You are on page 1of 44

BAB I

PENDAHULUAN
1

Latar Belakang
Sampai saat ini penyakit demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi masalah
kesehatan masyarakat Indonesia. Hal ini didukung oleh data-data berikut ini.
1

Sejak ditemukan kasus DBD pada tahun 1968 di Surabaya dan Jakarta, angka
kejadian penyakit DBD meningkat dan menyebar ke seluruh daerah kabupaten di
wilayah Republik Indonesia termasuk kabupaten yang berada di wilayah Provinsi
Timor Timor.

2

Pada pengamatan selama kurun waktu 20-25 tahun sejak awal ditemukan kasus
DBD, angka kejadian luar biasa penyakit DBD diestimasikan setiap 5 tahun
dengan angka kematian tertinggi pada tahun 1968 awal ditemukan kasus DBD
dan angka kejadian penyakit DBD tertinggi pada tahun 1988.

3

Angka kematian kasus DBD masih tinggi, terutama penderita DBD yang datang
terlambat dengan derajat IV.

4

Vektor penyakit DBD nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus masih banyak
dijumpai di wilayah Indonesia.

5

Kemajuan teknologi dalam bidang transportasi disertai mobilitas penduduk yang
cepat memudahkan penyebaran sumber penularan dari satu kota ke kota lainnya.
(Soegijanto, 2006)

Beberapa tahun terakhir, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) seringkali muncul di musim
pancaroba. Karena itu, masyarakat perlu mengetahui penyebab penyakit DBD, mengenali tanda
dan gejalanya, sehingga mampu mencegah dan menanggulangi dengan baik.
Pada tahun 2014, sampai pertengahan bulan Desember tercatat penderita DBD di 34 provinsi di
Indonesia sebanyak 71.668 orang, dan 641 diantaranya meninggal dunia. Angka tersebut lebih
rendah dibandingkan tahun sebelumnya, yakni tahun 2013 dengan jumlah penderita sebanyak
112.511 orang dan jumlah kasus meninggal sebanyak 871 penderita.( Kemenkes RI, 2015)
Indonesia menempati peringkat kedua negara endemis DBD di Asia Tenggara.
Angka kesakitan DBD di Indonesia tahun 1998 adalah 22,1 per 100.000 penduduk,

sedangkan di Jawa Timur Incidence Rate (IR) tertinggi tahun 1996 yaitu 38,05 per
100.000 penduduk. Sejak itu penyakit DBD menunjukkan kecenderungan peningkatan
jumlah kasus dan luas daerah terjangkit. Seluruh wilayah Indonesia mempunyai risiko
untuk terjangkit penyakit DBD, terutama dengan faktor risiko dari host usia 5-9 tahun,
genetik, strain virus dengue, dan infeksi virus dengue sekunder (Andajani, 2006).
DBD merupakan penyakit yang sering menimbulkan suatu letusan Kejadian Luar
Biasa (KLB) dengan jumlah kematian yang besar. Penyakit DBD yang pertama kali
ditemukan pada tahun 1968 di Surabaya dengan kasus 58 orang anak, 24 diantaranya
meninggal dengan Case Fatality Rate (CFR) = 41,3%. Mengingat angka CFR – nya yang
tinggi, cepatnya penyebaran dan kecenderungan terjadi peningkatan maka DBD
merupakan salah satu masalah yang harus segera ditangani dengan cepat di Indonesia
(Ditjen PPM&PL, 2011).
Menurut data yang didapatkan di Puskesmas Lubuk kilangan, Kecaamatan Lubuk
Kilangan ditemukan 5 kasus DBD pada bulan Agustus 2015 dan tidak ada kasus
kematian karena DBD. Sedangkan pada Kelurahan - Kelurahan yang lain pada
Kecamatan Lubuk Kilangan didapatkan juga kasus DBD tetapi tidak sampai ada yang
meninggal.
Banyak faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit demam berdarah dengue,
antara lain faktor hospes (host), lingkungan (environment), dan faktor virus itu sendiri.
Faktor hospes yaitu kerentanan (susceptability), dan respons imun. Faktor lingkungan
(environment) yaitu kondisi geografis (ketinggian dari permukaan laut, curah hujan,
angin, kelembapan, musim), kondisi demografis (kepadatan, mobilitas, perilaku, adapt
istiadat, sosial ekonomi penduduk), jenis dan kepadatan nyamuk sebagai vektor penular
penyakit. Faktor agent yaitu sifat virus dengue yang hingga saat ini telah diketahui ada 4
jenis serotype virus dengue yaitu Dengue 1, 2, 3, dan 4. Dari berbagai penelitian yang
telah dilakukan di India telah terjadi pergeseran genotipe virus Dengue strain Den-2.
Demikian pula kejadian di 4 negara di Amerika Latin dan Srilangka menunjukkan bahwa
timbul genotipe baru dari Den-2 yang berhubungan dengan terjadinya DHF-DSS. Di
Indonesia khususnya Jawa Timur belum pernah dilakukan penelitian tentang pengaruh
geografis terhadap karakteristik serotype virus Dengue. (Soegijanto, 2006)

Penyakit DBD sampai sekarang belum ditemukan obat maupun vaksinnya,
sehingga satu-satunya cara untuk mencegah terjadinya penyakit ini dengan memutuskan
rantai penularan. Baru-baru ini pemerintah mencanangkan metode 3M Plus, yaitu
mengubur sejumlah kaleng atau plastik bekas yang dapat menampung air sehingga jadi
media bertelur nyamuk

Aedes aegypti. Menutup dan menguras berbagai tempat

penampungan air di rumah masing-masing dengan periode tertentu. Setelah melakukan
kegiatan 3M, dilanjutkan dengan pelaksanaan abatisasi masal untuk membunuh jentik.
Angka bebas jentik merupakan prosentase jumlah rumah bebas jentik dibanding
dengan jumlah rumah diperiksa. Peran serta masyarakat sangat dibutuhkan untuk
meningkatkan angka bebas jentik misalnya dengan kegiatan 3M dan PSN
(www.desentralisasi-kesehatan.net).
Pada bulan Agustus 2015 didapatkan Angka Bebas Jentik rata-rata dari 7
Kelurahan di Kecamatan Lubuk Kilangan sebesar 77,78%, pada bulan September ratarata Angka Bebas Jentik di Kecamatan Lubuk Kilangan mengalami peningkatan menjadi
79,10%. Kelurahan Bandar Buat memiliki Angka Bebas Jentik terendah yaitu sebesar
43%, sedang Angka Bebas Jentik terbesar yaitu sebesar 94% didapatkan pada Kelurahan
Indarung dan Kelurahan Padang Besi.
Pada bulan Agustus 2015 didapatkan Angka Bebas Jentik rata-rata dari 7
Kelurahan di Kecamatan Lubuk Kilangan sebesar 77,78%, pada bulan September ratarata Angka Bebas Jentik di Kecamatan Lubuk Kilangan mengalami peningkatan menjadi
79,10%. Kelurahan Bandar Buat memiliki Angka Bebas Jentik terendah yaitu sebesar
43%, sedang Angka Bebas Jentik terbesar yaitu sebesar 94% didapatkan pada Kelurahan
Indarung dan Kelurahan Padang Besi.
1.2

Strategi, Kebijakan dan Pokok-pokok Kegiatan Program P2M DBD

1.2.1. Strategi
A. Pemberdayaan Masyarakat
Meningkatnya peran aktif masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan
penyakit DBD merupakan kunci keberhasilan upaya pemberantasan penyakit DBD.
Untuk mendorong meningkatnya peran aktif masyarakat, maka upaya-upaya KIE, social

marketing, advokasi dan berbagai penyuluhan dilaksanakan secara intensif dan
berkesinambungan melalui berbagai media massa dan sarana.
B. Peningkatan Kemitraan Berwawasan Bebas Penyakit DBD
Peran sektor terkait sangat menentukan sekali dalam pemberantasan penyakit DBD.
Oleh karena itu perlu dilakukan identifikasi stakeholder baik sebagai mitra maupun
pelaku merupakan langkah awal dalam menggalang, meningkatkan dan mewujudkan
kemitraan. Jejaring kemitraan dilaksanakan melalui pertemuan berkala guna memadukan
berbagai sumber daya masing-masing mitra. Pertemuan berkala dilaksanakan mulai dari
perencanaan, pelaksanaan dan penilaian program.
C. Peningkatan Profesionalisme Pengelola Program
Pengetahuan mengenai bionomic vektor, virologi, faktor perubahan iklim,
penatalaksaan kasus harus dikuasai oleh pengelola program sebagai landasan dalam
menyusun program pemberantasan DBD, sehingga diperlukan adanya peningkatan SDM
misal : pelatihan, sekolah dan sebagainya.
D. Desentralisasi
Optimalisasi pendelegasian wewenang pengelolaan program kepada kabupaten/kota.
E. Pembangunan Berwawasan Kesehatan Lingkungan
Lingkungan hidup yang sehat akan mengurangi angka kesakitan penyakit DBD,
sehingga diperlukan adanya peningkatan mutu dari lingkungan itu sendiri melalui
orientasi, advokasi, sosialisasi tentang pemberantasan penyakit DBD yang berwawasan
lingkungan kepada semua pihak terkait.
1.2.2

Kebijakan

a

Meningkatkan perilaku hidup sehat dan kemandirian terhadap P2M DBD

b

Meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat terhadap penyakit DBD

c

Meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi program P2M DBD

dokter puskesmas. LSM. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan penyuluhan di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan dari bulan Agustus dan September 2015? 1. apakah telah mencapai angka ≥ 95% di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan dari bulan Agustus dan September 2015? 2 Bagaimana pencapaian program P2M DBD tentang abatisasi. organisasi profesional dan dunia usaha 1.d Memantapkan kemitraan baik lintas sektor/program.3 Rumusan Masalah 1 Bagaimana pencapaian program P2M DBD tentang ABJ. Pokok-Pokok Kegiatan 1 Melakukan surveilans epidemiologi dimana dilakukan kewaspadaan dini penyakit DBD melalui kegiatan penemuan dan pelaporan penderita baik dari RS.4.3. dokter swasta.2. pengadaan leaflet. 2 Tatalaksana kasus 3 Pemberantasan vektor melalui program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 4 Penanggulangan kejadian luar biasa (KLB) 5 Penggerakan peran serta masyarakat 6 Pelatihan guna meningkatkan SDM yang profesional terhadap petugas kesehatan. petugas laboratorium. petugas lapangan penyemprot. apakah telah mencapai angka ≥ 95% di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan dari bulan Agustus dan September 2015. pelaksana program. Puskemas. Pemantauan Jentik Berkala. dan dokter RS 7 Promosi DBD yaitu melalui penyuluhan media massa. Tujuan 1 Untuk mengetahui pencapaian program P2M DBD tentang ABJ. poster dan seminar 1. .

Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan penyuluhan di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan dari dari bulan Agustus dan September 2015. .2 Untuk mengetahui pencapaian program P2M DBD tentang abatisasi.

2.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Pada DBD terjadi perembesan plasma yang ditadai oleh hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit) atau penumpukan cairan di rongga tubuh.2 Vektor dan Cara Penularan Virus dengue . Sebelum demam muncul pada penderita virus ini sudah dulu berada dalam darah 1-2 hari. ruam. DEN 3. pada suhu 30 C memerlukan waktu 8-10 hari untuk menyelesaikan masa inkubasi ekstrinsik dari lambung sampai kelenjar ludah nyamuk tersebut. Terdapat reaksi silang antara serotipe dengue dengan flavivirus lain seperti Yellow fever. DEN 4. Sindrom renjatan dengue (dengue shock syndrome) adalah demam berdarah dengue yang ditandai oleh renjatan/ syok. Selanjutnya penderita berada dalam kondisi viremia selama 4-7 hari. trombositopenia. yakni dengue (DEN) 1. limfadenopati. nyeri otot. Virus ini mempunyai ukuran diameter sebesar 30 nanometer terdiri dari asam ribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul 4x106 dan terdiri dari 4 serotipe.1 Pengertian DBD Demam Dengue/DF dan Demam Berdarah Dengue/DBD (dengue haemorrhagic fever/DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam. dan/atau nyeri sendi yang disertai leukopenia. Virus yang ditularkan pada manusia melalui gigtan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. dan demam hemoragik. Keempat serotipe ditemukan di indonesia dengan DEN 3 merupakan serotipe terbanyak. Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue yang termasuk dalam genus Flavivirus grup famili Togaviridae. DEN 2. Japanese Enchehphalitis dan West Nile virus.

00).000 penduduk. Apabila penderita digigit oleh nyamuk penular. Sejak tahun 1968 telah terjadi peningkatan persebaran jumlah provinsi dan kabupaten/kota yang endemis DBD.3 Epidemiologi Demam berdarah dengue tersebar di wilayah Asia Tenggara. Penghisapan darah dilakukan dari pagi sampai petang dengan dua puncak waktu yaitu setelah matahari terbit (08.000 penduduk dan pernah meningkat tajam saat kejadian luar biasa (KLB) hingga 35 per 100. Virus dengue yang sudah masuk di tubuh manusia akan bersirkulasi dalam tubuh manusia selama 2-7 hari atau selama demam terjadi. baik di dalam rumah ataupun di luar rumah. menjadi 32 dan 382 . Dalam waktu 4-7 hari. 2. Insiden DBD di Indonesia antara 6 hingga 15 per 100. virus dengue di tubuh penderita dalam keadaan viremia dan pada masa itulah penularan terjadi. maka virus dengue juga akan terhisap dalam tubuh nyamuk. sedangkan vektor potensialnya yang lain adalah Aedes Albopictus yang banyak ditemukan di semaksemak sekitar rumah. Untuk menjadi kenyang. Pasifik Barat dan Karibia. sedangkan angka mortalitas cenderung menurun seiring dengan waktu. Proses itu memakan waktu 8-10 hari sebelum ditularkan kembali ke manusia.00-17. Indonesia merupakan wilayah endemis dengan sebaran di seluruh wilayah tanah air. Virus tersebur kemudian berada dalam lambung nyamuk dan akan memperbanyak diri selanjtnya akan berpindah ke kelenjar ludah nyamuk.00-12. dari 2 provinsi dan 2 kota. nyamuk betina memerlukan 2-3 kali hinggap dan menghisap darah (multiple biters).Vektor utama DBD adalah nyamuk rumah yang disebut Aedes Aegypti.00) dan sebelum matahari tenggelam (15. Nyamuk dewasa betina Aedes aegypti menghisap darah manusia pada siang hari yang dilakukan.

2009 kelompok umur terbesar kasus DBD cenderung pada kelompok umur >=15 tahun. seperti Jakarta. Jumlah penderita berjenis kelamin laki-laki adalah 10. tahun 1999 . sanitasi. 3) lingkungan: curah hujan. Melihat data ini kemungkinan penularan tidak hanya di rumah tetapi di sekolah atau di tempat kerja.991 orang (46. mobilisasi dan paparan terhadap nyamuk. 2) pejamu: terdapatnya penderita di lingkungan/ keluarga. Bandung. distribusi kasus berdasarkan jenis kelamin pada tahun 2008.kabupaten/kota pada tahun 2009. Bila dilihat. dan kepadatan penduduk. dimana dahulu DBD adalah penyakit pada anak-anak dibawah 15 tahun. Kasus DBD perkelompok umur dari tahun 1993 . saat ini telah menyerang seluruh kelompok umur. kepadatan vektor di lingkungan. persentase penderita laki-laki dan perempuan hampir sama. Hal ini . Dari tahun 1993 sampai tahun 1998 kelompok umur terbesar kasus DBD adalah kelompok umur <15 tahun.463 orang (53.2009 terjadi pergeseran.23%).78%) dan perempuan berjumlah 8. Secara nasional penyakit Demam Berdarah Dengue di Indonesia setiap tahun terjadi pada buan September s/d Februari dengan puncak pada bulan Desember atau Januari yang bertepatan dengan waktu musim hujan. kebiasaan menggigit. transportasi vektor dari satu tempat ke tempat lain. suhu. usia dan jenis kelamin. bahkan lebih banyak pada usia produktif. Maka beberapa faktor diketahui berkaitan dengan peningkatan transmisi virus dengue yaitu 1) vektor : perkembangbiakan vektor. Akan tetapi Untuk kota besar. Yogyakarta dan Surabaya musim penularan terjadi pada bulan Maret s/d Agustus dengan puncak terjadi pada bulan Juni atau Juli. Selain itu tampak telah terjadi perubahan pola penyakit DBD.

Akibat infeksi kedua oleh tipe virus dengue yang berlainan pada seorang penderita dengan kadar antibodi anti dengue yang rendah. Trombositopenia . Hal-hal ini semuanya akan mengakibatkan terbentuknya kompleks antigen-antibodi yang selanjutnya akan mengaktivasi sistem komplemen. Pada penderita renjatan berat. Disamping itu replikasi virus dengue terjadi dengan akibat terdapatnya virus dalam jumlah yang banyak. tetapi sebagian besar menganut The secondary heterologous infection hypothesis yang mengatakan bahwa DBD dapat terjadi apabila seseorang setelah infeksi dengue pertama mendapat infeksi berulang dengan tipe virus dengue yang berlainan dalam jangka waktu yang tertentu yang diperkirakan antara 6 bulan sampai 5 tahun. Sebab lain dari kematian pada DBD ialah perdarahan saluran pencernaran hebat yang biasanya timbul setelah renjatan berlangsung lama dan tidak dapat diatasi.4 Patogenesis Mekanisme sebenarnya tentang patofisiologi dan patogenesis demam berdarah dengue hingga kini belum diketahui secara pasti.menggambarkan bahwa risiko terkena DBD untuk laki-laki dan perempuan hampir sama. Renjatan yang tidak ditanggulangi secara adekuat akan menimbulkan anoksia jaringan. 2. respons antibodi anamnestik yang akan terjadi dalam beberapa hari mengakibatkan proliferasi dan transformasi limfosit imun dengan menghasilkan antibodi IgG anti dengue titer tinggi. tidak tergantung jenis kelamin. asidosis metabolik dan kematian. Pelepasan C3a dan C5a akibat antivasi C3 dan C5 menyebabkan meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah dan merembesnya plasma melalui endotel dinding pembuluh darah. volume plasma dapat berkurang sampai lebih dari pada 30% dan berlangsung selama 24-48 jam.

Nilai trombosit mulai menurun pada masa demam dan mencapai nilai terendah pada masa renjatan. Disseminated Intravascular Coagulation/DIC secara potensial dapat terjadi juga pada penderita DBD tanpa atau dengan renjatan. IX. 2. 2 Manifestasi Pendarahan 3 Perdarahan terjadi pada semua organ umumnya timbul pada hari 2-3 setelah demam. Jumlah tromosit secara cepat meningkat pada masa konvalesen dan nilai normal biasanya tercapai sampai hari ke 10 sejak permulaan penyakit. Demam secara mendadak disertai gejala klinis yang tidak spesifik seperti: anorexia.merupakan kelainan hematologis yang ditemukan pada sebagian besar penderita DBD. V. juga oleh aktifasi sistem koagulasi. kemudian turun secara cepat. Klasifikasi dan Berat Penyakit Tanda-tanda dan gejala penyakit DBD adalah : 1 Demam Penyakit DBD didahului oleh demam tinggi yang mendadak terus-menerus berlangsung 2 . Kelainan sistem koagulasi mempunyai juga peranan sebagai sebab perdarahan pada penderita DBD.5 Gejala. nyeri pada tulang. Bentuk perdarahan dapat berupa . terlihatnya organ-organ vital dan berakhir dengan kematian. punggung dan kepala. Sebab perdarahan adalah trombositopenia. lemas. VII. Perubahan faktor koagulasi disebabkan diantaranya oleh kerusakan hepar yang fungsinya memang terbukti terganggu. Berapa faktor koagulasi menurun termasuk faktor II. Faktor XII juga dilaporkan menurun. Renjatan pada DIC akan saling mempengaruhi sehingga penyakit akan memasuki renjatan irrevesible disertai perdarahan hebat. sendi. X dan fibrinogen.7 hari.

Perdarahan dari hidung (epistaxis) . untuk itu diperlukan torniquet test dan biasanya positif pada sebagian besar penderita Demam Berdarah Dengue.Echymosis . 4 Renjatan (Shock) Renjatan dapat terjadi pada saat demam tinggi yaitu antara hari 3-7 mulai sakit.Nadi cepat. 3 3 Pembesaran hati (Hepatomegali) Pembesaran hati dapat diraba pada penularan demam. jari dan kaki.Kulit teraba dingin pada ujung hidung.Perdarahan konjunctiva . kecil sampai tak teraba. lemah.Perdarahan gusi . Adapun tanda-tanda perdarahan: . Derajat pembesaran hati tidak sejajar dengan berapa penyakit Pembesan hati mungkin berkaitan dengan strain serotype virus dengue. Renjatan terjadi karena perdarahan atau kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler melalui kapiler yang rusak. .Muntah darah (hematemesis) . .Kencing berdarah (hematuria) Gejala ini tidak semua harus muncul pada setiap penderita.Purpura .Petechiae .Penderita menjadi gelisah. ..Buang air besar berdarah (melena) .

Kriteria Laboratorium 1 Trombositopenia (100.Tekanan darah menurun (tekanan sistolik menurun sampai 80 mmHg atau kurang). hipotensi. Kriteria Klinis 1 2 Demam tinggi mendadak. muntah. diare atau konstipasi dan kejang.. epitaksis. 3 Pembesaran hati 4 Syok. mual. ekimosis. berlangsung terus menerus selama 2– 7 hari. kulit lembab dan pasien tampak gelisah. Diagnosis Demam Berdarah Dengue berdasarkan WHO 1997. tanpa sebab jelas.000 sel/ mm3 atau kurang) 2 Hemokonsentrasi peningkatan hematoksit 20% atau lebih Mengingat derajat berat ringan penyakit berbeda-beda. 5 Gejala klinis lain Gejala lainnya yang dapat menyertai ialah : anoreksia. Terdapat manifestasi perdarahan ditandai dengan :  Uji tourniquet positif  Petekie. biasanya mempunyai kemungkinan yang lebih buruk. Renjatan yang terjadi pada saat demam. maka diagnosa secara klinis dapat dibagi atas : .Tekanan nadi menurun (menjadi 20 mmHg atau kurang) . lemah. kaki dan tangan dingin.  Hemetamesis dan atau melena. ditandai nadi cepat dan lemah serta penurunan tekanan nadi. sakit perut. perdarahan gusi.

Perubahan epidemiologi demam berdarah menyebabkan masalah dalam menggunakan klasifikasi WHO yang ada. disertai perdarahan spontan di kulit dan atau perdarahan lain. Demam disertai 2 dari hal berikut :  Mual.  Derajat IV: Syok berat. Gejala virus dibagi mejadi Undifferentiated Fever. 2 Dengue dengan tanda bahaya/ peringatan (dengue with warning signs). kulit dingin atau lembab dan penderita tampak gelisah. Derajat I: Demam disertai gejala tidak khas dan satu – satunya manifestasi ialah uji tourniquet positif dan atau mudah memar  Derajat II: Seperti derajat I.  Derajat III: Didapatkan kegagalan sirkulasi. 1 Dengue tanpa tanda bahaya / peringatan (dengue without warning signs). Dengue Haemorrhagic Fever dan lalu diklasifikasi menjadi grade I sampai IV menyebabkan banyaknya laporan kesulitan penggunaan klasifikasi sehingga sulit dalam menentukan keparahan pasien sehingga dibuatlah kriteria baru klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan menurut panduan WHO tahun 2009. Kriteria dengue tanpa/dengan tanda bahaya: Tersangka Dengue:  Bertempat tinggal di /bepergian ke daerah endemik dengue. muntah  Ruam  Sakit dan nyeri  Uji torniket positif  Lekopenia . nadi tidak teraba dan tekanan darah tidak terukur. Dengue Fever. 1. tekanan rendah. 3 Dengue berat (severe dengue). yaitu nadi cepat dan lemah.

6 Gambaran Klinis Manifestasi klinis infeksi virus dengue dapat bersifat asimptomatis atau dapat berupa demam yang tidak khas. . fase kritis dan fase pemulihan. yang dievaluasi oleh paramedis  Gangguan organ berat. hepar (AST atau ALT ≥ 1000.  Perdarahan hebat. Pada waktu fase ini pasein sudah tidak demam tetapi memiliki resiko tinggi terjadinya renjatan Gambaran klinis nya terdiri atas 3 fase yaitu fase febris. gangguan kesadaran. Kriteria dengue berat :  Kebocoran plasma berat. lemah  Pembesaran hati > 2 cm  Kenaikan hematokrit seiring dengan penurunan jumlah trombosit yang cepat Dengue dengan konfirmasi laboratorium (penting bila bukti kebocoran plasma tidak jelas). Adanya tanda bahaya Tanda bahaya adalah :  Nyeri perut atau nyeri tekan  Muntah berkepanjangan  Terdapat akumulasi cairan  Perdarahan mukosa  Letargi. gangguan jantung dan organ lain). 10 2. akumulasi cairan disertai dengan distress pernafasan. pada umumnya pasien mengalami fase demam selama 2-7 hari yang diikuti fase kritis selama 2-3 hari. yang dapat menyebabkan syok (DSS). 2.

dan sering didahului oleh lekopeni progresif disertai penurunan jumlah trombosit. Setelah fase febris. Bila fase kritis terlewati maka terjadi Fase pemulihan yang berupa pengembalian cairan dari ekstravaskuler ke intravaskuler secara perlahan pada 48 – 72 jam setelahnya. nyeri seluruh tubuh. Dengue berat harus dicurigai bila pada pasien berasal dari daerah resiko tinggi penyakit dengue dengan demam yang berlangsung 2-7 hari disertai dengan ditemuan berikut:  Bukti kebocoran plasma seperti hematokrit yang tinggi atau meningkat secara progresif. gangguan sirkulasi atau syok (takikardi.5-38C atau kurang) disertai kenaikan permeabilitas kapiler dan timbulnya kebocoran plasma yang biasanya berlangsung selama 24 – 48 jam. nafsu makan pulih kembali. mialgia. Anoreksia. mual dan muntah sering terjadi. Jika tidak segera ditangani atau ditangani secara tidak tepat. asites. eritema kulit. Pada fase ini dapat terjadi syok yang memiliki beberapa tanda peringatan seperti penurunan temperatur suhu tubuh. Keadaan umum penderita membaik.Fase febris biasanya demam mendadak tinggi 2 – 7 hari. Pembesaran dan nyeri tekan hepar sering tampak setelah beberapa hari demam. artralgia dan sakit kepala. disertai muka kemerahan. adanya efusi pleura atau asites. Sedangkan pada pemeriksaan darah lengkap tanda abnormal yang dapat di lihat secara dini adalah penurunan progresif dari jumlah total leukosit. akan terjadi fase kritis pada hari 3 – 7 sakit dan ditandai dengan penurunan suhu tubuh (37. penyakit ini dapat menjadi berat dan menyebabkan kematian. Pada fase ini dapat pula ditemukan tanda perdarahan seperti petekie. Kebocoran plasma dapat terlihat dari adanya efusi pleura. hemodinamik stabil dan diuresis membaik. walaupun jarang dapat pula terjadi perdarahan pervaginam dan perdarahan gastrointestinal. ekstremitas . injeksi farings dan konjungtiva. perdarahan mukosa. Pada beberapa kasus ditemukan nyeri tenggorok.

yang dingin. demam chikungunya. tekanan nadi yang menyempit atau pada syok lanjut tidak terukurnya tekanan darah)  Adanya perdarahan yang signifikan  Gangguan kesadaran  Gangguan gastrointestinal berat (muntah berkelanjutan. kardiomiopati dan manifestasi lainnya yang tak lazim. Permasalahan sering timbul akibat dari miskomunikasi klinisi dengan pihak laboratorium. Gambaran klinis penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue ini sering tidak khas. leptospirosis. baik dokter spesialis patologi klinik. gagal ginjal akut. analitik dan paskaanalitik. nyeri abdomen yang hebat atau bertambah. demam tifoid. diperlukan pemahaman imunopatogenesis penyakit DBD. Manifestasi klinis akibat infeksi virus dengue ini dapat menyebabkan keadaan yang beranekaragam. analis. waktu pengisian kapiler (capillary refill time) > 3 detik. mulai dari tanpa gejala (asimtomatik). nadi lemah atau tidak terdeteksi. 2. di samping tahapan praanalitik. teknisi dan pasien. pemeriksaan laboratorium yang tepat dan interpretasi yang didapat dari hasil laboratorium untuk melengkapi gejala klinis yang ada. . demam dengue (DD) atau bentuk yang lebih berat yaitu demam berdarah dengue (DBD) dan sindrom syok dengue (SSD) . ensefalopati/ensefalitis. dapat menyerupai penyakit flu. demam ringan yang tidak spesifik (undifferentiated febrile illness). malaria dan berbagai penyakit lain. ikterik)  Gangguan organ berat (gagal hati akut.7 Diagnosis Untuk mengantisipasi agar diagnosis DBD dapat ditegakkan dengan segera.

000/ul atau peningkatan hematokrit ≥ 20%. hapusan darah tepi maupun enzim hati seperti SGOT dan SGPT. Kumarasamy meneliti sensitivitas dan spesifisitas NS1 pada 554 donor sehat dan 297 pasien terinfeksi virus dengue dimana 157 pasien PCRnya positif dan pasien diperiksa juga IgM dan IgG antidengue. untuk memberi informasi lebih. Pemeriksaan hemoglobin. DEN-2. Keuntungan mendeteksi antigen NS1 yaitu untuk mengetahui adanya infeksi dengue pada penderita tersebut pada fase awal demam. Spesifisitas antigen NS1 100% sama tingginya seperti pada gold standard kultur virus maupun PCR. yang terdapat baik pada serotipe DEN-1 (terbanyak). dalam menunjang diagnosis DBD. mengingat belum ada nilai standar hematokrit orang Indonesia anak-anak maupun dewasa. malaria. DEN-3 dan DEN-4). influenza. Hal yang tak kalah penting adalah memahami kelemahan pemeriksaan laboratorium tersebut. hepatitis dan lain-lain). Pemeriksaan NS1 lebih unggul sensitivitasnya dibandingkan kultur virus dan pemeriksaan PCR maupun antibodi IgM dan IgG antidengue. tanpa perlu menunggu terbentuknya antibodi. Saat ini sudah ada tes yang dapat mendiagnosis DBD dalam waktu demam 8 hari pertama yaitu antigen virus dengue yang disebut dengan antigen Non Stereotypic antigen-1 (NS1).Penegakkan diagnosis DBD masih menggunakan kriteria WHO 1997. Antigen NS1 terdapat baik pada infeksi primer maupun sekunder. Pemeriksaan serologis berupa IgM dan IgG antidengue diperlukan untuk membedakan demam yang diakibatkan virus dengue ataukah demam oleh sebab lain (demam tifoid. Untuk mendapatkan peningkatan hematokrit sebesar ≥ 20% secara tepat. Antigen NS1 dapat dideteksi dalam 9 hari pertama demam. hitung jenis. leukosit. sulit dilakukan. yaitu kriteria klinis dan laboratoris berupa trombositopenia kurang dari 100. Beliau mendapatkan spesifisitas 100% . juga diperlukan di samping trombosit dan hematokrit.

keduanya memakai prinsip metode ELISA (Enzyme-linked immunosorbent assay).dan sensitivitas 91. baik dengan cara rapid test menggunakan metode imunokromatografi (ICT) ataupun enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Terdapat 2 macam kit pemeriksaan antigen NS1 di Indonesia. Pemeriksaan IgM dan IgG antidengue tetap diperlukan untuk membedakan infeksi primer atau infeksi sekunder. IgM dan IgG antidengue. namun pada umumnya baru dapat dideteksi pada hari ke 7 demam atau lebih kadar IgM ini terus meningkat dalam 1-3 minggu dan dapat terdeteksi sampai 2 bulan setelah infeksi. yaitu dari Panbio dan BioRad. Pada respon imun sekunder. IgM dapat dimulai timbul pada hari ke 3. . pada umumnya adalah IgG dalam kadar setara dengan infeksi sekunder (batas Hemagglutination Inhibition > 1/1280 atau ada reagen komersial yang mematok batas HI > 1/2560). IgG antidengue diproduksi pada 2 minggu sesudah infeksi dan akan tetap ada di dalam tubuh selamanya. bahkan 25-78% tidak terdeteksi pada infeksi sekunder. IgM diproduksi dimulai pada hari ke 3.0 % dari 157 sampel yang positif PCR nya dengan perbedaan yang tidak signifikan untuk ke empat serotipe. namun optimal paling sedikit 5 hari setelah demam. sedangkan Blacksell meneliti NS1 dan beliau mendapatkan sensitivitas NS1 63% dan spesifisitas 100% dengan memperhatikan adanya perbedaan sekresi yang bervariasi antar serotipe. karena pada infeksi sekunder keadaan dapat menjadi lebih berat. Pada respon imun primer. Saat ini juga sudah terdapat reagen NS1 dalam bentuk rapid test (ICT). Keadaan akut juga dapat ditentukan dengan menggunakan rasio IgM dibandingkan dengan IgG antidengue. IgG capture ELISA. namun untuk kadar yang dapat dideteksi dengan reagen komersial. Hal ini penting untuk penatalaksanaan manajemen terapi di samping epidemiologi.

. telah dapat membedakan infeksi primer atau sekunder.93. Pola reaktivitas IgM dan IgG yang ditentukan dengan menggunakan ELISA ini. baik yang asimtomatik. sedangkan IgG yang kadarnya meningkat jauh melebihi IgM menunjukkan infeksi sekunder. IgM dan IgG ini dapat dijumpai baik pada semua manifestasi klinis infeksi virus dengue. Prevention and Control New terbaru penatalaksanaan pasien berdasarkan 3 kategori kelompok yaitu: 1 Kategori kelompok A adalah Pasien yang tidak memerlukan perawatan rumah sakit dan dapat dipulangkan kerumah. Disarankan pemeriksaan antigen NS1 tetap disertai dengan pemeriksaan antibodi IgM dan IgG antidengue sebagai penentu infeksi primer ataupun sekunder. 2 Kategori kelompok B adalah pasien yang membutuhkan perawatan rumah sakit 3 Kategori kelompok C adalah pasien yang membutuhkan penanganan kegawatdaruratan. Sensitivitas antigen NS1 berkisar 63% . meningkat cepat dalam 3-5 hari demam.4% dengan spesifisitas 100% sama tingginya dengan spesifisitas gold standard kultur virus. Treatment. sekaligus untuk mengatasi kemungkinan hasil negatif palsu pada pemeriksaan antigen NS1. demam dengue. Antigen NS1 dianjurkan diperiksa pada awal demam sampai hari ke delapan.IgG antidengue pada respon imun sekunder. 2.8 Penatalaksanaan Dalam Dengue Guidelines for Diagnosis. dimana variasi hasil ini diduga berkaitan dengan serotipe virus dengue yang menginfeksi. Keberadaan antibodi IgM tanpa IgG menunjukkan infeksi primer. Hati-hati hasil negatif antigen NS1 tidak menyingkirkan adanya infeksi virus dengue. demam berdarah dengue hingga syok sindrom dengue.

Termasuk didalamnya pasien yang memiliki tanda-tanda peringatan. ibuprofen atau golongan anti inflamasi lainnya karena dapat memicu terjadinya radang lambung (Gastritis) dan perdarahan. Nyeri abdomen yang berat. muntah yang terus-menerus.6 jam. Langkah terakhir adalah mengingatkan keluarga pasien atau orang yang mengurus pasien agar memperhatikan dan segera membawa pasien jika terjadi hal-hal seperti: tidak terjadi perbaikan kondisi pasien atau malah memburuk. Penanganan pasien dapat dilakukan dalam beberapa langkah yang dimulai dengan menganjurkan pasien untuk meminum cairan rehidrasi. Pasien yang tergolong kategori B adalah pasien yang memerlukan observasi lebih terutama ketika mereka akan memasuki fase kritis. Dosis parasetamol sebaiknya di minum dengan rentang tidak kurang dari enam jam. tanda-tanda peringatan. gangguan kesadaran. perdarahan (seperti muntah dan BAB hitam) atau tidak kencing lebih dari 4. tanda kebocoran plasma dan perdarahan serta pemantauan darah rutin (Hematokrit. Selanjutnya tenaga medis harus memantau pasien yang dipulangkan kerumah tiap harinya dengan melihat suhu. dan atau memiliki kondisi khusus yang membuat penyakit .Pasien yang tergolong kategori A adalah mereka yang mampu atau memiliki asupan cairan yang adekuat dan kencing minimal sekali tiap enam jam serta tidak memiliki tanda peringatan apapun terutama saat demam mulai mereda. Kompres pasien dengan kompres hangat jika pasien masih tetap demam tinggi setelah pemberian parasetamol. Jangan memberikan asam asetilsalisilat (Aspirin). urin yang keluar. tangan dan kaki yang terasa dingin serta lembab. jumlah trombosit dan leukosit) . jus buah dan cairan lainnya yang mengandung elektrolit dan gula untuk menggantikan komponen yang hilang hilang karena demam atau muntah. Tindakan berikutnya adalah pemberian parasetamol pada pasien yang demam tinggi jika pasien tersebut tidak nyaman dengan keadaannya tersebut. asupan dan cairan yang hilang.

Berikan hanya cairan isotonik seperti saline 0. Pasien yang tinggal sendiri atau tinggal jauh dari pusat kesehatan tanpa memiliki transportasi yang memadai juga termasuk kategori ini. yang dimulai dengan 5-7 ml/Kg/ jam untuk 1-2 jam pertama. lansia.DBD dan penaganannnya menjadi lebih rumit seperti wanita hamil. Berikan cairan intravena yang minim sesuai kebutuhan untuk menjamin perfusi jaringan yang baik serta menjamin pengluaran urin sekitar 0. Hematokrit (Sebelun dan sesudah terapi cairan serta 6. atau hematokrit menurun dibawah nilai batas pada pasien stabil. jika nilai hematokritnya masih tetap sama atau hanya mningkat sedikit maka lanjutkan pemberian cairan 2-3 ml/Kg/ jam selama 2-4 jam. Infus cairan hanya dibutuhkan selama 24-48 jam. kemudian turunkan menjadi 3-5ml/Kg/ jam untuk 2-4 jam berikutnya dan turunkan lagi menjadi 2-3 ml/Kg/ jam atau kurang tergantung dari respon klinis. penderita diabetes melitus. Jika pasien DBD dengan tanda peringatan maka rencana tindakannya adalah sebagai berikut: Diperlukan adanya data Hematokrit sebelum memulai terapi cairan. Nilai kondisi dan periksakan kembali hematokrit pasien. gula darah dan fungsi organ lainnya seperti fungsi ginjal. pengeluaran urinnya (tiap 4-6 jam). Jika tanda vital memburuk dan hematokrit meningkat dengan cepat maka tingkatkat pemberian cairan menjadi 5-10 ml/Kg/ jam berikan selama 1-2 jam. ringer laktat atau caitan hartmann. Pengurangan cairan intravena dilakukan jika jumlah kebocoran plasma telah menurun yang diindikasikan dengan keseimbangan antara asupan cairan dengan jumlah urin yang keluar. Pasien yang menunjukan tanda-tanda peringatan harus tetap dipantau tanda vital dan perfusi perifer (1-4 jam setelah pasien keluar dari fase kritis). Jika pasien DBD tanpa tanda peringatan maka rencana tindakannya adalah sebagai berikut: . hati dan pembekuan darah).12 jam berikutnya.9%.5 ml/Kg/ jam. gagal ginjal dan anak-anak.

Infus cairan hanya dibutuhkan selama 24-48 jam. Berikan cairan intravena yang minim sesuai kebutuhan untuk menjamin perfusi jaringan yang baik serta menjamin pengluaran urin. cairan koloid menjadi pilihan yang lebih baik. Tes laboratorium lainnya seperti fungsi organ lainnya seperti fungsi ginjal dan hati dapat disesuaikan dengan gambaran klinis dan fasilitas yang ada dipusat kesehatan tersebut. pengeluaran urinnya (volume dan frekunsinya). Penggantian cairan plasma yang hilang harus dilanjutkan hingga 24-48 jam.Pasien dianjurkan untuk minum. Pasien harus memulai asupan cairan oral setelah beberapa jam terapi cairan intravena. pasien dengan perdarahan yang masif. Hematokrit. Semua pasien yang masuk dalam kategori C ini harus mendapatkan perawatan di ruangan intensive care serta mendapatkan trasfusi darah. Untuk pasien dengan berat badan berlebih dan obesitas. Pasien yang tetap dipantau tanda vital dan perfusi perifer. Cairan kristaloid yang digunakan harus bersifat isotonik dan volumenya hanya cukup untuk mengatur sirkulasi yang efektif selama terjadinya kebocoran plasma.9% atau ringer laktat dengan atau tanpa pemberian dextrose dengan dosis perawatan. Untuk pasien dengan berat badan berlebih dan obesitas . atau gangguan fungsi organ berat seperti kerusakan hati. perhitungan jumlah cairan intravena menggunakan berat badan idealnya. Jika memungkinkan selalu melakukan pemeriksaan nilai hematokrit sebelum dan sesudah terapi cairan. jumlah leukosit dan trombosit. Cairan plasma yang hilang harus segera tergantikan dengan pemberian cairan kristaloid isotonik atau dalam kasus yang terjadi syok hipotensi. Jika hal ini tidak dapat ditoleransi dengan baik maka dapat diberikan cairan intravena dengan menggunakan saline 0. kardiomiopati. ensefalitis atau ensefalopati. Pasien yang tergolong kategori C adalah pasien yang mengalami kebocoran plasma berat yang mengarah ke syok dan / atau akumulasi cairan dengan gangguan pernafasan. gangguan ginjal.

antara lain: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Keterlambatan diagnosis Keterlambatan diagnosis shock Keterlambatan penanganan shock Kelebihan cairan Kebocoran hebat Pendarahan masif Kegagalan organ Ensefalopati Sepsis. denyut nadi. dipengaruhi oleh adanya antibodi yang didapat secara pasif atau infeksi sebelumnya.9 Prognosis Prognosis demam dengue dapat beragam. capillary refill time dibawah 2 detik dan ekstemitas yang teraba hangat. kematian telah terjadi pada 4050% pasien dengan syok. 10 Target dari terapi cairan ini adalah adanya perbaikan sirkulasi sentral dan perifer yang ditandai dengan perbaikan tekanan darah. Kematian disebabkan banyak faktor. 2. Terapi transfusi darah harus diberikan hanya pada kasus yang diduga atau telah nyata adanya perdarahan yang banyak.maka perhitungan cairan menggunakan ukuran berat badan ideal pasien tersebut.5 ml/kg/jam. Keselamatan secara langsung berhubungan dengan penatalaksanaan awal dan intensif. Selain itu penilain juga di ambil dari perbaikan perfusi ke organ akhir. Pada DBD. tetapi dengan penanganan intensif yang adekuat kematian dapat ditekan <1% kasus. Pada kasus yang jarang. . membaiknya keadaan asidosis metabolik serta pengeluaran urin diatas sama dengan 0. terdapat kerusakan otak yang disebabkan syok berkepanjangan atau perdarahan intrakranial.

1 Gambaran Umum Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Kilangan .BAB III ANALISI SITUASI 3.

Batas wilayah kerja puskesmas Lubuk Kilangan sebagai berikut : a b c d Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Pauh Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Solok Sebelah Barat berbatas dengan Kecamatan Lubuk Begalung Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Bungus Teluk Kabung (Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Lubuk Kilangan.99 km2.Puskesmas Lubuk Kilangan terletak di kecamatan Lubuk Kilangan dengan wilayah kerja meliputi 7 kelurahan dengan luas wilayah 85. jumlah Penduduk Kec.806 jiwa dengan jumlah KK 12. Adapun rincian jumlah penduduk menurut kelurahan dapat dilihat pada tabel berikut: .290 RT Sebanyak 171 dan RW 44 dengan rata-rata anggota keluarga 4 orang serta kepadatan penduduk 489/km². 2014) 3. Lubuk Kilangan adalah sebanyak 51.2 Kondisi Demografis Berdasarkan data dari Kantor Kecamatan Lubuk Kilangan Kota Padang tahun 2014.

Pedagang dan peternak : 2.92%) 3.215 (31.92%) .PNS : 2.37%) : 1.822 (5.Buruh tani : 2.Tamat SMU .Tidak tamat SD .070 (32.Buruh tani : 9.3 Mata Pencaharian Mata pencaharian di wilayah kerja UPTD Puskesmas Lubuk Kilangan antara lain: .620 (10.Tamat SLTP .138 (1.4 Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan penduduk di wilayah kerja UPTD Puskesmas Lubuk Kilangan antara lain: .Tamat SD .646 (7.842 (14.07%) .Tamat D3 .Tamat D1 .223 (1.2 Kondisi Sarana Pendidikan Puskesmas lubuk Kilangan tahun 2014 N Kelurahan TK SD SMP SMA .27%) : 7.53%) 3.907 (39.68%) .Tidak Bekerja : 11.090 (6.62%) : 1.558 (24.41%) : 24.Serabutan : 25.Tabel 3.647 (17.23%) : 4.5 Sarana dan Prasarana 1 Sarana Pendidikan Tabel 3.Tamat S1 : 11.08%) : 1.80%) .49%) : 1.1 Distribusi Penduduk Menurut Kelurahan di Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Kilangan tahun 2014 No Kelurahan JML KK JML JIWA RT RW 1 Bandar Buat 3753 14403 43 11 2 Padang Besi 1448 7274 20 4 3 Indarung 2885 11096 44 12 4 Koto Lalang 1645 6972 31 8 5 Batu Gadang 1591 6901 21 5 6 Baringin 322 2470 5 2 7 Tarantang 646 2690 7 2 Jumlah 12290 51806 171 44 3.Belum Sekolah .204 (1.344 (3.01%) .

2014) Rusak Berat 1 1 .o 1 2 3 4 5 6 7 Bandar Buat 9 6 3 Padang Besi 2 4 0 Indarung 1 6 1 Koto Lalang 3 3 0 Batu Gadang 1 2 0 Baringin 1 1 0 Tarantang 0 1 0 Jumlah 14 23 4 (Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Lubuk Kilangan. 2014) 2 0 0 2 0 1 0 0 3 Sarana Kesehatan Tabel 3.3 Kondisi Sarana Kesehatan Puskesmas Lubuk Kilangan tahun 2014 No I 1 2 3 4 5 6 7 9 II 1 2 3 4 5 6 II I Jenis Sarana dan Prasarana Jumla Sarana Kesehatan Puskesmas Induk Puskesmas Pembantu Rumah Dinas Dokter Rumah Dinas Perawat Poskeskel Puskesmas Keliling roda 4 Ambulance Sepeda Motor Sarana Penunjang Komputer Laptop Mesin Tik Telepon Listrik Sarana Air Bersih Sarana dan Prasarana lain Dalam h Baik 1 4 1 7 1 1 5 1 4 1 7 1 1 5 10 4 2 1 1 1 10 4 1 1 1 Kondisi Rusak Rusak Ringan Sedang Puskesmas 1 Laboratorium 1 1 (Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Lubuk Kilangan.

1 Ketenagaan Puskesmas Tabel 3.4 Kondisi Ketenagakerjaan Puskesmas Lubuk Kilangan tahun 2014 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Jenis Ketenagaan Dokter Dokter Gigi Sarjana Kesmas Sarjana Keperawatan Rekam Medik D4 Kebidanan D3 Keperawatan D3 Kebidanan D3 Gizi D3 Teknisi Gigi Bidan ( DI ) Perawat ( SPK ) AAK & Analis Kimia Ass. Apoteker SMA Perawat Gigi D4 Kesling & D3 Kesling JUMLAH Jumlah 3 3 4 1 1 5 4 11 1 2 6 6 2 2 6 1 2 60 Status Kepegawaian 2 PNS. 1 pddk PNS PNS PNS PNS PNS PNS 10 PNS. 2 PPT PNS PNS PNS 5 PNS. 1 PPT PNS PNS 4 PNS.3 Prasarana Kesehatan - Posyandu Balita Posyandu Lansia Kader Kesehatan Praktek Swasta Dokter Umum Prakter Swasta Dokter Gigi Praktek Bidan Swasta Klinik Bersalin Rumah Obat Rumah Sakit Swasta Pos UKK Pengobatan Tradisional Toga : 43 Pos : 14 Pos : 166 Orang : 5 orang : 2 Orang : 21 orang : 5 Buah : 5 Buah : 1 Unit : 3 Pos : 38 Buah : 27 Buah 3. 1 Honor PNS PNS .6 Data Khusus 3.6.

3.3 Agama dan Sarana Ibadah Agama yang dipeluk oleh penduduk Kecamatan Lubuk Kilangan sebagian besar adalah agama Islam. Hindu dan Aliran Kepercayaan.6. dibagi menjadi 5 yakni :  IRJ (Instalasi Rawat Jalan)  UGD (Unit Gawat Darurat) . adat. Media kesenian yang masih lestari antara lain adalah : Arakan pengantin. Kristen Katolik. Pertunjukan Saluang dll. dan kebiasaan penduduk Kecamatan Lubuk Kilangan masih kental dengan tradisi yang ada. Budha.7 Upaya Penyelenggaraan Upaya kesehatan pada Puskesmas Lubuk Kilangan dibagi menjadi dua yakni : 1 Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM).2 Sosial Budaya Perilaku. Tradisi Balimau menjelang Bulan Ramadhan. antara lain : a UKS b UKGM c Remaja d Usila e Poskestren Haji f PONED Upaya Kesehatan Perseorangan (UKP). 3. dibagi 2 yakni:   2 Wajib.antara lain : a Upaya promosi kesehatan b Upaya kesehatan lingkungan c Upayakesehatana ibu dan anak serta keluarga berencana d Upaya perbaikan gizi masyarakat e Upaya Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular f Upaya pengobatan Inovasi. Agama yang lain adalah Kristen Protestan.3.6.

Sasaran sekunder kegiatan ini . dan pemberantasan vektor. dan kematian. Sasarannya adalah: ibu hamil.3. campak) 7 Pemberantasan penyakit 8 Pendidikan kesehatan Di Puskesmas Lubuk Kilangan pelaksanaan UPK salah satunya di bidang pencegahan dan pemberantasan penyakit menular (P2M) adalah menemukan kasus penyakit menular sedini mungkin dan mengurangi faktor risiko yang memudahkan terjadinya penularan penyakit. Sasarannya adalah: ibu hamil. dan kematian. imunisasi. kesakitan. balita dan anak-anak sekolah serta kelompok masyarakat tertentu yang berperilaku resiko tinggi. tetanus neonatorum. difteri. polio. Sasaran sekunder kegiatan ini adalah lingkungan pemukiman masyarakat. pertusis.8  Farmasi  Laboratorium Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2M) Tujuan pelaksanaan UPK bidang pencegahan dan pemberantasan penyakit menular adalah menemukan kasus penyakit menular sedini mungkin dan mengurangi faktor risiko yang memudahkan terjadinya penularan penyakit. balita dan anak-anak sekolah serta kelompok masyarakat tertentu yang berperilaku resiko tinggi. Ruang lingkup kegiatan meliputi surveilans epidemiologi. kesakitan. Berbagai kegiatan pencegahan dan pemberantasan penyakit menular yang dilakukan di Puskesmas Lubuk Kilangan adalah: 1 Mengumpulkan dan menganalisis data penyakit 2 Melaporkan penyakit menular pada Dinas Kesehatan Kota Padang 3 Menyelidiki lapangan untuk mengetahui sumber-sumber penularan dan menemukan kasus-kasus lain 4 Tindakan yang dilakukan untuk menahan penjalaran penyakit endemik 5 Penyembuhan penderita sehingga tidak menjadi sumber infeksi 6 Pengebalan atau imunisasi yang bertujuan menurunkan angka kematian dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (TBC paru.

polio. P2P HIV-AIDS. pemberantasan penyakit dan pendidikan kesehatan Jenis pelayanan kesehatan pokok pencegahan dan pemberantasan penyakit menular (P2P) yang dilakukan di Puskesmas Lubuk Kilangan diantaranya P2P Malaria P2P polio. P2P Demam Berdarah Dengue. P2P Diare. Dari beberapa kegiatan P2P yang telah dilakukan. P2P TB Paru. campak). untuk bulan Januari sampai September 2015. 2 Menurunkan kematian < 2 % 3 Meningkatkan angka bebas jentik (ABJ) 95 % 4 Cegah/batasi KLB/wabah Sasaran pemberantasan DBD adalah masyarakat di daerah endemis dan non endemis. difteri. Tujuan khusus pemberantasan DBD adalah: 1 Menurunkan insiden DBD non endemis < 20/100. penyembuhan penderita sehingga tidak menjadi sumber infeksi. sementara jumlah kasus DBD yang tercatat sejumlah 4 kasus dalam kurun waktu Agustus dan September 2015. tetanus neonatorum. pengebalan atau imunisasi yang bertujuan menurunkan angka kematian dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (TBC paru. P2P ISPA. melaporkan penyakit menular pada Dinas Kesehatan Kota Padang. pertusis. dan pemberantasan vektor.adalah lingkungan pemukiman masyarakat. Berbagai kegiatan pencegahan dan pemberantasan penyakit menular yang dilakukan di Puskesmas Bareng adalah mengumpulkan dan menganalisis data penyakit.9 Pencegahan dan Pemberantasan DBD (P2M DBD) Tujuan umum pemberantasan DBD adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian karena DBD serta mencegah dan membatasi kejadian luar biasa atau wabah. Ruang lingkup kegiatan meliputi surveilans epidemiologi.000. 3. imunisasi. P2P DBD menjadi prioritas dibandingkan kegiatan P2P yang lain. tindakan yang dilakukan untuk menahan penjalaran penyakit endemik. Kegiatan pemberantasan DBD di Puskesmas Lubuk Kilangan adalah: 1 Melakukan pemeriksaan jentik berkala (PJB) pada 400 rumah . menyelidiki lapangan untuk mengetahui sumbersumber penularan dan menemukan kasus-kasus lain. Hal ini karena terdapat 1 orang yang meninggal dunia dengan diagnosa Demam Berdarah Dengue di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan.

70% 5 Jumlah rumah yang diabatisasi selektif 0 0 6 Penyuluhan Kesehatan tentang DBD 0 0 Sumber : Laporan Bulanan Pemberantasan Penyakit Menular Demam Berdarah Dengue (DBD) di Puskesmas Lubuk Kialangan bulan Agustus dan September 2015 BAB IV MASALAH PROGRAM Salah satu parameter keberhasilan program upaya kesehatan yang dilakukan Puskesmas adalah target yang telah ditetapkan Puskesmas tersebut di awal tahun yang didasarkan pada .2 Menemukan tersangka kasus DBD (20/100.1. Pencapaian Puskesmas Lubuk Kilangan dalam Pemberantasan Penyakit Menular Demam Berdarah Dengue (DBD) bulan Agustus dan September 2015 No 1 2 3 4 Kegiatan Jumlah Agustus September Jumlah pelacakan penderita DBD Jumlah penderita DBD yang meninggal Jumlah fogging Fogging fokus Fogging massal (ULV) Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) Jumlah rumah yang dilakukan pemeriksaan jentik Jumlah rumah yang ada jentik Angka bebas jentik Jumlah Container yang dilakukan pemeriksaan jentik Jumlah Container yang ada jentik Container index 2015 4 0 2015 1 0 0 0 1 1 450 100 77.10% 735 79 86 10.000 penduduk) 3 Menangani penderita DBD sesuai standar 4 Meningkatkan kepatuhan provider terhadap prosedur penanganan DBD 5 Melengkapi alat pelayanan DBD di Puskesmas Tabel 3.78% 775 445 93 79.19% 11.

Sehingga nantinya dapat dievaluasi dan ditindak lanjuti dengan perbaikan-perbaikan untuk mencapai targetan tersebut. Jadi indeks Angka Bebas Jentik untuk bulan Agustus dan September 2015 masih berada dibawah Angka nasional Angka Bebas Jentik (ABJ).target dari Dinas Kesehatan Kota Padang dimana puskesmas itu berada.806 jiwa. Sehingga didapatkan besar insidens kasus DBD di kecamatan Lubuk Kilangan adalah sebesar 10/ 100.1. Angka nasional untuk Angka Bebas Jentik (ABJ) adalah sebesar lebih dari 95%.78%. Dari beberapa permasalahan yang terdapat dalam program P2M DBD Puskesmas Lubuk Kialngan dilihat dari segi UKP. Prioritas masalah sendiri ditentukan oleh beberapa faktor. Upaya kesehatan Perseorangan . Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak bangunan yang didalamnya terdapat tempat penampungan air yang mengandung jentik-jentik nyamuk Aedes aegypti.000 jiwa. Jumlah insidens kasus Demam Berdarah Dengue pada Agustus dan September 2015 adalah sebesar 5 kasus dengan jumlah penduduk kecamatan Lubuk Kialngan sebanyak 51. Kegiatan Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) yang dilakukan pada bulan Agustus 2015 didapatkan data Angka Bebas Jentik (ABJ) sebesar 77.10%. sementara pada bulan September 2015 didapatkan data data Angka Bebas Jentik (ABJ) sebesar 79. UKM dan Menajemen Puskesmas.000 jiwa. Dari angka insidens DBD tersebut maka insidens kasus DBD di wilayah Puskesmas Lubuk Kialngan dalam batas normal. diantarannya : 1 Emergency 2 Severity 3 Magnitude/greatest member 4 Rate of increases 5 Expanding scope 6 Public concern 7 Degree of unmeet need 8 Tecnological feasibility 9 Benefit 10 Keterpaduan 11 Pertimbangan politik dan spesial mandat 4. Angka nasional yang ditetapkan oleh Dinas Kesehatan Kota Padang untuk insidens DBD adalah kurang dari 20/100.

mulai dari penegakan diagnosa sampai pemberian terapi. Sementara pelaksaan PSN dan PJB merupakan salah satu kegiatan dalam program P2M DBD yang keberhasilannya memerlukan peran aktif masyarakat. Puskesmas melakukan kontol pembagian bubuk abate itu dengan cara . Angka bebas jentik menunjukkan perbandingan antara jumlah rumah atau bangunan dan tempat penanmpungan air yang bebas jentik nyamuk aedes aegypti di suatu wilayah kerja Puskesmas dalam kurun waktu tertentu dengan seluruh jumlah rumah atau bangunan dan tempat penampungan air yang di periksa dalam kurun waktu yang sama. Upaya Kesehatan Masyarakat Angka bebas jentik di Kecamatan Bareng bulan Agustus sampai September 2015 masih berada di bawah standar angka bebas jentik nasional. Sering kali pasien yang berobat di Puskesmas dengan diagnosa DBD langsung di rehidrasi cepat. Padahal penanganan pasien yang seharusnya atas instruksi dari dokter kepada perawat. Disamping itu. Hambatan yang muncul dala pelaksanaan PSN dan PJB berasal dari sumber daya manusia yang kurang baik kualitas maupun kuantitas. Padahal berdasarkan pedoman tatalaksana dari WHO rehidrasi pasien berbeda tiap tingkat keparahannya.Puskesmas Lubuk Kilangan dalam pelaksanaan upaya kesehatan individu di wilayah kerjanya yang menyangkut program P2M DBD belum memiliki alur penanganan pasien yang baik. Tanpa melihat tingkat keparahan dari penyakit DBD itu sendiri. 4. perawat melakukan intruksi terapi dari dokter yang menangani pasien tersebut.2. Puskesmas memberikan bubuk abate dibagikan ke masyarakat saat penyuluhan dan di titipkan pada bebrapa orang untuk di bagikan ke masyarakat sekitarnya. kurangnya tenaga dokter di Puskesmas Lubuk Kilangan menyebabkan pasien yang berobat di sana lebih banyak ditangani secara penuh oleh perawat. Pelaksanaan program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) oleh Puskesmas Lubuk Kilangan dalam wilayah kerjanya masih belum optimal. Program abatisasi yang dilaksanakan bekeja sama dengan masyrakat dalam distribusi bubuk abate. Penghitungan ABJ berpedoman pada buku petunjuk teknis penanggulangan Demam Berdarah Dengue Depkes RI. Padahal Departemen Kesehatan RI menetapkan untuk angka bebas jentik nasional harus di atas 95 %.

Akibatnya suatu program yang seharusnya melibatkan beberapa bidang hanya dibebankan pada satu bidang saja. tetapi dalam pelaksanaannya kurang efektif. Lokakarya mini puskesmas seharusnya dijadikan forum bersama antar program internal puskesmas dan masyarakat.3. Proses pendelegasian tugas dan beban tidak merata antara pegawai puskesmas. dan Balai Pengobatan juga ikut berperan dalam Program P2M DBD tersebut. Sehingga pelaksana program tersebut kurang fokus dan hasil dari program yang dicapai kurang dari target yang telah ditentukan Dinas Kesehatan Kota Padang dan Puskesmas Lubuk Kilangan. Saat ini di Puskesmas Lubuk Kilangan banyak program yang berjalan sendir-sendiri tanpa adanya kerjasama lintas program dan lintas sektoral. Gizi. Sebagai contoh penanggung jawab P2M DBD merangkap tanggung jawab program yang lain diluar program P2M DBD. Padahal bidang-bidang seperti bidang Promosi Kesehatan. banyak masyarakat yang tidak menerima bubuk abate dari puskesmas tetapi secara pribadi membelinya dari penjual yang ada. Dari survey yang kami lakukan di Kelurahan Padang Besi. Manajemen Puskesmas Program puskesmas sangat banyak sehingga memerlukan manajemen yang baik.menanyakan ke perangkat desa atau orang yang di tunjuk tanpa mengecek langung ke masyarakat. Dari beberapa kegiatan P2M . Pada pelaksanaan program PSN dan PJB oleh Puskesmas Lubuk Kilangan hanya melibatkan bidang P2M DBD saja. Penyehatan Lingkungan. BAB V PEMBAHASAN Pelaksanaan program P2M Demam Berdarah Dengue di Puskesmas Lubuk Kilangan telah di rencanakan dengan target yang dapat diukur berupa angka. 4.

Belum berjalannya alur penanganan pasien DBD yang standart dan penatalakasaan pasien DBD di rawat jalan Pasien Lubuk Kilangan disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya : 1 Belum dipatuhinya alur penatalaksanaan dan Prosedur Pelaksanaan sesuai standar WHO 2 Penatalaksanaan pasien DBD sebagian besar dilakukan tenaga kesehatan perawat 3 5.1 Upaya Kesehatan Perseorangan Beberapa permasalahan seperti belum tersedianya alur penanganan pasien yang standar. sementara jumlah kasus DBD yang tercatat sejumlah 5 kasus dalam kurun waktu Agustus dan September 2015. . Hal ini karena terdapat banyak kasus Demam Berdarah Dengue di bandingkan penyakit lainnya di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan. P2M DBD menjadi prioritas dibandingkan kegiatan P2M yang lain. Beberapa faktor yang mempengaruhi diantaranya: 1 Masyarakat a kurangnya pengetahuan tentang Demam Berdarah dengue dan cara pencegahannya b Kurangnya kesadaran masyarakat dalam menindak lanjuti program dari Puskesmas terutama program PSN sesuai dengan penelitian di Kecamatan Lubuk Kilangan. Hal ini berarti program P2M DBD yang berbasis masyarakat belum terlaksana dengan baik.2 Tenaga kesehatan berupa dokter kurang Upaya Kesehatan Masyarakat Upaya kesehatan masyarakat yang menyangkut program-program P2M DBD yang memerlukan peran serta aktif masyarakat. penderita DBD lebih banyak ditangani oleh tenaga perawat. untuk bulan Agustus dan September 2015. Sementara kondisi dilapangan angka keberadaan jentik cukup tinggi sehingga angka bebas jentiknya rendah. 5. Permasalahan tersebut apabila ditelusuri lebih lanjut akan diperoleh beberapa faktor yang mendukung.yang telah dilakukan.

2. pelaksanaanya dilakukan oleh bidan desa atau kader. e penggunaan bubuk abate yang kurang benar.c kualitas dan kuantitas kader kesehatan yang kurang memadai. Contohnya penolakan masyarakat untuk diperiksa jentik di penampungan airnya oleh kader kesehatan. masih kurang melibatkan bidangbidang selain bidang P2M DBD. Hal ini disebabkan karena kurangnya transfer informasi antar bidang-bidang yang ada di Puskesmas Lubuk Kilangan. 5. b Program PSN dan PJB. baik internal maupun eksternal. Beberapa faktor yang menyebabkan masalah dalam manajemen puskesmas menyangkut kinerja bidang P2M DBD diantaranya : 1 Dalam pelaksanaan program-program P2M DBD. d adanya keengganan sebagian masyarakat untuk mendukung dan berperan aktif dalam program PSN karena ketidakpahaman mereka. 3 Penanggung jawab P2M DBD juga kurang diberi wewenang untuk pendelegasian tugas-tugasnya kepada pegawai puskesmas yang lain. 2 Pendelegasian tanggung jawab program P2M DBD tidak berjalan dengan baik. c kurangnya pelatihan dan pembekalan kader kesehatan tentang DBD dari Puskesmas Lubuk Kilangan.3 Manajemen Puskesmas Kebijakan puskesmas dalam pelaksanaan program-program bidang P2M DBD mempengaruhi kinerja dan pencapaian program tersebut. sehingga evaluasi program bergantung pada kinerja bidan desa atau kader. Puskesmas a penyuluhan tentang DBD dan pencegahannya dilakukan Puskesmas Lubuk Kilangan bila ada permintan dari daerah tertentu atau ada kasus DBD yang terjadi di daerah tersebut. Hal ini disebabkan karena penanggung jawab P2M DBD merangkap kesibukkan lain internal puskesmas. Kebijakan puskesmas Lubuk Kilangan sendiri mengatur segala hal yang menyangkut setiap program yang dilaksanakan bidang P2M DBD Puskesmas Lubuk Kilangan. .

sehingga proses diskusi yang terjadi adalah komunikasi 1 arah. setiap program sering tidak dipresentasikan tentang gambaran dan pencapaian karena tidak ada waktu. . Serta tidak mencari solusi bersama bidangbidang yang lain.4 Dalam lokakarya mini.

2 Upaya Kesehatan Masyarakat 1 penambahan jumlah kader dengan cara perekrutan kader baru melalui PKK dan pemberian Surat Tugas dari Puskesmas Lubuk Kilangan dan pemerintahan Desa. 3 pembuatan lembar observasi asuhan keperawatan. 6.BAB VI PENYELESAIAN MASALAH DAN RENCANA TINDAK LANJUT 6. 4 pembuatan alur diagnosa dan penatalaksanaan pasien yang mudah dipahami dan dilaksanakan oleh tenaga medis non dokter. 5 melakukan penilaian tingkat pengetahuan masyarakat tentang DBD dan pencegahannya sebagai pedoman dalam memilih daerah yang menjadi prioritas dilaksanakannya penyuluhan. 3 pelatihan dan pembekalan kader kesehatan tentang ciri-ciri jentik nyamuk aedes aegypti. .1 Upaya Kesehatan Perseorangan 1 pelatihan dan pembekalan tenaga kesehatan puskesmas mengenai standar prosedur dan operasional penanganan pasien DBD 2 pengawasan dan evaluasi berkala mengenai penatalaksanaan pasien DBD.3 Manajemen Puskesmas 1 Pembagian tugas dan beban yang merata diantara pegawai puskesmas Lubuk Kilangan. Penyuluhan ditindak lajuti dengan monitoring tindak lanjut dan evaluasi hasil yang dicapai. 2 pertemuan rutin kader kesehatan yang diadakan Puskesmas tiap bulan untuk mengevaluasi program yang sudah disepakati sebelumnya dan membahas masalah yang ada di masing-masing wilayah kerja kemudian mencari solusi dari masalah tersebut. 4 pertemuan masyarakat desa untuk diberikan penjelasan dari perangkat desa mengenai pentingnya kerja sama semua pihak dalam mengatasi masalah kesehatan yang ada. agar pegawai puskesmas yang mendapat tugas dapat fokus dalam bekerja sehingga setiap program dapat berjalan dengan baik. 6.

.2 Pemberian wewenang bagi penanggung jawab program dalam membentuk tim pelaksana program atas persetujuan kepala Puskesmas 3 Dalam lokakarya mini disediakan waktu untuk diskusi antar bidang untuk membicarakan program-program dari tiap bidang sehingga terjadi komunikasi dua arah. Diharapkan adanya kerjasama lintas program dalam pelaksanaan program P2M DBD.

3 Indeks Angka Bebas Jentik bulan Agustus 2015 sebesar 77. bekerjasama Program Promosi kesehatan (Promkes) Puskesmas Lubuk Kilangan. 4 Meningkatkan penyuluhan mengenai pemberantasan sarang nyamuk terutama di tingkat RT dan kelurahan dan sekolah-sekolah sehingga nilai ABJ dapat lebih ditingkatkan sampai angka ≥ 95%. 2 Kasus kematian karena DBD di Kecamatan Lubuk Kilangan tidak ada dari bulan AgustusSeptember 2015 sebesar 0%. bekerjasama dengan Program Kesehatan Lingkungan (KesLing) Puskesmas Lubuk Kilangan untuk mengurangi angka kejadian DBD.BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 1 KESIMPULAN 1 Jumlah insiden kasus DBD di wilayah Puskesmas Lubuk Kilangan untuk bulan AgustusSeptember 2015 dalam batas normal. 4 Masih dijumpai masalah dalam Upaya Kesehatan Perseorangan pasien DBD di Puskesmas Lubuk Kilangan 5 Masih dijumpai masalah dalam Upaya Kesehatan Masyarakat program P2M DBD di Puskesmas Lubuk Kilangan 6 Masih dijumpai masalah dalam Manajemen pencegahan dan penanggulangan DBD di Puskesmas Lubuk Kilangan 2 SARAN 1 Perlunya peran serta aktif masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan DBD di kecamatan Lubuk Kilangan 2 Pemilihan dan pemberian penghargaan kepada kader kesehatan idola setiap tahun oleh Puskesmas Lubuk Kilangan dan pemerintahan Kecamatan Lubuk Kilangan. dibawah Angka Nasional untuk Angka Bebas Jentik sebesar 95 %. .10 %. 5 Mengadakan kerjasama dengan praktek dokter swasta atau tempat pelayanan kesehatan lainnya yang berada di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan dalam pendataan penderita DBD. 3 Meningkatkan hiegene perorangan.78 % dan bulsn September 2015 sebesar 79.

Bambang Setiyohadi. Jakarta: Pusat Penerbit Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.html.In Natadisastra. Epidemiology 4 http://www. Epidemiologi dan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia. Leonar Nainggolan. Nyamuk sebagai Vektor Penyakit Demam Berdarah Dengue . Aru. Accessed Agustus 2011. 2 Kementrian Kesehatan Indonesia. Idrus Alwi. J Kesehatan 6 Lingkungan Vol 2 No. 2007.com/doc/57457867/demam- 3 berdarah . 2009. Gambaran Epidemiologi Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Angka Insidennya. 2010.cdc. 2009. Khie Chen. Jakarta: EGC. CDC. Ridad. Agoes. Fathi.wordpress.1. Accesed Agustus 2011. Soedjajadi K. Sitti Setiati. ed.com/2010/01/15/waspada-demam-berdarah/ 5 Accessed Agustus 2011. Jakarta:Departemen Kesehatan. Demam Berdarah Dengue. 47-9 Hairani. 8 Universitas Indonesia. Juli 2005. Djaenudin. Jakarta. Lila Kesuma. Chatarina U.gov/Dengue/epidemiology/index. 315-7 . Skripsi Sarjana. Herdiman T. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III ed IV. Available at: http://datinkessulsel.scribd. Available at: Dengue. Waspada Demam Berdarah.W. Peran faktor Lingkungan dan Perilaku Terhadap Penularan Demam Berdarah Dengue di Kota Mataram. In: Profil Kesehatan 7 Indonesia 2009. Available at: www. 2 1709 Siregar. Demam Berdarah Dengue.DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA 1 Suhendro. Faziah A. Pohan. In: Sudoyo. Marcellus Simadibrata.. Ed Parasitologi Kedokteran Ditinjau dari Organ Tubuh yang Diserang.

Primal. . 11 Aryati. Available at http://itd.php? option=com_content&task=view&id=686&Itemid=136. 1. 21-4 10 World Health Organization.9 Sutjana. Geneva. 2010.unair. accessed Agustus 2011 . Buletin Jendela Epidemiologi ed Agustus Volume II. Dengue Guidelines for Diagnosis. New edition. Prevention and Control.id/index. Treatment. The Role Of Dengue NS-1 Antigen As Diagnostic Tool. Demam Berdarah Dengue di Indonesia Tahun 1968-2009. 2009.ac.