You are on page 1of 11

Perkembangan Kognitif

A. Pengertian Perkembangan Kognitif


Secara umum kognitif diartikan potensi intelektual yang terdiri dari tahapan: pengetahuan
(knowledge), pemahaman (comprehention), penerapan (aplication), analisa (analysis), sintesa
(sinthesis), evaluasi (evaluation). Kognitif berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk
mengembangkan kemampuan rasional (akal). Perkembangan kognitif merupakan perkembangan
kemampuan berpikir dan penalaran yang semakin canggih seiring bertambahnya usia.
B. Prinsip-Prinsip Dasar Perkembangan Manusia
Prinsip umum yang tampaknya berlaku untuk setiap ranah perkembangan adalah (Ellis,2008):
a. Urutan perkembangan sedikit banyak dapat diramalkan.
Perkembangan manusia seringkali dicirikan oleh tonggak perkembangan perilaku-perilaku
baru yang semakin kompeks seiring meningkatnya tahap perkembangan yang muncul dalam urutan
yang dapat diramalkan.
b. Anak-anak berkembang dalam kecepatan yang berbeda.
Penentuan perkiraan usia saat anak mampu melakukan perilaku tertentu atau berpikir dengan
cara tertentu memungkinkan kita membuat ramalan umum mengenai kemampuan-kemampuan anak
pada tingkat usia tertentu.
c. Perkembangan itu terkadang terjadi dengan cepat, terkadang juga lambat.
Perkembangan tidak terjadi dalam kecepatan yang konstan. Suatu pertumbuhan yang relatif
cepat (spurt) dapat diselingi dengan pertumbuhan yang lambat (plateau).
d. Faktor hereditas (keturunan), dalam batas-batas tertentu, mempengaruhi perkembangan.
Hampir semua aspek perkembangan seorang anak dipengaruhi secara langsung ataupun tidak
langsung oleh susunan genetis anak yang bersangkutan. Meski demikian, tidak semua karakteristik
turunan tersebut tampak pada waktu kelahiran.hereditas terus mempengaruhi perkembangan anak
sepanjang proses kematangan (maturation), yakni mulai berkembangnya perubahan-perubahan yang
dikontrol secara genetis ketika anak berkembang.
e. Faktor-faktor lingkungan juga memberikan kontribusi yang penting terhadap perkembangan.
Kondisi-kondisi lingkungan bahkan dapat mempengaruhi karakteristik- karakteristik yang
sebagian besar dikendalikan oleh faktor hereditas.
f. Sebagian besar pembelajaraN kemungkinan melibatkan perubahan-perubahan di neuron dan
sinapsis.
Secara spesifik, pembelajaran seringkali melibatkan penguatan sinapsis yang telah ada atau
pembentukan sinapsis baru. Dalam sejumlah kasus, kemajuan belajar justru melibatkan pemusnahan
sinapsis. Pembelajaran yang efektif mengharuskan seseorang tidak hanya memikirkan dan melakukan
hal-hal tertentu, namun juga tidak memikirkan dan melakukan hal hal yang lain, dengan kata lain

orang yang bersangkutan menghambat kecenderungan untuk berpikir atau berperilaku dalam caracara tertentu.
g. Perubahan-perubahan perkembangan yang terjadi di otak memungkinkan terjadinya proses
berpikir yang semakin kompleks dan efesien.
Para ahli bersepkulasi bahwa melalui produksi sinapsis secara besar-besaran pada masa-masa
awal kehidupan, anak-anak memiliki potensi untuk beradaptasi diberbagai kondisi dan situasi. Saat
mereka menjumpai pengalaman yang berbeda-beda, sejumlah sinapsis menjadi sangat berguna dan
digunakan berulang-ulang.Sinapsis-sinapsis lain cenderung tidak berguna dan akhirnya memudar
dalam suatu proses yang disebut pemangkasan sinaptik.
h. Banyak bagian otak bekerja sama secara harmonis untuk memudahkan terjadinya proses berpikir
dan berperilaku yang rumit.
Dalam batas-batas tertentu , belahan otak kiri dan kanan atau hemisfer, dikorteks memiliki
fungsi yang khas yang berbeda. Pada sebagian besar orang mungkin (80%) orang, hemisfer kiri
berperan penting dalam bahasa dan pemikiran logis, sedangkan hemisfer kananlebih dominan dalam
tugas-tugas visualdan spasial.
i. Otak tetap mampu beradaptasi seumur hidup manusia.
Berdasarkan sudut pandang fisiologis, kemampuan otak untuk beradaptasi terhadap
perubahan keadaan dengan kata lain, kemampuan otak untuk belajar berlanjut sepanjang rentang
hidup manusia. Masa tahun-tahun awal memang merupakan masa-masa penting bagi perkembangan,
namun tak kalah pentingnya adalah masa-masa sesudahnya. Tidak ada satupun waktu terbaik atau
satu-satunya waktu untuk mempelajari sebagian topik dan keterampilan.
C. Peran Otak dalam Pembelajaran dan Kognitif
Empat poin penting mengenai per an otak dalam pembelajaran dan perkembangan kognitif,
yaitu:

1. Sebagian besar pembelajaran kemungkinan melibatkan perubahan-perubahan di neuron dan


sinapsis
Banyak peneliti meyakini bahwa landasan fisiologis pemebeljaran (dan perkembangan
kognitif) terletak pada perubahan-perubahan yang terjadi dalam hubungan-hubungan di
anatara neuron-neuron. Dalam sejumlah kasus, kemajuan dalam belajar justru melibatkan
pemusnahan sinapsis,. Pembelajaran efektif mengharuskan seseorang tidak hanya memikirkan
dan melakukan hal-hal tertentu, namun juga tidak memikirkan dan melakukan hal-hal yang
lain dengan kata lain, orang yang bersangkutan

2. Perubahan-perubahan perkembangan yang terjadi di otak memungkinkan terjadinya proses


berpikir yang semakin kompleks dan efisien.
Para ahli berspekulasi bahwa melalui produksi sinapsis secara besar-besaran pada masa-masa
awal kehidupan, anak-anak memiliki potensi untuk beradaptasi di berbagai kondisi dan
situasi. Saat mereka menjumpai stimulasi dan pengalaman yang berbeda-beda, sejumlah
sinapsis menjadi sangat berguna dan digunakan berulang-ulang, sinapsis-sinapsis lain yang

cenderung tidak berguna dan akhirnya memudar dalam suatu proses yang disebut
pemangkasan sinaptik, yaitu sebuah hal yang baik karena melenyapkan sinaptik
pengganggu yang tidak konsistenMdengan peristiwa-peristiwadan pola-pola perilaku yang
lazim terjadi
3. Banyak bagian otak bekerja sama secara harmonis untuk memudahkan terjadinya proses
berpikir dan berperilaku yang rumit.
Pada dasarnya, proses belajar dan berpikir mengenai apapun tersebut di sepanjang banyak
bagian otak. Tugas sederhana seperti mengidentifikasi suatu kata dalam percakapan atau
dalam naskah melibbatkan sejumlah besar area di korteks
4. Otak tetap mampu berdaptasi seumur hidup manusia.
Berdasarkan sudut pandang fisiologis, kemampuan otak untuk berdaptasi terhadap perubahan
keadaan dengan kata lain, kamampuan otak untuk belajar berlanjut sepanjang rentang hidup
manusia. Masa tahun-tahun awal memang merupakan masa-masa sesudahnya. Tidak ada
satupun waktu terbaik atau satusatunya waktu untuk mempelajari sebagian besar topic dan
keterampilan. Pada umumnya, jika kita ingin memahami hakikat pembelajaran dan
perkembangan kognitif manusia, kita terutama harus meninjau apa yang ditemukan psikolog
bahkan neurology.
D. Teori Piaget tentang Perkembangan Kognitif
Menurut Piaget, perkembangan kognitif mempunyai empat aspek, yaitu 1) kematangan, sebagai
hasil perkembangan susunan syaraf; 2) pengalaman, yaitu hubungan timbal balik antara orgnisme
dengan dunianya; 3) interaksi social, yaitu pengaruh-pengaruh yang diperoleh dalam hubungannya
dengan lingkungan social, dan 4) ekullibrasi, yaitu adanya kemampuan atau system mengatur dalam
diri organisme agar dia selalu mempau mempertahankan keseimbangan dan penyesuaian diri terhadap
lingkungannya.
Piaget memperkenalkan sejumlah ide dan konsep untuk mendeskripsikan dan menjelaskan
perubahan-perubahan dalam pemikiran logis yang diamatinya, yaitu:
Anak-anak adalah pembelajar yang aktif dan termotivasi.
Anak-anak mengonstruksi pengetahuan mereka berdasarkan pengalaman.
Anak-anak belajar melalui dua proses yang saling melengkapi, yakni asimilasi dan
akomodasi.
Interaksi anak dengan lingkungan fisik dan sosial adalah faktor yang sangat penting bagi
perkembangan kognitif.
Proses ekuilibrasi mendorong kemajuan ke arah kemampuan berpikir yang semakin
kompleks.
Sebagai salah satu akibat dari perubahan kematangan di otak, anak-anak berpikir dengan
cara-cara yang secara kualitatif berbeda pada usia yang berbeda.
Piaget membagi perkembangan pemikiran kanak-kanak menjadi empat tingkatan; tingkatan
sensorimotor, tingkat praopersai, tingkatan operasi konkret, dan tingkatan operasi formal. Setiap tahap
mempunyai tugas kognitif yang harus diselesaikan. Tingkatan sensori motor (0-2 tahun), pemikiran
anak berdasarkan tindakan indrawinya. Tingkatan Praoperasional (2-7 tahun), pemikiran anak ditandai

dengan penggunaan bahasa serta tanda untuk menggambarkan konsep. Tingkatan Operasi konkret (711 tahun) ditandai denganpenggunaan aturan logis yang jelas. Tahap Operasi Formal dicirikan dengan
pemikiran abstrak, hipotesis, deduktif, serta induktif. Secara skematis, keempat tingkatan itu dapat
digambarkan dalam tabel berikut.
Tahap
Sensorimotor
Praeparasi
Operasi konkret

Operasi Formal

Skema Empat Tingkatan Perkembangan Kognitif Piaget.


Umur
Ciri Pokok Perkembangan
0-2 tahun
Berdasarkan langkah
Langkah demi langkah
2-7 tahun
Penggunaan symbol/bahasa tanda
Konsep intuituif
8-11 tahun
Pakai aturan
jelas/logis
Reversibel dan
kekekalan
11 tahun keatas

Hipotesis
Abstrak
Deduktif dan
induktif
Logis dan
Probabilitas

E. Teori Vygotsky tentang Perkembangan Kognitif


Vygotsky berpendapat bahwa perkembangan kognisi sangat terkait dengan masakan dari orangorang lain. Teori Vygotsky mengatakan bahwa pembelajaran mendahului perkembangan. Bagi
Vygotsky, pembelajaran melibatkan perolehan tanda-tanda melalui pengajaran dan informasi dari
orang lain. Perkembangan melibatkan internalisasi anak terhadap tanda-tanda ini sehingga sanggup
berpikir dan memecahkan masalah tanpa bantuan orang lain, kemampuan ini disebut pengaturan diri
(self regulation). Asumsi-asumsi dasar Vygotsky, yaitu:
1. Melalui percakapan informal dan sekolah informal, orang-orang dewasa menyampaikan
kepada anak bagaimana kebudayaan mereka menafsirkan dan merespon dunia.
2. Setiap kebudayaan menanamkan perangkat-perangkat fisik dan kognitif yang menjadikan
kehidupan sehari-hari semakin produktif dan efisien.
3. Pikiran dan bahasa menjadi semakin independen dalam tahun-tahun pertama kehidupan.
4. Proses-proses mental yang kompleks bermula sebagai aktivitas-aktivitas sosial.
5. Anak dapat mengerjakan tugas-tugas yang menantang bila dibimbing oleh seseorang yang
lebih berkompeten dan lebih maju daripada mereka.
6. Permainan memungkinkan anak berkembang secara kognitif.

Perkembangan Linguistik
A. Pengertian Linguistik
Kata linguistic berasal dari bahasa latin lingua yang artinya bahasa. Ilmu linguistik disebut
juga dengan linguistik umum (general linguistik). Artinya linguistik tidak hanya menyelidiki suatu

langue tertentu tanpa memperhatikan ciri-ciri bahasa lain. Perkembangan linguistik merupakan
perkembangan pemahaman dan penggunaan bahasa yang semakin canggih seiring bertambahnya usia.
B. Perkembangan Linguistik
Penggunaan bahasa secara efektif merupakan sebuah usaha keras yang sangat kompleks. Berikut
perspektif-perspektif teoritis mengenai perkembangan linguistik:
1. Isu-isu teoritis terkait perkembangan teoritis
Lingkungan seorang anak memainkan peranan penting dalam perkembangan linguistik.
Anak-anak dapat mempelajari sebuah bahasa hanya bila orang-orang di sekelilingnya
menggunakan bahasa tersebut secara rutin dalam percakapan.selain itu, manusia memiliki
kemampuan menuasai bahasa yang jauh lebih kompleks dibandingkan spesies manapun di planet
ini.
2. Tren dalam perkembangan linguistik
Mayoritas terbesar anak-anak secara konsisten terbenam dalam lingkungan yang kaya
bahasa. Kemampuan bahasa tersebut terus berkembang dan menjadi matang sepanjang masa
kanak-kanak dan remaja.
a. Perkembangan kosakata
Pengetahuan siswa mengenai makna-makna kata (semantika) tidaklah bersifat mutlak.
b. Perkembangan sintaksis
Sintaksis adalah rangkaian peraturan yang digunakan seseorang untuk menempatkan
kata-kata menjadi kalimat. Aturan-aturan sintaksis memungkinkan kita meletakan berbagai
kata sekaligus menjadi kalimat-kalimat yang memiliki tata bahasa yang tepat.
c. Perkembangan kemampuan mendengarkan
Kemampuan siswa memahami apa yang didengar dipengaruhi oleh pengetahuan mereka
mengenia kosakata dan sintaksis. Namun, faktor-faktor lain juga berpengaruh seperti konteks
tempat mereka mendengar kata-kata tersebut.
d. Perkembangan keterampilan komunikasi lisan
Selama masa taman kanak-kanak dan awal sekolah dasar, banyak anak mengalami
kesulitan melafalkan bunyi seperti r dan ny. Saat berusia 8 atau 9 tahun, sebagian besar siswa
telah menguasai bunyi-bunyi bahasa ibu. Jika kesulitan pelafalan terus berlanjut setelah masamasa itu, perllu dilakukan konsultasi dengan dokter ahli patologi bicara mengenai strategistrategi perbaikan atau penyembuhannya.
e. Perkembangan kesadaran metalinguistik
Para siswa mengembangkan kesadaran meta linguistik (metalinguistic awareness);
kemampuan memikirkan hakikat bahasa itu sendiri.
C. Keberagaman dalam Perkembangan Kognitif dan Linguistik
Sekalipun urutan munculnya kemampuan-kemampuan kognitif linguistik dapat diprediksikan,
waktu munculnya tersebut tidaklah sama bagi tiap-tiap anak. Artinya, kemungkinan besar kita akan
menjumpai keberagaman yang cukup besar dalam segala kelompok usia.
1. Perbedaan-perbedaan budaya dan etnik
Penelitian membuktikan bahwa arah perkembangan kognitif berbeda di tiap-tiap budaya.
Perbedaan-perbedaan kultural juga memiliki pengaruh terhadap keragaman bahasa, bahkan pada
anak-anak yang dibesarkan dalam lingkup bahasa nasional yang kurang baik. Beberapa anak

berbicara menggunakan dialek, yaitu suatu bentuk bahasa yang berbeda dari karakteristik bahasa
yang baku, yang digunakan secara terbatas di kelompok etnik atau lingkungan geografis tertentu.
2. Menangani kebutuhan-kebutuhan khusus para pembelajar bahasa Inggris
Program-program bilingual, yakni program-program yang di dalamnya bahasa Inggris (atau
bahasa apapun yang merupakan bahasa resmi negara tersebut) diajarkan sebagai bahasa kedua
sedangkan mata pelajaran lainnya diajarkan dalam bahasa asli siswa pada umumnya lebih efektif
bagi siswa-siswi imigran daripada program pendalaman intensif(immersion). Idealnya, peralihan
dari pengajaran dalam bahasa asli siswa ke pengajaran dalam bahasa resmi negara tersebut
(misalnya, bahasa Inggris) seharusnya terjadi secara berangsur-angsur dalam rentang waktu
beberapa tahun, sehingga memungkinkan para siswa imigran menjadi fasih dalam kedua bahasa.
3. Mengakomodasi siswa-siswa berkebutuhan khusus
Perbedaan-perbedaan perkembangan kognitif dan linguistik pada siswa yang memiliki
kebutuhan pendidikan khusus. Misalnya, kita mungkin memiliki beberapa anak yang
menunjukan perkembangan kognitif yang sangat maju, sementara beberapa siswa lainnya
menunjukkan kemampuan kognitif dibidang-bidang tertentu atau secara menyeluruh jauh
dibawah rekan-rekannya.

Perkembangan Pribadi dan Sosial


A. Perkembangan Kepribadian
Kepribadian merupakan perilaku khas yang ditunjukkan seorang individu dalam beragam situasi.
Kepribadian anak merupakan gabungan dari pengaruh hereditas ___terutama dalam wujud temperamen
yang diwariskan___dan faktor-faktor lingkungan seperti perilaku orang tua dan ekspektasi budaya.
1. Temperamen
Temperamen adalah tendensi umum untuk merespons dan menangani peristiwa-peristiwa
lingkungan dengan cara tertentu. Tiap anak memiliki temperamen yang unik dan khas sejak lahir.
2. Pengaruh Orangtua
Para orangtua dapat memengaruhi kepribadian anak-anak mereka secara signifikan melalui
berbagai macam hal yang mereka lakukan___dan yang tidak mereka lakukan. Tiga aspek
hubungan orangtua-anak yang tampaknya paling berpengaruh, yaitu kelekatan (ikatan afeksi
yang kuat antara anak dan pengasuhnya), pola asuh (pola perilaku umum yang yang digunakan
orangtua dalam mengasuh anaknya), dan pemberian perlakukan yang tidak tepat terhadap anak.
B. Perkembangan Perasaan Diri
Perasaan diri adalah persepsi, keyakinan, penilaian, dan perasaan tentang diri sendiri sebagai
seorang pribadi yang mencakup konsep diri dan rasa harga diri. Faktor-faktor yang memengaruhi
perasaan diri, yaitu:
1. Performa sebelumnya
Konsep diri siswa memengaruhi cara mereka berperilaku. Namun, kebalikannya juga
berlaku:nasesmen-diri para siswa dipengaruhi oleh kesuksesan mereka pada masa lalu.
2. Perilaku orang lain

Perilaku orang lain memengaruhi persepsi diri siswa setidaknya dalam 2 cara. Pertama, cara
siswa mengevaluasi dirinya sendiri bergantung pada seberapa jauh siswa tersebut
membandingkan performanya dengan performa individu-individu lainnya, terutama teman
sebayanya. Kedua, persepsi diri siswa dipengaruhi oleh perilaku orang lain terhadap diri mereka.
3. Keanggotaan dan Prestasi dalam Kelompok
Menjadi anggota dalam satu atau lebih kelompok (misalnya dalam satu kelompok yang
populer) dapat juga meningkatkan perasaan diri siswa.
Perubahan-perubahan Perkembangan Terkait Perasaan Diri
a. Masa Kanak-kanak
Anak-anak SD cenderung membayangkan diri mereka secara konkret, dengan
karakteristik-karakteristik fisik dan perilaku yang dapat diamati dengan mudah.
b. Masa Remaja Awal
Saat memasuki masa remaja dan semakin menguasai kemampuan melakukan pemikiran
abstrak, para siswa semakin mampu mengidentifikasi dirinya dalam kerangka trait-trait
yang umum dan relatif stabil.
c. Masa Remaja Akhir
Mayoritas remaja akhir telah melampaui masa-masa pubertas yang sarat kebingungan
dan naik-turunnya emosi dan juga telah melampaui pengalaman bersekolah yang tidak
selalu menyenangkan, sehingga mampu menikmati konsep diri.
C. Perkembangan Hubungan dengan Teman Sebaya
Hubungan dengan teman sebaya, terutama persahabatan karib memiliki sejumlah peran
penting dalam perkembangan pribadi dan sosial remaja. Peran teman sebaya dalam
perkembangan anak, yaitu:
1. hubungan pertemanan menjadi suatu medan pembelajaran dan pelatihan berbagai
keterampilan sosial bagi para remaja, termasuk negosiasi, persuasi, kerja sama,
kompromi, kendali emosional, dan penyelesaian konflik.
2. memberikan dukungan sosial dan emosional yang sangat dibutuhkan para remaja.
3. sebagai agen sosialisasi yang membantu membentuk perilaku dan keyakinan anak.
4. sebagai role model dan menyediakan panduan perilaku yang dapat diterima, yang dapat
dilakukan, yang dianggap terpuji, dan yang dianggap cool.
5. teman sebaya menghukum satu sama lain atas perilaku yang dianggap melanggar batas
Karakteristik-karakteristik Hubungan Pertemanan
a. Persahabatan
para sahabat umumnya sangat bermanfaat secara emosional, orang selalu berusaha keras
melihat situasi dari sudut pandang orang lain dan menyelesaikan perselisihan yang
mengancam

merenggangkan

hubungan

tersebut.

Sebagai

hasilnya,

para

sahabat

mengembangkan kemampuan memahami perspektif orang lain dan keterampilan


menyelesaikan konflik yang semakin baik.

b. Kelompok sosial yang lebih besar


Sebagian besar remaja dan anak-anak juga menikmati kebersamaan bersama teman-teman
sebayanya yang bukan sahabat dekatnya. Seiring berlalunya waktu, mereka membentuk
kelompok sosial yang lebih besar yang rutin berkumpul.

c. Geng

Geng adalah suatu kelompok sosial kohesif yang dicirikan oleh ritus inisiasi, penggunaan
symbol-simbol dan warna-warna yang khas, kepemilikan terhadap suatu teritori yang
spesifik, dan permusuhan dengan satu atau lebih kelompok.

d. Hubungan Romantik
Hubungan romantik memiliki keunggulan yang nyata: hubungan tersebut dapat memenuhi
kebutuhan para remaja akan persahabatan, afeksi, dan keamanan, sekaligus memberikan
kesempatan bagi remaja untuk bereksperimen dengan keterampilan-keterampilan sosial dan
perilaku-perilaku interpersonal yang baru.
e. Popularitas dan Isolasi Sosial

Perkembangan Moral dan Prososial


A. Pengertian Moral dan Prososial
Perilaku moral adalah perilaku yang sesuai dengan kode moral kelompok sosial. Moral sendiri
berarti tata cara, kebiasaan, dan adat. Perilaku moral dikendalikan konsep konsep moral atau
peraturan perilaku yang telah menjadi kebiasaan bagi anggota suatu budaya. Sedangkan perilaku
prososial adalah perilaku yang ditujukan untuk memberikan manfaat bagi orang lain, lebih dari bagi
diri sendiri.
1. Tahap Perkembangan Moral
Tahap perkembangan moral yang sangat terkenal adalah yang dikemukakan oleh Lawrence E.
Kohlberg, yaitu:

a. Tingkat Prakonvensional
Tahap perkembangan moral yang aturan-aturan dan ungkapan-ungkapan moral masih
ditafsirkan oleh individu atau anak berdasarkan akibat fisik yang akan diterimanya, baik itu
berupa sesuatu yang menyakitkan atau kenikmatan. Pada tingkat ini terdapat dua tahap, yaitu
tahap orientasi hukuman dan kepatuhan serta orientasi relativitas instrumental.

b. Tingkat Konvensional
Tahap perkembangan moral yang aturan-aturan dan ungkapan-ungkapan moral dipatuhi atas
dasar menuruti harapan keluarga, kelompok atau masyarakat. Pada tingkat ini terdapat juga
dua tahap, yaitu tahap orientasi kesepakatan antara pribadi atau disebut "orientasi anak manis"
serta tahap orientasi hukum atau ketertiban.

c. Tingkat Pascakonvensional
Tahap perkembangan moral yang aturan-aturan dan ungkapan-ungkapan moral dirumuskan
secara jelas berdasarkan nilai-nilai dan prinsip moral yang memiliki keabsahan dan dapat
diterapkan, hal ini terlepas dari otoritas kelompok atau orang yang berpegangan pada prinsip
tersebut dan terlepas pula dari identifikasi diri dengan kelompok tersebut. Pada tingkatan ini
terdapat dua tahap, yaitu tahap orientasi kontrak sosial legalitas dan tahap orientasi prinsip
etika universal.
2. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Moral
a. Perkembangan Kognitif Umum
Penalaran moral yang tinggi yaitu penalaran yang dalam mengenai hukum moral dan nilainilai luhur seperti kesetaraan, keadilan, hak-hak asasi manusia dan memerlukan refleksi yang
mendalam mengenai ide-ide abstrak.

b. Penggunaan Rasio dan Rationale


Anak-anak lebih cenderung memperoleh manfaat dalam perkembangan moral ketika mereka
memikirkan kerugian fisik dan emosional yang ditimbulkan perilaku-perilaku tertentu
terhadap orang lain. Menjelaskan kepada anak-anak alasan perilaku-perilaku tertentu tidak
dapat diterima, dengan focus pada perspektif orang lain, dikenal sebagai induksi.
c. Isu dan Dilema Moral
Kohlberg dalam teorinya mengenai teori perkembangan moral menyatakan bahwa
disekuilibrium adalah anak-anak berkembang secara moral ketika mereka menghadapi suatu
dilema moral yang idak dapat ditangani secara memadai dengan menggunakan tingkat
penalaran moralnya saat itu. Dalam upaya membantu anak-anak yang menghadapi dilema
semacam itu Kohlberg menyarankan agar guru menawarkan penalaran moral satu tahap di
atas tahap yang dimilik anak pada saat itu.
d. Perasaan Diri
Anak-anak lebih cenderung terlibat dalam perilaku moral ketika mereka berfikir bahwa
mereka sesungguhnya mampu menolong orang lain dengan kata lain ketika mereka memiliki
efikasi diri yang tinggi mengenai kemampuan mereka membuat suatu perbedaan
B. Keberagaman dalam Perkembangan Pribadi dan Sosial
Menurut Ormord (2008) keberagaman dalam perkembangan pribadi dan social meliputi:
1. Perbedaan-perbedaan Budaya dan Etnik
Perasaan diri menjadi sebuah karakteristik yang muncul karena adanya perbedaan kelompok
budaya dan etnik. Sejumlah budaya mendorog anak untuk memiliki rasa bangga terhadap
pencapaian yang dicapai oleh keluarganya maupun kelompok sosialnya. Hal ini biasanya
terjadi pada kelompok mayoritas. Berbeda halnya dengan kelompok minoritas yang kurang
memiliki keyakinan terhadap pencapaian dirinya. Maka dari itu kelompok siswa dari
kalangan

minoritas

membutuhkan

dukungan

yang

kuat

sebagai

upaya

untuk

mengembangkan potensi dirinya.

2. Perbedaan-perbedaan Jender
Perbedaan jender menjadikan adanya perbedaan persepsi diri antara anak laki-laki dan anak
perempuan. Anak laki-laki cenderung unggul dalam hal matematika dan olahraga sedangkan
anak perempuan unggul dalam bahasa dan sastra. Hal ini diamati dalam konteks perilaku
interpersonal.
3. Perbedaan Sosial Ekonomi
Kondisi ekonomi kerap menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh para remaja. Remaja
yang memiliki orang tua dengan penghasilan rendah lebih cenderung memiliki tantangan
yang berat dibandingkan dengan remaja yang berasal dari keluarga sejahtera. Namun
meskipun orang tua berpenghasilan rendah jika siswa tetap memiliki jiwa yang tangguh
maka akan membuat konsep diri secara interpersonal menjadi hal yang tidak merugikan.

4. Mengakomodasi Siswa-Siswa Berkebutuhan Khusus


Siswa yang berkebutuhan khusus memiliki perasaan diri yang yang lebih rendah
dibandingkan dengan teman-temannya. Kemampuan untuk bersosialisasi yang rendah

sehingga membuat ia kurang memiliki teman, kurang bisa untuk mempertimbangkan


perspektif orang lain.

Perbedaan Kelompok
A. Pengertian Perbedaan Kelompok
Kelompok merupakan kumpulan manusia yang memiliki syarat-syarat tertentu, dengan kata lain
tidak semua pengumpulan manusia dapat disebut sebagai kelompok. Sedangkan perbedaan kelompok
sendiri merupakan perbedaan yang cenderung kita lihat secara umum di antara para siswa dari
beragam kelompok budaya dan etnis, jender, atau latar belakang sosioekonomi yang berbeda.
B. Perbedaan Budaya dan Etnis
Kebudayaan mencakup perilaku dan sistem keyakinan yang menjadi ciri kelompok sosial yang
sudah lama ada. Latar belakang budaya memengaruhi perspektif dan nilai-nilai yang dianut,
keterampilan-keterampilan yang dikuasai, dan peran orang dewasa yang diinginkan. Hal tersebut juga
mengarahkan perkembangan keterampilan bahasa dan komunikasi, ekspresi dan pengaturan emosi,
serta pembentukan citra diri.
C. Perbedaan Jender
Dalam hal kemampuan akademis, anak-anak laki-laki dan perempuan mungkin lebih memiliki
kesamaan, tetapi dalam beberapa lain bisa lebih berbeda. Menurut Ormrod (2008), mengidentifikasi
sejumlah perbedaan dalam bidang fisik, kognitif pribadi, dan sosial.
1. Aktivitas fisik dan keterampilan
Anak laki-laki secara tempramen cenderung lebih aktif dibandingkan dengan anak
perempuan. Oleh karena itu, mereka lebih sulit duduk tenang untuk waktu lama, kurang suka
membaca, dan lebih cenderung membuat ulah di kelas.
2. Kemampuan kognitif dan akademis
Secara rata-rata, anak laki-laki dan permpuan memiliki prestasi yang sama dalam tes
intelegensi umum. Berdasarkan pengamatan, perbedaan jender yang selalu muncul adalah
dalam kemampuan visual spasial, yaitu kemampuan untuk membayangkan dan
memanipulasi secara mental gambar dua dan tiga dimensi.
3. Motivasi dan kegiatan akademis
Secara rata-rata, anak-anak perempuan lebih peduli untuk berprestasi tinggi di sekolah.
Lebih jauh, anak perempuan lebih tertarik meraih pendidikantinggi daripada anak laki-laki
dan di banyak negara lebih banyak perempuan yang melanjutkan pendidikannya ke
perguruan tinggi dibandingkan dengan laki-laki.
4. Perasaan diri
Dimulai di kelas akhir sekolah dasar atau seklah menengah, anak lelaki tampak memiliki
perasaan diri (sense of self) secara menyeluruh yang sedikit lebih positif dibandingkan
dengan anak perempuan. Perbedaan jender ini tampaknya sebagian karena anak laki-laki
cenderung menilai kemampuannya secara berlebihan, sedangkan anak perempuan cenderung
menilai kemampuannya terlalu rendah.
5. Perilaku dan hubungan antarpribadi
Cara anak laki-laki dan perempuan dalam beriteraksi dengan teman sebayanya sangatlah
berbeda. Salah satu perbedaan jender yang paling konsisten muncul adalah agresi.
6. Perilaku di Kelas

Anak lelaki lebih banyak berbicara dan bertanya, kadang tanpa menunggu ditunjuk. Anak
perempuan adalah partisipan kelas yang lebih pendiam.
7. Aspirasi karier
Secara historis, anak laki-laki memiliki hasrat dalam karier yang lebih ambisisus
dibandingkan dengan anak perempuan. Akan tetapi pada beberapa tahun terakhir ini anak
perempuan mulai melirik profesi yang menantang.
D. Perbedaan Sosioekonomi
Konsep status sosioekonomi mencakup sejumlah variabel, termasuk penghasilan keluarga,
tingkat pendidikan orangtua, dan pekerjaan orangtua. Prestasi sekolah dihubungkan dengan tatus
sosioekonomi mereka. Siswa dengan status sosioekonomi yang tinggi cenderung memiliki
prestasi akademis yang lebih tinggi, sedangkan siswa dengan status sosioekonomi yang rendah
cenderung memiliki risiko putus sekolah yang lebih besar. Berikut ini ada beberapa faktor risiko
yang terkait dengan kemiskinan.
1. Gizi dan kesehatan buruk
2. Rumah yang tak layak dan sering berpindah pindah
3. Rentan terhadap racun
4. Lingkungan sosial yang tidak sehat
5. Stres Emosional
6. Kesenjangan dalam pengetahuan dasar
7. Kurangnya keterlibatan orangtua dalam kehiatan sekolah dan pekerjaan
8. Sekolah berkualitas rendah