Legenda “Telaga Remis”

Konon, zaman dahulu kala. Di desa Pajaten, ada sepasang kekasih yang saling mencintai, yaitu Nyimas Sari dan Joko Laga. Mereka begitu saling menyayangi, dan mereka pun berjanji akan selalu bersama. Nyimas Sari adalah putri saudagar kaya yang sombong di desa Pajaten. Sedangkan Prabu Laga hanyalah seoarng anak yatim piatu dari desa dari keluarga yang miskin. Walau begitu, mereka tidak menghiraukan perbedaan derajat antara keduanya. Mereka tetap saling mencintai. Namun, ditengah-tengah kebahagiaan mereka berdua. Kedua orang tua nyimas Sari tidak menginginkan kalau nyimas Sari berhubungan dengan seorang miskin. Kedua Orang tua nyimas Sari begitu menyayangi Sari, mereka menginginkan agar suatu saat nyimas Sari bisa menikah dengan seorang kaya, agar hidupnya bahagia. Nyimas Sari dan Joko Laga mencoba untuk menyembunyikan hubungan keduanya kepada Orang tua nyimas Sari. Namun, lambat laun hubungan keduanya pun akhirnya diketahui oleh orang tua Sari. Orang tuanya pun begitu marah kepada Sari. “Sari!! Tidakkah kau tau, kalau kau adalah putri saudagar paling kaya di desa ini?! Mengapa kau berhubungan dengan orang miskin” Kedua orang tua Sari memarahi Sari. “Ampun, Ayah.. Ibu.. tapi kami berdua saling mencintai dan kami tidak peduli dengan perbedaan drajat antara kami” ujar Sari. “Tapi mengapa harus dengan orang miskin?!” kata Ibu Sari sambil marah. “Kalu begitu, lebih baik aku nikahkan saja kau dengan seorang yang lebih pantas untukmu” tambah Ayah Sari. “Aku tidak mau!!!” jawab Sari membantah. “Kalau kau tetap membantah, jangan harap kau bisa bahagia dengan lelaki yang kau pilih itu” ancam Ibu Sari. Suatu hari Nyimas Sari dan Joko Laga bermaksud untuk pergi meninggalkan desa, agar mereka bisa hidup bahagia tanpa ada yang melarang. Kedua orang tua nyimas Sari pun mengetahuinya, kalau anaknya telah pergi bersama Joko Laga meninggalkan desa. Dengan jengkelnya, akhirnya kedua Orang tua nyimas Sari mengutuk nyimas Sari dan Joko Laga menjadi seekor ‘remis’. “Kurang ajar! Mereka tetap saja nekat, hati mereka memang keras sekeras remis’ memang sepantasnya mereka mereka menjadi seekor Remis !!” tanpa sadar mereka telah mengutuk anaknya dan Joko Laga menjadi seekor remis. Pada suatu hari, ditengah hutan. Nyimas Sari merasa sangat kehausan, namun ditengah hutan itu tidak setetes air pun ditemukan. Lalu, Joko Laga bermaksud untuk menggali tanah dan berharap menemuakn air. Lama-lama lubang semakin dalam, air pun keluar dari dalam tanah. Joko Laga pun terkejut. “Hah! Banyak sekali air yang keluar”. Lalu mereka berdua pun meminum air itu. Namun, mereka terheran, “Mengapa air ini tidak berhenti, bahkan tambah banyak” ujar mereka. Saat itu, mendadak langit menjadi mendung. Petir pun menyambar dengan menyeramkan. Mungkin kutukan itu telah datang kepada mereka berdua. Akhirnya, mereka berdua pun berubah menjadi seekor Remis. Dan air yang keluar dari tanah itu pun semakin banyak dan meluas, hingga membentuk sebuah Telaga. Dan akhirnya telaga itu pun disebut dengan “Telaga Remis.