You are on page 1of 17

BAB I

PENDAHULUAN
Gangguan penggunaan Narkotika Psikotropika dan Zat Adiktif lain
(NAPZA) merupakan masalah yang menjadi keprihatinan dunia international di
samping masalah HIV/AIDS, kekerasan (violence), kemiskinan, pencemaran
lingkungan, pemanasan global dan kelangkaan pangan. Sejak tahun 1987, PBB
mengeluakan laporan tahunan konsumsi narkoba di dunia. Saat ini, sekitar 25 juta
orang mengalami ketergantungan NAPZA.1 Laporan tahunan United Nations
Office on Drugs and Crime (UNODC) 2013 menyebutkan bahwa pada tahun
2011, diperkirakan antara 167 sampai dengan 315 juta orang (3,6-6,9% dari
populasi penduduk dunia yang berumur 15-64 tahun) menggunakan Narkoba
minimal sekali dalam setahun.2
Saat ini di Indonesia ditemukan 26 (dua puluh enam) zat baru yang
mengandung Narkoba dan belum diatur dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun
2009 tentang Narkotika.3 Di Indonesia pengguna NAPZA mencapai 3,8 juta jiwa.1
Berdasarkan hasil penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerjasama
dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia tahun 2011 tentang
Survei Nasional Perkembangan Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia, diketahui
bahwa angka prevalensi penyalahguna Narkoba di Indonesia telah mencapai
2,2%.2,3 Hal yang lebih memprihatinkan adalah sekitar 3,7-4,7 juta orang dari
total populasi penduduk merupakan kelompok usia produktif dan sebagian besar
di antaranya adalah remaja dan dewasa awal (20-30 tahun).1-3 Sekitar 70% dari
total pengguna NAPZA di Indonesia anak usia sekolah di mana sekitar 4% siswa
SMA dan selebihnya mahasiswa.1 Tahun 2015 jumlah penyahguna Narkoba
diproyeksikan ± 2,8% atau setara dengan ± 5,1 - 5,6 juta jiwa dari populasi
penduduk Indonesia.3
Remaja yang menggunakan narkoba akan terganggu daya nilainya
terhadap kehidupan, kewajiban sebagai pelajar, menyita sangat banyak waktu dari
sisi aktivitas positifnya, dan mengganggu proses pendidikan, bahkan sampai putus
sekolah. Mirisnya lagi, praktek penyalahgunaan narkoba biasanya diikuti dengan
meningkatnya penderita HIV/AIDS.4 Hal ini bila tidak segera ditanggulangi
1

merupakan ancaman bagi kesejahteraan generasi yang akan datang di mana anak sebagai generasi muda merupakan penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber daya manusia bagi pembangunan nasional yang perlu untuk dilindungi. mental maupun sosial agar mantan penyalahguna narkoba/NAPZA dapat kembali melaksanakan fungsi sosial dalam kehidupan masyarakat.649 orang).916 orang. terdiri dari program medis. Rehabilitasi medis adalah tindakan media untuk membebaskan penyalahguna narkoba/NAPZA dengan menggunakan obat-obatan. Program aftercare merupakan program komprehensif.5 Pecandu narkoba yang telah menjalani rehabilitasi kemudian kembali ke masyarakat tidak kemudian dilepas begitu saja. ekstasi (282 orang) dan opiat (195 orang).2 Program rehabilitasi narkoba merupakan terapi berkelanjutan atau long life therapy. 1 Oleh karena itu.6 Jumlah pecandu Narkoba yang mendapatkan pelayanan Terapi dan Rehabilitasi di seluruh Indonesia tahun 2013 menurut data Deputi Bidang Rehabilitasi BNN adalah sebanyak 6. Mereka tetap perlu mengikuti program pascarehabilitasi yang disebut pembinaan lanjut (aftercare). Rehabilitasi sosial adalah suatu proses kegiatan pemulihan secara terpadu. keagamaan. dengan jumlah terbanyak pada kelompok usia 26 – 40 tahun yaitu sebanyak 3. Jenis Narkoba yang paling banyak digunakan oleh pecandu yang mendapatkan pelayanan terapi dan rehabilitasi adalah heroin (1. shabu (1. diperlukan cara untuk membantu penyalahguna narkoba agar tidak tergantung pada obat-obatan tersebut.695 orang).111 orang. selanjutnya secara berturutan adalah jenis ganja (1. baik secara medis maupun sosial kepada orang yang menyalahgunakan narkoba/NAPZA.243 orang). Program rehabilitasi penyalahguna narkoba meliputi rehabilitasi medik dan rehabilitasi sosial. 2 . baik fisik. Salah satu cara yang terbaik untuk membantu penyalahguna NAPZA keluar dari ketergantuan obat-obatan adalah melalui proses rehabilitasi. Proses yang dijalani oleh pecandu atau penyalahguna narkoba adalah terapi yang meliputi aspek biopsikososial untuk memperkuat pribadi dan ketahanan diri dari pengaruh lingkungan.5 Rehabilitasi adalah tindakan yang dilakukan. psikososial. dan pendidikan agar pecandu dapat menyesuaikan diri.

Program pascarehabilitasi dilakukan untuk menjadikan para mantan penyalahguna narkoba/NAPZA yang sudah direhabilitasi dengan tujuan agar tidak kambuh sebagai penyalahguna dan mampu hidup mandiri.4 BAB II 3 . Program pascarehabilitasi sosial adalah tindakan pemberian latihan dan keterampilan serta pembinaan kehidupan sosial kepada mantan penyalahguna narkoba/NAPZA. bimbingan lanjut. dan terminasi.mandiri dan mampu mengoptimalkan kemampuannya sesuai dengan potensi yang dimilikinya.6 Program pasca rehabilitasi meliputi resosialisasi.

2. c. program lanjutan dan program pasca rawat. Penyalahguna. Program Rawat Inap Awal Terpidana wajib menjalani rehabilitasi rawat inap sesuai dengan rencana terapi. d. Penyusunan rencana terapi berdasarkan hasil asesmen awal. dan/atau diancam untuk menggunakan narkotika sehingga mereka diwajibkan mendapatkan rehabilitasi baik medis maupun sosial. Pemeriksaan dan penatalaksanaan medis awal. yakni seseorang yang secara sadar dan sengaja mengkonsumsi Narkotika atas dasar dirinya sendiri untuk dirinya pribadi tanpa ada unsur paksaan. bujukan dan / atau diancam untuk mengunakan narkotika. Evaluasi psikologis. b.1 Program Rehabilitasi Penyalahguna Narkoba Setiap orang yang ketergantungan Narkotika wajib untuk dapat rehabilitasi medis dan sosial guna menyembuhkan orang tersebut (pecandu Narkotika). dipaksa.TINJAUAN PUSTAKA 2. ditipu. yaitu program rawat inap awal. diperdaya. Hal yang dimaksud dengan korban penyalahgunaan narkotika adalah seseorang yang tidak sengaja menggunakan narkotika karena dibujuk. dan Korban Penyalahgunaan Narkotika yang telah diputus/ditetapkan pengadilan untuk rehabilitasi wajib menjalani 3 (tiga) tahap perawatan. Asesmen awal dengan menggunakan formulir asesmen wajib lapor/rehabilitasi medis 3. 4.7 a. 4 .8 Pecandu. Komponen pelayanan yang diberikan sekurang-kurangnya meliputi: a. Proses penandatangan formulir kesediaan mengikuti program yang sesuai rencana terapi. Konseling dan tes HIV. Pemeriksaan dan penatalaksanaan medis lanjutan sesuai indikasi asuhan keperawatan. Pelaksanaan program rehabilitasi rawat inap yang dilaksanakan sesuai standar prosedur operasional. Langkah rehabilitasi rawat inap: 1.

Pernah memiliki riwayat terapi rehabilitasi beberapa kali sebelumnya. Berusia di bawah 18 tahun. Mengalami komplikasi fisik dan/atau psikiatrik. Pasien yang mengikuti program lanjutan rawat jalan harus melakukan kontrol pada unit rawat jalan sarana rehabilitasi medis terpidana narkotika 5 . Belum menunjukkan stabilitas mental emosional pada rawat inap awal. Tidak mengalami komplikasi fisik dan/atau psikiatrik. tergantung pada derajat keparahan adiksinya sesuai dengan hasil asesmen lanjutan: 1. atau secara aktif menjalani program terapi rumatan sebelumnya. dan/atau d. b. Asesmen lanjutan dengan menggunakan formulir asesmen wajib lapor/rehabilitasi medis sebagaimana contoh formulir 1 terlampir sekurang-kurangnya setelah 3 (tiga) bulan menjalani terapi rehabilitasi untuk melihat perkembangan masalah pasien dan sebagai dasar penentuan program lanjutan. Intervensi psikososial oleh tenaga kesehatan yang ada dan/atau pekerja sosial/konselor adiksi. namun yang bersangkutan telah berada dalam masa pemulihan sebelum tersangkut tindak pidana. Program lanjutan rawat inap Program lanjutan rawat inap diberikan pada pasien dengan salah satu atau lebih kondisi di bawah ini: a. dan/atau e. Jangka waktu kumulatif rawat inap (awal dan lanjutan) paling lama 6 (enam) bulan. Program lanjutan rawat jalan Program lanjutan rawat jalan diberikan pada pasien dengan salah satu atau lebih kondisi di bawah ini: a. d. b. Pola penggunaan ketergantungan. Program Lanjutan Setelah melewati program rawat inap awal. seorang terpidana dapat menjalani program rawat inap lanjutan ataupun program rawat jalan. c.e. b. 5. Memiliki pola penggunaan yang sifatnya rekreasional. Zat utama yang digunakan adalah opioida. atau c. Zat utama yang digunakan adalah ganja atau amfetamin. 2.

atau dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang memberikan layanan pasca rawat.dengan frekuensi setidaknya 2 (dua) kali seminggu tergantung pada perkembangan kondisi pasien untuk memperoleh pelayanan intervensi psikososial. pencegahan kekambuhan dan terapi medis sesuai kebutuhan serta menjalani tes urin secara berkala atau sewaktu-waktu. sehingga ada upaya oleh BNN bagi para pecandu guna mendapatkan rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial dengan tujuan dapat memulihkan serta mengembalikan pecandu agar bisa berada dalam lingkungan masyarakat secara normal dan terbebas dari ketergantungan bahaya narkotika. c.8 BNN merehabilitasi penyalahguna NAPZA selama 1 tahun. penyalahguna NAPZA menjalani rehabilitasi berkelanjutan. Selanjutnya. Implementasi rehabilitasi penyalahguna narkotika. Tahapan bina lanjut merupakan bagian yang integral dalam rangkaian rehabilitasi ketergantungan narkotika dan tidak dapat dianggap sebagai 6 . Dalam proses rehabilitasi terhadap pecandu narkotika ini dibagi atas dua terapi yakni secara medis dan terapi secara sosial. Penyalahguna NAPZA menjalani proses rehabilitasi medis selama 6 bulan pertama untuk pemulihan dan penyembuhan serta menjalani program pascarehabilitasi berupa rehabilitasi sosial dengan pendekatan keagamaan. Penyalahguna. dan Korban Penyalahgunaan Narkotika yang telah melaksanakan rehabilitasi medis berhak untuk menjalani rehabilitasi sosial dan program pengembalian ke masyarakat yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. tradisional dan pendekatan alternatif untuk mencetak pecandu yang sembuh agar dapat kembali ketengah kehidupan bermasyarakat. Lembaga rehabilitasi medis putusan pengadilan diharapkan menjalin kerjasama dengan Panti Rehabilitasi Sosial milik pemerintah atau masyarakat. yakni mewajibkan rehabilitasi yang diperuntukan terhadap pecandu dan pecandu dari penyalahgunaan narkotika yang ketergantungan dengan narkotika terutama golongan I. Program Pasca Rawat Pecandu. Rehabilitasi berkelanjutan adalah tahapan bina lanjut (after care) yang merupakan serangkaian kegiatan positif dan produktif bagi penyalahguna/pecandu narkotika pasca menjalani tahap pemulihan (rehabilitasi medis dan sosial).

sedangkan rehabilitasi sosial bagi pecandu narkotika dilakukan di lembaga rehabilitasi sosial yang ditunjuk oleh Menteri sosial. dengan dua cara.bentuk terapi yang berdiri sendiri.8 2.1 Rehabilitasi Medis Penyalahguna Narkoba Rehabilitasi secara medis dilakukan dirumah sakit yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan. Detoksifikasi Tanpa Subsitusi Klien ketergantungan putau (heroin) yang berhenti menggunakan zat yang mengalami gajala putus zat tidak diberi obat untuk menghilangkan gejala putus zat tersebut. Hal ini berkaitan dengan pemahaman umum bahwa setelah pecandu menjalani program rehabilitasi di tempat rehabilitasi. Detoksifikasi dengan Substitusi Putau atau heroin dapat disubstitusi dengan memberikan jenis opiat misalnya kodein. mandiri dan produktif.8 Program rehabilitasi harus didampingi konselor adiksi (conselor addict). misalnya dengan detoksifikasi. Hal ini merujuk pada tempat yang ditunjuk oleh menteri. b. mereka masih memerlukan pendampingan agar proses reintegrasi ke masyarakat dapat berlangsung sesuai dengan tujuan untuk dapat hidup normatif. bufremorfin. Mereka lebih bisa memahami situasi klien pecandu karena pernah. yaitu mantan pecandu narkoba yang dianggap pulih setellah menjalani rehabilitasi (telah bebas narkoba dan produktif menjalani hidupnya selama 2-5 tahun). Conselor addict umumnya lebih memiliki empati terhadap pecandu narkoba. perlu keterlibatan keluarga atau orangtua untuk mendukung klien menyelesaikan programnya.1. Dalam menjalani program rehabilitasi dan pascarehabilitasi. dan metadon. yaitu sebagai berikut. Substitusi bagi pengguna sedatif-hipnotik 7 .7 a. Detoksifikasi adalah upaya untuk mengurangi atau menghentikan gejala putus zat. Klien hanya dibiarkan saja sampai gejala putus zat tersebut berhenti sendiri. Saat ini pemerintah pusat melalui Kepala BNN menekankan bahwa untuk pemerintah daerah diharapkan dapat memiliki tempat rehabilitasi tersendiri untuk membantu pecandu yang ada di wilayah hukum BNNK Kota/Kabupaten. yakni Lido di Bogor dan Makasar milik BNN yang mencakup rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.8 Rehabilitasi medis bagi klien NAPZA.

rasa mual. zat metadon diperuntukan khusus bagi pecandu narkotika yang mengkonsumsi heroin serta Penguna NAPZA Suntik (PENASUN). dan rehabilitasi psikoreligius. namun zat ini mempunyai efek ketergantungan sehingga zat ini diganti dengan metadon yang tidak mempunyai efek ketergantungan. rehabilitasi psikososial. Selama pemberian substitusi dapat juga diberikan obat yang menghilangkan gejala simptomatik. rehabilitasi medik meliputi rehabilitasi psikiatrik. bagaimana cara menyikapinya bila kelak ia telah kembali ke rumah dan upaya pencegahan agar tidak kambuh. Pemberian substitusi adalah dengan cara penurunan dosis secara bertahap sampai berhenti sama sekali. misalnya diazepam. Konsultasi keluarga ini penting dilakukan agar keluarga dapat memahami aspek-aspek kepribadian anaknya yang terlibat penyalahgunaan NAPZA. Oleh karena itu.8 Program rehabilitasi medik lainnya ialah upaya untuk memulihkan kondisi fisik yang lemah dengan pemberian makanan yang bergizi tinggi dan kegiatan olahraga yang teratur disesuaikan dengan kemampuan masing-masing yang bersangkutan. di sekolah/kampus dan di tempat kerja. yaitu di rumah. Rehabilitasi psikiatrik ini dimaksudkan agar peserta rehabilitasi yang semula bersikap dan bertindak antisosial dapat dihilangkan. proses yang telah dilakukan oleh BNN.dan alkohol dapat dari jenis anti ansietas. Terapi yang termasuk rehabilitasi psikiatrik ini adalah psikoterapi/konsultasi keluarga yang dapat dianggap sebagai “rehabilitasi” keluarga terutama bagi keluarga-keluarga broken home. mereka perlu dibekali dengan pendidikan dan keterampilan misalnya berbagai kursus ataupun balai latihan kerja yang dapat 8 . sehingga mereka dapat bersosialisasi dengan baik dengan sesama rekannya maupun personil yang membimbing atau mengasuhnya. yakni dengan Penanganan Rumatan Terrapin Metadon (PTRM) proses penyembuhan yang mengunakan zat substitusi atau penganti yakni zat subutek.7 Selain terapi detoksifikasi. dan obat tidur atau sesuai dengan gejala yang ditimbulkan akibat putus zat tersebut. Dalam proses rehabilitasi medis.7 Dengan rehabilitasi psikososial ini dimaksudkan agar peserta rehabilitasi dapat kembali adaptif bersosialisasi dalam lingkungan sosialnya. Program ini merupakan persiapan untuk kembali ke masyarakat. misalnya obat penghilang rasa nyeri.

Setelah menjalani program lebih dari 1 (satu) bulan.6 2. Penyalahguna. atas seizin keluarga.1. Dalam hal diperlukan untuk kepentingan yang berkaitan dengan hukum. Pecandu. Penyalahguna.7 Selama menjalani rehabilitasi medis. Dengan demikian diharapkan bila mereka telah selesai menjalani program rehabilitasi dapat melanjutkan kembali ke sekolah/kuliah atau bekerja. bersekongkol dengan keluarga untuk memasukkan narkotika ke dalam lembaga rehabilitasi. Pendalaman. Unsur agama yang mereka terima akan memulihkan dam memperkuat rasa percaya diri. dan Korban Penyalahgunaan Narkotika yang telah diputus/ditetapkan pengadilan tidak diperkenankan melakukan komunikasi baik langsung maupun tidak langsung dengan keluarga selama kurang lebih 1 (satu) bulan. berperilaku dan beremosi sebagai komponen kepribadiannya agar mampu berinteraksi di lingkungan sosialnya (dalam lingkungan rehabilitasi). komunikasi dengan keluarga dapat dilakukan sebagaimana aturan yang berlaku pada lembaga rehabilitasi tersebut. dan Korban Penyalahgunaan Narkotika dapat melakukan komunikasi dengan pihak lain di luar keluarga selama menjalani rehabilitasi.7 Rehabilitasi psikoreligius memegang peranan penting.2 Rehabilitasi Sosial Penyalahguna Narkoba Rehabilitasi sosial adalah proses pengembalian kebiasaan pecandu narkotika dalam kehidupan masyarakat agar pecandu tidak lagi menyentuh bahwa terjerat dalam lingkup bahaya narkotika yang ada di kehidupan bermasyarakat.diadakan di pusat rehabilitasi. Rehabilitasi sosial bertujuan mengintegrasikan kembali penyalahguna dan/atau pecandu narkotika ke dalam masyarakat dengan cara memulihkan proses berpikir. guna meminimalisasi hal-hal yang tidak diinginkan. Unsur agama dalam rehabilitasi bagi para pasien penyalahguna NAPZA mempunyai arti penting dalam mencapai penyembuhan.8 9 . seperti misalnya. Pecandu. harapan dan keimanan. memanipulasi keluarga untuk berbagai tujuan.7. penghayatan dan pengamalan keagamaan atau keimanan ini akan menumbuhkan kekuatan kerohanian pada diri seseorang sehingga mampu menekan risiko seminimal mungkin terlibat kembali dalam penyalahgunaan NAPZA. merencanakan pulang paksa.

Semua elemen masyarakat diberi kesempatan untuk mengadakan. Rehabilitasi sosial dalam ketentuan ini termasuk melalui pendekatan keagamaan. 9 Dalam proses ini mantan penyalahgunaan narkoba dituntut untuk siap kembali ke masyarakat untuk bekerja atau mendapatkan penghasilan sendiri.5 Program after care memiliki arti penting bagi para mantan penyalahgunaan narkoba. Salah satu program pascarehabilitasi adalah pembinaan lanjut (After Care) merupakan kegiatan yang ditujukan kepada korban penyalahgunaan NAPZA yang telah selesai mengikuti kegiatan rehabilitasi sosial untuk kembali kepada keluarga dan lingkungan sosial agar mampu melaksanakan fungsi sosial. memiliki dan mendirikan suatu kegiatan yang mengacu pada aspek rehabilitasi pembinaan sosial.5 Program after care sebagai bentuk dukungan terhadap residen yang bertujuan untuk memastikan penyelesaian dari keseluruhan sebuah perjalanan pemulihan program. Sejalan dengan tujuan umum pemulihan dari ketergantungan narkoba. tradisional. secara terus-menerus mengingatkan kembali pelajaran10 .8 2. baik dari segi keagamaan. keterampilan secara tradisional guna memberikan pemulihan serta penyembuhan pecandu narkotika yang ketergantungan. yaitu total abstinence. Mereka butuh kesiapan dan bekal yang lebih maksimal dalam upaya meningkatkan taraf hidupnya kembali di tengah masyarakat. dengan persetujuan menteri kesehatan yang merujuk pada Kemenkes No. 1305 dan 2171 sehingga semua elemen masyarakat dituntut aktif guna membantu pemerintah dalam hal penangganan pecandu narkotika khususnya dalam lingkup wilayah hukum Kota/ Kabupaten dengan adanya sarana rehabilitasi yang didirikan oleh elemen masyarakat.2 Program Pascarehabilitasi Penyalahguna Narkoba Program pascarehabilitasi adalah suatu proses rehabilitasi penyalahguna NAPZA yang telah lulus melakukan rehabilitasi di panti. memelihara kepulihan dan kemandirian ekonomi. Program aftercare merupakan salah satu rangkaian dari proses rehabilitasi yang lengkap. kepribadian menjadi lebih kuat dan terjadi perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat mental dan produktif. dan pendekatan alternatif lainya.

9 Berdasarkan data Deputi Bidang Rehabilitasi BNN. Forum silaturahmi merupakan program lanjutan (pascarehabilitasi).2 2.2. yang dilandasi gaya hidup berfikirn jernih tanpa zat adikif. sehingga dapat memperkecil kekambuhan penyalahgunaan NAPZA.terciptanya kerja sama sinergis after Care korban narkoba dalam hal konselor adiksi penjangkauan dan pendampingan bagi pecandu lainnya dan terciptanya perubahan stigma bagi korban narkoba after Care untuk membuat yang lebih berdayaguna dan berhasil.13 Program pascarehabilitasi penyalahguna narkoba ini dibagi menjadi dua tipe. Memberikan pengarahan terhadap residententang sikap dan perilaku hidup sehat. memotivasi residen setelah selesai melakukan rehabilitasi untuk meneruskan program pemulihannnya untuk mencegah terjadinya relaps (kambuh). Tujuan yang hendak dicapai dalam forum silaturahmi ini adalah untuk memantapkan terwujudnya rumah tangga/keluarga sakinah yaitu keluarga yang harmonis dan religius. BNN melaporkan masing-masing 235 peserta dan 325 peserta yang telah mengikuti program pascarehabilitasi berbasis konservasi alam dan kinerja pada tahun 2013. 7 Tujuan pelaksanaan kegiatan pertemuan bagi mantan pecandu pasca rehabilitasi diharapkan untuk mewujudkan tujuan terjalinnya komunikasi berkelanjutan BNNP Sulsel dan Mantan Pecandu.2. 660 mantan pecandu yang telah mengikuti program pasca rehabilitasi yang berbasis konservasi alam dan berbasis kinerja tahun 2013.1 Program Pascarehabilitasi Berbasis Konservasi Alam Kegiatan pascarehabilitasi berbasis konservasi alam merupakan rangkaian dari program rehabilitasi berkelanjutan yang mempunyai tujuan utama sebagai berikut.pelajaran dari program Therapeutic Community.5 Contoh program pascarehabilitasi lainnya adalah forum silahturahmi. yaitu program atau kegiatan yang dapat diikuti oleh mantan penyalahguna NAPZA (yang telah selesai menjalani tahapan rehabilitasi) dan keluarganya. yaitu program pascarehabilitasi yang berbasis konservasi alam dan program pascarehabilitasi yang berbasis kinerja.9 11 .

Meningkatkan produktivitas dengan mengembangkan potensi diri sesuai dengan keahlian (keterampilan perbengkelan. Sejak program ini digulirkan sejak tahun 2011 – 2013 akhir tercatat ada 300 orang mantan pecandu yang ikut program ini. 2. yakni adanya peningkatan produktivitas dan tingkat relaps (kambuhan) yang menurun.9 Contoh program pascarehabilitasi berbasis konservasi alam adalah kegiatan pasca rehabilitasi di Hutan Pendidikan Unhas Bengo-Bengo.9 Pada metode ini. para residen/klien diajarkan untuk lebih menghargai alam ini dan menghargai kehidupan ini. Maros. pertanian. Lampung Barat. Mempercepat proses pemulihan dengan metode terapi alam. Mempersiapkan pecandu dalam pemulihan untuk kembali ke masyarakat dengan mengembalikan fungsi sosial dengan cara bekerja dan berinteraksi dengan masyarakat. 3. pecandu yang berada pada masa pemulihan dapat belajar menghargai dirinya sendiri seperti mereka menghargai alam di sekitarnya. Terapi konservasi alam tidak hanya dapat memulihkan para penyalahguna dan pecandu narkotika tapi juga dapat menyembuhkan banyak hal terutama yang berhubungan dengan perkembangan kepribadian seseorang.9 Program yang sudah berjalan dua tahun ini memberikan hasil yang cukup signifikan. house keeping.1. Salah satu program kegiatan pasca rehabilitasi adalah kegiatan konservasi alam yang dilakukan di Tambling.2. Setiap peserta diperkenankan untuk memilih kegiatan yang cocok untuk mengembangkan diri mereka.10 12 . peternakan dan perikanan). Kegiatan ini berlangsung kurang lebih 60 hari dengan jumlah peserta 20 orang. Program Pasca Rehabilitasi akan berkonsentrasi kepada produksi hasil kehutanan seperti pembudidayaan lebah madu trigona dan pengelolaaan bahan kayu untuk mebeler. Dengan menghirup udara segar dari alam dapat menjadi terapi yang dapat menyembuhkan dari segala penyakit yang salah satunya adalah penyakit adiksi (kecanduan). Dengan adanya program ini. penanaman kembali tanaman yang rusak. keamanan. Sulawesi Selatan.

Group Discussion ini 13 . Rumah Dampingan dibangun dengan tujuan untuk membawa mereka hingga titik total abstinen (berhenti total menggunakan Narkoba) dan menurunkan angka kekambuhan yang biasa dialami mantan pecandu. kegiatan lain yang akan dilakukan adalah pengembangan pola kewirausahaan peserta yang diharapkan dapat mengembangkan usaha mandirinya di masa yang akan datang.Selain keterampilan dalam produksi hasil kehutanan. Rumah Dampingan ini memiliki beberapa program untuk pemulihan mantan penyalahguna narkoba agar tidak kambuh kembali (relaps). Direktorat Pasca Rehabilitasi BNN membuat program keterampilan (vokasional) bagi mantan pecandu yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dan membuka peluang baru bagi mereka agar bisa kembali produktif.2. dan juga kegiatan outbond yang ditujukan untuk memberikan kepercayaan diri bagi mereka. Rumah Dampingan adalah fasilitas yang disediakan oleh BNN dan merupakan suatu program kelanjutan dari Direktorat Pascarehabilitasi untuk mantan penyalahguna narkoba yang sudah menjalani rehabilitasi primer. di sini mantan penyalahguna narkoba juga di ajari cara bersosialisasi langsung kemasyarakat dan belajar bagaimana menghadapi pressure-pressure (tekanan–tekanan) ketika berada di luar lingkungan Rumah Damping. program ini juga dapan menjadikan mereka lebih mandiri dan siap mereka kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat Tidak hanya itu.2 Program Pascarehabilitasi Berbasis Kinerja Salah satu program pascarehabilitasi berbasis kinerja adalah Rumah Dampingan.10 2. Hutan pendidikan Bengo-bengo. para mantan pecandu yang menjalankan program di Rumah Dampingan melakukan Group Discusion yang bertujuan agar para mantan penyalahguna dapat saling bertukar fikiran satu sama lain. konselor adiksi dan juga layanan pemulihan lainnya. hampir di setiap akhir pekan dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai kalangan dengan demikian kesempatan proses bagi para peserta untuk re-integrasi sosial pun akan tercapai. Selama program ini berlangsung pihak balai rehabilitasi BNN Badokka akan terus memantau dan mendampingi dengan memberikan layanan kesehatan bagi para peserta. Di Rumah Dampingan ini. Selain itu. Setiap harinya.

para mantan pecandu dapat belajar bagaimana cara bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar. Kuningan Jawa Barat. Selain Group Discusion. Kalimantan Timur.sangat berguna untuk mengembalikan rasa percaya diri mereka. Saat ini. Makassar. Konsep untuk tetap menjalin kekeluargaan yang erat dan harmonis diantara para mantan penyalahguna narkoba. dokter dan psikolog. dan Gunung Salak Jawa Barat.2 Salah satu program pascarehabilitasi berbasis kinerja adalah Dukungan Ekonomi Kreatif di Nusa Tenggara Timur dan KKN Tematik di Pulau Sebatik Kalimantan Timur. para mantan penyalahguna narkoba juga di berikan ilmu pengetahuan melalui kegiatan kegiatan seminar yang disajikan oleh konselor. dan menghilangkan rasa kegelisahan yang biasa dialami oleh mereka. selalu dilakukan di Rumah Dampingan ini. Di sini mereka belajar untuk menjaga keamanan dan kenyamanan Rumah Dampingan agar selalu terlihat kondusif. BAB III PENUTUP Masalah penyalahgunaan narkotika. yaitu Cipinang Jakarta. psikotropika dan zat adiktif lainnya (NARKOBA) sudah menjadi masalah global yang harus ditanggulangi sesegera 14 . Bandung Jawa Barat. Kedua program ini masing-masing diikuti oleh 40 mantan pencandu narkoba. Kepulauan Riau. Melalui rumah dampingan ini. terdapat tujuh Rumah Dampingan di Indonesia.

Program pascarehabilitasi berupa pembinaan lanjut (after care) dan forum silahturahmi merupakan kegiatan yang ditujukan kepada korban penyalahgunaan NAPZA yang telah selesai mengikuti kegiatan rehabilitasi sosial untuk kembali kepada keluarga dan lingkungan sosial agar mampu melaksanakan fungsi sosial. 15 . Syafar M. Faktor Mempengaruhi Perilaku Pecandu Penyalahgunaan NAPZA pada Masa Pemulihan di Rumah Sakit Jiwa Daerah Atma Husada Mahakam Samarinda. Pecandu yang telah menjalani proses rehabilitasi primer memerlukan bimbingan lanjutan untuk dapat berfungsi sosial dengan baik dan untuk itu diperlukan layanan pascarehabilitasi yaitu tahapan pembinaan lanjutan yang diberikan kepada pecandu narkoba setelah menjalani rehabilitasi dan merupakan bagian yang integral dalam rangkaian rehabilitasi ketergantungan narkobadengan tujuan peningkatan angka pemulihan dan pengurangan angka kekambuhan sehingga penyalah guna dan/atau pecandu narkoba mampu menjadi pribadi yang hidup normatif. Program pascarehabilitasi telah terbukti meningkatkan produktivitas dan menurunkan tingkat relaps (kambuhan) pada penyalahguna narkoba. mental maupun sosial agar mantan penyalahguna narkoba/NAPZA dapat kembali melaksanakan fungsi sosial dalam kehidupan masyarakat. Natsir S. mandiri dan produktif. 1-11. Rehabilitasi sosial adalah suatu proses kegiatan pemulihan secara terpadu. Program pascarehabilitasi penyalahguna narkoba dapat dibagi menjadi dua tipe. memelihara kepulihan dan kemandirian ekonomi.mungkin. Pantjalina LE. khususnya di kalangan remaja. DAFTAR PUSTAKA 1. h. baik fisik. Salah satu cara yang terbaik untuk membantu penyalahguna NAPZA keluar dari ketergantuan obat-obatan adalah melalui proses rehabilitasi.5 Program rehabilitasi penyalahguna narkoba meliputi rehabilitasi medik dan rehabilitasi sosial. yaitu program pascarehabilitasi yang berbasis konservasi alam dan program pascarehabilitasi yang berbasis kinerja. Rehabilitasi medis adalah tindakan media untuk membebaskan penyalahguna narkoba/NAPZA dengan menggunakan obat-obatan. 2013. Makassar: Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin.

Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba di Tingkat Global. Tim Perawatan Lanjut. 8: 12-13. h. Penerimaan Keluarga terhadap Residen Pascarehabilitasi (Studi di Panti Sosial Pamardi Putra Yogyakarta) [skripsi]. Suriakusumah K. dan Persidangan atau Telah Mendapatkan Penetapan/Putusan Pengadilan. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 80 Tahun 2014 Tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Rehabilitasi Medis bagi Pecandu. Jurnal Data Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN). Kusturi K. Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Implementasi Rehabilitasi Pecandu Narkotika dalam UndangUndang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Sebagai Upaya Non Penal Badan Narkotika Nasional [skripsi]. 7-8. 2014. 4. Badan Narkotika Nasional. Laporan Akuntabilitas Badan Narkotika Nasional Tahun 2013. Medan: Universitas Sumatera Utara.4. h. 7. 15-17. Penuntutan. p. 5. Badan Narkotika Nasional.php/id/halaman-berita/446-bbn-dan-unhaskembangkan-kegiatan-pasca-rehabilitasi-pola-konservasi-alam-dan-hutan16 . 1: 1. Upaya Rehabilitasi Bagi Penyalahguna Narkotika oleh Badan Narkotika Nasional (BNNK/Kota MEDAN) (Studi Kasus di BNNK/Kota Padang). h. Lubis S. 13-20. Diunduh dari: http://indonesiabergegas. dan Korban Penyalahgunaan Narkotika yang Sedang dalam Proses Penyidikan.ac. Mitra Keluarga 2013.php/component/k2/item/426-programpembinaan-lanjut-melalui-konservasi-alam. Anonim.2. 2014. Arifin TN.id/fahutan/index. Malang: Universitas Brawijaya. 2014. Direktorat Pasca Rehabilitasi Deputi Bidang Rehabiltasi BNN RI. BNN dan Unhas Kembangkan Kegiatan Pasca Rehabilitasi di Hutan Pendidikan Unhas. 10. 3. 2014. 14-17. 8. Jakarta: Badan Narkotika Nasional.com/index. Diunduh dari: http://unhas. 9. 2013. 6. Penyalahguna. Remaja dan Narkoba Dibutuhkan Upaya Preventif Sedini Mungkin. diakses pada tanggal 16 Desember 2014. Program Pembinaan Lanjut Melalui Konservasi Alam.

diakses pada tanggal 16 Desember 2014.bnn. 13.php/component/k2/item/158-bnnpsulsel-lakukan-pertemuan-dengan-mantan-pecandu-program-pascarehabilitasi-narkoba.php/konten/detail/deputi- rehabilitasi/artikel/12008/pentingnya-program-pascarehabilitasi-terhadapmantan-penyalah-guna-narkoba-melalui-rumah-dampingan.bnn. Badan Narkotika Nasional. Diunduh dari: http://www.bnnprovsulsel. diakses pada tanggal 16 Desember 2014 12. Diunduh dari: http://www. 2014.id/portal/index. Badan Narkotika Nasional.php/konten/detail/deputirehabilitasi/artikel/12051/rumah-dampingan-adalah-rumah-kedua-untukmantan-penyalahguna-narkoba.com/index. Pentingnya Program Pascarehabilitasi Terhadap Mantan Penyalah Guna Narkoba Melalui Rumah Dampingan. 11.untuk-mantan-pencandu-narkoba-di-hutan-pendidikan-unhas. 2014. BNNP Sulsel Lakukan Pertemuan dengan Mantan Pecandu Program Pasca Rehabilitasi Narkoba. diakses pada tanggal 16 Desember 2014. diakses pada tanggal 16 Desember 2014.html. Diunduh http://www. Badan Narkotika Nasional Provinsi Sulawesi Selatan.go. 17 dari: .go. Rumah Dampingan adalah Rumah kedua untuk Mantan penyalahguna narkoba. 2014.id/portal/index.