P. 1
Penegakan Diagnosis Demem Berdarah Dengue

Penegakan Diagnosis Demem Berdarah Dengue

|Views: 1,936|Likes:
Published by aquarossalinda

More info:

Published by: aquarossalinda on Mar 30, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/07/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

Demam Berdarah Dengue (DBD) sampai saat ini masih tetap merupakan masalah kesehatan yang besar bukan hanya di Indonesia tetapi juga di Asia Tenggara. Selama tiga sampai lima tahun terakhir jumlah kasus DBD telah meningkat sehingga Asia Tenggara menjadi wilayah hiperendemis. Berdasarkan jumlah kasus DBD di Asia Tenggara,

Indonesia menempati peringkat kedua setelah Thailand. Dilaporkan sebanyak 58.301 kasus DBD terjadi di Indonesia sejak Januari hingga April 2004 dengan 658 kematian, yang mencakup 30 provinsi dan terjadi kejadian luar biasa (KLB) pada 293 kota di 17 provinsi 1,2. Pada tahun 2007 dilaporkan 150.000 kasus yang terjadi dan lebih dari 25.000 kasus dilaporkan terjadi di Jakarta dan Jawa Tengah. Pada permulaan yaitu tahun 1968 hanya dilaporkan 58 kasus dengan 24 kematian dan pada tahun 1986 dilaporkan 16.421 kasus dengan 600 kematian (3,6%).3 Demam Berdarah Dengue disebabkan oleh virus dengue yang merupakan anggota genus Flavivirus dari famili Flaviviridae. Terdapat 4 serotipe virus dengue yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4 dengan daya infeksi tinggi pada manusia. Oleh karena ditularkan melalui gigitan artropoda maka virus dengue termasuk arbovirus. Vektor DBD yang utama adalah nyamuk Aedes Aegypti. DBD merupakan bentuk berat dari infeksi dengue yang ditandai dengan demam akut, trombositopenia, neutropenia dan perdarahan. Permeabilitas vaskular meningkat yang ditandai dengan kebocoran plasma ke jaringan interstitiel mengakibatkan hemokonsentrasi, efusi pleura, hipoalbuminemia dan hiponatremia yang dapat menyebabkan syok hipovolemik 1

1

Diagnosis klinis DBD masih sulit karena gejala yang tidak khas pada sebagian besar kasus, pemeriksaan laboratorium rutin (trombosit, hematokrit) juga tidak banyak membantu diagnosis penyakit ini dengan tepat, sebab gambaran laboratoriumnya terkadang sama antara Demam Dengue (DD), DBD dan Dengue Syok Syndrome (DSS) ringan. Padahal diagnosis yang tepat dibutuhkan untuk membedakan keadaan DD, DBD dan DSS terutama pada hari pertama timbulnya penyakit, agar tindakan dapat ditentukan dengan tepat. Diagnosis klinis demam berdarah ditegakkan berdasarkan gejala klinis demam dengan trombositopenia dan lainnya sesuai kriteria WHO 4,5. Diagnosis serologis saat ini merupakan cara terbaik dalam membedakan DD, DBD dan DSS. Cara tradisional yang digunakan untuk pemeriksaan serologis adalah teknik Hemagglutination Inhibition (HI test) dengan mengukur titer IgM dan IgG. Diagnosis pasti DBD dilakukan dengan menemukan virus Dengue, partikel virus atau antigen dan respons antibodi penderita. Isolasi virus membutuhkan waktu lama dan virus yang dapat diisolasi hanya beberapa hari dari sakitnya. Oleh karena itu, dalam praktek dan laporan-laporan makalah hanya diagnosis klinis dan serologis yang lebih banyak digunakan 6.

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
I. DEFINISI Demam Berdarah Dengue ialah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue (DEN). Virus Dengue merupakan virus RNA untai tunggal yang terdiri atas 4 serotipe yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. Struktur antigen empat serotipe sangat mirip satu dengan yang lain, namun antibodi terhadap masing-masing serotipe tidak dapat saling memberikan perlindungan silang. Virus dengue termasuk dalam genus Flavivirus (famili Flaviviridae). Virus ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. 7 II. PREVALENSI Demam berdarah merupakan penyakit dengan mortalitas dan morbiditas yang tinggi di dunia. Setiap tahun terjadi 50-100 juta kasus dengan CFR (case fatality rate) 0,14%.5

Gambar 1. Penyebaran wilayah risiko tinggi transmisi dengue, 2008 8

3

Sejak Januari sampai dengan 5 Maret 2004 total kasus DBD di seluruh propinsi di Indonesia sudah mencapai 26.015, dengan jumlah kematian sebanyak 389 orang (CFR=1,53%). Kasus tertinggi terdapat di Propinsi DKI Jakarta (11.534 orang) sedangkan CFR tertinggi terdapat di Propinsi NTT (3,96%)1. Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD terbesar terjadi pada tahun 1998, dengan Incidence Rate (IR) = 35,19 per 100.000 penduduk dan CFR = 2%. Pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10,17%, namun tahun-tahun berikutnya IR cenderung meningkat yaitu 15,99 (tahun 2000); 21,66 (tahun 2001); 19,24 (tahun 2002); dan 23,87 (tahun 2003). 7 III. PATOGENESIS Pada saat virus dengue memasuki tubuh manusia terjadi periode tenang selama kurang lebih 4 hari, dan virus bereplikasi secara cepat dalam tubuh. Apabila jumlah virus sudah cukup maka virus akan memasuki sirkulasi darah (viremia), dan timbul demam.9 Seseorang yang belum pernah terinfeksi flavivirus atau mendapatkan imunisasi flavivirus bila terserang virus dengue akan menghasilkan respon antibodi primer yang belum dapat menyebabkan DBD. Hal ini disebabkan karena tubuh mampu untuk mengeliminasi virus melalui makrofag. Seseorang dengan imunitas terhadap infeksi flavivirus, atau mendapatkan imunisasi flavivirus sebelumnya apabila terserang virus dengue yang kedua kalinya akan menghasilkan respon antibodi sekunder. Pada sebagian besar kasus, respon antibodi sekunder dapat menyebabkan timbulnya DBD. Berdasarkan kedua teori

tersebut, teori respon antibodi sekunder paling banyak dianut oleh peneliti.16 Suvatte pada tahun 1977 mengajukan teori secondary heterologous infection yang menyatakan DBD terjadi bila seseorang terinfeksi ulang virus dengue dengan tipe yang

4

berbeda. Re-infeksi menyebabkan reaksi antibodi anamnestik sehingga mengakibatkan konsentrasi komplek imun yang tinggi. Respon antibodi anamnestik yang akan terjadi dalam beberapa hari mengakibatkan proliferasi dan transformasi limfosit imun dengan menghasilkan titer tinggi antibodi Ig G anti dengue.10

Gambar 2. Teori Secondary Heterologous Infection10

Disamping itu, replikasi virus dengue terjadi juga dalam limfosit yang bertransformasi dengan akibat terdapatnya virus dalam jumlah banyak. Hal ini akan mengakibatkan terbentuknya virus kompleks antigen-antibodi yang selanjutnya akan mengakibatkan aktivasi sistem komplemen. Pelepasan C3a dan C5a akibat aktivasi C3 dan C5 menyebabkan peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah dan merembesnya plasma dari ruang intravaskular ke ruang ekstravaskular. Sebagai respon terhadap infeksi virus dengue, kompleks antigen-antibodi selain mengaktivasi sistem komplemen, juga menyebabkan agregasi trombosit dan mengaktivitasi sistem koagulasi melalui kerusakan sel endotel pembuluh darah (gambar 2). Kedua faktor tersebut akan menyebabkan perdarahan pada DBD. Agregasi trombosit terjadi sebagai akibat dari perlekatan kompleks antigen-antibodi pada membran trombosit mengakibatkan pengeluaran ADP (adenosin di phosphat), sehingga trombosit melekat satu sama iain. Hal ini akan menyebabkan trombosit dihancurkan oleh RES (reticulo endothelial system) sehingga terjadi trombositopenia. Agregasi trombosit ini akan menyebabkan pengeluaran

5

platelet faktor III mengakibatkan terjadinya koagulopati konsumtif (KID = koagulasi intravaskular deseminata), ditandai dengan peningkatan FDP (fibrinogen degredation product) sehingga terjadi penurunan faktor pembekuan. Agregasi trombosit ini juga mengakibatkan gangguan fungsi trombosit, sehingga walaupun jumlah trombosit masih cukup banyak, namun tidak berfungsi baik. Di sisi lain, aktivasi koagulasi akan menyebabkan aktivasi faktor Hageman sehingga terjadi aktivasi sistem kinin sehingga memacu peningkatan permeabilitas kapiler yang dapat mempercepat terjadinya syok. Jadi, perdarahan masif pada DBD diakibatkan oleh trombositpenia, penurunan faktor pembekuan (akibat KID), kelainan fungsi trombosit, dan kerusakan dinding endotel kapiler. Akhirnya, perdarahan akan memperberat syok yang terjadi.10 Pada teori kedua Antibody Dependent Enhancement (ADE), menyebutkan tiga hal yaitu antibodies enhance infection, T-cells enhance infection serta limfosit T dan monosit akan melepaskan sitokin yang berkontribusi terhadap terjadinya DBD dan DSS. Pada teori ADE, terdapat antibodi spesifik terhadap jenis virus tertentu, maka antibodi tersebut dapat mencegah penyakit, tetapi sebaliknya apabila antibodi yang terdapat dalam tubuh merupakan antibodi yang tidak dapat menetralisasi virus, justru dapat menimbulkan penyakit yang berat. Kinetik dari kelas imunoglobulin spesifik terhadap virus dengue di dalam serum pasien DD, DBD dan DSS ternyata didominasi oleh IgM, IgG1 dan IgG3, sedangkan IgA level tertinggi dijumpai pada fase akut dari DSS. Dikatakan pula bahwa IgA, IgG1 dan IgG4 dapat digunakan sebagai marker dari risiko berkembangnya DBD dan DSS, oleh karena itu pengukuran kadar imunoglobulin tersebut sejak awal pengobatan dapat membantu mengetahui perkembangan penyakit.11

6

Patogenesis Kebocoran Plasma Pada DBD Patogenesis kebocoran plasma pada DBD belum sepenuhnya dapat dipahami, namun terdapat dua perubahan patofisiologis yang mencolok, yaitu : 1) Meningkatnya permeabilitas kapiler yang mengakibatkan bocornya plasma, hipovolemia, dan terjadinya syok. Pada DHF terdapat kejadian unik yaitu terjadinya kebocoran plasma ke dalam rongga pleura dan rongga peritoneal. Kebocoran plasma terjadi singkat (24 - 48 jam). 2) Hemostasis abnormal yang disebabkan oleh vaskulopati, trombositopeni, dan koagulopati, mendahului terjadinya manifestasi perdarahan. Manifestasi klinis demam dengue timbul akibat reaksi tubuh terhadap masuknya virus. Virus akan berkembang di dalam peredaran darah dan akan ditangkap oleh makrofag. Segera terjadi viremia selama 2 hari sebelum timbul gejala dan berakhir setelah 5 hari gejala demam mulai. Makrofag akan segera bereaksi dengan menangkap virus dan memprosesnya sehingga makrofag menjadi APC (Antigen Presenting Cell). Antigen yang menempel di makrofag akan mengaktifasi sel T-Helper dan menarik makrofag lain untuk memfagosit lebih banyak virus. Sel T-helper akan mengaktifasi sel T-sitotoksik yang akan melisis makrofag yang sudah memfagosit virus dan mengaktifkan sel B yang akan melepas antibodi. Ada 3 jenis antibodi yang telah dikenali yaitu antibodi netralisasi, antibodi hemagglutinasi, antibodi fiksasi komplemen. Proses di atas

menyebabkan terlepasnya mediator-mediator yang merangsang terjadinya gejala sistemik seperti demam, nyeri sendi, otot, malaise dan gejala lainnya. Selain itu dapat terjadi

7

manifetasi

perdarahan

karena

terjadi

aggregasi

trombosit

yang

menyebabkan

trombositopenia, tetapi trombositopenia ini bersifat ringan.10 IV. MANIFESTASI KLINIS lnfeksi oleh virus Dengue dapat bersifat asimtomatik atau simtomatik berbentuk undifferentiated fever, DD dan DBD. Gejala klinik utama pada DBD ialah demam dan manifestasi perdarahan baik yang timbul secara spontan maupun setelah uji tourniquet. Untuk menegakkan diagnosis klinik DBD, WHO (1997) menetapkan beberapa patokan gejala klinik dan laboratorium 12,13 Tabel 1. Pembagian derajat DBD menurut WHO (1997) 14 :
DD/DBD DD Derajat Gejala Demam disertai 2 atau lebih tanda: sakit kepala, nyeri retro orbital, mialgia dan DBD DBD DBD I II III atralgia ditambah uji bendung positif. Gejala diatas ditambah uji bendung positif Gejala diatas ditambah perdarahan spontan Gejala diatas ditambah kegagalan sirkulasi ditandai dengan kulit dingin dan DBD IV lembab serta gelisah. Syok berat disertai dengan nadi tak teraba dan tekanan darah tak terukur Laboratorium Leukopeni,trombositopeni, Serologi tidak ditemukan bukti kebocoran plasma Trombositopeni (<100.000/ul) ditemukan bukti kebocoran plasma dengue positif

Gejala klinik14; 1) Demam atau riwayat demam akut yang berlangsung 2–7 hari, biasanya cccbifasik 2) Manifestasi perdarahan. o Uji bendung positif (uji Rumple leede (+)) o Perdarahan mukosa spontan: petekie, purpura, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi o Hematemesis, melena.

8

3) Hepatomegali. 4) Renjatan; nadi, cepat dan lemah, tekanan nadi menurun (< 20 mmHg) atau ccchipotensi disertai gelisah dan akral dingin. Laboratorium: 1) Trombositopeni (-< 100.000 /ul) 2) Terdapat minimal satu tanda kebocoran plasma sebagai berikut o Hemokonsentrasi (kenaikan Ht > 20% dibandingkan standar sesuai dengan umur dan jenis kelamin) o Penurunan hematokrit >20% setelah mendapat terapi cairan, dibandingkan dengan nilai hematokrit sebelumnya o VI. Efusi pleura, asites atau hipoproteinemia DIAGNOSIS Pada infeksi awal, isolasi dan identifikasi virus dengue merupakan satu satunya cara untuk mendiagnosis infeksi dengue. Serum penderita dimasukkan ke tubuh nyamuk. Setelah terjadi amplifikasi virus dalam sel yang terinfeksi, serotipe tersebut kemudian diidentifikasi dengan menggunakan antibodi monoklonal spesifik pada setiap serotipe. Cara ini hanya sensitif bila terdapat hubungan yang kuat antara partikel infeksius dalam serum. Viremia dengue berlangsung singkat, biasanya dimulai 2 atau 3 hari sebelum onset demam dan berakhir pada hari 4 atau 5 dari penyakit. Serum merupakan sampel yang rutin digunakan pada deteksi virus, selain itu virus juga dapat ditemukan pada plasma, leukosit tanpa antibodi, cairan serebrospinal, dan pada beberapa jaringan organ seperti hati, paru, lien, nodus limfatikus dan tymus. 15,16

9

Gambar 3. Rentang waktu dalam mengidentifikasi Ig M, Ig G isolasi virus15

Uji laboratorium merupakan uji yang sangat penting dalam memberikan konfirmasi diagnosis klinis dari infeksi virus dengue. Uji laboratorium tersebut meliputi kultur virus dan serologi 14: 1. Isolasi virus dengue Isolasi virus merupakan cara yang paling baik dalam arti sangat menentukan, tetapi diperlukan peralatan dan teknik yang canggih, sehingga tidak dipakai secara rutin. Keberhasilan isolasi virus ini sangat tergantung dari kualitas specimen yang dipakai yaitu:  Spesimen darah/serum: plasma dari fase akut jaringan otopsi terutama dari hati, limpa, timus dan nyamuk yang dikumpulkan di alam disimpan dalam suhu -70ºC  Spesimen kemudian ditanam dalam biakan jaringan nyamuk atau biakan jaringan mamalia. Akan terjadi pertumbuhan virus yang terlihat dengan adanya antigen yang ditunjukkan dengan immunoflouresen atau adanya CPE (cytopathic effect) pada biakan jaringan mamalia  Inokulasi/penyuntikan pada nyamuk, adanya pertumbuhan virus ditunjukkan dengan adanya antigen dengue pada kepala nyamuk yang dilihat dengan uji immunofluoresen. Pada identifikasi serotipe virus dengue yang telah diisolasi dilakukan dengan uji immunofluoresen dengan menggunakan antibodi monoklonal spesifik. Cara untuk isolasi 10

virus yang dipilih di laboratorium sangat tergantung pada fasilitas laboratorium dan keahlian petugas yang ada. 2. Kenaikan titer antibodi antara serum akut dengan serum konvalesen Pemeriksaan serologi yang dianggap sebagai dasar dan hal terpenting yang patut diketahui adalah terjadinya kenaikan titer antibodi akut ke antibodi konvalesen sebesar 4 kali atau lebih. Pemeriksaan serologis tersebut yaitu: a. Uji HI (Hemagglutination Inhibition Test) Uji ini merupakan uji serologi yang paling banyak dipakai secara rutin. Selain sederhana, mudah dan murah juga sensitif dan hasilnya sangat dapat dipercaya apabila dilakukan sesuai prosedur yang ada. Perlu diketahui bahwa antibodi HI akan berada di dalam darah dalam jangka waktu yang sangat lama (>50 tahun) begitu seseorang mendapatkan infeksi dengan virus dengue. Keadaan ini memungkinkan uji HI dipakai sebagai studi epidemiologi
Tabel 2. Interpretasi hasil uji HI 15 Antibody response ≥4-fold rise ≥4-fold rise ≥4-fold rise No change No change No change Unknown S1-S2 interval ≥ 7 days Any specimen < 7 days Any specimen ≥ 7 days < 7 days Single specimen Convalescent titer ≤ 1:1280 ≥ 1: 2560 ≤ 1:1280 > 1: 2560 ≤ 1:1280 ≤ 1:1280 ≤ 1:1280 Interpretation Acute flavivirus infection, Primary Acute flavivirus infection, Secondary Acute flavivirus infection, either primary or secondary Recent flavivirus infection, secondary Not dengue Interpretable Interpretable

Antibodi HI biasanya timbul pada kadar yang dapat terdeteksi yaitu 10 pada hari ke 5 atau 6 dari perjalanan penyakit, sedangkan antibodi konvalesen biasanya akan mencapai titer 640 atau dibawahnya pada infeksi primer. Pada infeksi sekunder atau 11

tersier akan terjadi reaksi anamnestik yang cepat dan titer antibodi konvalesen akan naik tinggi pada hari-hari pertama dari jalannya penyakit mencapai 5120 sampai 10240 atau bahkan lebih. Adanya titer yang tinggi, 1280 atau lebih pada spesimen akut, menunjukkan adanya dugaan infeksi baru (recent infection) dan diduga keras sebagai infeksi dengue baru. Titer HI yang tinggi biasanya akan berlangsung selama 2-3 bulan pada beberapa penderita dan mulai menurun pada hari 30-40 b. Uji pengikatan komplemen (Complement Fixation Test) Uji ini tidak banyak dipakai untuk diagnosis serologi secara rutin. Selain rumit caranya juga memerlukan keahlian tersendiri. Antibodi pengikat komplemen (CF antibody) biasanya timbul setelah antibodi HI muncul dan sifatnya lebih spesifik pada infeksi primer dan biasanya cepat menghilang dari darah dalam 2-3 tahun c. Uji Neutralisasi (Neutralization test) Uji ini merupakan ui serologi yang paling sensitif dan spesifik untuk infeksi dengue dibandingkan dengan uji serologi yang lain. Cara yang dianggap paling baik adalah apa yang disebut PRNT (Plague Reduction Neutralization Test) yaitu uji neutralisasi yang berdasarkan adanya reduksi plak yang terjadi sebagai akibat dari adanya proses neutralisasi virus oleh antibody di dalam serum penderita. Pada umumnya, antibodi netralisasi timbul bersamaan atau sedikit lebih lambat dari antibodi HI tetapi lebih cepat dari pada timbulnya antibodi pengikat komplemen. Antibodi netralisasi ini juga akan bertahan di dalam darah untuk waktu yang lama (> 50 tahun). Uji neutralisasi ini tidak dipakai secara rutin mengingat cara yang rumit, mahal dan memerlukan ketrampilan khusus. d. Uji Mac Elisa (IgM capture enzyme-linked immunosorbent assay) 12

Uji ini cukup sederhana dan tidak memerlukan alat canggih.

Uji ini

berdasarkan atas adanya antibody Ig M pada serum penderita yang ditangkap oleh goat anti human Ig M yang sebelumnya dilekatkan pada suatu permukaan yang kasar (plastik, piringan plastik). Jika antibodi dari penderita adalah antibodi anti dengue, maka mereka akan mengikat antigen dengue yang ditambahkan kemudian dan adanya ikatan tersebut dapat ditunjukkan dengan pemberian antibodi anti-dengue yang dilabel dengan enzim dan kemudian ditambahkan substrat sehingga akan menimbulkan warna
Tabel 3. Interpretasi hasil Uji Mac Elisa15 Ig M antibody response Increase in molar fraction
Elevated, no change or decrease in molar fraction Elevated

S1-S2 interval 2-14 days 2-14 days Single specimen

Ig M to Ig G ratio High Low High Low High Low

Interpretation Acute flavivirus infection, primary Acute flavivirus infection, secondary Recent flavivirus infection, primary Recent flavivirus infection, secondary Recent flavivirus infection, primary Recent flavivirus infection, probably secondary

Antibodi anti-dengue Ig M akan tibul lebih dulu dari pada antibodi antidengue Ig G, dan biasanya sudah dapat terdeteksi pada hari ke-5. Timbulnya Ig M ini dapat bervariasi pada beberapa orang. Pada beberapa orang dapat timbul pada hari ke 2-4 dari jalannya penyakit tetapi dapat pula baru timbul pada hari ke 7-8. Pada infeksi primer, titer Ig M dapat juga lebih tinggi dibandingkan pada infeksi sekunder. Pada beberapa infeksi primer IgM dapat bertahan di dalam darah sampai 90 hari setelah infeksi, tetapi pada kebanyakan penderita Ig M sudah akan menurun dan hilang pada hari ke 60.14

13

Uji Mac elisa tidak selalu dapat menentukan secara pasti adanya infeksi dengue baru. Jika pengambilan spesimen akut terlalu dini ada kemungkinan Ig M belum timbul sehingga di dalam uji hasilnya akan negatif. Demikian juga sebaliknya Ig M positif, masih belum tentu terjadi infeksi karena ada kemungkinan infeksi terjadi 60-90 hari yang lalu. Karena itu diperlukan kehati-hatian dalam menginterpretasikan hasil tersebut. 14 Untuk memberikan kepastian maka pemeriksaan ulangan terhadap spesimen konvalesen sangat diperlukan. Imunoglobulin Mac elisa kurang sensitifdibandingkan dengan uji HI. Dalam hal ini uji Mac elisa hanya menggunakan spesimen akut sedangkan uji HI menggunakan spesimen akut dan konvalesen. Kelemahan uji HI memerlukan spesimen konvalesen, yang seperti yang diketahui bersama sulit mendapatkannya dan harus menunggu waktu yang lama maka Ig M elisa dengan menggunakan spesimen akut dengan waktu pengambilan yang tepat, merupakan keunggulan14 e. Uji IgG Elisa indirek Imunoglobulin G elisa secara indirek merupakan uji serologi yang sebanding dengan uji HI. Hanya uji ini sedikit lebih sensitif. Uji ini memerlukan dua spesimen yaitu akut dan konvalesen. Uji ini juga dapat membedakan antara infeksi primer dan sekunder. Uji sederhana dan mudah dilakukan untuk memeriksa sampel dalam

jumlah banyak. Sebagaimana uji HI, uji Ig G elisa juga tidak spesifik, banyak reaksi silang dengan serotipe dan flavivirus lain.
14

3. Pembuktian adanya antigen virus yang spesifik atau adanya RNA di dalam jaringan atau serum 7,14,15. 14

Dengan kemajuan teknologi, kini juga tersedia pemeriksaan baru untuk pemeriksaan yang tidak serumit isolasi virus yaitu dengan teknik PCR (Polymerase Chain Reaction). Teknik ini membutuhkan biaya mahal dan tidak tersedia di semua tempat pelayanan kesehatan. Reverse Transcription and PCR amplifikasi (RT-PCR) adalah teknik yang digunakan untuk mendeteksi RNA virus DEN dengan menggunakan serotipe primer spesifik. Satu siklus untuk reaksi Reverse Transcriptase yaitu 60ºC selama 30 menit, kemudian diikuti dengan 2 menit untuk 94ºC. Sedangkan untuk PCR amplifikasinya ada 40 siklus, dimana tiap siklusnya terdiri dari 94ºC untuk 45 detik; 50ºC untuk 1 menit dan 60ºC untuk 1 menit, sedangkan untuk fase elongation akhir yaitu 60ºC selama 7 menit. Bagaimanapun, banyak laboratorium yang tidak memiliki kemampuan untuk mengkultur virus ataupun mengisolasinya. Oleh karena itu, single-reaction ini dapat digunakan untuk diagnosis serotipe spesifik virus dengue yang berbeda pada pasien dengue dan merupakan alat untuk rapid indentifikasi dan isolasi virus dengue. 7 4. NS1 Assays Protein NS1 merupakan glikoprotein yang dihasilkan oleh flavivirus dan sangat berperan dalam morfogenesis dan replikasi virus. Protein NS1 memiliki berat molekul kira-kira 48.000 dan disintesis pada retikulum endoplasmik kasar (Rough endoplasmic reticulum). Selama proses infeksi, NS1 dapat berada di dalam sel, di membran plasma maupun disekresikan keluar sel sehingga ia juga berperan dalam proses imunopatologi infeksi. 7 Antigen NS1 terdapat baik pada infeksi primer maupun sekunder. Antigen NS1 dapat dideteksi dalam 9 hari pertama demam, yang terdapat baik pada serotipe 15

DEN-1 (terbanyak), DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. Sensitivitas antigen NS1 berkisar 63% - 93,4% dengan spesifisitas 100% sama tingginya dengan spesifisitas gold standard kultur virus. Teknik pemeriksaan antigen NS1 dalam sampel serum saat ini sudah tersedia dalam bentuk KIT. Terdapat 2 macam kit pemeriksaan antigen NS1 di Indonesia, yaitu dari Panbio dan BioRad, keduanya memakai prinsip metode ELISA (Enzyme-linked immunosorbent assay). Saat ini juga sudah terdapat reagen NS1 dalam bentuk rapid test(ICT). Keuntungan dari pemeriksaan ini adalah, NS1

terdeteksi lebih awal dibandingkan antibodi lainnya dalam menegakkan kasus baru dan KLB.15,17 Untuk memastikan suatu infeksi virus, idealnya dilakukan isolasi terhadap virus itu. Isolasi virus merupakan cara terbaik untuk memastikan infeksi virus dengue. Namun untuk melakukan isolasi virus ini diperlukan teknik dan peralatan laboratorium yang canggih. Guna menentukan seseorang terinfeksi virus, misalnya diagnosis flavivirus secara konvensional, dilakukan pemeriksaan serologi yaitu pemeriksaan terhadap ada/tidaknya antibodi terhadap virus dengue akibat infeksi virus tersebut pada masa lalu ataupun saat sekarang. Antibodi terhadap virus dengue akan terbentuk bila seseorang terinfeksi virus tersebut. Teknik yang ada saat ini dapat mendeteksi antibodi pada titer yang cukup yaitu pada hari ke-5 setelah terinfeksi. 7 Pemeriksaan serologi jauh lebih sederhana dan murah dibandingkan dengan isolasi virus, namun punya beberapa kelemahan. Selain waktu yang dibutuhkan lebih lama serta fasilitas dan keamanan laboratorium yang tinggi, pemeriksaan ini dapat juga memberikan hasil positif palsu pada penderita yang mengalami infeksi virus yang satu kelompok dengan virus dengue (sensivitasnya 16

rendah). Di samping itu, pemeriksaan ini juga tidak dapat menentukan jenis virus dengue yang mana (serotipe). Antigen NS1 dapat dideteksi pada awal demam hari pertama sampai hari ke delapan . Penggunaan IgM dan IgG anti dengue tetap diperlukan untuk membedakan infeksi dengue primer atau sekunder, namun hasil positif keduanya dapat dijumpai tidak hanya pada DBD tetapi juga pada demam dengue. Namun dalam penanganan penderita yang diduga menderita infeksi virus dengue dari gejala-gejala klinisnya, pemeriksaan serologi dapat digunakan sebagai pegangan diagnosis.7 Antigen NS1 dianjurkan diperiksa pada awal demam sampai hari ke delapan. Hasil negatif antigen NS1 tidak menyingkirkan adanya infeksi virus dengue, karena variasi hasil ini diduga berkaitan dengan serotipe virus dengue yang menginfeksi. Pemeriksaan antigen NS1 tetap disertai dengan pemeriksaan antibodi IgM dan IgG anti dengue sebagai penentu infeksi primer ataupun sekunder, sekaligus untuk mengatasi kemungkinan hasil negatif palsu pada pemeriksaan antigen NS1.17

BAB III RINGKASAN
Demam Berdarah Dengue (DBD) sampai saat ini masih tetap merupakan masalah kesehatan yang besar di Indonesia. DBD disebabkan oleh virus dengue yang merupakan

17

anggota genus Flavivirus dari famili Flaviviridae dan terdiri atas 4 serotipe yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4 dengan daya infeksi tinggi pada manusia. Uji laboratorium merupakan uji yang sangat penting dalam memberikan konfirmasi diagnosis klinis dari infeksi virus dengue. Uji laboratorium tersebut meliputi : 1. Isolasi virus dengue 2. Antigen-antibodi: Uji HI (Hemagglutination Inhibition Test) Uji pengikatan komplemen (Complement Fixation Test) Uji Neutralisasi (Neutralization test) Uji Mac Elisa (IgM capture enzyme-linked immunosorbent assay) Uji IgG Elisa indirek 3. Pembuktian antigen virus spesifik atau adanya RNA di dalam jaringan atau serum 4. NS1 Assays Pemeriksaan serologi jauh lebih sederhana dan murah dibandingkan dengan isolasi virus, namun punya beberapa kelemahan yaitu sensitivitas dan spesifisitas yang rendah. Selain itu, waktu yang dibutuhkan lebih lama serta fasilitas dan keamanan laboratorium yang tinggi. Namun dalam penanganan penderita yang diduga menderita infeksi virus dengue dari gejala-gejala klinisnya, pemeriksaan serologi dapat digunakan sebagai pegangan diagnosis.

18

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->