You are on page 1of 9

PRAKTIKUM SIMA

PROFESI APOTEKER
TUGAS INDIVIDU
SISTEM INFORMASI MANAGEMENT APOTEK
BISNIS RITEL FARMASI (HEALTCARE MARKET CENTER) UNTUK
MENINGKATKAN PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK

NAMA

: HARFIANI

NIM

: 3351141460

KELAS

:B

PROGRAM STUDI APOTEKER ANGKATAN XIX


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JENDERAL AHHMAD YANI
2015

BAB I
PENDAHULUAN
Ketika kita bebicara tentang ritail, maka sudah dipastikan bahwasannya
semua pakar bisnis sepakat bahwa ritail adalah bisnis masa depan. Dengan
perkiraan jumlah penduduk yang semakin meningkat dan tingkat kompleksitas
penyakit dan persoalan kesehatan juga semakin tinggi, sehingga kebutuhan akan
produk kesehatan adalah hal murlak untuk terus berkembang. Di Indonesia
khususnya, bisnis ritail farmasi sudah cukup berkembang, namun persoalan yang
kita lihat adalah kurangnya inovasi dan kreatifitas dalam pengembangan sistem,
sehingga seolah olah retail adalah menoton dan tampak stagnan. Umumnya lebih
banyak bermain dalam hal harga. Soal kualitas layanan itu sangat buruk, memang
inovasi dalam bisnis obt itu tudak segampang inovasi bisnis makanan, karena
masalah obat dan kesehatan itu sangat erat sekali kaitannya dengan moral dan
etika.
Persoalan lambatnya perkembangan bisnis retail, salah satunya adalah
kurangnya tingkat ketersediaan kebutuhan pelengkap dan sistem pelayanan yang
buruk. Ketersediaan kebutuhan pelengkap ini adalah seperti ketika eseorang pergi
berobat ke dkter,lalu pergi lagi ke apotek yang jaraknya jauh, kemudian pergi lagi
ke tempat penjualan produk nutrisi dan alkes di tempat lain semuanya serba
terpisah dan ruwet. Tidak ada koordinasi, sehingga pelayanan kesehatan tidak
menyeluruh untuk menangani persoalan kesehatan seorang pasien. Pernakah kita
berpikir membeli obat serasa berbelanja di moll, atau masuk ke apotek seperti

masuk ke took pizza, dengan layanan pertama didepan pintu, lalu mengarahkan
pengunjung, dan membuat perkiaan waktu untuk urusan pasien tsb. Atau banyak
contoh lain yang serba mungkin diterapkan dalam bisnis retail farmasi
convensional.
Saat ini harga obat mulai mahal, orang akan beralih kepada level 2 dimana
pengobatan alternative yang bersifat modern akan mulai dilirik. Kalau kita
perhatikan dan mencoba meraba tend masa depan, sepertinya orang kalangan
tertentu akan lebih suka merawat diri dengan berbagai perawatan kesehatan
seperti salon kecantikan dan spa, seperti di Negara maju pengobatan alternative
modern sudah mulai banyak diminati, selain aman juga efektif dari segi finansial.
Dari berbagai cerita diatas, sepertinya kita bisa membuat terobosan,
barangkali terobosan ini sudah ada juga yang melakukan, terutama diluar negri
dibeberapa Negara maju, yaitu sistem pelayanan kesehatan terpadu dengan
mengintegrasikan ritail/apotek, rumah sakit/klinik, market nutrition/supermarket,
layanan perawatan kecantikan/spa, dan beberapa model terapi alternative modern
seperti akupuntur, aromaterapi, holistikterapi, dll. Semuanya dalam one place
dan one stop service terintegrasi dalam satu layanan prima seluruh tenaga
kesehatan. Termasuk didalamnya peran idealnya farmasi dalam konseling dan
pharmacy service healthcare.

BAB II
ISI
A. Apotek
Disini kita akan bermain dalam ketersediaan obat da pelayanan . jarang
sekali ada apotek yang membaurkan antara obat modern dengan obat
tradisional (seperti jamu, herbal terstandar, fitofarmaka), serta obat herbal
kategori lain seperti habbatusauda, dan beberapa supplement pelengkap.
Padahal kalau kita perhatikan betul, obat herbal disamping regulasinya yang
mudah dan murah, serta bisa dijual bebas, dan dikomsumsi contunuitas dan
harga terjangkau, serta image dan minset masyarakat yang berkembang
sekarang bahwasannya obat herbal lebih aman untuk dikomsumsi. Disamping
itu penyediaan alat kesehatan yang lengkap juga menambah skor tersendiri
bagi apotek tersebut. Kemudian persoalan pelayanan, ketika saya pergi di
apotek, lalu menanyakan obat ini dan itu, apakah ada atau tidak, lalu
jawabannya pun sangat singkat, ya!ada mas!, mau beli berapa? 1 aja!, 5 ribu!,
oke selesai percakapan!! Dalam hal ini saja kita bisa merasakan kerugian
sebuah apotek dalam transaksi, sebagai contoh kita bisa menawarkan berbgai
pilihan obat apakah itu generic atau paten. Bisa jadi pasien adalah tipe orang
yang suka dengan obat mahal?, nah disini kita jelas sudah membuang
kesempatan. Kemudian dari percakapan singkat tadi, saya tidak punya feel,
dan rasanya memang tidak menarik bagi saya untuk kembali lagi membeli
obat kesana. Krena tidak ada sesuatu yang membekas yang berkesan yang
diberikan oleh pelayanan potek tsb. Hal ini juga termasuk kategori kerugian,
karena tidak mampu mengambil hati pasienuntuk memugkinkan kembali lagi

membeli obat ke apotek tsb. Lebih tepatnya kita kehilangan pelanggan. Solusi
dari permasalahan pelayanan tadi adalah tentunya dengan menerapkan
integrated pharmacy service di apotek, yaitu layanan pertama didepan pintu
dengan mengarahkan pasien, apakah pasien layanan resep, atau pasien belo
obat OTC/herbal/alkes, atau pasien complain & counselling, serta meja
resepsionis untuk pasien layanan administrative, untuk konseling terbagi atas
2, konseling layanan OC langsung depan counter, dan konseling layanan
pasien penyakit rumit(komplikasi) di ruang khusus konseling, kalau seperti ini
saya rasa apotek akan terasa seperti bank, took pizza, J-CO, atau apalah, yang
bisa membuat orang sangat nyaman bertransaksi didalamnya.
B. Klinik/mini hospital
Dalam hal ini sistem terapi ideal dapat juga diterapkan yaitu peranan
farmasis bersama dokter dalam pelaksanaan terapi pasien, sebagai seorang
farmasis tentu saja kita menginginkan kondisi yang ideal, sebagaimana yang
diajarkan oleh dosen kita diperguruan tinggi. Bahwasannya dokter dan
apoteker mengambil keputusan bersama dalam masalah terapi obat. Disini kita
punya powerposition, karena kitalah yang menetapkan aturan dan standard
terapi kliniktsb. Berbeda jika anda adalah ONS rumah sakit pemerintah yang
sudah lama berdiri, percayalah, jangan terlalu banyak berharap mendapat
pekerjaan kefarmasian yang ideal disana.
C. Minimarket/nutrition complementer
Minimarket yang dimaksud disini adalah penyediaan produk tmbahan baik
dalam standard terapi, seperti nutrisi penunjang bagi penderita penyakit
tertentu, maupun produk yang bersifat umum seperti halnya minimarket biasa.

Usaha minimarket berbasis retail ini bisa berkembang adalah karena soal
variasi jenis barang dan bahan makanan pokok yang dijual memang mutlak
terus dibutuhkan oleh masyarakat setiap harinya. Lewat gaya pnataan yang
modern dan pengelolaan ang lebih afisien, tertentu memudahkan dan menarik
perhatian pembeli berbelanja di minimarket.
D. Layanan Perawatan Kecantikan/SPA
Nampaknya bisnis Spa mulai memiliki tempat tersendiri di tengah
masyarakat, kehadirannya mungkin telah menggeser trend bisnis salon, karena
Spa menawarkan perawatan luar saja. Bisnis Spa skarang sudah menyasar
segmen pasar kelas menengah ke atas, tidak mengherankan modal yang
diperlukan untuk bisnis Spa lumayan besar. Namun keuntungan dari bisnis ini
sebanding dengan modal yang dikeluarkan, saat ini minat masyarakat yang
peduli pada perawatan tubuh semakin besar, hal ini membuat Spa menjadi
potensi bisnis yang prospek dan menjanjikan untuk digeluti.
E. Layanan Terapi Alternatif
Saat ini pengguaan pengobatan alternative semakin popular. Di amerika,
pasien yang menggunakan pengobatan alternative lebih banyak dibandingkan
dengan yang datang ke dokter umum sedangkan di eropa penggunaannya
bervariasi dari 23% di Denmark dan 49% di prancis (1). Di Taiwan 90%
pasien mendapat terapi konvensional dikombinasikan dengan pengobatan
tradisional di cina dan di Australia sekitar 48,5% masyarakatnya
menggunakan terapi alternatif (2). Dari data diketahui pula bahwa
penggunaan terapi alternative pada penyakit kanker bervariasi antara 9%
sampai dengan 45% dan penggunan terapi alternative pada pasien penyakit
saraf bervariasi antara 9% sampai dengan 56% (3). Penelitian di cina

menunjukkan bahwa 64% penderita kanker stadium lanjut menggunakan


terapi alternative (4). Penelitian Kessler et all menunjukkan bahwa 9 dari 10
pasien yang menderita ansietas dan 6 dari 10 penderita depresi berkunjung ke
psikiater dan pengobatan alternative (5). Dokter berkecimpun pada
pengobatan alternative pun meningkat. Di inggris ada sekitar 40% dokter
mengadakan pelayanan alternative (6).
Setelah kita lihat prospek terapi alternative ternyata memang akan berkembang
dimasa yang akan datang. Dan dari data diatas terlihat kecenderungan yang besar
pemanfaatan pengobatan alternative. Persoalan kedokteran konvesional sangat
bergantung dari tehnologi yang mahal dalam memecahkan masalah kesehatan,
meskipun kadang tida pula efektif, kembali kita liat bahwasannya pendekatan
holistic dan metode sederhana seperti diet dan relaksasi yang dilakukan pada
terapi alternative sering bahkan lebih efektif. Banyak pendapat yang mengatakan
bahwa pendekatan holistic dan konsultasi dengan pengobatan alternative membuat
pasien lebih dapat mengontrol penyakitnya.

BAB III
PENUTUP
Adapun kesimpulannya adalah tidak ada kata terlambat untuk memulai
ataupun mempertimbangkan perlu tidaknya masuk kedalam dunia retail apotek.
Memang perlu kesabaran,tapi layaknya semua indstri, jika kita jeli melihat
peluang maka apotek bisa bertumbuh dengan pesat contohnya melakukan
kerjasama dengan institusi/perusahaan/pabrik lain untuk pengadaan obat,
berpartisipasi dalam komunitas social, jeli melihat pasar klinik yang tidak

memiliki apotek, dengan menjadi mitra maka pasien klinik tersebut bisa diarahkan
untuk mendapatkan obat dari apotek.

PUSTAKA

Ernest E, Resch L,K White RA. Complementary medicine , What physicians think
of it, meta-analycis, arch intern med 1995;155;3405
Huang Ty, Hong Yc, Alternative medicine formulary evaluation in asia medical
progress 1998, june
Verhoef JM, Hagen n,Palletern G, et all. Alternative theraphy use in neurologic
diseas,use in brain tumor patiens. Neurologic 19999;52;617
Liu JM, Chu HC, Chin YH, et all, cross sectional study of use of alternative
medicine in chines cancer patiens.jpn j clin oncol 1997;27;37

Kessler CR, Soukup j davis br, et all, The use of complementary and alternative
therapies to treat anxiety anddepresion in united stated, Am J psychiatry
2001;158;289