You are on page 1of 96

PEDOMAN PELAYANAN KOMITE PENCEGAHAN

DAN PENGENDALIAN INFEKSI
RUMAH SAKIT DADI KELUARGA
PURWOKERTO

RUMAH SAKIT DADI KELUARGA
2015
0

DAFTAR ISI
SURAT KEPUTUSAN....................................................................................................................2
DIREKTUR RSU DADI KELUARGA..........................................................................................2
PEDOMAN PELAYANAN............................................................................................................2
PELAYANAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI...........................................2
RSU DADI KELUARGA...............................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................................................4
BAB II STANDART KETENAGAAN.........................................................................................75
BAB III STANDART FASILITAS................................................................................................79
BAB IV TATA LAKSANA PELAYANAN...................................................................................81
BAB V LOGISTIK........................................................................................................................88
BAB VI KESELAMATAN KERJA.............................................................................................89
BAB VII KESELAMATAN PASIEN............................................................................................92
BAB VIII PENGENDALIAN MUTU.........................................................................................94
BAB IX PENUTUP.......................................................................................................................99
BAB XVI LANDASAN HUKUM..............................................................................................100

1

SURAT KEPUTUSAN
DIREKTUR RSU DADI KELUARGA
NOMOR: ……………………………/2015
Tentang
PEDOMAN PELAYANAN
PELAYANAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI
RSU DADI KELUARGA

Menimbang

:

a.

bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan
Rumah Sakit Umum Dadi Keluarga maka diperlukan
penyelenggaraan pencegahan pengendalian infeksi yang
bermutu tinggi;

b.

bahwa agar pelayanan pencegahan dan pengendalian
infeksi dapat terlaksana dengan baik, perlu adanya Surat
Keputusan Direktur tentang Kebijakan

pelayanan

pencegahan dan pengendalian infeksi RSU DADI
KELUARGA sebagai landasan bagi penyelenggaraan
pelayanan.
c.

bahwa

berdasarkan

pertimbangan

sebagaimana

dimaksud dalam a dan b, perlu ditetapkan dengan Surat
Mengingat

:

1.

Keputusan Direktur Rumah Sakit Umum Dadi Keluarga
Undang-Undang RI Nomor 44 tahun 2009 tentang
Rumah Sakit.

2.

Undang Undang no 36 tahun 2004 tentang Rumah Sakit;

3.

Peraturan

Menteri

Kesehatan

Nomor

269

/Menkes/Per/III/2008 tentang Pencegahan Pengendalian
Infeksi;
4.

Keputusan

Menteri

Kesehatan

RI

Nomor

:

1333/Menkes/SK/XII/1999 tentang Standar Pelayanan
Rumah Sakit;

M E M U T U S K AN :
2

Ditetapkan di Purwokerto tanggal 1 januari 2015 RSU DADI KELUARGA Dr. 3 .RSU DADI KELUARGA Memberlakukan kebijakan Pencegahan Pengendalian Infeksi RSU Dadi Keluarga seperti tersebut dalam Lampiran Ketiga : Surat Keputusan ini.Esa Dhiandani Direktur. Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pelayanan pencegahan dan pengendalian infeksi RSU Dadi Keluarga Keempat Kelima dilaksanakan oleh bidang paramedis RSU Dadi Keluarga. akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya. Segala biaya yang timbul akibat ditetapkannya keputusan ini : : dibebankan pada anggaran RSU Dadi Keluarga. Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. dan apabila dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapan ini.Menetapkan : Pertama : KEPUTUSAN DIREKTUR RSU DADI KELUARGA Tentang PEDOMAN PELAYANAN PENCEGAHAN DAN Kedua : PENGENDALIAN INFEKSI.

para penderita yang dirawat maupun berobat jalan serta para pengunjung rumah sakit Umum Dadi Keluarga. kebjiakan penggunaan antibiotika. khususnya melalui udara atau kontak fisik yang dimungkinkan bila luas ruangan tidak cukup memadai. khususnya untuk biaya tambahan lama perawatan. Kerugian ekonomik akibat infeksi nosokomial dapat mencapai jumlah yang besar. kebijakan penggunaan desinfektan serta sentralisasi sterilisasi perlu dipatuhi dengan ketat. Tekanan-tekanan dari perubahan pola penyakit infeksi nosokomial dan pergeseran resiko ekonomik yang harus ditanggung rumah sakit mengharuskan upaya yang sistematik dalam penggunaan infeksi nosokomial. antibiotika dan lain-lain yang dapat mempengaruhi kejadian infeksi supaya lebih bijaksana 4. dengan adanya Komite Pengendalian Infeksi dan profesi yang terlatih untuk dapat menjalankan program pengumpulan data. perlu dilakukan pengendalian infeksi. Defence mechanisme: melindungi penderita dengan mekanisme pertahanan yang rendah supaya tidak terpapar oleh sumber infeksi.BAB I PENDAHULUAN A. hal-hal yang perlu diperhatikan : 1. Simmelweis. bersifat multidisiplin. konsultasi dan langkah-langkah pengendalian infeksi yang terpadu. Keberhasilan program pengendalian infeksi nosokomial dipengaruhi oleh efektivitas proses komunikasi untuk menyampaikan tujuan dan kebijakan pengendalian infeksi tersebut kepada seluruh karyawan rumah sakit baik tenaga medis maupun non medis. Design: rancang bangun ruang bedah serta unit-unit lain berpengaruh terhadap resiko penularan penyakit infeksi. penggunaan antibiotika dan obat-obat lain serta peralatan medis dan kerugian tak langsung yaitu waktu produktif berkurang. 4 . 3. Tantangan dalam pengendalian infeksi nosokomial semakin kompleks dan sering disebut disiplin epidemiologi rumah sakit. diantaranya adalah pengendalian infeksi nosokomial. pendidikan. Pengendalian infeksi nosokomial dipelopori oleh Nightingale. Upaya pengendalian infeksi nosokomial di Rumah Sakit Umum Dadi Keluarga. Lister dan Holmes melalui praktek-praktek hygiene dan penggunaan antiseptik. Drug: pemakaian obat antiseptik. teknik invasif. upaya pencegahan dan lain-lain. Discipline: perilaku semua karyawan harus didasari disiplin yang tinggi untuk mematuhi prosedur aseptik. 2. Latar Belakang Dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan di Rumah Sakit. Infeksi nosokomial masih banyak dijumpai di rumah sakit dan biasanya merupakan indikator bagi pengukuran tentang seberapa jauh rumah sakit tersebut telah berupaya mengendalikan infeksi nosokomial.

Pelayanan pengelolaan kebersihan lingkungan 11. Menurunkan angka kejadian infeksi dirumah sakit secara bermakna.pengunjung dan pasien 9. Antibiogram dan pola kuman RSU Dadi Keluarga Penggunaan bahan single use yang di re-use 5 . a) Tujuan umum . Pelayanan CSSD 6. d. serta kesehatan dan keselamatan kerja . management resiko. b. masker. Penggunaan APD 5. Pelayanan Pendidikan dan edukasi kepada staf. Pelayanan Kesehatan karyawan 8. Pelayanan surveilens PPI 3. Pelayanan Linen 7. 4. Tujuan . wewenang dan tanggung jawab secara jelas. Menggerakan segala sumber daya yang ada dirumah sakit dan fasilitas kesehatan lain secara efektif dan efisien. Hand Hygiene sebagai bariier protection. clinical governace. C. Pelayanan pemeriksaan baku mutu air bersih dan IPAL bekerja sama dengan IPSRS. Kewaspadaan standart dan berdasarkan transmisi 2. topi bedah dan lain-lain. Meningkatkan mutu pelayanan Rumah sakit Umum Dadi Keluarga melalui pencegahan dan pengendalian infeksi yang dilaksanakan oleh semua departemen / unit dengan meliputi kualitas pelayanan. b) Tujuan Khusus a.5. Device: peralatan protektif diperlukan sebagai penghalang penularan. B. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan pelayanan PPIRS RSU DADI KELUARGA Purwokerto. 10. misalnya pakaian pelindung. c. Pelayanan management resiko PPI 12. Sebagai pedoman pelayanan bagi staf PPIRS dalam melaksanakan tugas. Ruang lingkup Ruang lingkup pelayanan Pencegahan dan pengendalian infeksi meliputi : 1.

d. a. Merupakan sekumpulan gejala klinik atau kelainan laboratorium yang merupakan respon tubuh (imflamasi) yang bersifat sitemik. atau gangguan metabolik. Untuk melakukan tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi perlu mengetahui rantai penularan. pankreatitis. Penyakit menular Adalah penyakit infeksi tertentu yang dapat berpindah dari satu orang ke orang lain secara langsung maupun tidak langsung. Pelayanan pencegahan dan pengendalian infeksi meliputi kegiatan sbb : 1. b. SIRS yang disebabkan oleh infeksi disebut sepsis. tumor dan fungsiolesa. Agen Infeksi 6 . SIRS dapat terjadi karena infeksi atau non infeksi seperti luka bakar. Batasan operasional. (4) leukositosis atau leukopenia atau pada hitung jenis leukosit jumlah sel muda (batang ) lebih dari 10 %. (3) takipneu sesuai usia. SIRS (Sistem Inflamtory Respon Syndroma). kalor. apabila salah satu rantai dihilangkan atau dirusak maka infeksi dapat dicegah atau dihentikan. ditinjau dari asalnya infeksi dapat berasal dari (Community acquaired infection ) atau berasal dari (Hospital Acquired infektion). namun tanpa disertai adanya respon imun atau gejala klinis. Infeksi Merupakan suatu keadaan dimana ditemukan adanya agen infeksi (organisme dimana terdapat respon imun tetapi tidak disertai gejala klinik. b. (2) takikardia sesuai usia. Batasan: a. Pada kolonisasi tubuh penjamu tidak dalam keadaan suspectibel pasien dan petugas dapat mengalami kolonisasi dengan kuman patogen tanpa mengalami rasa sakit tetapi menularkan kuman tersebut ke orang lain (sebagai carrier). Karena sering kali tidak bisa secara pasif ditentukan asal infeksi maka istilah infeksi nosokomial (Hospital Acqured infeksi) diganti (HAIs) yaitu healthcare –assosiated infections dengan arti lebih luas tidak hanya terjadi dirumah sakit juga bisa terjadi fasilitas kesehatan yang lain juga tidak terbatas pada pasien namun infeksi juga dapat terjadi pada petugas yang didapat saat melakukan tindakan medis atau perawatan. dimana organisme tersebut hidup. e. Konsep dasar penyakit Penyakit infeksi masih merupakan salah satu masalah kesehatan di dunia termasuk indonesia. 2. Inflamasi Merupakan bentuk respon tubuh terhadap suatu agen yang ditandai adanya dolor. rubor. Kolonisasi : Merupakan suatu keadaan dimana ditemukan adanya agen infeksi. Kriteria SIRS bila ditemukan 2 atau lebih keadaan berikut : (1) hipertermi atau hipotermia. tumbuh dan berkembang biak. Rantai penularan.D. c. Penyakit infeksi Merupakan suatu keadaan dimana ditemukan adanya agen infeksi (organisme) yang disertai adanya respon imun dan gejala klinik.

3) Inaktivasi agen penyebab infeksi. dan parasit. 7 . f. minuman. e. saluran kemih dan kelamin. Transmisi Bagaimana mekanisme penularan meliputi (1) kontak. ekonomi. binatang. Hal ini berkaitan dengan pecegahan agen infeksi yang ditularkan melalui darah dan cairan tubuh lain yang dikarenakan tertusuk jarum bekas pakai utamanya hepatitis B. virus. dilakukan tindakan operasi. c. pekerjaan. Penjamu (host) yang suspectibel Orang yang tidak memiliki daya tahan tubuh yang cukup untuk melawan agen infeksi. (3) airborne. pencernaan dan vagina merupakan reservoir yang umum. pencernaan perkemihan atau luka. Pintu masuk Tempat dimana agen infeksi memasuki tubuh penjamu (yang suspectibel) dapat melalui saluran pernapasan. berkembang biak dan siap ditularkan pada orang lain. Pintu keluar jalan darimana agen infeksi meninggalkan reservoir. (2) droplet. pintu keluar meliputi saluran napas. implantasi ). tanah. langsung dan tidak langsung. status gizi. darah. terpasang barrier ( kateter. C dan HIV. (5) vektor biasanya binatang pengerat dan serangga. Menggunakan metoda fisik maupun kimia contoh fisik dengan pasteurisasi atau sterilisasi ataupun memasak makanan hingga matang. promosi kesehatan nutrisi yang adekuat. Dengan pemberian imunisasi (vaksin Hepatitis B). pencernaan. air dan bahan-bahan organik. kulit. 5) Tindakan pencegahan paska pajanan. trasplacenta dan darah serta cairan tubuh lainnya. jumlah dosis obat. Reservoir atau tempat hidup Dimana agen infeksi dapat hidup. Pada manusia sehat permukaan kulit. usia. selaput lendir saluran napas. Dengan menerapkan tindakan pencegahan dengan menerapkan kewaspadaan isolasi dan kewaspadaan transmisi. Ada 3 faktor yang mempengaruhi terjadinya infeksi yaitu : virulensi. dapat berupa bakteri.Mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi pada manusia. d. g. kalau kimia dengan pemberian clorin pada air dan desinfeksi. 1) Strategi pencegahan dan pengendalian infeksi. faktor yang mempengaruhi umur. tumbuh. 2) Peningkatan daya tahan pejamu. patogenesis. (4) Vehicle. jamur. reservoir yang paling umum adalah manusia. makan. membran mukosa. tumbuhan. 4) Memutus rantai penularan. riketsia. gaya hidup.

8 . Kelompok ini berkembang menjadi AIDS kira2 10-30% dalam jangka waktu 24. Saat ini pemeriksaaan terhadap antibodi terhadap virus HIV masih (.60 bulan. 1) Hampir 30-50 % pasien sudah terinfeksi HIV. Setelah terjadi penurunan sel CD 4 secara bermakna baru AIDS mulai berkembang dan menunjukan gejala – gejala spt :  Diare yang berkelanjutan. 3) Cairan tubuh yang dapat mengandung HIV yaitu : a) Cairan vagina b) ASI c) Air mata d) Air liur e) Air seni f) Air ketuban g) Dan cairan cerebrospinal  Gejala dan tanda Biasanya tidak ada gejala klinis yang khusus pada orang yang terinfeksi HIV dalam waktu 5 sampai 10 tahun. Infeksi Akut. b. Jenis Penyakit Menular. Infeksi Kronik Asimtomatik 1) Lamanya dapat bertahun tahun.  Penurunan berat badan secara drastis. 2) Cara penularan HIV a) Penularan melalui hubungan seksual b) Penularan melalui darah. tipe 1 (HIV-1) dan tipe 2 (HIV-2). Klasikfikasi Indeks AIDS : a. c) Penularan secara perinatal.) tetapi pemeriksaan Ag p24 sudah (+) sangat infeksius. PGL ( Persistren Generalized Lymphadenopathy) 1) Terjadi pembesaran kelenjar getah bening yang semetris. 1. kemungkinan tubuh masih dapat mengkompensasi. c. 2) Pasien sudah terjadi pemaparan virus dan dapat berlangsung 6 minggu setelah kontak. Sering terjadi pembesaran limpa di leher posterior dan anterior. 3) Patogenesis kurang jelas tetapi sangat mungkin terjadi reaksi imunitas terhadap masuknya HIV. AIDS Penyakit akibat menurunnya daya tahan tubuh yang didapat karena terinfeksi HIV (Human Imunodefisiency Virus). Virus HIV tergolong retrovirus yang terdiri atas 2 tipe. 2) Tanpa gejala.E.

i) Foto Rontgen dada menggambarkan pneumonia yang cepat memburuk pada serial foto :  Infeksi selaput mata  Diare atau gangguan pencernaan 9 . Seseorang dalam penyelidikan Diputuskan oleh pejabat berwenang untuk dilakukan penyelidikan epidemiologi kemungkinan terinfeksi H5N1. Sakit tenggorokan 3). f) Dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala mempunyai riwayat kontak erat dengan penderita (suspek. bahan atau produk lain. berbicara atau bersentuhan dengan pasien dalam jarak  1 meter. adapun gejala yang ditimbulkan : 1). g) Ditemukan leukopeni. probabel atau konfirm) seperti memasak. d) Dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala mempunyai riwayat kontak erat dengan penderita (suspek. Sesak napas dan terdapat satu atau lebih keadaan dibawah ini : a) Dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala mempunyai riwayat kontak erat dengan penderita (suspek. Flu burung. Dibagi menjadi 4 sbb : a. b) Dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala mempunyai riwayat kontak erat dengan penderita(suspek. probabel atau konfirm) atau binatang selain unggas yang terinfeksi (babi atau kucing). probabel atau konfirm) memegang atau menangani sampel hewan atau manusia yang dicurigai mengandung H5N1. menyembelih atau membersihkan bulu ). probabel atau konfirm) mengkonsumsi produk unggas mentah atau yang tidak dimasak dengan sempurna. misalnya orang sehat namun kontak erat dengan kasus atau penduduk sehat namun tinggal di daerah flu burung. h) Ditemukan titer antibodi terhadap H5 dengan pemeriksaan uji HI menggunakan eritrosit kuda atau uji ELISA untuk influensa A tanpa subtipe.  Batuk terus menerus. probabel atau konfirm) seperti membersihkan kotoran. probabel atau konfirm) seperti merawat. Pilek 4). 2. Pembesaran kelenjar limfe leher dan atau ketiak. Batuk 2). e) Dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala mempunyai riwayat kontak erat dengan penderita (suspek. c) Dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala mempunyai riwayat kontak erat dengan penderita (suspek.

atau 80C selama 1 menit) 5) Menerapkan tindakan untuk menjaga kebersihan tangan : a) Setelah memgang unggas. Macam obat : 1) Amantadine. d) Sebelum memasak Pengobatan : Obat anti virus bekerja menghambat replikasi virus sehingga mengurangi gejala dan komplikasi yang terinfeksi. 4) Memasak dengan suhu 60C selama 30 menit. Kasus suspek c. c) Setelah memasak. Fatigue b. 2) Hasil lab terbatas untuk influenza H5 (terdeteksi antibodi spesifik H5 dalam spesimen serum tunggal) menggunakan uji netralisasi (dikirim kelaboratorium rujukan).atau burung terinfeksi. Kasus konfirmasi Dengan kriteria : 1) Isolasi virus H5N1 positif 2) Hasil PCR H5N1 positif. 3) Peningkatan  4 x lipat titer antibodi netralisasi untuk H5N1 dari spesimen. b) Setelah memegang daging unggas. 2) Menghindari peternakan unggas.mis titer HI sel darah merah kuda  1/160 atau western blot spesifik H5 positif. Pencegahan : 1) Menghindari kontak dengan benda terkontaminasi. : 1) Ditemukan kenaikan titer antibodi terhadap H5 min 4 x dengan pemeriksaan uji HI menggunakan eritrosit kuda atau uji ELISA. 10 . Kasus probabel Dengan kriteria. 4) Konvalesen dibandingkan dengan spesimen akut (diambil  7 hari setelah awitan gejala penyakit) dan titer antibodi netralisasi konvalesen harus pula  1/80 . d. 3) Hati hati ketika menangani unggas. 5) Titer antibodi mikronetralisasi H5N1  1/80 pada spesimen serum yang diambil pada hari ke  stelah awitan disertai hasil positif uji serologi lain.

Tingkat penularan tergantung pada jumlah basil yang dikeluarkan.Infeksi laten bisa terjadi seumur hidup. Gisi kurang.2) Rimatadine 3) Oseltamivir(tamiflu) 4) Zanavir(relenza) 3. Faktor resiko TB . Cara penularan Menular dari orang ke orang melalui droplet atau percikan dahak. ginjal. d. Kuman ini cepat mati bila terkena sinar matahari langsung. kebiasaan merokok.diperkirakan penduduk dunia terinfeksi Tb secara laten. Pada pasien dengan imun defisiensi seperti HIV masa inkubasi bisa lebih pendek. Gejala klinis : 1) Batuk terus menerus disertai dahak selama 3 minggu /lebih. penularan berkurang apabila pasien menjalani pengobatan adekuat selama min 2 minggu. Masa penularan Berpotensi menular selama penyakitnya masih aktif dan dahaknya mengandung BTA. b. 11 . HIV. Penyebab TBC disebabkan oleh kuman / basil tahan asam (BTA) yakni micobactpi derium tuberkulosis. Resiko menjadi TB paru dan TB ekstrapulmuner progresif infeksi primer umumnya terjadi pada tahun pertama dan kedua. Epidemiologi Indonesia menduduki peringkat ke 3 dunia dalam jumlah pasien TB setelah India dan Cina. sebaliknya pasien yang tidak diobati secara adekuat dan pasien dengan persisten AFB positif dapat menjadi sumber penularan sampai waktu lama. otak. terjadinya aerosolisasi waktu batuk / bersin. virulensi kuman.tetapi dapat bertahan hidup beberapa hari ditempat yang lembab dan gelap. Beberapa jenis micobakterium lain juga dapat menyebabkan penyakit pada manusia (matipik). Hampir semua organ tubuh dapat terserang bakteri ini seperti kulit. Di indonesia diperkirakan terdapat 583 000 kasus baru dengan 140 000 kematian setiap tahun. tulang dan paling sering paru. dan tindakan medis beresiko tinggi seperti intubasi dan bronkoskopi. c. DM. 1) Masa Inkubasi Sejak masuknya kuman sampai timbul gejala lesi primer atau reaksi tes tuberculosis positif memerlukan waktu antara 2 -10 minggu. TUBERKULOSIS (TBC) a.

Biasanya menginfeksi orang dan anak-anak yang daya tahan tubuhnya lemah. jika daya tahan tubuh baik tidak akan menimbulkan gejala. Bakteri yang dibawa si pasien menyebar dan berpindah pada orang lain dengan cara kontak kulit dan menyentuh barang yang terkontaminasi. ini biasa menyebabkan bengkak. fitness.WHO menganjurkan pemberian 4 macam obat setiap hari selama 2 bulan berturut terdiri rif . pza dan etambutol diikuti inh dan rif 3 kali seminggu selama 4 bulan. Stapylococcus menimbulkan gejala seperti infeksi kulit. Health care asosiated (HA –MRSA) Biasanya ditemukan difasilitas kesehatan terutama rumah sakit. jantung dan paru yang bisa mengancam jiwa. 4. peralatan rumah tangga yang MRSA. jerawat. MRSA (Methicilin Resistent Stapylococcuc Aereus) Adalah salah satu tipe bakteri stayloccus yang ditemukan pada kulit dan hidung dan kebal terhadap antibiotika. aliran darah. Saat ini ada 2 tipe : a. bisul.jumlah kematian MRSA lebih banyak dibandingkan AIDS. sekolah dan perabotan rumah tangga. b. merah dan nyeri.2) Batuk berdahak 3) sesak napas 4) nyeri dada 5) Sering demam 6) nafsu makan menurun 7) penurunan berat badan 8) BTA (+) Pengobatan : Pengobatan spesifik dengan kombinasi obat anti tuberculosis (OAT) dengan metoda DOTS (directly observed treatment shourtcore ) diawasi poleh pengawas minum obat. Untuk pasien baru TB BTA (+) . Community asosiated (CA-MRSA) Yang baru ini ditemukan ditempat –tempat umum. loker-loker. inh. 1) Penyebaran MRSA : a) Menyentuh kulit atau luka terinfeksi dari siapa saja yang MRSA b) Berbagi objek seperti handuk atau peralatan atletik. sendi. Pencegahan : a) Penemuan dan pengobatan TB b) Imunisasi BCG sedini mungkin terhadap mereka yang belum terinfeksi. bakteri ini dapat menembus kulit sampai dengan menimbulkan infeksi ditulang. c) Kontak fisik dapat juga disebarkan melalui batuk dan bersih 12 . c) Perbaikan lingkungan dan status gizi dan kondisi sosial ekonomi. abses atau gigitan serangga.

g) Isolasikan pasien. f) Jangan berbagi handuk. 13 . 4) Tindakan pencegahan : a) Kebersihan tangan sesering mungkin terutama setelah menyentuh hidung anda. e) Isolasikan peralatan mandi dan peralatan makan khusus untuk penderita MRSA. Jika S aureus yang diisolasi (tumbuh dipiring pantry) bakteri tersebut kemudian terkena antibiatikyang berbeda termasuk Meticilin dan S aureus tumbuh dengan baik di Meticilin dalam kultur yang disebut MRSA. Prosedur yang sama juga dilakukan untuk menentukan apakah seseorang merupakan pembawa MRSA (Screning untuk carrier) tetapi sample kulit atau selaput lender hanya diswab tidak dibiopsi. darah.5%. nanah. Karena MRSA yang tahan terhadap antibiotic banyak akan sulit untuk mengobati namun beberapa antibiotic berhasil mengendalikan infeksi tapi jarang. 2) Diagnose : Contoh kulit. c) Jika anda mengalami infeksi kulit jaga daerah yang terinfeksi dengan ditutup kain kasa.d) Menyentuh hidung dari penderita MRSA Tanda dan gejala :  Infeksi luka  Bisul  Folikel rambut yang terinfeksi  Impetigo  Kulit yang sakit seperti digigit serangga. urin atau bahan biopsy dikirim ke laborat dan dikultur untuk S aureus. pisau cukur. b) Bila batuk terapkan etika batuk. d) Bersihkan kamar mandi dengan baik karena penularan juga melalui feces dan urine. ganti ferban sesering mungkin terutama jika basah. sikat gigi dan barang pribadi yang lainnya. 3) Pengobatan MRSA : Minor infeksi MRSA kadang kadang dapat mengalami komplikasi serius seperti menyebar infeksi kejaringan sekitar darah. dikontaminasi semua peralatan pasien dengansabun dan clorin 0. tulang dan jantung.

F. Kegiatan pelayanan PPIRS 14 .

efektif dan terus menerus terhadap timbulnya dan penyebaran penyakit pada suatu populasi serta terhadap keadaan atau peristiwa yang menyebabkan meningkatnya atau menurunnya resiko terjadinya penyebaran penyakit : a. Ada 2 keadaan yang bukan disebut infeksi nosokomial. Infeksi pada lokasi yang sama tetapi disebabkan oleh mikroorganisme yang berbeda dari mikroorganisme saat masuk rumah sakit atau mikroorganisme penyebab sama tetapi lokasi infeksi berbeda. d. c. selaput lender. Pada saat pasien masuk rumah sakit tidak ada tanda – tanda tidak dalam masa inkubasi infeksi tersebut. 2) Inflamasi yaitu suatu kondisi respon jaringan terhadap jejas atau rangsangan zat non infeksi seperti zat kimia. Infeksi terjadi setelah pasien pulang dan dapat dibuktikan berasal dari rumah sakit. Ada 2 keadaan yang bukan disebut infeksi : 1) Kolonisasi : yaitu adanya mikroorganisme (pada kulit. maka perlu diteliti masa inkubasi dari infeksi tersebut. Surveilans Suatu pengamatan yang sistematis. 2) Infeksi pada bayi baru yang penularannya melalui placenta (mis toxoplasmosis. Inkubasi terjadi 2x 24 jam setetlah pasien dirawat dirumah sakit apabila tanda . 4) Mikroorganisme yang ada cenderung lebih resisten terhadap anti biotika. sifilis) dan baru muncul pada atau sebelum 48 jam setelah masa kelahiran. 3) Dirumah sakit sering orang dilakukan tindakan invasive mulai dari yang paling sederhana seperti pemasangan infuse sampai tindakan operasi. luka terbuka) yang tidak memberikan gejala dan tanda klinis.1. sehingga jumlah dan jenis kuman penyakit yang ada lebih banyak dari pada tempat lain. 2) Orang sakit mempunyai daya tahan tubuh yang rendah sehingga mudah tertular.tanda infeksi sudah timbul sebelum 2x24 jam sejak mulai dirawat. akibat penggunaan berbagai macam antibiotika yang sering 15 . b. Infeksi nosokomial mudah terjadi karena adanya beberapa kondisi antara lain : 1) Rumah sakit merupakan tempat berkumpulnya orang sakit. 1) Infeksi yang berhubungan dengan komplikasi atau meluasnya infeksi yang sudah ada pada waktu masuk rumah sakit.

atau panas pada vaskular  yang terlihat. Pengunjung pasien. Lingkungan. c). 6) Penggunaan alat/instrument yang telah terkontaminasi dengan kuman. b) Terdapat bukti infeksi dari arteri atau vena yang terlihat saat operasi atau berdasarkan bukti hispatologik. b). Adanya aliran nanah pada vaskular yang terlihat. atau panan pada vaskular yang terlibat dan 2) Kultur semikuantitatif dari ujung kanula intra vaskular tumbuh >15 koloni mikroba 3) Kultur tidak dilakukan atau hasil negatif Petunjuk pelaporan ILI : 16 . d).kali tidak rasional. e). atau nyeri. apneu. Antar pasien itu sendiri.minimal mempunyai 1 gejala dan tanda. letargia. Petugas rumah sakit. berikut tanpa ditemukan penyebab lain : 1) Demam (>38°C rektal). petugas ke lingkungan yang dapat menularkan kuman pathogen. Untuk pasien ≤ 1 tahun. 5) Menyakinkan bahwa rumah sakit tempat yang aman bagi pasien dan petugas. Sumber-sumber infeksi yang terjadi di rumah sakit dapat berasal dari : a). 3) Mencegah terjadinya kejadian luar biasa. Kultur darah tidak dilakukan atau hasil negatif. 2) Mengontrol penyebaran infeksi antar pasien. nyeri. Peralatan yang dipakai dirumah sakit. 5) Adanya kontak langsung antar petugas dengan pasien. bradikardia. 4) Melindungi petugas. Kultur semikuantitatif dari ujung kanula intravaskular tumbuh    >15 koloni mikriba. c) Pasien minimal mempunyai 1 gejala dan terlihat tanda berikut tanpa ditemukan penyebab lainnya :  Demam (>38° C) . hipotermia (<37 °C). Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi : 1) Mencegah pasien memperoleh infeksi selama dalam perawatan. eritema. Infeksi nosokomial atau biasa disebut HAIs diantaranya : 1) ILI (Infeksi Luka Infus) Infeksi luka infus harus memenuhi minimal 1 dari kriteria sbb : a) Hasil kultur positif dari arteri atau vena yang diambil saat operasi.

malnutrisi... setiap 3 bulan sekali dilakukan kultur 3 responden setiap ruangan.1) ILI purulen dikonfirmasi dengan hasil positif kultur semi kuantitatif dari ujung kateter. 8) Golden standart penegakan kasus infeksi adalah melalui kultur darah. tetapi bila hasil kultur negatif atau tidak ada kultur darah maka dilaporkan sebagai ILI bukan sebagai IADP.. sedangkan IV LINE untuk bayi dan anak-anak setiap 5 (lima) hari sekali. 2) Pelaporan mikroba dari hasil kultur darah sebagai IADP bila tidak ditemukan infeksi lain dari bagian tubuh. 3) Ganti set infus dan dressing setiap 3 hari sekali atau setiap kali diperlukan (lembab atau kotor ). Pencegahan ILI : 1) Lakukan kebersihan tangan aseptik sebelum melakukan tindakan. 3) Infeksi intravaskular dengan hasil kultur darah positif dilaporkan sebagai IADP 4) Penggantian IV LINE untuk dewasa dilakukan setiap 3 (tiga) hari sekali. 4) Lepas atau hentikan akses pemasangan kateter vena sentral 17 . 5) Survey dilakukan 30 % dari populasi setiap ruangan perawatan... 2) Lama penggunaan kateter. 2) Gunakan teknik aseptik saat melakukan tindakan... 6) Jika pasien terpasang infus dari luar rumah sakit tidak dilakukan survey... pasien dengan immuno compromise. luka bakar atau luka operasi tertentu.... lama hari rawat. Cara menghitung ILI Numerator x 1000 = ....% Denominator Jumlah kasus ILI x 1000 = . 7) Survey dilakukan pada pasien baru sampai beberapa hari hingga jumlah responden terpenuhi. % Jumlah hari pemakaian alat Populasi beresiko ILI : 1) Semua pasien yang menggunakan iv line dengan kurun waktu 2x24 jam..

1. b) Jika pasien terpasang Kateter urine dari luar rumah sakit tidak dilakukan survey. Pluria ( 10 lekosit/ml atau > 3 lekosit /LPB pada urine  yang tidak disentrifus. Kebijakan: a) Survey dilakukan 30 % dari populasi setiap ruangan perawatan.Endogen : Perubahan dapat flora disebabkan : normal. b). 2) ISK (Infeksi Saluran kemih) Infeksi saluran kemih nosokomial ialah infeksi saluran kemih yang pada pasien masuk rumah sakit belum ada atau tidak dalam masa inkubasi dan didapat sewaktu dirawat atau sesudah dirawat. Mikroorganisme positif pada pewarnaan gram pada urine  yang tidak disentlifus.000 kuman / ml dengan tidak lebih dari dua jenis mikroorganisme :  Dua dari gejala :  Demam 380C  Disuria  Nikuria  Polakisuria  Nyeri Suprapubik  Salah satu tanda :  Tes carik celup ( dipstick ) positif untuk leukosit esterase  dan atau nitrit. Dengan salah satu kriteria dibawah ini :  Salah satu gejala ini :  Demam > 380C  Disuria  Nikuria ( urgency )  Polakisuria  Nyeri Suprapubik  Biakan urin > 100. Biakan urine dua kali dengan hasil kuman uropatogen 18 . Infeksi saluran kemih a). c) Survey dilakukan pada pasien baru sampai beberapa hari hingga jumlah responden terpenuhi. Infeksi Saluran Kemih Simtomatik. 2. Eksogen :  Prosedur yang tidak bersih / steril  Tangan yang tidak dicuci sebelum prosedur.sesegera mungkin jika tidak diperlukan lagi.

 Tidak memakai kateter dower selama 7 hari sebelum biakan urin dengan dua kali hasil biakan >100. Infeksi Saluran Kemih lain. kandung kemih.yang sama dengan jumlah > 100. Biakan urin dengan hasil satu jenis kuman uropatogen dengan jumlah 100. uretra atau jaringan retroperito neal atau rongga perinefrik ) dengan salah satu criteria dibawah ini :  Biakan positif dari cairan atau jaringan yang diambil dari lokasi yang dicurigai.000 kuman/ml dari urin  yang diambil secara steril.000 kuman/ml urin dengan tak lebih dari dua jenis kuman. ureter.  Ditemukan abses atau tanda infeksi pada pemeriksaan atau operasi atau secara hispatologis.  Dua dari gejala :  Demam 380C  Nyeri local pada daerah yang dicurigai. 2. 19 . ( dari ginjal.000 kuman/ml dan pasien diberi   antibiotic yang sesuai.000/ml dengan mikroorganisme yang sama yang tak lebih dari dua jenis dan tak ada gejala :  Demam 380C  Disuria  Nikuria  Polakisuria  Nyeri Suprapubik 2. Dokter memberikan terapi antibiotika yang sesuai.2. Infeksi saluran kemih asimtomatik Dengan salah satu kriteria dibawah ini :  Memakai kateter dower selama 7 hari sebelum biakan urin dan tak ada gejala :  Demam 380C  Disuria  Nikuria  Polakisuria  Nyeri suprapubik  Biakan urin dengan jumlah > 100.  Nyeri tekan pada daerah yang bersangkutan. Diagnosis oleh dokter.3.

2.  Biakan darah positif  Radiologi terdapat tanda infeksi  Diagnosis dokter  Dokter memberikan terapi antibiotika yang sesuai  Pasien berumur < 12 bulan dengan salah satu gejala :  Demam 380C  Hipotermia  Apneu  Bradikardi  Disuria  Letargi  Muntah  Dan salah satu dari tanda :  Drenase purulen dari daerah yang dicurigai.  Gejala : panas. sering kencing dan ngompol.  Pada usia prasekolah gejala klinis berupa sakit perut. Infeksi Saluran Kemih pada Anak  Dapat dengan atau tanpa gejala.  Laboratorium : pemeriksaan mikroskopik dan biakan urin dari punksi suprapubik. Dan salah satu dari tanda :  Drenase purulen dari daerah yang dicurigai. kuning.  Apabila biakan kuman dalam urin pada waktu masuk dan saat diperiksa berbeda. 20 .  Biakan darah positif  Radiologi terdapat tanda infeksi  Diagnosis dokter  Dokter memberikan terapi antibiotika yang sesuai. Infeksi Saluran Kemih pada neonatus  Bayi tampak tidak sehat. kateterisasi buli – buli. kadang – kadang diare atau kencing yang sangat berbau. muntah. Pada anak yang lebih besar gejala spesifik makin jelas seperti ngompol.4. nafsu makan berkurang.  Infeksi ini dapat pula disebabkan oleh sepsis.000/ml urin.  Gejala infeksi timbul sesudah dilakukan punksi suprapubik.5. hipertermi/ hipotermi. gagal tumbuh ( gejala sama dengan sepsis ). panas. Biakan urin positif kalau ditemukan kuman lebih dari 100. muntah. gangguan pertumbuhan. sakit waktu kencing atau nyeri pinggang. sering kencing. Makin muda usia anak makin tidak khas. 2.

Klinis a. Untuk bayi umur 12 bulan. Oliguri.1.  Pemeriksaan lainnya : sediment urin terdapat piuria.  Laboratorik : hasil biakan urin yang diambil melalui suprapubik dikatakan positif apabila jumlah kuman sama atau lebih dari 200/ml urin.5 cc/kbBB/jam Dan Semua gejala / tanda yang disebut dibawah ini : 3) Tidak ada tanda – tanda infeksi di tempat lain. sistolik < 90 mmHg.1. CATATAN :  Suhu badan diukur secara aksiler selama 5 menit dan  diulang setiap 3 jam Apabila pasien menunjukkan gejala. Dan apabila melalui urin pancaran tengah atau kateterisasi kandung kemih maka jumlah kuman dalam urin 100. 6) Diberikan terapi antimikroba sesuai dengan sepsis. bertahan minimal 24 jam dengan atau tanpa pemberian antipiretika.1. 4) Telah diberikan antimikroba sesuai dengan sepsis. Ditemukan salah satu diantara gejala berikut tanpa penyebab lain : 1) Suhu > 380C. Diagnosis : Klinik dan laboratorik. 2) Hipotesi. jumlah urin < 0. c. Infeksi Aliran Darah Primer ( IADP ) 3. 3. Definisi Infeksi Aliran Darah Primer Infeksi Aliran Darah Primer adalah infeksi aliran darah yang timbul tanpa ada organ atau jaringan lain yang dicurigai sebagai sumber infeksi.000 atau lebih/ml urin. Untuk Dewasa dan anak > 12 bulan. suhu tubuh diukur secara oral atau rectal. b. Untuk Neonatus Dinyatakan menderita infeksi aliran darah primer apabila terdapat 3 atau lebih diantara enam gejala berikut : 21 . Ditemukan salah satu gejala / tanda berikut tanpa penyebab lain : 1) Demam > 380C 2) Hipotermi < 370C 3) Apnea 4) Bradikardi < 100x/mnt Dan Semua gejala / tanda di bawah ini : 5) Tidak terdapat tanda – tanda infeksi ditempat lain. Criteria infeksi aliran darah primer dapat ditetapkan secara klinis dan laboratories dengan gejala / tanda berikut : 3.

ditemukan satu diantara gejala berikut :  Demam > 380C  Hipotermi < 370C  Apnea  Bradikardi<100/mnt  Dan satu diantara tanda berikut : Terdapat kontaminan kulit dari 2 biakan berturut – turut dan kuman tersebut tidak ada hubungannya dengan infeksi ditempat ( organ / jaringan lain ) 22 . kuning.1) Keadaan umum menurun antara lain : malas minum. b. c) Untuk bayi < 12 bulan. 9) Diberikan terapi antimikroba sesuai dengan sepsis.2. muntah dan hepatomegali. 4) Sistem pernafasan antara lain : nafas tak teratur. Ditemukan satu diantara 2 kriteria berikut : a. apnea dan takipnea. 100/mnt dan sirkulasi perifer buruk. 5) Sistem saraf dan pusat antara lain : hipertermi otot. 3. mencret. Ditemukan satu diantara gejala klinis berikut : 1) Demam > 380C. b) Terdapat kontaminan kulit dari biakan darah pasien yang menggunakan alat intravascular (kateter intravena) dan dokter telah memberikan antimikroba yang sesuai dengan sepsis. 2) Menggigil 3) Hipotensi 4) Oliguri Dan Satu diantara tanda berikut : a) Terdapat kontaminan kulit dari 2 biakan berturut – turut dan kuman tersebut tidak ada hubungannya dengan infeksi ditempat (organ / jaringan) lain. 2) Sistem kardiovaskuler antara lain : tanda renjatan yaitu takikardi. Kuman pathogen dari biakan darah dan kuman tersebut tidak ada hubungannya dengan infeksi ditempat lain. Dan Semua gejala / tanda di bawah ini : 7) Biakan darah tidak dikerjakan atau dikerjakan tetapi tidak ada pertumbuhan kuman. 8) Tidak terdapat tanda – tanda infeksi ditempat lain. sesak. 160/mnt atau bradikardi. kejang dan letargi. iritabel. 3) Sistem pencernaan antara lain : distensi lambung. Laboratorik Untuk orang dewasa dan anak umur > 12 bulan. hipotermi (< 370C) hipertermi ( 380C ) dan sklerema. 6) Manifestasi hematology antara lain : pucat. splenomegali dan perdarahan.1.

Terjadi 3 hari setelah partus patologik.. Pengertian SSI 1) ILO superfisial terjadi bila insisi hanya pada kulit dan jaringan bawah kulit (subkutan ) 2) ILO profunda bila insisi terjadi mengenai jaringan lunak yang lebih dalam (fasia dan lapisan otot) 3) ILO organ bila insisi dilakukan pada organ atau mencapai rongga dalam tubuh. 23 . orofaring.... Cara penghitungan : Numerator x 1000 = . Pintu masuk kuman jelas misalnya luka infuse. urinarius.% Denominator Jumlah kasus ISK x 1000 = . tanpa  didapatkan pintu masuk kuman...... Terdapat kontaminan kulit dari biakan darah pasien yang menggunakan alat intravaskuler (kateter intravena) dan antimikroba dokter yang telah sesuai memberikan dengan CATATAN infeksi : Untuk neonatus digolongkan infeksi nosokomial apabila :  Pada partus normal di rumah sakit infeksi  terjadi setelah lebih dari 3 hari. gastroinestinal. atau traktus biliaris atau operasi terencana dengan penutupan kulit primer atau tanpa pemakaian drain tertutup... Kategori operasi : Operasi bersih.. ILO (Infeksi Luka Operasi) a... % Jumlah hari pemakaian alat kateter urine 3.1.. adalah operasi dilakukan pada daerah /kulit yang pada kondisi pra bedah tidak terdapat peradangan dan tidak membuka traktus respiratorius..3. b.

mandi sebelum operasi. Diabetus Militus. transfusi darah. ASA Score. karier MRSA.  Diagnosi ILO superficial oleh dokter bedah atau dokter yang menangani pasien tersebut. e. benda asing. tindakan lebih dari 1 jenis. Kategori resiko : 1) Jenis luka 2) Luka bersih dan bersih kontaminasi skor : 0 3) Luka bersih kontaminasi dan kotor skor : 1 24 . jenis tindakan. Hasil biakan yang negatif tidak memenuhi kriteria ini. misal usia. Sekurang kurangnya terdapat :  Satu tanda atau gejala infeksi sbb : rasa nyeri. b) Prosedur operasi : Cukur rambut sebelum operasi. antibiotik profilaksis. penyakit berat. penyakit keganasan. malnutrisi. 3) Faktor Risiko ILO a) Kondisi pasien sendiri. lama operasi. pembengkakan yang terlokalisir. kemerahan. obesitas.  Insisi superficial terpaksa harus dibuka oleh dr bedah dan hasil biakan positif atau tidak dilakukan biakan. 2) Terjadi 2 hal sebagai berikut: a) Drainase bahan purulen dari insisi superficial b) Dapat diisolasi kuman penyebab dari biakan cairan atau jaringan yang diambil secara aseptic dari tempat insisi superficial. b) Mengenai hanya pada kulit dan jaringan bawah kulit (subkutan). infeksi luka operasi. 1) Survey dilakukan 30 % dari populasi setiap ruangan perawatan. Kebijakan 1) Kriteria ILO superfisial : a) Infeksi yang terjadi dalam kurun waktu 30 hari setelah tindakan operasi. lama rawat pra operasi.c. 3) Survey dilakukan pada pasien baru sampai beberapa hari hingga jumlah responden terpenuhi. d. atau hangat pada perabaan. 2) Jika pasien tindakan operasi dari luar rumah sakit tidak dilakukan survey.

Jangan mencukur rambut . Kendalikan kadar gula darah pada pasn diabetes dan hindari kadar gula darah yang terlalu rendah sebelum operasi. pencukuran hanya dilakukan bila daerah sekitar operasi terdapat rambut yang dapat mengganggu jalannya operasi (pencukuran dilakukan 1 jam sebelum operasi dengan menggunakan alat cukur  elektric.operasi luka tidak infeksi. 25 . ASA 1-2.  Persiapan pasien sebelum operasi. Y : jumlah pasien operasi pada waktu tertentu.kontaminasi fecal. Skor 0 b) Bila lebih dari waktu yang ditentukan skor : 1. Setiap jenis operasi berbeda lama operasinya a) Lama operasi sesuai atau kurang dengan waktu yang ditentukan. skor :1 = X/Y x 100% X : jumlah kasus infeksi yang terjadi dalam waktu tertentu. b) Bersih kontaminasi : operasi yang membuka saluran pernapasan dan genitourinari. Lama operasi : waktu mulai dibuka insisi sampai penutupan kulit. f. d) kotor dan infeksi : trauma terbuka. 4) Pencegahan ILO : a) Pra bedah.skor :0 ASA 3-5. c) ASA score .  Jika ditemukan tanda-tanda.tidak membuka saluran pernapasan dan genit ourinari.  Sarankan pasien untuk berhenti merokok min 30 hari sebelum hari elektif operasi. c) Kontaminasi luka terbuka : trauma terbuka.Keterangan : a) Luka bersih : nontrauma . sembuhkan dulu infeksinya sebelum hari operasielektif dan  jika perlu ditunda sampai tidak ada infeksi.

 Pemberian anti mikroba hanya bila diindikasikan dan pilihlah yang paling efektif terhadap patogen yang umum yang menyebabkan ILO pada operasi jenis tersebut  yang direkomendasikan.5 % dan biarkan 10 menit kemudian bersihkan cairan tadi. b) Intra Bedah. Lakukan kebersihan tangan bedah dengan chlorhexidine 4 % setelah kebersihan tangan tangan harus tetap mengarah ke atas dan dijauhkan dari tubuh agar air mengalir dari ujung jari menuju siku. Jangan menggunakan fogging dan sinar UV  dikamar operasi untuk mencegah ILO. 26 . Anjurkan agar melapor jika terdapat tanda infeksi agar mendapatkan pengobatan. Mandikan pasien dengan cairan sabun yang mengandung chlorhexidine 2 % min 1 jam sebelum operasi.keringkan tangan dengan handuk steril .  Ventilasi  Pertahankan tekanan (+) ruangan kamar  bedah. Batasi jumlah orang yang masuk kamar  bedah.  Antiseptik tangan dan lengan untuk tim bedah :  Kuku harus pendek dan jangan menggunakan  kuku palsu.pakai saung tangan dan   gaun steril. Berikan dosis profilaksi awal melalui intravena 1 jam sebelum operasi sehingga sat dioperasi konsentrasi bakterisida pada serum dan jaringan maximal. Pintu kamar bedah harus selalu tertutup kecuali diperlukan untuk lewatnya peralatan  bedah. Tim bedah yang terinfeksi atau terkolonisasi. Bila tampak darah atau cairan tubuh lain gunakan chlorine 0.  Profilaksis anti mikroba. Membersihkan dan desinfeksi permukaan  lingkungan.

Pel dan keringkan lantai kamar bedah dengan menggunakan detergennt normal. Pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga untuk mengkonsumsi makanan bergizi.  Pakaian bedah /drapes.  Laksanakan sterilisasi kilat hanya untuk instrumen yang harus digunakan segera seperti instrumen jatuh saat operasi.obatan steril. kateter anestesi spinal / epidural/ dan bila menyiapkan obat. minimalkan jaringan yang mati atau ruang kosong (dead space) pada lokasi operasi.  Lakukan teknik aseptik saat melakukan pemasangan CVP.  Lakukan mobilisasi sedini mungkin. 27 .  Gunakan gaun dan drape yang kedap air.  Sterilisasikan instrumen bedah sesuai petunjuk. Tidak perlu pembersihan khusus /penutupan  kamar bedah setelah selesai operasi kotor.  Bila diperlukan drainage gunakan drain penghisap tertutup.  Pakai masker bedah dan tutupi mulut dan hidung bila memasuki kamar bedah saat operasi berjalan .lepas drain sesegera mingkin bila sudah tidahk dibutuhkan. c) Sterilisasi instrumen bedah.  Siapkan peralatan dan larutan steril sasaat sebelum digunakan.  Pakai tutup kepala untuk menutupi rambut dikepala.  Perlakukan jaringan dengan lembut dan lakukan homeostasis yang efektif.letakan drain pd lokasi tubuh yang terpisahdari insisi tubuh. d) Teknik aseptik dan bedah.  Jangan menggunakan caver shoes untuk mencegah ILO Ganti gaun bila tampak kotor dan terkontaminasi percikan cairan tubuh pasien. e) Paska Bedah  Jika terjadi rembesan darah atau cairan pada daerah operasi segera laukakan penggantian verban.

Sedangkan flora sementara. No thinking abut it Kepatuhan menkebersihan tangan di ICU (Spraot. dengan munculnya AIDS pada tahun 1980 an. dan ragi. ditularkan melalui kontak dengan pasien. Kebersihan tangan dengan sabun biasa dan air sama efektifnya dengan kebersihan tangan memakai sabun antimicrobial (Pereira. Organisme inilah yang sering menyebabkan infeksi nosokomial (JHPIEGO. Inaccessible handwashing supplies c. Pedoman kebersihan tangan telah memberikan anjuran tentang kapan dan bagaimana melakukan kebersihan tangan atau menggosok tangan untuk pembedahan. yaitu: a. I. atau permukaan yang terkontaminasi. 2004). telah mengalami perubahan secara cepat pada masa 15 tahun terakhir. Flora tetap hidup pada lapisan kulit yang lebih dalam dan juga akar rambut.2. berkemungkinan kecil menyebabkan infeksi nosokomial. a. 2002). hal ini disebabkan karena pada lapisan kulit terdapat flora tetap dan sementara yang jumlahnya sangat banyak. Being too bussy d. Organisme ini hidup pula pada permukaan atas kulit dan sebagian besar dapat dihilangkan dengan mencucinta memakai sabun biasa dan air. melaporkan hasil penelitian tentang kepatuhan tenaga kesehatan dalam menkebersihan tangan. 1994) kurang dari 50%. Skin irritation b. sedangkan Galleger 1999 melaporkan bahwa kepatuhan menkebersihan tangan tersebut : Individu Patuh % Tidak Patuh % Dokter Perawat Tenaga kesehatan lainya Mahasiswa perawat 33 36 43 0 67 64 57 100 Kegagalan untuk melakukan kebersihan dan kesehatan tangan yang tepat dianggap sebagai sebab utama infeksi nosokomial yang menular dan penyebaran mikro organisme multiresisten serta diakui sebagai kontributor yang penting terhadap timbulnya wabah (Boyce dan Pittet. walaupun dengan dicuci dan digosok keras. Pittet dan kawan-kawan pada tahun 2000. Kebersihan tangan. Kebersihan tangan adalah Proses membuang kotoran dan debris secara mekanis dari kulit kedua belah tangan dan mereduksi jumlah mikroorganisme transient dengan menggunakan bahan tertentu. Flora tetap. namun lapisan dalam tangan dan kuku jari tangan sebagian besar petugas dapat berkolonisasi dengan organisme yang dapat menyebabkan infeksi seperti : s. petugas kesehatan lainya. bahwa ada 4 alasan mengapa kepatuhan kebersihan tangan masih kurang. tidak dapat dihilangkan sepenuhnya. Auresus.J. Lee dan Wade 1990). Basili Gram Negative. 28 .

2. Flora transien pada tangan diperoleh melalui kontak dengan pasien. 2. Bahan kimia yang digunakan untuk menghambat atau membunuh mikro organisme baik yang transien atau residen. Mereduksi jumlah microorganisme transient Jenis kebersihan tangan ada 4 macam : g. Flora residen tinggal dilapisan kulit yang lebih dalam serta didalam folikel rambut dan tidak hilang seluruhnya saat dilakukan pencucian dan pembilasan keras dengan sabun dan air mengalir untungnya pada sebagian kasus. tensi. memiliki turbiditas rendah (jernih . Sebelum menyentuh pasien. atau permukaan lingkungan (meja.Flora transien dan flora residen pada kulit . petugas lain. Air yang secara alami atau kimia yang digunakan untuk kebersihan tangan merupakan air bersih bebas mikroorganisme. Sabun c. propilen glikol atau sorbitol yang ditambahkan pada handrub berguna sebagai melunakkan kulit dan membantu mencegah kerusakan kulit. Membersihkan kedua tangan dari kotoran 2. Setelah menyentuh lingkungan disekitar pasien 29 . Cairan organik seperti gliserol. sementara sabun anti septik disamping membersihkan juga dapat membunuh kuman Agen antiseptik d. Setelah tersentuh cairan tubuh pasien. Produk pembersih yang bergua untuk menurunkan tegangan permukaan sehingga membantu melepaskan kotoran. Tangan atau kuku petugas kesehatan dapat terkolonisasi pada lapisan dalam oleh organisme yang menyebabkan infeksi seperti S. Kebersihan tangan surgical Kebersihan tangan Aseptik Kebersihan tangan sosial Kebersihan tangan handrub 5 moment kebersihan tangan : 1. Aureus.tidak berbau ) Tujuan : 1. flora residen kemungkinan kecil terkait dengan penyakit infeksi menular melalui udara seperti flu burung. Emolient e. batang gram negatif. 4. stetoskop atau toilet). 3. 1. 4. Sabun biasa memerlukan gosokan untuk melepaskan mikroorganisme secara mekanik. h. b. Setelah menyentuh pasien. debris dan mikroorganisme yang meempel sementara di tangan. Air mengalir f. Sebelum melakukan tindakan aseptik. 3. organisme ini tinggal dilapisan luar kulit dan terangkat saat kebersihan tangan. 5.

masker. Bila tangan luka atau tidak intak . Jam tangan dan cicncin tidak diperkenankan dipakai 3. Jari –jari sisi dalam dari keduatangan petugas saling mengunci sebanyak 4x 4. Bila bahan kain. Sarung tangan Tujuan memakai sarung tangan : 30 . yang membuat kontaminasi. 3. Kain dril. telah digunakan bertahun-tahun lamanya untuk melindungi pasien dari mikroorganisme yang terdapat pada staf yang bekerja pada suatu unit perawatan kesehatan. Bahan-bahan tahan cairan ini. Petugas menggosok ibu jari berputar dalam genggaman tangan kanan dan lakukan sebaliknya sebanyak 4x 5. gaun. kain katun yang enteng (dengan hitungan benang 140/in²) adalah bahan yang sering dipakai untuk pakaian bedah (masker. terbuat dari kain yang diolah atau bahan sintetik yang menahan air atau cairan lain (darah atau cairan tubuh) menembusnya. Sayangnya. Cat kuku tidak diperkenankan 3. Termasuk Alat pelindung Diri a. Macam APD : a. terlalu rapat untuk ditembus uap (yaitu. sangat sukar dicuci dan makan waktu untuk dikeringkan.i. pelindung mata (perisai muka. Petugas menggosok dengan memutar ujung jari– jari di telapak tangan kiri dan sebaliknya sebanyak Hal yang perlu diperhatikan dalam kebersihan tangan: 1. memicu penggunaan APD menjadi sangat penting untuk melindungi staf.harus diobati dan dibalut dengan balutan yang kedap air. Akhir-akhir ini. kap. kacamata). bagaimanapun. Petugas menggosok kedua telapak tangan dan sela-sela jari sebanyak 4x. bagaimanapun. gaun dan tirai terbuat dari kain atau kertas. apron dan barang lainnya. kap dan gaun) dan tirai. sebaliknya. masker/respirator. Kuku harus seujung jari tangan 2. Penahan yang sangat efektif. Petugas menggosok dengan memutar ujung jari– jari di telapak tangan kiri dan sebaliknya sebanyak 4x 6.l: sarung tangan. karena cairan dapat menembusnya dengan mudah. APD (Alat Pelindung Diri) Protective barrier umumnya diacu sebagai Alat Pelindung Diri (APD). katun enteng itu tidak memberikan tahanan efektif. Menggunakan 6 langkah kebersihan tangan 1. Di banyak negara. warnanya harus putih atau terang agar kotoran dan kontaminasi dapat terlihat. sulit disterilkan). tidak tersedia secara luas karena mahal. Petugas menggosok punggung dan sela-sela jari tangan kiri dengan tangan kanan dan sebaliknya sebanyak 4x 2. kanvas dan kain dril yang berat. 4. adanya AIDS dan HCV dan resurgence tuberkulosis di banyak negara. Di banyak negara kap.

mukosa. cairan tubuh. IPAL 2) Digunakan untuk menyentuh bahan bahan yang memerlukan perlakuan khusus (piring yg licin. 2) Untuk menghindari transmisi mikroba ditangan petugas ke pada pasien (saat akan melakukan tindakan aseptik atau menangani benda – benda yang terkontaminasi. Jenis alat : 1) Masker Jenis masker : a) Masker bedah 31 . 4) Tiga (3) saat petugas menggunakan sarung tangan : 1) Sebagai barrier protekif dan mencegah kontaminasi yang berat (saat akan menyentuh cairan tubuh.sekresi. dan mata. 3) Sarung tangan rumah tangga 1) Digunakan di linen. 4) Teknik menggunakan dan melepas sarung tangan harus dipahami. secret. hidung.Melindungi tangan dari kontak dengan darah. kulit yang utuh dan benda-benda yang terkontaminasi. eksekreta. 3) Hindari jamahan pada benda-benda lain. dll). Jenis sarung tangan : 1) Sarung tangan steril : a) Digunakan di IKO. 2) Sarung tangan tidak steril 1) Digunakan di rawat inap.mukosa membran dan kulit yang tidak utuh. mencuci linen yang tebal. poli gigi atau poli bedah b) Digunakan saat pembedahan atau prosedur invasif c) Penggunaanya sekali pakai. kebersihan 2) Digunakan saat akan bersentuhan dangan cairan atau mukosa tubuh atau bahan berbahaya. Masker Pelindung wajah bertujuan melindungi selaput lendir. 2) Gunakan sarung tangan berbeda untuk setiap pasien.ekskresi. gizi. mulut. b. 3) Untuk mencegah tangan petugas terkontaminasi mikroba dari pasien lain(saat penggunaan sarung tangan yang benar. IPSRS.krn sarung tangan belum tentu tidak berlubang walaupun kecil) 5) Hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan sarung tangan : 1) Kebersihan tangan sebelum dan sesudah melepas sarung tangan.

bicara. Kaca mata  Digunakan untuk melindungi dari cipratan darah atau cairan tubuh lainnya yang terkontaminasi.hari kegiatan yang menimbulkan bau (saat pengelolaan sampah.  Karena saat ini rumah sakit belum memiliki masker N95 maka untuk penggunakan diruang isolasi TBC menggunakan masker bedah rangkap 2. mengosongkan drinage.  Dugunakan saat timdakan perawatan yang menimbulkan bau (personal higiene.perawatan luka) d) Kegiatan lainya tentang kapan kebersihan tangan dan penggunaan alat pelindung dilakukan ? c. air bone disease. poli gigi. ipal dll)  Digunakan saat menderita batuk pilek.Membantu Bab. 32 . pasien yang mendapatkan imuno supresan atau petugas atau pasien yang sakit batuk. Pelindung mata termasuk pelindung plastik yang jernih. kamar mandi. batuk atau bersin dan juga untuk mencegah cipratan darah atau cairan tubuh yang terkontaminasi masuk ke dalam hidung atau mulut.Bak. kacamata  pengaman. poli bedah. d.TBC di ruang isolasi. Mencegah jatuhnya mikroorganisme yang ada di rambut dan kulit kepala petugas terhadap alat-alat di daerah steril dan juga sebaliknya melindungi kepala petugas  dari bahan – bahan berbahaya dari pasien.  Digunakan dalam kegiatan sehari.pemasangan kateter vena sentral). Digunakan saat melakukan tindakan yang memerlukan area steril yang luas (operasi. Topi  Digunakan untuk melindungi rambut dan kepala dari cairan tubuh atau bahan  berbahaya. pelindung muka dan visor. rahang dan semua rambut muka  Digunakan untuk menahan tetesan keringat yang keluar sewaktu bekerja.  Digunakan untuk pencegahan penyakit H5N1. b) Masker khusus  Digunakan pada saat penanganan pasien. VK  Di ganti bila basah atau selesai pembedahan  Masker harus bisa menutupi hidung. c) Masker biasa. Masker yang digunakan saat pembedahan di kamar operasi. muka bagian bawah. Digunakan untuk prosedur bedah dan kemoterapi.

Apron/celemek  Apron steril digunakan untuk prosedur pembedahan atau yang beresiko terjadi  cipratan atau kontak dengan cairan tubuh pasien. 33 . f.  Seperti membersihkan luka bakar.  Tindakan drainage.  IPAL. g.  Digunakan dalam operasi dan menolong persalinan  Terbuat dari plastik yang menutupi seluruh ujung dan telapak kaki digunakan untuk melindungi kaki dari:  Cairan atau bahan kimia yang berbahaya  Bahan atau peralatan yang tajam.  Menangani pasien perdarahan masif. VK. pispot.  Menuangkan cairan terkontaminasi ke dalam lubang pembuangan WC atau Toilet.  Tindakan bedah. Gaun pelindung  Tujuan :  Melindungi petugas dari kemungkinan genangan atau percikan darah atau cairan tubuh lainnya yang dapat mencemari baju.  Gaun segera diganti jika terkontaminasi cairan tubuh pasien. Laboratorium. bengkok dll). dapur.  Gaun steril.  Indikasi penggunaan gaun :  Tindakan atau penanganan alat yang memungkinkan pencemaran /kontaminasi pada pakaian petugas seperti. Digunakan untuk melindungi dari cairan atau bahan kimia di ruang linen .  Jenis Gaun :  Gaun pelindung tidak kedap air. Saat menangani pencucian peralatan bekas digunakan pasien (instrumen.  Perawatan gigi.  Gaun pelindung kedap air.  Gaun non steril. Pelindung kaki  Tujuan :  Melindungi kaki petugas dari tumpahan /percikan darah atau cairan tubuh lainnya dan mencegah dari kemungkinan tusukan benda tajam atau kejatuhan nalkes.e. urinal.

 Digunakan untuk melindungi kepala dan digunakan pekerjaan yang berhubungan dengan bangunan. 34 . Helm  Terbuat dari plastik.h.

Membuang sampah medis 30. Percikan darah / cairan tubuh 29. 5. 17. 8. Pengambilan darah vena √ 24. 10.No Kegiatan Cuci tangan Sarung tangan Steril biasa Jubah/ Celemek Masker Google Perawatan umum 1. 9. 13. Penggantian botol infuse 27. 14. 2. Penanganan alat tenun. 16. Pemasangan infuse √ Lebih baik Lebih baik Lebih baik 23. 4. 11. 7. 6. Penyuntikan IM / IV / SC 26. Pasang cateter urine Ganti bag urine / ostomil Pembilasan lambung Pasang NGT Mengukur suhu axilia Mengukur suhu rectal Kismia Memandikan jenazah √ √ √ K/P √ √ √ Perawatan saluran nafas 15. Tubbing ventilator Suction Mengganti plaster ETT Perawatan TT PF dengan stethoscope Resusitasi Airway management √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ K/P √ √ √ √ √√ √ K/P K/P √ K/P K/P √ K/P K/P Perawatan Vasculer 22. 3. Pelesapan dan penggantian selang infuse 28. Punksi arteri √ 25. √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 35 K/P . 21. Tanpa luka  Memandikan bedding  Reposisi Luka terbuka  Memandikan bedding  Reposisi Perawatan perianal Perawatan mulut Pemeriksaan fisik Penggantian balutan  Luka operasi  Luka decubitus  Central line  Arteri line  Cateter intravena / / √ √ √ √ √ √ K/P √ √ √ √ √ √ √ K/P K/P √ K/P K/P K/P K/P K/P K/P K/P K/P K/P K/P K/P K/P K/P K/P K/P K/P K/P K/P √ K/P K/P K/P K/P K/P K/P K/P K/P K/P √ K/P √ K/P √√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Tindakan Khusus. 20. 19. 12. 18.

Pada umumnya sterilisasi ini adalah metode pilihan untuk mensterilisasi instrumen dan alat-alat lain yang digunakan pada berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.5 jam). hanya butuh waktu 4 menit. Metode kilat ini biasanya digunakan untuk alat-alat individual. CSSD / Sterilisasi Adalah membunuh semua mikroorganisme. Kondisi Standar Sterilisasi Panas c. termasuk endospora bakterial Adalah Penguapan bertekanan tinggi yang menggunakan suatu otoklaf atau dry heat dengan menggunakan oven adalah metode yang paling tersedia saat ini yang digunakan untuk proses sterilisasi.  Jangan memuat sterilisator untuk alat tidak terbungkus dengan metode ini lebih pendek. atau  160ºC selama 2 jam (total cycle time dari 3-3. tekanan harus berada pada 30 lbs/in².4. instrumen-instrumen dapat disterilisasi dengan sebuah sterilisator uap nonelektrik dengan menggunakan minyak tanah atau bahan bakar lainnya sebagai sumber panas. Sterilisasi uap (Gravitas) : Suhu harus berada pada 121ºC. ikuti anjuran pabrik. 15 menit untuk alat terbungkus. b. d. Ingat: Waktu paparan mulai hanya setelah sterilisator telah mencapai target. Bila mungkin. tetapi juga paling sulit untuk dilakukan secara benar (Gruendemann dan Mangum 2001). Panas kering:  170ºC selama 1 jam (total cycletime-meletakkan instrumen-instrumen di oven. Catatan: Setting tekanan (Kpa atau lbs/in²) dapat agak berbeda bergantung pada sterilisator yang digunakan. Atau pada suhu yang lebih tinggi pada 132ºC. tekanan harus berada pada 106 kPa. Sterilisasi uap tekanan tinggi adalah metode sterilisasi yang paling murah dan efektif. selama 1 jam dan kemudian proses pendinginan 2-2. a. 20 menit untuk alat tidak terbungkus 30 menit untuk alat terbungkus. Kegiatan di unit CSSD : 36 .5 jam). Bila aliran listrik bermasalah. pemanasan hingga 170ºC.

15.00 . d) Area penyimpanan steril atau DTT. dibilas dan dikeringkan. baik disterilisasi maupun DTT. b) Area kerja “bersih”  Di area kerja bersih. atau boiler. peralatan kotor diterima. peralatan bersih :  Diperiksa barangkali ada catat atau kerusakan . Lengkapi peralatan area ini dengan :  rak-rak (lebih baik tertutup) untuk menyimpan peralatan bersih.1) Unit CSSD berada disebelah kamar operasi 2) Jam penerimaan bahan yang akan disteril lagi dari ruangan : a) Pagi pukul 07.00 WIB 3) Ruangan CSSD terdiri dari 4 area.00 . Area ini adalah : a) Area penerimaan / pembersihan “hal-hal kotor”. dan sebuah konter peralatan yang bersih untuk pengeringan. dibongkar dicuci. oven panas tinggi. Staf CSD juga harus memasuki CSD melalui area ini. dan ruangan tersendiri. dan Simpanlah peralatan bersih di area ini. dan  Sterilisator uap tekanan tinggi.  Area kerja bersih harus mempunyai:  Seja besar.  Rak-rak penyimpanan peralatan bersih dan yang sudah dipak.08.00 WIB b) Siang pukul 14.  Dua sinks bila mungkin (satu untuk membersihkan dan satu untuk membilas) dengan suplai air bersih.  Dipak (bila terindikasi). steamer. seperti yang terlihat pada. dan  Dikirim untuk disimpan seperti dalam bentuk dipak atau di anginanginkan untuk dikeringkan dan dimasukkan dalam wadah steril atau DTT. Di area ini. Area penerimaan / pembersihan “hal-hal kotor” harus memiliki :  Sebuah konter penerimaan. c) Area penyimpanan peralatan bersih. 37 .

Proses ini berfungsi sebagai peringatan bahwa paket itu rentan atas proses kontaminasi dan menghemat ruang penyimpanan. berdebu atau tidak tersegel. 38 . bebas debu dan bebas kain tiras (lint-free) sesuai dengan jadwal urusan rumah tangga reguler.  Sterilitas hilang ketika pak telah terkoyak di pembungkusnya. (Kardus melepaskan debu dan debris serta dapat menjadi sarang serangga).  Wadah-wadah steril atau DTT tetap dalam kondisi tersebut hingga dibuka. dan 15-20 cm dari dinding luar. terjatuh di lantai. Rak-rak terbuka dapat diterima apabila area ini punya akses terbatas dan urusan rumah tangga dan ventilasi terkontrol). Peristiwa yang dapat membahayakan atau menghancurkan sterilitas pak mencakup berbagai penanganan.  Pak-pak akan tetap steril sepanjang integritas paket itu dipertahankan. dan kontaminasi udara. telah basah. kering. penetrasi kelembaban. berkurangnya integritas pak. (Rak-rak atau kabinet yang tertutup lebih baik karena hal ini melindungi pak-pak dan wadah-wadah dari debu dan debris. pisahkan dari daerah suplai steril pusat. Sebuah peristiwa dapat membahayakan integritas dan   Efektivtas pak tersebut. 45-50 cm dari langit-langit.  Menyegel pak-pak steril di kantong-kantong plastik dapat mencegah kerusakan dan kontaminasi.Simpanlah pak-pak yang sudah disterilisasi dan wadah tertutup yang steril atau DTT di area ini. dan jumlah penanganan sebelum digunakan.  Buatlah tanggal dan rotasi suplai.  Barang steril dan DTT dari area ini didistribusikan.  Menjaga area penyimpanan tetap bersih.  Jangan mempergunakan kardus untuk tempat penyimpanan. kondisi selama penyimpanan dan pengangkutan.  Shelf life sebuah pak steril akan bergantung pada kualitas pengepakan.  Pak-pak dan wadah-wadah dengan peralatan steril atau DTT harus disimpan dengan jarak 20 hingga 25 cm dari lantai. tetapi hal ini tidak menjamin sterilitas.  Sistem Shelf Life : Shelf life dari peralatan steril yang dipak terkait dengan peristiwa dan bukan terkait dengan waktu.  Batasi akses ke area penyimpanan ini dan/atau simpanlah peralatan di kabinet atau rak-rak yang tertutup.

atau area kerja CSD yang bersih. Sebagian besar peristiwa yang berkontaminasi terkait dengan penanganan pak secara berlebihan atau kurang tepat.  Pindahkan suplai dari seluruh karton dan kotak pengiriman sebelum membawa suplai ini ke dalam ruang prosedur.  Monitoring mutu hasil sterilisasi dilakukan dengan 3 indikator ( mekanik. kimia. steril.) Mengangkut suplai dan instrumen kotor ke area penerimaan / pembersihan di CSD.  Lima faktor yang kemungkinan besar menghancurkan sterilitas atau membahayakan efisiensi barier bakterial atas materi yang sedang dipak adalah :  Bakteri di udara  Debu  Kelembaban  Berlubang. (Shipping boxes mengeluarkan debu dan menjadi tempat bersarang serangga yang dapat mengontaminasi area ini. dilakukan bowiedick tes pada alat sterilisasi. dan (3) ketika memilihnya dibuka untuk digunakan.   Dengan tong sampah tertutup dan antibocor. e) Penanganan dan pengangkutan hasil sterilisasi  Pisahkan instrumen dan peralatan lain yang bersih. pecah atau terkoyak segelnya  Terbukanya pak tersebut. periksalah pak tersebut untuk memastikannya tidak terkontaminasi. ruang operasi. dan DTTdari peralatan kotor dan peralatan yang harus dibuang. Mengangkut sampah yang terkontaminasi ke tempat pembuangan dengan tong sampah tertutup dan antibocor. biologi ). 39 . Idealnya sebuah peralatan harus ditangani tiga kali: (1) ketika mengeluarkan dari sterilizer cart dan menempatkan di rak penyimpanan.  Memindahkan instrumen dan peralatan lain yang steril dan DTT ke prosedur atau ruang operasi dengan kereta tertutup atau wadah dengan penutup untuk mencegah kontaminasi.  CSSD menggunakan buku ekspedisi serah terima barang sterilisasi. (2) ketika mengangkutnya ke tempat peralatan itu akan digunakan.  Sebelum dilakukan sterilisasi. Sebelum menggunakan peralatan yang telah disimpan. Jangan memindahkan atau menyimpan peralatan ini bersama-sama.

terjatuh di lantai. 45-50 cm dari langit-langit.  Barang steril dan DTT dari area ini didistribusikan  Sistem Shelf Life :  Shelf life dari peralatan steril yang dipak terkait dengan peristiwa dan bukan terkait dengan waktu. Peristiwa yang dapat membahayakan atau menghancurkan sterilitas pak mencakup berbagai penanganan. dan kontaminasi udara. 4) Area Penyimpanan Steril atau DTT  Simpanlah pak-pak yang sudah disterilisasi dan wadah tertutup yang steril atau DTT di area ini. Sterilitas hilang ketika pak telah terkoyak di pembungkusnya. Shelf life sebuah pak steril akan bergantung pada kualitas pengepakan. Kalibrasi eksternal autoclave dilakukan 1 tahun sekali.)  Menjaga area penyimpanan tetap bersih.)  Buatlah tanggal dan rotasi suplai. tetapi hal ini tidak menjamin sterilitas. bebas debu dan bebas kain tiras (lint-free) sesuai dengan jadwal urusan rumah tangga reguler.  Jangan mempergunakan kardus untuk tempat penyimpanan.  Wadah-wadah steril atau DTT tetap dalam kondisi tersebut hingga dibuka.  Pak-pak akan tetap steril sepanjang integritas paket itu dipertahankan. kering. (Rak-rak atau kabinet yang tertutup lebih baik karena hal ini melindungi pak-pak dan wadah-wadah dari debu dan debris. Proses ini berfungsi sebagai peringatan bahwa paket itu rentan atas proses kontaminasi dan menghemat ruang penyimpanan.  Pak-pak dan wadah-wadah dengan peralatan steril atau DTT harus disimpan dengan jarak 20 hingga 25 cm dari lantai. dan jumlah penanganan sebelum digunakan.  Perawatan autoclave dilakukan setiap bulan. pisahkan dari daerah suplai steril pusat :  Batasi akses ke area penyimpanan ini dan / atau simpanlah peralatan di kabinet atau rak-rak yang tertutup.  penetrasi kelembaban. Sebuah peristiwa dapat membahayakan  integritas dan efektivtas pak tersebut. berkurangnya integritas pak. Rak-rak terbuka dapat diterima apabila area ini punya akses terbatas dan urusan rumah tangga dan ventilasi terkontrol. 40 . telah  basah. kondisi selama penyimpanan dan pengangkutan. (Kardus melepaskan debu dan debris serta dapat menjadi sarang serangga. dan 15-20 cm dari dinding luar. berdebu atau tidak tersegel.

Menyegel pak - pak steril di kantong-kantong plastik dapat mencegah
kerusakan dan kontaminasi.
Sebagian besar peristiwa yang berkontaminasi terkait dengan
penanganan pak secara berlebihan atau kurang tepat. Idealnya sebuah
peralatan harus ditangani tiga kali : (1) ketika mengeluarkan dari
sterilizer cart dan menempatkan di rak penyimpanan, (2) ketika
mengangkutnya ke tempat peralatan itu akan digunakan, dan (3) ketika
memilihnya dibuka untuk digunakan.

 Lima faktor yang kemungkinan besar menghancurkan sterilitas atau
membahayakan efisiensi barier bakterial atas materi yang sedang dipak
adalah:





Bakteri di udara
Debu
Kelembaban
Berlubang, pecah atau terkoyak segelnya
Terbukanya pak tersebut.
Sebelum menggunakan peralatan yang telah disimpan, periksalah pak
tersebut untuk memastikannya tidak terkontaminasi.

 Penanganan dan Pengangkutan Instrumen dan Peralatan Lainnya

Pisahkan instrumen dan peralatan lain yang bersih, steril, dan DTT
dari peralatan kotor dan peralatan yang harus dibuang. Jangan

memindahkan atau menyimpan peralatan ini bersama-sama.
Memindahkan instrumen dan peralatan lain yang steril dan DTT ke
prosedur atau ruang operasi dengan kereta tertutup atau wadah dengan

penutup untuk mencegah kontaminasi.
Pindahkan suplai dari seluruh karton dan kotak pengiriman sebelum
membawa suplai ini ke dalam ruang prosedur, ruang operasi, atau area
kerja CSD yang bersih. (Shipping boxes mengeluarkan debu dan
menjadi tempat bersarang serangga yang dapat mengontaminasi area


ini.)
Mengangkut suplai dan instrumen kotor ke area penerimaan /
pembersihan di CSD dengan tong sampah tertutup dan anti bocor.
Mengangkut sampah yang terkontaminasi ke tempat pembuangan
dengan tong sampah tertutup dan anti bocor.
(Untuk informasi tambahan berkenaan dengan penanganan dan
pengelolaan peralatan yang akan dibuang)

 Pemeriksaan indikator mutu sterilisasi :
1. Indikator mekanik
2. Indikator Kimia
41

3. Indikator biologi
4. Indikator mikrobiologi
5. Sumber : Perkins 1983

5. Dekontaminasi
Merupakan langkah pertama dalam menangani alat bedah dan sarung tangan yang telah
tercemar. Hal penting sebelum membersihkan adalah mendekontaminasi alat dan benda
lain yang mungkin terkena darah atau duh tubuh. Segera setelah digunakan, alat harus
direndam di larutan klorin 0,5% selama 10 menit. Langkah ini dapat menginaktivasi HBV,
HCV, dan HIV serta dapat mengamankan petugas yang membersihkan alat tersebut (AORN 1990;
ASHCSP 1986).

Sudah lebih dari 20 tahun, dekontaminasi terbukti dapat mengurangi derajat kontaminasi
oleh kuman pada instrumen bedah. Misalnya, studi yang dilakukan oleh Nyström (1981)
menemukan kurang dari 10 mikroorganisme pada 75% dari alat yang tadinya tercemar dan
dari 100 mikroorganisme pada 98% alat yang telah dibersihkan dan didekontaminasi.
Berdasarkan penemuan ini, sangat dianjurkan agar alat dan benda-benda lain yang
dibersihkan dengan tangan, didekontaminasi terlebih dulu untuk meminimalkan risiko
infeksi .

42

a.

Proses desinfeksi barang use yang di reuse
Proses desinfeksi alat medis dapat dikategorikan menjadi :

Tingkat
resiko
Kritis

Penerapan
Alat yg masuk,
penetrasi
dalam jaringan
steril, rongga,
aliran darah

Proses

Penyimpanan

Sterilisasi steam, Sterilisasi harus
sterad atau DDT dijaga :
 bungkusan alat
harus kering,
 kemasan tidak
robek,
 Bungkusan harus
dibuat dengan
menghambat
bioefektif selama
penyimpanan,
simpan alat steril
pada area steril
guna melindungi
dari kontaminasi
lingkungan.

Contoh alat

Alat yang
digunakan untuk
tindakan invasif.

Alat steril yang
tidak dibungkus
harus segera
dipakai

Semi
kritis

Alat yang
kontak dengan
selaput lendir

Sterilsasi steam /
termal dan
dengan cairan
desinfektan
tingkat tinggi

Simpan pada daerah
bersih dan kering
guna melindungi
dari kontaminasi
lingkungan

Alat yang berhubungan
dengan respiratori :
 LM laringeal mask.
 Vaginal speculum.
 endotrakeal non
kinkin.
 probe invasif
ultrasonic (trans
vaginal probe).
 Fleksible
 Colonoscope
 Breast pump

Non
kritis

Alat yang
kontak dengan
kulit

Bersihkan alat
Simpan dalam

dengan
keadaan bersih
menggunakan
ditempat yang kering
detergent dan air
jika
menggunakan
desinfektan
gunakan yang
compatibel

Alat non invasif
equipment :
 Bedpan dan
urinal.
 Manset tekanan
darah.
 Bed
 Termometer.
 Tourniket
 Tensi meter

43

Namun yang terbaru menyatukan universal precaution dab body substance isolasi (BSI) menjadi kewaspadaan isolasi dengan komponen sbb : a. Penggunaan pelindung (barier) fisik. Desinfeksi lingkungan rumah sakit  Permukaan lingkungan : lantai. merupakan alat yang sangat efektif untuk mencegah penularan infeksi (barier membantu memutuskan rantai penyebaran penyakit).  Higiene respirasi/etika batuk. pasien rawat inap atau petugas layanan kesehatan. misalnya ketika pemeriksaan kehamilan. Contohnya. atau kimiawi di antara mikroorganisme dan individu.b. Kebersihan tangan—prosedur yang paling penting dalam pencegahan kontaminasi silang (orang ke orang atau benda terkontaminasi ke orang).  Penggunaan APD (alat pelindung diri )  Peralatan perawatan pasien.  Praktek menyuntik yang aman. Pencegahan / kewaspadaan standar. pasien dan petugas layanan kesehatan serta menyediakan sarana bagi pelaksanaan Pencegahan Baku yang baru:  Setiap orang (pasien atau petugas layanan kesehatan) sangat berpotensi  menularkan infeksi. diterapkan pada semua klien dan pasien yang mengunjungi fasilitas layanan kesehatan. tindakan berikut memberikan perlindungan bagi pencegahan infeksi pada klien. trolly didesinfeksi dengan detergen netral  Lingkungan yang tercemar darah atau cairan tubuh lainnya dibersihkan dengan desinfeksi tingkat menengah 6. dinding dan permukaan meja.  Pengendalian lingkungan.  Penempatan pasien.  Kesehatan karyawanan /perlindungan petugas kesehatan.  Pemrosesan peralatan pasien dan penatalaksanaan linen. mekanik. meliputi :  Kebersihan tangan. 44 .  Praktek untuk lumbal punksi. KOMPONEN UTAMA DAN PENGGUNAANNYA Komponen utama Pencegahan Baku dan penggunaannya terdapat dalam Tabel 2-1. Kewaspadaan standar dan berdasarkan transmisi Pedoman-pedoman baru yang dikeluarkan oleh CDC pada tahun 1996 meliputi hal-hal sebagai berikut.

audit. Metoda yang digunakan adalah pelaporan insiden.  Identifikasi secara proaktif adalah kegiatan identifikasi yang dikakukan proaktif mencari resiko yang menghalangi rumah sakit mencapai tujuan. Identifikasi Resiko Adalah proses mengenal .  berat ringannya dampak yang ditimbulkan tabel. Terutama pencegahan dan pegendalian infeksi yang merupakan acuan mutu rumah sakit. darah atau duh tubuh lainnya atau instrumen yang kotor dan sampah yang terkontaminasi. Oleh sebab itu kita harus tahu dulu : a. tentu saja kita akan melaksanakan prinsip identifiksi proaktif karena belum menimbulkan kerugian. memerlukan perhatian dan tindakan yang baik. sehingga memerlukan tindakan yang baik. FMEA. analisa swot. Management Resiko adalah :  Budaya. Resiko adalah :  Peluang terjadinya sesuatu yang akan mempunyai dampak pada pencapaian tujuan (AS/NZS 4360:2004)  Efek ketidak pastian tujuan (ISO 3100:2009) b. proses dan struktur yang diarahkan untuk mewujudkan peluang –peluang sambil mengelola efek yang tidak diharapkan. pendapat ahli. 7. Pakai Sarung Tangan (kedua tangan) sebelum menyentuh kulit yang terluka.  Identifikasi secara Reaktif adalah kegiatan identifikasi setelah resiko muncul dan bermanifestasi dalam bentuk insiden dan gangguan. identifikasi ini juga dibagi 2 secara Proaktif dan Reaktif. Management Resiko PPI Pengelolaan rumah sakit yang begitu komplek permasalahan. Descripsi 1 Jarang 2 Intermediate 3 Sering 4 Selalu terjadi Frekuensi Probability 45 . analisa dilakukan dengan cara menilai :  seberapa sering peluang resiko muncul. selaput lendir (mukosa). Hal pertama yang dilakukan untuk mengelola resiko adalah mengidentifikasi. atau sebelum melakukan prosedur invasif. (AS/NZS 4360:2004)  Kegiatan terkoordinasi untuk mengarahkan dan mengendalikan organisasi berkaitan dengan resiko (ISO 3100:2009) c.menemukan dan mendiskripsikan resiko . Analisa Resiko. Jika faktor resikonya belum muncul dan bermanifestasi metoda yang dapat dilakukan dengan cara. Adalah proses untuk memahami sifat resiko dan menentukan peringkat resiko. brainstorming. d.

Isolation precaution merupakan bagian integral dari program pengendalian infeksi nosokomial tujuan. Isolation Precaution bertujuan untuk mencegah transmisi mikroorganisme pathogen dari satu pasien ke pasien lain dan dari pasien ke petugas kesehatan atau sebaliknya. 8. Airborne Precaution 1) Penempatan pasien Tempatkan pasien di kamar tersendiri yang mempunyai persyaratan sebagai berikut:  Tekanan udara kamar negative dibandingkan dengan area skitarnya. e. a. Sedangkan kriteria resiko adalah kerangka acuan untuk mendasari pentingnya resiko dievaluasi .  Pertukaran udara 6 – 12 kali/jam.  Menghilangkan sumber infeksi.  Mengubah konsekuensi. Ruang Isolasi (kohorting) Penerapan Isolasi Precaution di Rumah Sakit. Tabel Peringkat Resiko.Dampak Occurence Setelah skor peluang dan dampak / konsekuensi dikalikan tujuannya mendapatkan peringkat sehingga dapat menentukan skala prioritas penangannnya.  Berbagi resiko dengan pihak lain.  Mengambil atau meningkatkan resiko untuk mendapatkan peluang(lebih baik.  Ekstrim ( 15-25)  Tinggi (8-12)  Sedang (4-6)  Resiko rendah (1-3) Evaluasi Resiko. Penanganan Resiko Adalah proses memodifikasi Resiko :  Menghindari resikodengan memutuskan untuk tidak memulai atau melanjutkan aktivitas yang menimbulkan resiko. dengan demikian tidak ada resiko yang terlewat. Adalah proses membandingkan antara hasil analisa resiko dengan kriteria resiko untuk menentukan apakah resiko dan / besarnya dapat diterima atau ditolelir. Karena agen dan host lebih sulit dikontrol maka pemutusan mata rantai infeksi dengan cara Isolation Precaution sangat diperlukan.  Mempertahankan resiko dengan informasi pilihan. Dengan evaluasi resiko ini setiap resiko dilelola oleh orang yang bertanggung jawab sesuai denga resiko. 46 .baik)  Mengubah kemungkinan.

tempatkan pasien secara kohort  Bila hal ini tidak memungkinkan. kecuali untuk tujuan yang perlu  Untuk meminimalkan penyebaran droplet selama transportasi. 3) Orang yang immune terhadap measles (rubeola). atau varicella tidak perlu memakai perlindungan pernafasan. tempatkan pasien dalam satu kamar dengan pasien lain dengan infeksi mikroorganisme yang sama atau ditempatkan secara kohort. 2) Jika berpindah atau transportasi gunakan masker bedah pada pasien d. Respiratory Protection 1) Gunakan perlindungan pernapasan (N 95 respirator) ketika memasuki rungan pasien yang diketahui infeksi pulmonary tuberculosis 2) Orang yang rentan tidak diberarkan memasuki ruang pasien yang diketahui atau diduga mempunyai measles (rubeola) atau varicella.  Tidak boleh menempatkan pasien satu kamar dengan infeksi berbeda. c. Droplet Precaution 1) Penempatan Pasien  Tempatkan pasien di kamar tersendiri  Bila pasien tidak mungkin di kamar tersendiri. b. hanya tujuan yang penting saja. pasien dianjurkan pakai masker. 47 .  Selalu tutup pintu dan pasien berada di dalam kamar  Bila kamar tersendiri tidak ada. tempatkan pasien dengan jarak 3 ft dengan pasien lainya 2) Masker  Gunakan masker bila bekerja dengan jarak 3 ft  Beberapa rumah sakit menggunakan masker jika masuk ruangan 3) Pemindahan pasien  Batasi pemindahan dan transportasi pasien dari kamar pasien. Pengeluaran udara keluar yang tepat mempunyai penyaringan udara yang efisien sebelum udara dialirkan ke area lain di rumah sakit. Patient Transport 1) Batasi area gerak pasien dan transportasi pasien dari kamar. mereka harus memakai respiratory protection (N 95) respirator.

diare. hanya untuk tujuan yang penting saja. lakukan pembersihan atau desinfeksi sebelum dipakai kepada pasien lain. Jika pasien harus pindah atau keluar dari kamarnya. colonostomy. permukaan lingkungan atau peratalan pasien di dalam kamar atau jika pasien menderita inkontaneia. Contact Precaution 1) Penempatan pasien  Tempatkan pasien di kamar tersendiri  Bila tidak ada kamar tersendiri.  Setelah melepas gaun pastikan pakaian tidak mungkin kontak dengan permukaan lingkungan untuk menghindari berpindahnya mikroorganisme ke pasien atau lingkungan lain 4) Transportasi pasien  Batasi pemindahan pasien dan transportasi pasien dari kamar. tempatkan pasien secara kohart 2) Sarung tangan dan kebersihan tangan. atau secara kohort  Jika tidak memungkinkan pakai sendiri atau kohort. luka terbuka  Lepas gaun setelah meninggalkan ruangan. 3) Gaun  Pakai gaun bersih / non steril bila memasuki ruang pasien bial diantisipasi bahwa pakaian akan kontak dengan pasien.  Gunakan sarung tangan sesuai prosedur  Ganti sarung tangan jika sudah kontak dengan peralatan yang terkontaminasi dengan mikroorganisme  Lepaskan sarung tangan sebelum meninggalkan ruangan  Segera kebersihan tangan dengan antiseptic / antimicrobial atau handscrub  Setelah melepas sarung tangan dan kebersihan tangan yakinkan bahwa tangan tidak menyentuh peralatan atau lingkungan yang mungkin terkontaminasi. untuk mencegah berpindahnya mikroorganisme ke pasien atau lingkungan lain. fleostomy.e. pastikan bahwa tindakan pencegahan dipelihara untuk mencegah dan meminimalkan resiko transmisi mikroorganisme ke pasien lain atau permukaan lingkungan dan peralatan. 48 . Peralatan Perawatan Pasien  Jika memungkinkan gunakan peralatan non kritikal kepada pasien sendiri.

 Setiap ruang isolasi harus dilengkapi dengan peralatan:  Termometer  Stetoskop  Tensimeter  Wadah / bed pan (jika tidak ada kamar mandi sendiri) 49 . Pasien tidak boleh membuang ludah atau dahak di lantai – gunakan penampung dahak / ludah tertutup sekali pakai (disposable).  Setelah selesai melakukan tindakan jas tersebut harus dilepaskan dengan hatihati dan masukkan kedalam tempat tertutup dilengkapi dengan laundry bag yang berlabel ISOLASI. kedepannya akan direncakan untuk pengadaan ruang isolasi pasien menular yang sesuai ketentuan. untuk merawat pasien. Tempat tersebut diletakkan di dekat pintu keluar ruang isolasi. dan pengunjung rumah sakit untuk meyakinkan mereka dan bertanggung jawab dalam menjalankanya. Setelah itu petugas harus kebersihan tangan di dalam ruang isolasi. petugas. Dengan mengelompokan satu jenis penyakit berdasarkan cara penularannya :  Setiap pasien yang menular harus dirawat di ruang isolasi tersendiri. Ganti masker setiap 4-6 jam dan buang di tempat sampah infeksius. diare berat. varicella perdarahan tak terkontrol.  Secara periodic menilai ketaatan terhadap tindakan pencegahan dan adanya perbaikan langsung.Recommendation Isolation Precaution “administrative Controls”  Pendidikan Mengembangkan system pendidikan tentang pencegahan kepada pasien. RS Panti Rahayu menggunakan cara Pengelompokan (Kohorting ) pasien menular TBC. Adherence to Precaution (ketaatan terhadap tindakan pencegahan). luka lebar dengan cairan keluar.  Saat ini rumah sakit Panti Rahayu belum memiliki ruang isolasi tersendiri.  Setiap pasien harus memakai masker bedah (surgical mask rangkap 2) atau masker N 95 (bila mungkin) pada saat petugas berada diruangan tersebut.

tergolong risiko tinggi memerlukan disinfektan seperti klorin 0. kamar pulih. dan masyarakat sekitar. dinding. Hal ini terkait kontaminasi yang ditimbulkan jika digunakan kembali. Maksud pengelolaan rumah tangga adalah :  Mengurangi jumlah mikroorganisme yang dapat menulari pasien. alat-alat. dan  Mengupayakan lingkungan yang bersih dan menyenangkan untuk pasien dan staf Umumnya ruangan-ruangan di rumah sakit dan klinik. tergolong risiko rendah sehingga cukup dibersihkan dengan sabun dan air.  Mengurangi risiko kecelakaan. staf. Peralatan yang single use yang di Re-use Dengan berkembangnya teknologi dan tuntutan patient safety.5% atau fenol 1% yang ditambahkan pada larutan pembersih (SEARO 1988). meja. Sedangkan beberapa ruangan seperti toilet/WC. dan ruang perawatan intensif. maka peralatan yang digunakan baik langsung maupun tidak langsung sangat mempengaruhi keselamatan pasien. pembuangan darah atau duh tubuh lain. tamu. 50 .  Dibagi menjadi peralatan kritikal. Pengelolaan kebersihan lingkungan Rumah Sakit Pengelolaan rumah tangga meliputi pembersihan umum rumah sakit dan klinik. Penggunaan disinfektan selain sabun dan air dianjurkan pula di ruangan-ruangan seperti ruangan operasi. alat makan  Fasilitas kebersihan tangan di dalam ruang kohorting  Barrier atau penghalang . dan permukaan lain.semi kritikal dan non kritikal. oleh sebab itu dilakukan aturan peralatan yang use dan re-use sbb :  Peralatan yang use (sekali pakai)  Berupa benda tajam  Yang bersentuhan langsung dengan cairan tubuh pasien  Yang penggunaannya dilakukan secara septic. yang meliputi lantai. seperti ruang tunggu dan kantor administrasi. Tempat pembuangan limbah infeksius: o Jas o Instrumen o Sampah termasuk sisa makanan.  APD yang sesuai 9.

 Alat yang dijaga : digunakan untuk  tindakan invasif. chlorine 0. Sterilisasi steam.Kategori Alat-alat medis : Tingkat resiko Kritis Penerapan Proses Penyimpanan Alat yg masuk. rongga. Semi Alat yang Sterilsasi steam / Simpan pada daerah Alat yang berhubungan kritis kontak dengan termal atau bersih dan kering dengan respiratori : selaput lendir dengan cairan guna melindungi  LM laringeal mask. darah Contoh alat     Endoskopidan kemasan tidak assesoris yang robek dipakai dlm Bungkusan harus tindakan invasif : dibuat dengan alat ERCP menghambat  Laparoskopi bioefektif selama  Broncoskopi penyimpanan  instrument simpan alat steril bedah/operasi pada area steril guna melindungi dari kontaminasi lingkungan. aliran Bungkusan alat harus kering. desinfektan dari kontaminasi  Vaginal speculum. Sterilisasi harus penetrasi dalam sterad atau DDT jaringan steril.  Fleksible endocopes:  Colonoscope  Sigmoideskope 51 .  Alat steril yang tidak dibungkus harus segera dipakai.5 % lingkungan  Endotrakeal non kinkin.  probe invasif ultrasonic (trans vaginal probe).

Bila alat rusak sebelum waktunya segera dibuang Catat jumlah re-use pada kartu pemeliharaan. Setelah 40x alat langsung dibuang. desinfektan  Bed gunakan yang  Termometer. Jika  Manset tekanan menggunakan darah.  kontainer darah Batas penggunaan alat medis Alat medis Frekuensi Dengan penggunaan melihat Laringeal ulang&proses 40x mask steam Nasal 5x spray steam Endotracea 40x tube non steam kinkin Respiratory 30x valve steam Proses kontrol          Catat jumlah re-use pada kartu pemeliharaan. Setelah 40x alat langsung dibuang. Breast pump  Non Alat yang Bersihkan alat Simpan dalam kritis kontak dengan dengan keadaan bersih equipment: kulit menggunakan ditempat yang kering  Bedpan dan Alatnon invasif detergent dan urinal.  Setelah 30x alat langsung dibuang. Bila alat rusak sebelum waktunya segera dibuang  Catat jumlah re-use pada kartu pemeliharaan .  Bila alat rusak sebelum waktunya segera dibuang Beast pump 52 . air. Setelah 40x alat langsung dibuang. Bila alat rusak sebelum waktunya segera dibuang Catat jumlah re-use pada kartu pemeliharaan. compatibel  Tourniket  Tensi meter  Pot obat pasien.

atau membungkus). membawa. hal ini akan dikonsultasikan ke HICMR sesuai dengan kondisi. Tes Pyrogenisitas dari pabrik. baik perubahan fisik. kimia biologis. pemeriksaan dan pengendalian prosedur dengan pencatatan pemakaian alat tersebut  Semua permohonan untuk memakai kembali peralatan disposible/Re-use atau sekali pakai saja harus tercatat. Staf yang bertanggung jawab terhadap pencucian barang kotor harus memakai sarung tangan utiliti. Pengelolaan linen Memproses linen terdiri dari semua langkah yang diperlukan untuk mengumpulkan. dan apron plastik atau karet.3 hal yang perlu diperhatikan dalam sterilisasi :  Alat instrumen yang dapat disterilisasi ulang adalah :  Fisik peralatan setelah proses sterilisasi ulang peralatan tidak berubah keutuhan. termasuk pecahan gelas.  Tidak ada peraturan dan undang-undangf untuk indonesia dan prosedur untuk menangani alat-alat yang sudak kadaluarsa. fungsional.  Proses pembersihannya mampu menjamin membersihkan semua jenis kotoran biologis dari setiap pemakaian yang sebelumnya dan peralatan bebas dari zat Pyrogenis. Memproses linen secara aman dari berbagai sumber adalah suatu proses yang rumit.  Produsen alat yang bersangkutan menerapkan siklus-siklus peralatan bersertifikat yang merupakan cara-cara yang telah ditentukan dan diabsahkan untuk pemastian kesterilan. 53 . alat pelindung mata. 10. kemudian menyimpan dan mendistribusikannya. Prinsip-prinsip dan langkah-langkah utamanya tercantum dalam Staf yang ditugasi untuk mengumpulkan.  Bahan yang digunakan tidak menimbulkan zat toksik akibat reaksi kimia dengan pelarut atau zat pembersih. uji-uji untuk keutuhan kemasan. diketahui dan disetujui oleh PPI(ICN) RSPB untuk memungkinkan pengembangan protokol langkah demi langkah untuk proses ulang. melipat. mengeringkan. dan memilih (menyortir) linen kotor dan membinatu (mencuci. membawa dan memilih linen kotor harus sangat berhati-hati. Mereka harus memakai pakaian tebal atau sarung tangan rumah tanggauntuk mengurangi risiko perlukaan oleh jarum atau benda tajam.

dan sosial psikologi ) di RS dengan cara :  Meminimalkan atau mencegah terjadinya transmisi mikroorganisme dari lingkungan kepada pasien. biologi.  Menciptakan lingkungan bersih aman dan nyaman. Termasuk namun tidak terbatas pada : penghapusan ubin langit-langit untuk inspeksi visual (terbatas pada 1 genteng per5m2). Ruang lingkup pengelolaan lingkungan :  Kontruksi Bangunan  Udara  Air  Pembersihan Lingkungan Rumah Sakit  Pembersihan Lingkungan di Ruang Gizi  Pembersihan di ruang Laundry Konstruksi dan renovasi bangunan harus memperhatikan. eksterior. lukisan (tetapi tidak pengamplasan). Tipe B skala kecil dan jangka pendek. Termasuk. Tipe A pemeriksaan dan kegiatan pemeliharaan umum. civil dan medical. Pengelolaan Lingkungan dan bangunan Upaya pengendalian lingkungan adalah berbagai upaya yang dilakukan untuk dapat mengendalikan berbagai faktor lingkungan (Fisik. b. mencakup instalasi dinding. kerja trim listrik. penambahan ruangan pada lokasi tertentu yang meliputi design interior. petugas. pengunjung dan masyarakat di sekitar sarana kesehatan sehingga infeksi nosokomial dapat di cegah dengan mempertimbangkan cost efektif. tetapi tidak terbatas pada. setiap kegiatan yang tidak menghasilkan debu atau memerlukan pemotongan dinding atau akses ke langit-langit selain untuk inspeksi visual. yang menghasilkan debu sedikit.  Definisi dari kegiatan konstruksi : Tipe kegiatan renovasi ada 4 type : a.a. pipa kecil.  Mencegah terjadinya kecelakaan kerja. instalasi pemasangan kabel telepon dan 54 .  Pengertian Cara melakukan perubahan bentuk.

Tipe d penghancuran besar dan proyek konstruksi Termasuk. tetapi tidak terbatas pada. Kelompok 1   Rendah Area kantor Tanpa Kelompok 2  Sedang Perawatan pasien dan pasien/area tidak tercakup resiko dalam Grup 3 rendah yang    atau 4 Laundry Kantin Manajemen  Material Penerimaan / tidak terdaftar dimanapun Kelompok 3     Sedang Tinggi UGD Radiology Recovery Rooms Ruang Maternitas    /VK Kamar bayi Lab Microbiologi Farmasi Kelompok 4    Tinggi Area klinis Kamar Operasi Kamar prosedur invasif pasien rawat  jalan Area Anastessi &  pompa jantung Semua Intensive Care Unit (kecuali yang tertulis di Grup4) Pemulangan  Laboratorium tidak spesifik seperti Grup3Koridor 55 . dan konstruksi baru. tetapi tidak terbatas pada. Menurunkan terjadinya kontaminasi infeksi yang diakibatkan pembangunan dan renovasi bangunan.komputer. penghancuran berat. pengamplasan dinding untuk lukisan atau mencakup dinding. kegiatan pemasangan kabel utama. pembongkaran atau penghapusan komponenbangunan built-in atau rakitan. meliputi penghapusan lantai / wallpaper. memotong dinding atau langit – langit dimana migrasi debu dapat dikendalikan. Termasuk.  Tujuan. ductwork kecil atau pekerjaan listrik diatas langit. d.langit. penghapusan sistem plafon yang lengkap. c. konstruksi dinding baru. akses keruang chase. Tipe c kerja apapun yang menghasilkan debu sedang atau tingkat tinggi.  Kebijakan Identifikasi kelompok resiko renovasi bangunan. ubin dan casework langit-langit.

 Pelbasah/atau vakum dengan vakum HEPA ber-filiter.dan linen) Pedoman kontrol infeksi Kelas I  Jalankan pekerjaan dengan metode untuk meminimalkan peningkatan debu dari operasi konstruksi Kelas II   Mengganti genteng langit-langit untuk inspeksi visual secepatnya Penyediaan aktif berarti untuk mencegah debu udara menyebaran keatmosfir  Segel pintu yang tidak digunakan dengan lakban.Umum (yang dilewatipasien .  Konstruksi yang mengandung limbah sebelum ditransportasi harus dalam wadah tertutup rapat.  Jangan menghilangkan barriers dari area kerja sampai proyek lengkap dibersihkan.  Lengkapi semua barriers pembangunan sebelum konstruksi dimulai.  Jaga tekanan udara negatif dalam tempat kerja menggunakan unit ventilasi saringan HEPA atau metode lain untuk mempertahankan tekanan negatif.  Tempatkan limbah konstruksi dalam wadah tertutup rapat sebelum ditransportasi.  Pel basah atau vakum dua kaliper 8 jam periode kegiatan konstruksi atau sesuai yang diperlukan dalam rangka untuk meminimalkan jejak.  Isolasi sistem HVAC didaerah mana pekerjaan yang sedang dilakukan/kohort dengan tekanan negatif. Vakum dengan menggunakan HEPA atau berikan kabut air agar lembab sebelum disingkirkan.suplai. Keselamatan umum akan memonitor tekanan udara.  Tempatkan lap kaki dipintu masuk dan keluar dari area kerja dan mengganti atau dibersihkan saat tidak ada lagi proses kerja. Kelas III   Usap casework dan permukaan horizontal saat proyek selesai.  Singkirkan bahan penghalang dengan hati-hati untuk meminimalkan penyebaran kotoran dan puing-puing yang terkait dengan konstruksi. 56 . Isolasisi sistem HVAC di wilayah dimana pekerjaan tengah dilakukan untuk mencegah kontaminasi dari sistem saluran. Bahan barrier harus diusap basa.

Keselamatan umum akan memonitor tekanan udara  Beri segel pada lubang.sepatu sekali pakai dan baju harus dipakai dan dibuang di anteroom ketika meninggalkan area kerja. Isolasi sistem HVAC di wilayah di mana pekerjaan tengah dilakukan untuk mencegah kontaminasi system saluran. Kelas IV   Usap casework dan permukaan horizontal saat proyek telah selesai.  Singkirkan bahan pengghalang hati-hati untuk meminimalkan penyebaran kotoran dan puing-puing yang terkait dengan konstruksi.  Jaga tekanan udara negatif dalam tempat kerja menggunakan unit ventilasisaringan HEPA atau metode lain untuk mempertahankan tekanan negatif.saluran dan tusukan untuk mencegah migrasi debu.pipa.  Lengkapi semua barriers pembangunan sebelum konstruksi dimulai.  Selama pembongkaran. Tempatkan keset kaki dipintu masuk dan keluar dari area kerja dan diganti atau dibersihkan saat tidak ada lagi aktifitas kerja.  Jangan menghilangkan barriers dari area kerja hingga selesai proyek dibersihkan. 57 .Pel basah atau vakum HEPA anteroom tiap hari.  Bangun anteroom dan mengharuskan semua personil melewati ruangan.kerja yang menghasilkan debu atau bekerja dilangit-langit.

11. Pedoman ini merupakan strategi preventif terhadap infeksi yang didapatkan dari rumah sakit. Pengelolaan bahan atau obat kadaluwarsa. f. h. mantoux test. Terapi dan follow up. Petugas kesehatan beresiko terinfeksi bila terekspos saat kerja. Bekerja sama dengan farmasi dalam melakukan pengawasan obat atau bahan yang telah kadaluwarsa.HCV. Edukasi pada seluruh staf rumah sakit tentang PPIRS.  Tujuan :  Menjamin keselamatan petugas dilingkungan rumah sakit.meliputi : a. rubella. c. Vaksinasi dan imunisasi bila dibutuhkan. Surveilens ILI mengenal tanda awal transmisi infeksi saluran napas akut dari manusia ke manuasia. Monitoring dan support kesehatan petugas.  Memelihara kesehatan petugas kesehatan. tetanus.  Mencegah KLB. Upaya pencehan dan kesehatan karyawan. imunisasi yang dianjurkan hepatitis B. 12.HBV. b. Upayakan support psikososial. Alur pasca pajanan harus dibuat dan dipastikan dipatuhi untuk HIV. g. e. Rencanakan pertugas diperbolehkan masuk sesuai pengukuran resiko bila terkena infeksi. campak. d. difteri. Menyediakan antivirus profilaksis. juga dapat menstransmisikan infeksi kepada pasien maupun petugas kesehatan lain. Saat menjadi karyawan baru seorang petugas kesehatan harus diperiksa riwayat pernah terinfeksi apa saja dan status imunisasinya. bila memungkinkan haemophilus influenza.  Unsur yang dibutuhkan :  Petugas yang berdedikasi  SPO yang jelas dan tersosialisi dengan baik  Koordinasi yang baik antar unit  Penanganan pasca pajanan infeksius  Pelayanan konseling dan privasi 58 . a. Antibiogram Dengan pemeriksaan kultur akan didapatkan hasil resistensi kuman terhadap antibiotika yang digunakan untuk menentukan pola kuman rumah sakit.

3TC dan Indinavir sesuai pedoman. 59 .  Virus HIV Resiko terpajang 0.4 % per injuri.  Tes pada pasien sebagai sumber pajanan.  Penyimpanan data  Pajanan dan tindakan :  Virus H5N1 Bila terjadi pajanan diberikan oseltaivir 2x 75 mg selama 5 hari.  Tes HBS Ag dan Anti HBs petugas.2 – 0.  Alur mangemen dan tindak lanjut.  Terapi saat ini.  Pemberian immunoglobulin hepatitis B pasca pajanan sebelum 48 jam  Evaluasi :  Dilakukan sebelum dan sesudah pajanan. Pasca pajana harus dilakukan pemeriksaan HIV seroologi dan dicatat sampai jadwal pemeriksaan monitoring lanjutannya.  Pemerisaan lab dan radiologi. iminisasi masal dan diulang tiap 5 tahun pasca imunisasi.  Riwayat kesehtan yang lalu.  Management pasca pajanan. Pelaksanaan :  Perlindungan yang minimal bagi petugas adalah imunisasi hepatitis B.  Status imunisasi. Profilaksis diberikan dalam waktu 4 jam pasca pajanan dengan pemberian ARV.  Pemeriksaan fisik. AZT.  Edukasi :  SPO PPI  Kewaspdaan isolasi  Kewaspadaan transmisi  Pelaporan yang meliputi :  Informasi resiko ekspos.

Konserfati type 1-7 hari nafas kontak f 60 .9-40 % per pajanan. Berikut tata laksana penyakit menular dan pencegahannya : Penyakit Masa inkub asi Abses Menular selama/ virus shedding Selama luka Cara transmisi Kewaspadaan yang perlu dijalankan kontak Kontak Acinetobactr cairan tubuh Luka bakar Flora N kulit Standar dan baumanii yang di manusia. kontak hydroterapi mukus Masa petugas diliburkan/ tindakan Tindakan konserfatif mengeluarkan membran dan tanah. gorden. matras. tangan petugas. segera pasca pajanan dilakukan pemeriksaan. bantal. dapat terinfeksi bila sumber pajanan positif HbsAg atau HbeAg. menular melalui peralatan rawat respirasi. i. tempat mandi luka terbuka Adenovirus 6-9 Sekret saluran Droplet. stetoscop. humidifier. Bertahan di tempat lembab dan kering sampai berbulan. Virus Hepatitis B Resiko terpajan Hepatitis B 1. termometer. mop. prmk TT.

trachomatis kontak.12 s adenovirus hari 14 hari stl onset type 8 Campak urin Kontak dengan 5-21 3-4 hr stl bercak Droplet yang Transmisi kotoran Restriksi 7 hari timbul mel besar (kontak udara hari setelah n nasofaring dekat) & udara bercak simtomati merah k timbul (yg imun) 5hr stl ekspos21 hr stl ekspos Campilobact Standar er Closrtidium Kontak difficile Cytomegalo Tidak Tahan di Kontak dg Standar hand virus diketa lingkungan dlm sekresi hygiene hui wkt pendek &eksresi : Difteria Tidak perlu saliva dan urin Sekresi dr Droplet. Sampai Pengobata mulut kontak terapi n mengandung c antibiotika simtomati difteriae telah k dan lengkap dan virus. termasuk Congenital Sampai umur 1 Kontak dengan seksual Standar. Chlamidia C kontak Standar.Aspergilosis Infeksi jar luas Inhalasi Kontak dan dengan cairan stadium airbone berlebihan airbone. rubella tahun bahan kontak hari Kontak standar Sampai Pengobata tangan. conidia candidiasis Standar. sampai 2 Minum kultur eritromicin 61 . alat mata tidak n terkontaminasi kluar Pengobata Restriksi 7 nasofaring dan Conjungtiviti 5.

atau HbsAg positif Perkutaneus Standar -segera Hepatitis mgg Akut atau ekspos Tidak perlu darah.D 24mgg kronik dg mukosa. HbeAg. Fekal oral hari kadang2 sp 6 melalui feses Libur di Vaksinasi area hepatitis a bulan perawatan/ (prematur) pengolahan makanan. semen.berjarak 24 3x 1 tb jam sampai 7 dinyatakan hari negatif. Standar atau tahun Tidak is konsumsi kontak mengolah *salmonella makanan/ air makanan sp *shingella terkontaminasi 2x jarak *yenterocolit 24jam ica kultur feses negatif Glardia Feses Kontak Standar lambilia Hepatitis A 15.tid cairan vagina. perlu imunisasi tiap 10 Gastroenterit Kontak px. ak perlu cairan tubuh divaksin yg lain bila petugas telah mengandu ng Anti 62 . kulit dibatasi periksa D: 3-7 yg tdk utuh smp HbeAg HbsAg kontak dgn negatif.50 2 minggu.i minggu setelah sakit kuning imunisasi paksa B:6- B.

ESBL. semen. semen. virus mengandung tp dibatasi virus langsung/ kontak dgn lwt sekresi px luka aberasi/ HIV cairan vesikel Perkutaneus Standar Kurang mukosa. cairan vagina. HceAg cairan tubuh negatif Herpes 2-14 Asiptomatik dpt yg lain Kontak dgn Standar.HBs ≥ 10 mliu/ml Hepatitis Perkutaneus Standar Restriksi C.9bln.G mukosa kulit sampai yg tdk utuh kondisi kontak gdn membaik darah. / sampai cairan vagina. -diberikan cairan tubuh arv.1 1 bln Helicobacter pylori MDRO Standar Kontak luka Kontak (MRSA.azt dan yg lain 3 tc. VRE. -dilakukan pemeriksa an HIVserolo gi dan menitor setelah 3 bln.F. Srep 63 . VISA. Retriksi simplex hr mengeluarkan ludah karier kontak tangan tidak perlu. kulit dari 4 jam yg tdk utuh paska kontak dgn pajanan darah.

KLB napas e 250 mg 64 . 2hr. air Kontak. lebih panjang pd anak dan orang Hemophilus Standar droplet Influenzae Dewasa Anak Batuk non Droplet sekret Kontak Human produktif. Kontak pertama sakit. Makanan. respirasi Droplet Metapneumo kongesti nasal virus whezing.pneumonia Influensa 1-5hr Infeksius pd 3hr Airbone. 2 hari . air 2-10 feses Kontak dgn Trasmisi mel Libur spm -perlu hr sekret saluran droplet 24jam stlh profilaksis terapi paska dgn ekspos. kontak pd petugas langsung/ yg rentan.a ceftriaxon2 tau 50mg IM ceftriaxon pneumonia pada anak Novirus N meningitis 12-48 + 11.5 tahun Diare. Virus dpt droplet dgn Amantadin dikeluarkan sekresi saluran untuk sblm gejala napas kontak dgn timbul smp 7hr Vaksinasi influensa A stlh dimulai sakit.dan ciprofloxaci dosis n1x500mg tunggal atau cipro1x1. Rif2x600 Rifampin2x mg selama 600mg. (HMPV) bronkhiolitis. jam terkontamibasi makanan.

droplet menerima umur 11-64 besar kontak antibiotik th petugas dekat dgn pertusis: restriksi fase catarrhal sp mg 3 stl onst / 5 hr stlh tx antibiotik kontak saja tidak perlu Pollomyelitis Nonpa Sal napas 1mgg Kontak cairan Transmisi retriksi Imunisasi ralitik: stlh gejala sal napas. mls Petugas renyan : 12hr paska ekspos pertama sp 25 hr stlh ekspos Parvovirus/B 6-10hr Menular sblm Kontak dgn Transmisi terakhir Tidak perlu 19 bercak merah sp droplet besar. hidung onset immunokompro dan mulut parotitis. dlm benda paralit feses bbrp mgg- terkontaminasi ik 7- bulan stlh gejala fese asikan 65 . (12- berada dlm langsung dgn MMR 25hr) saliva 6-7hr sbl sekret sal Restriksi sp parotitis sp 9hr napas. virus droplet atau droplet efektif. kontak direkomend 3-6hr. drolpet restriksi Pertusis 7-10 7hr stlh onset F catarrhal muntahan Kontak dgn Transmisi Vaksin hr sangat menular sekresi sal droplet sp 5 hr direkomen napas. 16- Community Kontak dengan Trasmisi Vaksinasi Mumps 18hr acquired. yi 9hr stlh stl onset Px saliva.IM Parotitis. muncul.

bila petugas nasofaring. saat bintik droplet droplet dan bintik bintik merah keluar. stl ekspos 16hr congenital pertama sp stlh rubella bisa 21hr stl ekspos melepas virus ekspos berbulan- terakhir RSV (infeksi 2-8hr bertahun2 Orang sakit virus (terser dapat terkontaminasi kontak erat kontak dgn respiratorik) ing mengeluarkan saat merawat dhn droplrt pasien 4-6hr) virus selama 3- pasien atau atau aerosol rawat dan 8hr. nasofaring px kontak dgn keluar : merah virus lepas cairan sal petugas timbul 1mgg sblm smp napas rentan 7hr 14- 5-7hr stl onset. faring Standar kolonisasi Retriksi terinfeksi & rektum. dengan lesi orofaring kulit basah tidak perlu retriksi bila Streptococa Kontak sisi Kulit. Tp pd bisa menyentuh partikel kecil lingkungan anak 3-4mgg benda mati. bila ada transmisi RSV KLB RSV bila Restriksi menyentuh sampai mata atau gejala akut hidung MRSA Tangan Transmisi Batasi Kontak dengan Strandar hilang Retriksi petugas. vagina berdasar perawatan transmisi pasien & mensekresi pengolahan makanan sp 24 jam stl 66 . airbone pengolahan tangan. dapat pasien dan nares anterior. makanan perineum.Rubella 12hr 12- muncul Sangat menular Kontak dgn Transmisi 5hr stlh 23hr. axilla. transmisi perawatan mungkn karier kontak.

imunisasi 67 . Sampai -petugas OAT droplet nuklei kontak terbukti non yg (mengeluarkan infeksius terexpose c tubuh perlu tes infeksius) mantoux bila indurasiny a> 10 mm perlu profilaksis INH sesuai rekomenda Varicella Sp lesi kering & Airbone. Orang.mendapat antibiotik Tidak perlu retriksi petugas dg kolonisasi Salmonella. beri imuno globulin IV paska kontak. standar kontak sp si lokal Vaksinasi varicella 21 hari paska kontak. 8 hari pasca berkusta kontak.orang Shingella lewat fekal oral air/ makanan terkontaminasi Kontak Sypilis Kontak langsung dg lesi primer atau sekunder Tuberkolosis Sp 1 bl minum sypilis Inhalasi Airbone.

Tindakan pertama pada pasca pajanan bahan kimia atau cairan tubuh.     Pada mata : Bilas dengan air mengalir selama 15 menit. dapat diperlakukan sebagai sumber Pernah diberi vaksin Tes untuk HBs: Tidak ada HBsAg Tidak ada pengobatan 68 . Pada Mulut : segera kumur-kumur selama 1 menit Lapor ke komite PPI atau K3RS atau dokter karyawan k.petugas paska pajanan dalam 4 hari Vibrio kolera Kontak feces Zoster Tutupi lesi. Pada Kulit : Bilas dengan air mengalir selama 1 menit. Tata laksana bila petugas terpajan sumber infeksius Hepatitis B dari jarum bekas Orang yang terkena Tidak divaccin Sumber HbsAg (+) HIBG 1x dan Sumber HbsAg (-) Beri vaksin HB diberikan vaksin HB Sumber tidak diketahui Bila sumber merupakan resiko tinggi. Retriksi *lokal jangan kontak sampai lesi dg pasien rawat mengering dan * Jangan kontak mengelupas Retriksi menyeluruh dg pasien sampai atau orang semua lesi immuno kering dan kompromais * paska Jangan kontak mengelupas Dari hr ke pajanan dg pasien rawat 10 paska (person yang pajanan rentan) pertama sp hari ke 21 atau hr 28 bila di beri lagi atau sampailesi kering dan mengelupas j.

jika titer tidak cukup  booster vaksin HB. obati seperti non pengobatan seperti non  serokonversi. jika tter cukup tidak perlu diobati. Setelah kejadian resiko tinggi. tidak perlu diobati  HBIG (Human B imunoglobulin)dosis untuk dewasa 400 unit  Titer (antibodi) yang sudah cukup berada pada level 10 mIU/ml l. + booster vaksin HB dan ulangi pemeriksaan  setelah 4 minggu. diketahui dari pasien HIV (+) staf harus 69 . Pengobatan jika sumber positif HIV sbb : Sumber Orang yang terkena HIV(-) Sumber positif HIV negatif Sumber tidak diketahui Rujuk ke dokter HIV Tidak ada internis aagar pengobatan mikrobiologi /internist mungkin Konsultasi dengan spesilais mendapatkan diobati seperti pasien HIV (+). jika titer tidak cukup HBIG 1x  serokonversi. HBIG 1x(dalam Tidak ada Jika sumbermerupakan serokonversinya waktu 72 jam)+ 1x pengobatan resiko tinggi dapat Tidak diketahui serokonversinya dosis vaksin diperlakukan sebagai sumber HB(dalam waktu 7 HbsAg (+) hari) Tes untuk HBs :  jika (-) obat Tidak ada Tes untuk anti HBs :  jika (-).jika nasehat. jika tidak cukup titernya beri boosster HB dalam waktu 7 Diketahui non hari. Jika titer cukup.tapi tidak diketahui  serokonversinya jika titernya pengobatan cukup tidak perlu  perlu terapi.

Suntikan zidovudine selama 4 minggu HIV (+) (250 mg 3x/hari) Tidak perlu atau 150 mg diobati 2x/hari(untuk tablet) Tidak perlu pemberian pengobatan propilaksis m. Pengobatan jika sumber (+) Hepatitis C Orang yang terkena Sumber HbsAg (+) Sumber Hepatitis C negatif Sumber tidak diketahui Berikan nasehat HbsAg (-) Tidak perlu Tidak perlu diobati konsul dokter untuk melakukan diobati internist jika perlu.6dan 12 bulan . Jangan memberikan donor darah . Tunda proses kehamilan selama 3 bulan. Tes ulang saat itu 6 minggu.3. Saran : Lakukan pencegahan penularan . pemeriksaan 0.6.12 bln pemeriksaan HVC dengan PCR dan diperiksa LVT untuk mengetahui status infeksinya Sarankan untuk meminalkan penularan 70 .3.dirujuk kefasilitas post exposur propilaksis(PEP) dalam waktu 2 jam setelah pajanan.

 Tes HIV diulang setelah 6 minggu . Status HIV pasien. Lop/r 400/100mg/12 jam x28 hari. amnion dari pasien dengan positif HIV.  Termasuk didalamnya pajanan tehadap darah. vagina. Petunjuk penggunaan ARV  ARV harus diberikan dalam waktu kurang dari 4 jam. AC  Tangan petugas gizi dan perawat ruang rawat inap. Berikan rejimen 3 obat Berikan rejimen 2 obat Berikan rejimen 3 obat Berikan rejimen 3 obat AZT 300mg/12 jam x 28 hari. 3 bulan dan 6 bulan. dinding dan. Berikan rejimen 2 obat.  Kultur darah pada surveilens ILI. 71 . o. cairan serebrospinal. Pemeriksaan Swab dan Kultur Merupakan sarana pemeriksaan swab kuman pada :  lantai. 3TC 150 mg/12 jam 28 hari  Berikan rejimen 2 obat. Pajanan Tidak diketahui Positif Positif Resiko tinggi Rejimen Kulit utuh Tidak perlu PPP Tidak perlu PPP Tidak perlu PPP - Mukosa/kulit tidak utuh Pertimbangkan rejimen 2 obat Berikan rejimen 2 obat Berikan rejimen 2 obat AZT 300mg/12 jam x 28 hari. semen. 3TC 150 mg/12 jam 28 hari.rujuk pada dokter penyakit menular n.Tidak ada chemopropilaksis tersdia .  Tusukan benda tajam solid Tusukan benda tajam berongga 13.

Bekerja purna waktu B.32 Tahun 1996 tentang tenaga kesehatan No 1 2 3 4 5 6 7 Jenis tenaga Dokter spesialis ICN Perawat Sanitasi linen Sanitasi gizi farmasi Laborat Pendidikan formal Anestesi D-3 D-3 D-3 D-3 D-3 D-3 sertifikat PPI lanjut PPI dasar cssd Management linen Management Gizi Jumlah 1 1/150 TT 1 1 1 1 1. Jenis ketenagaan menurut Peraturan Pemerintah RI tahun No . Minimal pendidikan D3 c. Kualifikasi ketenagaan PPI a. 4) Menentukan kebijakan PPI 5) Mengadakan evaluasi kebijakan PPI berdasarkan saran dari panitia PPIRS 6) Dapat menutup suatu unit perawatan / instalasi yang dianggap potensial menularkan penyakit untuk beberapa waktu sesuai saran dari PPIRS. Uraian Tugas : a.BAB II STANDART KETENAGAAN A. Karyawan yang berminat dalam bidang PPI b. Mempunyai sertipikat PPI (basic maupun advand) d. 1) Membentuk Komite dan TIM PPIRS dengan surat keputusan 2) Bertanggung jawab dan memiliki komitmen yang tinggi terhadap penyelenggaraan upya PPI 3) Bertanggung jawab terhadap tersedianya fasilitas sarana dan prasarana termasuk anggaran yang dibutuhkan. 7) Mengesahkan SPO untuk PPIRS. Kualifikasi Ketenagaan. 72 . Direktur.

 Turut menyusun pedoman penulisan resep antibiotika dan surveilens.b. 73 .  Tugas IPCO sbb :  Berkontribusi dalam diagnosis dan terapi infeksi. IPCO ketua komite PPI c.  Mengidentifikasi dan melaporkan kuman patogen dan pola resistensi antibiotika.inovatif dan confident  Bekerja purna waktu. d.  Turut memonitor cara kerja tenaga kesehatan lain dalam merawat pasien.  Bekerja sama dengan perawat PPI memonitor kegiatan surveilens infeksi dan deteksi dini KLB.  Memiliki kemampuan leadership. Kriteria IPCO 1) Ahli atau dokter yang berminat dalam PPI 2) Mengikuti pendidikan dan pelatihan dasar PPI 3) Memiliki kemampuan leadership. IPCN  Kriteria IPCN :  Perawat dengan pendidikan min D3 dan memiliki sertifikasi pelatihan PPI  Memiliki komitmen di bidang PPI  Memiliki pengalaman sebagai kepala Ruangan atau setara.  Uraian tugas :  Mengunjungi ruangan setiap hari untuk memonitor kejadian infeksi yang terjadi diruang perawatan.  Membimbing dan mengajarkan praktek dan prosedur PPI yang berhubungan dengan prosedur terapi.

laundry. Gizi dengan menggunakan daftar tilik.  Mengidentifikasi temuan dilapangan dan mengusulkan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan SDM PPIRS.  Melaksanakan sosialisasi kebijakan PPIRS agar kebijakan dapat dipahami dan dilaksanakan oleh petugas kesehatan rumah sakit.  Berkoordinasi dengan unit terkait lain.  Membuat laboran surveilens.  Melaksanakan pelatihan PPIRS.  Memonitor kesehatan petugas sesuai gugus tugas.  Memonitor terhadap pengendalian penggunaan antibiótica yang rasional.  Memberikan saran desain ruangan RS agar sesuai dengan prinsip PPI.  Melakukan investigasi terhadap KLB dan bersama sama panitia PPI memperbaiki kesalahan.  Mengusulkan pengadaan alat dan bahan yang sesuai dengan prinsip PPI dan aman penggunaannya.  Menerima laporan dari TIM PPIdan membuat laporan kepada direktur.  Bersama panitia menganjurkan prosedur isolasi dan memberikan konsultasi PPI  Audit PPI termasuk pentalaksanaan limbah.  Membuat SPO PPI  Menyusun program PPI dan mengevaluasi pelaksanaan program tersebut.Melakukan pengawasan terhadap tindakan tindakan yang menyimpang dari SPO. Memonitor pelaksanaan PPI. IPCLN  Kriteria IPCLN : 74 .  Melakukan investigasi menetapkan dan melaksanakan infeksi bila ada KLB.kepatuhan petugas dalam menjalankan kewaspaan isolasi. e.  Melakukan pertemuan berkala termasuk evaluasi kebijakan.  Menyusun dan mentapkan serta mengevaluasi kebijakan PPI.penerapan SPO.  Melaksanakan surveilens infeksi dan melaporkan kepada panitia PPIRS.

 Memantau penggunaan bahan desinfektan sesuai aturan. Tugas Anggota gisi : 75 .  Melakukan investigasi menetapkan dan melaksanakan infeksi bila ada KLB.  Memberi konsultasi pada petugas kesehatan rumah sakit . h. Melakukan pengawasan terhadap tindakan tindakan yang menyimpang dari SPO.  Memonitor kepatuhan petugas dalam menjalankan standart isolasi  Berkoordinasi dengan unit terkait lain.  Memantau kegiatan hand higiene diruang linen.  Memberi usulan untuk mengembangkan dan meningkatkan cara PPI. Perawat dengan pendidikan min D3 dan memiliki sertifikasi PPI.  Berkoordinasi dengan IPCN saat terjadi infeksi potensial KLB.  Bekerja sama dengan TIM PPI dalam melakukan investigasi masalah KLB (HAIs). f. Tugas Anggota linen:  Memisahkan linen infeksius dan non infeksius  Melaksanakan pemeriksaan swab linen bersih. Tugas Anggota laboratorium  Melaksanakan penyuluhan dan pendidikan tentang materi materi yang berkaitan dengan pengendalian infeksi nosokomial kepada petugas laborat.  Membantu pelaksanaan pemeriksaan swab atau kultur pasien  Memantau pemeriksaan laboratorium sesuai SPO  Melaksanakan tugas lain dari ketua panitia pengendali infeksi nosokomial. g.  Memiliki komitmen di bidang PPI  Memiliki kemampuan leadership  Tugas IPCLN :  Mengisi dan mengumpulkan formulir surveilens setiap pasien diruang perawatan kemudian menyerahkan nya pada IPCN saat pasien pulang.

 Menyiapkan bahan2 hasil pemeriksaan laboratorium C. laborat. lien. HCU. House keeping (CS). IGD. SMF. 76 . Tugas Anggota IPSRS :  Memantau pelaksanaan hand higiene petugas IPSRS.  Memantau penggunaan bahan desinfektan. Gisi. IPSRS. Memantau kegiatan hand higiene diruang gizi. i. limbah dan kuman diruang tertentu. Unit Rawat inap. Poli rawat jalan. farmasi. QMR.  Memantau penggunaan bahan desinfektan gizi.  Memantau proses pembakaran incenerator. Sekretariat. Distribusi Tenaga Komite PPI merupakan unit pelayanan yang melakukan kegiatan secara komprehensif dari setiap unit pelayanan di rumah sakit : 1. Iko 2.  Membantu pelaksanaan pemeriksaan bahan makanan dan swab petugas gisi.  Membantu mempersiapkan uji air bersih. akuntansi.

Standart Fasilitas.BAB III STANDART FASILITAS A. 4. relawan dan pihak lain.pasien yang perlu dirujuk untuk penatalaksaan selanjutnya. petugas laboratorium. Penetapan tempat khusus bagi penderita yang disolasi b. Melindungi petugas kesehatan dengan memastikan SPO PPI sudah ada dan dipatuhi (cmplience kebersihan tangan ) 6. Mengembangkan strategi triage untuk pasien yang berpotensi berpenyakit menular. Fasilitas Pelayanan.pembatasan dan karantina jika diperlukan misalnya : a. 2. dukungan sosial dan bantuan psikologi c.pasokan makanan. Fasilitas Bagi Petugas 1. Mempersiapkan fasilitas sesuai dengan kebutuhan dan memastikan bahwa fasilitas tersebut telah ditetapkan. Memastikan bahwa pelacakan kontak . sebagai tempat pemeriksaan awal. Denah Ruangan PPIRS terintegrasi dengan ruangan perkantoran dengan komite lain Rumah sakitdilantai 2. Menyusun kebutuhan pendidikan dan pelatihan petugas kesehatan. 77 . Memastikan ketersediaan perlengkapan yang diperlukan untuk menerapkan pencegahan dan pengendalian infeksi yang direkomendasikan dan tindakan-tindakan keamanan biologis (APD) 3. No A B Fasilitas Fisik /bangunan Gedung perkantoran lantai 2 Peralatan Meja Kursi Komputer Line internet Almari kaca ATK Buku perpustakaan PPI Jumlah 1 1 buah 3 buah 1 buah 1 unit 1 buah 1 set B. Pastikan transportasi yang memadai tersedia ke dan dari tempat tersebut (rumah sakit / kamar jenazah) 5. Pastikan peyanan medis. 2. identifikasi sebagai pengobatan darirat. dengan menyediakan lokasi diluar UGD. 1.

BAB IV TATA LAKSANA PELAYANAN A.langkah pelayanan pencegahan dan pengendalian Infeksi di masing -masing unit kerja sbb : 1. Penanggung jawab 1) IPCN 78 . Merupakan langkah. Tata laksana pelayanan unit surveilens a.

membahas dan evaluasi kinerja staf HC 2) Memberikan evaluasi bahan desinfeksi yang relevan dan ramah lingkungan 3) Memberikan pengarahan cara pembersihan tumpahan darah atau cairan tubuh 4) Memberikan pengarahan cara pembersihan lantai. petugas ruangan 2) Petugas CSSD 79 . 1) IPCN 2) Petugas Laborat 3) Petugas yang dilakukan survei (swab tanga petugas) 4) Petugas IPSRS b. Tatalaksana pembersihan 1) IPCN dan SSC melakukan pertemuan rutin. Tata laksana monitoring kebersihan lingkungan a. a. bulanan dan form SPO 3) IPCLN melakukan monitoring survei harian sesuai ruangan 4) IPCN melakukan konfirmasi bila terjadi infeksi saat survei. Perangkat kerja 1) Buku pedoman pembersihan 2) Daftar bahan-bahan desinfeksi c. Tata laksana Pelayanan CSSD a. Penanggung jawab. Tata laksana pelayanan 1) IPCN mengajukan pemeriksaan swab dan kultur pada dokter penanggung jawab pasien. Penanggung jawab 1) IPCN. kemudian mengajukan permohonan pemeriksaan kepada petugas laborat 2) IPCN dan IPCLN mempersiapkan pasien atau petugas yang akan dilakukan swab / kultur 3) Mendampingi petugas laborat dalam melaksanakan swab atau kultur 4) Jika hasil sudah jadi maka mereka melaporkan kepada komite PPI. dan divalidasi oleh dokter penaggung jawab pasien. Tata laksana pelayanan 1) IPCN mengumpulkan IPCLN untuk diberikan pengarahan suveilens 2) IPCN membagikan form survei harian. 3. IPCLN 2) Petugas kebersihan (HC) b. Tata laksana pengambilan swab dan kultur. 7) Komite PPI melaporkan hasil surveilens kepada Direktur tembusan ke QMR 8) Dan dilaporkan kepada DKK setempat 2. 6) IPCN melaporkan hasil survei kepada Komite PPI. 6) Memberikan pengarahan penggunaan APD 4. Penanggung jawab 1) IPCN. Perangkat kerja 1) Status medis 2) Form permintaan swab 3) Ruangan perawatan 4) AC 5) Pasien c.2) IPCLN ruangan yang dilakukan surveilens 3) Petugas laborat b. Perangkat kerja 1) Status medis 2) Form survei harian PPI 3) Form survei bulanan PPI 4) Form PPI c. 5) IPCN merekap hasil survei harian yang dilakukan oleh IPCLN. dinding dan ruangan 5) Memberikan pengarahan pembersihan tumpahan darah atau cairan tubuh pasien.

Tata laksana linen 1) Petugas ruangan mengantarkan linen kotor setiap pagi 2) Petugas linen mencocokan linen kotor yang diantarkan petugas ruangan ditulis pada buku penyerahan linen kotor 3) Petugas linen mengidentifikasi linen infeksius dan non infeksius 4) Untuk linen infeksius dilakukan dekontaminasi dengan cairan clorin 0. Swab linen bersih 6. Penanggung jawab 80 . Tata laksana Linen a. Penyediaan linen 2 x shift untuk menjaga ketersediaan linen Menyediakan kebutuhan linen seluruh Rumah Sakit. Perangkat kerja 1) Kalibrasi autoclave 2) Buku expedisi sterilisasi ruangan dan CSSD 3) Kertas indikator bouwie dict tes 4) Indikator mekanik 5) Kertas indikator kimia 6) Tabung mikro biologi c. Tata laksana formularium antibiogram a.3) Administrasi CSSD 4) Petugas OK b.5% dan 5) 6) 7) 8) 9) deterjen selama 10 menit Kemudian lakukan pencucian sesuai SPO Untuk linen non infeksius dilakukan pencucian sesuai. Perangkat kerja 1) Linen 2) Buku penyerahan linen kotor 3) Buku penyerahan linen bersih c. Tatalaksana pelayanan CSSD 1) Petugas ruangan yang akan mensterilkan alat mengisi dibuku expedisi di ruangan yang bersangkutan dan buku expedisi di OK 2) Petugas CSSD memberikan identifikasi peralatan atau instrumen sesuai ruangan yang mensterilkan 3) Sebelum melakukan proses sterillisasi petugas CSSD melalukan bouwie dict tes pada mesin autoclav terlebih dahulu (untuk mengetahui kesiapan mesin autoclave 4) Jika hasil bouwdict tes baik petugas CSSD memberikan indikator kimia pada setiap peralatan yang akan disterilkan 5) Petugas CSSD melakukan penyetirilan sesuai SPO 6) Setelah selesai proses sterilisasi lihat indikator kimia. Penanggung jawab 1) Petugas linen 2) Petugas ruangan b. jika hasil baik lakukan penyimpanan peralatan yang sudah steril dialmari 7) Petugas ruangan yang akan mengambil sterilisasi dicocokan dengan buku expedisi ruangan dan CSSD 8) Setiap minggu petugas CSSD melakukan uji mikro biologi terhadap hasil sterilisasi 5.

tinggi)  Renovasi 81 . Perangkat kerja 1) Pasien yang akan dilakukan kultur 2) Form surveilens PPI c. Perangkat kerja 1) Papan pemberitahuan sedang dilakukan renovasi bangunan 2) Pemeriksaan swab lantai 3) Analisa dampak lingkungan (kebisingan dan debu) 4) Papan/ alat penghalang renovasi. 8. 2) Bersama mengidentifikasi dampak :  kebisingan. Pelayanan kesehatan karyawan. 2) Komite PPI mengidentifikasi unit yang harus dilakukan pemeriksaan kesehatan Ruang kohort airborne : petugas dilakukan pemeriksaan TB setiap 3 bulan sekali. Tata laksana 1) HRD mengeluarkan pemberitahuan pemeriksaan kesehatan setiap hari ulang tahun. Tata laksana 1) Surveilens PPI untuk pengambilan kultur dilakukan Tiap 6 bulan 2) IPCN mengajukan pemeriksaan sesuai kebijakan surveilen yang diindikasikan untuk dilakukan pemeriksaan kultur kepada dokter penaggung jawab 3) Medis memberikan advist untuk dilakukan pemeriksaan kultur pasien 4) Petugas laborat melakukan pengambilan sample dan proses selanjutnya sesuai SPO kultur 5) Bila hasil telah jadi. Pelayanan renovasi bangunan a.debu. d) Komite PPI dan HRD melaporkan hasil pemeriksaan kesehatan karyawan kepada direktur dan SMF. b) Hasil diidentifikasi c) Bersama HRD melakukan analisa dan pencatatan kesehatan. Perangkat kerja 1) Buku /data pemeriksaan kesehatan yang ada di HRD 2) Data kesehatan karyawan. Penanggung jawab 1) Komite PPI 2) HRD b. Tata laksana 1) Tim pembangunan memberitahukan kepada PPI dan IPSRS bahwa akan dilakukan renovasi bangunan. Penanggung jawab 1) Ketua komite PPI 2) IPSRS b.petugas petugas laborat memberikan hasil kepada ruangan yang mempunyai pasien(dokter penanggung jawab ) dan kpian kepada IPCN 6) IPCN merekap dan menganalisa hasil kultur masing – masing kegiatan 7) Hasil dibahas dikomite PPI dan selanjutnya diteruskan kepada direktur dan SMF 7.  Lokasi resiko ( rendah. c. c.1) Komite PPI 2) Komite farmasi 3) SMF 4) Petugas laborat b. a.sedang. Unit Gizi : pemeriksaan tipoid tiap 1 tahun sekali a) Karyawan melakukan pemeriksaan kesehatan yang sesuai ketentuan.

5 % Lakukan swab ulang Hasil baik ruangan siap digunakan 9. 2) Setelah ada disposisi kepada TIM pembangunan (IPSRS) 82 . Pelayanan pembuatan ruang kohort a.selama didiamkan dilakukan tes swab lantai dan didinding ruangan.3) Melakukan isolasi kegiatan dengan memasang papan pemberitahuan renovasi.jika hasil baik setelah periode 1 bulan ruangan boleh digunakan. Selesai renovasi Diamkan selama 1 bln dan uji swab Hasil baik Ruangan siap digunakan Hasil tak baik Desinfeksi dinding dan lantai dengan larutan chlorine 0.alat penghalang disekeliling area renovasi 4) Edukasi kepada staf yang melewati area pembangunan agar dimengerti. Penanggung jawab 1) Ketua komite PPI 2) IPSRS b. Perangkat kerja 1) Ruangan bertekanan negatif ( exhaust fan dan ventilasi) 2) APD ( terutama masker bedah rangkap 3) c. Tata laksana 1) Komite PPI mengajukan pembuatan ruangan kohort kepada direktur. 5) Setelah selesai pembangunan bagunan dibiarkan selama 1 bulan untuk mengetes kesiapan bangunan .

Perangkat kerja 1) Alkohol handrub 2) Air mengalir 3) Wastafel 4) Towel 5) Sabun 6) Clorhexidine 2% dan 4 % c.baru staf pelaksana 4) Laporan audit kebersihan tangan 83 . Tata laksana 1) Penyiapan SPO kebersihan tangan dan gambar kebersihan tangan 2) Edukasi pada seluruh staf rumah sakit 3) Audit kepatuhan kebersihan tangan mulai dari kepala ruang. Penanggung jawab 1) Ketua komite PPI b. Pelayanan pemeriksaan baku mutu air dan lPAL 11.3) Dilakukan pembuatan ruangan kohort yang bertekanan negatif 4) Syarat dan denah terlampir 10.dokter. Kebersihan tangan a.

b. pencegahan dan pengendalian infeksi tanggung jawab bersama. bolpoint.BAB V LOGISTIK A. etika batuk. Barang rutine : 1) Kertas HVS. buku tulis. form SPO surveilens. Barang rutine disampaikan pada bagian logistik rutine rumah sakit. Permintaan barang. 2. tinta printer. 2) Bahan desinfeksi b. Kewaspadaan. Tata Cara logistik PPIRS 1. upaya pencegahan & pengendalian infeksi meliputi : 84 . Barang tidak rutin : 1) Proposal pemeriksaan kultur dan swab 2) Pengadaan leaflet dan banner kebersihan tangan. a. form survei Bulanan. a. Penditribusian BAB VI KESELAMATAN KERJA A. Barang tidak rutine disampaikan terlebih dahulu pada direktur untuk dimintakan persetujuan. 3. Perencanaan barang. form survei harian.

Keselamatan dan Kesehatan kerja Pegawai Melakukan pemeriksaan kesehatan meliputi 1. Pemeriksaan kesehatan berkala 3. Rawat inap. Kesehatan lingkungan kerja Melakukan monitoring kegiatan : 1. Disinfeksi dan sterilisasi 8.1. Pengawaan dan pengaturan udara 4. Program pemeliharaan dan perbaikan peralatan medis dan nonmedis 2. Penanganan dan pelaporan kontaminasi bahan berbahaya 7. 5. Pengendalian serangga. linen 4. Pemeriksaan kesehatan khusus diunit beresiko : a. Keamanan pasien. Monitoring ketentuan pengadaan jasa dan barang berbahaya. Pencegahan dan penanganan kecelakaan kerja (tertusuk jarum bekas). Limbah padat yang meliputi : a. pengunjung dan petugas B. Pengelolaan limbah padat. Pencegahan dan Pengendalian PPI 2. Sanitasi rumah sakit Melakukan monitoring terhadap kegiatan : 1. tikus dan binatang pengganggu 7. Monitoring penggunaan bahan desinfeksi C. Sertifikasi/kalibrasi sarana. Penyehatan air 4. Limbah infeksius 85 . Pencahayaan 3. Penyehatan air 7. laboratorium. Penyehatan ruang bangunan dan halaman rumah sakit 2. Monitoring kerjasama pengendalian hama. Pengelolaan limbah 5. Pengelolaan tempat pencucian 6. Monitoring ketersediaan dan kepatuhan pemakaian APD bagi petugas 8. Penyehatan hygiene dan sanitasi makanan dan minuman 3. Pencegahan dan penanganan penyakit akibat kerja 6. Sertifikasi dan kalibrasi peralatan medis dan nonmedis G. Suhu dan kelembaban 5. cssd. Kawasan Tanpa Rokok E. penyimpanan dan pemakaian B3 D. Limbah domestik/sampah non medis c. sanitasi gizi. Memantau pengadaan. 2. 3. cair dan gas 1. Limbah medis / klinis b. Penatalaksanaan Ergonomi 2. Penyehatan tempat pencucian F. Penyehatan hygiene dan sanitasi makanan dan minuman 6. Pemeriksaan kesehatan prakerja 2. Pengelolaan bahan dan barang berbahaya 1. Radiologi. prasarana dan peralatan melakukan pemantauan terhadap : 1.

Sosialisasi sistem tanggap darurat bencana. Pelatihan surveilens f. Upaya promotif PPI : 1) Pemasangan anjuran kebersihan tangan disetiap ruangan publik atau wastafel 2) Pemasangan cara menggunakan dan melepas APD.2. k. Pelatihan penggunaan APD e. b. Pelatihan pemadaman api dengan APAR. Hand higiene menjadi kebutuhan dan budaya disemua unit pelayanan. Pelatihan ( training of trainer )spseialis penanggulangan kebakaran j. Pelatihan bagi regu pemadam i. 3. Mengadakan sosialisasi dan pelatihan internal meliputi : a. h. Sosialisasi dan pelatihan penanggulangan kontaminasi B3. Limbah cair 3. Pelatihan desinfeksi dan dekontaminasi g. Surveilens 1) ILI 2) ILO 3) ISK 4) Kepatuhan kebersihan tangan. d. Simulasi penanggulangan bencana d. b. c. 3) Pemasangan promotif kepatuhan membuang sampah sesuai jenisnya . 2. 4) Sosialisasi PPI pada karyawan baru dan mahasiswa praktek 5) Pemasangan gambar etika batuk e. Pendidikan dan pelatihan PPI 1. Peningkatan pelayanan Pusat sterilisasi 1) Upaya pemusatan sterilisasi rumah sakit hanya di CSSD 2) Penyediaan 3 indikator mutu sterilisasi f. Kedisiplinan Penggunaan APD sesuai dengan peruntukannya c. Simulasi penanggulangan bencana dan evakuasi terpadu. Upaya promotif dan edukasi a. Pelatihan penanggulangan bencana. Limbah gas H. Pembuatan ruang kohort : 1) Kohort kontak infeksi 2) Kohort droplet infeksi 3) Kohort air borne infeksi 4) Kohort imunosupresif 86 . Mengikut sertakan pelatihan K3 yang dilakukan oleh Perusahaan Jasa atau Intansi lain bagi personil K3.

g. Peningkatan kewaspadaan standart disemua unit pelayanan.
I.

Pengumpulan, pengelolaan dokumentasi data dan pelaporan
Meliputi :
1.
2.
3.
4.
5.

Mengagendakan laporan dan rencana kerja PPI
Mengarsipkan surat keluar dan surat masuk.
Mengarsipkan semua dokumen berkaitan dengan kegiatan PPI
Mendokumentasikan setiap kegiatan.
Memberikan rekomendasi berkaitan dengan PPI kepada Direksi baik diminta atau
tidak.

BAB VII
KESELAMATAN PASIEN
A. Upaya keselamatan pasien melalui kegiatan KKPRS adalah :
1. Ketepatan identifikasi pasien
a. Melakukan identifikasi yang benar sesuai SPO.
2. Peningkatan komunikasi efektif
a. Melakukan komunikasi efektif SBAR pada saat :
1) Komunikasi antar perawat
2) Komunikasi perawat dengan dokter
3) Komunikasi antar petugas kesehatan lainnya yang bertugas di RSU DADI
KELUARGA Purwokerto.
87

b. Menggunakan komunikasi SBAR :
1) Saat pergantian shift jaga.
2) Saat terjadi perpindahan rawat pasien.
3) Saat terjadi perubahan situasi atau kondisi pasien.
4) Saat melaporkan hasil pemeriksaan, efek samping terapi / tindakan atau
pemburukan kondisi pasien melalui telepon kepada dokter yang merawat.
3. Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai
a. Melaksanakan SPO Independent Double chek, Obat kewaspadaan tinggi pada obatobat yang termasuk dalam daftar obat HAM.
b. Memberikan obat sesuai dengan prinsip 6 BENAR.
4. Kepastian tepat lokasi, tepat prosedur, tepat pasien operasi
5. Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan
a. Melakukan pengisian formulir data pemantauan surveilens :
1) Infeksi luka infuse
2) Infeksi saluran kencing
3) Infeksi luka operasi superfisial
4) Kepatuhan kebersihan tangan
5) Melakukan pemantauan kegiatan pengendalian infeksi
6) Melakukan pelaporan dan analisa kejadian infeksi
7) Melakukan sosialisasi hasil analisa kejadian infeksi
8) Melakukan evaluasi kegiatan pengendalian infeksi.

6. Pengurangan risiko pasien jatuh.
a. Melakukan pencegahan pasien jatuh dengan assessment risiko dan tindak lanjut
kepada pasien yang dirawat
b. Melaporkan Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) yang terjadi
c. Melakukan analisa sederhana terhadap kejadian KTD yang terjadi di masing-masing
unit pelayanan.
6.1 Melakukan sosialisasi hasil analisa KTD yang terjadi.

88

BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

A. Sistem Pencatatan dan Pelaporan
1. Penerapan system pencatatan dan pelaporan di RSU Dadi Keluarga Purwokerto
mempunyai tujuan :
a. Mendapatkan data untuk memetakan masalah – masalah yang berkaitan dengan
keselamatan pasien
b. Sebagai bahan pembelajaran untuk menyusun langkah-langkah agar KTD yang
serupa tidak terulang kembali
c. Sebagai dasar analisis untuk mendesain ulang suatu sistem asuhan pelayanan pasien
menjadi lebih aman
d. Menurunkan jumlah insiden keselamatan pasien (KTD dan KNC)
e. Meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien
2. RSU Dadi Keluarga mewajibkan agar setiap insiden keselamatan pasien dilaporkan
kepada komite keselamatan pasien rumah sakit
3. Laporan insiden keselamatan pasien diRSU Dadi Keluarga bersifat:
a. Non punitive (tidak menghukum)
b. Rahasia
c. Independen
d. Tepat waktu
e. Berorientasi pada sistem
4. Pelaporan insiden keselamatan pasien menggunakan lembar Laporan Insiden
Keselamatan Pasien yang berlaku diRSU Dadi Keluarga dan diserahkan kepada Komite
Keselamatan Pasien RSU Dadi Keluarga. Bagian / unit mencatat kejadian IKP di buku
pencatatan IKP masing-masing.
5. Laporan insiden keselamatan pasien tertulis secara lengkap diberikan kepada komite
keselamatan pasien dalamwaktu :
a. 1 x 24 jam untuk kejadian yang merupakan sentin elevents (berdampak kematian atau
kehilangan fungsi mayor secara permanen). Apabila pelaporan secara tertulis belum
siap, pelaporan KTD dapat disampaikan secara lisan terlebih dahulu.
89

1. high impact. Tingkat risiko tinggi dan ekstrim : Root Cause Analysis (RCA) yang dikoordinasi oleh komite keselamatan pasien. Indikator dikumpulkan dan dianalisis setiap bulan. Komite Keselamatan Pasien RSU DADI KELUARGA menetapkan indicator keselamatan berdasarkan atas pertimbangan high risk. 3. who. sumber data. 2 x 24 jam untuk kejadian yang berdampak klinis / konsekuensi / keparahan tidak signifikan. why). cara perhitungan. Komite keselamatan pasien RS Panti Rahayu melakukan rekapitulasi laporan insiden keselamatan pasien dan analisisnya setiaptiga bulan kepada direksi RSU Dadi Keluarga. 6. minor. when. dan moderat. Penerapan Indikator Keselamatan Pasien. high volume. 2. where. periode analisis. Komite Keselamatan Pasien RSU DADI KELUARGA menjelaskan definisi operasional. c. d.b. Tindak lanjut dari pelaporan : a. Jumlah indicator keselamatan pasien perlu ditinjau ulang setiap 3 tahun sekali 90 . Bila insiden keselamatan pasien yang terjadi mempunyai tingkat risiko merah (ekstrim) maka komite keselamatan pasien segera melaporkan kejadian tersebut kepada direksi RSU Dadi Keluarga. Komite Keselamatan Pasien RSU DADI KELUARGA bertanggung jawab dalam proses pengumpulan data. Komite Keselamatan Pasien RSU DADI KELUARGA bertanggung jawab terhadap pelaksanaan dan kesinambungan penerapan indikator keselamatan pasien 4. Tingkat risiko rendah dan moderat :investigasi sederhana oleh bagian/unit yang terkait insiden (5W: what. frekuensi pengumpulan data. Setiap tiga bulan indicator dianalisis dan difeed back kan kepada unit terkait. Bila insiden keselamatan pasien yang terjadi mempunyai tingkat risiko kuning (tinggi) maka komite keselamatan pasien segera melaporkan kejadian tersebut kepada Direksi RSU Dadi Keluarga. target dan penanggung jawab. B. 6. e. b. 5. analisis dan memberikan masukan kepada Direksi berdasarkan pengkajian tersebut. prone problem.

Hasil temuan dari RCA ditindak lanjuti. observasi lapangan. Analisis Akar Masalah 1. wawancara. melakukan asesmen dan diskusi untuk menentukan faktor kontribusi dan akar masalah. Standar Dan Indikator Mutu Kinerja Klinik 1. Angka kejadian infeksi jarum infus c). Dalam rangka meningkatkan mutu dan keselamatan pasien. Indikator Mutu Klinik: 1). Indikator Non Bedah a). pendokumentasian. yaitu suatu kegiatan investigasi terstruktur yang bertujuan untuk melakukan identifikasi penyebab masalah dasar dan untuk menentukan tindakan agar kejadian yang sama tidak terulang kembali. 2. RCA dilakukan padasetiap kejadian sentin elevents. direalisasi dan dievaluasi agar kejadian yang sama tidak terulang kembali. 4. RSU DADI KELUARGA menerapkan metode root cause analysis (RCA) atau analisa akar masalah. Agar penemuan akar masalah dan pemecahan masalah mengarah pada sesuatu yang benar. Angka dekubitus b). Standar Mutu Klinik : RSPR harus mampu memberikan pelayanan yang terbukti aman bagi semua orang yang berada didalamnya baik pasien maupun karyawan dari segala bentuk kejadian yang dapat timbul karena proses pelayanan.C. RCA dilakukan pada insiden medis kejadian nyaris cedera dan KTD yang sering terjadi di RSU DADI KELUARGA. 3. dan SDM lainyang terkait dengan jenis insiden keselamatan pasien yang terjadi. 2. Angka kejadian infeksi karena transfusi darah d). 5. 6. unsur keperawatan. Dalam melakukan RCA langkah langkah yang diambil adalah membentuk tim RCA.5% 91 . maka perlu dibentuk tim RCA yang berunsurkan: dokter yang mempunyai kemampuan dalam melakukan RCA. studi pustaka. Target surveilens angka kejadian infeksi <1. Insiden keselamatan pasien yang dikatagorikan sebagai level tinggi dan ekstrim diselesaikan dalam kurun waktu paling lama 45 hari dan dibutuhkan tindakan segera yang melibatkan Direksi. D. 7.

Pemeriksaan kesehatan karyawan secara berkala h). Indikator mutu lingkungan a. Perda) b. Edukasi PPI pada karyawan e). Indikator mekanik. kimia. Kebersihan tangan menjadi isu dan tindakan yang menjadi kebutuhan petugas b). PMK. biologi 3). Kalibrasi Autoclave external baik d). Upaya kesehatan : a). Penyehatan lingkungan l). Dilakukannya kegiatan pemantauan g). Pelaksanaan UKL dan UPL dari Rencana Pengelolaan Lingkungan Penurunan Angka Kuman di area pelayanan khusus 92 . Terlaksananya formularium antibiotika. c. dinding dan lantai. Tersediannya APD yang diperlukan j). c). Ketersediaan pengolahan limbah infeksius d. Ketersediaan instalasi pengolah limbah baik padat maupun cair. Terlaksananya pemasangan leaflet kebersihan tangan disetiap ruangan. Terlaksananya survei complience kebersihan tangan tangan pada perawat senior k). Hasil uji baku mutu air dan limbah yang dihasilkan sesuai dengan perundangan yang berlaku (UU Lingkungan. Hasil swab : tangan. AC yang memenuhi standart (SPM) h). Sampah dibuang sesuai jenisnya n). Maintence autoclave . Tersedianya Bahan-bahan desinfeksi yang sesuai rekomendasi dan aman bagi lingkungan f). Edukasi pada mahasiswa praktek f). PP. Unit CSSD : a). kimia dan mikrobiologi dilaksanakan dan hasilnya baik b). 3. Hasil kultur : Pus. Edukasi PPI pada calon karyawan d). Incenerator berfungsi dengan baik (semua sampah yang dibakar menjadi abu) o). Indikator bouwie dict tes. Terlaksananya ruangan kohort dimarkisa 1 atau durian i).e). Hasil survei menjadi informasi disetiap unit pelayanan melalui sistem informasi rumah sakit g). darah dan ujung kateter 2). Perprop. Ruangan dan lingkungan yang bersih m). wastafel dan ruangan publik c).

93 .E. Formulasi dari indikator-indikator tersebut di atas adalah sebagai berikut a) Kelompok Pelayanan Non-Bedah 1) Angka infeksi karena Jarum Infus 2) Angka infeksi luka operasi x 100 % Total penderita yang dioperasi dalam satu bulan 3) Angka infeksi saluran kemih x 100% Total pasien terpasang DC pada bulan tersebut.

pasien dan pengunjung Rumah sakit. Namun juga tanggung jawab semua pihak yang berada di Rumah Sakit Umum Dadi Keluarga. Purwokerto 1 januari 2015 Direktur Dr Esa Dhiandani 94 .upaya pencegahan dan pengendalian infeksi disadari atau tidak memerlukan dana yang besar sehingga memerlukan dukungan penuh dari management rumah sakit..penyampaian sarana dan prasarana PPI .lebih baik mencegah dari pada mengobati. Yang paling penting dilaksanakan dalam rangka Pencegahan dan pengendalian infeksi adalah upaya-upaya edukasi PPI kepada staf .sehingga dapat merubah perilaku yang sehat. Demikianlah pedoman pelayanan pencegahan dan pengendalian infeksi Rumah Sakit Umum Dadi Keluarga.BAB IX PENUTUP Sebagai penutup kiranya dapat diingatkan kembali bahwa pelayanan pencegahan dan pengendalian infeksi bukanlah urusan mereka yang bertugas di unit PPIRS saja.

4. Surat Edaran direktur jendral Bina Pelayanan Medik nomor HK. Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor.129/MenKes/SK/2008 tentang standart minimal pelayana Rumah Sakit. 7. 6. Undang Undang Republik Indonesia nomor 44 tahun 2009tentang Rumah sakit. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1575/Menkes/2005 tentang Organisasi dan tata kerja Departemen Kesehatan. 5. Peraturan pemerintah nomor 32 tahun 1995 tentang tenaga kesehatan. 2. Peraturan menteri kesehatan republik Indonesia nomor 1333/Menkes/SK/XII/1999 tentang standart pelayanan Rumah sakit.BAB XVI LANDASAN HUKUM 1. 95 .03.01/II/3744/ 08 tentang Pembentukan komite dan Tim Pencegahan Pengendalian Infeksi di rumah Sakit. Undang undang no 23 tahun 1992 tentang kesehatan. 3.