You are on page 1of 6

Ahli Tafsir Islam

1. Mujahid bin Jabr al-Makky, Mawla as-Sa’ib bin Abi as-Sa`ib alMakhzumy
Lahir pada 21H, dan mentransfer tafsir al-Qur’an dari Ibn Abbas. Ibn Ishaq
meriwayatkan darinya, bahwa ia pernah berkata, “Aku telah menyodorkan Mushaf
kepada Ibn ‘Abbas sebanyak tiga kali, dari permulaannya hingga penghujungnya. Aku
minta ia berhenti pada setiap ayat dan menanyakan tentangnya kepadanya.”
Sufyan at-Tsaury pernah berkata, “Bila tafsir itu datang kepadamu melalui
Mujahid, maka itu sudah cukup bagimu.”
Asy-Syafi’i dan al-Bukhary sangat mengandalkan tafsirnya. Al-Bukhary
banyak sekali menukil darinya di dalam kitab Shahih-nya.
Adz-Dzahaby berkata di akhir biografi tentangnya, “Umat bersepakat atas
keimaman Mujahid dan berhujjah dengannya.”
Beliau wafat pada tahunn 104 H di Mekkah saat sedang sujud dalam usia 83 tahun.

2. Qatadah bin Di’amah as-Sadusy al-Bashary
Terlahir dalam keadaan buta pada tahun 61 H. Beliau giat menuntut ilmu dan
memiliki hafalan yang kuat. Karena itu, beliau pernah berkisah tentang dirinya, “Aku
tidak pernah mengatakan kepada orang yang bicara kepadaku, ‘Ulangi lagi.!’ Dan
tidaklah kedua telingaku ini mendengar sesuatu apa pun melainkan langsung
ditangkap oleh hatiku (langsung dapat menangkap dan mencernanya dengan baikred.,).”
Imam Ahmad pernah menyinggung tentang dirinya lalu membicarakannya
secara panjang lebar. Ia lalu menyiarkan mengenai keilmuan, kefiqihan dan
pengetahuannya tentang berbagai perbedaan dan tafsir. Ia juga menyebutnya sebagai
seorang yang kuat hafalan dan ahli fiqih. Imam Ahmad berkata, “Amat jarang anda
temukan orang yang dapat mengunggulinya. Tapi kalau dikatakan ‘ada yang seperti
dia’ maka ini bisa saja terjadi.”
Ia juga mengatakan, “Beliau (Qatadah) adalah seorang yang paling hafal dari
kalangan penduduk Bashrah, tidak lah ia mendengarkan sesuatu melainkan langsung
hafal.”
Beliau wafat di suatu tempat bernama Wasith, pada tahun 117 H dalam usia 56
tahun.

menyinggung berbagai permasalahan yang diperselisihkan dan terkait dengan ayat-ayat. Qirâ`ât. demikian juga ulama Khalaf yang mengikuti mereka. Beliau adalah seorang Imam Mujtahid Muthlaq. . "Ia merupakan catatan ringkas yang berisi beberapa poin." Beliau banyak mengetengahkan hadits-hadits Nabawi dan telah berjanji pada dirinya untuk menisbahkannya kepada para pengarangnya dan terkadang mengemukakan hadits-hadits tersebut tanpa sanad (mata rantai/jalur transmisi periwayatan) juga. Beliau juga memaparkan sya'ir-sya'ir Arab Kuno. Beliau menulis kitab Al-Jâmi' Li Ahkâm al-Qur`ân. bantahan terhadap aliran yang menyimpang dan sesat dan hadits-hadits yang banyak sekali sebagai penegas terhadap hukum-hukum dan nuzul Ayat-ayat yang kami sebutkan. tafsir. Beliau menyebutkan hukum-hukum fiqih yang ada di dalam ayat. Beliau memaparkan secara panjang lebar ayat-ayat hukum. I'râb. Kebanyaknya tidak ditanggapi beliau baik dengan menshahihkan ataupun melemahkannya. dia merujuk kepada Bahasa orang-orang Arab dan terkadang menguatkan sebagian pendapat. 4. mengoleksi makna-maknanya dan menjelaskan ungkapan-ungkapan yang rumit dengan mengetengahkan ucapan-ucapan para ulama Salaf. Kitabnya banyak sekali mencakup berbagai untaian yang berisi solusi bahasa dan Nahwu. banyak mengemukakan pendapat-pendapat Ahli Nahwu dan mengarahkan pendapat-pendapat mereka serta menguatkan sebagian pendapat atas pendapat yang lain. berargumentasi dengannnya secara luas. al-Hâfizh (Ath-Thabariy) Menulis kitab Jâmi' al-Bayân Fî Ta`wîl Ayi al-Qur`ân. Abu Ja'far. Imam Abu 'Abdillâh. Para Ahli Tafsir senantiasa merujuk pendapatnya dan mereka merasa berhutang budi padanya. pengarangnya sendiri menyatakan. al-Imâm al-'Allâmah. memilih salah satu darinya dan menguatkannya dengan dalil-dalil ilmiah serta menyebutkan Ijma' umat di dalam pendapat yang telah dikuatkannya dari berbagai pendapat tersebut.3. Mengenai spesifikasi kitabnya. pendapat para ulama dan madzhab-madzhab mereka. baik dalam dimensi dekat ataupun jauh dengan menyertakan penjelasan dalil-dalil pendapat-pendapat tentang hal itu. Beliau komitmen menyebutkan semua riwayat dengan sanad-sanad (jalur-jalur transmisi)-nya. sisi bahasa. Muhammad bin Ahmad bin Farh al-Anshâriy alKhazrajiy al-Andalusiy al-Qurthubiy. Kebanyakannya. Kitabnya meraih ketenaran yang sangat besar. Muhammad bin Jarir bin Yazid ath-Thabariy.

5. al-‘Allamah Beliau menulis kitab Tafysiir al-Kariim ar-Rahmaan Fii Tafsiir Kalaam al-Mannaan. manhaj (metode) dan tujuan kecuali terhadap beberapa hal yang amat langka dan sedikit. seperti pendapat beliau yang membolehkan orang musafir untuk bertayammum sekalipun dia mendapatkan air. Muhammad Rasyîd bin ‘Aly Ridla bin Muhammad Syams ad-Dîn bin Minla ‘Aly Khalîfah al-Qalmûny al-Baghdâdy al-Hasany Nama kitab tafsirnya adalah Tafsir al-Qur`ân al-Hakîm dan lebih dikenal dengan nama Tafsir al-Manâr. sesuai metode Salaf. Beliau tidak mengulas tentang seni-seni bahasa dan Nahwu kecuali sedikit sekali. tidak fanatik terhadap madzhabnya sendiri. Beliau juga lebih memperluas penjelasan hukum-hukum fiqih sosial dan pembicaraan atas kondisi kontemporer umat baik di belahan timur maupun barat. ayat 101. Syaikh Muhammad ‘Abduh. bahwa beliau tidak mengevaluasi apa yang ditulisnya di dalam tafsir kecuali setelah menulis pemahamannya terlebih dahulu terhadap suatu ayat karena khawatir ada pengaruh ucapan-ucapan para mufassir terhadap dirinya. Syaikh Rasyid Ridla banyak menukil dari gurunya. 6. Namun sayang tafsir ini tidak rampung dan hanya sampai pada surat Yûsuf. hadits-hadits shahih dari Rasulullah. disertai penjelasan mengenai ayat-ayat alQur’an yang dirasa rumit. Hal inilah yang menyebabkan beliau berbeda pendapat dengan Jumhur ulama dalam beberapa masalah. yaitu madzhab Malikiy. Tidak terdapat perbedaan antara keduanya di dalam masalah sumber.Beliau seorang yang Munshif (adil/moderat). menggunakan gaya bahasa Arab ditambah dengan nalarnya yang terbebas dari taqlid terhadap para mufassir kecuali terhadap pendapat mereka yang memuaskannya. Manhaj beliau di dalam tafsir adalah menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an (ayat dengan ayat). di mana beliau memberikan bantahan terhadap mereka dengan jawaban yang sedikit keras. menyingkap beberapa makna dengan ungkapan yang mudah dan dapat diterima oleh kalangan awam. tetapi tetap berjalan seiring dengan dalil. Abu ‘Abdillah. Sebagian muridnya bercerita tentangnya. Di dalam . Beliau memberikan kemerdekaan sepenuhnya pada dirinya untuk menggali hukum-hukum syari’at dari al-Qur’an. ‘Abdurrahman bin Nashir bin ‘Abdullah bin Nashir asSa’dy at-Tamimy al-Qashimy. sebuah kitab tafsir berukuran sedang di mana pengarangnya memfokuskan pada penjelasan makna-makna al-Qur’an di dalam menuangkan inspirasinya dan berjalan sesuai dengan manhajnya tanpa sibuk dengan penguraian lafazh-lafazh dan seni-seni Nahwu dan sya’ir. Dia menjelaskan ayat-ayat dengan gaya bahasanya yang indah.

ash-Shan’ani. Beliau menolak takwil-takwil yang dilakukan oleh aliran Jahmiyyah. Di tempat-tempat yang lain dari kitabnya. tanpa banyak berbicara tentang linguistik Arab. kelompok pertama hanya memfokuskan penafsiran mereka pada masalah riwayat saja. karena mentadabburinya merupakan kunci segala kebaikan. Imam Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad bin ‘Abdullah asy-Syawkani. Dia telah menurunkannya dengan lisan ini (arab) agar kita memahaminya dan kita diperintahkan untuk mentadabbur (merenungi)-nya. Demikian inilah yang beliau maksudkan sebagaimana perkataannya pada mukaddimah kitabnya. berbuat baik dan kebajikan. al-Qadhi. Beliau seorang yang beraqidah Salaf. Dalam permulaan tafsirnya. Hal itu semua. beliau menyebutkan bahwa al-Qur’an dapat menunjukkan kepada kampung yang damai (surga).mukaddimah kitabnya. Akan tetapi ada juga ayat yang beliau takwilkan tetapi ini lebih disebabkan faktor lain. Aku tidak mau menyibukkan diri di dalam mengurai lafazh-lafazh dan ikatan-ikatan lainnya berdasarkan alasan yang telah saya sebutkan.” 7. Beliau menjelaskan makna-makna kalimat dengan bahasa yang mudah. serta karena para mufassir sebenarnya telah memberikan kontribusi yang cukup bagi generasi-generasi setelah mereka. tokoh mu’tazilah karena bertentangan dengan ahlussunnah wal jama’ah. bahwa Allah Ta’ala telah menjelaskan ayat-ayat-Nya dengan sesempurna penjelasan. Beliau menulis kitab Fath-hul Qadiir al-Jaami’ Bayna Fannay arRiwaayah Wa ad-Diraayah Min ‘Ilm at-Tafsiir. “Dan yang menjadi tujuanku hanyalah mengupas maknanya. Imam asy-Syawkani juga telah menetapkan sifat istiwa’ berdasarkan madzhab Salaf. menyingkap jalan yang menuju ke kampung berbagai kepedihan (neraka). Dia tidak memerintahkan di dalamnya selain kepada keadilan. . pengarang (asy-Syawkani) menyebutkan bahwa biasanya para mufassir terpecah menjadi dua kelompok. membela aqidah Salaf di dalam kitabnya ini serta menetapkan Asma-Asma dan Sifat-Sifat Ilahi. ia membantah pendapat azZamakhsyari. Mu’tazilah serta Asya’riyyah dan membantah mereka. biasanya tidak merujukkan kepada sumbernya karena beliau hanya berkonsentrasi pada penjelasan makna dengan cara yang paling mudah. yaitu mengikuti al-Qurthubi dan ulama lainnya. Beliau tidak banyak menyinggung hadits-hadits Nabawi akan tetapi menyebutkan maknanya ketika mengetengahkan penafsirannya terhadap ayatayat. Ketika menyinggung hal tersebut.

alHanafi Beliau adalah penganut aliran Muktazilah. saya sangat antusias untuk memaparkan penafsiran yang shahih berasal dari Rasulullah SAW. terpenuhi bagian tahqiq (analisis)-nya serta mengena tujuan mencari kebenaran di dalamnya serta mencakup pula faedah-faedah. di samping saya juga akan melakukan tarjih (menguatkan salah satu pendapat) antara beberapa penafsiran yang saling bertentangan sedapat mungkin dan menurut saya tampak jelas kekuatannya. Ia menulis kitab Al-Kasysyaaf ‘An Haqaa’iq at-Tanziil Wa ‘Uyuun al-Aqaawiil Fii Wujuuh at-Ta’wiil. balaghah dengan sedikit banyak. . Beliau menyinggung madzhab ulama fiqih. momfokuskan pada sisi bahasa Arab dan ilmu alat. Demikian pula. Pantaslah beliau sebagai seorang imam yang mumpuni ilmunya. yang dijuluki Jaarullah. Naylul Awthaar Syarhu Muntaqal Akhyaar. ia mengatakan. serta banyak sekali berargumentasi dengan mengetengahkan sya’ir-sya’ir. Abu ‘Ubaidah. mujtahid dalam fiqih. perbedaan pendapat serta dalil-dalil mereka. Beliau sangat interes sekali terhadap masalah bahasa dan mengambil keputusannya dari ahli-ahli bahasa terkemuka seperti al-Mubarrad. tabi’in. dan kitab-kitab lainnya. Mahmud bin ‘Umar bin Muhammad al-Khawarizmi. baik empat imam madzhab atau pun ulama selain mereka. para shahabat. aqidah menyimpang dan taqlid buta. “Tafsir ini sekali pun ukurannya besar tetapi memuat ilmu yang banyak. seperti kitab yang sangat terkenal lainnya. Beliau menguatkan salah satunya dan mengambil kesimpulan hukum darinya. as-Saylul Jiraar al-Mutadaffiq ‘Ala Hadaa’iqil Azhaar. ad-Durar al-Bahiyyah berikut syarahnya. yaitu mengingatkan akan bid’ah-bid’ah sesat. “Dengan demikian anda mengetahui bahwa harus dilakukan penggabungan antara kedua hal tersebut dan tidak hanya terbatas pada dua cara yang kami sebutkan itu saja. 8. kaidahkaidah. Beliau juga menyinggung sisi-sisi I’rab (penguraian anak kalimat) dari sisi Nahwu (Gramatikal). al-Farra’. Banyak karya-karya tulis yang beliau telorkan. Ibn Faris dan ulama bahasa lainnya. Abu al-Qasim. Inilah tujuan saya menulis kitab ini dan cara yang insya Allah. Beliau ingin menggabungkan antara dua hal tersebut sehingga bisa lebih sempurna lagi. Saya juga akan menjelaskan makna dari sisi bahasa Arab. tabi’ut tabi’i atau ulama-ulama tokoh yang terpandang…” Ia mengatakan. I’rab (penguraian anak kalimat). dan sebagainya yang disarikan dari kitab-kitab tafsir…” Kitab tafsir asy-Syawkani memiliki keunggulan lainnya. ingin saya tempuh.Sedangkan kelompok kedua.

Amat sedikit beliau menyinggung masalah Isra’iliyyat. Beliau memberikan perhatian penuh pada penjelasan kekayaan balaghah dalam hal ‘Ma’aani’ dan ‘Bayaan’ yang terdapat di dalam al-Qur’an.” Namun anehnya. harus berhatihati dengannya. . Tetapi ia membawakan hujjah-hujjah itu untuk mendukung madzhab muktazilahnya yang batil di mana ia memaparkannya dalam ayat-ayat al-Qur’an melalui pintu balaghah. Kitab tafsir karangannya memiliki keunggulan dari sisi keindahan alQur’an dan balaghahnya yang mampu menyihir hati manusia. “Diriwayatkan” atau dengan mengatakan di akhirnya. Tetapi. bila ia melewatkan saja suatu lafazh yang tidak sesuai dengan madzhabnya. ia berupaya dengan segenap kemampuannya untuk membatalkan makna zhahir lafazh itu dengan menetapkan makna lain untuknya dari apa yang ada di dalam bahasa Arab atau mengarahkannya seakan ia adalah ‘Majaz’. Karena itu.Beliau termasuk tokoh aliran Muktazilah yang membela mati-matian madzhabnya. mengingat kemumpunian beliau dalam bahasa Arab dan pengetahuannya yang mendalam mengenai sya’ir-sya’irnya. Ia memperkuatnya dengan kekuatan hujjah yang dimilikinya. khususnya bagi pemula dalam bidang ini. ‘Isti’arah’ atau ‘Tamtsil’. ia malah menyebutkan beberapa hadits Mawdhu’ (palsu) mengenai keutamaan-keutamaan surat-surat di akhir setiap surat. maka ia dahului dengan lafazh. “Wallahu a’lam. Kalau pun ada.