AGRITEK VOL. 16 NO.

9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

STUDI EVALUASI PERENCANAAN PENGEMBANGAN PEMANFAATAN WILAYAH SUNGAI KALI BARU DENGAN DECISION SUPPORT SYSTEM (DSS) RIBASIM
Lily Montarcih L. dan Suwanto Marsudi Dosen Jurusan Pengairan, FTUB Appolinaris Didien Trimartini Mahasiswa Program Magister Teknik Sumberdaya Air, FTUB

ABSTRAK Kajian ini mengevaluasi perencanaan pengembangan pemanfaatan wilayah sungai sebagai <<decision support system>> bagi pengelola air. Dua hal yang akan ditinjau secara khusus adalah <<kondisi tanpa upaya>> dan <<kondisi dengan upaya>>. Terdapat 8 (delapan) kondisi dalam mengevaluasi perencanaan pengembangan pemanfaatan wilayah sungai yakni (a) di masa mendatang tanpa upaya dinamakan kondisi dasar,kondisi 0; (b) dengan upaya rencana pembangunan waduk Singolatri, kondisi 1; (c) waduk Lider, kondisi 2; (d) waduk Kedawang, kondisi 3; (e) waduk Singolatri dan Lider, kondisi 4; (f) waduk Singolatri dan Kedawang, kondisi 5; (g) waduk Lider dan Kedawang, kondisi 6; (h) rencana upaya waduk Singolatri, Lider dan Kedawang, kondisi 7. Untuk tiap kondisi terdapat pendekatan simulasi neraca air dan kajian dampak manfaat yang dilakukan dengan software DSS Ribasim. Perbedaan hasil simulasi kondisi 0 dengan kondisi 1 sampai kondisi 7 merupakan dampak dari alternatif perencanaan pengembangan yang dievaluasi yaitu meliputi nilai pemanfaatan air ( juta m3 dan m3/det), nilai defisit air ( juta m3 dan m3/det), nilai air yang belum termanfaatkan ( juta m3 dan m3/det), produksi panen padi dan palawija (ton), pendapatan pertanian (juta rupiah), dan analisis kelayakan ekonomi. Dari analisis diketahui bahwa upaya pembangunan 3 waduk tidak signifikan bila dikaitkan dengan peningkatan hasil produksi padi dan palawija secara keseluruhan pada tingkat wilayah sungai. Hasil evaluasi menunjukan sebagai berikut: peningkatan kesuksesan pemanfaatan air berkisar 0,78% ~ 0,95%. Peningkatan pemanfaatan alokasi air berkisar 0,002 m3/det ~ 0,009 m3/det. Peningkatan alokasi air sebesar 1,87 m 3/ha ~ 6,10 m3/ha. Peningkatan produksi padi maksimum 130 ton per tahun dan produksi palawija maksimum 1.346 ton per tahun. Peningkatan pendapatan berkisar Rp. 0,196 Milyar ~ Rp. 3,086 Milyar pertahun.Defisit air semakin berkurang berkisar 0,06 juta m 3~0,285 juta m3. EIRR berkisar 0~11,35%, BCR -0,91~ -0,05. Decision Support System dalam pengembangan pemanfaatan wilayah sungai Kali Baru adalah berdasarkan kondisi lahan pertanian dengan luas daerah irigasi 33.791 ha, maka WS Kali Baru mempunyai potensi besar sebagai lumbung padi. Dengan kondisi sistem tata air interbasin dan adanya bendung regulator Karangdoro dan Bendung Setail, maka sistem ini mempunyai pengaruh besar dalam mensuplai antar DAS yang kurang air, sehingga perlu ditingkatan efisiensi dan pola operasi bendung. Berdasarkan kebutuhan air yang belum dapat disuplai sebesar 289,08 juta m3, sedangkan potensi air sungai yang belum termanfaatkan sebesar 1.553,35 juta m3, maka secara hidrologis, potensi air cukup besar untuk dapat dimanfaatkan. Dengan strategi pembangunan waduk Singolatri bervolume 126, 24 ribu m3, Waduk Lider bervolume 36,48 ribu m3, dan Waduk Kedawang bervolume 196,75 ribu m3, artinya kondisi volume tampungan kecil maka waduk akan kosong dalam beberapa jam dan terisi kembali dalam beberapa jam sehingga secara 1751

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

kemanfaatan hanya sebagai waduk pendistribusi saja, sedangkan kemanfaatan sebagai fungsi tampungan tidak ada. Secara Ekonomi, dengan biaya investasi untuk Bendungan Singolatri sebesar Rp. 26,34 Milyar, Embung Lider sebesar Rp. 24,72 Milyar, dan biaya pembangunan Embung Kedawang sebesar Rp. 25,54 Milyar dibandingan dengan benefit yang diperoleh hanya sebesar Rp. 3,086 Milyar pertahun sehingga BCR < 1, B-C < 0, EIRR < 12% maka strategi pembangunan 3 (tiga) tidak layak. Secara pola pengoperasian waduk dimana kondisi inflow sama dengan outflow, maka sebaiknya direncanakan bendung dengan biaya investasi lebih kecil dari Bendungan. Kata kunci: Decision Support System, DSS Ribasim.

ABSTRACT This study evaluates the development planning evaluation of the river area utilization as <decision support system> as the water treatment. Two things will be analyzed specifically are <condition without effort> and <condition with effort>. There are eight conditions in evaluating the planning of river basin development, those are (a) in the future without effort named as basic condition; condition 0 (b) with the planning of Singolatri reservoir construction, condition 1; (c) Lider reservoir, condition 2 (d) Kedawang reservoir, condition 3; (e) Singolatri and Lider reservoirs, condition 4; (f) Singolatri and Kedawang reservoirs, condition 5; (g) Lider and Kedawang reservoirs, condition 6; (h) the planning of Singolatri, Lider and Kedawang reservoirs, condition 7. For every condition there is water balance simulation approach and analysis of utilization impact which is done with DSS Ribasim software. The difference of condition 0 simulation result with condition 1 to 7 is the impact of the alternative of development planning which is evaluated those are water benefit value (million m3 and m3/second), water deficit value (million m3 and m3/second), unutilized water value (million m3 and m3/second), paddy harvest production and palawija (ton), agriculture income (million rupiah) and economic viability analysis. From the analysis found that the effort of the construction of three reservoirs is not significant in relation with the increase of paddy and palawija production as a whole in water district. The evaluation result shows as follow: successful increase on water utilization around 0,78%-0,95%. Increase utilization of water alocation around 0,002 m3/det-0,009 m3/det. Increase of water alocation around 1,87 m3/ha-6,10 m3/ha. Maximum increase of paddy production is 130 ton/year and maximum palawija production is 1.346 ton/year. Income increase is around Rp0,196 M-Rp3,086 M per year. Water deficit is getting less around 0,06 million m3-0,285 million m3. EIRR is around 0-11,35%, BCR -0,91-0,05. Decision Support System in the utilization development of Kali Baru river is based on the condition of agriculture area with the irrigation scheme 33,791 ha, so WS Kali Baru has a good potency as rice barn . With the condition of interbasin water system and the existence of regulator reservoir Karangdoro and Bendung Setail, this system has a significant influence on inter-supplying DAS with less water. Therefore efficiency and rule curve of weir need to be improved. Based on the water requirement which has not been supplied is 289,08 million m3, while the river water potency that has not been utilized is 1.553,35 million m3, so hidrologically, water potency is big enough to be utilized. With contruction strategy of Kedawang reservoir 196, 75 thousand m3, meaning the volume condition of small storage so the reservoir will be empty within a few hours and will be

1752

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

filled again in several hours so that the utilization is only as regulating reservoir only with no advantage as a storage function. Economically with Rp 26,34 M investment for Singolatri reservoir, Rp 24,72M for Embung Lider and biaya pembangunan Embung Kedawang Rp 25,54 M compared to the benefit which will be gained as much as Rp 3,086 M/year so that BCR < 1, B-C < 0, EIRR < 12% so that pembangunan strategy 3 (three) is not feasible.Operation pattern reservoir where the inflow condition is just the same outflow, so better planned reservoir with less investment from reservoir. Key words: Decision Support System, DSS Ribasim.

PENDAHULUAN Sistem pendukung pengambilan keputusan (Decision Suppor System, DSS) telah dikembangankan untuk perhitungan neraca air, perhitungan kebutuhan air irigasi, potensi dan aktual produksi per tanian, baik untuk situasi sekarang maupun di masa yang akan datang. Setiap alternatif pengembangan sum berdaya air pada umumnya terdiri dari upaya dan gabungan beberapa upaya (pro yek). Upaya yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk menunjang ketersediaan air guna suplai air irigasi dengan merencanakan pembangunan Waduk Singolatri (untuk menyediakan air DI Kajar seluas 378 ha, volume efektif 126.242 m3), Embung Kedawang (volume efektif 36.480 m3) dan Embung Lider (volume efektif 196.751 m3) untuk menyediakan air DI Kedawang seluas 148 ha. Untuk dapat mengevaluasi hasil alter natif perencanaan pengembangan SDA, maka akan dilakukan 8 (delapan) buah simulasi yaitu terdiri dari : 1). Simulasi pertama, untuk kondisi tanpa upaya, yang dinamakan dengan Kondisi Dasar (Base Case) dan terdiri atas Kondisi Dasar Masa Kini (untuk kalibrasi sistem) dan Kondisi Dasar Masa Mendatang (untuk perbandingan alternatif dengan upaya pembangunan waduk) 2) Simulasi kedua dan seterusnya merupakan kondisi dengan upaya, yang dinamakan Kondisi 1 dan seterusnya, yaitu terdiri dari dari : (a) Simulasi kedua, untuk

kondisi dengan upaya pembangunan Waduk Singolatri, dan dinamakan Kondisi 1. (b) Simulasi ketiga, untuk kondisi dengan upaya pembangunan Waduk Lider, dan dinamakan Kondisi 2. (c) Simulasi keempat, untuk kondisi dengan upaya pembangunan Waduk Kedawang, dan dinamakan Kondisi 3. (d) Simulasi kelima, untuk kondisi dengan upaya pembangunan Waduk Singolatri dan Lider, dan dinamakan Kondisi 4. (e) Simulasi keenam, untuk kondisi dengan upaya pembangunan Waduk Singolatri dan Kedawang, dan dinamakan Kondisi 5. (f) Simulasi ketujuh, untuk kondisi dengan upaya pembangunan Waduk Lider dan Kedawang, dan dinamakan Kondisi 6. (g) Simulasi kedelapan, untuk kondisi dengan upaya pembangunan Waduk Singolatri, Waduk Lider dan Kedawang, dan dinamakan Kondisi 7. Perbedaan hasil simulasi kondisi masa mendatang tanpa upaya pembangunan (kondisi dasar, kondisi tanpa upaya, kondisi 0) dan kondisi dengan upaya pembangunan waduk-waduk tersebut (kondisi dengan upaya, kondisi 1 sampai kondisi 7) merupakan manfaat dari alternatif perencanaan pengembangan WS yang dievaluasi. Evaluasi pemanfaatan WS Kali Baru yang akan ditinjau adalah nilai pemanfaatan air ( juta m3 dan m3/det), nilai defisit air ( juta m3 dan m3/det), nilai air yang belum termanfaatkan ( juta m3 dan m3/det), produksi panen padi dan palawija (ton), pendapatan pertanian (juta rupiah). Penyajian rekapitulasi hasil evaluasi dalam bentuk tabel dan grafik merupakan

1753

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

suatu decision support system (sistem pendukung keputusan) untuk membantu para pengelola air (Pemerintah Kabupaten Banyuwangi) dalam perencanaan pengembangan wilayah sungai Kali Baru. Rumusan masalah penelitian ini adalah: 1. Jika di masa mendatang tanpa upaya pengembangan pemanfaatan air (kondisi 0, base case), bagaimana kondisi neraca air (dalam m3/det dan juta m3, yang terdiri dari potensi air, kebutuhan air irigasi, suplai irigasi, defisit air dan air yang belum termanfaatkan), prosentase (%) keberhasilan dalam menyuplai air irigasi dengan manfaat maksimal, luas terairi (satuan ha) dan produksi panen (satuan ton) yang dihasilkan dan pendapatan dari produksi pertanian (juta rupiah) ? 2. Jika di masa mendatang direncanakan pembangunan waduk dengan desain strategi / alternatif pengembangan pemanfaatan air meliputi (kondisi 1) hingga (kondisi 7). Bagaimana kondisi neraca air (dalam satuan m3/det dan juta m3, yang terdiri potensi air, kebutuhan air irigasi, suplai irigasi, defisit dan air yang belum termanfaatkan), prosentase (%) keberhasilan dalam menyuplai air irigasi dengan manfaat maksimal, luas terairi (satuan: hektar) dan produksi panen (satuan: ton) yang dihasilkan, pendapatan dari produksi pertanian (juta rupiah), dan operasi waduknya, Berapa pengurangan terhadap defisit air (juta m3 dan m3/det), peningkatan pemanfaatan dari air belum termanfaatkan (juta m3 dan m3/det), persentase peningkatan keberhasilan suplai air(%), peningkatan hasil panen padi (ton) dan palawija (ton), peningkatan hasil produksi padi (juta rupiah) dan palawija (juta rupiah) ? Bagaimana analisa kelayakan ekonomi? 3. Bagaimana decision support system dalam pengembangan pemanfaatan wilayah sungai Kali Baru ? Tujuan penelitian adalah mengevaluasi kondisi pemanfaatan air di masa mendatang tanpa upaya (kondisi 0) terhadap kondisi rencana dengan upaya

pembangunan waduk yang meliputi rencana pembangunan waduk Singolatri, (kondisi 1), waduk Lider (kondisi 2) dan Kedawang (kondisi 3) dan kombinasi/ gabungan upaya dari 3 (tiga) waduk tersebut (kondisi 4 sampai kondisi 7) sehingga dapat digunakan sebagai suatu decision support system dalam pengembangan pemanfaatan sumberdaya air di wilayah sungai Kali Baru di Kabupaten Banyuwangi.

KERANGKA KONSEP Decision Ribasim Support Sistem (DSS)

Decision Support Sistem (DSS) Ribasim atau Sistem Pendukung Keputusan untuk Perencanaan Wilayah Sungai merupakan perangkat lunak komputer (software) untuk membantu analisis perencanaan pengembangan wilayah sungai pada tahap persiapan serta tahap analisis. DSS-Ribasim merupakan salah satu model alokasi air yang dapat digunakan pada tahap perencanaan pengembangan sumberdaya air, maupun secara operasional untuk membantu pengambilan keputusan taktis. Model ini dikembangkan oleh Delft Hydraulic dari Negeri Belanda sejak tahun 1985. Model DSS-Ribasim versi 6 ini terdiri atas beberapa komponen, yang dikendalikan oleh sebuah interface yang menunjukkan lokasi geografis. Adapun komponen-komponen model antara lain adalah sebagai berikut: a) DSS Shell: merupakan program pembuka yang memadukan programprogram lainnya. b) Netter: adalah editor jaringan skematisasi sistem tata air yang dapat digunakan secara interaktif dalam menyusun jaringan dan pemasukan data. Penyajian hasil simulasi pada setiap simpul dan ruas sungai juga ditampilkan dalam bentuk peta skematisasi ini. Skematisasi ini dilatar belakangi oleh lapisan (layer) peta situasi wilayah yang dapat memuat

1754

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

lapisan kontur, kota-kota kecamatan, jaringan infratsruktur dan lainnya. c) Case Management Tool: Memberi petunjuk dalam melaksanakan proses simulasi, sehingga masing-masing kondisi simulasi dapat dikelola secara rapi. d) Agwat: adalah model perihitungan kebu tuhan air irigasi. e) Simproc: adalah model simulasi wila yah sungai untuk alokasi air. f) ODS2XLS: merupakan sistem penya jian hasil simulasi secara grafis yang luwes dan dilengkapi dengan fasilitas ekspor ke Microsoft-Excel. Konsep Suatu Sistem Untuk Analisa Pengembangan Simulasi Wilayah Sungai Analisa model untuk sistem pasokan air dilaksanakan untuk membentuk hubungan antara hidrologi, prasarana, dan kondisi sosio ekonomi. Inti dari simulasi antara lain adalah suatu simulasi kondisi pasokan air dengan mempergunakan suatu seri waktu masukan hidrologi. Seri waktu mewakili variasi stokastik dari masukan hidrologi yang mempengaruhi keadaan kering dan basah. Selanjutnya, beberapa titik masukan perlu diperhatikan untuk mewakili total masukan dari wilayah sungai yang memungkinkan evaluasi ketersediaan air pada berbagai titik yang relevan. Kunci dari model simulasi dari analisa keseluruhan dapat diringkaskan dalam konsep sistem seperti pada Gambar 1. Model simulasi meliputi kornponen dalam Gambar 1. dan digunakan untuk menentukan kinerja dari wilayah sungai untuk tingkat kebutuhan tertentu dan prasarana tertentu. Ujicoba diulang dengan model simulasi dan prasarana yang dibangun untuk optimasi kinerja dan atau untuk memenuhi standar. Analisa dilaksanakan untuk referensi jika tidak berbuat apa-apa (do nothing option) dan untuk tahun proyeksi sesuai dengan kerangka perencanaan. Gambar 2. menunjukkan pembedaan yang harus

dibuat antara pilihan tingkat kebutuhan tertentu dan pilihan dari suatu periode baik aliran yang dipantau atau aliran yang dihitung.

Gambar 1. Konsep Suatu Sistem Untuk Simulasi Wilayah Sungai

Periode Hidrologi yang dipilih

1989

2008

Tingkat Kebutuhan

Tahun kebutuhan yang dipilih 2020

Waktu

Gambar 2. Seleksi Tingkat Kebutuhan dan Seri Waktu Hidrologi Untuk Menguji Kinerja

Penerapan Standar Dalam Analisa Wilayah Sungai Untuk sistem sumber daya air yang sederhana dimana hanya terdapat pengguna tunggal, maka evaluasi ketersediaan air hanya dengan melihat apakah standar kebutuhannya dapat dipenuhi dari sumber tersebut. Dengan mengetahui ketidaktentuan pasokan air, memenuhi kebutuhan standar berarti kemantapan penyediaan untuk memenuhi standar tersebut. Gambar 3. memberikan ilustrasi konsep alokasi air

1755

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

untuk irigasi: rencana pemberian air harus selalu di bawah air yang tersedia yang dapat diberikan dengan tingkat keandalan tertentu.
100 90 80 70 60
m 3/d et

untuk mengontrol kebasahan tanah dan penggunaan pupuk. Agro-ekonomi (potensi produksi pertanian) Pendapatan bersih per panen aktual dapat dihitung dengan menggunakan persa maan berikut:

50

aliran kering (1 : 5)
40 30 20 10 0
eb 1-M ar 2-M ar 1-A pr 2-A p 1-M r ay 2-M ay 1-J un 2-J un 1-J ul 2-J ul 1-A ug 2-A ug 1-S ep 2-S ep 1-O ct 2-O ct 1-N ov 2-N ov 1-D ec 2-D ec an 1-J 2-J 1-F 2-F an eb

NB = (Y x P) – C dimana : NB : keuntungan kotor (Rp/ha), input data DSS dalam satuan 1000 Rp/ha; Y : hasil panen aktual (ton/ha); input data DSS dalam satuan kg/ha; P : ekonomi atau harga hasil panen di tingkat petani dalam Rp/ha; C : Biaya produksi aktual (Rp/ha); input data DSS dalam satuan 1000 Rp/kg. Pendapatan kotor aktual dapat juga dihitung dengan pendekatan yang sama seperti menghitung penghasilan bersih, perbedaan hanya tanpa dikurangi dengan komponen biaya produksi. Kalibrasi Neraca Air Wilayah Sungai Kalibrasi pada sistem ini secara statis tik berbeda karena kerumitan sistem itu sendiri dikombinasikan dengan jarangnya data yang cocok. Kebutuhan yang besar seperti data yang relatif panjang menje laskan komponen yang stokhastik. Distri busi air dan situasi penggunaan biasanya juga tidak tetap. Dari pengalaman, estimasi pengguna an air irigasi, mempunyai ketidakpastian yang tertinggi. Digabungkan dengan esti masi pola tanam aktual dan komponen manajemen, kalibrasi keseimbangan air yang ada dan penjelasan untuk deviasi akan direalisasikan bahwa ada ketidak pastian diantara kedua sisi persediaan dan kebutuhan. Tujuan model keseimbangan air membantu mengidentifikasi keputusan yang benar dalam perencanaan dan mana jemen operasional. Fungsi yang sangat penting pada model memberikan evaluasi yang konsisten pada pilihan. Ketika mem pertimbangkan semua ketelitian dengan

K ebutuhan air Irigas i

waktu

Gambar 3. Konsep Evaluasi Ketersediaan Air Untuk Irigasi

Prinsip Dasar Simulasi Penyelesaian keseimbangan air (water balance) untuk tiap node dalam tahapan waktu ke depan dalam rangkaian simulasi, dapat dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut:

St1  St 0  c  Qin.t1  Qout.t 2   0
dengan : t0, t1 = tahapan waktu simulasi, misalnya 10 harian; St1 = tampungan akhir pada tahapan waktu t1 (juta m3); Qint1 = inflow dari node pada tahapan waktu t1 (m3/det); Qoutt1 = outflow dari node pada tahapan waktu t1 (m3/det); c = faktor konversi. Analisis Kebutuhan Irigasi Kebutuhan air irigasi termasuk air yang diperlukan untuk menjamin kondisi pertumbuhan tanaman optimum (kecukup an air untuk memenuhi kebutuhan evapo transpirasi tanaman), air yang diperlukan untuk persiapan lahan dan untuk pelak sanaan irigasi lainnya, seperti untuk peng genangan sawah yang diairi dalam rangka

1756

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

keputusan yang dibuat, pengaruh ketidak pastian pada keseimbangan air akan diper timbangkan sama baiknya dengan ketidakpastian perkiraan dampak sosial ekonomi. Ini termasuk estimasi kebutuhan air yang sama baiknya dengan ketidak pastian penggunaan dan evaluasi pada pilihan yang akan datang untuk penggu naan. Analisis Sensitivitas RIBASIM merupakan model dimana analisa sensivitasnya dapat dilakukan pada sejumlah parameter model. Dalam rangka memudahkan analisa, model jenis ini mempunyai pilihan khusus yang dinyata kan pada data kontrol simulasi. Dalam rangka menentukan sensitivitas simulasi sistem DAS sesuai dengan data hidrologis dan tahapan waktunya, RIBASIM menawarkan pilihan simulasi DAS yang dikarakteristikkan oleh: 1) Simulasi dinamik: suatu simulasi atas suatu periode tertentu (jumlah tahun). Simulasi ini dilakukan sebagai suatu periode waktu yang berlanjut/historis. Hal ini menyiratkan bahwa tampungan dari waduk, hubungan waduk pada awal suatu tahun simulasi dibuat hingga akhir tahun. 2) Simulasi statis: setelah masing-masing tahun hidrologis kondisi awal ditetapkan. Kondisi awal ini digambarkan dengan tampungan awal dari waduk. Pemanfaatan dari option (pilihan) ini, pengguna mendapat suatu pengertian mendalam dengan cepat tentang konsekuensi dari input hidrologi, mulai dari situasi yang ditentukan/digambarkan. Jika suatu contoh kondisi sekarang digambarkan sebagai situasi awal, kemudian konsekuensi dari berbagai keputusan pengelolaan air ditujukan untuk tahun hidrologi yang akan datang maka simulasi dapat ditampilkan. Model Verifikasi dan Ketelitian Hasil Semua model (fisik maupun matematik) mutu dari hasil model tegantung

pada suatu luasan yang besar dari mutu data input. Ungkapan garbage in garbage out ”masuk sampah, keluar sampah” harus dihindari untuk model RIBASIM. Oleh karena itu, perhatian besar diperlukan untuk pembuatan data input yang sesuai, berisi himpunan data hidrologi yang mencerminkan ketersediaan air, himpunan data kebutuhan kuantitas air, juga himpunan data yang menguraikan sistem fisik dan pengoperasiannya. Sesungguh nya, kualitas hasil model tidak tergantung pada mutu data input, tetapi juga cara menerjemahkan kondisi aktual ke dalam sistem model.

METODE PENELITIAN Fokus utama yang dikedepankan dalam penelitian ini, dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Jika di masa mendatang tanpa upaya pengembangan pemanfaatan air (Kondisi 0, base case), maka kondisi yang dianalisis dengan pemodelan DSS seperti berikut : a. Bagaimana neraca air (dalam satuan m3/det dan juta m3) meliputi potensi air, kebutuhan air irigasi, suplai irigasi, defisit air dan air yang belum termanfaatkan ? b. Berapa persen (%) keberhasilan dalam menyuplai air irigasi dengan manfaat maksimal ? c. Berapa luas terairi (satuan ha) dan produksi panen (satuan ton) yang dihasilkan ? d. Berapa pendapatan dari produksi pertanian (juta rupiah) ? 2. Jika di masa mendatang direnca nakan pembangunan waduk dengan desain strategi / alternatif pengembangan peman faatan, maka kondisi yang dianalisis dengan pemodelan DSS untuk setiap kondisi (kondisi 1 sampai dengan kondisi 7), sebagai berikut : a. Bagaimana neraca air (dalam satuan m3/det dan juta m3) meliputi potensi air,

1757

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

Produksi (ton)

kebutuhan air irigasi, suplai irigasi, defisit dan air yang belum termanfaatkan? b. Berapa persen (%) keberhasilan dalam menyuplai air irigasi dengan manfaat maksimal? c. Berapa luas terairi (satuan: hektar) dan produksi panen (satuan: ton) yang dihasil kan? d. Berapa pendapatan dari produksi perta nian (juta rupiah)? e. Bagaimana operasi waduknya ? f.Bagaimana analisa kelayakan ekonomi ? 3. Hasil evaluasi terhadap kondisi menda tang tanpa upaya (kasus 0) dengan kondisi dengan pembangunan waduk (kasus 1 sampai kasus 7) yang meliputi : a. Berapa pengurangan defisit air (juta m3 dan m3/det) yang masih terjadi dengan adanya waduk? b. Berapa peningkatan pemanfaatan air dari air belum termanfaatkan (juta m3 dan m3/det) ? c. Berapa % peningkatan keberhasilan suplai ? d. Berapa peningkatan hasil panen padi (ton) dan palawija (ton) ? e. Berapa peningkatan hasil produksi padi (juta rupiah) dan palawija (juta rupiah) ? 4. Decision support system dalam pengembangan pemanfaatan wilayah sungai Kali Baru?

100,000

Jagung
Produksi (ton)

50,000

0 2001 2002 2003 2004 Tahun 2005 2007 2008

2,000

Kacang Tanah

1,000

0 2001 2002 2003 2004 Tahun 2005 2007 2008

Gambar 4. Peningkatan Produksi Jagung dan Kacang Tanah
700,000
Produksi (ton)

Padi (GKG)
650,000 600,000 550,000 500,000 2001 2002 2003 2004 Tahun 2005 2007 2008

100,000

Ubi Kayu
Produksi (ton)

50,000

0 2001 2002 2003 2004 Tahun 2005 2007 2008

30,000
Produksi (ton)

Ubi Jalar
20,000 10,000 0 2001 2002 2003 2004 Tahun 2005 2007 2008

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Eksisting Dan Penyusunan Model
Produksi (ton)

60,000

Kedele
40,000 20,000 0 2001 2002 2003 2004 Tahun 2005 2007 2008

Produksi padi sebesar 4,5 ton/ha dan palawija sebesar 3,728 ton/ha. Sedangkan pendapatan sebesar Rp. 2.450 per kg untuk padi dan Rp. 2.880 per kg untuk palawija. Gambar 4 menunjukkan kondisi eksisting peningkatan produksi tanaman jagung dan kacang tanah, Sedangkan Gambar 5 menunjukkan penurunan produk si padi dan palawija.

1758

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

Produksi (ton)

5,000

Kacang Hijau

3,000

1,000 2001 2002 2003 2004 Tahun 2005 2007 2008

Gambar 5. Penurunan Produksi Tanaman Pangan di Kab. Banyuwangi

Menganalisis secara rinci ”Kondisi Dasar 2008” Analisis lebih mendalam untuk simulasi wilayah sungai dijalankan secara kese luruhan tahun dari 1989 hingga tahun 2008 (20 tahun). Analisis dilakukan ter-hadap keadaan neraca air dan kekurangan air serta perspektif mengenai penggunaan air dan sumber air secara menyeluruh. Berikut nya adalah mengevaluasi alokasi air seperti pada keadaan adanya kekurang-an secara ringkas disajikan pada Tabel 6. Analisis juga dilakukan untuk periode tahun 1989

hingga tahun 1997 (10 tahun) seperti pada Tabel 7 dan periode tahun 1998 hingga tahun 2008 (10 tahun) seperti pada Tabel 8. Berdasarkan Tabel 7 dan Tabel 8 dike tahui bahwa telah terjadi kecenderungan penurunan ketersediaan air pada 10 tahun terakhir ini Pengujian keseimbangan massa seperti pada Gambar 6a dan Gambar 6b. dimana neraca air pada daerah irigasi yang telah dihitung kebutuhan air per daerah irigasi dapat diperlihatkan dari perspektif penggu naan air dari sumber airnya

Tabel 6. Evaluasi Simulasi Alokasi Air dan Kekurangan Air, Tahun 1989-2008 (20 tahun) DAERAH IRIGASI DI Kajar KrDoro Kanan DI.Porolinggo KrDoro Kiri DI Setail DI Kdawang DI-K-Setail Blambangan Rerata Tahunan Demand Deficit Demand 3 3 (juta m ) Juta m (m3/s) 12.64 3.00 0.40 332.37 98.09 179.34 149.52 4.58 134.48 37.98 949.00 94.39 29.48 88.68 39.87 0.25 26.24 7.47 289.37 10.54 3.11 5.69 4.74 0.15 4.26 1.20 30.09 Success Time Steps Deficit Jumlah Rate 3 (m /s) (-) (%) 0.10 529.00 73.50 2.99 0.94 2.81 1.26 0.01 0.83 0.24 9.18 469.00 403.00 439.00 502.00 667.00 628.00 525.00 65.10 56.00 61.00 69.70 92.60 87.20 72.90

1759

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

Tabel 7. Evaluasi Simulasi Alokasi Air dan Kekurangan Air, 1989-1997 (10 tahun)
Yearly average DAERAH IRIGASI DI Kajar DI KrDoro Kanan DI Porolinggo DI KrDoro Kiri DI Setail DI Kdawang DI-K-Setail DI Blambangan Total Demand (juta m 3) 11.977 318.168 98.757 167.259 139.964 4.441 127.055 36.516 904.137 Deficit (juta m3) 1.403 57.162 19.018 61.722 22.975 0.228 16.455 5.21 184.173 Demand (m3/s) 0.38 10.089 3.132 5.304 4.438 0.141 4.029 1.165 28.678 Deficit (m3/s) 0.044 1.813 0.603 1.957 0.729 0.007 0.522 0.165 5.84 Success time steps number (-) 313 267 237 257 278 337 331 283 rate (%) 86.9 74.2 65.8 71.4 77.2 93.6 91.9 78.6

Tabel 8. Evaluasi Simulasi Alokasi Air dan Kekurangan Air, Periode 1998-2008 (10 tahun)
Yearly average Deficit (Mcm) 4.824 126.597 38.277 111.319 52.778 0.245 34.169 9.302 377.511 Success time steps number (-) 237 222 189 201 252 368 332 269

DAERAH IRIGASI Kajar KrDoro Kanan Porolinggo KrDoro Kiri Setail Kdawang K-Setail Blambangan

Demand (Mcm) 13.281 338.937 95.987 186.697 154.431 4.616 138.541 39.079 971.569

Demand (m3/s) 0.421 10.748 3.044 5.92 4.897 0.146 4.393 1.239 30.808

Deficit (m3/s) 0.153 4.014 1.214 3.53 1.674 0.008 1.083 0.295 11.971

rate (%) 59.8 56.1 47.7 50.8 63.6 92.9 83.8 67.9

V olu me In flo w
(Tahun 2008)
90.00 80.00

Volume (juta m 3)

70.00 60.00 50.00 40.00 30.00 20.00 10.00 0.00
-Jan08 -Feb08 -M ar08 -Apr08 -M ay08 -Jun08 -Jul08 -Aug08 -Sep08 -Oct 08 -Nov08 -Dec08

In :V ariable inflow Total bas in (Mc m)

In :A ir Ex c es s return flow Total bas in (Mc m)

Gambar 6a. Neraca Air Untuk WS Kali Baru untuk Tahun 2008 : Pasokan (sumber). Dalam juta m3.

1760

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

V olu me Outflow
(Tahun 2008)
90.00 80.00

Volume (juta m 3)

70.00 60.00 50.00 40.00 30.00 20.00 10.00 0.00
-Jan08 -Feb08 -M ar08 -Apr08 -M ay08 -Jun08 -Jul08 -Aug08 -Sep08 -Oct 08 -Nov08 -Dec08

6

Out:End Outflow Total bas in (Mc m)

Out:A ir C ons umption Total bas in (Mc m)

Gambar 6b. Neraca Air Untuk WS Kali Baru untuk Tahun 2008 : Penggunaan Air. Dalam juta m3.

PEMBAHASAN Decision Support System (DSS) DSS dipergunakan untuk menentukan efek dari strategi perencanaan pengembangan pemanfaatan wilayah sungai Kali Baru. Evaluasi dari simulasi memberikan informasi dari kinerja strategi perencanaan pengembangan pemanfaatan sumberdaya air dan dimungkinkan untuk menyesuaikan strategi ini untuk memperbaiki kinerjanya. Evaluasi dari hasil simulasi berdasarkan atas evaluasi dari neraca air dan kinerja peningkatan produksi panen. Evaluasi Tingkat Kesuksesan Pemanfaatan Air

Tabel 9 menunjukkan tingkat kesuksesan pemanfaatan air terhadap keberhasilan runtun waktu dalam alokasi air dengan strategi 3 (tiga) waduk secara tunggal ataupun kombinasi belum memberikan manfaat yang significant, pening katan berkisar 0,78% hingga 0,95%. Evaluasi Pengurangan Defisit Tabel 10 menunjukkan evalusi pengurangan terhadap defisit dengan strategi 3 (tiga) waduk secara tunggal ataupun kombinasi belum bemanfaat significant, peningkatan berkisar 0,0002 m3/det hingga 0,009 m3/det.

Tabel 9. Evaluasi Tingkat Kesuksesan Pemanfaatan Air
DAERAH IRIGASI DI Kajar DI KrDoro Kanan DI.Porolinggo DI.KrDoro Kiri DI Setail DI Kdawang DI-K-Setail Blambangan Rerata Prosentase Keberhasilan Alokasi Air (%) 2 3 4 5 73.5 73.50 73.80 73.80 65.1 56.0 61.0 70.0 93.1 87.2 78.6 73.06 65.10 56.00 61.00 69.70 93.10 87.40 78.60 73.05 65.30 56.00 61.00 70.00 93.10 87.20 78.60 73.13 65.30 56.00 61.00 69.70 93.10 87.40 78.60 73.11

0 73.5 65.1 56.0 61.0 69.7 92.6 87.2 72.9 72.25

1 73.8 65.3 56.0 61.0 69.7 92.6 87.2 78.6 73.03

6 73.50 65.10 56.00 61.00 70.00 93.50 87.40 78.60 73.14

7 73.80 65.30 56.00 61.00 70.00 93.50 87.40 78.60 73.20

1761

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

Tabel 10. Evaluasi Pengurangan terhadap Defisit
Name Kajar KrDoro Kanan Porolinggo KrDoro Kiri Setail Kdawang -K-Setail Blambangan Total Defisit (m3/det) 0 0.10 2.99 0.94 2.81 1.26 0.01 0.83 0.24 9.176 1 0.09 2.99 0.94 2.81 1.26 0.01 0.83 0.24 9.171 2 0.10 2.99 0.94 2.81 1.26 0.01 0.83 0.24 9.172 3 0.10 2.99 0.94 2.81 1.26 0.01 0.83 0.24 9.174 4 0.09 2.99 0.94 2.81 1.26 0.01 0.83 0.24 9.168 5 0.09 2.99 0.94 2.81 1.26 0.01 0.83 0.24 9.169 6 0.10 2.99 0.94 2.81 1.26 0.01 0.83 0.24 9.171 7 0.09 2.99 0.94 2.81 1.26 0.01 0.83 0.24 9.167

Evaluasi Alokasi Air Tabel 11 menunjukkan evaluasi alokasi air dengan strategi 3 (tiga) waduk secara tunggal ataupun kombinasi belum Tabel 11. Evaluasi Alokasi Air
DAERAH IRIGASI KrDr Kn Kajar Prolinggo KrDr Kiri Kdawang Setail K-Setail Blmbangn Rerata Luas [ha] 10,454 378 3,197 5,945 148 5,788 6,422 1,459 33,791 Kebthan (m3/ha) 31,793.79 33,450.54 30,681.58 30,166.49 30,928.88 25,832.69 20,940.80 26,027.84 28,727.83 0 22,764.51 25,520.96 21,460.24 15,250.02 29,239.47 18,945.26 16,855.48 20,909.54 21,368.19 1 22,765.34 25,524.14 21,460.24 15,253.78 29,239.47 18,945.26 16,854.71 20,917.48 21,370.05 2 22,764.51 25,520.96 21,460.24 15,250.02 29,266.14 18,946.38 16,856.19 20,918.77 21,372.90

bermanfaat significant, peningkatan berkisar 1,87 m3/ha ~ 6,10 m3/ha.

Alokasi (m /ha) pada Kondisi : 3 22,764.51 25,520.96 21,460.24 15,250.02 29,250.39 18,947.63 16,855.99 20,916.70 21,370.81 4 22,765.34 25,524.14 21,460.24 15,253.78 29,266.14 18,946.38 16,855.42 20,918.76 21,373.78 5 22,765.34 25,524.14 21,460.24 15,253.78 29,250.39 18,947.63 16,855.22 20,916.69 21,371.68 6 22,764.51 25,520.96 21,460.24 15,250.02 29,268.11 18,948.69 16,856.70 20,918.04 21,373.41 7 22,765.34 25,524.14 21,460.24 15,253.78 29,268.11 18,948.69 16,855.93 20,918.04 21,374.28

3

Evaluasi Panen

Peningkatan

Produksi

Tabel 12 menunjukkan peningkatan produksi panen dengan strategi 3 (tiga)

waduk secara tunggal ataupun kombinasi belum bermanfaat significant, pening katan produksi padi maksimum 130 ton/ tahun. Sedangkan peningkatan produksi palawija maksimum 1.346 ton/ tahun.

1762

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

Tabel 12. Evaluasi Peningkatan Produksi Kon disi 0 1 2 3 4 5 6 7 Produksi Panen (ton) Padi Palawija 5,012,143 4,773,490 5,012,265 4,774,088 5,012,144 4,774,100 5,012,151 4,773,627 5,012,265 4,774,698 5,012,273 4,774,224 5,012,151 4,774,238 5,012,273 4,774,836 Peningkatan (ton) Padi Palawija 122 1 8 122 130 8 130 598 610 137 1,208 734 748 1,346 Peningkatan (%) Padi Palawija 0.002% 0.000% 0.000% 0.002% 0.003% 0.000% 0.003% 0.013% 0.013% 0.003% 0.025% 0.015% 0.016% 0.028%

Evaluasi Peningkatan Pendapatan Tabel 13 menunjukkan peningkatan pendapatan petani dengan strategi 3 (tiga) waduk secara tunggal ataupun

kombinasi belum ermanfaat significant, peningkatan berkisar 0,196 Milyar Rupiah hingga 3,086 Milyar Rupiah.

Tabel 13. Evaluasi Peningkatan Pendapatan Kondisi 0 1 2 3 4 5 6 7 Uraian Tanpa Upaya Waduk Singolatri Waduk Lider Wdk Kedawang Singolatri + Lider Singolatri + edawang Lider + Kedawang 3 Waduk Total Pendapatan (juta Rupiah) Rasio (%) 24,146,320 93.231% 24,148,350 93.239% 24,147,190 93.234% 24,146,516 93.232% 24,149,218 93.242% 24,148,542 93.239% 24,147,378 93.235% 24,149,406 93.243% Peningkatan (juta Rp.) 2,030.00 870.00 196.00 2,898.00 2,222.00 1,058.00 3,086.00

Evaluasi Kelayakan Ekonomi Tabel 14 menunjukkan evaluasi Kelayakan Ekonomi pada kondisi normal ditinjau dari Benefit Cost Rasio (B/C), Net Present Value (NPV), EIRR (%)dari 3 (tiga) waduk atau kombinasinya menunjukkan tidak layak untuk dibangun. IRR merupakan nilai suku bunga, dimana pada kondisi ini NPV = 0

atau B/C Ratio = 1. Nilai EIRR ini sangat bermanfaat untuk menilai apakah dengan suku bunga pinjaman tertentu proyek tersebut layak atau tidak secara ekonomi. Dalam analisis ini diasumsi bahwa nilai suku bunga pinjaman adalah 12 %, dengan demikian jika nilai EIRR > 12% proyek dikatakan layak secara ekonomi.

1763

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

Tabel 14. Evaluasi Kelayakan Ekonomi KONDISI 1.Waduk Singolatri 2.Waduk Lider 3.Waduk Kedawang 4. Singolatri dan Lider 5. Singolatri dan Kedawang 6. Lider dan Kedawang 7.Singolatri, Lider dan Kedawang EIRR (%) 11.35% 0.00% 0.00% 8.24% 5.99% 1.89% 11.35% BCR 0.05 0.96 0.91 0.30 0.47 0.74 0.05 NPV (juta Rp) -835.8 -14,317.4 -13,951.9 -9,310.4 -14,817.4 -22,471.0 -835.8

Evaluasi Volume Tampungan Yang Dibutuhkan Tabel 15. menunjukkan kebutuhan tampungan untuk suplai daerah irigasi wilayah sungai Kali Baru sebesar 289,37

juta m3. Sedangkan manfaat dari 3 (tiga) waduk atau kombinasinya belum significant dalam mengurangi defisit air yaitu berkisar 0,06 juta m3 hingga 0,285 juta m3 .

Tabel 15. Evaluasi Volume Tampungan
Node index 6 7 13 15 18 25 35 39 Name DI Kajar DI KrDoro Kanan DI.Porolinggo DI.KrDoro Kiri DI Setail DI Kdawang DI-K-Setail DI Blambangan Total Defisit (juta m ). Kondisi : 2 3 4 3.00 3.00 2.97 94.39 94.39 94.35 29.48 29.48 29.48 88.68 88.68 88.62 39.83 39.83 39.83 0.24 0.25 0.24 26.19 26.23 26.18 7.45 289.25 7.46 289.31 7.45 289.12
3

0 3.00 94.39 29.48 88.68 39.87 0.25 26.24 7.47 289.37

1 2.97 94.35 29.48 88.62 39.87 0.25 26.22 7.45 289.22

5 2.97 94.35 29.48 88.62 39.83 0.25 26.21 7.46

6 3.00 94.39 29.48 88.68 39.80 0.24 26.18 7.45 289.21

7 2.97 94.35 29.48 88.62 39.80 0.24 26.17 7.45 289.08

289.18

Evaluasi Volume Yang Belum Termanfaatkan Tabel 16. menunjukkan volume air yang belum dimanfaatkan di wilayah sungai Kali Baru sebesar 1,55 milyar m3/tahun. Sedangkan manfaat dari 3 (tiga) waduk atau kombinasinya belum significant dalam memanfaatkan air pada musim penghujan yaitu berkisar 0,01 juta m3 hingga 0,06 juta m3 . Pola Operasi Waduk

Gambar 7 (a,b,c) hingga 9 (a,b,c) menunjukkan pola pengoperasian waduk Singolatri, Lider dan Kedawang. Berdasarkan gambar 7 hingga 9 diketahui bahwa belum/tidak ada fungsi tampungan dimana inflow sama dengan outflow, dengan kondisi ini maka waduk harus dioperasikan tiap hari karena volume waduk akan habis dalam waktu beberapa jam dan akan terisi kembali dalam beberapa jam juga. Waduk hanya berfungsi sebagai regulator/pendistribusi, sebaiknya diperlukan volume tampungan yang besar.

1764

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

Tabel 16. Evaluasi Volume Air Yang Belum Termanfaatkan
Rerata Air belum termanfaatkan dari (juta m3) K.Baru 782.30 782.26 782.30 782.30 782.26 782.26 782.30 782.26 K.Setail 414.62 414.63 414.60 414.63 414.62 414.64 414.61 414.62 Blambangan 356.49 356.49 356.48 356.47 356.48 356.47 356.47 356.47 Selisih (juta m3) 0.03 0.03 0.01 0.05 0.04 0.03 0.06

Kondisi 0.Tanpa Upaya 1. Wdk Singolatri 2. Wdk Lider 3. Wdk Kedawang 4. Wdk Singolatri + Lider 5. Wdk Singolatri + Kedawang 6. Wdk Lider + Kedawang 7. Singolatri+Lider+Kedawang

Total (juta m3) 1,553.41 1,553.38 1,553.38 1,553.40 1,553.36 1,553.37 1,553.38 1,553.35

P o la O p era s i Wa d u k S in g o la tri
(K ondis i D ebit R ata-rata)
3.50 3.00 2.50
Flo w: into reservo ir Wd.Singo latri Flo w: do wnstream Wd.Singo latri Flo w: main gate Wd.Singo latri

Volume (m 3/det)

2.00 1.50 1.00 0.50 0.00

1-Mar

1-F eb

1-May

1-Oct

1-J an

1-J un

1-J ul

1-Nov

1-S ep

Gambar 7a. Pola Pengoperasian Waduk Singolatri (m3/det).

Gambar 7b. Pola Pengoperasian Waduk Singolatri (m).

1765

1-Aug

1-Dec

1-Apr

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

P ola Operas i Waduk S ing olatri (K ondiri D ebit R ata-rata)
1.40

1.20

S torage: dead Wd.S ingolatri S torage: hedging 5 Wd.S ingolatri S torage: hedging 4 Wd.S ingolatri S torage: hedging 3 Wd.S ingolatri

1.00

V olum e (juta m 3 )

0.80

0.60

S torage: hedging 2 Wd.S ingolatri S torage: hedging 1 Wd.S ingolatri S torage: target Wd.S ingolatri S torage: flood c ontrol Wd.S ingolatri

0.40

0.20

0.00
1-Mar 1-F eb 1-May 1-O c t 1-J an 1-J un 1-J ul 1-Nov 1-S ep 1-Aug 1-D ec 1-Apr

S torage: full res ervoir Wd.S ingolatri S torage: ac tual at end of time s tep Wd.S ingolatri

Gambar 7c. Pola Pengoperasian Waduk Singolatri (Juta m3).
P o la Op eras i Wad u k L id er
(K ondis i Debit R ata-rata)
3.50 3.00

2.50

Volume (m /det)

Flo w: into reservo ir Wd.Lider Flo w: do wnstream Wd.Lider Flo w: main gate Wd.Lider

2.00 1.50 1.00

3

0.50 0.00

1-Mar

1-F eb

1-May

1-O ct

1-J an

1-J un

1-J ul

1-Nov

1-S ep

Gambar 8a. Pola Pengoperasian Waduk Lider (m3/det).

Gambar8b. Pola Pengoperasian Waduk Lider (m)

1766

1-Aug

1-Dec

1-Apr

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

P ola Operas i Waduk L ider (K ondiri D ebit R ata-rata)
1.80 1.60 1.40

S torage: dead Wd.L ider S torage: hedging 5 Wd.L ider S torage: hedging 4 Wd.L ider S torage: hedging 3 Wd.L ider S torage: hedging 2 Wd.L ider S torage: hedging 1 Wd.L ider S torage: target Wd.L ider S torage: flood c ontrol Wd.L ider S torage: full res ervoir Wd.L ider S torage: ac tual at end of time s tep Wd.L ider

Volum e (juta m 3 )

1.20 1.00 0.80 0.60 0.40 0.20 0.00

1-Mar

1-F eb

1-May

1-O c t

1-J an

1-J un

1-J ul

1-Nov

1-S ep

Gambar 8c. Pola Pengoperasian Waduk Lider (Juta m3).

P ola Operas i Waduk K edawang
(K ondis i Debit R ata-rata)
1.40 1.20 1.00
Flo w: into reservo ir Wd.Kedawang Flo w: do wnstream Wd.Kedawang Flo w: main gate Wd.Kedawang

Volume (m 3/det)

0.80 0.60 0.40 0.20 0.00

1-Aug

1-Mar

1-F eb

1-May

1-O c t

1-J an

1-J un

1-J ul

1-Nov

1-S ep

Gambar 9a. Pola Pengoperasian Waduk Kedawang (m 3/det).

Gambar 9b Pola Pengoperasian Waduk Kedawang ( m).

1-Aug

1767

1-Dec

1-Apr

1-D ec

1-Apr

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

P ola Operas i Waduk K edawang (K ondiri D ebit R ata-rata)
0.250

0.200

S torage: dead Wd.Kedaw ang S torage: hedging 5 Wd.Kedaw ang

V olum e (juta m 3 )

0.150

S torage: hedging 4 Wd.Kedaw ang S torage: hedging 3 Wd.Kedaw ang

0.100 S torage: hedging 2 Wd.Kedaw ang 0.050 S torage: hedging 1 Wd.Kedaw ang S torage: target Wd.Kedaw ang 0.000
1-Mar 1-F eb 1-May 1-O c t 1-J an 1-J un 1-J ul 1-Nov 1-S ep 1-Aug 1-D ec 1-Apr

S torage: flood control Wd.Kedaw ang S torage: full res ervoir Wd.Kedaw ang S torage: actual at end

of time tep Gambar9c. Pola Pengoperasian Waduk Kedawang (Juta sm 3) Wd.Kedaw ang

Evaluasi Perencanaan Pengembangan Pemanfaatan WS Kali Baru Keberadaan masing-masing waduk mempunyai efek manfaat yang berbeda ketika tidak dibangun bersama-sama. Hal ini disebabkan karena masing-masing waduk mempunyai daerah layanan irigasi tersendiri maupun suplai utama yang harus dipenuhi lebih dahulu sebelum mensuplai ke bendung yang lain. Adapun prioritas suplai dari masing-masing embung adalah sebagai berikut: Waduk Singolatri selain menyuplai Bendung Kajar yang berada di hilir, juga mempunyai peran dalam menyuplai ke bendung Karangdoro. Waduk Lider dan Kedawang mempunyai fungsi utama mensuplai bendung Setail yang merupakan bendung kontrol terletak paling hulu dalam sistem interbasin. Setelah pemberian air di bendung cukup, selanjutnya akan mensuplai ke bendung “K” dan bendung Blambangan. Hal ini dimungkinkan karena daerah irigasi “K” dan Blambangan masih dapat disuplai dari bendung Karangdoro melalui saluran interbasin. Walaupun masing-masing waduk mempunyai prioritas suplai tersendiri, namun pada simulasi ini neraca pemberian air dianalisa secara merata ke masing-

masing bendung kontrol. Hal ini akan memberikan alokasi dan keberhasilan alokasi yang tidak jauh berbeda dengan bendung kontrol satu dengan yang lain. Kemampuan 3 (tiga) waduk dalam mensuplai air irigasi masih kurang significant sehingga masih diperlukan tampungan lagi yang lebih besar. Perlu diadakan identifikasi lokasi tampungan yang lebih besar di wilayah sungai Kali Baru. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan bendungan adalah pada kondisi debit kurang (Q<<) dan head kurang (H<<) juga memerlukan tampungan yang cukup untuk menyimpan air ketika surplus dan menyediakan tampungan ketika defisit, sehingga dalam mendesain suatu waduk perlu dianalisis antara ketersediaan air dan kebutuhan air untuk menentukan suatu kapasitas tampungan yang diperlukan.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Jika di masa mendatang tanpa upaya pengembangan pemanfaatan air (kon disi 0, base case) maka keberhasilan alokasi air dalam 1 (satu) tahun sebesar

1768

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

72,25% dengan total kekurangan air sebesar 9,176 m3/det terutama terjadi pada musim kemarau bulan Agustus dan September, alokasi air rerata 21.368,19 m3/ha. Dengan luas daerah irigasi 33.791 ha menghasilkan produksi padi sebesar 5.012.143 ton dan palawija 4.773.490 ton, total penda patan sebesar 24,146 Trilyun. Untuk memenuhi suplai air irigasi dalam satu sistem wilayah sungai Kali Baru masih membutuhkan tampungan sebesar 289,37 juta m3, sedangkan volume air sungai yang belum termanfaatkan dalam setahun sebesar 1.553,41 juta m3, sehingga secara hidrologi debit yang ada pada DAS ini cukup memadai, namun dari aspek regulasi kurang tampungan untuk menyimpan air di musim hujan dan dapat digunakan untuk suplai kebutuhan air irigasi di musim kemarau yang cenderung terjadi penurunan debit. 2. Jika di masa mendatang dilaksanakan pembangunan Waduk Singolatri, Lider dan Kedawang (kondisi 7) maka keberhasilan alokasi air dalam (1) satu tahun sebesar 73,20% atau ada peningkatan kesuksesan pemanfaatan air sebesar 0,95%. Dengan pemba ngunan 3 (tiga) waduk Singolatri, Lider dan Kedawang, ternyata masih ada kekurangan air sebesar 9,167 m3/det atau peningkatan suplai sebesar 0,009 m3/det. Manfaat pembangunan waduk Singolatri, Lider dan Kedawang adalah dapat mensuplai daerah irigasi dengan alokasi air rerata 21.374,28 m3/ha atau ada peningkatan alokasi air sebesar 6,10 m3/ha. Dengan luas daerah irigasi 33.791 ha menghasilkan produksi padi sebesar 5.012.273 ton atau ada peningkatan produksi padi sebesar 130 ton per tahun dan palawija 4.774.836 ton atau ada peningkatan produksi palawija sebesar 1.346 ton per tahun, total pendapatan sebesar Rp.24,149 Trilyun. atau ada peningkatan penda patan sebesar 3,086 Milyar Rupiah pertahun. Untuk memenuhi suplai air irigasi dalam satu sistem wilayah sungai

3.

Kali Baru masih membutuhkan tampungan sebesar 289,08 juta m3, atau selisih kebutuhan tampungan sebesar 0,29 juta m3 . Sedangkan volume air sungai yang belum termanfaatkan dalam setahun sebesar 1.553,35 juta m3 atau ada peningkatan pemanfaatan air sebesar 0,06 juta m3. Secara ekonomi, nilai EIRR sebesar 11,35 %, Benefit Cost Rasio (BCR) sebesar -0,05, dan BC sebesar Rp -0,84 Milyar. Decision Support System dalam pengembangan pemanfaatan wilayah sungai Kali Baru adalah berdasarkan kondisi lahan pertanian dengan luas daerah irigasi 33.791 ha, maka WS Kali Baru mempunyai potensi besar sebagai lumbung padi. Dengan kondisi sistem tata air interbasin dan adanya bendung regulator Karangdoro dan Bendung Setail, maka sistem ini mempunyai pengaruh besar dalam mensuplai antar DAS yang kurang air, sehingga perlu ditingkatan efisiensi dan pola operasi bendung. Berdasarkan kebutuhan air yang belum dapat disuplai sebesar 289,08 juta m3, sedangkan potensi air sungai yang belum termanfaatkan sebesar 1.553,35 juta m3, maka secara hidrologis, potensi air cukup besar untuk dapat dimanfaatkan. Dengan strategi pembangunan waduk Singolatri bervolume 126, 24 ribu m3, Waduk Lider bervolume 36,48 ribu m3, dan Waduk Kedawang bervolume 196,75 ribu m3, artinya kondisi volume tampungan kecil maka waduk akan kosong dalam beberapa jam dan terisi kembali dalam beberapa jam sehingga secara kemanfaatan hanya sebagai waduk pendistribusi saja, sedangkan kemanfaatan sebagai fungsi tampungan tidak ada. Secara pola pengoperasian waduk dimana kondisi inflow sama dengan outflow, maka sebaiknya direncanakan bendung dengan biaya investasi lebih kecil dari Bendungan. Secara Ekonomi, dengan biaya investasi untuk Bendungan Singolatri sebesar Rp. 26,34 Milyar, Embung Lider sebesar Rp. 24,72 Milyar, dan biaya pemba

1769

AGRITEK VOL. 16 NO. 9 SEPTEMBER 2008

ISSN. 0852-5426

ngunan Embung Kedawang sebesar Rp. 25,54 Milyar dibandingan dengan benefit yang diperoleh hanya sebesar Rp. 3,086 Milyar pertahun sehingga BCR < 1 , B-C < 0 dan EIRR < 12% maka strategi pembangunan 3 (tiga) tidak layak. Saran Untuk memberi manfaat lebih lanjut, disarankan hal-hal sebagai berikut : 1. Bagi Pemerintah Kabupaten Banyu wangi, dari aspek lahan pertanian disarankan untuk tidak berubah fungsi sehingga sasaran sebagai ”lumbung padi” tetap dipertahankan. Dari aspek hidrologi, potensi air yang ada pada WS Kali Baru disarankan mencari lokasi tampungan besar di hulu sehingga dapat menampung kelebihan air di musim hujan dan dan menyuplai air di musim kemarau yang cenderung debitnya berkurang. Dari segi fungsi sebagai regulator, disarankan berupa bendung karena lebih ekonomis dari pada bendungan yang biaya investasi yang besar. Dari analisis ekonomi, 3 waduk tidak layak karena benefitnya sanagt kecil. Dari segi kecenderungan menurunnya debit pada 10 tahun terakhir ini, maka disarankan adanya konservasi. 2. Bagi pengelola prasarana pengairan, untuk mencapai layanan irigasi yang maksimal dengan volume waduk yang kecil disarankan untuk mengatur air waduk secara harian, sehingga sangat diperlukan ketrampilan dan kedisiplin an dalam pengoperasiannya setiap hari. 3. Bagi pengembangan lebih lanjut, dimungkinkan untuk meneliti rencana pembangunan waduk-waduk lain atau bendung-bendung lain dengan DSSRibasim.

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Jendral Pengairan, Departemen Pekerjaan Umum. 2001.Pedoman Perencanaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai. Direktorat Jendral Pengairan, Departemen Pekerjaan Umum. 2001.Pemodelan Sistim Pendukung Keputusani. Hatmoko, Waluyo. 2007. Mengenal DSSRIBASIM Decision Support System River Basin Simulation Model. Loucks, Daniel P; Stedinger, Jery R; Haith, Douglas A. 1981. Water Resources Systems Planning and Analysis. Prentice-Hall,Inc. Englewood Cliffs, New Jersey 07632. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. 2002. Penyusunan Master Plan Tata Guna Air untuk Irigasi dan Penyediaan Air Bersih di Kecamatan Rogojampi, Singojuruh, Songgon dan Kabat. Kabupaten Banyuwangi. Sub-Direktorat Perencanaan Teknis, Direktorat Irigasi I, Direktorat Jendral Pengairan, Departemen PU. 1986. Petunjuk Perencanaan Irigasi. CV Galang Persada. Wiratman & Associates, P.T. 2004. Laporan Akhir, SID Waduk Singolatri, Embung Kedawang dan Embung Lider di Kabupaten Banyuwangi. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Wil N.M. van der Krogt . 2000. Guidelines River Basin Simulation Model. Delft Hydraulics. Wil N.M. van der Krogt . 2004. Ribasim Version 6.32. User Manual. Delft Hydraulics. Wil N.M. van der Krogt . 2005. River Basin Simulation Model. Delft Hydraulics. Wil N.M. van der Krogt . 2005. Ribasim Version 6.32. User Manual Attachments Delft Hydraulics. Wil N.M. van der Krogt . 2005. Ribasim Version 6.32. Technical Reference Manual. Delft Hydraulics.

1770

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful