You are on page 1of 18

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam ilmu psikologi perkembangan, menjelaskan pertumbuhan dan perkembangan
manusia sejak dalam rahim (masa prenatal) sampai pada masa tua. Untuk menunjang ilmu
ke PLB-an, kami perlu mendalami ilmu psikologi perkembangan karena ketika kami kelak
terjun kemasyarakat sebagai seorang pendidik, yang kami hadapi adalah anak-anak yang
masih aktif sekolah seperti PAUD, TK, SD, SMP DAN SMA.
Mengingat pendidikan itu sangat penting, maka pendalaman ilmu pun harus lebih
ditingkatkan. Oleh karena itu, dalam makalah ini kami akan membahas tentang
perkembangan anak pra sekolah. Dimana, makalah ini akan menjadi acuan pada
pembelajaran psikologi perkembangan khususnya pada materi anak pra-sekolah.
B. Rumusan Masalah
Adapun masalah-masalah yang dimuat dalam makalah ini adalah:
1. Bagaimanakah perkembangan-perkembangan (fisik, psikomotorik, kepribadian,
moral, emosi, intelektual dan sosial) yang dialami anak pra-sekolah?
2. Bagaimanakah perkembangan seni rupa anak pra-sekolah yang dituangkan melalui
gambar (menggambar)?
3. Bagaimanakah

kondisi

anak

pra-sekolah

dalam

lingkungan

keluarga?

C. Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah?
1. Untuk mengetahui perkembangan-perkembangan mulai dari perkembangan fisik,
psikomotorik, emosi, intelektual, moral serta sosial anak pra-sekolah.
2. Untuk mengetahui perkembangan seni rupa anak pra-sekolah yang dituangkan
melalui gambar (menggambar).
3. Untuk mengetahui kondisi anak pra-sekolah didalam keluarga.

1 | PS I KO LO G I PE RK E M BAN GAN-ANAK PRA S E KO L AH

BAB II
PEMBAHASAN

A. Anak Usia Prasekolah


1. Pengertian
Anak prasekolah adalah mereka yang berusia anatara tiga sampai empat tahun
( Patmonodewo,1995 ) . Anak prasekolah adalah yang mempunyai berbagai macam
potensi . Potensi potensi itu dirangsang dan dikembangkan agar pribadi anak
tersebut berkembang secra optimal. Tertunda atau terhambatnya perkembangan
potensi potensi itu akan mengakibatkan timbulnya masalah. Taman kanak kanak
adalah salah satu bentuk pendidikan prasekolah yang menyediakan program
pendidikan dini bagi anak usia anak empat tahun sampai memesuki pendidikan dasar (
Supartini, 2004 ).
Masa prasekolah menurut Munandar ( 1992 ) merupakan masa masa untuk
bermain dan memasuki taman kanak kanak. Waktu bermain merupakan sarana
untuk tumbuh dalam lingkungan dan kesiapannya dalam belajar formal ( Gunarsa,
2004 ). Pada tahap perkembaagan anak usia prasekolah ini, anak mulai menguasai
berbagai keterampilan fisik, bahasa, dan anak pun mulai memiliki rasa percaya diri
untuk mengeksplorasi kemandiriannya ( Hurlock, 1997 ).
Menurut Hurlock (1997) cirri-ciri anak usia prasekolah meliputi fisik, motorik,
intelektual, dan social. Ciri fikik anak prasekolah yaitu otot-otot lebih kuat dan
pertumbuhan tulang menjadi besar dan keras. Anak prasekolah menggunakan gerak
dasar seperti berlari, berjalan, memanjat, dan melompat sebagai bagian dari
permainan mereka. Kemudian secara motorik anak mampu memanipulasi objek kecil,
menggunakan balok-balok dan berbagai ukuran dan bentuk. Selain itu juga tidak
memiliki rasa ingin tahu, rasa emosi, iri, dan cemburu. Hal ini timbul karena anak
tidak memilikihal-hal yang dimiliki oleh teman sebayanya. Sedangkan secara social
anak mampu menjalani kontak social dengan oang-orang yang ada diluar rumah,
sehingga anak mempunyai minat yang lebih untuk bermain pada temannya, orangorang dewasa, saudara kandung di dalam keluarganya.

2 | PS I KO LO G I PE RK E M BAN GAN-ANAK PRA S E KO L AH

2. Perkembangan setelah tahun pertama


Perkembangan sesudah satu tahun pertama di tandai oleh beberapa prosesproses yang sangat fundamental. Misalnya perkembangan sosial dan perkembangan
kepribadian ditandai oleh perkembangan tingkah laku lekat. Tingkah laku lekat harus
tumbuh dan menjadi stabil sebagai stuktural tingkah laku yang akan datang.
Secara singkat ada 8 tanda-tanda esensial atau kemajuan-kemajuan yang dapat
disebutkan dalam perkembangan seorang anak antara akhir tahun pertama dan
permulaan usia 4 tahun. Berikut 8 tanda-tanda atau kemajuan-kemajuan tersebut.
1. Pada permulaan periode pertama anak sudah mulai bisa duduk, berdiri, dan
berjalan dengan bantuan. Bila anak mencapai usia 4 tahun ia dapat meloncatloncat, memanjat dan merangkak. Dalam hal motorik praktis ia dapat mandiri.
2. Pada anak usia 4 tahun maka tangan dan mata bekerja sama dalam koordinasi yang
baik. Dan pada usia itu tangan anak merupakan alat untuk mengadakan eskplorasi.
3. Pada usia 4 tahun anak sudah dapat berbahasa. Ia sudah bisa mengambil bagian
dalam percakapan sehari-hari di dalam keluarga, begitu juga dengan teman
sebayanya.
4. Pada periode ini, anak mulai mengetahui benda menurut warna, nama benda, dan
juga dapat membedakan antara suara keras dan lembut, serta banyak menanyakan
hal-hal yang belum ia ketahui.
5. Pada usia 4 tahun anak juga sudah mengerti ruang dan waktu. Di mana dia sedang
berada, mengerti akan siang dan malam hari, serta ia sudah bisa menyisir rambut
sendiri,mengenakan baju dan mengambil barang dari lemari.
6. Pada usia 4 th anak juga sudah bisa mengerti norma-norma baik, buruk mana
yang boleh dilakukan dan mana yang tak boleh dilakukan.
7. Pada masa ini pula anak sudah mampu merencanakan sesuatu yang akan di
lakukannya di hari mendatang.
8. Dan pada masa usia 4th anak juga sudah mulai menginginkan berada di tengattengah keluarga atau orang dewasa.
3. Perkembangan Fisik
Tinggi dan berat badan
* Pertumbuhan pesat
* Rata-rata anak bertambah tinggi 6,25 cm/th bertambah berat 2,5 3,5 kg/th
* Pada usia 6 tahun, berat harus kurang lebih mencapai tujuh kali berat pada waktu
lahir.
* Postur tubuh anak pada masa kanakkanak awal:
- berbentuk gemuk (endomorfik),
- berotot (mesomorfik), dan
3 | PS I KO LO G I PE RK E M BAN GAN-ANAK PRA S E KO L AH

- relatif kurus (ektomorfik).


* Tulang dan otot anak mengalami tingkat pengerasan yang bervariasi.
4. Perkembangan Motorik
Motorik Kasar
Usia 3 4 th : belajar sepeda roda tiga dan berenang
Usia 5 atau 6 th : belajar melompat dan berlari cepat, dan mereka sudah dapat
memanjat. Sebagian besar anak-anak sudah pandai melempar dan menangkap bola.
Keterampilan : lompat tali, keseimbangan tubuh dalam berjalan di atas dinding atau
pagar, sepatu roda, bermain sepatu es, menari.
Motorik Halus
Ketrampilan : menggunting, dapat membentuk tanah liat, bermain membuat kue-kue
dan menjahit, mewarnai dan menggambar dengan pinsil atau krayon.
Sudah dapat menggambar orang.
5. Perkembangan Intelektual
1. Perkembangan kognisi
(Piaget) pada usia 2 sd 7 th disebut : tahap perkembangan praoperasional.
ciri-ciri :
a) Anak mulai menguasai fungsi simbolis;
b) Terjadi tingkah laku imitasi;
c) Cara berpikir anak egosentris;
d) Cara berpikir anak centralized, Cara berpikir seperti ini dikatakan belum
menguasai gejala konservasi.
e) Berpikir tidak dapat dibalik;
f) Berpikir terarah statis.
2. Perkembangan bahasa dan bicara
Menurut Karl Buhler ada tiga faktor yang menentukan dalam teori bahasa, yakni:
1. Kundgabe (pemberitahuan, pengumuman) Ada dorongan yang merangsang
anak untuk memberitahukan isi kehidupan batiniah yaitu pikiran, perasaan,
kemauan, harapan, fantasi sendiri dan lain sebagainya kepada orang lain.
4 | PS I KO LO G I PE RK E M BAN GAN-ANAK PRA S E KO L AH

2. Auslosung (pelepasan) Ada dorongan yang kuat pada anak untuk melepaskan
kata-kata dan kalimat-kalimat.
3. Darstellung (penyampaian, pemaparan) Anak ingin mengungkapkan segala
sesuatu yang menarik hati dan memikat perhatiannya (Zulkifli, 2000).
Menurut Karl Buhler seorang anak harus mengalami tiga fungsi bahasa di atas
yang akhirnya sampai pada Darstellung dengan syarat apabila lingkungan
memberikan masukan pada anak tersebut, karena perkembangan bahasa anak
dipengaruhi imitasi.
# Permulaan Bicara : Meraban (mengoceh)
Suara pertama yang dilakukan anak adalah jerit tangis saat dilahirkan.
Tangisan pertama ini berguna untuk memungkinkan anak dapat bernafas, karena
mulai saat itu anak harus bernafas sendiri. Tangis menunjukkan keadaan yang
senang tetapi ocehan menunjukkan rasa senang dan kepuasan.
Menurut Van Ginneken adalah suara-suara yang pertama kali dikeluarkan
adalah huruf hidup atau huruf-huruf vocal yaitu : a, I, u, e, o. Dan menurut Buhler
huruf mati atau konsonan-konsonan yang pertama diucapkan adalah b,p,n,k,g,r dan
yang paling sering kita dengar bahwa anak dalam mencoba-coba mengucapkan
macam-macam huruf r r r.
Meraban atau mengoceh dimulai sekitar umur 3 bulan. Tingkah laku
meraban atau mengoceh ini berlangsung sampai umur 9 atau 12 bulan. Dengan
ocehan dapat dapat dinyatakan perasaan-perasaan positif. Mulai umur 6 bulan
ocehan itu mempunyai fungsi komunikatif anak tidak sekedar mengoceh begitu
saja. Tetapi ocehan tersebut sudah jelas merupakan reaksi terhadap orang lain.
Seorang anak akan berhenti sebentar dari ocehannya terjadi pada usia 5
bulan dan akan mengoceh lagi pada usia 6 bulan jadi waktu istirahat selama kurang
lebih 4 minggu, mulai saat inilah ocehan dianggap mempunyai nilai yang
komunikatif/lebih bermakna.

Perkembangan bahasa terbagi atas dua periode besar yaitu periode


prelinguistik (0-1 tahun) dan linguistik (1-5 tahun). Mulai periode linguistic inilah
anak mengucakkan kata yang pertama.
Periode linguistic terbagi atas tiga fase besar, yaitu :

5 | PS I KO LO G I PE RK E M BAN GAN-ANAK PRA S E KO L AH

1. Fase satu kata atau holofrase


Pada fase ini anak mempergunakan satu kata untuk menyatakan pikiran yang
kompleks, baik yang berupa keinginan, perasaan atau temuannya tanpa
perbedaan yang jelas. Misalnya kata duduk, bag: anak dapat berarti saya mau
duduk, atau kursi tempat duduk, dapat juga berarti mama sedang duduk.
2. Fase lebih dari satu kata

Fase dua kata muncul pada anak berusia sekkar 18 bulan. Pada fase ini anak
sudah dapat membuat kalimat sederhana yang terdiri dari dua kata, yaitu kata
pivot dan kata terbuka. Kata pivot sering diucapkan anak-anak sedangkan kata
terbuka tidak sering dipakai oleh anak. Contohnya : kata pivot gi(pergi) dan
kata terbuka susu. Jadi dapat berarti bahwa anak tdak mau minum susu lagi.
Setelah dua kata, muncullah kalimat dengan tiga kata, diikuti oleh empat kata
dan seterusnya. Pada periode ini bahasa yang digunakan oleh anak tidak lagi
egosentris atau untuk dirinya sendiri tetapi mulailah mengadakan komunikasi
dengan orang lain secara lancar. Orang tua mulai melakukan tanya jawab
dengan anak secara sederhana. Anak pun mulai dapat bercerita dengan
kalimat-kalimatnya sendiri yang sederhana
3. Fase ketiga adalah fase diferensiasi

Periode terakhir dari masa balita yang berlangsung antara usia dua setengah
sampai lima tahun. Keterampilan anak dalam berbicara mulai lancar dan
berkembang pesat. Dalam berbicara anak bukan saja menambah kosakatanya
yang mengagumkan akan tetapi anak mulai mampu mengucapkan kata demi
kata sesuai dengan jenisnya, terutama dalam pemakaian kata benda dan kata
kerja. Anak telah mampu mempergunakan kata ganti orang saya untuk
menyebut dirinya, mampu mempergunakan kata dalam bentuk jamak, awalan,
akhiran dan berkomunikasi lebih lancar lagi dengan lingkungan. Anak mulai
dapat mengkritik, bertanya, menjawab, memerintah, memberitahu dan bentukbentuk kalimat lain yang umum untuk satu pembicaraan gaya dewasa.
Sekarang ada kemungkinan untuk menyelidiki seberapa jauh anak
mampu untuk menirukan bahasa orang dewasa. Disini harus dibedakan adanya
2 macam peniruan:
1. Peniruan spontan bahasa orang lain, biasanya bahasa orang tua;
6 | PS I KO LO G I PE RK E M BAN GAN-ANAK PRA S E KO L AH

2. Peniruan yang dilakukan anak sesudah anak menerima tugas untuk


melakukan itu.
Anak lebih pandai untuk mengadakan imitasi daripada mengerti kalimat dan
bahwa kecakapan untuk mengerti tadi lebih tinggi daripada kecakapan untuk
memproduksi kalimat-kalimat sendiri.
Menirukan

Mengerti

Memproduksi

6. Perkembangan Emosi
a. Sejak dini, anak kecil sudah mampu merasa dan mengekspresikan emosinya, seperti
senang, marah, susah, dan takut.
b. Pada tahun-tahun berikutnya, anak mengalami emosi lain seperti malu, rasa
bersalah, dan bangga.
c. Pada masa prasekolah, anak tidak hanya mengembangkan emosi-emosi tersebut,
tetapi juga cara mengendalikannya.
d. Pada masa ini juga, anak sudah mampu menggunakan bahasa untuk memberi nama
pada emosi yang dialami. Misalnya mengatakan saya takut.
e. Mengembangkan Secure Attachment sbg modal eksplorasi.
7. Perkembangan kepribadian dan perkembangan sosial
a. Tingkah laku lekat sesudah umur satu tahun
Tingkah laku lekat pada anak dapat ditinjau dari dua segi. Yang pertama,
tingkah laku lekat terbentuk karena proses belajar. Yang kedua, menyatakan bahwa
tingkah laku lekat merupakan cirri khas manusia. Tingkah laku lekat merupakan
kecenderungan dasar pada anak yang sudah ada sebelum proses-proses belajar
7 | PS I KO LO G I PE RK E M BAN GAN-ANAK PRA S E KO L AH

terjadi. Menurut Hartup (1973, h. 17), tingkah laku lekat dapat dipandang sebagai
sifat yang structural dari hubungan ibu dan anak.
Ada dua teori tentang tingkah laku lekat pada tahun pertama.
- Teori diferensiasi
Teori ini berdasarkan pendapat Bowlby (1951). Meurut Bowlby ibulah yang
dipandang sebagai figure sentral bagi anak; anggota-anggota keluarga yang lain
tidak mempunyai peranan yang penting sampai dengan usia 6 tahun. Kasih sayang
ibu adalah essensial untuk perkembangan psikis yang sehat.
Jadi dalam teori diferensiasi ini anak dianggap relative mempunyai kelekatan
dengan ibunya sampai kurang lebuh berumur 6 tahun, baru setelahnya anak akan
mengadakan ikatan denga orang dewasa lainnya.
- Teori Paralel
Dalam teori parallel ini mengatakan sampai dengan umur satu tahun anak akan
mencari objek lekat pada satu orang, biasanya ibunya. Sesudah umur satu tahun
maka orang dewasa lain atau anak-anak sebaya akan menjadi objek kelekatan.
b. Egosentrisme
Egosentrisme adalah pemusatan pada diri sendiri. Pengamatan anak banyak
dientukan oleh pandangan sendiri, anak belum dapat menempatkan diri dalam
keadaan orang lain. Ada enam macam bentuk egosentrisme menurut Looft, 1972.
1. Egosentrisme dalam stadium sensomotorik
0-18 bulan. Ditandai dengan anak hamper tidak mampu untuk mengadakan
diferensiasi antara diri sendiri dengan dunia luar.
2. Egosentrisme dalam stadium pra-operasional
18 bulan - tahun ke 6. Ditandai dengan kemampuan anak untuk bekerja
dengan tanggapan. Anak mulai memakai symbol dan kata. Ia tidak atau
hamper tidak dapat membedakan antara symbol dan artinya. Sering dibedakan
antara private speech dan socialized speech. Private speech tidak ada nilai
komunikatifnya: anak bicara sendiri dan tidak ditunjukkan ke orang lain.
Socialized speech diartikan sebagai komunikatif yang jelas.
3. Egosentrisme dalam stadium opraional konkrit
6-11 tahun. Anak belum mampu untuk membedakan antara hasil cipta
mentalnya sendiri dengan hal-hal nyata. Menurut Elkind egosentrisme pada
masa ini disebut realitas sumatif, yaitu anak melihat kenyataan berdasarkan
informasi yang terbatas dan tidak dipengaruhi oleh informasi baru atau
8 | PS I KO LO G I PE RK E M BAN GAN-ANAK PRA S E KO L AH

informasi yang bertentangan. Maka dari itu anak tidak lagi memandang orang
tua sebagai yang serba tahu. Anak mersa dalam aspek-aspek tertentu ia lebih
megetahui disbanding orang tuanya.
4. Egosentrisme pada remaja
Remaja tidak membedakan antara hal atau situasi yang difikirannya sendiri
dengan yang difikiran orang lain. Ia selalu memikirkan akan pendapat orang
lain mengenai dirinya. Pikiran ini berdasarkan bahwa ia akan menjadi pusat
perhatian. Ia kan berpendapat bahwa perasaannya itu unik dank has. Maka ia
akan

menunjukkan

keunikan

dan

kekhasaan

perasaannya

tersebut.

Egosentrisme ini hanya berlangsung sementara mesikpun ada yang


berlangsung lama.
5. Egosentrisme pada orang dewasa
Egosentrisme pada orang dewasa dapat dilihat dari sikap tidak bisa
menempatkan diri pada tempat orang lain hingga timbul masalah-masalah
6.

tertentu.
Egosentrisme pada orang tua
Sudah pernah diadakan penelitian mengenai regresi kognitif, penyempitan
relasi social, dan rigiditas. Ketiga macam aspek ini mempunyai hubungan

dengan egosentrisme, yaitu:


a. Regresi kognitif menunjukkan pada kemajuan yang berkurang dalam
bidang kognitif. Contohnya kemampuan orang tua dalam belajar sudah
berkurang.
b. Mereka mengalami pension, meninggalnya teman-teman lama,
sedangkan sulit mendapatkan teman-teman baru, hal ini yang sering
menyebabkan orang tua mengalami isolasi social.
c. Dalam hubungan social denga orang lain maka sikap yang flaksibel
juga berkurang sehingga timbul regiditas.
c. Tingkah laku ambil alih peran
Merupakan proses sosial dan proses kognitif yang menunjukkan bahwa
seseorang dapat menempatkan diri pada motif-motif,perasaan,pikiran dan tingkah
laku orang lain.
a. Ambil alih peran persepsual
Kemampuan untuk meramalkan apa yang dilihat orang lain mengenai objek
yang sama , dilihat dari pandangan perspektif yang berbeda.
b. Ambil alih peran konsepsual
9 | PS I KO LO G I PE RK E M BAN GAN-ANAK PRA S E KO L AH

Menunjuk pada kecakapan untuk menempatkan diri dalam pembentukan


pengertian atau dalam formasi konsep orang lain.
c. Ambil alih peran emosional-motivasional
Menunjuk pada kecakapan untuk ikut merasakan secara konkrit alam perasaan
dan motif-motif orang lain.
d. Belajar model
Belajar model adalah proses menirukan tingkah laku orang lain yang dilihat,
dilakukan secara sadar atau tidak. Sinonim dengan belajar model ini adalah imitasi,
identifikasi dan belajar melalui observasi.
e. Periode pembangkangan-fase kepala batu
Pembangkangan selalu merupakan reaksi anak terhadap tindakan ( dalam arti
luas ) keliling yg ditujukan terhadap anak. Reaksi ini mempunyai suatu sifat
dinamis-afektif dan dalam kenyataannya merupakan suatu penolakan diffuse. Pada
waktu itu kontak dengan keliling terputus.
f. Permainaan dan tingkah laku bermain
Anak dan bermain merupakan dua pengertin yang hampir tidak dapat dipisah
kan satu sama lain. Timbul pertanyaan apakah bermain betul-betul merupakan
kesibukan khusus anak. Sebab dalam kenyataan , orang tua dan remaja pun
bermain, sedangkan istilah bermain hanya dipakai untuk anak saja. Pemisahan
antara dunia anak dan dunia orang dewasa ini berlangsung selama tiga abad ke 16
permainan anak dan permainan dewasa tidak dapat dibedakan satu sama lain.
Sekarang anak sudah mempunyai dunia sendiri dengan permainan , pakaian dan
ha-hak sendri meskipun hal Ini belum merata sampai di pelosok-pelosok seperti
halnya di Indonesia. Masih saja banyak anak yang belum dapat menikmati hakhaknya sebagai anak sebab masih saja ada anak yang harus bekerja mencari nafkah
pada waktu mereka seharusnya menuntut ilmu di bangku sekolah. Tempat-tempat
permainan yang khusus dibuat untuk anak masih sedikit adanya.
Dalam dunia yang sudah maju, dunia anak betul-betul terpisah dengan dunia
orang dewasa. Dengan timbulnya dunia anak maka peralihan ke dalam dunia
orang dewasa menjadi problematika dan lebih sukar.

Sebaliknya, dapat

dikemukakan bahwa pandangan mengenai dunia orang dewasa sebagai dunia


10 | P S I K O L O G I P E R K E M B A N G A N - A N A K P R A S E K O L A H

penuh rentetan kerja, tugas-tugas dan tanggung jawab tidak memberikan tempat
lagi untuk bermain. Pemisahan yang ketat antara waktu bermain dan waktu bekerja
ini dalam hubungan dengan tingkat-tingkat usia tertentu tidak akan dilakukan
dalam tulisan psikologi sepanjang hidup.
~Struktur atau ciri-ciri esensial tingkah laku bermain
Berdasarkan analisis fenomenologis maka Buytendijk menemukan ciri-ciri
permainan sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.

Permainan adalah selalu bermain dengan sesuatu.


Dalam permaina selalu ada sifat timbal balik, sifat interaksi.
Permainan berkembang, tidak statis melaikan dinamis.
Permainan juga ditandai oleh pergantian yang tidak dapat diramalkan terlebih

dahulu.
5. Orang yang bermain tidak hanya bermain dengan sesuatu atau orang lain.
6. Bermain menentukan ruangan untuk bermain dan menentukan aturan aturan
bermain.
7. Aturan-aturan permainan membatasi bidang permainannya.
~ Bentuk- bentuk permainan
Sejak tinjauan yang sistematis mengenai perkembangan manusia juga
diusahakan untuk menentukan hubungan antara berbagai bentuk permainan dengan
umur seseorang. Seperti yang sudah ditandaskan dimuka, maka permainan
merupakan suatu tingkah laku yang dipengarui oleh proses pemaksaan dan belajar.
Parten(1932) meninjau permainan anak dari sudut tingkah laku sosial anak;
pendekatan juga dapat dilukiskan sebagai sosiologi genetic. Melalui observasi
parten menenmukan 6 macam kategori.

Gerakan yang terarah

Tak berbuat apa-apa, jalanjalan, melihat kesana kemari,


bermain-main dengan badan

Tingkah

laku

(onlooker behavior)
Permainan paralel

pengamat

sendiri
Melihat anak-anak lain yang
sedang melakukan sesuatu
Bermain dengan permainan
yang sama tanpa ada tukar-

11 | P S I K O L O G I P E R K E M B A N G A N - A N A K P R A S E K O L A H

menukar alat permainan dan


Permainan solitaire

tanpa ada komunikasi


Bermain dengan sendiri

Permainan asosiatif

mencari kesibukan sendiri


Anak-anak bermain bersamasama

tetapi

pemusatan

tanpa

terhadap

ada
suatu

tujuan ,tanpa ada pembagian

Permainan koperatif

peranan

dan

alat-alat

permainan
Kerjasama

dan

koordinasi

dalam alat-alat dan peranan ,


ada perjanjian dan pembagian
tugas-tugas
g. Konflik Sosial
Apabila seorang anak tidak dapat mengatasi konflik sosial secara
verbal, maka ia akan beralih menggunakan kekerasan fisik untuk mengatasinya.
h. Pemahaman Gender
Pada usia kurang lebih 2 tahun, anak menggunakan istilah yang
berkaitan dengan gender seperti "anak laki-laki, anak perempuan, ayah, ibu,",
dan cenderung menunjukkan kesenangannya pada mainan yang sesuai dengan
jenis kelaminnya.
Menjelang usia prasekolah, anak sering menerapkan sejumlah
hukumhukum gender seperti "Anak perempuan tidak dapat menjadi polisi".
Hukum-hukum demikian sering mencerminkan pemahaman yang kurang benar
tentang perbedaan biologis antara wanita dan laki-laki, dan sekaligus merupakan
informasi yang stereotipi.

8. Perkembangan Moral
Dengan mengambil sudut pandang orang lain, akan membantu anak memahami apa
yang benar dan apa yang salah.

12 | P S I K O L O G I P E R K E M B A N G A N - A N A K P R A S E K O L A H

Melalui interaksi anak dengan orang lain, ia segera menangkap apa yang
diharapkan dalam situasi sosial, dan anak akan sampai pada perkembangan
sejumlah pemahaman sosial.
Ketika anak berinteraksi, mereka akan berhubungan dengan konsep tentang
keadilan, kejujuran, kewajiban, dan kebaikan. Damon menyatakan bahwa
kesadaran moral anak diperoleh dari pengalaman sosial yang normal.
Kesenjangan moral : anak sering merasa bingung dengan perilaku orang dewasa
yang kadang berbohong, karena belum mampu menilai suatu perbuatan dari latar
belakang motivasinya.
Aspek perkembangan moral anak usia 4 s.d 8 tahun : persahabatannya dan
kewajiban-kewajiban tertentu dari persahabatan, keadilan dan kejujuran,
kepatuhan, otoritas, serta hukum-hukum sosial dan adat.
Anak perempuan : sudut pandang "memperhatikan", yang menekankan hubungan
interpersonal dan perhatian untuk orang lain. Anak laki-laki lebih umum
menggunakan keadilan sebagai sudut pandangnya.
Perkembangan moral juga berkaitan dengan kekhususan budaya; kelompok budaya
yang berbeda akan memiliki nilainilai yang berbeda pula.

B. Gambaran anak
Seperti halnya bermain, maka menggambar juga merupakan suatu aktivitas yang
spontan. Anak menggambar sesudah mereka mampu memegang pensil atau alat tulis
lainnya.anak bisa melakukan hal itu mulai berusia 52 minggu. Menggambar
merupakan suatu gerakan motoris yang global bagi anak, seluruh badan seakan-akan ikut
terlibat melakukan gerakan itu. Goresan pensil yang berwujud coret-coretan ini adalah
dasar dan pemula anak untuk membuat gambar-gambar yang berarti. Makin lama anak
makin melihat apa yang dihasilkan itu dan mulai membandingakan secara kritis hasil
gambarannya dengan gambar anak-anak lain. Pola pola dengan pembagian ruang mulai
nampak pada usia 3 dan 4 tahun. gambaran anak juga merupakan tolak ukur
perkembangan kecerdasan meskipun gambaran tidak sempurna, namun gambaran tadi
dapat memberikan pengertian akan kualitas pengamatan kritis anak
Tahap Priodesasi Perkembangan Seni Rupa Anak Anak Menurut Viktor Lowenfeld Dan
Lambert Brittain:
13 | P S I K O L O G I P E R K E M B A N G A N - A N A K P R A S E K O L A H

1. Masa

Coreng-moreng

(Cribbling

Period): 2 4 tahun adalah Ciri


gambar

coretan

tak

beraturan.

Goresan-goresan yang dibuat anak


usia 2-3 tahun belum menggambarkan
suatu bentuk objek. Pada awalnya, coretan hanya mengikuti perkembangan gerak
motorik. Biasanya, tahap pertama hanya mampu menghasilkan goresan terbatas,
dengan arah vertikal atau horizontal. Hal ini tentunya berkaitan dengan kemampuan
motorik anak yang masih mengunakan motorik kasar.
2. Masa Pra Bagan (Pre Schematic Period): 4 - 7

tahun adalah Ciri gambar obyek yang


digambarkan biasanya berupa gambar kepala
berkaki. Sebuah lingkaran yang menggambarkan
kepala kemudian pada bagian bawahnya ada dua
sebagai pengganti kedua kaki.
C. Anak Dalam Keluarga
Sekarang semua anak mempunyai hak yang sama mereka semua mendapatkan
kasih sayang dan berhak mendapatkan pendidikan yang sama. Jelas dapat dilihat bahwa
dibandingkan dengan dulu, sekarang pada umumnya anak lebih mempunyai kesempatan
untuk mengembangkan sifat-sifatnya dan individualitasnya sendiri. Anak mempunyai
hak untuk mewujudkan dirinya.
Perpaduan antara sifat individu dan sifat sosial dapat menjamin hidup yang
bahagia sebagai individu yang hidup dalam kehidupan bersama. Keluarga dengan
keterbatasan dan kemungkinannya dapat merupakan tantangan dan kesempatan realisasi
bagi anak.
# Peran ibu terhadap perkembangan anak prasekolah
Pada usia prasekolah biasanya anak sudah terampil sehingga anak tidak perlu
dibantu ibu lagi, tetapi harus tetap diawasi pada saat bermain. Pasa aspek fisik dan
motorik tugas ibu adalah meningkatkan aktivitas dan untuk aspek kognitif bisa dilakukan
dengan banyak bercerita pada anak (Gunarsa, 1995). Ibu juga bisa melakukan tanya
jawab dengan anak tentang cerita yang didengarnya, dengan demikian anak sudah
terlatih mengungkapkan apa yang hendak diekpresikan (Rumini & Sundari, 2004). Dari
14 | P S I K O L O G I P E R K E M B A N G A N - A N A K P R A S E K O L A H

aspek emosi sosial ibu perlu mengembangkan inisiatif anak karena akan mengarah pada
kepercayaan dirinya, anak yang lebih punya inisiatif akan lebih mudah menyesuaikan
diri (Coles, 2003).
Dalam melatih kemandirian anak yang penting biarlah anak melakukan apa saja
sejauh itu tidak membayangkan keselamatannya, peran ibu hanya memberikan
keleluasan pada anak untuk bermain, sehingga anak dapat beelajar bergaul, berinteraksi
serta bagaimana mengekspresikan pendapat, kemandirian dan pengetahuannya agar ibu
bisa melaksanakan tugas sesuai dengan peranannya.tentu saja harus mempunyai rasa
tanggung jawab dan prioritas, terutama pada ibu yang bekerja. Prioritas menjadi sangat
penting karena ibu harus memilih mana yang harus didahulukan antara pekerjaan dan
anak. Jika ibu merasa bekerja itu penting tentunya ibu tidak bisa merawat anak
sepenuhnya, maka ibu harus mencari pengasuh anak atau orang yang dianggap
mempunyai pengalaman untuk merawat anak jika ibu sedang bekerja (Vuuren, 1993).

15 | P S I K O L O G I P E R K E M B A N G A N - A N A K P R A S E K O L A H

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Anak pra sekolah berusia antara umur 3-4 tahun. Pada masa pra sekolah ini
merupakan waktu bermain bagi anak. Karena dengan bermain pada masa ini, akan membantu
anak untuk tumbuh dengan lingkungannya dan melatih kesiapan anak untuk bersekolah atau
menerima pendidikan formal. Perkembangan anak Pra sekolah sendiri dimulai dari tahun
pertama. Setelah tahun pertama ini perkembangan pada anak ditandai dengan proses-proses
yang sangan fundamental.
Dilanjutkan dengan perkembangan fisik yang berlangsung pesat. Seperti tinggi dan
berat badan yang bertambah, serta mengerasnya otot dan tulang anak. Perkembangan motorik
kasarnya ditandai dengan anak mampu berlari dengan kencang atau melompat, dsb. Pada
perkembangan motorik halusnya anak memiliki keterampilan untuk menggunting,
menggambar, mewarnai, dsb. Perkembangannya juga terjadi pada intelektualnya, ditandai
dengan kemampuannya menguasai fungsi symbol, imitasi, egosentri, cara berfikir yang
centralized, tidak dapat dibalik, dan terarah statis.
Dalam bahasa dan bicara anak juga mengalami perkembangan. Dalam bahasa sendiri
pada masa pra sekolah ini anak memiliki keinginan untuk mengungkapkan apa saja yang
menarik perhatiannya dan juga memiliki keinginan untuk memberitahu mengenai pikirannya,
perasaannya, harapannya, dan fantasinya kepada orang lain. Sedangkan perkembangan
bicaranya pun di mulai dari seringnya anak mengocek dan menirukan ucapan-ucapan yang
dilontarkan oleh orang dewasa atau teman sebayanya.
Dalam perkembangan emosi anak terjadi sebatas mengenai emosi-emosi dasar saja
seperti senang, sedih, takut, dan marah. Mengenai perkembangan kepribadian dan
perkembangan sosialnya, anak akan sangat lekat dengan tingkah laku lekat, egosentrisme,
ambil alih peran, belajar model (sinonim dari imitasi), kepala batu, permainan dan tingkah
laku bermain, konflik social dan pemahaman gender.
Pada perkembangan moralnya anak mulai menangkap apa saja yang diharapkan dalam
situasi social, mulai memahami konsep kejujuran, kewajiban dan kebaikan. Anak jugalebih
kritis dalam memandang tingkah laku orang dewasa.
Anak pra sekolah identik dengan gambarannya. Gambar pada anak pra sekolah dimulai
dari masa coreng-moreng kemudian berlanjut kemasa pra bagan. Anakdalam keluarga pada

16 | P S I K O L O G I P E R K E M B A N G A N - A N A K P R A S E K O L A H

masa ini harusnya lebih mempunyai kesempatan-kesempatan untuk mengembangkan sifatsifatnya dan individualitasnya.
B. Saran
1. orang tua hendaknya selalu memantau perkembangan anak-anaknya di usia prasekolah.
2. Selain itu orang di sekelilingnya hendaknya mengajarkan tentang hal-hal yang baik, karena
pada usia prasekolah daya ingat anak sangat tajam.
3. Memberikan pengajaran sedini mungkin, seperti PAUD dan taman bermain lainnya.
4. Mendukung setiap kreatifitasan yang di miliki anak serta membiarkan ia dalam dunia
permainan yang ia sukai.

17 | P S I K O L O G I P E R K E M B A N G A N - A N A K P R A S E K O L A H

DAFTAR PUSTAKA
Monks,F.J, Psikologi Perkembangan Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya.
Gajah Mada University Press, 2006.
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/NananhErma
Gunawan,S.Pd./002.PerkmbAnakPrasekolahPowerPoint-BuYuliaTim.pdf
http://Focw.usu.ac.id1_slide_pertumbuhan_dan_perkembangan_anak_usia_p
rasekolah_-_sekolah_dan_remaja.pdf

18 | P S I K O L O G I P E R K E M B A N G A N - A N A K P R A S E K O L A H