You are on page 1of 100

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Program kesehatan anak merupakan salah satu kegiatan dari penyelenggaraan
perlindungan anak di bidang kesehatan, yang dimulai sejak bayi berada di dalam
kandungan, masa bayi, balita, usia sekolah dan remaja. Program tersebut bertujuan
untuk menjamin kelangsungan hidup bayi baru lahir, memelihara dan meningkatkan
kesehatan anak sesuai tumbuh kembangnya, dalam rangka meningkatkan kualitas hidup
anak yang akan menjadi sumber daya pembangunan bangsa di masa mendatang
(Depkes RI. 2010).
Penyakit ginjal pada anak merupakan salah satu dari sepuluh penyakit anak
terbanyak di Indonesia yang dikumpulkan dari tujuh Pusat Pendidikan Dokter Spesialis
Anak memperlihatkan bahwa SN merupakan penyakit yang paling sering dijumpai
(35%) di poliklinik nefrologi (UKK Nefrologi, 2012). Sindrom nefrotik dapat
menyerang siapa saja namun penyakit ini lebih banyak ditemukan pada anak- anak usia
1 sampai 6 tahun atau pada masa pra sekolah, selain itu kecenderungan penyakit ini
menyerang anak laki-laki dua kali lebih besar dibandingkan anak perempuan, di tandai
dengan sekumpulan gejala yang disebabkan oleh adanya injuri pada glomerular yang
terjadi pada anak dengan karakteristik proteinuria masif > 3,5 gr/hr, hipoalbuminia,
edema, dan hiperlipidemia (Suriadi, dkk. 2006).
Menurut WHO tahun 2012, angka kejadian SN di Amerika berkisar 2 – 7 kasus
baru per 100.000 anak per tahun. Anak keturunan Asia Selatan memiliki tingkat
insidens 7,4 per 100.000 anak per tahun. Dan anak ras lain mencapai 1,6 per 100.000
anak pertahun (Mc Kinney et al. 2001). Di Indonesia, insidens SN dilaporkan 6 per
100.000 anak per tahun pada anak berusia kurang dari 14 tahun (Wirya. 2010. Jurnal
1

keperawataan anak), di Sumatera Barat sendiri angka kejadian SN mencapai 20 kasus
terhitung mulai dari tahun 2011 (Israr, Jurnal SARI Periadtrik, vol. 4. 2012).
Angka kejadian sindroma nefrotik ini memang tergolong jarang, namun penyakit
ini perlu diwaspadai terutama pada anak-anak, karena jika tidak segera diatasi akan
menyebabkan komplikasi seperti: thrombosis, infeksi, malnutrisi, hipertensi, peritonitis,
syok, GGA, GGK yang akhirnya nanti dibutuhkan haemodialisis, yang

akan

menggangu perkembangan anak lebih lanjut anak (Gunawan, Sindrom Nefrotik Annak.
2010).
Peran perawat dengan kasus Sindrom nefrotik sangat penting karena pada pasien
sindrome nefrotik sering timbul berbagai masalah yang berkaitan dengan pemenuhan
kebutuhan manusia, seperti upaya promotif yang dilakukan sebelum adanya masalah,
atau tahap dimana sasaran praktek baik individu, keluarga maupun masyarakat paham
atau mengetahui tentang suatu tindakan yang meliputi kegiatan penyuluhan kesehatan
tentang SN, program peningkatan gizi, pemeliharaan kesehatan lingkungan, olah raga,
setelah upaya promotif dilakukan, maka selanjutnya adalah upaya preventif atau
pencegahan merupakan tahap dimana supaya penyakit klien SN ini tidak kambuh lagi.
Upaya kuratif merupakan tahapan dimana klien dibawa anggota keluarga atau
masyarakat ke pelayanan kesehatan untuk mendapatkan penanganan. Klien dapat
dibawa pergi ke Puskesmas, Dokter praktek ataupun Rumah Sakit untuk mendapatkan
penatalaksaan kondisi patologis. Upaya kuratif meliputi pemeriksaan maupun rujukan
dari umum ke tempat yang lebih berwenang dalam menyelesaikan masalah, upaya
rehabilitatif yaitu tahap pemulihan, seperti pada pasien SN, maka pasien perlu
melakukan pengaturan pola diit klien, penimbangan berat badan, pembatasan aktivitas
yang berlebiha, rutin minum obat SN, rutin kontrol ulang. Upaya rehabilitatif ini

2

diharapkan dapat mengembalikan ke kondisi sedia kala atau mengembalikan kepada
fungsi maksimal klien (Effendi. 2010. Keperawatan Kesehatan Komuntas).
Berdasarkan data yang didapatkan oleh kelompok dalam 3 bulan terakhir dari
Rekam Medik Ruang Anak di RSUD. Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi angka kejadian
sindroma nefrotik periode Juli sampai September 2015 tercatat ada 9 klien.
Berdasarkan hal tersebut maka kelompok tertarik untuk mengambil kasus seminar
kelompok tentang “ Sindrom Nefrotik ”.

1.2 Tujuan seminar
1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa memahami dan mampu memberikan asuhan keperawatan pada klien
An. R dengan kasus sindrom nefrotik dengan baik dan benar di Ruang Anak
RSUD Ahcmad Mochtar.
1.2.2

Tujuan Khusus
1. Mahasiswa memahami dan mampu melakukan pengkajian pada kasus
Sindroma Nefrotik di Ruang Anak RSUD Ahcmad Mochtar.
2. Mahasiswa memahami dan mampu merumuskan dan menegakkan diagnosa
keperawataan pada kasus sindroma nefrotik di Ruang Anak RSUD Ahcmad
Mochtar.
3. Mahasiswa memahami dan mampu menyusun intervensi keperawatan pada
kasus Sindroma Nefrotik di Ruang Anak RSUD Ahcmad Mochtar.
4. Mahasiswa memahami dan mampu melakukan implementasi keperawatan
pada kasus Sindroma Nefrotik di Ruang Anak RSUD Ahcmad Mochtar.
5. Mahasiswa memahami dan mampu melakukan evaluasi keperawatan pada
kasus Sindroma Nefrotik di Ruang Anak RSUD Ahcmad Mochtar.
6. Mahasiswa mampu memahami dan membandingkan konsep Sindrom Nefrotik
teoritis dan yang aplikatif.

3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 .

hiperlipidemia (Arif Muttaqin. Sindrom nefrotik adalah suatu kumpulan gejala gangguan klinis. 2004 : 550). yang mengakibatkan kehilangan protein urinaris yang massif (Donna L. hipertensi dan penurunan fungsi ginjal ( Ngastiyah. hipoalbuminemia. 5 . Zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih).1 Konsep Dasar Penyakit Sindrom Nefrotik 2. 2011). Sindrom Nefrotik adalah salah satu penyakit ginjal yang sering dijumpai pada anak. kadang-kadang terdapat hematuria. 2.1. meliputi hal-hal sebagai berikut proteinuria massif > 3.2 Anatomi dan Fisiologi sistem perkemihan Sistem perkemihan atau sistem urinaria merupakan suatu sistem dimana terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih di pergunakan oleh tubuh.5 gr/hr. merupakan suatu kumpulan gejala-gejala klinis yang terdiri dari proteinuria masif. edema. Wong. 1997).1 Defenisi Sindrom Nefrotik adalah Status klinis yang ditandai dengan peningkatan permeabilitas membran glomerulus terhadap protein. hiperkholesterolemia serta sembab/edema.1. hipoalbuminemia.2.

Ukurannya tidak berbeda menurut bentuk dan ukuran tubuh. sedangkan dianterior dilindungi oleh bantaan usus yang tebal. Ginjal Ginjal terletak dibagian belakang abdomen atas. Permukaan anterior dan posterior katup atas dan bawah serta pinggir lateral ginjal berbentuk konveks sedangkan pinggir medialnya berbentuk konkaf karena adanya hilus. di depan dua kosta terakhir dan tiga otot-otot besar transversus abdominalis. lebarnya 6 cm dan beratnya antara 120-150 gram. Ginjal dipertahankan dalam posisi tersebut oleh bantalan lemak yang tebal. Ginjal diliputi oleh suatu kapsula tribosa tipis mengkilat. Perbedaan panjang dari kedua ginjal lebih dari 1. dibelakang peritonium. disebelah posterior dilindungi oleh kosta dan otot-otot yang meliputi kosta. saraf dan pembuluh getah bening.Gambar 1 Susunan Sistem Perkemihan 1. pada orang dewasa ginjal panjangnya 12-13 cm.5 cm atau perubahan bentuk merupakan tanda yang penting karena kebanyakan penyakit ginjal dimanifestasikan dengan perubahan struktur. 95 % orang dewasa memiliki jarak antara katup ginjal antara 11-15 cm. yang beriktan 6 . ada beberapa struktur yang masuk atau keluar dari ginjal melalui hilus antara lain arteri dan vena renalis.. kuadratus lumborum dan psoas mayor.

Dengan dasarnya menghadap korteks dan 7 . dan bagian rongga ginjal (pelvis renalis). Bagian – Bagian Ginjal Bila sebuah ginjal kita iris memanjang. Zat – zat yang terlarut dalam darah akan masuk kedalam simpai bownman.longgar dengan jaringan dibawahnya dan dapat dilepaskan dengan mudah dari permukaan ginjal. sumsum ginjal (medula). Kulit Ginjal (Korteks) Pada kulit ginjal terdapat bagian yang bertugas melaksanakan penyaringan darah yang disebut nefron. Penyaringan darah terjadi pada badan malphigi. yaitu diantara glomerolus dan simpai bownman. 1. maka aka tampak bahwa ginjal terdiri dari tiga bagian. dan gabungan antara glomerolus dengan simpai bownman disebut badan malphigi. yaitu bagian kulit (korteks). pada tempat penyarinagn darah ini banyak mengandung kapiler – kapiler darah yang tersusun bergumpal – gumpal disebut glomerolus. a. 2. Dari sini maka zat – zat tersebut akan menuju ke pembuluh yang merupakan lanjutan dari simpai bownman yang terdapat di dalam sumsum ginjal. tiap glomerolus dikelilingi oleh simpai bownman. Sumsum Ginjal (Medula) Sumsum ginjal terdiri beberapa badan berbentuk kerucut yang disebut piramid renal.

pelvis renalis bercabang dua atau tiga disebut kaliks mayor. Pada bagian ini berkumpul ribuan pembuluh halus yang merupakan lanjutan dari simpai bownman. Rongga Ginjal (Pelvis Renalis) Pelvis Renalis adalah ujung ureter yang berpangkal di ginjal. Satu piramid dengan jaringan korteks di dalamnya disebut lobus ginjal.puncaknya disebut apeks atau papila renis. Piramid antara 8 hingga 18 buah tampak bergaris – garis karena terdiri atas berkas saluran paralel (tubuli dan duktus koligentes). diantara pyramid terdapat jaringan korteks yang disebut dengan kolumna renal. ke pelvis renis ke ureter. yang masing – masing bercabang membentuk beberapa kaliks minor yang langsung menutupi papila renis dari piramid. Kliks minor ini menampung urine yang terus kleuar dari papila. berbentuk corong lebar. urine masuk ke kaliks mayor. 3. b. Di dalam pembuluh halus ini terangkut urine yang merupakan hasil penyaringan darah dalam badan malphigi. mengarah ke bagian dalam ginjal. Fungsi Ginjal 8 . Dari Kaliks minor. Sabelum berbatasan dengan jaringan ginjal. hingga di tampung dalam kandung kemih (vesikula urinaria). setelah mengalami berbagai proses.

8 – 8. Mengatur volume air ( cairan ) dalam tubuh. Eksresi sisa hasil metabolisme ( ureum . 5.2. Mengatur keseimbangan osmotic dan mempertahankan keseimbangan ion yang optimal dalam plasma ( keseimbangan elektrolit ). Cl . 2. 3. K . c. Ca dan fosfat ). pH urine bervariasi antara 4. pH kurang dari 6 ini disebabkan hasil akhir metabolisme protein. Na . hasil metabolisme hemoglobin dan bahan kimia asing (pestisida ). bila terjadi pemasukan /pengeluaran yang abnormal ion – ion akibat pemasukan garam yang berlebihan /penyakit perdarahan (diare . ginjal menyekreksi urine sesuai dengan perubahan pH darah. 4. kekurangan air (kelebihan keringat ) menyebabkan urine yang di eksresi berkurang dan konsentrasinya lebih pekat sehingga susunan dan volume cairan tubuh dapat dipertahankan relative normal. Mengatur keseimbangan asam basa cairan tubuh bergantung pada apa yang dimakan. ginjal menyekresi hormone renin yang mempunyai peranan penting mengatur tekanan darah (system renin angiotensin aldesteron ) membentuk eritropoiesis mempunyai peranan penting untuk memproses pembentukan sel darah merah (eritropoiesis ). kreatinin ) zat – zat toksik .1.muntah) ginjal akan meningkatkan eksresi ion – ion yang penting ( mis. Fungsi hormonal dan metabolisme. asam urat . obat-obatan.urine akan bersifat basa. campuran makanan menghasilkan urine yang bersifat agak asam . apabila banyak makan sayur – sayuran . kelebihan air dalam tubuh akan dieksresikan oleh ginjal sebagai urine (kemih ) yang encer dalam jumlah besar. Peredaran Darah 9 .

Persyarafan Ginjal Ginjal mendapat persyarafan dari fleksus renalis (vasomotor) saraf ini berfungsi untuk mengatur jumlah darah yang masuk ke dalam ginjal. arteria interlobularis yang berada di tepi ginjal bercabang menjadi kapiler membentuk gumpalan yang disebut dengan glomerolus dan dikelilingi leh alat yang disebut dengan simpai bowman. 5. Anak ginjal (kelenjar suprarenal) terdapat di atas ginjal yang merupakan senuah kelenjar buntu yang menghasilkan 2 (dua) macam hormon yaitu hormone adrenalin dan hormon kortison. Persarafan ginjal ginjal mendapat persarafan dari fleksus renalis (vasomotor). Arteri interlobaris merupakan percabangan arteri arkuarta di sudut kanan dan melewati korteks. d. 4. saraf inibarjalan bersamaan dengan pembuluh darah yang masuk ke ginjal. 10 . Arteri renalis percabangan aorta abdomen yang mensuplai masingmasing ginjal dan masuk ke hilus melalui cabang anterior dan posterior. Arteriol aferen berasal dari arteri interlobaris yang membentuk glomerulus.Ginjal mendapat darah dari aorta abdominalis yang mempunyai percabangan arteria renalis. Suplai darah 1. 3. didalamnya terjadi penyadangan pertama dan kapilerdarah yang meninggalkan simpai bowman kemudian menjadi vena renalis masuk ke vena kava inferior. Cabang anterior dan posterior arteri aenalis membentuk arteri-arteri interiobaris yang mengalir diantara piramida ginjal. yang berpasangan kiri dan kanan dan bercabang menjadi arteria interlobaris kemudian menjadi arteri akuata. e. 2. Arteri arkuarta berasal dari arteri interlobaris pada area pertemuan antara korteks dan medula.

5 juta nefron yang pada dasarnya mempunyai struktur dan fungsi yang sama. Nefron juxtamedullaris yaitu nefron yang glomerulinya terletak pada bagian dalam dari korteks dekat dengan cortex-medulla dengan lengkung henle yang panjang dan turun jauh ke dalam zona dalam dari medula. Nefron kortikalis yaitu nefron yang glomerulinya terletak pada bagian luar dari korteks dengan lingkungan henle yang pendek dan tetap berada pada korteks atau mengadakan penetrasi hanya sampai ke zona luar dari medula. f. Berfungsi 11 . Nefron dibedakan menjadi dua bagian : a. b. 7. Pada manusia setiap ginjal mengandung 1-1. sebelum berbalik dan kembali ke cortex. Kapiler peritubuler mengalir kedalam vena korteks yang kemudian membentuk vena interlobaris.6. Kapiler peritubular yang mengelilingi tubulus proksimal dan distal untuk memberi nutrien pada tubulus. Bagian-bagian nefron : 1. Nefron Unit fungsional ginjal adalah nefron. Glomerolus Suatu jaringan kapiler berbentuk bola yang berasal dari arteriol afferent yang kemudian bersatu menuju arteriol efferent.

sebagai tempat filtrasi sebagian air dan zat yang terlarut dari darah
yang melewatinya.
2. Kapsula Bowman
Bagian

dari

tubulus

yang

melingkupi

glomerolus

untuk

mengumpulkan cairan yang difiltrasi oleh kapiler glomerolus.

Tubulus, terbagi atas beberapa bagian yaitu :
a. Tubulus proksimal
Tubulus proksimal berfungsi mengadakan reabsorbsi bahan-bahan
dari cairan tubuli dan mensekresikan bahan-bahan ke dalam cairan
tubuli.
b. Lengkung Henle
Lengkung henle membentuk lengkungan tajam berbentuk U, terdiri
dari pars descendens yaitu bagian yang menurun terbenam dari
korteks ke medula, dan pars ascendens yaitu bagian yang naik
kembali ke korteks, bagian bawah dari lengkung henle mempunyai
dinding yang sangat tipis sehingga disebut segmen tipis, sedangkan
12

bagian atas yang lebih tebal disebut segmen tebal. Lengkung henle
berfungsi reabsorbsi bahan-bahan dari cairan tubulus dan sekresi
bahan-bahan ke dalam cairan tubulus, selain itu berperan penting
dalam mekanisme konsentrasi dan dilusi urin.
c. Tubulus distal
Berfungsi dalam reabsorbsi dan sekresi zat-zat tertentu.
d. Duktus pengumpul (duktus kolektifus)
Satu duktus pengumpul mungkin menerima cairan dari delapan
nefron yang berlainan, setiap duktus pengumpul terbenam ke dalam
medula untuk mengosongkan cairan isinya (urin) ke dalam pelvis
ginjal.
Ada 3 hormon utama yang diproduksi oleh ginjal, yaitu :
a. Renin-yaitu hormon yang terkait dengan tekanan darah.
b. Erythropoetin-yaitu hormon yang membantu pembuatan sel darah
merah, penderita gagal ginjal biasanya kekurangan sel darah merah
(anemia) yang menyebabkan keletihan serta dapat merusak hati,
sehingga penderita biasanya membutuhkan injeksi erythropoetin.
c. Calcitriol – yaitu hormon yang membantu tubuh menyerap kalsium
pada makanan. Tanpa bantuan hormon tersebut, tubuh akan
mengambil kalsium dari tulang yang mana untuk jangka panjang hal
tersebut dapat menyebabkan penyakit tulang.

13

2. Ureter
Ureter adalah tabung/saluran yang menghubungkan ginjal dengan
kandung kemih. Ureter merupakan lanjutan pelvis renis, menuju distal &
bermuara pada vesica urinaria, panjangnya 25 – 30 cm, persarafan ureter
oleh plexus hypogastricus inferior T11- L2 melalui neuron simpatis, terdiri
dari dua bagian :
a. Pars abdominalis
b. Pars pelvina
Tiga tempat penyempitan pada ureter :
a. Uretero pelvic junction
b. Tempat penyilangan ureter dengan vassa iliaca sama dengan flexura
marginalis
c. Muara ureter ke dalam vesica urinaria
Terdiri dari 2 saluran pipa masing-masing bersambung dari ginjal ke
kandung kemih (vesika urinaria) panjangnya ± 25 – 30 cm dengan
penampang ± 0,5 cm. Ureter sebagian terletak dalam rongga abdomen dan
sebagian terletak dalam rongga pelvis. Lapisan dinding ureter terdiri dari :
a. Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa)
b. Lapisan tengah otot polos
c. Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa
Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan-gerakan peristaltik tiap
5 menit sekali yang akan mendorong air kemih masuk ke dalam kandung
kemih (vesika urinaria), gerakan peristaltik mendorong urin melalui ureter
yang dieskresikan oleh ginjal dan disemprotkan dalam bentuk pancaran,
melalui osteum uretralis masuk ke dalam kandung kemih, ureter berjalan
hampir vertikal ke bawah sepanjang fasia muskulus psoas dan dilapisi oleh
pedtodinium. Penyempitan ureter terjadi pada tempat ureter terjadi pada
tempat ureter meninggalkan pelvis renalis, pembuluh darah, saraf dan
pembuluh sekitarnya mempunyai saraf sensorik. Ureter pada pria terdapat
14

Saraf motorik yang menjalar dalam nervus pelvikus adalah serat para simpatis. Tanda-tanda regangan dari uretra posterior bersifat sangat kuat dan terutama bertanggung jawab untuk mencetuskan refleks yang menyebabkan kandung kemih. dinding atas dan dinding bawah ureter akan tertutup dan pada waktu vesika urinaria penuh akan membentuk katup (valvula) dan mencegah pengambilan urine dan vesika urinaria. terutama berhubungan dengan medulla spinalis segmen S2 dan S3. saraf postganglion pendek kemudian mempersarafi otot detrusor.di dalam visura seminalis atas dan disilang oleh duktus deferens dan dikelilingi oleh leksus vesikalis. Selanjutnya ureter berjalan oblique sepanjang 2 cm di dalam dinding vesika urinarai pada sudut lateral dari trigonum vesika. selain nervus pelvikus. 3. terdapat dua tipe persarafan lain yang 15 . Sewaktu menembus vesika urineria. Serat sensorik mendeteksi derajat regangan pada dinding kandung kemih. berjalan melalui nervus pelvikus ini adalah serat saraf motoik. Serat ini berakhir pada sel ganglion yang terletak dalam dinding kandung kemih. yang berhubungan dengan medulla spinalis melalui pleksus sakralis. Kandung kemih Persarafan utama kandung kemih ialah nervus pelvikus.

dan lapisan submukosa. Serat simpatis ini mungkin terutama merangsang pembuluh darah dan sedikit mempengaruhi kontraksi kandung kemih. Uretra pada laki – laki terdiri dari : a. dan lapisan mukosa (lapisan sebelah dalam). 4. terutama hubungan dengan segmen L2 medula spinalis. beberapa serat saraf sensorik juga berjalan melalui saraf simpatis dan mungkin penting dalam menimbulkan sensai rasa penuh dan pada beberapa keadaan rasa nyeri. Yang terpenting adalah serat otot lurik yang berjalan melalui nervus pudendal menuju sfingter eksternus kandung kemih. Lapisan uretra pada wanita terdiri dari Tunika muskularis (sebelah luar). ureter. panjangnya ± 3-4 cm. lapisan spongeosa merupakan pleksus dari vena – vena. Uretra Merupakan saluran keluar dari urin yang diekskresikan oleh tubuh melalui ginjal. Uretra Prostaria b. Uretra kavernosa Lapisan uretra laki-laki terdiri dari lapisan mukosa (lapisan paling dalam). pada laki. selain itu kandung kemih juga menerima saraf simpatis dari rangkaian simpatis melalui nervus hipogastrikus. vesica urinaria. uretra pada wanita terletak dibelakang simfisis pubisberjalan miring sedikit kearah atas. Uretra membranosa c. uretra adalah saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih yang berfungsi menyalurkan air kemih keluar. Muara uretra pada wanita terletak di sebelah atas 16 . yang mempersarafi dan mengontrol otot lurik pada sfingter.laki uretra bewrjalan berkelok-kelok melalui tengahtengah prostat kemudian menembus lapisan fibrosa yang menembus tulang pubis ke bagian penis panjangnya ± 20 cm.penting untuk fungsi kandumg kemih.

Tonus normal dari otot detrusor pada dinding kandung kemih cenderung menekan ureter. dengan demikian mencegah aliran balik urin dari kandung kemih waktu tekanan di kandung kemih. Dinding ureter terdiri dari otot polos dan dipersafari oleh saraf simpatis dan parasimpatis seperti juga neuron-neuron pada pleksus intramular dan serat-saraf yang meluas diseluruh panjang ureter. Urin mengalir dari duktus koligentes masuk ke kaliks renalis. yang kemudian mencetuskan kontraksi peristaltik yang menyebar ke pelvis renalis dan kemudian turun sepanjang ureter dangan demikian mendorong urin dari pelvis renalis ke arah kandung kemih. 17 . meregangkan kaliks renalis dan meningkatkan aktivitas pacemakernya. kontraksi perislaltik pada ureter ditingkatkan oleh perangsangan parasimpatis dan dihambat oleh perangsangan simpatis. setiap gelombang peristaltic yang terjadi sepanjang ureter akan meningkatkan tekanan dalam ureter sehingga bagian yang menembus kandung kemih membuka dan memberi kesempatan kandung urin mengalir ke dalam kandung kemih.vagina (antara klitoris dan vagina) dan uretra di sini hanya sebagai saluran ekskresi. Ureter memasuki kandung kemih menembus otot detrusor di daerah trigonum kandung kemih. normalnya ureter berjalan secara oblique sepanjang beberapa sentimeter menembus kandung kemih. Urin yang keluar dari kandungan kemih mempunyai komposisi utama yang sama dengan cairan yang keluar dari duktus koligentes. seperti hanya otot polos pada organ viscera yang lain. tidak ada perubahan yang berarti pada komposisi urin tersebut sejak mengalir melalui kaliks renalis dan ureter sampai kandung kemih.

tekanan meningkat menjadi 5 sampai 10 sentimeter air. mengakibatkan kerusakan daerah ini. akibatnya. sehingga kontraksi kandung kemih tidak selalu menimbulkan penutupan ureter secara sempurna.Panjang ureter yang menembus kandung kemih kurang dari normal. Perubahan tekanan intravesikular sewaktu kandung kemih terisi dengan urin. tambahan urin sebanyak 200 sampai 300 mililiter hanya sedikit menambah peningkatan tekanan.pada saat tidak ada urin di dalam kandung kemih .sekitar 0.nilai tekanan yang konstan ini di sebabkan oleh tonus intrinsic pada dinding kandung kemih sendi. Refluks semacam ini dapat menyebabkan pembesaran ureter dan jika parah dapat meningkatkan tekanan kaliks renalis dan struktur – struktur dan di medula renalis. sejumlah urin dalam kandung kemih terdorong kembali ke dalam ureter ini disebut refluks vesikoureteral. diikuti oleh relaksasi spinter eksternus. akibatnya akan terjadi reflek kontraksi dinding kandung kemih. Distensi kandung kemih. Rangsangan yang menyebabkan kontraksi kandung kemih dan relaksasi spinter interus dihantarkan melalui serabut-serabut para simpatis.bila urin yang terkumpul di dalam kandung kemih lebih banyak dari 300 sampai 400 mililiter. oleh air kemih akan merangsang stres reseptor yang terdapat pada dinding kandung kemih dengan jumlah ± 250 cc sudah cukup untuk merangsang berkemih (proses miksi). Kontraksi sfinger eksternus secara volunter bertujuan untuk mencegah atau 18 . dan pada saat yang sama terjadi relaksasi spinser internus.tekanan intravesikuler. tetapi setela terisi urin sebanyak 30 sampai 50 mililiter. dan akhirnya terjadi pengosongan kandung kemih. akan menyebabkan peningkatan tekanan secara cepat.

Pusat perangsang dan penghambat kuat dalam batang otak. Peritonium melapis kandung kemih sampai kira-kira perbatasan ureter masuk kandung kemih. diatur oleh torako lumbar dan kranial dari sistem persarafan otonom. Pembuluh limfe berjalan menuju duktus limfatilis sepanjang arteri umbilikalis. beberapa pusat yang terletak korteks serebral yang terutama bekerja penghambat tetapi dapat menjadi perangsang. Peritoneum dapat digerakkan membentuk lapisan dan menjadi lurus apabila kandung kemih terisi penuh. bila terjadi kerusakan pada saraf-saraf tersebut maka akan terjadi inkontinensia urin (kencing keluar terus-menerus tanpa disadari) dan retensi urine (kencing tertahan). Perangsangan atau penghambatan berkemih oleh otak. kontrol volunter ini hanya dapat terjadi bila saraf-saraf yang menangani kandung kemih uretra medula spinalis dan otak masih utuh. Kembalinya tekanan kandung kemih ke nilai tonus basal. Periode tekanan menetap c. Pembuluh darah Arteri vesikalis superior berpangkal dari umbilikalis bagian distal. 2. Jadi. Refleks berkemih merupakan dasar penyebab terjadinya berkemih. Kenaikan tekanan secara cepat dan progresif b. tetapi pusat yang lebih tinggi normalnya memegang peranan sebagai pengendali akhir dari berkemih sebagai berikut : 19 . terutama terletak di ponds.menghentikan miksi. pusat – pusat ini antara lain: 1. Persarafan dan peredaran darah vesika urinaria. reflex mikturisi merupakan sebuah sikus yang lengkap yang terdiri dari : a. Torako lumbar berfungsi untuk relaksasi lapisan otot dan kontraksi spinter interna. vena membentuk anyaman dibawah kandung kemih.

sehingga meregangkan dindingnya. 10 hari-2 bulan : 250-450 ml d. c. seseorang secara sadar mengkontraksikan otot-otot abdomennya. dengan membuat kontraksi tonik terus menerus pada sfingter eksternus kandung kemih sampai mendapatkan waktu yang baik untuk berkemih. b. 3-5 tahun : 600-700 ml 20 . pusat kortikal dapat merangsang pusat berkemih sacral untuk membantu untuk mencetuskan refleks berkemih dan dalam waktu bersamaan menghambat sfingter eksternus kandung kemih sehingga peristiwa berkemih dapat terjadi. 1-2 hari : 30-60 ml b. Jika tiba waktu berkemih.a. Pusat yang lebih tinggi menjaga secara parsial penghambatan refleks berkemih kecuali jika peristiwa berkemih dikehendaki. bahkan jika refleks berkemih timbul. yang meningkatkan tekanan dalam kandung kemih dan mengakibatkan urin ekstra memasuki leher kandung kemih dan uretra posterior di bawah tekanan. 2 bulan-1 tahun : 400-500 ml e. Pada anak-anak jumlah urin dalam 24 jam lebih kurang dan sesuai dengan umur : a. Berkemih di bawah keinginan biasanya tercetus dengan cara berikut : Pertama. 1-3 tahun : 500-600 ml f. 3-10 hari : 100-300 ml c. Pusat yang lebih tinggi dapat mecegah berkemih.

Proses filtrasi Terjadi di glomerolus. cairan yang tersaring ditampung oleh simpai bowman yang terdiri dari glukosa. penyerapannya terjadi secara aktif dikienal dengan reabsorpsi fakultatif dan sisanya dialirkan pada pupila renalis. prosesnya terjadi secara pasif yang dikenal dengan obligator reabsorpsi terjadi pada tubulus atas.g. Pada tubulus pengumpul masih terjadi penyerapan ion Na+. dan urea sehingga terbentuklah urine sesungguhnya. dari tubulus pengumpul. c. sedangkan sebagian yang tersaring adalah bagian cairan darah kecuali protein. sulfat. diteruskan ke seluruh ginjal. 5-8 tahun : 650-800 ml h. Cl-. dari ureter. urine dialirkan menuju vesika urinaria (kandung 21 . proses ini terjadi karena permukaan aferent lebih besar dari permukaan aferent maka terjadi penyerapan darah. Augmentasi (Pengumpulan) Proses ini terjadi dari sebagian tubulus kontortus distal sampai tubulus pengumpul. fosfat dan beberapa ion karbonat. sodium. klorida. klorida. b. air. sodium. Proses reabsorpsi Terjadi penyerapan kembali sebagian besar dari glukosa. 8-14 tahun : 800-1400 ml Tahap-tahap Pembentukan Urine : a. Sedangkan pada tubulus ginjal bagian bawah terjadi kembali penyerapan dan sodium dan ion karbonat. bikarbonat dll. urine yang dibawa ke pelvis renalis lalu di bawa ke ureter. bila diperlukan akan diserap kembali kedalam tubulus bagian bawah.

bayi yang terkena sindrom nefrotik.1. purpura anafilaktik. bakterialis dan neoplasma limfoproliferatif 3. usia gestasinya pendek dan 22 . Sindrom Nefrotik Sekunder Terjadi selama perjalanan penyakit vaskuler seperti lupus eritematosus sistemik. urine dikeluarkan dari tubuh melalui uretra. Sindrom Nefrotik Lesi Minimal ( MCNS : minimal Change Nephrotic Syndrome). ketika kandung kemih sudah penuh. Warnanya bening oranye tanpa ada endapan. pada biopsi ginjalnya terlihat hampir normal bila dilihat dengan mikroskop cahaya. tapi berbeda-beda sesuai dengan jumlah cairan yang masuk. c. Kondisi yang sering menyebabkan sindrom nefrotik pada anak usia sekolah. 2. anak dengan sindrom nefrotik ini. d. Rata-rata dalam satu hari 1-2 liter. Sindrom Nefrotik Kongenital Faktor herediter sindrom nefrotik disebabkan oleh gen resesif autosomal.kemih) yang merupakan tempat penyimpanan urine sementara. glomerulonefritis. Reaksinya sedikit asam terhadap lakmus dengan pH rata-rata 2. Baunya tajam.3 Klasifikasi Whaley dan Wong (1999 : 1385) membagi tipe-tipe Sindrom Nefrotik : 1. Ciri-Ciri Urin Normal : a. infeksi system endokarditis. b.

gejala edema pada masa neonatus. pernah dicoba pencangklokan ginjal pada neonatus tetapi tidak berhasil. 3. infeksi streptococcal. serta endokardtitis. 23 . Nefropati membranosa (Membranous Nephropathy) 3. c.4 Etiologi a. contohnya SLE. dll 5.gejala awalnya adalah edema dan proteinuria. meliputi : 1. Penyakit sistemik. penyebab SN sekunder adalah sangat banyak. penyakit ini resisten terhadap semua pengobatan dan kematian dapat terjadi pada tahun-yahun pertama kehidupan bayi jika tidak dilakukan dialysis. serta karsinoma (kanker). 2. amiloidosis.HIV. kencing manis (Diabetes). Glomerulonefritis membrano proliferatif (Membrano Proliferative Glomerulonephritis) b. 2. captopril. leukemia. Nefropati lesi minimal (minimal Change Disease) 2. heroin. Prognosis buruk biasanya pasien meninggal pada bulan-bulan pertama kehidupannya. Obat-obatan seperti penicillamine. Infeksi yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV). 4. Neoplasma seperti limfoma. Resisten terhadap suatu pengobatan. Glomerulo sklerosis fokal segmental (Focal Segmental Glomerulosclerosis) 4. Sindrom nefrotik bawaan Diturunkan sebagai resesif autosomal atau karena reaksi maternofetal.1. diantaranya ialah : 1. Obesitas dan penyakit-penyakit metabolik serta penyakit-penyakit multisistem lainnya. Sindroma nefrotik sekunder yang penyebabnya berasal dari ekstra renal (diluar ginjal). imunoligik dan alergi. yang diduga ada hubungan dengan genetik. Sindroma nefrotik primer yang atau disebut juga Sindroma nefrorik Idiopatik.

trigliserida meningkat sedangkan HDL (high density lipoprotein) dapat meningkat. Hipoalbuminemia Hipoalbumin disebabkan oleh hilangnya albumin melalui urin dan peningkatan katabolisme albumin di ginjal. 3.5 Patofisiologi 1. LDL (low density lipoprotein). Proteinuria sebagian berasal dari kebocoran glomerulus (proteinuria glomerular) dahn hanya sebagaian kecil berasal dari sekresi tubulus (proteinuria tubular). dan hanya sebagian kecil berasal dari sekresi tubulus (proteinuria tubular). tetapi mungkin normal menurun. hal ini disebabkan sintesis hipotprotein lipid disintesis oleh penurunan katabolisme di perifer.1. 24 .2. Hiperlipidemia Kolesterol serum. Sintesis protein di hati biasanya meningkat ( namun tidak memadai untuk mengganti kehilagan albumin dalam urin). VLDL (very low density lipoprotein). peningkatan permeabilitas glomerulus menyebabkan albuminuria dan hipoalbumineia. 2. normal atau meningkat. meyebabkan peningkatan filtrasi transkapiler cairan keluar tubuh dan menigkatkan edema. Perubahan integritas membrane basalis glomerulus menyebabkan peingkatan permeabilitas glomerulus terhadap perotein plasma dan protein utama yang dieksresikan dalam urin adalah albumin. Proteinuria Proteinuria disebabkan peningkatan permeabilitas kapiler terhadap protein akibat kerusakan glomerulus ( kebocoran glomerulus) yang ditentukan oleh besarnya molekul dan muatan listrik. Sebagai akibatnya hipoalbuminemia menurunkan tekanan onkotik plasma koloid.Peningkatan albumin serum dan penurunan tekanan onkotik.

meskipun hati mampu meningkatkan produksi albumin. Hipoalbuminemia disebabkan oleh hilangnya albumin melalui urin dan peningkatan katabolisme albumin di ginjal menyebabkan edema. perubahan fungsi sel endotel serta menurunnya factor zymogen. Manifestasi primer sindrom nefrotik adalah hilangnya plasma protein. namun organ ini tidak mampu untuk terus mempertahankannya jika albumin terus menerus hilang melalui ginjal. menyebabkan retensi natrium dan oedema lebih lanjut. VII. Penurunan sirkulasi volume darah mengaktifkan sistem rennin-angiotensin. C. dan plasminogen activating factor dalam urin dan meningkatnya factor V. Hilangnyaprotein dalam serum menstimulasi sintesis lipoprotein dihati dan peningkatan konsentrasi lemak dalam darah ( hiperlipidemia). 25 . trombosit. Hiperkoagulabilitas Keadaan ini disebabkan oleh hilangnya antitrombin (AT) III. Sintesis protein di hati biasanya meningkat( namun tidak memadai untuk mengganti kehilangan albumin dalam urin). peningkatan agregasi trombosit.sehingga oedema generalisasi akibat cairan yang berpindah dari sistem vaskuler kedalam ruang ekstra seluler. Hipotesis menunjukan kehilangan albumin mengakibatkan penurunan tekanan osmotik dalam saluran darah. akhirnya terjadi hipoalbuminemia. protein S. mengakibatkan kebocoran cairan dari dalam darah ke intestitium. ke dalam urine. X.4. terutama albumin. fibrinogen. VIII.

pengumpulan cairan ini menyebabkan kehilangan cairan yang terus. SLE dan thrombosis vena renal.Meskipun secara umum. Respons perubahan patologis pada glomerulus secara fungsional akan memberikan berbagai masalah keperawatan pada pasien yang mengalami glomerulus progresif cepat. meskipun demikian. DM disertai glomerulosklerosis interkapiler. Hilangnya protein dalam serum menstimulasi sintesis lipoprotein di hati dan peningkatan konsentrasi lemak dalam darah ( hiperlipidemia) hal ini menyebabkan intake nutrisi berkurang sehingga menyebabkan terjadinya malnutrisi. kemungkinan disebabkan oleh karena hipoalbuminemia. Penyebab sindromnefrotik mencakup glomerulonefritis kronis. termasuk lansia.Sindrom nefrotik dapat terjadi hampir disetiap penyakit renal intrinsic atau sistemik yang mempengaruhi glomerulu. amiloidosis ginjal. 2002). penyakit ini dianggap menyerang anak-anak namun. 26 . Hormon vasopressin (ADH) akan dirembes untuk menstabilkan kandungan cairan dalam saluran darah seperti sediakala. menyebabkan penumpukan cairan secara berlebih dalam jaringan dan mengakibatkan edema. menurunnya respon imun karena sel imun tertekan. sindromnefrotik juga terjadi pada orang-orang dewasa. hyperlipidemia (Brunner & Suddarth.menerus ke interstitium karena protein terus-menerus hilang kedalam urin diikuti dengan kerusakan pada membran basal glomerulus.

8 Penatalaksanaan 1. Diare. nyeri abdomen. edema pada mukosa usus 7. Kulit pucat 10. absorbsi usus menurun 8. vasodilator. Volume urine menurun. dapat digunakan diuretik. malaise. 2.1. Asites 6. Pembengkakan pada wajah.6 2.2.1. Diet protein 2 – 3 gram/kgBB/hari. batasi asupan natrium sampai kurang lebih 1 gram/hari secara praktis dengan menggunakan garam secukupnya dan menghindar makanan yang diasinkan.1.7 Woc Sindrom Nefrotik ( Terlampir) Manifestasi Klinis Manifestasi klinik yang biasa timbul pada anak dengan sindrom nefrotik adalah 1. Berat badan meningkat 2. b. berat badan meningkat dan keletihan umumnya terjadi. tekanan darah data diturunkan tanpa diturunkan fungsi ginjal. 27 . dapat digunakan hididroklortiazid (25 – 50 mg/hari). bila edema tidak berkurang dengan pembatasan garam. alkalosis metabolik dan kehilangan cairan intravaskuler berat. Sakit kepala. juga mengatur pemasukan garam. Edema anasarka 4. bergantung pada beratnya edema dan respon pengobatan. methyldopa. a. Penatalaksanaan Keperawatan Istirahat sampai edema tinggal sedikit. biasanya furosemid 1 mg/kgBB/hari. kadang – kadang berwarna pekat dan berbusa 9. bila edema refrakter. Pengendalian hipertensi Tekanan darah harus dikendalikan dengan obat-obatan golongan tertentu. Pembengkakan pada labia / skrotum 5. misalnya dengan betabloker. yaitu pemberian cairan intravena sampai diuresis cukup maksimal. selama pengobatan diuretik perlu dipantau kemungkinan hipokalemi. terutama disekitar mata 3. nafsu makan menurun. Pengaturan Minum Hal ini dilakukan untuk pengobatan penyakit dasar dan pengobatan cairan dan elektrolit.

c. Pengendalian darah
Peningkatan kalium darah dapat mengakibatkan kemaitan mendadak,
ini dapat dihindari dengan hati-hati dalam pemberian obat-obatan dan diit
buah-buahan, hiperkalemia dapat diagnosis dengan pemeriksaan EEG dan
EKG, bila hiperkalemia sudah terjadi maka dilakukan pengurangan intake
kalium, pemberian natrium bicarbonate secara intra vena, pemberian cairan
parental (glukosa), dan pemberian insulin.
d. Penanggulangan anemia
Anemia merupakan keadaan yang sulit ditanggulangi pada gagal
ginjal kronis, usaha pertama dengan mengatasi faktor defisiensi, untuk
anemia normakrom trikositik dapat diberikan supplemen zat besi oral,
tranfusi darah hanya diberikan pada keadaan mendesak misalnya
insufisiensi karena anemia dan payah jantung.
e. Penanggulangan Asidosis
Pada umumnya asidosis baru timbul pada tahap lanjut dari nefrotik
sindrom. Sebelum memberikan pengobatan khusus, faktor lain yang harus
diatasi dulu misalnya rehidrasi. Pemberian asam melalui makanan dan obatobatan harus dihindari. Pengobatan natrium bikarbonat dapat diberikan
melalui peroral dan parenteral, pada permulaan diberi 100 mg natrium
bicarbonate, diberikan melalui intravena secara perlahan-lahan. Tetapi lain
dengan dilakukan dengan cara hemodialisis dan dialysis peritoneal.
f. Pengobatan dan pencegahan infeksi
Ginjal yang sedemikian rupa lebih mudah mengalami infeksi, hal ini
dapat memperburuk faal ginjal.Obat-obatan antimikroba diberikan bila ada
bakteriuria dengan memperhatikan efek nefrotoksik, tindakan katetrisasi
harus sedapat mungkin dihindari karena dapat mempermudah terjadinya
infeksi.
g. Pengaturan diit dan makanan

28

Gejala ureum dapat hilang bila protein dapat dibatasi dengan syarat
kebutuhan energi dapat terpenuhi dengan baik, protein yang diberikan
sebaiknya mengandung asam amino yang esensial, diet yang hanya
mengandung 20 gram protein yang dapat menurunkan nitrogen darah,
kalori diberikan sekitar 30 kal/kgBB dapat dikurangi apabila didapati
obesitas.
Untuk mencapai tujuan terapi, maka penatalaksanaan sebagai berikut :
1)
2)
3)
4)

Tirah baring
Diuretik
Adenokortikosteroid, golongan prednison
Diet MRNTP (makanan rendah natrium tinggi protein) / MBRG (makanan

biasa rendah garam)
5) Terapi cairan, jika klien dirawat dirumah sakit, maka intake dan output
diukur secara cermat dan dicatat, cairan diberikan untuk mengatasi
kehilangan cairan dan BB harian.
2. Penatalaksanaan Medis
Patofisologi

Pengobatan

Kerusakan glomerulus

Imunosupresif
Antikoagulansia
Anti agegrasi trombosit
Kehilangan protein
Diet kaya protein hewani
Penurunan tekanan onkotik dan Infus salt poor human albumin
hipoalbuminemia.
Sekresi aldosteron meningkat
Diuretic spironolakton
Retensi Na+ dan air
Diuretic furosemid atau spironolakton
Sembab (resistensi)
Drainase
Pengobatan kortikosteroid yang diajukan Internasional Coopertive Study
of Kidney Disease in Children (ISKDC), sebagai berikut :
1. Selama 28 hari prednison diberikan per oral dengan dosis 60 mg/hari luas
permukaan badan (1bp) dengan maksimum 80 mg/hari.

29

2. Kemudian dilanjutkan dengan prednison per oral selama 28 hari dengan
dosis 40 mg/hari/1bp, setiap 3 hari dalam satu minggu dengan dosis
maksimum 60 mg/hari, bila terdapat respon selama pengobatan, maka
pengobatan ini dilanjutkan secara intermitten selama 4 minggu.
3. Cegah infeksi, antibiotik hanya dapat diberikan bila ada infeksi
4. Pungsi asites maupun hidrotoraks dilakukan bila ada indikasi vital
(Arif Mansjoer,2000).
2.1.9

Prognosis
Sebelum era antibiotik, infeksi merupakan salah satu penyebab kematian
tersering pada SN.Pengobatan SN dan komplikasinya saat ini telah menurunkan
morbiditas dan mortalitas yang berhubungan dengan sindrom.Saat ini, prognosis
pasien dengan SN bergantung pada penyebabnya. Remisi sempurna dapat terjadi
dengan atau tanpa pemberian kortikosteroid, hanya sekitar 20 % pasien dengan
glomerulosklerosis fokal mengalami remisi proteinuria, 10 % lainnya membaik
namun tetap proteinuria. Banyak pasien yang mengalami frequent relaps, menjadi
dependen-steroid, atau resisten-steroid. Penyakit ginjal kronik dapat muncul pada
25-30 % pasien dengan glomerulosklerosis fokal segmental dalam 5 tahun dan
30-40 % muncul dalam 10 tahun.
Orang dewasa dengan minimal-change nephropathymemiliki kemungkinan
relaps yang sama dengan anak-anak. Namun, prognosis jangka panjang pada
fungsi ginjal sangat baik, dengan resiko rendah untuk gagal ginjal. 2Pemberian
kortikosteroid memberi remisi lengkap pada 67% kasus SN nefropati lesi
minimal, remisi lengkap atau parsialpada 50% SN nefropati membranosa dan
20%-40% pada glomerulosklerosis fokal segmental.Perlu diperhatikan efek
samping pemakaian kortikosteroid jangka lama di antaranya nekrosis aseptik,
katarak, osteoporosis, hipertensi, diabetes mellitus.
Respon yang kurang terhadap steroid dapat menandakan luaran yang
kurang baik. Prognosis dapat bertambah buruk disebabkan (1) peningkatan
30

10 Pemeriksaan Penunjang 1. Uji Diagnostik 31 . remisi penyebab utama. Albumin Kualitatif : ++ sampai +++ Kuantitatif : > 50 mg/kgBB/hari (diperiksa menggunakan reagen ESBACH) Sedimen : oval fat bodies : epitel sel yang mengandung butir-butir lemak. Resiko penyakit kardiovaskular meningkat seiring penurunan fungsi ginjal. Uji Urine a. 2. prognosis tergantung pada penyakit primer yang menyertainya. dan level subnefrotik. kadang-kadang dijumpai eritrosit. Jarang terjadi remisi nyata.1. b. Uji Darah Albumin serum – menurun Kolesterol serum – meningkat Hemoglobin dan hematokrit – meningkat Laju endap darah (LED) – meningkat Elektrolit serum – bervariasi dengan keadaan penyakit perorangan c. pada nefropati diabetik. seperti komplikasi infeksi dari pemberian imunosupressive. prognosis tidak baik. pada amiloidosis primer. besarnya proteinuria berhubungan langsung tingkat mortalitas. biasanya.insidens gagal ginjal dan komplikasi sekunder dari SN. toraks hialin. pada SN sekunder. sedangkan penderita relaps sering dan dependen steroid merupakan kasus sulit yang mempunyai risiko besar untuk memperoleh efek samping steroid. seperti rheumatoid arthritis. atau (2) kondisi terkait pengobatan. Penderita SN non relaps dan relaps jarang mempunyai prognosis yang baik. pada amiloidosis sekunder. ada respon yang baik terhadap blockade angiotensin. SN resisten steroid mempunyai prognosis yang paling buruk. dengan penurunan proteinuria. leukosit. bahkan dengan kemoterapi intensif. dan toraks eritrosit. beberapa pasienakan membutuhkan dialisis atau transplantasi ginjal. termasuk episode trombotik dan infeksi. diikuti dengan remisi amiloidosis dan ini berhubungan dengan SN.

kaji adanya keluhan sakit kepala dan malaise c. diagnosis pasti melalui biopsi ginjal. Biasanya ditemukan penurunan kalsium plasma. umur. pendidikan. Trombosis vaskuler : mungkin akibat gangguan sistem koagulasi sehingga terjadi peninggian fibrinogen plasma.1. Keluhan utama Keluhan utama yang sering dikeluhkan adalah adanya bengkak pada wajah atau kaki.2 Askep Teoritis Sindrom Nefrotik 2. suku/ bangsa. Dilakukannya pemeriksaan urin dan darah untuk memastikan protrinuria. perawat perlu mengkaji apakah klien pernah menderita penyakit edema. 2. Riwayat kesehatan keluarga 32 . Infeksi 2. d. 2. Penting dikaji tentang riwayat pemakaian obat-obatan masa lalu adanya riwayat alergi terhadap jenis obat dan dokumentasikan. hipoalbuminemia. b. alamat. jenis kelamin.11 Komplikasi 1. dan hiperlipidemia. perawat menanyakan hal berikut: Kaji berapa lama keluhan adanya perubahan urine output. Gagal ginjal akut 2. agama.2. proteinemia. apakah ada riwayat dirawat dengan penyakit diabetes melitus dan penyakit hipertensi pada masa sebelumnya. Riwayat Kesehatan a. kaji keluhan bengkak pada wajah dan kaki apakah disertai dengan adanya keluhan pusing dan cepat lelah. Diperikasa fungsi ginjal dan hematuria.1 Pengkajian Dasar 1. Malnutrisi 3. Identitas Klien Meliputi nama.Biopsi ginjal merupakan uji diagnostik yang tidak dilakukan secara rutin. pekerjaan. 4. Riwayat kesehatan sekarang Pada pengkajian riwayat kesehatan sekarang. Riwayat kesehatan dahulu Pada pengkajian riwayat kesehatan dahulu. kaji adanya anoreksia pada klien.

Head to toe 1. Pemeriksaan tanda-tanda vital c. 2. Sidabutar. 1996). Pada ektremitas adanya odema dan terasa dingin (Soeparman. denyut nadi tidak teratur dan meningkat akibat hipertensi. 3. oedema perifer. 1996). kulit kuning dan kasar. Tingkat kesadaran b. 1996). Perkusi Pemeriksaan dengan cara mengetuk untuk mengetahui kelainan organ melalui suara yang terdengar.P. 33 .Adakah anggota keluarga yang lain juga pernah menderita penyakit yang sama dengan klien. 1992). Inspeksi Pemeriksaan yang dilakukan dengan cara melihat keadaan umum dan kelainan yang terdapat di seluruh tubuh sehubungan dengan perjalanan penyakitnya. nyeri dada. BB/TB d. 3. Auskultasi Pemeriksaan dengan cara mendengar bunyi atau irama jantng sehingga diketahui adanya efusi pericardial atau gagal jantung akibat hipertensi dan juga untuk mendengar bunyi ( bising ) peristaltik usus (Soeparman.(Soeparman. bibir kering dan nafas berbau akibat ureum yang berlebihan pada air liur yang di rubah oleh bakteri mulut (R. pruritus yang berat. biasanya kulit pasien ditemukan berwarna pucat karena anemia dan penimbunan elektrolit pigmen. Pemeriksaan fisik a. Palpasi Pemeriksaan dengan perabaan pada heparnya ditemukan pembesaran hepar (hepatomegali) akibat adanya bendungan pada vena porta yang menimbulkan rasa tidak enak diperut bagian atas terutama sesudah makan. 4.

Perut tampak asites .2.Keluarga anaknya makan .Klien tampak sering menggosok kelopak matanya .Hiperlipidemia Ds : .Proteinuria .Hiperlipidemia Ds : .Keluarga mengatakan anaknya mengeluh gatal pada kelopak mata Do : .Keluarga mengatakan anak nya sembab .Perut tampak asites .Keluarga Etiologi Kelebihan volume Akumulasi cairan cairan dalam jaringan dan ruang ketiga Resiko kerusakan Pembentukan integritas kulit edema nutrisi kurang dari Nafsu mengatakan kebutuhan tubuh menurun kurang nafsu makan mengatakan 34 .2 No 1 2 3 Analisa Data Data Masalah Ds : .Hipoalbumin .Keluarga mengatakan perut anak nya membesar Do : .Tampak ada penumpukan cairan di ekstermitas dan periorbital .Keluarga mengatakan tubuh anaknya sembab .2.Tampak ada penumpukan cairan di ekstermitas dan periorbital .

.bising usus klien hiperaktif .Keluarga mengatakan tentang penyakit kurang mengetahui tentang penyakit anaknya DO : .Hiperlipidemia Ds : kurang pengetahuan .Hipoalbumi .berat badan menurun 10 % . Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pembentukan edema 3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan nafsu makan menurun 4.Klien mengalami kelemahan otot dan nyeri tekan .Proteinuria . Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan Kurang terpapar dengan informasi tentang penyakit sindrom nefrotik 5.3 anaknya kenyang Keluarga anaknya cemilan merasa suka cepat mengatakan makanan Do : .Keluarga klien tampak cemas . Kelebihan volume cairan berhubungan dengan Akumulasi cairan dalam jaringan dan ruang ketiga 2.- 4 2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan 35 .Klien tampak gemuk karena punumpukan cairan .20 % atau lebih di bawah berat badan ideal.2.klien terlihat tidak nafsu makan.Keluarga klien sering bertanya mengenai kondisi dan penyakit klien Kurang terpapar dengan informasi tentang penyakit sindrom nefrotik Diagnosa Keperawatan 1. ditandai dengan porsi makanan tidak habis 1/4 .

36 .

24 Tujuan : setelah dilakukan 2.2.21 akum ulasi caira n dala m jarin gan dan ruang 2.2.2.8 Intervensi 1.2. Timbang berat badan setiap hari 5.36 Abdomen 2.2.39 R : Catat warna dan texture dari kulit 2.2.15 tubuh 2.2.2.31 Kriteria.17 bung 2.2.2.4 Intervensi 2.2.2.2.16 berhu 2.32 6.30 menerima cairan yang sesuai 2.2.37 R : Memonitor edema di sekitar mata dan daerah edema  Tidak ada edema  Tidak menunjukkan gejala lainnya 2.12 n dari 2.27 jam.2.2.25 tindakan keperawatan 2.2.2.18 an 2.22 Kele 1 bihan volu 2.2.6 Dx No Keperawatan 2.14 uhan 2.2.5 2.2.7 Tujuan dan Kriteria Hasil 2.19 deng 2.2. Kaji intake dan output cairan 2.40 7.2.2.34 R : Gunakan botol kecil untuk intake dan output cairan 3. diharapkan gejala 2.33 2.2.2.2.2. Kaji perubahan edema : 2.38 R : Catat adanya pitting jika ada kelebihan caira 2. Berikan kortikosteroid sesuai ketentuan 2.20 an 2.9 2.2. Berikan asupan cairan dengan hati-hati/ teliti 4.2.2.2. hasil: 2.10 me 2.29 terjadi dan Anak akan 2.35 R : Ukur lingkar lingkar 2.28 akumulasi cairan tidak 2.2. Kolaborasi pemberian diuretik jika di instruksikan 37 .2.11 caira 2.13 kebut 2.2.2.2. Gunakan strategi untuk mencegah kelebihan intake dan output cairan 2.26 kepada klien dalam 3x 24 2.

2.54  Integritas kulit klien dapat 2.2. diharapkan kulit klien 2. Bersihkan kelopak mata yang mengalami edema dengan lap salin hangat 6.2.47 tidak menunjukkan adanya 2.55 dipertahankan 38 .48 kerusakan integritas 2.49 : kemerahan atau irritasi.2.2.53 2.2.2. Bersihkan dan beri lotion atau baby oil untuk mencegah kerusakan kulit 4.2.44 tindakan keperawatan 2.52 2.50 Kriteria.2.42 Resik o kerus akan integ ritas kulit berhu bung an deng an 2.41 2.2.2.2. Beri perawatan kulit 2.2.46 jam.2. 2.2.2.43 Tujuan : setelah dilakukan 2. Topang organ edema seperti skrotum 5. Hasil : 1. Gunakan penghilang tekanan atau matras tempat tidur penurun tekanan sesuai kebutuhan.45 kepada klien dalam 3x 24 2. Hindari pakaian ketat untuk menghindari area tertekan 3. 2.23 2.ketig a 2.

2.61 nutrisi tubuh klien dapat 2. dan ahli diet dalam formulasi diet untuk mendorong nutrisi optimal 4.2.60 Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan kepada klien dalam 3x 24 jam.2. Beri diet yang bergizi 2.2.62 terpenuhi 2.pemb entuk an edem a 3.2. Batasi natrium selama edema dan terapi steroid 3.58 2.59 2. 2.63 Kriteria hasil :  Klien mengkonsumsi jumlah makanan bernutrisi secara adekuat  Berat badan klien kembali ideal 1.2. Beri makananspesial yang disukai anak 6.2. diharapkan kebutuhan 2.2. orang tua. Beri makanan anak dengan cara yang menarik 39 .56 Nutri si kuran g dari kebut uhan tubuh berhu bung an deng an nafsu maka n berku rang 2. Beri makanan porsi sedikit dan sering 5.51 2. Tuliskan bantuan anak.2.57 2.

2.2. tentang 2.4. klien kooperatif. tanda gejala.2. Beri informasi / pendidikan kesehatan tentang sindrom nefrotik meliputi pengertian. 2. hasil:  Keluarga klien mengetahui tentang penyakit sindrom nefrotik  klien tampak tenang. Beri kesempatan pada keluarga untuk menanyakan hala-hal yang belum jelas kepada klien dalam 3x 24 4.2.74 Kriteria. 40 .66 2.69 Tujuan dilakukan : setelah 1. diharapkan keluarga 5. diit pasien ndengan tindakan keperawatan 3.2.64 Kura ng peng etahu an tenta ng peny akit berhu bung an deng an kuran g terpa parny a deng an infor masi meng enai peny akit 2. 2.71 cara perawatan.2.72 kebutuhan klien dengan 2.67 2.70 mengetahui kondisi.2.2.2. Beri reinforcement positif terhadap respon keluarga 2.dan 2.2.68 2. penyebab.73 sindrom nefrotik. Kaji pengetahuan keluarga tentang penyakit klien 2. Evaluasi pemahaman keluarga tentang sindrom nefrotik jam.

2.75 41 .2.2.65 2.

2. 2001).2.2.87 2. ACHMAD MOCHTAR BUKITTINGGI 42 .2. baik respon subjektif maupun objektif menentukan tujuan-tujuan yang sudah atau belum tercapai serta menentkan tindakan selanjutnya (Nursalam.89 ASUHAN KEPERAWATAN An.2.2.81 S = Respon subjektif 2.2.84 P = Planning / perencanaan selanjutnya 2.2.78 2.83 A = Analisa 2.2. oleh karena itu rencana tindakan yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi factor-faktor yang mempengaruhi maslah kesehatan klien. 2.2.86 2. penyakit.80 Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnose keperawatan rencana tindakan dan pelaksanaan sudah berhasil.2.2.79 Evaluasi 2. Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan dimana fokusnya adalah untuk menentukan respon klien terhadap intervensi yang diberikan.2.2.2.88 BAB III 2. pemulihan kesehatan.82 O = Respon objektif 2.90 RSUD Dr. yang mencakup peningkatan kesehatan.R DI RUANG RAWAT INAP ANAK 2. Tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 2. tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan pada nursing orders untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan.85 2. pencegahan.77 Implementasi keperawatan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik.2.76 Implementasi Keperawatan 2.

2.2.1.99 Umur Ayah : 37 Tahun 2.2.1.1. 18-04-2009 2.2.92 Nama : An.102 Nama Ibu : Ny.3 Riwayat Kesehatan Sekarang 2.103 Umur Ibu : 33 Tahun 2.2.107 2.2.105 Pekerjaan Ibu : Guru PAUD Keluhan Utama 2.2.2. Agam 2.2.2. dan perut klien membesar/membuncit) sejak 1 minggu yang lalu.R 2.98 Nama Ayah : Tn.2.110 Keluarga mengatakan seluruh tubuh anaknya sembab karena kurang istirahat. A 2.101 Pekerjaan Ayah : Sopir 2. dan tidak 43 .1 Pengkajian 3.2.95 Agama : Islam 2. pola makan tidak teratur (suka makan cemilan).104 Pendidikan Ibu : SMA 2. 2.2.2.91 3. I 2.106 Keluarga mengatakan klien dibawa ke RS dengan keluhan seluruh tubuh bengkak/sembab (area wajah khususnya mata.94 Usia : 6 tahun 2.1 Identitas Data 3. ektremitas.2.96 Alamat : Sugai Puar.97 Suku : Minang 2.108 2.2. Palembayan.100 Pendidikan Ayah : SD 2.109 3.2. banyak bermain.93 Tempat/ Tanggal lahir : Palembayan.2 2.2.2.2.2.

2.2. pada bulan juli 2015 c Obat-obatan yang digunakan : Prednison 3 tablet pagi.117Usi a pe 2.113Usi a pe 2.112Je ni s 2. Orang tua membawa klien berobat ke poli Anak RSUD Dr.2.R dirawat dibangsal anak untuk yang kedua kalinya. dan 2 tablet pada malam hari d Tindakan/Operasi : keluarga mengatakan klien tidak ada riwayat operasi e Alergi : Keluarga mengatakan anak tidak ada memiliki riwayat alergi.4 2. tetapi sembabnya tidak berkurang. klien mudah letih. f Kecelakaan : keluarga mengatakan klien tidak ada mengalami kecelakaan g Imunisasi : keluarga mengatakan imunisasi klien lengkap dan sesuai dengan jadwal di imunisasi 2. Sembab dimulai sejak seminggu sebelum di bawa ke rumah sakit.115Usi a pe 2. kaki. baik dalam segi cuaca.2. Achmad Mochtar Bukittinggi pada tanggal 29 september 2015 dan dokter mengajurkan An.2. 3. b Pernah dirawat dirumah sakit : keluarga mengatakan klien sebelumnya pernah dirawat 1 kali dengan penyakit yang sama dan tanda gejala yang sama dengan saat ini. tangan. nafsu makan berkurang.1.111 Riwayat Kesehatan Dahulu a Penyakit waktu kecil : keluarga mengatakan klien hanya mengalami demam dan flu biasa saja.2. perut tampak membuncit. Keluarga menganjurkan anaknya memakan obat hijaunya kembali secara teratur. keluarga mengatakan perut bertambah buncit dan nafas bertambah sesak.rutin minum obat. Keluarga mengatakan sembab seluruh badan terutama area mata/ kelopak matanya. 2 tablet siang.119 Usia 44 . obat-obatan ataupun makanan.

148 2.135 DPT 3 P oli o2 2.142 T ida k ada mb eri an 2.128 H B1 2.2.2.2.153 : perempuan 2.2.2.2.120 9 T ida k ada 2.2.152 : laki laki 2.2.2.2.139 P oli o3 2.2.124 T ida k ada 2.127 2.2.2.150 2.146 3.145 Ada 2.2.134 D PT 2 2.129 H B2 2.2.2.126 Hepatitis B 2.2.1163 bul an 2.1184 bul an 2.2.141 Campak A da T ida k ada 2.2.131 DPT 2.2.2.138 2.147 2.2.125 Tidak 2.2.2.132 T ida k ada 2.143 T ida k ada 2.144 T ida k ada 2.2.2.149 2.im un isa si mb eri an 2.2.154 : meninggal dunia 45 .2.2.137 P oli o1 2.2.5 Genogram 2.2.140 Polio 2.151 Keterangan 2.2.1142 bul an 2.2.2.121 BCG 2.2.1.2.133 D PT 1 2.136 POLIO 2.130 HB 3 2.2.122 2.123 mb eri an 2.2.

2.7 Riwayat Sosial a. Klien pada setelah lahir tidak ada mengalami gangguan pernafasan dan klien langsung menangis dengan kuat setelah lahir. keluhan selama hamil yaitu: mual muntah (tidak berlebihan) 3. Komplikasi yang dialami ibu saat melahirkan dan setelah melahirkan tidak ada c.2. Intranatal 1. 2.1. Prenatal 1.6 Riwayat Kehamilan a.155 2.2.158 3. Jenis persalinan normal 4. PB: 50 cm b. 3. Hipertensi. BB: 2. Postnatal a. Asma dan lain-lain. 2. Pengasuh : Klien di asuh oleh kedua orang tua dan nenek 46 . Kondisi bayi: baik. Keluarga mengatakan persalinan dilakukan di rumah sendiri 2.157 Keluarga mengatakan tidak ada anggota keluarga yang mengalami penyakit yang sama seperti klien dan keluarga mengatakan tidak ada anggota keluarga yang mempunyai penyakit keturunan seperti DM. Keluarga mengatakan persalinan dilakukan oleh bidan desa setempat 3.1.900 gr.2.156 ------- : klien : tinggal serumah dengan klien 2. Keluarga mengatakan ibu klien ada memeriksakan kehamilannya setiap bulan ke bidan desa setempat. Riwayat berat badan selama hamil: selama hamil berat badan ibu naik 1 kg/bulan b.2.

204 2.175 Jenis minuman 3 2.2.2.2.184 2.2.2.256 Makanan biasa rendah garam 2.2.2.194 1 Nutrisi 2.2.2.164 Sakit 2.185Frekuensi 2.2.272 Kuning 2.203 2.2.2.2.2.234 2.2.271 Cair 2.239 Tidak ada 2.240 2.2.1.2.2.170 2.180 2.195 2.2.8 Aktifitas sehari hari 2.2.172 2.159 anggota keluarga lengkap 2.2.2.263 2.2.276 Teratur 47 .2.269 2.260 6-8 kali ± 1.2.2.000 cc 2.259 Air putih 2.2.177 2.2.171 2.2.190Keluhan 2.189 2.198 2.225 Baik 2.2.2.235 2.2.2.2.2.183 BAB 2.2.2.2.b.2.2.196 2.2.2.265 1 kali sehari 2.2.2.2.253 2.242 Cair 2.187 2.2.2.178 Cara pemenuhan 2.2.2. habis 1 porsi 2.2.268 Tidak ada 2.169Frekuensi 2.2. habis 1 porsi 2.182 2.238 Kuning 2.161 2.262 2.2.2.257 2.2.232 Oral 2.241 5-6 kali sehari ±1.2.2.2.2.230 Air putih.176 Frekuensi minum 2. d.2.2. minuman kemasan 2. Hubungan dengan teman : bagus.174 2.2.226 3-4 kali sehari.202 2.2.173 Cairan 2.199 2.181 Eliminasi 2.2.2.2.2.2.2.2.2.2.206 2.244 Tidak ada 2.264 2.2.2.227 Makanan biasa 2.2.2. Hubungan dengan keluarga : harmonis c.197 2 Diit 2.2.208 2.201 2.207 3 Konsistensi 2.205 2.168 2.500 cc 2.266 Lembek 2.2.2.246 6-8 jam 2.2.2.270 8-10 kali sehari ± 2.186 2.275 8-10 jam sehari 2.200 2.255 3 kali sehari.2.2. Lingkungan rumah : Lingkungan rumah cukup ramai karena seluruh 2.236 2 kali sehari 2.200-1500 cc 2.224 2.261 Oral 2.2.165 2.188Warna 2.166 2.258 2.245 2.2.231 8-10 kali (per 1000 cc) 2.163 Sehat 2.2.243 Agak kekuningan 2.2.273 Tidak ada 2.237 Lembek 2.2.2.2.229 2.179 2.2.2.167Selera makan 2.160 3.2.274 2.2.2. Pembawaan secara Umum : Klien tampak ceria e.2.254 Baik 2.162 No Pola aktifitas 2.209 2.233 2.267 Kuning 2.228 2.

286 2.218 Kebiasaan sebelum tidur 2.2.2.281 1 kali sehari 1 kali 2.192 BAK 2.282 2.2.2.2.211 4 Frekuensi 2.2.220 2.223 Gosok gigi sehari 2.279 2.2.2.214 Keluhan 2.249 kadang 2.217 Pola tidur 2.216 Jumlah jam tidur 2.2.2.2.213 Warna 2.222 Mandi 2.277 Main Teratur game/ memutar musik Menonton 2.191 2.2.278 Setiap hari Kadang 2.2.287 2.285 2.221 Personal hygiene 2.2.2.248 tv 2.9 Pemeriksaan Penunjang a.2.2.2.250 2.284 2.2.2.219 Tidur siang 2.2.2.2. Hasil Laboratorium 2.2.2.252 sehari 2.2.251 sehari 2.283 2.2.193 2.288 3.2.2.280 2 kali sehari 2 kali 2.215 Istirahat /Tidur 2.2.2.2.1.2.212 Konsistensi 2.247 2.210 2.2.2.2.2.289 Tanggal 22 September 2015 48 .

290Kimia klinik : 2.leukosit : 0-1 2.300 .0 : 1.62-10.16 gm/dl (8.292Cholesterol : 770 mg/dl (201) 2.5.2.297 - : 19 Pemeriksaan Darah : Hb Eritrosit Hematokrit LED Leukosit  Eosonofil  Basofil  Neutrofil  Lymphosit  Monosit  : 16.2.04 [10ᶺ6/uL] : 46.9 g/dl : 6.296Urea mg/dl (15-43) 2. W 4.298 Tanggal 5 Oktober 2015 2.2.2.291Albumin : 1.5 % n : (P 13 – 16.4 g/dl (3.9 % : 98 mm/jam : 217600 uL : 0.299 Urine : 1) Fisis .2 % : 91.epitel : + 3) Kimia Urine .5-5.8-5.eritrosit : 0-1 2.2.2. W 12-14) n: (P 4.301 .pH .295Total protein : 3.015 2.0) n : (P 40-80.2.2.warna : kuning muda 2) Sedimen . W <15) n : ( 5000-10000 ) n:(1–3) n : ( 0 – 1) n : ( 50 – 70 ) n : ( 20 – 40 ) n:(2–8) 2.304Kimia klinik : 49 .5 % : 7.2. W 37-43) n : (P <10.6 g/dl (6.3 mg/dl (0.4) 2.3) 2.Protein .4 % : 0.31) 2.2.2.294Calcium : 0.2.0-5.4 % : 0.8-1.2.302 : +3 : 7.303 06 Oktober 2015 2.4) 2.2.293Creatinin : 8.3-8.Bj 2.2.2.

leukosit : 0-1 .2.305Albumin : 1.2.308 8 Oktober 2015 2.pH .314 12 Oktober 2015 2.2. dan 2 tablet pada malam 2.warna .2.309 Urine : 1) Fisis .015 2.2.2.eritrosit 2.310 .leukosit : 0-1 2.0 : 1.2.2.2 g/dl (3.2.307 2.318 hari 50 .warna : kuning muda 2.4) 2.316 2.2.311 :+ : 0-1 .313 : +4 : 8. 2 tablet siang.eritrosit 2.317 : kuning muda : 0-2 .Bj 2.306Total protein : 3.kekeruhan 2) Sedimen .epitel :+ 3) Kimia Urine . Obat obatan  Prednison : 3 tablet pagi.0 - Bj : 1.8-5.015 b.312 .2.2.2.315 Urine 1) Fisis 2) Sedimen .2.4) 2.epitel :+ 3) Kimia Urine - Protein : +3 - pH : 8.3-8.Protein .2.3 g/dl (6.

319 3. TB/BB : 111cm/19kg c. Vital Sign 2.2. - Skelera tidak ikterik - Palpebra udema - Konjungtiva tidak anemis - Pupil isokor kiri kanan - Reflek cahaya normal kiri kanan - Klien tidak menggunakan alat bantu seperti kacamata 51 .2.10 Pemeriksaan fisik a.320 TD : 90/60 mmHg P : 20 x/i 2.2.2.1.2. 14.323 Inspeksi - : bentuk kepala bulat warna rambut hitam tidak mudah dicabut tidak ada lesi 2.2.5ºc 2. Keadaan Umum : Sedang b.2.325 Inspeksi : - Mata simetris kiri kanan.322 LP : 61 cm BB : 19 Kg d. 18 2. Mata 2. Inj Ceftriaxone : 1 x 900 mg 09  Inj Lasix : 1 x 20 mg 09  Catopril : 3 x 6 mg 06.324 Palpasi : tidak teraba masa e. Kepala 2. 22  Spironolacton : 2 x 15 mg 06.321 N : 96 x/I S : 36.

327 Palpasi : - tidak ada pembengkakan 2.2.329 Inspeksi - normal kanan kiri - batang hidung tidak defiasi - hidung bersih. Telinga 2.330 Inspeksi : - Bentuk normal - Bibir atas dan bibir bawah simetris - Mukosa bibir lembab - Tidak terlihat pembekakan - Gigi ada yang patah - Tonsil tidak meradang 52 .2.2.326 Inspeksi : - Telinga simetris kiri kanan.2.2.328 g. sekret tidak ada - penciuman baik - tidak terlihat adanya lesi - Tidak ada deformitas pada sektum nasal h. Mulut 2. - Tidak ada serumen - Pendengaran baik - Tidak ada lesi 2.f. Hidung 2.

2.2.2.331 Palpasi : - Tidak teraba masa i.2. Leher 2.334 Inspeksi : - Bentuk dada normacest - Dinding dada simetris - Tidak ada pembengkakan - Tidak menggunakan otot bantuk pernafasan - Retrasi dinding dada normal - Frekuensi pernafasan : 20 x/m - Tidak ada pembesaran otot dada - Rusuk dan sela insterkostal normal 2. Thorax/Dada 2.335 Palpasi : - Taktil premitur normal kiri dan kanan 2.333 Palpasi : - tidak terdapat bendungan vea jongularis j.2.337 Asuskultasi : 53 .2.332 Inspeksi : - Bentuk leher simetris kiri dan kanan - Tidak ada pembesaran vena jugularis - Warna leher sama dengan warna kulit lainnya - Kulit tampak bersih - Tidak ada pembengkan kelenjer tyroid dan parathyroid 2.2.2.336 Perkusi : .Suara ketukan sonor 2.

2.2.Tidak ada nyeri tekan 2.Saat perkusi bunyi pekak 54 .2.341 Inspeksi : - Simetris kiri dan kanan - Terdapat asites - Masa tidak ada - Tidak ada bekas operasi 2.2.1 : Lup Bj.Tidak ada pembesaran hepar .343 Palpasi : . Abdomen 2.Tidak teraba masa .339 Palpasi : - Iktus kordis teraba di lineal mid klavikula sinistra V Batas kiri kanan teraba Batas atas pada ICS 2 Batas bawah pada ICS 5 Batas kiri pada ICS 5 mid klavikula sinistra Batas kanan pada ICS 4 mid sternalis dexstra 2.2.2.2.344 Perkusi : .2 : Dug tidak ada suara tambahan l. Jantung : 2.338 - Suara nafas vesikuler tidak ada wheezing tidak ada ronki Inspeksi : Dada simetris kiri dan kanan Iktus kordis tidak tampak Tidak lesi 2.340 Auskultasi : - Bunyi jantung reguler Irama jantung teratur Bj.k.342 Auskultasi : - Bising usus normal 12x per menit 2.

351 Inspeksi : - 2 skrotum 1 penis - Skrotum edema - Anus Positif 55 .2. 5555 Integumen 2.2.2.2.2.346 5555 - Tidak ada nyeri sendi - Otot tangan seimbang ketika mobilisasi - CRT < 2 detik 5555 2. Ekstremitas 2.350 Palpasi : - Teraba piting udema derajat 1 (Pengembalian < 3 detik pada ekstremitas atas) o.347 Bawah : - Kaki kanan dan kaki kiri simetris Kekuatan otot 5555 5555 2.m.349 Inspeksi : - Warna kulit kuning - Terpasang IV pump tangan sebelah kanan 2.2.348 5555 Tidak ada nyeri sendi Otot kaki seimbang ketika mobilisasi CRT < 2 n.2.345 Atas : - Tangan kanan dan kiri simetris - Kekuatan otot 5555 5555 2. Teraba udema anasarka piting edema pada ekstremitas bawah Genetalia 2.

2.2.364 2.2.2.371 2.2.366 2.368 2.363 2.2.372 56 .2.2.2.354 2.352 2.2.369 2.356 2.358 2.2.2.2.2.360 2.2.2.367 2.357 2.2.365 2.359 2.2.353 2.370 2.2.2.355 2.361 2.362 2.2.2.

11 Kelebihan  Keluarga mengatakan anak nya cairan sembab.19 3.10 S : 36.15 3.22 Retensi air natrium 3.7 1 3.14 Protein Urine 3.Intake : 1150 cc .Udema anasarka .3 No 3.Wajah tampak mounface.IWL : 400 cc .4 Data 3. .Output : 2000 cc . 3.12 Etiologi Sindrom Nefrotik 3.25 3.Diuresis : 3.Protein (+++) .18 Tekanan ongkoloti plasma menurun 3.2 Analisa data 3.17 3. .TB/BB : 111cm/20kg .6 volume 3.  Keluarga mengatakan perut anak nya buncit.Balance cairan : 1150-(2000+400) = -1250 cc .3 cc/kgbb/24jam 3.Lingkar perut : 61cm .8 DS : 3.3.TD : 90/60 mmHg N : 96x/i 3.26 Akumulasi cairan didalam tubuh 57 .23 3.16 Hipoalbumia 3.20 Hipopolemik 3.5ºc P : 24x/i .13 3.Badan tampak sembab.21 3.9 DO .24 Cairan masuk ke sel berlebihan 3.5 Masalah 3.

32 3.46 DO .51 3.38 3.35 Hipoalbumia 3.57 3.Klien tampak letih dan tidak bertenaga . 3.2 3.55 3.42 3.59 3.33 Protein Urine 3.48 Sindrom nefrotik 3.Keluarga mengatakan anaknya sembab sudah 1 minggu yang lalu .34 3.Piting edema derajat 1 .Keluarga mengatakan tidak pengetahuan mengontrol jenis makanan yang dikonsumsi anaknya . 3.60 Kurang terpapar informasi 3.45 DS 3.30 Inteloransi aktivitas .29 DO .28 DS 3.ADL klien tampak dibantu keluarga .36 3.31 Sindrom nefrotik 3.41 Peningkatan pemecahan cadangan protein di otot dan hati 3.Asietes + .keluarga tidak mampu menjawab pertanyaan tentang penyebab.Piting edema anasarka .37 Udema anasarka 3. perawatan agar penyakit tidak kambuh.50 Protein Urine 3.Pada tangan kanan terpadang inje pump .53 3.58 Prognosis penyakit memburuk 3.Albumin 1.Klien tampak terbaring ditempat tidur .56 Penurunan fungsi tubuh 3.39 Peningkatan metabolisme protein 3.BB 20 kg .43 Kelemahan 3.47 Kurangnya .40 3.54 Udema anasarka 3.3.44 3 3.Keluarga mengatakan aktivitas masih dibantu 3.Keluarga mengatakan tidak mengetahui penyebab keadaan anaknya seperti ini.Keluarga klien selalu bertanya mengenai kondisi dan penyakit klien .49 3.61 58 .52 Hipoalbumia 3.27 2 3.

62 Kurang pengetahuan 3.- Keluarga tampak cemas menceritakan kondisi anak 3.63 59 .

2.3.19 3.22 60 .18 3.15 3.8 3.12 3.21 3.7 3.2 Diagnosa keperawatan 1. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan 3.5 3.13 3. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kegagalan akumulasi cairan dalam jaringan dan ruang ketiga. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi.11 3. 3.16 3.17 3.10 3.6 3.3 3.9 3.14 3.20 3.4 3.

Edema berkurang/hilang 3.35 3. Instruksikan istirahat bila anak mulai merasa adekuat lelah 3. Berikan periode istirahat 3.29 2. Berikan raiforcemen kepada keluarga berhubungan 3.26 TUJUAN DAN KRITERIA HASIL KEPERAWAT O AN 1.48 3.39 .42 . ukur lingkar abdomen dan oedem sekitar mata 6 Kolaborasi Berikan diit rendah garam 7 kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat 3.33 3. kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang penyakit pengetahuan 1.24 A N 3.45 1. Pertahankan tirah baring awal bila terjadi edema 3.36 Tujuan: 3.52 Kurangnya 3.37 diharapkan anak dapat melakukan hebat aktivitas sesuai dengan kemampuan dan 3. 3.23 Intervensi 3.Kekuatan otot meningkat 3.30 Tujuan : volume cairan 3.31 Elektrolit dan base balance b. 3. Keluarga mampu mengidentifikasi penyakit anaknya.d kegagalan 3.55 Kriteria hasil : 3.28 Kelebihan 3.38 Kriteria Hasil : 3.462.41 . Jelaskan tentang penyakit pasien dengan kurang 61 . Keluarga mengetahui keadaan pasien 2.Toleransi aktivitas 3.25 DIAGNOS 3. 2.47 aktivitas tenang mendapatkan istirahat dan tidur yang 3. tidak ada dyspnea jaringan dan  Terbebas dari distensi vena jongularis ruang ketiga.27 INTERVENSI 1 2 3 Monitor tanda tanda vital Monitor intake output Kaji masukan intake yang relative terhadap output secara adekuat 4 Timbang berat badan tiap hari 5 Kaji perubahan oedem. Rencanakan dan berikan 3.44 3.43 .32 kriteria hasil : akumulasi  Terbebas dari odema cairan dalam  Bunyi nafas bersih.54 Tujuan : 1.Aktivitas pasien mulai aktif 3. 3.40 .51 3.semakin membaik 3. 3.494.3.50 tanpa gangguan 3.34 Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan 3.

Libatkan keluarga dalam semua tindakan perawtan penyebab penyakit 2.terpaparnya informasi 3. Keluarga mengetahui 4.53 1. Keluarga mengetahui apa pasien saja yang menyebabkan timbulnya kembali 6. Kaji peningkatan pengetahuan keluarga 5.56 62 . 3. Ajarkan keluarga membuat daftar kegiatan dan daftar diit penyakit.

72 Balance cairan : 1150-(2000+400) = -1250 cc 3.59 3.74 8. Menimbang berat badan setiap hari 3.3.70 R : Intake : 1150 cc output : 2000 cc 3. 3.65 R : TD: 90/60 mmHg S :36. BC.83 3.63 Memonitoring tanda-tanda vital 3.77 R : keluarga memberikan klien minum dan menampung urin klien menggunakan botol aqua.3 cc/kgbb/24jam 3. 3.Kolaborasi dengan ahli gizi mengenai diit klien 3.71 IWL : 400 cc 3.67 R : BB : 20 kg 5.dan diuresis 3.60 Implementasi No dx araf 1. Memonitoring balance cairan 4.61 P 3. dan 2 tablet pada malam hari  Inj Ceftriaxone : 1 x 900 mg (09) 63 .Kolaborasi dengan dokter pemberian terapi 3. output.5 ºC 3.76 9. Menghitung denyut nadi dan pernafasan 3.58 Tan ggal 3. Mengukur lingkar perut 3.68 R : LP : 61 cm 3. Menghitung intake. dan menggunakan botol juga untuk tempat menampung urin klien yang jumlah takarannya dapat dihitung dengan mudah.69 6.81 R : Prednison : 3 tablet pagi.78 10.Menganjurkan keluarga untuk menyediakan minuman klien dalam botol.79 R : diit rendah garam / Diit nefrotik 1500 kkal/protein 40 gr 3.80 11.Mengobservasi keluhan oedema dan asites 3.64 2. Mengukur tekanan darah dan suhu tubuh 3. 3. 2 tablet siang.75 R : Oedema pada tungkai (+) asites (+) 3. IWL.62 0510-2015 3.66 R : N : 96 x/i P: 24 x/i 4.57 Implementasi 3.73 Diuresis:3.

97 R : keluarga tidak diberikan harapan yang tidak pasti mengenai kesembuhan klien. Memonitoring tanda-tanda vital 3.107 06- 3. Inj Lasix : 1 x 20 mg (09)  Catopril : 3 x 6 mg (06.86 R : posisi klien telentang.89 R : klien mendengarkan musik/ bermain game di hp/ psnya 3.82 3.Merencanakan dan berikan aktivitas tenang 3.95 3.87 2.101 R : keluarga mengetahui tanda dan gejala penyakit 3.88 3.Berikan periode istirahat tanpa gangguan dengan suasana tenang saat klien istirahat 3. 1.Memberikan penjelasan tentang penyakit dan kondisi sekarang 3.91 4.93 3.Menyediakan informasi bagi keluarga tentang kemajuan pasien dengan cara yang tepat 3.103 R : keluarga kurang mengetahui cara perawatan klien dirumah 3.92 3.94 menganjurkan keluarga memberikan R : keluarga mampu menciptakan suasana tenang dan nyaman ketika klien istirahat 3.90 R : klien ada tidur di siang hari setelah beraktivitas 3.85 Mempertahankan tirah baring awal bila terjadi edema hebat 3.Menginstruksikan istirahat klien bila mulai merasa lelah (bedrest) 3.104 5.Mengkaji tingkat pengetahuan keluarga 3.96 . 22)  Spironolacton: 2 x 15 mg (06.108 1.99 R : keluarga mengetahui mengenai perkembangan klien 3.98 2.135 64 .106 3.100 3.Menggambarkan tanda dan gejala penyakit bagi keluarga 3. 3. 3. miring kiri/kanan 3.84 2.105 R : keluarga mengetahui kondisi penyakit klien 3. 3.Menghindari harapan kosong kepada keluarga 3.102 4.18) 3. 14.

144 65 .126 R : keluarga memberikan klien minum dan menampung urin klien menggunakan botol aqua. 14.110 R : TD: 80/60 mmHg S :36.Kolaborasi dengan dokter pemberian terapi 3.Menimbang berat badan setiap hari 3.119 R : Intake : 2.133 Catopril : 3 x 6 mg (06.Kolaborasi dengan ahli gizi mengenai diit klien 3.122 Diuresis:3.5 kg 3.400-(1. BC.5 ºC 3.Menganjurkan keluarga untuk menyediakan minuman klien dalam botol.117 6. 22) 3.18) 1.1 cc/kgbb/24jam 3.111 3.Memonitoring balance cairan 3.113 4. dan 2 tablet pada malam hari 3.Mengukur lingkar perut 3. Mempertahankan tirah baring awal bila terjadi edema hebat 3. IWL.Menghitung intake.118 7.Menghitung denyut nadi dan pernafasan 3.Mengobservasi keluhan oedema dan asites 3.121 Balance cairan : 2. 3.400 cc output : 1.116 R : LP : 57 cm 3.123 8.115 5. Mengukur tekanan darah dan suhu tubuh 3. 3.10-2015 3.131 Inj Ceftriaxone : 1 x 900 mg (09) 3.114 R : BB : 19. 2 tablet siang.128 R : diit rendah garam / Diit nefrotik 1500 kkal/protein 40 gr 3.120 IWL : 390 cc 3.136 2.132 Inj Lasix : 1 x 20 mg (09) 3.450+400) = -440 cc 3. output.134 Spironolacton: 2 x 15 mg (06. 3. dan menggunakan botol juga untuk tempat menampung urin klien yang jumlah takarannya dapat dihitung dengan mudah.112 R : N : 98 x/i P: 21 x/i 3.109 2.124 R : Oedema pada tungkai (+) asites (+) 3.dan diuresis 3.129 11.130 R : Prednison : 3 tablet pagi.450 cc 3.125 9.127 10.

155 R : keluarga mengetahui kondisi penyakit klien 3.145 3.142 3. Mengintruksikan istirahat klien bila mulai merasa lelah (bedrest) 3.146 1.137 R : posisi klien telentang.138 R : klien mendengarkan musik/ bermain game di hp/ psnya 3.151 R : keluarga mengetahui tanda dan gejala penyakit 3.149 R : keluarga mengetahui mengenai perkembangan klien 3.Mengkaji tingkat pengetahuan keluarga 3.Memberikan penjelasan tentang penyakit dan kondisi sekarang 3. 3. Berikan periode istirahat tanpa gangguan dengan menganjurkan keluarga memberikan suasana tenang saat klien istirahat 3.143 3.153 R : keluarga kurang mengetahui cara perawatan klien dirumah 3.Menggambarkan tanda dan gejala penyakit bagi keluarga 3.Menghindari harapan kosong kepada keluarga 3.152 4. R : keluarga mampu menciptakan suasana tenang dan nyaman ketika klien istirahat 3. Menginstruksikan istirahat klien bila mulai merasa lelah (bedrest) 3.140 4. miring kiri/kanan 2.156 66 .148 2. Merencanakan dan berikan aktivitas tenang 3.154 5.Menyediakan informasi bagi keluarga tentang kemajuan pasien dengan cara yang tepat 3.3.150 3.147 R : keluarga tidak diberikan harapan yang tidak pasti mengenai kesembuhan klien.139 R : klien ada tidur di siang hari setelah beraktivitas 3.141 5.

dan diuresis 3.182 R : Oedema pada tungkai (+) asites (+) 3.161 3. Menimbang berat badan setiap hari 3.5 ºC 3.162 R : N : 96 x/i P: 24 x/i 3.180 Diuresis:3. output.159 2. Memonitoring tanda-tanda vital 3. 3. dan menggunakan botol juga untuk tempat menampung urin klien yang jumlah takarannya dapat dihitung dengan mudah.183 10Menganjurkan keluarga untuk menyediakan minuman klien dalam botol.167 Mengukur tekanan darah dan suhu tubuh 3. Menghitung intake.179 Balance cairan : 1150-(2000+400) = -1250 cc 3.175 7.163 4.177 R : Intake : 1150 cc output : 2000 cc 3.174 R : LP : 61 cm 3. Memonitoring balance cairan 3. Mengukur lingkar perut 3.164 R : BB : 20 kg 3. BC.173 Mengukur lingkar perut 3. 3.3 cc/kgbb/24jam 3.3.Menghitung denyut nadi dan pernafasan 3.160 R : TD: 90/60 mmHg S :36.166 R : LP : 61 cm 6.181 9.193 3.Memonitoring tanda-tanda vital 3.165 5.184 R : keluarga memberikan klien minum dan menampung urin klien menggunakan botol aqua.176 8.172 R : BB : 20 kg 3.170 R : N : 96 x/i P: 24 x/i 3.Mengukur tekanan darah dan suhu tubuh 3.157 0710-2015 1.5 ºC 3.169 Menghitung denyut nadi dan pernafasan 3. 67 .171 Menimbang berat badan setiap hari 3.Mengobservasi keluhan oedema dan asites 3.168 R : TD: 90/60 mmHg S :36.178 IWL : 400 cc 3.158 1. IWL.

14.18) 3.185 11Kolaborasi dengan ahli gizi mengenai diit klien 3.Kolaborasi dengan dokter pemberian terapi 3.Berikan periode istirahat tanpa gangguan dengan menganjurkan keluarga memberikan suasana tenang saat klien istirahat 3. miring kiri/kanan 3.203 3.Merencanakan dan berikan aktivitas tenang 3.196 R : posisi klien telentang. 22) 3.198 R : klien mendengarkan musik/ bermain game di hp/ psnya 3. dan 2 tablet pada malam hari 3.195 Mempertahankan tirah baring awal bila terjadi edema hebat 3.201 4.187 12. 3.189 Inj Ceftriaxone : 1 x 900 mg (09) 3.192 Spironolacton: 2 x 15 mg (06.197 2.200 R : klien ada tidur di siang hari setelah beraktivitas 3.186 R : diit rendah garam / Diit nefrotik 1500 kkal/protein 40 gr 3.190 Inj Lasix : 1 x 20 mg (09) 3.202 R : keluarga mampu menciptakan suasana tenang dan nyaman ketika klien istirahat 68 .3.194 2.Menginstruksikan istirahat klien bila mulai merasa lelah (bedrest) 3. 2 tablet siang.188 R : Prednison : 3 tablet pagi.199 3.191 Catopril : 3 x 6 mg (06.

210 4.Menggambarkan tanda dan gejala penyakit bagi keluarga 3. Menghindari harapan kosong kepada keluarga 3.213 R : keluarga mengetahui kondisi penyakit klien 3.3. 3.204 3.207 R : keluarga mengetahui mengenai perkembangan klien 3.206 2.205 R : keluarga tidak diberikan harapan yang tidak pasti mengenai kesembuhan klien. 1.209 R : keluarga mengetahui tanda dan gejala penyakit 3.212 5.Menyediakan informasi bagi keluarga tentang kemajuan pasien dengan cara yang tepat 3.208 3.211 R : keluarga kurang mengetahui cara perawatan klien dirumah 3.Memberikan penjelasan tentang penyakit dan kondisi sekarang 3.214 69 .Mengkaji tingkat pengetahuan keluarga 3.

Tampak pada tangan kanan terpasang injek pump .223TD : 90/60 mmHg N : 96 x/i 3.215 Evaluasi 3.231 O : .222 O : .230 S : .229 2 3.221 S : .232 A : masalah belum teratasi 3.218 Evaluasi DX 1 3.keluarga mengatakan masih sembab . - Tampak Udema anasarka - Lingkar perut : 61cm - Protein (+++) - TB/BB : 111cm/20kg Intake : 1150 cc - Output : 2000 cc - IWL - Balance cairan : 1150-(2000+400) = -1250 cc - Diuresis:3.235 3 - Badan tampak sembab.Keluarga mengatakan anaknya sembab sudah 1 minggu yang lalu .3 cc/kgbb/24jam : 400 cc 3.ADL klien tampak dibantu keluarga .Klien tampak terbaring ditempat tidur .BB 20 kg .227 3.Klien tampak letih dan tidak bertenaga .236 S : .Keluarga mengatakan tidak mengontrol jenis makanan yang dikonsums 70 .Albumin 1.3.217 N o 3.Asietes + .2 g/dl 3. P : 24 x/i 3.233 P : Intervensi dilanjutkan 3.Wajah tampak mounface.225 A : Masalah belum teratasi 3.keluarga mengatakan perut masih buncit 3.226 P : intervensi dilanjutkan 3.Tampak Piting edema anasarka .220 05-102015 3.224S : 36.216 Tanggal 3.Keluarga mengatakan aktivitas masih dibantu 3.5 ºc . 3.

3.2 g/dl 3.Wajah tampak mounface.245 S : 36.Tampak pada tangan kanan terpasang injek pump .Albumin 1.1 cc/kgbb/24jam : 390 cc 3.Tampak Piting edema anasarka . - Tampak Udema anasarka - Lingkar perut : 61cm - Protein (+++) - TB/BB : 111cm/19.BB 19.252 A : masalah belum teratasi 3.242 S : .Asietes + .244 TD : 80/60 mmHg N : 98 x/i 3.Keluarga mengatakan tidak mengetahui penyebab keadaan anaknya sep 3.keluarga tidak mampu menjawab pertanyaan tentang penyebab. penyakit tidak kambuh.238 A : Masalah belum teratasi 3.5 ºc P : 21 x/i 3.251 O : .keluarga mengatakan masih sembab .Keluarga mengatakan aktivitas masih dibantu 3.ADL klien tampak dibantu keluarga .Keluarga tampak cemas menceritakan kondisi anak 3.Klien tampak terbaring ditempat tidur .250 S : .237 O : .239 P : intervensi dilanjutkan 3.Klien tampak letih dan tidak bertenaga .255 3 .5 kg Intake : 2400 cc - Output : 1450 cc - IWL - Balance cairan : 2400-(1450+400) = -440 cc - Diuresis:3.247 P : intervensi dilanjutkan 3.256 S : 71 .241 06-10- 1 2015 3.246 A : Masalah belum teratasi 3. .243 O : .Keluarga mengatakan anaknya sembab sudah 1 minggu yang lalu .keluarga mengatakan perut masih buncit 3.253 P : Intervensi dilanjutkan 3.5 kg .Keluarga klien selalu bertanya mengenai kondisi dan penyakit klien .249 2 3. - Badan tampak sembab.

269 3.259 P : intervensi dilanjutkan 3.Keluarga tampak cemas menceritakan kondisi anak 3.Keluarga mengatakan tidak mengontrol jenis makanan yang dikonsums .258 A : Masalah belum teratasi 3.keluarga mengatakan perut masih buncit 3.266 N : 70 x/i 3. .261 07-10- 1 2015 3.keluarga tidak mampu menjawab pertanyaan tentang penyebab.273 3.257 O : .262 S : . 3. penyakit tidak kambuh.270 3.272 2 .268 P : 24 x/i A : Masalah belum teratasi P : intervensi dilanjutkan S: Keluarga mengatakan anaknya sembab sudah 1 minggu yang lalu Keluarga mengatakan aktivitas masih dibantu O: Tampak Piting edema anasarka BB 19 kg Asietes + Klien tampak terbaring ditempat tidur Tampak pada tangan kanan terpasang injek pump Klien tampak letih dan tidak bertenaga ADL klien tampak dibantu keluarga 72 .560 cc - Output : 2.Keluarga mengatakan tidak mengetahui penyebab keadaan anaknya sep 3.264 O : .267 S : 36 ºc .560-(2.650 cc - IWL - Balance cairan : 2.265 TD : 10/60 mmHg 3.keluarga mengatakan masih sembab . - Tampak Udema anasarka - Lingkar perut : 61cm - Protein (+++) - TB/BB : 111cm/19kg Intake : 2.Keluarga klien selalu bertanya mengenai kondisi dan penyakit klien .274 - : 380cc 3.Wajah tampak mounface.3.8cc/kgbb/24jam 3.263 3.650+400) = -470 cc - Diuresis:5. - Badan tampak sembab.

286 3.keluarga tidak mampu menjawab pertanyaan tentang penyebab.05 gr/hr.2 Diagnosa keperawatan 3. maka dapat diketahui hal-hal sebagai berikut: 4.285 PEMBAHASAN 3. 3.284 BAB IV 3.287 Berdasarkan asuhan keperawatan yang telah dilakukan pada An.R.Keluarga mengatakan tidak mengetahui penyebab keadaan anaknya 3.279 S : .282 P : intervensi dilanjutkan 3. meliputi: proteinuria massif > 0.4 %). .280 O : .290 Secara teoritis diagnosa keperawatan yang dapat muncul dengan klien sindrom nefrotik adalah sebagai berikut: 73 . peraw penyakit tidak kambuh.276 P : Intervensi dilanjutkan 3. hasil pemeriksaan laboratorium urin (protein + 3. ektremitas. hiperlipidemia dan edema.Albumin 1. cholesterol 770.1 Pengkajian 3.278 3 . lipid 7. di ruang rawat inap anak RSUD Achmad Mochtar Bukittinggi. Secara teoritis pada klien sindrom nefrotik mengalami gejala gangguan klinis. hipoalbuminemia.281 A : Masalah belum teratasi 3.Keluarga klien selalu bertanya mengenai kondisi dan penyakit klien .288 Berdasarkan hasil pengkajian yang telah dilakukan pada tanggal 05 Oktober 2015 pada An. dengan keluhan seluruh tubuh sembab khususnya daerah mata. Dapat disimpulkan bahwa semua manifestasi klinis yang ada di teoritis juga kelompok temukan dalam kasus An.Keluarga mengatakan tidak mengontrol jenis makanan yang dikonsu . R tanggal 05 Oktober 2015.R. Tidak ditemukan perbedaan yang spesifik antara teoritis dengan pengkajian kasus yang didapatkan. dan perut asites sejak 1 minggu yang lalu.3.275 A : masalah belum teratasi 3.Keluarga tampak cemas menceritakan kondisi anak 3.289 4.2 g/dl 3.

Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan nafsu makan menurun 4.291 3. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan 3.296 3. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan Akumulasi cairan dalam jaringan dan ruang ketiga 2. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pembentukan edema 3. kelompok menggunakan rencana keperawatan yang telah disusun oleh NANDA.299 3.d kegagalan akumulasi cairan dalam jaringan dan ruang ketiga. NIC.294 Dalam penyusunan intervensi keperawatan.305 74 . 2. diperoleh 3 diagnosa keperawatan yaitu : 1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan 3.293 4.304 3.297 3. dalam hal ini setiap rencana keperawatan dikembangkan berdasarkan teori yang dapat diterima secara logis dan sesuai dengan kondisi klien. Kelebihan volume cairan b.3 Intervensi 3. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi.292 Setelah dilakukan pengkajian.301 3. 3.300 3.1.302 3. Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan Kurang terpapar dengan informasi tentang penyakit sindrom nefrotik 5. NOC dan kolaborasi dengan Dongoes.295 3. 3.303 3.298 3.

349 integritas : 1. integritas kulit 3. Timbang berat badan setiap hari 3.342 Resiko 3.314 dengan 3.329 Kelebihan volume cairan 1.336 terjadi dan Anak sekitar mata dan daerah akan edema lainnya  Catat adanya pitting jika 3. Kaji perubahan edema : gejala  Ukur lingkar lingkar 3. Gunakan strategi untuk dilakukan mencegah kelebihan intake 3.346 Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan kepada klien dalam 3x 24 jam.306 3. diharapkan kulit 3.338 sesuai dari kulit 3.3.318 3. Kolaborasi pemberian  Tidak diuretik jika di instruksikan menunjukkan gejala kelebihan cairan 3.320 3.343 kerusakan 2.321 3.332 tindakan dan output cairan keperawatan 3.341 3. Berikan kortikosteroid sesuai ketentuan.307 Intervensi Teoritis 3.322 3. dari kebutuhan 3.327 3.323 3. Hindari pakaian ketat untuk menghindari area tertekan 3.337 menerima cairan ada yang  Catat warna dan texture 3.315 akumulasi cairan dalam 3.312 3.316 jaringan dan 3.326 3.310 Tujuan dan 3. Berikan asupan cairan dengan 3.334 jam.331 Tujuan: setelah 1.319 3.311 Intervensi Kriteria Hasil 3.  Tidak ada edema 7.328 3. Gunakan penghilang tekanan atau matras tempat tidur penurun tekanan sesuai kebutuhan. Kaji intake dan output cairan 2.309 Dx No Keperawatan 3.339 Kriteria hasil : 6.308 3.345 pembentukan edema 3.335 akumulasi cairan abdomen tidak  Memonitor edema di 3.330 3. Bersihkan kelopak mata yang mengalami edema dengan lap salin hangat 6.344 berhubungan dengan 3. Bersihkan dan beri lotion atau baby oil untuk mencegah kerusakan kulit 4. Topang organ edema seperti skrotum 5.324 3.313 tubuh berhubungan 3. Beri perawatan kulit 2. 75 .317 ruang ketiga 3.347 klien tidak menunjukkan 3.333 kepada klien hati-hati/ teliti dalam 3x 24 4.325 3.348 adanya kerusakan 3. diharapkan 5.340 3.

353 3. Beri diet yang bergizi 2.355 3.351 3.369 3.dan 3.368 Kriteria hasil :  Klien mengkonsumsi jumlah makanan bernutrisi secara adekuat  Berat badan klien kembali ideal 3.350 atau iritasi.365 diharapkan kebutuhan dengan nafsu 3.352 Kriteria hasil:  Integritas kulit klien dapat dipertahankan 3.371 3.376 tentang 3.366 nutrisi tubuh klien makan dapat berkurang 3. berhubungan 3.377 Tujuan: Setelah pengetahuan dilakukan 4 tentang 3.373 1. Kaji pengetahuan keluarga tentang penyakit klien 2.383 perawatan. dan ahli diet dalam formulasi diet untuk mendorong nutrisi optimal 4. diharapkan mengenai keluarga penyakit 3.358 1.378 tindakan penyakit keperawatan berhubungan dengan kurang 3.374 3.360 Nutrisi 3.382 kondisi.364 dalam 3x 24 jam. Beri makanan porsi sedikit dan sering 5.370 3. Beri makanan spesial yang disukai anak 6. Beri reinforcement positif terhadap respon keluarga 76 .379 kepada klien terpaparnya dalam 3x 24 dengan informasi 3. 3. orang tua.381 mengetahui 3. penyebab.357 3.359 3. cara 3.362 dilakukan tindakan kebutuhan 3. Batasi natrium selama edema dan terapi steroid 3.367 terpenuhi 3.375 Kurang 3.361 Tujuan : Setelah 3 kurang dari 3. Tuliskan bantuan anak.kemerahan 3. tanda gejala. Evaluasi pemahaman keluarga tentang sindrom nefrotik 5.354 3. Beri makanan anak dengan cara yang menarik 3. diit pasien 3. Beri informasi / pendidikan kesehatan tentang sindrom nefrotik meliputi pengertian.363 keperawatan kepada klien tubuh 3.356 3.380 jam. Beri kesempatan pada keluarga untuk menanyakan hala-hal yang belum jelas 4.372 3.384 kebutuhanklien 3.

441 3.388 3.404 3. 3.393 TUJUAN DAN 3. Kolaborasi Berikan diit rendah garam g. 3.432 3.467 kriteria hasil :  Terbebas dari odema efusi  Bunyi nafas bersih.401 3. kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat 3.d 3.488 3.406 3.392 DIAGNOSA KEPERAWATAN NO 3.395 3.469 3.468 3. Instruksikan istirahat bila anak mulai 77 .390 Intervensi Kasus 3.487 3.409 3. Kaji perubahan oedem. Monitor tanda tanda vital b.433 3.437 3.391 3.415 3.489 1.411 3.491 aktivitas tenang 3.412 aktifitas berhubungan 3.394 INTERVENSI KRITERIA HASIL 3.431 Kelebihan 1 volume cairan b.465 Tujuan : 3.385 sindrom nefrotik.473 3.408 3. Pertahankan tirah baring awal bila terjadi edema hebat 3.400 3.405 3.435 3. ukur lingkar abdomen dan oedem sekitar mata f.439 3.446 3.440 3. Kaji masukan intake yang relative terhadap output secara adekuat d.410 3.407 3.442 3.387 3. tidak ada dyspnea  Terbebas dari distensi vena jongularis 3. 3.436 3.474 Tujuan: 3.386 Kriteria hasil:  Keluarga klien mengetahui tentang penyakit sindrom nefrotik  Klien tampak tenang.492 3.403 3.475 diharapkan anak dapat melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuan dan mendapatkan istirahat dan tidur yang adekuat a.dengan 3.444 Intoleransi 3.445 3.471 3.413 dengan kelemahan 3.402 3.398 jaringan dan ruang 3.443 2 3.389 3. Monitor intake output c. Timbang berat badan tiap hari e. Rencanakan dan berikan 3.397 cairan dalam 3.414 3.399 ketiga.466 Elektrolit dan base balance 3.416 3. klien kooperatif.434 3.438 3.447 3.396 kegagalan akumulasi 3.472 3.470 3.490 2.

Aktivitas pasien mulai aktif 3.494 periode tanpa gangguan 3.505 3.451 3.3.428 3. merasa lelah 3.427 3.457 3.455 3. K aji peningkatan pengetahuan keluarga 5.496 3.493 4.426 3.420 3.461 Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi 3. B erikan raiforcemen kepada keluarga 3.479 . J elaskan tentang penyakit pasien 4.486 Kriteria hasil :  Keluarga mengetahui penyebab penyakit  Keluarga mengetahui apa saja yang menyebabkan timbulnya kembali penyakit.425 3.501 3. 2.449 3.477 .418 3.417 3.Kekuatan otot meningkat 3.462 3.458 3.448 3.483 3.453 3.419 3.480 . Berikan istirahat 3.502 3.497 3.421 3.424 3.423 3.507 78 .478 .429 3.481 .422 3.506 3. A jarkan keluarga membuat daftar kegiatan dan daftar diit pasien 3. L ibatkan keluarga dalam semua tindakan perawtan pasien 6.456 3.semakin membaik 3.482 3.Edema berkurang/hilang 3.454 3.464 3.450 3.503 3.460 3.452 3.499 1.463 3.495 3.Toleransi aktivitas 3.484 3.504 3.476 Kriteria Hasil : 3.498 3.459 3.430 3 3. k aji tingkat pengetahuan keluarga tentang penyakit anaknya.500 3.485 Tujuan :  Keluarga mampu mengidentifikasi penyakit  Keluarga mengetahui keadaan pasien 3.

533 3.512 3. 3. Menghitung denyut nadi dan pernafasan 3.R oleh kelompok.585 Balance cairan : 1150-(2000+400) = 79 .515 3.534 3.519 3.511 3.513 3.514 3.527 P araf 1.523 Implementasi keperawatan yang dilakukan sesuai dengan intervensi asuhan keperawatan yang telah disusun dan disesuaikan dengan kondisi An. Memonitoring balance cairan 5.580 R : BB : 20 kg 3.528 05- DX 3.521 3. Menimbang berat badan setiap hari 3.579 R : N : 96 x/i P: 24 x/i 4. Mengukur tekanan darah dan suhu tubuh 3.607 2.5 ºC 3.525 No ggal 3.4 Implementasi 3. IWL.530 3.582 R : LP : 61 cm 4.529 1 10-2015 3.508 3.dan diuresis 3.522 4.518 3.584 IWL : 400 cc 3.581 Mengukur lingkar perut 3.532 3.531 3.517 3.583 R : Intake : 1150 cc output : 2000 cc 3.535 3. Menghitung intake. BC.520 3.536 3.510 3.524 Tan 3.3.516 3.526 Implementasi 3.509 3. output.578 R : TD: 90/60 mmHg S :36. Memonitoring tanda-tanda vital 3.

dan 2 tablet pada malam hari 3.588 R : keluarga memberikan klien minum botol juga untuk tempat 3.542 menyediakan minuman klien dalam botol. Mempertahankan tirah baring 80 .552 1500 kkal/protein 40 gr Kolaborasi dengan dokter pemberian terapi 3. 3.591 3.559 3.586 Diuresis:3. 22) 3. dan 3.551 9.589 R : diit rendah garam / Diit nefrotik 3.549 Kolaborasi dengan ahli gizi mengenai diit klien 3.550 3. Menganjurkan keluarga untuk 3.560 3.558  Spironolacton: 2 x 15 mg 3.538 6.553 siang.18) 1.539 -1250 cc 3.547 aqua.554  Inj Ceftriaxone : 1 x 900 mg (09) 3.546 dan menampung urin klien menggunakan botol 3.3.590 R : Prednison : 3 tablet pagi. 3.540 (+) 3.587 R : Oedema pada tungkai (+) asites 3.544 menampung urin klien yang jumlah takarannya 3.545 dapat dihitung dengan mudah.548 8. 3.561 (06.555 3.3 cc/kgbb/24jam Mengobservasi keluhan oedema dan asites 3. 3.541 7. 14.537 3.557  Inj Lasix : 1 x 20 mg (09)  Catopril : 3 x 6 mg (06. 2 tablet 3.556 3. 3.543 menggunakan 3.

600 R : keluarga mengetahui mengenai perkembangan klien 3.566 lelah (bedrest) 3.575 3.594 R : klien ada tidur di siang hari setelah 3.604 R : keluarga kurang mengetahui cara 81 .572 3.Menggambarkan tanda dan gejala penyakit bagi keluarga 3.597 1.595 R : keluarga mampu menciptakan 3.574 harapan kosong kepada keluarga 3.601 3.562 awal bila terjadi edema hebat 3.603 4.568 6) Berikan periode istirahat tanpa gangguan dengan 3.596 3.570 tenang saat klien istirahat 3.577 3 yang tidak pasti mengenai kesembuhan klien.599 2.564 2 4) Merencanakan dan berikan aktivitas tenang 3.3.569 menganjurkan keluarga memberikan suasana 3.565 bermain game di hp/ psnya 5) Menginstruksikan istirahat klien bila mulai merasa 3.593 R : klien mendengarkan musik/ 3. 3.567 beraktivitas 3.563 3.Menghindari 3. miring kiri/kanan 3.573 3.Mengkaji tingkat pengetahuan keluarga 3.598 R : keluarga tidak diberikan harapan 3.592 R : posisi klien telentang.602 R : keluarga mengetahui tanda dan gejala penyakit 3.571 suasana tenang dan nyaman ketika klien istirahat 3.576 3.Menyediakan informasi bagi keluarga tentang kemajuan pasien dengan cara yang tepat 3.

620 3.610 3.Memonitoring balance cairan 3.611 3.616 Par o af DX 3.671 R : TD: 80/60 mmHg S :36.624 3.612 3.627 3.617 0610-2015 3.Menimbang berat badan setiap hari 3.673 R : N : 98 x/i P: 21 x/i 3. IWL.675 R : BB : 19.609 3.622 3.714 3.614 N gal 3.621 3.619 3.678 6.618 1 3.Menghitung denyut nadi dan pernafasan 3.5 kg 3. Mengukur tekanan darah dan suhu tubuh 3.613 Tang 3.perawatan klien dirumah 3.605 5.626 3.dan 82 .628 3.623 3. BC.606 R : keluarga mengetahui kondisi penyakit klien 3.615 Implementasi 3.Mengukur lingkar perut 3.672 3.674 4.670 2.679 7.Menghitung intake.669 1.677 R : LP : 57 cm 3. Memonitoring tanda-tanda vital 3.625 3.5 ºC 3.Memberikan penjelasan tentang penyakit dan kondisi sekarang 3.676 5.608 3. output.

634 3.681 3.Kolaborasi dengan ahli gizi mengenai 3.685 R : Oedema pada tungkai (+) asites 3.691 R : Prednison : 3 tablet pagi.632 3.688 10.635 3.645 3.Menganjurkan keluarga untuk 3.652 3.641 dapat dihitung dengan mudah.687 R : keluarga memberikan klien 3.637 3.636 (+) 3.Mengobservasi keluhan oedema dan asites 3.400 cc output : 1.649 3.644 botol aqua.653 2 siang.683 Diuresis:3.639 menggunakan botol juga untuk tempat 3. dan 2 tablet pada malam hari 3.642 3.692 Inj Ceftriaxone : 1 x 900 mg (09) 3.680 3.629 diuresis 3.682 3.633 R : Intake : 2.Kolaborasi dengan dokter pemberian 3. 3.640 menampung urin klien yang jumlah takarannya 3.1 cc/kgbb/24jam 3.686 9.400-(1.630 3.3.689 R : diit rendah garam / Diit nefrotik 3.693 Inj Lasix : 1 x 20 mg (09) 83 .690 11.650 terapi 3. dan 3.646 diit klien 3.638 menyediakan minuman klien dalam botol.684 8.647 3. 2 tablet 3.450+400) = -440 cc 3. 3.450 IWL : 390 cc Balance cairan : 2.643 minum dan menampung urin klien menggunakan 3.631 cc 3.648 1500 kkal/protein 40 gr 3.651 3.

Berikan periode istirahat tanpa gangguan dengan menganjurkan keluarga memberikan suasana tenang saat klien istirahat 3.Menyediakan informasi bagi keluarga tentang kemajuan pasien dengan cara yang tepat 3.659 kiri/kanan 3. 3.667 3.668 3 Merencanakan dan berikan aktivitas tenang 3.18) 3.695 Catopril : 3 x 6 mg (06.699 R : klien ada tidur di siang hari setelah beraktivitas 3.666 3.658 3.707 R : keluarga mengetahui mengenai 84 .701 5.700 4.662 R : posisi klien telentang.655 3.696 3.664 3.656 1. bermain game di hp/ psnya Mengintruksikan istirahat klien bila mulai merasa lelah (bedrest) 3.706 2.665 3.661 3.705 R : keluarga tidak diberikan harapan yang tidak pasti mengenai kesembuhan klien. 22) Spironolacton: 2 x 15 mg (06.694 3.704 1. miring 3.660 2. 14.702 R : keluarga mampu menciptakan suasana tenang dan nyaman ketika klien istirahat 3.Menghindari harapan kosong kepada keluarga 3.654 3.697 3.703 3.663 3.3.698 R : klien mendengarkan musik/ 3. 3. 3.657 Mempertahankan tirah baring awal bila terjadi edema hebat 3. Menginstruksikan istirahat klien bila mulai merasa lelah (bedrest) 3.

Memonitoring tanda-tanda vital 3.717 3.722 Implementasi 3.713 R : keluarga mengetahui kondisi penyakit klien 3.Mengkaji tingkat pengetahuan keluarga 3.710 4.Menggambarkan tanda dan gejala penyakit bagi keluarga 3.711 R : keluarga kurang mengetahui cara perawatan klien dirumah 3.709 R : keluarga mengetahui tanda dan gejala penyakit 3.721 N 3.Memberikan penjelasan tentang penyakit dan kondisi sekarang 3.726 3.720 Tan ggal 3.727 3.708 3.725 1 3.822 85 .776 2.perkembangan klien 3.712 5.5 ºC 3.779 R : N : 96 x/i P: 24 x/i 3.715 3.778 3.777 R : TD: 90/60 mmHg S :36.718 3.Menghitung denyut nadi dan pernafasan 3.719 3.Mengukur tekanan darah dan suhu tubuh 3.716 3.723 Par o af DX 3.724 0710-2015 3.775 1.728 3.

730 3.747 3.739 3.740 3.732 3.Menganjurkan keluarga untuk menyediakan 3.795 R : diit rendah garam / Diit nefrotik 3.Menghitung intake.742 3.782 5.737 3.783 R : LP : 61 cm 3.Memonitoring balance cairan 3.745 yang jumlah takarannya dapat dihitung dengan 3.733 3.734 3.792 9.738 R : Intake : 1150 cc output : 2000 cc IWL : 400 cc Balance cairan : 1150-(2000+400) = -1250 cc 3. Menimbang berat badan setiap hari 3. BC.784 6.748 dan menampung urin klien menggunakan botol 3.746 mudah.751 klien 3.787 3.789 Diuresis:3.752 3.Mengobservasi keluhan oedema dan asites 3.781 R : BB : 20 kg 3. IWL.dan 3.794 10.735 diuresis 3.790 8.749 aqua. dan menggunakan 3.736 3.743 minuman klien dalam botol.780 4.741 (+) 3.791 R : Oedema pada tungkai (+) asites 3.793 R : keluarga memberikan klien minum 3.729 3. 3. output.Kolaborasi dengan ahli gizi mengenai diit 3.788 3.785 7.750 3. Mengukur lingkar perut 3.3.3 cc/kgbb/24jam 3. 3.786 3.731 3.744 botol juga untuk tempat menampung urin klien 3.753 1500 kkal/protein 40 gr 86 .

800 Catopril : 3 x 6 mg (06. 22) 3.805 2.809 4.801 Spironolacton: 2 x 15 mg (06.798 Inj Ceftriaxone : 1 x 900 mg (09) 3.802 3.764 3.770 3. 14.774 3 R : keluarga mampu menciptakan suasana tenang dan nyaman ketika klien istirahat 3.18) 3.758 3.Menginstruksikan istirahat klien bila mulai merasa lelah (bedrest) 3. 3. miring kiri/kanan 3.760 2 3.806 R : klien mendengarkan musik/ bermain game di hp/ psnya 3.767 3.755 terapi 3.773 3.Menghindari harapan kosong kepada keluarga 3.811 3.Merencanakan dan berikan aktivitas tenang 3.766 3.Berikan periode istirahat tanpa gangguan dengan menganjurkan keluarga memberikan 3. dan 2 tablet pada malam hari 3.762 3.757 siang.796 11.763 3.804 R : posisi klien telentang.771 suasana tenang saat klien istirahat 3.754 3.Mempertahankan tirah baring awal bila terjadi edema hebat 3.808 R : klien ada tidur di siang hari setelah beraktivitas 3.769 3.807 3.803 1.Menyediakan informasi bagi keluarga 87 .Kolaborasi dengan dokter pemberian 3.772 3.761 3.814 2.3.799 Inj Lasix : 1 x 20 mg (09) 3.813 R : keluarga tidak diberikan harapan yang tidak pasti mengenai kesembuhan klien.768 3.810 3.812 1.759 R : Prednison : 3 tablet pagi.765 3.797 3. 2 tablet 3.756 3.

816 3.828 3.819 R : keluarga kurang mengetahui cara perawatan klien dirumah 3.827 3.817 R : keluarga mengetahui tanda dan gejala penyakit 3.820 5.821 R : keluarga mengetahui kondisi penyakit klien 3.824 3.Menggambarkan tanda dan gejala penyakit bagi keluarga 3.Mengkaji tingkat pengetahuan keluarga 3.Memberikan penjelasan tentang penyakit dan kondisi sekarang 3.823 3.818 4.829 4.826 3.5 Evaluasi 88 .tentang kemajuan pasien dengan cara yang tepat 3.815 R : keluarga mengetahui mengenai perkembangan klien 3.825 3.

ekstremitas. An.890 . 3.874 3.851 3.845 3.844 3.835 05- o DX 3.846 - IWL 3.830 Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 hari pada An. 3.853 3.848 - Diuresis:3. hari pertama sampai hari ketiga.839 - Wajah tampak mounface. 3.837 3.877 89 .840 - Badan tampak sembab.keluarga mengatakan masih sembab .876 P : intervensi dilanjutkan 3.852 x/i : 400 cc TD : 90/60 mmHg N : 96 S : 36.836 1 3.871 S : 10-2015 3.838 3.873 3.3.R sudah memperlihatkan adanya perbaikan namun belum terlalu signifikan.keluarga mengatakan perut masih buncit 3.5 ºc .842 3.850 x/i 3.875 A : Masalah belum teratasi 3.R dengan kasus sindrom nefrotik.834 Paraf 3.847 - Balance cairan : 1150-(2000+400) = -1250 cc 3.872 O : 3.3 cc/kgbb/24jam 3.833 Evaluasi 3.843 3.832 N ggal 3.854 3. dan perut klien masih asites.841 - Tampak Udema anasarka - Lingkar perut : 61cm - Protein (+++) - TB/BB : 111cm/20kg - Intake : 1150 cc - Output : 2000 cc 3. kondisi An. P : 24 3.R masih ada edema di area periorbital.849 3.831 Tan 3.

perawatan agar penyakit tidak kambuh.878 3.2 g/dl 3.Keluarga mengatakan aktivitas masih dibantu 3.867 -ADL klien tampak dibantu keluarga 3.869 3.883 A : masalah belum teratasi 3.858 3.864 3.863 3. 90 .3.859 3.857 3.861 3.868 -Albumin 1.870 3 3.879 3.882 O : -Tampak Piting edema anasarka -BB 20 kg -Asietes + -Klien tampak terbaring ditempat tidur -Tampak pada tangan kanan terpasang injek pump -Klien tampak letih dan tidak bertenaga 3.887 O : -Keluarga klien selalu bertanya mengenai kondisi dan penyakit klien -keluarga tidak mampu menjawab pertanyaan tentang penyebab.886 S : -Keluarga mengatakan tidak mengontrol jenis makanan yang dikonsumsi anaknya -Keluarga mengatakan tidak mengetahui penyebab keadaan anaknya seperti ini.865 3.Keluarga mengatakan anaknya sembab sudah 1 minggu yang lalu .862 3.860 3.855 2 3.856 3. 3.884 P : Intervensi dilanjutkan 3.881 S : .880 3.885 3.866 3.

906 3.895 Paraf o DX 3.-Keluarga tampak cemas menceritakan kondisi anak 3.902 - Tampak Udema anasarka - Lingkar perut : 61cm - Protein (+++) - TB/BB : 111cm/19.945 keluarga mengatakan masih sembab keluarga mengatakan perut masih buncit 3.896 0610-2015 3.894 Evaluasi 3.912 3. 3.933 A : Masalah belum teratasi 3. 3.910 3.907 - IWL 3.932 3.931 3.908 - Balance cairan : 2400-(1450+400) = -440 cc 3.891 3.904 3.900 - Wajah tampak mounface.892 Tang 3.5 ºc P : 21 3.934 P : intervensi dilanjutkan 91 .911 x/i 3.893 N gal 3.898 - 3.930 O : 3.929 S : 3.903 3.899 3.913 x/i : 390 cc TD : 80/60 mmHg N : 98 S : 36.1 cc/kgbb/24jam 3.897 1 3.914 2 3.889 P : intervensi dilanjutkan 3.901 - Badan tampak sembab.909 - Diuresis:3.905 3.5 kg - Intake : 2400 cc - Output : 1450 cc 3.888 A : Masalah belum teratasi 3.

928 3 3.936 S : 3.940 3.938 A : masalah belum teratasi 3.941 S : -Keluarga mengatakan tidak mengontrol jenis makanan yang dikonsumsi anaknya -Keluarga mengatakan tidak mengetahui penyebab keadaan anaknya seperti ini. perawatan agar penyakit tidak kambuh.923 -Klien tampak terbaring ditempat tidur 3.919 3. -Keluarga tampak cemas menceritakan kondisi anak 92 .935 3.918 minggu yang lalu .5 kg 3.Keluarga mengatakan aktivitas masih dibantu 3.920 3.921 3.937 O : -Tampak Piting edema anasarka -BB 19.922 -Asietes + 3.939 P : Intervensi dilanjutkan 3.927 -ADL klien tampak dibantu keluarga -Albumin 1. 3.Keluarga mengatakan anaknya sembab sudah 1 3.2 g/dl 3.924 -Tampak pada tangan kanan terpasang injek pump 3.3.915 3.942 O : -Keluarga klien selalu bertanya mengenai kondisi dan penyakit klien -keluarga tidak mampu menjawab pertanyaan tentang penyebab.926 3.916 .925 -Klien tampak letih dan tidak bertenaga 3.917 3.

994 N : 70 x/i 3. - Tampak Udema anasarka - Lingkar perut : 61cm - Protein (+++) - TB/BB : 111cm/19kg 3.943 A : Masalah belum teratasi 3.957 3.966 - Balance cairan : 2.949 Tan ggal 3. 93 .954 1 3.965 - IWL 3.1009 keluarga mengatakan masih sembab keluarga mengatakan perut masih buncit 3.560-(2.995 S : 36 ºc .946 3.967 3.969 : 380cc 3.950 N 3.964 - Output : 2.560 cc 3.958 3.960 3.955 - 3.8cc/kgbb/24jam 3.990 S : 3.953 0710-2015 3. - Badan tampak sembab.650+400) = -470 cc - Diuresis:5.948 3.952 Paraf o DX 3.991 3.947 3.959 3.956 3.650 cc 3.962 3.951 Evaluasi 3.992 O : - Wajah tampak mounface.944 P : intervensi dilanjutkan 3.963 - Intake : 2.3.968 3.961 3.993 TD : 10/60 mmHg 3.

983 -Klien tampak letih dan tidak bertenaga 3.986 3.989 3 3.1002 A : masalah belum teratasi 3.982 -Tampak pada tangan kanan terpasang injek pump 3.972 3.981 -Klien tampak terbaring ditempat tidur 3.999 3.978 3.988 3.985 -ADL klien tampak dibantu keluarga -Albumin 1.3.996 P : 24 x/i 3.1003 P : Intervensi dilanjutkan 3.970 3.971 3.977 3.1000 S : 3.984 3.975 minggu yang lalu 3.997 A : Masalah belum teratasi 3.1005 S : -Keluarga mengatakan tidak mengontrol jenis makanan yang dikonsumsi anaknya -Keluarga mengatakan tidak mengetahui penyebab keadaan anaknya seperti ini. 3.Keluarga mengatakan anaknya sembab sudah 1 3.973 3.2 g/dl 3.1004 3.1001 O : -Tampak Piting edema anasarka -BB 19 kg 3.980 -Asietes + 3.998 P : intervensi dilanjutkan 3.974 2 .987 3.Keluarga mengatakan aktivitas masih dibantu 3.979 .1006 O : -Keluarga klien selalu bertanya mengenai kondisi dan penyakit klien 94 .976 3.

selain itu kecenderungan penyakit ini menyerang anak laki-laki dua kali lebih besar dibandingkan anak perempuan. Program tersebut bertujuan untuk menjamin kelangsungan hidup bayi baru lahir.1016 Penyakit ginjal pada anak merupakan salah satu dari sepuluh penyakit anak terbanyak di Indonesia yang dikumpulkan dari tujuh Pusat Pendidikan Dokter Spesialis Anak memperlihatkan bahwa SN merupakan penyakit yang paling sering dijumpai (35%) di poliklinik nefrologi (UKK Nefrologi. memelihara dan meningkatkan kesehatan anak sesuai tumbuh kembangnya.1013 PENUTUP 3. di tandai 95 . -Keluarga tampak cemas menceritakan kondisi anak 3.1015 Program kesehatan anak merupakan salah satu kegiatan dari penyelenggaraan perlindungan anak di bidang kesehatan. balita. 3. usia sekolah dan remaja.1014 5.1012 BAB V 3. 2012).-keluarga tidak mampu menjawab pertanyaan tentang penyebab. Sindrom nefrotik dapat menyerang siapa saja namun penyakit ini lebih banyak ditemukan pada anak. dalam rangka meningkatkan kualitas hidup anak yang akan menjadi sumber daya pembangunan bangsa di masa mendatang (Depkes RI. masa bayi.1007 A : Masalah belum teratasi 3.1 Kesimpulan 3.1008 P : intervensi dilanjutkan 3. perawatan agar penyakit tidak kambuh.anak usia 1 sampai 6 tahun atau pada masa pra sekolah.1011 3.1010 3. yang dimulai sejak bayi berada di dalam kandungan. 2010).

1019 Berdasarkan asuhan keperawatan yang telah dilakukan pada An. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan nafsu makan menurun d. hipoalbuminemia < 30 g/l. 96 . dan hiperlipidemia (Suriadi. serta asites.5 gr/hr. dan hiperlipidemia. Klien dengan sindrom nefrotik pada anak-anak mengalami keluhan seperti: edema/ sembab pada area mata/ periorbital. edema. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan 3.1017 3. hipoalbuminia.R denga kasus sindrom nefrotik pada tanggal 05 -07 Oktober 2015.R dengan kasus sindrom nefrotik di ruang rawat inap anak RSUD Achmad Mochtar Bukittinggi. Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan Kurang terpapar dengan informasi tentang penyakit sindrom nefrotik e. diperoleh 3 diagnosa keperawatan yaitu: a. Setelah dilakukan pengkajian. maka disusunlah rencana asuhan keperawatan sesuai dengan teoritis dan kasus yang ditemukan pada An.dengan sekumpulan gejala yang disebabkan oleh adanya injuri pada glomerular yang terjadi pada anak dengan karakteristik proteinuria masif > 3.05 gr/kg BB/hari. ekstremitas. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan c. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan Akumulasi cairan dalam jaringan dan ruang ketiga b. Sesuai dengan teori diagnosa keperawatan pada klien sindrom nefrotik a. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pembentukan edema c. 2. 2006) 3.d kegagalan akumulasi cairan dalam jaringan dan ruang ketiga.1018 3. b. dkk. maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. di ruang rawat inap anak RSUD Achmad Mochtar Bukittinggi. 4. Pada pemeriksaan laboratorium (urin dan darah) ditemukan proteinuria > 0. Kelebihan volume cairan b. Untuk mengatasi masalah keperawatan yang muncul tersebut.

2 keperawatan anak “sindrom nefrotik” kedepannya.2.1024 Ruang rawat inap anak RSUD Dr.5. ekstremitas. seperti masih ada edema di area periorbital. Hari pertama sampai hari ketiga.2.2 Saran 3. kondisi An. terutama dalam bidang 5. dan perut klien masih asites (namun sudah mulai berangsur menyusut/berkurang) dan gatal-gatal pada area matapun mulai berkurang. agar dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar untuk perbandingan dalam memberikan 5.R. dengan kasus sindrom nefrotik di ruang rawat inap anak RSUD Achmad Mochtar Bukittinggi. Instansi pendidikan 3.1021 Sebagai bahan untuk mengasah kemampuannya.1020 Setelah selesainya dilakukan asuhan keperawatan pada An. Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 hari pada An.1025 Sebagai bahan acuan kepada tenaga kesehatan RSUD Achmad Mochtar Bukittinggi.3 konsep asuhan keperawatan secara teori dan praktek kedepannya.R. 3.R sudah memperlihatkan ada perbaikan namun belum terlalu signifikan.1022 Sebagai bahan masukan kepada STIKes Perintis Padang.R.2. dan menerapkannya dalam pemberian asuhan keperawatan yang profesional. 97 . dengan kasus sindrom nefrotik di ruang rawat inap anak RSUD Achmad Mochtar Bukittinggi. Achmad Mochtar Bukittinggi 3. serta memperliatkan perkembangan klien yang lebhi baik lagi kedepannya. 6. diharapkan dapat memberikan masukan terutama pada: 5. Implementasi keperawatan yang dilakukan sesuai dengan intervensi asuhan keperawatan yang telah disusun dan disesuaikan dengan kondisi An. 5.1 Kelompok mahasiswa/i 3. terutama ruang rawat inap dalam memberikan pelayanan yang lebih baik dan menghasilkan pelayanan yang memuaskan pada klien.1023 3. dengan kasus sindrom nefrotik di ruang rawat inap anak RSUD Achmad Mochtar Bukittinggi.

1040 3.1043 3.1044 3.1028 3.1032 3.1038 3.1039 3.1046 98 .1027 3.1035 3.1031 3.1041 3.1029 3.1034 3.1042 3.1030 3.1037 3.1033 3.1026 3.1036 3.1045 3.3.

1053 99 .1052 3.1049 3.3.1047 3.1050 3.1048 3.1051 3.

Price dan Lorraine M. Jakarta. Penerbit Media Aesculapius FKUI. P. M. Jakarta 3. (1982) Kapita Selekta Kedokteran. 3. 3. 3. Jakarta. I Made Kariasa Ni Made Sumarwati.1056 Arif Mansjoer.1059 Depkes RI. Edisi IV.L (1988) Patofisiologi. 3. FKUI. Edisi ke-4.1063 Price. Pedoman Klinis Keperawatan Anak.1065 Syylvia A.1055 3. S. 3. PT. EGC. 2004. Penerbit: Salemba Medika. Penerbit FKUI. (2000). Marlyn E.1058 Brunner dan Suddarth.1068 3.1060 Donna L.1057 Arif Muntaqin. Alih Bahasa. Edisi ke-3.1067 Sloane Ethel. 3.Anatomi dan Fisiologi.2003.1054 DAFTAR PUSTAKA 3. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta.1064 Soeparman.Jakarta: EGC 3. (1996) Ilmu Penyakit Dalam. Wilson. S. Penerbit EGC. Depkes RI. (2012) Pedoman Pengobatan Dasar Di Puskesmas.EGC.S dan Wilson. Jilid 2. 3. (1995) Patofisiologi. Buku 1. dan Waspadji. Jakarta. Jakarta.1061 Doenges. Jakarta. Edisi ke-2. dkk.1066 Syaifuddin.Jakarta. Edisi ke-8. Jakarta: EGC. dkk. Penerbit Buku Kedokteran. alih bahasa: Monica Ester. A. Edisi III. Jakarta. 3.Anatomi Fisiologi Kurikulum Berbasis Keperawatan dan Kebidanan Edisi 4.1069 3. 3.1070 Kompetensi untuk .2011. (2011). Wong.3. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Perkemihan. (1999) Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Keperawatan. (2002) Medical Sugical Nursing.1062 Junadi. EGC. 3.