para
sahabat), ada pula yang di pengaruhi oleh hadist (isra’iliyah), yaitu: hadist yang
disusun oleh orang-orang yahudi dalam rangka mengacaukan islam.
7. Adanya kepentingan kelompok atau golongan Kepentingan kelompok pada umumnya
mendominasi sebab timbulnya suatu aliran, sangat jelas, dimana syiah sangat
berlebihan dalam mencintai dan memuji Ali bin Abi Thalib, sedangkan khawarij
sebagai kelompok yang sebaliknya.
8. Mengedepankan akal. Dalam hal ini, akal di gunakan setiap keterkaitan dengan kalam
sehingga terkesan berlebihan dalam penggunaan akal, seperti aliran Mu’tazilah.
9. Adanya kepentingan politik. Kepentingan ini bermula ketika ada kekacauan politik
pada zaman Ustman bin Affan yang menyebabkan wafatnya beliau, kepentingan ini
bertujuan sebagai sumber kekuasaan untuk menata kehidupan.
10. Adanya beda dalam kebudayaan. Orang islam masih mewarisi yang di lakukan oleh
bangsa quraish di masa jahiliyah. Seperti menghalalkan kawin kontrak yang hal itu
sebenarnya sudah di larang sejak zaman Rasulullah. Kemudian muncul lagi pada
masa khalifah Ali bin Abi Thalib oleh aliran Syi’ah.

8

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Istilah Ilmu Kalam mengacu pada ulama yang membahas masalah-masalah “kalam” Allah.
“Kalam Allah” memiliki tiga acuan. Pertama mengacu pada perkataan Allah yang diucapkanNya. Disebut ilmu kalam karena ilmu ini membahas masalah kalam Allah. Kedua, mengacu
pada para Mutakallimin (ahli kalam) yang berdebat atau bertukar pikiran (kalam) mengenai
masalah-masalah ketuhanan. Tujuan utama dari ilmu kalam adalah untuk menjelaskan
landasan keimanan umat Islam dalam tatanan yang filosofis dan logis. Bagi orang yang
beriman, bukti mengenai eksistensi dan segala hal yang menyangkut dengan Tuhan yang ada
dalam al-Qur’an, Hadits, ucapan sahabat yang mendengar langsung perkataan Nabi dan lain
sebaganya, sudah cukup. Namun tatkala masalah ini dihadapkan pada dunia yang lebih luas
dan terbuka, maka dalil-dalil naqli tersebut tidak begitu berperan

9