You are on page 1of 14

MAKALAH SISTEM INFORMASI MANAJEMEN APOTEK

STRATEGI PENGEMBANGAN APOTEK SEBAGAI INOVASI


PENINGKATAN PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK

Disusun oleh :

ASRI DEWI FAUZIAH


NIM : 3351141479
KELAS : B

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI.
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
CIMAHI-BANDUNG
2015

BAB I
PENDAHULUAN
I.1. LATAR BELAKANG
Ketersediaan dan kemudahan informasi obat yang akurat, cepat, tepat dan up to date
merupakan kebutuhan bagi penyedia layanan kesehatan. .Teknologi informasi dan
komunikasi sudah menjadi bagian penting dari penyelenggaraan kesehatan di Indonesia.
Beberapa institusi kesehatan seperti rumah sakit, klinik, laboratorium dan bahkan puskesmas
dan dinas kesehatan sudah banyak yang mengadopsi teknologi ini. Tidak hanya untuk
meningkatkan efektifitas pelayanan, aksesibilitas terhadap data kesehatan dan peningkatan
efisiensi, teknologi informasi juga akan sangat membantu untuk monitoring dan evaluasi
program kesehatan, surveilans penyakit dan tentunya penelitian.
Pada dunia perdagangan, keakuratan informasi sangatlah dibutuhkan terutama
informasi mengenai harga jual, harga pokok penjualan, dan sisa persediaan dalam sistem
administrasi penjualan karena keakuratan informasi-informasi tersebut mempengaruhi
hubungan perusahaan terhadap konsumen serta sistem administrasi penjualan pada
perusahaan itu sendiri. Keakuratan informasi bagi konsumen bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan konsumen akan informasi tertentu misalnya, harga produk sedangkan untuk
perusahaan sendiri bertujuan mengetahui apakah sistem administrasi penjualan berjalan
dengan baik. Ketidakakuratan informasi yang dihasilkan dari sistem administrasi penjualan
dapat menimbulkan konsumen kecewa serta menyebabkan perusahaan tidak dapat
mengambil suatu keputusan dengan tepat dan cepat misalnya keputusan menerima pesanan
konsumen. Dalam era globalisasi dan teknologi saat ini, penggunaan komputer merupakan
salah satu alat teknologi informasi yang sangat dibutuhkan keberadaannya di hampir setiap
aspek kehidupan.
Apotek sebagai penyedia layanan kesehatan dan juga sebagai fungsi retailing
(penjualan) membutuhkan sebuah sistem aplikasi guna melakukan pendataan penjualan obat
terhadap pelanggan atau konsumen. Dimana sering terjadi kesalahan-kesalahan oleh kasir
yang bertugas mendata pencatatan penjualan obat dan kesalahan dalam memberikan harga.
Konsumen pun seringkali mengalami ketidakpuasan dalam pelayanan resep di apotek, apakah
karena pemrosesan resep yang lama, kesalahan harga, maupun kurangnya informasi
mengenai obat yang akan dibeli baik dari segi harga, cara pakai, fungsi obat, dan efek
sampingnya.

Apotek sebagai organisasi yang memiliki kecenderungan orientasi pada laba, selalu
membutuhkan sistem yang terkomputerisasi dalam mengumpulkan, menyimpan, dan
memproses data untuk menghasilkan informasi yang dapat membantu apotek itu dalam
melakukan perencanaan strategi dan pengambilan suatu keputusan secara efektif. Pencatatan
yang manual yang masih sangat menyulitkan tenaga manusia untuk mendata aktifitas yang
terjadi didalam sebuah apotek. Oleh sebab itu, maka perlu dilakukan perbaikan dalam
pengelolaan sebuah sistem pengolahan data dan penyusunan laporan.
I.2. RUMUSAN MASALAH
Bagaimana strategi pengembangan sistem informasi manajemen apotek agar pada saat
pasien atau konsumen datang ke apotek dapat terpenuhi kebutuhannya akan informasi
mendetail tentang obat yang akan dibeli, harga obat tersebut, cara pakai, fungsi obat, serta
efek samping dari obat tersebut.
I.3. TUJUAN
Didapat inovasi baru dalam pengembangan sistem informasi di apotek untuk
memberikan informasi yang mendetail kepada konsumen mengenai obat yang akan dibeli,
harga obat, cara pakai, fungsi obat, serta efek samping, sehingga konsumen merasa terpenuhi
keingintahuannaya terhadap obat yang akan dibeli dan merasa yakin akan obat tersebut baik
dalam segi harga, hingga cara penggunaannya dan pemahamannya terhadap obat tersebut.
Dengan pemahamannya terhadap obat didapat efek terapi yang tepat, resistensi terhadap obat
dapat dikendalikan, tingkat kesehatan masyarakat akan meningkat. Selain itu, kepuasan
konsumen akan sangat menentukan naiknya tingkat penjualan, dan berimbas pada
bertambahnya omset apotek.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Sistem
Menurut Jogiyanto (2005) pendekatan sistem yang menekankan pada prosedur
mendefinisikan sebagai : jaringan kerja dan prosedur-prosedur yang saling berhubungan,
berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan sasaran
tertentu.
Adapun

pendekatan

sistem

yang

menekankan

pada

elemen

atau

komponennya

mendefinisikan sistem sebagai : kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi untuk


mencapai suatu tujuan tertentu.
2.2 Definisi Informasi
Menurut Jogiyanto (2005) informasi adalah data yang di olah menjadi bentuk yang
lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerimanya.
Menurut Abdul Kadir (2003) informasi adalah data yang di olah menjadi sebuah bentuk
yang lebih berarti bagi penerimanya dan bermanfaat dalam pengambilan keputusan saat ini
atau saat mendatang.
Pengertian informasi menurut Gordon B. Davis (2002:27), informasi adalah data
yang telah diolah menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi penerimanya dan bermanfaat
dalam pengambilan keputusan saat ini atau mendatang.
Agar informasi yang didapat berguna maka informasi yang dihasilkan harus :
1. Relevan. Informasi tersebut mempunyai manfaat untuk pemakainya serta
informasi yang disajikan sebaiknya terikat dengan keputusan yang akan diambil
oleh pengguna sistem informasi tersebut.
2. Akurat. Informasi harus bebas dari kesalahan. Antara informasi dengan kejadiankejadian atau objek yang diwakilinya harus cocok dengan faktanya.
3. Tepat waktu. Informasi yang datang tidak boleh terlambat, karena informasi yang
tidak tepat waktu akan menjadi informasi yang tidak berguna atau tidak dapat
digunakan dalam pengambilan keputusan.
2.3 Definisi Sistem Informasi
Menyangkut pemahaman tentang pengertian sistem informasi ini, dalam bukunya
Abdul Kadir (2003) mengutip pendapat para ahli, diantaranya :

Menurut Hall sistem informasi adalah sebuah rangkaian prosedur formal dimana data
di kelompokkan, di proses menjadi informasi dan di distribusikan kepada pemakai.
Menurut Bodnar dan Hopwood sistem Informasi adalah kumpulan perangkat keras dan
perangkat lunak yang di rancang untuk mentransformasikan data ke dala bentuk informasi
yang berguna.
Sistem pada umumnya mempunyai beberapa persyaratan umum, yaitu sistem harus
mempunyai elemen, lingkungan, interaksi antar elemen, interaksi antara elemen dengan
lingkungannya, dan yang terpenting adalah sistem harus mempunyai tujuan yang akan
dicapai. Sistem memiliki beberapa komponen yaitu:
a) batas sistem (boundary)
b) lingkungan luar sistem (environment)
c) penghubung sistem (interface)
d) masukan sistem (input)
e) keluaran sistem (output)
f) pengolah sistem (process)
g) sasaran sistem.
Dalam mempelajari sistem kita harus mempelajari informasi, pasalnya suatu sistem yang
kurang mendapatkan suatu informasi akan menjadi ketinggalan zaman/tidak bertahan lama.
Informasi dapat berupa data mentah, data tersusun dan sebagainya, dimana data adalah suatu
kenyataan yang bermanfaat menggambarkan suatu kejadian-kejadian dan kesatuan yang
nyata.Jadi, Sistem informasi adalah suatu sistem di dalam suatu organisasi yang
mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian, mendukung operasi, bersifat
manajerial dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu
dengan laporanlaporan yang diperlukan.
2.4 Informatika Farmasi
Informatika farmasi (Pharmacy informatics) adalah realisasi informatika untuk
farmasi dan kegiatannya agar efektif biaya dalam pemanfaatan sistem informasi dan
perangkat teknologi,. Informatika farmasi bertujuan menyediakan informasi yang cepat dan
handal

tentang

terapi

obat

yang

mampu

membantu

pasien

dalam

proses

penyembuhannya.Kunci Informatika Farmasi adalah memastikan bahwa komunikasi mudah


diakses bagi penyedia layanan kesehatan, apoteker, dan pasien sehingga mereka semua dapat
bekerja sama untuk kepentingan pasien. Dokter, perawat, pekerja rumah sakit, dan
profesional kesehatan lainnya harus mampu untuk mengakses catatan yang relevan dan

informasi pasien dengan mudah, sementara apoteker perlu tahu persis apa obat yang sedang
diresepkan untuk pelanggan dan apakah ada bahaya bahwa resep baru akan menyebabkan
interaksi

dengan

obat

lain

yang

buruk.

Pasien,

tentu

saja,

harus

dapat

menerima dengan mudah mengikuti petunjuk tentang bagaimana mereka harus menangani
pemulihan mereka dan apa efek samping obat-obatan yang mereka mungkin alami.
2.5 Manfaat Informatika Farmasi
Teknologi ini akan membantu dalam mendukung, merampingkan, meningkatkan alur
kerja, dan meningkatkan keselamatan pasien. Dengan menggunakan kemajuan teknologi
informasi dan perangkat keras komputer dan perangkat lunak, informatika farmasi mampu
memberikan metode pembiayaan yang efektif untuk apotek dan rumah sakit untuk
berkomunikasi dengan mudah dan menciptakan kerangka kerja yang maju dimana merekan
dapat lebih memenuhi kebutuhan masyarakat pada umumnya.
Pelaksanaan informatika farmasi dapat membantu praktisi farmasi dalam beberapa cara.
Baik desain sistem dan manajemen database dapat merampingkan proses sehingga personil
yang digunakan lebih efisien dan informasi yang tersedia secara tepat waktu. Contoh proses
tersebut meliputi:
1.

Entry order dan verifikasi

2.

Catatan administrasi obat yang jelas, berguna, dan akurat

3.

Laporan evaluasi penggunaan obat

4.

Menempatkan pesanan pembelian

5.

Pelacakan inventaris

6.

Mengakses informasi klinis seperti laporan laboratorium dan rincian interaksi obat

Selain itu masih ada sejumlah manfaat menggunakan informatika farmasi, yaitu:
1.

Meningkatkan komunikasi antara apoteker, dokter dan tenaga kesehatanlainnya, dan


pasien.

2.

Mampu meningkatkan kecepatan diagnosis dan memeriksa interaksi obat mungkin


atau alergi sebelum resep diisi,

3.

Informatika farmasi memungkinkan pasien untuk memiliki pemahaman yang lebih


baik dari obat-obatan yang mereka diberikan dan memungkinkan mereka menjadi aset
penting dalam pengobatan penyakit mereka sendiri.

4.

Apoteker juga mungkin dapat membantu dokter dan orang lain dalam menemukan
resep yang tepat untuk kondisi tertentu, yang dapat mengurangi kebutuhan untuk

beberapa kunjungan ke kantor dokter untuk menerima diagnosa yang tepat dan
pengobatan. Hal ini, dikombinasikan dengan biaya rendah obat generik, dapat sangat
mengurangi biaya bagi pasien.
2.6 Definisi Apotek
Dalam peraturan pemerintah nomor 25 tahun 1980 yang di maksud apotek adalah
suatu tempat tertentu, tempat dimana pekerjaan kefarmasiaan dan penyaluran obat kepada
masyarakat (Harianto, Nana Khasanah dan Sudibyo Supardi : 2005).
Adapun tugas dan fungsi apotek adalah sebagai tempat pengabdian pofesi seorang apotek
yang yang telah mengucapkan sumpah jabatan, sarana farmasi yang melaksanakan
peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran dan penyerahan obat atau bahan obat, dan
sarana penyalur perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat yang yang di perlukan
masyarakat secara meluas atau merata.
2.7 Sistem Informasi Farmasi
Sistem informasi farmasi adalah sebuah sistem yang diorganisir untuk pengumpulan,
pengolahan, pelaporan, dan penggunaan informasi untuk pengambilan keputusan. Informasi
diperoleh dari pengumpulan dokumen atau catatan farmasi. Formulir pelaporan dan laporan
umpan balik atau laporan analisisa Sistem informasi farmasi dapat merupakan alat yang
berguna untuk pengawasan, menyediakan data untuk memonitoring. Sistem informasi
manajemen farmasi yang baik, efektif digunakan untuk pengolahan data, yang meliputi:
a.

Pengolahan data dengan meringkas data.

b.

Penyajian informasi dalam bentuk grafis, yang memudahkan pemahaman.

c.

Pemahaman informasi untuk mengidentifikasi kecenderungan dan masalah-masalah

potensial.
d.

Langkah dalam merespon hasil baik positif maupun negatif.

Kelebihan kelebihan yang diperoleh apotek dengan menggunakan SIM ini adalah :
Apotek dengan SIM
Apotek tanpa SIM
membutuhkan waktu yang lebih singkat Membutuhkan waktu lebih

lama

dalam melayani transaksi pembayaran, dalam melayani transaksi pembayaran,


karena SIM atau mesin kasir dapat karena harus dihitung secara manual
menghitung secara automatis
atau dengan kalkulator.
Pemantauan inventori / stok obat yang ada Memerlukan waktu untuk memantau
dapat dilakukan secara cepat

inventori stok obat yang ada (stock

opname).
Pengambilan keputusan yang lebih tepat Memerlukan waktu dalam pembuatan
sasaran, misalnya pemilihan produk / obat laporan laporan, karena karyawan
obat mana saja yang lebih diperbanyak harus membuka kembali data-data
karena

dengan

menggunakan

laporan yang ada, sehingga pekerjaan menjadi

statistik, bisa diketahui produk / obat obat kurang efektif.


mana

saja

yang

paling

masyarakat (paling laris).

diminati Kemungkinan adanya data data yang


hilang karena tidak / lupa tercatat.

Laporan Standar SIM Apotek terdiri dari 25 macam laporan yaitu


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Penjualan (informasi produk produk yang dijual di group per hari),


Penjualan / Kategori
Pembelian,
Kredit Jatuh Tempo (untuk pembelian produk secara kredit),
Keuntungan,
Hutang,
Piutang,
Stok Reorder (untuk informasi produk produk yang harus di order ulang),
Stok Opname (informasi produk produk yang dikurangi atau ditambahi secara manual

saat stok opname),


10. Produk Expired,
11. Data Instansi,
12. Data Dokter,
13. Komisi Per Dokter,
14. Komisi Per Obat (untuk komisi akan ada data bila di data produk diisikan persentase
komisi yang harus diberikan kepada dokter yang memberikan resep produk tersebut),
15. Pasien Per Dokter,
16. Data Pelanggan,
17. Data Supplier
18. Data Produk
19. Data Racikan
20. Data Obat Sejenis
21. Retur Penjualan
22. Retur Pembelian
23. Data Nilai Produk
24. Penjualan Resep Tunai Dengan Data Nomor Resep
25. Penjualan Resep Kredit (karyawan)Dengan Data Nomor Resep
Tools/ Fitur yang diterapkan dalam SIM apotek
Merupakan fitur-fitur dari aplikasi untuk melihat aktivitas yang dikerjakan pada aplikasi
atau untuk memaintenance aplikasi diantaranya adalah :

1. Sekuriti, untuk memberi hak akses kepada pengguna, apakah dia hanya bisa menangani
transaksi penjualan saja, pembelian saja, apakah bisa membuat laporan dll),
2. Options, yaitu menu untuk setting applikasi, misal nomer invoice berikutnya, alat
apotik, persentase PPn dll,
3. Aktivitas Pengguna, yaitu History login (pencatatan tanggal dan jam pemakaian
applikasi oleh setiap pengguna),
4. Histori Pembelian, baik secara transaksi (untuk melihat item item apa saja yang dibeli)
maupun per-item (kapan saja item tersebut dibeli),
5. Histori Penjualan baik secara transaksi maupun per-item,
6. Histori Arus Barang, yaitu informasi mendetail mengenai keluar masuk item barang
7. Histori Penghapusan Transaksi
8. Histori Pemesanan, untuk melihat informasi pembuatan surat pemesanan ke supplier.
9. Histori Perubahan Harga
10. Stok Opname, yaitu penyesuaian jumlah produk yang dicatat dalam sistem dengan
jumlah sebenarnya, baik penambahan maupun pengurangan),
11. Stok Reorder, yaitu informasi mengenai produk produk mana saja yang harus di order
ulang.
12. Posisi Stok , yaitu semacam kartu stok yang akan menginfokan jumlah saat terjadi
perubahan item baik pembelian, penjualan retur maupun stok opname.
13. Layar Peringatan/Alert, yaitu informasi mengenai item yang akan kadaluarsa dan harus
di tambah karena memiliki jumlah dibawah batas stok minimal
Beberapa Aplikasi yang diterapkan pada SIM apotek
1.

Backoffice
Backoffice adalah salah satu bagian dari software Apotek yang berfungsi untuk
melakukan tugas-tugas backoffice seperti : maintenance master data, pembelian,
penjualan, kas/bank menajemen, laporan dan lain-lain.
Secara garis besar backoffice terdiri dari :
Master
Obat / Non-Obat
Pasien
Dokter

Supplier/PBF

Pabrik

Kelas Terapi

Bahan Aktif

Satuan

Pembelian

PO

Faktur Pembelian

Return Pembelian

Debit/Kredit Pembelian

Konsinyasi

Penjualan

Faktur Penjualan

Faktur Penjualan HNAP

Resep

Resep Sederhana

Return Penjualan

Debit/Kredit Penjualan

Kas/Bank Manajemen

Kas/Bank Masuk

Kas/Bank Keluar

Sistem

Settings

Security BO

Security Kasir

Security Laporan

Pesan Otomatis (Exp. Date, Min Stock, Jatuh Tempo Hutang/Piutang)

2. Outlet

Outlet merupakan Aplikasi yang otoritas penggunanya hanya oleh Assiten Apoteker
yang masing - masing telah di beri password untuk log-in, aplikasi ini digunakan untuk
menunjang semua proses penginputan resep.
3. Elektronik resep ( E-Resep)
Merupakan sistem peresepan secara elektronik yang terhubung langsung oleh internet
jaringan lokal ke apotek yang bekerjasama dengan dokter yang bersangkutan, aplikasi ini
juga telah digunakan beberapa apotek yang menerapkan SIM
4. Monitor waktu tunggu
Merupakan penerapan sistem informasi kepada pasien dalam hal estimasi waktu
pengerjaan resep, sehingga memudahkan pasien memantau lama waktu dalam mengantri
resep.
5. Website
Merupakan sarana untuk mempublikasikan profil apotek, menginformasikan
penggunaan obat, dan merupakan daya saing dalam membuka pasar.

BAB III
PEMBAHASAN
Sistem manajemen informasi apotek seperti contohnya SIMA 08 telah cukup baik dan
lengkap dalam menghandle manajemen sebuah apotek, karena fitur-fiturnya cukup lengkap
untuk kita pergunakan sebagai input penjualan, managemen persediaan barang, manajemen
kadaluwarsa barang, manajemen produk fast moving dan produk slow moving, laporan omset
harian, laporan omset bulanan dan tahunan, laporan laba rugi harian, bulanan, dan tahunan,
dan kegiatan akuntansi keuangan lainnya.

Dari segi konsumen, seringkali konsumen kekurangan informasi mengenai produk


obat yang akan dibelinya, baik dari segi harga, fungsi obat tersebut, cara pemakaian obat
tersebut, dan efek samping obat tersebut.
Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu multi media interaktif yang bisa
mengakomodasi hal tersebut. Contohnya seperti di perusahaan retail J.co coffe & donuts,
ketika kita memesan produk mereka di kasir, di hadapan kita tersedia layar monitor LCD
menghadap ke konsumen yang menyediakan informasi akan produk yang kita beli, harga, dan
jumlah yang harus kita bayar. Sistem informasi seperti itulah yang akan dikembangkan juga
di apotek, namun fiturnya lebih dilengkapi dengan munculnya gambar produk, harga produk,
fungsi obat dengan bahasa singkat, jelas, padat, tetapi dimengerti, cara pemakaian obat, dan
juga efek samping dan kontra indikasi obat tersebut, tentunya penjelasan lebih detail bisa
disampaikan oleh apoteker pengelola apotek tersebut.
Multimedia tersebut menunjang kemudahan masuknya informasi pada konsumen
karena penjelasan lewat layar monitor LCD disertai dengan informasi dari apoteker semakin
memperjelas pemahaman akan obat tersebut, sehingga konsumen semakin paham terhadap
obat yang akan digunakan, terapi yang dimaksud akan berhasil, dan pada akhirnya akan
meningkatkan tingkat kesehatan masyarakat.
Dari segi kepuasan konsumen, tentunya konsumen yang membeli obat di apotek kita
akan mendapat nilai lebih dibandingkan jika ia membeli di apotek lain. Tentunya disertai juga
dengan keramahan pelayanan dan kecepatan serta ketepatan pelayanan. Jika konsumen
merasa puas, tentunya ia akan kembali lagi ke apotek kita dan menjadi pelanggan tetap kita.
Disamping itu, kepuasan dari konsumen kita akan pelayanan di apotek kita akan
tersebar dan direkomendasikan oleh konsumen kita yang puas terhadap pelayanan kita, yang
pada akhirnya akan meningkatkan penjualan produk, yang mengakibatkan omset apotek kita
naik.
BAB IV
KESIMPULAN
Dalam meningkatkan pelayanan informasi obat kepada pasien maka perlu
pengembangan dalam sistem informasi kepada konsumen berupa layanan multimedia
monitor LCD yang menampilkan gambar produk obat yang akan dibeli, harga obat, fungsi
obat, cara pakai, efek samping dengan. Monitor LCD ditempatkan didepan meja kasir,
petugas mencari data obat yang dimaksud dari mejanya, informasi muncul tepat di depan
pandangan konsumen. Dengan adanya inovasi pelayanan seperti ini diharapkan konsumen

mendapatkan informasi yang baik mengenai obat yang akan dibeli, paham akan obat yang
akan digunakan, sehingga efek terapi akan tercapai dengan baik, resistensi obat bisa
dikurangi, efek samping dari obat bisa diketahui sebelumnya, yang pada akhirnya akan
meningkatkan tingkat kesehatan masyarakat pada umumnya, dan dengan puasnya konsumen,
apotek kita akan bertambah penjualannya, omsetnya pun akan bertambah.

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Kadir. 2003. Pengenalan Sistem Informasi. Yogyakarta: ANDI Yogyakarta
Al-bahra Bin Ladjamudin.2005. Analisis dan Desain Sistem Informasi.Yogyakarta: Graha
Ilmu.
Al Fatta, Hanif. 2007. Analisis dan Perancangan Sistem Informasi Untuk Keunggulan
Bersaing Perusahaan dan Organisasi Modern. Yogyakarta : ANDI
Andrian, R dan A. Pratama. 2010. Perancangan Dan Pembuatan Sistem Informasi Pada
Apotek Diana Farma Kabupaten Klaten. Skripsi

Budhi Irawan.2005.Jaringan Komputer. Yogyakarta: Graha Ilmu.


Gordon B. Davis. 2002. Management Information System: Conceptual Foundations,
Structure and Development. Tokyo : McGraw-Hill Kogasukha, Ltd.
Harianto, Nana Khasanah dan Sudibyo. 2005. Kepuasan Pasien Terhadap Pelayanan
Resep Di Apotek Rumah Sakit Budhi Asih
Jogiyanto, HM. 2005. Analisa dan Desain Sistem Informasi. Yogyakarta: ANDI
Yogyakarta.
Raymond McLeod, George Schell. 2004. Sistem Informasi manajemen. Jakarta:Indeks