You are on page 1of 52

STOIKIOMETRI

STOIKIOMETRI adalah cabang ilmu kimia yang mempelajari hubungan kuantitatif dari komposisi
zat-zat kimia dan reaksi-reaksinya.
A.

Hukum-Hukum Dasar Ilmu Kimia
1. HUKUM KEKEKALAN MASSA = HUKUM LAVOISIER
"Massa zat-zat sebelum dan sesudah reaksi adalah tetap".
Contoh:
hidrogen + oksigen → hidrogen oksida
(4 g)
(32 g)
(36 g)
2.

HUKUM PERBANDINGAN TETAP = HUKUM PROUST
"Perbandingan massa unsur-unsur dalam tiap-tiap senyawa adalah tetap"
Contoh:
a. Pada senyawa NH3 :
massa N : massa H = 1 Ar N : 3 Ar H
= 1 (14) : 3 (1)
= 14 : 3
b. Pada senyawa SO3 :
massa S : massa O = 1 Ar S : 3 Ar O
= 1 (32) : 3 (16) = 32 : 48
=2:3
Keuntungan dari hukum Proust:
bila diketahui massa suatu senyawa atau massa salah satu unsur yang membentuk senyawa
tersebut maka massa unsur lainnya dapat diketahui.
Contoh:
Berapa kadar C dalam 50 gram CaCO3 ? (Ar: C = 12; 0 = 16; Ca=40)
massa C
massaC aC O3

Ar C
Mr C aC O3

Massa C =

=

3.

12
100

x massa CaCO3

Kadar C =

x 50 gram = 6 gram

x 100%
6
50

=

x 100 % = 12%

HUKUM PERBANDINGAN BERGANDA = HUKUM DALTON
"Bila dua buah unsur dapat membentuk dua atau lebih senyawa untuk massa salah satu unsur
yang sama banyaknya maka perbandingan massa unsur kedua akan berbanding sebagai
bilangan bulat dan sederhana".
Contoh:
Bila unsur Nitrogen dan oksigen disenyawakan dapat terbentuk,
NO dimana massa N : 0 = 14 : 16 = 7 : 8
NO2 dimana massa N : 0 = 14 : 32 = 7 : 16
Untuk massa Nitrogen yang sama banyaknya maka perbandingan massa Oksigen pada senyawa
NO : NO2 = 8 : 16 = 1 : 2

4.

HUKUM-HUKUM GAS
Untuk gas ideal berlaku persamaan :
PV = nRT
Keterangan :
P = tekanan gas (atmosfir)
V = volume gas (liter)
n = mol gas
R = tetapan gas universal = 0.082 lt.atm/mol Kelvin

T = suhu mutlak (Kelvin)

Perubahan-perubahan dari P, V dan T dari keadaan 1 ke keadaan 2 dengan kondisi-kondisi
tertentu dicerminkan dengan hukum-hukum berikut:
a.

HUKUM BOYLE
Hukum ini diturunkan dari persamaan keadaan gas ideal dengan
n1 = n2 dan T1 = T2 ; sehingga diperoleh : P1 V1 = P2 V2
Contoh:
Berapa tekanan dari 0 5 mol O2 dengan volume 10 liter jika pada temperatur tersebut 0.5
mol NH3 mempunyai volume 5 liter dan tekanan 2 atmosfir ?
Jawab:
P1 V1 = P2 V2
2 . 5 = P2 . 10
P2 = 1 atmosfir

b.

HUKUM GAY-LUSSAC
"Volume gas-gas yang bereaksi dan volume gas-gas hasil reaksi bile diukur pada suhu dan
tekanan yang sama, akan berbanding sebagai bilangan bulat dan sederhana".
V1
n
 1
V2
n2

Jadi untuk: P1 = P2 dan T1 = T2 berlaku :
Contoh:
Hitunglah massa dari 10 liter gas nitrogen (N2) jika pada kondisi tersebut 1 liter gas
hidrogen (H2) massanya 0.1 g.
Diketahui: Ar untuk H = 1 dan N = 14
Jawab:
V1
n
 1
V2
n2

x
10 28

0,1
1
2


→ x = 14 gram
Jadi massa gas nitrogen = 14 gram.
c.

HUKUM BOYLE-GAY LUSSAC
Hukum ini merupakan perluasan hukum terdahulu (Hukum a dan b) dan diturunkan pada
keadaan harga n1 = n2 sehingga diperoleh persamaan:
P1.V1
P .V
 2 2
T1
T2

d.

HUKUM AVOGADRO
"Pada suhu dan tekanan yang sama, gas-gas yang volumenya sama mengandung jumlah
mol yang sama. Dari pernyataan ini ditentukan bahwa pada keadaan STP (0 o C 1 atm) 1 mol
setiap gas volumenya 22.4 liter volume ini disebut sebagai volume molar gas.
Contoh:
Berapa volume 8.5 gram amoniak (NH3) pada suhu 27o C dan tekanan 1 atm ?
(Ar: H = 1 ; N = 14)
Jawab:
85 g amoniak = 17 mol = 0.5 mol
Volume amoniak (STP) = 0.5 x 22.4 = 11.2 liter
Berdasarkan persamaan Boyle-Gay Lussac:

P1.V1
P .V
 2 2
T1
T2

1.112,1
1.V2

273
273  27

B.

V2 = 12,31 liter

Massa Atom Dan Massa Rumus
1. Massa Atom Relatif (Ar)
merupakan perbandingan antara massa 1 atom dengan 1/12 massa 1 atom karbon 12
2.

Massa Molekul Relatif (Mr)
merupakan perbandingan antara massa 1 molekul senyawa dengan 1/12 massa 1 atom karbon
12.
Massa molekul relatif (Mr) suatu senyawa merupakan penjumlahan dari massa atom unsurunsur penyusunnya.
Contoh:
Jika Ar untuk X = 10 dan Y = 50 berapakah Mr senyawa X2Y4 ?
Jawab:
Mr X2Y4 = 2 x Ar . X + 4 x Ar . Y = (2 x 10) + (4 x 50) = 220

C.

Konsep Mol
1 mol adalah satuan bilangan kimia yang jumlah atom-atomnya atau molekul-molekulnya sebesar
bilangan Avogadro dan massanya = Mr senyawa itu.
Jika bilangan Avogadro = L maka :
L = 6,023 x 1023
1 mol atom = L buah atom, massanya = Ar atom tersebut.
1 mol molekul = L buah molekul massanya = Mr molekul tersehut.
Massa 1 mol zat disebut sebagai massa molar zat

Contoh:
Berapa molekul yang terdapat dalam 20 gram NaOH ?
Jawab:
Mr NaOH = 23 + 16 + 1 = 40
massa 20

Mr
40
mol NaOH =
= 0.5 mol
Banyaknya molekul NaOH = 0.5 L = 0,5 x 6,023 x 1023 = 3,01 x 1023 molekul.
D.

Persamaan Reaksi
PERSAMAAN REAKSI MEMPUNYAI SIFAT
1. Jenis unsur-unsur sebelum dan sesudah reaksi selalu sama
2. Jumlah masing-masing atom sebelum dan sesudah reaksi selalu sama
3. Perbandingan koefisien reaksi menyatakan perbandingan mol (khusus yang berwujud gas
perbandingan koefisien juga menyatakan perbandingan volume asalkan suhu dan tekanannya
sama)
Contoh: Tentukanlah koefisien reaksi dari
HNO3 (aq) + H2S (g) → NO (g) + S (s) + H2O (l)
Cara yang termudah untuk menentukan koefisien reaksinya adalah dengan memisalkan koefisiennya
masing-masing a, b, c, d dan e sehingga:
a HNO3 + b H2S → c NO + d S + e H2O
Berdasarkan reaksi di atas maka

atom
atom
atom
atom

N : a = c (sebelum dan sesudah reaksi)
O : 3a = c + e → 3a = a + e → e = 2a
H : a + 2b = 2e = 2(2a) = 4a → 2b = 3a → b = 3/2 a
S : b = d = 3/2 a

Maka agar terselesaikan kita ambil sembarang harga misalnya a = 2 berarti: b = d = 3, dan e = 4
sehingga persamaan reaksinya :
2 HNO3 + 3 H2S → 2 NO + 3 S + 4 H2O

1.

Hitungan Kimia
Hitungan kimia adalah cara-cara perhitungan yang berorientasi pada hukum-hukum dasar ilmu
kimia.
Dalam hal ini akan diberikan bermacam-macam contoh soal hitungan kimia beserta
pembahasanya.
Contoh-contoh soal :
1.

Berapa persen kadar kalsium (Ca) dalam kalsium karbonat ? (Ar: C = 12 ; O= 16 ; Ca=40)
Jawab :
1 mol CaCO, mengandung 1 mol Ca + 1 mol C + 3 mol O
Mr CaCO3 = 40 + 12 + 48 = 100
40
100
Jadi kadar kalsium dalam CaCO3 =

2.

x 100% = 40%

Sebanyak 5,4 gram logam alumunium (Ar = 27) direaksikan dengan asam klorida encer
berlebih sesuai reaksi :
2 Al (s) + 6 HCl (aq) → 2 AlCl3 (aq) + 3 H2 (g)
Berapa gram aluminium klorida dan berapa liter gas hidrogen yang dihasilkan pada kondisi
standar ?
Jawab:
Dari persamaan reaksi dapat dinyatakan
2 mol Al x 2 mol AlCl3 → 3 mol H2
5,4
27
5,4 gram Al =

= 0,2 mol

Jadi:
AlCl3 yang terbentuk = 0,2 x Mr AlCl3 = 0,2 x 133,5 = 26,7 gram
Volume gas H2 yang dihasilkan (0o C, 1 atm) = 0,2 x 22,4 = 6,72 liter
3.

Suatu bijih besi mengandung 80% Fe2O3 (Ar: Fe = 56; O =16). Oksida ini direduksi dengan
gas CO sehingga dihasilkan besi.
Berapa ton bijih besi diperlukan untuk membuat 224 ton besi ?
Jawab:
1 mol Fe2O3 mengandung 2 mol Fe
Mr Fe2O3

160
112

2 Ar Fe

maka : massa Fe2O3 = (

Jadi bijih besi yang diperlukan = (
4.

) x massa Fe = (
100
80

) x 224 = 320 ton

) x 320 ton = 400 ton

Untuk menentukan air kristal tembaga sulfat 24.95 gram garam tersebut dipanaskan sampai
semua air kristalnya menguap. Setelah pemanasan massa garam tersebut menjadi 15,95
gram. Berapa banyak air kristal yang terkandung dalam garam tersebut ?
Jawab :

misalkan rumus garamnya adalah CuSO4 . xH2O
CuSO4 . xH2O →

CuSO4 + xH2O

24,95 gram CuSO4 . xH2O = 159,5 + 18x mol
15,95 gram CuSO4 = 159,5 mol = 0,1 mol
menurut persamaan reaksi di atas dapat dinyatakan bahwa:
banyaknya mol CuS04 . xH2O = mol CuSO4; sehingga persamaannya

24,95

159,5  18x
= 0.1 → x = 5
Jadi rumus garamnya adalah CuS04 . 5H2O

E.

Rumus Empiris dan Rumus Molekul
Rumus empiris adalah rumus yang paling sederhana dari suatu senyawa.
Rumus ini hanya menyatakan perbandingan jumlah atom-atom yang terdapat dalam molekul.
Rumus empiris suatu senyawa dapat ditentukan apabila diketahui salah satu:
- massa dan Ar masing-masing unsurnya
- % massa dan Ar masing-masing unsurnya
- perbandingan massa dan Ar masing-masing unsurnya
Rumus molekul: bila rumus empirisnya sudah diketahui dan Mr juga diketahui maka rumus
molekulnya dapat ditentukan.
Contoh:

Suatu senyawa C dan H mengandung 6 gram C dan 1 gram H.
Tentukanlah rumus empiris dan rumus molekul senyawa tersebut bila diketahui
Mr nya = 28 !
6
12

Jawab

1
1

1
2

: mol C : mol H =
:
=
:1=1:2
Jadi rumus empirisnya: (CH2)n
Bila Mr senyawa tersebut = 28 maka: 12n + 2n = 28 → 14n = 28 →
Jadi rumus molekulnya : (CH2)2 = C2H4

n=2

Contoh:

Untuk mengoksidasi 20 ml suatu hidrokarbon (CxHy) dalam keadaan gas diperlukan
oksigen sebanyak 100 ml dan dihasilkan CO2 sebanyak 60 ml. Tentukan rumus molekul
hidrokarbon tersebut !

Jawab :

Persamaan reaksi pembakaran hidrokarbon secara umum
1
1
4
2
CxHy (g) + (x +
y) O2 (g) → x CO2 (g) +
y H2O (l)
Koefisien reaksi menunjukkan perbandingan mol zat-zat yang terlibat dalam reaksi.
Menurut Gay Lussac gas-gas pada p, t yang sama, jumlah mol berbanding lurus dengan
volumenya

Maka:

mol CxHy : mol O2

: mol CO2 = 1

: (x +

20

: 60

: (x +

: 100

=1

1
4
1
4

y) : x

y) : x

jumlah energi dalam sistem dan lingkungannya adalah tetap. dan sebagian lagi melepaskan energi. Reaksi Eksoterm SISTEM Energi LINGKUNGAN Energi Reaksi Endoterm Sistem adalah bagian yang kita amati perubahan energinya. yang dapat kita hitung adalah besarnya perubahan entalpi yaitu ∆H. Setiap reaksi memenuhi hukum kekekalan energi. yang dapat kita amati dalam suatu reaksi adalah perubahan energinya. .1 :5 :3 =1 : (x + 1 4 y) : x atau: 1 : 3 = 1 : x →x = 3 1 : 5 = 1 : (x + 1 4 y) → y = 8 Jadi rumus hidrokarbon tersebut adalah : C3H8 Setiap reaksi yang berlangsung dalam alam semesta ini akan melibatkan energi. Lingkungan adalah semua yang berada di luar sistem. Menurut asas kekekalan energi. Energi yang dipertukarkan oleh sistem dan lingkungan dapat dihitung dengan mencari besarnya entalpi yaitu jumlah energi yang terkandung dalam suatu zat pada tekanan tetap (H). Energi adalah kemampuan untuk melakukan kerja. Ada sebagian reaksi yang membutuhkan energi. Yang terjadi adalah pertukaran energi dari satu tempat ke tempat yang lain. atau perubahan energi dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Tidak ada energi yang hilang.

perubahan keadaan. yaitu perubahan kalor atau panas suatu zat yang menyertai suatu reaksi atau proses kimia dan fisika Secara operasional termokimia berkaitan dengan pengukuran dan pernafsiran perubahan kalor yang menyertai reaksi kimia. dan pembentukan larutan.Termokimia adalah ilmu yang mempelajari hal tersebut. Reaksi Eksoterm Melepas energi ΔH < 0 Reaksi Kimia Reaksi Endoterm Membutuhkan energi ΔH > 0 .

Contoh : CH4(g) + 2 O2(g) → CO2(g) + 2 H2O(l) H = -882 kJ/mol Perubahan Entalpi Netralisasi Standar ( Hno ) : perubahan panas pada saat 1 mol air terbentuk dari penetralan asam dan basa pada keadaan standar. sehingga ΔHreak Produk Jenis-jenis Entalpi : 1. 4. 3 2 2.Reaksi Endoterm Produk Entalpi Hreaksi > 0 Energi diserap sistem dari lingkungan Reaktan Pada reaksi endoterm. Perubahan Entalpi Pembentukan Standar ( Hfo ) : perubahan panas yang terjadi pada saat pembentukan 1 mol senyawa dari unsur-unsurnya pada tekanan 1 atm dan 25 oC. Contoh : HCl(aq) + NaOH(aq) → NaCl(aq) + H2O(l) H = -57 kJ/mol . sehingga ΔHrea Reaksi Eksoterm Reaktan Entalpi Energi dilepaskan oleh sistem ke lingkungan Hreaksi < 0 Pada reaksi eksoterm. Contoh : Al2O3(s)  2 Al(s) + O2(g) H = +1669.8 kJ/mol Perubahan Entalpi Penguraian Standar ( Hdo ) : perubahan panas yang terjadi pada saat penguraian 1 mol senyawa menjadi unsur-unsurnya pada tekanan 1 atm dan 25oC (keadaan standar) 3 2 3. ΔHproduk lebih kecil daripada ΔHreaktan. Contoh : 2 Al(s) + O2(g) → Al2O3(s) H = -1669.8 kJ/mol Perubahan Entalpi Pembakaran Standar ( Hco ) : perubahan panas pada saat 1 mol zat dibakar sempurna dengan oksigen pada keadaan standar. ΔHproduk lebih besar daripada ΔHreaktan.

Data Entalpi Pembentukkan (∆Hf) ∆ H=∑ ( ΔHf produk )−∑ ( ΔHf reaktan ) ∆ H=∑ ( ΔHf kanan )−∑ ( ΔHf kiri ) 3. Kalorimeter ΔH   Q mol Q = m c ΔT Keterangan : ∆H = entalpi (kJ/mol) Q = kalor (kJ) m = massa larutan (Kg) c = kalor jenis larutan (kJ / Kg 0C) ∆T = perbedaan suhu (0C) 2. Hukum Hess ΔH = ΔH1 + ΔH2 + ΔH3 + ……… ΔHn Entalpi reaksi hanya ditentukan oleh keadaan awal (reaktan) dan keadaan akhir reaksi (produk). Data Energi Ikatan (Ei) ∆ H=∑ ( Ei pemutusan Ikatan )−∑ ( Ei pembentukkan ikatan ) ∆ H=∑ ( ΔEi kiri )−∑ ( Ei kanan ) 4.Cara menghitung Entalpi : 1. H1 A B Berlaku ΔH = ΔH1 + ΔH2 + ΔH3 + ΔH4 H2 H4 H3 C D . tidak ditentukan oleh proses bagaimana reaktan menjadi produk.

Faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi 1. 2. Untuk reaksi : A → B konsentrasi A semakin lama semakin berkurang. konsentrasi temperatur luas permukaan katalis : peningkatan konsentrasi umumnya mempercepat laju reaksi. kita gunakan tanda negatif untuk reaktan dan positif untuk produk. : katalis mempercepat laju reaksi dengan memperkecil energi aktivasi. 4. untuk reaksi : aA+bB→ cC+dD laju reaksinya adalah : 1 d B. Laju reaksinya bisa dinyatakan sebagai :  pengurangan konsentrasi A per satuan waktu.A. 3. : semakin luas permukaan. Secara umum. . : peningkatan temperatur umumnya mempercepat laju reaksi. atau  pertambahan konsentrasi B per satuan waktu Untuk membedakan laju pengurangan reaktan dan laju pembentukan produk. rD PERSAMAAN LAJU REAKSI Untuk reaksi : aA+bBcC+dD persamaan laju reaksinya adalah : v = k [A]m [B]n Keterangan V = laju reaksi k = tetapan laju reaksi [A]. LAJU REAKSI Laju reaksi menyatakan perubahan konsentrasi reaktan atau produk per satuan waktu. [B] = konsentrasi A dan B m = orde reaksi untuk A n = orde reaksi untuk B orde reaksi total = m + n nilai m dan n hanya bisa diperoleh melalui eksperimen (bukan dari koefisien reaksi) Faktor . sementara konsentrasi B semakin bertambah. Satuannya adalah molar/detik (M/s). semakin cepat reaksi berlangsung.

ENERGI AKTIVASI Energi aktivasi (Ea) merupakan energi minimum yang diperlukan untuk memulai suatu reaksi kimia.C. Reaksi Eksoterm Reaksi Endoterm Energi Energi Jalannya reaksi Jalannya reaksi Jalannya reaksi Energi aktivasi untuk reaksi eksoterm dan endoterm. . Energi aktivasi selalu bernilai positif.

. Reaksi Kesetimbangan Kimia a.08 L atm mol – 1 K – 1 T = suhu Kelvin = oC + 273 C. Reaksi kesetimbangan heterogen (> 1 fasa) CaCO3 (s)  CaO (s) + CO2 (g)  Reaksi dissosiasi : 2 NH3(g)  N2 (g) + 3 H2 (g) Derajat dissosiasi () adalah mol terurai/ mol mula  mula  Untuk reaksi : a A (g) + b B (g)  c C (g)   c  P   c   C c A  a  B b     PA   a     PB   b Kc = dan Kp = Harga tetapan kesetimbangan K bergantung pada suhu. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesetimbangan : 1. diperbesar lawan diperkecil sendiri Konsentrasi diperbesar kesetimbangan bergeser ke arah terkecil diperkecil 2.) diturunkan 4.A. hanya mempercepat tercapainya keadaan setimbang . hasil reaksi >>.kiri = kanan maka Δn = 0 Kp = Kc Kp = Kc [ RT ]n Keterangan :  n = koefisien gas hasil reaksi  koefisien gas pereaksi (pada fasa gas) R = 0. B. selama suhu tetap.  Meramal arah reaksi : untuk meramal arah reaksi dapat kita gunakan besaran Q (hasil kali konsentrasi). Harga Q selalu dibandingkan terhadap K Q > K . terbesar diperkecil 3. Tekanan terbesar kesetimbangan bergeser ke jumlah molekul diperbesar Volume dinaikkan terkecil kesetimbangan bergeser ke jumlah molekul. endoterm( Δ H   ) eksoterm( Δ H  . kesetimbangan bergeser ke kiri . Suhu .082 atau 0. Rumus yang menyatakan hubungan antara Kp dengan Kc : Catatan : Jika Σ koef. Reaksi kesetimbangan homogen ( = 1 fasa) N2 (g) + O2 (g)  2 NO (g) b. harga Kc atau Kp tidak berubah. kesetimbangan bergeser kearah reaksi Catatan : Katalis tidak menggeser letak kesetimbangan.

Thomson (1897) Atom merupakan suatu bola yang bersifat netral . 0. 3. Bilangan Kuantum Untuk menentukan kedudukan elektron dalam suatu atom digunakan bilangan kuantum . +3 ( ( ( ( 1 3 5 7 orbital orbital orbital orbital ) ) ) ) Bilangan kuantum spin (ms atau s) : menyatakan arah putaran elektron s = + 1/2. 5.maka m = 0 1 . 2. Teori Atom J. kulit : K L M N O P Q  2. 6. Bilangan kuantum ada 4. 2. maka m =  1 . 3. Model Atom J.maka m = 2 . +1. Atom adalah partikel terkecil dari suatu materi yang tidak dapat dibagi lagi.+1. Bilangan m = -kuantum ℓ s/d + magnetik ( m atau m ) : menyatakan ukuran orbital ℓ ℓ ℓ ℓ ℓ 4. Bila reaksi Bila reaksi Bila reaksi Bila reaksi dibalik dijumlah dikalikan n dikalikan 1/n : : : : K1 = 1/K K1 = K1 x K2 Kl = Kn Kl = K1/n Notasi atom : Nomor massa A Nomor atom Z X Lambang unsur X = lambang atom suatu unsur A = massa atom =jumlah netron+proton Z = nomor atom = jumlah proton = jumlah elektron (atom netral) B.1 . .+1 2 . Dalton (1804). Q < K.1/2 Teori Model Atom : 1. Model Atom Rutherford (1911). sub kulit s  ℓ = 1 sub kulit p = 0 s/d ℓ = 2 sub kulit d (n-1) ℓ = 3 sub kulit f  3. .J. Bilangan kuantum azimuth ( ): menyatakan sub kulit ℓ = 0. n = 1. +2 3 .  A. +2. 1. jumlah muatan positif sama dengan jumlah muatan negatif ( model atom roti kismis).Q = K. = = = = 0.maka m= 3. 7 . 4. kesetimbangan tercapai kesetimbangan bergeser ke kanan . yaitu : 1.0.0 . C. Bilangan kuantum Utama (n) : menyatakan kulit / tingkat energi . 2.

32 = 18 elektron (N) adalah 2.22 = 8 elektron (M) adalah 2. mengemukakan bahwa gerakan partikel termasuk elektron merupakan gelombang. Dengan demikian : Jumlah elektron maksimum Jumlah elektron maksimum Jumlah elektron maksimum Jumlah elektron maksimum Dan seterusnya pada pada pada pada kulit kulit kulit kulit ke-1 ke-2 ke-3 ke-4 (K) adalah 2.Atom terdiri dari inti Atom yang bermuatan positif dan merupakan pusat massa. Elektron yang bermuatan negatif bergerak mengelilingi inti pada daerah yang tersebar di sekeliling inti atom 4. elektron yang mengelilingi inti terdapat di dalam suatu orbital. D. 5. Louis Victor de Broglie (1923). Model Atom N. Aturan Hund (s) (sp)2 (sdp)2 (sfdp)2 . Model atom mekanika gelombang menyatakan bahwa elektron-elektron dalam atom bergerak mengelilingi inti pada tingkat energi/ kulit tertentu. 1s 2s 2p 3s 3p 3d 4s 4p 4d 4f 5s 5p 5d 5f 6s 6p 6d 7s 7p Cara RExa : Urutan pengisian subkulit atom oleh elektron F. Erwin Schrodinger(1926) berhasil menyusun persamaan gelombang untuk elektron dengan menggunakan cara-cara mekanika gelombang. Menurut Schrodinger. E.12 = 2 elektron (L) adalah 2. proton dengan dikelilingi elektron bergerak pada lintasan/orbit tertentu sesuai dengan tingkat energinya masing-masing. yang artinya “meningkat”).42 = 32 elektron Kulit terluar hanya boleh mengandung paling banyak 8 elektron. Atom terdiri dari partikel inti atom yang bermuatan positif. Model Atom Mekanika Gelombang / Model Atom Modern. Bohr (1913). dikenal model atom Rutherford – Bohr. Konfigurasi Elektron Setiap kulit bisa diisi elektron maksimum sebanyak 2n2 (n = nomor kulit). Werner Heisenberg (1927) mengemukakan prinsip ketidakpastian atau kebolehjadian yaitu kecepatan atau momentum dan kedudukan elektron tidak dapat ditentukan dengan tepat secara pasti. Prinsip Aufbau Elektron-elektron dalam suatu atom mengisi subkulit-subkulit. (Aufbau berasal dari bahasa Jerman. Memperbaiki kelemahan model atom Rutherford. dimulai dari subkulit dengan energi terendah hingga subkulit dengan energi tertinggi. Elektron-elektron bergerak mengelilingi Inti atom hanya pada lintasan tertentu.

terbesar golongan VII A : VII A > VI A > V A Dalam satu golongan dari atas ke bawah keelektronegatifan makin kecil. Oksidator : Oksidator adalah suatu zat yang mengalami reduksi ( menerima elektron ) Dalam satu periode dari kiri ke kanan makin besar : VII A > VI A > V A Dalam satu golongan dari atas ke bawah makin kecil g.1)d1 s/d n s2 (n . Reduktor : Reduktor adalah suatu zat yang mengalami oksidasi ( melepas elektron ) Dalam satu periode dari kiri ke kanan makin kecil : I A > II A > III A .1)d10 3. Prinsip Larangan Pauli Menurut Pauli. muatan inti makin besar sehingga gaya tarik inti makin kuat.1)6 s/d ns2 (n .Dalam pengisian orbital pada subkulit. Jika subkulit tersebut sudah tidak memiliki orbital kosong. elektron-elektron cenderung tidak berpasangan. terbesar golongan VIII A dan terkecil golongan I A. Afinitas elektron : Dalam satu periode dari kiri ke kanan makin besar. G. terkuat Ba. b. c. dari Na ke Cs reduktor makin kuat. Keelektronegatifan : Dalam satu periode dari kiri ke kanan makin besar. Dalam satu golongan dari atas ke bawah makin besar. karena jumlah kulit sama. terbesar golongan VII A : VII A > VI A > V A Dalam satu golongan dari atas ke bawah afinitas elektron makin kecil. Energi ionisasi pertama : Dalam satu periode dari kiri ke kanan makin besar. Jari-jari atom : Dalam satu periode dari kiri ke kanan makin kecil . Dalam satu golongan dari atas ke bawah makin besar.Golongan ditentukan oleh elektron valensi (jumlah elektron pada kulit terluar) . e. kecuali untuk golongan II A > III A dan V A > VI A . .1)d5 VIIIB  ns2 (n . Dalam satu golongan dari atas ke bawah makin kecil. karena jumlah kulit makin banyak. untuk golongan I A. dari Be ke Ba reduktor makin kuat. terkuat Litium dan untuk golongan II A. Unsur golongan transisi: III B s/d VII B  n s2 (n . Sifat basa : Dalam satu periode dari kiri ke kanan basa makin lemah : I A > II A > III A . tidak ada dua elektron di dalam satu atom yang memiliki 4 bilangan kuantum yang sama.1)d8 I B dan II B  ns1 (n .Periode ditentukan oleh kulit terakhir (n terbesar) 1. Unsur golongan utama: I A dan II A  ns1 dan ns2 III A s/d VIII A  ns2 np1 s/d ns2 np6 2.1)d10 dan ns2 (n . karena ke bawah makin elektropositif d. barulah elektron-elektron akan berpasangan. Penentuan kedudukan unsur dalam sistem periodik : . f. Sifat-sifat periodik: a.

ikatan kovalen ganda tiga ( tiga pasang elektron ). menjelaskan bahwa atom-atom dapat memperoleh susunan elektron gas mulia dengan jalan pemakaian elektron bersama = persekutuan elektron (elektron sharing). Kossel (1916). dari LiOH ke CsOH basa makin kuat. Bila kedua ion berkaitan terbentuklah senyawa yang terikat oleh ikatan ion. Pasangan elektron antara dua atom yang berikatan kovalen berasal dari : Sumbangan masing-masing atom. untuk golongan I A. Kemampuan suatu atom untuk membentuk ikatan dengan atom lain terutama ditentukan oleh konfigurasi elektron terluarnya. pasangan elektron yang dimiliki bersama lebih kuat tertarik pada atom yang elektronegatif. Gaya Dispersi (London. Gaya-gaya tersebut adalah : 1 Gaya Orientasi (Keisom. Ikatan ion (heteropolar = elektrovalen) Perpindahan elektron dari satu atom ke atom yang lain dan menghasilkan ion negatif dengan ion positif. Interaksi antara ion-ion logam positif dengan elektron yang bebas bergerak menghasilkan ikatan logam. mudah membentuk ion positif (elektro positif). disebut ikatan kovalen koordinat = ikatan koordinasi = ikatan datif = ikatan semipolar.11 NaOH > 12Mg(OH)2 > 13Al(OH)3 . c. Ikatan yang disebabkan gaya ini sangat lemah lebih kurang 0. Lewis (1906). dari Be(OH)2 ke Ba(OH)2 basa makin kuat. Sifat asam : Dari kiri ke kanan makin besar : VII A > VI A > V A. a. Ikatan kovalen (homopolar = ikatan atom) Ikatan kovalen yaitu ikatan antara dua atom yang menggunakan bersama sepasang atau beberapa pasang elektron atau pasangan elektron persekutuan. Atom-atom berikatan agar masing-masing mencapai susunan elektron yang stabil. 1912) → (polar . Gaya Induksi (Debey. tersusun dari beberapa gaya tarik antara molekul. Gaya tarik Van der Waals. Dari atas ke bawah untuk logam makin kecil dan untuk non logam makin besar. VI A kecuali Be b. 1930) → (nonpolar . terbesar golongan IV A. mendapatkan bahwa unsur – unsur sebelum gas mulia mudah membentuk ion negatif ( elektronegatif ). hal ini terjadi elektron transfer jika perbedaan keelektronegatifan kedua atom itu besar.polar) 3. sedangkan unsur-unsur sesudah gas mulia. d. ikatan kedua atom itu disebut ikatan kovalen polar. Ikatan ion terjadi antara atom-atom yang mempunyai energi ionisasi kecil dengan atom-atom yang mempunyai afinitas elektron besar. Titik leleh : Dari kiri ke kanan makin besar.001 dari kekuatan ikatan kovalen. Berdasarkan pasangan elektron di atas. ikatan kovalen rangkap dua (dua pasang elektron). Gaya Van der Waals Gaya Van der Waals adalah gaya tarik menarik yang lemah antara molekul-molekul. .1 sampai dengan 0. h.nonpolar) . Sumbangan dari salah satu atom saja. Dari atas ke bawah makin besar : HI > HBr > HCl > HF i. terkuat Ba(OH)2. Jika keelektronegatifan dua atom tidak sama.polar) 2. 1920) → (Nonpolar . HCl > H2S > PH3. terkuat CsOH dan untuk golongan II A. Ikatan Logam Atom-atom logam mempunyai elektron valensi yang bebas bergerak diseluruh logam. Dalam satu golongan dari atas ke bawah basa makin kuat. dikenal ikatan kovalen tunggal ( sepasang elektron ). Pada umumnya antara unsur-unsur golongan I A. sehingga kedua atom itu merupakan dipol. II A + VII A.

Ikatan Hidrogen Ikatan hidrogen adalah gaya tarik menarik yang cukup kuat antara molekul-molekul polar yang mengandung atom hidrogen. A. Mb Hubungan. Susunan ini dapat diramal berdasarkan gaya tolak– menolak dari muatan negatif pasangan-pasangan elektron. makin tinggi titik didih suatu senyawa. MENENTUKAN pH  larutan bersifat asam → pH < 7 larutan bersifat basa → pH > 7 larutan bersifat netral → pH = 7 asam netral 0 basa 7 14 Jadi untuk menentukan pH hanya diperlukan data :  [H+] untuk asam  [OH-] untuk basa.antara Ka/Kb dengan α ( untuk larutan biner) [OH ] = Ka Ma B. contoh : H2O. Kb Mb KEKUATAN ASAM . Ma [H+] = Kb . Untuk sembarang asam dan basa berlaku : [H+] = Ma . NH3. Val . Val .3 e. O. α [OH-] = Mb . seperti F.BASA α > Ka > (pKa <) α > Kb > (pKb <) . α keterangan : Ma = konsentrasi asam (Molaritas) Mb = konsentrasi basa val = valensi (= jumlah H+/OH-) mol terurai mol mula  mula α = derajat disosiasi ( ) → untuk asam/basa kuat : α = 1 → untuk asam/basa lemah : 0 < α < 1 Khusus untuk asam/basa lemah bervalensi satu (biner) berlaku : Ka = tetapan ionisasi asam Kb = tetapan ionisasi basa Ka . N. HF Bentuk Molekul Bentuk molekul senyawa kovalen bergantung pada susunan ruang pasangan-pasangan elektron yang membentuk ikatan-ikatan di dalam molekul itu. Makin banyak ikatan hidrogen. Ikatan ini terjadi antara atom H pada molekul yang satu dgn atom yang sangat elektronegatif.

menyatakan mol zat terlarut dalam 1 kg zat pelarut. menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam 1 liter larutan. . x100% % v/v. a.Asam semakin kuat jika → pH < → [H+] > basa semakin kuat jika → pH > → pOH < [OH-] > Keterangan : A. menyatakan jumlah gram zat terlarut dalam 100 gram larutan. berat. pKa = . larutan  g Mr x 1000 vol ( mL ) larutan  M 10 x ( % b/b ) x ρ larutan Mr  3. Persentase.terlarut volume zat terlarut berat larutan x100% Kemolaran / Molaritas ( = M ). berat. % v/v  d. menyatakan jumlah mL zat terlarut dalam 100 mL larutan.log Kb KONSENTRASI LARUTAN 1. menyatakan jumlah gram zat terlarut dalam 100 mL larutan. terdiri atas : % b/b. Kemolalan / Molalitas ( = m ). % v/b  2.zat. Molar ( M )  mol zat terlarut L. % b/v  c. menyatakan jumlah mL zat terlarut dalam 100 gram larutan.larutan % b/v. % b/b  b. berat zat terlarut x100% volume larutan volume zat terlarut volume larutan x100% %v/b.log Ka pKb = .

pelarut Xpelarut  5.C aC2l . Untuk larutan non elektrolit.urea mol.air Untuk larutan elektrolit. ppm  B. X terlarut mol. tetapi hanya tergantung pada banyaknya partikel zat yang dilarutkan.air 2 Keterangan : P = tekanan uap jenuh larutan . Sifat koligatif larutan non elektrolit lebih kecil dibandingkan dengan larutan elektrolit dengan konsentrasi yang sama . kg zat pelarut  g Mr x 1000 p (gram) Fraksi Mol (=X).terlarut  mol. XC aC l  Po x mol. menyatakan perbandingan jumlah mol salah satu zat terhadap jumlah mol seluruh zat penyusun suatu larutan.pelarut  mol.zat.zat.zat.terlarut x 106 massa.C aC2l x i ΔP  Po . misalnya larutan urea : ΔP  P b.zat.mol zat terlarut molal ( m )  4.larutan SIFAT KOLIGATIF LARUTAN Sifat koligatif larutan. X  X pelarut = 1 – X terlarut +X pelarut =1 terlarut Bagian Perjuta (=BPJ) / Part Per Million (=ppm).pelarut  mol.urea mol.zat. o x X urea  P o x mol. misalnya larutan CaCl2 : mol. Sifat Koligatif larutan meliputi :  1. yaitu sifat larutan encer yang tidak tergantung pada jenisnya. mol. Penurunan tekanan uap (  2. Penurunan titik beku (  3.zat.terlarut  mol. untuk larutan yang sangat encer biasanya digunakan ppm. Kenaikan titik didih ( P)  Tb (b = beku) atau  Td (d = didih) atau Tf (f = freeze) Tb (b = boil) π 4. Penurunan Tekanan Uap ( = 1) 2) P  P) = Po x Xpelarut P = Po x Xterlarut (Xterlarut + Xpelarut = 1) a. Tekanan osmotik ( )  1.zat. i  mol.terlarut   massa.

Hal ini berarti dengan penambahan sedikit asam kuat atau sedikit basa kuat ataupun diencer kan dianggap tidak mengubah pH larutan itu ( kalaupun ada perubahan relatif kecil ). misalnya HCN dengan KCN. Untuk asam lemah : [asam]  [H ]  Ka x [anion] . Penurunan Titik Beku ( Tf)  Tf ΔTf 3. yaitu larutan yang mempunyai tekanan osmotik sama. misalnya HCN dengan CN . asam lemah dengan basa konjugasinya. α i =n → <1 i = 1+(n-1)α → LARUTAN PENYANGGA : Larutan penyangga (=buffer) terdiri dari : 1. 2. = titik beku pelarut – titik beku larutan = m x Kf x i Kenaikan Titik Didih (Tb)   Tb = titik didih larutan – titik didih pelarut Tb = m x Kb x i 4. π1 = π2 M1T1i = M2T2i (R = tetapan gas) M1 x i = M2 x i ( Jika T1 = T2 ) faktor Van't Hoff ( i ) Keterangan : n = jumlah ion i = 1+(n-1)α α = derajat disosiasi i =1 Non Elektrolit Larutan : Elektrolit Kuat : Elektrolit α =0 → α =1 Elektrolit Lemah : 0 < A. Tekanan Osmotik (π) π= MRTi Larutan isotonik.atau basa lemah dengan asam konjugasinya . misalnya larutan NH3 dengan NH4+. atau basa lemah dengan garamnya dari asam kuat . Sifat larutan penyangga adalah dapat mengendalikan terhadap usaha untuk mengubah pH.Po = tekanan uap jenuh pelarut murni  P = penurunan tekanan uap = fraksi mol = faktor Van’t Hoff X i  2. asam lemah dengan garamnya dari basa kuat. misalnya NH4OH dengan NH4Cl.

misalnya Al2S3. harganya tetap selama suhu tetap Kw x [ kation ] Kb Asam Lemah dengan Basa Lemah  L+ + A – + H2O  [H ]   [ OH ]  Kw Kb x Ka Kw Ka x Kb LOH + HA ( jika Ka  Kb ) ( jika Ka  Kb ) . NH4CN dan sebagainya. KCN. 1. Garam yang berasal dari asam lemah dengan basa kuat atau asam kuat dengan basa lemah mengalami hidrolisis partial atau sebagian. misalnya NH4Cl. HIDROLISIS GARAM Pada hidrolisis garam dalam air. misalnya NaCl. Kw  [OH ]  Ka x [anion] Basa Lemah  L+ + H2O Kh  LOH + H + Kw Kb . harganya tetap selama suhu tetap. Prinsipnya. Garam yang berasal dari asam lemah dengan basa lemah mengalami hidrolisis total atau sempurna. Asam Lemah  A – + H2O Kh  HA + OH – Kw Ka .  [H ]  Kh = tetapan hidrolisis. Garam yang berasal dari asam kuat dengan basa kuat tidak mengalami hidrolisis. bereaksi dengan molekul air menghasilkan asam lemah atau basa lemah atau asam lemah dengan basa lemahnya . K2SO4 dan sebagainya. Kh = tetapan hidrolisis. ion negatif yang berasal dari asam lemah atau ion positif yang berasal dari basa lemah.[basa]  [OH ]  Kb x [kation] Untuk basa lemah : B. dan sebagainya. 3. 2.

= Mb .BASA Tentukan : mol H+ = Ma . = – log ( H +) = – log ( OH -) = – log Ka = – log Kb = – log Kw Kh = tetapan hidrolisis Kw = tetapan ionisasi air Ka = tetapan ionisasi asam Kb = tetapan ionisasi basa REAKSI ASAM . Val . Valensi mol OH.pH pOH pKa pKb pKw C. Val . Valensi = ( sama) ≠ ( sama) Sisa Habis pH = 7 Sisa Kuat Hidrolisis K +K K +L L +L Hidrolisis   ParsialHidrolisis Total/ Sisa Lemah mol sisa Buffer (pH ditentukan oleh yang sisa/lemah) volume total   Sempurna pH ditentukan oleh pH ditentukan yang kuat oleh Ka/Kb yang lebih besar .

campuran larut (belum jenuh) (4) Untuk senyawa yang mengandung jumlah partikel sama (=n). makin kecil kelarutan senyawa tersebut. 2. maka senyawa tersebut makin mudah mengendap (makin sukar larut). .]n = mm x nn x Sm+n mn Ksp m x nn m Kelarutan AmBn dalam air = Hubungan jumlah ion (n) dengan Ksp Jumlah Ion (n) Ksp 2 3 4 5 s2 4s3 27s4 108s5 (2) Kelarutan suatu senyawa (yang sukar larut) akan bertambah kecil/sedikit dengan adanya pengaruh ion sejenis. (3) Untuk larutan-larutan yang dicampurkan m An+ + n Bm1.  AmBn Jika [An+]m x [Bm-]n > Ksp AmBn.Suatu senyawa ion yang sukar larut dalam air. jika dilarutkan ke dalam air akan terjadi kesetimbangan. Makin besar pengaruh ion sejenis. campuran mengendap (lewat jenuh) Jika [An+]m x [Bm-]n = Ksp AmBn. jika harga Ksp makin kecil maka kelarutan senyawa tersebut juga makin kecil. yaitu : (1) Hasil kali kelarutan suatu senyawa yang sukar larut merupakan perkalian konsentrasi ion jenuhnya dipangkatkan sebesar koefisien reaksinya. Beberapa konsep penting dalam Ksp. campuran tepat jenuh Jika [An+]m x [Bm-]n < Ksp AmBn. AmBn(s)  AmBn(aq) Ksp AmBn Ksp AmBn  m An+ (aq) + n Bm– (aq) = [ An+ ]m [ Bm. 3.

Konsep Reaksi Redoks Konsep Reaksi Redoks  2. Konsep bilangan oksidasi 2.Kenaikan biloks Mg Na2O  2+ Fe 3+  Reduksi : .Pelepasan elektron Fe .Penurunan biloks 2+ Cl2 Hg + O2  + 2e Cu  0 2 Cl – Pengoksidasi / oksidator : zat yang dalam reaksinya mengalami reaksi reduksi Pereduksi / reduktor : zat yang dalam reaksinya mengalami reaksi oksidasi Contoh : (1) Reaksi redoks 0 Oksidasi +2  Cu2++ Zn Zn2+ + Cu +2 Reduksi → yang mengalami reduksi : Cu2+ (berperan sebagai pengoksidasi/oksidator) → yang mengalami oksidasi : Zn (berperan sebagai pereduksi/reduktor) 0 (2) Reaksi disproporsionasi ( = Reaksi autoredoks ) 0 Oksidasi Cl2 + OH 0 +5 Cl.Pelepasan oksigen +e .A. → Reaksi reduksi dan oksidasi berjalan bersama-sama/serentak. → Prinsip reaksi redoks terjadi perubahan bilangan oksidasi. Penyetaraan Reaksi Redoks : Dua konsep penyetaraan : 1.Pengikatan oksigen Na + O2 .Pengikatan elektron Cu Mg2+ 0  HgO .+ ClO3─ ─ Reduksi -1 Sebagai pereduksi dan pengoksidasi pada reaksi yang bersamaan (3) Reaksi ‘anti autoredoks‘ +5 Reduksi 0 I +IO3 + H - –1 - Oksidasi +  I 2 + H2 O 0 Jadi reaksi redoks pada hakikatnya yang menyangkut perpindahan elektron. Oksidasi :   . Konsep setengah reaksi atau konsep ion elektron ( Cara 1 dan 2 bisa dalam suasana asam ataupun suasana basa ) . REAKSI REDOKS : 1. 3.

ELEKTROKIMIA Elektrokimia : mempelajari hubungan antara energi listrik dengan reaksi kimia. Potensial elektrode standar sel adalah potensial 1 sel yang terdiri dari setengah sel bersangkutan dengan konsentrasi 1 M dan suhu 250C dengan setengah sel hidrogen (kawat platina yang dicelupkan ke dalam larutan H+ 1M dan dialiri gas hidrogen pada tekanan 1 atm dan suhu 25 0C). Baterai Perak Oksida Anoda (-) Zn Zn 2+ + 2eKatoda (+) Ag2O + H2O + 2e4.→ Cd(OH)2 + 2eKatoda (+) : NiO + H2O + 2e.→ Ni (OH)2 + 2eII. Anode Oksidasi (KRAO). Anode Negatif (KPAN). – E o oks  Arus elektron : anode Arus listrik Jembatan garam : katode anode : menyetimbangkan ion-ion dalam larutan  katode Macam-macam Sel Volta : Aplikasi Sel Volta I.Katode Reduksi. Baterai biasa Anoda (-) : Zn → Zn2+ + 2e– Katoda (+) : 2 MnO2 + 2NH4+ + 2e . Baterai NiCd Anoda (-) : Cd + 2OH.→ Mn2O3 + 2OH- 3.B. Sel Volta / Sel Galvani Dalam sel Volta ( sel Galvani ) perpindahan elektron berasal dari sel itu. - ( kecil ) mudah dioksidasi Potensial Standar Sel ( = E0 sel ) Pengertian potensial standar sel merupakan ukuran terhadap besarnya kecenderungan suatu unsur untuk meng-ion.Reaksi tidak berlangsung Catatan : Eo sel = Eo red.Katode Positif. Baterai (Dry Cell) 1. . + reaksi berlangsung E0 sel . Sel Volta a. Baterai alkali Anoda (-) : Zn → Zn2+ + 2e – Katoda (+) : 2MnO2 + H2O + 2e. Aki (Wet Cell) digunakan (volta) Anoda (-) : Pb → PbSO4 Katoda (+) : PbO2 → PbSO4 di charge (elektrolisis) katoda (-) PbSO4 → Pb anoda (+) PbSO4 → PbO2 .→ Mn2O3 + 2 NH3 + H2O 2. 1. Potensial ( Reduksi ) Standar ( = E0 ) + ( besar ) mudah direduksi E0 b. Dengan menggunakan daftar potensial (Red) standar dapat diramalkan suatu reaksi bisa berlangsung atau tidak. .

I A. 2. II A. Tanpa data E0 = pilihlah logam pelindung yang letaknya sebelah kiri dari logam yang akan dilindungi pada deret logam Volta / Nernst.C.Mn mengendap Elektrode   Tidak berekasi Pt. Sel Elektrolisis Dalam sel elektrolisis terjadi perubahan energi listrik menghasilkan reaksi kimia. baik pada sel Volta maupun sel elektrolisis pada katode berlangsung reaksi reduksi dan pada anode berlangsung reaksi oksidasi ( KRAO ). Kesimpulan : Dengan data E0 = pilihlah logam pelindung dengan harga E0 lebih kecil dari logam yang akan dilindungi. C. Mn Pt. Au (inert) Selain Ion logam gol. Al . dengan cara memilih logam pelindung yang lebih mudah dioksidasi. Katode merupakan elektrode negatif dan anode merupakan elektrode positif ( KNAPe ). Proteksi Katodik ( = Perlindungan Katode ) Prinsipnya : melindungi logam dari kerusakan korosi . Al.Au  larut  dari basa  H. II A .c.dsb  . Senyawa yang dielektrolisis dalam fase larutan K (-) A (+) Ion H+ dari asam selain ion logam gol I A.SO42-.dari hidrida logam  sisa asam X–   NO3-.

Pahlawan No. 55 Telp . (022) 7307824. 2508530 Bandung Jl. kecuali Helium 2 elektron. Karawitan No. 7304633 Bandung Gas mulia dikenal sebagai unsur golongan VIIIA Jl. 15 B 9022) 7100768 Bandung sebab memiliki 8 elektron di kulit terluar. Konfigurasi elektron masing-masing gas mulia adalah sebagai berikut : Helium Neon Argon Kripton Xenon Radon He 10Ne 18Ar 36Kr 54Xe 86Rn 2 1s2 (He) 2s2 (Ne) 3s2 (Ar) 3d10 (Kr) 4d10 (Xe) 4f14 2p6 3p6 4s2 4p6 5s2 5p6 5d10 6s2 6p6 . GAS MULIA Jl.A. He Ne Ar Kr Xe Rn Jari-jari atom >> Energi ionisasi << Keelektronegatifan << 1. Brigjen Katamso No. (022) 2500934. 71 Telp.

KrF4 RnF2. XeO2F2 KrF2. XeF2. XeF4. H4XeO6. XeO4. Na4XeO6 XeOF4. Cs2XeF8 XeO3. harga energi ioisasi gas mulia menurun Gas mulia yang paling banyak terdapat di atmosfer adalah argon. CsXeF7. 3. 1. 2. Struktur elektron masing-masing unsur adalah sebagai berikut : Fluorin 9F Klorin 17Cl Bromin 35Br Iodin 53I Astatin 85At (He) 2s2 2p5 (Ne) 3s2 3p5 (Ar) 4s2 4p5 (Kr) 5s2 5p5 (Xe) 6s2 6p5 . H2XeO4. Senyawa XePtF6.Sifat gas mulia : berwujud atom tunggal (monoatomik) sukar bereaksi dengan unsur lain karena memiliki harga energi ionisasi terbesar dibandingkan unsur-unsur seperiode dengan bertambahnya nomor atom. Xe. Gas mulia yang paling sedikit dijumpai adalah radon yang bersifat radioaktif. Peringkatnya ketiga setelah nitrogen dan oksigen. Sedangkan gas mulia yang paling banyak terdapat di alam semesta adalah helium. Walaupun begitu. XeF6. dan Rn) Hanya bereaksi dengan unsur yang sangat elektronegatif (sejauh ini baru F dan O) Contoh beberapa senyawa gas mulia : Gas mulia Xe Kr Rn B. Senyawa gas mulia : Gas mulia sukar bereaksi dengan unsur lain. NaHXeO4. RnF4 HALOGEN F Cl Br Jari-jari atom >> Energi ionisasi << Keelektronegatifan << Oksidator << (reduktor >>) Senyawa asamnya : keasaman >> I At Halogen dikenal sebagai unsur golongan VIIA sebab memiliki 7 elektron di kulit terluar. Kriteria : Gas mulia harus memiliki energi ionisasi yang cukup rendah (sejauh ini Kr. 2. sekarang sudah disintesis senyawa gas mulia.

Atom halogen mudah menangkap satu elektron agar konfigurasi elektronnya stabil. kecuali F. X2 (F2. dan I2). halogen membentuk senyawa kovalen. sedangkan HCl. Pada sistem periodik unsur halogen dapat mengoksidasi unsur halogen yang terdapat di bawahnya tidak bisa mengoksidasi unsur halogen di atasnya. Unsur astatin bersifat radioaktif. iodin dan astatin padat.  Dengan logam. Br2. Titik didih HF tertinggi dibandingkan teman-temannya karena molekul HF memiliki ikatan hidrogen. HBr. C. dan HI asam kuat. Biloks -1 +1 F- +3 +5 +7 - F Fluorida ClClO- Cl Klorida Hipoklorit BrBrO- ClO2ClO3ClO4- Klorit Klorat Perklorat BrO2BrO3BrO4- Br bromida hipobromi t bromit bromat perbromat IIO- I iodida hipoiodit IO2IO3IO4- iodit iodat periodat   Asam halida HF asam lemah. Dengan nonlogam. Selalu terdapat dalam bentuk molekul diatomik. halogen membentuk garam (senyawa ionik). Dapat membentuk senyawa oksihalogen. Dengan demikian unsur halogen sangat reaktif. Cl2.    Sifat halogen Pada suhu kamar fluorin dan klorin berwujud gas.  Dapat membentuk senyawa antarhalogen. sehingga tidak dijumpai di alam dalam keadaan bebas. ALKALI Li Na K Rb Cs Fr Jari-jari atom >> Energi ionisasi << Keelektronegatifan << Oksidator << (reduktor >>) Sifat logam >> Hidroksidanya : kebasaan >> . mudah berubah menjadi unsur lain yang lebih stabil. bromin cair.

D. 2 M + 2 H2O  2 MOH + H2  Senyawanya berikatan ionik. Struktur elektron masing-masing unsur adalah sebagai berikut : Litium 1s2 2s1 3Li Natium [Ne] 3s1 11Na Kalium [Ar] 4s1 19K Rubidium [Kr] 5s1 37Rb Sesium [Xe] 6s1 55Cs Fransium [Rn] 7s1 87Fr Atom logam alkali mudah melepas satu elektron untuk memperoleh konfigurasi elektron yang stabil. titik lelehnya rendah.  Senyawa hidroksidanya merupakan basa kuat. Atom logam alkali hanya memiliki sebutir elektron terluar yang terlibat pada ikatan logam sehingga energi kohesi antaratom kecil. seperti perak.  Bersifat reduktor kuat.Alkali dikenal sebagai unsur golongan IA sebab memiliki 1 elektron di kulit terluar. Logam alkali diperoleh dengan cara elektrolisis lelehan garamnya (bukan larutan garam).  Bereaksi dengan air membentuk basa dan gas H2. ALKALI TANAH Be Mg Ca Sr Ba Ra Jari-jari atom >> Energi ionisasi << Keelektronegatifan << Oksidator << (reduktor >>) Sifat logam >> Hidroksidanya : kebasaan >> . Sifat-sifat alkali  Lunak (dapat dipotong dengan pisau).  Putih mengkilap. Logam alkali sangat reaktif sehingga tidak ditemui di alam dalam keadaan bebas. Fransium bersifat radioaktif.

kelarutan hidroksida semakin besar. CO32-. M + 2 H2O  M(OH)2 + H2  Semua senyawa Ca. Cl-. Sebagian besar senyawa Mg berikatan ionik. dan Ba berikatan ionik. kelarutan sulfat. Logam alkali tanah sangat reaktif sehingga tidak ditemui di alam dalam keadaan bebas. dari atas ke bawah. kecuali Be(OH)2.  Senyawa hidroksidanya merupakan basa kuat.  Reduktor kuat. garam Be dan Mg.  Senyawa alkali tanah yang anionnya bermuatan -1 (NO 3-. dari atas ke bawah. Sifat alkali tanah :  Energi ionisasi logam alkali tanah lebih besar daripada logam alkali karena jari-jari atom logam alkali tanah lebih kecil. CrO42-) umumnya tidak larut dalam air. UNSUR PERIODE KETIGA Konfigurasi elektron unsur periode ketiga adalah sebagai berikut : Natrium [Ne] 3s1 11Na Magnesium 12Mg [Ne] 3s2 Aluminium 13Al [Ne] 3s2 3p1 Silikon Si [Ne] 3s2 3p2 14 Fosforus [Ne] 3s2 3p3 15P Belerang [Ne] 3s2 3p4 16S Klorin [Ne] 3s2 3p5 17Cl Argon [Ne] 3s2 3p6 18Ar .)  Senyawa alkali tanah yang anionnya bermuatan -2 (SO 42-. kecuali senyawa OH. Sebagian besar senyawa Be berikatan kovalen.  Kulit terluar memiliki dua elektron sehingga ikatan antaratom lebih kuat daripada alkali. Radium bersifat radioaktif. karbonat.) E. tetapi tidak sekuat logam alkali. Logam alkali tanah diperoleh dengan cara elektrolisis lelehan garamnya. Hal ini menyebabkan logam alkali tanah keras dan titik lelehnya lebih tinggi dibandingkan logam alkali.  Bereaksi dengan air membentuk basa dan gas H2. I-) umumnya larut dalam air. kecuali senyawa S2-. Br-.dan F-. Struktur elektron masing-masing unsur adalah sebagai berikut : Berilium 1s2 2s2 4Be Magnesium [Ne] 3s2 12Mg Kalsium [Ar] 4s2 20Ca Strontium [Kr] 5s2 38Sr Barium Ba [Xe] 6s2 56 Radium [Rn] 7s2 88Ra Atom logam alkali tanah mudah melepas dua elektron untuk memperoleh konfigurasi elektron yang stabil. dan sedikit garam Ca. Sr.Alkali tanah dikenal sebagai unsur golongan IIA sebab memiliki 2 elektron di kulit terluar. (Pada sistem periodik. dan kromat semakin kecil. (Pada sistem periodik.

Fe2O3. Berdasarkan sifat logam :  Unsur logam : Na.IA IIA Na Mg IIIA Al IVA VA Si P VIA VIIA VIIIA S Cl Ar Jari-jari atom << Keelektronegatifan >> * Energi ionisasi >> (umumnya) ** Sifat logam << Sifat reduktor << (sifat oksidator >>) * Sifat basa << (sifat asam >>) * Keterangan :  Berlaku dari Na hingga Cl. dan pengotor lain. Sedangkan Ar tidak memiliki keelektronegatifan karena konfigurasi elektronnya sudah stabil. titik lelehnya menjadi 800 – 1000oC sehingga proses elektrolisis dapat dilakukan.  Harga keelektronegatifan terbesar dimiliki Cl. Proses Kontak (pembuatan asam sulfat) Bahan baku : belerang. 2. SiO2. Mg. Cl Beberapa proses penting yang berkaitan dengan unsur periode ketiga : 1. kemudian dengan asam. Fe2O3. Cl. kemudian dielektrolisis. S. udara. S(s) + O2(g)  SO2(g)  V 2O5  2 SO2(g) + O2(g) 2 SO3(g) SO3(g) + H2O(l)  H2SO4(aq) Tahap terakhir bisa dimodifikasi : SO3(g) + H2SO4(aq)  H2S2O7(aq) . Proses Hall (pembuatan aluminium) bijih bauksit Pemurnian Al2O3 Al2O3 Elektrolisis leburan Al2O3 Proses Bijih bauksit (Al2O3. Ar Berdasarkan keasaman :  Bersifat basa : Na. dan air. Dengan kriolit. Al Kriolit berfungsi untuk menurunkan titik leleh Al2O3. 2300oC. P. Mg  Bersifat amfoter : Al  Bersifat asam : Si. Al  Unsur semi logam : Si  Unsur nonlogam : P. S.  Harga energi ionisasi P lebih besar daripada Si karena P memiliki orbital 3s yang setengah penuh.  Energi ionisasi Mg lebih besar daripada Al karena Mg memiliki orbital 3s yang penuh. Titik leleh bauksit (Al2O3) terlalu tinggi. aluminium Hasil Al2O3 terpisah dari SiO2. pengotor lain) direaksikan dengan basa. Al2O3 dilarutkan dalam Na3AlF6 (kriolit).

konfigurasinya bukan [Ar] 4s 2 3d9. Spesi yang memiliki elektron tidak berpasangan bersifat paramagnetik (tertarik oleh medan magnet). yaitu tetap memiliki induksi magnet walaupun medan magnet sudah dijauhkan. Dengan demikian semua unsur transisi merupakan logam. Begitu pula dengan Cu. tetapi juga elektron yang menempati subkulit d. Karakteristik logam transisi :  Sifat logam Kulit terluar unsur-unsur transisi mengandung hanya satu atau dua elektron. Konfigurasi elektron Cr bukanlah [Ar] 4s 2 3d4 . Itulah sebabnya kebanyakan unsur dan senyawa logam transisi memiliki sifat magnetik. UNSUR TRANSISI PERIODE KE -4 IIIB Sc IVB VB Ti VIB VIIB V Cr VIIIB IB Mn Fe IIB Co Ni Cu Zn Unsur transisi adalah unsur yang pengisian elekronnya berakhir pada subkulit d. Jika semua elektron berpasangan. Hal ini disebabkan beberapa atau semua elektron pada subkulit d dapat digunakan bersama-sama dengan elektron-elektron pada subkulit s dalam membentuk senyawa. Pada unsur utama elektron valensi (elektron yang terlibat dalam ikatan dengan unsur lain) hanyalah elektron kulit terluar. Makin banyak elektron yang tidak berpasangan.  Tingkat oksidasi Kebanyakan unsur transisi menunjukkan tingkat oksidasi (bilangan oksidasi) yang lebih dari sejenis. melainkan [Ar] 4s1 3d5. Hal ini disebabkan tingkat energi hampir bersamaan. Unsur transisi Skandium Titanium Vanadium Kromium Mangan Besi Kobalt Nikel Tembaga Seng Lambang Sc Ti 23V 24Cr 25Mn 26Fe 27Co 28Ni 29Cu 30Zn 21 22 Konfigurasi elektron [Ar] 3d1 4s2 [Ar] 3d2 4s2 [Ar] 3d3 4s2 [Ar] 3d5 4s1 [Ar] 3d5 4s2 [Ar] 3d6 4s2 [Ar] 3d7 4s2 [Ar] 3d8 4s2 [Ar] 3d10 4s1 [Ar] 3d10 4s2 Golongan III B IV B VB VI B VII B VIII B VIII B VIII B IB II B Atom yang memiliki orbital penuh atau orbital setengah penuh lebih stabil daripada atom yang orbitalnya tidak penuh atau tidak setengah penuh. Sifat kimianya berbeda dengan unsur utama (golongan A). Co.H2S2O7(aq) + H2O(l)  2 H2SO4(aq) F.  Ion yang berwarna Sebagian besar ion-ion logam transisi berwarna-warni. spesi itu bersifat diamagnetik (tidak tertarik oleh medan magnet). melainkan [Ar] 4s1 3d10. dan Ni memiliki sifat feromagnetik. Unsur transisi baru ditemui pada periode keempat. Sedangkan pada unsur transisi elektron valensinya bukan hanya elektron kulit terluar. . sehingga elektron-elektron dapat bergerak ke tingkat energi yang lebih tinggi dengan mengabsorpsi sinar tampak.  Sifat magnet Unsur dan senyawa logam transisi umumnya mempunyai elektron yang tidak berpasangan dalam orbital d. makin kuat sifat magnetiknya. Unsur Fe.

Jl. Anion atau molekul yang mengelilinginya dinamai ligan. (022) 2500934. 2 = di. 3 = tri. CN . H2O dan NH3. Dalam pembuatan ion kompleks. Kation logam dinamai atom pusat. Pahlawan No. 71 Telp. Bilangan koordinasi Cu = 4 Muatan ion komples = 2 + 4 (0) = +2 Rumus ion kompleks : Cu(H2O)42+ Jika senyawa kompleks dilarutkan ke dalam air. d. Karawitan No. ION KOMPLEKS Ion kompleks merupakan struktur di mana kation logam dikelilingi oleh dua atau lebih anion atau molekul netral. 6 = heksa). f. Muatan ion kompleks adalah hasil penjumlahan muatan atom pusat dan muatan ligan yang mengelilinginya. Contoh : Ion kompleks yang tersusun dari atom pusat Cu2+ dan empat buah ligan H2O. Jika ion kompleks adalah kation. Anion atau molekul yang bertindak sebagai ligan harus mempunyai pasangan elektron bebas. Ligan disebut sebelum atom pusat. Kation disebut sebelum anion. Jika ion kompleks anion. Sifat katalis Unsur transisi dan senyawanya sering dipakai sebagai katalis pada reaksi-reaksi kimia di industri. ligan disebut menurut abjad. misalnya Cl . atom pusat memakai nama Indonesia. Jika ligan lebih dari sejenis. (022) 7307824. atom pusat memakai nama Latin dengan akhiran –at. Nama atom pusat diikuti oleh biloks memakai angka Romawi dalam tanda kurung. 4 = tetra. b. e. 55 Telp . ligan-ligan terikat pada atom pusat melalui ikatan kovalen koordinasi. 5 = penta. G. 2508530 Bandung Jl. Contoh : [Cr(NH3)4Cl2]Cl  Cr(NH3)4Cl2+ + ClTata nama senyawa kompleks : a. Ligan yang berupa OHhidrokso NO nitrosil CNFfluoro CO karbonil SCNClkloro NH3 amin NO2Br bromo H2O akua SO42Iiodo S2O32c. 15 B 9022) 7100768 Bandung . anion memakai akhiran –o. siano tiosiano nitro sulfato tiosulfato Jumlah ligan ditandai dengan awalan angka Yunani (1 = mono. 7304633 Bandung Jl. ion kompleks tetap berupa satu spesies ion. Brigjen Katamso No.

Sikloalkana siklopropana siklobutana siklopentana sikloheksana . Alkana CnH2n+2 Rumus CH4 C2H6 C3H8 C4H10 C5H12 C6H14 C7H16 C8H18 C9H20 C10H22 Nama metana etana propana butana pentana heksana heptana oktana nonana dekana Gugus alkil : alkana yang kehilangan 1 atom H CH3metil C2H5 etil C3H7 propil C4H9 butil Contoh : C-C-C-C C 2. HIDROKARBON (CxHy) 1. Contoh : CH3 – CH2 = C – CH2 – CH3 CH3 3-metil-2-butena (C6H12) ... Sikloalkana CnH2n Rumus C2H4 C3H6 C4H8 C5H10 C6H12 .. Alkena etena propena butena pentena heksena ...2-metil-butana A.. Alkena.

Alkuna dan Alkadiena CnH2n-2 Rumus Alkuna Alkadiena C2H2 etuna C3H4 propuna propadiena C4H6 butuna butadiena C5H8 pentuna pentadiena C6H10 heksuna heksadiena .. Atom Atom Atom Atom C C C C primer sekunder tersier kuartener : : : : terikat terikat terikat terikat pada pada pada pada 1 2 3 4 atom atom atom atom C C C C lain lain lain lain GUGUS FUNGSI Gugus fungsi Alkanol (alkohol) R . (C4H6) Alkanol (Alkohol) CnH2n+2O Rumus CnH2n+2O CnH2nO CnH2nO2 (R . .COOR .COOH 1.OH) Alkohol memiliki gugus hidroksil ( – OH) Contoh : C-C-C-C-C C OH 3-metil-2-pentanol Isomer fungsional Alkoksi alkana (eter) R ..OH Alkanal (aldehid) R .CH2 CH2 CH2 CH2 CH2 CH2 sikloheksana (C6H12) 3.CH = CH2 1.3-butadiena  Posisi atom C 1.OR Alkanon (keton) R . 2. .COR Alkil alkanoat (ester) R . 4. Contoh : CH  C – CH2 – CH3 1-butuna (C4H6) CH2 = CH ... B. 3..COH Asam alkanoat (asam karboksilat) R ..

OR) metoksimetana (dimetil eter) metoksietana (etil metil eter) 2-metoksi propana (metil isopropil eter) C Eter bereaksi dengan asam halida kuat (terutama HI dan HBr) menghasilkan alkohol (dari gugus alkil yang panjang) dan alkilhalida (dari gugus alkil yang pendek).Jenis alkohol :  Alkohol primer  Alkohol sekunder  Alkohol tersier : gugus OH terikat pada atom C primer : gugus OH terikat pada atom C sekunder : gugus OH terikat pada atom C tersier Alkohol bereaksi dengan logam natrium menghasilkan Na-alkanolat (Na alkoksida). R–O–R + HX ROH + RX Perbedaan alkohol dan eter Alkohol  Bereaksi dengan Na Eter Tidak bereaksi dengan  Na  Bereaksi dengan PX3 (X = unsur halogen)  Titik didih tinggi  Mudah larut dalam air 3. Alkanal (Aldehid) Contoh : CnH2nO  Tidak bereaksi dengan PX3   Titik didih rendah Sukar larut dalam air (R .O .    Asam karboksilat Keton [O] Alkoksi Alkana (Eter) Contoh : CH3 . Alkohol bereaksi dengan PCl3 menghasilkan alkil halida.O .CH3 CH3 . Reaksi oksidasi alkohol primer dan sekunder Alkohol primer [O] Alkohol sekunder [O] Alkohol tersier 2.CHO) O butanal C–C–C–C H .C2H5 C-C-O-C [O] Aldehid CnH2n+2O (R . Allkohol bereaksi dengan asam karboksilat menghasilkan ester.

Makin pendek rantai karbon.COR) O C–C–C–C 2-butanon (etil metil keton) O C–C–C–C–C 3-pentanon (dietil keton) Keton dapat direduksi (oleh gas H2) menghasilkan alkohol sekunder.) Aldehid dapat direduksi (oleh gas H2) menghasilkan alkohol primer. Alkanon (Keton) Contoh : CnH2nO (R . Reaksinya disebut esterifikasi. (Keton tidak bereaksi dengan larutan Fehling dan Tollens. 5. Aldehid dapat dioksidasi menghasilkan asam karboksilat. 4.O C–C–C–C–C 3-metil-pentanal H C Reaksi spesifik untuk aldehid Dengan larutan Fehling (CuO) RCHO + 2 CuO  RCOOH + Cu2O(s) merah bata Dengan larutan Tollens (Ag2O) RCHO + Ag2O  RCOOH + 2 Ag(s) perak   Kedua reaksi di atas digunakan untuk membedakan aldehid dari keton. Reaksinya disebut penetralan. sifat asam semakin kuat.  Asam karboksilat bereaksi dengan alkohol menghasilkan ester.  Bereaksi dengan basa menghasilkan garam.  .COOH) O C–C–C–C asam butanoat OH O C–C–C–C–C asam-3-metil-pentanoat OH C Sifat asam karboksilat : Asam karboksilat merupakan asam lemah. Asam alkanoat (Asam karboksilat) Contoh : CnH2nO2 (R .

sikloalkana Alkena. Rantai C cabang Rantai C cabang diberi nomor sekecil mungkin. C yang berikatan rangkap merupakan bagian dari rantai C terpanjang. C. Rantai C cabang diberi nomor sedekat mungkin terhadap C yang berikatan rangkap. C yang mengikat gugus fungsi merupakan bagian dari rantai C terpanjang. . Rantai C cabang diberi nomor sedekat mungkin terhadap C yang mengikat gugus fungsi.COOR) Contoh : O C–C–C–C metil butanoat O–C O C–C propil etanoat O–C–C–C Reaksi esterifikasi asam karboksilat + alkohol Contoh :  Asam etanoat + propanol ester + air  propil etanoat + air O O CH3 – C + CH3 – CH2 – CH2 OH CH3 – C + H2O OH O – CH2 – CH2 – CH3 Reaksi ester   Ester dapat terhidrolisis menghasilkan asam karboksilat dan alkohol (kebalikan dari esterifikasi). lemak + basa  sabun + gliserol TATA NAMA UMUM Alkana. Atom C yang berikatan rangkap memiliki nomor serendah mungkin.6. alkadiena Senyawa karbon bergugus fungsi Rantai C terpanjang Pilih rantai C terpanjang. Atom C yang mengikat gugus fungsi memiliki nomor serendah mungkin. garam yang terbentuk adalah sabun. alkuna. Ester bereaksi dengan basa menghasilkan garam karboksilat dan alkohol. ester + basa  garam karboksilat + alkohol Jika esternya lemak. Alkil alkanoat (Ester) CnH2nO2 (R . Reaksinya disebut penyabunan (saponifikasi).

tetapi rumus bangun yang berbeda Isomer posisi Isomer struktur Isomer fungsional ISOMER Isomer geometri Isomer ruang Isomer optis Isomer posisi adalah isomer senyawa-senyawa segolongan. . atau yang gugus fungsionalnya berbeda.D. Misalnya :  isomer C4H10 adalah n-butana dan 2-metil-propana (sama-sama golongan alkana)  isomer dari propanol. Misalnya :  isomer C2H6O adalah etanol dan metoksimetana (golongan alkohol dengan eter)  isomer C3H6O adalah propanal dan propanon (golongan aldehid dengan keton)  isomer C2H4O2 adalah asam etanoat dan metil metanoat (golongan asam karboksilat dengan ester) Isomer geometri hanya terdapat pada alkena yang atom-atom C berikatan rangkapnya mengikat dua pasang gugus yang simetris. ISOMER Senyawa dengan rumus molejul yang sama. adalah 1-propanol dan 2-propanol (sama-sama golongan alkohol) Isomer fungsional adalah isomer dari senyawa-senyawa yang tidak segolongan. C3H7OH.

Reaksi Eliminasi (pengurangan) Reaksi eliminasi adalah reaksi pengurangan atom. Reaksi ini banyak ditemui pada senyawa jenuh. Reaksi ini hanya dijumpai pada senyawa yang memiliki ikatan rangkap. Contoh : CH2 = CH2 + HCl  CH3 – CH2Cl 3.A B A sis (gugusnya sesisi) C=C B A B B trans (gugusnya berseberangan) C=C A Isomer optis adalah isomer senyawa yang memiliki atom C asimetrik. Reaksi ini mengubah ikatan tak jenuh menjadi ikatan jenuh. Contoh : CH4 + Cl2  CH3Cl + HCl 2. Reaksi ini mengubah ikatan jenuh menjadi tak jenuh. E. Reaksi Substitusi (penggantian) Reaksi substitusi adalah reaksi penukaran atom dengan atom yang lain. Reaksi Adisi (penambahan) Reaksi adisi adalah reaksi penambahan atom. Atom C asimetrik (sering juga disebut atom C kiral) adalah atom C yang mengikat 4 gugus atom berbeda. Reaksi eliminasi merupakan kebalikan dari reaksi adisi. Senyawa yang memiliki atom C asimetrik disebut senyawa optis aktif. REAKSI -REAKSI SENYAWA KARBON 1. Contoh : CH3 – CH2OH F. H2SO4 ALKIL HALIDA (Haloalkana) Contoh : CH2 = CH2 + H2O .

metil bromida (bromometana) etil klorida (kloroetana) 1-kloro-2.CH3Br CH3CH2Cl CH3CH2C(CH3)2CH2Cl CH2Br2 CH2Cl – CH2Cl CCl4 CCl2F2 G.2-dimetilbutana dibromometana 1. Gejala ini disebut resonansi. Ikatan rangkap pada benzena dapat berpindah-pindah (“berputar”). Hal inilah yang menyebabkan benzena tidak dapat mengalami reaksi adisi.2-diklorometana tetraklorometana diklorodifluorometana BENZENA DAN TURUNANNYA CH CH CH CH CH CH benzena Rumus struktur benzena sering ditulis tanpa C dan H : atau Benzena dapat mengalami reaksi substitusi. (1) Benzena mono substitusi . Benzena dan turunannya dikenal sebagai senyawa golongan aromatik karena memiliki aroma yang khas.

O CH3 OH Fenol (hidroksibenzena) Toluena (metilbenzena) C6H5OH C6H5CH3 NH2 C–H Anilin (aminobenzena) C6H5NH2 Benzaldehida C6H5CHO O Cl Br Fenil klorida (Klorobenzena) Fenil bromida (Bromobenzena) C6H5Cl C6H5Br (2) Benzena dwi substitusi → memiliki 2 buah gugus fungsi ada 3 : orto (1.2). dan para (1.3). NO2 Nitrobenzena C6H5NO2 C – OH Asam benzoat C6H5COOH . meta (1.1).

POLIMERISASI CH3 .CH3 m-dimetilbenzena (m-xilena) (3) Senyawa polisiklik Naftalena C10H8 H.

bisa berbeda. Proses pembentukannya disebut polimerisasi.Polimer adalah molekul yang memiliki rantai sangat panjang. MAKROMOLEKUL Makromolekul merupakan molekul raksasa. karet. terbentuk dari monomer-monomer. dan tetoron. kapas. . Harga n dan m bisa sama. sutera. KARBOHIDRAT Rumus umum Cn(H2O)m. nilon. Karbohidrat Protein Makromolekul Lipid Asam nukleat 1. Misalnya : glukosa galaktosa fruktosa Misalnya : sukrosa (glukosa + fruktosa) laktosa (glukosa + galaktosa) maltosa (glukosa + glukosa) Misalnya : selulosa amilum glikogen ASAM AMINO DAN PROTEIN Asam amino merupakan senyawa yang memiliki gugus karboksil (– COOH) dan gugus amina (– NH2). dengan harga Mr yang sangat besar. Polimerisasi Terjadi pada senyawa tak jenuh Tidak ada molekul yang hilang adisi : pembentukan polivinil klorida (PVC) dari monomer vinil klorid Contoh Polimerisasi Terjadi pada senyawa yang memiliki gugus fungsional Ada molekul yang hilang Contoh : pembentukan protein dari monomer asam amino Polimerisasi kondensasi Contoh polimer : plastik. Monosakarida Karbohidrat Disakarida Polisakarida 2. I. wol.

dan oksidator/reduktor.… R R R ikatan peptida Protein dapat mengalami denaturasi. 3. LIPID Lipid merupakan senyawa pada jaringan hewan dan tumbuhan yang larut dalam pelarut organik nonpolar. O CH2 – OH R – C – OH O CH – OH + R – C – OH O CH2 – OH gliserol R – C – OH asam lemak O CH2 – O – C – R O CH – O – C – R O CH2 – O – C – R gliserida + 3 H2O . perubahan pH. Struktur molekul protein : … – NH – CH – CO – NH – CH – CO – NH – CH – CO . melepas molekul air. yaitu perubahan sifat fisis dan aktivitas biologis. sedangkan gugus amina bersifat basa). kecuali glisin. Satu molekul protein bisa terdiri dari 50 sampai 100 unit. O H –C–N– Senyawa yang terbentuk oleh ikatan peptida disebut senyawa peptida. Lipid yang banyak terdapat pada organisme adalah lemak. O O H H – C – OH + H–N– Ikatan –C–N– + H2O disebut ikatan peptida. Bersifat optis aktif. Misalnya penggumpalan albumin (komponen utama putih telur) ketika telur direbus atau digoreng. Gliserida merupakan ester dari gliserol dan asam lemak. Gugus karboksil pada asam amino yang satu berikatan dengan gugus amina pada asam amino yang lain. Faktor yang menyebabkan denaturasi protein adalah panas.R – CH – COOH NH2 Asam amino bersifat amfoter (gugus karboksil bersifat asam. Asam amino dapat saling berikatan. Protein merupakan senyawa polipeptida yang dihasilkan dari polimerisasi asam-asam amino.

Satu fase Jernih Diameter partikel <10-7 cm Tidak dapat disaring Tidak memisah jika didiamkan SISTEM KOLOID Dua fase Tidak jernih 10-7 cm < d < 10-5 cm Tidak dapat disaring Tidak memisah jika didiamkan SUSPENSI Dua fase Tidak jernih d > 10-5 cm Dapat disaring Memisah jika didiamkan . DNA (deoksiribonukleat) Mr : 6 – 16 juta Terdapat dalam inti sel Asam nukleat Mr : 20 ribu – 40 ribu RNA Banyak terdapat di sitoplasma. (ribonukleat) A.Asam lemak terbagi menjadi dua kelompok. Misalnya minyak nabati dihidrogenasi menjadi margarin. 4. 3. asam palmitat. menghasilkan bau tengik. 5. yaitu : a. KOLOID 1. ASAM NUKLEAT Asam nukleat merupakan senyawa polimer penyimpan informasi genetika. dan asam stearat b. 4. Energi kimia per gram lemak lebih banyak daripada karbohidrat dan protein. dan asam linolenat Pada suhu kamar lemak dengan alkil jenuh berwujud padat. Untuk menghindari hal ini dilakukan proses hidrogenasi (adisi dengan hidrogen) sehingga lemak menjadi jenuh. Perbedaan Larutan. misalnya : asam laurat. Fase terdispersi : zat yang tersebar merata 2. hanya sedikit di dalam inti sel. Lemak berfungsi sebagai cadangan energi dalam waktu lama. Koloid dan Suspensi Koloid berarti "seperti lem". asam miristat. Sistem koloid tersusun dari dua komponen : 1. asam lemak jenuh. misalnya asam oleat. Fase pendispersi : zat medium tempat partikel-partikel koloid itu tersebar LARUTAN 1. 2. asam linoleat. Ikatan rangkap menyebabkan lemak tidak jenuh (minyak) cepat teroksidasi. asam lemak tidak jenuh (mengandung ikatan rangkap C=C). sedangkan lemak dengan alkil tidak jenuh berwujud cair (disebut minyak).

 Emulsi Untuk menghasilkan emulsi ditambahkan emulgator. Koloid Liofob : tidak menyukai cairan (phobia : benci).  Koagulasi Koloid Partikel koloid dapat mengalami koagulasi (penggumpalan) dengan penambahan elektrolit yang muatannya berlawanan. Misalnya : pada proses pemurnian gula pasir.  Pemurnian Koloid Pemurnian koloid dari ion-ion menggunakan proses Dialisis. santan Cair Padat Gel Agar-agar. tetapi tidak bisa dilewati partikel koloid (yang ukurannya lebih besar). gelatin. lem cair Padat Padat Sol padat Tanah. Misalnya : kasein adalah emulgator susu Pembuatan Sistem Koloid KONDENSASI Partikel “kecil-kecil” (gas.  Koloid Liofil dan Koloid Liofob Koloid Liofil : menyukai cairan (lyo = air. lem padat Padat Gas Aeosol padat Debu. Pengelompokan Sistem Koloid Fase Terdispersi Fase Pendispersi Sistem Koloid Contoh Cair Gas Aeorosol cair Kabut. Contoh : kanji. mentega. Partikel koloid mengadsorpsi molekul cairan sehingga terbentuk selubung di sekeliling partikel koloid. yaitu selaput yang dapat dilewati ion-ion (karena ukurannya yang kecil). 4. Proses ini menggunakan selaput semipermiabel. Pergerakan partikel koloid di bawah pengaruh medan listrik disebut elektroforesis. sebab partikel-partikel koloid memiliki permukaan yang sangat luas. mutiara. perunggu Gas Cair Busa Buih sabun Gas Padat Busa padat Batu apung. 3.2. karet busa Sifat-sifat Koloid  Efek Tyndall Peristiwa penghamburan cahaya oleh partikel-partikel koloid  Gerak Brown Gerak acak partikel koloid  Adsorpsi Koloid Adsorpsi : peristiwa penyerapan suatu molekul atau ion pada permukaan suatu zat. obat semprot Cair Cair Emulsi Susu. larutan) Partikel KOLOID DISPERSI Partikel “besarbesar” (padatan) . kaca. Partikel koloid tidak mengadsorpsi molekul cairan. Contoh : sol sulfida dan sol logam. asap Padat Cair Sol Tinta. kanji. Sistem koloid mempunyai kemampuan mengadsorpsi.  Muatan Koloid dan Elektroforesis Partikel koloid dapat bermuatan listrik akibat dari penyerapan ion pada permukaan partikel koloid tersebut. philia = senang). dan agar-agar.

Udara   Gas CO2 tergolong gas rumah kaca. . Mekanik Peptisasi Busur Bredig (Elektrodialisis) KIMIA LINGKUNGAN 1.FISIS KONDENSASI KIMIAWI Pendinginan Penggantian pelarut Pengembunan uap Reaksi pengendapan Reaksi hidrolisis Reaksi redoks PEMBUATAN KOLOID DISPERSI B. Efek rumah kaca (green house effect) sebenarnya bermanfaat. Akan tetapi emisi CO2 yang semakin meningkat dari industri dan kendaraan bermotor menyebabkan suhu permukaan bumi naik. Ikatan CO dengan Hb lebih kuat daripada ikatan O2 dengan Hb. dan hidung sesak. CF2Cl2  CF2Cl + Cl Cl + O3  ClO + O2 ClO + O  Cl + O2  2.  Hb + O2 Hb + CO    HbO2 oksihemoglobin HbCO karboksihemoglobin Penyebab hujan asam adalah H2SO4 dan HNO3 (juga oksidanya. Ozon (O 3) bereaksi dengan senyawa tersebut sehingga jumlah ozon berkurang. DO (Dissolved Oxygen = Oksigen terlarut) 3. Smog (smoke and fog) adalah asap kabut yang mengganggu pandangan. yaitu SO2 dan NOx). pH (ukuran keasaman) 2. Reaksi nitrogen di mesin kendaraan Di udara NO teroksidasi Di siang hari NO2 terurai : N2 + O2  2 NO : 2 NO + O2  2 NO2 : NO2  NO + O O2 + O  O3 Penipisan ozon terjadi terutama karena penggunaan CFC (klorofluorokarbon). membuat mata perih. Gas CO bereaksi dengan Hb (hemoglobin) dalam darah. Di perkotaan smog dihasilkan dari polusi kendaraan bermotor. Smog merupakan campuran oksida nitrogen dan ozon. BOD (Biochemical Oxygen Demand = Kebutuhan oksigen untuk proses biokimia) BOD adalah ukuran banyaknya oksigen yang digunakan mikroba untuk menguraikan bahan organik dalam air. Air  Beberapa parameter yang penting untuk menentukan kualitas air : 1.

sedikit berbuih. Ion Na+ pada deterjen sulit disubstitusi oleh Ca2+ atau Mg2+. dan lain-lain) 4. tetap berbuih. 3. yaitu NPK (NH4NO3. Kesadahan sementara (mengandung HCO3-) Kesadahan hilang dengan pemanasan. Pupuk dan Pestisida a. Keburukan deterjen adalah susah diuraikan mikroorganisme. fosforus. NH4H2PO4. Daya pembersih deterjen lebih baik daripada sabun. (NH2)2CO. Ion Ca 2+ atau Mg2+ mensubstitusi ion Na+ atau K+ pada sabun. (zwavel ammonium). kaca. Ca(H2PO4)2  Mg3(PO4)2 Pupuk kalium  KCl  K2SO4 Ada juga pupuk yang merupakan sumber nitrogen. logam. Deterjen tahan terhadap air sadah. Cl-) MgCl2 + Na2CO3 MgCO3(s) + 2 NaCl CaSO4 + Na2CO3 CaCO3(s) + Na2SO4 Daya pembersih sabun terhadap air sadah kurang. PUPUK Pupuk nitrogen  pupuk Z. persentase nitrogennya 47%. Ca2+) Kesadahan hilang dengan penambahan zat kimia Kesadahan tetap Contoh : (mengandung SO42-. serat sintetik. karet. Mg(HCO3)2 MgCO3(s) + CO2 + H2O Ca(HCO3)2 CaCO3(s) + CO2 + H2O Air sadah (mengandung Mg2+ . dan kalium sekaligus. KCl) . tertinggi di antara semua pupuk Pupuk fosforus  Superfosfat. (NH4)2SO4  urea.A.Air berkualitas baik pH = 7 DO tinggi BOD rendah  Air berkualitas jelek pH jauh dari 7 DO rendah BOD tinggi Air Sadah Air sadah adalah air yang mengandung garam magnesium dan kalsium. Tanah Bebarapa faktor pencemaran tanah :  limbah rumah tangga dan industri  limbah pertanian (pestisida)  buangan bahan-bahan yang tidak terbiodegradasi (plastik.

2508530 Bandung Jl.  Zat pemanis Kemanisan sakarin 500 kali gula. misalnya DDT (dikloro difenil trikloroetana). 5. 15 B 9022) 7100768 Bandung . pestisida dapat juga menimbulkan efek negatif. Pahlawan No. Sehari-hari disebut vetsin. Zat Aditif  Zat penyedap Zat penyedap yang banyak digunakan adalah MSG (monosodium glutamat atau natrium glutamat). Karawitan No.b. DDT sukar diuraikan sehingga pemakaiannya dilarang banyak negara. (022) 7307824. Jl. Ada juga pestisida yang menggunakan ester metil karbamat yang mudah diuraikan oleh mikroorganisme. seperti amil valerat (apel) dan etil butirat (nanas). Natrium benzoat digunakan untuk menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri. dan natrium siklamat 50 kali gula. PESTISIDA Beberapa pestisida yang menggunakan organoklorin. 55 Telp . Selain berguna. Brigjen Katamso No. Penggunaan natrium siklamat dilarang karena diduga menyebabkan kanker. BHT (butil hidroksi toluena) dan BHA (butil hidroksi anisol) digunakan untuk memperlambat proses oksidasi.  Zat pengharum Zat pengharum umumnya ester beraroma buah.  Zat pengawet Zat pengawet bertujuan memperlambat proses oksidasi pada makanan dan menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri. (022) 2500934. 71 Telp. 7304633 Bandung Jl.

16 .