You are on page 1of 6

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXIV HFI Jateng & DIY, Semarang 10 April 2010

hal. 317-322

317

OPTIMASI
SUHU
PEMBAKARAN
BATUBATA MERAH DENGAN
PENAMBAHAN LIMBAH BATUBARA
UNTUK MENINGKATKAN
KUALITAS BATUBATA MERAH
Ike Mardiyati, Harjana
Jurusan Fisika FMIPA Universitas Sebelas Maret Surakarta
keke_yuto@yahoo.com

INTISARI
Telah dilakukan penelitian optimasi suhu pembakaran batubata merah dengan penambahan limbah batubara untuk
meningkatkan kualitas batubata merah. Limbah batubara yang hanya menjadi permasalahan lingkungan dalam penelitian ini
dimanfaatkan untuk pembuatan batubata merah. Batubata merah yang dihasilkan dapat meningkatkan kualitas batubata merah
biasa. Penelitian dilakukan dengan mencampur limbah batubara (40%) ke campuran lempung dan sekam (60%). Pada penelitian
ini suhu pembakaran yang digunakan sebagai berikut:: 5000C, 6000C, 7000C, 8000C, 9000C, dan 10000C. Masing-masing dengan
kecepatan 135 0C/jam dan suhu penahan selama 3 jam. Hasil penelitian memperlihatkan bata merah mempunyai nilai susut
kering (13±2)%. Bata merah kering ini mempunyai warna putih pucat seperti batako, berporositas, tekstur halus, dan tidak ada
retakan. Pada suhu pembakaran tertinggi didapatkan hasil yang paling baik, terlihat dari tampakan bata yang berwarna merah
bata, tidak ada lengkungan, tidak ada retakan dan berporositas. Pada suhu ini bata memiliki nilai kerapatan terbesar yaitu (2.0 ±
0.3)10-3 kg/m3 dan nilai kekerasan terbesar yaitu ( 0.028 ± 0.009 ) J. Susut bakar diperoleh nilai (30 ± 3 )%. Hasil yang diperoleh
setelah pembakaran menunjukkan nilai susut bakar semakin tinggi untuk nilai suhu pembakaran yang semakin tinggi. Nilai
kerapatan menunjukkan nilai yang semakin besar untuk suhu pembakaran yang semakin besar pula. Hasil penelitian untuk
kekerasan menunjukkan hasil yang sama, yaitu semakin besar suhu pembakaran maka semakin besar pula kekerasannya. Secara
keseluruhan bahan-bahan uji tidak mengalami retakan, tidak terjadi lengkungan dan berpenyiku.
Kata Kunci : limbah batubara, uji kekerasan, dan pembakaran.

I.

PENDAHULUAN

Lempung biasanya digunakan sebagai bahan pembuatan batubata merah untuk pembangunan
gedung. Karena sumber daya tanah liat yang digunakan terus menerus maka, tanah liat akan
mengalami penurunan dan tanah berkualitas tidak lagi tersedia dengan mudah dan murah, oleh
karenanya dilihat potensi sumber lain. Yang mana produk baru ini harus sama bagusnya dengan
produk lama. Fly ash adalah material tanah kerikil yang tersedia dalam jumlah besar dan menjadi
masalah lingkungan.(Warrier, 2008)
Fly ash digunakan di US untuk pembuatan Green Building Council’s LEED sebagai pusat industri
material daur ulang. Percampuran fly ash digunakan sebagai campuran material yang didaur ulang
untuk bangunan gedung dan merupakan metode yang menguntungkan untuk mengurangi CO2. (Barth,
2009). Penelitian lain menunjukkan bahwa pembakaran batubata merah berbahan fly ash pada suhu
8000C – 10000C yang ditambahkan limbah sebesar 5 % dan kemudian dibandingkan dengan batubata
merah biasa tanpa campuran. Penelitian ini menghasilkan bahwa, bata merah dengan campuran fly ash
mempunyai density rendah dan lebih tahan terhadap garam. Telah dihasilkan bahwa campuran fly ash
pada pembuatan bata merah dapat digunakan dan dapat menyelesaikan masalah
lingkungan.(Sebastián, 2008). Masalah lain tentang lingkungan antara lain limbah batubara.
Limbah batubara merupakan limbah yang dihasilkan dari pembakaran batubara dengan mesin
ketel uap atau boiler untuk diambil energinya. Debu batubara yang dihasilkan oleh industri hanya
ditimbun atau digunakan untuk menimbun lahan yang berlubang, dan hal ini bahkan tidak
dimanfaatkan sama sekali. Hal ini menyebabkan debu itu berterbangan pada saat angin bertiup. Begitu
pula pada saat musim penghujan tiba, debu itu ikut hanyut bersama air hujan menuju sungai atau laut
terdekat. Hal ini bila terus berlarut akan menyebabkan pendangkalan air sungai dan laut. Kalau selama
waktu yang lama terus terjadi maka pada musim penghujan akan terjadi banjir. Jika pada musim
kemarau debu itu berterbangan maka dapat menyebabkan polusi udara dan bisa masuk ke mata.
Limbah batubara merupakan limbah industri yang berasal dari sisa pembakaran batubara dan
mineral ini hanya menjadi permasalahan lingkungan. Limbah batubara sampai sekarang pemanfaatan
yang paling mungkin adalah sebagai penyetabil tanah untuk struktur kontruksi bangunan
(Mallikarjuna, 2008). Karena limbah ash merupakan partikel yang halus, dicoba untuk dimanfaatkan
sebagai mineral fille yang umum digunakan pada campuran batubata merah. Dalam satu hari PT Sari
Warna Asli II dapat menghabiskan lebih dari 8 ton batubara, sedangkan limbah yang dihasilkan dan
sisa pembakaran batubara tersebut tidak dimanfaatkan sampai sekarang.(Mardiyati, 2009)
Banyak penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa bahwa limbah batubara merupakan
limbah yang tidak beracun. Baik pada penelitian yang di lakukan peneliti dalam negeri maupun luar
ISSN: 0853 - 0823

Variasi suhu yang digunakan 500ºC. Proses pembuatannya lempung dan sekam dicampur dan diulet sampai merata dengan komposisi 95% : 5%. Hal ini dilakukan agar proses penguapan air tidak terjadi terlalu cepat sehingga dapat menyebabkan benda uji melengkung atau retak. 900ºC. Menggunakan kecepatan 135/jam dan penahanan suhu 3 jam. dkk/ Optimasi Suhu Pembakaran Batubata Merah Dengan Penambahan Limbah Batubara Untuk Meningkatkan Kualitas Batubata Merah negeri. 7000C. dan 1000oC. HASIL DAN PEMBAHASAN III. 8000C. Pengujian yang dilakukan mencakup uji sebelum pembakaran dan uji setelah pembakaran. kerapatan. II. Bata merah sebelum di bakar ISSN: 0853 . 600ºC. Limbah batubara ini tidak dikategorikan sebagai limbah beracun (Trihadiningrum. sekam padi dan limbah batubara. Suhu pembakaran yang digunakan adalah : 5000C. Penampakan Luar Saat Kering Proses pengeringan dilakukan setelah bahan dicetak. pembuatan benda uji. 6000C. Perbedaan warna dengan batubata kering normal dimungkinkan karena limbah batubata mengandung lebih banyak senyawa karbon sehingga membuat warnanya berubah. Penampakan benda uji pada saat basah berwarna ungu kehitaman. telah didapat nilai komposisi dari percampuran debu batubara sebesar 40% agar didapat peningkatan kualitas batubata yang lebih baik (Daniel. 700ºC. terlihat warna benda uji putih keabuabuan mirip dengan warna batako. Berikut adalah contoh gambar dari bata : Gambar 1. Kesemua bahan diatas disaring agar didapat butiran yang halus. Metode penelitian dilakukan melalui tahapan-tahapan antara lain sebagai berikut: persiapan bahan. uji sebelum pembakaran yang meliputi : tampakan luar bata pada saat kering dan nilai susut keringnya. proses pembakaran. III. cetakan. Permasalahan muncul karena pada kedua penelitian di atas tidak ada yang meninjau tentang optimasi suhu yang digunakan.0823 . Pengeringan dilakukan di luar ruang dengan tidak terkena sinar matahari secara langsung. Lempung yang digunakan berasal dari sekitar daerah Boyolali. Sekam berasal dari tempat penggilingan padi di daerah Banyudono. 9000C. 1996). uji setelah pembakaran yang meliputi : uji susut bakar.318 Ike Mardiyati. Pembakaran campuran bata merah menggunakan furnace pada suhu yang bervariasi. Penelitian tentang limbah batubara juga telah dilakukan di Indonesia dan juga telah menemukan konsentrasi percampuran debu batubara pada pembuatan batubata merah adalah 40% (Muhardi dkk. Kemudian campuran lempung sekam tersebut dicampur lagi dengan limbah batubara dengan komposisi 60% : 40%. 2007). Secara keseluruhan dari pengamatan terlihat benda uji saat kering memiliki tekstur halus. berpenyiku tidak terjadi lengkungan dan retakan. Sedangkan limbah batubara didapatkan dari PT Sari Warna Asli II dengan mengambil secara acak di tempat pembuangan limbah. percampuran bahan. dan izod impact tester. Perbedaan tingkat kecepatan terikatnya partikel-partikel pada luasan sempel uji menyebabkan ada bagian yang telah merapat dan ada bagian yang belum. 1995). neraca. Tujuan dari penelitian ini adalah menemukan optimasi suhu pembakaran yang tepat sehingga dihasilkan kualitas batubata merah yang lebih baik. Dari penelitian yang telah dilakukan. Dalam penelitiannya Henry Liu menyebutnya dengan sebutan sebagai greenestbrick. METODE PENELITIAN Bahan mentah yang digunakan pada penelitian ini adalah lempung. dan kekerasan. streng prees. dan 10000C. furnace. 800ºC. Peneliti oleh Henry Liu mengatakan bahwa limbah ini sangat cocok untuk pembuatan bata merah. Alat yang digunakan antara lain jangka sorong. Untuk penampakan sempel uji setelah proses pengeringan.1. Oleh karenanya dilakukan peenelitian tentang optimasi suhu pembakaran.

dkk/ Optimasi Suhu Pembakaran Batubata Merah Dengan Penambahan Limbah Batubara Untuk Meningkatkan Kualitas Batubata Merah 319 III. sehingga walaupun susut keringnya lebih besar dari pada 10% hal tersebut tidak berpengaruh buruk pada sempel uji. Warna merah pada sempel uji ini menunjukkan bahwa lempung mengadung senyawa besi berupa hematit (Fe2 O3. Menurut Suwardono (2002). sedangkan untuk suhu yang semakin tinggi warnanya semakin mirip dengan warna merah bata. karena adanya penguapan air pada saat proses pengeringan. Dari perhitungan diperoleh hasil susut kering (Sk) rata-rata adalah (13 ± 2 )%.5% akan tetapi ini untuk bata yang berbahan lempung.4) cm dan panjang benda uji rata-rata setelah dikeringkan (p’) adalah (7. Bata merah yang dibakar dimulai sebelah kiri bersuhu 5000C ke kanan samapai suhu 10000C Dari hasi pengamatan diperoleh untuk semua variasi suhu pembakaran pada sempel uji tidak adanya retakan. Panjang benda uji rata setelah dicetak (p) adalah ( 8. Air yang terkandung sempel uji menguap sehingga partikel-partikel bata merah menjadi lebih rapat. Pada suhu 10000C warna sempel uji adalah merah bata.3. 2007).0 ± 0. Penyusutan pada saat proses pengeringan sangat berpengaruh pada kualitas keramik yang dihasilkan.0823 .Ike Mardiyati.3) cm. III.4. susut kering tidak boleh terlalu besar yaitu tidak boleh lebih dari 10%. Dari hasil penelitian diperoleh nilai susut bakar untuk semua benda uji lebih besar dari 10%. nilai yang baik untuk susut bakar adalah kurang dari 2. Untuk bata pada penelitian ini terdapat campuran fly ash yang teksturnya seperti pasir.0 ± 0. Keadaan tersebut berlaku untuk bahan bata yang terbuat dari lempung.2. Pada sempel uji setelah proses pengeringanpun tidak terdapat retakan-retakan. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai susut kering dari benda uji diperoleh >10% akan tetapi hal tesebut tidak membawa pangaruh buruk pada sempal uji. Warna benda uji berbeda-beda berdasarkan suhunya. Untuk suhu benda yang rendah 5000C warna sempel uji setelah dibakar terlihat merah pucat. III. Susut Kering Selama proses pengeringan terjadi penyusutan. dan tidak terdapat lengkungan. Hubungan antara suhu pembakaran dan susut bakar dapat dilihat pada grafik 3 di bawah ini : ISSN: 0853 . Berikut adalah gambar bata merah setelah dibakar : Gambar 2.) yang menyebabkan warna merah setelah dibakar (Muhardi dkk. tidak mengkilap. Susut Bakar Proses pembakaran dilakukan dengan membakar benda uji di dalam furnace. karena penyusutan yang terlalu besar dapat menyebabkan lengkungan dan retakan. Penampakan Luar Setelah Dibakar Warna benda uji setelah proses pembakaran terlihat pebedaan warna yang mencolok. sebab lempung yang susut keringnya lebih dari 10% akan menimbulkan retak-retak pada produk selama prose pengeringan. permukaan halus. Menurut Suwardono (2002).

8 1000 1. ISSN: 0853 . sehingga partikel-partikel lempung mengisi tempat-tempat yang ditinggalkan. Grafik hubungan antara suhu pembakara dan kerapatan Dari hasil penelitian terlihat bahwa kerapatan benda uji setelah pembakaran cenderung mengalami peningkatan. akibat proses penguapan saat pembakaran. Pada proses pembakaran akan terjadi proses penguapan yang diikuti proses pemadatan bahan. Untuk nilai susut bakar (Sb) pada suhu 1000 0C nilai berbeda drastis dengan sempel uji lain hal ini mungkin karena pada pembuatan sempel uji 1000 0C bahan uji di buat dari bahan yang baru lagi sehingga hal ini mempengaruhi nilai penyusutannya.320 Ike Mardiyati. 2000) Hubungan antara susut bakar dan kerapatan dapat dilihat pada Gambar 5. seiring dengan semakin besarnya suhu pembakaran. Hubungan antara suhu pembakaran dan kerapatan diperlihatkan pada grafik 4 : Kerapatan (gr/cm3) 2.4 2.4 400 500 600 700 800 900 1000 1100 Suhu Pembakaran (C) Gambar 4. Grafik hubungan antara suhu pembakaran dan susut bakar Dari grafik diatas menunjukkan bahwa semakin besar suhu pembakaran yang dikenakan pada sempel uji maka semakin besar pula susut bakar yang diperoleh. Hal ini dikarenakan panyusutan yang terjadi semakin besar.6 1. Kerapatan Kerapatan bahan ditentukan oleh besarnya partikel.2 500 600 2 700 800 900 1. (Young dan freedman.0823 .5. III. banyaknya pori-pori dan suhu pembakaran. Hal ini karena densitas benda dipengaruhi oleh faktor lingkungan yaitu suhu dan tekanan. Saat suhu pembakaran semakin besar maka proses pemadatan semakin lama akan semakinbesar. dkk/ Optimasi Suhu Pembakaran Batubata Merah Dengan Penambahan Limbah Batubara Untuk Meningkatkan Kualitas Batubata Merah Gambar 3.

9 1. Hal ini dikarenakan semakin besar susut bakar dari benda uji. Suhu pembakaran 10000C didapatkan hasil yang paling baik. yang mana nilai kerapatan sempel uji berbanding lurus dengan suhunya. semakin besar pula penyusutannya sehingga partikel-partikel benda uji semakin rapat sebab pori-pori yang dimiliki semakin sedikit. semakin besar pula kerapatannya.3 )x10-3 kg/m3 dan nilai kekerasan terbesar yaitu (0.6.5 14 18 22 26 30 34 Susut Bakar (% ) Gambar 5 : Grafik hubungan antara susut bakar dan kerapatan Grafik diatas menunjukkan bahwa semakin besar susut bahan uji. tidak ada retakan dan berporositas. Kekerasan Uji kekerasan dilakukan dengan mengukur reaksi pukulan izod impact tester terhadap sempel uji. KESIMPULAN Penampakan luar setelah proses cetak sangat mirip dengan batako akan tetapi benda uji pada waktu kering ini akan langsung pecah saat dimasukkan ke dalam air. Hubungan suhu pembakaran dengan energi untuk memecal sempel uji. Pada suhu ini bata memiliki nilai kerapatan terbesar yaitu (2 ± 0. terlihat dari tampakan bata yang merah bata.029 Gambar 6.7 1. Dari grafik didapat nilai kekerasan berbanding lurus dengan kenaikan suhunya.025 0.5 2.009) J.1 1.028 ± 0. ISSN: 0853 . Hasil percobaan dan perhitungan yang dilakukan diperoleh bahwa nilai kekerasan paling tinggi adalah saat sempel uji dibakar pada suhu 10000C. Hal ini dapat dilihat pada hasil analisa untuk nilai kerapatanya.027 0.3 500 600 700 800 900 1000 2.Ike Mardiyati. III. 1200 Suhu Pembakaran (C) 1000 600 800 700 600 800 400 900 1000 200 0 0. Bahan uji tidak mengalami retakan maupun lengkungan dan benda uji juga berpenyiku atau berporositas.026 0. dkk/ Optimasi Suhu Pembakaran Batubata Merah Dengan Penambahan Limbah Batubara Untuk Meningkatkan Kualitas Batubata Merah 321 Kerapatan (gr/cm3) 2.0823 . Susut bakar diperoleh nilai (30 ± 3 )% yang nilai paling besar diantara suhu pembakaran yang lain. tidak ada lengkungan. Nilai susut kering yang diperoleh adalah (13 ± 2) %. Hubungan antara suhu pembakaran dan energi untuk memecah sempel dapat dilihat pada Gambar 6. IV. Hal ini karena partikel-partikel benda uji semakin rapat saat dibakar dengan suhu yang semakin tinggi pula.028 Energi (J) 0.

Influence of Fly Ash on Compaction Characteristics of Expansive Soils Using 22 Factorial Experimentation. Kajian Status Limbah Abu Batu Bara Sebagai Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.G.. 13.: Universitas Riau. 2008. Volume 7 No. 2000. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mangucapkan banyak terima kasih kepada Biro Kemahasiswaan Universitas Sebelas Maret Surakarta sesuai SK nomor 224/H27/KM/2009 tanggal 8 April 2009 yang telah berkenan memberikan dana guna penelitian ini. Yrama Widya. pp: 165 – 179.. 18002 Granada: Spain. Fly Ash as a "Hazardous Waste". F Mardiyati. VI. 2006. Faculty of Science.. Granada University. Bund. 2009. Perbaikan Karakteristik Batubata Lempung dengan Penambahan Abu Batubara. Jakarta: Erlangga pp 424 Trihadiningrum Yulinah..: India. 2007. Penggunaan Batubara Sebagai Bahan Bakar Masin Boiler Di PT Sari Warna Aali II Boyolali. ike. Iilinois coal : ICCI vol : 5 pp13-18 Mallikarjuna K Rao. 2008. Bric Manufacture with flyash. dkk/ Optimasi Suhu Pembakaran Batubata Merah Dengan Penambahan Limbah Batubara Untuk Meningkatkan Kualitas Batubata Merah V. American Concrete Institute : Washington DC pp : 888 Daniel B Banerjoe.. Institute Teknologi Bandung : Surabaya pp : 45 Warrier K. Reni Suryanita. Avda.: Bandung pp : 165-170 Young H D and Freedman R. 2009. 2.. Fuentenueva s/n. CV.0823 . Tehnik Sipil.1995. Rama Subba Rao. mengenal keramik hias.322 Ike Mardiyati. National Institute for Interdisciplinary Science & Technology. Council of Scientific and Industrial Research (CSIR). Alsaidi. Trivandrum : New Delhi pp:17 ISSN: 0853 .K. Fly ash addition in clayey materials to improve the quality of solid bricks. Vol.. Fisika Universitas/ Edsi 10/ Jilid 1. Sebastián Eduardo. Fly Ash As An Alternate Resource Material For Building Components Throught Fluk Bonding Technology. Department of Mineralogy and Petrology. Jurusan Fisika FMIPA : UNS pp : 66 Muhardi.2002. 2008. DAFTAR PUSTAKA Barth Florian G. Construction and Building Materials 23 (2009) 11781184 Suwardono.