You are on page 1of 8

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: http://www.researchgate.

net/publication/259239663

Effect of Heat-Moisture Treatment (HMT)
Process on Physicochemical Characteristics of
Starch
ARTICLE · FEBRUARY 2012

READS

1,669

5 AUTHORS, INCLUDING:
Elvira Syamsir

Purwiyatno Hariyadi

Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University

23 PUBLICATIONS 0 CITATIONS

140 PUBLICATIONS 167 CITATIONS

SEE PROFILE

SEE PROFILE

Nuri Andarwulan
42 PUBLICATIONS 209 CITATIONS
SEE PROFILE

Available from: Purwiyatno Hariyadi
Retrieved on: 04 October 2015

impact of starch conditions (sources. struktur dan komposisi kimia pati sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh asal pati. terutama serealia dan umbi-umbian. crystalline. dan Pukkahuta dan Varavinit. 1999). w/w) dipanaskan pada kondisi di atas suhu transisi gelas tetapi masih dibawah suhu gelatinisasinya selama periode waktu tertentu.. 2006. poligonal) dan ukuran (diameter 2–100 μm) yang sifatnya spesifik species. Proses modifikasi yang mengubah struktur dan mempengaruhi ikatan hidrogen secara terkontrol. Granula pati memiliki beragam bentuk (bulat. 2005. Yang banyak digunakan secara komersial saat ini adalah teknik modifikasi kimia (Taggart.. 1996) dan tipe kristalisasi pati (Gunaratne dan Hoover. 1999) dan lama waktu proses (Collado dan Corke. 2003. time period and temperature) on the morphological. Vol. lenticular. Bentuk. 2012 PENGARUH PROSES HEAT-MOISTURE TREATMENT (HMT) TERHADAP KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA PATI [Effect of Heat-Moisture Treatment (HMT) Process on Physicochemical Characteristics of Starch] Elvira Syamsir*. 1998). Stute. 2007). Amilosa dan amilopektin adalah polisakarida utama penyusun pati. 2006. Bogor Diterima 13 Desember 2010 / Disetujui 15 Februari 2012 SUMMARY Heat-Moisture Treatment (HMT) is a hydrothermal treatment that modifies the physicochemical properties of starch. *Korespondensi penulis : E-mail : elvira_tpg@yahoo. starch. 1 Th.4 dan/atau α-1. 2005). 1999.Ulasan Ilmiah J. 2005). This treatment involves treatment of starch granules at low moisture levels (<35% moisture w/w) for a certain period of time at temperatures above glass transition temperature (Tg) but below the gelatinization temperatures. Dedi Fardiaz.. 2004). composition) as well as HMT conditions (moisture content. Pada teknik ini. 1992. Teknol. karakteristik gelatinisasi dan pasting pati.. perlakuan mekanis dan pH asam (Taggart. 2006. 2002. 2007).. Vermeylen et al. 2001. Karakteristik pati HMT juga dipengaruhi oleh kondisi proses seperti suhu (Adebowale dan Lawal. Modifikasi pati menggunakan heat-moisture treatment (HMT) telah dilaporkan meningkatkan ketahanannya terhadap panas. Lorenz dan Kulp. Aplikasi pati dalam pangan selain sebagai komponen nutrisi. Amilosa membentuk struktur heliks (Shivus et al. 2005) sementara rantai cabang amilopektin membentuk struktur rantai heliks ganda dan membentuk klaster (Roder et al. tekstur yang ‘panjang’ dan terjadinya retrogradasi yang menyebabkan sineresis. oval. Purwiyatno Hariyadi. Vermeylen et al. 2002). Umumnya. Key words: Heat-Moisture Treatment. Sekitar 80-90% dari suatu klaster amilopektin dibentuk oleh rantai amilopektin tipe A yaitu rantai pendek yang tidak membentuk cabang dengan DP 6 – 15 (Sajilata et al. 2004) dengan meningkatkan suhu gelatinisasi dan menurunkan kapasitas pembengkakan granula (Jacobs dan Delcour. Dalam bentuk alaminya. Ketertarikan terhadap produk pangan natural yang bebas aditif kimia membuat metode modifikasi secara fisik seperti dengan proses heat moisture treatment (HMT) perlu dikaji dengan lebih baik. suhu tinggi atau perlakuan mekanis. ukuran. granula pati serealia lebih kecil dari pati umbi-umbian dan kacang-kacangan (Liu. Dalam review ini akan dibahas pengaruh dari proses HMT terhadap perubahan bentuk granula. gelatinisation and pasting characteristics of starch will be discussed. XXIII No.. Singh et al. Modifikasi bisa dilakukan secara kimia. dilakukan untuk memperbaiki karakteristik fisiko-kimia pati agar sesuai untuk suatu aplikasi spesifik. Nuri Andarwulan dan Feri Kusnandar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan. Institut Pertanian Bogor. biokimia dan fisika. Hoover dan Manuel. 2006). 1982). dan Industri Pangan. struktur kristal pati.. 2005).. Granula pati Pati adalah polisakarida homoglikan yang dikemas dalam bentuk granula dan disusun oleh monomer α-D-glukopiranosil yang berikatan melalui ikatan glikosidik α-1. satu jenis pati tidak bisa diaplikasikan untuk semua tipe pengolahan. 1999. Pukkahuta dan Varavinit. Without destroying it’s granular structure. HMT menyebabkan perubahan konformasi molekul pati dan menghasilkan struktur kristalin yang lebih resisten terhadap proses gelatinisasi (Jacobs dan Delcour.. Adebowale et al. kadar amilosa (Collado dan Corke.com 100 1998. Penyebab keterbatasan aplikasi pati di industri antara lain adalah hilangnya viskositas pada kondisi pH rendah. Lim et al. juga menjadi penentu karakteristik produk. pH (Collado dan Corke. pati dengan kadar air terbatas (kurang dari 35% air.6 dengan penghilangan air. Fakultas Teknologi Pertanian. Collado dan Corke. kadar air (Vermeylen et al. physicochemical PENDAHULUAN Pati merupakan komponen utama di dalam banyak tanaman. . Karakteristik fisiko-kimia dan fungsional pati HMT sangat beragam dan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti jenis (sumber) pati (Gunaratne dan Hoover. Perubahan ditingkat molekuler ini tidak atau hanya sedikit mengubah bentuk granula sehingga asal botani pati modifikasi masih bisa diidentifikasi secara mikroskopis. In this review.

.

merupakan teknik modifikasi pati secara fisik. 1994 100 100 4 jam 16 jam 25 10-30 Schierbaum dan Kettlitz. 1996 Hoover dan Vasanthan. 1998) Pati Garut dan barley Tapioka Maizena (amilosa normal. 1999. XXIII No. 1994 Hoover et al. 1981 Hoover dan Vasanthan. 1998). 1982 Lorenz dan Kulp. 1983 Kuge dan Kitamura. 1967 Fukui dan Nikuni. 1969 100 100 16 jam 16 jam 18-27 10-30 Lorenz dan Kulp.5 20-35 25 Kawabata et al. 1969 Stute. Schierbaum dan Kettlitz. 1996 Fukui dan Nikuni. Informasi yang diperoleh antara lain suhu awal pasting. Hoover et al.. 1994 110 84-105 120 30 mnt 16 jam 30/180 mnt 16. 1981. 2012 Karakteristik pasting diamati dengan rapid visco analyzer (RVA) dan/atau brabender amylograph (BA) (Collado dan Corke. 1994 Triticale 100 16 jam 18-27 Lorenz dan Kulp. 1993). waktu dan viskositas puncak. 1994 100 4 jam 25 Schierbaum dan Kettlitz. 1993 95-110 16 jam 18-27 Sair. w/w) pada suhu di atas suhu transisi gelas tetapi masih dibawah suhu gelatinisasinya selama waktu tertentu. dan Industri Pangan. pola viskositas pasta pati bisa dikelompokkan menjadi empat tipe: A (puncak pasta tinggi diikuti dengan pengenceran cepat selama pemanasan). Abraham. 1993 Gunaratne dan Hoover. 1994. Kulp dan Lorenz. Kulp dan Lorenz.1994 Yam 102 .. Donovan et al. Waktu dan viskositas puncak menjadi indikasi daya ikat air pati dan kecenderungan disintegrasinya. Kondisi HMT pada penelitian dari berbagai jenis pati* (Sumber: Jacobs dan Delcour. 1981. energi yang diserap granula selama pemanasan pada suhu yang lebih rendah dari suhu gelatinisasinya tidak hanya membuka lipatan heliks ganda amilopektin tapi juga memfasilitasi pengaturan atau pembentukan ikatan-ikatan baru antar molekul. C (tidak menunjukkan adanya puncak tetapi lebih pada pembentukan viskositas yang sangat tinggi dan tetap konstan atau meningkat selama pemanasan). Teknol.. 2008). Pada beberapa penelitian. 1 Th.. 1996 di dalam Jacobs dan Delcour.. 1969 125 5/20 mnt 14 Kawabata et al. 1982 110 3-16 jam 18-24 100 10 jam 30 95-110 120 16 jam 30/180 mnt 18-27 25 Sair. 1982 Gdanum 120 30/180 mnt 25 Fukui dan Nikuni. dimana mobilitas titik percabangan amilopektin meningkat dan mengakibatkan peningkatan interaksi di bagian kristalit (Jacobs dan Delcour. termasuk Heat Moisture Treatment – HMT. 1994 Hoover dan Vasanthan. dan D (konsentrasinya perlu dinaikkan dua–tiga kali lipat untuk menghasilkan viskositas pasta panas seperti tipe C). Collado et al.. yaitu viskometer yang dilengkapi dengan sistim pemanas dan pendingin untuk mengukur resistensi sampel pada pengadukan terkontrol.. suhu HMT dipilih tanpa memperhatikan suhu gelatinisasi pati pada kadar air yang digunakan. hasil HMT mungkin dipengaruhi oleh gelatinisasi parsial (Eerlingen et al. 1985 Abraham. HMT dilakukan dengan memanaskan pati pada kadar air terbatas (kurang dari 35% air. Hoover et al. 1994. Modifikasi pati dengan heat moisture treatment Perlakuan hidrotermal. B (puncak pasta lebih rendah dan pengenceran yang tidak terlalu besar selama pemanasan). Vol. viskositas jatuh (breakdown viscosity-BDV) dan viskositas balik (setback viscosity-SBV). 1981. 1992. Menurut Ratnayake dan Jackson (2006). SBV mengindikasikan potensi retrogradasi dan sineresis. dan viskositas akhir mengindikasikan kemampuan membentuk gel. 1967 100 16 jam 18-27 5-27 Lorenz dan Kulp.Ulasan Ilmiah J.. 1998. 1995 100 100 100 16 jam 16 jam 16 jam 30 10-30 30 Hoover dan Manuel. 1994 100 16 jam 18-27 Franco et al.. 1994. Kondisi HMT dari beberapa jenis pati ditampilkan pada Tabel 1. Modifikasi berlangsung saat fase amorfis pati berada pada kondisi rubbery yang bersifat fluida. 1994 Eerlingen et al. Tabel 1. Akibatnya... Hoover et al. Pukkahuta et al. BDV mengindikasikan ketahanan terhadap pemanasan. Menurut Chen (2003). 1992 Rye 100 4 jam 22/25 Radosta et al.. viskositas akhir. 2001. waxy dan tinggi) Lentil dan oat Pea Kentang Beras Suhu (°C) 100 100 Waktu 16 jam 16 jam Kadar air (%) 18-27 18-27 Referensi Lorenz dan Kulp. 2002 80-120 15-60 mnt 110/120 140/240mnt 20 100 16 jam 10-30 Hoover dan Vasanthan..

. Perubahan permukaan granula dilaporkan pada pati jagung dan kentang (Pukkahuta et al. taro (Alocassia indica). 2005. 2007).. 2008. Vieira dan Sarmento.. pembentukan kristal V (kompleks amilosa-lemak) meningkat dengan naiknya kadar air. Vol. peningkatan suhu proses akan memperbesar rongga pada pati kentang HMT (Vermeylen et al. mucuna bean (Mucuna pruriens). 2011) 103 Kadar air pati.. sebagian penelitian menyebutkan HMT tidak mengubah morfologi granula (Abraham. yam (Dioscorea hispida Dennst). Kawabata et al. 1 Th.. Adebowale dan Lawal. Pengaruh suhu dan kadar air HMT pada kristalinitas pati kentang telah dilaporkan (Vermeylen et al.. 2012 Pengaruh HMT pada morfologi granula HMT menyebabkan pengaruh berbeda terhadap morfologi granula. Penurunan kristalinitas relatif pati HMT dilaporkan pada kentang (Vermeylen et al. Pengamatan dengan scanning electron microscopy (SEM) menunjukkan bahwa HMT tidak mengubah morfologi eksternal granula tapioka. kristalinitas terendah terjadi pada suhu 110°C. 2009).. Akan tetapi. Gunaratne dan Hoover. 1996.. 2002.. 1993. Singh et al. berbagai pati polongpolongan (legume). 1994) serta sebagian kecil pati ubi jalar dan jahe (Vieira dan Sarmento. Perubahan kristal tipe B menjadi A meningkat dengan naiknya suhu dan mencapai maksimal pada 130°C. kristal tipe C membutuhkan kondisi proses yang lebih ekstrim dari tipe B. Untuk berubah. Kondisi berbeda: penurunan kristalinitas total tanpa perubahan pola distribusi DP amilopektin terjadi pada suhu ≤120°C. 2002). pati jagung (normal dan waxy). 2005. Pukkahuta et al. beras dan tapioka (Kawabata et al. 1993. sagu.. Hoover dan Vasanthan. Penelitian Syamsir et al. 1994. Bentuk mikroskopis granula tapioka (Syamsir et al. 2007. 2002. Khunae et al. wortel Peru. Pada waktu tetap dan kadar air ≥ 23%. Pranoto et al. millet (Eleusine coracana).. peningkatan intensitas panas (suhu dan waktu proses) menyebabkan peningkatan ukuran rongga (Pukkahuta et al. sebagian yang lain menyebutkan. 1992. Granula pati awal Granula pati setelah HMT Gambar 3. Herawati.. peningkatan kadar air proses menurunkan kristalinitas relatif. Perubahan bentuk tidak terjadi jika proses pemanasan dilakukan pada suhu atau kadar air yang lebih rendah. 2007). 2006). 1995. 2007 dan Kawabata et al. Gunaratne dan Hoover. Pukkahuta dan Varavinit. Syamsir et al. data belum dipublikasi) menunjukkan bahwa proses HMT tapioka berkadar air 20% pada suhu 120°C selama 4 jam akan menyebabkan perubahan bentuk granula tapioka. 1999. 2008.. Pembentukan kompleks ini menggantikan hilangnya daerah kristalin pati alami. Pengaturan ulang rantai heliks ganda karena HMT bisa meningkatkan keteraturan (intensitas difraksi sinar X naik) atau menurunkan keteraturan daerah kristalin (intensitas difraksi sinar X turun) seperti dilaporkan pada pati jagung. Franco et al.. 1995. 2005. Total kristalinitas (A+B) sendiri tidak tergantung pada kadar air dan berkorelasi secara kuadratik dengan suhu proses. Pada kadar air tetap. XXIII No. 2006). 2002) tapi tidak mengubah kristal tipe A seperti dilaporkan pada pati jagung.. (2011. 1994. 2008). ubi jalar. Kristalinitas total dan jumlah amilopektin dengan DP<6 meningkat pada suhu >120°C. Adebowalea et al.. 2007. Pada amilosa rendah sampai sedang. Hal ini disebabkan oleh perbedaan intensitas panas HMT.Ulasan Ilmiah J. suhu dan waktu HMT mempengaruhi morfologi pati HMT. Pembentukan rongga di bagian tengah mengindikasikan struktur jaringan pusat relatif lemah (Gambar 3).. Perbedaan dipengaruhi oleh kadar air proses (Franco et al.. 2009. Pukkahuta et al. Franco et al. gandum. true yam (Dioscorea alata). Adebowale dan Lawal. Teknol. 2003. Vermeylen et al. 1995). Peningkatan suhu memicu peningkatan pembentukan kristal tipe A dan penurunan kristal B. 2008.. Pengeringan cepat menghasilkan kristal A berukuran kecil sementara pengeringan . 2011). 2006). lentil dan kentang (Abraham. dan Industri Pangan. Pukkahuta et al. HMT menyebabkan pembentukan rongga dan kaburnya persilangan polarisasi dibagian tengah granula (Pukkahuta et al. oat. 2003.... Hoover dan Manuela. 2007). Collado dan Cork. dan menjelaskan mengapa rasio kristalinitas pada pati beras beramilosa tinggi tidak berubah (Khunae et al. 2007. Pada amilosa tinggi. Interaksi kadar amilosa pati beras dan kadar air proses mempengaruhi kristalinitas pati HMT secara berbeda. Pemecahan ikatan kovalen dan terbukanya ikatan heliks ganda amilopektin pada 130°C menyebabkan amilopektin lebih mudah bergerak dan menyusun diri membentuk kristal yang lebih besar atau lebih rapat.. finger new cocoyam (Xanthosoma sagittifolium). Pukkahuta dan Varavinit. Gunaratne dan Hoover. 1994. ubi jalar. tapioka dan yam (Gunaratne dan Hoover. 2006. Teknik pengeringan pasca HMT bisa mempengaruhi entalpi dan jumlah kristal A pati kentang HMT walaupun tidak mempengaruhi Tp dan (Tc-To) gelatinisasi. 2008). Pengaruh HMT terhadap kristalinitas pati HMT mengubah kristal tipe B dan C menjadi tipe A seperti dilaporkan pada pati kentang dan yam (Stute. jahe. Lawal.

suhu dan kadar air) pada karakteristik pasting pati HMT telah dilaporkan. suhu dan waktu) dan kondisi pati (jenis. Intensitas perubahan dipengaruhi oleh kondisi proses (kadar air. penurunan BDV dengan SBV naik atau turun pada pati kentang.. Menurut Pukkahuta et al... 120°C) sementara viskositas puncak. 1996a). Pada amilosa rendah. rentang suhu lebih sempit dari pati awal. 2008) atau perpindahan sebagian komponen kristalin ke daerah amorfis sehingga daerah kristalin lebih mudah meleleh (Lim et al. 2012 lambat memungkinkan pertumbuhan kristal A sehingga ukuran dan jumlahnya meningkat (Vermeylen et al. Lawal OS. Abraham. 2007. KESIMPULAN HMT menyebabkan perubahan karakteristik fisiko-kimia pati. 2000. dan Industri Pangan. (2006). DAFTAR PUSTAKA Abraham TE. Oleh karena itu. (1993) dalam Pukkahuta et al. Peningkatan atau penurunan SBV tergantung pada intensitas proses. Olayinka OO. barley. triticale. Stabilization of paste viscosity of cassava starch by heat moisture treatment. Pengaruh parameter proses (waktu. 1993. 2007). kadar amilosa dan profil amilopektin). (1995). interaksi antara kondisi proses dan kondisi suatu jenis pati penting dipahami untuk menghasilkan pati HMT dengan karateristik yang konsisten. Pelebaran rentang suhu terjadi pada amilosa normaltinggi.. 2007). kentang. 2009. mengindikasikan hilangnya sebagian daerah kristalin sehingga jumlah rantai heliks ganda yang meleleh saat gelatinisasi menjadi berkurang (Hoover dan Manuel. Peningkatan juga disebabkan oleh perubahan tipe kristal dari B menjadi A (Stute. 2007). 1983 disitasi oleh Takaya et al. Peningkatan rentang suhu gelatinisasi lebih besar pada kondisi kadar air dan suhu tinggi. 104 1983 didalam Takaya et al. Singh et al. 2007. mengindikasikan naiknya homogenitas kristalit. 1999). Pengaruh kadar air terhadap Tp berkurang dengan naiknya kadar air.60 menit. Adebowale KO. HMT menyebabkan pengaruh berbeda pada entalpi gelatinisasi.. Menurut Hoover et al. Tp dan Tc) dan perubahan rentang gelatinisasi (Tc-To) (Donovan et al. beras dan ubi jalar dilaporkan mengalami peningkatan suhu gelatinisasi (To. 1992. Vol. 1983 disitasi oleh Takaya et al. Afolabi TA.. beras. suhu pasting pati jagung HMT tidak berkorelasi linier dengan waktu HMT (0 . Peningkatan suhu gelatinisasi berbanding lurus dengan kadar air proses. 2000. 2009). Starch/Stärke 45: 131135.. Olu-Owolabi BI. Olu-Owolabi BI. 2005b.. 1999) tetapi HMT dilaporkan menurunkan entalpi gelatinisasi pati gandum. Pengaruh HMT terhadap karakteristik gelatinisasi Analisis DSC memperlihatkan bahwa HMT mengubah karakteristik termal pati. Hal ini sesuai dengan Hoover dan Manuel (1996) yang menemukan bahwa pati jagung waxy tidak dipengaruhi oleh proses. Lawal OS. BDV dan viskositas akhir menunjukkan korelasi linier. Tp dan rentang suhu gelatinisasi meningkat sebagai fungsi dari suhu dan kadar air. Abraham. Walau meningkatkan entalpi gelatinisasi pati ubi jalar (Collado dan Cork. Pengaruh kadar air HMT pada rentang suhu gelatinisasi (TcTo) menunjukkan pola berbeda pada pati jagung dengan kadar amilosa berbeda. 1999. Pukkahuta et al. 1995. physicochemical properties and retrogradation behaviour of Mucuna bean (Mucuna pruriens) starch on heat moisture treatments.. Herawati. Menurut Franco et al. perlakuan HMT (oven) pada 110°C dan kadar air 25% selama 4-16 jam. penurunan viskositas puncak.. 1993. nilainya meningkat dengan naiknya kadar amilosa dan kadar air (Hoover dan Manuel. 2005. 1996b. arrowroot... 2007). 1993. Adebowale KO. red millet. Hydrothermal treatments of finger millet (Eleusine coracana) starch. Pukkahuta et al. 1992. autoklaf. BDV dan viskositas diduga karena meningkatnya keteraturan matriks kristalin dan pembentukan kompleks amilosa-lemak yang menurunkan kapasitas pembengkakan granula dan memperbaiki stabilitas pasta selama pemanasan. Franco et al. Effect of heat moisture treatment and anneling on . tapioka. Pengaruh suhu dan kadar air HMT terhadap karakteristik gelatinisasi pati kentang dilaporkan oleh Vermeylen et al. XXIII No. sementara pengaruh suhu terhadap peningkatan Tp semakin besar dengan naiknya suhu. kentang. Food Hydrocoll 19: 974-983 . 2003. Pada pati ubi jalar dengan kandungan amilosa berbeda. Microstructure. 1992. 1994). Pranoto et al. 2007)... Hormdok dan Noomhorm. Interaksi amilosa (amorfis) dengan amilopektin (kristalin) selama HMT mereduksi mobilitas rantai amilopektin sehingga suhu gelatinisasi meningkat (Hoover dan Vasanthan. 2005a.. Pada amilosa tinggi. Stute. entalpi gelatinisasi pati beras menurun dengan naiknya kadar air HMT (Khunae et al. Collado dan Cork. Lorenz dan Kulp. Peningkatan kadar air memperbesar penurunan entalpi pada suhu proses yang lebih tinggi. kadar air 20%. Pati gandum. tapioka dan beras (Donovan et al. ubi jalar dan sagu (Stute. Adebowale KO.. peningkatan kadar air HMT memperbaiki stabilitas panas pasta pati jagung normal tapi tidak signifikan untuk pasta pati jagung waxy. Kadar amilosa dilaporkan juga mempengaruhi peranan air dalam proses modifikasi HMT. Hormdok dan Noomhorm. (2008). Perbedaan kadar amilosa dilaporkan menyebabkan perbedaan karakteristik pasting pati HMT yang dihasilkan. 1992). Pengaruh HMT terhadap karakteristik pasting HMT menyebabkan peningkatan suhu pasting. 2000. pelebaran rentang suhu berkorelasi linier dengan peningkatan kadar air (Khunae et al. Teknol. 1992). (2008). 2006). Stute. Pada semua kadar amilosa. 2001 disitasi oleh Khunae et al. Khunae et al. jagung. intensitas rendah menghasilkan SBV yang tinggi dan sebaliknya (Stute. Food Hydrocoll 17: 265-272. tapioka. pati dengan kandungan amilosa yang lebih rendah menunjukkan penurunan viskositas yang lebih besar dan nilai setback yang lebih rendah (Collado dan Cork. Hormdok dan Noomhorm.Ulasan Ilmiah J. 2008. mengindikasikan keheterogenan kristalit akibat pengaturan kembali rantai pendek amilopektin dan pembentukan kompleks amilosa-lemak. 1 Th. HMT menurunkan entalpi gelatinisasi.

Physico-chemical properties. Hoover R. The Netherlands. Chang EH. Starch/Stärke 46: 463-469. Carbohydr Polym 72: 527–536. Noomhorm A. Microscopic observation and x-ray diffractiometry of heat/moisture-treated starch granules. Lim ST. 2002. Lewandowicz G. 2005. Delcour JA. Pukkahuta C. Sajilata MG. 2008. Butterworth PJ. Effect of heatmoisture treatment and acid modification on rheological. Didalam: Food Carbohydrates: Chemistry. Czukor B. Structural transformation of sago starch by heat-moisture and osmotic-pressure treatment.). 1 Th. Mishima T. Manuel H. Inc. Pukkahuta C. 2007. Taylor & Francis Group. Lorenz K. 2002. 2009. Starch/Stärke 47: 223-228. Modifikasi Pati Sagu Dengan Teknik Heat Moisture Treatment (HMT) dan Aplikasinya Dalam Memperbaiki Kualitas Bihun. Effect of osmotic pressure on starch: new method of physical modification of starch. and differential scanning calorimetry characteristics of sweetpotato starch. Anim Feed Sci and Tech 122: 303-320. Physical Properties and Applications. Gunaratne A. Kimura T. Whistler RL. Kulkarni PR. Oates CG. Singhal RS. Czukor B. 2005. J of Food Sci 70: E373 – E 378. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. CABI Publishing. Processing. Miyoshi E. Food Chem 65: 339-346. 2006. Effects of lipids. Collado LS. Raina CS. Handbook of Hydrocolloids. Corke H. Starch. Ciacco CF. Effect of heat-moisture treatment on the structure and physicochemical properties of cereal. J of Agr and Food Chem 46: 2895–2905. Carbohydrates. 2005. The Effect of Heat–Moisture Treatment on the structure and physicochemical properties of normal maize. 1982. Srichuwong S. associated components and processing on nutritive value of cereal starch: A review. Kudo K. textural. 1996b. Tokyo. Starch/Stärke 34: 50-54. Starch/Stärke 58: 78-90. Didalam Fennema OR. J Agric Food Chem 54: 3712-3716. Carbohydr Polym 46: 107-115. Heat-moisture treatment effects on sweetpotato starches differing in amylose content. American Chem Society. 2001. Studies on the hydrothermal modifications of new cocoyam (Xanthosoma sagittifolium) starch. Marcel Dekker. Herawati D. Cserhalmi Z. LWT Food Sci and Tech 40: 1723-1731. Carbohydrates in Grain Legume Seeds: Improving Nutritional Quality and Agronomic Characteristics. Jackson DS. of Biotech 4: 928-933. Food Res Int 29: 731-750. Comparative study of pasting and thermal transition characteristic of osmotic pressure and heat-moisture treated corn starch. Effect of heatmoisture treatment on structural and thermal properties of rice starches differing in amylose content. 2001. Carbohydr Polym 60: 529–538. Harstad OM. Effect of heat–moisture treatment on the structure and physicochemical properties of tuber and root starches. Effect of the heatmoisture treatment on the enzymatic susceptibility of corn starch granules. Understanding starches and their role in foods. Straches from different botanical sources I: contribution of amylopectin fine structure to thermal properties and enzyme digestibility. Hydrothermal modifications of granular starch. Roder N. Teknol. Effect of heat-moisture treatment on the structure and physicochemical properties of legume starches. (Ed). Wallingford. Varavinit S. Hormdok R. Kulp K. CRFSFS. Sawayama S. (Ed). SoralSmietana M. Tran T. Chen Z. Pukkahuta C. legume and tuber starches. Collado LS. Takase N. Singh S. 1994. Kovacs ET. 2007. CRC Press. 1996a. 2003. Bawa AS. Karakterisasi pati ubi jalar varietas tipikal Indonesia dan modifikasi sifat reologisnya dengan heat-moisture treatment (HMT) untuk pembuatan mie. Hydro-thermal treatments of rice starch for improvement of rice noodle quality. J of Cereal Sci 23: 153-162. Thesis Wageningen University. J. Sirivongpaisal P. Technical Research Center of Finland. 1999. Kawabata A. dan Industri Pangan. Adv in Mol Med 1: 5–14. 2005. Corke H. 1996. Universitas Gajah Mada. Resistant starch – a review. Isno N. Gelatinization and solubility of corn starch during heating in excess water: new insights. Bihon-type noodles from heat-moisture treated sweet potato starch. Vol. PhD. dull waxy maize and amylomaize V starches. 2005. Hoover R. Didalam Hedley CL. Starch-stärke 59: 624-631. Khunae P. Cereal and root starch modification by heat-moisture treatment. 2006 . Shobsngob S. 1994. Franco CML. Saitama. Hisamatsu M. Suwannawat B. heating and enzymatic treatment on starches. African J. Tavares DQ. 1998. with retention of the granular structure: a review. Physicochemical Properties of Sweet Potato Starches and Their Application in Noodle Products. BeMiller. Carbohydr Polym 49: 425-437. Hoover R. Carbohydr Res 252: 33-53. 2006. Starch/Stärke 59: 593-599. Thermal transition characteristics of heat–moisture treated corn and potato starches. Mabesa LB. 2009. Effect of starch granule structure. 2005. 5. Varavinit S. Vasanthan T. Cambridge. 2001. Woodhead Publishing Limited. Fornal J. 1995. Rakshit SK. 2007. Bogracheva T. Haryadi. Fakultas Teknologi Pertanian. Food Sci 66: 604-609. 2012 physicochemical properties of red sorgum starch. Hoover R. I. Sunarti TC. waxy maize. Food Chemistry (3rd ed. Laporan Akhir Hasil Penelitian Hibah Pekerti (Tahun Kedua). Manuel H. Jacobs H. Schuster-Gajzago I. Uhlen AK.Ulasan Ilmiah J. Pranoto Y. Starch molecular and nutritional properties: a review. Saxena DC. . 105 Lawal OS. Didalam: Phillips GO dan Williams PA (Ed). Murphy P. Ellis PR. Varavinit S. Chung HJ. XXIII No. Shivus B. Ratnayake WS. 2007. Liu Q. 2001. Shamekh SS. Shobsngob S. Int J of Bio Macromol 37: 268-277.

Hasyim DM. Chen L. Thermal studies on the gelatinisation and retrogradation of heat-moisture treated starch. Cereal Chem 65: 443-446. J of Food Eng 2: Art. Syamsir E. Young SN. Kusnandar F. 2012 Stute R. Carbohydr Polym 41: 97-100. 2003. Xie F. Starch gelatinization under shearless and shear conditions. Xue T. Muhammad K. 2008.uk. J of Exp Bot 49: 481–502. 1998. Function and Applications (1st ed). 1988. 2011. Starch/Stärke 40: 44-50. Starch gelatinization: an x-ray diffraction study.Ulasan Ilmiah J. Zondag MD. Research Paper. Cambridge. Starch. Chen P. 15–18 September 2011. Nishinari K. An x-ray study of hydrothermally treated potato starch. Wattanachant S. Hydrothermal modification of starches: The difference between annealing and heat/moisture-treatment. Hedley CL. sweet potato and ginger starches. www. Starch: as simple as A. Fardiaz D. 2000. Starch/Stärke 44: 205-214. Corrigan P. C? (Review article). Int. Wang TL. 1988. Sano C. dan Industri Pangan. Takaya T. Carbohydr Polym 64: 364-375. 2004. . Rocca LA. Delcour JA. Starch as an ingredient: manufacture and applications. Zobel HF. Didalam: Eliasson A-C (Ed). Starch In Food: Structure. Vieira FC. 2003.ac. Molecules to granules: a comprehensive starch review. Starch/Stärke 60: 223-232. 2006. Zobel HF. Andarwulan N. Vermeylen R. Vol. [10 Mei 2008]. 1992. Woodhead Publishing Limited. Bogracheva TY. Food Chem 80: 463-471. Pengaruh heat-moisture treatment (HMT) pada karakteristik fisikokimia tapioka lima varietas ubi kayu berasal dari daerah Lampung. 1 Th. Hariyadi P. Yu L. Effect of Ikatan silang reagent and hydroxypropilation 106 levels on dual-modified sago starch properties. Taggart P. Heat-moisture treatment and enzymatic digestibility of peruvian carrot. Paper disampaikan pada Seminar Nasional PATPI 2011 di Manado. Goderis B. 6. Liu H. Rahman RA. Sarmento SBS. XXIII No.Isbu. 2006. Effect of microwave heat moisture and annealing treatments on buckwheat starch characteristics. University of Wisconsin. B. Teknol. Stout.