You are on page 1of 9

Laporan Praktikum

Struktur dan Fungsi Biomolekul

Hari/Tanggal
Waktu
PJP
Asisten

: Jumat, 16 Oktober 2015


: 08.00-11.00 WIB
: Indah Setyawati, STP, MSi
: Kartika Anggraeni
Rosliana PW
Caecilia Jessica U

PROTEIN
Pengendapan oleh logam, Pengendapan oleh garam, Uji koagulasi,
Pengendapan oleh alkohol, Denaturasi protein
Kelompok 14
Ike Wahyuni Putri
Ichwanul Aziz M
Mira Nurviana

G84130085
G84130073
G84130015

DEPARTEMEN BIOKIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015
1

PENDAHULUAN
Bobot jenis adalah suatu besaran yang menyatakan perbandingan antara
massa (g) dengan volume (ml), jadi satuan bobot jenis g/ml. Bobot jenis suatu zat
adalah perbandingan antara bobot zat dibanding dengan volume zat pada suhu
tertentu (biasanya 25 0C). Bobot jenis adalah bilangan murni atau tanpa
dimensi,yang dapat diubah menjadi kerapatan dengan menggunakan rumus yang
cocok. Bobot jenis untuk penggunaan praktis lebih sering didefinisikan sebagai
perbandingan massa dari suatu zat terhadap massa sejumlah volume air pada suhu
40C atau temperatur lain yang telah ditentukan (Aprilia et al. 2011). Tegangan
permukaan suatu cairan dapat didefinisikan sebagai banyaknya kerja yang
dibutuhkan untuk memperluas permukaan cairan per satu satuan luas. Molekul
yang ada di dalam cairan akan mengalami gaya tarik menarik (gaya van der
waals) yang sama besarnya ke segala arah. Namun, molekul pada permukaan
cairan akan mengalami resultan gaya yang mengarah ke dalam cairan itu sendiri
karena tidak ada lagi molekul di atas permukaan dan akibatnya luas permukaan
cairan cenderung untuk menyusut (Indarniati et al. 2008).
Emulsi merupakan suatu campuran yang tidak stabil dari dua cairan yang
pada dasarnya tidak saling bercampur, pada umumnya untuk membuat kedua
cairan tersebut dapat bercampur diperlukan zat pengemulsi (emulsifying agent)
sehingga sediaan emulsi dapat stabil. Beberapa zat pengemulsi diantaranya gom
arab, tragakan, gelatin, pektin, lecithin, stearil alkohol, bentonit, dan zat pembasah
atau surfaktan. Berdasarkan strukturnya zat pengemulsi bersifat amfifilik karena
memiliki molekul-molekul yang terdiri dari bagian hidrofobik (oleofilik) dan
hidrofilik (oleofobik) (Wathoni et al. 2007). Pengujian biofisik suatu larutan
diperlukan untuk mengetahui penangan dan penggunaan dari larutan tersebut.
Selain itu pengujian biofisik larutan merupakan langkah awal dalam analisis
sampel serta pengujian yang paling sederhana yaitu berupa penentuan bobot jenis,
tegangan permukaan dan emulsinya. Percobaan ini bertujuan menganalisis bobot
jenis berbagai larutan, membandingkan bobot jenis urin probandus mahasiswa
biokimia, menguji tingkat tegangan permukaan larutan dan menentukan
kestabilan dan tipe emulsi.
METODE
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 11 September 2015,
pukul 08.00 s/d 11.00 WIB. Tempat di Laboratorium Struktur dan Fungsi
Biomolekul lantai 5 Departemen Biokimia, Institut Pertanian Bogor
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah akuades, larutan NaCl
0.3%, NaCl 0.9%, NaCl 5%, glukosa 5%, air kelapa, air kran, larutan albumin 1%,

urin, cairan empedu, larutan detergen, larutan NaCl 20%, alkohol, minyak tanah,
minyak kelapa, sabun, gum arab, sudan merah, susu dan mentega. Alat yang
digunakan yaitu gelas piala, gelas arloji, batang pengaduk, jarum, dan mikroskop.
Prosedur Penelitian
Bobot Jenis. Bobot jenis akuades, larutan NaCl 0.3%, NaCl 0.9%, NaCl
9%, glukosa 5%, air kelapa, air kran, albumin dan urin dihitung menggunakan
hidrometer dan urinometer.
Tegangan Permukaan. Jarum diletakkan pada gelas arloji, lalu diisi
dengan akuades sampai jarum terapung. Percobaan diulangi dengan menggunakan
cairan empedu, air kelapa, air sungai danlarutann detergen. Percobaan menghitung
jumlah tetesan dan tegangan permukaan dilakukan menggunakan akuades,
larutan NaCl 20%, alkohol, minyak mineral dan air sabun. Jumlah tetes yang
keluar dihitung dan dibandingkan antara larutan satu dengan larutan lain.
Sistem Emulsi. Minyak kelapa dan air dicampurkan, lalu dilihat emulsi
yang terbentuk. Mikroskop digunakan untuk melihat jenis emulsi. Lakukan hal
yang sama dengan campuran minyak kelapa dan sabun, minyak kelapa dan gum
arab, susu dan mentega, lalu ditentukan jenis emulsinya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berat jenis adalah perbandingan relatif antara massa jenis sebuah zat
dengan massa jenis air murni. Air murni bermassa jenis 1 g/cm atau 1000 kg/m.
Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu Hidrometer. Hidrometer pula
berupa pipa kaca yang ujung dan bagian bawahnya tertutup dan diberi pemberat
pada bagian bawahnya. Prinsip penggunaan hidrometer dalam menentukan bobot
jenis yaitu jika alat ini dicelupkan dalam cairan yang akan diuji, maka angka
menunjukkan bobot jenis zat tersebut. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi
bobot jenis suatu zat adalah temperatur, dimana pada suhu yang tinggi senyawa
yang diukur berat jenisnya dapat menguap sehingga dapat mempengaruhi bobot
jenisnya, demikian pula halnya pada suhu yang sangat rendah dapat menyebabkan
senyawa membeku sehingga sulit untuk menghitung bobot jenisnya. Oleh karena
itu, digunakan suhu dimana biasanya senyawa stabil, yaitu pada suhu 25 0C (suhu
kamar). Massa zat, jika zat mempunyai massa yang besar maka kemungkinan
bobot jenisnya juga menjadi lebih besar. Volume zat, jika volume zat besar maka
bobot jenisnya akan berpengaruh tergantung pula dari massa zat itu sendiri,
dimana ukuran partikel dari zat, bobot molekulnya serta kekentalan dari suatu zat
dapat mempengaruhi bobot jenisnya. Serta kekentalan/viskositas sutau zat dapat
juga mempengaruhi berat jenisnya (Aprilia et al. 2011).
Penentuan bobot jenis berbagai larutan pada tabel 1 menunjukkan
suhu seluruh larutan berada di atas suhu alat denga suhu larutan tertinggi yaitu
larutan NaCl 5% sebesar 29.5 0C dan suhu alat 20 0C. Hal ini menyebabkan nilai
bobot jenis terkoreksi akan ditambah setiap naik 3 0C. Bobot jenis suatu larutan
bergantung pada jumlah zat yang terlarut dalam larutan tersebut. Bobot jenis
terkoreksi tertinggi yaitu pada larutan NaCl 5% dan yang paling kecil adalah

albumin 1%. Jika di bandingkan dengan NaCl 0.3% dan NaCl 0.9%, NaCl 5%
memiliki bobot jenis yang lebih besar diantara ketiganya. Hal ini dikarenakan
NaCl 5% memiliki konsentrasi yang terbesar diantara semua NaCl. Semakin besar
konsentrasi senyawa suatu larutan, maka semakin besar pula berat jenis larutan
tersebut karena jumlah zat terlarut dalam larutan juga besar. Selain itu bobot jenis
juga dipengaruhi oleh suhu larutan tersebut. Demikian halnya dengan albumin 1%
memilik bobot jenis rendah karena zat terlarut dalam larutannya hanya
mengandung albumin saja dengan konsentrasi hanya 1% sehingga bobot jenisnya
rendah.
Pengukuran bobot jenis urine dilakukan dengan menggunakan urinometer.
Bobot jenis urin setiap manusia berbeda-beda. Faktor yang mempengaruhi
perbedaan berat jenis urin adalah jumlah relatif air, makanan yang di konsumsi,
dan zat terlarut yang tersedia untuk eksresi. Zat terlarut dapat berupa garam-garam
dan urea serta setiap konstituen yang abnormal (McPherson 2004). Bobot jenis
normal urin manusia adalah 1.010-1.025 (Carpenito 2009). Bobot jenis rendah
biasanya dijumpai pada penyakit ginjal seperti glomerulonefteritis, pielonefritis
ADH, gangguan metabolic seperti dieresis pada DM, hidrasi berat
berkepanjangan.
0
Biasanya Bj urin
Meja
Suhu ( C) BJ terukur (g/mL) BJ terkoreksi (g/mL)
tinggi dijumpai pada
1
34
1.008
1.013
keadaan puasa dan
2
33
1.010
1.015
glukosuria (Syamsuri
3
32
1.032
1.036
4
32
1.024
1.028
2001).
5
6
7

31
32
34

1.018
1.028
1.020

1.022
1.032
1.025

Tabel 1 Pengukuran
bobot jenis beberapa

larutan
Sampel

T larutan (0C)

BJ terukur (g/mL)

BJ terkoreksi (g/mL)

Air keran
NaCl 0.3%
NaCl 0.9%
NaCl 5%
Glukosa 5%
Air kelapa
Albumin 1%

27
29.5
29
29.5
28
27
28

1.004
1.006
1.012
1.036
1.020
1.022
1.002

1.006
1.010
1.015
1.040
1.023
1.024
1.005

Contoh perhitungan
T alat = 20 0C
T cairan = 28 0C
X = T cairan T alat x 10-3 = 28 0C - 20 0C x 10-3 = 2.67 x 10-3 = 0.003
3
3
BJ terkoreksi = BJ terukut + X = 1.002 + 0.003 = 1.005 g/mL
Tabel 2 Pengukuran BJ probandus mahasiswa Biokimia 50

Contoh perhitungan
T alat = 20 0C
T cairan = 28 0C
X = T cairan T alat x 10-3 = 34 0C - 20 0C x 10-3 = 4.67 x 10-3 = 0.005
3
3
BJ terkoreksi = BJ terukut + X = 1.008 + 0.005 = 1.0013 g/mL
Data tabel 2 menunjukkan bahwa bobot jenis urin mahasiswa biokimia 50
berbeda-beda, hal ini disebabkan oleh faktor-faktor yang telah dijelaskan
sebelumnya. Namun beberapa bobot jenis tersebut tidak memasuki rentang bobot
urin normal seperti pada bobot jenis meja 4 sebesar 1.028 g/mL dan bobot jenis
meja 3 1.032 g/mL dan meja 6 sebesar 1.032 g/mL sedangkan bobot jenis normal
urin manusia adalah 1.010-1.025 (Carpenito 2009). Urin atau airseni adalah
cairanyang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam
tubuh melalui proses urinasi. Eksresi urin diperlukan untuk membuang molekulmolekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga
homeostasis cairan tubuh. Didalam urin dapat didiagnosa adanya gangguan
fisiologi pada sistem perkemihan sehingga dilakukan beberapa pemeriksaan pada
urin. Selain itu fungsi penentuan bobot jenis membantu dalam menganalisis
berbagai macam penyakit dalam tubuh. Kandungan dalam urin juga menentukan
berbagai zat yang terdapat dalam tubuh dan berbagai makanan yang telah kita
konsumsi (Brooker 2001).
Pengukuran tegangan permukaan dengan metode metode kenaikan kapiler
yaitu dengan zat cair akan membasahi kaca, pada pipa kapiler dari kaca,
permukaannya akan lebih tinggi dari permukaan diluar pipa kapiler, karena
partikel zat cair yang menempel pada kaca bagian pipa kapiler kana tertarik ke
atas dan tegangan permukaan akan menarik seluruh permukaan zat cair ke atas
pula. Penarikan ini akan berhenti kalau gaya berat yang cenderung menarik massa
zat cair ini ke bawah tepat sama dengan gaya tarik ke atas dari tegangan
permukaan. Serta metode berat tetesan zat cair yaitu tetesan akan jatuh kalau
tegangan permukaan zat cair mencapai harga sedikit lebih kecil dari berat zat cair
yang membentuk tetesan tersebut. (Tang et al. 2011). Faktor faktor yang
mempengaruhi tegangan permukaan berupa faktor internal seperti jari jari
kapiler, tinggi kenaikan, kerapatan sedangkan faktor eksternal seperti suhu,
kualitas bahan, kebersihan alat (Indarniati et al. 2008).
Surfaktan yang larut dalam minyak adalah senyawa organik yang memiliki
rantai panjang umumnya mempunyai gugus polar yang khas seperti COOH,
OH, CONH2, NH2, SO3H, SH, dan garam-garam dari gugus karbosilat dan
sulfonat. Senyawa-senyawa ini umumnya tidak menurunkan tegangan permukaan
cairan, tetapi menurunkan tegangan antarmuka minyak-air. Sedangkan surfaktan
yang larut dalam air adalah surfaktan yang ujung ion bersifat hidrofilik. Molekul
surfaktan memiliki sifat polar (gugus hidrofilik) dapat dengan mudah larut di
dalam air dan sifat non polar (gugus hidrofobik) yang mudah larut dalam minyak.
Jika proses interaksi dengan fasa air lebih kuat dibandingkan dengan fasa minyak,
hal ini menunjukkan bahwa jumlah gugus hidrofiliknya lebih banyak. Sebagai
akibatnya akibatnya, tegangan permukaan air menjadi lebih rendah sehingga
dengan mudah menyebar dan menjadi fasa kontinu. Demikian pula sebaliknya,

jika interaksi dengan fasa minyak lebih kuat dibandingkan dengan fasa air, yang
diakibatkan oleh jumlah gugus hidrofobik yang lebih dominan. Hal ini akan
mengakibatkan tegangan permukaan minyak menjadi lebih rendah sehingga
dengan mudah menyebar dan menjadi fasa kontinu ( Adisalamun et al. 2012).

Tabel 3 Pengujian tegangan permukaan


Sampel

Tetesan

Tenggelam/Terapung

22
28
0
58
29
-

Terapung
Tenggelam
Tenggelam
Tenggelam
Tenggelam

Aquades
NaCl
Etanol
Air sabun
Minyak kelapa
Empedu
Air Sungai
Air kelapa

Tabel 4 Pengujian tipe emulsi


Sampel

Kestabilan

Tipe

Minyak
kelapa dan
air
-

Sabun

Minyak kelapa

Minyak kelapa

Gum Arab

Air

Asam lemak

Air

Asam lemak

( O/W )

Mentega

++

Air

( O/W )

Susu

++

Minyak kelapa

( O/W)

Minyak
kelapa dan
Gum Arab
-

Fase
Terdispersi

( W/O )

Minyak
kelapa dan
sabun
+

Fase
Pendispersi

( W/O )

Keterangan :
6

++
+

= Sangat stabil
= Stabil
= Kurang stabil

Tegangan permukaan karena karena adanya interaksi antar molekul larutan


sehingga memberikan daya tolak untuk mempertahankan luas permukaan.
Percobaan jumlah tetesan menunjukan tetesan yang paling banyak adalah pada air
sabun. Hal ini terjadi karena tegangan permukaan zat cair tersebut rendah
sehingga jumlah tetesan yang dihasilkan tinggi. Sedangkan pada akuades jumlah
tetesan tidak terlalu banyak ini disebabkan tegangan permukaan pada akuades dan
NaCl cukup tinggi sehingga daya tolak untuk mempertahankan luas permukaan
tinggi, sehingga jumlah tetesan yang dihasilkan sedikit, selain itu disebabkan
molekul-molekul yang terdapat pada air dan NaCl yang berinteraksi lebih kuat
yang mengakibatkan tiap tetes yang dihasilkan lebih besar. Sedangkan pada etanol
yang memiliki ikatan hidrogen sehingga gaya tarik antar molekul lebih kuat dan
menyebabkan tegangan permukaannya tinggi karena cenderung mempertahankan
dirinya saat akan menetes.
Semakin besar tegangan permukaan suatu larutan maka semakin kuat
permukaan larutan memberikan gaya tolak atas bagi benda yang ada di atasnya.
Data tabel 3 menunjukkan bahwa hanya aquades yang mengapung saat diteteskan
ke arloji berisi jarum sedangkan yang lainnya tidak. Peristiwa yang terjadi jika di
tetesi air sabun dan cairan empedu, jarum yang ada pada gelas arloji akan
tenggelam, karena cairan ini bersifat emulgator yang berfungsi menurunkan
tegangan permukan zat cair. Sedangkan air sungai, air kelapa serta seharusnya
mengapung. Kesalahan mungkin disebabkan karena tidak konsistennya jumlah
tetesan yang diteteskan pada gelas arloji sehingga mempengaruhi tegangan
permukaannya.
Emulsi adalah sistem dua fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam
cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil. Stabilitas emulsi dapat
dipertahankan dengan penambahan zat yang ketiga yang disebut dengan
emulgator (emulsifying agent). Tipe emulsi dibagi menjadi emulsi tipe O/W yaitu
emulsi yang terdiri dari butiran minyak yang tersebar ke dalam air serta emulsi
tipe W/O yaitu emulsi yang terdiri dari butiran air yang tersebar ke dalam minyak.
Hal yang dapat dilakukan untuk dapat membedakan tipe emulsi tersebut yaitu
denga menambahkan Sudan merah pada emulsi tersebut. Emulsi dengan larutan
Sudan merah dapat memberi warna merah pada emulsi tipe w/o, karena sudan III
larut dalam minyak. Fungsi penggunaan Gum Arab yaitu sebagai emulgator yang
dapat membentuk lapisan film yang kuat tetapi lunak. Jumlahnya cukup untuk
menutup semua permukaan partikel fase dispersi dan dapat membentuk lapisan
film dengan cepat dan dapat menutup semua permukaan partikel dengan segera.
Minyak kelapa dan air merupakan emulsi yang tidak stabil, namun ketika
campuran tersebut dikocok akan menjadi stabil beberapa saat. Pada emulsi ini
minyak kelapa dengan air, yang menjadi media pendispersinya adalah minyak
kelapa, sedangkan air sebagai zat terdispersi. Ketika penambah sudan merah
menyebabkan sudan merah tersebut bercampur dengan minyak, sedangkan air
tidak bisa menyatu karena kepolarannya berbeda. Sudanmerah berfungsi sebagai
zat warna agar dapat membedakan cairan minyak dengan air dan dapat menarik
air. Emulsi diatas dinamakan emulsi tipe W/O, karena air terdispersi dalam

minyak. Sedangkan pada emulsi minyak kelapa dengan air sabun membentuk
emulsi yang lebih stabil Emulsi ini disebut emulsi O/W ( minyak dalam air). Hal
ini karena air sabun yang sebagai zat amfipatik yang memiliki stuktur dua gugus
yaitu hidofobik pada bagian ekor yang bersifat non-polar dan hidrofilik pada
bagian kepalanya yang bersifat polar. Sehingga bagian non-polar akan bergabung
dengan minyak yang kemudian bersama-sama bergabung dengan air. Emulsi
minyak kelapa dengan gum arab adalah emulsi yang lebih stabil jika
dibandingkan dengan kedua emulsi diatas, karena gum arab berfungsi sebagai
mengurangi tekanan permukaan (surface tension) air dan stabilizer (emulsifier),
zat yang dapat menstabilkan emulsi. Pengadukan membuat ukuran partikel fasa
minyak semakin kecil pada o/w sehingga dapat terdisperdi dengan baik dalam air.
Begitu pula pada w/o, ukuran partikel fasa air semakin kecil sehingga dapat
terdispersi dengan baik dalam minyak. Susu disebut juga sebagai emulsi alamiah,
fase terdispersi dari susu adalah asam lemak dan media pendispersinya adalah air.
Jadi tergolong emulsi O/W (minyak dalam air). Fase terdispersi pada margarin
adalah air dan media pendispersinya adalah minyak, sehingga dinamakan tipe
emulsi W/O.
SIMPULAN
Penentuan sifat biofisik larutan diperlukan dalam menganalisi larutan
tersebut. Bobot jenis berbagi larutan berbeda-beda tergantung pada jumlah zat
terlarut, konsentrasi dan suhu larutan tersebut. Bobot urin probandus biokimia
rata-rata berada pada rentan bobot jenis normal. Selain itu pengujian tegangan
permukaan menjukkan semakin tinggi tegangan permukaan suatu larutan maka
daya tahan terhadap suatu tekanan pada larutan teersebut semakin tinggi. Emulsi
dapat berguna menurunkan tegangan permukaan cairan.
DAFTAR PUSTAKA
Adisalamun, Mangunwidjaja D, Suryani A, Sunarti TC, Arkeman YA. 2012.
Adsorpsi surfaktan nonionik alkil poliglikosida pada antarmuka fluidafluida. Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan. 9 (1):1 5.
Aprilia S, Arifin B, Oktarina H. 2011. Karakterisasi bobot jenis membran
poliakrilonitril untuk pengelolahan air berwarns a secara ultrafiltrasi. Jurnal
Hasil Penelitian Industri. [internet]. [diunduh 15 september 2015]. 24 ( 2):
59-66. Tersedia pada: file:///D:/metab/Jurnal%20HPI%20Vol%2024%20No
%202_Oktober%202011.pdf
Brooker C. 2001. Kamus Saku Keperawatan. Hartono A, Nutr DA, penerjemah;
Ester M, editor. Jakarta (ID): EGC. Terjemahan dari: The Nurses Pocket
Dictionary. Ed ke-31.
Carpenito LG. 2009. Diagnosis Keperawatan: Aplikasi pada Praktik Klinis.
Kadar KS, Eviriyani D, Yudha EK, Ester M, penerjemah; Mardella EA,
8

Issuryanti M, editor. Jakarta (ID): EGC. Terjemahan dari: Nursing


Diagnosis: Aplication to Clinical Practice.Ed ke-9.
Indarniati, Ennawati FU. 2008. Perancangan alat ukur Tegangan permukaan
dengan induksi elektromagnetik. Jurnal Fisika dan Aplikasinya. [internet].
[diunduh 15 september 2015]. 4 ( 1): 1-4. Tersedia pada:
http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Article-9191-Indarniati
McPherson RA, Sacher RA. 2004. Tinjauan klinis hasil pemeriksaan
laboratorium. Pendit BU, Wulandari D, penerjemah; Hartanto H, editor.
Jakarta (ID): EGC. Terjemahan dari:Widmanns Clinical Interpretation of
Laboratory Tesis. Ed ke-11.
Syamsuri. 2001. Patologi klinik. Jakarta (ID). EGC.
Tang M, Suendo V. 2011. Pengaruh penambahan pelarut organik terhadap
tegangan permukaan larutan sabun. Prosiding Simposium Nasional Inovasi
Pembelajaran dan Sains 2011 (SNIPS 2011), Bandung, Indonesia. 1-7.
Wathoni N, Soebagio B, Rusdiana T. 2007. Efektivitas lecithin sebagai
emulgator dalam sedian emulsi minyak ikan. Jurnal Farmaka. 5 (2): 1-9.