You are on page 1of 16

1

BAB I
KONSEP MEDIS

A. Defenisi
Rinosinusitis adalah penyakit inflamasi mukosa yang melapisi hidung dan
sinus paranasal. Peradangan ini sering bermula dari infeksi virus, yang karena
keadaan tertentu berkembang menjadi infeksi bakterial dengan penyebab
bakteri pathogen yang terdapat di saluran napas bagian atas. Penyebab lain
adalah infeksi jamur, infeksi gigi, dan dapat pula terjadi akibat fraktur dan
tumor (Soejipto, 2006)
Rinosinusitis merupakan penyakit peradangan yang menyerang organ sinus
paranasal dan kavitas nasal. Sejak pertengahan tahun 1990, kata sinusitis telah
diganti menjadi istilah rinosinusitis, dimana jarang ditemukan kasus sinusitis
tanpa rhinitis dan juga penyakit rhinitis yang selalu disertai dengan sinusitis.
(Lee, 2008)
B. Etiologi
1. Faktor Host
a. Umur, Jenis Kelamin dan Ras
Rinosinusitis kronik merupakan penyakit yang dapat mengenai semua
kelompok umur, semua jenis kelamin dan semua ras.
b. Riwayat Rinosinusitis Akut
Rinosinusitis akut biasanya didahului oleh adanya infeksi saluran
pernafasan atas seperti batuk dan influenza. Infeksi saluran pernafasan
atas dapat menyebabkan edema pada mukosa hidung, hipersekresi dan
penurunan aktivitas mukosiliar. Rinosinusitis akut yang tidak diobati
secara adekuat akan menyebabkan regenerasi epitel permukaan bersilia
yang tidak lengkap, akibatnya terjadi kegagalan mengeluarkan sekret
sinus dan menciptakan predisposisi infeksi.
c. Infeksi Gigi
Infeksi gigi merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya
rinosinusitis maksila. Hal ini terjadi karena sinus maksila mempunyai

menyebabkan penyempitan pada kompleks osteomeatal dan menggangu clearance mukosilia sehingga memungkinkan terjadinya rinosinusitis. hipertrofi atau paradoksal konka media dan konka bulosa dapat mempengaruhi aliran ostium sinus. yang selanjutnya menghancurkan epitel permukaan. h. Kelainan anatomi hidung Kelainan anatomi seperti septum deviasi. e. Diabetes Mellitus Diabetes mellitus merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya rinosinusitis kronik. Asma Asma merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya rinosinusitis kronik. Kejadian yang berulang terus-menerus dapat menyebabkan rinosinusitis kronis. d. Rinitis Alergi Alergi merupakan suatu penyimpangan reaksi tubuh terhadap paparan bahan asing yang menimbulkan gejala pada orang yang berbakat atopi sedangkan pada kebanyakan orang tidak menimbulkan reaksi apapun. Hal ini disebabkan penderita diabetes mellitus berada dalam kondisi immunocompromised atau turunnya sistem kekebalan tubuh sehingga lebih rentan terkena penyakit infeksi seperti rinosinusitis. hidung tersumbat dan gatal. Kelainan kongenital . Peranan alergi pada rinosinusitis kronik adalah akibat reaksi anti gen anti bodi menimbulkan pembengkakan mukosa sinus dan hipersekresi. Hubungan ini dapat menimbulkan masalah klinis seperti infeksi yang berasal dari gigi dan fistula oroantral dapat naik ke atas dan menimbulkan infeksi sinus maksila. Sebesar 25-30 % penderita asma dapat berkembang menjadi polip hidung sehingga mengganggu aliran mukus. bersinbersin. Mukosa sinus yang membengkak dapat menyumbat ostium sinus dan mengganggu drainase sehingga menyebabkan timbulnya infeksi. Gejalanya berupa hidung beringus.2 hubungan yang sangat dekat dengan akar gigi premolar dan molar atas.39 Rinitis alergi adalah suatu penyakit manifestasi reaksi hipersensitifitas tipe I (Gell & Comb) yang diperantarai oleh IgE dengan mukosa hidung sebagai organ sasaran utama. f. g. bula etmoid yang membesar.

dimana terjadi kekurangan/ketiadaan lengan dynein sehingga menyebabkan terjadinya gangguan pada koordinasi gerakan silia dan disorientasi arah dari denyut silia. Virus penyebab tersering adalah coronavirus. rinosinusitis juga dapat disebabkan oleh virus (Rhinovirus.9-16 Infeksi virus yang menyerang hidung dan sinus paranasal menyebabkan udem mukosa dengan tingkat keparahan yang berbeda. influenza virus. Haemophillus influenza. Bacteroides. parainfluenza virus dan Adenovirus) dan jamur (Aspergillus dan Candida). Hal ini menimbulkan stase mukus yang selanjutnya akan terjadi kolonisasi kuman dan timbul infeksi. Staphylococcus aureus. Gangguan pada transport mukosiliar dan frekuensi denyut silia menyebabkan infeksi kronis yang berulang sehingga terjadi bronkiektasis dan rinosinusitis.3 Kelainan kongenital seperti sindroma kartagener dan fibrosis kistik dapatmengganggu transport mukosiliar (sistem pembersih). Pada fibrosis kistik terjadi perubahan sekresi kelenjar yang menghasilkan mukus yang kental sehingga menyulitkan pembersihan sekret. Fusobacterium dan Basil gram (-). Udara dingin akan memperparah infeksi karena menyebabkan mukosa sinus membengkak. Sindrom kartagener atau sindrom silia immortal merupakan penyakit yang diturunkan secara genetik. Moraxella catarrhalis. rhinovirus. Selain bakteri. Patofisiologi Sebagian besar kasus rinosinusitis disebabkan karena inflamasi akibatdari colds (infeksi virus) dan rhinitis alergi. Faktor Lingkungan Faktor lingkungan yang memengaruhi terjadinya rinosinusitis kronik yaitu polusi udara dan udara dingin. virus . Peptostreptococcus. Apabila berlangsung terus-menerus dapat menyebabkan rinosinusitis kronik. 3. Paparan dari polusi udara dapat mengiritasi saluran hidung. yang kemudian menyebabkan bakteri berkembang di daerah tersebut C. 2. menyebabkan perubahan mukosa dan memperlambat gerakan silia. Hal ini membuat jalannya mukus terhambat dan terjebak di dalam sinus. Streptococcus pyogenes. Faktor Agent Rinosinusitis kronik dapat disebabkan oleh beberapa bakteri patogen seperti Streptococcus pneumonia.

Sekitar 0. sedangkan pada hanya sekitar 5%-10% saja. Apabila obstruksi ostium sinus tidak segera diatasi (obstruksi total) maka dapat terjadi pertumbuhan bakteri sekunder pada mukosa dan cairan sinus paranasal. Dua bakteri yang paling sering dijumpai pada rinosinusitis akut dewasa adalah Streptococcus pneumoniae dan Haemaphilus influenzae. Streptococcus pyogenes (microaero-philic streptococci). Flora bakteri menjadi semakin banyak (polimikrobial) dengan masuknya kuman anaerob.5% dari rinosinusitis virus (RSV) pada dewasa berkembang menjadi rinosinusitis akut bakterial. sedangkan pada anak Branhamella (Moraxella) catarrhalis. infeksi saluran napas atas akut yang disertai komplikasi rinosinusitis akut bakterial tidak lebih dari 13%. dan respiratory syncytial virus (RSV). dan Staphylococcus aureus. lingkungan sinus berubah ke keadaan yang lebih anaerobik. baik secara spontan atau efek dari obat-obat yang diberikan sehingga terjadi kesembuhan. Udem mukosa akan menyebabkan obstruksi ostium sinus sehingga sekresi sinus normal menjadi terjebak (sinus stasis). Selain jenis virus.iU-y-n-15 Bakteri ini kebanyakan ditemukan di saluran napas atas. Tujuh peneliti lain mengatakan. Pada saat respons inflamasi terus berlanjutdan respons bakteri mengambil alih.3 Infeksi menyebabkan 30% mukosa kolumnar bersilia mengalami perubahan metaplastik menjadi mucus secreting goblet .4 influenza A.5% . Infeksi virus influenza A dan RSV biasanya menimbulkan udem berat. Perubahan lingkungan bakteri ini dapat menyebabkan peningkatan organisme yang resisten dan menurunkan efektivitas antibiotik akibat ketidakmampuan antibiotik mencapai sinus. dan umumnya tidak menjadi patogen kecuali bila lingkungan disekitarnya menjadi kondusif untuk pertumbuhannya. keparahan udem mukosa bergantung pada kerentanan individu. Pada keadaan ini ventilasi dan drainase sinus masih mungkin dapat kembali normal.

Nyeri / rasa tekan pada wajah e. sel B dan eosinofil. Gejala dan Tanda Klinis : (Ballenger. Pada pasien rinitis alergi. D.5 cells. Draft . Rangkaian reaksi alergi ini akhirnya membentuk lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan bakteri sekunder seperti halnya pada infeksi virus. Pemeriksaan fisik THT dengan menggunakan nasoendoskopi dan foto polos hidung dan sinus paranasal atau SPN (Busquets JM . Gejala Minor : a. Gejala Mayor : a. Hidung tersumbat b. batuk. Sakit gigi d. Tanda dan gejala Diagnosis ditegakkan bila ditemukan 2 atau lebih gejala mayor atau 1 gejala mayor dan 2 gejala minor. Pada anak. 2000 . 1997 cit Setiadi 2009) 1. halitosis b. 2001) 1. Demam. sehingga efusi sinus makin meningkat. Sakit telinga / nyeri tekan pada telinga / rasa penuh pada telinga. Kelainan penciuman (hiposmia / anosmia) 2. 1995 . Gejala Subjektif a. Sakit kepala d. Berbagai sel ini kemudian melanjutkan respons inflamasi dengan melepaskan lebih banyak mediator kimia yang menyebabkan udem mukosa dan obstruksi ostium sinus. Sekret pada hidung / sekret belakang hidung / PND c. alergen menyebabkan respons inflamasi dengan memicu rangkaian peristiwa yang berefek pelepasan mediator kimia dan mengaktifkan sel inflamasi. iritabilitas c. Stankiewicz. Nyeri . Limfosit Thelper 2 (Th-2) menjadi aktif dan melepaskan sejumlah sitokin yang berefek aktivasi sel mastosit.

hal ini dapat terjadi akibat degenerasi filament terminal nervus olfaktorius. Sakit kepala yang bersumber di sinus akan meningkat jika membungkukkan badan kedepan dan jika badan tibatiba digerakkan.6 Sesuai dengan daerah sinus yang terkena dapat ada atau mungkin tidak. oleh karena itu bukanlah suatu tanda khas dari peradangan atau penyakit pada sinus. Sakit kepala ini akan menetap saat menutup mata. Oleh karena itu ventilasi pada meatus superior hidung terhalang. Keluhan yang lebih sering adalah hilangnya penghindu (anosmia). Penyebabnya belum diketahui dengan pasti. dan akan berkurang atau hilang setelah siang hari. maka biasanya bilateral dan makin berat pada sore hari. Hal ini disebabkan adanya sumbatan pada fisura olfaktorius didaerah konka media. pasien mencium bau yang tidak tercium oleh hidung normal. . Nyeri pada penekanan Nyeri bila disentuh dan nyeri pada penekanan jari mungkin terjadi pada penyakit di sinus-sinus yang berhubungan dengan permukaan wajah d. Nyeri kepala pada sinusitis kronis biasanya terasa pada pagi hari. apeks gigi-gigi depan atas (kecuali gigi insisivus) dipisahkan dari lumen sinus hanya oleh lapisan tipis tulang atau mungkin tanpa tulang hanya oleh mukosa. tetapi mungkin karena pada malam hari terjadi penimbunan ingus dalam rongga hidung dan sinus serta adanya statis vena. Sakit kepala Merupakan tanda yang paling umum dan paling penting pada sinusitis. Gangguan penghindu Indra penghindu dapat disesatkan (parosmia). sehingga menyebabkan hilangnya indra penghindu. Secara anatomi. saat istirahat ataupun saat berada dikamar gelap. karenanya sinusitis maksila sering menimbulkan nyeri hebat pada gigi-gigi ini b. Jika sakit kepala akibat kelelahan dari mata. Pada kasus kronis. Penyebab sakit kepala bermacam-macam. Wolff menyatakan bahwa nyeri kepala yang timbul merupakan akibat adanya kongesti dan udema di ostium sinus dan sekitarnya. c. sedangkan pada penyakit sinus sakit kepala lebih sering unilateral dan meluas kesisi lainnya.

sinus frontal atau sinus etmoid anterior. Pus di meatus medius biasanya merupakan tanda terkenanya sinus maksila. E. dapat terjadi pembengkakan dan udem kulit yang ringan akibat periostitis. indra penghindu dapat kembali normal setelah infeksi hilang. Adanya pus dalam rongga hidung seharusnya sudah menimbulkan kecurigaan adanya suatu peradangan dalam sinus. karena sinus-sinus ini bermuara ke dalam meatus medius. b. Foto rontgen sinus paranasal Pemeriksaan radiologik yang dapat dibuat antara lain: Waters. 2. hanya dapat dipakai untuk pemeriksaan sinus maksila dan sinus frontal. PA dan Lateral. 3. 2. Pembengkakan dan udem Jika sinus yang berbatasan dengan kulit terkena secara akut. Palpasi dengan jari mendapati sensasi seperti pada penebalan ringan atau seperti meraba beludru. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan palpasi turut membantu menemukan nyeri tekan pada daerah sinus yang terkena disamping pemeriksan rinoskopi anterior dan rinoskopi posterior. Sekret nasal Mukosa hidung jarang merupakan pusat fokus peradangan supuratif. Gejala Objektif a. Pemeriksaan Diagnostik/ Penunjang 1. tetapi jika ada infeksi tepi mukosa akan tampak karena udema . Transiluminasi Transluminasi mempuyai manfaat yang terbatas. Tepi mukosa sinus yang sehat tidak tampak pada foto rontgen.7 meskipun pada kebanyakan kasus. sinus-sinuslah yang merupakan pusat fokus peradangan semacam ini. Pemeriksaan radiologi a. bila fasilitas pemeriksaan radiologik tidak tersedia.

Permukaan mukosa yang membengkak dan udema tampak seperti suatu densitas yang paralel dengan dinding sinus. meatus media. etmoid anterior. rongga hidung. Penilaian Gradasi radiologik dari 0-2. CT-Scan (Computer Tomography) sinus paranasal Sinus maksila. b. Sistem ini sangat sederhana untuk digunakan secara rutin dan didasarkan pada skor angka hasil gambaran CT scan. Jika cairan tidak mengisi seluruh rongga sinus. Nasoendoskopi Nasoendoskopi ini akan mempermudah dan memperjelas pemeriksaan karena dapat melihat bagian-bagian rongga hidung yang berhubungan dengan faktor lokal penyebab sinusitis. Lund-MacKay Radiologic Staging System ditentukan dari lokasi Gradasi Radiologik sinus maksila. dan kanalis optikus. lamina kribiformis. Obstruksi anatomi pada komplek osteomeatal dan kelainan-kelainan gigi akan terlihat jelas. juga dapat mengetahui adanya polip atau tumor. . Pada sinusitis dengan komplikasi. Gradasi 1 : Opasifikasi parsial Gradasi 2 : Opasifikasi komplit. CT-Scan adalah cara yang terbaik untuk memperlihatkan sifat dan sumber masalah. CT-Scan koronal dari sinus paling baik untuk pembedahan. konka media dan inferior. septum nasi dan konka terlihat pada penampang CT-Scan aksial dan koronal. komplek osteomeatal. CT-Scan dapat menilai tingkat keparahan inflamasi dengan menggunakan sistem gradasi yaitu staging Lund-Mackay. memberikan visualisasi yang baik tentang anatomi rongga hidung. Pemeriksaan nasoendoskopi dapat melihat adanya kelainan septum nasi. Gradasi 0 : Tidak ada kelainan. rongga-rongga sinus dan struktur-struktur yang mengelilinginya seperti orbita. selalu dapat dilihat adanya batas cairan (air fluid level) pada foto dengan posisi tegak. Pembengkakan permukaan mukosa yang berbatas tegas pada resesus alveolaris antrum maksila biasanya terjadi akibat infeksi yang berasal dari gigi atau daerah periodontal. etmoid posterior dan sinus sphenoid.8 permukaan mukosa. 4.

2. dianjurkan untuk melakukan penatalaksanaan yang sesui dengan kelainan yang ditemukan (Ulusoy. Yang paling sering ialah sinusitis etmoid. Adanya kelainan sinus paranasal disertai denga kelainan paru ini disebut sinobronkitis. jamur. abses otak dan trombosis sinus kavernosus. Penatalaksanaan Jika pada pemeriksaan ditemukan adanya faktor predisposisi seperti deviasi septum. Kelainan Orbita Disebabkan oleh sinus paranasal yang berdekatan dengan mata (orbita). Penyebaran infeksi terjadi melalui tromboflebitis dan perkontinuitatum. kista. Komplikasi yang dapat terjadi ialah: 1. polip. kemudian sinusitis frontal dan maksila. kelainan atau variasi anatomi KOM. . Osteomielitis dan abses subperiostal Paling sering timbul akibat sinusitis frontal dan biasanya ditemukan pada anak-anak.9 F. 2007). Kelainan Intrakranial Dapat berupa meningitis. abses orbita dan selanjutnya dapat terjadi trombosis sinus kavernosus. hipertrofi adenoid pada anak. Selain itu dapat juga timbul asma bronkial G. Kelainan Paru Seperti bronkitis kronis dan brokiektasis. Pada osteomielitis sinus maksila dapat timbul fistula oroantral. selulitis orbita. Komplikasi Kompikasi rinosinusitis telah menurun secara nyata sejak ditemukan antibiotika. 3. gigi penyebab sinusitis. abses ektradural. abses subperiostal. Variasi yang dapat timbul ialah udema palpebra. 4.

diduga kelainan adalah bakterial yang memerlukan pemberian antibiotik dan pengobatan medik lainnya. Jika ada perbaikan antibiotik diteruskan mencukupi 10 – 14 atau lebih jika diperlukan. Antibiotika Meskipun tidak memegang peran penting. antibiotika dapat diberikan sebagai terapi awal. Medikamentosa a.10 Jika tidak ditemukan faktor predisposisi. dapat diberi metronidazole. klindamisin. golongan kuinolon atau yang sesuai dengan kultur. Terapi Medik Tambahan Dekongestan. Jika dengan antibiotika alternatif tidak ada perbaikan. Preparat yang umum adalah pseudoefedrine dan phenyl-propanolamine. Pilihan antibiotika harus mencakup β-laktamase seperti pada terapi sinusitis akut lini ke II. namun efeknya ini sebetulnya tidak fisiologik dan . Jika tidak ada perbaikan dapat dipilih antibiotika alternatif seperti siprofloksasin. Dekongestan topikal mempunyai efek yang lebih cepat terhadap sumbatan hidung. meningkatkan diameter ostium dan meningkatkan ventilasi. 1. Dekongestan oral menstimulasi reseptor αadrenergik dimukosa hidung dengan efek vasokontriksi yang dapat mengurang keluhan sumbatan hidung. makrolid. yaitu amoksisillin klavulanat atau ampisillin sulbaktam. sefalosporin generasi kedua. Dekongestan berperan penting sebagai terapi awal mendampingi antibiotik. Jika diduga ada bakteri anaerob. Karena efek peningkatan tekanan darah tinggi dan penyakit jantung harus dilakukan dengan hati-hati. maka eveluasi kembali apakah ada faktor predisposisi yang belum terdiagnosis dengan pemeriksaan nasoendoskopi maupun CT-Scan. b.

trepanasi sinus frontal. cetirizine.11 pemakaian jangka lama (lebih dari 7 hari) akan menyebabkan rinitis medika mentosa. Meskipun obat semprot ini tidak mencapai komplek osteomeatal. Preparat oral dapat diberikan mendahului yang topikal. Karena antihistamin generasi pertama mempunyai efek antikolinergik yang tinggi. dan Bedah Sinus . Sedangkan kortikosteroid oral dapat mencapai seluruh rongga sinus. Caldwel-Luc. Penggunaannya kortikosteroid topikal meluas pada kelainan alergi dan non-alergi. acrivastine. Penemuannya merupakan perkembangan besar dalam pengobatan rinitis dan sinusitis. yaitu kortikosteroid topikal dan kortikosteroid oral. Antihistamin. Kortikosteroid. Terapi singkat selama dua minggu sudah efektif menghilangkan beberapa keluhan. generasi kedua lebih disukai seperti azelastine. keluhan pasien berkurang karena udema di rongga hidung dan meatus medius hilang. fexofenadine dan loratadine. Beberapa macam tindakan bedah mulai dari antrostomi meatus inferior. ada 2 jenis kortikosteroid. Alergi berperan sebagai penyebab sinusitis kronis pada lebih dari 50% kasus. obat oral dapat membuka sumbatan hidung terlebih dahulu sehingga distribusi obat semprot merata. 2. kortikosteroid topikal mempunyai efek lokal terhadap bersin. karenanya penggunaan antihistamin justru dianjurkan. demikian juga kemungkinan imunoterapi. sekresi lendir. sumbatan hidung dan hipo/anosmia. Penatalaksanaan Operatif Sinusitis kronis yang tidak sembuh dengan pengobatan medik adekuat dan optimal serta adanya kelainan mukosa menetap merupakan indikasi tindakan bedah.

H. sehingga saat operasi kita dapat melihat lebih jelas dan rinci adanya kelainan patologi dirongga-rongga sinus. Bedah sinus konvensional tidak memperlihatkan usaha pemulihan drainase dan ventilasi sinus melalui ostium alami. Prognosis . Bedah Sinus Endoskopi Fungsional (BSEF) merupakan kemajuan pesat dalam bedah sinus. Namun dengan berkembangnya pengetahuan patogenesis sinusitis. Dengan ini ventilasi sinus lancar secara alami. Keuntungan BSEF adalah penggunaan endoskop dengan pencahayaan yang sangat terang.12 Endoskopi Fungsional (BSEF) dapat dilaksanakan. jaringan normal tetap berfungsi dan kelainan didalam sinus maksila dan frontal akan sembuh sendiri. Jenis operasi ini lebih dipilih karena merupakan tindakan konservatif yang lebih efektif dan fungsional. Jaringan patologik yang diangkat tanpa melukai jaringan normal dan ostium sinus yang tersumbat diperlebar. maka berkembang pula modifikasi bedah sinus konvensional misalnya operasi Caldwel-Luc yang hanya mengangkat jaringan patologik dan meninggalkan jaringan normal agar tetap berfungsi dan melakukan antrostomi meatus medius sehingga drainase dapat sembuh kembali.

2. pekerjaan.kepala pusing. 7. 3. 6. Riwayat penyakit dahulu : - Pasien pernah menderita penyakit akut dan perdarahan hidung atau trauma - Pernah mempunyai riwayat penyakit THT - Pernah menedrita sakit gigi geraham 5. Riwayat keluarga Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang lalu yang mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang.umur. Pengkajian 1. Biodata Nama . Riwayat spikososial - Intrapersonal : perasaan yang dirasakan klien (cemas/sedih) - Interpersonal : hubungan dengan orang lain. Pola fungsi kesehatan - Pola persepsi dan tata laksanahidup sehat Untuk mengurangi flu biasanya klien menkonsumsi obat tanpa memperhatikan efek samping. bicara bendeng. badan terasa panas. suku. 4. Riwayat Penyakit sekarang Penderita mengeluah hidung tersumbat. . bangsa. tenggorokan.. alamat. sex. Keluhan utama Biasanya penderita mengeluh nyeri kepala sinus.13 BAB II KONSEP KEPERAWATAN A. pendidikan.

14 - Pola nutrisi dan metabolisme Biasanya nafsumakan klien berkurang karena terjadi gangguan pada hidung - Pola istirahat dan tidur Selama inditasi klien merasa tidak dapat istirahat karena klien sering pilek - Pola Persepsi dan konsep diri Klien sering pilek terus menerus dan berbau menyebabkan konsepdiri menurun - Pola sensorik Daya penciuman klien terganggu karena hidung buntu akibat pilek terus menerus (baik purulen . Cemas berhubungan dengan ancaman terhadap atau perubahan dalam status kesehatan 5. serous. tanda viotal. kesadaran. Pemeriksaan fisik - status kesehatan umum : keadaan umum . Gangguan persepsi sensori penghidu berhubungan dengan Sumbatan pada fisura olfaktorius . 3. rinuskopi (mukosa merah dan bengkak) B. PK: Infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya daya tahan tubuh. mukopurulen). 4. Nyeri sehubungan dengan adanya sumbatan drainase sinus. 8. - Pemeriksaan fisik data focus hidung : nyeri tekan pada sinus. Diagnosa Keperawatan 1. 2. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan mucus berlebih.

tembakau. virus. karsinogen kimia berupa rokok dan cara penggunaannya. trauma yang kronik Memicu terjadinya Karsinogenesis (transformai sel normal menjadi sel kanker) Pertumbuhan sel yang abnormal TUMOR MAKSILLA Menghancurkan sel darah v merah Kematian sel jaringan Daya tahan tubuh Resiko infeksi kecemasan Invasi ke jaringan Perubahan pada penampilan Penyebaran hematogen dan limfogen Gangguan citra tubuh Pertumbuhan jaringan yang abnormal Gangguan proses mastikasi Gangguan mencerna makanan Penekanan pada saraf perifer Preseptor nyeri Nyeri Keterbatasan aktivitas & kelemahan Ketidakseimbangann nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Intoleransi aktivitas .15 Penyimpangan KDM Faktor Host meliputi usia. radiasi ionisasi. jenis kelamin. agen fisik. imunologi. sinar matahari. nutrisi dan genetic Faktor Luar antara lain.

16 DAFTAR PUSTAKA .