You are on page 1of 91

ISSN: 2355-7036

JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN
Volume 1, Nomor 1, Mei 2014

Diterbitkan oleh:
ASISTEN DEPUTI OLAHRAGA PENDIDIKAN
DEPUTI BIDANG PEMBUDAYAAN OLAHRAGA
KEMENTERIAN PEMUDA DAN OLAHRAGA
REPUBLIK INDONESIA

Gedung PPITKON Lantai 2,
Jl. Gerbang Pemuda No. 3 Senayan, Jakarta Pusat – 10270
Telp./Fax: 021-5738153
Email: jurnalordik@gmail.com

JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN
Volume 1, Nomor 1, Mei 2014
Terbit dua kali setahun pada bulan Mei dan November, berisi naskah hasil penelitian, gagasan
konseptual, kajian teori atau aplikasi olahraga pendidikan
Pembina
Menteri Pemuda dan Olahraga R.I.
KRMT. Roy Suryo Notodiprojo
Penasihat
Dr. Alfitra Salamm, APU (Sekretaris Kemenpora R.I.)
Prof. Dr. Faisal Abdullah, S.H., M.Si, DFM. (Deputi Pembudayaan Olahraga)
Penanggungjawab
Asisten Deputi Olahraga Pendidikan
Dr. H. Sukarno, M.M.
Ketua Penyunting
Drs. Jenal Aripin
Wakil Ketua Penyunting
Dr. H. Herman Chaniago
Mitra Bestari
Prof. Dr. Hari Amirullah Rachman, M.Pd. (Universitas Negeri Yogyakarta)
Prof. Dr. Hari Setijono, M.Pd. (Universitas Negeri Surabaya)
Prof. Dr. Tandiyo Rahayu, M.Pd. (Universitas Negeri Semarang)
Prof. Dr. H. M. E. Winarno, M.Pd. (Universitas Negeri Malang)
Prof. Dr. Adang Suherman, M.A. (Universitas Pendidikan Indonesia)
Dr. Sapta Kunta Purnama, M.Pd. (Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta)
Prof. Dr. H. Moch. Asmawi, M.Pd. (Universitas Negeri Jakarta)
Dr. H. A. Sofyan Hanief, M.Pd. (Universitas Negeri Jakarta)
Prof. Dr. Andi Ikhsan, M.Kes. (Universitas Negeri Makassar)
Penyunting Pelaksana
Drs. Tri Utomo
Budi Ariyanto Muslim, S.Pd.
Satria Yudi Gontara, M.Or.
Khavisa, M.Pd.
Sekretariat
Supeni Pudyastuti, S.Pd.
Jaya Sutrisna, S.Pd., M.M.
Yulia Mahmuddin, S.AP.
Bambang Pamungkas, S.Kom.
Kasdi, S.E.
Ony Herdianto, S.Pd.

JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN (JURNAL ORDIK): Diterbitkan oleh Asisten Deputi Olahraga
Pendidikan Deputi Pembudayaan Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga RI. Bekerjasama
dengan Indonesian Sports Scientist Association (ISSA) dan Asosiasi Guru Besar Keolahragaan
Indonesia (AGB KORI).
Publikasi Naskah: Penyunting menerima naskah yang belum pernah diterbitkan dalam jurnal lain
(Petunjuk bagi Penulis: baca pada bagian dalam sampul belakang).
Alamat Redaksi: Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga R.I., c.q Asisten Deputi Olahraga
Pendidikan, Gedung Grha Pemuda dan Olahraga Lt. 4, Jl. Gerbang Pemuda No. 3 Senayan Jakarta
Pusat (10270), Telp/Fax (021) 5731106.

Sinopsis
Olahraga pendidikan sebagai salah satu lingkup kegiatan keolahragaan tak lepas dari upaya
pengembangan dan peningkatan kualitas dalam pelaksanaannya. Hal ini terkait dengan amanat
Undang-undang Nomor 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional pasal 25 ayat (1) yang
menyatakan bahwa pembinaan dan pengembangan olahraga pendidikan dilaksanakan dan diarahkan
sebagai satu kesatuan yang sistemis dan berkesinambungan dengan sistem pendidikan nasional.
Lebih lanjut dinyatakan dalam Peraturan Pemerintah nomor 16 tahun 2007 tentang Penyelenggaraan
Keolahragaan pasal 25 ayat (1) menyatakan bahwa pembinaan dan pengembangan olahraga
pendidikan bertujuan untuk memperoleh pengetahuan, kepribadian, keterampilan, kesehatan dan
kebugaran jasmani serta pengembangan minat dan bakat olahraga. Dari uraian di atas dapat
dikatakan bahwa olahraga pendidikan merupakan lingkup kegiatan keolahragaan nasional yang yang
sangat penting dan terkait dengan penyiapan modal dasar pembangunan nasional yaitu sumber daya
manusia. Mengingat peran pentingnya olahraga pendidikan sebagai dasar bagi pengembangan
lingkup kegiatan olahraga lainnya, maka diperlukan suatu perencanaan pembangunan keolahragaan
nasional, khususnya dalam lingkup olahraga pendidikan. Dalam pelaksanaannya, olahraga
pendidikan perlu didukung beberapa hal sebagai berikut: 1) pemetaan pelaksanaan olahraga
pendidikan nasional; 2) pemenuhan tenaga keolahragaan olahraga pendidikan di sekolah; 3) ilmu
pengetahuan terapan dan ilmu pengetahuan dasar secara seimbang dan terintegrasi; 4) kelembagaan
olahraga pendidikan yang dinamis dan efektif; 5) pengkajian olahraga pendidikan secara
berkelanjutan; dan 6) komunikasi, informasi dan edukasi sebagai sarana pengembangan olahraga
pendidikan. Pengembangan dan pemanfaatan olahraga pendidikan harus ditingkatkan dan diarahkan
untuk lebih meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup sumber daya manusia sebagai modal
dasar pembangunan, yang selaras dengan nilai-nilai, norma serta karakter terpuji. Selanjutnya lebih
luas lagi, dalam mengem-bangkan olahraga pendidikan harus didukung salah satunya adalah adanya
Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) sebagai sarana publikasi terhadap perkembangan olahraga
pendidikan. KIE tentang olahraga pendidikan dirasakan belum optimal. Hal ini juga diakibatkan karena
keterbatasan kemampuan pemerintah dalam menyebarluaskan atau mengkomunikasikan
perkembangan olahraga pendidikan. Untuk itu perlu kiranya disusun suatu sistem KIE yang efektif dan
efisien untuk memenuhi kebutuhan stakeholder olahraga pendidikan. Salah satu jenis dari KIE adalah
terbitan berkala ilmiah yang lebih sering disebut sebagai jurnal ilmiah. Jurnal ilmiah saat ini
merupakan media KIE yang efektif untuk menginformasikan dan mengkomunikasikan hasil penelitian,
gagasan serta kreativitas seorang peneliti atau penulis. Saat ini pertumbuhan jurnal ilmiah sangat luar
biasa, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat merupakan salah satu dorongan
kuat tumbuhnya jurnal ilmiah yang sangat pesat. Namun demikian dari sekian banyak jurnal yang
marak terbit saat ini, belum banyak jurnal dalam bidang olahraga khususnya olahraga pendidikan.
Kenyataan yang ada saat ini, banyak pendidik yaitu dosen, guru, tutor dan pembina pendidikan
jasmani olahraga dan kesehatan baik pada pendidikan formal maupun non formal yang sebagian
besar berupaya untuk menyusun publikasi ilmiah dalam bentuk artikel yang dimuat di jurnal ber-ISSN
tetapi kesulitan karena langkanya jurnal olahraga pendidikan. Sebagai contoh bagi guru, berlakunya
Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 tahun 2009
Tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya mengamanatkan bahwa bagi seorang guru
untuk dapat menduduki jabatan fungsional lebih tinggi diwajibkan untuk menyusun artikel hasil
penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ber-ISSN sedangkan bagi masyarakat luas penerbitan
jurnal olahraga pendidikan dapat dijadikan sebagai media komunikasi, informasi dan edukasi dalam
bidang olahraga pendidikan. Perkembangan kebijakan tersebut juga berimbas kepada kebutuhan
guru atau dosen akan sumber referensi berupa jurnal sebagai dasar untuk menyusun teori dalam
melakukan pengkajian maupun penelitian terhadap pembelajaran olahraga pendidikan. Kebutuhan
akan referensi dalam bidang ilmu olahraga pendidikan inilah yang juga mendesak untuk segera
diterbitkannya jurnal dalam bidang kajian olahraga pendidikan. Berdasarkan uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa penerbitan jurnal olahraga pendidikan merupakan kebutuhan yang mendesak
untuk merespon kebutuhan masyarakat luas akan informasi mengenai perkembangan olahraga
pendidikan sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas pembinaan olahraga nasional. Sejalan
dengan itu, Kementerian Pemuda dan Olahraga, dalam hal ini melalui Asisten Deputi Olahraga
Pendidikan bermaksud menerbitkan terbitan berkala “Jurnal Olahraga Pendidikan” sebagai bagian
dari tugas pokok dan fungsinya dalam mengembangkan dan membina olahraga pendidikan nasional.

pembelajaran. dan keterampilan. menurut perkembangan individualnya masing-masing. maka dikembangkan model pembelajaran service bawah bolavoli dengan bentuk penyampaiannya menggunakan media buku panduan pembelajaran untuk siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Malang. Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang Email : novie_dhyan@yahoo. service bawah. Menurut Dwiyogo (2010:205) usaha meningkatkan kualitas pembelajaran dilakukan 81 . Winarno. kognitif. Menurut Setyosari (2001:10). M. dibutuhkan kegiatan pembelajaran untuk mencapai pendidikan atau ilmu pengetahuan yang telah ditempuh. menetapkan. ” Penyajian informasi tersebut disajikan oleh guru secara langsung. maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yaitu bagian dari pendidikan yang bertujuan untuk memfasilitasi belajar orang dalam meningkatkan kemampuan afektif. Menurut Dwiyogo (2010:205) menyatakan bahwa tujuan pembelajaran adalah “untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Kemampuankemampuan tersebut diperkembangkan bersama dengan pemerolehan pengalamanpengalaman belajar sesuatu.PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN TEKNIK DASAR SERVICE BAWAH BOLAVOLI UNTUK SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 5 MALANG Novi Dian Anggraini. Di dalam pembelajaran terdapat beberapa tujuan yang harus dicapai. bahwa tujuan pembelajaran yang dirancang adalah “ingin membantu setiap orang (si belajar) mengembangkan diri secara optimal mungkin.com Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang Email : winarno_eko@yahoo. mudah. Peningkatan kualitas pembelajaran dilakukan dengan cara memilih. Tetapi hal tersebut belum pernah dilakukan.” Berdasarkan berbagai pendapat para ahli di atas. proses dimana lingkungan seseorang dengan sengaja dikelola (managed) agar ia dapat belajar atau melibatkan diri dalam perilaku yang spesifik dengan kondisi tertentu ataupun agar ia dapat memberikan respons terhadap situasi yang spesifik” (Dwiyogo. dan mengembangkan metode pembelajaran yang optimal untuk mencapai hasil yang diinginkan”. “Pembelajaran merupakan bagian dari pendidikan dan spesifik. dan aman.” Perancangan pembelajaran juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006: 159) “pembelajaran juga berarti meningkatkan kemampuan-kemampuan kognitif. E. Sulistyorini. bolavoli. teknik dasar. afektif. Sedangkan menurut Setyosari (2001:14). Berdasarkan kenyataan itulah.com Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang Email : rini_fikum@yahoo. Pembelajaran yang akan dilaksanakan harus dirancang dengan baik dan tidak boleh sembarangan. Berbagai macam model pembelajaran service bawah tersebut terbukti dapat mengatasi kesulitan-kesulitan saat melakukan pembelajaran service bawah bolavoli dan dapat membangkitkan semangat siswa dengan cara yang menyenangkan. Dalam proses kehidupan manusia. dan keterampilan siswa.com Abstrak: Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang mampu menciptakan situasi belajar siswa aktif sepanjang waktu model pembelajaran yang ada di dalam pembelajaran service bawah bolavoli merupakan variasi pembelajaran yang digunakan untuk membantu mengatasi masalah yang muncul di lapangan pada saat materi service bawah bolavoli. 2010:3). menyatakan bahwa “pembelajaran adalah penyajian informasi dan aktivitas-aktivitas yang memudahkan si belajar untuk mencapai tujuan khusus belajar yang diharapkan. Kata kunci: pengembangan.

pola hidup sehat. bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani. 2) meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik. dan pengenalan lingkungan hidup bersih melalui aktifitas jasmani. dan demokratis. Sedangkan menurut BSNP (2006:684). keterampilan sosial. Tujuan pendidikan jasmani sangat banyak bagi siswa. 4) meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan jasmani. bertanggungjawab. Dalam penyampaian dan penyajian materi pendidikan jasmani. mental. dan kesehatan adalah untuk mengembangkan individu (seseorang) dalam kebugaran jasmani. olahraga. Olahraga. stabilitas emosional. intelektual dan emosional melalui aktivitas jasmani”. emosional. kognitif. kerjasama. Dari berbagai pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan jasmani. 2) pembelajaran dirancang dengan menggunakan pendekatan sistem. dan lingkungan. 6) mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri. dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan pendidikan jasmani. 3) rancangan pembelajaran didasarkan pada pengetahuan tentang bagaimana seseorang belajar. Berdasarkan penjelasan di atas. Mei 2014. kerjasama. jujur. Salah satu pendidikan yang terkait dengan olahraga adalah Pendidikan Jasmani. 7) rancangan pembelajaran mencakup semua variabel yang mempengaruhi belajar. percaya diri. Serta memiliki sikap yang positif. olahraga. 3) meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar. petumbuhan fisik. terampil. Dari penjelasan di atas. olahraga. Dalam mengembangkan pembelajaran untuk aktivitas kebugaran jasmani dan kesehatan yang menarik dan menyenangkan untuk . bertanggung jawab. dan Kesehatan (Penjasorkes). mental serta moral yang berupa sikap sportif. orang lain. yang mempunyai tujuan pengembangan warga secara fisik (jasmani). dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. jujur. 7) memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna. Winarno (2006:15) menyatakan bahwa “aktivitas fisik merupakan media utama yang digunakan untuk mencapai tujuan”. dan tujuan sosial melalui aktivitas jasmani yang telah dipilih untuk merealisasikan tujuantujuan tersebut. neuromaskuler. mata pelajaran pendidikan jasmani.87 oleh perancang pembelajaran dengan pijakan asumsi tentang hakekat rancangan pembelajaran yaitu: 1) Perbaikan kualitas pembelajaran diawali dengan rancangan pembelajaran. dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan pembelajaran adalah untuk mengembangkan diri secara optimal mungkin dengan cara memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran melalui metode dan rancangan pembelajaran yang optimal sehingga dapat mencapai hasil yang diinginkan. olahraga. Tujuan tersebut menggambarkan keunggulan sumber daya manusia di Indonesia. keterampilan berfikir kritis. percaya diri. tindakan moral. Volume 1. 6) sasaran akhir rancangan pembelajaran adalah memudahkan belajar. dan kesehatan cenderung menggunakan aktivitas fisik.82 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. olahraga. Pendidikan jasmani merupakan salah satu pendidikan yang menggunakan aktivitas fisik. dan kesehatan adalah proses pendidikan yang menggunakan aktivitas jasmani atau fisik yang mecakup semua kawasan baik psokomotor. Pendidikan jasmani. Nomor 1. disiplin. Sedangkan menurut BSNP (2006:648) menyatakan bahwa: Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan. dan kebugaran. disiplin. dan kesehatan. aspek pola hidup sehat. olahraga. 5) hasil pembelajaran mencakup hasil langsung dan hasil pengiring. Menurut Winarno (2006:13) pendidikan jasmani bertujuan “untuk mengembangkan individu secara organis. 81 . dan kesehatan bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 1) Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih. Bucher (1983:13) menyatakan bahwa “pendidikan jasmani merupakan bagian yang integral dari seluruh proses pendidikan. olahraga. keterampilan gerak. dan afektif. 4) rancangan pembelajaran diacukan kepada belajar secara perseorangan. 5) mengembangkan sikap sportif. dan kesehatan berbeda dengan mata pelajaran lain. penalaran. dan demokratis melalui aktivitas jasmani.

bersedia berbagi tempat dan peralatan. Berdasarkan penjelasan di atas. keberanian. “dalam permainan bolavoli dibutuhkan koordinasi gerak yang benarbenar bisa diandalkan untuk melakukan semua gerakan yang ada dalam permainan bolavoli” (Ahmadi. 2007:20). Untuk memulai permainan. tim tersebut misalnya tim A dan tim B. keberanian. tim pertama yang akan melakukan serve dipilih melalui “lempar koin”. Mempraktikkan teknik dasar salah satu permainan dan olahraga beregu bola besar lanjutan dengan koordinasi yang baik serta nilai kerjasama. dan smash“ (Ahmadi. 1982:43). block. bolavoli “adalah olahraga yang dimainkan oleh dua tim dan setiap tim terdiri dari enam pemain. “Teknik-teknik dalam permainan bolavoli terdiri atas service. passing atas.E. Service merupakan salah satu dari berbagai teknik dasar bolavoli. peneliti merujuk pada materi kebugaran jasmani yang diberikan kepada 83 siswa SMP sesuai dengan BSNP (2006:519521). 2007:20). Bolavoli adalah “olahraga yang dimainkan oleh dua tim dalam satu lapangan yang dipisahkan oleh sebuah net” (PBVSI. Permainan bolavoli merupakan permainan yang tidak mudah dilakukan karena bolavoli merupakan permainan yang sifatnya beregu yang memerlukan kerjasama antar sesama pemain. Setiap olahraga mempunyai berbagai teknik dasar. & Sulistyorini. percaya dini.dengan memiliki . toleransi. perlu sangat ditonjolkan pentingnya service yang tepat dan aman” (Durrwachter.. Oleh sebab itu. Pengembangan Pembelajaran Teknik Dasar Service siswa SMP. Dari pendapat berbagai ahli di atas. Roesdiyanto (1989:23) mengemukakan bahwa teknik permainan bolavoli adalah “suatu proses dasar tubuh untuk melakukan keaktifan jasmani dan suatu penguasaan keterampilan dalam hal suatu praktek yang sebaik-baiknya untuk dapat melakukan ge- rakan dalam permainan bolavoli dan menyelesaikan permainan bolavoli dengan baik”. Winarno. bersedia berbagi tempat dan peralatan. Sedangkan menurut Permana (2008:7) menyatakan bahwa. percaya diri. Bolavoli adalah salah satu olahraga yang dilakukan melalui permainan. Karena penetuan awal permainan berada pada tingkat ketajaman dan ketepatan service. yaitu sebagai berikut. “Dalam latihan maupun dalam permainan. maka dapat disimpulkan bahwa bolavoli adalah olahraga yang dimainkan oleh dua tim dalam satu lapangan yang dipisahkan oleh sebuah net dan setiap tim terdiri dari enam pemain. Mempraktikkan variasi dan kombinasi teknik dasar salah satu permainan dan olahraga beregu bola besar lanjutan dengan koordinasi yang baik serta nilai kerjasama.Novi Dian A. Salah satu permainan bola besar yang diajarkan pada tingkat SMP yaitu bolavoli. Sedangkan menurut Roesdiyanto (1989:27) mengemukakan bahwa service dalam permainan bolavoli adalah “sarana pertama untuk mengadakan serangan terhadap regu lawan. menghargai lawan. M. Tabel 1. 2005:1). Dalam permainan bolavoli. passing bawah. 2007:20). Salah satu permainan beregu bola besar yaitu permainan bolavoli. Semester 2 Mempraktikkan berbagai teknik dasar permainan dan olahraga dan mlai-nilai yang terkandung di dalamnya. Selain itu. agar dapat melakukan permainan bolavoli dibutuhkan koordinasi gerakan yang baik dan kerjasama antar pemain. Teknik dasar setiap olahraga berbeda sesuai dengan jenis olahraga tersebut. untuk mengawali permainan diperlukan service. Di dalam permainan bolavoli. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Kelas VIII Kelas VIII Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Semester 1 Mempraktikkan berbagai teknik dasar permainan dan olahraga dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Service adalah “pukulan bola yang dilakukan dari belakang garis akhir lapangan permainan melampaui net dari daerah lawan” (Ahmadi. keterampilan permainan bolavoli harus diterapkan dalam pembelajaran pendidikan jasmani di SMP dan harus dilaksanakan. menghargai lawan. Sehingga. terdapat berbagai teknik dasar. toleransi. materi permainan beregu bola besar diberikan kepada siswa SMP kelas VIII.

Pembelajaran tersebut bertujuan untuk melatih keterampilan service bawah bolavoli. “Posisi awal untuk melakukan service tangan bawah adalah berdiri dengan posisi melangkah. ada beberapa unsur permainan yang terkandung di dalamnya.87 teknik service yang baik akan membuat suatu regu bermain dengan sangat efisien. Sedangkan menurut Durrwachter. Dalam teknik dasar service bolavoli. c) posisi badan. model service segitiga. Permainan sangat digemari oleh semua kalangan terutama anak-anak. Ia tidak akan merasa lebih enak bila tidak ada kesempatan untuk bermainmain”. Pembelajaran service bawah bolavoli merupakan pembelajaran yang di dalamnya terdapat pembelajaran yang berupa latihan serta permainan. 81 . 1997: 43). dengan kaki depanyang berlawanan dengan tangan yang akan memukul bola” (Ahmadi. Menurut Sujanto (1982:31) menerangkan bahwa “bagi anak. 4) uji coba lapangan meliputi uji kelompok kecil yang terdiri dari 12 subjek dan uji kelompok besar yang terdiri dari 30 subjek. Sarifudin (1976: 76) mengungkapkan bahwa “permainan sebagai penyaluran segala potensi yang ada pada diri masing-masing baik untuk kebugaran jasmani sebagai satu kesatuan makhluk hidup maupun kebutuhan pencapaian hasrat keinginan”. lebih mudah untuk melakukan service bawah. model service segi empat. permainan adalah merupakan makanan rohaninya. Berbagai model pembelajan service bawah bolavoli. 3) validasi ahli meliputi dua ahli isi (pembelajaran. . Berdasarkan beberapa pendapat para ahli. wawancara guru pendidikan jasmani dan penyebaran angket untuk siswa. Kedua jenis service tersebut bisa digunakan pemain dalam melakukan service. Dalam permainan bolavoli. e) ayunan lengan. METODE Dalam pengembangan ini. dan bolavoli). Nomor 1. dapat disimpulkan bahwa yang harus diperhatikan dalam melakukan service bawah bolavoli adalah: a) posisi kaki. outside spin. dan hasil akhir produk pengembangan dari hasil revisi produk akhir. terdapat beberapa jenis teknik dasar. 2007:20). service tidak hanya dilakukan dengan satu jenis saja. dan floating” (Sugiyono. Service bawah yaitu service yang dilakukan dari bawah dengan menggunakan lengan. b) service yang dilakukan dari bawah.84 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. Selain itu. ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan service bawah agar service bawah yang dilakukan benar. Mei 2014. Selain cara melakukan service bawah. melainkan ada beberapa cara dalam melakukan service. b) posisi lengan. dan f) perkenaan bola. Pembelajaran tersebut terdiri dari enam model pembelajaran. revisi produk berdasarkan kegiatan uji kelompok besar. dan model service gawang. Volume 1. melampaui net. peneliti mengacu model pengembangan (research and development) dari Borg dan Gall (1983:775) yang telah dimodifikasi oleh peneliti yakni: 1) melakukan analisis produk yang akan dikembangkan di antaranya. dapat disimpulkan bahwa permainan merupakan salah satu alat untuk mencapai keinginan dan kesenangan seseorang serta untuk menyalurkan potensi untuk memenuhi kebugaran jasmani. d) lambungan bola. diantaranya yaitu “top spin. Dari berbagai pendapar para ahli. permainan. inside spin. model service bawah berpasangan. yang dilakukan pada awal setiap set serta setiap kali setelah lawan melakukan kesalahan”. Tetapi untuk pemula. antara lain yaitu model timang bola service bawah. (1982:43) mengemukakan bahwa “permainan diawali dengan pukulan service. Menurut Roesdiyanto (1989: 27). Berdasarkan pendapat dari paha ahli. back spin. permainan juga membantu seseorang untuk menghilangkan kejenuhan. Permainan sangat berperan pada perkembangan gerak motorik manusia. tetapi menghasilkan kemenangan yang besar”. bahwa “service dalam bolavoli dapat dibedakan menjadi dua hal yaitu: a) service yang dilakukan dari atas. dapat disimpulkan bahwa service adalah pukulan yang dilakukan pada awal permainan yang bertujuan sebagai awal dari serangan. dan dapat mematikan lawan. 2) mengembangkan produk awal. 5) revisi produk meliputi revisi produk berdasarkan kegiatan uji coba kelompok kecil. model adu service. Revisi produk awal berdasarkan evaluasi ahli.

Teknik analisis kualitatif bersifat induktif yaitu suatu analisis yang diperoleh berdasarkan hasil data. Gambar pembelajaran 1-4 lebih diperjelas. & Sulistyorini. 3 siswa menjawab passing atas.3% siswa senang dalam pembelajaran service bawah bolavoli.. Winarno. Berdasarkan hasil analisis data.E. 85% siswa ingin pembelajaran dari guru pendidikan jasmani ditingkatkan. Uji Coba Lapangan Kegiatan uji lapangan dilakukan sebanyak dua kali yaitu uji coba kelompok kecil dan uji coba kelompok besar. Uji coba kelompok besar dilakukan oleh 30 subjek penelitian. Buku ini dicetak dikertas A5 seberat 80gr dan cover kertas glossy berwarna biru muda dengan total halaman 73 lembar. dan 75% siswa setuju dikembangkannya pembelajaran service bawah bolavoli. HASIL Berdasarkan tujuan penelitian dan pengembangan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini adalah teknik analisis kualitatifdan kuantitatif. Pengembangan Pembelajaran Teknik Dasar Service Jenis data yang digunakan dalam pengembangan pembelajaran ini adalah data kualitatif dan kuantitatif.Data kualitatif diperoleh dari hasil wawancara guru pendidikan jasmani dan hasil evaluasi para ahli yang berupa saran serta masukan. siswa mengSutarakan bahwa 54. selain itu untuk angket dengan pilihan jawaban centang diperoleh hasil 1 siswa menjawab passing bawah. dapat diketahui bahwa dari keseluruhan hasil evaluasi oleh dua subjek yaitu memperoleh hasil “baik”sehingga pengembangan pembelajaran teknik dasar service bawah bolavoli dapat digunakan untuk siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Malang. Hasil analisis data ini akan menjadi dasar dalam penyempurnaan penelitian pengembangan ini.2% materi service bawah bolavoli disajikan dalam bentuk permainan. Pengembangan Produk Pengembangan produk dilakukan dengan evaluasi dari ahli. Hasil analisis data uji coba kelompok kecil diperoleh 85. selain itu. dan uji lapangan kelompok besar. Sedangkan data kuantitatif diperoleh dari data angket analisis kebutuhan untuk siswa. guru pendidikan jasmani setuju apabila dikembangkan pembelajaran service bawah bolavoli yang bervariasi dan menyenangkan. Uji coba kelompok besar tersebut dilakukan oleh 30 subjek. Uji coba kelompok kecil dilakukan oleh 12 subjek penelitian. Evaluasi ahli terhadap produk ini terdiri atas dua subjek yaitu ahli isi 1 dan 2. Hasil dari perubahan produk tersebut berupa buku panduan pembelajaran teknik dasar service bawah bolavoli.28% dengan keterangan “baik sekali” sehingga dapat dilanjutkan ke uji coba kelompok besar.25% dengan keterangan “baik sekali” sehingga pengembangan pembelajaran teknik dasar service bawah bolavoli dapat digunakan untuk siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Malang. Berdasarkan data hasil analisis dari penyebaran angket untuk siswa diketahui bahwa 68. 2) pengembangan produk. Sedangkan teknik analisis kuantitatif bersifat deskriptif berupa persentase. uji coba awal kelompok kecil. layout gambar yang berada di sebelah kiri di pindah di sebelah kanan agar tidak mengganggu pembaca dan tulisan jelas. Hasil analisis data uji coba kelompok kecil diperoleh 86. Hasil Revisi Produk Berdasarkan evaluasi ahli dan uji coba lapangan.Novi Dian A. M. Analisis Kebutuhan (Wawancara dan Angket) Berdasarkan hasil wawancara terhadap guru penjasorkes dapat disimpulkan bahwa materi service bawah bolavoli merupakan materi yang sulit dikuasai oleh siswa dan minat siswa cenderung kurang dalam pembelajaran service bawah bolavoli. maka terjadi perubahan pada produk pengembangan. 26 siswa menjawab service bawah. 85 dan 0 siswa menjawab semua jawaban benar. Di dalam buku panduan tersebut terdapat gambar-gambar yang menarik dari variasi pembelajaran tersebut. pembelajaran menimang bola dengan telapak tangan dihilangkan. hasil penelitian ini terdiri dari tiga aspek yaitu: 1) analisis kebutuhan. Secara garis besar perubahan pada produk pengembangan berdasarkan evaluasi ahli yaitu Gambar diperjelas dan diganti menjadi gambar siswa yang sedang melakukan teknik dasar service bawah bolavoli. 3) uji coba kelompok. Pada .

pembelajaran service segi empat. gambar yang disajikan menarik. Pengembangan produk di evaluasi oleh dua ahli. Kelebihan lain produk yang dikembangkan yaitu produk berupa buku panduan yang dicetak dengan ukuran kertas A5. produk di evaluasi oleh ahli yang berguna untuk penyempurnaan produk dan produk harus disosialisasikan kepada guru pendidikan jasmani agar guru pendidikan jasmani dapat menerapkan pembelajaran yang telah dikembangkan kepada siswa. Berdasarkan pengembangan produk yang dikembangkan melalui uji ahli dan uji lapangan maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa keseluruhan pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran dan dapat digunakan untuk siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Malang. Dari kedua ahli tersebut memperoleh hasil “baik” sehingga pengembangan pembelajaran teknik dasar service bawah bolavoli dapat di uji cobakan. maka peneliti memberikan beberapa saran yaitu: 1) saran pemanfaatan yakni perlu dipertimbangkan situasi dan kondisi sarana dan prasarana yang ada. sebelum disebarluaskan sebaiknya produk ini dievaluasi kembali dan diuji . sarana dan prasarana yang digunakan. keterangan gambar. Produk yang telah dikembangkan bisa digunakan untuk guru maupun siswa berdasarkan uji produk terhadap evaluasi ahli. pembelajaran adu service. PEMBAHASAN KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan penelitian awal (analisis kebutuhan berupa wawancara guru pendidikan jasmani dan angket siswa diperoleh bahwa dibutuhkan pengembangan pembelajaran teknik dasar service bawah bolavoli dapat digunakan untuk siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Malang. 2) Saran diseminasi yakni sebelum buku ini disebarluaskan. serta desain buku dengan warna dan gambar layout yang menarik pula sehingga lebih mudah untuk dimengerti dan lebih menarik untuk dipelajari. Mei 2014. Hasil uji coba lapangan diperoleh hasil “baik sekali” sehingga pengembangan pembelajaran teknik dasar service bawah bolavoli dapat digunakan untuk siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Malang. Keenam pembelajaran tersebut mudah dan aman Kesimpulan Berdasarkan pada pengembangan yang telah dilakukan. Produk pengembangan yang dihasilkan mempunyai beberapa kelebihan. ditemukan bahwa pembelajaran service bawah bolavoli dibutuhkan oleh guru dan siswa. Nomor 1. Setelah itu peneliti mengembangkan produk tersebut. kalimat pada langkah kegiatan terlalu singkat. Volume 1. serta langkah kegiatan. tambahkan lampiran yang berisi instrumen keterampilan service bawah bolavoli. 3) Saran pengembangan lebih lanjut yakni untuk subjek penelitian dilakukan pada subyek yang lebih luas lagi sebagai uji coba kelompok. Spesifikasi produk yang telah dikembangkan yaitu pembelajaranterdiri dari enam pembelajaran. Uji coba lapangan dilakukan dengan dua tahap yaitu uji coba kelompok kecil dan uji coba kelompok besar. buku dilengkapi dengan uraian tujuan. antara lain yaitu pembelajaran timang bola service bawah.87 pembelajaran 1 tambahkan frekuensi melakukan timang bola selain itu nilai afektif siswa akan muncul jika ada interaksi dengan siswa yang lain. bagi siswa buku pembelajaran service bawah bolavoli ini sebaiknya dibaca dan dipelajari terlebih dahulu sebelum pembelajaran dimulai. Selain itu.lebih diperjelas berapa lama pertambahan waktu yang dilakukan. dan ditambahkan form penilaian proses. pembelajaran service segitiga. cek tujuan pembelajaran berapa lama atau berapa kali pertemuan untuk terampil. kegiatan penelitian bisa dilakukan di sekolah-sekolah lain yang memiliki kesamaan dengan subyek penelitian. bagi guru penjasorkes seharusnya memberikan materi secara bertahap dan dengan pembelajaran yang menarik. terdapat langkah-langkah serta gambar yang menunjang sehingga pembelajaran semakin mudah dipahami.86 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. jelaskan secara rinci di setiap poinnya. pada pembelajaran 1-4. dan pembelajaran service gawang. dan dalam menyebarluaskan pengembangan produk. pembelajaran service bawah berpasangan. dilakukan untuk siswa SMP. pada pembelajaran 6. 81 . Saran Berdasarkan kesimpulan di atas.

Dimensi Teknologi Pembelajaran Pendidikan Jasmani dan Olahraga. . M. New York:Longman. DAFTAR RUJUKAN BSNP. 2001. Borg. 2006. Educational Research An Introduction. Gramedia. 1982. Psikologi Perkembangan. C. Standar Isi Sekolah Menengah Atas/ Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta: Depdikbud. Winarno.R.D.Novi Dian A.E. & Gall. Sujanto. Bola Volley Belajar dan Berlatih Sambil Bermain. A. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Winarno. Malang: Laboratorium Jurusan Ilmu Keolahragaan. Terjemahan Agus Setiadi.. 1983. W. 1982. 2006. Durrwachter. & Sulistyorini. Olahraga Pendidikan di Sekolah Dasar Jilid Pertama.E. Dimensi Pembelajaran Pendidikan Jasmani dan Olahraga. Aksara Baru: Jakarta. Malang: Wineka Media.D. G. Pengembangan Pembelajaran Teknik Dasar Service keefektivitasnya agar produk lebih sempurna dan bermanfaat untuk masyarakat luas. 1976. Sarifudin. London: Mosby Company. 2010. Rancangan Pembelajaran: Teori dan Praktek. Malang: Elang Emas. M. Setyosari. 87 Dwiyogo. P. Jakarta: PT. A. 1983. Foundations of Fhysical Education and Sport.A. Bucher. M. 1967. W.

agar tidak menimbulkan hal-hal yang membahayakan mahasiswa. 93 (31%) masuk kategori sedang.PROFIL TINGKAT KESEGARAN JASMANI MAHASISWA PJKR JALUR UNDANGAN TAHUN 2012/2013 Mohamad Annas. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan menggunakan tes Tes Kesegaran Jasmani Indonesia (TKJI). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tingkat kebugaran mahasiswa PJKR jalur undangan SNMPTN tahun 2012/2013 termasuk dalam kategori sedang.com Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui bagaimana profil tingkat kesegaran jasmani mahasiswa Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi (PJKR) Jalur Undangan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) angkatan 2012/2013. Berdasarkan simpulan hasil penelitian di atas. mahasiswa. dan menggunakan metode pendekatan yang tepat. Jalur undangan merupakan termasuk saah satu pola seleksi mahasiswa baru yang dilakukan Universitas Negeri Semarang (Unnes). pola penerimaan mahasiswa baru program sarjana pada perguruan tinggi melalui pola seleksi secara nasional dilakukan oleh seluruh perguruan tinggi secara bersama untuk diikuti oleh calon mahasiswa dari seluruh Indonesia. Ketetapan pemerintah ini memberikan perhatian khusus tersendiri bagi salah satu program studi yang ada di Unnes. kesegaran jasmani. dan 21 (7%) mahasiswa masuk kategori baik sekali. Unnes mengikuti kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah. SNMPTN tahun 2012 dilaksanakan melalui: 1) jalur undangan berdasarkan penjaringan prestasi akademik. para Rektor Perguruan Tinggi Negeri di bawah koordinasi Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional menyelenggarakan seleksi calon mahasiswa baru secara nasional dalam bentuk Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Populasinya adalah seluruh mahasiswa baru jalur undangan SNMPTN tahun 2012/2013. dan 2) jalur ujian tertulis dan/atau keterampilan. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling dengan jumlah 297 mahasiswa. maka disarankan kepada lembaga Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) dalam menyeleksi penerimaan mahasiswa baru hendaknya tetap menggunakan TKJI dan kepada prodi PJKR hendaknya melakukan pembelajaran khususnya matakuliah praktik memperhatikan kondisi mahasiswa. yaitu Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi (PJKR). Jurusan Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi. Berdasarkan pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 66 tahun 2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 17 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 34 Tahun 2010 tentang Pola Penerimaan Mahasiswa Baru Program Sarjana pada Perguruan Tinggi yang diselenggarakan oleh Pemerintah. Berdasarkan hasil rapat Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia di Jakarta pada tanggal 4 November 2010. SNMPTN tahun 2012 merupakan satusatunya pola seleksi yang dilaksanakan secara bersama oleh seluruh Perguruan Tinggi Negeri dalam satu sistem yang terpadu dan diselenggaraan secara serentak. 78 (26%) mahasiswa masuk kategori kurang. 69 (23%) mahasiswa masuk kategori baik. Program studi PJKR pada FIK Unnes mendapat izin penyelenggaraan melalui Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Re- 1 . Kata kunci: profil. Teknik analisis datanya menggunakan teknik deskriptif persentase. Universitas Negeri Semarang. Berdasarkan hasil penelitian terhadap 297 mahasiswa yang melakukan tes TKJI ada 36 (12%) mahasiswa masuk dalam kategori kurang sekali. Email: syakhustiani@gmail. Fakultas Ilmu Keolahragaan. Sebagai universitas negeri.

maka perkuliahan praktik yang mereka ikuti akan menjadi beban yang berat yang harus mereka tanggung. olahraga dan kesehatan di sekolah. 001/BANPT/Ak-I/VIII/98 tanggal 1 Juni 1998. dan masih memiliki energi cadangan untuk melakukan sesuatu dalam keadaan darurat (Direktorat Olahraga Pelajar dan Mahasiswa. Salah satu sasaran dan strategi pencapaian Program studi PJKR adalah menghasilkan lulusan dengan kemampuan sebagai pendidik yang berpengetahuan luas dalam bidang pendidikan jasmani dan olahraga dan mampu menjalankan tugas dan kewajibannya secara profesional serta menyebarluaskan pengetahuannya pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan. penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. berilmu. perlu adanya kesesuaian antara syarat yang harus dipenuhi yaitu yang bersifat anatomis dan fisiologis terhadap semacam intensitas tugas fisik yang harus dilaksanakan. Kesegaran/kebugaran jasmani (physical fitness) atau sering hanya disebut kebugaran. Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 pasal 4 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya pontensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi memperoleh peringkat akreditasi B. serta terampil menerapkan dalam pengabdian kepada ma-syarakat. dalam Pasal 1 ayat 11 Undang-undang RI Nomor 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional. Selain itu. keterampilan.2 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. Oleh karena itu. cakap. dengan No. agar dalam proses pembelajaran yang berlangsung terutama yang praktik dapat mereka lalui dengan sebagaimana mestinya. Olahraga dan Kesehatan yang dilaksanakan sebagai bagian dari proses pendidikan yang teratur dan berkelanjutan untuk memperoleh pengetahuan. dijelaskan bahwa Pendidikan Jasmani.PT/Ak/VIII /S1/VI/2004 tanggal 18 Juni 2004 dan berlaku sampai dengan 18 Juni 2009. Pada tahun 2004 Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi diakreditasi kembali oleh Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia melalui Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. 1 . seorang mahasiswa PJKR perlu mempunyai kebugaran minimal dengan katergori baik. kesehatan dan rekreasi melalui penyelenggaraan pengajaran. kepribadian. sedang menurut Sukardi (2004:53) populasi pada prinsipnya adalah semua ang-gota kelompok manusia. Untuk keberhasilan pelaksanaan tugas. Misalnya dalam pembelajaran pendidikan jasmani. mengacu kepada kemampuan seseorang untuk melaksanakan aktivitas hariannya tanpa kelelahan yang berarti. 024/BAN. sehat. kesehatan. diperlukan pembinaan dan pemeliharaan kebugaran jasmani. serta mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi pendidikan jasmani. Nomor 1. METODE Populasi menurut Arikunto (2002:108) adalah keseluruhan subjek pe-nelitian. tanggal 11 Juli 1996. Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi memperoleh peringkat akreditasi A (skor 368).7 publik Indonesia Nomor: 244/DIKTI/Kep/1996. Sebelum menjadi seorang pendidik. Pada tahun 1998 Program Studi Pendidikan Jas-mani Kesehatan dan Rekreasi diakreditasi oleh Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia melalui Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. akan tetapi apabila tingkat kesegaran jasmaninya tidak memadahi. kreatif. dan memiliki kemampuan untuk melakukan penelitian dalam bidang pendidikan jasmani dan olahraga. binatang. Volume 1. Program studi PJKR FIK Unnes dikembangkan sejalan dengan visi melaksanakan pendidikan akademik dan pendidikan profesi di bidang pendidikan jasmani dalam berbagai jenjang dan jenis pendidikan. Lulusan Program studi PJKR FIK Unnes diharapkan menguasai ilmu pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga di semua jenjang pendidikan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa PJKR semester 1 yang me- . Mei 2014. berakhlak mulia. 2004). mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dirjen Olahraga Depdiknas. peristiwa atau benda yang tinggal bersama dalam satu tempat dan secara terencana menjadi target kesimpulan dari hasil akhir suatu penelitian. dengan No. dan kebugaran jasmani.

28 Tabel 2.20 0-9 Sumber: TKJI.13” . dan 5) Tes lari 1200 meter untuk putra dan 1000 meter untuk putri.6. Sampel menurut Arikunto (2000:109) adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.5 .15” .5” . 28.4.34” .29 10 . 2) Tes gantung angkat tubuh untuk putra dan gantung siku tekuk untuk putri. Nilai 5 4 3 2 1 Kategori Baik Sekali Baik Sedang Kurang Kurang Sekali . 73 ke atas 60 . . 1987:224).4” 8.7.72 50 – 59 39 .25 ” 5. Profil Tingkat Kesegaran Jasmani Mahasiswa PJKR Jalur Undangan rupakan hasil penerimaan dari sistem SNMPTN jalur undangan tahun 2012.15” .20 0-9 Loncat Tegak 73 ke atas 60 .d. 2006:10).7” .13.14’ 3. Nilai Tes Kesegaran Jasmani Remaja Usia 16-19 Tahun (Putri) No.dst.dst. Tabel 1.2” 7. Instrumen yang digunakan dalam penelitian kebugaran mahasiswa menggunakan tes dan pengukuran yaitu: Tes Kesegaran Jasmani Indonesia (TKJI 2003:3-30).d .34”. Lebih lanjut Sudjana (2005:6) mengartikan bahwa sampel adalah sebagian yang diambil dari populasi.dst.33” 6. Departemen Pendidikan Nasional. Hal. Nilai 5 4 3 2 1 Kategori Baik Sekali Baik Sedang Kurang Kurang Sekali Sumber: TKJI.d .40 21 .13”.11.4” .13 5-8 3-4 41 ke atas 30 . 2003. Departemen Pendidikan Nasional.Mohamad Annas. Pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan pada bulan September tahun 2012 dengan lokasi atau tempat penelitian di Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang.18 9 .dst Gantung AngkatTubuh 19 ke atas 14 -18 9 -13 5-8 3-4 Baring Duduk 60 detik 41 ke atas 30 .3.8.4. Untuk analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan deskriptif persentase dengan menggunakan hasil kriteria penentuan profil tingkat kesegaran jasmani mahasiswa PJKR jalur undangan SNMPTN sebagaimana termuat dalam Tabel 1.4.9. 4) Loncat tegak. Lari 1000 m s.29 10 .8.6” 9. Hal.4” 13. Objek tersebut disebut gejala. 2003. Variabel adalah hal-hal yang menjadi objek penelitian yang ditatap dalam suatu kegiatan penelitian (points to be notised) (Arikunto. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa PJKR semester 1 yang merupakan hasil penerimaan dari sistem SNMPTN jalur undangan sejumlah 297 mahasiswa. .59 39 . terdiri dari beberapa item tes dan pengukuran yang meliputi: 1) Tes lari cepat (sprint/dash) 60 meter. 1 2 3 4 5 Lari 60 m s.9. 1 2 3 4 5 Lari 60 m s.8” 9. Teknik pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan tes TKJI. sedang gejala-gejala yang menunjukkan variasi baik dalam jenis maupun tingkatnya disebut variabel (Hadi. Nilai Tes Kesegaran Jasmani Remaja Usia 16-19 Tahun (Putra) No.5” .40 21 .72 50 .dst.15” .33” 6.4. Dalam 3 penelitian ini variabel yang diteliti adalah Tingkat kebugaran jasmani mahasiswa PJKR semester 1 tahun 2012.3” . 3) Tes baring duduk 60 detik.25” 3.25 ” 5.3.0” 11.3” 8.9”.49 38 .6.25” 3. Menurut Sukardi (2004:54) sampel adalah sebagian jumlah populasi yang dipilih untuk sumber data.4” 11. Lari 1200 m s.15” .1 .d.dst Gantung Tekuk Siku Baring Duduk Loncat 60 detik Tegak 19 ke atas 14 .11.14’ 3.49 38 .

Grafik 1. 1 . Mei 2014.7 HASIL Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan tentang profil kesegaran jasmani mahasiswa PJKR jalur undangan SNMPTN tahun 2012/2013 dengan menggunakan petunjuk pelaksanaan dan berdasarkan tabel norma profil kesegaran jasmani.4 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. kategori kurang 36 mahasiswa. dari 297 mahasiswa yang masuk kategori kurang sekali ada 34 mahasiswa. dan 21 (7%) mahasiswa masuk kategori baik sekali. diperoleh data atas 297 mahasiswa yang melakukan tes TKJI ada 36 (12%) Grafik 4. 78 (26%) mahasiswa masuk kategori kurang. maka penelitian ini juga telah dilakukan dengan mengikuti aturan yang telah ditetapkan. Adapun urutan item tes tersebut adalah: 1) Lari 60 m. Ketetapan aturan urutan pelaksanaan tes pengukuran profil kesegaran jasmani tersebut berupa urutan item tes yang diujikan yang merupakan suatu rangkaian tes yang dilaksanakan secara berurutan. kategori sedang 160 mahasiswa. Baring Duduk . Volume 1. Hasil TKJI Mahasiswa Jalur Undangan SNMPTN Berdasarkan Tabel 3 dan Grafik 1. Grafik 2. kategori kurang 46 mahasiswa. Dari hasil di atas akan dijabarkan setiap item tes TKJI. 93 (31%) mahasiswa masuk kategori sedang. Nomor 1. dari 297 mahasiswa diperoleh hasil bahwa kategori kurang sekali ada 3 mahasiswa. 3) Baring duduk 60 detik. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa untuk setiap item tingkat kesegaran jasmani yang diteskan pada mahasiswa PJKR jalur undangan SNMPTN tahun 2012/2013 dapat dilihat pada Tabel 3. 4) Loncat Tegak. dan kategori baik sekali 3 mahasiswa. Gantung (Siku Tekuk/ Angkat Tubuh) 5 Baik Sekali 21 7% Jumlah 297 100% Berdasarkan hasil gantung (siku tekuk/ angkat tubuh) sesuai dengan Grafik 3. mahasiswa masuk dalam kategori kurang sekali. kategori baik 90. dan kategori baik sekali 34 mahasiswa. Kemudian dalam menganalisa data dan hasil pengumpulan data diolah dengan menggunakan analisis deskriptif persentase. Tabel 3. Hasil Lari 60 meter Berdasarkan hasil lari 60 meter sesuai dengan Grafik 2. 4) Lari 1200 m/1000 m. 2) Gantung (angkat tubuh/ siku tekuk). 69 (23%) mahasiswa masuk kategori baik. kategori baik 85. Rekapitulasi Hasil TKJI Mahasiswa Jalur Undangan SNMPTN No 1 Kategori Kurang Sekali Jumlah Persentase 36 12% 2 Kurang 78 26% 3 Sedang 93 31% 4 Baik 69 23% Grafik 3. kategori sedang 103 mahasiswa.

dari 297 mahasiswa. Di samping dari sepuluh komponen tersebut masih terdapat faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kondisi fisik yaitu faktor latihan. daya tahan. yang masuk kategori kurang sekali 88 mahasiswa. karena banyak matakuliah praktik yang membutuhkan tingkat kebugaran yang sangat baik. 2) Gantung angkat tubuh. kategori sedang 57 mahasiswa. dan kategori baik 10 mahasiswa. kategori baik 147. dan juga faktor makanan dan gizi. perlu adanya kesesuaian antara syarat yang harus dipenuhi yaitu yang bersifat anatomis dan fisiologis terhadap semacam intensitas tugas fisik yang harus dilaksanakan. Kebugaran jasmani merupakan satu kesatuan yang utuh dari beberapa komponen-komponen yang tidak dapat dipisahkan begitu saja. kategori kurang 186 mahasiswa. bahkan jatuh sakit ketika mereka dalam sehari harus mendapatkan 2 sampai 3 kali matakuliah praktik tanpa diimbangi dengan tingkat kebugaran yang baik. kategori sedang 98 mahasiswa. Loncat Tegak Hasil loncat tegak sesuai dengan Grafik 5. Grafik 6. 3) Baring duduk 60 detik. dan kategori baik sekali 75 mahasiswa. Profil Tingkat Kesegaran Jasmani Mahasiswa PJKR Jalur Undangan Hasil baring duduk sesuai dengan Grafik 4. Dari lima item tes tingkat kebugaran jasmani yang dilakukan terhadap mahasiswa baru jalur undangan 5 SNMPTN PJKR FIK Unnes yang terdiri dari: 1) Lari 60 meter. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari lima jenis tes yang dilakukan rata-rata mahasiswa jalur undangan tahun 2012 memiliki kondisi yang sedang. Dengan demikian kebugaran yang harusnya dimiliki seorang mahasiswa baru adalah dengan kategori baik. bahkan kalau mungkin baik sekali. daya lentur. Menurut Giriwijoyo (2005:17) bahwa kebugaran jasmani adalah derajat sehat dinamis seseorang yang merupakan kemampuan jasmani yang menjadi dasar untuk keberhasilan pelaksanaan tugas yang harus dilaksanakan. ketepatan dan reaksi. Oleh karena itu. kategori kurang 101 mahasiswa. faktor kebiasaan hidup sehat. . kecepatan. kategori sedang 46 mahasiswa. diperlukan pembinaan dan pemeliharaan kebugaran jasmani seseorang. keseimbangan. koordinasi. dari 297 mahasiswa yang masuk kategori kurang sekali ada 8 mahasiswa. prinsipprinsip beban lebih. faktor istirahat. Jika tidak. 4) Loncat tegak. Lari 1000 meter/1200 meter Hasil lari 1000 meter/1200 meter sesuai dengan Grafik 6. kategori kurang 21 mahasiswa. dari 297 mahasiswa yang masuk kategori kurang sekali ada 52 mahasiswa. Hanya ada satu jenis tes yang rata-ratanya termasuk dalam kebugaran jasmani yang baik yaitu pada test baring duduk 60 detik. maka banyak mahasiswa yang akan masalah dalam kuliah. baik peningkatan maupun pemeliharaannya. faktor lingkungan. Pendapat ini dikemukakan oleh Sajoto (1988:58-59) bahwa ada sepuluh komponen yang mempengaruhi kebugaran jasmani yaitu kekuatan. Untuk keberhasilan pelaksanaan tugas.Mohamad Annas. kelincahan. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian dan analisis deskriptif persentase di atas dapat diketahui bahwa keadaan kebugaran jasmani mahasiswa baru jalur undnagan SNMPTN PJKR FIK Unnes termasuk dalam klasifikasi sedang. Grafik 5. 5) Lari 1200 meter/1000 meter. daya ledak. dan kategori baik 2 mahasiswa. Sedangkan pada lari 1200/1000 termasuk kategori kurang.

maka dapat diajukan saran sebagai berikut: (1) Disarankan kepada lembaga dalam me-nyeleksi penerimaan mahasiswa baru hendaknya tetap menggunakan tes keterampilan (TKJI). Pembinaan Kondisi Fisik dalam Olahraga. Depdiknas.S. N. maka perlu adanya pendekatan-pendekatan pembelajaran yang akan diterapkan oleh dosen pengampu matakuliah khususnya matakuliah praktik. Jakarta: P2LPTK. Di samping itu penyelenggaraan pola makan yang memenuhi persyaratan empat sehat lima sempurna merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kondisi tubuh yang baik sangat diperlukan oleh tubuh. 2002. karena hal ini masingmasing masih dipengaruhi tingkat kehidupan ekonomi masing-masing mahasiswa tersebut. Raja Grafindo Persada. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 3 tahun 2005 tentang Sistem Ke- . Pengantar Statistik Pendidikan.7 Faktor latihan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kebugaran jasmani seseorang. Karena dengan menu empat sehat lima sempurna tersebut kebutuhan gizi tubuh akan dapat terpenuhi. pergantian sel tubuh yang rusak dan untuk mempertahankan kondisi tubuh. Metodologi Penelitian Pendidikan: Kompetensi dan Praktiknya. Sukardi. Manusia dan olahraga. Jadi dengan kondisi seperti ini masih sangat berpengaruh pada kebugaran jasmani Mahasiswa baru jalur undangan SNMPTN PJKR FIK Unnes. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: “Tingkat kebugaran mahasiswa pendidikan jasmani kesehatan dan rekreasi (PJKR) jalur SNMPTN (jalur undangan) Tahun 2012/2013 termasuk dalam kategori sedang”. Y. Saran Berdasarkan simpulan hasil penelitian.6 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. dan menggunakan metode pendekatan yang tepat. Jakarta. 2005.. tetapi untuk tahun-tahun berikutnya perlu dipertimbangkan sekali khususnya PJKR FIK Unnes dalam menerima mahasiswa baru harus menggunakan tes keterampilan khusus sesuai dengan kebutuhan. Selain faktor latihan yang rutin dan terjadwal dengan baik. 1987. Direktorat Olahraga Pelajar dan Mahasiswa Ditjen Olahraga. Jadi dalam pembinaan kebugaran jasmani. Namun pada kenyataannya pemenuhan kebutuhan makanan dan gizi tidak semua mahasiswa dapat memenuhinya dengan sempurna atau lengkap dengan standar 4 sehat 5 sempurna.S. Jakarta: PT. dan (2) Kepada prodi PJKR hendaknya melakukan pembelajaran khususnya matakuliah praktik memperhatikan kondisi mahasiswa. Sudjana. Volume 1. Nomor 1. 2004. S. Mei 2014. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. 2005. Dengan latihan yang teratur akan dapat meningkatkan daya tahan kardiovaskuler dan dapat juga mengurangi lemak yang berada dalam tubuh. tidak mudah lelah. tubuh haruslah cukup makan makanan yang bergizi dan mengandung unsur-unsur yang diperlukan oleh tubuh. Standarisasi dan Profil Kebugaran Jasmani Atlet Pelajar. 1 . Jakarta: Bumi Aksara. Giriwijoyo. yang berarti seluruh organ yang dilatih secara teratur dapat beradaptasi terhadap pembebanan yang diberikan dalam kuliah. Jakarta: Rieneka Cipta. mudah mengantuk. Bandung: Penerbit ITB. Dengan kenyataan yang sudah dihadapi bahwa mahasiswa baru memiliki tingkat kebugaran yang kurang baik. dengan menggunakan metode pembelajaran yang tepat sehinga akan membatu mahasiswa dalam meningkatkan kebugaranya secara bertahap. DAFTAR PUSTAKA Arikunto. atau mudah terserang penyakit. pola makan mahasiwa juga dapat berpengaruh terhadap tingkat kebugaran jasmani. 1988. agar tidak menimbulkan hal-hal yang membahayakan mahasiswa. Makanan yang bergizi sangat diperlukan bagi tubuh untuk proses pertumbuhan. dkk. Dengan terpenuhinya gizi tubuh makan kondisi tubuh akan selalu sehat. Sajoto. M.

2007. 2007. Yogyakarta: Diperbanyak oleh Tim Cemerlang. Jakarta: Diperbanyak oleh Sinar Grafika. 7 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2007. . Yogyakarta: Diperbanyak oleh Tim Cemerlang. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.Mohamad Annas. Profil Tingkat Kesegaran Jasmani Mahasiswa PJKR Jalur Undangan olahragaan Nasional.

Pembelajaran di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Babadan 2 yaitu guru memberikan contoh.com Abstrak: Teknik dasar yang diajarkan pertama kali adalah passing bawah dan service bawah. Pendidikan jasmani terdiri dari beberapa cabang olahraga yang diajarkan pada siswa. Begitu juga dengan keterampilan bolavoli mini harus dilatihkan sejak dini. telah dimodifikasi menjadi permainan bolavoli mini. kemudahan. passing maupun smash merupakan modal yang utama untuk dapat menguasai permainan bolavoli. untuk itu perlu ditemukan alternatif pemecahan masalah untuk mengatasi siswa yang kurang benar dalam melakukan permainan bolavoli mini. pembelajaran. sudah sesuai dengan pembelajaran pendidikan jas-mani di SD. Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang Email: tegar_bayu@yahoo. 6) uji coba tahap I. Permainan bolavoli mini adalah permainan yang dimainkan oleh 4 orang dalam setiap regu. Begitu pula permainan bolavoli mini yang dilakukan di SD harus dikuasai secara baik oleh siswa-siswa. 5) revisi desain. Siswa mempraktikkannya. bolavoli mini. 1992). keme-narikan. Berdasarkan pernyataan tersebut sangat jelas bahwa keterampilan bermain bolavoli harus dilatihkan sejak dini. produk ini memiliki kelebihan ditinjau dari empat aspek yaitu: kegunaan. Baik service. sedangkan passing dilakukan untuk dapat memainkan bola di udara dalam jangka waktu yang lama dalam permainan bolavoli. Untuk menghasilkan seorang yang pemain profesional sedini mungkin. Permainan bolavoli mini akan dikuasai dengan baik oleh siswa apabila siswa mendapatkan pembelajaran yang baik dari guru. 8) uji coba tahap II. Kata kunci: pengembangan. Tujuan pengembangan produk ini adalah menghasil-kan buku pembelajaran bolavoli mini di kelas V SDN Babadan 2 Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar sebagai buku pegangan guru Pendidikan Jasmani dalam memberikan pembelajaran bolavoli mini. teknik latihan-latihan dasar harus diberikan sejak anak usia dini (Roesdiyanto. Metode penelitian yang digunakan adalah model pengembangan Borg dan Gall yang telah diadaptasi: 1) menentukan potensi dan masalah penelitian. 2) mengumpulkan informasi. Salah satu jenis service adalah service atas dan service bawah. sekolah dasar. 3) mendesain produk. Service dilakukan untuk mengawali permainan bolavoli mini. passing. dan keakuratan. sehingga siswa kurang dapat memahami pembelajaran permainan bolavoli mini yang sesungguhnya. Permainan bolavoli yang dilakukan di SD. Untuk pembelajaran olahraga yang lain. 4) validasi desain. Pembelajaran bolavoli mini yang dilakukan di SD masih sama dengan pembelajaran bolavoli pada umumnya. Sugiyono (1997) mengungkapkan permainan bolavoli merupakan cabang olahraga beregu yang dimainkan oleh 6 orang dalam setiap regu. 9) produk akhir. Smash dilakukan untuk memperoleh poin dan ditujukan agar lawan tidak bisa mengembalikan bola.PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PERMAINAN BOLAVOLI MINI SISWA KELAS V SDN BABADAN 2 KECAMATAN WLINGI KABUPATEN BLITAR Tegar Bayu Kharisma. permainan ini akan berjalan dengan baik apabila setiap pemain minimal telah menguasai teknik dasar bermain bolavoli. diantaranya adalah permainan bolavoli untuk siswa SD. 7) revisi II. sehingga perlu dikembangkan buku pembelajaran bolavoli mini kelas V Sekolah dasar (SD) sebagai buku pegangan guru. Roesdiyanto (1992) 8 . dan smash. Pembelajaran yang terdapat dalam bolavoli mini adalah pembelajaran service. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa. sedangkan passing dalam permainan bolavoli adalah passing bawah dan passing atas.

ranah afektif (sikap) dan ranah psikomotorik (keterampilan). Konsep permainan bolavoli mini suatu per- . Penelitian Pengembangan Pengembangan atau yang sering disebut sebagai penelitian pengembangan dilakukan dengan maksud menjembatani jurang yang terbentang cukup lebar antara penelitian dan praktik pendidikan. mengembangkan keterampilan motorik. sehingga perlu diperhatikan untuk membentuk karakteristik anak yang lebih baik. 3) pertumbuhan fisik mendorong anak untuk menyenangi permainan yang dapat mengarah ke dunia pekerjaan. terutama kelas lima dan enam sebagai cara mengembangkan dan menghaluskan gerak dasar. Penelitian pengembangan tidak selalu mengembangkan produk baru. Roesdiyanto (1992) mengemukakan bahwa keterampilan melakukan passing dengan baik merupakan modal utama dalam bermain bolavoli. Ranah psikomotorik dalam pendidikan jasmani lebih ditekankan pada penggunaan syaraf-syaraf yang ada dalam tubuh sehingga menghasilkan suatu gerakan yang baik. Pembelajaran dilaku-kan seperti itu tanpa adanya variasi latihan ataupun permainan. Karakteristik anak SD lebih senang bermain dan dalam menerima pembelajaran harus dalam suasana yang menyenangkan agar pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. tentunya akan sangat menunjang aktivitas belajar siswa. dan menggunakan hasil telaah untuk mengembangkan suatu produk. Untuk itu perlu dikembangkan buku pembelajaran bolavoli mini kelas V SD sebagai buku pegangan guru pendidikan jasmani dalam memberikan pembelajaran bolavoli mini. permasalahan yang membutuhkan pemecahan dengan menggunakan suatu produk tertentu. Permainan Bolavoli Mini Menurut Asim (1997) permainan bolavoli mini diciptakan untuk anak-anak SD. Pembelajaran yang selama ini dilakukan di SDN Babadan 2 yaitu guru hanya memberikan contoh. Ada satu ranah lagi yang terdapat dalam tujuan pendidikan jasmani yaitu ranah jasmani yang merupakan tujuan berfungsinya dengan baik sistem tubuh siswa. Tujuan pendidikan jasmani juga mencakup tiga aspek yakni ranah kognitif (pengetahuan). Pengembangan Pembelajaran Permainan Bolavoli Mini menyatakan bahwa service merupakan awalan untuk memulai suatu permainan bolavoli. Karakteristik Anak SD Rosyid (2009) mengungkapkan ada tiga ciri utama yang menonjol pada masa SD yakni: 1) dorongan yang besar untuk berhubungan dengan kelompok sebaya. Pendidikan jasmani diartikan sebagai suatu proses pembelajaran melalui aktivitas jasmani yang didesain secara sistematik untuk meningkatkan kebugaran jasmani. Pendidikan jasmani sangat mempengaruhi siswa karena dengan 9 kondisi fisik siswa yang sehat. bisa dengan menyempurnakan produk yang telah ada dan dapat dipertanggungjawabkan. sehingga siswa memerlukan adanya variasi latihan yang menarik dan yang dapat meningkatkan keterampilan passing bawah dan service bawah dalam pembelajaran bolavoli mini. Penelitian dan pengembangan selalu diawali dengan adanya kebutuhan. kemudian siswa melakukan gerakan bolavoli mini.Tegar Bayu Kharisma. hal ini dibuktikan dengan peraturan yang lebih mudah untuk dipahami dan dimengerti karena permainan ini ditujukan untuk anak usia dini. Sedangkan menurut Puspitasari (2003:85) permainan bolavoli mini merupakan permainan yang dibuat dari modifikasi permainan bolavoli yang sebenarnya dengan menjadikannya lebih mudah memainkan dan lebih menarik untuk dilaksanakannya. Pada masa ini. serta meningkatkan kesegaran jasmani. Degeng (2002) menyimpulkan bahwa arti penelitian pengembangan yaitu penelitian ilmiah yang menelaah suatu teori. 2) dorongan ingin tahu tentang dunia sekitarnya. Dapat disimpulkan bahwa teknik dasar yang harus dikuasai adalah passing bawah dan service bawah untuk dapat melakukan permainan bolavoli mini. sehingga siswa dapat menghadapai tuntutan lingkungan dengan baik. Pendidikan Jasmani Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari keseluruhan proses pendidikan melalui berbagai aktivitas jasmani yang bertujuan untuk mengembangkan individu atau siswa secara fisik. merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan anak. konsep. atau prinsip. Oleh karena itu teknik dasar yang harus diajarkan untuk pertama kali adalah passing bawah dan service bawah. model.

5 meter dan panjang 12 meter. Bolavoli mini dimainkan oleh 4 orang pemain dengan 2 pemain cadangan. Peraturan dari permainan bolavoli mini yaitu panjang lapangan adalah 12 meter. METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan model pengembangan Borg dan Gall yang diadaptasi menjadi model yang sederhana yaitu: 1) menentukan potensi dan masalah penelitian. 2008). lebar lapangan 6 meter. Peraturan dari permainan bolavoli mini yaitu panjang lapangan adalah 12 meter. serta meningkatkan kesegaran jasmani.14 mainan modifikasi bolavoli yang sebenarnya dengan menjadikannya lebih mudah memainkan dengan jalan melakukan perubahan pada peraturan-peraturan yang digunakan sehingga sesuai untuk usia SD (Novembri.8-2 ons lingkaran bola 63-65 centimeter. Roesdiyanto (1992:5) mengungkapkan bahwa ukuran yang digunakan untuk bermain bolavoli mini adalah lebar 4. 8 . Roesdiyanto (1992) mengungkapkan bahwa ukuran yang digunakan untuk bermain bolavoli mini adalah lebar 4. Bola yang digunakan adalah bola nomor 4 dengan berat 180-220 gram. Asim (1997) mengungkapkan peraturan permainan bolavoli mini adalah menggunakan lapangan berukuran 12 kali 6 meter.5 meter dan panjang 12 meter.9 meter. Bola yang digunakan adalah bola nomor 4 dengan berat 180-220 gram. terutama kelas lima dan enam sebagai cara mengembangkan dan menghaluskan gerak dasar. Passing merupakan gerakan yang paling sering digunakan dalam jalannya permainan bolavoli. Menurut Sugiyono (1997) passing bawah akan dilakukan oleh pemain apabila bola yang datang jatuh berada di depan atau berada di samping badan setinggi perut ke bawah.8-2 ons lingkaran bola 63 centimeter sampai 65 centimeter. menggunakan bola rajut dengan berat 1. 3) men- . hal ini dibuktikan dengan peraturan yang lebih mudah untuk dipahami dan dimengerti karena permainan ini ditujukan untuk anak usia dini. Mei 2014. 2008). Bolavoli mini dimainkan oleh 4 orang pemain dengan 2 pemain cadangan. sehingga passing ini harus benar-benar dikuasai oleh setiap pemaian bolavoli. Service adalah tanda saat dimulainya permainan dan juga merupakan serangan awal bagi regu yang melakukan service. Asim (1997) mengungkapkan peraturan permainan bolavoli mini adalah menggunakan lapangan berukuran 12 kali 6 meter.1 meter dan untuk siswa putri adalah 2 meter.10 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. Volume 1. menggunakan bolavoli yang beratnya 200 gram di samping itu juga perlu dimodifikasi bentuk net serta ketinggian disesuaikan dengan ketinggian ratarata anak usia tersebut. Nomor 1.1 meter dan untuk siswa putri adalah 2 meter.9 meter. Pengajaran Gerakan Bolavoli Mini Menurut Asim (1997) permainan bolavoli mini diciptakan untuk anak-anak SD. Konsep permainan bolavoli mini suatu permainan modifikasi bolavoli yang sebenarnya dengan menjadikannya lebih mudah memainkan dengan jalan melakukan perubahan pada peraturan-peraturan yang digunakan sehingga sesuai untuk usia SD (Novembri. 2) mengumpulkan informasi: (a) mengkaji bahan pustaka. Tinggi net yang digunakan untuk siswa putra adalah 2. Pada passing terdapat beberapa sikap yang harus dikuasai dengan tepat agar bola dapat tepat sasaran. Tinggi net yang digunakan untuk siswa putra adalah 2. lebar lapangan 6 meter. tinggi jaring (net) 1. Passing bawah adalah gerakan yang dilakukan pemain untuk mempertahankan bola ke arah yang dikehendaki pada temannya yang akan digunakan sebagai sarana serangan terhadap regu lawan. Sedangkan menurut Puspitasari (2003: 85) permainan bolavoli mini merupakan permainan yang dibuat dari modifikasi permainan bolavoli yang sebenarnya dengan menjadikannya lebih mudah memainkan dan lebih menarik untuk dilaksanakannya. passing dilakukan untuk dapat memainkan bola di udara dalam jangka waktu yang lama dalam permainan bolavoli. menggunakan bolavoli yang beratnya 200 gram di samping itu juga perlu dimodifikasi bentuk net serta ketinggian disesuaikan dengan ketinggian rata-rata anak usia tersebut. (b) analisis kebutuhan. menggunakan bola rajut dengan berat 1. tinggi jaring (net) 1.

mudah dimengerti dan tampilannya menarik diperoleh skor 4 (100%).3 (81. Teknik analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis hasil data yang diperoleh dari subjek data.3 (81. Dari . kebutuhan gerakan passing bawah dan service bawah dalam pembelajaran permainan bolavoli mini diperoleh skor 4 (100%). 9) produk akhir pengembangan. kebutuhan pengembangan perkenaan bola dengan lengan (memantulkan) pada passing bawah diperoleh skor 4 (100%).5 (87.3 (83. kebutuhan pengembangan posisi lutut pada service bawah diperoleh skor 3 (75%). pada bagian pelaksanaan permainan passing bawah diperoleh skor rata-rata 3 (75%) dengan kategori baik. 7) revisi II.3%) dengan kategori sangat baik. 1 ahli pembelajaran di SD.3%) dengan kategori sangat baik.5%) dengan kategori sangat baik. Data hasil uji ahli pembelajaran di SD yakni pada bagian pendahuluan diperoleh skor rata-rata 3.7 (92%) dengan kategori sangat baik. media pembelajaran permainan bolavoli mini berupa buku pembelajaran diperoleh skor 4 (100%). pada bagian penutup diperoleh skor rata-rata 3 (75%) dengan kategori baik. pada bagian prosedur pelaksanaan passing bawah bolavoli mini diperoleh skor rata-rata 3 (75%) dengan kategori baik. kebutuhan pengembangan perkenaan bola dengan le- 11 ngan (memukul) pada service bawah diperoleh skor 4 (100%). HASIL Data hasil analisis kebutuhan yakni kebutuhan pengembangan pembelajaran permainan bolavoli mini di SDN Babadan 2 sebagai buku pegangan diperoleh skor 3 (75%). Dari hasil evaluasi ahli bolavoli mini diperoleh persentase 76. kebutuhan pengembangan ayunan lengan pada passing bawah diperoleh skor 3 (75%). pada bagian variasi latihan 2 service bawah diperoleh skor rata-rata 3.63% dengan kategori baik. pada bagian isi diperoleh skor rata-rata 3. mudah dipelajari. pada bagian variasi latihan 4 service bawah baik diperoleh skor rata-rata 3 (75%) dengan kategori. Pada bagian analisis kebutuhan diperoleh skor rata-rata 3. pada bagian variasi latihan 2 passing bawah diperoleh skor ratarata 3 (75%) dengan kategori baik.3 (81. 5) perbaikan atau revisi desain.3%) dengan kategori sangat baik.Tegar Bayu Kharisma. 4) validasi desain: (a) uji ahli bolavoli mini (b) uji ahli pembelajaran di SD. guru Pendidikan Jasmani dan siswa kelas V SDN Babadan 2 Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar. kebutuhan pengembangan ayunan lengan pada service bawah diperoleh skor 4 (100%). kebutuhan pengembangan sikap badan pada passing bawah diperoleh skor 3 (75%). pada bagian variasi latihan 1 service bawah diperoleh skor rata-rata 3 (75%) dengan kategori baik.3%) dengan kategori sangat baik. pada bagian keseluruhan buku diperoleh skor rata-rata 3. pada bagian pelaksanaan pendinginan diperoleh skor rata-rata 3 (75%) dengan kategori baik. Pengembangan Pembelajaran Permainan Bolavoli Mini desain produk. Pada bagian prosedur pelaksanaan service bawah bolavoli mini diperoleh skor rata-rata 3 (75%) dengan kategori baik. sehingga produk ini dapat digunakan dalam pengembangan permainan bolavoli mini. Pada bagian variasi latihan 1 passing bawah diperoleh skor rata-rata 3. pada bagian variasi latihan 3 service bawah diperoleh skor rata-rata 3 (75%) dengan kategori baik. 6) uji coba tahap I (kelompok kecil). Subjek penelitian dalam penelitian pengembangan ini adalah 1 ahli bolavoli mini. Kebutuhan pengembangan genggaman tangan pada passing bawah diperoleh skor 4 (100%). pada bagian pelaksanaan permainan service bawah diperoleh skor rata-rata 3 (75%) dengan kategori baik. kenginan buku pembelajaran yang terdapat variasi latihannya. diperoleh skor rata-rata 3 (75%) dengan kategori baik. Pada bagian pelaksanaan evaluasi diperoleh skor rata-rata 3 (75%) dengan kategori baik. 8) uji coba tahap II (kelompok besar). kebutuhan pengembangan sikap badan pada service bawah diperoleh skor 3 (75%). pada bagian variasi latihan 3 passing bawah. kebutuhan buku pembelajaran permainan bolavoli mini diperoleh skor 4 (100%). Data hasil uji ahli bolavoli mini yakni pada bagian pendahuluan diperoleh skor rata-rata 3 (75%) dengan kategori baik. pada bagian variasi latihan 4 passing bawah baik diperoleh skor rata-rata 3 (75%) dengan kategori. kebutuhan pengembangan posisi lutut pada passing bawah diperoleh skor 4 (100%). Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif. Kebutuhan pengembangan genggaman tangan pada service bawah diperoleh skor 4 (100%).

5 (87. ke-butuhan pengembangan sikap badan pada passing bawah diperoleh skor 3 (75%).75%) dengan kategori sangat baik. mudah dipelajari.3 (81. media pembelajaran permainan bolavoli mini berupa buku pembelajaran diperoleh skor 4 (100%). Data hasil uji tahap I (uji kelompok kecil) yakni pada bagian pendahuluan diperoleh skor rata-rata 4 (100%) dengan kategori sangat baik.5 (87.5%) dengan kategori sangat baik.5 (87.75%) dengan kategori sangat baik. Mei 2014. Pada bagian variasi latihan 1 service bawah diperoleh skor ratarata 3. kebutuhan pengembangan ayunan lengan pada service bawah diperoleh skor 4 (100%). Volume 1.41% dengan kategori sangat baik dari 25 siswa. Data hasil uji tahap II (uji kelompok besar) yakni pada bagian variasi latihan 1 passing bawah diperoleh skor rata-rata 3. mudah dimengerti dan tampilannya menarik diperoleh skor 4 (100%).5 (87. pada bagian variasi latihan 2 service bawah diperoleh skor rata-rata 3.3 (81.5% dengan kategori sangat baik. pada .14 hasil evaluasi ahli pembelajaran di SD diperoleh persentase 82. pada bagian variasi latihan 4 service bawah diperoleh skor rata-rata 3. Data hasil uji ahli bolavoli mini yakni pada bagian pendahuluan diperoleh skor ratarata 3 (75%) dengan kategori baik.75 (93.75 (93. Pada bagian analisis kebutuhan diperoleh skor rata-rata 3.3%) dengan kategori sangat baik. Nomor 1.3 (81. kebutuhan pengembangan sikap badan pada service bawah diperoleh skor 3 (75%). pada bagian variasi latihan 2 passing bawah diperoleh skor rata-rata 3. pada bagian variasi latihan 2 passing bawah diperoleh skor ratarata 3 (75%) dengan kategori baik.3%) dengan kategori sangat baik. Dari hasil uji tahap II (uji kelompok besar) diperoleh persentase 86. sehingga produk ini dapat digunakan dalam pengembangan permainan bolavoli mini. Hasil uji tahap I (uji kelompok kecil) diperoleh persentase 90% dengan kategori sangat baik dari guru Pendidikan Jasmani dengan kategori sangat baik. pada bagian variasi latihan 3 passing bawah diperoleh skor ratarata 3 (75%) dengan kategori baik.3%) dengan kategori sangat baik. 8 . pada bagian isi diperoleh skor rata-rata 3. kenginan buku pembelajaran yang terdapat variasi latihannya. Pada bagian variasi latihan 1 passing bawah diperoleh skor rata-rata 3. kebutuhan pengembangan posisi lutut pada passing bawah diperoleh skor 4 (100%). kebutuhan pengembangan perkenaan bola dengan lengan (memantulkan) pada passing bawah diperoleh skor 4 (100%).3 (81.12 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. pada bagian variasi latihan 3 service bawah diperoleh skor rata-rata 3. kebutuhan buku pembelajaran permainan bolavoli mini diperoleh skor 4 (100%). pada bagian penutup diperoleh skor rata-rata 3.3 (81. pada bagian keseluruhan buku diperoleh skor rata-rata 3. Kebutuhan pengembangan genggaman tangan pada passing bawah diperoleh skor 4 (100%). kebutuhan gerakan passing bawah dan service bawah dalam pembelajaran permainan bolavoli mini diperoleh skor 4 (100%).5%) dengan kategori sangat baik. PEMBAHASAN Data hasil analisis kebutuhan yakni kebutuhan pengembangan pembelajaran permainan bolavoli mini di SDN Babadan 2 sebagai buku pegangan diperoleh skor 3 (75%). pada bagian variasi latihan 4 passing bawah diperoleh skor rata-rata 3.3%) dengan kategori sangat baik. Penelitian dan pengembangan ini menghasilkan sebuah produk yaitu buku pembelajaran permainan bolavoli mini kelas V SD sebagai buku pegangan guru pendidikan jasmani dalam memberikan pembelajaran bolavoli mini.3%) dengan kategori sangat baik. kebutuhan pengembangan ayunan lengan pada passing bawah diperoleh skor 3 (75%). Kebutuhan pengembangan genggaman tangan pada service bawah diperoleh skor 4 (100%). pada bagian prosedur pelaksanaan passing bawah bolavoli mini diperoleh skor rata-rata 3 (75%) dengan kategori baik.5%) dengan kategori sangat baik.7 (92%) dengan kategori sangat baik. kebutuhan pengembangan posisi lutut pada service bawah diperoleh skor 3 (75%).75%) dengan kategori sangat baik. sehingga produk ini dapat digunakan oleh guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan sebagai buku pegangan dalam memberikan pembelajaran permainan bolavoli mini di kelas V SDN Babadan 2 Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar. kebutuhan pengembangan perkenaan bola dengan lengan (memukul) pada service bawah diperoleh skor 4 (100%).

5%) dengan kategori sangat baik. buku pembelajaran bolavoli mini di kelas V SDN Babadan 2 memiliki kelebihan ditinjau dari .3%) dengan kategori sangat baik. Sehingga pengembangan suatu produk ini sangat dibutuhkan SDN Babadan 2 Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar. Data hasil uji tahap I (uji kelompok kecil) yakni pada bagian pendahuluan diperoleh skor rata-rata 4 (100%) dengan kategori sangat baik. Data hasil uji ahli pembelajaran di SD yakni pada bagian pendahuluan diperoleh skor rata-rata 3. diperoleh skor rata-rata 3 (75%) dengan kategori baik.75%) dengan kategori sangat baik. Pengembangan Pembelajaran Permainan Bolavoli Mini bagian variasi latihan 3 passing bawah.3%) dengan kategori sangat baik.75%) dengan kategori sangat baik.3%) dengan kategori sangat baik. pada bagian pelaksanaan permainan passing bawah diperoleh skor rata-rata 3 (75%) dengan kategori baik. pada bagian variasi latihan 3 passing bawah diperoleh skor ratarata 3 (75%) dengan kategori baik. sehingga produk ini dapat digunakan dalam pengembangan permainan bolavoli mini.Tegar Bayu Kharisma.5 (87. pada bagian pelaksanaan permainan service bawah diper-oleh skor rata-rata 3 (75%) dengan kategori baik.3%) dengan kategori sangat baik. 13 Data hasil uji tahap II (uji kelompok besar) yakni pada bagian variasi latihan 1 passing bawah diperoleh skor rata-rata 3. pada bagian pelaksanaan pendinginan diperoleh skor rata-rata 3 (75%) dengan kategori baik. menunjukkan bahwa produk hasil pengembangan ini dikategorikan sangat baik. pada bagian penutup diperoleh skor rata-rata 3 (75%) dengan kategori baik. Dari hasil penelitian yang dimulai dari uji ahli bola voli mini. pada bagian variasi latihan 4 service bawah baik diperoleh skor rata-rata 3 (75%) dengan kategori.41% dengan kategori sangat baik dari 25 siswa. Pada bagian prosedur pelaksanaan service bawah bolavoli minidiperoleh skor rata-rata 3 (75%) dengan kategori baik.5 (87. Hasil uji tahap I (uji kelompok kecil) diperoleh persentase 90% dengan kategori sangat baik dari guru Pendidikan Jasmani dengan kategori sangat baik. Buku ini telah melalui uji ahli dan uji pengguna produk. pada bagian variasi latihan 3 service bawah diperoleh skor rata-rata 3 (75%) dengan kategori baik. pada bagian isi diperoleh skor rata-rata 3. pada bagian variasi latihan 4 service bawah diperoleh skor rata-rata 3.75 (93. pada bagian variasi latihan 3 service bawah diperoleh skor rata-rata 3. Penelitian pengembangan ini menghasilkan produk berupa buku pembelajaran bolavoli mini di kelas V SDN Babadan 2 Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar sebagai buku pegangan guru Pendidikan Jasmani.5 (87.63% dengan kategori baik.3 (81.5 (87. Dari hasil analisis kebutuhan menunjukkan bahwa di SDN Babadan 2 Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar sangat membutuhkan buku pembelajaran permainan bolavoli mini sebagai buku pegangan guru Pendidikan Jasmani.5 (87.75) dengan kategori sangat baik. uji ahli pembelajaran di SD. uji kelompok besar dan uji kelompok kecil. pada bagian variasi latihan 2 service bawah di-peroleh skor rata-rata 3. pada bagian variasi latihan 4 passing bawah baik diperoleh skor rata-rata 3 (75%) dengan kategori. Dari hasil uji tahap II (uji kelompok besar) diperoleh persentase 86. pada bagian variasi latihan 1 service bawah diperoleh skor rata-rata 3 (75%) dengan kategori baik.3 (83. Dari hasil evaluasi ahli bolavoli mini diperoleh persentase 76. Pada bagian variasi latihan 1 service bawah diperoleh skor ratarata 3. Pengembangan buku ini disesuaikan dengan karakteristik siswa SD yang lebih senang bermain dan mendapatkan pelajaran secara menyenangkan. Pada bagian pelaksanaan evaluasi diperoleh skor rata-rata 3 (75%) dengan kategori baik.5% dengan kategori sangat baik.3 (81.5%) dengan kategori sangat baik. pada bagian variasi latihan 2 passing bawah diperoleh skor rata-rata 3. sehingga produk ini dapat digunakan di SDN Babadan 2 Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar sebagai buku pegangan guru Pendidikan Jasmani.3%) dengan kategori sangat baik.5%) dengan kategori sangat baik.5%) dengan kategori sangat baik. sehingga mengalami beberapa kali revisi. pada bagian variasi latihan 2 service bawah diperoleh skor rata-rata 3. pada bagian variasi latihan 4 passing bawah diperoleh skor rata-rata 3.75 (93. pada bagian penutup diperoleh skor rata-rata 3.3 (81.3 (81. Dari hasil evaluasi ahli pembelajaran di SD diperoleh persentase 82. Berdasarkan hasil uji ahli dan uji pengguna produk. sehingga produk ini dapat digunakan dalam pengembangan permainan bolavoli mini. pada bagian isi diperoleh skor rata-rata 3.

ke variasi latihan yang sulit. S. 8 . Metode Penelitian Pendidikan. Masih perlunya penelitian lebih lanjut mengenai manfaat produk yang dikembangkan. S. 1997. N. Strategi dan Metode Permainan Bolavoli. Jakarta: Pendidikan Olahraga IKIP Jakarta. DAFTAR PUSTAKA KESIMPULAN DAN SARAN Roesdiyanto.html. Volume 1. kemenarikan. Produk ini telah melalui uji ahli. Malang: Proyek IKIP. Buku pembelajaran bolavoli mini di kelas V SDN Babadan 2 ini memiliki beberapa kelebihan lain yakni produk ini sangat mudah digunakan oleh guru pendidikan jasmani di SD karena produk ini dilengkapi dengan petunjuk penggunaan serta bagian-bagian yang sudah tersusun dengan baik.Sukmadinata. Pola Pengembangan Bolavoli Gandu untuk Kesegaran Jasmani: Eksperiment di Sekolah Dasar Negeri. Rosyid. Malang: Proyek IKIP Malang. 2009. Saran Produk ini masih memerlukan evaluasi dan uji coba pada subjek yang lebih luas. E. 1997. Buku pembelajaran bolavoli mini di kelas V SDN Babadan 2 ini memiliki beberapa kelebihan lain yakni produk ini sangat mudah digunakan oleh siswa karena produk ini dilengkapi dengan petunjuk penggunaan serta bagian-bagian yang sudah tersusun dengan baik. Skripsi Tidak Diterbitkan. 2008. Novembri. meliputi sampul depan maupun isi dari materi produk yang dikembangkan.rosyid. (Online).info/2009/10/ karakteristik-anak-usia-sd. dan keakuratan. Degeng. 2002. Variasi latihan passing bawah dan service bawah yang terdapat dalam buku pembelajaran ini disusun secara sistematis. sebelum disebarluaskan sebaiknya produk ini disusun kembali menjadi produk yang lebih baik. Mei 2014. Kesimpulan Produk pengembangan ini berupa buku pembelajaran permainan bolavoli mini kelas V SD sebagai buku pegangan guru Pendidikan Jasmani dalam memberikan pembelajaran bolavoli mini. I. Desa Karanggandu. Asim. sehingga banyak masukan untuk perbaikan produk untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Buku pembelajaran hasil pengembangan ini dibuat sesuai dengan kebutuhan siswa dan berisi berbagai variasi latihan yang menarik dan menyenangkan sehingga siswa lebih termotivasi untuk melakukan pembelajaran permainan bolavoli mini. Disertasi Tidak Diterbitkan. M. 2003. Modifikasi Lapangan dan Tinggi Net Bolavoli Mini untuk Siswa Kelas V dan VI SDN 01 Maguan Kecamatan Ngajum. Sugiyono. Sejarah. diakses 24 Februari 2010). (http://www. Malang: Depdiknas Pusat Penelitian Pendidikan UM. Metodologi Penelitian Pengembangan.14 empat kriteria yaitu kegunaan. 1992.S.14 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. dimulai dari variasi latihan mudah. kemudahan. Teknik. Karakteristik Anak Usia SD. Nomor 1. . Malang: FIP UM Puspitasari. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. W. Pemanfaatan buku pembelajaran dapat digunakan oleh guru agar saling melengkapi. Strategi dan Taktik Permainan Bolavoli. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan: untuk SD Kelas 5 Semester 2. 2007. Produk sangat menarik karena dilengkapi dengan warna dan gambar. Malang: UM Press.

Guna menunjang kegiatan penilaian buku teks pelajaran. pengguna (guru Penjasorkes) maupun tim independen. Saran untuk penulis buku yaitu agar kelengkapan penyajian disempurnakan lagi. Universitas Wahid Hasyim Semarang Email: hoi4you@yahoo. kemutakhiran. Digunakan teknik analisis isi untuk menganalisis kelayakan isi dan penyajian yang ada di dalam buku teks. Kata kunci: analisis. Pendidikan jasmani. Namun kenyataan di lapangan sampai sekarang ini analisis dan evaluasi materi/isi buku teks pelajaran Penjasorkes untuk SMK belum dilakukan oleh masyarakat pengguna ataupun pihak non pemerintah. Hasil survei yang dilakukan di 12 SMK menghasilkan simpulkan bahwa guru Penjasorkes selama ini hanya sebagai pengguna. kepekaan terhadap nilai Penjasorkes. pemerintah mempunyai kewenangan untuk melaksanakan pengendalian mutu buku teks yang ditetapkan melalui Undang-undang Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Simpulan kedua buku tersebut layak untuk digunakan. penyajian materi pembelajaran. penulis dan penerbit buku teks Penjasorkes. mereka belum proaktif menganalis dan mengevaluasi buku teks yang digunakan. dan menafsirkan data digunakan analisis persentase dengan sistem kategori. dan kelengkapan penyajian. yang dilaksanakan pemerintah melalui Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementeriaan Pendidikan dan Kebudayaan (Puskurbuk Kemendikbud).ditinjau dari Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi dasar (KD) kurikulum ditinjau dari keakuratan. Penjasorkes. keterampilan. Saran kepada guru Penjasorkes SMK dalam pembelajaran dapat menggunakan ini karena secara umum mempunyai kategori tingkat kelayakan baik sekali. berada di rentang 70% hingga 100%. dan keseuaian materi kehidupan anak. buku teks. penyajian. Hasil penelitian berupa penilaian terhadap isi dan kelayakan secara umum. Olahraga. Pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan media pembekalan keterampilan dan penguasaan teknologi bagi siswa untuk berkarya secara inovatif. olahraga dan kesehatan adalah bagian dari proses pendidikan untuk memperoleh pengetahuan kepribadian. kreatif dan tepat guna. Data yang diperoleh berupa angka untuk memahami. (2) kelayakan penyajian buku teks ditinjau dari teknik penyajian. Jurusan Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Fakultas Ilmu Keolahragaan. Mereka selama ini hanya sekedar sebagai pengguna dan belum pernah memberikan umpan balik kepada pemerintah. Objek penelitian ini adalah 1 buah buku teks mata pelajaran Penjasorkes kelas X SMK. kelayakan.com Abstrak: Penelitian ini untuk mengetahui: (1) kelayakan isi buku teks Pendididikan Jasmani. kesehatan dan kebugaran jasmani (Undangundang RI Nomor 3 tahun 2005).ANALISIS KELAYAKAN ISI DAN PENYAJIAN BUKU TEKS PENDIDIKAN JASMANI OLAHRAGA DAN KESEHATAN KELAS X SMK Gunawan. dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 2 tahun 2008 tentang buku. atau berada di kategori baik hingga baik sekali. Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan (Penjasorkes) di SMK. dan Kesehatan (Penjasorkes) kelas X Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di kota Semarang. kalaupun mereka tahu ada yang kurang atau salah mereka hanya membiarkan dan mengabaikannya belum proaktif mem- 15 . Pengendalian mutu buku teks pelajaran Penjasorkes di SMK dapat dilaksanakan melalui kegiatan penilaian buku teks pelajaran baik oleh pemerintah. khususnya melalui penyediaan buku teks pelajaran yang bermutu serta dalam rangka meningkatkan mutu penerbitan buku teks pelajaran Penjasorkes untuk SMK di tanah air.

Buku teks juga akan memudahkan dan membantu para siswa dalam mencapai tujuan pembelajarannya (Mendiknas. 3) memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengulangi pelajaran atau mempelajari pelajaran baru.31 berikan umpan balik kepada pemerintah. dan kepribadian. Bahan ajar merupakan seperangkat materi yang disusun secara sistematis sehingga tercipta lingkungan atau suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar. Bahan ajar merupakan bagian penting dalam proses pelaksanaan pendidikan di sekolah. Dalam penelitian ini peneliti akan menganalisis kelayakan isi dan kelayakan penyajian buku teks Penjasorkes kelas X SMK. Bahan ajar merupakan informasi. Bahan ajar dapat dibuat dalam berbagai bentuk sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik materi ajar yang akan disajikan. 2008:2). prinsip atau sudut pandang tertentu yang menjiwai atau melandasi buku teks secara keseluruhan. tandas. Volume 1.” Kedudukan bahan ajar berupa buku teks pelajaran sangatlah penting baik bagi siswa maupun bagi guru. dan teks yang diperlukan guru atau instruktur untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran. Untuk diperlukan penelitian independen yang hasilnya dapat digunakan sebagai umpan balik agar kualitas isi buku Penjasorkes kelas X SMK yang akan datang lebih baik. menengah. dan perguruan tinggi yang selanjutnya disebut buku teks adalah buku acuan wajib untuk digunakan di satuan pendidikan dasar dan menengah atau perguruan tinggi yang memuat materi pembelajaran dalam rangka peningkatan keimanan. peningkatan kemampuan kinestetis dan kesehatan yang disusun berdasarkan standar nasional pendidikan. 5) buku yang uniform memberikan kesamaan mengenai bahan dan standar pengajaran. 2008:6). bahasa dan sebagainya. Melalui bahan ajar akan mempermudah guru dalam menyampaikan materi yang akan diajarkan. Berikut ini beberapa manfaat buku teks pelajaran menurut Nasution (2005:11) adalah salah satu alat teknologi pendidikan yang memberi manfaat antara lain: 1) membantu guru dalam melaksanakan kurikulum. 2) Membantu peserta didik dalam memperoleh alternatif bahan ajar di samping buku-buku teks yang terkadang sulit diperoleh. karena itu penulis buku teks harus mempertimbangkan minatminat siswa pemakai buku teks tersebut. untuk mengetahui apakah materi yang disajikan memiliki kesesuaian dengan kurikulum. Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan tugas kegiatan belajar mengajar di kelas (Mendiknas. penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. 6) memberikan kontinuitas pelajaran di kelas yang berurutan. Penyusunan bahan ajar menurut Mendiknas (2008:9). 2) Kejelasan konsep: konsep-konsep yang digunakan dalam sesuatu buku teks harus jelas. Nomor 1. 2) sebagai pegangan dalam menentukan metode pengajaran. dan 7) memberi pengetahuan dan metode mengajar yang lebih mantap bila guru menggunakannya dari tahun ke tahun. sekalipun guru diganti. Mei 2014. Keremang-remangan dan kesamaran perlu dihindari agar siswa atau pembaca juga jelas pengertian. keilmuan dan memiliki kecocokan dengan kompetensi siswa. Sudut pandangan ini dapat berupa teori dari ilmu jiwa. Melalui hasil penelitian ini diharapkan dapat diperoleh memberikan informasi bagi guru Penjasorkes SMK dalam memilih dan menentukan buku teks sebagai bahan ajar yang layak digunakan dalam pembelajaran Penjasorkes. ketakwaan. Menurut Tarigan dan Tarigan dalam Wardani (2010:21).16 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. harus memiliki tujuan antara lain: 1) Menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dengan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik. akhlak mulia. alat. 3) Memudahkan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar (Peraturan Pemerintah Nomor 2 tahun 2008 Pasal 1 Ayat 3) yang berbunyi sebagai berikut: “buku teks pelajaran pendidikan dasar. yakni bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik dan setting atau lingkungan sosial peserta didik. peningkatan kepekaan dan kemampuan estetis. penulis buku atau penerbit. Dengan adanya bahan ajar yang berkualitas diharapkan kualitas pendidikan juga akan tinggi. 3) Menarik minat: buku teks ditulis untuk pembaca. pemahaman dan penangkapannya. 15 . 4) dapat digunakan untuk tahuntahun berikutnya dan bila direviasi dapat bertahan untuk waktu yang lama. 4) . suatu buku teks dikatakan berkualitas baik apabila memenuhi kriteria sebagai berikut: 1) Sudut pandang: buku teks harus mempunyai landasan.

Buku teks didefinisikan sebagai buku pelajaran dalam bidang studi tertentu. 3) menyediakan suatu sumber yang tersusun rapi dan bertahap mengenai keterampilanketerampilan ekspresional yang mengemban masalah pokok dalam komunikasi. Perbaikan-perbaikan tersebut dilakukan dalam berbagai hal seperti tenaga pendidik. Analisis Kelayakan Isi dan Penyajian Buku Teks Menumbuhkan motivasi: buku teks yang baik adalah buku teks yang dapat membuat siswa ingin. sederhana menarik serta terhindar dari makna ganda. untuk maksud dan tujuan instruksional yang dilengkapi dengan sarana-sarana pengajaran yang serasi dan mudah dipahami oleh para pemakainya di sekolah dan perguruan tinggi sehingga dapat menunjang struktur program pengajaran. Ilustrasi yang cocok pastilah memberikan daya penarik tersendiri serta memperjelas hal yang dibicarakan. Jika kualitas buku teks yang digunakan oleh sekolah baik maka besar kemungkinan kualitas pengajaran pendidikan jasmani yang dilakukan akan baik. buku setiap cabang khusus dan studi dan dapat terdiri dari dua tipe yaitu buku pokok/utama dan suplemen/tambahan. Menurut Suharjo (2006:111-116). bervariasi sehingga siswa benar-benar termotivasi untuk mempelajari buku teks tersebut. 4) metode dan sarana penyajian bahan dalam buku teks harus memenuhi syarat-syarat tertentu. akan tetapi jika buku teks yang digunakan kurang baik. 2) menyajikan suatu sumber pokok masalah yang kaya. Menurut Ari (2011:2). atau bahkan buruk maka pengajaran yang terjadi akan sangat sulit mencapai hasil yang diharapkan. dan juga penataan perangkat pendukung pembelajaran Penjasorkes. mudah dibaca dan bervariasi yang sesuai dengan minat dan kebutuhan para siswa. Buku teks adalah rekaman pikiran rasional yang disusun untuk maksud dan tujuan instruksional. mengerjakan apa yang diilustrasikan dalam buku tersebut. 5) menyajikan fiksasi (perasaan yang mendalam) awal yang perlu dan juga sebagai penunjang bagi latihan-latihan dan tugas-tugas praktis. 2005:4). 6) di samping sebagai sumber bahan buku teks juga berperan sebagai sumber atau alat evaluasi dan pengajaran remidial yang serasi dan tepat guna. Pemahaman harus didahului oleh komunikasi yang tepat dan faktor utama yang berperan dalam hal ini yaitu bahasa. Misalnya harus menarik. Usaha perbaikan mutu pengajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan (Penjasorkes) selain dengan adanya kurikulum yang terus berkembang harus juga ditopang oleh buku pelajaran yang baik yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku. yang merupakan buku standar yang disusun oleh para pakar dalam bidang itu. fasilitas sekolah. buku pelajaran atau buku teks adalah media pembelajaran dua dimensi yang disajikan dalam bentuk bahan cetakan secara logis dan sistematis tentang suatu cabang ilmu pengetahuan atau bidang studi tertentu. Menurut Ari (2010:2). 7) Komunikatif: buku teks harus dimengerti oleh pemakainya yakni peserta didik. menantang. Usaha-usaha perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan. merangsang. Bahasa dalam buku teks haruslah sesuai dengan bahasa peserta didik. Buku teks adalah buku stan- 17 dar. 5) Menstimulasi aktivitas siswa: buku teks yang baik adalah buku teks yang merangsang. senang. fungsi dan peranan buku teks adalah: 1) mencerminkan suatu sudut pandang yang tangguh dan modern mengenai pengajaran serta mendemonstrasikan aplikasinya dalam bahan pengajaran yang disajikan. Fungsi buku teks bagi guru adalah sebagai pedoman untuk mengidentifikasi apa yang harus . khususnya pada pelajaran Penjasorkes secara sistematis telah dilakukan oleh pemerintah.Gunawan. Buku teks sebagai buku penopang atau penunjang dalam pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan memiliki peranan yang penting yaitu menentukan baik buruknya hasil pembelajaran yang dilakukan karena guru menggunakan buku teks tersebut sebagai acuan dalam menyampaikan materi. menantang dan menggiatkan aktivitas siswa. 6) Ilustratif: buku teks harus disertai ilustrasi yang mengena dan menarik. pendidikan sebagai faktor utama yang memegang peran penting bagi kemajuan bangsa saat ini masih terus dalam tahap perbaikan dan peningkatan kualitas. sebagai dasar bagi program-program kegiatan yang disarankan dimana keterampilan-keterampilan ekspresional diperoleh di bawah kondisi-kondisi yang menyerupai kehidupan yang sebenarnya. berisi kalimat-kalimat efektif. Buku teks adalah buku yang dirancang untuk penggunaan di kelas. yang disusun dengan cermat dan disiapkan oleh para pakar atau para ahli dalam bidang itu dan diperlengkapi dengan sarana-sarana pengajaran yang sesuai dan serasi (Depdiknas. mau.

18 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. minat. disiplin. 2011:2-3). dan . meskipun kurikulum lebih banyak berisi tentang dokumen pengetahuan. secara garis besar standar buku pelajaran diukur melalui aspek isi atau materi. 2002:12). dan menggunakanya sebagai alat pembelajaran siswa di dalam atau di luar sekolah. kerja sama. 9) Mampu mengisi waktu luang dengan aktivitas jasmani yang bersifat rekreatif. Keempat aspek ini saling berkait satu sama lain. SK merupakan kerangka yang menjelaskan dasar pengembangan program pembelajaran yang terstruktur. 7) Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri dari orang lain. dan 4) format buku atau grafika. 5) menumbuhkan motivasi belajar. 11) memantapkan nilai-nilai budi pekerti yang berlaku di masyarakat. Dengan demikian. 2) Membangun landasan kepribadian yang kuat. mengetahui teknik dan metode pengajaranya. akuatik (aktivitas air). kesegaran jasmani (phsysical fitness). bakat. 3) Menumbuhkan kemampuan berpikir kritis melalui tugas-tugas pembelajaran pendidikan jasmani. 5) Mengembangkan keterampilan gerak dan keterampilan teknik serta strategi sebagai permainan dan olahraga. kebugaran dan pola hidup sehat. Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan. bahasa. 3) relevan dengan kurikulum yang berlaku. Untuk memudahkan siswa memperoleh pemahaman yang utuh dan berkesinambungan. serta grafik. menantang. dan teori bahan pembelajaran. aktivitas ritmik. keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya. afektif. Dalam hal ini kompetensi diartikan sebagai pengetahuan. Pendidikan jasmani adalah usaha atau kegiatan yang mengarah pada pengembangan organ-organ tubuh manusia (body building). yakni: 1) isi atau materi pelajaran. dan pengembangan keterampilan (skill development). 3) bahasa dan keterbacaan. 8) mudah dipahami siswa. Nomor 1. yaitu bahasa yang digunakan memiliki karakter yang sesuai enam tingkat perkembangan bahasa siswa. kemampuan. 8) Mengetahui dan memahami konsep aktivitas jasmani sebagai informasi untuk mencapai kesehatan. 15 . sosial dan budaya. 4) sesuai dengan minat siswa. Mei 2014. sehingga proses pengembangan kurikulum adalah fokus dari penilaian. aktivitas pengembangan senam. Sementara hal-hal yang berhubungan dengan kualitas buku pelajaran menurut tim penilai buku ajar dapat dikelompokkan ke dalam empat aspek. Pendidikan jasmani adalah suatu proses pendidikan seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematik melalui berbagai kegiatan jasmani untuk memperoleh pertumbuhan jasmani. 9) dapat menunjang matapelajaran lain. dan menggairahkan aktivitas siswa. sikap sosial dan toleransi dalam konteks kemajemukan budaya. penyajian materi. dan pendidikan luar kelas (outdoor education). memperoleh bahan ajar secara mudah. kemampuan dan keterampilan.31 diajarkan atau dipelajari oleh siswa. 7) ilustrasi tepat dan menarik. etnis dan agama. terhindar dari makna ganda. kalimat-kalimatnya efektif. percaya diri dan demokratis melalui aktivitas jasmani. keterampilan dan sikap dari pada bukti-bukti untuk menunjukkan bahwa peserta didik yang akan belajar telah memiliki pengetahuan dan keterampilan awal. 2) kejelasan konsep. ilmu jiwa perkembangan. Ada sebelas aspek untuk menentukan kualitas buku teks (Ari. keterampilan nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. 6) merangsang. penulis buku pelengkap perlu menata urutan penyajiannya berdasarkan prinsip-prinsip spiralisasi yang baik. kecerdasan dan perkembangan watak serta kepribadian yang harmonis dalam rangka pembentukan manusia Indonesia berkualitas berdasarkan Pancasila (Mutohir. kesehatan dan kesega- ran jasmani. dan keterbacaan. bertanggung jawab. 6) Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya untuk mengembangkan dasar pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani. Menurut Haag (1994:56-57) pendidikan jasmani mempunyai tujuan adalah: 1) Meletakkan landasan karakter yang kuat melalui internalisasi nilai dalam pendidikan jasmani. 2) penyajian materi. mengetahui urutan penyajian bahan ajar. ekonomi. sederhana. sikap cinta damai. 10) menghargai perbedaan individu. kegiatan fisik (physical activities). jujur. sopan dan menarik. Volume 1. sehingga ia dapat melakukan perilaku kognitif. SK juga merupakan fokus dari penilaian. yaitu: 1) memiliki landasan prinsip dan sudut pandang yang berdasarkan teori linguistik. 4) Mengembangkan sikap sportif.

tanggungjawab. toleransi dan estetika 5. Mempraktikkan berbagai keterampilan permainan olahraga dalam bentuk sederhana dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya 2. semangat dan percaya diri**) 1. menghargai orang lain. menghargai. tanggung jawab. dan percaya diri**) 1.4 Mempraktikkan keterampilan salah satu cabang olahraga bela diri serta nilai kejujuran. semangat.1 Mempraktikkan keterampilan bermain salah satu permainan dan olahraga beregu bola besar serta nilai kerjasama.2 Mempraktikkan tes kebugaran jasmani serta nilai tanggung jawab. menghargai. kejujuran.2 Mempraktikkan keterampilan dasar ayunan lengan pada aktivitas ritmik tanpa alat dengan koordinasi gerak yang benar serta nilai disiplin. dan kerja keras 6.2 Mempraktikkan keterampilan teknik dasar loncat indah dari samping kolam dengan teknik serta nilai disiplin. tolong menolong. konsentrasi dan keluwesan 4. 7. kejujuran. 6. menghargai. daya tahan dan kelentukan untuk kebugaran jasmani dalam bentuk sederhana serta nilai tanggung jawab.Gunawan. dan percaya diri 2. toleransi. tanggung jawab. 2. dan kerja keras 5. disiplin. menghargai teman 3.1 Menganalisis bahaya penggunaan narkoba 7. toleransi.1 Mempraktikkan latihan kekuatan. kerjasama. SK dan KD Penjasorkes untuk Kelas X SMK (Semester 1) Standar Kompetensi 1. Mempraktikkan salah satu gaya renang dan loncat indah sederhana dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya*) Mempraktikkan perencanaan penjelajahan dan penyelamatan aktivitas di alam bebas dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya***) Menerapkan hidup sehat budaya Kompetensi Dasar 1. -----. kecepatan. 5. melaksanakan keputusan kelompok 6.3 Mempraktikkan perawatan tubuh agar tetap segar 3. Analisis Kelayakan Isi dan Penyajian Buku Teks 19 psikomotorik dengan sebaik-baiknya. disiplin.1 Mempraktikkan keterampilan gerak dasar langkah dan lompat pada aktivitas ritmik tanpa alat serta nilai kedisiplinan. kerjasama. tolong menolong.--. keberanian. kerjasama.1 Mempraktikkan keterampilan dasar-dasar kegiatan menjelajah pantai serta nilai tanggung jawab.2 Mempraktikkan keterampilan salah satu permainan olahraga beregu bola kecil dengan menggunakan alat dan peraturan yang dimodifikasi serta nilai kerjasama.3 Mempraktikkan keterampilan atletik dengan menggunakan peraturan yang dimodifikasi serta nilai kerjasama. dan percaya diri**) 1.1 Mempraktikkan keterampilan dasar salah satu gaya renang serta nilai disiplin. keberanian.2 Memahami berbagai peraturan perundangan tentang narkoba . 4. kerjasama dan tanggung jawab 4.1 Mempraktikkan rangkaian senam lantai dengan menggunakan bantuan serta nilai percaya diri. kerja keras dan percaya diri**) 2.2 Mempraktikkan rangkaian senam lantai tanpa alat serta nilai percaya diri.---. kejujuran. dan percaya diri. Mempraktikkan latihan kebugaran jasmani dan cara mengukurnya sesuai dengan kebutuhan dan nilai nilai yang terkandung di dalamnya Mempraktikkan keterampilan rangkaian senam lantai dan nilai nilai yang terkandung di dalamnya Mempraktikkan aktivitas ritmik tanpa alat dengan koordinasi yang baik dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya 3.----------Tabel 1.2 Mempraktikkan keterampilan dasar penyelamatan kegiatan penjelajahan di pantai serta nilai tanggung jawab. keputusan dalam kelompok 6.3 Mempraktikkan keterampilan memilih makanan dan minuman yang sehat 7. semangat.

Mempraktikkan perencanaan penjelajahan dan penyelamatan aktivitas di alam bebas dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya***) 14. Mempraktikkan latihan kebugaran jasmani dan cara mengukurnya sesuai dengan kebutuhan dan nilai nilai yang terkandung di dalamnya 10. semangat.1 Mempraktikkan keterampilan bermain salah satu permainan dan olahraga beregu bola dengan menggunakan peraturan yang dimodifikasi serta nilai kerja sama. toleransi.2 Mempraktikkan keterampilan dasar penyelamatan penjelajahan di pegunungan serta nilai tanggung jawab. Nomor 1. disiplin. keluwesan dan estetika 11. toleransi. tanggung jawab. 15 . kerjasama. menghargai. kerjasama. menghargai. percaya diri **) 8. Volume 1.2 Mempraktikkan rangkaian senam irama tanpa alat dengan koordinasi gerak serta nilai disiplin. tanggungjawab dan menghargai teman 10. 2011). Mempraktikkan aktivitas ritmik tanpa alat dengan koordinasi yang baik dan nilai nilai yang terkandung di dalamnya 12.3 Mempraktikkan keterampilan penjagaan lingkungan yang sehat 14. tanggungjawab dan menghargai teman 11. 8. (3) Analisis isi . gaya bebas dan salah satu gaya lain serta nilai disiplin.2 Mempraktikkan tes kebugaran dan interpretasi hasil tes dalam menentukan derajat kebugaran serta nilai kejujuran.1 Mempraktikkan berbagai bentuk kebugaran jasmani sesuai dengan kebutuhan serta nilai kejujuran.20 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. toleransi. dan percaya diri 10.1 Mempraktikkan keterampilan dasar-dasar kegiatan menjelajah gunung serta nilai tanggung jawab. dan melaksanakan keputusan kelompok 13. disiplin. Mempraktikkan keterampilan rangkaian senam lantai dan nilai nilai yang terkandung di dalamnya 11. kerja keras keberanian dan tanggung jawab 12.1 Mempraktikkan keterampilan rangkaian senam lantai dengan menggunakan alat serta nilai percaya diri.31 Tabel 2. percaya diri**) 8.1 Mempraktikkan kombinasi keterampilan langkah kaki dan ayunan lengan pada aktivitas ritmik berirama tanpa alat serta nilai disiplin. tolongmenolong.1 Menganalisis dampak seks bebas 14. toleransi.2 Mempraktikkan keterampilan dasar pertolongan kecelakaan di air dengan sistim Resusitasi Jantung dan Paru (RJP) serta nilai disiplin. Mempraktikkan keterampilan beberapa gaya renang dan pertolongan kecelakaan di air dan nilai nilai yang terkandung di dalamnya*) 13.2 Memahami cara menghindari seks bebas Mempraktikkan berbagai keterampilan permainan olahraga dalam bentuk sederhana dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya 9. kejujuran. kerjasama.2 Mempraktikkan keterampilan bermain salah satu permainan dan olahraga bola kecil dengan menggunakan peraturan yang dimodifikasi serta nilai kerjasama. semangat. tanggung jawab. semangat.1 Mempraktikkan kombinasi teknik renang gaya dada.2 Mempraktikkan keterampilan rangkaian senam lantai tanpa alat serta nilai percaya diri.3 Mempraktikkan keterampilan atletik dengan menggunakan peraturan yang dimodifikasi serta nilai kerjasama. kerjasama. tolong menolong. kejujuran. menghargai. keluesan dan estetika 12. dan melaksanakan keputusan dalam kelompok 13. toleransi. yaitu tentang: (1) Analisis isi buku teks ilmu pengetahuan sosial (IPS) kelas X SMK Negeri se-kota Malang (Rahayuningtyas. Mei 2014. percaya diri **) 8. SK dan KD Penjasorkes untuk Kelas X SMK (Semester 2) Standar Kompetensi Kompetensi Dasar 8. dan percaya diri 9. 2010). (2) Analisis Teks Buku Sekolah Elektronik (BSE) IPS Terpadu Kelas XI Tingkat SMK Terbitan Depdiknas Pada Kompetensi Dasar Mendiskripsikan Gejala Atmosfer dan Hidrosfer Serta Pengaruhnya Bagi Kehidupan (Wardani. kejujuran. kerja keras keberanian dan tanggung jawab 13. Menerapkan budaya hidup sehat Sebagai bahan kajian pustaka yang dijadikan sebagai bahan rujukan dalam penelitian ini ada beberapa penelitian analisis isi buku yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti lain diantaranya.4 Mempraktikkan keterampilan olahraga bela diri serta nilai kejujuran. kerja keras dan percaya diri**) 9.

Reliabilitas menggunakan . Dari 450 penelitian yang diperiksa. dan prioritas informasi kesehatan yang disampaikan. Studi lebih lanjut menyarankan untuk menilai akurasi konten yang berkaitan dengan buku pelajaran sekolah. Reliabilitas: kode dilakukan untuk mengenali ciri-ciri utama kategori. atau SMU. yaitu analisis isi dan penyajian buku teks Penjasorkes. HIV/AIDS. 1991). Prosedur analisis isi yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Analisis isi dimulai dengan rumusan ma-salah penelitian yang spesifik. Bahasa Indonesia. (4) Penyusunan kode dan mengecek validitas. Buku teks berkualitas tinggi dan bahan pembelajaran sangat penting bagi anak-anak sekolah. (2) Pemilihan sumber data: peneliti menentukan sumber data yang relevan dengan masalah penelitian. Oleh sebab itu. (4) Hasil penelitian yang telah dilakukan di USA. Analisis Kelayakan Isi dan Penyajian Buku Teks buku dan Implikasinya dalam memberdayakan keterampilan berfikir siswa SMK (Abdulkarim. Dari 14 studi yang dipilih. tapi buku pelajaran sekolah mungkin berisi informasi kesehatan yang salah. Topik kesehatan difokuskan terutama pada seksualitas. METODE Penelitian ini merupakan penelitian analisis kuantitatif dan dokumen (buku teks) sebagai objeknya. khususnya buku teks. Metode tersebut dipilih karena penulis akan melakukan proses analisis berupa isi dan penyajian yang ada di dalam buku teks pelajaran pendidikan jasmani. IPS. Melalui observasi yang mendalam terhadap perpustakaan dan berbagai media masa yang membantu penentuan sumber data yang relevan. v) subjek buku (s). Kualitas konten kadang-kadang tidak pantas dan membutuhkan perbaikan (Nomoto et al. maka buku sekolah menduduki peranan sentral. dan Matematika. dan gizi lebih sering daripada buku di negara lain. olahraga dan kesehatan kelas X SMK. merupakan media instruksioanal yang dominan peranannya di kelas (Patrick. Tujuan dari penelitian ini untuk meninjau temuan dari studi analitis ten-tang isi buku teks yang digunakan di SD. 9 dilakukan di Amerika Serikat dan Spanyol. iii) topik yang dipilih. dan vii) temuan.Gunawan. (3) Definisi operasional: definisi operasional ini berkaitan dengan unit analisis. 14 yang memenuhi kriteria inklusi. Temuan studi ditinjau dapat diringkas sebagai berikut: beberapa buku pelajaran sekolah saat ini menyediakan konten cukup dan berisi tidak akurat atau out-of-date informasi kesehatan. 2011). setiap usaha untuk meningkatkan akses siswa terhadap buku akan meningkatkan hasil belajar siswa. 2007). dengan menggunakan teknik analisis isi (content analysis). Studi ditinjau diklasifi-kasikan menurut jumlah informasi topik yang terkandung. dua atau lebih coder sebaiknya meneliti secara terpisah. Penentuan unit analisis dilakukan berdasarkan topik atau masalah riset yang telah ditentukan sebelumnya. mencatat bahwa tingkat kepemilikan siswa akan buku pelajaran di SMK berkorelasi positif dan signifikan dengan hasil belajarnya sebagaimana di ukur dengan Nilai Ebtanas Murni (NEM). Penelitian Supriadi (1997:37) terhadap 867 SMK dan MI di Indonesia. ii) negara tujuan. yaitu bagai-mana kelayakan isi dan penyajian buku teks Penjasorkes kelas X SMK di Kota Semarang. penyakit menular seksual. dan gizi. vi) metode analisis. Idealnya. Hal ini berarti ini bahwa semakin tinggi akses siswa terhadap mata pelajaran.. Lima korelasi yang dihitung menunjukkan hasil yang signifikan yaitu untuk mata pelajaran IPA. dan diringkas informasi mengenai: i) penulis dan tahun publikasi. semakin tinggi pula hasil belajaranya. iv) tingkat sekolah. 1988) dan sebagai sentral dalam suatu sistem pendidikan (Altbach et al. buku sekolah. (2008) melaporkan bahwa isi buku teks mengenai penyakit menular seksual dan kesehatan reproduksi di Spanyol kadang-kadang memberikan infor-masi yang tidak akurat. SMP. Penelitian ini ditemukan melalui analisis isi yang berhubungan dengan kesehatan dari buku teks sekolah bahwa buku teks di Amerika Serikat dan Spanyol seksualitas penutup. Karena buku merupakan alat penting untuk menyampaikan materi kurikulum. Penentuan periode waktu dan jumlah buku teks Penjasorkes kelas X SMK yang akan diteliti (sample). keakuratan dari informasi kesehatan yang 21 diberikan. (5) De Irala et al.

Mei 2014.31 2 orang peneliti pembanding dari ahli Penjasorkes dan berpengalaman menilai buku teks Penjasorkes di BSNP. gambar. (5) Analisis data dan penyusunan laporan: data kuantitatif yang diperoleh dari anali-sis isi dan penyajian buku teks Penjasorkes dianalisis dengan teknik statistik persentase. diagram (5) Keakuratan dan konsistensi istilah &simbol (5) Keakuratan acuan pustaka (5) Kesesuaian materi dengan perkembangan IPTEK Penjasorkes (5) Kemutakhiran contoh. peraturan dan kasus aktual (5) Kemutakhiran pustaka (1) Perkembangan dan kemampuan anak (1) Kondisi & situasi lingkungan sosial budaya (1) Menggunakan contoh. penentuan sampel sampai dengan pengumpulan data adalah 3 bulan yang dimulai pada bulan Maret sampai dengan Mei 2013. Penelitian analisis isi dan penyajian buku teks Penjasorkes kelas X SMK ini dilaksanakan di Kota Semarang Provinsi Jawa Tengah dengan menggunakan sampel buku teks Penjasorkes kelas X SMK yang digunakan sekolah-sekolah yang ada di Kota Semarang dengan menggunakan teknik purposive sampling yaitu dengan pertimbangan bahwa buku teks tersebut banyak dipakai di SMK di Kota Semarang. Definisi dan Kata (5) Keakuratan contoh. dan kasus di Indonesia (1) Kepekaan terhadap nilai-nilai Penjas dan olahraga (1) Kepekaan terhadap nilai-nilai kesehatan (1) Mendorong rasa ingin tahu (1) Menumbuhkan kreativitas (1) Mengembangkan kecakapan hidup (life skill)(1) . Volume 1. kasus. Penilitian ini menggunakan metode kajian isi dokumen secara kuantitatif (quantitative content analysis document) dengan teknik kode (coding) terhadap kualitas yang ada dalam buku teks mata pelajaran Penjasorkes kelas X SMK. Jangka waktu penelitian mulai dari observasi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode pengamatan atau menganalisis secara langsung terhadap buku-buku teks Penjasorkes kelas X SMK berdasarkan kelayakan isi dan penyajian dengan menggunakan instrumen yang telah ditentukan terlebih dahulu. 15 . gambar. ilustrasi. Komponen penilaian analisis kelayakan isi dan penyajian buku teks Penjasorkes adalah seperti yang tercantum tabelTabel 3. Nomor 1. gambar. Tabel 3. yang merujuk pada konsep kurikulum standar yang ditetapkan oleh pemerintah dalam hal ini BSNP. Pengambilan sampel diambil dari bukubuku yang beredar dan digunakan dari sepuluh SMK di kota Sematang.22 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. Kisi-Kisi Instrumen Penelitian Analisis Kelayakan Isi Aspek Sub Komponen Kesesuaian dengan SK & KD Keakuratan Materi Kemutakhiran Materi Kelayakan Isi Kesesuaian dengan Kehidupan Anak Kepekaan terhadap Nilai Penjasorkes Materi Pendukung Indikator (jumlah butir) Kelengkapan materi (5) Keluasan materi (5) Kedalaman materi (5) Keakuratan konsep.

yang terdiri atas 1 buku teks Penjasorkes karangan Muhajir.75% .24% 43. Rubrik Penilaian Buku Penjasorkes kelas X SMK No.74% Keterangan (Skor) 4 3 2 1 Kategori Baik Sekali Baik Kurang Sangat Kurang (Pusbuk.50% .100% 2 3 4 62.Gunawan. Jika terjadi skor penilian lebih dari 2 maka dilakukan moderasi untuk mendapatkan kesepakatan skor penilaian sehingga skor penilaian dinyatakan syah. Pedoman untuk menentukan kategori hasil penilaian merujuk pada kategori yang digunakan oleh Pusat Perbukuan Depdiknas RI.62.00% . Kategori Penilaian Interval Persentase No 1 81. yaitu buku .49% 25. Data dinyatakan sah bila penilaian antara peneliti dan peneliti pembanding selisih skor tidak lebih dari 2 untuk setiap butir penilaian.25% . Penilaian keabsahan data dalam penelitian ini terjadi pada waktu proses pengumpulan data. dan untuk menentukan tingkat keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan keabsahan data. 2012:58) Tabel 5.43.81. Kisi-Kisi Instrumen Penelitian Analisis Kelayakan Penyajian Aspek Sub Komponen Indikator (jumlah butir) Teknik Penyajian Materi Penyajian Materi Pembelajaran Kelayakan Penyajian Kelengkapan Penyajian Konsistensi sistematika sajian dalam bab dan sub bab (1) Keruntutan konsep (5) Kontektual (5) Keseimbangan antar bab dan sub bab (1) Ketertautan antar bab/sub-bab/alenia (1) Berpusat pada peserta didik (1) Umpan balik untuk evaluasi diri (1) Penyajian bervariasi (1) Menghindari SARA dan bias gender (1) Mengembangkan ketrampilan proses (5) Memperhatikan aspek keselamatan (5) Menciptakan komunikasi interaktif (5) Pengantar (1) Kata-kata kunci baru pada setiap awal bab (1) Advance organizer (pembangkit motivasi) pada awal bab (1) Rujukan/sumber acuan termasa (up to date) (1) Rangkuman (1) Contoh-contoh soal/tugas dalam setiap bab (1) Daftar pustaka (1) Glosarium (takarir)(1) Daftar indeks (subjek) (1) Lampiran (1) (Pusbuk. Analisis Kelayakan Isi dan Penyajian Buku Teks 23 Tabel 4. sebagai berikut: Tabel 6. 1 2 3 4 5 Standar Kompetensi (SK) Permainan dan Olahraga Pengembangan Diri Aktivitas Senam Aktivitas Ritmik/Irama Budaya Hidup Sehat Jumlah Teks Jumlah Kompetensi Dasar (KD) 8 4 5 4 4 25 Mengingat begitu pentingnya masalah keabsahan data dalam penelitian kualitatif. 2 orang peneliti pembanding yang berasal dari ahli Penjasorkes dari Jurusan PJKR FIK Unnes yang telah memiliki pengalaman menilai buku teks Penjasorkes digunakan sebagai pembanding. 2012 Hal: 58) HASIL Hasil penelitian dan pembahasan analisis buku teks Penjasorkes Kelas X SMK di Semarang.

3) Keakuratan dan konsistensi istilah.33% 25.33% 98. kasus. Analisis Data Tingkat Kesesuaian Uraian Materi dengan SK dan KD Skor (maksimal 60) No.33% 93. Hasil Analisis Data Tingkat Keakuratan Materi No. 1 2 3 4 Skor (maksimal 80) Peneliti Pembanding Sub Komponen Keakuratan Konsep.00% 25. dan kualitasnya masuk dalam kategori Baik Sekali.75% ∑ 19 18 20 10 67  23. Tabel 8.75% 95.31 Kelayakan isi buku Hasil analisis data tentang kelayakan isi buku teks Penjasorkes Kelas X SMK dapat dilihat pada Tabel 7.75% 93.50% 83. Hasil analisis data Pembanding  33. 1 2 3 4 5 6 Skor maksimal 216 Komponen Skor Kesesuaian materi dengan SK dan KD Keakuratan materi Kemutakhiran materi Kesesuian dengan kehidupan anak Kepekaan terhadap nilai-nilai penjasorkes Materi pendukung Total Skor Persentase 59 75 42 11 8 12 207 95. 2) Keakuratan contoh kasus. Definisi dan Fakta Keakuratan contoh. Maka dapat disim- .24 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. karena sudah sesuai dengan standar acuan penulisan buku teks dan standar kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah.33% 86.00% 28. diagram Keakuratan dan konsistensi istilah Keakuratan acuan pustaka Jumlah Hasil penelitian sesuai dengan isi Tabel 9 tentang tingkat keakuratan materi ∑ 20 20 20 15 75  25.00% 25. 1 2 3 Peneliti Sub Komponen Kelengkapan Materi Keluasan Materi Kedalaman Materi Jumlah  33. 15 .75% pada buku teks Penjasorkes Kelas X SMK buku 1 sudah sesuai. dan 4) keakuratan acuan pustaka.50% 25.75% 22.45% 91.00% 12.67% 33. gambar dan diagram. Nomor 1. Hasil Analisis Kelayakan Isi No.67% 100% 100% Kategori Baik sekali Baik sekali Baik sekali Baik sekali Baik sekali Baik sekali Baik sekali satuan pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) kelas X.83% Berdasarkan hasil analisis tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan kelayakan isi buku teks termasuk kategori baik sekali.00% 18. Tabel 9.66% ∑ 20 15 17 52 tingkat keakuratan materi yang ditinjau dari segi 1) tingkat keakuratan konsep definisi dan fakta. yang paling banyak digunakan oleh guru penjas SMK di kota Semarang. gambar.33% ∑ 20 19 20 59 Deskripsi data hasil penelitian pada Tabel 8 tentang tingkat kesesuaian isi materi dengan SK dan KD pada buku teks Penjasorkes Kelas X SMK sudah sesuai dengan SK dan KD yang ditetapkan dalam Standar Isi. dapat dilihat pada Tabel 9. Volume 1. yang untuk selanjutnya akan disebut dengan buku 1 atau buku Penjasorkes. sehingga layak dijadikan sebagai referensi atau pedoman dalam pembelajaran Penjasorkes di tingkat Persen 98.33% 31. Tabel 7. Mei 2014.

peraturan dan kasus actual Kemutakhiran pustaka Jumlah Deskripsi data hasil penelitian sesuai dengan tentang tingkat kemutakhiran materi pada buku teks ini sudah sesuai. Deskripsi atau penyajian data hasil penelitian mengenai materi pendukung pada buku teks Penjasorkes ini menunjukkan tingkat dukungan materi yang sesuai . ilustrasi.55% 90. Tabel Hasil Analisis Data Tingkat Kepekaan terhadap nilai-nilai Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Skor (maksimal 8) No Peneliti Sub Komponen ∑ 1. sportivitas. Selan- Pembanding  ∑ 4 4 33.18% 19 43. Tabel 11.91% Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan kelas X SMK dalam kategori Baik Sekali.00% 100% ∑ 3 3 6  37. Analisis Kelayakan Isi dan Penyajian Buku Teks pulkan bahwa tingkat keakuratan materi yang disajikan pada buku teks ini dalam kategori baik sekali.33% 25.45% 2 40 4.50% 37. Tabel 10. Sementara hasil 25 analisis data tingkat kemutakhiran materi buku teks dapat dilihat pada Tabel 10. Hasil Analisis Data Tingkat Kemutakhiran Materi Skor (maksimal 44) No 1 2 3 Peneliti Sub Komponen Kesesuaian materi dengan perkembangan IPTEK Penjasorkes Kemutakhiran contoh.67% 11 91. Kepekaan terhadap nilai-nilai Penjasor Kepekaan terhadap nilai-nilai kesehatan Jumlah Deskripsi data hasil penelitian sudah menunjukkan tingkat kepekaan terhadap nilai-nilai Penjasorkes.00% dapat disimpulkan bahwa tingkat kesesuaian materi dengan kehidupan anak yang disajikan pada buku dalam kategori baik sekali.Gunawan. dan disiplin.00% 2 16. Hasil Analisis Data Tingkat Kesesuaian Materi dengan Kehidupan Anak Skor (maksimal 12) No Peneliti Sub Komponen  ∑ 1 2 3 Perkembangan dan kemampuan anak Kondisi serta situasi lingkungan sosial budaya Menggunakan contoh.00% 50. hasil analisis dapat dilihat pada Tabel 12.50% 75.00% jutnya tentang kepekaan terhadap nilai-nilai penjasorkes.33% 33. Maka hal ini 4 4 8 Pembanding  50.00% 3 25.33% 4 3 33. Tingkat kepekaan tersebut dapat dilihat pada setiap materi yang disajikan sudah sesuai dengan nilainilai Penjasorkes seperti nilai-nilai kerjasama. Maka dapat disimpulkan bahwa tingkat keakuratan materi yang disajikan pada buku teks Pembanding ∑  ∑  20 44. dan kasus di Indonesia Jumlah Tingkat kesesuaian materi dengan kehidupan anak pada buku teks Penjasorkes Kelas X SMK Buku 1 sudah sesuai dan masuk dalam kategori Baik Sekali.18% 19 43. gambar. Hasil analisis data tingkat kesesuaian materi dengan kehidupan anak pada buku ini dapat dilihat pada Tabel 11.81% 95. Tabel 12.45% 19 43.18% 3 42 6.67% 9 75. gambar. 2.

berarti teknik penyajian materi buku teks Penjasorkes Kelas X SMK memiliki .36% 33.26 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN.14% 94.31 dengan aspek-aspek kreativitas dan dapat keingintahuan. Hasil Analisis Data Teknik Penyajian Skor (maksimal 56) No.79% 70% Baik sekali Baik sekali Baik Baik sekali ajaran Penjasorkes di tingkat satuan pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) kelas X. karena sudah sesuai dengan standar acuan penulisan buku teks dan standar kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah.93% 33.36% 5.33% 33.00% 5.33% 100% 3 3 3 9 25.93% 7. Kelayakan Penyajian Hasil analisis terhadap kelayakan penyajian Buku Teks Penjasorkes Kelas X SMK adalah seperti yang dapat dilihat di Tabel 14.00% 25.33% 33.14% 7. Hasil Analisis Kelayakan Penyajian Buku Teks Penjasorkes Kelas X SMK NO Komponen 1 2 3 Teknik Penyajian Materi Penyajian Materi Pembelajaran Kelengkapan Penyajian Total Skor Persentase Berdasarkan hasil analisis seperti tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kualitas kelayakan penyajian buku teks Penjasorkes kelas X SMK pada kategori baik sekali sehingga layak dijadikan sebagai referensi atau pedoman dalam pembel- Skor Maksimal 172 Skor Prosen Kategori 53 69 28 150 87.64% 90. menumbuhkan kecakapan hidup.00% 75. Tabel 13.00% Jasmani Olahraga dan Kesehatan kelas X SMK dalam kategori Baik Sekali.22% 56. Tabel Hasil Analisis Data Materi Pendukung Skor (maksimal 12) No 1 2 3 Peneliti Sub Komponen Mendorong rasa ingin tahu Menumbuhkan kreativitas Mengembangkan kecakapan hidup (life skill) Jumlah Tingkat materi pendukung tersebut dapat dilihat pada setiap materi yang disajikan sudah sesuai tetapi perlu ditambahkan materi yang mendukung tingkat kreativitas anak khususnya pada materi pokok permainan dan olahraga. Tabel 15. Maka dapat disimpulkan bahwa tingkat materi pendukung yang disajikan pada buku teks Pendidikan Pembanding ∑  ∑  4 4 4 12 33.36% 5.36% 73.78% 25. 1 2 3 4 5 6 Peneliti Sub Komponen Konsistensi sistematika sajian dalam bab dan sub bab Keruntutan konsep Kontekstual Keseimbangan antar bab dan sub bab Keterkaitan antar bab/sub-bab/alinea Keutuhan makna dalam bab/sub bab/alinea Jumlah Analisis data teknik penyajian materi diperoleh skor total 53 dari skor maksimal Pembanding ∑  ∑  3 19 19 4 4 4 53 5. Volume 1.00% 25.14% 7. Mei 2014.20% 94.64% 3 15 14 3 3 3 41 5. 15 .36% 26. Tabel 14. Nomor 1.

26% 25. Hasil Analisis Data Kelengkapan Penyajian Skor (maksimal 40) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Peneliti Sub Komponen Pengantar Kata-kata kunci baru pada setiap awal bab Advance organizer (pembangkit motivasi) pada awal bab Rujukan/sumber acuan termasa (up to date) Rangkuman Contoh-contoh soal/tugas dalam setiap bab Daftar pustaka Glosarium (takarir) Daftar indeks (subjek) Lampiran Jumlah Analisis data kelengkapan penyajian buku teks Penjasorkes Kelas X SMK sampel 1 karangan Muhajir sudah sesuai dengan tuntutan kelengkapan penyajian yang baik dan benar tetapi ada beberapa kelengkapan penyajian seperti pada lampiran yang belum mencantumkan unsur yang sesuai dengan anjuran lampiran yang Pembanding ∑  ∑  4 2 2 2 1 4 4 4 4 1 28 10% 5% 5% 5% 2.50% 70% 4 1 1 3 1 4 3 4 4 1 26 10% 2.Gunawan.79%  ∑ 4 5. mengembangkan keterampilan proses.94% 3.31% 90.5% 10% 7. Berpusat pada peserta didik Memunculkan umpan balik untuk evaluasi diri Penyajian bervariasi Menghindari SARA dan bias gender Mengembangkan ketrampilan proses Memperhatikan aspek keselamatan Menciptakan komunikasi interaktif Jumlah Hasil analisis tentang penyajian materi pembelajaran pada buku teks dapat dilihat pada skor keberpusatan pada peserta didik.85% ikasi interaktif.5% 65.5% 7. berarti tingkat kelayakan penyajian materi pembelajaran sebesar 90. Tabel 16. Total skor untuk penyajian materi pembelajaran sebesar 69 dari skor maksimal 76. penyajian materi pembelajaran yang menciptakan komun- Pembanding Peneliti Sub Komponen 4 3 3 4 19 16 20 69  5. Maka dapat disimpulkan bahwa penyajian materi pembelajaran yang disajikan pada buku teks Penjasorkes kelas X SMK dalam kategori baik sekali.94% 5.26% 3.26% 21. Maka hal ini dapat disimpulkan bahwa penyajian materi pembelajaran yang disajikan pada buku teks Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan kelas X SMK dalam kategori baik .05% 21.05% 26.94% 3.00% ditentukan dan rujukan atau sumber acuan yang up to date masih kurang.31% 86.94% 5.26% 3 3 4 16 16 20 66 3. ∑ 1 2 3 4 5 6 7. 64%. Maka dapat disimpulkan bahwa tingkat teknik penyajian materi yang disajikan pada buku 27 ini dalam kategori baik sekali. umpan balik untuk evaluasi diri.5% 10% 10% 2. Tabel Hasil Analisis Data Penyajian Materi Pembelajaran Skor (maksimal 76) No. Analisis Kelayakan Isi dan Penyajian Buku Teks tingkat kelayakan sebesar 94.5% 10% 10% 10% 10% 2. Tabel 17. sudah sesuai dengan tuntutan penyajian materi yang baik dan benar. menghindari unsur SARA dan bias gender. penyajian yang bervariasi.50% 2.00% 21. memperhatikan aspek keselamatan.50% 2.79 %.05% 26.

missalnya dengan menambahkan keberhasilan atau prestasi atlet-atlet nasional pada masing-masing materi yang akan dibahas. c. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan kelayakan isi buku teks termasuk kategori baik sekali. . Volume 1. berarti isi buku teks Penjasorkes kelas X SMK karangan Muhajir memiliki tingkat kelayakan sebesar 96. Nomor 1. Kepada penulis buku teks a. b.53 %. Dengan demikian. Saran Berdasarkan hasil simpulan maka saran yang dapat disampaikan adalah sebagai berikut : 1. Gambar-gambar contoh gerakan yang digunakan untuk memperjelas makna masih bias gender karena didominasi oleh salah satu jenis kelamin. dan belum menciptakan komunikasi interaktif pada proses pelaksanaan pembelajaran dan pengembangan pembelajaran. aktivitas air dan juga perlu di tambahkan adanya lampiran. idealnya satu kompetensi dijabarkan dalam beberapa teks disertai dengan contoh dan gambar yang memadai. Pada buku ini terdapat 20 Bab yang terbagi dalam 2 semester. 15 . Kepada penyusun buku teks sebaiknya mencantumkan latar belakang penulis atau pengarang buku dan memilih gambar atau contoh yang sesuai dengan latar belakang peserta didik yang sesuai dengan tingkatan pembelajarannya.28 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. Pada setiap awal bab perlu ditambahkan pembangkit motivasi (advance orginizer) yang lebih bervariasi sesuai dengan fakta.6 X 25 cm dengan 238 halaman. tiap semester terdapat 10 Bab dan 28 Sub Bab. Namun demikian memang masih terdapat beberapa materi pembelajaran yang belum terdeskripsi dengan baik. dengan memberikan contoh kongkrit. d. Untuk semester I terdiri atas 7 Standar Kompetensi dan 18 Kompetesi Dasar dan pada semester II terdapat 10 bab dan 22 sub bab yang terdiri atas 7 Standar Kompetensi dan 17 Kompetensi Dasar. Kesesuaian materi dengan SK dan KD sebagaimana yang terdapat di dalam kurikulum. Kualitas kelayakan isi pada buku Teks Penjasorkes kelas X SMK karangan Muhajir diperoleh skor total 207 dari skor maksimal 216. rangkuman. terutama diakibatkan karena kesalahan-kesalahan ketik yang cukup mengganggu makna kata dan kalimat. dengan kata kunci. Di samping itu penyajian materi yang belum cukup bervariasi. akan sangat membantu siswa dan guru dalam mencapai tujuan belajar yang diharapkan. buku ini belum cukup memacu dan memberi ruang pada siswa untuk dapat secara aktif dan kreatif menyerap materi pelajaran. pada setiap bab. Penyajian pembelajaran materi kegiatan yang disajikan untuk mengembangkan keterampilan proses perlu ditambahkan petunjuk pelaksanaan yang jelas tentang aspek keselamatan dalam setiap materi yang mengandung resiko. misalnya pada materi senam. Demikian pula halnya dengan penyajian materi pembelajaran pada buku teks Penjasorkes Kelas X SMK karangan Muhajir ini juga sudah sesuai dengan tuntutan penyajian materi pembelajaran yang baik dan benar. gambargambar yang tercantum mayoritas meng- gunakan contoh anak laki-laki.31 PEMBAHASAN Buku Teks Penjasorkes yang dibahas dalam konteks ini adalah buku Penjasorkes Kelas X SMK karangan Muhajir yang diterbitkan pada tahun 2011 oleh penerbit Yudhistira. Buku teks pelajaran penjasorkes yang orientasinya lebih kepada orientasi pembelajaran gerak seharusnya selain kalimat perlu disertai dengan gambar ilutstrasi yang lebih bervariasi dengan pewarnaan yang lebih baik supaya materi lebih jelas dan menarik sehingga dapat merangsang minat peserta didik dalam belajar. Mei 2014. karena sudah sesuai dengan standar acuan penulisan buku teks dan standar kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah. Ada beberapa kompetensi yang dijabarkan melalui satu bacaan saja misalnya pada materi etika dalam kolam renang. Ukuran buku 17.

karena dari hasil penelitian terbukti mempunyai tingkat kelayakan isi dan penyajian dengan kategori baik sekali.ed. Standar Penilaian Buku Teks. http://depdiknas. agar lebih teliti dalam menggunakan buku teks yang menjadi pegangan guru maupun siswa. Panduan Penyusunan Kuri-kulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar Dan Menengah. 1994. A. Badan Standar Nasional Pendidikan. 2003. Department of Physical Activity and Sport Sciences. Abdussamad.eric. Jakarta: Depdiknas. Ana Rey-Cao. hendaknya disediakan waktu bagi para siswa untuk menelaah bagian-bagian yang ada dalam buku teks. Standar Isi. (2007). (Online). Siswa perlu mengenal buku yang akan dipelajarinya. Bagi sekolah atau lembaga pendidikan khususnya SMK. c. Buku Teks Pelajaran dan Peranannya. (2001). Hal. 2012 Oct. baik dari segi kurikuler maupun dari segi kebenaran konsepnya.pdf (diunduh pada tanggal 21 Maret 2013). Germany: Verlag Karl Hofmann: pp 56-57 María Inés Táboas-Pais. R. 26. Analisis Kelayakan Isi dan Penyajian Buku Teks 2.id/ inlink. Untuk pembelajaran penjasorkes disarankan menggunakan buku teks penjasorkes kelas X SMK karangan Muhajir sebagai salah satu acuan/ pustaka. Urdiain IG.Gunawan. Universitas Pendidikan Indonesia Press. 29 Guadalupe. Nomor 2. 2002. T.wordpress. 2012. Altbach. Daniel G. Online at http://www. Mutohir. de Irala J. Kepada guru dan atau pengguna buku teks (peserta didik) a.C. Tersedia di: http://www. __. 2011. López Del Burgo C (2008) Analysis Of Content About Sexuality and Human Reproduction in School Textbooks in Spain. 2005. Journal Adapt Phys Activ Q. Surabaya: Unesa University Press. 11 Tahun 2005. Guru sebaiknya dapat membuat variasi dengan cara menambah atau memodivikasi kegiatan sehingga siswa lebih bergairah belajar. Buku Teks dan Peranannya. 2007. Gagasan-gagasan tentang Pendidikan Jasmani dan Olahra-ga. Buku Teks Pelajaran. Journal of Public Health 122: 1093– 1103. San Antonio Catholic University. b. 1991.com/2011/1 0/22/buku-teks-pelajaran-danperanannya/) diunduh tanggal 1509-2012 Badan Standar Nasional Pendidikan.info/2011/10/html (diunduh 14 Agustus 2013).I. H. Vol. Ada kemungkinan strategi pembelajaran yang tertuang dalam buku teks sangat monoton sehingga berpotensi menimbulkan kejenuhan siswa. 2006. Depdiknas.go.29(4):31028. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Guru apabila menemukan kekurangan atau kesalahan pada buku teks hendaknya diperbaiki terlebih dahulu sebelum disampaikan saat pembelajaran.situs bahasa. 2002. 3. Gender Differences in Phy- . ______. 126. Knowledge creation from Australasioan LIS jurnals: a content analysis. Murcia. Disability in Physical Education Text-books: An Analysis Of Image Content. Ari. Dorner. (http:// ramlannarie. Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan. DAFTAR PUSTAKA Abdulkarim. Analisis Buku Teks dan Implikasinya Dalam Memberdayakan Keterampilan Berfikir Siswa. Spain. Jakarta: Depdiknas. Haag. Theoretical Foun-dation of sport scientific disipline.php?to+uusisdiknas (diunduh 15 Januari 2013). M. Jakarta: Peraturan Pemerintah No. Jurnal Forum Kependidikan. 2006. gov/ERICDocs/data/ricdocs2sql/con tent_storage_01/0000019b/80/19/9 0/96.

2007. 2012.ac. The University of Tokyo. 2008. Suharjo. Mei 2014. http://www.go. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. Email: brent.. Massachusetts: AddisonWesley Publishing Company. 2006. Graduate School of Medicine. Analisis dan Studi Komparatif Buku Teks Seko-lah Menengah Atas Ditinjau dari Textbook Evaluation Menggunakan Science Textbook Rating System. Mengenal Pendidikan Sekolah Dasar-Teori dan Praktek. Hakekat Fungsi Buku Ajar. Toward A Philo-sophy of Sport. The Reproduction Of Biological „Race‟ Through Physical Education Textbooks And Curriculum Sociology Of Sport And Physical Activity.. Content analysis of school textbooks on health topics: a systematic review. Widya Karya. and Welfare of Japan (research grant number: H21-chikyukibo- wakate-011. Purwanto. Salinan tidak diterbitkan. 2004.jp Nonaka.html) Nugroho. 15 . Patrick. Analisis isi buku teks ilmu pengetahuan sosial (IPS) kelas X SMK Negeri se-kota Malang. Melbourne. Jimba. et al.J. Instrumen Penelitian Sosial dan Pendidikan-Pengembangan dan Pemanfaatan. 2008. Sex Roles Journal .mhlw. 2011. Teknologi Pendidikan. Malang: Subyantoro. School Of Sport And Exercise Science. VIC 8001.com/2008_10_04archi ve. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.30 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN.Oct2012. M. Ministry of Health. B. MENDIKNAS. 67 Issue 7/8.mcdonald@ vu.au Muslich.. M. 2010. Vol. Footscray Park. 1988. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Buku Teks Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.A. marino13@m. ___________. MD. H. Journal Biosci Trends. Peraturan Pemerintah 2008. Malang: (Online) http//masnurmuslich. dan Pemakaian Buku Teks. Nomor 1. 2005. L. T. Department of Community and Global Health. Mizoue. 2004.. et al. Salinan tidak diterbitkan. 2011. Penulisan. PO Box 14428. Rahayuningtyas. Boston: Allyn and Bacon. Text Book Writing: Dasar-Dasar Pemahaman.html (diunduh 25-11-2012). Australia. Qualitative and Quantitative Approaches-6th Ed. Jakarta: DEPDIKNAS MENDIKNAS. Journal Biosci Trends 5: 61–68.31 sical Education Textbooks in Spain: A Content Analysis of Photographs. edu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Semarang: CV.jp/ bunya/kenkyuujigyou/hojokinkoubo16/02-01. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.u-tokyo. 2012. Jakarta: Depdiknas. I. Nomoto M. p389 McDonald. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. N. Penelitian Tindakan Kelas. Content Analysis of Primary and Secondary School Textbooks Regarding Malaria Control: A MultiCountry Study. .blogspot. Labour. Jakarta: DIKNAS.. Nasution. Social Re-search Methods. Japan. Jakarta Neuman. 2002. Victoria University.W. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2005 tentang Buku Teks Pelajaran. 2006. Panduan Pengembangan Bahan Ajar. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara. Volume 1.

Analisis Kelayakan Isi dan Penyajian Buku Teks Supriadi. W. 2010. . Wardani. 1997. Malang: Universitas Negeri Malang. Analisis Teks Buku Sekolah Elektronik (BSE) IPS Terpadu Kelas XI Tingkat SMK 31 Terbitan Depdiknas Pada Kompetensi Dasar Mendiskripsikan Gejala Atmosfer san Hidrosfer serta Pengaruhnya Bagi Kehidupan.Gunawan. Isu dan Agenda Pendidikan Tinggi di Indonesia. Bandung: Rosda Karya.

Kenyataan di lapangan pendekatan pembelajaran belum terlaksana sesuai dengan tujuan pendidikan jasmani. bolabasket. teknologi. Salah satu materi yang tercantum dalam kurikulum di sekolah dasar adalah permainan bolabasket yang diberikan di kelas V dan kelas VI (Depdiknas.id Abstrak: Konstruksi tes keterampilan bolabasket untuk siswa sekolah dasar (SD) yang valid dan reliabel merupakan hal yang penting untuk dikembangkan mengingat makin berkembangannya bolabasket di sekolah dasar sebagai salah satu materi dalam pembelajaran. budaya. passing 0.co. terutama dalam memasuki era globalisasi. Memajukan sektor pendidikan mutlak harus dilakukan agar meningkat pula kualitas sumber daya manusia sehingga siap untuk berkompetensi dengan bangsa-bangsa negara maju. Jenis penelitian adalah penelitian pengembangan dengan pendekatan survei melalui tes pengukuran. Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta Email: mylsidayu_apta@yahoo. Menurut Depdiknas (2003:5) pendidikan jasmani (penjas) merupakan bagian integral dari sistem pendidikan secara keseluruhan. keterampilan gerak.518. sedangkan alat evaluasi (standar tes keterampilan) yang dipergunakan untuk penilaian kemampuan gerak olahraga bolabasket tersebut tidak dijelaskan secara tegas bagaimana pelaksanaannya dan cara pemberian nilai. Perkembangan informasi. Hasil konstruksi tes keterampilan bolabasket untuk siswa sekolah dasar dapat digunakan untuk pedoman guru Penjaskes dalam memberi nilai pelajaran bolabasket. Validitas menggunakan face validity dan reliabilitas menggunakan test retest dengan hasil reliabilitas shooting 0. serta dapat menjadi pedoman dalam pembibitan atlet bolabasket. Bentuk tes adalah tes psikomotorik atau suatu blue print butir-butir dari tes keterampilan bolabasket. rata-rata materi permainan bolabasket belum sepenuhnya diterapkan oleh guru Penjas sekolah dasar karena keterbatasan fasilitas seperti ring dan bolabasket. olahraga dan kesehatan. dan dribble dua 0. stabilitas emosional. Cara penilaian dalam melaksanakan kurikulum salah satunya adalah kemampuan gerak. dribble satu 0. Penilaian masih didasarkan 32 . keterampilan berpikir kritis. dan tindakan moral melalui aktivitas jasmani. penalaran. Hasil penelitian dan pengembangan berupa tes keterampilan bolabasket untuk siswa sekolah dasar yang disusun dinyatakan layak karena data normal dan homogen.435. Kata Kunci: konstruksi. yakni lebih banyak mengikutsertakan aktivitas siswa dalam setiap proses pembelajaran. seni. tes keterampilan. Menurut Muktiani (2008:2) pendekatan pembelajaaran kurikulum diarahkan dengan tujuan mengembangkan kemampuan siswa dalam mengelola perolehan bel-ajar (kompetensi) yang paling sesuai dengan kondisi masing-masing. 2003:10). Salah satu pelajaran mata pelajaran yang ikut andil dalam menciptakan kualitas manusia Indonesia yang sehat jasmani dan rohani adalah mata pelajaran pendidikan jasmani. yang memfokuskan pengembangan aspek kebugaran jasmani. Subyek adalah siswa sekolah dasar yang berusia 10-12 tahun (siswa Kelas V dan VI sekolah dasar yang memiliki ekstrakurikuler bolabasket).807. Siswa ditempatkan sebagai subjek didik. Berdasarkan hasil wawancara dengan 20 orang guru Penjas di Kota Yogyakarta.KONSTRUKSI TES KETERAMPILAN BOLABASKET UNTUK SISWA SEKOLAH DASAR Apta Mylsidayu. ilmu pengetahuan. Kurikulum merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai keunggulan masyarakat dalam bidang ilmu dan teknologi sehingga diharapkan dapat membantu menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi oleh dunia pendidikan di Indonesia.652. dan hak asasi manusia begitu pesat sehingga menuntut kesiapan semua pihak untuk dapat menyesuaikan dengan segala kondisi yang ada.

Nomor 1. artinya anak akan tetap tumbuh dan berkembang walaupun tidak ada upaya yang terprogram dan berkelanjutan. dan 3) kelompok untuk jangka penampilan tertinggi. Proses ini tentu saja merupakan proses jangka panjang dan mungkin membosankan (Lumintuarso. Mei 2014. Usia umum untuk memulai latihan bolabasket adalah usia 7-8 tahun. Bolabasket adalah salah satu olahraga popular di dunia dan digemari oleh semua kalangan baik pria maupun wanita. senang bergerak. yakni ranah kognitif. Berikut tujuan latihan yang disesuaikan dengan usia dan kesiapan anak tersaji pada Tabel 1. Pertumbuhan dan perkembangan anak berlangsung satu kali dalam kehidupan yang berjalan secara alami. 2004:2).46 pada pengamatan guru sehingga unsur subjektivitas masih sangat dominan. 2009). dan senang merasakan atau melakukan/memperagakan sesuatu secara langsung. pengkhususan atau spesialisasi pada rentang usia 10-12 tahun. menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah. Sumber daya manusia yang berkualitas dapat diperoleh apabila memperhatikan anak sejak usia dini dan merancang dengan baik suatu latihan yang bersifat pemasalan. Sekitar 51% dari anak-anak aktif berpartisipasi dalam olahraga lebih dari satu jenis olahraga. 51% dari anak usia 5 sampai 14 tahun (2 juta anak) secara berkala ambil bagian dalam olahraga. dan ranah psikomotorik (Zaifbio. baik sekolah dasar hingga sekolah menengah umum. Dengan kata lain. Menurut Bompa (1994:11) perkembangan keterampilan dan kemampuan berolahraga dibagi menjadi tiga kelompok yaitu. usia tua ataupun muda. Pembinaan sejak dini yang benar dan berkesinambungan akan memperluas kemungkinan memperoleh olahragawan di masa mendatang. Dewasa ini banyak sekali cabangcabang olahraga yang dipelajari di setiap sekolah dengan menggunakan teknik dan gerakan yang bervariasi. Sukadiyanto (2005:14-15) menambahkan bahwa latihan bagi olahragawan yunior lebih ditekankan pada pengembangan keterampilan untuk pengayaan gerak dan bersifat menyenangkan. Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan. 32 . dan prestasi tertinggi dicapai pada usia 2025 tahun. terutama untuk mengembangkan kemampuan fisiologis anak dalam menerima beban latihan. Salah satu olahraga permainan beregu yang diajarkan pada matapelajaran pendidikan jasmani. sedangkan untuk melihat kemajuan hasil belajar penjas diperlukan pengukuran yang baik didukung instrumen yang baik pula. termasuk olahraga bolabasket yang juga selalu mengalami perkembangan. penilaian berfungsi sebagai alat untuk mengetahui keberhasilan proses dan hasil belajar siswa. 2) kelompok umur pengkhususan. Semakin hari minat siswa SD terhadap olahraga bolabasket semakin bertambah. 1) kelompok praktis dimulai olahraga. Hasil penelitian tersebut dapat mengambarkan bahwa karakteristik anak di usia sekolah dasar antara lain senang bermain. ranah afektif. Penilaian adalah upaya atau tindakan untuk mengetahui sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan itu tercapai atau tidak. psikis. Adanya kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) menjadikan teknik permainan bolabasket mengalami perkembangan. Pembudayaan aktivitas jasmani yang dikemas dalam bentuk cabang olahraga merupakan salah satu unsur penting dalam rangka pemasalan cabang olahraga tersebut. sehingga memungkinkan aspek lain tumbuh dan berkembang secara sempurna baik fisik. Kenyataan yang ada di Indonesia masih banyak orang tua yang menekankan anak untuk belajar melalui bimbingan belajar atau les pelajaran setelah selesai sekolah sehingga anak tidak mempunyai waktu untuk bermain.33 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. Kebutuhan aktivitas jasmani pada masa anak menjadi tuntutan utama. Volume 1. Clark (2008:54) menyatakan bahwa di Kanada pada tahun 2005. mengingat bahwa jasmani menjadi dasar untuk kesehatan tubuh. . olahraga. maupun intelektual. senang bekerja dalam kelompok. Hal ini menjadi obsesi para pembina olahraga bahwa pemasalan merupakan awal dari proses pembinaan. dan kesehatan di SD adalah bolabasket. baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional.

Dengan melihat kondisi yang ada maka perlu dicip-takan suatu alat ukur Usia 14-18 tahun Peningkatan latihan Latihan khusus Usia dewasa Puncak penampilan atau masa prestasi Frekuensi kompetisi diperbanyak untuk mengevaluasi tingkat keterampilan bolabasket untuk siswa sekolah dasar. Pengayaan keterampilan gerak 1. 2. dan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA). Berdasarkan hasil referensi. Tujuan Latihan yang Disesuaikan Dengan Usia dan Kesiapan Anak Usia 6-10 tahun 1. Penyempurnaan 2. siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Persiapan untuk 3. ada 4 penelitian tentang tes keterampilan bermain bolabasket yakni adaptasi tes keterampilan AAHPRED 1984 bagi pemain kelas 1 SMTP putra di Kotamadya Yogyakarta. pengembangan tes keterampilan bermain bolabasket bagi siswa SMA di Kota Yogyakarta. Konstruksi Tes Keterampilan Bolabasket 34 Tabel 1. akhirnya dirasa perlu menciptakan suatu alat ukur untuk mengevaluasi tingkat keterampilan bolabasket melalui konstruksi tes keterampilan bolabasket untuk siswa sekolah dasar agar guru olahraga lebih mudah untuk mengukur kemampuan siswa dalam olahraga bolabasket sehingga secara tidak langsung guru ataupun pelatih bolabasket SD dapat menyaring atlet berbakat melalui alat ukur tes baku yang dibuat dalam penelitian ini. Membangun KemauUsia 11-13 tahun an (interes) 1. Berdasarkan kenyataan yang ada di lapangan dan melihat kondisi yang ada. teknik. maka rumusan masalahnya adalah “Bagaimanakah konstruksi tes keterampilan bolabasket untuk siswa sekolah dasar?” Tes. Pelajaran bolabasket sudah ada dalam kurikulum SD. dan kematangan psikis yang sengaja disiapkan melalui proses latihan. taktik. Penelitian-penelitian tersebut mengacu pada tes keterampilan bolabasket menurut STO. Pengukuran. Menyenangkan 2. penyusunan alat evaluasi keterampilan bermain bolabasket bagi siswa putra dan putri Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di Daerah Istimewa Yogyakarta.Apta Mylsidayu. Lehten. Penilaian harus selalu dilakukan oleh pelatih dan bukan atlet. Belum adanya konstruksi tes keterampilan bolabasket untuk siswa sekolah dasar sehingga tidak adanya alat ukur baku yang dapat mengakibatkan kurang optimalnya pemanduan bakat dan pemilihan bibit unggul atlet berbakat sejak usia dini. penyusunan tes keterampilan bermain bolabasket usia yunior. sedangkan penilaian merupakan suatu proses untuk menentukan status seseorang sehubungan dengan patokan yang dipakai sebagai referensi. AAHPER. sekaligus sebagai jawaban secara ilmiah terhadap penguasaan teknik dasar yang benar sejak permulaan latihan. dan Evaluasi Tes adalah instrumen yang membutuhkan unjuk kerja dari individu selama dites. terampilan gerak meningkatkan latidasar han Prestasi olahraga merupakan akumulasi dari kualitas fisik. tetapi belum ada alat evaluasi keterampilan bolabasket ataupun cara penilaian gerak bolabasket. walaupun atlet dapat juga merupakan pembantu yang penting. Sports Coach UK (2003:3) memperkuat hal tersebut dengan menyatakan bahwa keberhasilan performa pada level tinggi merupakan hasil dari proses latihan sejak masa kanak-kanak dan latihan selama 10 tahun.3. Belajar berbagai ke. Berdasarkan uraian pada latar belakang. Demikian dalam pembelajaran penjas di se- . Sekolah dasar merupakan media yang tepat untuk pengenalan olahraga sejak dini yang bertujuan untuk mengenalkan olahraga secara spesifik dengan tidak meninggalkan gerak-gerak dasar. dan Johnson. teknik 3. Tes keterampilan bolabasket yang telah diteliti di atas merupakan tes keterampilan untuk anak usia yunior.

Azwar (2007) memperjelas tes yang digunakan dengan memiliki prosedur yang sistematik. Rachman (2007:278) menyatakan bahwa proses evaluasi merupakan bagian integral dari proses pembelajaran. dan kesehatan umum. 2002). Validitas muka yang terbaik adalah menentukan validitas dari tes satu dengan lainnya dengan menerangkan prosedur. Tes yang dimaksud adalah tes yang memenuhi syarat validitas. harus mempertimbangkan: 1) acuan kriteria norma dan pengukuran harus digunakan. Ismaryati (2006) menyatakan validitas konkruen adalah validitas yang ditinjau dari segi hubungan antara alat ukur dengan suatu kriteria. Azwar (2008) menambahkan apabila skor tes dan skor kri-teria dapat diperoleh dalam waktu yang sama. Nomor 1. dan evaluasi sangat erat karena proses penilaian hampir selalu menggunakan tes dan pengukuran untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan pada saat pemberian nilai. Menurut Mackenzie (2005) tes evaluasi penampilan terdiri atas daya tahan. hubungan timbal balik di antara tes. 3) Validitas konstruk (construct validity). cerdas. Miller (2002) menyatakan validitas prediktif diukur dengan memberikan ramalan tes dan tes berhubungan dengan ukuran standar yang diperoleh di kemudian hari.” Sebelum membuat tes. Volume 1. dan praktibilitas. Miller (2002) menyatakan bahwa validitas isi berhubungan dengan seberapa baik tes mengukur semua keterampilan dan materi pembelajaran yang telah disampaikan oleh peneliti. Reliabilitas Reliabilitas adalah tingkat konsistensi antara 2 ukuran dari hal yang sama (Mehrens & Lehmann.46 kolah. dan motivasi yang membangun.2002). Nurrochmah (2009) menyatakan “to determine the level of skill acquisition and development or improvement of skills possessed by each athlete. Mei 2014. 32 . modifikasi. dan 2) harus memiliki kriteria tes yang baik (Miller. maka korelasi antara kedua skor ter-sebut merupakan koefisien validitas kon-kruen. serta melihat kemajuan belajar (formatif). Jenis-jenis validitas (kesahihan) antara lain: 1) Validitas muka (face validity): Menurut Miller (2002) uji memiliki validitas muka atau validitas logis. kecepatan dan power. Nitko (1983) menambahkan bahwa item tes pada validitas isi merupakan perwakilan dari keseluruhan atau seluruh bidang yang dianggap mewakili. Dalam proses penilaian terdapat kegiatan tes dan pengukuran. dan penyusunan item-item baru agar prosedur yang dilakukan mempunyai arti yang lebih signifikan dan bukan sekedar pengujian secara deskriptif saja. pengukuran. reliabilitas. yakni a) Item-item dalam tes disusun menurut cara dan aturan tertentu. 1973). Validitas Validitas adalah kriteria yang paling penting untuk dipertimbangkan ketika mengevaluasi tes karena validitas mengacu pada sejauh mana tes benar-benar mengukur masalah dalam pengukuran (Miller. kekuatan. komposisi tubuh. objektivitas. Saifuddin Azwar (2008) menambahkan bahwa validasi prediktif pada setiap tahap harus diikuti oleh usaha peningkatan kualitas item tes dalam bentuk revisi. Diperkuat oleh Miller . 5) Validitas prediktif atau validitas ramalan (predictive validity). kelincahan. yang diasumsikan akan tercermin dalam hasil tes. dan c) Setiap orang yang mengambil tes tersebut harus mendapat item-item yang sama dalam kondisi yang sebanding. it is necessary to do the evaluation measures. psikologi olahraga. Miller (2002) menyatakan validitas konstruk mengacu pada derajat individu yang memiliki sifat cemas. mobilitas dan keseimbangan. Penilaian dapat dilakukan dengan tujuan menetapkan nilai atau menetapkan umpan balik untuk mendiagnosa kelebihan dan kekurangan proses pembelajaran yang sedang berlangsung (sumatif).35 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. Evaluation should be based on test result from a variety of skills possessed. 2) Validitas isi (content validity). diskriminitas. yang memungkinkan pengajar mampu membuat keputusan yang benar mengenai pencapain belajar. b) Prosedur administrasi tes dan pem-berian angka terhadap hasilnya harus jelas dan dispesifikasikan secara terperinci. guru penjas yang harus melakukan penilaian. Nitko (1983) menambahkan validitas mengacu pada tingkat ketepatan nilai tes yang diinterpretasikan dengan cara tertentu atau manfaat nilai tes untuk tujuan tertentu. Diperkuat Azwar (2008) bahwa validitas isi merupakan validitas yang diestimasi lewat professional judgment. ketika mengukur skill dan kemampuan yang diinginkan. 4) Validitas konkuren (concurrent validity).

Mini bolabasket adalah permainan sederhana dan permainan keterampilan bukan kekuatan. dan praktibilitas. precision. Dalam praktek di lapangan belum tentu bisa terlaksana secara keseluruhan tetapi tes dapat dikatakan cukup memadai apabila memenuhi tiga syarat utama yang telah ditentukan yaitu valid. 2008:41-42). ke-mudian tes dibagi menjadi beberapa beahan (Azwar. benar-salah. sedangkan tes yang memiliki objektivitas rendah adalah tes esai. waktu dan biaya. Bolabasket sangat cocok ditonton karena biasa dimainkan di ruang olahraga tertutup dan hanya memerlukan lapangan yang relatif kecil. Permainan bolabasket dapat diajarkan sejak anak masih kecil. kemudahan pengadministrasian. Mini bolabasket adalah cara yang ideal untuk memperkenalkan permainan bolabasket untuk anak-anak (FIBA Oceania. reliabel. sehingga tidak menyulitkan pemain ketika memantulkan atau melempar bola. Menurut Ahmadi (2007) perlengkapan dan peralatan permainan bolabasket terdiri atas: (1) Bola yang digunakan dalam permainan bolabasket harus memiliki syarat: a) bola terbuat dari kulit. karet. dan putri menggunakan bola ukuran 6 dengan keliling lingkaran 724-737 mm dan berat 510-567 gram. yaitu valid. bolabasket mudah dipelajari karena bentuk bolanya yang besar. permainan bolabasket sebenarnya/pertandingan resmi. as well as the physical prerequisites vital for athletic excellence. Praktibilitas Menurut Ismaryati (2006) praktibilitas adalah pertimbangan yang bersifat praktis dan dapat mempengaruhi tes meliputi. dan kemudahan dalam penafsiran. cukup. Pendekatan konsistensi internal dilakukan dengan menggunakan satu bentuk tes yang dikenakan hanya sekali saja pada sekelompok subjek (single trial administration) dengan tujuan melihat konsistensi antar item atau antar bagian dalam tes itu sendiri. b) putra mengguna-kan bola ukuran 7 dengan keliling lingkaran 749-780 mm dan berat 567-650 gram. Bolabasket Bolabasket adalah olahraga bola kelompok yang terdiri atas dua tim beranggotakan 36 masing-masing lima orang yang saling bertanding mencetak point dengan memasukkan bola ke dalam keranjang lawan. Tes yang memiliki nilai objektivitas yang tinggi berupa soal pilihan ganda. Objektivitas Menurut Miller (2002) suatu tes memiliki objektivitas tinggi jika dua atau lebih orang bisa mengelola tes dan kelompok yang sama. dilakukan disebuah lapangan empat persegi panjang dengan ukuran panjang dan lebar garis . control and agility. High-scoring indoor game that requires of the individual player extreme qualities of skill. dan te pencocokan karena sudah ada penilaian yang tersedia. Diperkuat oleh Hoy and Carter (1980) yang menyatakan bahwa basketball is a fast-moving. Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa tes yang baik apabila mencakup kriteria yang ada. Menurut Mylsidayu (2009) bolabasket adalah suatu olahraga beregu yang bertujuan untuk mendapatkan point dengan menggunakan teknik yang benar. artinya sebuah tes yang dapat diandalkan harus mempunyai hasil kurang lebih sama tanpa mempedulikan jumlah waktu yang diberikan. Konstruksi Tes Keterampilan Bolabasket (2002) reliabilitas adalah konsistensi tes. diskriminitas. Nitko menambahkan (1983) penilaian tes yang tidak konsisten dikarenakan perilaku testi/anak coba tidak stabil. atau bahan sintetis lainnya. The aim of each team is to score in the opponents basket and to prevent the other team from scoring. serta anak laki-laki dan perempuan bermain bersama. 2010). dan baik sekali.Apta Mylsidayu. Mini bolabasket khusus diciptakan untuk anak-anak berusia delapan tahun sampai tiga belas tahun agar mengenal olahraga. objektif. reliabel. baik. (2) Lapangan. dan objektif. juga membantu menyiapkan fisik yang ikut terli-bat dalam olahraga ini. Selain itu. Diskriminitas Menurut Ismaryati (2006) tes yang baik harus dapat membedakan kemampuan siswa sesuai dengan tingkat keterampilan dan kepandaian siswa sehingga dapat membedakan siswa yang berkemampuan jelek. Suatu regu yang telah mencetak angka terbanyak pada akhir waktu permainan menjadi pemenang. Menurut FIBA (2008) basket-ball is played by two (2) teams of five (5) players each. serta memperoleh hasil kira-kira sama.

disiplin dan menghormati orang lain (UNICEF. 2004). berlari. Menjelang umur 7 tahun. tingkat insulin. celana tidak terlalu pendek. Menurut Rumini & Sundari (2004) perkembangan keterampilan anak tidak dapat terlepas dari perkembangan koordinasi senso motorik. sekaligus untuk mengajarkan pentingnya aktivitas fisik secara teratur untuk kesehatan. Selain itu. anak dapat menggambar lebih rapih.37 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. olahraga tim yang terorganisasi. Sejalan dengan pendapat di atas. sekitar umur 2 tahun sampai 6 tahun. (3) Pakaian. dan permainan yang tidak terstruktur (Jago et al. Menurut Samples (2002) tujuan belajar harus lebih dari sekedar membuat siswa mampu memahami halhal mendasar karena siswa dari segala usia harus diizinkan untuk memanfaatkan seluruh daya dan kemampuan dari rancangan otak pikiran. Sepatu yang digunakan memiliki lapisan bagian dalam yang elastis dan lembut sehingga terasa nyaman di kaki. pada umur 8-10 tahun anak dapat menulis lebih kecil dan sempurna daripada sebelumnya. Menurut Lwin. dan mental meningkat.2 m. Jago et al. yaitu perkembangan kerjasama antara kemampuan indera dengan perkembangan motorik. tekanan darah. lompat-lompat. Sekolah dapat berfungsi sebagai tempat yang sangat baik untuk siswa melakukan kegiatan fisik seharihari. misalnya olahraga. Volume 1. dalam penelitian ini hanya akan memodifikasi peralatan bolabasket saja yaitu ukuran bola dan ring basket. Brockman et al. pemain di Indonesia menggunakan seragam kostum bolabasket yakni celana pendek dan baju tidak berlengan dengan nomor punggung 415. Aktivitas fisik anak-anak pada dasarnya kompleks. Nomor 1. Karakteristik Anak SD Masa kanak-kanak dimulai pada akhir masa bayi sampai saat anak matang secara sekual. tidak mendatangkan gangguan. setara orang dewasa. dan dengan pertumbuhan datang berbagai tingkat perkembangan fisik.75 m. garis tengah lingkaran ditengah lapangan 3. Mei 2014. toleransi. Aktivitas fisik secara teratur pada anak dihubungkan dengan massa tubuh yang rendah. Anak-anak senang bermain karena melalui bermain dapat belajar sosial dan keterampilan fisik. diameter ring basket 0. Saat latihan menggunakan pakaian yang aman (tidak terlalu longgar/sempit). dan untuk membangun keterampilan yang mendukung gaya hidup sehat.. seorang anak dengan kecerdasan fisik yang rendah mungkin takut dan tidak menyukai tugas yang dihadapi. ukuran papan pantul panjang x lebar: 1. Keterampilan anak pada akhir masa kanak-kanak berkembang menjadi lebih halus dan terkoordinir daripada masa sebelumnya. (2010) menyatakan bahwa anak-anak dapat melakukan kegiatan yang bermacam-macam dalam sehari. Masa kanak-kanak dibagi menjadi dua periode.6 m. yakni sekitar umur 2 tahun sampai umur 12 tahun. memanjat kemudian melompat dan berlari lagi. (4) Sepatu yang dikenakan adalah sepatu yang sesuai dan cocok untuk permukaan lapangan yang digunakan. tinggi ring basket 2. Pendidik memberi sebutan anak masa akhir kanak-kanak dengan masa sekolah karena sudah saatnya anak-anak memperoleh dasar-dasar pengetahuan.45 m. tidak mengganggu gerakan.8 m x 1. dan cepat menyerap keterampilan baru. 2010). anak dapat menguasai keterampilan yang kompleks. yaitu awal masa kanak-kanak. Kebanyakan anak mendapatkan aktivitas fisik lebih dari satu konteks sehingga memberikan manfaat sosial . dan akhir masa kanak-kanak sekitar umur 6-12 tahun (Rumini & Sundari. 32 . yaitu anak-anak yang lebih senang melakukan berbagai kegiatan fisik seperti bergerak. dan bahan pakaian sebaiknya terbuat dari katun sehingga dapat memperlancar penguapan keringat. (2011) menyatakan aktivitas fisik dalam bermain memiliki potensi untuk meningkatkan aktivitas fisik anak-anak serta mendukung perkembangan anak secara optimal. Sebaliknya. serta nyaman dan enak dipakai.46 lapangan 28 m x 15 m. Oleh sebab itu. Sekitar umur 10-12 tahun. Semua anak tumbuh. Berdasarkan penjelasan tentang peralatan dan perlengkapan permainan bolabasket di atas. dkk (2008) seorang anak dengan kemampuan fisik sampai potensi maksimal dapat menikmati berbagai bentuk aktivitas fisik. Pada umumnya anak-anak pada akhir masa kanak-kanak adalah siswa sekolah dasar. 2010:1). yang melibatkan berbagai macam kegiatan sekolah. guru/pendidik harus memberikan kesempatan kepada siswa sekolah dasar untuk melakukan kegiatan fisik sehingga dapat menggerakkan semua bagian tubuh.

4) mengembangkan perlawanan terhadap kelelahan. 5) mengetahui bagaimana rileks dan menggunakan masa istirahat (Yudanto. dan ketangkasan. 1997). Salah atu tugas guru penjas ialah mengembangkan kemampuan motorik anak. koordinasi. Selain itu. 1997). Salah satu kebutuhan aktivitas jasmani pada anak-anak melalui pendidikan jasmani. Keterampilan motorik yang telah disebutkan di atas dapat diperoleh melalui perencanaan gerakan (motor planning) dan belajar gerakan (motor learning) dimana keterampilan motorik dipengaruhi oleh banyak faktor seperti keseimbangan (balance). 3) anak laki-laki menguasai permainan kasar. An important principle of practice for elementary school children. keterampilan berpikir kritis. rather than passive. dan tungkai makin bertambah. Menurut Lily Djokosetio (2007) pendidikan jasmani bertujuan untuk meningkatkan kesegaran jasmani. Santrock (2002) menyatakan: “During middle and late childhood children’ motor development becomes much smoother and more coordinate than it was in early childhood. 10) tungkai mengalami masa pertumbuhan yang lebih kuat bila dibandingkan dengan bagian anggota atas. alasan anak-anak berpartisipasi dalam olahraga karena ingin 38 belajar keterampilan baru. therefore. 8) koordinasi makin baik. 2009). 9) badan lebih sehat dan kuat. 2005. secara umum sudah memiliki kemampuan dalam koordinasi dan kelincahan yang jauh lebih baik. 2005).Apta Mylsidayu. anak sudah dapat menentukan pilihannya akan cabang olahraga yang disukainya. Pada fase ini anak-anak memilih untuk mengkhususkan pada salah satu cabang olahraga yang dianggap mampu untuk dilakukan. adanya kerjasama. Konstruksi Tes Keterampilan Bolabasket dan kesehatan yang berbeda (Brockman. berada pada tahap kemampuan motorik siswa sekolah dasar yang dimiliki antara lain: 1) mengembangkan dasar bermain dan keterampilangerak (movement skill). 11) perlu diketahui bahwa ada perbedaan kekuatan otot dan keterampilan antara anak laki-laki dan putri. dan kesehatan berupa keterampilan motorik adalah pelajaran bolabasket yang diberikan pada kelas V dan VI. Aktivitas bermain pada anak-anak akan lebih banyak dilakukan dengan aktivitas jasmani. Karakteristik jasmani siswa sekolah dasar umur 10-12 tahun (kelas V dan VI) yang dimiliki antara lain: 1) pertumbuhan otot lengan. kekuatan. Anak mulai mencari atau menghindari aktivitas yang tidak disukainya (Yudanto. 2) mengembangkan endurance seperti perkembangan otot dan memperbaiki koordinasi. 7) perbedaan akibat jenis kelamin makin nyata. 2003). Oleh sebab itu. latihan dan kebugaran. pendidikan jasmani yang melibatkan komponen-komponen di atas akan merangsang bagian-bagian otak tertentu sehingga dapat meningkatkan kondisi fisik dan kondisi pembelajaran akademis. 6) waktu reaksi makin baik. Anak-anak juga sudah mulai bisa menilai kelebihan dan kekurangan yang dimiliknya. untuk kemudian memberikan bimbingan untuk penguasaan dasar keterampilan gerak atau teknik-teknik cabang-cabang olahraga (Sukintaka. olahraga. dan adanya tantangan untuk menang (Weinberg & Gould. dan aktivitas jasmani yang dikelola secara cermat merupakan salah satu usaha yang disengaja untuk mengubah keadaan anak. 2011). 5) kekuatan otot tidak menunjang pertumbuhannya. Selanjutnya. yang memfokuskan pada aspek pengembangan kebugaran jasmani. they gain greater control over their bodies and can sit and attend for longer period of time. tata aturan. As children move through the elementary school years. Sukintaka. menambah aktivitas yang intensif. dan kesehatan (penjaskes) di sekolah merupakan bagian integral dari sistem pendidikan secara menyeluruh. dan sebagainya. stabilitas emosional. disiplin. keterampilan sosial. Salah satu aktivitas jasmani pada pelajaran pendidikan jasmani. 2) ada kesadaran mengenai badannya. olahraga dan kesehatan. Pada umumnya. pendidikan jasmani mempunyai peranan penting untuk meningkatkan proses belajar dan daya ingat (learning and memory). 4) pertumbuhan tinggi dan berat badan tidak beda baik. kecepatan. Pelajaran bolabasket pada Sekolah Dasar merupakan salah satu olah- . is that they should be engaged in active. olahraga. activities”. Pada fase spesifikasi usia 10-13 tahun ini. penalaran dan tindakan moral melalui kegiatan fisik (Supriyadi. keterampilan motorik. olahraga itu menyenangkan. 3) memperbaiki kecepatan dan ketepatan. Pendidikan jasmani. Anak umur 11-12 tahun.

pivot. dan shooting karena ketiga teknik tersebut lebih dominan dan lebih besar sumbangannya dibandingkan dua teknik lainnya dalam permainan bolabasket. passing. Volume 1. Konstruksi tes keterampilan bolabasket untuk siswa sekolah dasar menggunakan model deksriptif prosedural di mana dalam konstruksi tes keterampilan bolabasket menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan sebuah produk. b. meningkatkan pengenalan akan bola. kemudian dilanjutkan kegiatan menganalisis teknikteknik keterampilan cabang olahraga yang dijadikan butir tes eksperimen. menyusun butir-butir instrumen berdasarkan indikator yang telah ditentukan untuk pengembangan masing-masing variabel. passing. keterampilan umum seperti menembak. membandingkannya dengan pengetahuan yang ada diliteratur. Teknik ini digunakan untuk membangun atau mengembangkan tes psikomotorik. menangkap bola. Tahap dasar yang harus dilakukan untuk konstruksi yaitu konseptualisasi masalah.46 raga yang menyenangkan yang membangun koordinasi tangan-mata-kaki. Selain itu. METODE Jenis penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (research and development) melalui survei dengan tes pengukuran. Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini berupa alat evaluasi tes keterampilan bolabasket untuk siswa sekolah dasar (yang disesuaikan bagi anak usia 10-12 tahun). Hasil studi lapangan menunjukkan bahwa tes keterampilan bolabasket siswa sekolah dasar ini terdiri atas teknik dasar bolabasket secara umum yakni tes dribble. dan uji coba produk. passing. Indikator tes keterampilan bolabasket terdiri atas dribble. maupun menembak ke ring basket. yaitu studi pustaka dan survei terhadap kondisi empirik penelitian. Setelah melakukan kajian teori kemudian melakukan survei lapangan untuk mengetahui kondisi nyata di lapangan sebagai tempat berlangsungnya aktivitas yang menjadi pusat perhatian peneliti. STO. Nomor 1. dan shooting. menggiring bola. Mei 2014. Prosedur Pengembangan Indikator Keterampilan Bolabasket a. digunakan dengan harapan dapat memperoleh instrumen yang valid dan reliabel dengan melibatkan para ahli dalam bidang olahraga khususnya ahli mengenai olahraga bolabasket. Adapun indikator tes keterampilan bolabasket untuk siswa sekolah dasar yang digunakan adalah dribble. AAHPER. peneliti merancang dan membuat tinggi ring basket yang sedikit diperpendek sesuai ukuran tubuh anak-anak Indonesia yang memiliki postur tubuh tidak terlalu tinggi seperti di negara-negara Barat. Kekuatan dari tes keterampilan bolabasket yang sudah ada adalah alat ukur sudah memenuhi syarat dan sahih.39 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. Penyusunan butir-butir tersebut disertai dengan penyusunan pelaksanaan atau prosedur pelaksanaan tes yang baku beserta . dan dapat dinikmati anak-anak. Jika keputusan dapat diterima maka pembuatan produk dapat dimulai dan apabila belum dapat diterima maka proses harus diulangi. Pengembangan prototipe Setelah model pengembangan berdasarkan studi pendahuluan ditetapkan. pembuatan produk. dan Johnson. membuat permainan bolabasket menjadi suatu kegiatan yang edukasional. 32 . Selanjutnya. dalam penelitian ini. Ukuran bola yang digunakan adalah bola ukuran 5 dengan tujuan agar anak-anak tidak mengalami kesulitan dalam hal melempar bola. Kelemahan dari tes-tes tersebut adalah tidak dapat digunakan oleh siswa sekolah dasar karena ring yang terlalu tinggi dan bola yang terlalu besar. Studi pendahuluan Studi pendahuluan dilakukan dalam dua bentuk. menganalisis masalah yang disusun dan potensi dari penelitian ini adalah salah satu model tes yang disusun belum pernah ada yang meneliti. dan footwork. Hasil studi pustaka menunjukkan bahwa Tes keterampilan bolabasket yang sudah ada mengacu pada tes keterampilan bolabasket menurut Lehten. shooting. Penelitian ini merupakan model penelitian yang bertujuan mengembangkan dan memvalidasi produk pendidikan dan pembelajaran untuk meningkatkan dan mengembangkan mutu pendidikan dan pembelajaran secara efektif. Oleh sebab itu.

Apta Mylsidayu, Konstruksi Tes Keterampilan Bolabasket

cara penilaian. Setelah penyusunan butir tes
selesai, dilanjutkan dengan penilaian expert
judgment terhadap indikator, susunan butirbutir tes per variabel, dan prosedur pelaksanaan tes yang baku.
Penilaian atau validasi dengan expert
judgment adalah untuk memeriksa isi instrumen secara sistematis serta mengevaluasi
relevansi dengan variabel yang ditentukan.
Hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh
mana instrumen yang digunakan dalam penelitian telah mencerminkan keseluruhan
aspek yang diukur. Expert judgment menggunakan tiga orang ahli yakni: 1) ahli dalam
permainan bolabasket; 2) ahli tes, pengukuran, dan evaluasi; 3) ahli metodologi penelitian. Kemudian merevisi kembali hasil telaah
dari expert judgment, teknik, dan literatur di
awal langkah pengembangan tes keterampilan bolabasket untuk siswa sekolah dasar.
c. Uji lapangan
Ada tiga tahap uji lapangan yang dilakukan secara berurutan dalam penelitian ini.
Pertama, preliminary field test (uji lapangan
awal), peneliti mencoba produk awal pada
satu sekolah dengan mencatat proses dan
hasil selama uji produk yang akan digunakan untuk bahan perbaikan prototipe model.
Kedua, main field test (uji lapangan utama).
Uji tahapan ini dilakukan secara berulangulang sesuai kebutuhan penelitian. Hasil uji
lapangan ini akan menjadi bahan untuk merevisi prototipe model sebelum menuju pada
tahap uji lapangan berikutnya. Ketiga,
operational field test (uji lapangan operasional), menggunakan desain eksperimen yang
me-nggunakan tes awal dan tes akhir. Hasil
uji eksperimen kemudian dianalisis nilai
efektivitas instrumen.
Tabel 2. Indikator Tes Keterampilan
Bolabasket Siswa Sekolah Dasar
Aspek yang
diukur
Keterampilan
bolabasket
untuk siswa
sekolah dasar

Indikator

No.
Metode/
butir sumber data

1. Dribble

1

2. Passing

2

3. Shooting

3

Analisis
teknik,
review
literatur, dan
expert
judgment

40

d. Diseminasi produk
Setelah melalui berbagai langkah tersebut maka dihasilkan tes keterampilan bermain bolabasket untuk siswa sekolah dasar.
Adapun indikator tes keterampilan bolabasket siswa sekolah dasar tersaji pada tabel 5.
Diseminasi produk hasil pengembangan
adalah tersusunnya sebuah norma penilaian
keterampilan bolabasket untuk siswa sekolah dasar.

HASIL
Pelajaran bolabasket sudah diajarkan di
kelas V dan VI sekolah dasar, hal ini tertuang dalam kurikulum 2004 yang dapat
dilihat pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tetapi secara keseluruhan
belum diajarkan oleh guru Penjas sekolah
dasar karena keterbatasan alat seperti ring
dan bolabasket, selain itu tes keterampilan
bolabasket di sekolah dasar juga belum
pernah dibuat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkonstruksi tes keterampilan bolabasket untuk
siswa sekolah dasar yang valid dan reliabel
berdasarkan indikator-indikator keterampilan
bolabasket. Penelitian ini bersifat penelitian
dan pengembangan karena mengembangkan tes keterampilan bolabasket yang sudah
ada. Peneliti mengambil beberapa model tes
yang sudah ada yang juga telah digunakan
pada peneliti-peneliti sebelumnya, yaitu tes
keterampilan bolabasket menurut Lehten,
STO, AAHPER, dan Johnson, selain penggabungan model tes yang sudah ada, peneliti juga menggunakan modifikasi tes yang
lain sesuai dengan kebutuhan komponen
keterampilan bolabasket.
Konstruksi tes keterampilan bolabasket
untuk siswa sekolah dasar yang telah dibuat
mengacu pada tes-tes sebelumnya, sedangkan untuk norma penilaian belum ada. Oleh
sebab itu, peneliti membuat norma tes sendiri dengan cara mengklasifikasi data yang
sudah ada yakni berdasarkan klasifikasi/
pembagian kelas dengan cara hasil nilai
terbesar dikrangi nilai terkecil kemudian dibagi jumlah klasifikasi yaitu lima, tetapi penelitian ini sifatnya belum final karena masih
menggunakan pedoman sendiri yang dalam
penelitian dan pengembangan ini masih dapat dikembangkan atau disempurnakan

41

JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN, Volume 1, Nomor 1, Mei 2014, 32 - 46

kembali. Tabel nilai skala besar untuk siswa
putra dan putri tersaji pada Tabel 3 dan 4.
Tabel 3. Nilai Skala Besar Tes
Keterampilan Bolabasket Untuk
Siswa Putra Sekolah Dasar.
Nilai
5
4
3
2
1

Shoo- Pasting
sing
9 – 10
< 20
7 – 8 15 – 19
5 – 6 10 – 14
3–4
5–9
0–2
0–4

Dribble
1
> 6,62
6,63 – 8,82
8,83 – 11,02
11,03 – 13,22
< 13,23

Dribble
2
9 – 10
7–8
5–6
3–4
0–2

Tabel 4. Nilai Skala Besar Tes Keterampilan
Bolabasket Untuk Siswa Putri
Sekolah Dasar
Nilai

Shooting

Passing

Dribble
1

Dribble
2

5
4
3
2
1

9 – 10
7–8
5–6
3–4
0–2

< 15
12 – 14
8 – 11
4–7
0–3

> 10,22
10,23 – 14,17
14,18 – 18,12
18,13 – 22,07
< 22,08

9 – 10
7–8
5–6
3–4
0–2

Untuk dapat mengetahui hasil data yang
didapat pada setiap komponen tes maka
dibuat tabel klasifikasi per item tes. Berikut
data hasil tes shoot putra yang disajikan
pada Tabel 5.
Tabel 5. Tes Shoot Putra
Interval
9 – 10
7–8
5–6
3–4
0–2
Total

Frekuensi
32
50
46
28
5
161

%
19,88
31,06
28,57
17,39
3,10
100

Keterangan dari data hasil shoot pada
uji besar adalah sebagai berikut: a) kategori
baik sekali (jumlah poin 9-10) berjumlah 32
siswa; b) kategori baik (jumlah poin 7-8)
berjumlah 50 siswa; c) kategori sedang (jumlah poin 5-6) berjumlah 46 siswa; d) kategori
kurang (jumlah poin 3-4) berjumlah 28 siswa;
e) kategori kurang sekali (jumlah poin 0-2)
berjumlah 5 siswa. Data hasil tes passing
putra disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6. Tes Passing Putra

[

Interval
20 - 24
15 – 19
10 – 14
5–9
0–4
total

Frekuensi
6
45
56
41
13
161

%
3,73
27,95
34,78
25,47
8,07
100

Keterangan dari data hasil dribble 1
pada uji besar adalah sebagai berikut: a)
kategori baik sekali (waktu tempuh antara
4,43-6,62 detik) berjumlah 22 siswa; b)
kategori baik (waktu tempuh antara 6,638,82 detik) berjumlah 80 siswa; c) kategori
sedang (waktu tempuh antara 8,83-11,02
detik) berjumlah 41 siswa; d) kategori kurang
(waktu tempuh antara 11,03-13,22 detik)
berjumlah14 siswa; e) kategori kurang sekali
(waktu tempuh antara 13,23-15,42 detik)
berjumlah 4 siswa. Data hasil tes dribble 2
putra tersaji pada Tabel 8.
Tabel 8. Tes Dribble 2 Putra
Interval
9 – 10
7–8
5–6
3–4
0–2
Total

Frekuensi
68
50
33
9
1
161

%
42,24
31,05
20,50
5,59
0,62
100

Keterangan dari data hasil dribble 2
pada uji besar adalah sebagai berikut: (a)
kategori baik sekali (jumlah point 9-10)
berjumlah 68 siswa; (b) kategori baik (jumlah
point 7-8) berjumlah 50 siswa; (c) kategori
sedang (jumlah point 5-6) berjumlah 33
siswa; (d) kategori kurang (jumlah point 3-4)
berjumlah 9 siswa; (e) kategori kurang sekali
(jumlah point 0-2) berjumlah 1 siswa. Data
hasil tes shoot putri tersaji pada Tabel 9.
Tabel 9. Tes Shoot Putri
Interval
15 – 17
12 – 14
8 – 11
4–7
0–3
Total

Frekuensi
15
23
46
48
28
160

%
9,37
14,38
28,75
30,00
17,50
100

Apta Mylsidayu, Konstruksi Tes Keterampilan Bolabasket

Keterangan dari data hasil shoot pada
uji besar adalah sebagai berikut: a) kategori
baik sekali (jumlah poin 9-10) berjumlah 15
siswa; b) kategori baik (jumlah poin 7-8) berjumlah 35 siswa; c) kategori sedang (jumlah
poin 5-6) berjumlah 62 siswa; d) kategori
kurang (jumlah poin 3-4) berjumlah 39 siswa;
e) kategori kurang sekali (jumlah poin 0-2)
berjumlah 9 siswa. Data hasil tes passing
putri tersaji pada Tabel 10.
Tabel 10. Tes Passing Putri
Interval
9 – 10
7–8
5–6
3–4
0–2
total

Frekuensi
15
35
62
39
9
160

%
9,37
21,88
38,75
24,37
5,63
100

Keterangan dari data hasil passing pada
uji besar adalah sebagai berikut: a) kategori
baik sekali (jumlah poin 15-17) berjumlah 15
siswa; (b) kategori baik (jumlah poin 12-14)
berjumlah 23 siswa; c) kategori sedang
(jumlah poin 8-11) berjumlah 46 siswa; d)
kategori kurang (jumlah poin 4-7) berjumlah
48 siswa; e) kategori kurang sekali (jumlah
poin 0-3) berjumlah 28 siswa. Data hasil tes
dribble 1 putri tersaji pada Tabel 11.
Tabel 11. Tes Dribble 1 Putri
Interval
6,28 – 10,22
10,23 – 14,17
14,18 – 18,12
18,13 – 22,07
22,08 – 26,02
Total

Frekuensi
79
62
17
1
1
160

%
49,37
38,75
10,62
0,63
0,63
100

Keterangan dari data hasil dribble 1
pada uji besar adalah sebagai berikut: a)
kategori baik sekali (waktu tempuh antara
6,28-10,22 detik) berjumlah 79 siswa; b)
kategori baik (waktu tempuh antara 10,2314,17 detik) berjumlah 62 siswa; c) kategori
sedang (waktu tempuh antara 14,18-18,12
detik) berjumlah 17 siswa; d) kategori kurang
(waktu tempuh antara 18,13-22,07 detik)
berjumlah 1 siswa; e) kategori kurang sekali
(waktu tempuh antara 22,08-26,02 detik)
berjumlah 1 siswa. Data hasil tes dribble 2
putri tersaji pada Tabel 12.

42

Tabel 12. Tes Dribble 2 Putri
Interval
9 – 10
7–8
5–6
3–4
0–2
Total

Frekuensi
63
52
27
18
0
160

%
39,37
32,50
16,88
11,25
0
100

Keterangan dari data hasil dribble 2
pada uji besar adalah sebagai berikut: a) kategori baik sekali (jumlah poin 9-10) berjumlah 63 siswa; b) kategori baik (jumlah poin 78) berjumlah 52 siswa; c) kategori sedang
(jumlah poin 5-6) berjumlah 27 siswa; d)
kategori kurang (jumlah poin 3-4) berjumlah
18 siswa; e) tidak ada siswa yang masuk
dalam kate-gori kurang sekali (jumlah poin 02).
Selanjutnya dibuat norma tes untuk anak
sekolah dasar putra dan putri (usia 10-12
tahun) untuk mengetahui hasil tes yang telah
dites. Satuan tes disamakan dengan menggunakan z score. Berikut hasil tes skala
besar tes keterampilan bolabasket untuk
siswa putra dan putri sekolah dasar berdasarkan z score tersaji pada Tabel 13 dan 14.
Tabel 13. Hasil Skala Besar Tes
Keterampilan Bolabasket untuk
Siswa Putra Sekolah Dasar
No.

Jumlah
Nilai

1
2
3
4
5

> 18
15 – 17
12 – 14
9 – 11
7–8

Jumlah
siswa
13
63
58
23
4

Klasifikasi
Sangat Baik (SB)
Baik (B)
Sedang (S)
Kurang (K)
Sangat Kurang (SK)

Tabel 14. Hasil Skala Besar Tes
Keterampilan Bolabasket untuk
Siswa Putri Sekolah Dasar
No.
Jumlah
Jumlah
Klasifikasi
Nilai
Siswa
1
> 18
7
Sangat Baik (SB)
2
15 – 17
66
Baik (B)
3
12 – 14
67
Sedang (S)
4
9 – 11
18
Kurang (K)
5
7–8
2
Sangat Kurang (SK)

Dari hasil norma tes uji besar yang
dibuat maka dapat diketahui pula hasil tes
keseluruhan yang dilakukan siswa dan siswi

Dalam konstruksi tes. 5. (e) kategori sangat kurang berjumlah 2 siswa. dan tinggi target passing ke tanah 40 cm dengan jarak testi 1. Klasifikasi putra dan putri masingmasing dibuat terpisah. pivot. Volume 1. peneliti mengacu pada model-model tes yang sudah ada dan pernah digunakan oleh peneliti lain. Dari hasil norma tes uji besar yang dibuat maka dapat diketahui pula hasil tes keseluruhan yang dilakukan siswa dan siswi dari 6 sekolah dasar dengan rincian sebagai berikut: (1) Kategori putra: (a) kategori sangat baik berjumlah 13 siswa. apabila keputusan dapat diterima maka pembuatan produk dapat dimulai dan apabila belum dapat diterima maka proses harus diulangi. (d) kategori kurang berjumlah 23 siswa. 32 . tes. 2) karakteristik putra dan putri berbeda. (e) sangat kurang berjumlah 4 siswa. serta mencari cara sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Sebuah kegiataan pengembangan dapat dilakukan apabila terdapat data hasil analisis kebutuhan berdasarkan kondisi lapangan. dan dribble Tahap dasar yang harus dilakukukan untuk konstruksi yaitu konseptualisasi masalah.43 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. Pengembangan tes keterampilan bolabasket menggunakan model deskriptif prosedural di mana tes keterampilan bolabasket untuk siswa sekolah dasar menggariskan langkahlangkah pelaksanaan penelitian dan pengembangan yang harus diikuti untuk menghasilkan sebuah produk. (d) kategori kurang berjumlah 18 siswa. Berdasarkan hasil data penelitian yang dilakukan siswa putra maupun putri pada ujicoba skala besar yang telah di z score ditemukan tidak ada perbedaan jumlah nilai skala. (b) kategori baik berjumlah 66 siswa. ahli dalam bidang evaluasi. Alat tes keterampilan bolabasket untuk siswa sekolah dasar mengacu pada alat-alat tes yang sudah ada dan pernah digunakan oleh peneliti lain. dan pengukuran olahraga. serta ahli dalam bidang metodologi penelitian. (c) kategori sedang berjumlah 67 siswa. pembuatan produk. sehingga peneliti membuat norma nilai tes sendiri dengan cara mengklasifikasikan data yang sudah ada agar dapat dijadikan pedoman. Mei 2014. Adapun teknik dasar yang paling banyak digunakan dalam permainan bolabasket adalah shoot. dan kesehatan (penjaskes). Tetapi. (b) kategori baik berjumlah 63 siswa. > 18 15 – 17 12 – 14 9 – 11 7–8 > 18 Sangat Baik (SB) Baik (B) Sedang (S) Kurang (K) Sangat Kurang (SK) Sangat Baik (SB) PEMBAHASAN Konstruksi tes keterampilan bolabasket untuk siswa sekolah dasar dimulai dengan melihat permasalahan-permasalahan faktual yang terjadi dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani. Nomor 1. dan (2) Kategori putri: (a) kategori sangat baik berjumlah 7 siswa. Adapun alat-alat yang digunakan adalah tinggi ring basket 2. Tabel 15. bola ukuran 5. Berikut norma skala besar tes keterampilan bolabasket untuk siswa putra dan putri sekolah dasar disajikan pada Tabel 15.5 m. Teknik dasar bolabasket terdiri atas dribble.5 meter yang dibuat berdasarkan tinggi ratarata anak. 2. dan uji coba produk. passing. shoot. Selanjutnya. dengan harapan memperoleh instrumen yang valid dan reliabel dengan melibatkan ahli dalam bidang olahraga khususnya ahli mengenai permainan bolabasket. Hasil data yang diolah oleh peneliti pada akhirnya menghasilkan suatu konstruksi tes keterampilan bolabasket untuk siswa sekolah dasar. 3) gerak anak putri . dan footwork. (c) kategori sedang berjumlah 58 siswa. Pemisahan norma tes dikarenakan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain: 1) kemampuan fisik putra dan putri berbeda. olahraga. Norma Skala Besar Tes Keterampilan Bolabasket untuk Siswa Putra dan Putri Sekolah Dasar Jumlah No Klasifikasi nilai 1. Berdasarkan deskripsi data dan hasil data maka diperoleh suatu pembahasan sebagai berikut. 1. selanjutnya mencari penyebab dan kendala dalam pembelajaran penjas dan latihan bolabasket.46 dari 6 sekolah dasar dengan rincian sebagai berikut ini. Teknik ini digunakan untuk membangun dan mengembangkan tes psikomotorik. untuk tes keterampilan bolabasket siswa sekolah dasar belum ditemukan norma nilai. 3. passing. 4.

Apta Mylsidayu, Konstruksi Tes Keterampilan Bolabasket

lebih terbatas dibandingkan putra. Setelah
hasil data diperoleh dan diolah, tidak ada
per-bedaan antara norma tes keterampilan
untuk siswa putra maupun putri karena
siswa kelas V dan VI sekolah dasar rata-rata
berumur 10-12 tahun, di mana pada umur
tersebut per-tumbuhan fisiologis anak masih
relatif sama, tes yang dibuat tidak membutuhkan power sehingga kemampuan fisik
antara putra dan putri tidak mempunyai
peranan yang besar dalam tes karena tes ini
hanyalah tes keterampilan bukan tes fisik.
Model tes dan norma tes yang dihasilkan berfungsi untuk mempermudah penilaian keterampilan siswa sekolah dasar. Tetapi
ada beberapa kelemahan dalam penelitian
ini antara lain penelitian ini hanya menggunakan beberapa komponen keterampilan
saja sehingga belum menggambarkan suatu
penelitian yang lengkap dalam permainan
bola-basket, tetapi sudah dapat menjadi
syarat minimal dalam bermain bolabasket
karena disesuaikan dengan kebutuhan keterampilan bermain bolabasket dengan mengambil teknik dominan yang digunakan saat
bermain yaitu shoot, passing, dan dribble.
Tes keterampilan hanya menggunakan tiga
teknik tersebut karena memiliki sumbangan
yang lebih besar dibandingkan dengan dua
teknik lainnya (pivot dan footwork).
Berdasarkan hasil penelitian, tes passing
memiliki tingkat kesulitan yang paling rendah
karena anak hanya melakukan gerakan satu
arah dan teknik yang digunakan tidak membutuhkan koordinasi yang kompleks, anak
hanya memantul-mantulkan bola ke dinding
dengan posisi diam. Tes dribble memiliki
tingkat kesulitan sedang karena membutuhkan koordinasi tangan-mata-kaki saat melakukan dribble memasukkan bola ke dalam
lingkaran sambil berlari, anak harus menyeimbangkan antara kecepatan dan koordinasi,
dan tenaga yang dibutuhkan tidak terlalu
besar. Selanjutnya, tes shoot memiliki tingkat kesulitan paling tinggi karena anak
membutuhkan koordinasi antara tanganmata-kaki dan ball feeling yang baik untuk
memasukkan bola ke dalam ring basket,
serta anak harus dapat mengatur tenaga
saat melakukan tembakan karena ring
basket tanpa dilengkapi papan pantul.
Adapun keunggulan produk ini adalah
untuk mempermudah para guru sekolah
dasar dalam pemberian nilai keterampilan

44

bolabasket pada umumnya, dan untuk mempermudah dalam penelusuran/pemilihan calon bibit atlet pada khususnya. Selain itu,
dari segi pembuatan alat tidak terlalu sulit
dan alat bolabasket yang dibuat juga dapat
digunakan oleh anak-anak kelas I-IV
Sekolah Dasar (10 tahun ke bawah).
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah
diuraikan pada bab pembahasan, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa telah disusun
suatu konstruksi keterampilan bolabasket
untuk siswa sekolah dasar dengan hasil
valid dan reliabel pada kontruksi tes yang
telah disusun sehingga konstruksi tes tersebut dapat digunakan sebagai alat tes. Tes
layak di gunakan di Indonesia karena telah
memenuhi syarat valid, reliabel, dan objektif.
Kontruksi tes terdiri atas 3 bentuk tes
keterampilan dan didukung oleh pengukuran
tinggi badan, dan berat badan. Adapun
konstruksi tes keterampilan bolabasket untuk
siswa sekolah dasar antara lain: 1) tes
shoot; 2) tes passing; 3) tes dribble (1 dan
2). Data dinyatakan homogen karena
variansi pada tiap kelompok data memiliki
signifikasi > 0,05.
Desiminasi penelitian adalah membuat
norma nilai yang berbentuk klasifikasi dan
norma tes yang digunakan sebagai tes keterampilan bolabasket untuk siswa sekolah dasar. Tidak ada perbedaan antara norma tes
keterampilan untuk siswa putra maupun putri
sekolah dasar karena pertumbuhan fisiologis
antara siswa putra dan putri masih relatif
sama dan kekuatan yang dibutuhkan dalam
tes keterampilan ini tidak memerlukan power
yang besar sebab tinggi ring basket dan
ukuran bola sudah dimodifikasi sesuai anatomi anak. Adapun norma yang dihasilkan
dapat dilihat pada Tabel 16.

45

JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN, Volume 1, Nomor 1, Mei 2014, 32 - 46

Tabel 16. Norma Skala Besar Tes
Keterampilan Bolabasket Untuk
Siswa Putra dan Putri Sekolah
Dasar
No
1.
2.
3.
4.
5.
1.

Jumlah
nilai
> 18
15 – 17
12 – 14
9 – 11
7–8
> 18

Klasifikasi
Sangat Baik (SB)
Baik (B)
Sedang (S)
Kurang (K)
Sangat Kurang (SK)
Sangat Baik (SB)

DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, N. 2007. Permainan Bolabasket. Solo:
Era Intermedia.
Aryanto, B. 1995. Adaptasi Tes Keterampilan
Bolabasket AAHPERD 1984 Bagi
Pemain Kelas 1 SMTP Putra di
Kotamadya
Yogyakarta.
(Skripsi).
Yogyakarta: FIK UNY.
Azwar, S. 2008. Reliabilitas dan Validitas.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.
Bompa, T.O. 1994. Theory and Methodologi of
Training
(terjemahan).
Bandung:
Program Pascasarjana Universitas
Padjadjaran.
Borg, W.R. & Gall, M.D. 1983. Educational
Research: An Introduction. Fourth
edition. New York: Longman.
Brockman, R. et al. 2011. What Is The Meaning
And Nature Of Active Play for Today’s
Children In The UK? International journal
of behavioral nutrition and phyical
activity. Diambil pada tanggal 17 Maret
2011,
dari
http://www.ijbnpa.org/
content/8/1/15.
Clark, W. 2008. Kid’s Sport. Canadian Social
Trends, Article No.11-008-X, diambil
pada tanggal 10 Maret 2011, dari
www.ststcan.gc.ca/pub/11-008x/2008001/article/10573-eng.pdf.
Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004; Standar
Kompetensi Matapelajaran Pendidikan
Jasmani SD dan MI. Jakarta: Balitbang
Depdiknas.
Faruq, M.M. 2009. Meningkatkan Kebugaran
Jasmani Melalui Permainan Dan
Olahraga Bolabasket. Jakarta: Grasindo.

FIBA Oceania. 2010. Mini-basketball Coach-ing
Manual. Australia: FIBA Oceania.
FIBA. 2008. Official basketball rules 2008.
Beijing: FIBA Central Board.
Gufron, A. dkk. 2007. Panduan penelitian dan
pengembangan; bidang pendidikan dan
pembelajaran. Yogyakarta: Lemlit UNY.
Hoy, L. & Carter, C.A. 1980. Tackle Bas-ketball.
London: Stanley Paul & Co.Ltd.
Ismaryati. 2006. Tes Pengukuran Olahraga.
Surakarta: Sebelas Maret University
Press.
Jago, R. et al. 2010. Physical Activity and
Sedentary Behaviour Typologies of 1011 Year Olds. International journal of
behavioral nutrition and physical activity.
Diambil pada tanggal 17 Maret 2011,
dari http://www.ijbnpa.org/content/7/1/59.
Jeremiah, M. 1943. Coaching Basket-ball: Ten
Winning Concepts. USA: John Wiley &
Sons, Inc.
Kosasih, D. 2008. Fundamental basket-ball: first
step to win. Semarang: CV. Elwas
Offset.
Kosasih, E. 1985. Olahraga (teknik dan program
latihan). Jakarta: Akademika Pressindo.
Lily Djokosetio S. 2007. Perkembangan Otak
dan Kesulitan Belajar pada Anak.
Jakarta: UI-Press.
Lumintuarso, R. 2004. Pedoman Penyelenggaraan Festival Olahraga Anak.
Jakarta: Direktorat Jendral Olahraga dan
Depdiknas.
Lwin, May, Adam Khoo, Kenneth Lyen, Caroline
Sim. (2008). How to multiplay your
child’s intelligence: a practical guide for
parents of seven years olds and below.
(Christine Sujana. Terjemahan). Indonesia: PT Macanan Jaya Cemerlang. Buku
asli diterbitkan tahun 2003.
Mackenzie, B. 2005. 101 Performance
Evaluation Tests. London: Electric Word
plc.
Mehrens, W.A. & Lehmann, I.J. 1973.
Measurement and Evaluation in
Education and Psychology. USA: Holt,
Rinehart and Wiston, Inc.
Miller, D.K. 2002. Measurement by the Physical
Educator.
USA:
McGraw-Hill
Companies.

Apta Mylsidayu, Konstruksi Tes Keterampilan Bolabasket

Muktiani, N.R. 2008. Pengembangan Multimedia
Interaktif
untuk
Pembelajaran
Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan
Kesehatan SMA. (Tesis). Yogyakarta:
PPs UNY.
Mylsidayu, A. 2009. Efektivitas Implementasi
Teknik Pivot Dalam Pertandingan Bolabasket Putri LIBAMA Nasional 2008.
(Skripsi). Yogyakarta: FIK UNY.
Nitko, A.J. 1983. Educational tests and
measurement an introduction. USA:
Harcourt Brace Jovanovich, Inc.
Nurrochmah, S. 2009. Standart test skills
development for athletes basketball
beginners, International conference on
sport, hal. 277-283.
Rachman, H.A. 2007. Pengembangan Alat
Evaluasi Keterampilan Bermain Softball
Berbasis Authentic Assessment. Majalah
Ilmiah Olahraga, volume 13, Nomor 3,
hal. 275-296.
Rumini, S., & Sundari, S. 2004. Perkembangan
Anak dan Remaja. Jakarta: PT Rineka
Cipta.
Samples, Bob. 2002. Revolusi belajar untuk
anak: Panduan belajar sambil bermain
untuk anak membuka pikiran anak-anak
anda. (Terjemahan Rahmani Astuti). TT.
(Buku Asli diterbitkan TT).
Santrock, J.W. 2002. Life-span Develop-ment.
New York: The McGraw-Hill Companies.
Sleap, M. 1984. Mini sport (Second ed.).
England:
Heinemann
Educational
Books.
Sports Coach UK. 2003. How to coach children
in sport. UK: Sports Coach UK.
Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif
Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta.
Sukamti, E.R.. 2004. Diktat Perkem-bangan
Motorik. Yogyakarta: PKO FIK UNY.
Sulistiono, A.A. 2003. Penyusunan Tes
Keterampilan Bermain Bolabasket Usia
Yunior. (Tesis). Yogyakarta: PPs UNY.
Sumiyarsono,
D.
2002.
Keterampilan
Bolabasket. Yogyakarta: FIK UNY.
Syafei, S. 2002. Bagaimana Anda Men-didik
Anak. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Zainul, A. & Nasution, N. 2005. Penilaian Hasil
Belajar. Jakarta: PAU-PPAI-UT.

46

Sukadiyanto. 2005. Pengantar Teori dan
Metodologi Melatih Fisik. Yogyakarta:
PKO FIK UNY.
Sukintaka. 1997. Teori bermain. Yogyakarta:
FPOK-IKIP.
Sukintaka, Rijadi, T., dan Suprijo, B. 1979.
Permainan dan Metodik; Buku II.
Jakarta: Tarate Bandung.
Supriyadi. 2009. Development of social skills
based mini basketball game model to
improve social skills motor and physical
fitness in elementary schools age,
International conference on sport, hal.
112-120.
Suyanto. 2000. Keluarga, kunci sukses anak
dalam pentingnya komunikasi Kultural
Anak Indonesia (12-13). Yogyakarta: PT
Kompas Media Nusantara.
UNICEF. 2010. Protecting Children From
Violence In Sport. Italy: ABC Tipografia
srl.
Weinberg, R.S. & Gould, D. 2003. Foundation of
Sport and Exercise Psychology. USA:
Human Kinetics.
Wissel, H. 1996. Basketball Steps to Succes
(Bagus Pribadi. Terjemahan). Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada. Buku asli
diterbitkan Tahun 1994.
Yudanto. 2005. Pengembangan gerak dasar lari
dan lompat melalui pendekatan bermain
di sekolah dasar. Jurnal Pendidikan
Jasmani Indonesia, Volume 3, Nomor 1,
hal. 70.
Zaifbio. 2009. Ranah penilaian kognitif, afektif,
dan psikomotorik (online). Diambil pada
tanggal 8 Juni 2010, dari http://
zaifbio.wordpress.com/2009/11/15/ranah
-penilaian-kognitif-afektif-danpsikomotorik/.
.

juga termasuk cabang olahraga yang populer dan digemari oleh semua lapisan masyarakat. Hasil uji perbedaan antara kedua kelompok tersebut diperoleh t hitung sebesar 5. passing. 1991:1).PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA MENGAJAR BOLA LUNAK TERHADAP HASIL BELAJAR KETERAMPILAN PASSING BOLAVOLI PADA SISWA PUTRA KELAS I SMP Agus Harsoyo. Pembinaan sebaiknya dilaksanakan terutama di perkumpulanperkumpulan dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Teknik sampling yang digunakan adalah proporsional random sampling. Menurut PBVSI (1995:66-77) “teknik-teknik dasar permainan bolavoli meliputi: 1) servis. 1995:25) “pretasi prima akan tercapai apabila pemain sejak usia dini dibina secara ilmiah. Untuk mencapai prestasi bolavoli perlu adanya latihan yang dilakukan sejak usia dini.com Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh penggunaan media mengajar bola lunak dengan bola standar terhadap hasil belajar keterampilan passing bolavoli pada siswa putra kelas I Sekolah Menengah Pertama (SMP). 2) passing bawah. dan minat atau perhatian terhadap bolavoli. sportivetas. Penelitian ini mengunakan metode eksperimen dengan rancangan “matched by subject design’’. kegiatan belajar mengajar. 3) passing atas. Bolavoli merupakan salah satu cabang olahraga yang berkembang baik di Indonesia. 2) teknik dasar benar. dimana proporsi sampel penelitian adalah 20% dari jumlah populasi tiap-tiap kelas.Teknik analisis menggunakan uji “t” dengan taraf signifikansi 5%. belajar dan mengajar memerlukan perencanaan yang seksama. Belajar dan mengajar terjadi pada saat berlangsungnya interaksi antara guru dengan siswa untuk mencapai tujuan pengajaran.76%. Pada tahap berikutnya adalah melaksanakan rencana tersebut dalam bentuk tindakan atau praktik mengajar.87%. meningkat dan berkesinambungan se-lama kurang lebih 10 tahun. kontinyu. Metode mengajar yang baik adalah metode yang dapat menumbuhkan kegiatan belajar siswa. 3) pembinaan mental terutama disiplin. kemampuan ini membekali guru dalam melaksanakan proses tugas dan tanggung jawabnya sebagai pengajar. 2) Penggunaan bola lunak lebih baik dibanding dengan bola standar terhadap hasil belajar keterampilan passing bolavoli.com Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta Email: saptakunta_p@yahoo. Sapta Kunta Purnama. Untuk melaksanakan rencana kegiatan belajar mengajar harus memilih metode yang baik dan tepat.209 > t tabel =1. Sasaran yang ditekankan oleh PBVSI pada pembinaan di Sekolah Menengah adalah: 1) pembinaan fisik umum dan fisik khusus. bolavoli. 4) umpan. Penelitian menyimpulkan bahwa: 1) Terdapat perbedaan pengaruh penggunaan media mengajar bola lunak dengan bola standar terhadap hasil belajar keterampilan passing bolavoli. bertahap.76. SMA Negeri 2 Sukoharjo Email: agusharsoyo73@gmail. Sebagai proses. bola lunak. Salah satu kemampuan dasar yang harus dimiliki guru adalah kemampuan dalam merencanakan dan melaksanakan proses belajar mengajar. yaitu “mengkoordinasikan unsur-unsur tujuan. 47 . Menurut Persatuan Bolavoli Seluruh Indonesia (PBVSI. Kata kunci: media mengajar. Persentase peningkatan pada kelompok menggunakan bola lunak memiliki peningkatan sebesar 27. bahan pengajaran. Teknik pengumpulan data dengan tes passing atas dan tes passing bawah bolavoli. sedangkan dengan bola standar peningkatan sebesar 16. metode dan alat bantu mengajar serta penilaian/evaluasi” (Sudjana. Penguasaan teknik dasar yang benar merupakan salah satu sasaran pembinaan pada tahap anak Sekolah Menengah.

Pembinaan bolavoli di SMP seperti diharapkan PBVSI akan lebih efektif bila dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler. Dengan mempergunakan tinggi jaring yang lebih rendah dan berat bola yang lebih ringan. yang disebut juga bolavoli pasir (beach volleyball/sand volleyball). oleh sebab itu menurut Lutan (1988) perlu upaya pemecahan sebagai berikut: 1) mengubah atau mebola lunak peralatan yang dipakai. Salah satu faktor kondisi eksternal ini adalah peralatan. 2) Bolavoli sistem Timur Jauh (nine man system). Kualitas serangan tergantung pada penguasaan para pemain. karenanya perlu ditelusuri faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar passing. Volume 1.” Dari keenam teknik dasar tersebut teknik passing yang terdiri dari passing atas dan passing bawah merupakan keterampilan yang dasar dan penting dalam permainan bolavoli (PBVSI. Pemilihan cabang ini oleh guru pendidikan jasmani sekolah tersebut didasarkan pada beberapa alasan: 1) bolavoli merupakan olahraga yang populer di masyarakat dan mengundang minat banyak siswa. bola dapat dibola lunak (diturunkan) beratnya dari ukuran standar dan agak lebih besar ukurannya sehingga para siswa dapat menguasai teknik dasar bolavoli dengan mudah. Kondisi eksternal seperti peralatan memberikan pengaruh yang dominan terhadap proses belajar (Lutan. Serangan dalam permainan bolavoli selalu diawali dengan passing. Suatu pengajaraan dapat dikatakan efektif apabila proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pengajaran dan tujuan pendidikan. 1995:75). 2) defisiensi dalam kondisi atau kesiapan seperti kekuatan belum cukup. dan 2) kondisi eksternal. 4) Bolavoli pantai.48 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. Peralatan yang dibutuhkan dalam permainan bolavoli adalah bola dan jaring (net). pada umumnya harus mempelajari dan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi penguasaan ketrampilan tersebut. Passing merupakan keterampilan minimal agar permainan bolavoli dapat dilakukan. 5) Bolavoli lunak (soft volleyball) Bola lunak Sarana Belajar Mengajar Olahraga Bola lunak sarana belajar mengajar olahraga adalah usaha atau cara yang dilakukan dalam rangka aktivitas pengajaran guna mencapai tujuan pengajaran olahraga. 2) melakukan latihan dalam kondisi yang lebih mudah. Mei 2014. Untuk mengajarkan bolavoli di SMP misalnya. Perasaan takut mengalami sakit atau cedera merupakan penghambat dalam proses penguasan teknik. 2) kelengkapannya murah hanya membutuhkan fasilitas dan sarana yang sederhana.55 5) semes. Passing merupakan gerakan yang sederhana namun sulit untuk dipelajari. lebih-lebih untuk siswa yang baru mulai latihan. Kondisi eksternal mencakup faktor-faktor yang terdapat di luar individu yang memberikan pengaruh terhadap penampilan gerak. menurut Persatuan Bolavoli Seluruh Indonesia (2009:2) adalah: 1) Bolavoli internasional. 3) Bolavoli mini. Nomor 1. 47 . Lutan (1988) menjelaskan bahwa. Kondisi internal mencakup faktorfaktor yang terdapat pada individu. Mengandalkan intrakurikuler saja sangat sulit untuk memperoleh penguasaan keterampilan mengingat jam pelajaran yang terbatas. yang disebut juga bolavoli gedung/indoor. 1988). Jenis Permainan Bolavoli Jenis permainan bolavoli yang sekarang dikembangkan di Indonesia. 3) untuk nama baik sekolah dimana cabang bolavoli merupakan cabang olahraga prioritas dalam peraihan medali pada Pekan Olahraga dan Seni dan Pekan Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia yang diselenggarakan setiap tahun. faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar motorik adalah: 1) kondisi internal. dan 6) bendungan (blok). Usaha untuk menguasai suatu ketrampilan motorik. atau atribut lain yang membedakan seseorang dengan lainya. Beberapa alasan kegagalan pelaksanaan dalam proses belajar antara lain: 1) perasaan takut mengalami sakit atau cidera. SMP Negeri 2 Kartasura telah mendukung program pembinaan PBVSI dengan menggalakkan kegiatan ekstrakurikuler bolavoli. Pengajaran yang efektif membutuhkan terjadinya instruksi yang harmonis semua faktor yang terlibat dalam kegiatan belajar baik secara langsung maupun tidak . kemungkinan besar permainan lebih menarik karena siswa lebih berhasil melakukan teknik-teknik dasar permaian bolavoli. jaring dapat diturunkan dari ukuran standar. selain itu teknik ini merupakan dasar bagi pelaksanaan suatu serangan.

Di dalam pendidikan jasmani dan olahraga gerak manusia dimanipulasi dalam belajar gerak. ukuran fisik. latar belakang pengalaman. Untuk memenuhi harapan tersebut bola dibuat sedemikian rupa.Agus Harsoyo & Sapta Kunta P. sikap jenis kelamin. Media Bola Lunak Dengan menggunakan bola lunak pada prinsipnya siswa merasa lebih nyaman dan mudah untuk melakukan passing bawah maupun passing atas. usia. Untuk menyajikan seperangkat kegiatan pengajaran yang bertujuan untuk tercapainya tujuan yang diinginkan. bola ukuran lebih besar sehingga pantulan yang dihasilkan mudah diarahkan. yaitu usaha atau cara yang dilakukan dalam rangka aktivitas pengajaran guna mencapai tujuan pengajaran passing bolavoli. cepat dan harmonis yang tak mungkin untuk disederhanakan lagi seperti pada gerakan yang bertujuan praktis karena meliputi kegiatan yang sangat berbedabeda.” Menurut Singer (1980:9) “belajar gerak adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap dalam penampilan atau potensi tingkah laku yang merupakan hasil balajar atau pengalaman dalam situasi ke arah yang lebih baik. kapabilitas. 3) law of effect” (Oxendine. “1) law of readiness. Asumsi dasar Thorndike adalah asosiasi antara kesan yang diperoleh alat indera dan impuls untuk berbuat (respon). dan 3) faktor situasi meliputi situasi alami dan situasi sosial. Dalam penelitian ini dilaksanakan bola lunak sarana belajar mengajar passing bolavoli. Asosiasi kedua elemen tersebut dikenal sebagai “koneksi”. 1984). Yang dimaksud dengan keterampilan menurut Singer (1980) 49 adalah gerak otot atau gerakan tubuh untuk mensukseskan pelaksanaan aktivitas yang diinginkan. emosi. Hampir sama dengan itu Schmidt (1988) menjelaskan bahwa belajar motorik adalah suatu proses perubahan merespon yang relatif permanen sebagai akibat dari latihan dan pengalaman. Untuk itu guru harus memilih metode mengajar yang tepat dan dapat memberikan peluang untuk terjadinya proses belajar mengajar secara efektif dalam kegiatan instruksional. salah satunya adalah mebola lunak sarana mengajar yang mengacu kepada penemuan yang terarah dan pemecahan masalah. 2) law of exercise. yaitu . Beberapa hukum yang berpengaruh dalam belajar telah dirumuskan oleh Thorndike. yaitu untuk tujuan peningkatan kualitas gerak tubuh. Law of readiness atau hukum kesiapan menyatakan bahwa belajar akan berlangsung paling efektif bila siswa yang bersangkutan telah siap untuk menyesusaikan diri dengan . 2) faktor personal meliputi persepsi.. Dal Monte seperti yang dikutip Subroto (1975:3) mendefinisikan ketrampilan sebagai kemampuan melakukan gerak secara tepat.jadi kegiatan pengajaran dengan sendirinya harus memperhatikan faktor-faktor internal yang merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam menentukan metode mengajar. 1975). ketajaman berfikir. Proses dan hasil belajar keterampilan gerak dipengaruhi oleh beberapa faktor. Thorndike dalam Oxendine (1984) memandang bahwa penguasaan ketrampilan memerlukan pertautan antara stimulus dan respon yang serasi. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap proses belajar ketrampilan gerak dijelaskan oleh Singer (1980) sebagai berikut: 1) faktor proses belajar. antara lain: bola lebih ringan sehingga tidak menimbulkan rasa sakit saat di-passing. Metode mengajar yang tepat ditentukan berdasarkan suatu analisis terhadap hal-hal tertentu. Pengaruh Penggunaan Media Mengajar Bola Lunak langsung. Menurut Sugiyanto dan Sudjarwo (1991:232) dikemukakan bahwa “belajar gerak merupakan salah satu bentuk belajar yang mempunyai penekanan pada sesuatu yang spesifik.” Salah satu teori yang termasuk ke dalam kelompok teori asosiasi stimulus respon dan paling populer dalam belajar gerak adalah “teori Koneksionisme Thorndike”. Sedangkan belajar motorik adalah proses perubahan atau bola lunak individu sebagai hasil timbal balik antara latihan kondisi lingkungan (Drowatzky. Belajar keterampilan gerak olahraga tidak terlepas dari proses pengajaran gerak atau keterampilan motorik. 1980). motivasi. Belajar Keterampilan Passing Bolavoli Belajar adalah suatu perubahan penampilan atau perilaku potensial yang relatif permanen sebagai hasil dari latihan dan pengalaman masa lalu terhadap situasi tugas tertentu (Singer. Dengan demikian diharapkan teknik dasar yang paling penting dalam bolavoli yaitu passing lebih mudah dikuasai siswa SMP. harga bola lebih murah daripada bola standar sehingga dapat memenuhi rasio kebutuhan bola dengan jumlah siswa.

Belajar akan lancar jika materi yang disajikan cocok dengan kebutuhan individu. Sebaliknya individu akan terganggu dan tidak tertarik bila belum siap. 1988).55 stimulus dan telah siap untuk memberikan respon. dimulai dari tugas yan mudah hingga tugas yang sulit. Namun latihan tersebut harus bermakna dan mempunyai konsep yang jelas tentang apa yang harus dilakukan. Implikasi dari hukum pengaruh ini menurut Lutan (1988) antara lain: guru menyiapkan rangkaian urutan materi yang tepat agar pelaksanaan latihan dapat dilakukan siswa dengan puas. Perubahan perilaku itu disebabkan karena siswa aktif dan memberikan respon terhadap seperangkat tugas sebagai stimulus. rasa sakit. Koneksi antara stimulus respon akan diperkuat jika dialami penguatan yang menyenangkan. dua diantaranya perlu mendapat perhatian dalam belajar motorik yaitu: 1) Knowlegde of Result (KR) atau pengetahuan tentang hasil. Jika suatu respon diikuti oleh pengalaman yang tidak menyenangkan.1992). Salah satu prinsip belajar mengajar motorik yang berkaitan dengan penguatan koneksi antara stimulus respon adalah “umpan balik”. jalur antara situasi dan tindakan akan lebih baik dan lebih permanen. Ditambah bahwa. cedera. dan 2) Knowlegde of Performance (KP) atau pe-ngetahuan penampilan (Schmidt. Mei 2014. Diantara bentuk-bentuk umpan balik. Sedang Bourne (1966) mendefinisikan umpan balik sebagai sebuah sinyal yang terjadi setelah atau pada saat respon berlangsung. Hukum tersebut dapat diartikan bahwa individu akan belajar dengan cepat dan efektif apabila ia telah siaga atau siap. irama gerak. Volume 1. Untuk itu beberapa faktor kendala bagi siswa harus diantisipasi seperti kebosanan. Salah satu yang mempengaruhi perubahan tingkah laku adalah karena adanya umpan balik. agar penguasaan keterampilan dapat dicapai. 1988). 47 . Pengetahuan tentang hasil (KR) ialah informasi yang berkenaan dengan hasil dari suatu gerakan dikaitkan dengan tujuan yang ingin dicapai. berlatih. Koneksi akan menjadi lemah bila latihan tidak diteruskan. Sependapat dengan Lutan. Inti dari hukum latihan adalah penguatan-penguatan yang dilakukan melalui latihan akan membuat belajar semakin dikuasai. Nomor 1. lebih terampil dan membuat kinerja lebih baik. umpan balik adalah pengetahuan yang diterima tentang sesuatu perbuatan atau respons. . Faktor . tepat tidaknya. Sinyal tersebut menyampaikan tanda-tanda tentang benar salahnya. dan lain-lain. Menurut Ateng (1992:42). Kunci utama untuk penguasaan keterampilan terletak pada kegiatan yang terus menerus dengan penuh ketekunan. belajar akan berhasil dengan berbuat. Law of effect atau hukum pengaruh menyatakan bahwa penguatan atau melemahnya suatu koneksi merupakan hasil kon- sekuensi. Tujuan kegiatan belajar pada dasarnya adalah perubahan perilaku pada diri siswa. Agar kepuasan siswa tercapai urutan materi hendaknya disajikan secara sistematis. mengurangi pemakaian energi. yakni telah matang dan telah ada kebutuhan untuk itu. situasi yang sama akan terjadi kembali. Karena itu istilah penguatan disini berarti respon tertentu akan diberikan jika. tentang hukum latihan menyatakan bahwa latihan akan memperbaiki koordinasi. cukup tidaknya respon tersebut. koneksi antara stimulus-respon menjadi lemah. Law exercise atau hukum latihan menyatakan bahwa mengulang-ulang respon tertentu sampai beberapa kali akan memperkuat koneksi antara stimulus dan respons. Semakin banyak frekuensi pengulangan semakin mendekati penguasaan gerak. Pertautan yang erat ini akan dikembangkan dan diperkuat melalui pengulangan yang memadai jumlahnya. agar kemauan siswa untuk terus berjuang melaksanakan tugas tidak terhalangi. Sebagai akibat latihan.50 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. Umpan balik tentang hasil sering dianggap sebagai komponen hadiah atau faktor penguat (reinforcer). Ateng (1992) menambahkan bahwa setiap usaha dalam belajar pendidikan jasmani harus dibuat agar setiap orang merasa berhasil dan mengalami kesenangan dan kepuasan. atau mulai tugas yang sederhana hingga tugas yang kompleks (lutan. Menurut Oxendine (1984). Sinyal yang terjadi setelah atau pada saat respon berlangsung. Semakin individu matang mendekati kesiagaan semakin memuaskan pula aktivitas yang dilakukan. Implikasi dari hukum latihan ini adalah “pelaksanan driil atau latihan berulang-ulang akan menjamin tercapainya tujuan proses belajar” (Lutan.

akan mudah dilupakan oleh seseorang dari ingatan tingkah lakunya. Pengaruh Penggunaan Media Mengajar Bola Lunak penguat (reinforcer) merupakan komponen yang penting dalam memahami perilaku seseorang. Suatu respon pada mulanya ada kelangsungan. Beberapa konsep yang layak diaprisiasikan ke dalam teori belajar gerak antara lain: 1) penguatan positif. Exctintion atau pemadaman adalah suatu gejala melemahnya hubungan antara stimulus dan respon. hasilnya seringkali gagal dan menyebabkan rasa tidak puas pada diri siswa. Dengan demikian maka padamlah hubungan antara stimulus respon. Penguatan negatif adalah suatu hasil yang dapat merubah kekuatan-kekuatan perhubungan antara respon dan stimulus yang menghasilkannya. 2) penguatan negatif. memori jangka pendek (STM). Proses penyimpanan informasi ke dalam kotak-kotak memori digambarkan Schmidt seperti Gambar 1. (Schmidt. frekuensinya berkurang dan tidak efektif. Gambar 1. (1992: 42) Berbagai stimulus (misalnya penglihatan. penguat positif akan terjadi dan berlangsung lain kelak dikemudian hari atau ingin diulangi kembali. R. 2) Short Term Memory (STM). ini merupakan pengetahuan tentang hasil dan dianggap sebagai penguat positif. ini merupakan pengetahuan tentang hasil yang diangggap sebagai negatif. Dalam waktu singkat (kurang dari satu detik) kemudian akan lenyap karena penambahan informasi baru. Memori sebagai tempat pemyimpanan infomasi memiliki kerangka yang disebut sebagai “kerangka memori”. Penguasaan informasi yang diterima seseorang akan mempengaruhi proses penguasaan keterampilan. 3) extcintion atau pemadaman. Hanya yang relevan dengan suatu situasi yang akan diproses ke dalam tahap berikutnya. Pengetahuan tentang penampilan (KR) ialah informasi yang berkenaan dengan pola gerak yang telah dilakukan seseorang.. dan sebagainya) diterima oleh komparteman STSS. Jika atas stimulus tertentu seseorang mengalami respon yang kurang manyenangkan maka kelak pengalaman tersebut tidak akan dilanjutkan. 3) Long Term Memori (LTM). akan tetapi tidak menghasilkan sesuatu hasil yang tidak bermanfaat. Thoha (l990) menjelaskan beberapa konsep penguatan pada perilaku manusia. Contoh: siswa yang kekuatannya masih lemah. siswa yang berhasil melakukan passing tepat ke arah sasaran akan merasa puas. sebab siswa tidak akan menyadari penampilannya sendiri. Salah satu prinsip belajar motorik yang perlu dikaji sehubungan dengan penelitian ini adalah “pemrosesan informasi dan sistem memori”. Efektif pengajaran di samping membutuhkan teori tentang belajar gerak juga harus dilandasi oleh prinsip-prinsip belajar motorik. Gejala ini timbul karena respon tidak mendorong.A. Pemberitahuan mengenai kesalahan akan pola gerak sering dilakukan oleh guru. Respon yang tidak mendorong dan berhenti untuk keseluruhannya. Pengalaman yang menyenangkan tersebut dinamakan penguatan positif. Sebagai contoh dalam bola bolavoli. Penguatan positif adalah suatu hasil dari respon yang menyenangkan dan dapat menguatkan asosiasi antara respon dan stimulus. 1992). Ada tiga kotak pemyimpanan memori. . Pengalaman yang tidak menyenangkan itu dinamakan penguatan negatif. kesulitan memainkan bola yang dirasakannya terlalu berat sehingga susah dikontrol. yakni: 1) Short Term Sensory Store (STSS). Tujuan dari umpan balik ini terutama untuk memperbaiki kesalahan pola gerak untuk mencapai hasil yang lebih baik. respon tersebut akan mulai memudar. stimulus-respon yang 51 ada lama-lama menjadi pudar akhirnya padam. Kerangka memori bisa dianalogkan sebagai kotak penyimpanan memori. Prinsip ini memberikan dukungan terhadap pemahaman proses penguasaan keterampilan. pendengaran. Dari contoh diatas kegagalan-kegagalan teknik passing yang dilakukan siswa pada akhirnya akan membuat respon siswa menjadi tidak mendorong. Hubungan Antara Memori dan Proses yang Terdapat di Dalamnya Sumber : Schmidt.Agus Harsoyo & Sapta Kunta P. Karena adanya hubungan yang kuat antara respon dan stimulus ini.

diantara kompertemen STM dan LTM ada istilah “rehearsal” artinya proses yang menghasilkan intensitas untuk mentransfer informasi dari STM ke LTM. Sampel sebanyak 30 siswa. Prinsip-prinsip dan teori tentang belajar motorik seperti telah diuraikan di atas merupakan kerangka landasan untuk memahami proses belajar keterampilan khususnya keterampilan passing bolavoli. Oleh sebab itu. serta panjang/lebar lapangan lebih sempit dari ukuran standar. 47 .55 Informasi di STM yang berasal dari STSS ini akan tersimpan dan bertahan 1 sampai 60 detik. Volume 1. Lutan (1988) menjelaskan bahwa. Melalui latihan berulang-ulang. Mei 2014. Gambar 2. dalam belajar keterampilan bolavoli. STM merupakan ruang kerja untuk bergerak. yaitu mengambil 20% dari jumlah tiap kelas. Untuk mengatasi hal itu Lutan menganjurkan untuk: 1) mengubah kondisi ekternal seperti peralatan yang dipakai dan lapangan yang dipergunakan. Teknik passing. Rehearsal merupakan proses pemindahan informasi dari STM ke LTM sedangkan retrieval merupakan proses pemanggilan informasi dari STM ke LTM. Mengajarkan model bolavoli yang sederhana terlebih dahulu sebelum mengajarkan bolavoli yang sebenarnya merupakan tindakan yang tepat apabila kemampuan dan karakteristik siswa belum memadai. Nomor 1. Untuk mengajarkan bolavoli di SD atau SMP. METODE Metode penelitian adalah dengan metode eksperimen. berat bola lebih ringan dari berat standar. Dalam keterampilan gerak output gerak yang dihasilkan di STM. informasinya diharapkan berasal dari LTM. Selanjutnya Lutan (1988) memberikan contoh. adapun teknik sampling dengan proporsional random sampling. yang informasinya berasal dari STSS dan LTM. yang pertama kali harus dikuasai oleh pemula adalah teknik passing bawah dan teknik passing atas. Informasi yang tersimpan di STM disamping berasal dari STSS juga berasal dari memori jangka panjang (LTM). seperti kekuatan belum cukup. Bola lunak sarana permainan bolavoli merupakan jembatan untuk menuju bolavoli yang sesungguhnya. . Perhatikan gambar. Treatment B : Menggunakan bola lunak. Berkaitan dengan pengajaran teknik dasar passing bolavoli. yaitu passing bawah dan passing atas merupakan teknik dasar yang paling penting dalam bolavoli (PBVSI. jaring dapat diturunkan dari ukuran standar.52 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. kiranya merupakan salah satu alternatif yang tepat sebagai perwujudan konsep tersebut. dengan bola lunak sarana bolavoli. 1994:28 ). Rancangan penelitian yang digunakan “matched by subject design” (Sugiyanto. dalam kaitannya dengan prinsip kerangka memori tujuan akhir dari proses belajar keterampilan motorik adalah pengembangan memori jangka panjang (LTM). dan 2) melakukan latihan dalam kondisi yang lebih mudah. Dengan demikian jelaslah bahwa. Jumlah populasi dalam penelitian ini sebanyak 200 siswa. alasan pokok kegagalan pelaksanaan teknik yang baik antara lain: 1) perasaan takut mengalami sakit atau cedera. Rancangan Eksperimen Keterangan: Treatment A : Menggunakan bola standart. Kompartemen STM inilah yang dijadikan sebagai ruang kerja untuk menghasilkan output gerak. dan 2) defisiensi dalam kondisi atau kesiapan siswa. 1995). informasi dari STM akan dipindahkan ke LTM dimana infomasi ini akan tersimpan secara permanen. Kaitan antara penyimpan informasi di LTM dengan perwujudan output gerak dapat dijelaskan melalui konsep “retrieval” yaitu proses yang mencangkup pencarian informasi melalui LTM guna dipakai untuk melaksanakan tugas yang sedang dihadapi. Dengan demikian siswa atau pemula dapat menguasai teknik dengan baik dan kemungkinan besar permainan lebih menarik karena para siswa akan lebih berhasil melakukan teknikteknik dasar permainan bolavoli.

Pengaruh Penggunaan Media Mengajar Bola Lunak HASIL Rangkuman hasil analisis secara keseluruhan disajikan dalam Tabel 1. Tes Awal Akhir Awal Akhir N 15 15 15 15 X 245 313 243 284 X 16. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kelompok bola lunak memiliki persentase peningkatan nilai passing bolavoli yang lebih besar dari pada kelompok bola standar. Tabel 1. melakukan partisipasi dalam belajar.. sehingDengan demikian hipotesa nol ditolak. berarti bahwa hasil tes akhir kelompok bola Hal ini juga menimbulkan kegembiraan bagi lunak berbeda dengan hasil tes akhir kelomsiswa karena mereka dapat menikmati perpok standar.8667 16.76 % Disamping itu mereka belum punya pengaLunak laman belajar bolavoli sebelumnya. belajar akan efektif bila siswa telah siap untuk memberikan respon.2000 18.5682 PEMBAHASAN Perbedaan Pengaruh Hasil Belajar Passing Bolavoli dengan Media Bola Lunak Uji Perbedaan Antara Kelompok Bola Pada umumya siswa SMP kelas 1 masih Lunak dan Bola Standar memiliki kekuatan otot lengan yang belum Hasil uji perbedaan antara kedua kememadai untuk memainkan bola standart.05. Dengan Standart 15 16. nilai t tabel 1.5612 2.76 %.87 % demikian penggunaan bola standart dapat diartikan siswa masih belum siap. lompok disajikan pada Tabel 2.76 Ternyata nilai memungkinkan siswa untuk lebih banyak t yang diperoleh lebih besar dari t tabel.209 1. mainan bolavoli dengan mudah.9333 2. diadakan perhitungan perbedaan proajaran passing bolavoli dengan ukuran sentase peningkatan tiap-tiap kelompok. Siswa mampu mengendalikan bola Kelompok N M t hitung t tabel 5% agar tidak jatuh ke lantai. Dengan bolavoli lebih lunak dan lebih besar berdamPerbedaan Persentase Peningkatan pak pada siswa dapat belajar mengerjakan Untuk mengetahui kelompok mana yang pola gerak passing yang benar. sehingga penugasaan keterampilan menjadi lama kaDari hasil di atas dapat diketahui bahwa rena pengajaran tidak berjalan efektif. kan bahwa nilai t hitung yang diperoleh seSelain itu bola lunak bola lebih murah besar 5.5334 27.6247 3.0521 2. Adapun nilai perbedaan disajikan pada Menurut hukum kesiapan (law of readiTabel 3. Banyak faktor yang mempengaruhi kesiapan belajar ProsenMean Mean Mean tase passing bolavoli.8667 4. dimana resTabel 3. Rangkuman Hasil Uji Perbedaan kan bola. Dengan menggunakan bola yang lebih ringan memungkinkan siswa lebih berhasil memainTabel 2. dengan db = 14 dan taraf sigsehingga tersedia bola lebih banyak hal ini nifikansi 0. Untuk anak-anak SMP masih memiliki kekuatan otot lengan yang belum memadai. Bola 15 16.2 18. bolavoli yang sebenarnya.9333 53 dangkan kelompok standar memiliki peningkatan nilai passing bolavoli sebasar 16.9333 sentuhan banyak.Agus Harsoyo & Sapta Kunta P.7333 16. Rangkuman Hasil Penghitungan pon atau tugas-tugas tersebut memang suPerbedaan Peningkatan Passing Bolavoli dah pantas dan dikuasai oleh siswa. yang ga frekuensi sentuhan setiap siswa tinggi. SD 2.87%. Atas kemampuan dan keberhasilannya timbul rasa puas pada diri sisDari uji yang dilakukan dapat disimpulwa dan motivasinya. reli-reli passing daBola Lunak 15 20. diantaranya tingkat kekuatKelompok N DiffePeningTes Awal Tes Akhir an otot lengan dan pengalaman sebelumrent katan nya. Kelompok Bola Lunak Standart Deskripsi Data Hasil Tes Awal dan Tes Akhir Passing Bolavoli . Ini sangat nemiliki persentase peningkatan yang lebih penting bagi mereka menjelang pembelbaik.209.3333 20.8667 pat bertahan lebih lama sehingga frekuensi 5. nees).3333 20. se- .76 Standart 15 18. Ketikelompok bola lunak memiliki peningkatan dak siapan siswa menyebabkan pelaksanilai passing bolavoli sebesar 27.

3. Pengalaman yang tidak menyenangkan tersebut menurut hukum pengaruh (law of effect) akan membuat siswa cenderung tidak berani mengulanginya lagi. 47 . Volume 1. DAFTAR PUSTAKA Ateng. 2. lambat laun respon yang salah berkurang. koneksi yang tepat semakin disadari. frekuensinya semakin berkurang dan tidak efektif. Disarankan bahwa penggunaan media pengajaran ini dapat dipakai sebagai dasar mengajarkan passing pada siswa sekolah menengah pertama. Akhirnya proses pemindahan informasi dari STM ke LTM berjalan lambat. proses mencoba dan mencoba lagi tidak terjadi sehingga untuk mencapai gerak yang efisien sulit dijangkau. akibatnya koneksi stimulus respon menjadi lemah. Menurut konsep belajar “trial and error” pada awal belajar sedikit sekali keberhasilan dicapai. ini merupakan penguat negatif sehingga siswa merasa tidak puas.87%. Kecenderungan siswa untuk tidak mengulangi pengalaman yang tidak menyenangkan tersebut menyebabkan frekuensi pengulangan menjadi sedikit. 1992. Nomor 1. Mei 2014. Rehearsal hanya akan terjadi melalui latihan yang berulang-ulang. hal ini mengisaratkan bahwa teori belajar yang menyatakan bahwa mengubah peralatan yang dipakai serta melakukan latihan dalam kondisi yang lebih mudah sesuai dengan kondisi anak didik harus dipakai dalam menentukan suatu metode pembelajaran. Tanpa pengulangan-pengulangan. akhirnya gerak menjadi efisisen. Dengan demikian maka padamlah hubungan antara stimulus-respon. yaitu gejala melemahnya hubungan antara stimulus-respon. akan timbul axctintion atau pemadaman. padahal menurut hukum latihan (law of exercise) pengulanganpengulangan merupakan syarat terjadinya penguasaan keterampilan. Dari hasil perhitungan persentase peningkatan diketahui bahwa kelompok dengan bola lunak memiliki peningkatan sebesar 27.54 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. Respon tidak mendorong dan mulai memudar. Akibatnya sedikit frekuensi pengulangan. Saran 1. Dari hasil penelitian dan kesimpulan penelitian ini dapat diketahui bahwa penggunaan media tertentu memiliki peningkatan hasil belajar passing. dalam upaya meningkatkan hasil belajar bolavoli hendaknya menggunakan media tertentu yang menguntungkan (bola lunak). A. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Hasil belajar keterampilan passing bolavoli yang diajar dengan menggunakan media bola lunak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Tujuan akhir dari proses belajar keterampilan pada hakikatnya adalah pengembangan memori jangka panjang (LTM). Penggunaan media Bola lunak memiliki persentase peningkatan yang lebih baik dibanding penggunaan dengan bola standar. Asas dan Landasan Pendidikan Jasmani. Akibat berikutnya dari sedikit frekuensi pengulangan adalah bahwa belajar melalui prinsip “trial and error” sulit dicapai. Selain itu menurut konsep kerangka memori. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral .55 naan passing banyak mengalami kegagalan.76%. akhirnya akan mudah dilupakan siswa dari ingatan tingkah lakunya. Pengaruh penggunaan media bola lunak lebih baik dibanding dengan bola standar terhadap hasil belajar ketrampilan passing bolavoli pada siswa kelas 1 SMP Negeri 2 Sukoharjo. yaitu proses pemindahan informasi dari STM ke LTM. sedangkan kelompok dengan bola standar memiliki peningkatan sebesar 16. Dalam proses pembelajaran olahraga hendaknya harus disesuaikan dengan teoriteori belajar yang telah dibuktikan manfaatnya. kebanyakan siswa mengalami rasa sakit pada kedua lengannya. Bagi pengajar olahraga khususnya di SMP. frekuensi pengulangan berpengaruh terhadap transfer infomasi dari kotak Short Term Memory (STM) ke kotak Long Term Memory (LTM). Di samping itu akibat benturan dengan bola standart. kebanyakan siswa merasa takut mengalami terkilir pada ruas-ruas jari tangannya. Demikian halnya dengan passing atas. Agar LTM berkembang maka harus diupayakan terjadinya rehearsal.

Motor Control and Learning. New Jersey: Prentice-Hall. Lutan. Sudjana. Singer. Thoha. London: Macmillan Publishing co. Surakarta: UNS Press. Sudjana. 1992. B. Minneapolis: Burgess Publishers Company. 1994. R. Latihan Olahraga dan Coaching. Champaign. Hadi.A. R. Inc.N. 2009. Bourne. 1984. Bandung: Penerbit SINAR BARU. Pengantar Interaksi Mengajar Belajar Dasar dan Teknik Metodologi Pengajaran. 1991. 1990. Jakarta: Sekretariat Umum PBVSI. 1975. Sugiyanto. 55 Schmidt. J. Bandung: Tarsito. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud. Pengaruh Penggunaan Media Mengajar Bola Lunak Pendidikan Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan. Practical Measurements for Evaluation in Physical Education. Jakarta: P2LPTK. 1966. 1980. N. 1988. New York. Masalah-masalah Kedokteran Olahraga.B. Surakhmad. 1975. 1991. Meneapolis: Burgerss Publishing Company. Belajar Keterampilan Motorik: Pengantar Teori dan Metode.Agus Harsoyo & Sapta Kunta P. 1988. IL: Human Kinetics. _____. S. . Metodologi Penelitian. Motor Learning and Huiman Performance. Rahantoknam. Drowatzky. Jakarta: Depdikbud. Jakarta: Sekretariat Umum PBVSI. Yogyakarta: ANDI OFFSET. Metode Statistika. Panduan Pembinaan Bolavoli di Indonesia. W. 1988. M. PBVSI. Pelatihan Bolavoli di Indonesia. Motor Learning: Principles and Practice.. Jenis-jenis Permainan Bolavoli. Bandung: Tarsito. Bandung: Sinar Baru. Kepemimpinan dan Manajemen (Suatu Pendekatan Perilaku). Oxendine. Belajar Motorik: Teori dan Aplikasinya dalam Pendidikan Jasmani dan olahraga. Perkembangan dan Belajar Gerak. R. Jakarta: Sekretariat Umum PBVSI. J. 2005. Sugiyanto & Sudjarwo.. Subroto. Statistika 2.. Inc Collier Macmillan Publishers. 1995. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Olympic Solidarity of the International Olympic Commeettee. 1994.E.D. Psychologi of Motor Learning. 1996. _____.

tipe tubuh. Objek penelitian adalah tinggi badan anak usia 0 tahun hingga anak usia 18 tahun putri dan anak usia 0 tahun hingga anak usia 19 tahun putra. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah dengan menggunakan teknik observasi dan analisis dokumen. yaitu dengan menggunakan teknik persentase. maksimal. digunakan bersama dengan data penting yang lain. Lee & Thomas (1988:184) menyatakan bahwa tinggi badan. afektif. psikologis maupun sosialnya. maka dapat diprediksi rata-rata tinggi badan anak. tinggi badan. Pencapaian prestasi olahraga dipengaruhi oleh kondisi antropometrik. Jika dapat tumbuh dan berkembang dengan baik maka anak dapat belajar dan memperoleh pengalaman dalam kehidupan dengan baik pula. Kata kunci: prediksi. panjang anggota badan bagian atas dan bawah. dan 2) Rambu-rambu dalam memprediksi tinggi badan maksimal anak putra dan putri.MEMPREDIKSI TINGGI BADAN MAKSIMAL ANAK M. baik secara kognitif. Tinggi badan merupakan bagian dari antropometrik. Pengukuran antropometrik biasanya meliputi tinggi badan. dan berbagai ukuran tubuh dan anggota tubuh. Aspek biometrik ini meliputi tinggi badan. maupun psikomotornya serta baik secara fisiologis. Furqon Hidayatullah. Dalam dunia olahraga. berat badan. Data yang telah terkumpul dianalisis dengan teknik statistik deskriptif sederhana. di Surakarta Jawa Tengah. Tiap cabang olahraga memiliki tuntutan karakteristik antropometrik yang berbedabeda. Johnson & Nelson (1986:174) mengemukakan bahwa tinggi badan. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta Email: furqonuns@yahoo. Hoffman (2006:81) menyatakan bahwa antropometrik menunjukkan pengukuran tubuh manusia. dan lainlain. berat badan. Selanjutnya rata-rata tinggi badan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan tersebut dapat dijadikan pedoman sebagai ramburambu untuk memprediksi tinggi badan maksimal anak. Walaupun pada waktu usia dini tinggi badan anak belum tumbuh dan berkembang secara maksimal maka 56 . Sebaiknya pengukuran dilakukan secara periodik dua kali setahun. Salah satu ciri pertumbuhan dan perkembangan anak adalah ditandai dengan bertambahnya tinggi badan anak. Pertumbuhan dan perkembangan anak diharapkan dapat berjalan secara simultan. Jika tinggi badan merupakan salah satu aspek penting da-lam olahraga yang dibina maka tinggi badan yang dibutuhkan harus dirumuskan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Penelitian ini merupakan penelitian perkembangan dengan teknik cross-sectional. Penelitian dilaksanakan pada pada tahun 2013. Artinya tumbuh dan berkembang sesuai dengan bertambahnya usia. dan ukuran-ukuran antropometrik tertentu. Pembinaan olahraga harus dimulai sedini mungkin dan memerlukan proses latihan yang memerlukan waktu jangka panjang.com Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Ukuran rata-rata tinggi badan anak usia 0 sampai 18 tahun putri dan 0 sampai 19 tahun putra. berat badan. Tinggi badan juga diharapkan dapat berkembang secara normal. Thomas. memberikan informasi berharga dan penting. Penelitian ini menyimpulkan bahwa: 1) Setiap tahun anak memiliki rata-rata tinggi badan yang makin meningkat sesuai dengan bertambahnya usia. dan 2) Dengan diketahuinya ratarata tinggi badan tiap tahun pertumbuhan dan perkembangan anak. Anak diharapkan dapat tumbuh dan berkem-bang dengan normal sesuai dengan tahap-tahap pertumbuhan (growth) dan perkembangan (development) anak. tinggi duduk. maupun kebugaran disarankan dilakukan pengukuran untuk mengetahui pertumbuhan anak. berat badan. antara lain proporsi tinggi badan atlet. terutama yang berkaitan dengan pencapaian prestasi olahraga yang setinggi-tingginya tidak dapat lepas juga dengan aspek biometrik.

Di samping itu.43 123 174 7.44 15 14 356 154. yang berkaitan dengan tinggi badan. Posyandu.05 19 18 87 156. penelitian ini dimaksudkan untuk merumuskan cara atau metode sebagai rambu-rambu untuk memprediksi tinggi badan maksimal anak pada usia tertentu. Penelitian ini dilaksanakan di Surakarta. Pemilihan teknik crosssectional didasarkan pada pertimbangan efisien waktu yang perlukan dalam melaksanakan penelitian.23 13 12 539 150.09 90 132 8. Nomor 1.20 12 11 347 142.32 4 3 27 95.19 18 17 218 155. Puskesmas. Mei 2014.66 6 5 20 104. dan 2) Bagaimana rambu-rambu dalam memprediksi tinggi badan maksimal anak putra dan putri?. rumah bersalin.30 90 108 5. . Objek penelitian adalah anak usia 0 tahun hingga anak usia 19 tahun putra dan anak usia 0 tahun hingga anak usia 18 tahun putri. 56 .93 8 7 83 117. Oleh karena itu.09 14 13 534 152.59 2 1 169 71. dan tempat lain yang dipandang memiliki data yang diperlukan dalam penelitian ini. dibutuhkan alat atau instrumen untuk mengetahui atau memprediksi tinggi badan maksimal anak. Untuk itu. Deskripsi data yang dimaksud dapat dilihat dalam Tabel 1. Deskripsi Data Tinggi Badan Anak Usia 0-18 Tahun Putri No Usia N Skor Skor Mean Teren.25 61 76 3.95 Adapun deskripsi data tinggi badan anak putra dapat dilihat sebagaimana tampak dalam Tabel 2. Usia 20 tahun dipandang sebagai usia pencapaian puncak tinggi badan atau tinggi badan maksimal.25 67 91 5.01 5 4 36 99.38 136 172 6. Volume 1.17 85 108 5. klinik. Untuk itu. masalah penelitian dirumuskan sebagai berikut: 1) Bagaimana ukuran rata-rata tinggi badan anak usia 0 sampai 18 tahun putri dan 0 sampai 19 tahun putra?.04 137 172 5.21 120 160 7. Data yang telah terkumpul dianalisis dengan teknik statistik deskripftif sederhana.67 3 2 212 87.97 156 10.35 17 16 199 155.19 7 6 80 113. HASIL Data penelitian ini berupa satuan ukuran dalam centimeter (cm).09 9 8 89 123.64 16 15 171 154.Terdah tinggi SD 1 0 195 47. Tabel 1. teknik pengambilan data juga dilakukan dengan pencatatan pada dokumen-dokumen yang memuat data usia dan tinggi badan.64 100 162 9. Tempat penelitian dilakukan di sekolah. dilaksanakan pada tahun 2013. METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah dengan menggunakan teknik observasi dengan cara melakukan pengukuran langsung terhadap tinggi badan anak usia 0 sampai 19 tahun.66 132 170 6. yaitu dengan menggunakan teknik persentase. yaitu tinggi badan anak usia 0-18 tahun putri dan 0-19 tahun putra.89 120 160 8.69 10 9 54 127.18 75 98 4.28 92 11 10 117 137.95 40 55 1.52 143 169 5.60 harus dapat diprediksi tinggi badan maksimalnya sejak awal atau sedini mungkin sebagaimana yang dibutuhkan dalam usia tertentu.61 145 173 5.57 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. Selama ini belum dimiliki cara atau metode sebagai rambu-rambu yang memudahkan pelatih mengetahui atau memprediksi tinggi badan maksimal anak yang dilatih. karena harus mengikuti perkembangan pertumbuhan anak selama 20-an tahun. Penelitian ini mengamati perkembangan pertumbuhan tinggi badan anak mulai lahir hingga 20-an tahun. karena jika dilakukan dengan teknik longitudinal akan memerlukan waktu yang lama dan kompleks.09 90 150 7.04 143 171 4. Penelitian ini merupakan penelitian perkembangan dengan teknik cross-sectional.

64 143 180 6.66 3 2 118 88.Terdah tinggi SD Tabel 3.30 66.64 115 153 7.46 77 104 4.22 37 54 2.20 7 6 77 113.06 1 0 47.04 8 7 117.54 8 7 143 117.66 99.M.64 79. 58 Hasil Penelitian Anak Putra Hasil penelitian ini dianalisis berdasarkan nilai rata-rata anak tiap tahun mulai anak usia 0-19 tahun.74 90 142 9. Selanjutnya.04 100.49 7 6 113.09 66. yaitu skor usia 18 tahun untuk putri dan skor usia 19 tahun untuk putra dianggap 100%.36 12 11 361 140. No.85 90 115 6.71 154 176 5.38 5 4 99.95 30.25 45.39 110 176 9.18 60.65 15 14 643 160.72 120 169 8.67 6 5 104.03 11 10 137.71 10 9 127.00 20 19 21 167.02 156 176 4.52 15 14 154. maka dapat dianalisis bahwa skor tertinggi.09 75.40 14 13 790 155.11 17 16 133 165.49 4 3 95.91 4 3 24 96.99 5 4 29 101.33 62 78 4.04 9 8 111 123. .34 14 13 152.14 13 12 716 148.66 18 17 343 166.71 16 15 154.00 123 178 9.44 100 130 6.25 55. Furqon Hidayatullah.21 147 185 6.64 17 16 155.31 3 2 87.19 90 135 10. Memprediksi Tinggi Badan Maksimal Anak Tabel 2.03 18 17 155.73 2 1 239 72.38 97. Hasil Penelitian Anak Putri Hasil penelitian ini dianalisis berdasarkan nilai rata-rata anak tiap tahun mulai anak usia 0-18 tahun.01 Berdasarkan deskripsi data tersebut.04 98.73 69 93 5.28 81.21 91.27 2 1 71.43 19 18 156. sebagaimana tampak dalam Tabel 3.24 10 9 71 129.89 88. Usia N Mean Skor Skor Teren. Deskripsi Data Tinggi Badan Anak usia 0-19 Tahun Putra No.86 95 112 4.41 145 182 6.61 99.23 12 11 142.43 96.99 13 12 150. Rata-Rata dan Persentasi Anak Putri Usia 0-18 Tahun.52 99. Tabel Usia.57 11 10 109 136. dihitung untuk skor-skor di bawahnya.21 95 152 8.39 9 8 123.78 16 15 137 163.55 6 5 24 106.17 63.72 19 18 98 166. Usia Kronologis (Tahun) Rata-rata Persentase (%) (cm) 1 0 208 48.00 132 181 7.

60 Tabel 4.02 Rambu-rambu dalam memprediksi tinggi badan maksimal anak putra dan putri sebagaimana tampak dalam Tabel 6.92 2 1 71.98 kali 114 = 178.73 53.98 1 0 47.59 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. Misalnya.46 10 9 129.64 123.74 74. Tabel Usia dan Rata-Rata Tinggi Badan Anak Putri Usia 0-18 Tahun dan 0-19 Tahun untuk Putra No.02 100.00 19 18 166.25 7 6 113. PEMBAHASAN Dari hasil penelitian di atas.85 11 10 136.44 67.41 13 12 150.73 9 8 123.39 20 19 167.68 cm. Nomor 1.43 148.75 5 4 101.33 7 117. Usia Kronologis (Tahun) 1 0 48.21 19 18 156.86 7 6 8 Rata-rata (cm) Persentase (%) rinci dari hasil penelitian ini dapat dikemukakan sebagai berikut.41 97.13 4 3 96.98 6 5 106.52 165. Rata-Rata dan Persentasi Anak Putra Usia 0-19 Tahun No. tinggi badan yang dicapai pada usia tersebut 114 cm.22 113.86 12 11 140.18 96.21 140.39 93. anak laki-laki yang bernama Rafid Cahyadi dengan usia 5 tahun. rata-rata tinggi badan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan dapat dijadikan pedoman sebagai rambu-rambu untuk memprediksi tinggi badan maksimal anak.64 11 10 137. Tabel Usia. 56 .00 15 14 154.33 43.19 70.80 10 9 127.22 28.25 88.85 60.64 81.16 3 2 87.89 136.17 101.30 106.61 8 7 117.61 166.19 14 13 155.64 18 17 155.38 155.09 113.46 57. Tabel 5.95 48.21 77.72 18 17 166.21 16 15 163. Mei 2014.41 17 16 155.71 20 19 Untuk memprediksi atau memperkirakan tinggi badan maksimal anak.72 84.17 12 11 142.64 17 16 165.66 163.09 117.09 4 3 95.81 14 13 152. maka dapat dilakukan perhitungan sebagai berikut: 100 % dibagi persentasi usia dikalikan dengan tinggi badan yang telah dicapai pada usia tersebut. Usia Kronologis (Tahun) Putri Putra 63.81 6 5 104.04 166.44 13 12 148.36 5 4 99.30 3 2 88.64 99.00 88. maka tinggi badan maksimal yang diperkirakan adalah: 100 dibagi 63.00 16 15 154.87 2 1 72.28 129.74 15 14 160. Volume 1.25 72.71 99. .21 99.04 9 8 123. Secara Rata-rata (cm) 167.04 160. Rata-rata tinggi badan anak usia 0 sampai 18 tahun putri dan 0 sampai 19 tahun putra adalah sebagaimana tampak dalam Tabel 5 berikut.00 95.

64 17 16 99. “Talent Development”. Di Surakarta tanggal 4-5 Pebruari 1999. J. Hoare. Perkembangan Anak. J..92 8 7 75. A. J.25 13 12 96. Jakarta: pener-bit Erlangga.73 28.W.T.98 6 5 66.17 18 17 99.00 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Penelitian ini menyimpulkan bahwa: 1) Setiap tahun anak memiliki rata-rata tinggi badan yang makin meningkat sesuai dengan bertambahnya usia. M.13 4 3 60.00 99. New Zealand: Human Kinetics.81 20 19 No.. 2007. dan 2) Perlu selalu di-update dengan data-data pertumbuhan anak yang baru ka- DAFTAR PUSTAKA Thomas.G.98 7 6 72. 2011. Makalah disajikan dalam Talent Identification Phase 2.. Terjemahan Tjandrosa dan Muslichah Zarkasih..M.66 43. K.75 5 4 63. A. Jackson.S. Measurement for Evaluation in Physical Education and Exercise Science.61 14 13 97.14 84. E. Persentase (%) Usia Kronologis (Tahun) Putri Putra 1 0 30. New York: Macmillan Publishing Company. A. & Thomas.R. Practical Measurements for Evaluation in Physical Education.66 99.M. 60 100. 1988.41 19 18 100. Jackson.. Mahar. Physical Educa-tion for Children: Concepts into Prac-tice Champaign.. D.04 15 14 98. B. .57 77.36 81.L. 2006.K. Norms for Fitness.A. Illinois: Human Kinetics Books.36 11 10 88.40 88.84 63. Lee.24 74.91 53. P.47 67.. & Nelson. & M.81 12 11 91. New Jersey: Human Kinetics.99 57. maka dapat diprediksi rata-rata tinggi badan anak Saran Untuk menindaklanjuti hasil penelitian ini. maka direkomendasikan 1) Perlu pengujian di lapangan dalam kurun waktu tertentu untuk melihat keefektifan rambu-rambu untuk memprediksi tinggi badan maksimal ini.11 97. Tabel Usia dan Persentasi Anak Putri Usia 0-18 Tahun dan Putra Usia 0-19 Tahun rena kondisi pertumbuhan dan perkembangan anak pada kurun waktu tertentu berbeda dan generasi yang berbeda. Johnson. Dale.16 9 8 79.80 16 15 99.04 70. 1986.78 95. and Health. J. Performance..09 10 9 81.B. Memprediksi Tinggi Badan Maksimal Anak Tabel 6.R. Toronto: McGraw Hill. Morrow. T.72 99.30 3 2 55. & Rowe. Furqon Hidayatullah. dan 2) Dengan diketahuinya rata-rata tinggi badan tiap tahun pertumbuhan dan perkembangan anak. D.T. Hurlock.. J.65 93. 1990.55 60.A. Baumgartner. Measurement and Evaluation in Human Performance. Hoffman.87 2 1 45. Disch.

b) Dribbling mengunakan sisi kaki bagian luar. Mielke (2007) Dalam melakukan dribbling ada beberapa perkenaan kaki pada bola. maka peneliti mengadakan kegiatan penelitian dan pengembangan (research and development) dengan menggunakan subjek penelitian yakni pemain sepakbola usia 12-14 tahun di SSB AMS Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang. dari beberapa teknik dasar sepakbola. perkenaan tersebut mempunyai fungsi masing-masing: a) Dribbling menggunakan sisi kaki bagian dalam. sepakbola. Luxbacher (1998) membagi teknik dasar passing menjadi tiga. pemain-pemain yang lainnya setidaknya mempunyai kemampuan untuk menciptakan peluang bagi temannya atau untuk membuat proses terjadinya gol. c) Dribbling menggunakan kura-kura kaki. Kata kunci: variasi latihan. dribbling. yaitu: inside-of-the-foot (dengan bagian samping dalam kaki).com Abstrak: Kemampuan dribbling dan passing sangat penting bagi pemain sepakbola. outside-of-the-foot (dengan bagian samping luar kaki) dan instep (dengan kura-kura kaki).PENGEMBANGAN VARIASI LATIHAN DRIBBLING DAN PASSING DALAM PERMAINAN SEPAKBOLA USIA 12-14 TAHUN DI SSB AMS KEPANJEN MALANG Dameika Suryantoro. karena dribbling dan passing merupakan teknik dasar dalam bermain sepakbola dengan cara melindungi bola dari jangkauan lawan dan memberi ruang untuk bisa melakukan operan kepada teman satu tim. 61 . Model pengembangan dalam penelitian ini menggunakan research and development dari Borg dan Gall. hal ini muncul setelah peneliti melakukan observasi lapangan saat klub SSB AMS melakukan latihan rutin.. …Untuk membuktikan bahwa dribbling dan passing merupakan hal yang penting dalam permainan sepakbola. Untuk bisa menciptakan peluang dan membuat proses terjadinya gol dalam sebuah permainan sepakbola yang dibutuhkan adalah kemampuan menggiring (dribbling) dan mengumpan (passing) yang akurat untuk semua pemain. Berdasarkan hasil observasi. ini menyebabkan hasil dribbling dan passing pemain sepakbola SSB AMS kurang sempurna. pemain sepakbola usia 12-14 tahun di SSB AMS Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang kurang mempunyai kemampuan melakukan dribbling dan passing yang benar. dribbling dan passing dalam permainan sepakbola yang menarik dilakukan siswa SSB. Seorang pemain harus mempunyai keterampilan dribbling dan passing dengan teman satu tim yang mengkombinasikan unsur teknik-teknik dribbling dan passing yang digunakan dan beberapa prinsip dasar dribbling dan passing. dribbling dan passing dalam permainan sepakbola yang nantinya dapat dijadikan sebagai acuan oleh pelatih dalam menerapkan model-model latihan yang dibutuhkan. keterampilan dribbling dan passing pemain sepakbola SSB AMS masih kurang hal ini dikarenakan saat latihan dribbling dan passing pemain sepakbola SSB AMS kurang memperhatikan teknik dan prinsip dribbling dan passing yang harus dimiliki oleh pemain sepakbola. Untuk itu peneliti akan mengembangkan variasi latihan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan variasi latihan dribbling dan passing dalam permainan sepakbola usia 12-14 tahun di Sekolah Sepakbola (SSB) AMS Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang yang dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam melaksanakan latihan dribbling dan passing. Bentuk latihan yang dilakukan terutama saat melatih kemampuan dribbling dan passing jarang sekali di- Sebuah tim sepakbola harus memiliki kemampuan penguasan bola yang baik saat bermain atau disebut juga “ball possession” tetapi tidak hanya itu. masih banyak pemain yang mempunyai keterampilan dribbling dan passing yang kurang memadai. dribbling dan passing ini terdiri dari 12 model variasi latihan. passing. Hasil pengembangan variasi latihan. Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang email: dameika_suryantoro@yahoo.

memiliki sikap dan budi pekerti yang baik. 5) memiliki fisik yang sehat dan segar dan profil sesuai dengan ca-bang olahraga yang digeluti atau disenangi. Berulang-ulang yaitu. Pengembangan Variasi Latihan Dribbling dan Passing berikan oleh pelatih kalaupun diberikan itu hanya model latihan dribbling dan passing yang sederhana dengan sedikit variasi dan juga jarang sekali menggunakan alat-alat seperti cone. 5) dapat dipercaya. dan orang dapat menggantungkan diri padanya. 4) mampu mengendalikan emosi saat stres. Batty (2003). gawang kecil dll. 3) individu yang hangat. dan 6) memiliki jiwa pemimpin dan jiwa seni serta ahli dalam memberikan informasi dan nilainilai hidup kepada atletnya. yang dalam permainannya menggabungkan unsur dari kemampuan teknik individu. terbuka. Permainan Sepakbola Permainan sepakbola adalah permainan yang sederhana. hal tersebut menunjukkan bahwa tujuan dari permainan sepakbola belum dicapai secara maksimal. 2005). pemahaman permainan dan kerja sama menjadi satu unit kombinasi untuk menciptakan permainan sepakbola yang banyak menghasilkan gol dan menarik untuk ditonton. menurut pola dan sistem tertentu. Penelitian dan pengembangan dilakukan dengan kaidah ilmiah. Sepakbola adalah permainan tim yang terdiri dari sebelas pemain termasuk seorang penjaga gawang. 2) sangat tertib dan terorganisasi dengan baik: mementingkan perencanaan ke depan (plan ahead). sehingga ketika dalam permainan atau pertandingan resmi penguasaan bola dalam tim yang peroleh sangat minim. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penelitian pengembangan adalah suatu proses untuk mengkaji suatu hal yang dapat menghasilkan sesuatu hal yang baru (produk) yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah dan tetap mengacu pada konsep ilmiah.Dameika Suryantoro. sistematis adalah berencana. berpendapat bahwa latihan adalah suatu proses berlatih sistematis yang dilakukan secara berulang-ulang. rompi. beban latihan harus ditambah dan diperberat. 4) pandai bergaul atau memiliki sikap bermasyarakat yang supel dan simpatik. latihan teratur dari yang sederhana ke yang lebih kompleks. 3) berkepribadian baik. (1993). dan kemampuan individu serta tim tidak pernah mengalami peningkatan. 6) condong . dan otomatis pelaksanaannya akan semakin menghemat energi. Penelitian Pengembangan Penelitian dan pengembangan adalah suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada. dkk. yang dapat dipertanggung jawabkan (Sukmadinata. Dalam bidang olahraga tujuan akhir latihan adalah untuk meningkatkan penampilan olahraga Pate. dan rahasia permainan sepakbola yang baik ialah melakukan hal-hal sederhana dengan sebaik-baiknya. setiap tahap penelitian harus dilakukan secara cermat. sering kehilangan bola saat bermain. metodis. jarang sekali pemain baik secara individu atau tim diberi latihan khusus dari bentuk-bentuk latihan dribbling dan passing dan variasinya. dan kian hari jumlah beban latihannya kian bertambah serta intensitas latihannya. Pelatih Pelatih adalah seorang profesional yang tugasnya membantu olahragawan dan tim dalam memperbaiki penampilan olahraga. 2) cakap melatih di lapangan dengan efektif dan efisien. dari yang mudah ke lebih sukar. dengan demikian diharapkan dapat menghasilkan suatu produk yang baik dan benar-benar dibutuhkan dalam bidang olahraga. Sedangkan menurut Harsono (1988) ciriciri pelatih yang ideal dan sukses adalah sebagai berikut: 1) mempunyai ambisi tinggi untuk sukses dan selalu ingin berada di puncak. setiap elemen teknik haruslah diulang sesering mungkin agar gerakan-gerakan yang semula sukar dilakukan menjadi lebih mudah. menurut jadwal. Sedangkan beban berlebih maksudnya adalah setiap kali secara periodik segera setelah tiba saatnya. Dengan demikian. dan senang bergaul dengan orang lain. 62 Latihan Fisik Harsono (1998). Menurut Suharno (1993) hal-hal yang harus dimiliki oleh seorang pelatih yaitu: 1) penguasaan bahan teori dan ketrampilan dalam cabang olahraga yang disenangi. beban latihan harus ditingkatkan manakala sudah tiba saatnya untuk ditingkatkan. kemudian pelaksanaan metode latihan dribbling dan passing tidak dilakukan secara efektif dan kompleks.

8) mempunyai maturitas yang mengagumkan. 3) prinsip interval (selang). memberikan kesempatan atlet untuk beradaptasi terhadap beban latihan dan pemulihan tenaga kembali bagi atlet dalam latihan. perkenaan tersebut mempunyai fungsi masing-masing: a) Dribbling menggunakan sisi kaki bagian dalam. seorang pelatih maupun atlet di dalam melakukan latihan harus selalu berpegang teguh kepada prinsip-prinsip latihan sebagai berikut: 1) Kenaikan beban latihan teratur dari sedikit demi sedikit. latihan harus mengakibatkan stres fisik dan mental atlet. atau bersiap melakukan operan atau tembakan. 7) memiliki daya tahan psikologis yang tinggi. teknik pelaksanaanya adalah sebagai berikut: sentuhan bola dengan sisi kaki bagian dalam dan posisikan kaki secara tegak lurus terhadap bola. Menurut Mielke (2007) dribbling adalah ketrampilan dalam sepakbola karena semu pemain harus mampu menguasai saat sedang bergerak. Untuk bisa melakukan dribbling dengan baik sehingga bola dapat melewati lawan dan bisa memberi ruang kepada teman untuk menciptakan peluang. teknik. Suharno (1993) menjelaskan bahwa. b) Dribbling menggunakan sisi kaki bagian luar. Prinsip Latihan Dribbling dan Passing dalam Sepakbola Prinsip-prinsip latihan dribbling dan passing sangat diperlukan dalam permainan sepakbola karena merupakan dasar yang perlu diketahui serta diterapkan dalam setiap latihan. Seorang pelatih untuk meningkatkan prestasi atletnya dalam latihan yang diberikan harus berpedoman pada prinsip-prinsip latihan. pusatkan kekuatan pada bagian tengah sehingga memudahkan mengontrol arahnya. Dribbling Kemampuan dribbling sangat diperlukan dalam permainan sepakbola. kegunaan prinsip interval diterapkan dalam latihan adalah untuk menghindari terjadinya overtraining. kepala tetap tegak dan mata terpusat kelapangan di depan dan jangan terpaku pada kaki juga berusahalah untuk melayangkan pandangan ke daerah sekeliling dan rasakan bola itu sehingga bisa mengetahui keberadaannya sambil melihat ke sekelilingnya. Dribbling Menggunakan Sisi Kaki Bagian Dalam Secara umum. kemudian timbul kelelahan fisik dan mental secara menyeluruh.67 untuk pertama-tama menyalahkan dirinya sendiri dan bukan orang lain kalau terjadi hal yang tidak baik. Dalam melakukan dribbling ada beberapa perkenaan kaki pada bola. Volume 1. Nomor 1. dan keterampilan yang benar. Mei 2014. usahakan bola berdekatan dengan kaki. c) Dribbling menggunakan kura-kura kaki. 2) prinsip stres (tekanan). taktik. hal ini penting untuk menjaga agar tidak terjadi overtraining dan proses adaptasi atlet terhadap beban latihan akan terjamin keteraturannya. dan berkesinambungan. Kemampuan dribbling ini merupakan komponen penting bagi seorang pemain agar bisa memberi ruang kepada teman satu tim dalam setiap situasi atau momentum pada saat permainan dan pertandingan dimana terdapat kesempatan atau peluang di dalamnya. Selain itu dukungan saat melakukan dribbling juga sedikit banyak mempengaruhi suatu proses terjadinya serangan untuk menghasilkan gol. seorang pemain harus mengkobinasikan antara teknik-teknik dasar dribbling yang digunakan dengan prinsipprinsip dribbling itu sendiri. untuk mengoptimalkan penguasaan unsur gerak fisik. atlet harus melakukan latihan berulang ulang dengan frekuensi sebanyak banyaknya secara kontinyu. . Dengan mengetahui prinsip-prinsip latihan tersebut diharapkan prestasi seorang atlet akan cepat meningkat. Ketika pemain menguasai kemampuan dribbling secara efektif. teratur. 61 . atau menemui kegagalan. Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip latihan dribbling dan passing perlu diperhatikan dan diterapkan dalam penyusunan suatu program latihan yang melalui pentahapan. berdiri. Seorang pelatih maupun atlet di dalam melaksanakan latihan harus selalu berpegang pada prinsip-prinsip latihan. Beban latihan yang dikerjakan oleh atlet sebiknya atlet betul-betul merasakan berat. sumbangan mereka di dalam pertandingan akan sangat besar.63 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. tendanglah dengan pelan untuk mempertahankan kontrol bola. 4) prinsip ulangan (repetisi).

Passing Mengunakan Kaki Bagian Luar Secara umum. tekuk sedikit lutut kaki. Teknik menendang dalam sepakbola. Dibandingkan dengan teknik dasar yang lain passing lebih banyak dilakukan dalam bermain sepabola.Dameika Suryantoro. tangan direntangkan untuk menjaga keseimbangan bola. teknik pelaksanaanya adalah sebagai berikut: letakan kaki yang menahan keseimbangan sedikit disamping belakang bola. tekuk lutut kaki serta posisi bahu dan pinggul lurus dengan bola. fokus terhadap bola. Passing Passing merupakan teknik dasar dalam bermain sepakbola. tendang pada pertengahan bola ke bawah. badan sedikit membungkuk serta pandangan terfokus di depan jangan terlalu sering melihat bola. Sehingga hal tersebut menjadi alasan mengapa dalam latihan di sekolah sepakbola passing lebih banyak diajarkan. tendang bagian tengah bola dengan punggung kaki dan kuatkan saat melakuan tendangan supaya bola lurus ke depan dengan sempurna dan lakukan gerakan lanjutan serta berakhir kaki sejajar dengan dada. tendang bagian tengah bola dengan bagian samping dalam kaki. Dribbling Menggunakan Kura-Kura Kaki Secara umum. rentangkan tangan untuk menjaga keseimbangan. Pengembangan Variasi Latihan Dribbling dan Passing Dribbling Mengunakan Sisi Kaki Bagian Luar Secara umum. doronglah bola dengan pelan dan perkirakan antara bola dengan kaki jangan terlalu jauh sehingga mudah mempertahankan kontrol bola. serta kepala tetap tegak dan mata terpusat kelapangan di depan. Seluruh bagian kaki dapat digunakan untuk menendang boladengan hasil yang berlainan pula. shooting (menendang bola keras kearah gawang). tendang bola dengan bagian samping sisi kaki luar. teknik pelaksanaanya adalah sebagai berikut: berdiri dengan bahu menghadap sasaran. ayunkan kaki yang akan menendang kebelakang. pindahkan berat badan kedepan lalu lanjutkan gerakan searah dengan bola. Passing membutuhkan banyak teknik yang sangat penting agar tetap menguasai bola. posisi badan tegak lurus dengan lutut agak ditekuk. pindahkan berat badan bola ke depan. dan punggung kaki penuh (instep). menendang bola dapat dibedakan menjadi menendang bola dengan menggunakan 64 sisi dalam kaki (inside). tarik kaki yang akan menendang kebelakang dengan bagian punggung kaki di luruskan dan dikuatkan (kaku). rentangkan tangan untuk menjaga keseimbangan. Passing Mengunakan Punggung Kaki Secara umum teknik pelaksanaannya adalah sebagai berikut: Dekati bola dari belakang pada sudut yang kecil. sisi luar kaki (outside). Passing paling baik dalakukan dengan menggunakan kaki.tekukkan lutut kaki. Passing (mengumpan/mengoper bola ke teman). bahu dan punggung lurus dengan sasaran. letakkan kaki yang menahan keseimbangan di samping bola. kepala tidak bergerak dan fokus terhadaqp bola. Berdasarkan hal itu. posisi kaki lurus kebawah kuatkan saat bersentuhan dengan bola. tetapi bagian tubuh lain juga bisa di gunakan. teknik pelaksanaanya adalah sebagai berikut: perkenaan bola tepat pada sisi kaki bagian luar. menurut fungsinya di bedakan menjadi dua. b) Passing menggunakan kaki bagian luar. teknik pelaksanaanya adalah sebagai berikut: perkenaan bola ada pada bagian sepatu tempat tali sepatu berada. Passing Mengunakan Kaki Bagian Dalam Secara umum. jangan menendang hanya mendoroang bola saja dengan lutut agak ditekuk agar bola tetap bisa terkontrol pada penguasaannya. letakkan kaki yang menahan keseimbangan di samping bola. . jangan terpaku pada kaki. Menurut Mielke (2007) passing adalah seni memindahkan momentum bola dari satu pemain ke pemain lain. Dalam melakukan passing ada beberapa perkenaan kaki pada bola diantaranya: a) Passing menggunakan kaki bagian dalam. c) Passing menggunakan punggung sepatu. ayun kaki yang akan menendang ke belakang di belakang kaki yang menahan keseimbangan. ayunkan kaki yang akan menendang ke depan. lalu pindahkan berat badan kedepan dan sempurnakan gerakan akhir dari kaki yang menendang bola. kepala tidak bergerak dan fokus perhatikan pada bola.

Uji coba dilakukan pada pemain sepakbola di SSB AMS Kepanjen Usia 12-14 Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang yang diteliti dengan menggunakan teknik kuesioner yang kemudian dianalisis. Sumber data dalam penelitian ini adalah dua orang ahli kepelatihan sepakbola dan satu orang ahli sepakbola. sehingga model variasi latihan dribbling dan passing dapat digunakan di SSB AMS Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang. Mei 2014. Dari hasil evaluasi tahap I diperoleh persentase 88. ketepatan waktu serta kepercayaan diri dari pemain saat melakukannya. sehingga model variasi latihan dribbling dan passing dapat digunakan di SSB AMS Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang. Volume 1. Uji coba dilakukan pada pemain sepak-bola di SSB AMS Usia 12-14 Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang dengan menggunakan 15 subjek yang akan diteliti dengan menggunakan teknik kuesioner yang kemudian dianalisis.67 METODE Metode dalam penelitian pengembangan ini menggunakan model pengembangan Borg dan Gall (1983:775). Dari hasil evaluasi tahap II diperoleh persentase 83. 61 . digunakan untuk menganalisis hasil pengumpulan data penelitian awal (analisis kebutuhan) dan data kuantitatif diperoleh dari hasil uji kelompok kecil dan uji lapangan berupa persentase dari hasil pengumpulan kuesioner. Data-data tersebut dikelompokkan. 2007). HASIL Dari hasil evaluasi ahli kepelatihan sepakbola diperoleh persentase 88. Dribbling dan passing merupakan teknik dasar dalam bermain sepakbola dengan cara melindungi bola dari jangkauan lawan dan memberi ruang untuk bisa melakukan operan kepada teman satu tim dan dibutuhkan akurasi. Produk yang dikembangkan ternyata perlu untuk dikaji ulang keberadaannya.54%. 2) Mengembangkan bentuk produk awal (berupa variasi latihan dribbling dan passing sepakbola dalam bentuk teks dilengkapi gambar). PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan. 6) Uji lapangan dengan menggunakan 30 subjek.33%. dengan modifikasi langkah sebagai berikut: 1) Melakukan penelitian dan pengumpulan data informasi awal termasuk observasi lapangan sampai kajian teoritik. 4) Uji coba kelompok kecil. Produk yang nantinya dihasilkan adalah berupa modelmodel variasi latihan dribbling dan passing yang mengacu pada teknik dan pelaksanaan serta prinsip dribbling dan passing dengan memuat bentuk latihan dribbling dan passing dan alat-alat yang digunakan dalam mendukung latihan dribbling dan passing yang dikemas dalam bentuk buku dan VCD.33%. sehingga model variasi latihan dribbling dan passing dapat digunakan. 2 ahli kepelatihan sepakbola.65 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. Teknik analisis kualitatif digunakan untuk menganalisis hasil pengumpulan data dari para ahli menggunakan pendekatan kualitatif dan teknik analisis data deskriptif dengan persentase. Penelitian dan pengembangan ini menghasilkan sebuah produk pengembangan variasi latihan dribbling dan passing dalam permainan sepakbola usia 12-14 tahun di SSB AMS Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang yang terdiri dari 12 model variasi latihan dribbling dan passing. 5) Revisi produk dari hasil uji coba kelompok kecil. Dari hasil evaluasi ahli sepakbola diperoleh persentase 83. karena setelah proses penelitian terdapat beberapa hal yang perlu untuk diperbaiki. 3) Kegiatan evaluasi para ahli yaitu. 7) Hasil produk pengembangan variasil latihan dribbling dan passing yang dihasilkan setelah melalui revisi uji lapangan. sehingga model variasi latihan dribbling dan passing dapat digunakan di SSB AMS Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang. maka produk pengembangan variasi latihan dribbling dan passing dalam permainan sepakbola usia 12-14 tahun sesuai dengan kebutuhan pemain SSB AMS Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis kualitatif diperoleh dari hasil evaluasi berupa data masukan dan saran dari para ahli. dianalisis dan kemudian disimpulkan (Sugiyono. Nomor 1. Selain dribbling dan passing masih banyak lagi teknik dasar lain yang menjadi komponen penting dalam permainan sepakbola. 1 ahli sepakbola. Setelah mengalami beberapa revisi oleh ahli akhirnya mengha- . dan pemain SSB AMS Kepanjen. dengan mengujicobakan hasil revisi produk awal.54%.

Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang. Jakarta: Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. jarak A dan C 2 meter disempurnakan menjadi 1 meter.R. baik itu tentang kemasan tampilan maupun isi dari materi produk yang dikembangkan. jadi sebaiknya dilanjutkan pada penelitian mengenai efektivitas produk yang dikembangkan. Dari hasil evaluasi ahli kepelatihan sepakbola diperoleh persentase 88. W. Harsono. Sepakbola.D. 2) Perhatikan jarak dribbling dan passing untuk model 4 jarak pemain X1 dan X2 10 meter disempurnakan menjadi 5 meter. Malang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2003. dari hasil evaluasi ahli sepakbola diperoleh persentase 83. agar model variasi latihan dribbling dan passing dalam permainan sepakbola ini dapat digunakan oleh pemain sepakbola. Latihan Sepakbola: Metode Baru Serangan.A. Raja Grafindo Persada . Jakarta: PT. masukan tersebut telah dianalisis dengan metode triangulasi. Pengembangan Variasi Latihan Dribbling dan Passing silkan produk pengembangan variasi latihan dribbling dan passing dalam permainan sepakbola usia 12-14 tahun yang terdiri dari 12 model variasi latihan dribbling dan passing.Dameika Suryantoro. Penelitian dan pengembangan ini menghasilkan variasi latihan dribbling dan passing dalam permain- 66 an sepakbola usia 12-14 tahun sebanyak 12 model variasi latihan dribbling dan passing yang sesuai dengan kondisi saat bertanding. sehingga ditemukan display data sebagai berikut: 1) Perlu dikembangkan lebih banyak lagi variasi latihan dribbling dan passing. 1988. Dalam pemanfaatannya perlu dipertimbangkan situasi dan kondisi. E. Coaching dan Aspek-Aspek Psikologis dalam Coaching. Sesuai dengan masukan para ahli tersebut. sehingga model variasi latihan dribbling dan passing dapat digunakan di SSB AMS Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang. & Gall. Educational Research An Introduction.33%. 1991. J. Borg. 1983. sehingga pemain sepakbola dapat mengetahui dan menguasai latihan dribbling dan passing yang akan dilakukan dengan baik. New York: Longman. Hasil revisi produk I menunjukan bahwa model hasil revisi sudah mendekati kepada model latihan yang relevan/ sesuai dengan kondisi saat bertanding. Sepakbola. Sebelum disebarluaskan sebaiknya produk ini disusun kembali menjadi lebih baik. Haryono & Yunus. 4) Latihan yang sulit dilakukan oleh pemain jangan diberikan. sehingga produk yang ada masih harus direvisi sebelum diuji cobakan. baik itu pemain sepakbola maupun klub sepakbola yang mempunyai kesamaan dengan kelompok uji coba. Sebelum melakukan latihan dribbling dan passing sebaiknya pemain melihat dan mempelajari model variasi latihan dribbling dan passing ini.54%. Masih perlunya penelitian lebih lanjut mengenai keefektifan produk yang dikembangkan. M. M. maka sebaiknya dicetak lebih banyak lagi. jarak C dan D 5 meter sempurnakan menjadi 3 meter. Bandung: Pioner. hasil pengembangan ini hanya sampai tersusun sebuah produk. namun ada saran tertulis dari para ahli (tiga orang ahli). sehingga nantinya pemain sepakbola dapat mengetahui dan mampu menguasai teknik latihan dribbling dan passing dengan baik. Saran Masih memerlukan evaluasi dan uji coba pada subjek yang lebih besar atau lebih luas. Luxbacher. Untuk subjek penelitian sebaiknya dilakukan pada subjek yang lebih luas.C. belum sampai pada tingkat efektivitas produk yang dikembangkan. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Produk pengembangan ini adalah variasi latihan dribbling dan passing dalam permainan sepakbola usia 12-14 tahun sesuai dengan kebutuhan pemain SSB AMS Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang. DAFTAR PUSTAKA Batty. 1998. Proyek Operasi dan Perawatan Fasilitas. sehingga model variasi latihan dribbling dan passing dapat digunakan di SSB AMS Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang. 3) Saat latihan dribbling dan passing sesuaikan dengan keadaan di lapangan/sebenarnya.

McClenaghan. & Rotella. Metodologi Pelatihan. Metodologi Penelitian Pendidikan. Volume 1. Metode Penelitian Kuantitatif. B. 1993. R. Sugiyono. Jakarta: KONI Pusat Sukmadinata. Bandung.67 Mielke. R. 61 . 2005. Dasar Sepakbola Modern. Remaja Rosdakarya.. Malang: Dioma. 2007. Dasar-Dasar Ilmiah Kepelatihan. Nomor 1. Mei 2014. T. Dasar-Dasar Sepakbola. 2007.67 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. Kualitatif dan R & D. Suharno. Scheunemann. Semarang: IKIP Semarang Press. D. PT. Terjemahan Kasiyo Dwijowinoto. Pakar Raya Pakarnya Pustaka Pate. . 1993.R. Bandung: Alfabeta.. 2005.

yaitu penelitian awal (analisis kebutuhan) dan pengembangan yang menggunakan rancangan Borg & Garl (1989). pelaksanaan pembelajaran melibatkan tiga komponen utama. Buku ajar merupakan salah satu bentuk sumber belajar. 79.com Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan buku ajar pendidikan jasmani pada kelas XI semester 1 di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 7 Malang. 3) produk ini dapat digunakan siswa dan guru pendidikan jasmani sebagai sumber belajar. kompetensi dasar dan indikator pengajaran sehingga diharapkan siswa mampu mempelajari dengan mudah. standar kompetensi. Indonesia adalah negara yang kaya akan Sumber Daya Alam (SDA). 2) Terdapat program semester (promes). terdapat materi pembelajaran sehingga diharapkan dapat memudahkan guru untuk menunjukkan kepada siswa bagian mana yang harus dipelajari. Penelitian dilakukan dua tahap. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan buku ajar pendidikan jasmani pada kelas XI semester 1 di SMA Negeri 7 Malang.8% menya-takan menarik dan klasifikasi persentase antara 80-100% tergolong dalam valid (digunakan). Instrumen dalam pengambailan data berupa lembar observasi. Buku ajar merupakan salah satu media yang memiliki kelebihan. Sehingga dengan adanya pengembangan pembelajaran dapat membantu dan mempermudah dalam mempercepat proses pembelajaran. 2) produk ini telah melalui tinjauan ahli. yaitu: guru. dan gambar (siswa SMA Negeri 7 Malang) pada setiap bab sehingga diharapkan mudah dan menarik untuk dipelajari. 4) Terdapat alat evaluasi pada setiap materi lengkap 68 . Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa buku ajar juga merupakan sumber belajar yang penting dalam pembelajaran dan materi yang diberikan harus mampu diterima oleh siswa. SDM yang berkualitas dari generasi penerus bangsa diharapkan dapat semakin memajukan bangsa dan negara. olahraga dan kesehatan: 1) produk pertama yang menggunakan gambar subyek penelitian. Untuk mengolah Sumber Daya Alam (SDA) yang berlimpah itu tentu saja diperlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. konsep. Isi yang dipelajari siswa semuanya telah termuat di dalam buku. olahraga dan kesehatan dalam bentuk sejarah. 3) Penyajian materi dimulai dari yang mudah menuju sulit. Hasil analisis uji kelompok besar (uji lapangan) terhadap 30 siswa kelas XI SMA Negeri 7 Malang. Produk yang dikembangkan berisi materi mengenai pendidikan jasmani pada kelas XI semester 1 dalam bentuk buku ajar. Beberapa spesifikasi dalam produk ini meliputi: 1) Buku ajar ini berisi materi pendidikan jasmani. Produk pengembangan berupa buku ajar pendidikan jasmani. Berdasarkan hasil analisis dua guru pendidik-an jasmani SMA Negeri 7 Malang. Hal ini kembali dipertegas oleh pernyataan Dwiyogo (2007:1) bahwa: dalam pembelajaran konvensional. Pendidikan jasmani merupakan salah satu bentuk pendidikan yang ada di Indonesia. siswa. wawancara. kuesioner.PENGEMBANGAN BUKU AJAR PENDIDIKAN JASMANI UNTUK SISWA KELAS XI SEMESTER 1 SMA Ika Ahmad Arif Rohmawan STKIP Taman Siswa Bima email: ika_fik_um@yahoo. psikomotor dan fisik seseorang. Kata kunci: buku ajar. Guru bukan merupakan sumber belajar tunggal. merupakan buku tertulis. ringan dan dapat dibaca dimana saja.2% menyatakan baik dan klasifikasi persentase antara 80-100% tergolong dalam klasifikasi valid (digunakan). Tugas guru adalah memasukkan isi atau buku dari buku ke kepala siswa. afektif. Cara yang strategis untuk mencetak SDM yang berkualitas adalah dengan memajukan sektor pendidikan. dan dokumentasi. meninggalkan keterpurukan. dan buku. dan menyusul ketertinggalan dari negara lain dalam semua bidang kehidupan. Pendidikan jasmani merupakan bagian dari proses keseluruhan yang mempunyai tujuan dalam pembentukan kognitif. kelas XI. 87. pendidikan jasmani.

Gambar atau illustrasi. pengarang. aktivitas senam. Tujuan dari pendidikan jasmani adalah memiliki jangka pandek dan jangka panjang untuk mengembangkan keterampilan gerak dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik. aktifits ritmik. 5) Ter-dapat variasi pembelajaran yang disertai gambar gerakan pada setiap materi yang disajikan. 2000:2). aktifitas air. Rincian Pekan Efektif. stabilitas emosional. halaman sehingga diharapkan siswa mudah tertarik untuk mempelajari buku ajar. Pengembangan adalah suatu kegiatan yang menghasilkan rancangan atau produk yang dapat dipakai untuk memecahkan masalahmasalah aktual (Universitas Negeri Malang. Daftar. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian pengembangan merupakan suatu usaha untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang sudah ada yang didasarkan pada langkah-langkah pengembangan yaitu: analisis kebutuhan. afektif). keterampilan gerak. Dengan buku ajar ini. Merupakan buku tertulis. Uraian isi. dan 7) Terdiri dari halaman judul (judul. pengantar yang digunakan sebagai komunikasi atau untuk menyampaikan pesan. terdapat materi pembelajaran sehingga diharapkan dapat memudahkan guru untuk menunjukkan kepada siswa bagian mana yang harus dipelajari. Kalender Akademik. Sub-Bab. dan indikator. 1983:771). alat evaluasi yang terdiri dari ranah (kognitif. Daftar Isi. Riwayat hidup penulis buku ajar).Ika Ahmad Arif Rohmawan. uji coba produk untuk memecahkan masalah dan hasilnya dapat digunakan pada pembelajaran pendidikan jasmani disekolah. pengembangan produk. Kata Pengantar Pengarang. Media pembelajaran adalah perantara. pikiran dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. tindakan moral dan penalaran. Kompetensi Dasar. field tested. Pendidikan jasmani merupakan suatu proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani yang direncanakan secara sistematis. minat. Dalam penelitian ini mengingat jumlah sekolah yang diteliti hanya .). Jabaran Alokasi Waktu. aktivitas pengembangan. psikomotor. Sejarah Materi. Buku ajar adalah buku pelajaran pada bidang studi tertentu. METODE Peneliti menggunakan model pengembangan (research and development) Borg dan Gall (1983:775) yang terdiri dari sepuluh langkah pada penelitian pengembangan bahwa melakukan analisis kebutuhan. Alat Evaluasi. revisi produk akhir. Tabel (jika ada). revisi produk utama. Buku ajar merupakan isi dari pembelajaran atau bisa disebut bahan-bahan pembelajaran yang tertuang dalam buku untuk kepentingan pengajaran. tulisan. (2) Bagian Inti (Judul Bab. uji lapangan pada 13 sekolah menggunakan 6-12 subyek. yang disusun dan dilengkapi sehingga memudahkan belajar siswa dan bisa menjadi acuan belajar bagi siswa. Research and Development consists of a cycle in which a version of the product is developed. bertujuan untuk mengembangkan aspek kesehatan. Daftar Gambar (jika ada). aspek kebugaran jasmani. siswa diharapkan lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran. 6) Terdapat variasi warna gambar. uji coba lapangan pada 5-15 sekolah menggunakan 30-100 subyek. gambar). melakukan perencanaan dan uji skala kecil. Penelitian pengembangan merupakan penelitian yang berupaya mengembangkan produk tertentu sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini (Winarno. dan (3) Bagian Akhir (Daftar rujukan. Tabel jika ada. tujuan pembelajaran (standar kompetensi. promes. 2007:47). psikomotor. keterampilan berfikir kritis. revisi produk. Pengembangan yang dikemukan di atas tentunya bukan merupakan langkah yang diikuti secara mutlak. 69 Ruang lingkup pendidikan jasmani meliputi permainan dan olahraga. pendidikan luar kelas. and revised on the basis of field test-data (Borg dan Gall. ringan dan dapat dibaca dimana saja. dan afektif. kompetensi dasar. Pengembangan Buku Ajar Pendidikan Jasmani dengan tiga komponen penilaian yaitu kognitif. Daftar Lampiran (jika ada)). membuat produk awal. Standar Isi. informasi/bahan pembelajaran sehingga dapat merangsang perhatian. menyusun laporan. Kunci Jawaban). uji lapangan pada 10-30 sekolah menggunakan 40-200 subyek. uraian isi/materi. Peneliti memilih beberapa komponen yang tentunya disesuaikan dengan karakteristik produk: 1) Bagian Awal (Halaman Judul.

HASIL Berdasarkan pengumpulan data dari kegiatan uji coba pengembangan bahan ajar pendidikan jasmani pada kelas XI semester 1. Instrumen yang digunakan dalam pengembangan buku ajar pedidikan jasmani kelas XI semester 1 di SMA Negeri 7 Malang ini digunakan angket yang disebarkan pada para ahli dan siswa kelas XI SMA Negeri 7 Malang. yaitu: 1) ahli media pembelajaran. Saran dan masukan dari ahli pembelajaran pendidikan jasmani adalah sebagai berikut: 1) Sebaiknya komponen isi harus mempertimbangkan kompetensi dasar dan indikator pada setiap materi. hasil akhir produk pengembangan yang dihasilkan oleh uji coba lapangan. menyusun produk awal (penyiapan materi pengajaran. dan data kuantitatif. 5) . 3) Seharusnya setiap gambar diberikan identitas. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif kuantitatif dengan persentase. Serta menggunakan teknik kuesioner. uji coba kelompok kecil. uji coba kelompok besar sebanyak 30 siswa. dua guru pendidikan jasmani. Mei 2014. Tujuan dilakukannya tiga tahapan ini adalah untuk memperoleh tingkat keefektifan produk dari segi pemanfaatan. 2) Pada tiap sejarah materi seharusnya terkait dengan materi. Dari uraian di tersebut jelas bahwa pengembang dapat menentukan langkah penelitian berdasarkan kondisi khusus yang dihadapi. ahli pembelajaran pendidikan jasmani. buku petunjuk yang akan digunakan dan perlengkapan evaluasi).70 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. pengumpulan data informasi termasuk kajian pustaka dan observasi lapangan. Volume 1. uji coba kelompok kecil menggunakan 6 siswa. Data evaluasi menggunakan instrumen dalan bentuk angket ditujukan kepada 2 ahli. yaitu data kualitatif. Subyek uji coba menggunakan tinjauan ahli. yaitu: evaluasi ahli. revisi produk akhir (sesuai dengan saransaran dari hasil uji lapangan utama). Pada pengembangan buku ajar pendidikan jasmani kelas XI ini. Disebut data kualitatif karena data yang diperoleh dari kuesioner bukan berupa angka namun berupa pernyataan atau kalimat dari berbagai tinjauan ahli. uji coba kelompok kecil sebanyak 6 siswa. Pada desain uji coba produk ini. Teknik ini digunakan pada data hasil kuesioner uji coba utama. Nomor 1. 1 ahli media. dengan 30 subjek. (2) ahli pembelajaran pendidikan jasmani. Untuk uji coba.72 satu sekolah dan terdiri dari delapan kelas. Sedangkan dise- but data kuantitatif karena data yang diperoleh dari penelitian awal. menggunakan 7 tahap. lalu dikumpulkan dan dianalisis). Ia juga dapat melakukan modifikasi dari langkah-langkah yang dikenalnya berdasarkan pertimbangan-pertimbangannya yang terbaik. dibagi menjadi 3 tahap. revisi produk pertama (sesuai dengan saran-saran dari tinjauan para ahli pada uji lapangan (kelompok kecil) permulaan. Rancangan pengembangan buku ajar pendidikan jasmani pada kelas XI semester 1 di SMA Negeri 7 Malang. tinjauan para ahli dengan menggunakan 1 ahli pembelajaran. 3) guru penjas kelas XI. angket ditujukan pada 2 guru penjas. dan kelompok besar menggunakan 30 siswa. teknik yang digunakan untuk mengolah data hasil penelitian dari ahli media. dan data uji coba adalah teknik persentase. 4) siswa kelas XI SMA Negeri 7 Malang. Menurut Ardhana (2002:9) bahwa: setiap pengembang tentu saja dapat memilih dan menentukan langkah-langkah yang paling tepat bagi dirinya berdasarkan kondisi khusus yang dihadapinya dalam proses pengembangan. 68 . dibawah ini akan disajikan data tentang tanggapan 1) ahli pembelajaran pendidikan jasmani. uji coba kelompok kecil dan uji coba kelompok besar untuk mengetahui keberhasilan produk yang dikembangkan. menggunakan 1 sekolah dengan 6 subjek). yaitu: Melakukan penelitian awal (need assasment). maka peneliti meyederhanakan langkah penelitian yang akan dilakukan. 2) ahli media pendidikan jasmani. Jenis data yang didapat ada dua macam. 4) Teknik pada gambar lebih baik diberikan penjelasan pada setiap gerakan. peneliti menggunakan metode pengumpulan data berupa instrumen dalam bentuk angket. uji coba tahap pertama dan uji coba tahap kedua. uji coba lapangan utama (dilakukan pada 1 sekolah. menggunakan teknik kuesioner lalu dianalisis hasilnya). Perolehan data uji coba buku ajar pendidikan jasmani.

Produk akhir dari pengembangan ini adalah berupa buku ajar pendidikan jasmani pada siswa kelas XI semester 1. hasilnya adalah 87. seharusnya periksa sebelum penyusunan akhir. ada beberapa bagian produk yang perlu direvisi. aktivitas pengembangan. senam aerobik dan aktivitas penjelajahan. dan 4) Bagian akhir: Pada bagian akhir ini berisi tentang alat evaluasi ranah kognitif. hasilnya adalah 64. rincian pekan efektif. 7) Pada latihan soal seharusnya diberikan variasi soal sebagai pengantar. standar isi. kalender pendidikan. selain ucapan terima kasih. Sistematika penulisan produk yang dikembangkan adalah sebagai berikut: 1) Cover: Peneliti menulis judul “ Pendidikan Jasmani” ini didasarkan untuk kesesuaian isi dari produk yang dihasilkan dengan judul yang dipilih. toleransi. tulisan.5%. jabaran alokasi waktu. akan tetapi produk . Komposisi warna harus serasi dan jelas. Dari judul ini mencerminkan inti dari isi produk yang dikembangkan. 2) Kata pengantar harus menjelaskan isi buku. 3) Bagian inti: Pada bagian inti berisi materi pembelajaran pendidikan jasmani yang terdiri dari 11 materi. masih terdapat beberapa kelemahan pada produk yang dikembangkan antara lain: 1) Memerlukan adanya evaluasi dan uji coba pada subyek yang lebih besar atau luas. 4) Daftar isi harus sesuai dengan isi buku. seharusnya jarak antara judul dengan tiap materi tidak terlalu dekat. 5) Tampilan kurang menarik. dan daftar rujukan. dan 9) Kunci jawaban harus sesuai dengan latihan soal. hasilnya adalah 76. Produk ini selain memiliki kelemahan seperti tersebut di atas. ahli media pendidikan jasmani. guru pendidikan jasmani.3% dari kriteria yang ditentukan dan dapat dikatakan bahwa buku ajar pendidikan jasmani kelas XI semester 1 ini memenuhi kriteria cukup valid (60%-79%) sehingga dapat digunakan sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran untuk siswa kelas XI semester 1 SMA Negeri 7 Malang. uji kelompok besar 84. siswa (uji coba kelompok kecil dan uji coba kelompok besar). permainan bolavoli. dan gambar tidak proporsional. Materi terdiri dari permainan sepakbola. Berdasarkan hasil análisis yang telah dilakukan terhadap tanggapan atau penilaian dari guru pendidikan jasmani. PEMBAHASAN Berdasarkan análisis data yang diperoleh dari ahli pembelajaran pendidikan jasmani. tolak peluru. Berdasarkan hasil análisis yang telah dilakukan terhadap tanggapan atau penilaian dari ahli pembelajaran pendidikan jasmani. lari jarak menengah. daftar gambar.Ika Ahmad Arif Rohmawan. kedisiplinan. Hal ini dilakukan untuk memaksimalkan dari buku ajar pendidikan jasmani kelas XI semester 1 di SMA Negeri 7 Malang. ahli media pendidikan jasmani. dan 2) Memerlukan penelitian lebih lanjut mengenai keefektifan produk yang dikembangkan. 2) Bagian awal: Pada bagian ini berisi kata pengantar. permainan bola basket. 6) Alat evaluasi harus menggunakan bahasa yang konsisten bagi siswa maupun guru. Pengembangan Buku Ajar Pendidikan Jasmani Teknik harus jelas sehingga dapat dibedakan antara gerakan benar dan salah. sebaiknya semua harus sesuai ukuran buku. tanggung jawab. kerangka isi buku daftar isi. kunci jawaban. 3) Ukuran buku tidak konsisten. dan 7) Banyaknya tulisan yang masih salah ketik. 6) Alat evaluasi harus jelas dan sesuai dengan materi. sebaiknya gambar yang digunakan pada waktu siswa melakukan aktivitas fisik. saling menghargai. Berdasarkan data yang telah dikumpulkan dari hasil analisis para ahli. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Setelah mengalami tinjauan ahli dan uji coba lapangan. dan daftar tabel. Setelah melakukan revisi sesuai de-gan ketentuan di atas. beladiri. psikomotor dan afektif. produk pengembangan ini mengalami beberapa revisi seperti yang telah dikemukakan. 8) Pada penilaian afektif seharusnya dilakukan penilaian terhadap nilai kerjasama. senam lantai. dari kriteria yang ditentukan dan dapat dikatakan bahwa buku ajar pendidikan jasmani kelas XI semester 1 ini 71 memenuhi kriteria valid (80%-100%) sehingga dapat digunakan sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran untuk siswa kelas XI semester 1 SMA Negeri 7 Malang. lompat tinggi. Saran dan masukan dari ahli media pendidikan jasmani adalah sebagai berikut: 1) Cover buku: warna.5%.2%.

M. Mei 2014. Untuk siswa dapat dijadikan sebagai sumber belajar tambahan untuk mempermudah dalam pemahaman materi pendidikan jasmani. SkripsiTesis-Desertasi-Artikel-MakalahLaporan-Penelitian. maka pengembangan ini sebaiknya disosialisasikan kepada setiap sekolah atau melalui MGMP.1983.R. karena hasil dari pengembangan ini hanya sampai tersusun sebuah produk saja. peneliti memberi saran sebagai berikut: 1) Agar seorang guru pendidikan jasmani memiliki kreatifitas dalam memanfaatkan sumber belajar dalam bentuk buku ajar untuk memberikan materi pembelajaran sebagai variasi dalam kegiatan pembelajaran. 2007. Universitas Negeri Malang .D. Pengembangan Kurikulum Penjas & Olahraga. & Gall. 2) Sebagai fasilitator sebaiknya guru pendidikan jasmani bertindak sebagai sumber belajar. Dalam pengembangan lebih lanjut. Volume 1.D. dapat digunakan sebagai acuan atau pedoman dalam mengajar materi pendidikan jasmani. Metodologi Penelitian Dalam Pendidikan Jasmani. Saran Dalam pemanfaatannya diperlukan pertimbangan tentang situasi dan kondisi yang mendukung. 2007. agar proses pembelajaran dapat berlangsung sesuai dengan harapan yang diinginkan. edisi keempat. disesuaikan dengan sasaran yang ingin dituju dan disesuaikan dengan kirikulum yang ada pada setiap sekolah. Borg W. DAFTAR RUJUKAN Ardhana.72 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. Untuk guru pendidikan jasmani. Fourth Ed. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. W.72 ini juga memiliki beberapa kelebihan: 1) Produk ini adalah produk yang pertama menggunakan gambar subyek penelitian. dan 2) Produk ini telah melalui tinjauan ahli. 2000. M. Malang: Universitas Negeri Malang. bila sesuai dengan keadaan yang dibutuhkan dan memiliki karakteristik sarana dan prasarana yang sama dengan SMA Negeri 7 Malang. Sistem Penyusu-nan Bahan Ajar. Dwiyogo. Malang: Wineka Media.E. 2002.D. diharapkan adanya pengembangan pembelajaran Pendidikan jasmani yang lain. Malang: Laboratorium Ilmu Keolahragaan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang Universitas Negeri Malang. sehingga nantinya guru pendidikan jasmani dapat mengetahui. Winarno. dan 4) Peneliti hanya sebatas mengembangkan produk buku ajar. Dwiyogo. memahami dan melaksanakan pengembangan ini di sekolah. sehingga banyak masukan untuk perbaikan produk untuk mencapai tujuan yang diinginkan. namun produk ini bisa digunakan untuk sekolah lain maupun instansi lain. Produk ini dapat digunakan oleh siswa dan guru pendidikan jasmani. Malang. Educational Research: An Introduction. dan 2) Agar pengembangan buku ajar pendidikan jasmani ini dapat digunakan oleh para guru pendidikan jasmani. Nomor 1. 68 .. W. Konsep Penelitian Pengembangan Dalam Bidang Pendidikan dan Pembelajaran. 3) Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut untuk tingkat efektivitas dari produk yang dikembangkan ini. 2007. Dalam penyebarluasan produk pengembangan ini ke sasaran yang lebih luas. peneliti memberi saran sebagai berikut: 1) Sebelum disebarluaskan ke ruang lingkup yang lebih luas sebaiknya produk ini dievaluasi kembali. Malang: Wineka Media. Produk yang dihasilkan merupakan produk yang ditujukan untuk siswa SMA Negeri 7 Malang. W. New York: Longman.

com Sapto Wibowo. seberapa besar peningkatan penggunaan media pelatihan bola modifikasi terhadap hasil prestasi sepak sila pada sepak takraw. salah satunya adalah teknik sepakan. salah satunya dengan menggunakan media pelatihan bola modifikasi seperti. Kata kunci: media pelatihan. media bola plastik. Untuk dapat bermain sepak takraw dengan baik. 1992:15). Namun dari beberapa 73 . bola modifikasi. Populasi dari penelitian ini adalah peserta ekstrakurikuler sepak takraw yang berjumlah 30 orang. hasil prestasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui. SMP/MTs. Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Surabaya Email: bowowibs777@gmail. bola dimainkan dengan menggunakan anggota badan kecuali tangan. yang dimainkan oleh 3 orang dan merupakan perpaduan antara dua bentuk permainan yaitu sepakbola dan bolavoli.PENGGUNAAN MEDIA PELATIHAN BOLA MODIFIKASI TERHADAP HASIL PRESTASI SEPAK SILA PADA EKSTRAKURIKULER SEPAK TAKRAW Ari Susana. sepak sila.045 dan penggunaan media pelatihan bola modifikasi ini ternyata dapat memberikan peningkatan hasil prestasi sepak sila pada sepak takraw pada peserta ekstrakurikuler SMP Negeri 3 Srengat Blitar sebesar 28. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan media bola modifikasi dapat meningkatkan prestasi sepak sila dan sepak takraw. sehingga lebih mengutamakan area untuk olahraga yang wajib diajarkan dalam pendidikan jasmani seperti bolavoli. Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Surabaya Email: arisusana26@yahoo. media bola gantung. sepakbola dan bola basket dan olahraga ini biasanya dikembangkan pada kegiatan pengembangan diri atau biasanya disebut kegiatan ekstrakurikuler. Sepak takraw merupakan salah satu materi pilihan yang dikembangkan di lingkungan sekolah seperti SD.Blitar yang berjumlah 30 orang. model permainan ataupun sarana prasarana yang digunakan agar calon atlet tersebut dapat merasakan dan menjiwai permainan yang akan dilakukan.77%. dan media bola yang tidak standart. diantaranya keterbatasan sarana prasarana seperti tidak memiliki area untuk membuat lapangan permainan sepak takraw. tanpa kemampuan dasar seseorang tidak akan bisa bermain dan juga mengembangkan permainan sepak takraw (Darwis dan Basa. Model pelatihan tersebut dapat dilakukan dengan mengawali bentuk peralatan. Berdasarkan hasil simpulan maka dalam proses pelatihan sepak sila dan sepak takraw disarankan untuk menggunakan media pelatihan bola modifikasi. Penguasaan keterampilan sepak takraw tidak dapat lepas dari penguasaan teknik dasar permainan sepak takraw.14 > ttabel 2.com Abstrak: Suatu pemberian media pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan pelatihan yang diharapkan bisa menangani kesulitan melakukan teknik sepak sila pada ekstrakurikuler sepak takraw. Dalam proses pelatihan berbagai model dapat dilakukan untuk mencapai tujuan dengan hasil meningkatnya kualitas atlet. SMA atau SMK. Permainan sepak takraw itu merupakan olahraga beregu. Dikatakan sama dengan sepakbola karena permainan itu dimainkan menggunakan kaki. seseorang dituntut untuk mempunyai kemampuan atau keterampilan gerak dasar yang baik. media balon. Hal ini disebabkan beberapa alasan. sampel yang diambil seluruh siswa yang mengikuti ekstrakurikuler sepak takraw SMP Negeri 3 Srengat .Dari hasil uji t didapatkan nilai t hitung 9. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji-t sampel sejenis. Walaupun tidak setiap sekolah mengembangkan permainan sepak takraw.

Berdasarkan pengamatan dalam penelitian yang dilakukan di SMP Negeri 3 Srengat Blitar. penataan ruang gerak dalam berlatih. Terkadang bola tidak tersepak. Dengan beberapa modifikasi media pelatihan dalam bentuk peralatan maupun bentuk permainan yang digunakan nantinya diharapkan akan mudah dalam mengontrol atau menyepak dalam teknik sepak sila.80 teknik sepakan.74 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. sehingga kesulitan tersebut terjadi karena kegiatan ekstrakurikuler berlangsung secara monoton dimana guru langsung memberikan bola takraw yang sesungguhnya. Misalnya berat ringannya. serta fungsi psikhologis manusia untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan. besar kecilnya. Atlet harus mampu melakukan dua hal dalam pelatihan yaitu: a) mampu bergerak. Pada dasarnya latihan adalah merupakan aktivitas olahraga yang sistematik dalam waktu yang lama ditingkatkan secara progresif dan bersifat individual. Sehingga akibat yang ditimbulkan siswa pada saat bermain. Karena dalam pelaksanaan sepak sila ada beberapa teknik yang harus dilakukan. 73 . salah satunya yaitu menguasai teknik dasar sepak sila. seorang pelatih dapat mengurangi tingkat kesulitan tugas ajar dengan cara memodifikasi peralatan yang digunakan untuk melakukan skill tersebut. Dari penelitian ini diharapkan akan terungkap bahwa dengan menggunakan modifikasi peralatan dan menggunakan model latihan sepak sila akan dapat meningkatkan permainan sepak takraw. Cepat lambatnya proses penguasaan keterampilan merupakan tema pokok dalam keberbakatan olahraga. hal itu dapat diwujudkan dengan salah satu cara yaitu memodifikasi kondisi lingkungan pembelajaran (peralatan. Dengan demikian diharapkan dalam pemberian media pelatihan bola modifikasi ini siswa dapat mengembangkan teknik sepak sila. dalam penelitian ini tertuju pada teknik sepak sila karena sepak sila merupakan teknik dasar yang dominan dilakukan dalam permainan sepak takraw. Dalam proses pelatihan. Untuk memberikan berbagai bentuk dan model latihan dalam kecabangan olahraga seorang atlet dituntut tidak hanya tahu bagaimana harus melakukan dan mengikuti perintah pelatih. . Dan mereka takut untuk menerima bola karena sifat bola yang keras. Mei 2014. tinggi rendahnya. dan b) memahami tujuan dari gerakan-gerakan harus dilakukan. pada saat menerima bola pertama bola tidak bisa terkontrol dengan baik dan benar. yang akhirnya diarahkan pada permainan sepak takraw. olahraga sepak takraw diajarkan pada pengembangan diri atau ekstrakurikuler dengan salah satu sub materi sepak sila. bola tidak beraturan saat disepak. Bompa (1994). Upaya untuk meningkatkan keterampilan bermain sepak takraw harus dilakukan latihan secara sistematis dan kontinyu. yang mengarah pada ciri-ciri fungsi fisiologis. sehingga siswa dapat memahami dan melaksanakan sepak sila dengan baik. seperti yang disebutkan oleh Magil (1980) bahwa penguasaan keterampilan olahraga terjadi melalui proses belajar. Nomor 1. kemudian. Mereka mengatakan bahwa kesulitan yang dialami saat perkenaan bola ketika menyepak. seorang atlet juga harus memahami gerakan-gerakan baru yang akan dialihkan. Volume 1. Memodifikasi peralatan diharapkan untuk bisa membantu pelatih pada saat menghadapi kesulitan dalam proses pelatihan karena seorang atlet sepak takraw yang masih baru akan merasa sulit beradaptasi dengan peralatan yang baru digunakannya. panjang pendeknya peralatan yang digunakan. Dalam hal ini pembina harus mempunyai keterampilan dan inovasi dalam memberikan materi dalam melatih ekstrakurikuler sehingga siswa senang dalam melakukan latihan. sehingga banyak orang menyebutkan sebagai ibu dari permainan sepak takraw dengan hal itu diharapkan siswa akan mampu menguasai teknik sepak sila yang diharapkan mampu melakukan dengan baik dan tepat sehingga siswa dapat bermain sepak takraw dengan baik. Adapun pelaksanaan penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 3 Srengat Blitar dengan menggunakan siswa yang mengikuti pelatihan ektrakurikuler pada cabang olahraga sepak takraw. bola pertama mereka pada saat menyepak tidak beraturan. Sepak sila merupakan materi yang dirasa sulit untuk siswa. Hal tersebut dapat menjadi acuan bagi pembina menerapkan media pelatihan yang tepat. Dua kemampuan ini akan dapat mempercepat peningkatan keterampilan yang akan dilakukan. maka hasil prestasi siswa akan lebih baik. Oleh karena itu. jumlah siswa yang terlibat).siswa disuruh untuk melakukan passing.

dan sebagainya. Salah satu tugas pelatih dalam proses latihan adalah memperlakukan atlet dengan kesempatan yang sama. 5) Se- 75 cara tidak langsung tersedia fasilitas untuk penerapan latihan ilmiah. Keterlibatan ini berkaitan dengan hai-hal sebagai berikut: (1) Kegiatan fisik (motor density). 4) Meningkatkan rasa percaya diri atlet. Dengan demikian kita dapat memahami bahwa dua orang yang berbeda diberikan beban luar yang sama akan mereaksi secara berbeda yang ditunjukkan dengan denyut jantungnya. daya saing dan menambah banyaknya jumlah atlet yang berpotensi dan mampu mencapai prestasi tinggi. oleh karena itu pelatih perlu memahami setiap atlet secara individual. anak usia dini berkembang dan menekuni salah satu cabang olahraga tanpa melalui pengidentifikasian bakat. oleh karena itu diperlukan kegembiraan . yaitu bagaimana atlet dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan yang berkaitan dengan penyusunan program latihan. Beban latihan yang sama tidak akan direaksi dengan sama oleh atlet yang berbeda. Seleksi menggunakan pendekatan ilmiah mengandung pengertian bahwa dalam pro-ses pengidentifikasian bakat anak usia dini telah menggunakan langkah-langkah yang berdasarkan pada ilmu pengetahuan dan teknologi. 3) Meningkatkan kompetisi. disamping juga mampu memanfaatkan ingatan dan fungsi memori untuk kepentingan belajar. Sebaliknya bila atlet diminta untuk berlari dengan beban dalam yang sama (denyut nadi 160/menit) maka waktu yang dicapai (beban luar) untuk berlari 1200 meter akan berbeda. oleh karena itu pelatih perlu merancang manajemen latihannya agar setiap atlet dapat melaksanakan kegiatannya secara optimal. perubahan warna kulit.Ari Susana & Sapto Wibowo. karena tidak adanya pengidentifikasiaan bakat untuk menentukan cabang olahraga yang paling tepat untuk atlet. dalam hal ini dapat berbentuk kemampuan menangkap pelajaran olahraga. Individu ini juga dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti. Keterlibatan yang aktif pada setiap atlet akan menghasilkan hasil yang optimal. yaitu: (1) Seleksi menggunakan pendekatan natural atau alamiah. sehingga wajar bila atlet yang satu mengalami kelelahan lebih dahulu daripada atlet yang lain. Latihan merupakan proses jangka panjang. kebiasaan olahraga di sekolah. Melalui pendekatan dengan metode ilmiah anak-anak usia dini di tes kemudian diidentifikasi untuk dapat diarahkan ke cabang olahraga yang sesuai dengan potensi dan bakatnya. faktor keturunan. Aspek belajar dalam olahraga sebagai unsur penyangga keberbakatan olahraga dapat diuraikan dengan cara memodifikasi aspek belajar secara umum unsur keberbakatan. Seleksi pendekatan natural atau alamiah. kadar laktat dalam darahnya. Anak yang berbakat adalah mereka yang memiliki kemampuan belajar tinggi. keinginan orang tua. 2) Efisiensi program latihan dapat dicapai bagi atlet yang memiliki potensi dan kemampuan tinggi. Anak usia dini menekuni olahraga sebagai akibat dari pengaruh lingkungan. dan (2) Seleksi menggunakan pendekatan ilmiah. denyut nadi. Prinsip ini juga berkatiran dengan hukum kekhususan yang berimplementasi pada latihan yang khusus bagi setiap atlet. Sedangkan beban dalam adalah beban fisiologis dan psikologis atlet setelah mendapatkan beban luar sebagai reaksi dan adaptasi internalnya. Menurut Bompa (1994) ada dua cara untuk mengidentifikasi atlet berbakat. seperti. yaitu: 1) Mempersingkat waktu yang diperlukan untuk mencapai prestasi optimal. Hukum dan prinsip inilah yang memunculkan adanya beban luar dan beban dalam. seperti pengaruh teman sebaya. pelaksanaan latihan dan kompetisi dan berbagai hal yang berkaitan dengan pengembangan kepribadian dan kedewasaan atlet. Menurut Bompa (1994:328) ada beberapa keuntungan yang diperoleh apabila menggunakan metode ilmiah dalam proses pengidentifikasian bakat. Perkembangan dan kemajuan atlet sangat lambat. Beban luar adalah beban yang diberikan dari luar atlet. misalnya oleh pelatih seperti lari 4 x 400 meter dengan waktu 90 detik. umur latihan dan umur perkembangan. dan memiliki penguasaan terhadap banyak variasi gerak. yaitu bagaimana atlet dapat melaksanakan aktifitas fisik dengan kesempatan yang sama pada setiap sesi latihan. Penggunaan Media Pelatihan Bola Modifikasi Karena itu keberbakatan identik dengan karekteristik belajar dan kemampuan belajar. Disamping itu juga harus memiliki kemampuan memahami hubungan sebab-akibat serta memilki kesegaran dan sering banyak bergerak lebih aktif. dan (2) Kegiatan mental dan intelektual.

2) pada tingkat pengambilan keputusan yakni agar hanya memberi reaksi terhadap rangsangan yang tepat. namun dapat juga dengan metode permainan. Nomor 1. kelenturan tubuh. kekuatan eksplosif. Perhatian berhubungan dengan keterbatasan dengan kemampuan pikiran untuk memproses informasi. yaitu dengan memberikan berbagai situasi lapangan yang berbeda dengan mendatangkan club lain untuk berlatih bersama. Mei 2014. Istilah latensi respon menunjukkan proses pemberian respon tetap yang tersembunyi atau terpendam sampai menyentuh otot-otot pada saat respon yang dapat diamati diproduksi (Drowatszky. Pada hakekatnya pelatihan adalah suatu proses pemberian pola. koordinasi tubuh secara keseluruhan. 1985). Latensi adalah suatu kondisi ketidak aktifan antara penepatan suatu stimulus dan awal dari suatu reaksi. bukit. Latensi disebabkan oleh beberapa faktor dan waktu reaksi melibatkan proses sistem saraf pusat di dalam pengembangan respon yang bersifat kemauan (violition). kekuatan dinamis. aturan yang merupakan salah satu kunci tercapainya prestasi individu (Syarifuddin dan Yusuf: 1996:23). Untuk tujuan latihan yang sama pelatih dapat menggunakan metode berbeda. misalnya di stadion. keseimbangan tubuh secara keseluruhan dan stamina (Magill. selama proses reseptor berlangsung. 3) periode latensi kedua. Rancangan penggunaan peralatan modifikasi merupakan media pembelajaran yang memperhatikan perubahan dan kemampuan anak sehingga dapat membantu mendorong perubahan yang didasarkan pada konsep pertumbuhan dan perkembangan anak yang seringkali anak merasa kesulitan dan takut dengan bola sepak takraw yang sesungguhnya yang disebabkan bola sepak takraw yang keras. di alam bebas. dan sebaliknya. Dengan kata lain walau reaksi menggambarkan kecepatan seseorang dapat merasakan dan memberikan respon terhadap lingkungannya. sehingga dengan adanya modifikasi tersebut siswa akan merasa terbantu dalam pengusaan teknik sepak sila yang baik dan benar sehingga siswa merasa senang dan gembira.76 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. 73 . Dan Media pelatihan merupakan alat yang bisa merangsang siswa untuk terjadinya proses belajar dan meliputi perangkat keras yang dapat mengantarkan pesan dan perangkat lunak yang mengandung pesan. misalnya latihan kecepatan dapat diberikan dengan metode repetisi. di pantai. ternpat rekreasi dan sebagainya yang dapat memberikan suasana baru bagi atlet. yaitu proses me- . 198 ). (2) Metode latihan yang bervariasi. dan sebagainya. kekuatan togok. Keanekaragaman manifestasi tersebut dapat dikelompokkan dalam tiga tingkat yaitu: 1) pada tingkat rangsang yaitu dalam suatu persepsi tanda/sinyal yang bersifat penglihatan. Walau reaksi secara umum dikenal sebagai latensi respon (response latency) yaitu walau yang berlalu diantara pemberian stimulus dan munculnya suatu respon. Variasi yang dapat diberikan oleh pelatih dalam latihan ini dapat berupa: (1) Tempat latihan yang berganti-ganti. membagi waktu reaksi ke dalam empat tahap yaitu: 1) permulaan stimulus. part-nerwork. pendengaran. di ruang latihan beban. yang melibatkan pengiriman impuls-impuls sensori pusat ke serabutserabut otot (waktu perhatian satu pemikiran). Keberhasilan menampilkan suatu keterampilan gerak menuntut kemampuan memilih dan mengatur informasi yang penting dari sejumlah informasi yang ada.80 dan kesenangan dalam berlatih agar tidak terjadi kebosanan dan atlet meninggalkan latihan. atau berlatih dalam kondisi keramaian yang ada di lapangan. dan (3) Suasana latihan. Dari sisi fisiologis. perabaan dan sebagainya. 4) penundaan (delay) yang melibatkan proses motorik yang mendahului kontraksi otot. 3) pada tingkat pengorganisasian realis kinetis. 2) periode latensi pertama. Kemampuan ketangkasan fisik adalah pencerminan dari berbagai aspek keterampilan yang dilakukan dan dapat diidentifikasi dan berhubungan dengan motor ability serta dapat diamati dan diukur yaitu: kekuatan statis. Latihan kekuatan dapat diberi-kan dengan metode pembebanan (besi) dan dapat pula dengan medicine ball. Pemberian variasi dalam latihan merupakan cara yang baik untuk memberikan kesempatan bagi atlet untuk menikmati latihan dengan rasa senang dan gembira. Volume 1. Wiecrozek (1975) mengemukakan bahwa waktu reaksi adalah kualitas yang sangat spesifik yang terlihat melalui berbagai jalan.

jarak dan ketinggian. Dikatakan pula oleh Singer bahwa kemampuan motorik adalah kemampuan awal seseorang untuk mempelajari keterampilan gerak yang baru (Singer. Kemampuan motorik juga merupakan kapasitas dari seseorang yang berkaitan dengan pelaksanaan dan peregangan suatu keterampilan yang relatif melekat. untuk itu perlu suatu latihan reaksi yang kompleks agar dapat meningkatkan permainan tenis lapangan. Kompleksitas stimulus dan pemberian respon secara dramatis mempengaruhi walau reaksi. Impuls yang lain kemudian dikirim dari otak melalui sistim saraf ke otot-otot yang tepat. yaitu dalam permainan reaksinya tergantung kepada bola yang bergerak dan sulit diterka kemana arah yang pasti. organ perasa/pengindra dibangkitkan oleh beberapa stimulus (perubahan fisiologi dalam suatu reseptor atau dalam neoron-neoron yang disebabkan oleh rangsangan) dari organ pengindra. saraf. kemampuan motorik merupakan kemampuan umum seseorang dalam melakukan suatu kegiatan. Dari uraian di atas dapat diperoleh pengertian bahwa kerja yang dilakukan di dalam otak yang menghasilkan waktu yang 77 terbanyak. Usaha meningkatkan kecepatan reaksi menurut Wiecrozek (1975) dapat dicapai dengan: 1) meningkatkan penalaran terhadap persepsi khusus tersebut. maka kemungkinan daya kerjanya akan semakin tinggi pula. Fungsi utama dari kemampuan motorik adalah untuk mengembangkan dan kesanggupan dan kemampuan fisik setiap individu yang berguna untuk mempertinggi daya kerja. Kecepatan adalah kemampuan seseorang untuk melakukan gerakan yang sejenis dan tidak sejenis dalam waku yang sesingkatsingkatnya. kelincahan (agility). Waktu reaksi pada tenis lapangan termasuk salah satu jenis waktu reaksi kompleks. misalnya bunyi pistol dalam start lari cepat (Bompa. Kemampuan motorik ini berfungsi untuk mempertinggi daya kerja seseorang. terjadinya di dalam organ perasa/pengindra. 1980). . kemauan untuk berprestasi. dan 2) mengotomatisasikan semaksimal mungkin. Dengan arti makin tinggi kemampuan motorik seseorang. Disamping itu prestasi yang tinggi juga dapat dicapai harus melalui perjuangan. Perjuangan dalam arti melawan waktu. kemampuan motorik merupakan kesanggupan seseorang melakukan gerakgerak dasar yang bersifat umum. 1983). lingkungan yang mendukung dan cara penyampaian tujuan yang baik akan memungkinkan olahraga dapat berkembang. Selanjutya kemampuan motorik itu terdiri dari beberapa faktor yaitu: kecepatan reaksi (speed). daya eksplosif (power). Demikian perjuangan untuk dapat mencapai tujuan kemenangan dalam pertandingan dengan memperhatikan dan mentaati peraturan-peraturan yang ada maka kemampuan motoriklah yang menentukan. Manusia sejak lahir sudah mempunyai kemampuan-kemampuan antara lain kemampuan untuk bergerak (motorik). dan otot. Seperti lari semakin cepat. Kemampuan ini akan berkembang sesuai dengan kebutuhan manusia itu sendiri dan juga tergantung dan keadaan lingkungan. Waktu reaksi terbagi menjadi dua jenis yaitu: 1) waktu reaksi sederhana (simple reactions) dan 2) waktu reaksi kompleks (complex reaction). akhirnya otot-otot akan berkontraksi untuk memproduksi respon. Waktu reaksi adalah waktu yang diperlukan untuk terjadinya proses.Ari Susana & Sapto Wibowo. Waktu reaksi sederhana ditentukan sebelumnya (predeterminined). respon yang sadar terhadap sinyal yang diketahui sebelumnya yang dilakukan secara mendadak. Sedangkan walau reaksi kompleks atau pilihan menunjukkan pada kasus dimana individu dihadapkan pada beberapa stimulus dan harus memilih dan ditentukan diantara beberapa stimulus tersebut (Bompa. Kemampuan yang ada. kekuatan (strength). daya tahan (endurance) dan kelentukan (flexibility). Reaksi sederhana diterapkan di dalam gerakan-gerakan yang akan dilakukan terlebih dahulu. Kemudian diubah ke dalam impuls saraf dan dibawa ke otak diinterpretasikan pada dasar pengalaman yang lalu. otak. Di dalam situasi kompetitif dapat menentukan reaksi motorik selanjutnya bagi seorang atlet. Daya eksplosif adalah kemampuan dari otot/sekelompok otot untuk menghasilkan kerja fisik secara eksplosif (mendadak). Reaksi kompleks biasanya dilakukan dalam permainan-permainan dan olahragaolahraga pertandingan. Pertama. jawaban motorik yang perlu dibuat atau perilaku kinetis yang perlu dipilih dalam situasi nyata. Penggunaan Media Pelatihan Bola Modifikasi nentukan langkah perbuatan. Disamping itu pula ditentukan oleh lawan dalam bermain. 1983). lempar semakin jauh dan lompat semakin tinggi.

Pelaksanaan latihan sepak takraw diawali dengan menggunakan modifikasi peralatan dan permainan sepak sila yang dilaksanakan pada jam kegiatan ekstrakurikuler. Setiap ragu terdiri dari tiga orang pemain yang masingmasing sebagai tekong yang berdiri paling belakang yang bertugas menservis bola. >40 kali Nilai = 30-39 kali Nilai = 20-29 kali Nilai = 10-19 kali Nilai = <10 kali Nilai = (Sulaiman. b) medicine ball put. . Pelaksanaan ekstrakurikuler diharapkan akan membentuk minat dan bakat anak dalam tujuan menuju prestasi olahraga. karena teknik-teknik dasar dari permainan sepak sila akan mendukung dan mempermudah bagi calon pemain sepak takraw melaksanakan gerakan inti dari permainan tersebut. Setiap regu dimainkan oleh 3 orang yang dipisahkan oleh net terbentang membelah lapangan menjadi dua bagian. apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada di wilayah penelitian. 2008:1993) 90 80 70 60 50SD Pelaksanaan pengukuran dilakukan sebelum diberikan perlakuan dan diukur kembali setelah pemberian perlakuan setelah enam minggu. Dua orang lainya menjadi pemain depan yang berada disebelah kiri dan kanan yang disebut apit kiri dan apit kanan yang tugasnya melempar bola ke tekong. kekuatan adalah kemampuan seseorang untuk mengembangkan ketegangan otot dalam kontraksi maksimal.78 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. maka penelitiannya merupakan penelitian populasi (Arikunto 2010:173). Sehubungan dengan hal ini kemampuan motorik dapat diukur menggunakan Barrow Motor Ability Test yang terdiri dari: a) lari zigzag/shuttle run. Oleh sebab itu semakin tinggi kemampuan motorik seseorang semakin tinggi pula kemampuan dalam melakukan sesuatu tugas gerak dalam olahraga termasuk olahraga tenis lapangan. “Tujuan keseluruhan dari olahraga sekolah adalah membangkitkan minat dan meletakkan dasar bagi prestasi anak dalam olahraga di masyarakat. Adapun pelaksanaannya dilakukan di SMP Negeri 3 Srengat Blitar. Berdasarkan penguraian populasi yang berjumlah 30 orang dan sampel di atas maka penelitian ini menggunakan penelitian populasi. Daya tahan adalah kemampuan seseorang untuk melaksanakan suatu kerja otot secara terus menerus dalam waktu yang lama. Nomor 1. Adapun norma yang telah disusun adalah sebagai berikut. dan hasilnya dihitung. Volume 1. Dan kelentukan adalah kemampuan seseorang untuk melakukan gerakan seluasluasnya pada persendian. Dalam pelaksanaannya orang coba harus melaksanakan sepak sila selama satu menit. dan pelaksanaannya dilakukan pada sore hari.80 Kelincahan adalah kemampuan seseorang untuk mengubah arah dalam keadaan berbergerak dengan cepat. Tes ini adalah menerapkan modifikasi dari Nelson. di luar sekolah baik langsung maupun untuk masa yang akan datang” Pada dasarnya permainan sepak takraw dimainkan secara beregu oleh dua regu. tapi harus ditambah dengan kegiatan ekstrakurikuler. dan c) standing broad jump. Karena dalam penelitian ini sampel yang digunakan adalah seluruh siswa yang mengikuti ekstrakurikuler sepak takraw di SMP Negeri 3 Srengat Blitar yang berjumlah 30 siswa. Untuk mengetahui adanya perubahan dari hasil pelatihan dilakukan pengukuran keterampilan sepak sila dengan membuat satu lapangan berbentuk lingkaran. Bakat dan minat anak dalam suatu sekolah tidak bisa ditingkatkan hanya dengan mengikuti pendidikan jasmani (penjas). penerima dan pemblok bola dari pihak lawan. menerima. Sepak sila merupakan langkah yang digunakan untuk memulai latihan sepak takraw. Kegiatan ekstrakurikuler dilakukan diluar jam pelajaran pendidikan jasmani. dan menahan serangan dari regu lawan di bagian belakang lapangan. METODE Populasi dari penelitian ini adalah peserta ekstrakurikuler sepak takraw SMP Negeri 3 Srengat-Blitar yang berjumalah 30 orang. menerima bola. Mei 2014. 73 . Dalam penelitian ini ingin diketahui tentang adanya perubahan keberhasilan dari latihan sepak takraw yang didahului dengan menggunakan sepak sila dengan menggunakan media modifikasi.

kedua data tersebut mempunyai varian yang sama (homogen). Jadi rentangnya adalah 71 Untuk nilai median atau nilai tengah adalah sebesar 26. Untuk nilai median atau nilai tengah adalah sebesar 19.05 dengan derajat kebebasan (dk = n-1) 29. Pemberian perlakuan tersebut menggunakan bola modifikasi.77% hasil prestasi sepak sila sepak takraw pada siswa ekstrakurikuler sepak takraw SMP Negeri 3 Srengat-Blitar. Deskriptif Pre-Test – Post-Test thitung 9. Jadi rentangnya adalah 62.53 dengan nilai varians adalah 184. maka dapat dikatakan bahwa semua data bersifat Homogen. Karena nilai signifikansi lebih besar dari signifikansi yang telah ditentukan yaitu 0.59 serta nilai terendah 16 dan nilai tertinggi sebesar 87.14 > t tabel2. Karena nilai signifikansi lebih besar dari signifikansi yang telah ditentukan yaitu 0. data pada variabel pre-test dinyatakan berdistribusi normal.14 ttabel 2. Sedangkan hasil post-test rataratanya sebesar 30. Dengan mengkonsultasikan nilai thitung dan nilai ttabel. berdasarkan kriteria pengujian.045) nilai t hitung lebih besar dari t tabel dengan taraf signifikan 0. dapat dilihat dengan membandingkan nilai Fhitung dan Ftabel.045. Setelah pemberian perlakuan tersebut berlangsung selama enam minggu maka dilakukan pengukuran ulang seperti yang pernah dilaksanakan pada awal pelaksanaan pelatihan.05. Dengan kriteria pengujian adalah sebagai berikut: jika nilai Fhitung < Ftabel maka.072 > 0.156 < Ftabel 1. Saran Berdasarkan hasil penelitian disarankan. Demikian pula data dari posttest juga dinyatakan berdistribusi normal.74 sedangkan nilai standar deviasinya 13. Penggunaan Media Pelatihan Bola Modifikasi Adapun perlakuan yang diberikan kepada orang coba adalah memberikan latihan sepak sila dengan melakukan pasing setinggi kepala. Sedangkan nilai standar deviasinya 14.14 dan nilai ttabel2. bagi para pelatih.765 ternyata mempunyai harga Fhitung < Ftabel. untuk meningkatkan keterampilan sepak sila dalam permainan sepak . KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa: Penggunaan media pelatihan bola modifikasi terhadap terhadap hasil prestasi sepak sila pada ekstrakurikuler sepak takraw pada peserta ekstrakurikuler sepak takraw SMP Negeri 3 Srengat-Blitar pada hasil pretest dengan post test sepak sila sepak takraw didapatkan thitung sebesar 9. Dari pre test dan Post Fhitung 1.30 dengan nilai varians 213. PEMBAHASAN Berdasarkan perhitungan uji asumsi normalitas pada taraf signifikansi 5%.045 maka dapat dikatakan bahwa (t hitung9. Dengan kata lain bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil tes sepak sila sepak takraw sebelum dan sesudah diberikan penggunaan media pelatihan bola modifikasi pada siswa ekstrakurikuler sepak takraw SMP Negeri 3 Srengat Blitar dengan menggunakan taraf signifikansi 5%. Untuk mengetahui apakah deskripsi data yang ada bersifat homogen atau tidak.045 HASIL Dari hasil penelitian dan perhitungan dihasilkan diketahui untuk pre-test rata-ratanya sebesar 23. maka dapat disimpulkan bahwa Ha diterima dan Ho di tolak karena nilai thitung 9. pembina dan guru pendidikan jasmani. dalam hal lainnya dikatakan tidak homogen (hete- 79 rogen).14 > nilai ttabel 2.11.193 > 0. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil tes sepak sila sepak takraw sebelum dan sesudah diberikan penggunaan media pelatihan bola modifikasi terhadap hasil prestasi sepak sila pada ekstrakurikuler sepak takraw pada peserta ekstrakurikuler sepak takraw SMP Negeri 3 Srengat Blitar.59 serta nilai terendah 9 dan nilai tertinggi sebesar 71.05.Ari Susana & Sapto Wibowo. Untuk mengetahui keberartian nilai uji T independent data pre-test dilakukan dengan uji t. Menurut hasil perhitungan dapat dikatakan bahwa penggunaan media pelatihan bola modifikasi dapat meningkatkan hasil tes sebesar 28.

80 JURNAL OLAHRAGA PENDIDIKAN. Singer. Nomor 1. Semarang: Universitas Negeri Semarang Press. Latihan Olahraga dan Coaching. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. R. Theory and Methodology of Training. 1981. 73 . 2008. DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Boston: Hougton Mifflin Company. Sulaiman. 1996. 1992. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Motor Learning and Human Performance. R. Jakarta: Raneka Cipta. Teaching Physical Education: A System Approch. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga Akademik. dan Basa. 2010. Wiecrozek. Kendall/ Hunt Publishing Company Singer. 1984. Darwis. dan Atlet. Jakarta: Ditjen PLSPO. Drowatzky. Pembina. Minneapolis: Burgess Publising Co. Ilmu Kepelatihan Dasar. Dep.Terjemahan M. Syarifuddin dan Yusuf.N. R. 1980.N.80 takraw disarankan menggunakan media bola modifikasi dalam melakukan latihan. Olahraga Pilihan Sepak Takraw. P dan K. J. . Motor Learning Principle and Practice. New York Mac Milland. 1975. Masalah Masalah Dalam Kedokteran Olahraga. 1994. Mei 2014.N. Sepak Takraw Pedoman Bagi Guru Olahraga. Soebroto. Pelatih.O. Bompa T. Volume 1. Ontario Canada.