You are on page 1of 41

Dengan demikian tidak tertutup kemungkinan didalam mengolah data atau analisis terdapat ketidak cermatan. Pada tahun ke dua (2005) telah pula dilaksanakan penelitian dengan menetapkan enam daerah penelitian yakni. Teman-teman peneliti dan Karyawan di P20-LIP1 yang telah membantu tugas penelitian elasmobranchii ini atas nama tim kami mengucapkan terimakasih. Kalimantan Timur (Samarinda) dan Kab. perguruan tinggi. Propinsi Jawa Timur. Laporan akhir ini adalah merupakan laporan kumulatif yang dirangkum dari seluruh hasil kegiatan selama 2004 s. BpklIbu Tim Monitoring d m evaluasi (Monev) Serrsus Biota Laut. Batang (Jawa Tengah). Jakarta. Kalimantan Barat (Pontianak). Kalimantan Tengah (Palangka Raya). Pada tahnn pertama (2004) telah dilakukan di beberapa daerah di Pulau Jawa. dan Propinsi Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB).Tim Peneliti. Kegiatan peyusunan laporan akhir ini teIah dilakukan dalam waktu terbatas. dan terimakasih sebesar-besamya atas bantuan dan kerjasamanya.Propinsi Banten. Propinsi Jawa Barat. untuk itu kami menyampaikan rasa hormat yang setinggi-tinggi tingginya. Sensus Biota Laut CoML Lembaga llmu pengetahuan Indonesia. 27 Juli 2008. Selama kegiatan dan survey lapangan Tim survey telah mendapat sambutan baik dan bantuan moril ataupun materil dari berbagai pihak mulai dari jajaran imtansi terkait. Untuk tahun ke empat atau terakhir (2007) penelitian difokuskan hanya di Kab. Kepada Bpk. Untuk tahun ke tiga (2006) dilakukan penelitian di empat lokasi yakni. H a d yang disajikan meliputi h a d kegiatan dilapangan dan analisa di laboratorium P20-LPI. Priyo Agustono Asep Rasyidin . Propinsi DIJokyakarta.Irma Sita Ar1izaM. Untuk itu atas nama tim kami dengan segala seuang hati akan menampung sernna kritik dan saran demi penyempurnaan dimasa yang akan datang. Bpk Deputy IPK-LPI. Kalimantan Barat (Pontianak). Bali dan Lombok .Phi1. Propinsi DKI-Jakarta.2007). Batang (Jawa Tengah). Mohammad Adrim Drs. Batang). Kalimantan Selatan (Banjarmasin). Propinsi Banten (Serang). Kalimantan Timur (Samarinda) dan Propinsi Jawa Tengah (Kab. sampai masyarakat nelayan setempat di sentra-sentra produksi. Semoga laporan ini &pat mencapai tujuan dan sasarannya sehingga bermanfaat adanya. Bpk Koordinator Sub-program Sensus Biota Laut. Drs.s~. merupakan salah satu diantara beberapa kegiatan pada Proyek Kompetitif Pengembangan Iptek.d 2007. Propinsi Jawa Tengah. Bpk Kapusfit Oseanografi LPI. Indra Aswandy Fahmi Spi. M. Mudahmudahan dalam waktu tidak terlalu lama segala kekurangan akan dapat disempumakan dalam publikasi-publikasi ilmiah oleh para peneliti yang telah menangani penelitian ini. Kepala LIPI. Kegiatan penelitian ini adalah rencana penelitian empat tahunan (periode 2004 . Propinsi Bangka Belitung (Pangkal Pinang). Dra.KATA PENGANTAR Penelitian Keanekaragaman Hayati Ikan Hiu dan Ikan I h n Pari (Elasmobranchii) di Indonesia. Akhir kata kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terlaksananya kegiatan penelitian.

.

.

.

khususnya yang bersumber pada protein hewani ikan laut.d 2007..LIPI.dampak negatif yang diduga akan tejadi misalnya pembatasan perdagangan oleh masyarakat dunia intemasional terhadap produk elasmohranchii asal Indonesia. hasil dari kegiatan penelitian nantinya diharapkan dapat memberi masukan (solusi) berharga dalam upaya menciptakan ketahanan pangan dan keamanan pangan secara nasional.(TPI) dari berbagai sentra produksi di Indonesia (Gambar 1). 4 . Teknik tersebut mengikuti cara yang digunakan White et al. ldentifikasi species hiu dan pari dilahkan dilapangan secara cepat dan tepat (rapid ussessment) dengan teknik yang telah dikuasai. Gambar 1 : Lokasi tempat penelitian ( & ) ikan hiu dan pari (Elasmobranchii) di TPI tahun 2004 s. (2006). Terkait uraian diatas. Pengumpulan data primer dengan melakukan hnjungan ke sentra produksi di Tempat Pendaratan Ikan. 2. Kegiatan PeogumpuIan data: Kegiatan pengumpulan data dilapangan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: 1. Bagi ikan-ikan yang ternyata memang sangat sukar diidentifikasi dilapangan akan dianatisis atau diidentifikasi di Laboratorium P20 .

.

.

.

Himantura gerrardi. Last & Dharmadi. dun Himantura jenkinsii. Di Kalimantan Timur dijumpai 20 jenis (125 indiv). Samuda. Hasil tersebut diduga merupakan catatan barn (new record). penelitian di fokuskan di Kab. Glyptys sp. terdiri dari 18 jenis hiu & 24 jenis pari. terdiri dari 14 jenis hiu & 12 jcnis pari. Jenis yang menonjol. Dasyatis kuhlii . Pada tahun 2006 di Batang di jumpai 29 jenis (3. terdiri dari 3 jenis hiu &I6 jenis pari. Himantura gerrardi. Penelitian elasmobranchii di Kab. Paragaleus tengi. Jenis-jenis yang dominan adalah.Himantura uarnak. 2006 new species Atelomycterus baliewis White. Jenis dominan Dasyatis kuhlii.H~manturapastinacoides.367 indiv) terdiri dari hiu 10 jenis & 25 jenis pari. Dasyatis kuhlii . diduga sebagai "new species" di jurnpai di Kcc. Jenis dominan. Sampit. terdiri dari 6 jenis hiu & 14 jenis pari. dan Dasyatis zugei. Dasyatis kuhlri. Lombok Rhinobatospenggali Last.591) terdiii dari 8 jenis hiu & 21 jenis pari. Himantura pastinacoides. Jenis-jenis dorninan adalah. Batang dan jenis Himaniura gerrardi merupakan jenis yang utama untuk didalami aspek biologi dan perikanannya. Carcharhinus brevipinna. Beberapa jcnis diantaranya yakni. Himanturajenkimzi dan Scoliodon iaticaudus. Aetoplatea zonura. Jenis pari Himantura gerrardi (dorninan) mencapai 64 % dari total individu pari dan hiu. Dasyatis kuhlii. Jenis elasmobranchii lainnya dijumpai sebanyak > 27 jenis (8. Di Kalimantan Tmur dijumpai 26 jenis (554 indiv). White & Fahmi.670 indiv). dari hasil pengamatan di Kalimantan Barat diperoleh 19 jenis (370 indiv) elasmobranchii. Dari hasil identifiasi selama penelitian bcrlangsung. Hirnantura walga. Kab. 2008 new record Dasyatis microps (Annandale. dan Himantura jenkinsii. Jenis dominan Himantura gerrardi (sparse). Tahun 2007. Rata-rata tiap kapal mendaratkan antara 5-15 jenis elasmobranchii per unit kapal. dan Pastinachus solocirosiris. Batang Jawa tengah pada tahun 2005 berhasil menjumpai 35 jenis (14. 2005 new record Squatina legnota Last & White. Aetoplatea zonura. 1908) 3 new record + + + . Di Kalimantan Barat dijumpai 42 jenis (759 indiv). dan bahkan berpotensi menghasillcanjenis baru (new species). dijumpai berbagai jenis yang tidak tercantum didalam publikasi yang ada. baik jenis dan juga sebarannya. H~manturagerrardi. Jawa. dan Carcharhinus sorrah.Himantura uarnak. Tahun 2006.

Manjaji & Yearsley. dan di Kalimantan Barat (Sei Kakap) di jumpai ukuran maksimum ikan jantan (8) mencapai 465 mm dengan berat 3. dalam Carpenter (1999) ukuran maksimum ikan tersebut adalah 900 mm.5 kg.juga m e ~ p a k a njenis dominan dan umum dijumpai di Indonesia.cfpowelli (Alcock. 2005 record Paragaleus tengi 3 new record + + new Ukuraa tubuh (size): Hasil pengamatan di lokasi pendaratan ikan di Utara Jawa Tengah menunjukkan bahwa Ran Pari daii jenis Da~yatiskuhlii (jenis dominan) tertangkap oleh nelayan &lam ukuran bervariasi antara 170 .Ukuran tubuh ikan yang tertangkap berkisar antara 130 . 1898) new record Dipturus johunnisdavisi Alcock. Di Kalimantan Timur (Manggar) ukuran ikan tersebut mencapai 395 mm. 1899 new'record Megachusmapelagios White. poss. Ikan pari b i t i k (kernbang) dari jenis Himantura gerrardi . dalam Carpenter (1999) ukuran maksimum ikan tersebut adalah 380 mm. Banten dan Kalimantan Timur temyata ikan jenis tersebut masih dijumpai bemkuran >950 m m dengan berat 29.889 mm (WD) dengan berat 0. Hasil tersebut temyata lebih rendah dari ukuran maksimum yang pemah dijumpai &lam penelitian sebelumnya. Di Laut Jawa dan sekitamya boleh dikatakan populasinya melimpah.8 kg. .5 kg. Menurut Last d m Compagno. Adrim & Sumadiharga +new record Deania calcea +new record + + Kalimantan Glyphis sp.350 mm (WD). Hasil tersebut mempakan record bam dalam dunia ilmu pengetahuan. Walaupun tertangkap secara intensif.35 - 29. tetapi dari hasil penelitian dibeberapa lokasi seperti di Prop. Beberapa jenis elasmobranchii yang dijumpai dalam ukuran maksimum melebihi catatan ukuran FA0 dan merupakan temuan penting disajikan pada Tabel 2. Hasil tersebut me~pctkanrecord baru lagi dalam dunia ilmu pengetahuan. Menurut Last dan Compagno.Okamejei cf boesemani (Ishihara. Kasil tersebut mengindikasikan bahwa populasi Dasyatis kuhlii di perairan Laut Jawa tengab mengalami tekanan (depleting). 1852) 3 new record Himantura lobistoma+ new record Pastinachus solocirostris Last. Fahmi. 1987) 3 new record 0. Hal tersebut memberikan indikasi bahwa populasi di daerah penangkapan masih alami. New species Himanturapastinacoides (Bleeker.

Batang Gymnurapoecilura Dasyatis microps 2320 Kab.Batang Prop.Jak . Batang Aetomylaeus nichofii 870 Kal-Sel 910 Kal-Sel Aetomylaeus maculatus I Aetoplatea zonura Kab. Babel I Himanrura gerrardi 1 1040 Himantura granulata 1 1040 Himanturajenkinsii Himanturafai Banten Himantura irnbricata Himantura toshi Himantura uarnacoides 1200 Kal-Sel Kal-Sel Kab.d.Tabel 2: Temuan penting tentang ukuran tubuh (size) ikan jenis-jenis tertentu dari elasmobranchii yang melampaui ukuran tubuh (mm)temuan F A 0 1998. Ukuran tubuh maksimum Hasil penelitian 2004 s.Batang Rhizoprionodon oligoIim 730 Scoliodon laticaudus 770 DKI.1999 (mm) - 1120 850 Aetomylaeus milvus 510 Kab. 2007 (mm) SPECIES Aetobatus guttatus ] - - Ukuran tubuh maksimum FA0 1998.

1851.l % saja dari total betina yang ada. terutama di Laut Jawa dan sekitarnya.I Temuan penting lainnya adalah tentang ikan langka hiu gergaji dari jenis Pristis microdon Latham. Ikan jenis ini dijumpai 5 319 individu (ikan yang dapat diamati). Q : $ = 1 : 2. 2 & 1. hanya terdapat satu ekor saja individu ikan tengah bunting berarti hanya sebesir 2. Angka perbandingan tersebut t e r i n d i i dari jumlah anak atau embryo (9 & $ . Namun dari estimasi diperkirakan sekitar 2. namun penelitian lanjutan amat diperlukan terutama guna pembuktian iimiah yang lebih akurat tentang reproduksinya.515 individu yang . dan I Rhrzoprronodon cf.6. Ikan pari jenis Dasyatis kuhlii. 3 & 2.6 kg. Kondisi seperti itu secara alami tingkat reproduksi dari jenis tersebut lebii tejamin. dan umum dijumpai. Carcharhinus amblyrhynchos. bahwa populasi betina lebih besar dari populasi jantan. Ikan pari jenis Dasyatis kuhlii dan Himantura gerrardz adalah jenis dominan.2 dijumpai individu yang hamil * 9 % dari populasi.d. secara berurutan jumlah anak (bayi) yang dikandung $2 dan $ adalah 1 & 2. Ukuran tubuh ikan tersebut diperkirakan 5 7 meter dengan berat *I ton. 3 & 2) yang dijumpai pada induk dewasa pada ukuran 910 mm. Indikasi ini menunjukkan bahwa refatif amat rendah tingkat reproduksi untuk berkembang biak bagi hewan-hewan tersebut. Lebih besarnya populasi ikan Q dibandingkan dengan populasi $ tercennin dari embryo yang ada yakni 2 dan 1. Dari 47 individu 9 jenis Paragaleus tengi yang dijumpai. Ikan jenis tersebut tertangkap di perairan sekitar Toboali (Selatan Pulau Bangka). Pada ha1 dari segi ukuran tubuh (TL) dari data yang diperoleh angka kisaran amat beragam yakni atara kisaran 350 s. 925 mm TL. acufus rasio populasi betina dan jantan adalah Q : 8 = 1 : 7. Ikan hiu dari jenis Carcharhinus amblyrJgmchos dengan ratio kelamin. Ratio kelamin pada ikan hiu jenis Paragaleus tengr adalah 9 : $ = 1 : 0. Oleh sebab itu dapat diusulkan untuk dijadiian parameter dalam kajian terhadap pengelolaan elasmobranchii. Untuk hiu pisang dari jenis Rhizoprionodon cf. Reproduksi & Ratio kelamin: Di Kaltim tiga jenis ikan pari dan hiu yang didapsti tengah bunting yakni dari jenis Paragaleus tengi. tertangkap oleh nelayan diperairan Prop.7.3 meter. Bangka Belitung. dengan berat 3. dan 1 acutus. Ukuran moncong yang diperoleh mencapai panjang 1.

0 kg. temyata memiliki komponen makanan yang beragam. mata belo (Primanthus sp). setelah itu krustase yang terdiri dari Paneid.3 kg.345 mm @W).889 mm @W). dengan ukuran klasper 16.). than betina memiliki kisaran ukuran tubuh antara 103 . Dengan demikian total ikan pari dari jenis D.23. dan lain-lain. Ukuran tubuh berkisar antara 180 .16.O mm (FC). Dari seluruh ikan jantan yang dijumpai tersebut. Jika dilihat dari berat basah (biomas) maka bagian utama makanannya adalah ikan.3 .834 individu.l .42.0. krustase. Komponen makanan yang diperoleh &pat menberikan indikasi tentang habitat dimana ikan pari tersebut hidup. Untuk ikan betina yang tengah mengandung bayi (bunting) dapat terdeteksi sebanyak 18 individu pada ukuran 2540 mm (DW). Untuk ukuran individu yang tergolong pradewasa (MC) panjang klasper berkisar antara 24.46 mm (FC).0. Ikan pari dari jenis Himantum uarnak. Himantura uarnak. hanya separuh (50%) yang telah dewasa (FC). antara lain ikan. Ukuran klasper jantan belum dewasa (juvenile) berkisar antara 7. ukuran klasper dewasa berkisar antara 35 .l . Angka rasio jantan dengan betina adalah $ : Q = 1 : 1.84. Squid. Perbandingan ikan 3 : 9 adalah 1 : 1. Kisaran berat 0.s mm (NC) deugan ukuran tubuh < 490 (DW). biji nangka (Parupeneus spp). Crab. Ukuran tubuh ikan tersebut ketika mulai dewasa adalah mencapai 2190 mm (DW). dengan kisaran 420 . Untuk ikan 3 yang telah matang klasper (FC) dijumpai pada ukuran 2 490 mm (WD). Kisaran ukuran tubuh adalah 165 antara 0. cumi.470 mm @W).17. Komponen biota hasil analisis lambung yang di jumpai seperti.319 individu.tidak terpantau secara tepat. Ikan pari jenis Himantura gerrardi: Selama penelitian ikan jenis tersebut dijumpai sebanyak & 2. kuhlii yang didaratkan di TPI * 2. Hasil dari dua jenis ikan pari Himantura uamak dan Himantura fai dapat diduga bahwa kedua hewan tersebut hidup di dasar perairan pada daerah berlumpur.84.705 mm (DW).5 mm (FC).' serak . Makanan (Stomach content): Analisis dari sampel isi perut dilakukan pada kelompok ikan pari dari beberapa jenis yakni. Berat tubuh berkisar . ekhinodermata. Tubuh ikan betina berkisar antara 180 . selebihnya pradewasa (NFC).899 mm. Dari pengamatan isi peNt ikan tersebut dijumpai komponen makanan. layur (Trichiurus spp. Ukuran klasper dewasa berkisar antara 32. Stomatopoda. dl1 Tabel 3. Untuk ikan jantan.2 .4 . sedangkan juvenil (NC) tidak dijumpai.

. Dari komposisi makanan tersebut dapat pula di yakini bahwa ikan pari tergolong hewan pemangsa utama di dasar perairan yang berada pada level teratas (Top karnivor) dalam suatu rantai makanan dialam. Kelompok ikan tersebut antara lain. 1850) NANNOSQUILLIDAE Manning. dan lain-lain & 8 %. dan dari udang-udangan (Paneide) seluruhnya mengidikasikan ha1 tersebut diiana biota yang dimakan hidup di dasar perairan penghuni daerah berlumpur.ti 13 ( Charybdis variegata 14 _] Porfums sp.. 1 LEUCOSIIUAE 19 1 Leucosia sp. Sisanya terdiri kelompok kepiting. Kemudian disusul kelompok cumi sebesar 9 %. 1980 Acanthosquilla multifarciala 1 12 BRACHYURA 1 DADTI I ". udang-udangan. Batang Jawa Tengah. Parupemus sp. Nemiptem sp.\I mmn A c "IYI"?. CALAPPIDAE Cdappa lophos (Herbst. Scolopsis sp... Untuk hasil analisa lambung " somach contenf' dari ikan pari jenis Himantura fai tenyata terdiri dari 83 % komponen ikan-ikan dasar. Tabel 3: Jenis-jenis kmstase yang terdapat dalam isi lambung (stomach content) ikan pari dari jenis Himantura uarnuk yang didaratkan di TPI-Klidang Lor. 1 )? 1 . Udang pletowpengko Udang p1elotdpengko ODONTODACTYLIDM2 OdontodacryIus cultriJer (White.(Scolopsis sp). 1785) 15 - I ( Rajungan Rajungan Kepiting MACRURA PFNAFlnAF. dl]. Priacanthus sp.

catrang. Marabatua (Kalsel). Waktu tersebut termasuk pejalanan pulang pergi. Keramean. E. Salah satu diantara kapal motor yang mengoperasikan Pukat Cantrang m e m i l i spesitikasi sbb. Tarikan jaring (haul) dilakukan 6 s. Lokasi daerah penangkapan (fishing ground) nelayan catrang memang tergolong jauh. Lambao (Kalmantan Selatan).Lokasi penangkapan (fishing ground)'& alat tangkap: Lokasi penangkapan elasmobranchii sesungguhnya amat terkait denganpenangkapan ikan lain (teleostei) yang menjadi target penangkapan ( biasanya dengan ikan-ikan dasar demersal). Panjang lunas 17 meter. Pada penelitian yang dilakukan di Kab. Natuna dan perairan Tmur Madura dsb. Mesh berukuran 70 GT dengan merk NISAN 8silinder. Tetapi umumnya berkisar antara 20 hingga 22 hari melaut termasuk lamanya waktu diperjalanan pulang pergi. BBM yang dibutuhkan selama beroperasi sebanyak 40 drum. Batang adalah armada pukat catrang merupakan contoh kasus untuk kapal penangkapan berukuran besar.d. Kalimantan.s dibutuhkan sebagai bahan pendingin 45 ton. Kapal motor tersebut dioperasikan oleh 16 personil ABK yang trampil. Beberapa diantara lokasi penangkapan yang umumnya mereka datangi antara lain. Karimun (Laut Jawa sebelah T i u r ) . biasanya pemilihan lokasi baru tersebut bedasarkan kebiasaan ketika telah sekian lama satu lokasi tertentu tidak didatangi. lampara dasar. Ketapang. Sedikitnya lama wakht penangkapan berlangsung kurang lebih 15 hari. Apabila suatu lokasi sudah dikunjungi untuksatu kali "fishing ground'. dsb). 10 bahkan kadang-kadang hinggal2 kali satu . Hampir seluruh perairan Laut Jawa dan'sekitarnya dapat dikatakan daerah "fishing ground" bagi nelayan pukat dasar ( semi trawl.Kambing (Perairan Timur Madura). berukuran panjang 20 meter. Alat tangkap pukat catrang (semi trawl) yang doperasikan dikedalaman & 20 depa setara dengan 30 meter. Kapal-kapal besar beroperasi ke tempat-tempat yang lebih jauh bahkan mencapai perairan Papua atau Indonesia bagian Timur lainnya. Lamanya waktu operasional paling lama selama satu bulan (30 hari). berikutnya mereka akan memilih lokasi barn yang kemungkinannya banyak ikan. Lebar 8 meter. Lokasi penangkapan mereka akan berubah-ubah setiap melaut tergantung cuaca dan kebiasaan mereka dalarn melaut. Karimata (Kaliantan Barat). Hasil penelitian di Kab. P. Selain itu juga meliputi daerah Matasiri. Serutu. Daerah penangkapan nelayan di Utara Pulau Jawa umumnya bergantung kepada besar kacil ukuran kapal. Batang dan DKIJakarta menunjukkan bahwa sebagian besar kapal >60 GT beroperasi mecapai P.

Setiap satu teteng memiliki 250 mata pacing.d 17 tenteng I piece. Dengan demikian kegiatan penangkapan hanya berlangsung selama siang hari. Ukuran panjang 10 m. UamacoidesP.hari. Hanya beroperasi tidak jauh dari pantai dan malah disenangi dekat hutan mangrovehakau. sebanyak 3 mata pancing dipasang tiap 1 m panjang tali Utama. gerrardi. H. Untuk aktivitas jam kerja para ABK dalam pemasangan jaring biasanya * 12jam untuk tiap hari yang dimulai sejak jam 6. Bayur. dan pada malam hari ABK dapat beristirahat.00 sore. Jaring di operasikan pada kedalaman laut 30 s.00 hingga jam 17. Nelayan tradisional pada umumnya melakukan penangkapan tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Mata pancing sekali gus didatangkan dari madura. MiringlKedutan. . Tj. Kape adalah di Muara Berau. Jaring yang digunakan sebanyak 15 piece. Daerah yang tersapu jaring diperkirakan sejauh 6 s. Daerah penangkapan lainnya terdapat di Selatan disebut Tj. dan unit GPS untuk mencari posisi. Satu kali tarikan jaring memakan waktu satu jam. Pancing rawai tersebut dibuat sendiri sedemikian rupa. Alat ditebar pada kedalarnan maksimum 3 m di mulut sungai Mahakam. Secam alami nelayan mewarisi ilmu melaut dari kebiasaan atau pengalaman turun temurun dari leluhur. Daerah musim berikutnya adalah Lapangan Tengah. Pelampung kecil dipasang tiap 14 mata pancing. Sekian). Teknik penangkapan diadopsi dari nelayan madura yang datang kesana untuk kerja sama.00 pagi hingga jam 18. Untuk menduga dasar perairan berlumpur atau tidak digunakan peta pelayaran oseanografi. nelayan tradisional melakukan aktivitas penangkapan menggunakan pancing rawai (rawai dasar). Berdasarkan pengalaman bertahun-tabun bagi nelayan catrang tidak sulit untuk menjumpai lokasi dengan dasar perairan berlumpur yang mereka butuhkan.5 m. Biasanya armada akan mencari lokasi yang memiliki dasar berlumpur untuk mengoperasikan jaring dasar tersebut. Panjang tali gantungan tiap mata pancing 30 cm.00 sore atau jam 5. Contoh kasus di Perairan Mahakam. Ajuh. Pantuan. Jenis-jenis umum yang tertangkap H. Penangkapan otomatis tidak dilakukan di Laut terbuka. Rata-rata tiap kapal dapat melakukan 8 kali tawur per hari.d 60 m. Lebar 1. Supatin (Tj. Selain armada besar diatas. Setiap perahu penangkap memiliki antara 15 s.d 9 detik atau rata-rata 8 detik dipeta (Map) navigasi pelayaran. Tj. sangat strategis untuk tempat melepas rawai. Hasil studi kasus dari Muara Mahakam. Pada saat bulan Oktober (Musim angin Selatan) daerah ini terlindung. Nelayan disana mengguuakan mesin perahu berukuran 24 pk merk Dompeng buatan Cina. Lokasi penangkapan nelayan Sei. daerah tersebut dikunjungi pada waktu musim Utara (praktis terlindung). sephen.

Pedamaran. Nelalan Mempawah paling jauh mereka beroperasi di sekitar P. Alat tangkap khusus yang digunakan untuk mendapatkan ikan pari di daerah ini yakni pancing rawai umpan. Hasil analisis dari 33 unit kapal penangkapan yang menggunakan pukat catrang di TPI Klidang Lor Batang. total jumlah mata pancing berkisar antara 500 s. Dari hasil analisis tersebut diketahui bahwa sebagai hasil sampingan kelompok elasmobranchii tersebut memberikan konstribusi yang sangat bewariatif yakni 0. Untuk setiap hari ikan elasmobranchii yang ikut dilelang rata-rata 13. 8 (1. Pengekek dengan lama waktu beroperasi mencapai 2 hari. Spesifikasi alat tersebut mtara lain. Muara Pegah adalah alur pelayaran bagi kapal yang melintas keluar masuk pelabuhan Samarinda.d. Kondisi tersebutlah yang mendorong para pengusaha armada penangkapan untuk megoperasikan alat catrang yang cukup efektif didalam memburu kelompok ikan pari di Laut Jawa dan sekitarnya. Tinggi tali pancing dari tali utama adalah 70 cm.1% dari hasil tangkapan per-unit. Panjang tali utama mencapai satu kilometer. Karena nilai jual dari sisi produk relatif tinggi maka Elasnlobranchii sumbangan pada pendapatan total keseluruhan usaha tangkapan naik jadi hasil utama. Ma. Elasmobranchii sebagai h a d ikutan (by cacth): Dari hasil tangkapan pukat cantrang diketahui bahwa kelompok elasmobranchii sebagai h a d sampingan yang memberikan konstribusi penting bagi usaha penangkapan. Temajo. Jarak antara satu mata pancing ke mata pancing lainnya yakni 1 meter.84. Muara Hulu Besar. Beberapa nelayan ada yang berani lebih jauh hingga P. P.d 20 meter. Lokasi tersebut menurut mereka adalah paling aman untuk kegiatan penangkapan ketika muncul Musim angin dari amh Utara Musim Utara).5 inch).3 % dari total ikan laut keseluruhan. Hulu Kecil. Pengah. Biasanya hanya 1000 buah. Jaring di operasikan pada kedalaman 10 s. Datuk atau P. 1000 buah. Ma.Burung (Bakapai). dengan ukuran pancingnya No. Hasil studi kasus lainnya di Perairan Mempawah juga salah satu diantara kondisi nelayan tradisional di Indonesia. .7 . Setinjam. P.

Riau Silip dan Belinyu. bagian lain yang dianggap tidak bernilai ekonomi terbuang menjadi l i b a h . hanya dapat tennanfaatkan sebagian tubuh tertentu belum dapat mencapai maksimum. seperti sirip. Bangka Belitung dan diperkirakan juga terjadi di berbagai tempat lain di Indonesia. tentang peran sosid ekonomi perikanan dan pemanfaatan ikan hiu dan pan yang tertangkap di Prop. sementara itu. minyak squalen.Aspek Sosial ekonomi: Hasil studi kasus tahun 2005. Di banyak lokasi. itu pun hanya untuk keperluan usaha yang tidak mendatangkan nilai tambah terlalu tinggi. Bangka Belitung &pat dikemukakan sebagai berikut: Peran sosial ekonomi perikanan elasmobrancii: Perikanan hiu dan ikan pari di Bangka Belitung memberikan kontribusi yang cukup signifkan terhadap perkembangan kinej a perikanan tangkap di daerah tersebut secara mum. Salab satu butir penting dalam IPOA adalah perlunya pencantuman klausul mengenai optimalisasi manfaat hiu yang tertangkap. perikanan ini diharapkan dapat mendongkrak perekonomian. jurnlah yang sangat dekat dengan angka rarnan yang tercatat pada TPI Pasir Putih. dengan demikian nilai tambahnya pun masih sangat terbatas. Dari total tangkapan yang telah berlangsung saat ini. yang didaratkan di lokasi-lokasi utama seperti Sungai Liat. Pangkalpinang. sejauh ini pengolahan produk hiu di Prop. nilai tersebut hanya memperhitungkan pemanfaatan sebagian (70%) tubuh ikan hasil tangkapan di perairan taut Bangka. perikanan hiu dan pan menyumbang secara signifikan nilai penerimaan hasil perikanan. Pada kenyataannya. Dari hasil pendapatan daerah terlihat bahwa total jurnlah penerirnaan dari perikanan hiu dan ikan pari yang didaratkan di Pangkalpinangdari tahun ke tahun berkisar antara 4 hingga 5 rnilyar rupiah. Di Bangka Belitung. Bersama pelaksanaan kegiatan perikanan tangkap lainnya. Pemanfaatanelasrnobranchii. Sebagai garnbaran besarnya kontribusi perikanan hiu dan pan tersebut adalah memperbandingkan besarnya nilai penerimaan yang diperaleh dari perikanan hiu dan pan dengan rarnan kotor yang diperoleh TPI terpenting di propinsi tersebut. Sejauh ini. Angka tersebut tentu akan bertambah besar apabila seluruh bagian ikan hiu dan pari hasil tangkapan telah termanfaatkan. bahkan ada laporan mengemukakan bahwa material sisa seringkali dibuang di laut. bagian tubuh yang dimanfaatkan tidak lebih dari 70 %. Limbah h a m diupayakan ditekan semaksimal mungkin sedangkan nilai tambah dari produk hams diupayaican setinggi mungkin. . penangkapan hiu bahkan dilakukan hanya untuk memdaratkan bagian tertentu dari tubuhnya yang paling bernilai ekonomis.

d. Pembuatan fillet ikan hiu Kegiatan pengolahan ini menggunakan bahan baku yang berupa ikan hiu maupun ikan pari. yaitu pengasinan (pengeringan). Pemanfaatan kulit ikan pari Keterampilan yang terbatas mengakibatkan pemanfaatan kulit pari hanya terbatas pada pengolahannya menjadi bahan setengah jadi. b.500kg. 40.000/kg apabila dijual di pasar. yang kemudian diekspor untuk konsumsi industri kerajinan. yang menggunakan bahan baku berupa ikan hiu segar dengan harga berkisar 10 sld 20 ribu rupiah per kg. Nilai jual bagian tubuh hiu ini sangat tinggi hingga mencapai Rp. Dengan nilai jual seperti itu. tetapi belum diupayakan secara serius.000.000 hingga Rp. Kegiatan inipun dilaksanakan dalam skala yang sangat terbatas.-kg.000. Pengeringan Kegiatan ini umumnya dilakukan oleh pengumpul. Pengasinan ini menggunakan bahan baku berkualitas tolakan (BSlreject). Pengeringan dilakukan untuk sirip hiu. dengan harga berkisar Rp. dan terasi. atau Rp. pengumpul memperoleh keuntungan signifikan c. pembuatan kerupuk ikan. 1. Pembuat fillet di Bangka Belitung pada umumnya addah pedagang ikan lang membuka usaha di pasar kota. yang diperoleh di TPI Pasir Putih.-kg. Potensi nilai tambah dari kegiatan ini sebenarya cukup besar yaitu mencapai Rp. abonikan. Produk bempa ihan pan asin dijual dengan harga Rp. 5. 17.Di Kota Pangkalpinang terdapat beberapa bentuk pengolahan ikan. 4.000kg di tingkat pengolah. Pengasinan Kegiatan ini dilaksanakan di satu unit pengolahan ikan pari yang berlokasi di Kota Pangkalpinang. Bentukbentuk pemanfaatan ikan pari dan hiu disana temyata relatif lebii terbatas dibanding bentuk pemanfaatan ikan lainnya. 1. Beberapa jenis dan status usaha dari kegiatan pengolahan untuk jenis ikan hiu dan pari &pat diiangkum sebagai berikut: a. Sistem pemasaran: Sistem pemasaran ikan pari di Kota Pangkalpinang dan Kabupaten Sungai Liat memiliki karakteristik sebagai berikut : .

untuk menghindari penolakan dari pasar luar negeri yang dituju. 3. Pada tingkat ini pasar yang terbentuk umumnya mengarah pada pasar persaingan sempurna. 2. Pengawasan mum yang Iebih rinci baru dilakukan ditingkat eksportir. Pelaku pasar yang terlibat dalam distribusi ikan pari di Kota Pangkalpinang dan Kabupaten sungai Liat terdiii dari nelayan. Nelayan bebas menjual hasil tangkapannya kemana saja sesuai harga kesepakatan antara nelayan dan pembeli (oligopson*). Dari h a d penelitian dapat disimpulkan bahwa: 1.I. tidak ada pejanjian bisnis yang menghamskan agen memasok ikan pari sesuai kebutuhan eksportir. Kegiatan pemasaran ikan pari mengalami perkembangan sejak awal Tahun 2005 seiring dengan kehadiran jaring dasar sebagai alat tangkap khusus penangkapan pari dan tingginya perrnintaan dari pasar luar negeri 2. Sifat ini mengakibatkan nilai produk perikanan sangat rawan terhadap pembahan mutu. Pengawasan Mutu &lum Rantai Petnusaran Pengawasan mutu terhadip suatu produk perikanan sangat penting dilakukan karena terkait dengan sifat produk perikanan yang mudah busuk (high perisable). Pada sistem pemasaran di Kota Pangkalpinang dan Kabupaten Sungai Liat penanganan h a i l tangkapan ikan pan melaui sistem rantai dingin (cool chain). pedagang pengecer. Namun kualitaskesegaran mutu hams disesuaikan dengan spesifikasiflcualifikasi pihak eksportir. Di tingkat . dan eksportir. pedagang pengumpul kecil (bakul). Antara pedagang pengumpul kecillagen dengan pedagang besarleksportir hubungan yang terjadi berdasarkan atas kepercayaan. Kegiatan pengolahan masih sangat tradisional dan keterampilan pengolah sangat terbatas akibatnya ikan pari wnumnya dipasarkan masih dalam bentuk utuh (primary product) dan dalam bentuk segar (untuk kulit). Nelayan belum dapat menikmati nilai tambah (added value) dari produk olahan karena keterbatasan pengetahuan dm keterampilan pengolahan. Pengawasan mutu secara biokimia maupun mikrobiologis tidak pernah dilakukan karena keterbatasan dan ketidakmampuan untuk melakukannya. pengawasan mutu hanya dilakukan secara organoleptik sederhana. Namun pada beberapa nelayan yang memiliki hubungadiatan hutang piutang antara nelayanlpemilik kapal dengan pedagang pengumpul maka hasil tangkapan umumnya dijual kepada pedagang pengumpul tersebut. pedagang pengumpul besar (agen).

888 kg. Kontribusi rata-rata pari Himantura gerrardi dari total tangkapan ikan pada tiap kapal cantrang yang didaratkan di TPI Klidang Lor adalah 9.62% dari total tangkapan ikan dan 42.32% di tahun 2007. Kontribusi terendah dari Himantura gerrardi terhadap total tangkapan kapal cantrang yang disurvei adalah 0. salah satu jenis dominan terpilih ikan pari dari jenis Himantura gerrardi tersebut menjadi fokus pengamatan. Untuk perbandingan ratio kelamin tersebut ikan betina lebih banyak. 4. Jenis ikan pari yang memberikan kontribusi terbesar berdasarkan biomas hasil tangkapan adalah jenis pari bintang.751 kg tiap kapal cantrang.37% pada tahun 2006 dan 15. Himantura gewardi.32 * 13. Hasil studi kasus selama penelitian telah dapat diidentifikasi sebanyak 2. .219 kg.nelayan ada kebebasan dalam menjual ikan pari tangkapannya sehingga struktur pasar yang terbentuk mengarah pada persaingan sempum. Hasil yang diperoleh dari tangkapan nelayan Catrang dan hasil tersebut sangat - bewariasi yakni berkisar antara 889 50.465 kg. Pengawasan mutu masih sangat terbatas hanya berupa uji organoleptik.3358 kg. Kelompok ikan pari memberikan kontribusi terbesar (lebih dari 95%) pada jenis ikan-ikan elasmobranchii yang tertangkap oleh jaring cantrang yang dioperasikan oleh nelayan Kab.46% (2007). Dengan demikian secara teoritis angka ratio tersebut tidak menguntungkan bagi populasi ikan jenis tersebut dimana perbandingan jumlah jantan dan betina tidak seimbang. Dari hasil tersebut juga terlihat bahwa elasmobranchii memberikan sumbangan sebesar 28. Jenis pari ini hampir selalu ditemukan dalam hasil tangkapan jaring cantrang di lokasi penangkapan nelayan-nelayan Batang dalam jumlah yang cukup signifikan. Jenis ikan pari dapat dianggap menjadi salah satu parameter bagi pengelolaan elasmobarnchii nantinya. Batang.8% pada tahun 2007. Sedangkan kontribusi tertinggi pada tahun 2006 adalah sebesar 65. Untuk hasil rata-rata tiap kapal diperoleh sebesar 9.68 + 10. Himantura gerrardi: Pada tahapan akhir kegiatan tahun 2007. gerrardi dari kelompok pari didaratkan sebanyak 13. dengan ratio kelamin ikan 8 : 9 adalah 83 1 : 1.2% di tahun 2006 dan 0. dengan hasil rata-rata 631 * 1093.182 indiv.159 kg dengan total keseluruhan (22 kapal) hasilnya adalah 206. Sebagai jenis yang dominan H.385 it 10.013 individu H gerrardi. pengawasan yang lebii ketat baru dilakukan di tingkat eksportir.

Terhimpunnya berbagai material koleksi dari berbagai jenis elasmobranchii di P20-LIP1 selama aktivitas penelitian berlangsung. gerrardi yang tertangkap oleh jaring cantmng di Batang m e ~ p a k a nukuran dewasa. d m H u m k dari berbagai unit populasi di Laut Jawa. Berdasarkan data yang diperoleh selama penelitian. Selama penelitian juga telah dikumpulkan pula i 70 sampel genetik 1 DNA dari beberapa jenis pari dan hiu tertentu yang diharapkan dapat memperbanyak koleksi genetik / DNA untuk keragaman genetik &an pari dan hiu terutama kemgamanan genetik ikan pari jenis Himmtura gerrardi. gerrardi menunjukkan bahwa bagian terbesar tenyata dari udang-udangan paneid (60 %). secara perlahan telah dapat melengkapi ruangan koleksi referensi biota laut P20-LIPI. sedangkan betina ukuran sekitar 600 mm.Adapun sebaran ukuran lebar tubuh H gerrardi yang biasa tertangkap oleh jaring cantrang adalah pada tahun 2006 dan 2007 adalah antara 400-600 mm. B0. Selama penelitian telah terkumpul pula * 152 specimen koleksi elamobranchii untuk dapat dijadikan rujukm dalam mendalami sistematik (taksonomi). gerrardi pa& tahun 2006 dan tahun 2007 tidak berbeda nyata (F=1. Beberapa sampel telah dianalisis dan telah di publiiasi pada majalah Oseanologi dan Limnologi di Indonesia (OLDI). kemudian disusul oleh kelompok kepiting (20 %). Dari hasil analisis makanan tersebut bahwa ikan pari menyenagi hidup di daerah lumpur yang juga menjadi kesukaan biota krustase pada umumnya. Hasil analisa makanan ikan pari dari jenis H. dan udang mantis sebanyak (14 %). Ukuran pada saat dewasa untuk ikan jantan diperoleh dari kondisi perkembangan alat kelamin jantan (klasper) bedasarkan tingkat pengapurannya (kalsiiikasi). Sisanya *6 % terdiri dari berbagai jenis hewan dan komponen fragmen material yang sukar di kenali. Koleksi referensi.06. Beberapa temuan penting diantaranya . Hasil uji analisis varians (ANOVA) menunjukkan bahwa rata-rata ukuran tubuh H. mengeras dan mengandung sperma. diketahui ukuran dewasa ikan pan jantan dicapai pada ukuran antara 430-530 mm. Ikan pari jenis Himantura gerrardi diketahui mencapai ukuran dewasa pada ukuran lebar tubuh 460-480 mm untuk jantan dan di atas 640 mm untuk ikan betina (White et al.05). dirnana ikan jantan dinyatakan dewasa apabila kondisi klasper telah membesar. Selebihnya dihampkan dapat dianalisis apabila Laboratorium DNA di P20-LIP1 telah terealisasi.. 2006b) sehiigga ukuran umum ikan pari H.

Da1am.] Yegara Jurnal White. W.specimen dari jenis Megachasma pelagios. Prosiding Pertemuan 5-6 Juli 2005. Surabaya 5-6 Juli 2005. Makalah ilmiah yang sudah terbit dan sedang dalam proses penerbitan untuk diiuat di majalah ilmiah dan seminar 1 symposium.B. Purnomo. 3an M. Indonesia Status perikanan hiu dan Pengelolaannya Pola pemasaran ikan pari (rays) di Kota Pangkal Pinang Propimi Bangka Urgensi Pemasukan aspek sosial ekonomi &lam "National Plan of Action" (Studi kasus Aspek Sosek Sumberdaya Elasmobranchii di Bangka Belitung). Indonesia .. 4. dkk. (No. Apriliani. T. 2005. Penulis Judul Artikel Voi.B. Publikasi ilmiah: Selama tahap awal kegiatan dari 2004 s.H. lkatan Sarjana Oseanologi Indonesia.1: 1-8 2005 ndonesia ndonesia W9. Bebempa diantara makalah yang mash dalam proses penerbitan pada editor majalah ilmiah tempat diterbitkan dan ada pula makalah yang sedang dalam proses persiapan akan di terbitkan di luar negri dimana pada mulanya makalah telah dibacakan pada seminar JSPS di Jokyakarta. T. M.d 2007 dapat pula dilaporkan berbagai publikasi ilmiah yang sudah terbit dan belum terbit. Adrim Pumomo.. No. Sumadhiharga Fahmi Dharmadi dan Apriliani T. dkk (e4. Prosiding Pertemuan [Imiah Tahunan IS01 2005. Adrim A Juvenile Megamouth Shark Megachasma pelagios (Lamniformes: Megachasmidae) From Northern Sumahia. Tabel 2. dan M. Adrim & K.H. Fahmi. 3ingapwa Oseana. Jakarta Da/am:Setyaw 2005 an W. Vol XXX. A..Setyaw an W. dan jenis-jenis hiu dan pari yang dikemukakan di atas sebagai "new record" tersimpan untuk bahan rujukan tersebut.

M. Jokyakarta. Studi pendahuluan Tentang Neptunus 13 (1): 2006 Komposisi jenis dan Majalah llmiah 71 . S. A.82 Kelimpahan Kelautan. Java Tengah.J. Ahmad arajallah. Irma. ahmi and M. Timur. Tibbetts Fahmi ndra Effendi Shita ulyza. Blaber. antar tiga karakter motif H dm 42: 2007 gerrardi Limnologi di 57-68. Adrim Fahi. Genetic diversity of some Hirnanfura species from Indonesia. ~ i ~ Reseaxh Journal.5 Adrim. and I. Adrim. Quensland Australia. S. dan M. Lgju perhimbuhan ikon dun kebiasaan makon ikon pan' H. Jakarta.M. umacoides yang didaratkon di TPI Klidang Lor Batang. 16s rRNA DNA Klasper dan Nisbah Kelamin Cucut Lanjaman (Carcharhinusfarciformis). drim ma Oseanologi Indonesia. Indonesia Divemi@. IPB Bogor LIPI-JSPS Joint Seminar on Coastal Marine cience. biology and utilization of chondrichthyons in west central Indonesian jkheries. Indonesia lndonesia Indonesia. from the Java Sea. berdasarkan 12s rRNA dan Indonesia. R. Thesis S1. Elasmobranchii Hasil Universitas Tangkapan Nelayan di Jawa Hang Tuah. Diet overlap and trophic shifts in four sympatric whiprays Himantura spp. M. h ~ - Thesis S2 dari sdr. di Univ. Surabaya Hubungan Xtilogenetik Oseanologi VOI XXXIII. 1 ~ i ~ ~ .

Diversitas ikan Pan di TERBlT Indonesia 2006 2. Connecticut (Canada). Poster-poster: 1. Mengikut sertakan mahasiswa dari perguruan tinggi baik sebagai S1. Untuk kegiatan kerjasama penelitian dengan pihak luar negri hmgga tahun 2008 di wilayah Kaliianta masih berlangsung. PPI. . UNLAM-Banjarmasin. PAKUAN dan IPB Bogor. Melakukan kerjasama penelitian dengan pihak luar negri: Dengan Univ. dan Sl(UN3RAW-Malang & IPB. Fahmi. Kinsten Jensen (Florida-Amerika). UNTAR-Pontianak. Melakukan kerjasama dengan BBRSEK-DKP.M. Adrim. CSIRO-Ausbalia. UNPAR-Palangkaraya. Diversitas lkan Hiu di Indonesia 2006 dm revisi 2008 2006 2008 dan Indonesia Kerjasama peoelitiao. Selama penelitian telah dilakukan berbagi kerjasama dengan berbagai instansi terkait. dan Inggeris. Kerjasama tersebut antara lain. atau PKL dari Univ. Mengikuti workshop elasmobranchii di Philippine (undangan IUCN).Muara Kintap KALSEL. Siti Balkis dan Dani. genetik IPB. Univ. dan bahkan dengan pihak luar negri. Mengikut sertakan mahasiswa program S2 (AustraliaIStaf Peneliti P20-LIPI). Melakukan kerjasama dengan Lab.Bogor).

2. pari lurnpur) merupakan jenis yang sangat umum dan melimpah populasinya terutama di perairan Laut Jawa dan sekitamya. Penangkapan ikan hiu dan pan terkesan sangat tidak selektif. gerrardi di peroleh petunjuk bahwa ada indikasi terjadinya trend penurunan.V. hanya sedikit sekali fauna elasmobranchii laut dalam. sparse spot. dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Ukuran tubuh ikan yang didaratkan di TPI sebagian besar tergolong b e ~ k u r a nrelatif kecil atau belum mencapai dewasa. akan terjadi .Hasil pengamatan terhadap tangkapan ikan pari jenis H.Kalimantan) masih terdapat populasi ikan yang masih alami dimana ikan hiu dan pari dapat melangsungkan siklus kehidupan secara optimum. KESIMPULAN DAN SARAN Dari hasil penelitian ikan hiu dan pari (Elasmobrabchii) pada 14 lokasi di Indonesia (2004 -2007). 3. Hal tersebut meNp&an rekor baru dan mempakan hasil penting terutama &lam memberikan indikasi bahwa di beberapa daerah tertentu di Indonesia (contoh. Keadaan seperti itu semestinya dapat diiubah melalui penyuluhan-penyuluhan kepada masyarakat nelayan tertama berkaitan dengan sifat biologi ikan-ikan elasmobranchii yang memiliki fekunditas yang rendah. Hasil uji DNA menunjukkan bahwa ketiga corak warna tubuh yang berbeda (full spot. Hasil tersebut sebagian besar berasal dari jenis-jenis yang mendiami laut dangkal. dan no spot) dari jenis yang sama (satu jenis/species). dan Dasyatis zugei. Pada ha1 fauna elasmobranchii laut dalam di Indonesia diduga jauh lebih be~ariatif. Keanekaragaman jenis ikan bertulang rawan hiu dan pari di Indonesia sangat tinggi yakni mencapai 128jenis yang tergolong 25 suku dan 9 bangsa (Ordo). Jika keadaan demikian terns berlanjut proses pemulihan stok ((recovery) dialam akan terhambat dan cepat atau lambat degradasi yang mengancam pelestarian (sustainability). Beberapa jenis dari ikan hiu dan pari yang dijumpai selama penelitian diperoleh dengan ukuran melebihi ukuran maksimum yang selama ini diketahui. 4. Jenis Himantura gerrardi (pari pasir.Untuk itu penelitian biodiversitas elasmobranchii di Indonesia pada waktu mendatang diharapkan lebii berorientasi kepada laut &lam (laut jeluk). Tiga jenis pari paling dominan dijumpai selama penelitian adalab. Himantura gerrardi Dasyatis kuhlii.

dan pemanfaatan sumberdaya berkelanjutan. dalam kaitannya dengan penggunaan alat yang tidak tergolong ramah lingkungan. biologi. Bahan tersebut menjadi konsep rekomendasi untuk laporan kumulatif dengan beberapa tambahan yang diperlukan untuk penyempumaan. langkah yang telah ditempuh oleh masyarakat ihniah tersebut berhasil menggugah F A 0 (Food and Agricultural Organization) untuk m e ~ m u s k a n . Armada perikanan Canhang adalah penghasil utama produk Elasmobranchii dari Laut Jawa yang dihasilkan dari by catch. kecenderungan terharu menunjukkan adanya peningkatan intensitas penangkapan di seluruh dunia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum ikan-ikan elasmobranchii tidak mengikuti pengaruh musim. Hal ini terutama didorong oleh terbukanya pasar intemasional dengan harga yang semakin kompetitif. Konsep pengelolaan yang ditawarkan: Perkembangan perikanan elasmobranckii. Faktor utama yang mempengaruhi naik turunnya produksi hiu dan pari di Laut Jawa adalah kegiatan upaya penangkapan. Meskipun penangkapan hiu dan pari telah dilakukan sejak berahad-abad. terkait dengan kematangan seksual yang lambat dicapai d m sedikitnya anakan yang dihasilkan meskipun tingkat mortalitasnya rendah.5. perikanan dan pemerhati masalah lingkungan. Ikan elasmobranchii pada umumnya menunjukkan laju pulih yang lambat karena produktivitasnya rendah. pertumbuhannya. dan kehidupan elasmobranchii. Rekomendasi: Rekomendasi yang disajikan sejak laporan M i 2006 dan disempumakan hingga 2007 dengan perbaikan redaksi. kekhawatiran tersebut terutama dikaitkan dengan beberapa karakteristik reproduksi. Pengoperasian pukat Canhang memerlukan kajian mendalam bagi pakar perikanan. Pertimbangan-pertimbangan di atas merupakan bagian penting dari alasan yang telah mendorong masyarakat perikanan dunia yang tersebar di berbagai kawasan untuk mendorong sebuah kesepakatan tentang pengelolaan sumberdaya h i . Dalam perkembangannya. terutama ikan hiu dan pari. yang diikuti penggunaan teknologi yang semakin efektif dan wilayah penangkapan yang semakin meluas. Musim penangkapan dapat berlangsung sepanjang tahun. Dan sudut pandang biologi. telah memunculkan kekhawatiran masyarakat.

Seberapa besar manfaat yang bisa diambil. jika dibandingkan dengan penurunan potensi sumberdaya perikanan hiu dan pari tersebut. Aspek sosial ekonomi terkait dengan kontribusi dan peran penangkapan hiu d m pari terhadap sejurnlah besar nelayan penangkap juga perlu dikaji agar konsep pengelolaan yang ditawarkan lebih optimal. Garis besar tersebut lebii lanjut dikembangkan melalui suatu sen diskusi yang dilangsungkan di Tokyo dan Roma. Natuna dan sekitarnya) akan mengalami ha1 yang serupa. International Plan of Action for Conservation and Management of Sharks (LPOA-SHARKS). Beberapa wilayah perikanan Indonesia menunjukkan kondisi "depleting" yang mengakibatkan kegiatan penangkapan beralih ke lokasi perairan yang masih banyak sumberdayanya. Contoh kasus misalnya. nelayan-nelayan di Kabupaten Batang melakukan ekspansi penangkapan hingga ke perairan Pulau Kalimantan karena kondisi perairan sekitar sudah melampaui batas tangkap lestari. ukuran. Pembatasan jumlah hasil tangkapan (pemberian kuota) juga dapat dilakukan sebagai salah satu langkah awal untuk pengelolaan perikanan hiu dan pari. Istilah 'shark' dalam kesepakatan tersebut mencakup spesies-spesies yang tergabung dalam kelas Chondroichthyes. Berbagai informasi seperti data hasil tangkapan (jenis ikan. jika tidak diterapkan konsep pengelolaan yang optimal. Bukan tidak mungkin beberapa tahun kedepan. yaitu berbagai jenis ikan hiu dan pari.Kalimantan. dsb). daerah tangkapan (fishing ground) serta upaya penangkapan (effort) mempakan informasi kunci untuk dapat membuat konsep pengelolaan yang optimal. dan tingkat kematangan gonad. Kondisi yang demikian mengharuskan pihak pengelola (Pemerintah) untuk mempertimbangkan pembatasan pemberian Kin penangkapan di daerahdaerah tersebut. dan racun) sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup biota di dalam ekosistem. kelimpahan. Penyeleksian jenis alat tangkap yang diiiinkan juga hams diperketat terkait dengan penggunaan beberapa jenis alat tangkap yang tidak rarnah lingkungan (trawl.garis-garis besar yang mengarah pada langkah pengelolaan bersama secara intemasional. Setiap armada memiliki jumlah maksimal tangkapan hin dan pari tentunya jumlah . bahan peledak. yang kemudian menuangkannya kedalam sebuah dokumen penting yakni. Dengan pembatasan jumlah armada tangkap maka pengeksploitasian sumberdaya dapat dikurangi terkait dengan kelestarian sumberdaya perikanan khususnya perikanan hiu dan pari dengan tingkat regenerasi yang lambat. maka sumberdaya perikanan di pemiran sekitar (contoh.

estuaria. sehingga diharapkan hasilnya dapat memperkuat h a i l penelitian yang sudah ada. di daerah mangrove. maka perlu dilakukan penelitian lanjutan atau penelitian yang bersifat pendalaman (kegiatan bersifat monitoring) untuk elamobranchii diiasa yang akan datang. . hiu gergaji.. Larangan kegiatan penangkapan pada bulan-bulan tertentu dapat pula diberlakukan untuk memberikan kesempatan bagi ikan untuk melakukan proses reproduksi. .. maupun pengusaha). hiu botol) namun jika langkah ini diterapkan maka akan berdampak pada hilangnya koniribusi pemanfaatan hiu dan pari bagi "stake holder" yang terlibat (nelayan. pengumpul. Pristis spp. Penciptaan daerah-daerah konservasi bagi hiu dan pari (protected areas for sharks and rays) pada perairan berlurnpur. Langkah terakhir dalam pelestarian sumberdaya perikanan hiu dan pari adalah larangan penangkapan untuk jenis ikan tertentu (misal. pedagang. Mengingat keterbafasan waktu untuk penelitian ini dalam memperoleh data secara optimal belum terwujud.tersebut hams mempertimbangkan biaya operasional yang hams dikeluarkan terkait dengan pendapatan yang bisa diterima nelayan penangkap. pengolah. Namun untuk menerapkan cara pengelolaan ini harus dipertimbangkan altematif mata pencaharian bagi nelayan penangkap selama tidak melaut. Squalus spp. dan perairan karang sebagai habitat hidup hiu dan pari tentu mempakan langkah lain yang dapat ditempuh untuk menyelarnatkan sumberdaya ikan tersebut.

. July 1997. In. G. Zoological Studies.32.) Elamobranch Biodiversity. Gland.A. IUCN SSC Shark Specialist Group.) Elamobranch Biodiversity. In. (eds.A. Switzerland and Cambridge.T. conservation and management: Proceeding of the international seminar and workshop in Sabah.L... 1988.. Anak.86 . A. F. An Overview of Sharks in World and Regional Trade. Switzerland and Cambridge. Reed & F. 1988. Fowler. Pilot Fisheries Socio-economic Survey of Two Coastal Areas in Eastern Sabah.L. Dolumbalo. S. Elasmobranch Fisheries in Peninsular Malaysia. N. In. (eds. AhZaysia. M. S. Fowler. A.L. M. 2002. R. R. In S.. Elasmobranch biodiversity. A. 132 . M.Yaptinchay and R. 2. Allen. A. Switzerland and Cambridge. and M. Gland. UK. UK. 2002.C. Malaysia. Sabah. A. In.. F. 42 ( 1 ) . and Dipper. IUCN SSC Shark Specialist Group. R. Conservation and Management: Proceedings of the International Seminar and Workshops.92. M. and Dipper. Anderson. The Marine Fishes of North. M. Sade. and Dipper. Elasmobranch resources. M. Adrim.B. Gland. (2004). (2002). utilization.. July 1997. N. July 1997.) Elamobranch Biodiversity. Gland. F. S.) Elamobranch Biodiversity. IUCN. A. 25 . IUCN. H. Conservation and Management: Proceedings of the International Seminar and Workshops. trade and management in Malaysia... Phffippines. Afield guide for anglers and divers.DAFTAR PUSTAKA Ahmad. JUL) 1997. T. Reed T. Review article. Conservation and Management: Proceedings of the International Seminar and Workshops. 1-72. and Dipper.. Anak. Alava. Switzerland and Cambridge.. A. July I997 (pp. R. 2002. . F. Almada-Villela. Reed T.) Elamobranch Biodiversity.WesternAustralia. Fowler. and Dipper. Gland. Fowler. L..A. S. IUCN SSC Shark Specialist Group. In.A. A. ... Reed T. F.A. 2003. Reed T. UK: TJm SSC Shark Specialist Group. Conservation andManagement: Proceedings of the International Seminar and Workhops. Reed T. Western Australian Museum. Gambang. S. IUCN SSC Shark Specialist Group. 33 . and Swainston. Dipper (Eds). G. Switzerland and Cambridge. An overview of sharks in world and regional trade.C. Ali.N. Sabah. Sabah. (eds. Fishery and Trade of Whale Sharks and Manta Rays in the Bohol Sea. Sabah. IUCN.L. Malaysia. P.. Hilmi.L. Elasmobranch as a Recreational Resource.. C. Fowler. Malaysin..R. R. Allen. 2002. Malaysia: Marine Fishery Resources Development and Management Department Southeast Asian Fisheries Development Center. E. (eds. Fowler. S.148. A. 25-32). IUCN. LK. and Razak. (eds. M. Trono.A. Coral Reef Fishes of Jndonesia. Conservation and Management: Proceedings of the International Seminar and Workshops. (Eds). A.45. 2002. UK..

A. Propinsi Jawa Tengah. 2002. Anderson. Trends and patterns in World and Asian Elasmobranch Fisheries. School of Biomedical Sciences. C. In.M. Status and Trends of Elasmobranch Fishery in Sabah. J. IUCN. Switzerland and Cambridge. A. M. S.. S. Dmas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Batang. S..) Elamohranch Biodiversity. UK. Fowler. IUCN SSC Shark Specialist Group. 2006. Anonymous. Conservation and Management: Proceedings of the International Seminar and Workshops. R. IUCN. M. Zartiga.T.. S. M.Sabah.L.J. Reed T.) Elamobranch Biodiversity. S. 2004. Gland.. M. Malaysia. Taiwan's Shark Fishery An Overview. 2005. S. Chen. Sabah. The consentalion status of Australasian chondrichthyans: Report of the IUCN Shark Specialist Group Australia and Oceania regional Red List workshop. July 1997. and Dipper. Malaysia: A Brief Overview. Fowler. Fowler. Musick. D. Phipps. Malaysia. M. P. C. Shark Fisheries in the Phillipines. and Bennetf M.lrmagemenr: Proceedings of the 1ntemtional Seminar and Workshops..121.) Elamobranch Biodiversity.. 127 .R..) Elamobranch Biodiversity.. Consewation and Management Proceedings of the International Seminar and Workshops. UK. J.A. IUCN. Conservation and Management: Proceedings of the International Seminar and Workshops. Baruf N. WCN . . B. F. 93 .A. (Eds).. (eds. and Joung S. Sabah. Fowler. UK: IUCN SSC Shark Specialist Group. In. 2002. July 1997. Elasmobranch Fisheries in the Maldive. Switzerland and Cambridge. Switzerland and Cambridge.5 1. Camhi. (1998).Ecology and Consewation. F. IUCN SSC Shark Specialist Group.Buku Statistik Perikanan dan Kelautan Kabupaten Batang. Bonfil. Conservation and il. and Dipper. (eds. IUCN SSC Shark Specialist Group. Fowler. (eds. July 1997. 2002.L. Conservation and Management: Proceedings of the International Seminar and Workshops. Malaysia. (eds. Sharks and Their Relatives . Sabah.. Malaysia. Reed T.L.. M. 46 . Gland.A. .. C. Malaysia. Switzerland and Cambridge. L. Propinsi Jawa Tengah. Reed T. UK. Gland. and Fordham. Fowler. JJu]y 1997. F. (2003). S. Brisbane: The University of Queensland.A. Biusing.Sahah. In. Fowler. S. ILTCN. Hafu. --------------. 2002. A. 114 .. . Propinsi Jawa Tengah. 'UK. Reed T. Gland. R. 2002.L. E. and J. S.and Dipper.J. IUCN SSC Shark Specialist Group..) Elamobranch Biodiversity. Kyne.. and Dipper. UK. Switzerland and Cambridge. Musick. Brautigam. Malaysia. IUCN. IUCN SSC Shark Specialist Group. M. In. Cavanagh. Reed T.. M. Gland. Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Batang. In. and Dipper. Queensland. (eds.L.Buku Statistik Perikanan dan Kelautan Kabupaten Batang. F. F. Liu. July 1997...131. K... R. July 1997. Gland. and A.94. Switzerland and Cambridge.Buku Statistik Perikanan dan Kelautan Kabupaten Batang. Australia. Sabah. S.. 15 -24. Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Batang.

) EIamobranch Biodiversity. The Johns Hopkins University Press. Val. and Dipper. 52 . Sabah. The Biology of . 1984.J. 95 . F A 0 species catalogue. V. July 1997.E. Fowler. Malaysia. Reed T. (eds. 1984. 3. FA.63. Sabah.J. holothurians and sharks.J.J.T. The living marine resources of thewestern Central Pacific. L. Synop. UK. Hexanchiformes to Larnniformes. Conservation and Management: Proceedings of the International Seminar and Workshops. Compagno. Rome. F A 0 Fish. L. M. (125)V01. (eds.V. (1996). Niem..Pt. L. IUCN SSC Shark Specialist Group. Vol. land and Cambridge. S.Ha-mobranch Fishes. FAO. 2. In. Carpenter. Sharks of the world. 1993. FA0 species identification guide for fishery purposes.'& Living Marine Resources of The Western Central Pacific. 2002. An annotated and illustrated catalogue shark species known to date. In.J. V. crustaceans. July 1997. Reed T.. 1999.2:251-655. (eds).. Review of the Biodiversity of Shark and Chimaeras in the South China Sea and Adjacent Areas. 2002. N. 2002.H.E. UK. Malaysia. (eds). L. F. Switzerland and Cambridge. 1249 Compagno.V. 4. Distribution and Speciation. FAO. W. Comervation and Management Proceedings of the international Seminar and Workshops. Freshwater and Estuarine Elasmobranch Surveys in the Indo-Pacific Region: Threats. Sabah. C. Princeton University Press. Part 2. Chen. Skates.. Cephalopods. Batoid fishes. Carpenter. Fowler. L.and Dipper.. FA0 species catalogue. IUCN SSC Shark Specialist Group. M. 572 p. Checklist of Living Elasmobranchs. An annotated and illustrated catalogue shark species known to date.A. Reed T. Compagno.V. In... Australia's Sharks and Rays.V..V.103. Princeton. Gland. IUCN SSC Shark Specialist Group. Synop. Vo1. K. K. 168 . 1988.180. J. Sharks of the order Carcharhinifomes. (eds.A. Compagno. M. and Rays. Preliminary Report on Taiwan's Whale Shark Fisherv. Baltimore and London. 687-1396 p.M. . UK. Conservation and Management: Proceedings of the International Seminar and Workshops.. 162 .. Switzerland and Cambridge. Compagno.SSC Shark Specialist Group. Joung. L. In. Coleman. Gland. FA0 species identification guide for fishery purposes.. 1397-2068 p.L.4.V.167.)Elamobranch Biodiversiq.4. Rome. Now Jersey.) Sharks. IUCN. Switzerland and Cambridge. S.L. NSW Australia: National Book Distributors and Publishers. L. In. chimaeras and bony fishes part 1 (Elopidae to Linophrynidae). Liu and S. L. 4. F. Vol. and Dipper. Sharks of the world.H.J. Pt. (eds. F A 0 Fish. Fowler. 1998. Gland. IUCN. Part 1. Compagno. UK.L. Malaysia. Hamlett. July 1997.V. IUCN. Niem. In.J.)Elamobranch Biodiversiry. S. Compagno.J. Carcharhiniformes. K.V. Compagno.. (125)Vo1.

Malaysia.) Elamobranch Biodiversity. ..L. M. and Ostariophysi obtained United States Bureau of Fisherias Steamer BATROSS in 1907 to 1910.. S.W. Davis. Aquaculture and Fisheries Management. and Dipper. IUCN SSC Shark Specialist Group. Sabah.L. Conservation and Management: Proceedings ofthe International Seminar and Workshops.L. and Dipper.L. chiefly in the Philippine Islands a adjacent seas.) Elamobranch Biodiversity. Holocaphaii. . 2002. London. International Elasmobranch Management and conservation Initiatives. UK. Marine Biology. J. 1941. J.85. H.. IUCN. 9 . Capture fisheries statistics of Indonesia. U. 1999-2004. (eds. 18. and Dipper. Norman. Comp. Assessment and Management. July 1997. Fowler. UK. Gunn. July 1997.L. M. K. Mochizuki. In. Dudley. S.. The fishes of the groups Elasmobranchii. SL. Garman. Fowler. F A . Gland. 1999. IUCN. Switzerland and Cambridge. G. IUCN. (2005).O. July 1997.V. Obsevations on the short-term movements and behaviour of whale sharks (Rincodon typus) at Ningaloo Reef. 236 . MenL Mus. and C.. S. M. Malaysia. Reproductive Strategy of the Japanese Common Skate (Spiny Rasp Skate) Okamejei kenojei. R. K. FA. UK. dan B.)Elamobranch Biodiversity. Indonesia: operational realities in a developing country. (eds. King.. M.Homrna and T. In. An Annotated Checklist of Elasmobranchs ofthe South China Sea.DGCF. Fowler.. Fowler. Western Australia. SL. 82 . 1913. Zool. Jakarta: Directorate General of Capture Fisheries. Malaysia.240. IUCN SSC Shark Specialist Group. Gland. C. Reed T. S. Conservation and Management: Proceedings of the International Seminar and Workshops. (eds. M.214.. S. Conservation and Management in Sabah. Natt Mus. IUCN SSC Shark Specialist Group. Fowler. Reed T. 100(13):879 p. Switzerland and Cambridge. Fowler. T. Ishihara. S.)Elamobranch Biodiversity. S. Sabah. with some Global Statistics on Elasmobranch Biodiversity. Taniuchi.14. and an Offer to Taxonomists. FA.. H. In.Reed T. Switzerland and Cambridge. R.. 2002. 2002. IUCN. Conservation and Management: Proceedings of the Intenurtional Seminar and Workshops. M. The Plaglostomia. Malaysia. Fisheries Biology. (1987). Froese. 135: 553 -559. T. 209 . Univ. Gland.. The fisheries statistics system of Java. Garilao. Sabah. Elasmobranch Biodiversity. Switzerland and Cambridge.365-374. (eds. In. UK. Reed T. and Harris. July 1997. FA. Fowler. Sabah. Gland. Bull. 2002. Stevens. 6:515 P. IUCN SSC Shark Specialist Group. Fishing News Books. (1997). Conservation and Management: Proceedings of the International Seminar and Workshops.. Harv.. Isospondyli. and Dipper.

Sabah. Gland. In. Kasetsar-I Univ.. Reed T. Malaysia. E. Malaysia.. In... J. M. S. M. Dept.. S. 64 . F. Fowler. Reed T. Masuda. M.L. July 1997. In. Sabah. S. Araga. In. Tokai University Press. and Dipper. Newman. Malaysia. Amaoka.230 . 2002. 78 . IUCN SSC Shark Specialist Group.A. (eds. Manjaji.R. July 1997. 2002. M. IUCN. Gland. 194 -198. Conservation and Management: Proceedings of the Internaional Seminar and Workshops. and T. Conservation and Management: Proceedings of the International Seminar and Workshops.)Elamobranch Biodiversity.L. 175 p.L. B. Conservation and Management: Proceedings of the International Seminar and Workshops.) Elamobranch Biodiversity.) Elamobranch Biodiversity. The cartilaoinous fishes (Class Elasmobranchil) found in Thai waters and adjacent areas. Fowler.. 185 . Reed T. Colman.L. B. 2002. (eds. Whale Shark Tagging and Ecotourism. 1984.)Elamobranch Biodiversity. (eds. 435 p. 2002. In. Monkolorasit. P. Gland. Switzerland and Cambridge. IUCN SSC Shark Specialist Group. Switzerland and Cambridge. Fish.L. IUCN SSC Shark Specialist Group.. UK. Switzerland and Cambridge. S. Switzerland and Cambridge. K. F. M.V. H. Fac. F.77. July 1997. IUCN SSC Shark Specialist Group. Uyano. G. Gland. Fish.R. IUCN SSC Shark Specialist Group. IUCN. Freshwater and Estuarine Elasmobranchs of Australia. Sabah.193. and Dipper. Consewation and Management: Proceedings of the International Seminar and Workshops. F. 70 . Gland. and Dipper. New Records of Elasmobranch Species from Sabah. Reed T. UK. July 1997. UK.A. R.. Sabah. Malaysia. and L..A. Switzerland and Cambridge. M. K. Japan. Fowler.. (eds.69. Switzerland and Cambridge. Importance of Biological Collections for Future Taxonomic Research in the Indo-West Pacific. Gland.) Elamobranch Biodiversity. Yoshino. Malaysia. S. and Dipper. (eds.. IUCN.J. . . IUCN SSC Shark Specialist Group. Malaysia. and Dipper.. S. M. Sabah.. Compagno. Review of the Biodiversity of Rays in the South China Sea and Adjacent Areas. (eds. Tokai. UK.8 1. Medcraft and J. 2002. Muik (Eds). IUCN. 2002.Last. 1984. C.A.. T. P. Fowler. BioL. Last. July 1997. M. Conservation and Management: Proceedings of the International Seminar and Workshops. In. A. Conservation and Management: Proceedings of the International Seminar and Workshops. Fowler.) Elamobranch Biodiversity. Last. Elasmobranchs Recorded from River and Estuaries in Sabah.235.. Fowler. S. Reed T. P. H. Reed T. 2 vols.A. Bangkok. Manjaji. Sabah. UK.A. F. M.L. and Dipper. UK.. IUCN.. TheJishes of the Japan Archipelago. F. IUCN. July 1997.

Biology of three hammerhead sharks (Eusphyra hlochii Sphynza mokarm and S. and Dipper. Gland. S. M. In.D. Stevens. 2002. P. Joung. Aus. Andau.K. Stevens.. dan P. Sahah. IUCN SSC Shark Specialist Group. and Church A. K. Switzerland and Cambridge. J. Shin Shii-Chiah. A Review of Australian Elasmobranch Fisheries. July 1997. Freshwater Res. J. Suzuki. Stevens. F. Fish. Conservation and Management: Proceedings of the International Seminar and Workshops. J.10. Northern tagging project yields interesting results. (eds. G. Malaysia. Aus. S.E.Indramayu... UK. Reed T. Sahah. C.242. Freshwater Res. IUCN SSC Shark Specialist Group. Chen. N. and Dipper. Stevens. . 1999. 2000. S. IUCN. (eds. IUCN. Stevens. 5 1: 127 . July 1997. 37: 671 . Variable Resilience to fishing pressure in two sharks: The significance of different ecological and parameters. Movements. M. 122 . J. 1989. 960 p. J.) Elamohranch Biodiversity.15.l Shao..Payne.W. and chimaeras (chondroichthyans). H. Malaysia. L. dan K. Sahah. Stevens J. 57: 476-494. 1995.D. Lyle. Biology of two commercially important carcharhinid sharks from norther Australia. 2002.. M.A. D. Conservation and Management: Proceedings of the International Seminar and Workshops.)Elamohranch Biodiversity. Mok. 43: 6 .126.T Chen. J. McLouglin. In. Gland. Stevens. J.L. J. D. ICES Journal Marine Science. 23: 11 . Fishes of Taiwan.J.242.O. S. Switzerland and Cambridge. K. IUCN. D. (eds.. UK. Fowler. Reed T.L. 2002.. Mar. Conservation and Management: Proceedings of the International Seminar and Workshops.D. Fowler. Walker 2000.A. G. recapture patterns.. Reed T. 37: 671 .)Elamohranch Biodiversity. R. 1986. IUCN SSC Shark Specialist Group. 2002..L. F. and factors affecting the return rate of carcharinid and other sharks tagged off northern Australia.A. Fowler. a C. West Java.J.688. and Wiley. M.L. and Dipper. Tzeng. West. J. July 1997. S.141. Bonfil. and the implications for marine ecosystems.S. Dulvy. Mar. Aust. Freshwater Res. D. T. 5. H. Malaysia.. Chen. 241 . Lee. F. Conservation and Management: Proceedings of the International Seminar and Workshops. Gland. The affects of fishing on sharks. F. and P. J. UK.688. Switzerland and Cambridge.M. A. M. 241 . J. Kinabatangan River Conservation Area. In. Stevens. The Role of Protected Areas in Elasmobranch Fisheries Management and Conservation. and Dipper. Americanfisheries society symposium. Eschmeyer. 1984.. and J. W. Fowler. Reed T. Mar. In. lewini) from northen Aushalia.. (eds.)ElamohranchBiodiversity. rays. Development of Shark Fisheries and Shark Fin Export in Indonesia: Case Study of Karangsong Village.A.

Malaysia. Pauly. Switzerland and Cambridg West. Fowler.. 2002. Gland. D. UK. Gland.A. 2002. Elasmobranch Diversity and Status in Thailand. Jiddawi.L. Walker. Gland. Archival tagging of shark. S. IUCN. and Dipper. TUCN. Sabah. In. T. IUCN. M. July 1997. July 1997. Switzerland and Cambridge. IUCN.. Switzerland and Cambridge.L. Malaysia. (eds.. IUCN. (eds. M.. Malaysia.L. F. Ju[y 1997. . IUCN SSC Shark Specialist Group. The Status of Shark Fisheries in Zanzibar. F. Galeorchinus galeus. 104 . Gland. IUCN SSC Shark Specialist Group. Switzerland and Cambridge. Reed T. Sabah. Fowler. In. 181 . S. (eds.pdf.)Elamobrmch Biodiversity. UK. 2001. July 1997.. TRAFFIC. S. Taniuchi. FA0 Initiatives for Elasmobranch Fisheries Research and Monitoring.298. Malaysia. M. IUCN SSC Shark Specialist Group. Conservation and Management: Proceedings of the International Seminar and Worhhops. in Australia: initial results. Fowler. July 1997. F. Fowler. M. 2002. S.157. IUCN SSC Shark Specialist Group.208.. Review of Fisheries and Processes Impacting Shark Populations of the World In. 2002. Fowler. S.)ElamobranchBiodiversity. Sabah. and Dipper. Environmental Biology of Fishes. A CITES priorities: Sharks and the twelfth meeting of the conference of the parties to CITES. S. Switzerland and Cambridge. 199 . IUCN. Vidthayanon. UK. Gland. July 1997. fiom http:/l~. UK. In. UK.A. Conservation and Management: Proceedings of the International Seminar and Workshops. KJCN SSC Shark Specialist Group. M. Conservation and Management: Proceedhgs of h e international Seminar and Workhops. Conservation and Management: Proceedings of the International Seminar and Workshops. Shehe. Reed T. Conservation and Management: Proceedings of the International Seminar and Workshops. (2002). Sabah.161.A. C.113. 2002. Switzerland and Cambridge. T.A. UK. M. F. (eds. (eds.)Elamobrmch Biodiversity. July 1997. 149 . 2004.L. 215 . In. Reed T. T. and Dipper. 2002.L. and Dipper.219.)ElamobranchBiodiversity.)Elamobranch Biodiversity. Malaysia. F.A. and N. Visser.Sabah. Retrieved 6 February. Reed T.. S. Reed T.) Elamobranch Biodiversity. Sabah. In.A. 158 . 60: 283 . IUCN. Switzerland and Cambridge. IUCN SSC Shark Specialist Group.. D. Conservation and Management: Proceedings of the international Seminar and Workshops... F. Fowler. Gland. G. and Dipper. Outline of Field Surveys for Freshwater Elasmobranchs Conducted by a Japanese Research Team. (eds. Growth and Mortality of the Basking Shark Cetorhinus maximus and their Implications for Management of Whale Sharks Rhincodon typus. J. Malaysia. Stevens.A.L. M.. lUCN SSC Shark Specialist Group. S d a h . Gland.184. and Dipper.org/news/Sharks~CoP12. Reed T. dan J. Malaysia. L..traffic..

G. C. (2003). (2006a).. K. Wibowo. Economically important sharks and rays of Indonesia. Stevens.. New Zealand. Yearsley. Last.. White. Fahmi. D. J. White. (2006b).. C. K.65-73. S. & Potter. Susanto. W. Last.. Economically important sharks and rays of Indonesia. W. W. 1995. Paper presented at the Conference on the Governance and Management of Deep-sea Fisheries. 5. & Potter. Dharmadi. Fahmi. T.. R. Canberra: ACIAR. Preliminavy investigation of artisanal deep-sea chondrichthyan $sheries in Eastern Indonesia.. D. Fahmi. G. P.White. Stevens. Jakarta. & Dharmadi... (2006). 82. T. Canberra: ACIAR White. Giles. Dharmadi. . Sumberdaya dun Pemanfaatan Hiu. Yearsley. Data on the bycatch fishery and reproductive biology of mobulid rays (Myliobatiformes) in Indonesia. J. R. and Dharmadi. T. P. dan H. Fisheries Research. T.. W. 156 pp. Penebar Swadaya.. I. I.