You are on page 1of 3

DUKUNGAN BIDAN DALAM PEMBERIAN ASI

Bidan yang bekerja pada pelayanan kesehatan di harapkan melakukan berbagai upaya untuk
melindungi, meningkatkan, dan mendukung pemberian ASI serta memberikan penyuluhan dan
nasehat yang obyektif dan konsisten pada ibu hamil dan ibu yang baru melahirkan tentang
pemberian ASI.
Dalam hal ini bidan mempunyai peran yang sangat penting dalam menunjang program
pemerintah dalam pemberian ASI. Oleh karenanya seorang bidan perlu mengetahui manfaat
pemberian ASI bagi ibu dan keluarga. Bukti menunjukkan bahwa bila ibu tahu cara yang benar
untuk memposisikan bayinya pada payudaranya, menyusui pada waktu yang diinginkan bayinya
dan memperoleh dukungan serta percaya diri tentang kemampuannya memberi ASI, berbagai
penyulit yang umum dapat dihindari atau dicegah.
1. Peranan awal bidan dalam mendukung pemberian ASI :
a. Yakinkan bahwa bayi memperoleh makanan yang mencukupi dari payudara ibunya.
b. Bantu ibu sedemikian rupa sehingga ibu mampu menyusui bayinya sendiri.
2. Petunjuk bagaimana bidan memberikan dukungan pemberian ASI kepada ibu :
a. Biarkan bayi bersama ibu segera sesudah lahir.
Hal ini penting untuk membina hubungan atau ikatan batin disamping pemberian
ASI pada bayi yang normal pada waktu bangun dan sadar selama beberapa jam
pertama sesudah lahir, kemudian memasuki masa tidur pulas. Pada saat terbangun
penting untuk membuat bayi menerima ASI dan pada saat itu buat bayi merasa
hangat dengan membaringkan dan menempel pada kulit ibunya.
b. Ajarkan cara merawat payudara yang sehat pada ibu untuk mencegah masalah
umum yang timbul.
Ibu harus menjaga agar tangan dan puting susunya selalu bersih untuk mencegah
kotoran dan kuman masuk ke dalam mulut bayi. Hal ini juga mencegah luka pada
puting susu dan infeksi pada payudara. Ibu harus mencuci tangannya sesudah buang
air kecil maupun air besar dan apabila menyentuh sesuatu yang kotor. Ibu juga harus
membersihkan payudarahnya dengan air bersih satu kali sehari. Ia tidak boleh
mengoleskan krim, minyak, alkohol, atau sabun pada puting susunya.
c. Bantulah ibu pada waktu pertama kali memberi ASI.
Posisi ibu dan bayi yang benar
Posisi yang paling baik bagi seorang ibu baru untuk menyusui adalah :

Berbaring miring, ini posisi yang amat baik untuk pemberian ASI yang pertama
kali.
Duduk, hal ini penting untuk memberikan topangan atau sandaran pada punggung
ibu dalam posisinya tegak lurus (90 derajat) terhadap pangkuannya.
Tidur telentang, seperti halnya pada saat dilakukan inisiasi menyusu dini, maka
posisi ini juga dapat dilakukan oleh ibu. Posisi bayi berada di atas dada ibu diantara
payudara ibu.
d. Tanda-tanda bahwa bayi telah berada pada posisi yang baik pada payudara
1) Seluruh tubuhnya berdekatan dan terarah pada ibu.
2) Mulut dan dagunya berdekatan dengan payudara.
3) Areola tidak akan bisa terlihat dengan jelas.
4) Kita dapat melihat bayi melakukan hisapan yang lamban, dalam dan menelan
ASInya.
5) Bayi terlihat tenang dan senang.
6) Ibu tidak merasakan adanya nyeri pada putting susu.
e. Bayi harus ditempatkan dekat ibunya di kamar yang sama (rooming-in)
Dengan demikian ibu dapat dengan mudah menyusui bayinya bila lapar. Ibu harus
mengenali tanda-tanda yang menunjukkan bahwa bayinya lapar. Bila tempat ibu
terpisah dengan bayinya maka ia akan lebih lama untuk mengenali tanda-tanda
tersebut.
f. Memberikan ASI pada bayi sesering mungkin.
Biasanya bayi yang baru lahir ingin minum ASI setiap 2-3 jam atau 10-12 kali dalam
24 jam. Bila bayi tidak minta diberi ASI katakana pada ibu untuk menawarkan
ASInya pada bayi setidaknya setiap 4 jam. Namun selama 2 hari pertama sesudah
lahir, ada beberapa bayi yang tidur panjang selama 6-8 jam untuk menawarkan ASI
pada bayi setiap atau sesudah 4 jam yang paling baik adalah membangunkannya
selama siklus tidurnya. Pada hari ketiga setelah lahir, sebagian besar bayi menyusu
setiap 2-3 jam.
g. Hanya berikan kolostrum dan ASI saja.
Makanan lain termasuk air dapat membuat bayi sakit dan menurunkan persediaan
ASI ibunya karena ibu memproduksi ASI tergantung pada seberapa banyak ASInya
dihisap oleh bayi. Bila minuman lain atau air di berikan, bayi tidak akan merasa
lapar, sehingga ia tidak akan menghisap.
h. Hindari susu botol dan “kempengan atau dot kempeng”
Susu botol dan kempengan membuat bayi bingung dan dapat membuatnya menolak
puting susunya ibunya atau tidak menghisap botol atau kempengan berbeda dari
mekanisme menghisap putting susu pada payudara ibu. Ini akan membingungkan

bayi. Bila bayi diberi susu botol atau kempengan, bayi akan lebih susah belajar
menghisap ASInya.
Referensi
Ambarwati. 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (Hlm:11-17)
Program Manajemen Laktasi, 2004. Buku Bacaan Manajemen Laktasi. Jakarta.(bab 8, hlm:1-4)
Pusdiknakes, 2003. Buku 4: Asuhan Kebidanan Post Partum. (hlm: 18-21)
Suherni, 2007. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya. (hlm: 10-15)