You are on page 1of 14

Laporan Kasus

PAR T U S P R E M AT U R U S
IMMINENS

Oleh:
dr. Haryani Dwita

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DEMANG SEPULAU


RAYA
2014

BAB I
REKAM MEDIK
A. IDENTIFIKASI
Nama

: Ny. S

Umur

: 33 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Alamat

: Bandar jaya

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

MRS

: 21 Agustus 2014

B. ANAMNESIS (autoanamnesis tanggal 30 September 2013)


Keluhan Utama

Perut terasa kencang-kencang sejak 2 hari SMRS


Keluhan tambahan :
Keluar darah dan lendir dari jalan lahir sejak 2 hari SMRS
Riwayat perjalanan penyakit :
2 hari SMRS os mengeluh perut kencang-kencang yang menjalar ke
pinggang,keluhan disertai dengan keluanya lendir dan darah dari jalan lahir sekitar 2
hari SMRS. Kencang-kencang dirasakan semakin sering, menurut pasien kencangkencang dirasakan dengan frekuensi sekitar 1 sampai 2 kali dalam waktu 10
menit.Pasien juga mengeluhkan keluardarah dan lendir dari jalan lahir, pasien
mengaku darah akan keluar dari jalan lahir ketika terasa kencang-kencang pada
perutnya. Jumlah darah yang keluar dari jalan lahir tidak begitu banyak, dalam sehari
pasien mangaku mengganti softex sekitar 1 sampai 2 kali. Riwayat keluar air-air (-).
Sebelum ke RS pasien sempat dibawa ke bidan dan dilakukan pemeriksaan dalam dan
didaptkan pembukaan 2 cm. Riwayat trauma (-). Riwayat keputihan (+) sejak awal

bulan kehamilan. Riwayat demam (-). Riwayat post coitus (+). Riwayat perut diuruturut (-). Gerakan janin masih dapat dirasakan pasien.
Riwayat Perkawinan : 1 x lamanya 6 tahun.
Riwayat Reproduksi : Menarche umur 14 tahun, haid teratur, siklus 28 hari,
lamanya 7 hari.
Riwayat Obstetri

: G3P2A0

No

Tempat

Tahun Hasil

1.
2.
3.

Bersalin
Bidan
2009
Bidan
2011
Kehamilan

Jenis

Penyulit Nifas Anak


BB
kehamilan Persalinan
Aterm
Spontan
2900
Aterm
Spontan
3300

sekarang
Riwayat sosial ekonomi

: Sedang

Riwayat gizi

: Nafsu makan baik dan tidak ada gangguan pada miksi


maupun defekasi.

Riwayat penyakit yang pernah diderita :


R/ DM disangkal.
R/ Hipertensi disangkal.
R/ Penyakit jantung disangkal.
C. PEMERIKSAAN FISIK
Status Present
Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Tekanan darah

: 110/70 mmHg

Nadi

: 80 x/menit

Pernafasan

: 20 x/menit

: 37,2oC

Suhu
Kepala

Normocephale, rambut hitam dengan distribusi yang

merata dan tidak mudah dicabut.


Mata

Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, eksophtalmus -/-

Telinga

Bentuk normal, liang lapang, serumen (-), sekret (-).

Hidung

Bentuk normal, sekret -/-, deviasi septum (-), edema

Tenggorokan

Faring tidak hiperemis, T1-T2 tenang.

Mulut

Bentuk normal, sianosis (-).

Leher

Pembesaran KGB regional (-)

konka -/-

Thoraks:
Cor

Inspeksi

Iktus kordis tidak terlihat

Palpasi

Iktus kordis tidak kuat angkat

Perkusi

Batas kanan jantung pada sela iga IV linea parasternalis

dekstra. Batas kiri jantung pada sela iga V linea midklavikularis sinistra.
Batas atas jantung pada sela iga II linea parasternalis sinistra.
Auskultasi : Bunyi jantung I-II reguler murni, gallop (-), murmur (-)
Pulmo

: Inspeksi

: Simetris dalam keadaan statis dan dinamis

Palpasi :

Fremitus kanan dan kiri sama, nyeri tekan (-), krepitasi


(-), massa (-)

Perkusi

: Sonor di kedua lapang paru depan dan belakang

Auskultasi

:Suara napas vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/-

Abdomen
Inspeksi

Cembung, benjolan (-)

Auskultasi

:Bising usus (+) meningkat

Perkusi

: hipertimpani

Palpasi

nyeri tekan (+ ) pada semua region abdomen, defans


muskuler (+), massa (-), hepar dan lien tidak teraba

Ekstremitas

Akral hangat

, edema

, tremor

Status Obstetri (21 Agustus 2014)


Hari pertama haid terakhir (HPHT) 14 desember 2013.
Pemeriksaan luar:
Tinggi fundus uteri 30 cm, detak jantung janin 136 kali/menit teratur,
Leopold I : Bulat lunak (kesan bokong)
Leopold II : Tahanan memanjang di sebelah kanan (punggung kanan), teraba
bagian kecil-kecil di kiri
Leopold III : Bulat, keras, melenting (presentasi kepala)
Leopold IV : belum masuk PAP
His (+)
Tafsiran berat janin : 1900 gram.
Pemeriksaan Dalam:
Vaginal toucher : portio tebal lunak, pembukaan 2 cm, pendataran serviks 50%,
ketuban (+), bagian terbawah kepala.
Hasil pemeriksaan laboratorium
Darah rutin :

Hb

Eritrosit

: 4.1 jt/mm3

Leukosit

: 6000/mm3

Hematokrit : 32 %

Trombosit

Urin rutin :
Protein (-)
Glukosa (-)
Keton (-)

: 9,8 gr%

: 225.000/mm3

Leukosit (++)
Eritrosit (-)
Epitel (-)
Hasil pemeriksaan USG
Umur kehamilan : 33-35 minggu
DJJ : 146 x/menit
TBJ : 1900 gram
Ketuban : (+)
D. DIAGNOSIS KERJA
G3P2A0 hamil 33 minggu dengan partus prematurus imminens, janin tunggal hidup
presentasi kepala.
E. PROGNOSIS
Ibu dan janin: dubia ad bonam.
F. PENATALAKSANAAN
1. Terapi Konservatif
2. Observasi his, denyut jantung janin, tanda vital ibu.
3. Batasi aktivitas / tirah baring.
4. IVFD RL xx gtt/menit + bricasma 1 ap XV XX gtt/menit
5. Injeksi ceftriaxon 2 x 1gr IV
6. Injeksi Dexamethasone 2 x 5 mg IV
7. Injeksi asam traneksamat 2 x 1 ap IV
8. Pemeriksaan laboratorium darah rutin, urin rutin.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pendahuluan
Persalinan prematur adalah persalinan dengan usia kehamilan kurang dari 37
minggu atau berat bayi kurang dari 2500 gram. Persalinan prematur merupakan hal
yang berbahaya karena berpotensi meningkatkan kematian perinatal sebesar 70%.
Pada persalinan ini, seringkali bayi prematur mengalami gangguan tumbuh kembang
organ-organ vital yang menyebabkan ia masih belum mampu untuk hidup di luar
kandungan, sehingga sering mengalami kegagalan adaptasi yang dapat menimbulkan
morbiditas bahkan mortalitas yang tinggi.1
Pada kebanyakan kasus, penyebab pasti persalinan prematur tidak diketahui.
Berbagai sebab dan faktor demografik diduga sebagai penyebab persalinan preterm,
seperti: solusio plasenta, kehamilan ganda, kelainan uterus, polihidramnion, kelainan
kongenital janin, ketuban pecah dini dan lain-lain. Penyebab persalinan preterm
bukan tunggal tetapi multikompleks, antara lain karena infeksi. Infeksi pada
kehamilan akan menyebabkan suatu respon imunologik spesifik melalui aktifasi sel
limfosit B dan T dengan hasil akhir zat-zat yang menginisiasi kontraksi uterus.
Terdapat makin banyak bukti yang menunjukkan bahwa mungkin sepertiga kasus
persalinan preterm berkaitan dengan infeksi membran korioamnion. Dari penelitian
Lettieri dkk.(1993), didapati 38% persalinan preterm disebabkan akibat infeksi
korioamnion. Knox dan Hoerner (1950) telah mengetahui hubungan antara infeksi
jalan lahir dengan kelahiran prematur.1,2
B. Faktor Risiko Prematuritas
Mayor3
1. Kehamilan multipel
2. Hidramnion

3. Anomali uterus
4. Serviks terbuka lebih dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu
5. Serviks mendatar/memendek kurang dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu
6. Riwayat abortus pada trimester II lebih dari 1 kali
7. Riwayat persalinan preterm sebelumnya
8. Operasi abdominal pada kehamilan preterm
9. Riwayat operasi konisasi
10. Iritabilitas uterus
Minor3
1. Penyakit yang disertai demam
2. Perdarahan pervaginam setelah kehamilan 12 minggu
3. Riwayat pielonefritis
4. Merokok lebih dari 10 batang perhari
5. Riwayat abortus pada trimester II
6. Riwayat abortus pada trimester I lebih dari 2 kali.
Pasien tergolong risiko tinggi bila dijumpai satu atau lebih faktor risiko mayor;
atau dua atau lebih faktor risiko minor; atau keduanya.
C. Kriteria Diagnosis3
1.

Usia kehamilan antara 20 dan 37 minggu lengkap atau antara 140 dan 259 hari

2.

Sebelum persalinan berlangsung dapat dirasakan tanda sebagai berikut:


nyeri pinggang belakang
rasa tertekan pada perut bagian bawah
terdapat kontraksi irreguler sejak sekitar 24-48 jam
terdapat pembawa tanda seperti bertambahnya cairan vagina atau terdapat
lendir bercampur darah.

Jika proses persalinan prematur berkelanjutan, terjadi gejala klinik sbb:


1. kontraksi uterus 4x/20menit atau 8x/60menit

2. terjadi perubahan progresif serviks:


pembukaan lebih dari 1 cm
perlunakan sekitar 75-80%
penipisan serviks
D. Pemeriksaan penunjang3,4
1. Laboratorium
Pemeriksaan kultur urine
Pemeriksaan gas dan pH darah janin
Pemeriksaan darah tepi ibu
Jumlah lekosit
C-reactive protein . CRP ada pada serum penderita yang menderita infeksi
akut dan dideteksi berdasarkan kemampuannya untuk mempresipitasi fraksi
polisakarida somatik nonspesifik kuman Pneumococcus yang disebut fraksi C.
CRP dibentuk di hepatosit sebagai reaksi terhadap IL-1, IL-6, TNF.
2. Pemeriksaan ultrasonografi
Penipisan serviks: Iams dkk. (1994) mendapati bila ketebalan seviks < 3 cm
(USG) , dapat dipastikan akan terjadi persalinan preterm. Sonografi serviks
transperineal lebih disukai karena dapat menghindari manipulasi intravagina
terutama pada kasus-kasus KPD dan plasenta previa.
E. Penatalaksanaan3,4,5
Ibu hamil yang diidentifikasi memiliki risiko persalinan preterm dan yang
mengalami gejala persalinan preterm membakat harus ditangani seksama untuk
meningkatkan keluaran neonatal.
1. Akselerasi pematangan fungsi paru
Terapi glukokortikoid, misalnya dengan betamethasone 12 mg im. 2 x
selang 24 jam. Atau dexamethasone 5 mg tiap 12 jam (im) sampai 4 dosis.
Thyrotropin releasing hormone 400 ug iv, akan meningkatkan kadar tri-

iodothyronine yang dapat meningkatkan produksi surfaktan. Suplemen inositol


juga merupakan pilihan karena inositol merupakan komponen membran fosfolipid
yang berperan dalam pembentukan surfaktan.
2. Pemberian tokolitik
Indeks tokolitik > 8 menunjukkan kontraindikasi pemberian tokolitik
Kontraksi
Ketuban

0
Tidak ada
Tidak ada

1
Irregular
-

2
Regular
Tinggi/tidak

3
-

4
Rendah/pecah

pecah
Perdarahan
Pembukaan

Tidak ada
Tidak ada

Spotting
1 cm

jelas
Perdarahan
2 cm

3 cm

4 cm

Nifedipin 10 mg diulang tiap 30 menit, maksimum 40 mg/6 jam. Umumnya


hanya diperlukan 20 mg dan dosis perawatan 3 x 10 mg.
Golongan beta-mimetik
Salbutamol Perinfus : 20-50 g/menit Per oral : 4 mg, 2-4 kali/hari
(maintenance) atau :
Terbutalin Per infuse : 10-15 g/menit, Subkutan: 250 g setiap 6 jam. Per
oral : 5-7.5 mg setiap 8 jam (maintenance)
Efek samping : Hiperglikemia, hipokalemia, hipotensi, takikardia, iskemi
miokardial, edema paru
3. Magnesium sulfat
Parenteral : 4-6 gr/iv pemberian bolus selama 20-30 menit, infus 2-4gr/jam
(maintenance)
Efek samping : Edema paru, letargi, nyeri dada, depresi pernafasan (pada ibu
dan bayi)
F. Kontraindikasi penundaan persalinan3,4,5
Mutlak
Gawat janin, korioamnionitis, perdarahan antepartum yang banyak.
Relatif

Gestosis; diabetes mellitus (beta-mimetik), pertumbuhan janin terhambat,


pembukaan serviks lebih dari 4 cm.
G. Cara persalinan3,4,5
1. Janin presentasi kepala : pervaginam dengan episiotomi lebar dan
perlindungan forseps terutama pada bayi < 35 minggu.
2. Indikasi seksio sesarea :

Janin sungsang

Taksiran berat badan janin kurang dari 1500 gram (masih kontroversial)

Gawat janin, bila syarat pervaginam tidak terpenuhi

Infeksi intrapartum dengan takikardi janin, gerakan janin melemah,


ologohidramnion, dan cairan amnion berbau. bila syarat pervaginam tidak
terpenuhi

Kontraindikasi partus pervaginam lain (letak lintang, plasenta previa, dan


sebagainya).

Lindungi bayi dengan handuk hangat, usahakan suhu 36-37 C ( rawat intensif di
bagian NICU ), perlu dibahas dengan dokter bagian anak.
Bila bayi ternyata tidak mempunyai kesulitan (minum, nafas, tanpa cacat) maka
perawatan cara kangguru dapat diberikan agar lama perawatan di rumah sakit
berkurang.
H. Penyulit5
1. Sindroma gawat nafas (RDS)
2. Perdarahan intrakranial
3. Trauma persalinan
4. Paten duktus arteriosus
5. Sepsis
6. Gangguan neurologi

I. Komplikasi5
1. Pada ibu, setelah persalinan preterm, infeksi endometrium lebih sering terjadi
mengakibatkan sepsis dan lambatnya penyembuhan luka episiotomi. Bayi-bayi
preterm memiliki risiko infeksi neonatal lebih tinggi; Morales (1987)
menyatakan bahwa bayi yang lahir dari ibu yang menderita anmionitis memiliki
risiko mortalitas 4 kali lebih besar, dan risiko distres pernafasan, sepsis
neonatal, necrotizing enterocolitis dan perdarahan intraventrikuler 3 kali lebih
besar.
2. Sindroma gawat pernafasan (penyakit membran hialin).
Paru-paru yang matang sangat penting bagi bayi baru lahir. Agar bisa bernafas
dengan bebas, ketika lahir kantung udara (alveoli) harus dapat terisi oleh udara
dan tetap terbuka. Alveoli bisa membuka lebar karena adanya suatu bahan yang
disebut surfaktan, yang dihasilkan oleh paru-paru dan berfungsi menurunkan
tegangan permukaan. Bayi prematur seringkali tidak menghasilkan surfaktan
dalam jumlah yang memadai, sehingga alveolinya tidak tetap terbuka.
Diantara saat-saat bernafas, paru-paru benar-benar mengempis, akibatnya
terjadi Sindroma Distres Pernafasan. Sindroma ini bisa menyebabkan kelainan
lainnya dan pada beberapa kasus bisa berakibat fatal. Kepada bayi diberikan
oksigen; jika penyakitnya berat, mungkin mereka perlu ditempatkan dalam
sebuah ventilator dan diberikan obat surfaktan (bisa diteteskan secara langsung
melalui sebuah selang yang dihubungkan dengan trakea bayi).
3. Ketidakmatangan pada sistem saraf pusat bisa menyebabkan gangguan refleks
menghisap atau menelan, rentan terhadap terjadinya perdarahan otak atau
serangan apneu. Selain paru-paru yang belum berkembang, seorang bayi
prematur juga memiliki otak yang belum berkembang. Hal ini bisa
menyebabkan apneu (henti nafas), karena pusat pernafasan di otak mungkin
belum matang. Untuk mengurangi mengurangi frekuensi serangan apneu bisa
digunakan obat-obatan. Jika oksigen maupun aliran darahnya terganggu. otak
yang sangat tidak matang sangat rentan terhadap perdarahan (perdarahan
intraventrikuler) atau cedera .

4. Ketidakmatangan sistem pencernaan menyebabkan intoleransi pemberian


makanan. Pada awalnya, lambung yang berukuran kecil mungkin akan
membatasi jumlah makanan/cairan yang diberikan, sehingga pemberian susu
yang terlalu banyak dapat menyebabkan bayi muntah. Pada awalnya, lambung
yang berukuran kecil mungkin akan membatasi jumlah makanan/cairan yang
diberikan, sehingga pemberian susu yang terlalu banyak dapat menyebabkan
bayi muntah.
5. Retinopati dan gangguan penglihatan atau kebutaan (fibroplasia retrolental)
6. Displasia bronkopulmoner.
7. Penyakit jantung.
8. Jaundice.
Setelah lahir, bayi memerlukan fungsi hati dan fungsi usus yang normal untuk
membuang bilirubin (suatu pigmen kuning hasil pemecahan sel darah merah)
dalam tinjanya. Kebanyakan bayi baru lahir, terutama yang lahir prematur,
memiliki kadar bilirubin darah yang meningkat (yang bersifat sementara), yang
dapat menyebabkan sakit kuning (jaundice).
Peningkatan ini terjadi karena fungsi hatinya masih belum matang dan karena
kemampuan makan dan kemampuan mencernanya masih belum sempurna.
Jaundice kebanyakan bersifat ringan dan akan menghilang sejalan dengan
perbaikan fungsi pencernaan bayi.
9. Infeksi atau septikemia.
10. Sistem kekebalan pada bayi prematur belum berkembang sempurna. Mereka
belum menerima komplemen lengkap antibodi dari ibunya melewati plasenta.
Resiko terjadinya infeksi yang serius (sepsis) pada bayi prematur lebih tinggi.
Bayi

prematur

juga

lebih

rentan

terhadap

enterokolitis

nekrotisasi

(peradangan pada usus).


11. Anemia .
12. Bayi prematur cenderung memiliki kadar gula darah yang berubah-ubah, bisa
tinggi (hiperglikemia maupun rendah (hipoglikemia).
13. Perkembangan dan pertumbuhan yang lambat.

14. Keterbelakangan mental dan motorik.

BAB III
DAFTAR PUSTAKA
1. Cunningham M.D, et all. 2005. Preterm Birth. In: Williams Obstetrics. 23nd
ed.McGraw- Hill.
2. Goepfert A.R. 2001. Preterm Delivery. In: Obstetrics and Gynecology Principle
for Practise. McGraw-Hill.
3. Iams J.D. 2004. Preterm Labor and Delivery. In: Maternal-Fetal Medicine. 5th
ed.Saunders.
4.

Jafferson

Rompas.

2004.http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/145-

11Persalinanpreterm.pdf/145.30
5. Medlinux. 2007.http://medlinux.blogspot.com/2007/11/ruptur membran - prepersalinan.html