You are on page 1of 5

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu penyakit yang diderita oleh masyarakat terutama adalah
penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut). ISPA adalah suatu penyakit
yang terbanyak di derita oleh anak-anak baik di negara berkembang maupun
di negara maju dan sudah mampu dan banyak dari mereka yang masuk Rumah
Sakit. Penyakit - penyakit saluran pernafasan pada masa bayi dan anak-anak
dapat pula memberi kecacatan sampai pada masa dewasa. Di mana ditemukan
adanya hubungan dengan terjadinya Chronic Obstnictive Puhuonary Disease.
(Depkes RI. 2000).
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) meliputi Infeksi Saluran
Pernafasan bagian atas Akut (ISPaA) dan Infeksi Saluran Pernafasan bawah
Akut (ISPbA). Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan bagian atas Akut (ISPaA)
tidak mengakibatkan kematian pada anak dalam jumlah besar, tetapi dapat
menyebabkan timbulnya kecacatan pada anak, misalnya otitis media yang
berakibat pada ketulian. Sementara untuk kasus kematian akibat penyakit
ISPA pada anak kecil, cenderung lebih banyak disebabkan karena Infeksi
Saluran Pernafasan bawah Akut (ISPbA), yang paling sering adalah
pneumonia (WHO, 2003:1).
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) menyebabkan 4 dari 15 juta
kematian pada anak berusia di bawah 5 tahun pada setiap tahunnya, (WHO,
2003:1). Sementara di Indonesia, berdasarkan hasil survey mortalita subdit

ISPA tahun 2005 menunjukkan bahwa ISPA merupakan penyebab dari


kematian bayi dengan jumlah persentase sebanyak 22,3% dari sekian kasus
penyebab kematian pada balita (Depkes RI, 2007).
Sebagai kelompok penyakit, ISPA juga merupakan salah satu
penyebab utama kunjungan pasien di sarana kesehatan. Sebanyak 40%-60%
kunjungan berobat di Puskesmas dan 15%-30% kunjungan berobat di bagian
rawat jalan dan rawat inap rumah sakit disebabkan oleh ISPA (Dirjen P2MPLP
RI, 1996:7).
Dari pola 10 penyakit terbanyak di beberapa rumah sakit umum di
Indonesia maupun data survey (SDKI, Surkesnas) juga menunjukkan
tingginya kasus ISPA. Prevalensi ISPA dalam beberapa tahun menurut hasil
SDKI yaitu pada tahun 1991 terjadi prevalensi 9,8% dengan kelompok umur
12 23 bulan, tahun 1994 terjadi prevalensi 10% dengan kelompok umur 6
35 bulan, tahun 1997 terjadi prevalensi 9% dengan kelompok umur 6 11
bulan, tahun 2002-2003 terjadi prevalensi 8% dengan kelompok umur 6 23
bulan, dan pada tahun 2007 terjadi prevalensi 11% dengan kelompok umur 12
23 bulan (Depkes RI, 2007).
Kejadian ISPA di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara masih terhitung
tinggi. Hal ini telihat bahwa kasus ISPA berdasarkan data dari Dinas
Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2015, ditemukan
sebanyak ................. kasus.
Sedangkan menurut data yang dikumpulkan melalui Dinas Kesehatan
Kabupaten Kolaka Timur pada januari nopember tahun 2015, tercatat bahwa

jumlah

kasus

Infeksi

Saluran

Pernafasan

Akut

(ISPA)

yaitu

sebanyak .................... penderita (Dinkes Kab.Kolaka Timur, 2015).


Berdasarkan data yang dikumpulkan dari rekam medis di Puskesmas
Loea pada tahun 2013, terdapat ........ kasus penyakit ISPA. Pada tahun 2014,
terdapat ........ kasus penyakit ISPA, dan pada tahun 2015, terdapat ...............
kasus penyakit ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Loea, Kabupaten
Kolaka Timur Tahun 2015.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Sub Dinas Pemberantasan


Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (P2MPLP) Dinas Kesehatan
Kabupaten Kolaka Timur, diperoleh informasi bahwa pada tahun 2014
penderita ISPA terbanyak adalah golongan umur 1-5 tahun yaitu ........... balita.
Pada urutan kedua adalah golongan umur 2 bulan-12 bulan yaitu ......... balita
dan urutan ketiga adalah golongan umur kurang dari 2 bulan yaitu ....... balita.
Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian penyakit ISPA
adalah faktor ekstrinsik dan intrinsik. Faktor ekstrinsik terdiri dari ventilasi,
kepadatan hunian, jenis lantai, luas jendela, letak dapur, penggunanaan jenis
bahan bakar dan kepemilikan lubang asap. Sedangkan faktor intrinsik terdiri
dari umur, jenis kelamin, status gizi, status imunisasi, pemberian vitamin A
pada saat nifas / balita dan pemberian ASI (Dinkes Provinsi Jawa Tengah,
2001:2).

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan


penelitian tentang Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian ISPA
pada Balita di Puskesmas Loea Kabupaten Kolaka Timur Tahun 2015.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari hasil uraian latar belakang diatas, maka penelitian ini
difokuskan pada Faktor apa saja yang berhubungan dengan kejadian ISPA
pada Balita di wilayah kerja Puskesmas Loea Kabupaten Kolaka Timur Tahun
2015.

C. Tujuan Penelitian
1.
Tujuan Umum
Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit
ISPA pada balita di Puskesmas Loea Kabupaten Kolaka Timur tahun 2015.
2.

Tujuan Khusus
a. Mengetahui hubungan antara status gizi dengan kejadian ISPA pada
balita.
b. Mengetahui hubungan antara pemberian ASI Eksklusif dengan
kejadian ISPA pada balita.
c. Mengetahui hubungan antara kelengkapan imunisasi dengan kejadian
ISPA pada balita.
d. Mengetahui hubungan antara kepadatan hunian dengan kejadian ISPA
pada balita.
e. Mengetahui hubungan antara ventilasi rumah dengan kejadian ISPA
pada balita.
f. Mengetahui hubungan antara jenis lantai dengan kejadian ISPA pada
balita.

g. Mengetahui hubungan antara kepemilikan lubang asap dengan


kejadian ISPA pada balita.
h. Mengetahui hubungan antara jenis bahan bakar masak dengan kejadian
ISPA pada balita.
i. Mengetahui hubungan antara keberadaan anggota keluarga yang
merokok dengan kejadian ISPA pada balita.
j. Mengetahui hubungan antara keberadaan anggota keluarga yang
menderita ISPA dengan kejadian ISPA pada balita.

D. Manfaat Penelitian
1. Puskesmas
Sebagai bahan informasi dan masukan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten
Soppeng khususnya Puskesmas Salotungo dalam usaha peningkatan
kesehatan lingkungan
2. Pembaca
Sebagai media untuk menambah wawasan dan referensi/kajian dalam
mengungkap kasus kejadian ISPA pada balita
3. Akademik/Institut Pendidikan ;
Data variable yang diperoleh dan telah diolah dapat dijadikan data untuk
mendukung penelitian tentang ISPA oleh peneliti berikutnya.
4. Bagi Peneliti
Sebagai tambahan pengetahuan dalam pengembangan ilmu pengetahuan
khususnya mengenai penyakit menular yaitu ISPA.