You are on page 1of 21

LAPORANAKHIR

DOKUMENPENATAANKAWASANLAYAKHUNIIBUKOTAKABUPATENTOBASAMOSIRTAHUN20152019

BAB IV

ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN


PKP
4.1.

ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL

Kondisi kota-kota di Indonesia yang umumnya berkembang pesat dan berfungsi sebagai pusat
kegiatan serta menyediakan layanan primer dan sekunder, telah mengundang penduduk dari daerah
perdesaan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik serta berbagai kemudahan lain termasuk
lapangan kerja. Kondisi tersebut pada kenyataannya mengakibatkan:
-

Terjadinya pertambahan penduduk yang lebih pesat daripada kemampuan Pemerintah


dalam menyediakan hunian serta layanan primer lainnya.

Tumbuhnya kawasan permukiman yang kurang layak huni, yang pada berbagai kota
cenderung berkembang menjadi kumuh, dan tidak sesuai lagi dengan standart lingkungan
permukiman yang sehat.

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman, Pasal 27 ayat (2)
menyatakan bahwa kegiatan yang dilakukan dalam rangka peningkatan kualitas permukiman
meliputi upaya melalui perbaikan atau pemugaran, peremajaan serta pengelolaan dan
pemeliharaan yang berkelanjutan. Upaya yang dimaksud adalah :
-

Secara bertahap tanpa mengakibatkan perubahan yang mendasar


Bersifat partial dan difokuskan pada bagian yang sangat tidak layak, melengkapi
prasarana dan sarana primer
Memerlukan partisipasi masyarakat

4 .1 . 1. P E NG E LO LA A N K A W A S A N P ER KOT A A N
Pengelolaan Kawasan Perkotaan adalah serangkaian kegiatan mulai dari perencanaan,
pelaksanaan, dan pengendalian dalam upaya pencapaian tujuan pembangunan Kawasan Perkotaan
secara efisien dan efektif. Perencanaan pembangunan Kawasan Perkotaan didasarkan pada kondisi,
potensi, karakteristik kawasan, dan keterkaitan dengan kawasan di sekitarnya.
Lingkup perencanaan Kawasan Perkotaan memuat pengembangan, peremajaan,
pembangunan, reklamasi pantai atau rawa, dan/ atau perubahan fungsi lahan. Dimana yang
dimaksud dengan peremajaan adalah penataan kembali area terbangun bagian kawasan perkotaan
yang mengalami degradasi kualitas lingkungan, degradasi fungsi kawasan, dan/atau penyesuaian
bagian kawasan perkotaan terhadap rencana pembangunan kawasan perkotaan.
Tujuan pengaturan tentang pengelolaan Kawasan Perkotaan sebagaimana diamanatkan
dalam Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2009 Tentang Pedoman Pengelolaan Kawasan
Perkotaan adalah sebagai berikut:
a.

Meningkatkan fungsi Kawasan Perkotaan secara serasi, selaras dan seimbang antara
kawasan perdesaan dengan kawasan perkotaan.

b.

Mendorong dinamika kegiatan pembangunan perkotaan sehingga dicapai kehidupan


perkotaan yang layak, dinamis, optimal, berwawasan lingkungan, berkeadilan, serta
menunjang pelestarian nilai-nilai budaya.

c.

Menyelenggarakan pemerintahan di kawasan perkotaan yang mampu memberikan


pelayanan perkotaan secara efektif dan efisien kepada masyarakat kawasan perkotaan.

d.

Meningkatkan peran pemerintah dan masyarakat termasuk dunia usaha dalam


pembangunan kawasan perkotaan sebagai usaha bersama sesuai dengan tatanan yang

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN TOBA SAMOSIR

IV - 1

LAPORANAKHIR
DOKUMENPENATAANKAWASANLAYAKHUNIIBUKOTAKABUPATENTOBASAMOSIRTAHUN20152019

efisien, efektif, demokratis, dan bertanggung jawab.


e.

Mendayagunakan seluruh potensi yang dimiliki oleh pemerintah dan masyarakat


termasuk dunia usaha dalam upaya menciptakan Kawasan Perkotaan sebagai ruang
kehidupan yang serasi, selaras, seimbang, layak, berkeadilan, berkelanjutan, dan
menunjang pelestarian nilai-nilai sosial budaya.

4 .1 . 2. PEMBANGUNAN DAN PENGEMBA NG AN PKP


Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005 2025 memuat tujuan
untuk memenuhi kebutuhan hunian bagi masyarakat dan mewujudkan kota tanpa permukiman
kumuh, maka pemenuhan perumahan beserta prasarana dan sarana pendukungnya diarahkan pada:
a) Penyelenggaraan pembangunan perumahan yang berkelanjutan, memadai, layak, dan
terjangkau oleh daya beli masyarakat serta didukung oleh prasarana dan sarana
permukiman yang mencukupi dan berkualitas yang dikelola secara profesional, kredibel,
mandiri, dan efisien;
b) Penyelenggaraan pembangunan perumahan beserta prasarana dan sarana pendukungnya
yang mandiri mampu membangkitkan potensi pembiayaan yang berasal dari masyarakat
dan pasar modal, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pemerataan dan
penyebaran pembangunan; dan
c) Pembangunan perumahan beserta prasarana dan sarana
memperhatikan fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup.

pendukungnya

yang

Sebagai penjabaran dari RPJPN tersebut, maka Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional (RPJMN) tahun 2010 2014 menugaskan Kementerian Perumahan Rakyat untuk
melaksanakan program dan kegiatan yang termasuk dalam prioritas Bidang Sarana dan Prasarana,
sub bidang PKP. Prioritas Nasional untuk sektor perumahan rakyat adalah Pembangunan 685.000
Rumah Sederhana Sehat Bersubsidi, 180 Tower Rusunami, dan 650 twin block Rusunawa berikut
fasilitas pendukung kawasan permukiman yang dapat menampung 836.000 keluarga yang kurang
mampu pada 2012.
Sasaran umum yang akan dicapai dalam pembangunan PKP adalah meningkatnya akses bagi
rumah tangga terhadap rumah dan lingkungan permukiman yang layak, aman, dan terjangkau, dan
didukung oleh prasarana dan sarana dasar serta utilitas yang memadai serta memiliki jaminan
kepastian hukum dalam bermukim (secure tenure) untuk mendukung pencapaian target MDGs.
Sasaran lain yang ingin dicapai adalah meningkatnya kualitas perencanaan dan penyelenggaraan
pembangunan PKP di tingkat pusat dan daerah. Sedangkan sasaran khusus untuk sektor perumahan
adalah tersedianya akses bagi masyarakat terhadap perumahan, baik perumahan baru maupun
peningkatan kualitas perumahan dan lingkungan permukiman serta kepastian hukum, bagi 5,6 juta
rumah tangga.
Untuk mewujudkan prioritas dan sasaran bidang PKP, maka arah kebijakan pembangunan
perumahan 2010 2014 yang terkait dengan Kementerian Perumahan Rakyat adalah meningkatkan
aksesibilitas masyarakat berpenghasilan rendah terhadap hunian yang layak dan terjangkau, dengan:
1) Meningkatkan penyediaan hunian yang layak dan terjangkau bagi masyarakat
berpenghasilan rendah melalui:
a. Pembangunan 650 twin blok Rusunawa.
b. Pembangunan 685.000 unit Rumah Sederhana Sehat Bersubsidi.
c. Fasilitasi pembangunan 180 tower Rusunami melalui peran swasta.

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN TOBA SAMOSIR

IV - 2

LAPORANAKHIR
DOKUMENPENATAANKAWASANLAYAKHUNIIBUKOTAKABUPATENTOBASAMOSIRTAHUN20152019

d. Penyediaan prasarana, sarana, dan utilitas pengembangan kawasan perumahan


antara lain untuk mendukung pengembangan kota baru (New Town Development).
e. Fasilitasi pembangunan baru/peningkatan kualitas perumahan swadaya serta
penyediaan prasarana, sarana, dan utilitas perumahan swadaya.
f. Pembangunan rumah khusus termasuk rehabilitasi dan rekonstruksi perumahan pasca
bencana.
g. Fasilitasi penyediaan lahan.
h. Pemanfaatan dan pengembangan sumber daya lokal, teknologi dan penelitian di
bidang PKP.
2) Meningkatkan aksesibilitas masyarakat berpenghasilan menengah bawah terhadap
hunian yang layak dan terjangkau melalui :
a. Penyediaan subsidi perumahan.
b. Pengembangan fasilitasi likuiditas.
c. Peningkatan mobilisasi sumber-sumber dana jangka panjang
d. Pengembangan tabungan perumahan nasional
3) Meningkatkan kualitas lingkungan permukiman melalui penyediaan prasarana, sarana
dasar, dan utilitas umum yang memadai dan terpadu dengan pengembangan kawasan
perumahan dalam rangka mewujudkan kota tanpa permukiman kumuh.
4) Meningkatkan jaminan kepastian hukum dalam bermukim (secure tenure) melalui
fasilitasi pra-sertifikasi dan pendampingan pasca sertifikasi tanah bagi masyarakat
berpenghasilan rendah, serta standarisasi perijinan dalam membangun rumah.
5) Meningkatkan kualitas perencanaan dan penyelenggaraan pembangunan PKP melalui :
a. Pengembangan regulasi dan kebijakan.
b. Pemberdayaan dan kemitraan pelaku pembangunan PKP.
c. Peningkatan kapasitas dan koordinasi berbagai pemangku kepentingan pembangunan
PKP.
d. Pengembangan pengelolaan aset (property management).
e. Fasilitasi penyusunan rencana induk pengembangan kawasan permukiman daerah.
6) Memantapkan pasar primer dan pembiayaan sekunder perumahan yang didukung oleh
sumber pembiayaan jangka panjang yang berkelanjutan melalui pengembangan
informasi dan standarisasi KPR, serta pengembangan peraturan perundangan
pendukungnya.

Strategi pendanaan pembangunan untuk mendukung pencapaian sasaran bidang sarana dan
prasarana, selain mengandalkan sumber pendanaan dari APBN juga mendorong sharing pembiayaan
dari sumber-sumber lainnya yaitu dari :
1) Pemerintah Daerah yang bersumber dari APBD
2) Swasta, baik melalui pemanfaatan dana Corporate Social Responsibility (CSR) dan
mekanisme kerjasama pemerintah swasta (Public Private Partnership)
3) Luar negeri melalui Pinjaman atau Hibah Luar Negeri (PHLN).

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN TOBA SAMOSIR

IV - 3

LAPORANAKHIR
DOKUMENPENATAANKAWASANLAYAKHUNIIBUKOTAKABUPATENTOBASAMOSIRTAHUN20152019

4.2.

ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT

Kementerian Perumahan Rakyat Tahun 2010 2014 memiliki visi bahwa setiap keluarga
Indonesia menempati rumah yang layak huni. Dimana untuk mewujudkan visi tersebut telah
dirumuskan berbagai misi dalam pelaksanannya, yaitu:
1. Meningkatkan iklim yang kondusif dan koordinasi pelaksanaan kebijakan pembangunan
PKP.
2. Meningkatkan ketersediaan rumah layak huni dan terjangkau dalam lingkungan yang
sehat dan aman serta didukung oleh prasarana, sarana, dan utilitas yang memadai.
3. Mengembangkan sistem pembiayaan perumahan jangka panjang yang efisien, akuntabel,
dan berkelanjutan.
4. Meningkatkan pendayagunaan sumber daya PKP secara optimal.
5. Meningkatkan peran pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya dalam
pembangunan PKP.
Adapun tujuannya adalah untuk :
1. Meningkatkan pengembangan kebijakan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan untuk
mendorong terciptanya iklim yang kondusif dalam pembangunan PKP;
2. Meningkatkan akses masyarakat berpenghasilan menengah bawah terhadap lahan
untuk pembangunan PKP;
3. Meningkatkan pembangunan perumahan berbasis kawasan yang serasi dengan tata
ruang, daya dukung lingkungan, dan penyediaan infrastruktur;
4. Pemenuhan kebutuhan hunian yang layak dan terjangkau serta didukung dengan
prasarana, sarana, dan utilitas yang memadai;
5. Mengurangi luas lingkungan permukiman kumuh;
6. Meningkatkan akses MBM termasuk MBR terhadap pembiayaan perumahan;
7. Meningkatkan pendayagunaan sumber-sumber pembiayaan untuk pembangunan PKP;
8. Meningkatkan pemanfaatan sumber daya pembangunan PKP;
9. Mendorong peran dan peningkatan kapasitas pemerintah daerah dalam pembangunan
PKP;
10. Menyelenggarakan tugas dan fungsi Kementerian Perumahan Rakyat dalam rangka
memberikan pelayanan di bidang PKP.
Kementerian Perumahan Rakyat juga menetapkan sasaran strategis untuk dicapai, yaitu:
1. Meningkatnya pengembangan kebijakan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan
pembangunan PKP, khususnya:
i. Revisi UU No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman
ii. Revisi UU No. 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun
iii. Revisi PP No. 80 Tahun 1999 tentang KASIBA/ LISIBA BS
iv. Revisi PP No. 41 Tahun 1996 tentang Pemilikan Rumah Tempat Tinggal atau Hunian
bagi Orang Asing yang berkedudukan di Indonesia

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN TOBA SAMOSIR

IV - 4

LAPORANAKHIR
DOKUMENPENATAANKAWASANLAYAKHUNIIBUKOTAKABUPATENTOBASAMOSIRTAHUN20152019

v.

vi.
vii.
viii.
ix.
x.
xi.

Revisi PP No. 31 Tahun 2007 tentang Perubahan Keempat Atas PP No. 12 Tahun
2001 tentang Impor dan atau Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu yang Bersifat
Strategis yang Dibebaskan dari pengenaan PPN
Revisi PP No. 15 Tahun 2004 tentang Perum Perumnas
Penyiapan masukan formulasi kebijakan Hak Tanggungan atas Tanah beserta
benda-benda yang berkaitan dengan Tanah
Revisi Keppres No. 22 Tahun 2006 tentang Tim Koordinasi Percepatan
Pembangunan Rumah Susun di Kawasan Perkotaan
Revisi Keppres No. 63 Tahun 2000 tentang Badan Kebijaksanaan dan Pengendalian
Pembangunan Perumahan dan Permukiman Nasional (BKP4N)
Revisi Keppres No. 14 Tahun 1993 jo. Keppres No. 46 Tahun 1994 tentang Tabungan
Perumahan Pegawai Negeri Sipil (Taperum PNS)
Pengembangan NSPK dalam rangka penerapan SPM bidang Perumahan Rakyat.

2. Terlaksana penataan dan pengelolaan lahan untuk pembangunan PKP.


3. Terlaksana fasilitasi PSU PKP sebanyak 700.000 unit.
4. Terlaksana penataan lingkungan permukiman kumuh seluas 655 Ha dengan jumlah
penduduk terfasilitasi sebanyak 130.000 jiwa.
5. Terlaksana pembangunan rumah susun sederhana berupa Rusunawa sebanyak 36.480
unit.
6. Terlaksana pembangunan Rumah Khusus sebanyak 5.000 unit termasuk rumah sederhana
sewa dan rumah pasca bencana.
7. Terlaksana fasilitasi pembangunan Rumah Swadaya berupa pembangunan baru sebanyak
50.000 unit.
8. Terlaksana fasilitasi pembangunan Rumah swadaya berupa peningkatan kualitas
sebanyak 50.000 unit.
9. Terlaksana fasilitasi penyediaan PSU Perumahan Swadaya berupa bantuan stimulan PSU
Swadaya sebanyak 50.000 unit.
10. Terlaksana fasilitasi pra-sertifikasi dan pendampingan pasca sertifikasi lahan dan
bangunan rumah bagi MBR sebanyak 30.000 unit.
11. Meningkatnya pemanfaatan sumber daya pembangunan PKP serta pengembangan dan
pemanfaatan hasil-hasil penelitian dan pengembangan teknologi maupun sumber daya
dan kearifan lokal.
12. Terlaksana penyaluran bantuan subsidi perumahan sebanyak 1.350.000 unit
13. Meningkatnya mobilisasi dan pemanfaatan sumber pembiayaan untuk mendukung
pembangunan PKP.
14. Terselenggara fungsi pelayanan bidang PKP di tingkat pusat dan daerah (33 provinsi)
15. Terlaksana DAK PKP berupa fasilitasi PSU kawasan PKP sebanyak 320.000 unit.
16. Terlaksana kewajiban pelayanan publik (Public Service Obligation) bidang PKP.
17. Terselenggara tugas dan fungsi Kementerian Perumahan Rakyat secara efektif dan
efisien.
Dalam rangka melaksanakan penugasan dari RPJMN, maka untuk mewujudkan visi, misi,
tujuan, dan sasaran strategisnya, maka Kementerian Perumahan Rakyat menyusun arah kebijakan
dan strategi sebagai berikut:

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN TOBA SAMOSIR

IV - 5

LAPORANAKHIR
DOKUMENPENATAANKAWASANLAYAKHUNIIBUKOTAKABUPATENTOBASAMOSIRTAHUN20152019

1. Pengembangan regulasi dan kebijakan untuk menciptakan iklim yang kondusif, serta
koordinasi pelaksanaan kebijakan di tingkat pusat dan daerah dalam rangka pelaksanaan
Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang PKP.

2. Peningkatan pemenuhan kebutuhan Rumah Layak Huni (RLH) yang didukung dengan
prasarana, sarana, dan utilitas (PSU) serta kepastian bermukim bagi masyarakat
berpenghasilan menengah bawah, melalui:
a) Pembangunan RLH melalui pasar formal maupun secara swadaya masyarakat baik
untuk pembangunan baru maupun peningkatan kualitas.
b) Pembangunan rumah susun sederhana (Rusuna) baik sewa maupun milik.
c) Penyediaan PSU PKP yang memadai untuk pengembangan kawasan dan PSU
perumahan swadaya.
d) Penanganan lingkungan PKP kumuh.
e) Pembangunan rumah khusus, termasuk rumah sederhana sewa dan pasca bencana.
f) Pengembangan kawasan khusus, termasuk kawasan perbatasan, daerah tertinggal
dan pasca bencana.
g) Fasilitasi pra sertifikasi dan pendampingan pasca sertifikasi tanah bagi MBR
3. Pengembangan sistem pembiayaan PKP bagi MBM melalui :
a) Pengembangan pembiayaan perumahan melalui fasilitas likuiditas
b) Pengembangan Tabungan Perumahan Nasional.
c) Peningkatan pemanfaatan sumber-sumber pembiayaan untuk pembangunan PKP.
4. Peningkatan pendayagunaan sumber daya pembangunan PKP serta pengembangan dan
pemanfaatan hasil-hasil penelitian dan pengembangan teknologi maupun sumber daya
dan kearifan lokal.
5. Peningkatan sinergi pusat daerah dan pemberdayaan pemangku kepentingan lainnya
dalam pembangunan PKP.
Strategi Kementerian Perumahan Rakyat untuk memastikan tercapainya sasaran-sasaran
pembangunan PKP 2010 2014 adalah sebagai berikut:
a. Mengefektifkan kewenangan perumus kebijakan dan regulasi untuk menciptakan iklim
yang kondusif bagi percepatanpembangunan PKP melalui pengembangan dan penyediaan
produk-produk pengaturan yang memadai;
b. Memantapkan koordinasi antar pemangku kepentingan dan kelembagaan di bidang PKP
untuk mendukung penyelenggaraan pembangunan PKP yang lebih terintegrasi;
c. Mengefektifkan kewenangan operasionalisasi kebijakan untuk mendukung penyediaan
PKP khususnya sebagai proyek-proyek percontohan dan best practice di berbagai lokasi
terpilih yang dapat direplikasi dan dikembangkan secara lebih luas;
d. Mengoptimalkan peran dan kapasitas para pemangku kepentingan, khususnya peran
pemerintah daerah dalam pembangunan PKPmelalui bimbingan/bantuan teknis,
pendampingan dan penyebarluasan informasi dan kebijakan nasional pembangunan
perumahan dan kawasan permukiman;
e. Memanfaatkan dan mendayagunakan sumber daya perumahan dan kawasan
permukiman, hasil penelitian dan pengembangan teknologi, serta kearifan lokal untuk
mendukung pembangunan PKPyang berkelanjutan;

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN TOBA SAMOSIR

IV - 6

LAPORANAKHIR
DOKUMENPENATAANKAWASANLAYAKHUNIIBUKOTAKABUPATENTOBASAMOSIRTAHUN20152019

f.

Mengoptimalkan
berkelanjutan;

pemanfaatan

sumber

pembiayaan

PKPyang

akuntabel

dan

g. Memanfaatkan peluang kerjasama dan kemitraan dengan berbagai pihak untuk


meningkatkan ketersediaan dan kualitas perumahan dan kawasan permukiman.
Pendanaan dalam rangka mencapai sasaran-sasaran strategis pembangunan PKPtidak hanya
mengandalkan anggaran Kementerian Perumahan Rakyat yang bersumber dari APBN, tetapi juga
membutuhkan dukungan sharing pembiayaan dari pemangku kepentingan lainnya, antara lain :
1. Pemerintah Daerah yang bersumber dari APBD, antara lain untuk:
a. Melaksanakan SPM bidang perumahan
b. Sharing dalam penyediaan PSU
c. Fasilitasi dan stimulasi pembangunan perumahan swadaya
d. Dana pendamping untuk pelaksanaan Hibah Daerah
2. Masyarakat yang melaksanakan pembangunan PKPsecara swadaya.
3. Bank dan LKNB yang berpartisipasi dalam penyaluran subsidi perumahan, yaitu untuk
penyediaan pokok pinjaman.
4. Pengembang yang berpartisipasi dalam melaksanakan pembangunan RSH dan Rusunami.
5. Perusahaan swasta lainnya, yaitu melaui pemanfaatan dana Corporate Social
Responsibility (CSR) dan mekanisme Kerjasama Pemerintah Swasta (Public Private
Partnership) antara lain untuk:
a. Fasilitasi dan stimulasi (bantuan sosial) pembangunan perumahan swadaya.
b. Penyediaan perumahan bagi pekerja.
6. Luar negeri melalui Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN) untuk membiayai proyekproyek pembangunan PKP yang strategis.
Sehubungan dengan implementasi otonomi daerah dan perimbangan keuangan antara
pemerintah pusat dan daerah, maka mekanisme pendanaan dalam rangka mendorong sinergi pusat
dan daerah dalam melaksanakan pembangunan PKPakan ditingkatkan, yaitu melalui melalui Dana
Alokasi Khusus, Dana Dekonsentrasi, dan Hibah Daerah.
Di samping itu, pemerintah juga memberikan subsidi yang merupakan kewajiban pemerintah
(PSO) kepada penyedia jasa di bidang perumahan untuk mencapai standar pelayanan minimum
tertentu yang akan dicapai. Hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesinambungan pelayanan
perumahan dan akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

4.3.

KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PROVINSI SUMATERA UTARA

Tinjauan terhadap kebijakan pembangunan provinsi sumatera utara dilakukan untuk


mengetahui beberapa strategi dan arah kebijakan pembangunan provinsi sumatera utara dalam
bidang perumahan dan kawasan permukiman. Kebijakan tersebut dapat dilihat dari programprogram pembangunan daerah provinsi sumatera utara maupun peraturan/ perijinan yang ada dalam
bidang PKP(PKP).
Rumusan mengenai arah dan kebijakan pembangunan provinsi sumatera utara dalam bidang
PKPselengkapnya dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Program Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN TOBA SAMOSIR

IV - 7

LAPORANAKHIR
DOKUMENPENATAANKAWASANLAYAKHUNIIBUKOTAKABUPATENTOBASAMOSIRTAHUN20152019

Program ini bertujuan untuk memantapkan sistem hunian bagi masyarakat melalui upaya
penyempurnaan peraturan pembangunan PKPserta sistem pembiayaan perumahan,
mengembangkan pola subsidi bagi masyarakat berpendapatan rendah (MBR), meningkatkan
keswadayaan masyarakat dalam penyediaan pembangunan perumahan dan kawasan
permukiman, meningkatkan peran aktif swasta dalam penyediaan dan pembangunan PKP serta
meningkatkan kualitas pengelolaan yang bergerak dalam penyediaan dan pengelolaan
perumahan dan kawasan permukiman.
Sasaran yang ingin dicapai adalah penyediaan rumah dan menghindarkan spekulasi tanah untuk
perumahan dan kawasan permukiman, meningkatnya ketersediaan dana bagi pembiayaan
perumahan yang berasal dari dana masyarakat, terciptanya pasar primer dan pasar hipotek
sekunder yang berkualitas, terciptanya mekanisme subsidi perumahan yang efisien dan tepat
sasaran sesuai dengan kemampuan keuangan pemerintah, meningkatkan kemudahan bagi
masyarakat miskin dan berpendapatan rendah dalam mendapatkan hunian yang layak,
meningkatnya investasi di bidang perumahan, serta terciptanya yang efisien, efektif dan
akuntabel serta terfokusnya kegiatan pembangunan/penyediaan, pengelolaan hunian murah
dan rumah susun bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Kegiatan pokok yang dilakukan yaitu:

2.

a)

Peningkatan kualitas pasar primer perumahan dan kawasan permukiman

b)

Pembinaan pengembangan rumah susun sederhana di perkotaan

c)

Pembinaan pengembangan
masyarakat.

sistem

penyediaan

PKPyang

bertumpu

pada

swadaya

Program Pengembangan Prasarana dan Sarana Permukiman


Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, meningkatkan kualitas
pelayanan prasarana dan sarana permukiman baik yang berada di kawasan perkotaan maupun
kawasan pedesaan; meningkatkan peranan dunia usaha/swasta dalam penyediaan dan
pengelolaan prasarana dan sarana permukiman; meningkatkan penataan , pemanfaatan dan
pengelolaan kawasan strategis; meningkatkan pemugaran dan pelestarian kawasan bersejarah
dan kawasan tradisional; peningkatan keamanan dan keselamatan bangunan.
Sasaran yang ingin dicapai adalah meningkatkan derajat kesejahteraan dan kesehatan
masyarakat, meningkatnya kemudahan bagi masyarakat dalammendapatkan pelayanan
prasarana dan sarana permukiman, meningkatnya investasi swasta secara nyata dalam
pembiayaan prasarana dan sarana permukiman; meningkatnya peranan strategis, kawasan
bersejarah dan kawasan tradisional dalam pembangunan ekonomi, tersusunnya pedoman dan
standar konstruksi bangunan dan sistem pengawasannya.
Kegiatan pokok yang akan dilakukan adalah:
a) Pembinaan kualitas pelayanan dan pengelolaan prasarana dan sarana permukiman, meliputi
jalan lokal, air bersih, drainase, air limbah, penanggulangan banjir, persampahan, terminal
pasar, sekolah perbaikan kampung, dan sebagainya
b) Pembinaan kualitas operasi dan pemeliharaan prasarana dan sarana permukiman yang
diupayakan melalui partisipasi masyarakat
c) Meningkatkan kerjasama publik swasta dalam pembangunan dan pengelolaan prasarana
dan sarana permukiman, revitalisasi kawasan strategis
d) Pembinaan upaya pelestarian kawasan bersejarah dan kawasan tradisional
e) Penguatan lembaga pengawasan konstruksi dan keselamatan bangunan pada tiap
kabupaten/kota.

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN TOBA SAMOSIR

IV - 8

LAPORANAKHIR
DOKUMENPENATAANKAWASANLAYAKHUNIIBUKOTAKABUPATENTOBASAMOSIRTAHUN20152019

4.4.

KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KABUPATEN TOBA SAMOSIR

4 .4 . 1. S T R UK TU R R UA N G
4.4.1.1. Rencana Sistem Perkotaan
Sistem perkotaan di Kabupaten Toba Samosir yang diarahkan memiliki 4 (empat) hierarki/
tingkatan pusat kegiatan, yang terdiri dari:
a. Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), yaitu kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani
kegiatan skala provinsi atau beberapa kabupaten/ kota di Provinsi Sumatera Utara.
b. Pusat Kegiatan Lokal (PKL), yaitu kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani
kegiatan skala kabupaten/ kota atau beberapa kecamatan. Kota-kota sebagai pusat
pelayanan tersier yang dikembangkan untuk melayani satu atau lebih kecamatan. Pusat
pelayanan tersier ini terutama dikembangkan untuk menciptakan satuan ruang wilayah
yang lebih efisien sebagai sentra pelayanan kegiatan.
c. Pusat Pelayanan Kawasan (PPK), yaitu kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani
kegiatan skala kecamatan atau beberapa desa.
d. Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL), yaitu pusat permukiman yang berfungsi untuk
melayani kegiatan skala antar desa.
Sesuai dengan arahaan RTRW Kabupaten Toba Samosir Tahun 2011 2031, Kecamatan Balige
merupakan PKW. Lokasi yang menjadi PKW tersebut adalah di pusat kecamatan Balige dengan
strategi revitalisasi dan arahan fungsi sebagai berikut:
Pusat pemerintahan kabupaten
Pusat perdagangan dan jasa
Pendidikan
Pertanian
Industri
Perikanan
Pariwisata
Transportasi danau
Permukiman
4.4.1.2. Rencana Sistem Jaringan Prasarana Wilayah
A. SISTEM RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM JARINGAN PRASARANA TRANSPORTASI
A. 1. Sistem Jaringan Jalan
Rencana jaringan jalan yang diarahkan adalah seperti yang diuraikan berikut ini:
1. Rencana Jalan Berdasarkan Kewenangan
a. Jalan bebas hambatan Tebing Tinggi Pematang Siantar Parapat Tarutung Sibolga
(sesuai dengan PP No. 26 Tahun 2008 tentang RTRWN)
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN TOBA SAMOSIR

IV - 9

LAPORANAKHIR
DOKUMENPENATAANKAWASANLAYAKHUNIIBUKOTAKABUPATENTOBASAMOSIRTAHUN20152019

b. Jaringan jalan nasional batas Simalungun Silimbat batas Tapanuli Utara


c. Jaringan jalan provinsi Silimbat Parsoburan, Porsea Tangga Bandar Pulau Pulau
Rakyat, Parsoburan batas Labuhan Batu
d. Jaringan jalan kabupaten 165 ruas (sesuai data Tabel K-1 2010, terlampir)
e. Pembangunan dan peningkatan jalan desa di seluruh wilayah kecamatan
f. Rencana peningkatan status jalan dari jalan kabupaten menjadi jalan provinsi:
Parsoburan Borbor Rianiate (Toba Samosir) menuju Garoga (Tapanuli Utara)
Parsoburan Borbor Pangururan (Toba Samosir) menuju Sipahutar (Tapanuli Utara)
Meat (Toba Samosir) Sitanggor (Tapanuli Utara)
2. Rencana Jalan Berdasarkan Fungsi
a. Jalan bebas hambatan Tebing Tinggi Pematang Siantar Parapat Balige Siborongborong - Tarutung Sibolga, dan ruas batas Simalungun Silimbat batas Tapanuli Utara
b. Jalan kolektor 2 yaitu Silimbat Parsoburan, Porsea Tangga Bandar Pulau Pulau
Rakyat, Parsoburan batas Labuhan Batu
c. Jalan lokal primer 165 ruas (sesuai data Tabel K-1 2010, terlampir)
d. Rencana peningkatan fungsi jalan dari jalan lokal primer menjadi jalan kolektor 2 yang
meliputi:
Parsoburan Borbor Rianiate (Toba Samosir) menuju Garoga (Tapanuli Utara)
Parsoburan Borbor Pangururan (Toba Samosir) menuju Sipahutar (Tapanuli Utara)
Meat (Toba Samosir) Sitanggor (Tapanuli Utara) menjadi jalan kolektor primer
e. Pembangunan dan peningkatan jalan lingkungan di seluruh kecamatan
3. Rencana Jalan Berdasarkan Peran Strategis Keruangan, yaitu jalan poros/ penghubung/
feeder/ strategis provinsi yang mliputi Tebing tinggi Pematang Siantar Parapat Balige
Tarutung Sibolga.
4. Rencana pembangunan dan peningkatan jalan alternatif kabupaten, membuka akses baru
antar kabupaten, kecamatan, perdesaan, dan daerah yang terisolir serta mengurangi
ketergantungan pada jalan utama yang sudah ada saat ini, meliputi:
Pembangunan jalan Balige by pass antara Janji Maria Hinalang (Balige)
Pembukaan jalan akses dan pinggiran Danau Toba (outer ring road) Tampahan Balige
Laguboti Sigumpar Porsea Uluan, Siantar Narumonda Lumban Julu Ajibata
Parsoburan Borbor Rianiate menuju Garoga (Tapanuli Utara)
Meat Sitanggor (batas Tapanuli Utara)
Borbor (Toba Samosir) Sianjur Silangit (batas Tapanuli Utara)
Peningkatan/ pembangunan ruas jalan Meranti Pintu Pohan Dolok Sibide Barat
Meranti Tengah Meranti Barat (Labuhan Batu)
Peningkatan/ pembangunan ruas jalan Sibide Meranti tengah Meranti Timur Bandar
Pulau (Asahan)
Ajibata (pelabuhan ferry), Kabupaten Toba Samosir menuju Girsang II, Kabupaten
Simalungun
Pardomuan Ajibata Girsang (Kabupaten Simalungun)
Pembukaan, pembangunan, dan peningkatan jalan dan jembatan ke wilayah tertinggal
dan terisolir.

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN TOBA SAMOSIR

IV - 10

LAPORANAKHIR
DOKUMENPENATAANKAWASANLAYAKHUNIIBUKOTAKABUPATENTOBASAMOSIRTAHUN20152019

5. Pembangunan dan peningkatan jalan perdesaan dan permukiman di seluruh wilayah


kecamatan.
6. Pembangunan dan pengembangan jalan menuju pusat-pusat sentra produksi dan pusat
wisata.

A. 2. Fasilitas Penunjang (Sarana Transportasi)


Fasilitas penunjang atau sarana transportasi seperti terminal yang merupakam titik simpul
dalam sistem jaringan transportasi darat yang berfungsi sebagai pelayanan umum dan melancarkan
arus penumpang/ barang. Untuk mendukung sistem transportasi di Kabupaten Toba Samosir, maka
pengembangan terminal terdiri dari pembangunan terminal tipe Cdi kecamatan Balige dan terminal
pembantu di Kecamatan Tampahan, Sigumpar, Porsea, Parsoburan, dan Ajibata.
A. 3. Rencana Pengembangan Sarana dan Prasarana Angkutan Umum
Rencana pengaturan ini secara lokal bertujuan untuk mengatasi permasalahan tidak
optimalnya pelayanan angkutan umum (seperti jalur angkutan yang belum mencapai seluruh
wilayah Kabupaten Toba Samosir) dan tidak teraturnya trayek angkutan umum.
Rencana pengaturan jalur dan moda angkutan umum pada wilayah Kabupaten Toba Samosir
mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
-

Rencana pengembangan struktur dan jaringan jalan

Rencana penetapan lokasi terminal

Pola pergerakan penumpang angkutan umum

Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka rencana pengaturan jalur dan moda angkutan
umum di Kabupaten Toba Samosir meliputi:
-

Penataan dan peningkatan pelayanan angkutan

Peningkatan sarana dan prasarana angkutan

Pengembangan dan penataan jalur angkutan perdesaan

A. 4. Sistem Jaringan Transportasi Danau dan Penyeberangan


Rencana pembangunan sistem transportasi danau penyeberangan di Kabupaten Toba
Samosir diarahkan untuk mendukung aksesibilitas antar kabupaten di sekitar kawasan Danau Toba,
termasuk dalam wilayah Kabupaten Toba Samosir, baik barang, penumpang, ataupun yang
bertujuan dalam mendukung pengembangan pariwisata. Pada saat ini, sarana dermaga terdapat di
Balige, Porsea, dan Ajibata yang berfungsi sebagai dermaga penumpang dan barang.
Rencana pengembangan transportasi danau meliputi:
1. Peningkatan sarana dan prasarana dermaga Kecamatan Balige, Porsea, dan Ajibata.
2. Pembangunan dan peningkatan dermaga kecil (steger) di setiap kecamatan yang berada
dalam wilayah pinggiran Danau Toba.
3. Pembenahan dan penambahan jalur angkutan danau antar kabupaten dan dalam
kabupaten. Rute angkutan meliputi:
a. Penyeberangan antar kabupaten:
Balige Kabupaten Samosir (Nainggolan Onan Runggu Mogang Janji Raja
Tamba/ Simbolon

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN TOBA SAMOSIR

IV - 11

LAPORANAKHIR
DOKUMENPENATAANKAWASANLAYAKHUNIIBUKOTAKABUPATENTOBASAMOSIRTAHUN20152019

Balige Kabupaten Humbang Hasundutan (Bakti Raja)


Balige Kabupaten Tapanuli Utara (Muara)
Ajibata Kabupaten Samosir (Tomok Nainggolan Onan Runggu Lontung
Lagundi Mogang)
Ajibata Kabupaten Simalungun (Haranggaol Tigaras)
Ajibata Kabupaten Dairi (Silalahi Palopo)

b. Penyeberangan antar kecamatan di Kabupaten Toba Samosir:

Balige Sigaol Panamean

Porsea Panamean Sigaol Sibuntuon

Ajibata Horsik Jonggi Nihuta Panamean

Tampahan Balige Laguboti Sigumpar Porsea Lumbanjulu Uluan Ajibata

A. 5. Sistem Jaringan Transportasi Udara


Rencana sistem jaringan transportasi udara di Kabupaten Toba Samosir mencakup bandara
dan ruang udaranya. Sesuai dengan araha RTRW Provinsi Sumatera Utara, bandara Sibisa diarahkan
sebagai bandara pengumpan guna mendukung pergerakan angkutan udara di wilayah Toba Samosir
dan sekitarnya, serta bertujuan untuk meningkatkan perekonomian dan pariwisata di Kabupaten
Toba Samosir.
Bandara Sibisa berlokasi di Desa Parsaoran Sibisa, Kecamatan Ajibata, dengan luas areal
20 Ha, dengan uraian sebagai berikut:
Koordinat

0236, 0189 LU

Runway

Panjang total

9857, 4689 BT

750 m

Panjang 295 m; lebar 3 m


Panjang 455 m; lebar 18 m
Taxiway

Panjang 40 m; lebar 15 m

Apron

Panjang 60 m; lebar 40 m

1 unit Gedung Terminal dengan luas 120 m2


Rencana pengembangan sistem transportasi udara diantaranya meliputi :
1. Pengembangan Bandara Sibisa untuk mendukung pergerakan udara di wilayah Tapanuli
dan sekitarnya dan sekaligus dapat berfungsi sebagai pusat penyebaran dan pelayanan
tersier.
2. Penyusunan Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) Bandara Sibisa untuk
menetapkan kawasan aman bagi jalur penerbangan dengan pembatas ketinggian
bangunan di sekitar kawasan bandara sesuai dengan ketentuan perundang-undangan
yang berlaku.
3. Penataan kawasan sekitar bandara agar memenuhi
penerbangan dan pelayanan angkutan dari dan ke bandara.

persyaratan

keselamatan

B. RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM JARINGAN ENERGI


Pelayanan kebutuhan energi listrik saat ini belum dapat menjangkau seluruh wilayah
Kabupaten Toba Samosir diakibatkan kondisi topografi berupa pegunungan serta akses yang belum
memadai, terutama ke wilayah perdesaan yang masih tertinggal dan terisolir. Kebutuhan energi

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN TOBA SAMOSIR

IV - 12

LAPORANAKHIR
DOKUMENPENATAANKAWASANLAYAKHUNIIBUKOTAKABUPATENTOBASAMOSIRTAHUN20152019

listrik Kabupaten Toba Samosir pada akhir tahun 2031 diperkirakan mencapai 63.357.228 VA, dengan
kebutuhan terbesar mencakup kebutuhan domestik sebesar 43.694.640 VA.

Tabel IV.1.
Rencana Kebutuhan Energi Listrik Menurut Jenis Penggunaan, Kabupaten Toba Samosir

Tahun

Jumlah
Penduduk
(Jiwa)

Kebutuhan Listrik (VA)


Domestik

Sarana
Umum

K
(lain-lain)

Jumlah

Faktor
Susut
(10% x D)

PJU
(5% x D)

VA

KVA

2016

191.595

34.487.100

1.724.355

8.621.775

3.448.710

1.724.355

50.006.295

50.006,30

2021

209.374

37.687.320

1.884.366

9.421.830

3.768.732

1.884.366

54.646.614

54.646,61

2026

225.444

40.579.920

2.028.996

10.144.980

4.057.992

2.028.996

58.840.884

58.840,88

2031

242.748

43.694.640

2.184.732

10.923.660

4.369.464

2.184.732

63.357.228

63.357,23

Sumber: RTRW Kabupaten Toba Samosir Tahun 2011 2031; Hal. III-27

Berdasarkan perkiraan tersebut maka direncanakan pengembangan prasarana energi berupa:


1. Peningkatan daya energi listrik pada daerah-daerah pusat pertumbuhan, kawasan
strategis dan daerah pengembangan berupa pembangunan jaringan dan penambahan
gardu-gardu listrik.
2. Pengembangan pelayanan prasarana energi listrik dengan pengenbangan sumber energi
potensial di wilayah Kabupaten Toba Samosir.
3. Pemerataan dan optimalisasi pelayanan energi listrik ke selruh wilayah pengembangan
di Kabupaten Toba Samosir.
4. Pengembangan pelayanan prasarana energi listrik dengan pengembangan sumber energi
potensal di wilayah Kabupaten Toba Samosir.
5. Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di daerah tidak terjangkau
jaringan listrik meliputi Kecamatan Habinsaran, Nassau, Pintu Pohan Meranti dan Borbor.
6. Pembangunan dan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Asahan III, PLTA
Meranti Utara, dan Pembangkit Listrik Mini Hidro (PLMTH) Parluasan, Kecamatan Nassau.
7. Pembatasan pengembangan kegiatan pada wilayah lokasi SUTUT, SUTT, dan SUTET
dengan menetapkan areal tersebut sebagai areal konservasi.
8. Pengembangan dan perluasan jaringan energi listrik perdesaan meliputi:

Kecamatan Nassau
Kecamatan Habinsaran
Kecamatan Borbor
Kecamatan Lumban Julu
Kecamatan Pintu Pohan Meranti
Kecamatan Silaen

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN TOBA SAMOSIR

IV - 13

LAPORANAKHIR
DOKUMENPENATAANKAWASANLAYAKHUNIIBUKOTAKABUPATENTOBASAMOSIRTAHUN20152019

C. RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM JARINGAN PRASARANA TELEKOMUNIKASI


Prioritas pengembangan fasilitas telekomunikasi di

Kabupaten Toba Samosir, dilakukan

pada :

Kawasan strategis, industri, dan pusat-pusat perdagangan dan jasa

Wilayah perdesaan yang letaknya berada di daerah tidak terjangkau sinyal telepon
genggam (daerah blank spot)

Wilayah perdesaan yang kondisi topografinya sulit untuk dilalui jaringan teresterial
telekomunikasi.

Kebutuhan sambungan telepon di Kabupaten Toba Samosir dihitung dengan menggunakan


standar DKTD (perencanaan kawasan perumahan) dan penyesuaian. Perkiraan kebutuhan
telekomunikasi di Kabupaten Toba Samosir sampai tahun 2031 adalah seperti yang diuraikan pada
tabel berikut:
Tabel IV.2.
Rencana Kebutuhan Telekomunikasi Menurut Jenis Penggunaan, Kabupaten Toba Samosir
Standar
No

Tahun 2031
Kebutuhan

Kecamatan
Perumahan

Telepon
Umum

Fasilitas

Penduduk
(jiwa)

Perumahan

Telepon
Umum

Fasilitas

Balige

50

1500

500

61.459

1.229,18

41

123

Tampahan

50

1500

500

7.695

153,9

15

Laguboti

50

1500

500

24.379

487,58

16

49

Habinsaran

50

1500

500

19.299

385,98

13

39

Borbor

50

1500

500

11.502

230,04

23

Nassau

50

1500

500

8.732

174,64

17

Silaen

50

1500

500

17.004

340,08

11

34

Sigumpar

50

1500

500

9.475

189,5

19

Porsea

50

1500

500

15.312

306,24

10

31

10

Pintu Pohan

50

1500

500

9.569

191,38

19

11

Siantar Narumonda

50

1500

500

8.100

162

16

12

Lumban Julu

50

1500

500

10.164

203,28

20

13

Uluan

50

1500

500

10.397

207,94

21

14

Ajibata

50

1500

500

9.678

193,56

19

15

Parmaksian

50

1500

500

11.304

226,08

23

16

Bantualunasi

50

1500

500

8.680

173,6

17

242.749

4.855

162

485

Jumlah

Total Kebutuhan Sambungan

5.502

Sumber: RTRW Kabupaten Toba Samosir Tahun 2011 2031; Hal. III-29

D. RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM JARINGAN PRASARANA SUMBER DAYA AIR

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN TOBA SAMOSIR

IV - 14

LAPORANAKHIR
DOKUMENPENATAANKAWASANLAYAKHUNIIBUKOTAKABUPATENTOBASAMOSIRTAHUN20152019

Kabupaten Toba Samosir merupakan bagian dari rencana pengembangan dan pengelolaan
jaringan sumber daya air nasional dan provinsi Sumatera Utara yang meliputi pengembangan dan
pengelolaan Wilayah Sungai (WS) Strategis Nasional Toba Asahan dan pengembangan pola
pengelolaan Cekungan AirnTanah (CAT) Porsea Parapat. Pengelolaan Sumber Daya Air (SDA)
sebagai amanat PP no. 42 tahun 2008 tentang Sumber Daya Air meliputi konservasi SDA,
pendayagunaan SDA, dan pengendalian daya rusak air secara terpadu antara air permukaan dan air
tanah di wilayah provinsi Sumatera Utara meliputi air permukaan sungai, danau, dan mata air.

D. 1. Jaringan SDA Lintas Provinsi dan Kabupaten/ Kota


Jaringan SDA pada WS di Kabupaten Toba Samosirterdiri dari:
-

WS Strategis Nasional Toba Asahan meliputi DAS Danau Toba dan DAS Asahan

WS lintas kabupaten Barumun Kualuh meliputi DAS Kualuh dan DAS Bilah

D. 2. Jaringan Irigasi
Rencana Pengembangan sistem jaringan irigasi terdiri dari:
-

Pengembangan dan peningkatan jaringan irigasi yang sangat potensial untuk


meningkatkan produktifitas hasil pertanian sepertidi daerah irigasi Aek Nabara
(Laguboti), Aek Mandosi (Porsea), serta Bonatua Lunasi, Simangatasi Silaen, dan Bondar
Juda (Balige)

Pengembangan, peningkatan, dan pengelolaan jaringan irigasi (meliputi pembangunan/


revitalisasi/ rehabilitasi/ refungsionalisasi/ penataan)

Pembangunan irigasi dari air tanah pada daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh irigasi
teknis

Pengembangan, pengelolaan, dan konservasi sungai, danau, dan


(normalisasi/ revitalisasi) sumber-sumber pengambilan/ pemanfaatan air

SDA

lainnya

D. 3. Jaringan Air Baku dan Air Bersih


Pemenuhan kebutuhan air bersih yang dikelola oleh PDAM masih menjangkau 4 dari 16
kecamatan yang ada di di Kabupaten Toba Samosir, yaitu Balige, Laguboti, Porsea, dan Ajibata.
Sumber air baku berasal dari air permukaan seperti Danau Toba, sungai, dan mata air. Pada tabel
berikut dapat dilihat sumber air baku dan besaran debit air yang merupakan sumber penyediaan air
minum yang dikelola oleh PDAM.
Tabel IV.3.
Sumber Air Baku dan Besaran Debit Air yang Dikelola PDAM Tirtanadi Cabang Balige
Kecamatan

Nama Sumber

Jenis Air Baku

Debit (ltr/dtk)

Balige

WTP Lumban Silintong

Air Permukaan Danau Toba

30

Aek Bolon

Mata Air

2,5

Laguboti

WTP Lumban Binanga

Air Permukaan Danau Toba

10

Porsea

Aek Simangkuk

Anak Sungai

15

Ajibata

Aek Sihuting

Mata Air

Sumber: RTRW Kabupaten Toba Samosir Tahun 2011 2031; Hal. III-33

Jika dibandingkan dengan perhitungan kebutuhan air bersih di Kabupaten Toba Samosir
pada tahun 2031 yang mencapai total kebutuhan 444 ltr/dtk, maka tingkat pelayanan PDAM saat ini

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN TOBA SAMOSIR

IV - 15

LAPORANAKHIR
DOKUMENPENATAANKAWASANLAYAKHUNIIBUKOTAKABUPATENTOBASAMOSIRTAHUN20152019

masih sangat minim.

Data Susenas 2009 menunjukkan bahwa sebesar 83,37% rumah tangga memanfaatkan sumber
air minum yang berasal dari air permukaan dan air tanah, dan hanya 16,63% yang sudah
memanfaatkan sumber air minum yang dikelola Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi
Cabang Balige ataupun yang dibangun oleh pemerintah daerah.

Tabel IV.4.
Jumlah Pelanggan, Produksi dan Nilai Air Bersih PDAM Menurut Kategori Pelanggan
No

Kategori Pelanggan

Pelanggan

Produksi (m3)

3.835

1.101.522

Rumah/ Tempat Tinggal

Hotel/ Objek Wisata

1.715

Badan Sosial dan Rumah Sakit

20

6.346

Tempat Peribadatan

18

5.136

Sarana Umum

36

10.416

Toko dan Industri

751

217.285

Instansi Pemerintah

52

16.149

Susut/ hilang dalam penyaluran

Lain-lain

Tahun 2009

4.718

1.358.569

Tahun 2008

4.520

1.283.878

Tahun 2007

4.322

1.125.316

Sumber: RTRW Kabupaten Toba Samosir Tahun 2011 2031; Hal. III-33

Dari data-data tersebut maka rencana pengembangan jaringan air baku dan air minum di
Kabupaten Toba Samosir, yang meliputi:
-

Peningkatan kapasitas produksi dan pelayanan PDAM

Penyediaan dan peningkatan sumber-sumber air baku bagi permukiman di seluruh


wilayah pengembangan

Pengembangan dan pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di wilayah


perkotaan yang meliputi seluruh IKK Kabupaten Toba Samosir

Menyediakan sarana air minum perdesaan terutama bagi masyarakat berpenghasilan


rendah (MBR) dan pada wilayah yang rawan air

Mengembangkan sistem kelembagaan dalam pengelolaan air bersih

D. 4. Sistem Pengendalian Banjir


Sistem pengendalian banjir pada wilayah Kabupaten Toba Samosir terdiri dari penyediaan
sarana konstruksi pengendali banjir dan pengelolaan DAS terutama pada wilayah perkotaan atau
wilayah lainnya yang merupakan kawasan rawan banjir. Adapun rencana pengembangan
pengendalian banjir dapat dilakukan melalui :
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN TOBA SAMOSIR

IV - 16

LAPORANAKHIR
DOKUMENPENATAANKAWASANLAYAKHUNIIBUKOTAKABUPATENTOBASAMOSIRTAHUN20152019

Pengembangan dan peningkatan sarana dan prasarana pengendali banjir

Pengamanan sempadan danau dan sungai sebagai kawasan konservasi atau budidaya
terbatas

Pengelolaan DAS dan Sub DAS meliputi konservasi air dan tanah

Penataan kembali hutan yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air

E. RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM JARINGAN PERSAMPAHAN


Pada tahun 2010, produksi sampah di Kabupaten Toba Samosir rata-rata 459,312 m3/hari
dengan asumsi produksi sampah 0,012 m3/hari/rumah tangga, yang sebagian besar berasal dari
sampah pasar, rumah tangga, sekolah, perkantoran, rumah makan, pertokoan, dan lain sebagainya.
Saat ini Kabupaten Toba Samosir memiliki 2 lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yaitu
TPA Pintu Bosi di Kecamatan Laguboti dengan luas 2 Ha dan TPA Sijambur di Kecamatan Ajibata
seluas 0,2 Ha. Kedua TPA tersebut berada di lahan dengan status tanah milik pemerintah Kabupaten
Toba Samosir. Metode perngelolaan sampah di situ menggunakan metoda dumping. Dengan
perkiraan sisa daya tampung 10 tahun. Jarak kedua TPA tersebut dari permukiman warga berkisar
1,5 km dan 2 km. Demi mewujudkan pencapaian Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015,
perlu diupayakan peningkatan sarana dan prasarana pengelolan persampahan secara bertahap.
Diharapkan pada masa mendatang setiap kecamatan memiliki Tempat Pembuangan Sampah
Sementara (TPS) sebelum diangkut ke TPA.
Menurut RDTR Kawasan Strategis Perkotaan Balige tahun 2012 2032, volume sampah di
Kabupaten Toba samosir pada tahun 2031 akan mencapai 668 m3/hari. Adapun rencana pengelolaan
persampahan di Kabupaten Toba Samosir adalah melalui tahap-tahap sebagai berikut:
a. Tahap pengumpulan, yaitu pengelolaan sampah dari tempat asalnya ke TPS. Pada tahap
ini digunakan sarana seperti becak sampah, gerobak sampah, tong sampah, maupun TPS
itu sendiri.
b. Tahap pengangkutan, yang dilakukan setelah pengumpulan sampah. Tahap ini dilakukan
dengan sarana bantuan berupa alat transportasiseperti truk sampah untuk dibuang ke
TPA atau tempat pengolahan sampah.
Kebutuhan sarana persampahan di Kabupaten Toba Samosir pada tahun 2031 adalah1 :
- Bak/ tong sampah sebanyak 13.351 unit (1 unit = 0,05 m3)
- Gerobak sampah sebanyak 334 unit (1 unit = 2 m3)
- TPS sebanyak 111 unit (1 unit = 6 m3)
- Truk sampah sebanyak 37 unit (1 unit = 18 m3)
Tabel IV.5.
Jumlah Timbulan Sampah dan Kebutuhan Sarana Persampahan Kabupaten Toba Samosir Tahun 2031

No

Keterangan

Standard (ltr/org/hari)

Jumlah Timbulan Sampah & Kabutuhan Sarana


Persampahan
(Proyeksi Jumlah Penduduk Tahun 2031 =
242.728 jiwa)
ltr/hari

Domestik

Sarana Umum/ Sosial

m3/hari

485.496

485,50

0,5

121.374

121,37

RDTR Kawasan Strategis Perkotaan Balige Tahun 2012 2032; hal. II-7

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN TOBA SAMOSIR

IV - 17

LAPORANAKHIR
DOKUMENPENATAANKAWASANLAYAKHUNIIBUKOTAKABUPATENTOBASAMOSIRTAHUN20152019

Komersial

Total Timbulan sampah

Kebutuhan Bak/ Tong sampah

Kebutuhan Gerobak Sampah

Kebutuhan TPS

Kebutuhan Truk Sampah

0,25

60.687

60,69

868.027

668

1 unit = 0,05 m3

13.351

1 unit = 2 m3

334

111

1 unit = 6 m

1 unit = 18 m3 (3 trip/hari)

37

Sumber: RTRW Kabupaten Toba Samosir Tahun 2011 2031; Hal. III-36

Adapun strategi pengelolaan sampah yang dicanangkan adalah dengan peningkatan kerja
melalui :
1. Pengembangan penyelenggaraan pengelolaan persampahan di Kabupaten Toba Samosir
2. Pengembangan TPA Pintu Bosi di Laguboti dan TPA Sijambur di Ajibata
3. Penambahan TPS di setiap kecamatan, terutama pada kawasan perkotaan, perdagangan,
perkantoran dan permukiman
4. Pengembangan pengelolaan TPA dengan sistem sanitary landfill
5. Pengembangan pengelolaan sampah dengan sistem 3R yaitu pengurangan (reduce),
penggunaan kembali (reuse), dan daur ulang (recycle)
6. Peningkatan manajemen pengelolaan persampahan.

F. RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM JARINGAN AIR LIMBAH


Perkembangan jumlah penduduk berakibat pada meningkatnya kebutuhan permukiman baru
sehingga mendorong adanya penciptaan permukiman-permukiman baru maupun pertambah
kepadatan permukiman yang sudah ada. Dengan kondisi tersebut beban limbah akan semakin
bertambah dan apabila tidak terkontrol dapat mengakibatkan terjadinya kerawanan sosial,
menurunkan kualitas lingkungan hidup dan menurunkan produktivitas masyarakat.
Air limbah domestik adalah air bekas yang tidak dapat dipergunakan lagi untuk tujuan
semula, baik yang mengandung kotoran manusia (tinja) atau yang berasal dari aktivitas dapur,
kamar mandi dan cuci, dimana kuantitasnya antara 50-70% dari rata-rata pemakaian air bersih.
Tabel IV.6.
Proyeksi Jumlah Limbah Cair Kabupaten Toba Samosir Tahun 2031
Kebutuhan Tahun 2031
Uraian

Standart

((Proyeksi Jumlah Penduduk Tahun


2031 = 242.728 jiwa)
m3

Kebutuhan air bersih


Produksi Limbah Air Kotor

0,12 m3/hari

29.129,76

70% x kebutuhan air bersih

20.391

Sumber: RTRW Kabupaten Toba Samosir Tahun 2011 2031; Hal. III-37

Sistem pembuangan air limbah di wilayah Kabupaten Toba Samosir menggunakan dua sistem
yaitu sistem sanitasi setempat (on-site sanitation) dan sistem sanitasi terpisah (off-site sanitation).
Rencana arahan pengembangan prasarana saluran pembuangan limbah di wilayah Kabupaten Toba
Samosir bertujuan untuk meningkatkan kesehatan lingkungan dengan menerapkan sanitasi
lingkungan yang sehat dan ekonomis. Untuk penanganan limbah domestik diarahkan dengan

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN TOBA SAMOSIR

IV - 18

LAPORANAKHIR
DOKUMENPENATAANKAWASANLAYAKHUNIIBUKOTAKABUPATENTOBASAMOSIRTAHUN20152019

pengelolaan air limbah dengan sistem on site di wilayah perkotaan maupun perdesaan.
Pada wilayah dengan karakteristik tertentu perlu diterapkan pengelolaan air limbah dengan
sistem komunal. Sistem sanitasi komunial ini diarahkan pada lokasi dengan karakteristik:
-

Daerah sulit air, rawan penyakit dan kualitas lingkungan yang buruk akibat tercemarnya
permukiman dan tempat-tempat umum.

Daerah kumuh dengan kepadatan bangunan yang tinggi

Daerah dengan kondisi pelayanan prasarana buruk dan pertumbuhan penduduk tinggi.

Rencana pengembangan sistem pengolahan limbah di Kabupaten Toba Samosir adalah :


1. Pengembangan sistem pengelolaan air limbah di Kabupaten Toba Samosir dengan sistem
on- site dan sistem off-site.
2. Pengelolaan limbah pada kawasan industri diarahkan dengan sistem terpusat, dimana
pengumpulannya dilakukan secara kolektif melalui jaringan pengumpul dan diolah secara
terpusat.
3. Pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di kawasan perkotaan Balige dan
Porsea serta pengembangan IPAL di Ajibata. Penetapan lokasi IPAL dilakukan berdasarkan
kajian menurut aspek teknis, lingkungan, sosial budaya, dan aturan perundang-undangan
yang berlaku.
4. Pembangunan instalasi pengolahan limbah tinja (IPLT) di kawasan perkotaan dengan
penetapan lokasi yang dilakukan dengan memperhatikan kelayakan teknis, lingkungan,
sosial budaya masyarakat setempat, dan aturan perundang-undangan yang berlaku.
5. Pengembangan sistem komunal untuk pengolahan limbah pada daerah rawan air, kumuh,
kepadatan tinggi, kawasan perkantoran, pendidikan, pemerintahan, dan kawasan
komersial.
6. Pengembangan dan peningkatan sarana dan prasarana air limbah Kabupaten Toba
Samosir.
G. RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM JARINGAN DRAINASE WILAYAH
Kondisi drainase di Kabupaten toba Samosir sampai dengan tahun 2009 baru direalisir untuk
0,17% dari total panjang jalan kabupaten sepanjang 1.193,20 Km 2 . Dalam pengelolaan drainase,
Pemerintah Kabupaen Toba Samosir turut melibatkan peran serta masyarakat dan gender dengan
tahapah sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.
Adapun pengembangan rencana sistem jaringan drainase di Kabupaten Toba Samosir
bertujuan untuk menanggulangi dan mengurangi banjir serta genangan air pada kawasan
permukiman di perkotaan maupun wilayah perdesaan. Pengembangan jaringan drainase dilakukan
dengan pembangunan sistem drainase primer, sekunder, dan tersier yang berfungsi untuk melayani
seluruh bagian wilayah kabupaten, dengan memanfaatkan sistem jaringan drainase yang sudah ada
secara maksimal, baik sungai, anak sungai, maupun saluran-saluran sistem irigasi sebagai saluran
pembuang utama. Selain sistem jaringan drainase, pengembangan metode sumur resapan
merupakan salah satu alternatif penanganan masalah limpasan air hujan.
Rencana pengembangan drainase di Kabupaten Toba Samosir terdiri dari3:
1. Pengembangan sistem jaringan drainase di wilayah perkotaan yang rawan genangan air
seperti Balige, Porsea, Laguboti, Silaen, Parsoburan, dan Ajibata.

BPS Kabupaten Toba Samosir: Profil Daerah Kabupaten Toba Samosir 2012; Hal. 58

RTRW Kabupaten Toba Samosir Tahun 2011 2031; Hal. III-39

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN TOBA SAMOSIR

IV - 19

LAPORANAKHIR
DOKUMENPENATAANKAWASANLAYAKHUNIIBUKOTAKABUPATENTOBASAMOSIRTAHUN20152019

2. Pengembangan sistem jaringan drainase diarahkan akan tetap mengikuti pola atau
kerangka sistem alamiah yang ada, dimana pengalirannya dilakukan secara gravitasi
dengan memperhatikan kondisi topografi wilayah pengembangan.
3. Peningkatan sarana dan prasarana drainase di seluruh wilayah pengembangan perkotaan
maupun perdesaan.
4. Prioritas penanganan drainase dilakukan pada kawasan terbangun, kawasan rawan
genangan, dan yang memerlukan penataan atau perbaikan agar dapat berfungsi secara
maksimal.
5. Peningkatan peran serta masyarakat dalam memelihara prasarana drainase, rehabilitasi,
peningkatan dan pembangunan saluran.

H. RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM JARINGAN JALUR DAN RUANG EVAKUASI BENCANA


Jalur evakuasi bencana alam disesuaikan dengan kondisi wilayah dan diarahkan pada
jaringan jalan terdekat menuju ruang evakuasi, yang meliputi:
1. Jaringan jalan arteri yang meliputi ruas baru batas Simalungun Silimbat batas Taput
2. Jaringan jalan kolektor yang meliputi:
-

Ruas jalan Silimbat Parsoburan batas Labuhan Batu

Ruas jalan Porsea Tangga Bandar Pulau Pulau Rakyat

3. Jaringan jalan lokal meliputi:


-

Ruas jalan Meat Tampahan

Ruas jalan Balige Tarabunga

Ruas jalan Porsea Narumonda

Ruas jalan Porsea Siregar

Ruas jalan Amborgang Sampuara

Ruas jalan Lumban Julu Hatinggian

Ruas jalan Jangga Dolok Jangga Toruan Sibaruang

Ruas jalan Panamparan Lumban Balik Parsoburan

Ruas jalan Simpang Paridian Pagar Gunung

Ruas jalan Batu Manumpak Onansau

Ruas jalan Borbor Purba Tua

Ruas jalan Borbor Natumikka

Ruas jalan Borbor Rianiate

Ruas jalan Hutabagasan Maranti

Ruang evakuasi bencana alam berada di ruang terbuka atau bangunan gedung yang berada di
wilayah kecamatan di daerah rawan bencana. Penyediaan kelengkapan ruang evakuasi tersebut
meliputi:
-

Ruang hunian

Ruang dapur umum

Ruang massal

Ruang rehabilitasi

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN TOBA SAMOSIR

IV - 20

LAPORANAKHIR
DOKUMENPENATAANKAWASANLAYAKHUNIIBUKOTAKABUPATENTOBASAMOSIRTAHUN20152019

Ruang logistik

Ruang kantor

Ruang utilitas

Lapangan terbuka

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN TOBA SAMOSIR

IV - 21