You are on page 1of 26

ALAT KESEHATAN DAN SPESIALITE

OBAT-OBAT CACING

Disusun oleh:
Kelompok A-7
1. Debby Rubiyanti
2. Deby Septiana
3. Deny Wirawan
4. Devi Muliawati
5. Dewi Anastasia Khodry
6. Erlina Widianty Pratiwi
7. Hijrofayanti
8. Indry Febriani Suwandi

2015000031
2015000032
2015000033
2015000034
2015000035
2015000043
2015000151
2015000152

PROGRAM PROFESI APOTEKER
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS PANCASILA
2015

BAB I
PENDAHULUAN
Infeksi cacing masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di
Indonesia. Frekuensi di Indonesia berkisar antara 30-90% tergantung lokasi, higien, sanitasi
pribadi dan lingkungan penderita. Tingginya prevalensi ini disebabkan oleh iklim tropis dan
kelembaban udara yang tinggi di Indonesia selain higien dan sanitasi yang rendah sehingga
menjadi lingkungan yang baik untuk perkembangan cacing.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak usia sekolah dasar merupakan
golongan yang sering terkena infeksi cacing usus karena sering berhubungan dengan tanah
karena kesadaran anak-anak akan kebersihan dan kesehatan masih rendah, sebagian diantara
mereka yang terinfeksi cacing ini hidup pada wilayah kumuh, dengan jenis penularan
baik

melalui

makanan

mengandung cacing. Selain

atau langsung
menyerang

berhubungan

dengan

anak -anak, ternyata

tanah yang
cacingan

banyak

dapat

juga

menyerang orang tua atau golongan dewasa berusia di atas 20 tahun.
Anthelmentica berasal dari kata yunani; anti: lawan dan helmin: cacing. Antelmintik
atau obat cacing adalah obat yang dapat memusnahkan cacing dalam tubuh manusia dan
hewan. Cacing yang biasanya menginfeksi manusia terbagi menjadi tiga kelas, diantaranya
Nematoda, Trematoda dan Cestoda. Nematoda adalah kelompok yang jenisnya banyak, yang
meliputi sejumlah besar cacing kecil yang mendiami setiap habitat yang ditempati oleh
organisme multiseluler terestial, lautan, dan perairan air tawar. Nematoda dapat menyerang
inang sementara atau inang akhir. Pada inang sementara, ditemukan cacing muda, larva, atau
tingkat perkembangan; sedangkan pada inang akhir (definitif) cacing terdapat dalam bentuk
dewasa atau tingkat perkembangbiakan seksual. Banyak spesies nematoda, merupakan parasit
merugikan bagi manusia. Kelas Trematoda adalah cacing sinsisial bertubuh lunak, sering
dinamakan cacing pipih, yang biasanya pipih dan berbentuk daun atau memanjang dengan
sepasang alat pengisap dan usus bipartitus yang berujung buntu dan tanpa anus. Cestoda atau
cacing pita adalah cacing yang tubuhnya terdiri dari rangkaian segmen-segmen yang seperti
pita.
Penggunaan antihelmintik atau obat anticacing perlu untuk memberantas dan
mengurangi cacing dalam lumen usus atau jaringan tubuh. Penularan penyakit cacing
umumnya terjadi melalui mulut, meskipun ada juga yang melalui luka di kulit. Larva dan
telur cacing ada dimana-mana di atas tanah, terutama bila sistim pembuangan kotoran belum

Dalam tindak lanjut pasca pengobatan untuk infeksi nematoda usus. niklosamid. . Pengobatan penyakit cacing harus selalu didasarkan atas diagnosa jenis parasit yang tepat karena banyak antelmintika dalam dosis terapi hanya bersifat melumpuhkan cacing dan tidak mematikannya. Kebanyakan obat cacing diberikan secara oral atau. Oleh karena mencegah itu. pada saat makan atau sesudah makan. Pemberian antelmintik pada anak-anak berada pada basis yang kurang aman dibandingkan pada dewasa. feses harus diperiksa ulang sekitar dua minggu setelah berakhirnya masa pengobatan. mebendazol. untuk parasit manjadi aktif lagi maka dapat diberikan obat cacing seperti piperazin.memenuhi syarat-syarat hygiene. dll. Antelmintik sebagian besar dikontraindikasikan pada keadaan hamil dan ulkus saluran cerna. praziquantel.

000 sehari. yaitu: 1. . dengan pada umumnya memiliki sistem pencernaan. Stadium dewasa hidup dirongga usus muda. yaitu kelas Nematoda (Nemathelminthes). ekskresi. Nematoda dapat dikelompokkan menjadi 2. dinding dan rongga tubuh. Penyakit yang disebabkannya disebut askariasis. tetapi ada pula yang vivipar dan berkembang biak secara partenogenesis. Ascaris lumbricoides Manusia merupakan satu-satunya hospes Ascaris lumbricoides. ekor. dan reproduksi yang terpisah. Nematoda Nematoda memiliki jumlah spesies terbesar dibandingkan dengan kelas cacing lainnya. Ilmu ini mempelajari mengenai Nemathelminthes (cacing gilik) dan Platyhelminthes (cacing pipih). kelas Trematoda (Platyhelminthes). A. Telur atau larva dikeluarkan dalam tinja hospes. sedangkan yang betina 22-35 cm. Cacing ini memiliki sistem reproduksi bertelur.BAB II TINJAUAN PUSTAKA Ilmu yang mempelajari mengenai parasit berupa cacing merupakan helmintologi. Morfologi dan daur hidup : Cacing jantan berukuran 10 -30 cm. dan kelas Cestoda (Platyhelminthes). Nematoda usus a. Pengelompokkan berdasarkan kelas dapat dibagi menjadi tiga. Cacing dewasa di dalam tubuh manusia bertelur atau menghasilkan larva sebanyak 20-200. Cacing jenis ini memiliki kepala.

Pada infeksi berat terutama pada anak dapat terjadi malabsorbsi sehingga memperberat keadaan malnutrisi. mebendazol dan albendazol. pirantel pamoat. Gangguan yang disebabkan cacing dewasa biasanya ringan. Pada foto toraks tampak infiltrat yang menghilang dalam waktu 3 minggu. diare atau konstipasi. Gangguan karena larva biasanya terjadi pada saat berada di paru. dan eosinophilia. Pada orang rentan terjadi perdarahan kecil pada dinding alveolus dan timbul gangguan pada paru yang disertai dengan batuk. demam. nafsu makan berkurang.Gambar 1 Skema Daur Hidup Ascaris lumbricoides Patologi dan gejala klinis : Gejala yang timbul pada penderita dapat disebabkan oleh cacing dewasa dan larva. Kadang-kadang penderita mengalami gejala gangguan usus ringan seperti mual. Necator americanus (cacing tambang) Morfologi dan daur hidup : . Efek yang serius terjadi bila cacing-cacing ini menggumpal dalam usus sehingga terjadi obstruksi usus (ileus). b. Pengobatan menggunakan piperazin. Keadaan ini disebut sindrom loeffler.

Nematoda jaringan. Yang betina berukuran 65 – 100 mm x 0. c. 2. Strongyloides stercoralis Morfologi dan daur hidup: Hanya diketahui cacing dewasa betina yang hidup sebagai parasit di filus duodenum dan yeyenum. . Perubahan pada paru biasanya ringan. seperti a. timbul kelainan kulit yang dinamakan creeping eruption yang sering disertai dengan rasa gatal yang hebat. Cacing betina berukuran panjang kurang lebih 1 cm. Pengobatan menggunakan pirantel pamoat. halus.Cacing dewasa hidup di rongga usus halus. Wuchereria bancrofti Morfologi dan daur hidup : Cacing dewasa jantan dan betina hidup di saluran dan kelenjar limfa. Pada stadium dewasa gejala tergantung pada spesies dan jumlah cacing maupun keadaan gizi penderita. tidak berwarna dan panjangnya kira-kira 2 mm. Cacing betina berbentuk filiform. maka terjadi perubahan kulit yang disebut ground itch.25 mm dan yang jantan 40 mm x 0. cacing jantan kurang lebih 0.8 cm.1 mm. Patologi dan gejala klinis: Pada stadium larva. Patologi dan gejala klinis : Bila larva filariform dalam jumlah besar menembus kulit. bentuknya halus seperti benang dan berwarna putih susu. dengan mulut yang besar melekat pada mukosa dinding usus. rongga mulut kedua cacing ini besar. bila banyak filariform sekaligus menembus kulit. Pengobatan menggunakan albendazol dan mebendazol.

dan vulva.Gambar 2 Skema Daur Hidup Wuchereria bancrofti Patologi dan gejala klinis : Gejala klinis filariasis limfatik dapat dibagi dalam dua kelompok. Yang disebabkan oleh cacing dewasa menimbulkan limfadenitis dan limfangitis retrograde dalam stadium akut. Yang paling sering dijumpai adalah peradangan pada sistem limfatik alat kelamin pria. Brugia malayi Morfologi dan daur hidup : Cacing dewasa jantan dan betina hidup disaluran dan pembuluh limfa. Stadium awal. berupa limfadenitis dan limfangitis retrograd. Pada stadium menahun gejala klinis yang paling sering dijumpai adalah hidrokel. Yang betina berukuran 55 mm x 0. Pengobatan menggunakan dietilkarbamasin sitrat (DEC) b. Patologi dan gejala klinis : . Kadang-kadang dijumpai gejala limfedema dan elefantiasis yang dapat mengenai seluruh tungkai.16 mm dan yang jantan 22 – 23 mm x 0. Bentuknya halus seperti benang dan berwarna putih susu. menimbulkan funikulitis. epididimitis. seluruh lengan. dalam keadaan tertentu dapat menyebabkan occult filariasis. disusul dengan obstruktif menahun 10 sampai 15 tahun kemudian. yaitu tanpa adanya gejala.09 mm. tanpa batas yang nyata. payudara. kemudia stadium akut yang ditandai gejala peradangan pada saluran dan kelenjar limfe. buah zakar. Mikrofilaria umumnya tidak menimbulkan kelainan. dan ortikis. Penyakit filariasis limfatik dapat terdiri dari 3 stadium.

d. dan tidak memiliki rongga tubuh.5 mm dan yang jantan 30-34 mm x 0. Pengobatan menggunakan dietilkarbamasin (DEC). Onchocerca volvulus Morfologi dan daur hidup: Cacing dewasa hidup dalam jaringan ikat. mata sendat.43 mm. kedua oleh mikrofilaria yang dikeluarkan oleh cacing betina dan ketika mikrofilaria beredar dalam jaringan menuju kulit. c. Trematoda tidak memiliki alat pernapasan khusus. Cacing betina berukuran 33. Pengobatan menggunakan dietilkarbamasin (DEC). Patologi dan gejala klinis: Ada dua macam proses patologi yang ditimbulkan parasit ini pertama oleh cacing dewasa yang hidup dalam jaringan ikat yang merangsang pembentukkan serat-serat yang mengelilingi cacing dalam jaringan. pelupuk mata bengkak sehingga mengganggu penglihatan. memiliki saluran ekskresi dan susunan saraf. sakit. B. Pada umumnya lesi mengenai kulit dan mata. Cacing dewasa dapat ditemukan di seluruh tubuh dan sering kali menimbulkan gangguan di konjungtiva mata dan pangkal hidung dengan menimbulkan iritasi pada mata. yang hilang timbul berulang kali. kecuali cacing Schistosoma. Stadium akut ditandai dengan serangan demam dan gelaja peradangan saluran dan kelenjar limfa. yang betina berukuran 50 – 70 mm x 0. Telur cacing keluar dari tubuh manusia .Gejala klinis filariasis malayi sama dengan gejala klinis filariasis timori. Trematoda Trematoda atau cacing daun umumnya memiliki sifat hermaprodit. Patologi dan gejala klinis : Cacing dewasa yang mengembara dalam jaringan subkutan dan mikrofilaria yang beredar dalam darah sering kali tidak menimbulkan gejala. Cacing dewasa jenis ini umumnya berbentuk pipih. bersimetris bilateral.5 – 50 cm x 270-400 mikron dan cacing jantan 19-42 mm x 130 – 210 mikron. melingkar satu dengan lainnya seperti benang kusut dalam benjolan (tumor). Gejala klinis kedua penyakit tersebut berbeda dengan gejala klinis filariasis bankrofti.35 – 0. Loa loa (Cacing mata) Morfologi dan daur ulang : Cacing dewasa hidup dalam jaringan subkutan. Pengobatan menggunakan ivermektin.

Sebagian besar trematoda memerlukan intermediate host ke-2. Kista ini disebut metaserkaria. redia lalu serkaria. sedangkan Fasciola sp. fasciolosis. dimana larvanya berkembang menjadi kista. Infeksi terjadi dengan memakan ikan yang mengandung metaserkaria yang dimasak kurang matang. Fasciola hepatica) a. Paragonimus sp.bisa bersama feses (Fasciola chlonorcis. Morfologi dan daur hidup : Cacing dewasa hidup di saluran empedu. serkaria melepaskan ekornya dan membentuk kista didalam kulit dibawah sisik. Trematoda hati (Clornorchis sinensis. memerlukan kepiting udang sebagai intermediate host keduanya. Di dalam air. Dalam keong air telur berkembang menjadi mirisidum dan menjadi sporokista. Echinostoma ilocanum memerlukan Molusca lain. urin (Schistosoma haematobium) atau melalui sputum (paragonimus). Dalam perkembanganya memerlukan sejenis mollusca (siput air tawar) sebagai intermediate host. Telur menetas bila dimakan keong air. trematoda dibagi menjadi: 1. dan Schistosoma japonicum). Penyakit yang ditemukan di Indonesia bukan infeksi autokoton. menempelkan kistanya pada tanan air. Schistosoma mansoni. Telur dikeluarkan bersama tinja. terutama ditentukan oleh adanya mollusca sebagai host intermediate di wilayah tersebut. Clonorchis sp. terkadang juga ditemukan di saluran pankreas. memerlukan ikan air tawar. Clornorchis sinensis Cacing ini ditemukan di Cina. . Serkaria keluar dari keong air dan mencari hospes perantara II yakni ikan. Korea. Berdasarkan tempat hidup cacing dewasa. Ukuran cacing dewasa berkisar 10-25 mmx 3-5 mm bentuknya pipih lonjong. Telur yang menetas menjadi larva. Setelah menmbus masuk kedalam tubuh ikan.. Infeksi penyakit oleh trematoda di suatu daerah. Jepang. dan Vietnam. Opistorcis felineus. menyerupai daun.

Cacing dewasa berukuran 7-12 mm. perut rasa penuh. Sinensis. edema dan sirosis hati.Gambar 3 Skema Daur Hidup Clornorchis sinensis Patologi dan gejala klinis : Sejak larva masuk kedalam saluran empedu sampai menjadi dewasa. parasit ini menyebabkan iritasi pada saluran empedu dan penebalan dinding saluran. Pada keadaan lanjut dapat timbul sirosis hati disertai asites dan edema. Gejala dapat dibagi menjadi 3 stadium. diare. Infeksi terjadi dengan makan ikan yang mengandung metaserkaria dan dimasak kurang matang. b. Telur Opistorchis mirip telur C. Patologi dan gejala klinis : Kelainan yang ditimbulkan cacing ini mrip dengan C. Opistorcis felineus Morfologi dan daur hidup : Cacing dewasa hidup dalam saluran empedu dan saluran pankreas. asites. pipih dorsoventral. ikterus. Dan juga dapat terjadi peradangan pada sel hati. sinensis c. edema dan pembesaran hati. Bentuknya seperti lanset. Stadium lanjut terjadi hipertensi portal yang terdiri dari pembesaran hati. Stadium ringan tidak ditemukan gejala. mempunyai batil isap mulut dan batil isap perut. hanya bentuknya langsing. Fasciola hepatica Morfologi dan daur hidup : . Pengobatan menggunakan prazikuantel. Stadium progresif ditandai dengan penurunan nafsu makan.

. Trematoda usus ( Fasciolidae. besarnya kira-kira 30 x 13 mm. Trematoda tersebut mempunyai ukuran terbesar diantara trematoda lain yang ditemukan pada manusia. Pada bagian anterior berbentuk berbentuk seperti kerucut dan pada puncak kerucut terdapat batil isap mulut. Fasciolidae Cacing trematoda Fasciolopsis buski adalah suatu trematoda yang didapatkan pada manusia atau hewan. Telur cacing ini dikeluarkan melalui saluran empedu kedalam tinja dalam keadaan belum matang. Bila ditelan. Telur kemudian menetas dan mirasidium keluar dan mencari keong air.Cacing dewasa mempunyai bentuk pipih seperti daun. Telur menjadi matang dalam air setelah 9-15 hari dan berisi mirasidium. sedangkan pada bagian dasar kerucut terdapat batil isap perut. Saluran empedu mengalami peradangan. Heterophyidae) a. Infeksi terjadi dengan makan tumbuhan air yang mengandung metaserkaria. penebalan dan sumbatan. Serkaria keluar dari keong air dan berenang mencari hospes perantara II yaitu tumbuhan-tumbuhan air dan pada permukaan tumbuhan air dibentuk metaserkaria. metaserkaria menetas dalam lambung binatang yang memakan tumbuhan air tersebut dan larvanya masuk ke saluran empedu dan menjadi dewasa. periportal. Patologi dan gejala klinis: Menimbulkan kerusakan parenkim hati. sehingga menimbulkan sirosis 2. Echinostomatidae.

Gambar 4 Skema Daur Hidup Fasciolopsis buski Patologi dan gejala klinis: cacing dewasa Fasciolopsis buski. Echinostomatidae Biasanya cacing Echinostoma menyebabkan kerusakan ringan pada mukosa usus. seperti prazikuantel dapat dipertimbangkan. melekat dengan perantara batil isap perutnya pada permukaan mukosa usus muda seperti duodenum dan yeyenum. Warna tinja menjadi hijau kuning. Pada anak dapat menimbulkan gejala diare. akan tetapi pengunaan obat-obat yang baru yang lebih aman. Cacing ini memakan isi usus maupun permukaan mukosa usus. maupun abses. dan prazikuantel. Tetrakloroetilen adalah obat yang dianjurkan. Apabila terjadi erosi kapiler pada tempat tersebut. tukak (ulkus). maka timbul pendarahan. sakit perut. Gejala klinis awal pada masa inkubasi adalah diare dan nyeri ulu hati. niklosamid. Pada tempat perlekatan cacing tersebut terdapat peradangan. Infeksi berat menyebabkan timbulnya radang kataral pada dinding usus. dan tidak menimbulkan gejala yang berarti. Heterophyidae . anemia dan edema. b. atau ulserasi. berbau busuk dan berisi makanan yang tidak dicerna. c. Obat yang efektif untuk cacing ini adalah diklorofen.

tetapi ada beberapa ekor cacing yang dapat menembus vilus usus. Keadaan ini disebut endemic hemoptysis. Telurnya dapat menembus masuk aliran getah bening dan menyangkut di katup-katup atau otot jantung dan mengkibatkan payah jantung. Trematoda darah (Schistosoma japonicum. maka gejala dimulai dengan adanya batuk kering yang lama kelamaan menjadi batuk darah. Trematoda paru (Paragonimus westermani) Cacing dewasa hidup dalam kista di paru. serta nyeri tekan pada perut. Cacing dewasa dapat pula bermigrasi ke alat-alat lain dan menimbulkan abses pada alat tersebut (antara lain hati. Obat yang tepat diberikan adalah pirazikuantel.Penyakit yang disebabkan oleh cacing dari familia Heterophydae disebut heterofiliasis. Gambar 5 Skema Daur Hidup Paragonismus westermani 4. Gejala klinis yang ditimbulkan oleh infeksi berat cacing tersebut adalah mulas-mulas 3. otak. Schisostoma mansoni) a. Telur atau cacing dewasa dapat bersarang di jaringan otak dan menyebabkan kelainan disertai gejala-gejalanya. Schistosoma japonicum . otot. Pada infeksi cacing ini biasanya stacium dewasa menyebabkan iritasi ringan pada usus muda. Karena cacing dewasa berada dalam kista di paru. dan dinding usus) Obat terpilih yang digunakan adala prazikuantel dan bitionol. Kelainan ini terutama dilaporkan pada infeksi cacing Metagonimus dan Haplorchis yokogawai. atau kolik dan diare dengan lendir. limpa.

dan otak. japonicum dengan pemberian prazikuantel. Pengobatan dilakukan dengan pemberian prazikuantel. Mungkin terdapat gejala saraf. hidupnya di vena mesentrika superior. Patologi dan gejala klinis: Kelainan dan gejala yang ditimbulkan kira-kira sama dengan S.pada stadium II ditemukan pula simdrom disentri. tikus sawah. Gambar 6 Skema Daur Hidup Schistosoma japonicum Patologi dan gejala klinis: Kelainan tergantung dari beratnya infeksi. Pada stadium III atau stadium menahun ditemukan sirosis hati dan splenomegali. hepatomegali. Pengobatan sama dengan S. Yang memerlukan air . biasnya penderita menjadi lemah (emasiasi). Gejala intoksikasi disertai deam. paru.Hospesnya adalah manusia dan berbagai macam binatang seperti anjing. japonicum. sapi. dan eosinofilia tnggi. Pada manusia cacing ini menyebabkan skistosomiasis usus. kucing.5 cm dan yang betina kira-kira 1.9 cm. C. dan lain-lain. dan lain-lain. Schisostoma mansoni Hespes definitif adalah manusia dan kera babon di Afrika sebagai hospes reservoir. Telur ditemukan didinding usus halus dan juga di alat-alat dalam seperti hati. rusa. akan tetapi lebih ringan. Cestoda Cestoda (cacing pita) dalam siklus hidupnya ada yang memerlukan air untuk menetaskan telurnya ada yang tidak (cukup dengan tanah). paru. Kelainan pada stadium I adalah gatalgatal (utikaria). b. babi rusa. Cacing dewasa jantan berukuran 1.

sel telur tumbuh menjadi onkosfer lalu menetas menjadi korasidium.contohnya Diphyllobothrium latum sedangkan yang lainnya tidak memerlukan air. Makanan masuk ke dalam tubuh cacing karena diserap oleh permukaan sel cacing. larva tumbuh menjadi pleroserkoid yang merupakan bentuk infektif. T. Dalam hospes perantara II. misalnya Diphyllobothrium sp. merupakan penyebab penyakit difilobotriasis. Dalam air. sedangkan yang lainnya memerlukan 1 (satu) atau 2 (dua) jenis intermediate host. sehingga disebut proglotid gravida. Di belakang scolex terdapat leher.solium. seperti D. merupakan bagian cacing yang tidak bersegmen. Manusia merupakan hospes Cestoda dalam bentuk: 1. Hospes perantara I akan dimakan oleh hospes perantara II (ikan. T. Larva. sehingga proglotidnya yang paling ujung seolah-olah hanya sebagai kantung telur saja. Cestoda adalah cacing hermaprodit. Ukuran cacing dewasanya bervariasi dari yang panjangnya hanya 40 mm (misalnya Hymenolepis nana) sampai yang panjangnya 1012 meter (misalnya Taenia saginata dan Diphyllobothrium latum). Dalam penularannya kepada manusia ada yang memerlukan intermediate host misalnya Hymenolepis nana. Setiap proglotid (segmen) dilengkapi dengan alat reproduksi (jantan dan betina). Cacing ini terdiri atas scolex (atau kepala) yang berfungsi sebagai alat untuk melekatkan (kaitan) diri pada dinding intestinum. Salah satu contoh cacing kelompok ini adalah Diphyllobothrium latum. tiap proglotid memiliki alat kelamin jantan dan betina yang lengkap. Semakin jauh dari scolex proglotidnya semakin tua. Telur memiliki operkulum.solium. T. Cacing dewasa berwarna gading dengan panjang dapat mencapai 10 m dan terdiri dari 3000-4000 proglotid. Lubang genital dan lubang uterus yang terletak di tengah proglotid. Cestoda tidak mempunyai usus. Korasidium akan dimakan oleh hospes perantara I (Copepoda) dan tumbuh menjadi proserkoid.saginata. kodok). Penyakit ini umumnya tidak menyebabkan gejala berat. Latum.nana 2. Cacing dewasa. semakin banyak yang menyebabkan cacing menjadi semakin panjang dan bersegmen-segmen. H. H. yaitu embrio dengan banyak silia. berisi sel telur yang dikeluarkan bersama tinja. Pseudophyllidea (Diphyllobothrium latum) Kelompok cacing ini memiliki skoleks dengan dua lekuk isap. Gejalan yang ditimbulkan umumnya ..nana Cestoda dapat dibagi menjadi 2 kelompok : 1. Di belakang leher tumbuh proglottid yang semakin lama.

banyak binatang sebagai reservoar. Pengerutan dan perentangan larva menyebabkan peradangan dan edema jaringan sekitarnya. atau babi perlu diperhatikan. larva ditemukan di seluruh bagian badan. tidak nafsu makan. dan hiperesinofilia. dapat diberikan Atabrin dalam perut keadaan kosong disertai pemberian Natrium bikarbonat 0. umumnya di negara yang banyak mengonsumsi ikan salem mentah atau kurang matang. urtikaria raksasa yang timbul secara periodik. sparganum dapat mengembara di otot dan fasia. tetapi larva tidak tumbuh menjadi dewasa. Infeksi pada bola mata sering terjadi di . Dalam tubuh manusia. daerah inguinal. atau sumbatan usus secara mekanik akibat cacing. Obat pilihan adalah Niclosamid dikunyah sekaligus setelah makan hidangan ringan. toraks. dan dada bagian dalam.5 g. jaringan otot. Larva yang rusak dapat menyebabkan peradangan lokal yang dapat menjadi nekrosis. kulit. seperti anjing. Gambar 7 Skema Daur Hidup Diphyllobothrium latum Larva pleroserkoid dari beberapa spesies cacing pita golongan Diphyllobothrium dapat menyebabkan penyakit sparganosis. perut. Epidemiologi penyakit ini tidak tersebar di Indonesia. Untuk pengobatan. demam. Penderita dapat menunjukkan sakit lokal. kucing. terutama di mata. Pada manusia.dan kemerahan yang disertai dengan menggigil.diare. Selain itu. edema. anemia. paha.

dan strobila yang merupakan rangkaian ruas-ruas proglotid sebanyak 1000-2000 buah. Gejala yang lebih berat terjadi apabila proglotid sampai masuk ke apendiks. terdiri dari skoleks. a. Panjang cacing dapat mencapai 4-12 meter. Cacing pita yang umumnya tersebar di Indonesia adalah Taenia saginata dan Taenia solium. Lubang kelamin terdapat di pinggir proglotid. Cyclophyllidea (Taenia saginata. mual. seperti sakit ulu hati. Gejala ini disertai dengan ditemukannya proglotid cacing yang hidup pada dubur dengan atau tanpa tinja. Skoleks tidak memiliki kait.Asia Tenggara. Taenia saginata Cacing ini merupakan cacing pita berukuran panjang dan besar. Hospes perantara dari cacing ini adalah sapi/kerbau. Taenia solium) Kelompok cacing ini memiliki skoleks dengan empat batil isap dan dilengkapi rostelum (penonjolan di skoleks) dengan atau tanpa kait. Gambar 8 Skema Sparganosis 2. dapat unilateral atau bilateral selang-seling. menyebabkan konjungitivitis disertai bengkak dengan lakrimasi dan ptosis. muntah. Cacing kelompok ini dikenal dengan nama umum cacing pita. pusing atau gugup. leher. Patologi Klinis: Cacing dewasa dari spesies ini dapat menyebabkan gejala klinis ringan. atau terdapat ileus yang disebabkan obstruksi usus .

Patologi Klinis: Cacing dewasa penyebab taeniasis solium umumnya seekor tidak menyebabkan gejala klinis berarti. sistiserkus atau larva Taenia solium sering menghinggapi jaringan subkutan. jaringan otak. Gambar 9 Skema Daur Hidup Taenia saginata dan Taenia solium . akan tetapi sewaktu-waktu terdapat pseudohipertrofi otot. demam tinggi. otot jantung. dan rongga perut. mata. paru-paru. Meskipun sering dijumpai. otot. disertai gejala miositis. atau pembedahan. Pengobatan penyakit taeniasis dapat digunakan prazikuantel dan sistiserkosis digunakan obat prazikuantel. b. hati. Pada manusia. Cacing ini memiliki panjang 2-4 meter dan dapat mencapai 8 meter. Cacing ini seperti Taenia saginata. dan eusinofilia. Hospes perantara cacing ini adalah manusia dan babi. Untuk mengatasi taeniasis saginata. Taenia solium Cacing ini merupakan penyebab penyakit taeniasis solium dan sistiserkosis.oleh strobila cacing. albendazol. Gejala klinis yang lebih berarti disebabkan oleh larva dan disebut sistiserkosis. obat yang digunakan kini adalah prazikuantel dan albendazol. kalsifikasi pada sistiserkus tidak menimbulkan gejala.

Ascaris lumbricoides (cacing gelang) 2. Onchocerca volvulus / `Filaria volvulus DEC (dietilkarbamazin sitrat). Loa loa 4. mebendazol. pirantel pamoat. Trichinella spiralis Nematoda jaringan 1. ivermektin ivermektin . pirvinium pamoat. Ancylostoma duodenale (cacing tambang) 4. Berikut adalah pengobatan dari beberapa infeksi yang disebabkan oleh cacing yang berbeda. Wuchereria bancrofti 2. ivermektin DEC (dietilkarbamazin sitrat). No 1 Penggolonga n Nematoda Klasifikasi Nematoda usus Contoh cacing 1. albendazol. mebendazol. Necator americanus (cacing tambang) 3. Oxyuris vermicularis (cacing kremi) Obat Perorangan: piperasin. oksantel pamoat piperazin. ivermektin DEC (dietilkarbamazin sitrat). Strongiloides stercoralis 6. albendazol Massal: oksantelpirantel pamoat Pirantel pamoat Mebendazol. Pengobatan secara periodik memberikan prognosis yang baik 7. Brugia malayi. Trichuris trichiura (cacing cambuk) 5.BAB III PEMBAHASAN Antelmintik atau obat cacing adalah obat yang dapat memusnahkan cacing dalam tubuh manusia dan hewan. Brugia timori 3.

niklosamid Obat baru: prezikuantel Obat tradisional: biji labu merah. Obat-Obat untuk Infeksi Cacing No Jenis Infeksi Obat Pilihan I Obat Pilihan II . Diphyllobothrium latum 2. afabrin + na. Sparganosis Cyclophyllidea 1. aodiakuin. Taenia solium Prezikuantel Diklorofen.bicar 0. Niklosamid Piperazin sitrat. 4 tab (2g) sekaligus 3. albendazol atau pembedahan Tabel 2. Tiabendazol Mebendazol . Schistosoma japonicum atau Bilharzi 2. Pirantel pamoat Mebendazol Ivermektin Prazikuantel. Clornorchis sinensis Opithorchis felineus Opithorchis viverini Fasciola hepatica Fasiolopsis buski 1.stercolaris T. 3. Niklosamid Prazikuantel. 2 3 4 5 6 7 Askaris Cacing kremi Cacing tambang T. Paragonimus westermani 1. albendazol Albendazol Albendazol Albendazol Albendazol.solium T. 4. 1. niklosamid. Taenia saginata 2. nclosamid. prezikuantel Prezikuantel. 4 jam4 dosis) 4. bitionol pengobatan massal dengan prazikuantel 1.5 mg 2. Schistosoma mansoni 1.trichiura S. saginata Pirantel pamoat. biji pinang Prazikuantel utk sistiserkus. pirantel pamoat Mebendazol. 1. praziquantel Pembedahan dan pengangkatan larva Obat lama: kuinakrin. 2. mebendazol Mebendazol.2 Trematoda Trematoda hati Trematoda usus Trematoda paru Trematoda darah 3 Cestoda Pseudophyllidea 1. paromisin (1 g.

2. B. volvulus S. Makanan berlemak meningkatkan absorbsi 4x lebih besar dibanding perut kosong. Ivermektin merupakan obat alternatif untuk pasien yang tidak tahan atau tidak mempan terhadap thiambidazole. Farmakokinetik : Secara PO obat ini diserap secara tidak teratur oleh usus.mansoni S. Albendazol Merupakan obat cacing derivat benzimidazol berspektrum lebar yang dapat diberikan per oral. 1. Ekskresi melalui ginjal. Stercoralis. Obat ini cepat dimetabolisme terutama menjadi albendazole sulfoksida suatu metabolit aktif yang sebagian besar dieksresi dalam urin dan sedikit lewat feses. Dietilkarbamazin Merupakan obat pilihan pertama untuk filariasis. cacing S. Obat berefek terhadap mikrofilaria di jaringan dan embriogenesis pada cacing betina. Farmakodinamik : Obat ini bekerja dengan cara memperkuat peranan GABA pada proses transmisi di saraf tepi. bancrofti. Farmakokinetik : Ivermektin dihasilkan melalui proses fermentasi dari streptomysces avermitillis. Ivermektin Obat ini digunakan untuk pengobatan terhadap onchocerciasis dan strongyloidiasis.8 9 10 11 12. 3. cacing trikuris.japonicum Dietilkarbamazin Ivermektin Prazikuantel Prazikuantel Prazikuantel Metrifonat Oksamnikuin Penjelasan mengenai beberapa obat dijelaskan sebagai berikut. malayi dan Loa loa dari peredaran darah dengan cepat. Efek antelmintik : Dietilcarbamazin menyebabkan hilangnya mikrofilaria W. Farmakodinamik : Obat ini bekerja dengan cara berikatan dengan β-tubulin parasit sehingga menghambat polimerisasi mikrotubulus dan memblok pengambilan glukosa. Farmakokinetik : Dietil carbamazin cepat diabsorbsi dari usus dan didistribusikan ke seluruh cairan tubuh. sehingga cacing mati pada keadaan paralisis. dan cacing tambang. Obat ini tidak melewati sawar otak kecuali bila ada meningitis. Filaria O.haematobium S. eksresi berkurang pada urin alkali. cacing gelang. Prazikuantel . Dosis tunggal efektif untuk infeksi cacing kremi. dalam bentuk utuh dan bentuk metabolit. 4.

5. Niklosamid tidak mengganggu fungsi hati. cacing tambang Amerika (Necator americanus) dan cacing cambuk (Trichuris trichiura) pada infeksi parasit tunggal atau campuran. Kontraindikasi : pertimbangan Standard. Metabolisme berlangsung cepat di hati sehingga terbentuk produk yang efek antelmintiknya kurang aktif. Cacing kremi: Dewasa & Anak: PO 100 mg sebagai dosis tunggal. 7. Niklosamid cukup aman untuk pasien hamil. Infeksi Ascaris: Dewasa & Anak: dosis Alternatif: PO 500 mg sebagai dosis tunggal. hydantoins (misalnya fenitoin): Efek farmakologis dari mebendazole mungkin akan menurun. Ekskresi sebagian besar melalui urin dan sisanya melalui empedu. sehingga depleting glikogen yang tersimpan. parasit tidak dapat mereproduksi atau bertahan. Indikasi : Pengobatan cacing kremi (Enterobius vermicularis). Route / Dosis : Trichuriasis. Niklosamid Obat ini digunakan untuk mengobati cacing pita pada manusia dan hewan. Farmakokinetik : Pada pemberian oral absorbsinya baik. 6. Cacing yang dipengaruhi akan dirusak sehingga sebagian skoleks dan segmen dicerna dan tidak dapat ditemukan lagi dalam tinja. Laktasi: belum ditentukan. Anak-anak: Keamanan dan kemanjuran pada anak <2 tahun tidak didirikan. Interaksi : Carbamazepine. Mebendazole Mekanisme : menewaskan cacing parasit dengan menghalangi penyerapan glukosa. cacing tambang umum (Ancylostoma duodenale). ginjal dan darah dan tidak mengiritasi lambung. cacing bulat (Ascaris lumbricoides). Thiabendazole .Prazikuantel merupakan antelmentik berspektrum lebar dan efektif terhadap cestoda dan trematoda pada hewan dan manusia. Ascariasis dan cacing tambang Infeksi : Dewasa & Anak: PO 100 mg tablet AM dan PM pada 3 hari berturut-turut. Tanpa glikogen. Kehamilan: Kategori C. LAIN: Demam. GI: nyeri perut dan diare Transient.

limfadenopati). demam. trichuriasis (cacing cambuk) dan ascariasis (cacing gelang besar). rying dari membran mukosa.5 g / bid dosis (maksimal 3 g / hari). Visceral Larva Migrans 2 dosis sehari selama 7 hari berturut-turut. mual. kenaikan sementara di cephalin flokulasi dan AST. pengentasan gejala cacingan selama fase invasif.6 kg (30 lb) tidak didirikan. Uncinariasis. migrans cutaneous larva (merayap letusan) dan larva migrans viseral sendiri atau bersama dengan cacing kremi (cacing kremi). angioedema. HEPA: Penyakit kuning.6-68 kg): PO 10 mg / lb / dosis (22 mg / kg / dosis) (maksimal 3 g / hari). Obat tidak boleh digunakan sebagai profilaksis. Peringatan : Kehamilan: Kategori C. EENT: Tinnitus. GI: Anorexia. runtuh. diare. siram wajah. Dicampur dengan infeksi Ascaris lumbricoides: thiabendazole dapat menyebabkan cacing-cacing ini untuk bermigrasi. Efek samping : CV: Hipotensi. distress epigastrium. kelelahan. anafilaksis. muntah. kristaluria. Kontraindikasi : pertimbangan Standard. sensasi abnormal pada mata. kolestasis. DEWASA & ANAK 30-150 LB (13. eritema multiforme. mengantuk. GU: Hematuria. ruam kulit. mengaburkan visi. Anak-anak: Keamanan dan kemanjuran pada anak-anak dengan berat <13. sakit kepala. HEMA: leukopenia Transient. Trichuriasis. enuresis. hiperiritabilitas. Terapi sekunder untuk uncinariasis (cacing tambang: Necator americanus dan Ancylostoma duodenale). kejang. menggigil. . Laktasi: Tidak diketahui. Route / Dosis : DEWASA ³ 150 LB (68 kg): PO 1. penampilan ascaris hidup di mulut dan hidung. menekan telur atau larva produksi dan dapat menghambat perkembangan selanjutnya dari telur atau larva yang lulus dalam tinja. injeksi konjungtiva (mata merah). SSP: Pusing. Indikasi : Pengobatan strongyloidiasis (infeksi threadworm).Mekanisme kerja : Menghambat cacing spesifik enzim fumarat reduktase. pusing. mati rasa. Ascariasis. xanthopsia. LAIN: hipersensitivitas reaksi (pruritus. Interaksi : Xanthines: thiabendazole dapat meningkatkan konsentrasi serum teofilin ke tingkat yang berpotensi beracun. Trichinosis 2 dosis harian selama 2-4 hari berturut-turut. kerusakan hati parenkim. Strongyloidiasis. Cutaneous Larva Migrans 2 dosis setiap hari selama 2 hari berturut-turut (mungkin mengulang untuk beberapa indikasi).

Piperazin Efek Antelmintik: Cacing umumnya keluar 1-3 hari setelah pengobatan dan tidak diperlukan pencahar untuk itu. Levamisol kini digunakan sebagai imunostimulan pada manusia sebagai terapi ajuvan penyakit-penyakit imunologik termasuk keganasan. 10. Piperazin bekerja sebagai agonis GABA pada otot cacing. Pirantel pamoat dan analognya menimbulkan depolarisasi pada otot cacing dan meningkatkan frekuensi impuls. . 8.Terapi suportif: pasien anemia. dan A. Levamisol bekerja dengan memperbaiki mekanisme pertahanan seluler dan memacu pematangan limfosit T. 9.duodenale. dan cacing tambang. Obat diekskresi melalui urin berlangsung 24 jam. cacing kremi. Pirantelpamoat Efek Antelmintik: digunakan terutama untuk memberantas cacing gelang. Piperazin dapat mengganggu permeabilitas membran sel terhadap ion-ion yang berperan dalam mempertahankan potensial istirahat sehingga menyebabkan hiperpolarisasi dan supresi impuls spontan disertai paralisis: Farmakokinetik: Penyerapan piperazin di saluran cerna baik. Levamisol Dulu. Trichostrongylus. obat ini digunakan pada infeksi cacing Ascaris. sehingga cacing mati dalam keadaan spastis. dehidrasi atau kekurangan gizi mungkin perlu terapi bersamaan untuk membalikkan kondisi ini. Farmakokinetik: Absorpsinya sedikit melalui usus dan sifat ini yang memperkuat efek yang selektif terhadap cacing. Ekskresi sebagian melalui tinja dan kurang dari 15% diekskresikan melalui urin dalam bentuk uth dan metabolitnya. Ekskresi melalui urin dalam bentuk utuh sebanyak 20%.

BAB IV KESIMPULAN Infeksi cacing masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Cacing yang biasanya menginfeksi manusia terbagi menjadi tiga kelas. Berbagai macam obat yang digunakan untuk mengobati infeksi cacing. diantaranya Nematoda. Trematoda dan Cestoda. Penggunaan antihelmintik perlu untuk memberantas dan mengurangi cacing dalam lumen usus atau jaringan tubuh. .

541-550. P. 94-96 6. Informasi Spesialite Obat Volume 48. Tatro . 4.DAFTAR PUSTAKA 1. 2013-2014. h. Brooks. Atlas of Medical Helminthology and Protozoology.. h.B. Jakarta: FKUI. Parasitologi Kedokteran Edisi 3. et al. h. 5. et al.. L. Jakarta : ISFI.GF. Mikrobiologi Kedokteran Edisi 20. 2007.David S.L. 1-35. 1-105. 670-682. Syarif. . . Chiodini. 2003. h. London: Churchill Livingstone. et al.. 2003. h. et al. 3. A to Z Drug Facts. Janet S. USA. 1998. Gandahusada. Amir. Facts and Comparisons. 1995. Jakarta : EGC. Nicholas Ornston. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta : Badan Penerbit FKUI. S. 2.