You are on page 1of 20

MAKALAH

ULUMUL HADIS
“ORIENTALIS”

Oleh :
RENO PASO DEWA
09.1711.14
Dosen Pembimbing :
IRIL ADMIZAL M.A
PRODI TADRIS BIOLOGI JURUSAN TARBIAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
TAHUN AJARAN 2015/2016

1

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa, karena telah
memberikan

kekuatan

kepada

penulis

untuk menyelesaikan tugas makalah ini.

Makalah ini berjudul “ORIENTALIS”, yang berisi tentang ulasan mengenai segolongan
sarjana Barat yang mendalami bahasa dunia Timur dan kesusastraannya, dan mereka yang
menaruh perhatian besar terhadap agama - agama dunia Timur, sejarahnya, adat - istiadatnya,
dan ilmu-ilmunya. Penulis membuat makalah ini ditujukan sebagai tugas dalam mata
kuliah Ulumul Hadis.
Kemudian penulis mengucapkan terimakasih kepada bapak IRIL ADMIZAL, MA
karena telah membimbing penulis untuk menyelesaikan makalah ini. Tak lupa pula penulis
sampaikan ucapan terima kasih kepada teman-teman dan keluarga yang telah memberikan
dukungan kepada penulis.
Harapan penulis semoga makalah ini bisa berguna dan bermanfaat khususnya bagi
penulis, dan umumnya bagi para pembaca. Terakhir penulis memohon maaf jika pada
penulisan ini banyak kesalahan - kesalaan, maka dari itu sebagai manusia biasa penulis
sekali lagi meminta maaf. Sekian dan Terimakasih.

Sungai Penuh, 24 Desember 2015
Wassalam

Reno Paso Dewa
2

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................................................................i
DAFTAR ISI.................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN..............................................................................................1
1.1 Latar Belakang .....................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ...............................................................................................3
1.3 Manfaat dan Tujuan .............................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN...............................................................................................4
2.1 Pengertian Orientalis............................................................................................4
2.2 Sejarah Orientalis ................................................................................................4
2.3 Tujuan Orientalis ...................................................................................................6
2.4 Tokoh – Tokoh Orientalis.......................................................................................7
2.5 Pandangan dan Tokoh – Tokoh Orientalis Tentang Hadits..................................11
2.6 Bantahan Ulama Terhadap Pandangan Orientalis..............................................12
2.7 Kontribusi Orientalis Terhadap Hadits .................................................................14
BAB III PENUTUP.....................................................................................................16
3.1 Kesimpulan..........................................................................................................16
3.2 Saran ..................................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA

3

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hadits dalam ajaran Islam menempati posisi yang sangat strategis. Hal itu terjadi
karena hadits menjadi sumber hukum kedua bagi hukum-hukum Islam. Para ulama sepakat
bahwa hadits atau sunnah memiliki tiga fungsi utama dalam rangka hubungannya dengan AlQur’an, yaitu bayan ta’qid terhadap ketentuan yang ada dalam al-Quran, bayan tafsir sebagai
penjelas terhadap kemujmalan Al-Qur’an, dan bayan tasyri’ sebagai hukum sendiri yang
tidak ada dalam Al-Qur’an.
Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Nah}l ayat 44 :

‫هبٱملفبزين نهت فوٱلززربهر فوفأنفزملفنا إهلفميفك ٱلزذمكفر هلرتفبزيفن هللكناهس فما رنززفل إهلفميههم فولففعلكرهمم فيفت ف ك ررون‬
Artinya : “(mereka Kami utus) dengan membawa keterangan – keterangan (mukjizat)
dan kitab – kitab. Dan Kami turunkan Al-Qur’an kepadamu, agar engkau menerangkan
kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan.”
(Q.S An-Nahl : 44)
Sentralnya keberadaan hadits nabi membuat banyak penelitian dan kajian-kajian yang
dilakukan ulama-ulama hadits untuk menentukan dan mengetahui kualitas hadits yang
berhubungan dengan kehujahan hadits tersebut. Ternyata bukan hanya orang muslim, banyak
musuh-musuh Islam seperti para orientalis, yang berupaya meruntuhkan ajaran Islam dengan
cara meneliti hadits yang bertujuan untuk meragukan dasar-dasar validitas hadits sebagai
dalil.
Orientalisme dilatarbelakangi antara lain, perang Salib ketika terjadi pergesekan
politik dan agama antara Islam dan Kristen di Palestina. Menurut beberapa sumber, puncak
permusuhan politik berkecamuk antara umat Islam dan Kristen selama pemerintahan
Nuruddin Zanki dan Shalahuddin Al Ayyubi. Karena kekalahan demi kekalahan yang dialami
balatentara Kristen, maka semangat membalas dendam tetap membara selama berabad-abad.
Ada juga penyebab lain, yaitu faktor kolonialisme. [1] Maksudnya, orientalisme muncul
diproyeksikan untuk kepentingan penjajahan Eropa terhadap negara-negara Arab dan Islam di
Timur, Afrika Utara dan Asia Tenggara. Selanjutnya Eropa juga berkepentingan untuk
1 http://jie.staimafa.ac.id/?articles=kajian-islam-di-barat-diakses-22-desember-2015
4

memahami adat istiadat dan agama bangsa - bangsa jajahan demi memperkokoh kekuasaan
dan dominasi ekonomi mereka pada bangsa-bangsa terjajah. Menurut Edward W Said,
orientalisme tidak terletak dalam suatu ruang hampa budaya, ia merupakan kenyataan politik
dan budaya.
Selanjutnya para Orientalis dalam mempelajari Islam dan masyarakatnya, dunia Arab
pada khususnya dan Timur Tengah pada umumnnya melahirkan dogma-dogmanya sebagai
berikut: Pertama, ada perbedaan antara Barat yang rasional, maju, manusiawi dan superior
dengan Timur yang sesat irrasionl, terbelakang dan inferior. Kedua, abstraksi dan teorisasi
tentang Timur lebih banyak didasarkan kepada teks-teks klasik, dan hal ini lebih diutamakan
dari pada bukti-bukti nyata dari masyarakat yang konkrit dan riil, seperti yang dikemukakan
Hitti, bahwa untuk menyelidiki Islam dan umatnya tidak perlu kerangka teori baru, karena
menurutnya masyarakat Islam yang sekarang ini masih persis dengan masyakat Islam
sembilan abad yang lalu. Ketiga, Timur dianggap begitu lestari (tidak berubah), seragam dan
tidak sanggup mendefenisikan dirinya, karena itu menjadi tugas Barat untuk mendefenisikan
apa sesungguhnya Timur itu. Keempat, al-Qur’an bukanlah wahyu Ilahi, melainkan hanyalah
buku karangan Muhammad yang merupakan gabungan unsur-unsur agama Yahudi, Kristen
dan tradisi Arab pra Islam. Kelima, kesahihan atau otentitas semua hadis harus diragukan,
sebagaimana yang dilakukan oleh Josep Schacht.[2]
Serangan terhadap hadits itu mencapai puncaknya setelah Ignaz Goldziher
menulis Muhammadenische Studien (Studi Islam) yang dipandang sebagai kritikan paling
penting terhadap hadits diabad 19. Kurang lebih enam puluh tahun sesudah terbitnya buku
Goldziher itu, Joseph Schacht yang juga orientalis Yahudi menerbitkan hasil penelitiannya
tentang hadits dalam sebuah buku yang berjudul The Origins of Muhammadan
Jurisprudence.
Sebagai laskar orientalis, Ignaz Goldziher dan Joseph Schaht adalah tokoh yang
paling terkemuka dalam pengkajian hadits. Secara khusus memfokuskan diri dalam
pengkajian Ilmu Hadits keduanya mencoba menelaah dan mengkritik konsturksi hadits
berdasarkan prespektif orientalisme. Baik Goldziher maupun Schaht meragukan otentisitas
hadits, sedangkan Schact berpendapat lebih jauh sampai pada kesimpulan yang meyakinkan
bahwa tidak ada satupun hadits yang otentik dari Nabi SAW khususnya hadits - hadits yang
berhubungan dengan hukum Islam.

2 www.uin-alauddin.ac.id/download-04.Fatimah%20Halim. hal 42-diakses-22-desember-2015
5

Dalam makalah ini akan membahas tentang apa pengertian hadits menurut orientalis,
pandangan orientalis terhadap hadits tersebut dan bantahan ilmuan hadits terhadap kritik
hadits yang dilakukan orientalis. Pemaparan selanjutnya akan dijelaskan pada bagian
makalah ini selanjutnya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana pandangan tokoh-tokoh Orientalis tentang hadits Nabi Muhammad SAW?
2. Bagaimana bantahan ulama Islam terhadap tokoh orientalis?
3. Apa saja Kontribusi Orientalis Terhadap Hadits?
1.3 Manfaat dan Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari hadist dan orientalis.
2. Untuk mengetahui pandangan kaum Orientalis terhadap hadits nabi Muhammad SAW
dan pengaruhnya pada pemikiran Islam.
3. Untuk mengetahui tanggapan dari para ulama Islam terhadap sikap Orientalis.

6

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Orientalis
Orientalis berasal dari kata orient (Prancis) yang secara harfiah bermakna timur,
secara geografis bermakna dunia belahan timur dan secara etnologis bermakna bangsabangsa timur. Jadi Orientalis adalah sarjana yang menguasai masalah masalah ketimuran,
bahasa -bahasanya, kesusateraannya dan sebagainya.[3]
Secara sederhana kata orientalis bisa diartikan “seorang yang melakukan kajian
tentang masalah-masalah ketimuran, mulai dari sastra, bahasa sejarah antropologi, sosiologi,
psikologi sampai agama dengan menggunakan paradigma konklusi yang distortif tentang
objek kajian yang dimaksud.”
2.2 Sejarah Orientalis
Tidak

diketahui secara pasti kapan

mulai

munculnya

orientalis,

tetapi

bisa

diperkirakan bahwa orientalis muncul pada saat umat muslim mencapai puncak
kegemilangan prestasi peradabannya khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan. Banyak
orang-orang barat yang belajar pada ulama dan cendekiawan muslim pada saat itu terutama di
wilayah Kepulauan Laut Putih (Andalusia) dan Sicilia daerah Eropa yang menjadi wilayah
kekuasaan umat muslim. Dan banyak diantara mereka adalah pendeta - pendeta agama
Nashrani dan Yahudi. Mereka adalah :
1.

Pendeta Gerbert, dia terpilih sebagai pemimpin gereja roma pada tahun 999 M. selepas

belajar di berbagai perguruan tinggi di Andalusia (Spanyol)
2.

Pendeta Petrus (1092-1156)

3.

Pendeta Gerrardi Krimon (1114-1187 M.)
Setelah kembali kenegaranya, meraka mengajarkan kepada masyarakat Eropa dan

menyebarkan kebudayaan Arab serta menterjemahkan buku-buku karya ulama-ulama
muslim. Mereka merasa bahwa Islam adalah pembelot dari agama mereka dan juga suatu
ancaman bagi agama masehi sendiri. Maka dari itu mereka berusaha untuk mempelajari islam
guna untuk menghancurkan dan melemahkannya. Mereka berusaha dengan gigih untuk
3 www.uin-alauddin.ac.id/download-04.Fatimah%20Halim. hal 43-diakses-22-desember-2015
7

mengetahui tentang seluk - beluk Islam lebih mendalam dengan tujuan untuk menghancurkan
Islam dari dalam. Dengan demikian kita bisa menyimpulkan bahwa sejarah orientalisme pada
fase awal adalah sejarah tentang pergulatan dan pertarungan agama dan ideologi antara
bangsa barat yang diwakili oleh agama Nashrani dan Yahudi dengan bangsa timur yang
diwakili oleh para penganut agama Islam. Menurut R.W. Southern “Islam merupakan
problema masa depan dunia Barat Nasrani secara keseluruhan di Eropa”.
Disamping hal diatas pecahnya Perang Salib (The Crusades) antara umat Islam dan
umat Nashrani secara khusus menjadi sebab pemicu bagi orang-orang Eropa untuk
melakukan kajian terhadap dunia Islam. Perang salib adalah suatu tragedi dhsyat yang tak
pernah dilupakan oleh siapapun. Perang antara dua kekuatan besar yakni islam dan kristen
dengan delapan gelombang penyerbuan terhadap umat islam selama hampir dua abad (10961270 M), dan berahir dengan kekalahan dan kehancuran kekuatan Dunia Barat (Kristen)
sehinnga menyebabkan kemarahan besar dan dendam yang membara bagi bangsa-bangsa
barat untuk menghancurkan Islam.
Gerakan orientalis tumbuh secara pesat pasca Perang Salib. Orientalis adalah satu
bentuk invasi intelektual yang bermuara dari sebab-sebab keagamaan. Dunia barat yang
terdiri dari ahlul kitab (Nasrani dan Yahudi), setelah reformasi keagamaan membutuhkan
pandangan ulang terhadap ajaran dan kitab-kitab keagamaan mereka. Untuk itu mereka mulai
mengadakan studi tentang bahasa Arab dan Islam. Mereka memanfaatkan apa saja dari karyakarya muslim. Dari kajian tentang islam, Orientalisme kemudian berkembang menjadi kajiankajian tentang kondisi ekonomi, politik dan lain-lain, dengan tetap pada prinsip utama dan
sebagai prolog kristenisasi dengan tujuan-tujuannya.
Kegiatan penyelidikan tantang dunia timur oleh para orientalis telah berlangsung
selama berabad-abad secara sporadis. Tetapi baru menunjukkan intensitasnya yang luar biasa
sejak abad XIX M. Penyelidikan bermula secara terpisah mengenai masing-masing agama
itu. Max Muller (1823-1900 M.) pada akhirnya menjelang abad XIX M. Menyalin seluruh
kitab yang dipandang suci oleh masing-masing agama timur kedalam bahasa Inggris, terdiri
dari 51 jilid tebal, berjudul The Sacred Books Of The East (Kitab-Kitab Suci Dari Dunia
Timur) yang biasanya disingkat dengan SBE. Berkat cara Max Muller membahas masingmasing agama itu mengikuti bunyi dan isi masing-masing kitab suci hingga mendekati
objektivitas, dan hal itu sangat berbeda dengan cara para orientalis pada masa sebelumnya
maupun pada masanya sendiri. Karena itu ia dipandang sebagaipembangun sebuah disiplin
ilmu yang baru, yang dikenal dengan comparative religions (perbandingan agama-agama).

8

Pada tahun 1873 digelar muktamar orientalis pertama di Paris. Muktamar serupa terus
diselenggarakan sebagai wadah pertemuan para oreintalis dan wadah pengkajian dan isu-isu
terhangat mengenai dunia timur baik dari sisi perkembangan keagamaan maupun peradaban
dunia timur.
2.3 Tujuan Orientalis
Secara umum tujuan orientalis bisa dipilah - pilah menjadi tiga, yaitu: pertama, untuk
kepentingan penjajahan; kedua, untuk kepentingan agama mereka (dakwah atau misi
keagamaan) dan ketiga, untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Untuk kepentingan penjajahan
tergambar dari penelitian-penelitian serius yang dilakukan para orientalis. Dalam kasus
Indonesia, Snouck Hurgronye merupakan bukti nyata. Oleh pemerintah kolonial Belanda
Hurgronye diberi kepercayaan untuk mengkaji Islam, hingga menetap di Mekah bertahuntahun. Tujuan pengkajiannya tidak lain kecuali untuk melemahkan perlawanan umat Islam
terhadap kolonial Belanda serta mengobrak-abrik pertahanan persatuan dan pertahanan kaum
muslim dengan politik belah bambo.[4]
Diantara tujuan pokok gerakan orientalisme selain yang telah kami paparkan diatas
ialah sebagai berikut :
1. Memurtadkan kaum muslim dari agamanya sendiri, dengan cara memutus dan memecah
belah persatuan umat kepada kelompok-kelompok atau golongan yang saling membenci satu
sama lain
2. Melemahkan rohani umat islam dan menciptakan perasaan selalu kekurangan dalam
jiwanya, dan kemudian membawa mereka kepada sikap pasrahdan tunduk kepada kehendak
serta arahan orang-orang Barat.
3. Mendistorsi ajaran islam dengan cara menutup -nutupi kebaikan dan kebenaran ajarannya,
supaya masyarakat awam menganggap bahwa islam sudah tidak relevan dengan
perkembangan zaman. Oleh karenanya sudah tidak layak untuk dijadikan pedoman hidup
kaum muslim.
Hal ini adalah sesuatu yang paling berbahaya yang selalu dipropaganda dan
dikumandangkan oleh para orientalis dan missionaris. Padahal sejarah membuktikan bahwa
bagaimana perlakuan baik yang ditunjukkan kaum muslim dan sikap toleransinya terhadap
non muslim pada ahir perang Salib sekembalinya para tentara Salib ke Eropa.

4 http://jie.staimafa.ac.id/?articles=kajian-islam-di-barat-diakses-22-desember-2015
9

4. Mendukung segala bentuk penjajahan terhadap negara-negara islam dan melaksanakan
segala bentuk perlawanan terhadap islam itu sendiri.
5. Memisahkan kaum muslim dari akar-akar kebudayaan islam mereka yang kuat dengan
cara memutarbalikkan pokok-pokok ajarannya dan mencabutnya dari sumber-sumbernya
yang asli serta menghancurkan nilai-nilai dasarnya untuk menghancurkan keberlangsungan
individu, masyarakat, jiwa dan akal pikiran kaum muslim.
2.4 Tokoh – Tokoh Orientalis
1. Ignaz Goldziher
Ignaz Goldziher adalah orientalis Hungaria yang dilahirkan dari keluarga Yahudi pada
tahun 1850 M, Ia belajar di Budapest, Berlin dan Leipzig. Pada tahun 1873 ia pergi ke Syiria
dan belajar pada Syeikh Tahir al-Jazairi. Kemudian Pindah ke Palestina, lalu ke Mesir dimana
ia belajar dari sejumlah ulama di Universitas Al-Azhar Kairo. Pada tahun 1894 dia menjadi
calon tenaga pengajar bahasa Semit dan pada tahun 1904 menjadi guru besar bahasa-bahasa
Semit di Universitas Budapest akhirnya ia meninggal pada 13 November 1921.
Karya-karya tulisannya yang membahas masalah-masalah keislaman banyak di
publisir dalam bahasa Jerman, Inggris dan Perancis. Bahkan sebagian diterjemahkan ke
dalam bahasa Arab. Dan yang paling berpengaruh dari karya-karya tulisannya adalah
buku Muhammadanische Studien, dimana ia menjadi sumber rujukan utama dalam penelitian
hadits di Barat. Di samping karyanya yang lain seperti: Le Dogme et Les Lois de L’Islam
(The Principle of Law is Islam), Introduction to Islamic Theology and Law, Etudes Sur La
Tradition Islamique.[5]
Secara umum pandangan Ignaz Goldziher terhadap hadits adalah bahwa apa yang
disebut hadits itu diragukan otentisitasnya sebagai sabda Nabi SAW. Menurut Goldziher,
hadits lebih merupakan refleksi interaksi dan konflik pelbagai aliran dan kecenderungan yang
muncul kemudian di kalangan masyarakat muslim pada periode kematangannya, ketimbang
sebagai dokumen sejarah awal perkembangan Islam.
Menurut Goldziher, literatur hadits harus dipandang sebagai hasil evolusi agama,
sejarah dan sosial Islam selama dua abad pertama eksistensinya. Ini berarti, hadits adalah
produk bikinan masyarakat Islam beberapa abad setelah Nabi Muhammad SAW wafat, bukan
berasal dan tidak asli dari beliau. Ataupun hadits tidak lain adalah karya-karya ulama masa

5 http://luk.staff.ugm.ac.id/kmi/antar/Watt/eksistensi-hadis-nabi.hal 201-diakses-22-desember-2015
10

sesudah wafat nabi yang didasarkan pada fenomene-fenomena sosial dan kasus-kasus aktual
yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.
Diantara yang turut mengamini pendapat Goldziher adalah orientalis Inggris bernama
Alfred Guillaume. Dalam bukunya mengenai sejarah hadits, mantan guru besar Universitas
Oxford ini mengklaim bahwa sangat sulit untuk mempercayai literatur hadits secara
keseluruhannya sebagai rekaman otentik dari semua perkataan dan perbuatan Nabi SAW.
Keraguan Goldziher tentang keabsahan dan keotentikan hadits didasarkan atas
beberapa alasan, diantaranya, ketidakmungkinan keshahihan hadits dalam masyarakat Islam
pada abad pertama. Ia mengatakan bahwa kesulitan data yangotentik diakibatkan karena
kondisi masyarakat Islam pada abad pertama Hijriah sama sekali tidak mendukung budaya
pemeliharaan data tersebut yang belum memiliki kemampuan cukup untuk memahami
dogma-dogma keagamaan,, memelihara ritus-ritus keagamaan dan mengembangkan doktrin
agama yang kompleks. Terlebih lagi pada saat itu buta huruf masih merajalela dimana-mana.
Ignaz Goldziher juga menuduh bahwa penelitian hadits yang dilakukan oleh ulama
klasik tak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah karena kelemahan metodenya. Hal ini
karena para ulama lebih banyak menggunakan metode kritik sanad dan kurang menggunakan
metode kritik matan, karenanya Goldziher kemudian ,menawarkan metode kritik baru yaitu
kritik pada matan. Metode kritik matan hadits oleh Goldziher itu berbeda dengan metode
kritik matan yang dipakai oleh para ulama. Menurutnya kritik matan hadits itu mencakup
berbagai aspek seperti politik, sains, sosio kultural dan lain-lain. Lebih jauh hal itu dilakukan
guna menggambarkan sampai sejauhmana hubungan teks hadits dengan kondisi eksternal
kondisi sosial politik dimana hadits itu muncul.
Contoh kasus dapat ditemukan pada sebuah hadits yang artinya berbunyi : “Tidak
diperintahkan pergi kecuali menuju tiga masjid, Masjid al- Haram, Masjid Nabawi dan
Masjid al-Aqsha”. Menurut Goldziher Abdul Malik Ibn Marwan (Khalifah Dinasti Ummayah
di Damaskus) merasa khawatir apabila Abdullah bin Zubair (opposannya di Makkah)
mengambil kesempatan dengan menyuruh orang-orang Syam (Syiria adan sekitarnya) yang
sedang melakukan ibadah haji di Makkah untuk berbaiat kepadanya. Karenanya, Abdul Malik
bin Marwan berusaha agar orang-orang Syam tidak lagi pergi ke Makkah, akan tetapi cukup
hanya pergi ke Qubbah Shakhra di al-Quds (Palestina) yang pada saat itu masuk dalam
kekuasaan wilayah Syam.
Dalam rangka mewujudkan usaha yang bersifat politis ini, Abdul Malik bin Marwan
menugaskan al-Zuhri agar membuat hadits dengan sanad yang bersambung ke Nabi SAW
dimana isinya umat Islam tidak diperintahkan pergi kecuali menuju tiga masjid, Masjid al11

Haram (di Makkah), Masjid Nabawi (di Madinah) dan Masjid al-Aqsha (di al-Quds /
Jerusalem).
Jelaslah bagi kita, karena kondisi politik saat itu yang mendudukan rezim Umawiyah
berada pada puncak kekuasaan, Imam al-Zuhri telah dimanfaatkan untuk memalsukan hadits
sesuai dengan keinginan dan kebijakan politik mereka.
2. Joseph Schacht
Prof. Dr. Joseph Schacht lahir di Silisie Jerman pada 15 Maret 1902. Karirnya sebagai
orientalis dimulai dengan belajar pilologi klasik, theologi, dan bahasa-bahasa Timur di
Universitas Berslauw dan Universitas Leipzig.
Meskipun ia seorang pakar Sarjana Hukum Islam, namun karya-karya tulisnya tidak
terbatas pada bidang tersebut. Secara umum, ada beberapa disiplin ilmu yang ia tulis. Antara
lain, kajian tentang Manuskrip Arab, Edit-Kritikal atas Manuskrip-manuskrip Fiqh Islam.
Kajian tentang ilmu Kalam, kajian tentang Fiqh Islam, kajian tentang Sejarah Sains dan
Filsafat, dan lain-lainnya, seperti Al Khoshaf aL Kitab al Hiyal wa al-Makharij (1932), Abu
Hatim al Qazwini: Kitab al Khiyal fi al Fiqih (1924), Ath Thabari: Ikhtilaf al Fuqaha (1933)
dan lain-lain.
Karya tulisnya yang paling monumental dan melambungkan namanya adalah bukunya
The Origins of Muhammadan Jurisprudence yang terbit pada tahun 1950, kemudian bukunya
An Introduction to Islamic Lau yang terbit pada tahun 1960. Dalam dua karyanya inilah ia
menyajikan hasil penelitiannya tentang Hadits Nabawi, di mana ia berkesimpulan bahwa
Hadits Nabawi, terutama yang berkaitan dengan Hukum Islam, adalah buatan para ulama
abad kedua dan ketiga hijrah.
Pemikiran Josepht Schahct atas hadits banyak bertumpu pada teori-teori yang digagas
oleh pendahulunya yakni Goldziher. Hanya saja perbedaannya adalah jika Goldziher
meragukan otentisitas hadits , Josepht Schahct sampai pada kesimpulan bahwa sebagian besar
adalah palsu, dan berhasil “menyakinkan” tidak adanya otentisitas itu, khususnya haditshadits fiqih.
Joseph Schacht menyusun beberapa teori untuk membuktikan dasar-dasar
pemikirannya tentang kepalsuan hadits Nabi SAW, antara lain:
a. Teori Projecting Back
Maksud dari teori ini bahwa untuk melihat keaslian hadits bisa direkonstruksikan
lewat penelusuran sejarah hubungan antara hukum Islam dengan apa yang disebut hadits
Nabi. Selain itu, Ia juga mengklaim bahwa sanad lengkap yang berujung ke Rasulullah SAW
12

adalah ciptaan atau tambahan para fuqaha di era Tabi’in dan setelahnya, yang ingin
memperkokoh madzhab mereka dengan menjadikannya sebagai hadits nabawi.
b. Teori E Siliento
Sebuah teori yang disusun berdasarkan asumsi bahwa bila seseroang sarjana
(ulama/perawi) pada waktu tertentu tidak cermat terhadap adanya sebuah hadits dan gagal
menyebutkannya. Membuktikan hadits itu eksis/ tidak cukup dengan menunjukkan bahwa
hadits tersebut tidak pernah dipergunakan sebagai dalil dalam diskusi para fuqaha. Sebab
seandainya hadits itu pernah ada pasti hal itu akan dijadikan sebagai refrensi.
c. Teori Common Link
Teori yang beranggapan bahwa orang yang paling bertanggung jawab atas
kemunculan sebuah hadits adalah periwayat poros (common link) yang terdapat di tengah
bundel sanad-nya. Common link itulah yang menurut Juynboll merupakan pemalsu dari
hadits yang dibawanya.
3. Gauther H.A Juynboll
Juynboll adalah seorang orientalis yang mendukung pemikiran kedua orientalis di
atas, berasal dari Belanda dan dilahirkan tahun 1935, sejak di bangku S1 di Leiden ia telah
banyak melakukan kajian tentang otensitas hadits. Beberapa karyanya seperti Muslim
Tradition : Studies in Cronology Provenance and Authorship of Early Hadith dan The Date of
The Great Fitna, Jyunboll melakukan kritik hadits yang sejatinya kritik-kritiknya itu tidak
lebih dari mengulang-ulang atau mendukung gagasan Schacht dalam bukunya the Origin of
Muhammadans Yurisprudence.
Menurut muhadisin, isnad baru dipergunakan secara cermat setelah terjadinya
”fitnah” tragedi pembunuhan khalifah ustman (656 M) Jyunboll menolak anggapan ini
dengan bersandarkan pada karya ibn Sirin, bahwa penggunaan isnad baru dimulai ketika
“fitnah” tragedi peperangan antara Abdullah bin Zubair dengan dinasti Ummayah yang pada
akhirnya berdampak pada banyaknya hadis-hadis palsu.
Tiga tokoh tersebut menjadi sasaran pokok serangan para orientalis karena ketiganya
menempati posisi-posisi yang strategis dalam kajian ilmu Hadis; Abu Hurairah adalah
Shahabat yang tercatat sebagai shahabat yang paling banyak meriwayatkan Hadis dari Nabi
Muhammad. Dan al-Zuhri disebut-sebut sebagai orang yang pertama kali membukukan
Hadis. sementara al-Bukhari adalah tokoh yang menulis kitab paling otentik sesudah alQuran, yaitu kitab Shahih Al-Bukhari.

13

2.5 Pandangan Tokoh - Tokoh Orientalis tentang Hadits Nabi Muhammad SAW
Hadits adalah segala sesuatu yang mengandung ucapan, perbuatan atau ketentuanketentuan yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw., sehingga bagi orientalis hadits
adalah merupakan kajian yang mudah bagi mereka untuk memutar balikkan kebenaranhadits
secara keseluruhan.
Gugatan oreintalis terhadap hadis bermula pada pertengahan abad ke -19 Masehi,
tatkala hampir seluruh bagian dunia Islam telah masuk dalam cengkeraman kolonialisme
bangsa-bangsa Eropa. Adalah Alois Sprenger, yang pertama kali mempersoalkan status hadis
dalam Islam. Dalam pendahuluan bukunya mengenai riwayat hidup dan ajaran Nabi
Muhammad SAW. Misionaris asal Jerman yang pernah tinggal lama di India ini mengklaim
bahwa hadis merupakan kumpulan anekdot (cerita-cerita bohong tapi menarik).
Ada tiga hal yang sering dikemukakan orientalis dalam penelitian mereka terhadap alHadis, yaitu tentang kepribadian Nabi Muhammad SAW, Aspek Asanid (Rangkaian perawi
hadis), dan Aspek Matan.
a. Aspek Pribadi Nabi Muhammad
Argumen pertama orientalis meragukan otentisitas hadits adalah bahwa hadits-hadits
itu buatan manusia dan bukan wahyu. Menurut orientalis pribadi Muhammad perlu
dipertanyakan, mereka membagi status Muhammad menjadi tiga, sebagai rasul, kepala
negara dan pribadi biasa sebagaimana orang kebanyakan. Sesuatu yang didasarkan dari Nabi
Muhammad baru disebut hadits jika sesuatu tersebut berkaitan dengan hal-hal praktis
keagamaan, karena jika tidak hal itu tidak layak disebut hadits, karena bisa saja hal itu hanya
timbul dari status lain seorang Muhammad.
b. Aspek Asanid (Rangkaian Perawi).
Orientalis memiliki kesimpulan bahwa semua asanid itu fiktif atau bahwa yang asli
dan yang palsu itu tidak bisa dibedakan secara pasti. Isnad yang sampai kepada Nabi
Muhammad jauh lebih diragukan ketimbang isnad yang sampai kepada sahabat. Para
orientalis sering mempertanyakan tentang para perawi yang banyak meriwayatkan hadis dari
Rasulullah. seperti yang kita ketahui bersama para sahabat yang terkenal sebagai perawi
bukanlah para sahabat yang yang banyak menghabiskan waktunya bersama Rasullah seperti
Abu bakar, Umar, Usman dan Ali. Namun yang banyak meriwayatkan hadis adalah sahabatsahabat junior dalam artian karena mereka adalah orang “baru” dalam kehidupan Rasulullah.
Dalam daftar sahabat yang banyak meriwayatkan hadis tempat teratas diduduki oleh sahabat
14

yang hanya paling lama 10 tahun berkumpul dengan Nabi, seperti Abu hurairah, Sayyidah
Aisyah, Anas bin malik, Abdullah ibn Umar dll. Abu hurairah selama masa 3 tahun dia
berkumpul dengan Nabi telah berhasil meriwayatkan lebih dari 5800 hadis, Sayyidah Aisyah
mengumpulkan lebih dari 3000 hadis dan demikian juga dengan Abdullah ibn Umar, Anas.
c. Aspek Matan
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa ktirik isnad adalah satu-satunya metode yang
dipraktekkan ahli-ahli hadits untuk menyaring mana hadits yang shahih dan hadits mana yang
tidak shahih. Menurut orientalis matan hampir tidak pernah dipertanyakan, hanya jika isi
sebuah hadits yang isnad-nya shahih jelas bertentangan dengan Al-Qur’an, baru ditolak kalau
isinya dapat diinterpretasikan sedemikian sehingga menjadi selaras dengan Al-Qur’an dan
hadits-hadits lain, hadits itu tidak dikritik.
2.6 Bantahan Ulama Terhadap Pandangan Orientalis
Kritikan terhadap hadits dari kalangan orientalis tidak membuat ulama Islam berdiam
diri, setidaknya ada tiga ulama kontemporer yang menangkal teori-teori ketiga orientalis di
atas, mereka adalah Prof. Dr. Musthofa as Siba’iy dalam bukunya “As Sunnah wa
Makanatuha fi at Tasyri’il Islam”, Prof. Dr. ‘Ajjaj al Khatib dalam bukunya “As Sunnah
Qabla Tadwin”, dan Prof. Dr. M. Musthofa al Azhami dalam bukunya “Studies in Early
Hadith Literature”.
Bantahan dari ulama-ulama tersebut, terutama Prof. Dr. M. Musthofa al Azhami yang
telah menelanjangi para orientalis sampai mereka tidak berkutik karena argument-argument
yang disampaikannya benar dan valid sebagai berikut.[6]
a. Bantahan untuk Ignaz Goldziher
Pendapat Goldziher bahwa hadits belum menjadi dokumen sejarah yang ada pada
masa-masa awal pertumbuhan Islam disanggah oleh beberapa pakar hadits. Mereka itu di
antaranya : Prof. Dr. Musthofa as Siba’iy (as Sunnah wa Makanatuha fi at Tasyri’il Islam)
Prof. Dr. ‘Ajjaj al Khatib (as Sunnah Qabla Tadwin) dan Prof. Dr. M. Musthofa al Azhami
(Studies in Early Hadith Literature). Menurut ketiga ulama ini pendapat Goldziher lemah
baik dari sisi metodologisnya maupun kebenaran materi sejarahnya. Alasan mereka adalah
karena ketidaktahuan mereka (kekurang percayaan) pada bukti-bukti sejarah.
Sisi metodologi yang dikritik Azami adalah kesalahan orientalis yang tidak konsisten
dalam mendiskusikan perkembangan hadis Nabi yang berkaitan dengan hukum, sebab
6 Labib Syauqi Akifahadi, “Tanggapan Sarjana Muslim Terhadap Kajian Hadits Orientalist”, dalam
internet website:http://lenterahadits.com/index.php?
option=com_content&view=category&layout=blog&id=36&Itemid=57-diakses-22-Desember-2015
15

bukunya memfokuskan diri pada masalah hukum, mereka malah memasukkan hadis-hadits
ritual/ibadah.
Argumen lain yang juga dapat meruntuhkan teori Goldziher adalah teks hadis itu
sendiri. Sebagaimana termaktub dalam kitab Shahih Bukhari, hadis tersebut tidak
memberikan isyarat apapun yang bisa menunjukkan bahwa ibadah haji dapat dilakukan di alQuds (Yurussalem) yang ada hanya isyarat pemberian keistimewaan kepada masjid al Aqsha,
dan hal ini wajar mengingat masjid itu pernah dijadikan qiblat pertama bagi ummat islam.
Sementara itu tawaran Goldziher agar hadis tidak semata-mata didekati lewat perspektif
sanad akan tetapi juga lewat kritik matan, perlu dicermati. Sebenarnya semenjak awal para
sahabat dan generasi sesudahnya sudah mempraktekkan metode kritik matan. Penjelasan
argumentatif telah disajikan oleh Subkhi as Shalih bahwa ulama dalam mengkaji hadis juga
bertumpu pada matan.
b. Bantahan untuk Josep Schacht
Menurut Azami kekeliruan Josep Schacht adalah bahwa dia keliru ketika menjadikan
kitab-kitab sirah Nabi dan kitab-kitab fiqh sebagai asumsi penyusunan teorinya. Dalam
rangka meruntuhkan teorinya Schacht telah melakukan penelitian terhadap beberapa naskah
hadits dengan sanad Abu Hurairah, Abu Shalih, dan Suhail, yang ternyata dari hasil kajiannya
sangat mustahil hadis bisa dipalsukan begitu saja.
Di samping itu Azami membuktikan bahwa tidak adanya sebuah hadis pada masa
kemudian, padahal pada masa-masa awal hadis itu dicatat oleh perawi, disebabkan
pengarangnya menghapus/menasakh hadis tersebut, sehingga ia tidak menulisnya dalam
karya-karya terbaru. Ketidakkonsistenan Schacht terbukti ketika dia mengkritik hadis-hadis
hukum adalah palsu, ternyata ia mendasarkan teorinya itu pada hadis-hadis ritual (ibadah)
yang jika diteliti lebih dalam lagi ternyata tidak bersambung ke Nabi.
Membantah teori yang meneliti dari aspek sejarah, maka M.M. Azami membantah
teori Schacht ini juga melalui penelitian sejarah, khususnya sejarah Hadis. Azami melakukan
penelitian khusus tentang Hadis-hadis Nabi yang terdapat dalam naskah-naskah klasik. Di
antaranya adalah naskah milik Suhail bin Abi Shaleh (w.138 H).
Dengan demikian apa yang dikembangkan oleh Schacht dengan teorinya Projecting
Back, yang mengemukakan bahwa sanad Hadis itu baru terbentuk belakangan dan merupakan
pelegitimasian pendapat para qadhi dalam menetapkan suatu hukum, adalah masih
dipertanyakan keabsahannya, hal ini dibantah oleh Azami dengan penelitiannya bahwa sanad
Hadis itu memang muttashil sampai kepada Rasulullah SAW. melalui jalur-jalur yang telah
16

disebutkan di atas. Dan membuktikan juga bahwa Hadis-hadis yang berkembang sekarang
bukanlah buatan para generasi terdahulu, tetapi merupakan perbuatan atau ucapan yang
datang dari Rasul Saw. sebagai seorang Nabi dan panutan umat Islam.
c. Bantahan untuk G.H.A Juynboll
Tokoh ketiga yang tak luput dari perbincangan para sarjana muslim adalah Jyunboll
dengan teori common link-nya. Diantara yang menanggapinya adalah Azami, baginya teori
common link bukanlah hanya patut dipertanyakan namun ia pula meragukan validitas teori
tersebut. Azami cenderung manyimpulkan bahwa metode common link dan semua metode
yang dihasilkannya tidak relevan.
Bagi Azami, teori common link banyak yang perlu dipertanyakan. Misalnya, jika
memang ditemukan seorang periwayat seperti al-Zuhri, yang menjadi periwayat satu-satunya
yang meriwayatkan hadis pada muridnya, tetapi telah diakui ke-tsiqah-an dirinya oleh para
kritikus hadis maka tidak ada alasan untuk menuduhnya sebagai seorang yang memalsukan
hadis. Para ahli hadis sendiri telah menyadari adanya periwayatan hadis secara infirad
(menyendiri) dan implikasinya. Akan tetapi, itu semua bergantung pada kualitas para
periwayat hadis pada isnad-nya.
Pada tempat lain, Azami menunjukkan bahwa jika seseorang tidak melihat secara
keseluruhan jalur isnad maka ia akan salah dalam mengidentifikasi seorang periwayat sebagai
common link. Hal ini tentunya agar penemuan akan sanad hadis itu tidak parsial. Sebab, bisa
jadi yang dianggap oleh peneliti hadis sebagai common link sebenarnya hanya seeming atau
artificial common link. Ini disebabkan karena jalur yang dihimpun hanya sebagian saja
sehingga tidak bisa menggambarkan jalur isnad secara lebih akurat.
2.7 Kontribusi Orientalis Terhadap Hadits
Dalam sejarah yang panjang dikalangan orang Islam, orientalis dikenal sebagai orang
Barat yang menekuni masalah-masalah yang berhubungan dengan Islam, dengan berbagai
kajian ketimuran, baik konsumsi politik penjajahan maupun dalam bentuk penelitian ilmiah
yang terselubung dengan membawa misi kristenisasi, zionesme dan sebagainya.
Walaupun demikian, masih terdapat orientalis yang hanya menggunakan pendekatan
ilmiah atau setengah ilmiah, khususnya ketika pengkajian Islam di berbagai lembaga di Barat
tidak lagi dibawah organisasi keagamaan atau fakultas teologi, dan setelah orientalis tidak
lagi sepenuhnya berasaal dari kalangan tokoh-tokoh agama semata. Ini secara khusus dalam
perkembangan terakhir orientalisme mengenai Islam.
17

Dari kalangan inilah lahir hasil karya yang banyak memberikan kontribusi bagi
perkembangan kajian Islam dikalangan muslim dan bukan muslim. Saham terbesar adalah
karya dalam bidang penyusunan berbagai indeks, kamus, leksikon dan ensiklopedi secara
kolektif dan perorangan.
Kontribusi karya

orientalis

yang

banyak

digunakan

ilmuwan

dan

ulama

Islam khususnya dalam bidang hadits adalah indek hadits Consordance et Indices da la
Traadition Musulmane, dibawah asuhan orientalis Belanda A.J. Wensinck, terdiri atas 7 jilid.
Hingga sekarang belum ada indeks hadits yang lebih baik dan sistematis, disusun
berdasarkan kitab-kitab hadits yang digunakan umat Islam, terutama Kutubus Sittah. Dengan
mempergunakan indeks ini, kita dapat mencari perawi sebuah hadits, kutipan pokok “matan”
(teks) hadits dan dalam kitab mana kita dapat menemukannya. Ini sangat penting, mengingat
matan hadits tidak dapat di cek kebenarannya secara mudah seperti mengecek kebenaran ayat
Al-Qur’an.
Dalam indeks ini, kita tidak lagi direpotkan untuk meneliti satu persatu daftar isi
semua kitab hadits untuk menemukan hadits yang dicari, tetapi cukup dengan mencari pokok
atau kata kunci dalam sebuah hadits, kemudian dapat dicari langsung pada sumber yang
ditunjukkannya. Kesulitan kecil yang ditemukan adalah indeks ini disusun berdasarkan kitabkitab hadits sebelum tahun 1939, sementara kitab-kitab hadits tersebut telah diterbitkan lagi
dalam berbagai edisi, sehingga kadang-kadang, halaman dan jilid buku hadits yang ditunjuk
oleh indeks tidak lagi persis. Selain itu akhir-akhir ini telah terbit kitab-kitab yang menyaring
kembali hadits-hadits menurut shahih dan dha’ifnya, seperti beberapa jilid tebal oleh
Nashiruddin Al-Albani.

18

BAB III

PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari paparan atau penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa sesuai dengan
makalah “ ORIENTALIS ” penulis menyimpulkan bahwa :
Orientalis bisa diartikan “Seorang yang melakukan kajian tentang masalah-masalah
ketimuran, mulai dari sastra, bahasa sejarah antropologi, sosiologi, psikologi sampai agama
dengan menggunakan paradigma konklusi yang distortif tentang objek kajian yang
dimaksud.”
Di dunia Islam pemaknaan orientalis mengalami penyempitan objek bahasan.
Orientalis dipahami sebagai pengkajian Islam menurut orang Barat atau sarjana lainnya yang
berkiblat ke Barat. Pengkajian yang dilakukan lebih cenderung berkiblat ke Barat dengan
etnosentrisnya, orientalisme dalam dunia Islam kemudian juga dipahami sebagai gazwah alfikr dari diskursus Barat dalam upaya melemahkan nilai - nilai dan semangat keagamaan
umat Islam.
Goldziher dan Schacht sebagai orientalis yang terkemuka dan berpengaruhmemiliki
pandangan bahwa hadits itu diragukan otentisitasnya sebagai sabda Nabi SAW menurut
mereka hadits adalah buatan para ulama abad kedua dan ketiga hijriyah setelah Nabi
Muhammad SAW wafat, bukan berasal dan tidak asli dari beliau, dengan alasan
ketidakmungkinan keshahihan hadits dalam masyarakat Islam pada abad pertama, kemudian
Goldziher menawarkan metodenya dengan menggunakan kritik matan. Sementara
menurut Schacht sanad mulai dari sumber pertama sampai yang terakhir, yang atas mereka
keaslian sebuah hadits disandarkan pada Nabi SAW menurut otentisitasnya sangat diragukan.
Untuk membuktikan kepalsuan-kepalsuan itu ia lalu menyodorkan teori Projecting back.
Sanggahan-sanggahan dilakukan oleh para Ulama hadits untuk merontokkan teoriteori mereka. Dan ada beberapa catatan yang dapat dikemukakan bahwa adanya sekumpulan
subjektivitas paradoks dari keduanya sebagai orientalis yang setidaknya menyimpan misimisi tersendiri untuk menyudutkan Islam dibalik kacamata orientalisme, yang sesungguhnya
merupakan neo-kolonialisme atas belahan dunia Timur, khususnya kawasan Islam. Kemudian
mereka memiliki kemampuan yang terbatas dalam metodologi dan teknik memahami hadits
dengan tanpa mempertimbangkan hal-hal lain dibalik maksud dari hadits tersebut.

19

3.2 Saran
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannyapenulis akan
lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber-sumber
yang lebih banyak yang tentunya dapat dipertanggung jawabkan.
Demikian yang dapat penulis paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan
dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya karena terbatasnya
pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul
makalah ini.
Penulis berharap para pembaca yang budiman dapat memberikan kritik dan saran
yang membangun kepada kami demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah
dikesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis khususnya
dan juga para pembaca umumnya.

20