You are on page 1of 16

TUGAS MATA KULIAH

TEKNOLOGI LEGUM DAN SEREALIA
POTENSI DAN PEMANFAATAN KACANG GUDE (Cajanus cajan (L) Millsp)

ANGGOTA KELOMPOK: 1. 2. 3.
4.

Testi Kurnia F. Winantri Widhi Cahyani Kinanthi Diah C.

H0606033 H0606035 H0606073 H0606085

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2009

POTENSI DAN PEMANFAATAN KACANG GUDE (Cajanus cajan (L) Millsp) A. Pendahuluan Dalam beberapa tahun terakhir produksi kedelai Indonesia terus merosot sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan. Padahal Indonesia memiliki berbagai jenis kacang-kacangan yang berpotensi untuk menggantikan atau paling tidak mendampingi penggunaan kacang kedelai sebagai bahan pangan. Salah satu kacang-kacangan di Indonesia yang belum begitu banyak dimanfaatkan sebagai sumber pangan layaknya kedelai adalah kacang gude. Kacang gude mengandung protein, karbohidrat, lemak, dan vitamin yang cukup tinggi (Harian Pikiran Rakyat, 2001 dalam Kunia, 2008). Bahkan Anonim (1997) menyebutkan bahwa kandungan proteinnya hingga 22%. Selain itu, tanaman kacang gude mudah sekali tumbuh dan sangat produktif. Tanaman kacang gude membutuhkan sedikit air atau penyiraman karena akarnya yang masuk sangat dalam ke tanah (Jose, 2009). Di Indonesia kacang gude memiliki dikenal dengan nama lain: kacang hiris (Sunda), kacang bali, ritik lias (Sumatera); Kacang gude, gude, kacang kayu (Jawa), kance (Bugis); Kacang bali, ritik lias (Sumatera); kacang kaju (Madura); Kekace, undis (Bali); lebui, legui, kacang iris, kacang turis; Puwe jai (Halmahera), dan fou hate (Ternate, Tidore) (Rensisca, 2008). Di luar negeri kacang gude dikenal sebagai: shu tuo (China), kagios, kalios, kadios, gablas (Tagalog); straucherbse (Jerman), pigeon pea (Inggris) (Rensisca, 2008). Kacang gude ini merupakan salah satu makanan tradisional di Puertorico. Dan di India kacang gude merupakan sumber makanan utama. Demikian pula di Afrika Selatan dan Amerika Tengah kacang gude sudah cukup populer (Harian Pikiran Rakyat, 2001 dalam Kunia, 2008). Dengan melihat pemanfaatan kacang gude yang sudah ada di Indonesia, serta membandingkan dan mempelajari pemanfaatannya di negaranegara lain, diharapkan dapat membuka wawasan kita tentang potensi lama

yang perlu dioptimalkan serta potensi baru yang bisa ditemukan dari kacang gude. B. Klasifikasi Ilmiah Kacang Gude Kingdom Subkingdom Superdivision Division Class Subclass Order Family Genus Species (Anonim, 2009). C. Karakter Tanaman Kacang Gude 1. Sifat Fisik Tanaman Batang : berkayu, bulat, beralur, berbulu, hijau kecokelatan dengan tinggi 1-2 m Daun : berkumpul tiga, bertangkai pendek, dengan helai daun bulat telur sampai elips, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, pertulangan menyirip dan warnanya hijau. Bunga : majemuk dengan mahkota bentuk kupu-kupu, keluar dari ketiak daun, bentuk tandan, karangan bunga 15- 30 cm serta berwarna kuning. Buah : polong, panjang 4 - 10 cm, berbulu dan pipih. Biji kecil dan bulat. Warna kulit biji bisa putih keabu-abuan, kuning, cokelat atau hitam. Polong muda dapat dimakan. Polong tua dipanggang atau dibuat sejenis tempe. Perkembangbiakan dengan biji (Rensisca, 2008). : Plantae – Tumbuhan : Tracheobionta – Tumbuhan berpembuluh : Spermatophyta – Tumbuhan berbiji : Magnoliophyta – Tumbuhan berbunga : Magnoliopsida – Berkeping ganda : Rosidae : Fabales : Fabaceae – Famili kacang-kacangan : Cajanus Adans. : Cajanus cajan (L.) Millsp. – Kacang gude

2. Penyebaran dan Sentra Tanaman Kacang gude diperkirakan berasal dari India atau Afrika. Kedua daerah tersebut merupakan pusat keanekaragaman tanaman genus Cajanus. Tanaman kacang gude sudah tumbuh liar dalam waktu yang sangat lama dan menyebar karena perdagangan ribuan tahun yang lalu. Saat ini kacang gude dibudidayakan di negara-negara tropis dan telah banyak tumbuh di Florida, Puerto Rico, dan pulau Virgin AS (Liogier 1988, Long and Lakela 1976 dalam John, 2002). Taylor (2005) bahkan menyebutkan bahwa kacang gude telah dimanfaatkan pula di negara-negara: Argentina, Brazil, China, Cuba, Dominican, Republik Haiti, Malaysia, Meksiko, Peru, dan Trinidad. Sedangkan di Indonesia, kacang gude sudah dikenal pulau Sumatera, Jawa, Bali, hingga kepulauan Maluku. 3. Syarat Pertumbuhan Tumbuhan ini dapat ditemukan dari dataran rendah sampai 2.000 m dpl. Pertumbuhannya memerlukan banyak cahaya matahari dan tidak tahan terhadap kondisi lembab (Kazuma, 2009). Selain itu, tanaman ini cukup toleran terhadap kekeringan atau pada temperatur tinggi dan dapat tumbuh baik pada daerah yang kurang subur (Harian Pikiran Rakyat, 2001 dalam Kunia, 2008). D. Karakter Kacang gude 1. Sifat Fisik dan Mikroskopis Kacang Gude a. Struktur Biji Umumnya struktur biji kacang-kacangan terdiri dari tiga bagian, yaitu: kulit biji, lembaga, dan keping biji (kotiledon) (Syarief dan Anies, 1988). Demikian pula kacang gude, Faris dan Singh (1990) mengemukakan bahwa biji kacang gude tersusun dari kulit biji (14%), embrio (1%), dan kotiledon (85%). b. Daya Serap Air dan Nilai Kelarutan Air Menurut Richara (1988) dalam Widowati dan Buckle (1991) DSA (daya serap air) berkisar antara 2,79-3,93 g/g. Sedangkan

menurut Gomes dan Equilera (1983) dalam Widowati dan Buckle (1991) tingkat kemampuan penyerapan air tergantung pada ketersediaan gugus hidrofilik yang dapat mengikat air, kapasitas makromolekul pembentuk gel dan kualitas protein sampel. Untuk nilai kelarutan air kacang gude antara 0,006 g/ml sampai 0,008 g/ml (Widowati dan Buckle, 1991). Menurut Linko et al (1981) dalam Widowati dan Buckle (1991) nilai kelarutan air dipengaruhi oleh jumlah padatan terlarut pada sampel kering. c. Suhu Gelatinasi dan Kekuatan Gel Penelitian yang dilakukan Widowati dan Buckle (1991) menunjukkan suhu gelatinasi kacang gude antara 68-78oC. Suhu gelatinasi awal gelatinasi yang tinggi menunjukkan granula pati tahan terhadap penggelembungan sewaktu dipanaskan. Protein dan lemak dapat menghambat penggelembungan granula pati selama gelatinasi. Hal ini dibuktikan dengan tingginya suhu awal gelatinasi tepung gude karena kandungan protein dan lemak lebih tinggi dibanding kandungan pati gude (Triantarti, 1989 dalam Widowati dan Buckle, 1991). Kekuatan gel pati tergantung oleh kandungan amilosa, makin rendah kandungan amilosa, makin rendah kekuatan gelnya (Lii dan Chang, 1981 dalam Widowati dan Buckle, 1991). Kekuatan gel kacang gude berkisar antara 2 – 2,4 kg (Widowati dan Buckle, 1991). d. Penampilan Mikroskopis Pati Gude Granula pati gude mentah mempunyai bentuk yang tidak seragam, beragam dari bentuk oval kebulat. Keragaman granulanya sama besar dari 7,5-48 µm. Menurut Singh et al (1989) dalam Widowati dan Buckle (1991) melaporkan bahwa ukuran granula pati gude berkisar antara 9,5-55 µm. Apabila pati mengalami gelatinasi akan terjadi perubahan pada granula patinya.

2. Kandungan Gizi Kacang Gude Tabel 4.1 Kandungan Gizi Kacang gude (per 100 g) Berat (gr) pada Kacang Gude: Komposisi Tua Dikeringkan Muda Air 15,2 9,9 69,5 Protein 22,3 19,5 7,2 Lemak (diekstrak dengan ether) 1,7 1,3 0,6 Mineral 3,6 3,8 1,4 Karbohidrat 57,2 65,5 21,3 Ca 9,1 0,161 0,029 P 0,26 0,285 0,135 Vitamin A (karoten) 220 IU 55 µ g 145 µ g Vitamin B1 (Thiamin) 150 IU 0,72 mg 0,40 mg (Anonim, 1997) Dari keseluruhan asam amino pada biji yang matang: 6.7% adalah arginin; 1.2% cystin; 3.4% histidin; 3.8% isoleusin; 7.6% leusin; 7.0% lisin; 1.5% metionin; 8.7% fenilalanin; 3.4% threonin; 2.2% tirosin; 5.0% valin; 9.8 asam aspartat; 19.2% asam glutamat; 6.4% alanin; 3.6% glisin; 4.4% prolin; 5.0% serin dengan kandungan nol untuk canavanin, citrullin dan homoserin. Sedangkan minyak dalam biji mengandung: 5.7% asam linolenat, 51.4% linoleat, 6.3% oleat, and 36.6% asam lemak jenuh (Anonim, 1997).
3. Senyawa Antigizi dan Racun serta Cara Menguranginya

Kacang gude dilaporkan mengandung senyawa antigizi, yaitu senyawa polifenol (tannin) yang menghambat enzim tripsin, kimotripsin, dan amilase (inhibitor tripsin, inhibitor kimotripsin dan inhibitor amilase) yang dapat mengurangi atau menghambat aktivitas amilase dan lipase pada pankreas; serta asam pitat yang merupakan inhibitor penyerapan Fe (Taylor, 2005; Torres et al., 2006; Singh dan Diwakar, 1993). Senyawasenyawa ini menyebabkan masalah apabila kacang gude dikonsumsi dalam jumlah besar. Namun, senyawa antigizi kacang gude sudah lebih sedikit dibanding kacang kedelai, kacang polong, serta kacang pada umumnya.

Perlakuan mengurangi senyawa antigizi tersebut adalah: a. Perendaman, pengupasan kulit, dan pengukusan Menurut Tranggono et al. (1992) aktivitas tripsin inhibitor pada masing-masing kacang-kacangan (gude, koro benguk dan kacang tolo) mempunyai kecenderungan pola yang sama. Aktivitas tripsin inhibitor akan menurun sebanyak 91-97% terjadi selama tahapan proses perendaman, pengupasan kulit dan pengukusan. b. Fermentasi Berdasarkan penelitian yang dilakukan Torres et al. (2006), fermentasi dapat mengurangi asam pitat (48%), dan aktivitas inhibitor tripsin (39%). Dan Trenggono et al. (1992) melaporkan bahwa dengan fermentasi, akvitas enzim tripsin meningkat 45-72%. Namun, fermentasi ini tidak mempunyai pengaruh nyata pada kandungan tannin. c. Perkecambahan Berdasarkan penelitian yang dilakukan Torres et al. (2007), perkecambahan dapat memberikan pengurangan yang tajam terhadap asam pitat dan aktivitas inhibitor tripsin, yaitu sebanyak 61% dan 36%. Kacang gude juga memiliki senyawa beracun, yaitu fitolektin. fitolektin berinteraksi dengan glikoprotein pada permukaan sel darah merah kemudian menyebabkan penggumpalan. Senyawa ini memang ada pada kacang gude tetapi sangat sensitif terhadap perlakuan panas sehingga pengaruhnya pada tubuh tidak signifikan (Singh dan Diwakar, 1993).

E. Produk Olahan Kacang Gude
1. Tempe Kacang Gude

Kacang Gude Dikupas

Direndam selama 24 jam (kacang dan air 1:4) Direbus selama 25 menit (kacang dan air 1:4) Dikukus selama 25 menit Ditiriskan dan didinginkan Diinokulasi dengan biakan murni Rhizopus oligosporus Difermentasi dalam kantung plastik berlubang (48 jam) Gambar 5.1 Diagram Pembuatan Kecap Kacang Gude (Tranggono et al, 1992) Tempe gude di Amerika disebut dengan ”pigeon tempeh”, tempe ini dibuat dari kacang gude (Cajanus cajan) (Lusiana, 2007). Menurut Rensisca (2008) kacang gude dengan penganekaragaman pengolahan tempe gude seperti tempe kedelai, dapat dikonsumsi sebagai makanan fungsional-makanan pendamping kesehatan. Penganekaragaman pengolahan tempe gude menjadi makanan pendamping air susu ibu (ASI), berdasarkan hasil penelitian menunjukkan, produk olahan tempe gude dapat digunakan sebagai salah satu alternatif makanan pendamping ASI bagi bayi berumur 6-12 bulan. Tempe ”gembus”, dibuat dari ampas gude (kacang hiris) pada pembuatan pati. Tempe ini populer didaerah Lombok dan Bali bagian timur (Lusiana, 2007).

2. Kecap Kacang Gude Kacang Gude Direndam 1 malam Disterilisasi, 121°C, 15 menit Diinokulasikan kapang Diinkubasi 30°C, 4 hari Dikeringkan (42°C) 2 hari Koji Dikeringkan Direndam dalam air garam 20% Diinkubasi 1-6 bulan Moromi Disaring Ditambah bumbu dan gula kelapa Dikentalkan Kecap Gambar 5.2 Diagram Pembuatan Kecap Kacang Gude (Anonim, 2006; Purwoko dan Noor, 2007) Pada prinsipnya, pembuatan kecap secara fermentasi terkait dengan penguraian protein, lemak, dan karbohidrat menjadi asam amino, asam lemak, dan monosakarida (Koswara, 1997 dalam Purwoko dan Noor, 2007). Proses fermentasi kecap ada 2 tahap:

a. Fermentasi Padat (fermentasi koji/tempe) Fermentasi padat merupakan fermentasi terhadap biji dengan kapang. Kapang yang biasa digunakan adalah Aspergillus sp. dan Rhizopus sp. Hasil fermentasi padat disebut koji/ tempe. b. Fermentasi cair (Fermentasi moromi) Proses perendaman koji/ tempe dalam air garam disebut fermentasi moromi. Mikroba yang berperan adalah yang tahan garam: Hansenula sp., Zygosaccharomyces sp., dan Lactobacillus sp. Cairan hasil fermentasi moromi disebut moromi (Purwoko dan Noor, 2007). Sebenarnya terdapat dua jenis kecap kacang gude: manis dan asin. Perbedaannya terletak pada penambahan gula pada kecap manis (Singh dan Diwakar, 1993). 3. Kopi Kacang Gude Di Filiphina saat ini terdapat program “Pengembangan, Pemanfaatan dan Komersialisasi Kacang Gude dan Gandum Manis sebagai Produk Pangan Berbasis Nutrisi”, maka makanan yang berasal dari kacang gude mulai dieksplorasi. Salah satunya adalah kopi kacang gude. Biji kacang gude yang disangrai menjadi seperti kopi mendapatkan penerimaan yang baik dan pendapat yang positif. Prof. Palaje dari Isabela State University (Filipina) mencoba menyangrai biji-bijian dan serealia seperti jagung, beras, kedelai, dan semisalnya untuk mendapatkan flavor kopi. Hasilnya, kacang gude berbeda jika dibandingkan dengan biji-bijan lain yang pernah diuji. Kacang gude memiliki aroma yang kuat jika dibandingkan kopi tradisional yang dijual di pasar. Sebagian panelis mengemukakan bahwa jika kopi kacang gude ditambah krim dan sedikit gula, rasanya menyerupai produk ”Sustagen™" or "Milo™" (Agron, 2009).

Pod Coklat Dipanen Biji dikeluarkan dan dikeringkan Dibersihkan Disangrai 20 menit, diaduk konstan Diturunkan suhunya bertahap Didinginkan Biji kopi kacang gude Dihaluskan Bubuk kopi kacang gude Gambar 5.3 Diagram Pembuatan Kopi Kacang Gude (Agron, 2009) 4. Tepung Kacang Gude Tepung kacang gude dapat digunakan sebagai bahan untuk membuat macam-macam cookies, roti, mie, dan pasta. Tepung kacang gude juga dapat dibuat dari kecambah kacang gude (Torres et al, 2007).

Kacang Gude Disortasi dan dibersihkan Direndam dalam air 2-3 menit Dikeringkan Disangrai Dihaluskan Diayak Tepung kacang gude Gambar 5.4 Diagram Pembuatan Tepung Kacang Gude (Burgess dan Peter, 2006) F. Potensi Kacang Gude Kelebihan kacang gude dibandingkan jenis kacang-kacangan lain adalah memiliki kombinasi gizi yang optimal dan unik, tanamannya mudah sekali tumbuh dan sangat produktif, mempunyai toleransi tinggi terhadap lingkungan yang buruk, menghasilkan biomassa yang tinggi, dan memiliki kontribusi pada kelembaban dan nutrisi tanah (Damaris, 2007 dan Jose, 2009). Namun, kelebihan ini belum disadari sehingga popularitas kacang gude di Indonesia masih terkesampingkan. Menengok pemanfaatan kacang gude di berbagai negara, ternyata kacang gude telah populer sebagai obat herbal tradisional. Di Peru dan Brazil, kacang gude diramu dalam teh untuk mengobati radang dan penyakit darah (Taylor, 2005). Di China, kacang gude dibakar hangus dicampur dengan air kopi dimanfaatkan untuk mengobati sakit kepala. Sedangkan biji muda dikonsumsi karena dipercaya dapat menyembuhkan penyakit ginjal dan liver ringan (Duke, 1981 dalam Kunia, 2008). Selain itu, kacang gude juga dimanfaatkan untuk pengobatan di negara-negara lain seperti: Argentina,

Cuba, Dominican, Republik Haiti, Malaysia, Meksiko, dan Trinidad (Taylor, 2005). Sedangkan di India, kacang gude termasuk makanan utama. Kacang gude utuh, tanpa kulit, dan kacang gude hijau dimanfaatkan, baik sebagai pangan manusia maupun sebagai pakan ternak. Di negara tersebut, kacang gude digiling, dibuat patinya, dibuat mie, difermentasi menjadi tempe, kecap manis dan kecap asin. Di Filiphina saat ini terdapat agenda proyek kacang gude untuk dikembangkan sebagai bahan cuka alami, sirup kacang gude, kopi kacang gude, macam-macam cookies dan roti yang terbuat dati tepung kacang gude (Agron, 2009). Dengan melihat pemanfaatan di negara-negara lain, dapat diketahui bahwa kacang gude ternyata punya peluang dikembangkan menjadi pangan fungsional. Hal ini dipertegas dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa kacang gude mengandung fitoestrogen. Fitoestrogen adalah senyawa yang mempunyai aktivitas antiangiogenesis yaitu aktivitas yang menghambat pembentukan pembuluh darah baru (Sajuthi, 2000 dalam Kunia, 2008). Pembentukan pembuluh darah baru pada kanker berlangsung sangat cepat. Terhambatnya pembuluh darah pada kanker akan menyebabkan pertumbuhan kanker juga terhambat. Aktivitas inilah yang disebut antiangiogenesis. Maka, kacang gude berpotensi sebagai antikanker. Namun demikian, pengaruh ini masih perlu dibuktikan (Harian Pikiran Rakyat, 2001 dalam Kunia, 2008). G. Penutup Tanaman kacang gude mudah tumbuh dan sangat produktif karena memiliki toleransi yang tinggi pada kondisi lingkungan yang buruk. Kacang gude mengandung protein tinggi sekitar 22% serta memiliki kombinasi gizi yang optimal. Polong muda kacang gude dapat langsung dimakan. Sedangkan polong tua diolah menjadi berbagai jenis makanan olahan pengganti kedelai yaitu tempe dan kecap. Kacang gude juga dapat diolah menjadi kopi dan tepung. Kacang gude punya peluang dikembangkan menjadi pangan fungsional.

Daftar Pustaka

Anonim, 1997. Cajanus cajan (L.) Millsp (Center for New Crops and Plants Products).http://www.hort.purdue.edu/newcrop/duke_energy/Cajanus_ca jan. Diakses pada Senin, 14 September 2009. . 2006. Kecap Bebas Kanker. www.lipi.go.id/www.cgi? berita&1143211824. Diakses pada Senin, 14 September 2009. . 2008. Alternatif Kacang-kacangan Non Kedelai untuk Tahu dan Tempe. www.litbang.deptan.go.id/berita/one/597/. Diakses 8 September 2009. . 2009. Cajanus cajan (L.) Millsp. Pigeonpea. http://plants.usda.gov/java/profile?symbol=CACA27. Diakses 8 September 2009. Acta R. D. 2008. Kacang Gude Sebagai Bahan Pangan Alternatif. http://trias.blog.unair.ac.id/2008/10/14/tugas-epg/. Diakses 8 September 2009. Agron, Edmon. 2009. Promoting Pigeon Pea Coffee as A Nutritious Alternative Beverage Explored. Bureau Agricultural Research Chronicle A Monthly Publication. Vol. 10 No. 7 July 2009. http://www.bar.gov.ph/ barchronicle/latest_issue/jul2009_news4.asp. Diakses pada Senin, 14 September 2009. Atmojo L.D. 2007. Pengaruh Subtitusi Tepung Tempe Dan Penggunaan Minyak Goreng Terhadap Kualitas Organoleptik Dan Nilai Gizi Bolu Kukus. http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi.1/import/3073.pdf. Diakses 8 September 2009. Burgess, Ann dan Peter Glasauer. 2004. The Family Nutrition Guide. http://www.fao.org/docrep/007/y5740e. Diakses pada Rabu, 30 September 2009. John K. 2002. Cajanus cajan (L.) Millsp. (Pigeon Pea). www.fs.fed.us/global/iitf/pdf/shrubs/Cajanus%20cajan.pdf. Diakses pada Senin, 14 September 2009.

Kazuma, 2009. [List] Tanaman Obat. http://forum.al-ulama.net/viewtopic.php? f=20&t=47&start=80&sid=9e52b32156d5e046a15b5d88d3fcce18. Diakses 8 September 2009. Kunia, Pabean. 2008. Potensi Kacang Hiris untuk Obat dan Pangan. http://kabelan-kunia.blogspot.com/2008/11. Diakses pada Sabtu, 3 Oktober 2009 Odeny, Damaris Achieng. 2007. The potential of pigeonpea (Cajanus cajan (L.) Millsp.) in Africa. Natural Resources Forum 31 (2007) 297–305. http://www.zef.de/module/register/media/63c0_narf_157.pdf. Diakses 29 September 2009.

Puras,

Jose. 2009. Gandules / Pigeon Peas. www.caribbeanseeds.com/gandules.htm. Diakses 8 Sepetember 2009.

Purwoko, Tjahjadi dan Noor Soesanti Handajani. 2007. Kandungan Protein Kecap Manis Tanpa Fermentasi Moromi hasil Fermentasi Rhizopus oryzae dan R. oligosporus. Biodiversitas. Vol/No: 8/2. Pg: 223-227. http://www.unsjournals.com. Diakses 4 Oktober 2009. Singh, Faujdar dan B. Diwakar. 1993. Nutritive Value and Uses of Pigeonpea and Groundnut. International Crops Research Institute for the Semi-Arid Tropics. India. http://www.icrisat.org/Training/sds.14.pdf Diakses 4 Oktober 2009 Syarief, R. dan Anies I. 1988. Pengetahuan Bahan untuk Industri Pertanian. PT Mediyatama Sarana Perkasa. Jakarta Taylor, Leslie. 2005. Tropical Plant Database: GUANDU (Cajanus cajan). www.rain-tree.com/guandu.htm. Diakses pada Senin, 14 September 2009. Torres, Alexia; J. Frias; M. Granito; and C. Vidal-Valverde. 2006. Fermented Pigeon Pea (Cajanus cajan) Ingredients in Pasta Products. Journal of Agricultural and Food Chemistry. Vol/No: 54/18. Pg: 6685–6691. http://pubs.acs.org/doi/abs/10.1021/jf0606095. Diakses pada Senin, 14 September 2009. . 2007. Germinated Cajanus cajan Seeds As Ingredients in Pasta Products: Chemical, Biological and Sensory Evaluation. Journal of Food Chemistry. Vol/No: 101/1. Pg: 202-211. http://www.sciencedirect.com/science. Diakses pada Senin, 14 September 2009. Tranggano, Sutardi, dan Bambang Kuswijayanto. 1992. Aktivitas Tripsin Inhibitor Selama Proses Pembuatan Tempe Kara Benguk (Mucuna pruriens), Kacang Tolo (Vigna ungulgulata), Dan Gude (Cajanus cajan). http://i-lib.ugm.ac.id/jurnal/download.php?dataId=3501. Diakses 8 September 2009. Widowati, S dan K.A Buckle. 1991. Sifat Fisik dan Mikroskopis Pati Gude (Cajanus cajan (L) Millsp). Agritech Vol/No: 11/2. Hal: 2-5.

Lampiran

Gambar 5. Biji Kacang Gude

Gambar 6. Bunga Kacang Gude

Gambar 7. Kulit Biji Kacang Gude

Gambar 8. Kopi Kacang Gude (Sebelum Dihaluskan)