You are on page 1of 17

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Bronkopneumonia
1.

Pengertian Bronkopneumonia
Bronkopneumonia disebut juga pneumonia lobularis yaitu suatu
peradangan pada parenkim paru yang terlokalisir yang biasanya
mengenai bronkiolus dan juga mengenai alveolus disekitarnya, yang
sering menimpa anak-anak dan balita, yang disebabkan oleh bermacammacam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing.
Kebanyakan kasus pneumonia disebabkan oleh mikroorganisme, tetapi
ada juga sejumlah penyebab non infeksi yang perlu dipertimbangkan.
Bronkopneumonia lebih sering merupakan infeksi sekunder terhadap
berbagai keadaan yang melemahkan daya tahan tubuh tetapi bisa juga
sebagai infeksi primer yang biasanya kita jumpai pada anak-anak dan
orang dewasa (Bradley et.al., 2011).
Bronkopneumonia adalah peradangan pada parenkim paru yang
melibatkan bronkus atau bronkiolus yang berupa distribusi berbentuk
bercak-bercak (patchy distribution). Pneumonia merupakan penyakit
peradangan akut pada paru yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme
dan sebagian kecil disebabkan oleh penyebab non-infeksi yang akan
menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas
setempat (Bradley et.al., 2011).

2. Epidemiologi
Insiden penyakit ini pada negara berkembang hampir 30% pada
anak-anak di bawah umur 5 tahun dengan resiko kematian yang tinggi,
sedangkan di Amerika pneumonia menunjukkan angka 13% dari seluruh
penyakit infeksi pada anak di bawah umur 2 tahun (Bradley et.al., 2011).
3. Etiologi
Penyebab bronkopneumonia yang biasa dijumpai adalah

a. Faktor Infeksi :
Pada neonatus: Streptokokus group B, Respiratory Sincytial
Virus (RSV). Pada bayi : Virus: Virus parainfluensa, virus influenza,
Adenovirus, RSV, Cytomegalovirus. Organisme atipikal: Chlamidia
trachomatis, Pneumocytis. Pada anak-anak yaitu virus: Parainfluensa,
Influensa Virus, Adenovirus, RSV. Organisme atipikal: Mycoplasma
pneumonia. Bakteri: Pneumokokus, Mycobakterium tuberculosi. Pada
anak besar dewasa muda, Organisme atipikal: Mycoplasma
pneumonia, C. trachomatis. Bakteri: Pneumokokus, Bordetella
pertusis, M. tuberculosis.
b. Faktor Non Infeksi
Terjadi akibat disfungsi menelan atau refluks esophagus
meliputi: Bronkopneumonia hidrokarbon yang terjadi oleh karena
aspirasi selama penelanan muntah atau sonde lambung (zat
hidrokarbon

seperti

pelitur,

minyak

tanah

dan

bensin).

Bronkopneumonia lipoid biasa terjadi akibat pemasukan obat yang


mengandung minyak secara intranasal, termasuk jeli petroleum. Setiap
keadaan yang mengganggu mekanisme menelan seperti palatoskizis,
pemberian makanan dengan posisi horizontal, atau pemaksaan
pemberian makanan seperti minyak ikan pada anak yang sedang
menangis. Keparahan penyakit tergantung pada jenis minyak yang
terinhalasi. Jenis minyak binatang yang mengandung asam lemak
4. Klasifikasi
Pembagian pneumonia sendiri pada dasarnya tidak ada yang
memuaskan, dan pada umumnya pembagian berdasarkan anatomi dan
etiologi. Beberapa ahli telah membuktikan bahwa pembagian pneumonia
berdasarkan etiologi terbukti secara klinis dan memberikan terapi yang
lebih relevan (Bradley et.al., 2011).
a. Berdasarkan lokasi lesi di paru yaitu Pneumonia lobaris, Pneumonia
interstitiali, Bronkopneumonia

b.

Berdasarkan asal infeksi yaitu Pneumonia yang didapat dari


masyarakat (community acquired pneumonia = CAP). Pneumonia
yang didapat dari rumah sakit (hospital-based pneumonia)

c. Berdasarkan

mikroorganisme

Pneumonia virus

penyebab

Pneumonia

bakteri

Pneumonia mikoplasma Pneumonia jamur

d. Berdasarkan karakteristik penyakit yaitu Pneumonia tipikal Pneumonia


atipikal
e. Berdasarkan lama penyakit yaitu Pneumonia akut dan Pneumonia
persisten.
5. Patogenesis
Saluran pernafasan steril dari daerah sublaring sampai parenkim
paru. Paru-paru dilindungi dari infeksi bakteri melalui mekanisme
pertahanan anatomis dan mekanis, dan faktor imun lokal dan sistemik.
Mekanisme pertahanan awal berupa filtrasi bulu hidung, refleks batuk dan
mukosilier aparatus. Mekanisme pertahanan lanjut berupa sekresi Ig A
lokal dan respon inflamasi yang diperantarai leukosit, komplemen, sitokin,
imunoglobulin, makrofag alveolar, dan imunitas yang diperantarai sel
(Bradley et.al., 2011):
Infeksi paru terjadi bila satu atau lebih mekanisme di atas
terganggu, atau bila virulensi organisme bertambah. Agen infeksius masuk
ke saluran nafas bagian bawah melalui inhalasi atau aspirasi flora
komensal dari saluran nafas bagian atas, dan jarang melalui hematogen.
Virus dapat meningkatkan kemungkinan terjangkitnya infeksi saluran
nafas bagian bawah dengan mempengaruhi mekanisme pembersihan dan
respon imun. Diperkirakan sekitar 25-75 % anak dengan pneumonia
bakteri didahului dengan infeksi virus. Secara patologis, terdapat 4
stadium pneumonia, yaitu (Bradley et.al., 2011):
a. Stadium I (4-12 jam pertama atau stadium kongesti)
Yaitu hiperemia, mengacu pada respon peradangan permulaan
yang berlangsung pada daerah baru yang terinfeksi. Hal ini ditandai
dengan peningkatan aliran darah dan permeabilitas kapiler di tempat

infeksi. Hiperemia ini terjadi akibat pelepasan mediator-mediator


peradangan dari sel-sel mast setelah pengaktifan sel imun dan cedera
jaringan.
b. Stadium II (48 jam berikutnya)
Disebut hepatisasi merah, terjadi sewaktu alveolus terisi oleh
sel darah merah, eksudat dan fibrin yang dihasilkan oleh penjamu
(host) sebagai bagian dari reaksi peradangan. Lobus yang terkena
menjadi padat oleh karena adanya penumpukan leukosit, eritrosit dan
cairan, sehingga warna paru menjadi merah dan pada perabaan seperti
hepar, pada stadium ini udara alveoli tidak ada atau sangat minimal
sehingga anak akan bertambah sesak, stadium ini berlangsung sangat
singkat, yaitu selama 48 jam.
c. Stadium III (3-8 hari berikutnya)
Disebut hepatisasi kelabu, yang terjadi sewaktu sel-sel darah
putih mengkolonisasi daerah paru yang terinfeksi. Pada saat ini
endapan fibrin terakumulasi di seluruh daerah yang cedera dan terjadi
fagositosis sisa-sisa sel. Pada stadium ini eritrosit di alveoli mulai
diresorbsi, lobus masih tetap padat karena berisi fibrin dan leukosit,
warna merah menjadi pucat kelabu dan kapiler darah tidak lagi
mengalami kongesti.
d. Stadium IV (7-11 hari berikutnya)
Disebut juga stadium resolusi, yang terjadi sewaktu respon
imun dan peradangan mereda, sisa-sisa sel fibrin dan eksudat lisis dan
diabsorsi oleh makrofag sehingga jaringan kembali ke strukturnya
semula.
6. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pneumonia khususnya bronkopneumonia pada
anak terdiri dari 2 macam, yaitu penatalaksanaan umum dan khusus (IDAI,
2012; Bradley et.al., 2011) :

10

a. Penatalaksaan Umum
1) Pemberian oksigen lembab 2-4 L/menit sampai sesak nafas
hilang atau PaO2 pada analisis gas darah 60 torr.
2) Pemasangan infus untuk rehidrasi dan koreksi elektrolit.
3) Asidosis diatasi dengan pemberian bikarbonat intravena.
b. Penatalaksanaan Khusus
1) Mukolitik, ekspektoran dan obat penurun panas sebaiknya tidak
diberikan pada 72 jam pertama karena akan mengaburkan
interpretasi reaksi antibioti awal.
2) Obat penurun panas diberikan hanya pada penderita dengan suhu
tinggi, takikardi, atau penderita kelainan jantung
3) Pemberian antibiotika berdasarkan mikroorganisme penyebab dan
manifestasi klinis. Pneumonia ringan amoksisilin 10-25
mg/kgBB/dosis (di wilayah dengan angka resistensi penisillin
tinggi dosis dapat dinaikkan menjadi 80-90 mg/kgBB/hari).
B. Kharbohidrat
1. Pengertian
Karbohidrat merupakan sumber energi yang tersedia dengan
mudah di setiap makanan dan harus tersedia dalam jumlah yang cukup
sebab kekurangan sekitar 15% dari kalori yang ada dapat menyebabkan
terjadi kelaparan dan berat badan menurun.. apabila jumlah kalori yang
tersedia atau berasal dari karbohidrat dengan jumlah yang tinggi dapat
menyebabkan terjadi peningkatan BB (obesitas). Jumlah karbohidrat yang
cukup dapat diperoleh dari susu, padi-padian, buah-buahan, sukrosa, sirup,
tepung, dan sayur-sayuran. Porsi terbesar dari energi tubuh (40- 50 %)
kebutuhan kalori berasal dari KH (sumber energi utama). Karbohidrat
merupakan makanan utama yang terjangkau oleh masyarakat. KH
disimpan terutama dalam bentuk glikogen dalam jaringan hati dan otot.
Bila energi tdk terdapat dari KH, maka diambil dari protein dan lemak
baik (Almatsier, 2004).

11

2. Klasifikasi Kharbohidrat
Kharbohidrat didapat dalam bentuk :
a. Monosakarida ( glukosa, fruktosa, galaktosa0
b. Disakarida (laktosa, sukrosa, maltosa, isomaltosa)
c. Polisakarida ( tepung, dektrin, glikogen, selulosa)
3. Manfaat Karbohidrat Bagi Tubuh
Manfaat kharbohidrat bagi tubuh memiliki berbagai unsur yaitu :
a. Karbohidrat Sebagai Sumber Energi
Fungsi utama karbohidrat adalah sebagai sumber energi bagi
tubuh. Setiap gram karbohidrat menghasilkan 4 kkalori. Keberadaan
karbohidrat di dalam tubuh, sebagian ada pada sirkulasi darah sebagai
glukosa untuk keperluan energi, sebagian terdapat pada hati dan
jaringan otot sebagai glikogen, dan sebagian lagi sisanya diubah
menjadi lemak untuk kemudian disimpan sebagai cadangan energi di
dalam jaringan lemak. Kegemukan adalah salah satu akibat dari terlalu
banyak mengkonsumsi karbohidrat.
b. Sebagai Penghemat Protein
Bila kebutuhan karbohidrat makanan tidak mencukupi, maka
protein akan digunakan sebagai cadangan makanan untuk memenuhi
kebutuhan energi dan mengalahkan fungsi utamanya sebagai zat
pembangun. Hal ini berlaku sebaliknya, jika kebutuhan karbohidrat
tercukupi, maka protein hanya akan menjalankan fungsi utamanya
sebagai zat pembangun.
c. Sebagai Pengatur Metabolisme Lemak
Karbohidrat mencegah terjadinya oksidasi lemak yang tidak
sempurna, sehingga menghasilkan bahan-bahan keton berupa asam
asetoasetat, aseton, dan asam beta-hidroksi-butirat. Bahan-bahan ini
dibentuk menyebabkan ketidakseimbangan natrium dan dehidrasi. pH
cairan menurun. Keadaan ini menimbulkan ketosis atau asidosis yang
dapat merugikan tubuh.

12

d. Membantu Pengeluaran Feses


Karbohidrat dapat membantu proses pengeluaran feses dengan
cara mengatur peristaltik usus, hal ini dapat didapat dari selulosa dalam
serat makanan yang berfungsi mengatur peristaltik usus. Serat pada
makanan dapat membantu mencegah kegemukan, kanker usus besar,
diabetes mellitus, dan jantung koroner yang berkaitan dengan
kolesterol tinggi. Laktosa yang terdapat pada susu dapat membantu
penyerapan kalsium. Keberadaannya yang tinggal lebih lama dalam
saluran

cerna

memberikan

keuntungan

karena

menyebabkan

pertumbuhan bakteri baik (Almatsier, 2004).


4. Zat-zat gizi yang dibutuhkan balita (Husin, 2008) yaitu sebagai berikut :
a. Karbohidrat
Karbohidrat merupakan sumber energi utama yang terdiri dari
dua jenis yaitu karbohidrat sederhana (gula, pasir dan gula merah)
sedangkan karbohidrat kompleks (tepung, beras, jagung, gandum).
Karbohidrat merupakan zat gizi utama sebagai sumber energi bagi
tubuh. Terpenuhinya kebutuhan tubuh akan karbohidrat akan
menentukan jumlah energi yang tersedia bagi tubuh setiap hari
(Rahmah, 2010). Karbohidrat yang terkandung dalam makanan pada
umumnya hanya ada 3 jenis yaitu : Polisakarida, Disakarida dan
Monosakarida (Sediaoetama, 2010). Karbohidrat lebih banyak terdapat
dalam bahan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti
beras, jagung, ubi kayu dan lain-lain. Fungsi utama karbohirat yaitu
sebagai sumber energi, untuk membentuk volume makanan, membantu
cadangan energi dalam tubuh (Sediaoetama, 2010), penghemat protein
serta membantu pengeluaran feses (Almatsier, 2004). Fungsi utama
karbohidrat adalah menyediakan energi bagi tubuh. Karbohidrat
merupakan sumber utama energi bagi penduduk di seluruh dunia,
karena banyak didapat di alam dan harganya relatif murah. Satu gram
karbohidrat menghasilkan 4 kkalori. Sebagian karbohidrat di dalam
tubuh berada dalam sirkulasi darah sebagai glukosa untuk keperluan

13

energi segera, sebagian disimpan sebagai glikogen dalam hati dan


jaringan otot dan sebagian diubah menjadi lemak untuk kemudian
disimpan sebagai cadangan energi di dalam jaringan lemak (Almatsier,
2004).
Karbohidrat merupakan zat gizi utama sebagai sumber
karbohidrat bagi tubuh. Terpenuhinya kebutuhan tubuh akan
karbohidrat akan menentukan jumlah karbohidrat yang tersedia bagi
tubuh setiap hari (Sediaoetama, 2010). Karbohidrat dan lemak
merupakan penyuplai energi utama, meskipun protein juga dapat
menghasilkan energi (Barasi, 2009). Bila karbohidrat makanan tidak
mencukupi, maka protein akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan
energi, dengan mengalahkan fungsi utamanya sebagai zat pembangun.
Sebaliknya bila karbohidrat makanan mencukupi, protein terutama
akan digunakan sebagai zat pembangun (Almatsier, 2004).
Sumber karbohidrat adalah padi-padian atau serealia, umbiumbian, kacang-kacang kering dan gula. Hasil olah bahan-bahan ini
adalah bihun, mie, roti, tepung-tepungan, selai, sirup dan sebagainya.
Sebagian sayur dan buah tidak banyak mengandung karbohidrat. Sayur
umbi-umbian seperti wortel dan bit serta sayur kacang-kacangan relatif
lebih banyak mengandung karbohidrat dari pada sayur daun-daunan
(Almatsier, 2004).
b. Protein
Protein untuk pertumbuhan, terdapat pada ikan, susu, telur,
kacang-kacangan, tahu dan tempe. Protein merupakan bahan utama
dalam pembentukan jaringan, baik jaringan tubuh tumbuh-tumbuhan
maupun tubuh manusia dan hewan. Karena itu protein disebut unsur
pembangun (Sediaoetama, 2010). Menurut Sediaoetama (2008) dalam
penelitian Rahmah (2010), sumber protein hewani yaitu daging, jenis
ikan, jenis unggas, telur dan susu sedangkan sumber protein nabati
yaitu tempe, tahu dan jenis kacang-kacangan. Menurut Sunita
Almatsier (2004), protein berfungsi membangun sel-sel yang rusak,

14

membentuk zat-zat pengatur seperti enzim dan hormon, membentuk


zat anti energi, dalam hal ini tiap protein menghasilkan sekitar 4,1
kalori, mengatur keseimbangan air, memelihara netralitas tubuh,
pembentukan antibodi, mengangkut zat-zat gizi.
Kekurangan protein murni pada stadium berat menyebabkan
kwashiorkor pada anak-anak di bawah lima tahun. Kekurangan protein
juga sering ditemukan secara bersamaan dengan kekurangan energi
yang menyebabkan kondisi yang dinamakan marasmus (Almatsier,
2004). Protein secara berlebihan akan merugikan tubuh. Makanan yang
tinggi protein biasanya tinggi lemak sehingga dapat menyebabkan
obesitas. Diet protein tinggi yang sering dianjurkan untuk menurunkan
berat badan kurang beralasan. Kelebihan protein dapat menimbulkan
masalah lain, terutama pada bayi. Kelebihan asam amino memberatkan
ginjal dan hati yang harus melakukan metabolisme dan mengeluarkan
kelebihan nitrogen. Kelebihan protein akan menimbulkan asidosis,
dehidrasi, diare, kenaikan amoniak darah dan demam (Almatsier,
2004).
Protein adalah bagian dari semua sel hidup dan merupakan
bagian terbesar tubuh sesudah air. Seperlima bagian tubuh adalah
protein, separuhnya ada di dalam otot, seperlima di dalam tulang dan
tulang rawan, sepersepuluh di dalam kulit dan selebihnya di dalam
jaringan lain dan cairan tubuh. Protein mempunyai fungsi khas yang
tidak dapat digantikan oleh zat gizi lain, yaitu membangun serta
memelihara sel-sel dan jaringan tubuh (Almatsier, 2004). Faktor-faktor
yang mempengaruhi kebutuhan protein yang perlu ditelaah antara lain
berat badan, umur dan jenis kelamin, mutu protein.
c. Lemak
Menurut Sediaoetama (2008) dalam penelitian Rahmah (2010),
lemak merupakan sekelompok ikatan organik yang terdiri atas unsurunsur Karbon (C), Hidrogen (H) dan Oksigen (O) yang dapat larut
dalam zat pelarut lemak. Lemak dapat berasal dari hewan yang

15

terutama mengandung asam lemak jenuh dan lemak dari tumbuhtumbuhan yang lebih banyak mengandung asam lemak tak jenuh.
Menurut Soegeng Santoso dan Anne Lies (2004) dalam penelitian
Rahmah (2010), fungsi lemak antara lain: sumber utama energi atau
cadangan dalam jaringan tubuh dan bantalan bagi organ tertentu dari
tubuh, sebagai sumber asam lemak yaitu zat gizi yang esensial bagi
kesehatan kulit dan rambut., sebagai pelarut vitamin-vitamin (A, D, E,
K) yang larut dalam lemak
Merupakan komponen utama membran sel otak dan selubung
myelin disekeliling saraf otak. Lemak mempengaruhi perkembangan
dan kemampuan otak, terutama pada dua tahun pertama. DHA (asam
lemak omega 3) dan AA (asam lemak omega 6) adalah komponen
utama

struktur

otak

dan

mempunyai

perkembangan fungsi otak dan retina.

peran

penting

dalam

Sphingomyelin adalah

komponen utama dari sel saraf, jaringan otak dan selubung myelin
disekitar saraf. Sphingomyelin mempunyai peran dalam mengirim
sinyal dan membawa informasi dari satu sel saraf ke sel saraf otak
lainnya. Sumber lemak antara lain seperti yang terdapat dalam minyak,
santan, dan mentega, roti dan kue juga mengandung omega 3 dan 6
yang penting untuk perkembangan otak (Nursalam, 2005).
Sumber utama lemak adalah minyak tumbuh-tumbuhan
(minyak kelapa, kelapa sawit, kacang tanah, kacang kedelai, jagung
dan sebagainya), mentega, margarin dan lemak hewan (lemak daging
dan ayam). Sumber lemak lain adalah kacang-kacangan, biji-bijian,
daging dan ayam gemuk, krim, susu, keju dan kuning telur serta
makanan yang dimasak dengan lemak atau minyak. Sayur dan buah
(kecuali alpokat) sangat sedikit mengandung lemak (Almatsier, 2004).
d. Vitamin adalah zat-zat organik yang kompleks yang dibutuhkan
dalam jumlah sangat kecil dan pada umumnya dapat dibentuk oleh
tubuh.

16

1) Vitamin A untuk pertumbuhan tulang, mata dan kulit yaitu


mencegah kelainan bawaan, vitamin terdapat dalam susu, keju,
mentega, kuning telur, minyak ikan, sayuran dan buah-buahan
segar (wortel, pepaya, mangga, daun singkong, daun ubi jalar).
2) Vitamin B untuk menjaga sistem susunan saraf agar berfungsi
normal, mencegah penyakit beri-beri dan anemia. Vitamin ini
terdapat di dalam nasi, roti, susu, daging dan tempe.
3) Vitamin C berguna untuk pembentukan integritas jaringan dan
peningkatan penyerapan zat besi, untuk menjaga kesehatan gusi,
jenis vitamin C banyak terdapat pada mangga, jeruk, pisang,
nangka.
e. Mineral berguna untuk menumbuhkan dan memperkuat jaringan serta
mengatur keseimbangan cairan tubuh.
1) Zat besi berguna dalam pertumbuhan sel-sel darah merah yang
dibutuhkan untuk pertumbuhan. Zat ini terdapat dalam daging,
ikan dan hati ayam.
2) Kalsium berguna untuk pertumbuhan tulang dan gigi. Zat ini
terdapat dalam susu sapi.
3) Yodium berguna untuk menyokong susunan saraf pusat berkaitan
dengan daya pikir dan mencegah kecacatan fisik dan mental. Zat
ini terdapat dalam rumput laut dan sea food.
C. Status Gizi Balita
1. Pengertian Status Gizi
Status gizi adalah keadaan tubuh yang diakibatkan oleh konsumsi
makanan, penyimpanan dan penggunaan makanan. Status gizi dibedakan
dalam status gizi buruk, kurang baik dan lebih (Sunita, 2002). Hal ini jika
balita terjadi diare akan berpengaruh juga pada penurunan berat badan
yang selanjutnya akan mempengaruhi status gizi balita. Status gizi berarti
sebagai keadaan fisik seseorang atau sekelompok orang yang ditentukan
dengan salah satu atau kombinasi dari ukuran-ukuran gizi tertentu.

17

Menurut (Supariasa, 2002), status gizi adalah ekspresi dari keadaan


keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu atau perwujudan dari nutrisi
dalam bentuk variabel tertentu.
2. Penilaian status gizi
Penilaian status gizi anak balita dimaksudkan untuk mengetahui
apakah seseorang atau kelompok balita tersebut mempunyai status gizi
kurang, baik atau lebih. Penilaian status gizi anak balita tersebut bertujuan
untuk mengetahui sejauh mana keseimbangan antara zat gizi yang masuk
dalam tubuh dengan zat gizi yang digunakan oleh tubuh, sehingga tercipta
kondisi fisik yang optimal. Ada berbagai cara dalam mengukur atau
menilai status gizi seseorang yaitu melalui penilaian status gizi secara
langsung dan penilaian status gizi secara tidak langsung (Supariasa, 2002)
yaitu :
a. Survey Konsumsi Makanan
Survey konsumsi makanan dimaksudkan untuk mengetahui
kebiasaan makanan zat gizi tingkat kelompok, rumah tangga dan
perorangan serta faktor yang berpengaruh terhadap konsumsi makanan
tersebut. Metode pengukuran konsumsi makanan berdasarkan sasaran
pengamatan atau pengguna yaitu tingkat nasional, rumah tangga dan
individual.
b. Statistik Vital
Cara untuk mengetahui keadaan gizi di suatu wilayah adalah
dengan cara menganalisis statistik kesehatan. Dengan menggunakan
statistik kesehatan dapat diperhitungkan penggunaannya sebagai
bagian dari indikator tidak langsung pengukuran status gizi
masyarakat.
c. Ekologi
Malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil yang
saling mempengaruhi dan interaksi beberapa faktor fisik, biologi dan
lingkungan budaya. Jadi jumlah makanan dan zat-zat gizi yang tersedia

18

bergantung pada keadaan lingkungan seperti ikiim, tanah, irigasi,


penyimpanan, transportasi, dan tingkat ekonomi penduduk.
d. Pemeriksaan klinis
Penggunaaan pemeriksaan klinis untuk mendeteksi defisiensi
gizi yaitu dengan mendeteksi kelainan atau gangguan yang terjadi pada
kulit, rambut, mata, membran mukosa mulut, dan bagian tubuh yang
lain dapat dipakai sebagai petunjuk ada tidaknya masalah gizi kurang.
e. Biokimia
Pemeriksaan biokimia yang sering digunukan dalam penelitian
adalah tehnik pengukuran kandungan berbagai zat gizi dan subtansi
kimia lain dalam darah dan urine. Hasil pengukuran tersebut
dibandingkan dengan standar normal yang telah ditetapkan.
f. Biofisik
Penilaian status gizi dengan biofisik dengan melihat dan
kemampuan fungsi jaringan dan perubahan stuktur. Tes kemampuan
fungsi jaringan meliputi, kemampuan kerja dan adaptasi sikap.
Penilaian status gizi secara biofisik sangat mahal dan memerlukan
tenaga profesional.
g. Antropometri
Parameter yang digunakan pada penilaian status gizi dengan
menggunakan antropometri adalah umur, berat badan, tinggi badan,
lingkar lengan atas, lngkar kepala, dan lingkar dada. Indeks
antropometri yang umum digunakan dalam menilai status gizi adalah
berat badan menurut umur (BB/ U), tinggi badan menurut umur (TB/
U), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Indeks BB/U
adalah pengukuran total berat badan termasuk air, lemak, tulang dan
otot, indeks TB/U adalah pengukuran pertumbuhan linier, indeks
BB/TB adalah indeks untuk membedakan apakah kekurangan gizi
terjadi secara kronos atau akut.

19

Tabel 2.1
Klasifikasi status gizi berdasarkan BB/TB menurut WHO-NCHS
Kategori

Persen terhadap median

Gizi Buruk

< -3 SD

Gizi Kurang

-3 SDs/d -2 SD

Gizi Baik

-2 SD s/d +2 SD

Gizi Lebih

>+2 SD

3. Faktor yang mempengaruh status gizi


Banyak faktor yang mempengaruhi status gizi seseorang, faktorfaktor yang mempengaruhi status gizi dibagi menjadi dua yaitu secara
langsung dan tidak langsung antara lain (Soekirman, 2000):
a. Faktor yang mempengaruhi secara langsung
Menurut Soekirman (2000), penyebab langsung timbulnya gizi
kurang pada anak adalah konsumsi makanan dan penyakit infeksi,
kedua penyebab tersebut saling berpengaruh. Dengan demikian
timbulnya gizi kurang tidak hanya karena kurang makanan tetapi juga
karena adanya penyakit infeksi, terutama diare dan ispa. Anak yang
mendapatkan makanan yang cukup baik tetapi sering terserang demam
atau diare, yang berdampak pada status gizinya menjadi kurang,
sebaliknya anak yang tidak memperoleh makanan cukup dan seimbang
daya tahan tubuhnya dapat melemah. Dalam keadaan ini anak akan
mudah terserang penyakit dan kurang nafsu makan sehingga anak
kekurangan makanan. Akhirnya berat badan anak menurun, apabila
keadaan ini terus berlangsung anak akan menjadi kurus dan timbullah
masalah kurang gizi.
b. Faktor yang mempengaruhi secara tidak langsung
1) Pola asuh gizi
Pola asuh gizi merupakan faktor yang secara tidak langsung
mempengaruhi konsumsi makanan pada bayi. Dengan demikian
pola

asuh

gizi

dan

faktor-faktor

yang

mempengaruhinya

20

merupakan faktor tidak langsung dari status gizi. Adapun faktorfaktor yang mempengaruhi pola asuh gizi sudah dijelaskan diatas
diantaranya : tingkat pendapatan keluarga, tingkat pendidikan ibu,
tingkat pengetahun ibu, aktivitas ibu, jumlah anggota keluarga dan
budaya pantang makanan.
2) Jarak kelahiran yang terlalu dekat
Jarak kelahiran akan mempengaruhi status gizi anak dalam
keluarga. Dengan adanya jarak kelahiran yang dekat maka
kebutuhan makanan yang seharusnya hanya diberikan pada satu
anak akan terbagi dengan anak yang lain yang sama-sama
memerlukan gizi yang optimal. Anak yang berusia dibawah lima
tahun masih sangat memerlukan perawatan ibunya, baik perawatan
makanan maupun perawatan kasih sayang. Jika dalam masa tahun
ini ibu hamil lagi maka bukan saja perhatian ibu terhadap anak
menjadi berkurang akan tetapi AS1 yang masih aktif sangat
dibutuhkan anak akan berhenti keluar. Anak yang belum
dipersiapkan secara baik menerima makanan pengganti AS1 yang
kadang-kadang mutu gizi anak makanan tersebut juga rendah. Hal
ini akan menyebabkan status gizi anak kurang (Moehji, 2002).
3) Sanitasi lingkungan
Sanitasi lingkungan memiliki peran yang cukup dominan
dalam penyediaan lingkungan yang mendukung kesehatan anak
dan tumbuh kembangnya. Kebersihan baik kebersihan perorangan
maupun lingkungan memegang peranan penting dalam timbulnya
penyakit. Akibat dari kebersihan yang kurang maka anak akan
sering sakit misalnya diare, kecacingan, tifus, hepatitis, malaria,
demam berdarah dan sebagainya. Demikian pula dengan polusi
udara baik yang berasal dari pabrik, asap kendaraan atau asap
rokok, dapat berpengaruh terhadap tingginya angka kejadian ISPA
(Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Kalau anak sering menderita
sakit maka tumhuh kembangnya terganggu (Soetjiningsih, 2001).

21

4) Pelayanan kesehatan
Upaya

pelayanan

kesehatan

dasar

diarahkan

kepada

peningkatan kesehatan dan status gizi anak sehingga terhindar dari


kematian dini dan mutu fisik yang rendah (Aritonang, 2003). Peran
pelayanan telah lama diadakan untuk memperbaiki status gizi.
Pelayanan kesehatan berpengaruh terhadap masalah kesehatan
terutama masalah gizi. Pelayanan yang selalu siap dan dekat
dengan masyarakat akan sangat membantu dalam meningkatkan
status kesehatan masyarakat.

Dengan pelayanan kesehatan

masyarakat yang optimal kebutuhan kesehatan masyarakat akan


terpenuhi. Salah satu bentuk pelayanan kesehatan yaitu kegiatan
posyandu yang dapat memantau pertumbuhan dan perkembangan
anak balita dengan penimbangan berat badan (BB) secara rutin
setiap bulan.
5) Stabilitas rumah tangga
Stabilitas dan keharmonisan rumah tangga mempengaruhi
tumbuh kembang anak. Tumbuh kembang anak akan berbeda pada
keluarga yang harmonis dibandingkan dengan mereka yang kurang
harmonis (Soetjingsih, 2001).

22

D. Kerangka Teori
Jarak
Kelahiran

Pola
Asuhgizi

Virus

KH
Konsumsi
Makanan

Bakteri
Sanitasi
Lingkungan

Infeksi
Pelayanan
Kesehatan

Status
Gizi

Stabilitas Rumah
Tangga

Kejadian
Bronkopneumonia
Non Infeksi
Disfungsi Mental atau
Refleks Esophagia

Gambar 2.1. Kerangka Teori

E. Kerangka Konsep
Variabel Independent

Variabel Dependent

Tingkat
Kecukupan
Kharbohidrat

Kejadian
Bronkopneumonia

Status Gizi
Gambar. 2.2 Kerangka Konsep

F. Hipotesis Penelitian
Ho : 1. Ada perbedaan tingkat kecukupan Kharbohidrat dengan kejadian
Bronkopneumonia pada balita berdasarkan usia 1-5 tahun di Puskesmas
Purwoyoso Semarang.
2.

Tidak ada perbedaan status gizi menurut BB/TB dengan kejadian


Bronkopneumonia pada balita berdasarkan usia 1-5 tahun di Puskesmas
Purwoyoso Semarang.