You are on page 1of 5

Pendidikan seks tahap awal

A. Pendidikan seks tanggungjawab orang tua
Orang tua adalah pendidik pertama bagi anaknya oleh karena itu, tidak ada
yang dianggap tabu dalam upaya mendidik anak dengan cara dan muatan yang
disesuaikan dengan kondisi anak pada saat itu.
Pendidikan seks adalah pemberian informasi dan pembentukan sikap serta
keyakinan tentang seks, identitas seksual, hubungan dan keintiman. Ini
menyangkut otonomi seksual manusia, reproduksi, hubungan seksual, kesehatan
reproduksi, hubungan emosional dan aspek lain dari perilaku seksual manusia
sehingga setiap anak memiliki hak untuk dididik tentang seks.
Orang tua diharapkan mampu menapaki setiap etape perjalanan tidak perlu
‘mengebut’ atau malah ‘berhenti’ perlahan tetapi pasti, anak – anak akan
dihantarkan menuju tujuannya yaitu memahami hakikat seksualitas, yaitu untuk
membina sebuah keluarga yang sakinah, mawadah dan wa rahmah.
Melihat usia anak memang perlu dipertimbangkan ketika orangtua akan
membekali seks. Secara garis besar, pendidikan seks bisa dibagi dalam beberapa
tahap, yaitu :
1. Sesaat setelah lahir hingga anak menginjak pra remaja (sebelum
menstruasi/mimpi basah).
2. Ketika anak mengalami masa remaja (setelah anak mengalami
menstruasi/mimpi basah).
3. Ketika dewasa (menjelang menikah).
B. Metode Pembekalan Pendidikan Seks
1. Berilah pemahaman tentang seks terhadap anak berdasarkan nilai agama serta
nilai moral sehingga segala sesuatu yang menyangkut seksualitas langsung
dikaitkan dengan ajaran agama. Jika basisnya adalah agama, biasanya orangtua
menerapkan pula dalam kehidupan sehari – hari sehingga anak melihat

Berhubungan tingkat pemahaman anak sangat terbatas. Orang tua seharusnya berusaha memberikan nama dan panggilna nama yang baik. Pemberian nama yang baik akan mendorong si pemilik nama untuk berbuat baik sesuai dengan makna yang terdapat pada namanya. disenangi anak. sehingga anak bisa bersikap dan berperilaku sesui dengan namanya. tidak perlu penjelasan mendetail sehingga malah memusingkan anak. Penamaan nama yang salah gender menyebabkan anak berperilaku sesuai namanya. Dr. Ph. bahkan maskulinitas dan feminitas. C. Albert Mehrabian.D melakukan penelitian tentang bagaimana sebuah nama mengubah persepsi orang lain tentang moral. Upaya Pendidikan Seks Tahap Awal 1. indah. 3. tidak usah terlalu melebar terlalu jauh. beri rasa aman terhadap anak dengan adanya komunikasi yang hangat antar anggota keluarga. Dengan kata lain. serta penuh makna. Nama merupakan ungkapan dari harapan dan cita – cita dari orang tua yang disematkan ke anak. nama dapat berpengaruh terhadap kedamaian jiwa anak. sesuaikan penjelasan mengenai seks dengan usia dan tingkat pemahan anak. Hal ini bisa mengangkat harga diri anak yang secara tidak langsung akan bertindak sesuai . Islam melarang dalam pemberian nama anak laki – laki seperti nama wanita dan pemberian nama wanita seperti nama laki – laki. 4. Nama mewakili jenis kelamin pemiliknya. maka orang tua pun diharapkan menjawab seperlunya. Berilah nama anak sesui dengan jenis kelaminnya Menurut ibnu Qayyim Al-Jauziyyah ada hubungan erat antara nama dan yang dinamai. 2.bagaimana hubungan antar anggota keluarga serta inter anggota keluarga selalu berpedoman pada ajaran agama serta kuasa allah. keceraian. kesuksesan. batasi penjelasan atau jawaban hanya pada anak saja. Komunikasikan secara jelas masalah seks dengan anak sehingga dia tidak takut bertanya atau mencari sumber yang tidak jelas untuk memuaskan rasa ingin taunya.

akan timbul perasaan memiliki. Perkenalkan anak dengan semua bagian anggota tubuhnya beserta fungsinya. “rasulullah melaknat laki – laki yang meniru wanita dan wanita yang meniru laki – laki. menyebabkan sang anak mengalami kebingungan peran. Kenalkan bagian tubuh dan fungsinya Sejak dini. karena fungsinya jelas. Orang tua yang salah dalam penanaman jiwa maskulinitas dan feminitas pada anak – anaknya. dubur untuk buang air besar. untuk buang air kecil. Itu semua tidak boleh untuk mainan. serta perasaan bahwa dirinya sangat berharga.dengan nama yang telah tersemat semenjak mereka lahir. . usahakan anak telah mengenal bagian tubuhnya beserta fungsinya.” Dalam riwayat lain disebutkan. Badannya laki – laki namun jiwanya perempuan dan badannya perempuan namun jiwanya laki – laki. Orang tua jangan malu untuk menyebut kemaluan anaak dengan nama yang sebenarnya (vagina atau penis) kalau orang tua merasa risih menyebutnya. Biarkan anak mengetahui makna yang terkandung dalam namanya. “rasulullah melaknat laki – laki yang berlagak seperti wanita. buang air besar. pastikan mengetahui nama bagian tubuh tersebut beserta fungsinya. 3. Dengan penjelasan yang singkat dan jelas. perasaan nyaman. Dengan mengetahuinya. Beri perlakuan sesuai dengan jenis kelamin anak Penanaman jiwa sesuai dengan jenis kelainan anak merupakan hal yang sangat mendasar. Ibnu abbas menuturkan. payudara untuk memberikan minum adik bayi dan sebagainya. dan meniru laki – laki.” (HR Bukhari). misalnya vagina atau penis fungsinya digunakan untuk buang air kecil. anak akan memahami tubuh beserta fungsinya. bangga. dan memberikan minum adik bayi. namun menyebutnya dengan istilah ‘farji atau aurat’. 2. Hal ini merupakan bentuk cetak biru orang tua untuk membentuk kepribadian anak sesuai dengan jenis kelaminnya.

pengertian. 4. Selain menyebabkan ketidakbersihan serta gangguan kesehatan pada organ. Bagi anak perempuan. namun lebih dalam lagi. Ahmad). Orang tua tidak boleh menganggap enteng masalah menghilangkan najis. merupakan ‘pintu gerbang’ untuk menjelaskan tahap selanjutnya yang berkenaan dengan menstruasi atau mimpi basah. hal ini bukan saja sebagai kotoran. orang tua akan berhasil mengajarkan etika buang hajat di tempatnya. maupun mengeringkan. Ajari cara membersihkan alat kelamin Seiring dengan perkembangan seorang anak.Sehingga anak akan segan untuk mempermainkan tubuhnya selain fungsi yang sebenarnya(mengurangi anak untuk melakukan masturbasi atau onani). lalu mengeringkannya. bersihkan area genetalia dari depan ke belakang untuk menghindari perpindahan bakteri dari dubur ke vagina. Dengan menyebut nama alat kelamin secara jelas. membersihkan. atau bahkan tidak membersihkan area gennitalnya setelah buang air kecil denga alasan mereka masih kecil. Dengan kesabaran serta pemahaman. Serangkain dengan hal ini. baik saat menyiram. orang tua diharapkan mengajari anaknya untuk membuang hajat di tempatnya (toilet training). “Kebanyakan azab kubur disebabkan oleh buang air kecil’ (HR. Sesudah anak buang hajat. dan kesabaran. yaitu berkaitan dengan penjagaan diri dari najis. Karena dalam islam. . usahakan membersihkannya dengan menggunakan air bersih. Rasulullah bersabda. orang tua juga akan mengajarkan bagaimana anak membersihkan alat kelaminnya dan duburnya setelah membuang hajat. Bagi anak laki – laki cukup dengan menyiram sambil membersilhkan penis. Jangan membiasakan anak membuang hajatnya disembarang tempat. juga berkaitan dengan tidak sahnya shalat karena ada najis serta akan ditimpakannya azab kubur. Mengajari anak untuk menggunakan toilet membutuhkan waktu.

. selain anak dididik untuk mandiri. orang tua juga berhasil menanamkan rasa malu kepada anak sedini mungkin.Dengan pola semacam ini. Sehingga mereka terbiasa melindungi auratnya dari pandangan orang lain sedini mungkin.