You are on page 1of 5

19.

JATI EMAS

TAKSONOMI

Kingdom

Plantae – Plants

Subkingdom

Tracheobionta – Vascular plants

Superdivision

Division

Magnoliophyta – Flowering plants

Class

Magnoliopsida – Dicotyledons

Subclass

Asteridae

Order

Lamiales

Family

Genus

DESKRIPSI

Spermatophyta – Seed plants

Species

Verbenaceae – Verbena family
Tectona L. f. – tectona
Tectona grandis L. f. – teak

Jati adalah sejenis pohon penghasil kayu bermutu tinggi. Pohon besar, berbatang
lurus, dapat tumbuh mencapai tinggi 30-40 m. Berdaun besar, yang luruh di
musim kemarau. Jati dikenal dunia dengan nama teak (bahasa Inggris). Nama ini
berasal dari kata thekku (തതകക) dalam bahasa Malayalam, bahasa di negara
bagian Kerala di India selatan. Nama ilmiah jati adalah Tectona grandisL.f.
Jati dapat tumbuh di daerah dengan curah hujan 1 500 – 2 000 mm/tahun
dansuhu 27 – 36 °C baik di dataran rendah maupun dataran tinggi.[1] Tempat yang
paling baik untuk pertumbuhan jati adalah tanah dengan pH 4.5 – 7 dan tidak
dibanjiri dengan air.[2] Jati memiliki daun berbentuk elips yang lebar dan dapat
mencapai 30 – 60 cm saat dewasa.[1]
Jati memiliki pertumbuhan yang lambat dengan germinasi rendah (biasanya
kurang dari 50%) yang membuat proses propagasi secara alami menjadi sulit
sehingga tidak cukup untuk menutupi permintaan atas kayu jati. [3] Jati biasanya
diproduksi secara konvensional dengan menggunakan biji. Akan tetapi produksi
bibit dengan jumlah besar dalam waktu tertentu menjadi terbatas karena adanya
lapisan luar biji yang keras.[3] Beberapa alternatif telah dilakukan untuk mengatasi
lapisan ini seperti merendam biji dalam air, memanaskan biji dengan api kecil
atau pasir panas, serta menambahkan asam, basa, atau bakteri.[4] Akan tetapi
alternatif tersebut masih belum optimal untuk menghasilkan jati dalam waktu
yang cepat dan jumlah yang banyak.[4]
Umumnya, Jati yang sedang dalam proses pembibitan rentan terhadap beberapa
penyakit antara lain leaf spot disease yang disebabkan oleh

Phomopsis

sp.,Colletotrichum gloeosporioides, Alternaria sp., dan Curvularia sp., leaf rust
yang disebabkan oleh Olivea tectonea, dan powdery mildew yang disebabkan
oleh Uncinula tectonae.[5] Phomopsis sp. merupakan penginfeksi paling banyak,

tercatat 95% bibit terkena infeksi pada tahun 1993-1994.[5] Infeksi tersebut terjadi
pada bibit yang berumur 2 – 8 bulan. [5] Karakterisasi dari infeksi ini adalah
adanya necrosis berwarna coklat muda pada pinggir daun yang kemudian secara
bertahap menyebar ke pelepah, infeksi kemudian menyebar ke bagian atas
daun,petiol, dan ujung batang yang mengakibatkan bagian daun dari batang
tersebut mengalami kekeringan.[5] Jika tidak disadari dan tidak dikontrol, infeksi
dari Phomopsis sp. akan menyebar sampai ke seluruh bibit sehingga proses
penanaman jati tidak bisa dilakukan

KANDUNGAN KIMIA
Secara Farmakologi tanaman ini memiliki potensi sebagai antioksidan dan
mengurangi aktivitas radikal bebas karena memiliki kanfungan senyawa
flavonoid.

KEGUNAAN DAN MANFAAT
Kayu jati mengandung semacam minyak dan endapan di dalam sel-sel kayunya,
sehingga dapat awet digunakan di tempat terbuka meski tanpa divernis; apalagi
bila dipakai di bawah naungan atap.
Jati sejak lama digunakan sebagai bahan baku pembuatan kapal laut, termasuk
kapal-kapal VOC yang melayari samudera pada abad ke-17. Juga dalam
konstruksi berat seperti jembatan dan bantalan rel.
Di dalam rumah, selain dimanfaatkan sebagai bahan baku furniture kayu jati
digunakan pula dalam struktur bangunan. Rumah-rumah tradisional Jawa, seperti
rumah joglo Jawa Tengah, menggunakan kayu jati di hampir semua bagiannya:
tiang-tiang, rangka atap, hingga ke dinding-dinding berukir.
Dalam industri kayu sekarang, jati diolah menjadi venir (veneer) untuk melapisi
wajah kayu lapis mahal; serta dijadikan keping-keping parket (parquet) penutup

lantai. Selain itu juga diekspor ke mancanegara dalam bentuk furniture luarrumah.
Ranting-ranting jati yang tak lagi dapat dimanfaatkan untuk mebel, dimanfaatkan
sebagai kayu bakar kelas satu. Kayu jati menghasilkan panas yang tinggi,
sehingga dulu digunakan sebagai bahan bakar lokomotif uap.
Sebagian besar kebutuhan kayu jati dunia dipasok oleh Indonesia dan Myanmar.

DAERAH
Di Indonesia, selain di Jawa dan Muna, jati juga dikembangkan di Bali dan Nusa
Tenggara.