You are on page 1of 9

Ulat Krop

Crocidolomia binotalis Z. (Lep: Pyralidae)

Classification
Kingdom
Phylum
Sub-phylum
Class
Order
Super-family
Family
Genus
Species

: Animalia
: Arthropoda
: Hexapoda
: Insecta
: Lepidoptera
: Pyraloidae
: Crambidae
: Crosidolomia
: Crosidolomia binotalis

Morfologi dan Biologi

Telur
Diletakkan dalam kelompok menyerupai
genting-genting rumah berwarna hijau.
Dapat ditemukan di permukaan daun,
tepi daun dan dekat tulang daun.
Jumlah telur rata-rata 48 butir dengan
ukuran 2,6mm sampai dengan 4,3mm.
Stadia telur berlangsung selama 3
sampai 6 hari.

Sastrosiswojo dkk. 2005. Penerapan Teknologi PHT tanaman Kubis

Morfologi dan Biologi


Larva
Berwarna hijau kecoklatan dan terdiri dari 5
instar.
Pada bagian sisi dan atasnya terdapat garis
putih.
Pada instar ke-4 dan 5 memiliki ukuran 2cm.
Memiliki sifat malas dan selalu menghindari
cahaya matahari.
Stadia larva berlangsung selama 11-17 hari
dengan suhu udara 26-33C.

Morfologi dan Biologi

Pupa
Terjadi pada permukaan tanah.
Berwarna kuning kecokelatan dengan
ukuran lebar 3mm dan panjang 10mm
Stadia larva berlangsung selama 9-13
hari dengan suhu 26-33C.

Sastrosiswojo dkk. 2005. Penerapan Teknologi PHT tanaman Kubis

Morfologi dan Biologi


Serangga Dewasa
Memiliki warna dada hitam dan pada
bagian
perut
berwarna
coklat
kemerahan.
Panjang tubuh rata-rata serangga
jantan 10,4cm dan betina 9,6cm.
Aktif pada malam hari.
Sayap
depan
ngengat
jantan
mempunyai rumbai yang berwarna gelap
pada bagian tepi depan (anterior).

Daerah Sebaran dan Ekologi


C. binotalis umum dijumpai pada pertanaman kubis, baik
yang diusahakan maupun pada tanaman kubis liar. Di pulau Jawa,
C. binotalis dijumpai menyerang kubis, baik di perbukitan maupun
di dataran rendah. C. binotalis merupakan hama utama kedua
setelah P. xylostella pada tanaman kubis. Dua jenis hama tersebut
seringkali didapatkan saling bergantian menempati kedudukan
sebagai hama utama pada tanaman kubis. Daerah sebar C.
binotalis dilaporkan di Asia Selatan dan AsiaTenggara, Australia,
Afrika Selatan, Tanzania, dan kepulauan Pasifik (Kalshoven 1981).
Menurut hasil penelitian Oever (1973), Sudarwohadi
(1975), dan Thayib (1983) di KP Segunung, puncak populasi telur
terjadi pada bulan Februari, Mei dan Juli-Agustus. Puncak populasi
larva terjadi pada bulan Maret, Juni dan Agustus. Hal ini
menunjukkan adanya korelasi negatif antara populasi larva C.
binotalis dengan tinggi/rendahnya curah hujan. Pada tanaman
kubis, populasi larva meningkat mulai dua minggu setelah tanam
dan mencapai puncaknya pada umur enam sampai delapan
minggu setelah tanam lalu menurun sampai saat panen kubis.

Tanaman inang dan Gejala Kerusakan


Tanaman inang C. binotalis adalah berbagai
jenis kubis seperti kubis putih, kubis bunga, petsai,
brokoli, dan lain-lainnya. Selain itu tanaman turnip,
radis, sawi jabung, dan selada air juga merupakan
inang C. binotalis (Sastrosiswojo 1987).
Larva muda bergerombol pada permukaan
bawah daun kubis dan meninggalkan bercak putih
pada daun yang dimakan. Larva inster ke-3 sampai
ke-5 memencar dan menyerang pucuk tanaman
kubis, sehingga menghancurkan titik tumbuh.
Akibatnya, tanaman mati atau batang kubis
membentuk cabang dan beberapa krop berukuran
kecil (Sastrosiswojo 1987). Serangan hama C.
binotalis pada tanaman kubis yang sudah
membentuk krop akan menghancurkan krop atau
menurunkan kualitas krop, sehingga kubis tidak
laku dijual (Gambar 5).

Thank you

Gracias

Terimakasih