You are on page 1of 18

BAB I

PENDAHULUAN
Kromatografi adalah suatu istilah umum yang digunakan untuk bermacammacam teknik pemisahan yang didasarkan atas partisi sampel diantara suatu rasa
gerak yang bisa berupa gas ataupun cair dan rasa diam yang juga bisa berupa cairan
ataupun suatu padatan. Penemu Kromatografi adalah Tswett yang pada tahun
1903, mencoba memisahkan pigmen-pigmen dari daun dengan menggunakan suatu
kolom yang berisi kapur (CaSO4). lstilah kromatografi diciptakan oleh Tswett
untuk melukiskan daerah-daerah yang berwarna yang bergerak kebawah kolom.
Pada waktu yang hampir bersamaan, D.T. Day juga menggunakan kromatografi
untuk memisahkan fraksi-fraksi petroleum, namun Tswett lah yang pertama diakui
sebagai penemu dan yang menjelaskan tentang proses kromatografi.
Penyelidikan tentang kromatografi kendor untuk beberapa tahun sampai
digunakan suatu teknik dalam bentuk kromatografi padatan cair (LSC). Kemudian
pada akhir tahun 1930-an dan permulaan tahun 1940-an, kromatografi mulai
berkembang. Dasar kromatografi lapisan tipis (TLC) diletakkan pada tahun 1938
oleh Izmailov dan Schreiber, dan kemudian diperhalus oleh Stahl pada tahun
1958. Hasil karya yang baik sekali dari Martin dan Synge pada tahun 1941
(untuk ini mereka memenangkan Nobel) tidak hanya mengubah dengan cepat
kroinatografi cair tetapi seperangkat umum langkah untuk pengembangan
kromatografi gas dan kromatografi kertas. Pada tahun 1952 Martin dan James
mempublikasikan makalah pertama mengenai kromatografi gas. Diantara tahun
1952 dan akhir tahun 1960-an kromatografi gas dikembangkan menjadi suatu
teknik analisis yang canggih.
Kromatografi cair, dalam praktek ditampilkan dalam kolom gelas
berdiameter besar, pada dasamya dibawah kondisi atmosfer. Waktu analisis lama dan
segala prosedur biasanya sangat membosankan. Pada akhir tahun 1960-an, semakin
banyak usaha dilakukan untuk pengembangan kromatografi cair sebagai suatu
teknik

mengimbangi

kromatografi

gas.

High

Performance

Liquid

Chromatography(KCKT) atau Kromatografi Cair Penampilan Tinggi atau High
Preformance = Tekanan atau Kinerja Tinggi, High Speed = Kecepatan Tinggi dan
1

Modern = modern) telah berhasil dikembangkan dari usaha ini. saat ini dengan teknik yang sudah matang dan dengan cepat KCKT mencapai suatu keadaan yang sederajat dengan kromatografi gas. Kemajuan dalam keduanya instrumentasi dan pengepakan kolom terjadi dengan cepatnya sehingga sulit untuk mempertahankan suatu bentuk hasil keahlian membuat instrumentasi dan pengepakan kolom dalam keadaan tertentu. Tentu saja. 2 .

Saat ini. dan industri-industri makanan. maupun senyawa biologis. dan analisis senyawa-senyawa kiral. Hal ini membuat KCKT dapat memisahkan komponen sampel lebih cepat. KCKT paling sering digunakan untuk menetapkan kadar senyawasenyawa tertentu seperti asam-asam amino. Selain dari pelarut yang menetes melalui kolom di bawah pengaruh gravitasi. penentuan molekul-molekul netral. isolasi dan pemurnian senyawa. KCKT merupakan metode yang tidak destruktif dan dapat digunakan baik untuk analisis kualitatif dan kuantitatif. asam-asam nukleat. KCKT merupakan teknik pemisahan yang diterima secara luas untuk analisis dan pemurnian senyawa tertentu dalam suatu sampel pada sejumlah bidang. analisis senyawa-senyawa tidak mudah menguap (non-volatil).BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. maupun zwitter ion. analisis karbohidrat. anorganik. KCKT secara mendasar merupakan sebuah perkembangan tingkat tinggi dari kromatografi kolom. dalam jumlah banyak. analisis protein. antara lain: farmasi. lingkungan. pemisahan senyawa-senyawa dalam jumlah sekelumit (trace elements). penggunaan KCKT untuk analisis asam-asam nukleat.1 SEJARAH KCKT Kromatografi Cair Kinerja Tinggi atau biasa disebut dengan KCKT (High Performance Liquid Chromatography) dikembangkan pada akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an. analisis ketidakmurnian (impurities). 2. dan protein3 .2 KEGUNAAN KCKT Kegunaan KCKT adalah untuk: memisahkan sejumlah senyawa organik. dan dalam skala proses industri. pemisahan senyawa-senyawa yang strukturnya hampir sama. ionic. bioteknologi. Beberapa perkembangan KCKT terbaru antara lain: miniaturisasi sisstem KCKT. KCKT didukung oleh pompa yang dapat memberikan tekanan tinggi sampai dengan 400 atm. polimer-polimer.

Selain klasifikasi di atas. KCKT termasuk metode analisis terbaru yaitu suatu teknik kromatografi dengan fasa gerak cairan dan fasa diam cairan atau padat. memisahkan polimer dan menentukan distribusi berat molekulnya dalam suatu campuram.4 JENIS-JENIS KCKT Pemisahan dengan KCKT dapat dilakukan dengan fase normal (jika fase diamnya lebih polar dibanding dengan fase geraknya) atau fase terbalik (jika fase diamnya kurang non polar dibanding dengan fase geraknya). KCKT juga dapat dikelompokkan berdasarkan pada sifat fase diam dan atau berdasarkan pada mekanisme sorpsi solut. memurnikan senyawa dalam suatu campuran. 2. Berdasarkan pada kedua pemisahan ini. kontrol kualitas. Kelebihan itu antara lain: • • • • • • • • Mampu memisahkan molekul-molekul dari suatu campuran Mudah melaksanakannya Kecepatan analisis dan kepekaan yang tinggi Dapat dihindari terjadinya dekomposisi / kerusakan bahan yang dianalisis Resolusi yang baik Dapat digunakan bermacam-macam detektor Kolom dapat digunakan kembali Mudah melakukan "sample recovery" Keterbatasan metode KCKT adalah untuk identifikasi senyawa. produk hasil samping. dan mengikuti jalannya reaksi sintetis. 2.3 KELEBIHAN DAN KEKURANGAN KCKT Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) atau High Pressure Liquid Chromatography (KCKT) merupakan salah satu metode kimia dan fisikokimia. Keterbatasan lainnya adalah jika sampelnya sangat kompleks. menentukan kadar senyawa-senyawa aktif obat. memonitor sampel-sampel yang berasal dari lingkungan. proses sintesis atau produk-produk degradasi dalam sediaan farmasi. Banyak kelebihan metode ini jika dibandingkan dengan metode lainnya. dengan jenis-jenis KCKT sebagai berikut: 4 . sering kali KCKT dikelompokkan menjadi KCKT fase normal dan KCKT fase terbalik. kecuali jika KCKT dihubungkan dengan spectrometer massa (MS). maka resolusi yang baik sulit diperoleh.protein dalam cairan fisiologis.

Kromatografi penukar ion dengan fase gerak air. 5 . atau dengan fenil. oktasilana. Sejauh ini yang digunakan untuk memodifikasi silika adalah hidrokarbon-hidrokarbon non-polar seperti dengan oktadesilsilana. meskipun demikian sekitar 90% kromatografi ini memakai silika sebagai fase diamnya. Fase diam yang paling populer digunakan adalah oktadesilsilan (ODS atau C18) dan kebanyakan pemisahannya adalah fase terbalik. Ada banyak penukar ion yang beredar di pasaran. Sebagai fase gerak adalah campuran metanol atau asetonitril dengan air atau dengan larutan bufer. Gugus silanol pada silika mempunyai reaktifitas yang berbeda. Terbentuknya spesies yang terionisasi ini menyebabkan ikatannya dengan fase diam menjadi lebih lemah dibanding jika solut dalam bentuk spesies yang tidak terionisasi karenanya spesies yang mengalami ionisasi akan terelusi lebih cepat. karenanya solut dapat terikat secara kuat sehingga dapat menyebabkan puncak yang berekor. Dalam beberapa hal digunakan pelarut campuran misalnya air-alkohol dan juga pelarut organik. peranan pH sangat krusial karena kalau pH fase gerak tidak diatur maka solut akan mengalami ionisasi atau protonasi. Kebanyakan pemisahan kromatografi ion dilakukan dengan menggunakan media air karena sifat ionisasinya. Untuk solut yang bersifat asam lemah atau basa lemah. meskipun demikian yang paling luas penggunaannya adalah polistiren resin. b) Kromatografi fase terikat (Kromatografi Partisi) Kebanyakan fase diam kromatografi ini adalah silika yang dimodifikasi secara kimiawi atau fase terikat. Pada silika dan alumina terdapat gugus hidroksi yang akan berinteraksi dengan solut. Kenaikan kadar garam dalam fase gerak menurunkan retensi solut. c) Kromatografi penukar ion KCKT penukar ion menggunakan fase diam yang dapat menukar kation atau anion dengan suatu fase gerak. Hal ini disebabkan oleh penurunan kemampuan ion sampel bersaing dengan ion fase gerak untuk gugus penukar ion pada resin. retensi puncak dipengaruhi oleh kadar garam total atau kekuatan ionik serta oleh pH fase gerak.a) Kromatografi Adsorbsi Prinsip kromatog rafi adsorpsi telah diketahui sebagaimana dalam kromatografi kolom dan kromatografi lapis tipis. Pemisahan kromatografi adsorbsi biasanya menggunakan fase normal dengan menggunakan fase diam silika gel dan alumina.

dan kecepatannya untuk sampai ke detektor (waktu retensinya) akan berbeda.d) Kromatografi Pasangan ion Kromatografi pasangan ion juga dapat digunakan untuk pemisahan sampel-sampel ionik dan mengatasi masalah-masalah yang melekat pada metode penukaran ion. f) Kromatografi Afinitas Dalam kasus ini. dan terakhir adalah molekul yang jauh lebih kecil. kemudian molekul-molekul yang ukuran medium. Fase diam yang digunakan dapat berupa silika atau polimer yang bersifat porus sehingga solut dapat melewati porus (lewat diantara partikel). Molekul solut yang mempunyai BM yang jauh lebih besar. Kromatografi jenis ini dapat digunakan untuk mengisolasi protein (enzim) dari campuran yang sangat kompleks. dalam pemisahan dengan eksklusi ukuran ini tidak terjadi interaksi kimia antara solut dan fase diam seperti tipe kromatografi yang lain. akan terelusi terlebih dahulu. Urutan skala 6 . hal ini akan teramati pada spektrum yang puncak-puncaknya terpisah. atau berdifusi lewat fase diam. 2. Dengan demikian. akan tetapi lewat diantara partikel fase diam. Hal ini disebabkan solut dengan BM yang besar tidak melewati porus. Fase diam mengandung gugus-gugus molekul yang hanya dapat menyerap sampel jika ada kondisi-kondisi yang terkait dengan muatan dan sterik tertentu pada sampel yang sesuai (sebagaimana dalam interaksi antara antigen dan antibodi). e) Kromatografi Eksklusi Ukuran Kromatografi ini disebut juga dengan kromatografi permiasi gel dan dapat digunakan untuk memisahkan atau menganalisis senyawa dengan berat molekul > 2000 dalton.5 PRINSIP KERJA KCKT Kerja KCKT pada prinsipnya adalah pemisahan analit-analit berdasarkan kepolarannya. pemisahan terjadi karena interaksi-interaksi biokimiawi yang sangat spesifik. Campuran analit akan terpisah berdasarkan kepolarannya. Sampel ionik ditutup dengan ion yang mempunyai muatan yang berlawanan. alatnya terdiri dari kolom (sebagai fasa diam) dan larutan tertentu sebagai fasa geraknya. Yang paling membedakan KCKT dengan kromatografi lainnya adalah pada KCKT digunakan tekanan tinggi untuk mendorong fasa gerak.

Sampel farmasi biasanya jauh lebih mudah karena sedikit mengandung komponen selain zat aktif. KCKT dapat menganalisa secara kualitatif dan kuantitatif. Peak yang mempunyai RT yang sama dengan standard umumnya adalah sebagai peak milik analat. seperti kolom Zorbax carbohydrat (Agilent) yang khusus digunakan untuk analisa karbohidrat (mono-. maka kedua zat tersebut juga dipastikan adalah zat yang berlainan. Sampel yang mengandung banyak komponen peak-peak yang didalamnya akan mempunyai kromatogram dengan banyak peak. Dalam kromatogram akan terdapat menggambarkan banyaknya jenis komponen dalam sampel. protein. di-. polysakarida). Sampel ini umumnya hanya melalui proses pelarutan saja.6 KOMPONEN-KOMPONEN KCKT 7 . Zat yang sama akan mempunyai spektrum 3D yang juga sama. Hasil analisa KCKT diperoleh dalam bentuk signal kromatogram. misalnya kolom C18 yang dapat digunakan untuk analisa carotenoid. Ada kolom yang digunakan untuk beberapa jenis analisa. 2. Namun ada juga kolom yang khusus dibuat untuk tujuan analisa tertentu. Bahkan tak jarang antar peak saling bertumpuk (overlap). Pada proses kualitatif cara yang paling umum untuk mengidentifikasi adalah dengan melihat Retention time (RT). dan sebagainya. Hal ini akan menyulitkan dalam identifikasi dan perhitungan konsentrasi. lovastatin. Setelah komponen dalam sampel berhasil dipisahkan. Sehingga jika spektrum 3D antara dua zat berbeda. Kemudian melalui analisa kuantitatif dapat diketahui kadar komponen yang dianalisis di dalam sampel.polaritas: golongan fluorocarbon < golongan hidrokarbon < senyawa terhalogenasi < golongan eter < golongan ester < golongan keton < golongan alkohol < golongan asam. Yang berperan dalam proses separasi pada system KCKT adalah kolom. Keberhasilan proses separasi sangat dipengaruhi oleh pemilihan jenis kolom dan juga fasa mobil. Selain melihat RT hal lain yang perlu dilihat adalah spectrum 3D dari signal kromatogram. tahap selanjutnya adalah proses identifikasi. Oleh karena itu biasanya untuk sampel jenis ini dilakukan tahapan preparasi sampel yang lebih rumit agar sampel yang siap diinjeksikan ke KCKT sudah cukup bersih dari impuritis. meskipun memiliki RT yang sama.

1 Wadah fase gerak (Reservoir) Wadah fase gerak harus bersih dan lembam (inert). kemampuan elusi menurun dengan meningkatnya polaritas pelarut. Oleh karena itu. Persyaratan fase gerak KCKT: 8 . kemampuan elusi meningkat dengan meningkatnya polaritas pelarut. Fase gerak biasanya terdiri atas campuran pelarut yang dapat bercampur yang secara keseluruhan berperan dalam daya elusi dan resolusi. polaritas fase diam. Wadah pelarut kosong ataupun labu laboratorium dapat digunakan sebagai wadah fase gerak. Selain berfungsi sebagai pembawa komponen-komponen campuran campuran menuju detektor. Daya elusi dan resolusi ini ditentukan oleh polaritas keseluruhan pelarut.6. Fase gerak sebelum digunakan harus dilakukan deggasing (penghilangan gas) yang ada pada fase gerak.Komponen-komponen penting dari KCKT dapat dilihat pada Diagram Blok KCKT berikut ini: 2. Wadah ini biasanya dapat menampung fase gerak antara 1 sampai 2 liter pelarut. Sebab adanya gas dalam fase gerak akan mengganggu detektor sehingga akan mengacaukan hasil analisis. fase gerak dalam KCKT merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan proses pemisahan. Untuk fase normal (fase diam lebih polar daripada fase gerak). fase gerak dapat berinteraksi dengan solut-solut. Fase Gerak Fase gerak dalam KCKT adalah berupa zat cair dan disebut juga eluen atau pelarut. dan sifat komponen-komponen sampel. Sementara untuk fase terbalik (fase diam kurang polar daripada fase gerak).

Fase gerak yang baik memberikan faktor kapasitas k’ pada rentang yang sesuai. baja tahan karat. Pompa yang digunakan sebaiknya mampu memberikan tekanan sampai 5000 psi dan mampu mengalirkan fase gerak dengan kecepatan alir 3 mL/menit. Zat cair harus murni sekali untuk menghindarkan masuknya kotoran yang dapat mengganggu interpretasi kromatografi. murah. sebaiknya menggunakan fase gerak yang memberikan k’ antara 2-5. pompa yang digunakan harus mampu mengalirkan fase gerak dengan kecepatan 20 mL/menit.o Zat cair harus bertindak sebagai pelarut yang baik untuk cuplikan yang akan o dianalisis. dan batu nilam. o Sesuai dengan detektor. alumina.2 Pompa (pump) Pompa yang cocok digunakan untuk KCKT adalah pompa yang mempunyai syarat sebagaimana syarat wadah pelarut yakni: pompa harus inert terhadap fase gerak. o Zat cair tidak kental. 2. Fase diam yang digunakan seperti silica. Tujuan penggunaan pompa atau sistem penghantaran fase gerak adalah untuk menjamin proses penghantaran fase gerak berlangsung secara tepat. dan tidak beracun. 9 . Bahan yang umum dipakai untuk pompa adalah gelas. Umumnya kekentalan tidak melebihi 0.6. Jenis KCKT berdasarkan kepolaran fase diam dan fase gerak:  KCKT fase normal: KCKT dengan kombinasi antara fase diam polar dan fase gerak non-polar.5 cP (centi Poise). atau asetinitril. teflon. o Zat air harus jernih sekali untuk menghindarkan penyumbatan pada kolom. KCKT fase terbalik: KCKT dengan kombinasi antara fase diam non-polar dan fase gerak polar. Fase gerak yang digunakan seperti air. o Zat cair harus mudah diperoleh. atau trietilenaglikol yang dilapiskan pada partikel silika. Untuk cuplikan dengan 2-3 komponen. Untuk tujuan preparatif. tidak mudah terbakar. metanol. Sedangkan fase gerak  yang digunakan adalah heksana atau i-propil eter.

Pompa ini juga menghasilkan aliran yang cenderung tidak bergantung pada tekanan balik kolom dan viskositas pelarut. Pompa reciprocating Pompa ini terdiri dari ruangan kecil tempat pelarut yang dipompa dengan cara gerakan piston mundur-maju yang dijalankan oleh motor. Ketika piston mundur maka bola gelas bawah terangkat dan pelarut masuk.3 Tempat Injeksi (Injector) Sampel yang akan dimasukkan ke bagian ujung kolom. 2. Sampel yang akan dipisahkan dimasukkan ke dalam kolom secara otomatis atau manual melalui injeksi. Pompa pneumatic Dalam pompa ini pelarut didorong oleh gas bertekanan tinggi. Tipe dasar injektor yang dapat digunakan: 10 . harus dengan disturbansi yang minimum dari material kolom.reprodusibel. Akan tetapi mempunya keterbatasan kapasitas dan tekanan yang dihasilkan (<2000 psi) serta kecepatan alir bergantung pada viskositas pelarut dan tekanan balik kolom. Pompa displacement Pompa ini menyerupai syringe (alat suntik) terdiri dari tabung yang dilengkapi pendorong yang digerakkan oleh motor.6. Piston berupa gelas dan berkontak langsung dengan pelarut. Volume injeksi sangat tepat karena mempunyai sampel loop dengan variabel volume (misalnya 20 – 500 μL). Tiga jenis pompa yang digunakan dalam KCKT: a. c. Tipe pompa dengan aliran fase gerak yang konstan sejauh ini lebih umum dibandingkan dengan tipe pompa dengan tekanan konstan. dan pompa dengan aliran fase gerak yang konstan. b. Ada 2 jenis pompa dalam KCKT yaitu: pompa dengan tekanan konstan. konstan. dan bebas dari gangguan. sebaliknya ketika piston maju maka bola bawah menutup saluran pelarut dan pelarut yang telah berada di ruang pompa didorong masuk ke dalam kolom. Pompa jenis ini murah dan bebas pulsa.

a) Stop-Flow: Aliran dihentikan.4 Kolom (Column) Kolom merupakan bagian KCKT yang mana terdapat fase diam untuk berlangsungnya proses pemisahan solut/analit. Kolom dapat dibagi menjadi dua kelompok. sampel diisi kedalam loop pada kinerja atmosfir. Kolom adalah jantung kromatografi. 10-30 cm. Untuk kemasan pellicular. Dewasa ini ada yang 5 cm. bila VALVE difungsikan.6. Kolom preparatif: Umumnya memiliki diameter 6 mm atau lebih besar dan panjang kolom 25-100 cm. Pada posisi LOAD. Kolom analitik: Diameter dalam 2-6 mm. Berhasil atau gagalnya suatu analisis tergantung pada pemilihan kolom dan kondisi percobaan yang sesuai. yaitu: a. Partikel kecil dari septum yang terkoyak (akibat jarum injektor) dapat menyebabkan penyumbatan. 11 . Tetapi septum ini tidak tahan dengan semua pelarut-pelarut Kromatografi Cair. Injektor ini dapat digunakan pada kinerja sampai 60-70 atmosfir. c) Loop Valve: Tipe injektor ini umumnya digunakan untuk menginjeksi volume lebih besar dari 10 μ dan dilakukan dengan cara automatis (dengan menggunakan adaptor yang sesuai. Teknik ini bisa digunakan karena difusi di dalam cairan kecil clan resolusi tidak dipengaruhi b) Septum: Septum yang digunakan pada KCKT sama dengan yang digunakan pada Kromtografi Gas.syarat injektor yang baik:     Dapat memasukkan sampel ke dalam kolom dalam bentuk sesempit mungkin Mudah digunakan Keberulangan tinggi Dapat bekerja walaupun ada tekanan balik 2. b. panjang yang digunakan adalah 50-100 cm. Syarat. dan aliran dilanjutkan lagi. injeksi dilakukan pada kinerja atmosfir. Untuk kemasan poros mikropartikulat. volume yang lebih kecil dapat diinjeksifan secara manual). Panjang kolom tergantung pada jenis material pengisi kolom. sistem tertutup. maka sampel akan masuk ke dalam kolom.

Permukaan silika adalah polar dan sedikit asam karena adanya residu gugus silanol (Si-OH). Oktil atau rantai alkil yang lebih pendek lagi lebih sesuai untuk solut yang polar. Silika yang tidak dimodifikasi akan memberikan waktu retensi yang bervariasi disebabkan karena adanya kandungan air yang digunakan. Fase Diam Kebanyakan fase diam pada KCKT berupa silika yang dimodifikasi secara kimiawi. dan tidak bersifat selektif. Oktadesil silika (ODS atau C18) merupakan fase diam yang paling banyak digunakan karena mampu memisahkan senyawa-senyawa dengan kepolaran yang rendah. Detektor indeks refraksi juga digunakan secara luas. Exclution Chromatography (EC). seperti detektor indeks bias dan detektor spektrometri massa) dan golongan detektor yang spesifik (hanya akan mendeteksi analit secara spesifik dan selektif. tetapi bisa juga digunakan temperatur lebih tinggi. terutama untuk kromatografi penukar ion dan kromatografi eksklusi.6. Silika dapat dimodifikasi secara kimiawi dengan menggunakan reagen-reagen seperti klorosilan. seperti detektor UV-Vis. Silika-silika aminopropil dan sianopropil (nitril) lebih cocok sebagai pengganti silika yang tidak dimodifikasi.5. silika yang tidak dimodifikasi. Liquid Liquid Chromatography (LLC). detektor fluoresensi.Kolom umumnya dibuat dari stainless steel dan biasanya dioperasikan pada temperatur kamar. Reagen-reagen ini akan bereaksi dengan gugus silanol dan menggantinya dengan gugus-gugus fungsional yang lain. 2. atau polimer-polimer stiren dan divinil benzen. Pengepakan kolom tergantung pada model KCKT yang digunakan (Liquid Solid Chromatography (LSC). Ion Exchange Chromatography (IEC). terutama pada kromatografi eksklusi. dan elektrokimia). sedang. Variabel panjang gelombang dapat digunakan untuk mendeteksi banyak senyawa dengan range yang lebih luas. maupun tinggi. tetapi umumnya kurang sensitif jika 12 . Detektor (Detector) Detektor pada KCKT dikelompokkan menjadi 2 golongan yaitu: detektor universal (mampu mendeteksi zat secara umum. tidak bersifat spesifik. Detektor KCKT yang umum digunakan adalah detektor UV 254 nm.

5% 0C Spektometri massa Elektrokimia 13 . Detektor-detektor lainnya antara lain: -Detektor fluorometer -Detektor spektrofotometer massa -Detektor ionisasi nyala -Detektor refraksi indeks -Detektor elektrokimia -Detektor reaksi kimia Idealnya. suatu detektor harus mempunyai karakteristik sebagai berikut:   Mempunyai respon terhadap solut yang cepat dan reprodusibel Mempunyai sensitifitas yang tinggi. yakni mampu mendeteksi solut pada   kadar yang sangat kecil Stabil dalam pengopersiannya Mempunyai sel volume yang kecil sehingga mampu meminimalkan  pelebaran pita Signal yang dihasilkan berbanding lurus dengan konsentrasi solut pada  kisaran yang luas (kisaran dinamis linier) Tidak peka terhadap perubahan suhu dan kecepatan alir fase gerak Karakteristik detector KCKT: Dasar Pendeteksian Jenis Maksimum Peka terhadap Sensitivitas sensitifitas kecepatan alir suhu Absorbsi UV Spesifik 2 x 10-16 Tidak Rendah Absorbsi IR Spesifik 10-6 Tidak Rendah Flourometri Spesifik 10-11 Tidak Rendah Indek bias Umum 1 x 10-7 Tidak + 10-4 0 C Konduktometri Spesifik 10-8 Ya 2% 0C Umum 10-10 Tidak Tidak ada Spesifik 10-12 Ya 1.dibandingkan dengan detektor UV.

Informasi seperti kelarutan. Informasi ini akan memudahkan para analis untuk memutuskan pemelihan tipe KCKT yang memberikan para analis untuk memutuskan pemilihan tipe KCKT yang memberikan kemungkinan terbaik pada pemisahan yang diinginkan. sampel yang tidak dikenal (unknown) akan menyulitkan pemilihannya tipe KCKT. atau data spektroskopik seperti Nucleic magneticRresonance Spectrosphotometer. harus membuat keputusan tipe yang mana yang harus dipilih yang dapat memberikan informasi yang diinginkan. Namun. Semua data-data ini dapat digunakan sebagai petunjuk bagi analis memilih tipe KCKT yang tepat untuk digunakan. Seleksi tipe KCKT adalah suatu petunjuk umum untuk seleksi tipe KCKT. Infrared Spectrophotometer.2. dan Mass Spectrophotometer. pemberi sampel. gugus fungsi yang ada. Ultra Violet Spectrometer. besarnya berat molekul dapat diperoleh dari pembuat informasi.7 SELEKSI TIPE KCKT Analis (pengguna KCKT) sebelum mengoperasikan KCKT. DAFTAR PUSTAKA 14 .

Fasa geraknya adalah air jika sampelnya larut dalam air. Untuk pekerjaan rutin disarankan menggunakan kromatografi partisi fasa terikat normal karena kolom-kolom ini tidak begitu rumit dalam perawatannya setelah digunakan. Bila kelarutan dipengaruhi oleh penambahan asam atau basa atau bila pH larutan bervariasi lebih dari 2 (dua) satuan pH dari pH 7. Bila kelambatan tidak dipengaruhi oleh asam dan basa dan larutan sampel adalah netral. Bila sampel tidak larut dalam air. pertama yang harus ditentukan adalah apakah sampel dapat larut dalam air. Dari Skema diatas. Fasa diamnya adalah Sephadex atau Bondagel Seri E untuk fasa gerak air dan Styragel atau MicroPak TSK gel untuk rasa gerak organik. bila dapat larut dalam pelarut organik maka digunakan pelarut-pelarut organik sebagai fasa gerak. maka kromatografi partisi fasa terbalik adalah pilihan terbaik. kromatografi partisi atau kromatografi padat cair dianjurkan untuk digunakan. maka kita dapat menggunakan kromatografi eksklusi. Bila BM lebih rendah dari 2000. maka kromatografi penukar ion adalah pilihan utama. 15 . maka kromatografi partisi fasa terbalik atau kromatografi penukar ion dapat digunakan.Dengan berpedoman pada Hukum Dasar "like dissolves like" maka sangat mudah untuk memutuskan tipe KCKT yang akan dipilih. Tipe Eksklusi menggunakan ukuran poros yang kecil dan rasa air dapat juga dicoba. dengan cepat kita dapat melihat bahwa Berat Molekul (BM) lebih besar dari 2000. kromatografi eksklusi sterik dengan fasa gerak organik dapat juga digunakan. Untuk sampel-sampel isomer kromatografi padat cair lebih baik digunakan. Bila sampel dapat larut dalam air. Bila sampel memiliki perbedaan ukuran partikel yang besar.

ionic. maupun zwitter ion. pemisahan senyawa-senyawa dalam jumlah sekelumit (trace elements). 16 . penentuan molekul-molekul netral. dan dalam skala proses industri. pemisahan senyawa-senyawa yang strukturnya hampir sama. anorganik. Oleh karena itu kami mengharapkan adanya kritik dan saran yang positif dan bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini di masa yang akan datang.1 Kesimpulan KCKT merupakan metode yang tidak destruktif dan dapat digunakan baik untuk analisis kualitatif dan kuantitatif.2 Saran Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari yang diharapkan. Kegunaan KCKT adalah untuk: memisahkan sejumlah senyawa organik. analisis senyawa-senyawa tidak mudah menguap (non-volatil). KCKT secara mendasar merupakan sebuah perkembangan tingkat tinggi dari kromatografi kolom. analisis ketidakmurnian (impurities). isolasi dan pemurnian senyawa. 3.BAB III PENUTUP 3. maupun senyawa biologis. dalam jumlah banyak.

Departemen Kesehatan R..J. (1979). Pustaka Pelajar. Basic Liquid Chromatography. (1995).I.. Farmakope Indonesia Edisi IV. S. E. John Wiley & Sons Inc.. Yogyakarta Johnson. John Wiley & Sons. (1979). Ibnu Gholib dan Abdul Rahman. Kimia Farmasi Analisis. Varian.DAFTAR PUSTAKA Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan.Inc. California Lindsay. (2007). New York Snyder. R. NewYork 17 . (1978).L. Chischer. Farmakope Indonesia Edisi III. Chischer. Jakarta Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan. (1992). Departemen Kesehatan R. L. Introduction to Modern Liquid Chromatography Second Edition.I. High Performance Liquid Chrotomagraphy Second Edition. and Steven Son. Jakarta Gandjar.R and Kirkland J.

18 .