You are on page 1of 30

Laporan Praktikum

ANALISA DYESTUFF

Disusun Oleh:

Afifah

(130101002)

Ester Marnita Purba

(130101029)

Febry Kurnia Ramadhani

(130101032)

Gayuh Adi Wirawan

(130101034)

Kelompok IV
Teknologi Bahan Kulit

KEMENTRIAN PERINDUSTRIAN RI
POLITEKNIK ATK
YOGYAKARTA
2015

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ............................................................................................ i
DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
A. Tujuan Praktikum ............................................................................................ 1
B. Dasar Teori ...................................................................................................... 1
1.

Warna ........................................................................................................ 1

2.

Jenis Cat .................................................................................................... 3

3.

Air Sadah .................................................................................................. 6

4.

Kadar Air .................................................................................................. 8

C. Alat dan Bahan............................................................................................... 10
D. Cara Kerja ...................................................................................................... 12
E. Data Pengamatan ........................................................................................... 15
F.

Perhitungan .................................................................................................... 18

G. Pembahasan ................................................................................................... 20
H. Kesimpulan .................................................................................................... 26
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

ii

PRAKTIKUM VI
ANALISA DYESTUFF

A. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini antara lain:
1. Untuk mengetahui ketahanan cat dasar terhadap ph asam dan basa
2. Mengetahui homogenitas dyestuff dan juga nilai ph dari cat yang
digunakan.
3. Mengetahui jumlah kadar air yang terkandung dalam cat yang digunakan
pada proses penyamakan kulit batting glove.
4. Mengetahui kelarutan cat dalam air suling serta ketahanan cat terhadap air
sadah.

B. Dasar Teori
1.

Warna
Warna adalah merupakan sensasi yang ditangkap oleh mata
ketika melihat cahaya tertentu. Cahaya putih campuran dari gelombang
elektromagnetik dengan panjang gelombang antara 4000-10 m -7000-10 m.
Jika cahaya dilewatkan dalam prisma gelas,maka cahaya itu akan
terpecah menjadi gelombang cahaya yang berbeda yang memberikan
berkas warna,spektrum warna secara sederhana adalah 4000-10 m
Violet,4500-10 m Biru,5700-10 m Hijau,5700-10 m Kuning,6000.

-10

m

Orange,7000-10 m Merah.
Cahaya-cahaya berwarna itu dicampur kombinasi dalam keadaan
yang sama satu sama rata akan menjadi warna putih. Jika pembagiannya
tidak standar warna yang dihasilkan juga tidak standar. Dengan demikian
biasnya filamen wolfram cahaya listrik yang tinggi adalah warna merah
dan terendah adalah warna biru dan yang seimbang adalah kekuningan.
Cahaya lampu merkuri memberi bagian yang tinggi pada cahaya biru.
Warna yang cocok dari obyek ditunjukan oleh penampakannya
saja,ketika dipancarkan oleh cahaya putih yang standar. Harus
1

diperhatikan bahwa kenampakan cahaya putih tidak dikotori oleh
pantulan cahaya yang berwarna dari sekitar obyek.
Hampir semua warna dapat diperoleh dengan cara mencampurkan
tiga jenis zat warna. Prinsip yang digunakan dalam pedoman untuk
pencampuran warna dikenal sebagai lingkaran warna atau bisa juga
disebut segitiga warna. Dalam pewarnaan kulit ada beberapa metode
antara lain: pewarnaan tunggal (warna muda dan warna tua), pewarnaan
campuran (Matching colour),sandwich dan topping.
Dari sekian banyak cat dasar yang paling banyak digunakan untuk
mewarnai adalah cat asam, cat direct, dan cat metal kompleks.
Karakteristik cat dasar dipengaruhi struktur molekul internal yang
berbeda dan faktor external terutama oleh:
a. Temperature
Naik turunnya temperature larutan akan menyebabkan
terjadinya perubahan pada secondary valency forse dan ionic forse.
Seperti kita ketahui struktur molekul dyes merupakan garam atau
asam yang berikatan melalui ikatan ionic sehingga akan mudah
mengalami ionisasi dalam larutan. Demikan pula struktur molekul
dyes banyak yang bersifat polar ( COOH, OH, SO3Na dll ) sehingga
dapat membentuk secondary force
b. Konsentrasi
Konsentrasi tinggi berhubungan dengan penggunaan jumlah
air dalam proses. Semakin banyak prosentase air yang digunakan
maka konsentrasi akan semakin rendah begitu juga sebaliknya. Pada
saat konsentrasi meningkat menyebabkan molekul dyes semakin
mendekat akibatnya secondary valence force antar molekul
meningkat, sehingga :
1) Molekul mengalami pembesaran
2) Proses ionisasi akan terganggu akibatnya reaktivitas terhadap
kulit akan menurun
3) Penetrasi dalam kulit meningkat

2

4) Aksi mekanik flexing dan sequeezing meningkat, defusi tinggi
c. pH larutan
pH merupakan factor eksternal yang paling berpengaruh. pH
merupakan factor fungsional terikatnya dyes pada serat kulit.
Penurunan pH larutan dyes ( sebagai garam Na ) akan menyebabkan
proses disosiasi berjalan lebih cepat karena terbentuknya garam baru
dari sisa asam dan garam Na dan membentuk molekul dyes dengan
muatan negative yang segera berikatan ionic dengan serat kulit yang
bermuatan positif. Apabila terjadi penurunan pH akan menyebabkan:
1) meningkatkan afinitas dyes
2) menurunnya penetrasi atau difusi dyes.
Dan apabila terjadi kenaikan pH akan mengakibatkan :
1) menurunnya afinitas dyes
2) meningkatnya kemampuan penetrasi/ difusi
d. TIE ( IP )
Titik iso elektrik atau iso elektrik point merupakan nilai pH
dimana terjadi keseimbangan muatan positif dan negative pada kulit.
Ketika TIE selalu berubah – ubah tergantung zat penyamak yang
digunakan akibatnya kulit akan selalu berubah TIE nya tergantung
zat penyamak yang digunakan.

2.

Jenis Cat
a. Cat direct
Cat direct atau cat katun atau substantive dyestuf, disebut
demikian karena mereka dapat langsung memberi warna pada katun
(tanpa pengolahan pendahuluan dengan zat warna). Umumnya
mereka mempunyai molekul yang besar. Pada dasarnya mereka
dibuat dengan cara yang serupa cat asam dengan group sulphonic
untuk memberikan kelarutan pada air. Namun molekul tersebut juga
disusun dengan potensial valensi sekunder yang banyak dan derajat
sulfonasi

yang

minimum

3

serta

mempunyai

kekuatan

berikatan.Ungkapan sesungguhnya menunjukan pada kemampuan
cat untuk berikatan pada aksi yang mengandung group yang tidak
bermuatan dan dari sini dapat menunjukan ikatan valensi misalnya
ikatan hidrogen atau ikatan kutub. Ungkapan cat asam sesungguhnya
menunjukan perkiraan ikatan yang sama oleh kekuatan ini dan
kekuatan ionik. Mereka digunakan dalam ketelitian yang sama
dengan cat asam. Keistimewaan pada kulit samak krom, mereka
dapat memberikan kekuatan warna dengan penetrasi yang kecil
(jumlah cat yang sedikit memberikan kekuatan warna) tanpa
pemakaian asam pad pH 4,0-5,0, hal ini dikarenakn kekuatan tenaga
valensi sekunder pada serat kulit yang disamak dengan krom.
Mereka mempunyai kesamaan sifat dengan kulit-kulit samak
zirconium dan alumunium.
Ciri – ciri cat direct :
1) Molekul Besar
2) Penetrasi Kecil
3) Terikat dipermukaan dengan baik, terutama pada samak krome
4) Sensitive terhadap penambahan asam karena membentuk system
koloid.
5) Warna buram
6) Tidak tahan terhadap air sadah
Mengikat secara ionik, sehingga molekul membesar sehingga
mengikat gel. Karena cat direct memiliki molekul besar, maka sangat
mudah terjadi ikatan hidrogen antar molekul, dan memiliki penetrasi
kecil atau rendah sehingga cepat berikatan dengan serat kulit.
Dengan adanya sifat-sifat tersebut di atas cat direct tidak bisa
digunakan untuk topping maupun surface dyeing.
Keuntungan :
1) Harganya relative murah.
2) Mudah larut dala suasana alkali.
Kekurangan :

4

1) Hampir semua cat direct mengandung benzidine
2) Warnanya lebih tampak buram dibandingkan dengan cat asam
(tidak cerah/bright).
3) Sensitive terhadap perubaan pH terutama dalam suasana asam
(membentuk sistem koloid).
4) Fastness cahaya rendah
5) Tidak tahan terhadap air sadah.
6) Tidak efektif dengan fatliquor
b. Cat Asam
Cat ini cenderung mengendap atau berikatan dengan koloid
kationik yang punya sebuah muatan positif.Protein kulit dan kulit
jadi yang termasuk dalam golongan ini dibawah kondisi asam yaitu
pada pH dibawah TIE.Akibatnya cat anionic terikat pada kulit
dibawah kondisi asam dibawah kekuatan ionic.Tenaganya sangat
kuat dan reaksi/ikatannya sangat cepat, terutama bila temperaturnya
tinggi. Pengikatan yang sangat cepat dapat berpengaruh pada
ketidakrataan pada proses pengecatan kulit. Cat sudah terikat pada
julit pada saat pertama kali mengalami kontak, sehingga bagian ini
punya warna yang kuat, sedangkan bagian lain tidak terkena cat.Ini
menjadi sangat penting bila mengingikan pengecatan pengecatan
yang tembus pada seluruh ketebalan kulit.Jika pengikatannya cepat,
maka cat yang terikat pada permukaan luar saja sedangkan bagian
dalam kulit tidak berwarna. Dengan pengecekan pH atau keasaman
pada proses pengecatan factor – factor tersebut dapat dikontrol.
Untuk mencapai tingkat pengecatan yang rata biasanya dimulai
dengan kondisi yang tidak asam misalnya dengan menetralkan
kondisi kulit atau ,menambahkan ammonia pada larutan cat, kulit
diputar dalam drum dengan larutan tersebut sampai tercapai
penetrasi yang dikehendaki. Keuntungan cat asam :
a.

Penetrasi lebih baik dibanding cat lain

b.

Ketahanan gosok, cahaya, dan keringat baik

5

c.

Tidak mengendap dengan Hard Water

d.

Tidak menimbulkan Boonzing

c. Cat reaktif
Merupakan kelas cat yang mahal yang memberikan ketahanan
cahaya yang sangat baik, karena cat ini berikatan secara kovalen
dengan protein kulit. Mereka dapat dikelompokan sebagai anion,
ikatanya tidak tergantung pada ikatan anionok. Cat ini digunakan
untuk mengecat kulit pada cairan yang hangat. Pada airnya ditambah
garam agrr terabsorsi dalam serat kulit dan kemudian sodium
karbonat ditambahkan untuk memberikan kondisi alkali pH 8 – 9.
Dibawah kondisi ini klorin dari cat triazinil chloride terpisah untuk
memberikan sodium klorid pada alkali dan ikatan kovalen cat yang
bebas pada kulit. Keistimewaannya digunakan pada glove atau
clothing leather. Ada batasanwarna dan hannya warna pastel yang
dicapai. Ketahanan cahayanya hanya rata – rata. Mereka dapat
digunakan pada perl atau zat warna. Mereka tidak cocok untuk kulit
samak nabati dan cocok utuk kulit samak aldehide.

3.

Air Sadah
Air sadah adalah air dengan kandungan mineral-mineral tertentu di
dalam air, umumnya ion kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) dalam
bentuk garam karbonat. Air sadah atau air keras adalah air yang memiliki
kadar mineral yang tinggi, sedangkan air lunak adalah air dengan kadar
mineral yang rendah.
Selain ion kalsium dan magnesium, penyebab kesadahan juga bisa
berupa ion logam lain atau garam-garam bikarbonat dan sulfat. Metode
yang paling sederhana untuk menentukan kesadahan air adalah dengan
sabun.
Kesadahan

merupakan

petunjuk

kemampuan

air

untuk

membentuk busa apabila dicampur dengan sabun. Pada air berkesadahan
rendah, air akan dapat membentuk busa apabila dicampur dengan sabun,

6

sedangkan pada air berkesadahan tinggi tidak akan terbentuk busa.
Penyebab air menjadi sadah adalah karena adanya ion-ion Ca2+, Mg2+.
Atau dapat juga disebabkan karena adanya ion-ion lain dari polyvalent
metal (logam bervalensi banyak) seperti Al, Fe, Mn, Sr dan Zn dalam
bentuk garam sulfat, klorida dan bikarbonat dalam jumlah kecil (O-fish,
2003).
Kesadahan sementara merupakan kesadahan yang mengandung
ion bikarbonat (HCO3-), atau boleh jadi air tersebut mengandung
senyawa kalsium bikarbonat (Ca(HCO3)2) dan atau magnesium
bikarbonat (Mg(HCO3)2). Air yang mengandung ion atau senyawasenyawa tersebut disebut air sadah sementara karena kesadahannya dapat
dihilangkan dengan pemanasan air, sehingga air tersebut terbebas dari
ion Ca2+ dan atau Mg2+. Dengan jalan pemanasan senyawa-senyawa
tersebut akan mengendap pada dasar ketel (Wikipedia, 2011).
Kesadahan tetap adalah kesadahan yang mengadung anion selain
ion bikarbonat, misalnya dapat berupa ion Cl-, NO3- dan SO42-. Berarti
senyawa yang terlarut boleh jadi berupa kalsium klorida (CaCl2), kalsium
nitrat (Ca(NO3)2), kalsium sulfat (CaSO4), magnesium klorida (MgCl2),
magnesium nitrat (Mg(NO3)2), dan magnesium sulfat (MgSO4). Air yang
mengandung senyawa-senyawa tersebut disebut air sadah tetap, karena
kesadahannya tidak bisa dihilangkan hanya dengan cara pemanasan.
Untuk membebaskan air tersebut dari kesadahan, harus dilakukan dengan
cara kimia, yaitu dengan mereaksikan air tersebut dengan zat-zat kimia
tertentu.Kesadahan tetap dapat dikurangi dengan penambahan larutan
soda- kapur (terdiri dari larutan natrium karbonat dan magnesium
hidroksida)

sehingga

terbentuk

endapan

kaslium

karbonat

(padatan/endapan) dan magnesium hidroksida (padatan/endapan) dalam
air.
Kandungan kapur yang terdapat dalam air, agar tidak kurang dan
tidak juga berlebih maka perlu diterapkan standar suatu air dikatakan
sadah atau berlebih kesadahannya. Standar kualitas menetapkan

7

kesadahan total adalah 5-10 derajat Jerman. Apabila kurang dari 5 derajat
Jerman maka air akan terasa lunak dan sebaliknya. Jika dalam air
mengandung lebih dari 10 derajat Jerman maka akan merugikan bagi
manusia.

4.

Kadar Air
Kadar air dalam kulit tersamak adalah jumlah air yang terdapat
didalam kulit tersamak dinyatakan dalam persen berat. Pengukuran kadar
air pada umunya dilakukan dengan menguapkan air yang terkandung.
Kemudian persentase air yang menguap adalah kadar airnya cara uji
kadar air yang biasa dilakukan pada saat ini adalah cara pengeringan
(oven drying) dan cara penyaringan serta penyulingan bersama
(condestilation). Uji kadar air dengan metode pengeringan pada dasarnya
adalah mengusahakan penguapan air dari contoh kulit dengan cara
memberikan energi panas pada suhu ±1000C, kehilangan berat selama
penguapan merupakan berat air yang terdapat didalam contoh kulit.
Kadar air merupakan banyaknya air yang terkandung dalam
bahan baku yang dinyatakan dalam persen. Penentuan kadar air
dilakukan dengan pemanasan 1050C secara terus menerus sampai sampel
bahan beratnya tidak berubah lagi (konstan) (Apriyantono et al.,1989).
Dwijosepputro (1994) juga menyatakan bahwa kadar air
merupakan banyaknya air yang terkandung dalam bahan yang dinyatakan
dalam persen. Penentuan kadar air dapat dilakukan dengan beberapa
metode, salah satunya adalah dengan metode oven biasa (pemanasan
langsung).
Metode oven biasa merupakan salah satu metode pemanasan
langsung dalam penetapan kadar air suatu bahan. Dalam metode ini
bahan dipanaskan pada suhu tertentu sehingga semua air menguap yang
ditunjukkan oleh berat konstan bahan setelah periode pemanasan tertentu.
Kehilangan berat bahan yang terjadi menunjukkan jumlah air yang
terkandung. Metode ini terutama digunakan untuk bahan-bahan yang

8

stabil terhadap pemanasan yang agak tinggi, serta produk yang tidak atau
rendah kandungan sukrosa dan glukosanya seperti tepung-tepungan dan
serealia (AOAC 1984).
Metode ini dilakukan dengan cara pengeringan bahan dalam
oven. Berat sampel yang dihitung setelah dikeluarkan dari oven harus
didapatkan berat konstan, yaitu berat bahan yang tidak akan berkurang
atau tetap setelah dimasukkan dalam oven. Berat sampel setelah konstan
dapat diartikan bahwa air yang terdapat dalam sampel telah menguap dan
yang tersisa hanya padatan dan air yang benar-benar terikat kuat dalam
sampel. Setelah itu dapat dilakukan perhitungan untuk mengetahui persen
kadar air dalam bahan (Crampton 1959).
Secara teknik, metode oven langsung dibagi menjadi dua yaitu,
metode oven temperatur rendah dan metode oven temperatur tinggi.
Metode oven temperatur rendah menggunakan suhu (103 + 2)˚C dengan
periode pengeringan selama ± 1 jam. Periode pengeringan dimulai pada
saat

oven

menunjukkan

temperatur

yang

diinginkan.

Setelah

pengeringan, contoh bahan beserta cawannya disimpan dalam desikator
selama 30-45 menit untuk menyesuaikan suhu media yang digunakan
dengan suhu lingkungan disekitarnya. Setelah itu bahan ditimbang
beserta wadahnya. Selama penimbangan, kelembaban dalam ruang
laboratorium harus kurang dari 70% . Selanjutnya metode oven
temperatur tinggi. Cara kerja metode ini sama dengan metode temperatur
rendah, hanya saja temperatur yang digunakan pada suhu 130-133˚C dan
waktu yang digunakan relatif lebih rendah (Crampton 1959). Metode ini
memiliki beberapa kelemahan, yaitu:
a. Bahan lain disamping air juga ikut menguap dan ikut hilang bersama
dengan uap air misalnya alkohol, asam asetat, minyak atsiri dan lainlain.
b. Dapat terjadi reaksi selama pemanasan yang menghasilkan air atau
zat mudah menguap. Contoh gula mengalami dekomposisi atau
karamelisasi, lemak mengalami oksidasi.

9

c. Bahan yang dapat mengikat air secara kuat sulit melepaskan airnya
meskipun sudah dipanaskan (Soedarmadji 2003).

C. Alat dan Bahan
1.

Pembuatan Larutan Na2CO3
a.

Alat
Neraca analitik, gelas arloji, pengaduk kaca, gelas beker, botol
semprot, labu ukur 100 ml, pipet tetes.

b.

Bahan
Aquades, Na2CO3.

2.

Pembuatan Larutan Asam Sulfat
a.

Alat
Pipet ukur 10 ml, propipet, labu ukur 100 ml, corong kaca.

b.

Bahan
Aquades, Asam sulfat.

3.

Pembuatan Larutan Asam Formiat
a.

Alat
Pipet ukur 10 ml, propipet, labu ukur 100 ml, corong kaca.

b.

Bahan
Aquades, Asam Formiat.

4. Pembutan Larutan Asam Asetat
a.

Alat
Pipet ukur 10 ml, propipet, labu ukur 100 ml, corong kaca.

b.

Bahan
Aquades, Asam Asetat.

5. Pembuatan Larutan Contoh Dyestuff
a. Alat
Neraca analitik, gelas arloji, gelas beker, labu ukur 100 ml, labu ukur
100 ml, botol semprot.
b. Bahan
Cat black TDR
10

6. Pembuatan Larutan Sadah 200D
a. Alat
Neraca analitik, gelas arloji, gelas beker, pengaduk, botol semprot,
labu ukur 100 ml, corong kaca, pipet ukur 10 ml, propipet, labu ukur
1000 ml.
b. Bahan
CaCl2.6H2O, MgSO4, aquades.
7. Pembuatan Larutan Sadah 400D
a.

Alat
Neraca analitik, gelas arloji, gelas beker, pengaduk, botol semprot,
labu ukur 100 ml, corong kaca, pipet ukur 10 ml, propipet, labu ukur
1000 ml.

b.

Bahan
CaCl2.6H2O, MgSO4, aquades.

8. Uji Homogenitas Cat
a. Alat
Gelas arloji, gunting, gelas beker 100 ml, corong , botol semprot,
pengaduk, labu ukur 500 ml.
b. Bahan
Cat Black TDR
9. Uji Ph Cat
a. Alat
Neraca Analitik, gelas Arloji, pengaduk, labu ukur 100 ml, orong
kaca.
b. Bahan
Cat Black TDR, kertas pH.
10. Uji Ketahanan Cat terhadap Asam dan Basa
a. Alat
Tabung Reaksi, rak tabung reaksi, pipet ukur 10 ml.
b. Bahan

11

Larutan sampel kulit, kertas saring, larutan H2SO4, asam asetat,
HCOOH, Na2CO3 dan aquades.
11. Uji Kadar Air Cat
a. Alat
Cawan Porselen, timbangan digital, desikator, oven, penjepit.
b. Bahan
Cat black TDR
12. Uji Ketahanan Cat Terhadap Air Sadah
a. Alat
Labu ukur 1000 ml, pipet tetes, propipet, pipet ukur 10 ml, corong
kaca.
b. Bahan
Larutan contoh, larutan air sadah 200D, larutan air sadah 400D, air
suling 600C, kertas saring.
13. Kelarutan Cat dalam Air Suling 600C
a. Alat
Neraca analitik, gelas arloji, gelas beker 100 ml, gelas beker 1000 ml,
kompor listrik, thermometer, gelas ukur 100 ml, corong kaca,
erlenmeyer 250 ml,oven, cawan porselen.
b. Bahan
Cat black TDR, aquades, kertas saring.

D. Cara Kerja
1. Pembuatan Larutan Na2CO3
a. Menimbang Na2CO3 ± 10 gram
b. Melarutkannya kedalam aquades , kemudian memasukkannya
kedalam labu ukur 100 ml
c. Menambahkan aquades ke dalam labu ukur sampai tanda batas
d. Menggojog larutan sampai homogen
2. Pembuatan Larutan Asam Sulfat
a. Memipet asam sulfat pekat 5,45 ml

12

b. Memasukkan ke dalam labu ukur 100 ml
c. Menambahkan aquades sampai tanda batas
d. Menghomogekan larutan
3. Pembuatan Larutan Asam Formiat
a. Memipet asam formiat 12,2 ml
b. Memasukkan kedalam labu ukur
c. Mengencerkan aquades sampai 100 ml
4. Pembuatan Larutan Asam Asetat
a. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan
b. Mengambil asam asetat 10,5 ml
c. Mengencerkan dengan aquades sampai 100 ml dalam labu ukur
5. Pembuatan Larutan Contoh
a. Menimbang 0,2 gram dyestuff
b. Mengencerkan cat dalam gelas beker sampai cat terlarut semuanya
c. Memindahkan

larutan

dalam

labu

ukur

100

ml,

kemudian

menambahkan dengan aquades sampai tanda batas.
d. Menggoyang alabu ukur sampai larutan homogen.
6. Pembuatan Larutan Air Sadah 200D
a. Menimbang 3 gram CaCl2.6H2O menggunakan neraca analitik.
b. Mengencerkannya kedalam labu ukur 100 ml
c. Menimbang 4,365 gram MgSO4, kemudian mengencerkannya dalam
labu ukur 100 ml
d. Memipet 13,33 ml larutan CaCl2.6H2O, dan memasukkannya kedalam
labu ukur 1000 ml
e. Menambakan dalam labu ukur tersebut dengan 6,6 ml larutan MgSO4,
kemudian menambahkan aquades sampai tanda batas.
7. Pembuatan Larutan Air Sadah 400D
a. Memipet 26,66 ml larutan CaCl2.6H2O
b. Memasukkan kedalam labu ukur 1000 ml
c. Menambahkan dengan 13,32 ml larutan MgSO4 , kemudian
menambahkan aquades sampai tanda batas.

13

8. Uji Homogenitas Cat
a. Membuat/menyusun kertas saring dengan ukuran 20 x 15 cm dengan
lidah 8 x 3 cm.
b. Mengkondisikan kertas saring T = 20oC selama 12 jam.
c. Menimbang sampel cat sebanyak 2,5 gram ke dalam 500 ml aquades
d. Mencelupkan kertas saring pada bagian lidah seluruhnya dalam 100
ml larutan cat. Pengujian dilakukan pada suhu 20oC
e. Menghentikan pengujian setelah 2/3 bagian
f. Mengamati penyerapan cat pada kertas saring
g. Mengamati luas penyebaran warna asli pada kertas saring dinyatakan
dalam dan luas penyebaran keseluruhan warna yang ternoda pada
kertas saring.
9. Uji Ph Cat
a. Menimbang sampel cat 0,5 gram
b. Melarutkan ke dalam labu ukur 100 ml dengan aquades
c. Menggojog hingga homogeny selama 4 jam
d. Mengecek pH menggunakan pH meter
10. Uji Ketahanan Cat terhadap Asam dan Basa
a. Mengambil masing-masing 10 ml larutan dan memasukkannya ke
dalam 5 tabung reaksi
b. Memberikan label pada masing-masing tabung reaksi 1, 2, 3, 4 dan 5
c. Pada sampel 1 ditambah kan 0,5 ml H2SO4
d. Pada sampel 2 ditambahkan 0,5 ml Asam Asetat
e. Pada sampel 3 ditambahkan 0,5 ml HCOOH
f. Pada sampel 4 ditambahkan 0,5 Na2CO3
g. Pada sampel 5 tidak ditambahkan apa-apa sebagai blanko
h. Menyaring masing-masing sampel dengan kertas saring
i. Mengeringkan kertas saring
j. Mengamati perubahan warnanya dan mencatat hasilnya.
11. Uji Kadar Air Cat
a. Mengoven Cawan Porselen

14

b. Meletakkan cawan dalam desikator selama ±15 menit
c. Menimbang cawan
d. Menimbang cat sebanyak 5 gram kemudian memasukkan cat ke dalam
cawan
e. Mengoven cawan yang berisi cat
f. Meletakkan ke dalam desikator
g. Menimbang sampel dengan timbangan digital
h. Mengulangi langkah 5-7 sampai berat kertas saring konstan
12. Uji Ketahanan Cat Terhadap Air Sadah
a. Memipet 20 ml larutan contoh sebanyak 3 kali
b. Memasukkan masing-masing dalam labu ukur 1000 ml
c. Mengencerkan dengan aquades dalam labu ukur 1, labu ukur 2 dengan
air sadah 200D, dan labu ukur 3 dengan air sadah 400D.
d. Menggoyang masing-masing labu ukur sampai homogen
e. Meneteskan masing – masing larutan diatas kertas saring
13. Kelarutan Cat terhadap Air Suling 600C
a. Menimbang contoh cat masing – masing 1, 2, 3, 4 gram
b. Memanaskan aquades samapi suhu 600C
c. Melarutkan masing-masing sampel dengan 100 ml aquades 600C
d. Memindahkan masing-masing 100 ml larutan kedalam erlenmeyer
e. Memanaskan masing – masing larutan contoh sampai mendidih
(menutup erlenmeyer dengan gelas arloji selama pemanasan)
f. Mendinginkan larutan sampai suhu 600C
g. Membasahi kertas saring dengan aquades
h. Menyaring larutan dengan kertas saring
i. Mengeringkan kertas saring didalam oven dengan suhu 1000C sampai
berat konstan.

E. Data Pengamatan
1.

Pembuatan Larutan Na2CO3 10 g/100 ml
Berat Na2CO3

= 10,0203 gram

15

2.

3.

4.

5.

Pembuatan Larutan Asam Sulfat 10 g/100 ml 𝜌
H2SO4 96%

= 1,84 g/ml

m H2SO4

= 10 gram

Volume Asam Sulfat

= 5,45 ml

Pembuatan Larutan Asam Formiat 10 g/100 ml 𝜌
HCOOH

= 1,22 g/ml

m HCOOH

= 10 gram

Volume Asam Formiat

= 8,1967 ml = 8,2 ml (pembulatan)

Pembuatan Larutan Asam Asetat 10 g/100 ml 𝜌
asam asetat

= 0,95 g/ml

m asam asetat

= 10 gram

Volume Asam Asetat

= 10,5 ml

Pembuatan Larutan Contoh
Berat Sampel

6.

= 0,2 gram

Pembuatan Larutan Air Sadah 200D
Berat CaCl2.6H2O

= 3 gram

Berat gram MgSO4

= 4,365 gram

Volume larutan CaCl2.6H2O= 13,33 ml
Volume larutan MgSO4
7.

= 6,6 ml

Pembuatan Larutan Sadah 400D
Volume larutan CaCl2.6H2O= 26,66 ml
Volume larutan MgSO4

8.

= 13,32 ml

Uji Homogenitas Cat
Berat cat Black TDR = 2,5090 gr
2,5340 gr

9. Uji pH Cat
Berat cat

= 0,588 gr

pH cat

=5

16

45,25 menit

10. Uji Ketahanan Cat terhadap Asam dan Basa
NO

Indikator

Warna Kertas Saring

1

Blangko

Hitam Kehijauan

2

Na2CO3

Hijau Kehitaman

3

H2SO4

Hitam ke abu-abuan

4

HCOOH

Hitam ke abu-abuan

5

Asam Asetat

Hitam ke abu-abuan

11. Uji Kadar Air Cat
Berat Cawan Kosong

I

= 45,8680 gr (W01)

Berat Cawan Kosong

II

= 49,9928 gr (W02)

Berat dyestuff

I

= 5,0859 gr (W11)

Berat dyestuff

II

= 5,0054 gr (W12)

SAMPEL I (W1)

SAMPEL II (W2)
Oven I = 54,3474 gr

Oven I = 50,6408 gr

Oven II = 54,3969 gr

Oven II = 50,4197 gr

Oven III = 54,3683 gr

Oven III = 50,3372 gr

12. Uji Ketahanan Cat terhadap Air Sadah
Jenis Sampel

Nilai

Keterangan

Sampel A

1

Kurang

Sampel B

2

Sedang

13. Kelarutan Cat terhadap Air Suling 600C
a.

Berat sampel
Sampel 1

= 1,0218 gram

Sampel 2

= 2,0173 gram

Sampel 3

= 3,0149 gram

Sampel 4

= 4,0228 gram

17

b.

Berat Kertas Saring

c.

Sampel 1

= 0,3880 gram

Sampel 2

= 0,3961 gram

Sampel 3

= 0,3970 gram

Sampel 4

= 0,4009 gram

Berat Kertas Saring dan Residu

Kertas Saring

Oven I

Oven II

Oven III

1

0,4138

0,3925

0,3888

2

0,4314

0,4078

0,4013

3

0,4541

0,4246

0,4172

4

0,4737

0,4411

0,4320

Sampel ke-

F. Perhitungan
1.

Pembuatan Larutan Asam Sulfat 10 g /100 ml
Asam sulfat 10 gramdalam 100 ml 𝑚 𝜌

= 𝑣 𝑚

10 𝑣
= =
= 5,45 𝑚𝑙 𝜌
1,84

2.

Pembuatan Larutan Asam Formiat 10 g / 100 ml 𝑣
=

3. 𝜌

10

= 1,22 = 8,1967 𝑚𝑙 (asam formiat teknis)

Pembuatan Larutan Asam Asetat 10 g / 100 ml 𝑣
=

4. 𝑚 𝑚

10
=
= 10,53 𝑚𝑙 𝜌
0,95

Uji Kadar Air Cat
Kadar Air Dyestuff (sampel 1) =
=
= 𝑊𝑆

1 − (𝑊13 − 𝑊01) 𝑊𝑠
1

5,0859 − (50,3372 − 45,8680 )
5,0859
5,0859 − 4,4692
5,0859
0,6167 𝑥

100%

= 5,0859 𝑥 100%

18 𝑥

100% 𝑥
100%

= 12,13%
Kadar Air Dyestuff (sampel 1)

=
=
=
= 𝑊𝑆

1 − (𝑊13 − 𝑊01) 𝑊𝑠
1

5,0054 − (54,3683 − 49,9928)
5,0054
5,0054 − 4,3755
5,0054
0,6299
5,0054

Kelarutan Cat terhadap Air Suling 600C
Sampel 1 =

W1− W2− W3
W1

× 100%

=

1,0218 − 0,3888 − 0,3880
× 100%
1,0218

=

1,0218 − 0,0008
× 100%
1,0218

=

1,021
× 100%
1,0218

= 0,9992 × 100%
= 99,92%
Sampel 2 =

W1− W2− W3
W1

× 100%

=

2,0173 − 0,4013 − 0,3961
× 100%
2,0173

=

2,0173 − 0,0052
× 100%
2,0173

=

2,0121
× 100%
2,0173

= 0,9974 × 100%
= 99,74%
Sampel 3 =

W1− W2− W3
W1

× 100%

=

3,0149 − 0,4172 − 0,3970
× 100%
3,0149

=

3,0149 − 0,0202
× 100%
3,0149

19 𝑥

100% 𝑥

100%

= 12,58
5. 𝑥

100% 𝑥
100%

=

2,9947
× 100%
3,0149

= 0,9933 × 100%
= 99,33%
Sampel 4 =

W1− W2− W3
W1

× 100%

=

4,0228 − 0,4320 − 0,4009
× 100%
4,0228

=

4,0228 − 0,0311
× 100%
4,0228

=

3,9917
× 100%
4,0228

= 0,9923 × 100%
= 99,23%

G. Pembahasan
Dyestuff merupakan komponen molekul organik yang memiliki
kumpulan senyawa inti tak jenuh, disebut kromopore, yang bergabung
dengan komponen lain dimana gabungan ini disebut kromogen serta gugus
substantiv disebut auksokrome yang berfungsi sebagai penguat warna.
1.

Uji Homogenitas Cat
Uji homogenitas dilakukan dengan mencelupkan kertas saring
yang telah dipotong sedemikian rupa dengan bagian lidah untuk
dicelupkan kedalam larutan cat. Pengukuran luas penyebarannya diukur
dari titik tengah kertas yang ternoda oleh larutan cat. Semakin luas
penyebaran larutan catnya maka homogenitas larutannya semakin baik,
karena dalam penyerapannya larutan dapat langsung terserap kedalam
serat-serat kertas saring tanpa adanya gangguan dari endapan-endapan
cat yang belum terlarut sempurna. Jika luas penyerapannya kecil berarti
homogenitas larutan kurang baik. Hal ini sangat penting karena dalam
proses

pewarnaan

kulit

homogenitas

larutan

menentukan

hasil

pewarnaannya. Karena kulit merupakan anyaman dari serabut-serabut

20

kolagen yang susunannya rapat. Jika homogenitasnya kurang baik maka
penyerapan kedalam serabut kulit juga kurang baik, sehingga dalam
proses pewarnaan cat yang dimasukkan hanya terikat dipermukaannya
saja atau cat tidak tembus kedalam kulit.
Berdasarkan data pengamatan yang ada dapat kita ketahui bahwa
dyestuff yang digunakan memiliki homogenitas yang cukup tinggi karena
dyestuff mampu menyebar secara merata pada kertas saring yang
digunakan. Dengan begitu dyestuff lebih mudah larut ke dalam air dan
memiliki penetrasi yang cukup baik. Homogenitas sendiri merupakan
kemampuan cat untuk larut ke dalam pelarut (air) sehingga cat /daystuff
mampu terpenetrasi atau masuk kedalam suatu komponen secara merata.
2.

Uji pH Cat
Pada pengujian pH, didapatkan hasil yaitu dyestuff memiliki nilai
pH 5. pH tersebut menunjukkan bahwa dyestuff yang digunakan
merupakan cat tergolong dalam cat asam. Cat asam merupakan cat dasar
yang dapat berikatan dengan kulit apabila menggunakan asam untuk
mengikatnya pada kulit samak. Dalam aplikasinya, dalam pewarnaan
kulit ditambahkan suatu asam (asam formiat) untuk mengikat zat warna
ini dengan kulit.
pH pada dyestuff sangat penting untuk diketahui karena hal
tersebut berpengaruh terhadap penggunaan dan metode yang akan
digunakan pada proses dyeing. Jika kita menghendaki daystuff tembus
kedalam kulit maka pH kulit juga harus disamakan dengan pH dyestuff
yaitu 5, dengan begitu dyestuff akan terpenetrasi kedalam kulit dan
kemudian dilakukan pengikatan / fiksasi sehingga dyestuff yang telah
masuk secara merata ke dalam kulit akan terikat ke dalam kulit dan
berikatan dengan gugus samping kolagen. Sedangkan jika menghendaki
agar dyestuff hanya berikatan di permukaan maka pH kulit harus dibuat
berbeda dengan dyestuff agar dyestuff langsung berikatan dengan kulit
tanpa perlu masuk / terpenetrasi ke dalam kulit. Oleh karena itu sangat

21

penting untuk mengetahui berapa pH dari dyestuff agar metode yang kita
gunakan dapat diaplikasikan secara tepat dan efisien.
3.

Uji Ketahanan Cat terhadap Asam dan Basa
Untuk pengujian asam dan basa, berdasarkan hasil yang didapatkan
dapat kita ketahui bahwa dyestuff yang digunakan tidak tahan terhadapap
basa. Artinya cat akan luntur jika terkena larutan yang bersifat basa, hal
tersebut nampak pada saat cat ditambahkan dengan Na2CO3 dyestuff
luntur menjadi berwarna kehijauan. Pada penambahan asam seperti asam
asetat dan formiat cat tidak mengalami kelunturan yang berarti, pada
penambahan asam cat hanya mengalami degradasi warna dari hitam dan
abu-abu.Hal tersebut menuunjukkan bahwa cat memiliki ketahanan yang
cukup baik terhadap asam. Uji ketahanan ini sangat penting untuk
diketahui agar pada aplikasi penyamakan cat tidak mengalami kelunturan
dan kulit memiliki kualitas yang baik.

4. Uji Kadar Air Cat
Pengujian kadar air dalam cat sama dengan pengujian kadar air
dalam kulit yaitu menggunakan metode oven drying atau pengeringan.
Metode ini dilakukan dengan cara pengeringan bahan dalam oven.
Berat sampel cat yang digunakan sebanyak 5,0859 dan 5,0054
gram, cat tersebut kemudian dimasukkan dalam cawan porselen yang
sebelumnya

telah

dioven

dan

ditimbang.

Pengovenan

cawan

dimaksudkan agar berat cawan yang diperoleh merupakan berat asli dari
cawan. Berat cawan kosong yaitu 45,8680 gram dan 49,9928 gram.
Proses pengeringan dilakukan dalam oven dengan suhu 1000C,
secara terus menerus sampai sampel bahan dan cawan beratnya tidak
berubah lagi (konstan). Periode pengeringan dilakukan selama ± 1 jam
pada awal pemanasan dan pengeringan berikutnya dilakukan selama ± 30
menit. Setelah pengeringan, contoh bahan beserta cawannya disimpan
dalam desikator selama 15 menit untuk menyesuaikan suhu media yang
digunakan dengan suhu lingkungan disekitarnya. Kemudian bahan dan
cawan tersebut ditimbang.

22

Berat bahan dan cawan yang konstan seberat 50,3372 gram dan
54,3683 gram. Berdasarkan data yang diperoleh didapat presentase kadar
airnya yaitu 12,13 % dan 12,58 %. Jumlah ini belum sesuai dengan
standar kadar air yang diperbolehkan dalam cat. Hal ini dikarenakan
kadar air dalam cat dalam syarat mutu cat asam adalah maksimal 6,0 %.
Kadar air yang rendah dalam cat akan menyebabkan cat tersebut tidak
mudah rusak dalam penyimpanannya atau tahan lama. Akan tetapi jika
kadarnya terlalu tinggi sehingga cat lembab, cat dapat diserang oleh
jamur dan cat tidak dapat dipakai lagi. Kadar air dalam cat yang terlalu
tinggi dalam pemakaianya cat harus dilarutkan terlebih dahulu, karena
jika tidak cat akan mengumpal sehingga dalam penyebaran dalam kulit
tidak merata.
5. Ketahanan Cat terhadap Air Sadah
Air sadah adalah air dengan kandungan mineral-mineral tertentu di
dalam air, umumnya ion kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) dalam
bentuk garam karbonat.
Dalam pengujian ketahanan cat terhadap air sadah ini, terlebih
dahulu cat yang diuji sebanyak 0,2 gram dilarutkan dalam aquades
sebanyak 100 ml. Cat yang dianalisa terdiri dari sampel A dan sampel B.
Kemudian megambil 20 ml larutan contoh sebanyak tiga kali
pengulangan, dan mengencerkan 20 ml pertama dengan aquades
sebanyak 1000 ml, 20 ml kedua dengan air sadah 200D dan larutan yang
ketiga dengan air sada 400D. Larutan yang diencerkan dengan aquades
berfungsi sebagai blangko.
Selanjutnya masing-masing larutan tersebut diteteskan diatas kertas
saring dan didiamkan pada masing-masing sampel selama 10 menit dan
60 menit. Diperoleh data bahwa pada sampel A yang dilarutkan dengan
aquades dan didiamkan 10 menit cat dapat berdifusi secara merata ke
semua bagian sedangkan pada saat pendiaman selama 60 menit cat tidak
dapat berdifusi secara rata hanya menyebar dan membentuk endapan di
bagian tepi. Begitu juga dengan sampel B yang terlihat hanya menyebar

23

dan membentuk endapan saja tetapi terdapat perbedaan pada saat
pendiaman selama 60 menit cat yang terbentuk lebih hitam dan cat lebih
terserap secara lebih luas.
Pada sampel A dan sampel B yang dilarutkan dengan air sadah
200D selama 10 menit tampak bahwa cat yang tersebar lebih luas dan
pada sampel B muncul endapan cat pada semua bagian difusi catnya.
Untuk sampel waktu 60 menit terlihat bahwa cat yang tersebar lebih
kecil.
Berkebalikan hasil dengan cat yang dilarutkan dalam air sadah
400D, hal ini terlihat dalam sampel A selama waktu 10 menit maupun 60
menit cat yang berdifusi atau tersebar lebih banyak dibanding sampel B.
Tetapi dalam difusi cat tersebut terdapat endapan semua.
Hasil penilaian dari data tersebut diperoleh bahwa pada sampel cat
A mempunyai ketahanan terhadap air sadah yang kurang, hal ini berarti
cat terjadi endapan pada larutan ca yang diencerkan dengan air sadah
200Jerman. Sedangkan pada cat sampel B ketahanan terhadap air
sadahnya termasuk dalam kategori sedang yang artinya cat muncul
endapan pada larutan contoh yang diencerkan dengan air sadah 400
jerman, serta terjadi sedikit endapan ketika diencerkan dengan air sadah
200 jerman.
Berdasarkan data analisa tersebut dapat disimpulkan bahwa cat
hanya akan bekerja secara baik jika dengan menggunakan aquades, hal
ini disebabkan bahwa air aquades merupakan air yang tidak punya
kandungan ion tertentu, berbeda dengan air sadah yang mana dalam air
sadah biasa terdapat unsur Ca dan Mg. Unsur Ca ini dapat menyebabkan
cat membentuk endapan. Untuk mengatasi hal tersebut seseorang yang
sedanga dalam melakukan proses pewarnaan harus cermat meneliti air,
jika

air

yang

menghilangkan

digunakan
kesadahan

merupakan
tersebut

air

air

sadah,

harus

maka

direbus

untuk
sebelum

penggunaan. Hal ini bertujuan untuk menghindari ketidakrataan cat.
6. Kelarutan Cat terhadap Air Suling 600C

24

Dalam pengujian kelarutan cat dalam air suling 600C dilakukan
perbandingan konsentrasi cat yang berbeda-beda, yaitu dibuat dari berat
cat 1 gram, 2 gram, 3 gram dan 4 gram yang dilarutkan kedalam 100 ml
air suling dengan suhu 600C. Data yang diperoleh pada masing –masing
konsetrasi secara berurutan yaitu 99,92%; 99,74%; 99,33% dan 99,23%.
Dari hasil yang diperoleh terlihat adanya penurunan kelarutan cat, pada
larutan cat yang berkonsentrasi rendah mempunyai kelarutan yang tinggi
dan larutan cat yang berkonsentrasi semakin tinggi mempunyai kelarutan
yang semakin rendah. Hasil tersebut sesuai dengan pustaka tentang
epngujian kelarutan
Dari hasil uji kelarutan ini, cat yang kami uji termasuk dalam
syarat mutu cat asam, karena kelarutannya lebih dari 95 % hal ini
dikarenakan dalam syarat mutunya kelarutan cat dalam air suling 600C
serbuk pewarna asam adalah harus lebih dari 95 %. Dalam proses
pewarnaan kulit, bahan pewarna dilarutkan dengan air pada suhu 600C
dan jika menggunakan suhu yang lebih tinggi kelarutannya baik, akan
tetapi dapat merusak cat tersebut. Sehingga jika kelarutan cat rendah
dalam air suling 600C dalam aplikasinya akan menimbulkan adanya
endapan karena cat tidak terlarut sempurna dan hal ini akan
menyebabkan hasil pewarnaan kurang baik, yaitu pewarnaan kurang
merata dan akan timbul noda-noda pada kulit akibat dari endapan yang
menempel pada kulit.

25

H. Kesimpulan
Berdasarkan data dan pembahasan diatas dapat disimpulkan antara
lain:
1.

Dyestuff yang digunakan memiliki homogenitas yang baik.

2.

pH dyestuff yaitu 5 menunjukkan bahwa cat termasuk dalam cat asam.

3.

Dyestuff memiliki ketahanan terhadap asam namun tidak tahan terhadap
basa.

4.

Kadar air dalam cat belum sesuai dengan standar dalam cat asam yaitu
batas maksimal kadar air dalam cat asam adalah 6,0%.

5.

Cat yang di uji termasuk dalam syarat mutu cat asam, karena
kelarutannya lebih dari 95 %.

6.

Sampel cat A memiliki ketahanan terhadap air sadah yang kurang,
sedangkan sampel cat B ketahanan catnya sedang dalam air sadah.

26

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2014. Alat Pengukur pH Air Dan Cara Penggunaannya. http://.teknikilmu-pertambangan-alat-pengukur-ph-dan-penggunaannya.html. Diakses
pada 22 Oktober 2015.
AOAC. 1984. Official Methods of Analysis of The Association of Official
Analytical Chemistry. 14th Ed. Virginia : AOC, Inc.
Hermiyati, Indri. 2009. Petunjuk Praktikum Analisa Bahan Kulit. Akademi
Teknologi Kulit. Yogyakarta
Hidayatullah. 2009. Kumpulan Laporan Praktikum Analisa Kulit. Dikutip dari
www.scribd.com/doc/28132087/47/pembuatan- reduced-.html. diakses
pada selasa, 16 Juni 2015.

Kirk, R.E and Donald F Othner, 1954. Encycyclopedia of Chemical Technology.
Marck Printting Co. New York.
Purnomo, E. 2008.Teknologi Finishing. ATK:Yogyakarta.
Purnomo, Edy. 1997. Teknologi Tanning. Yogyakarta : Akademi Teknologi Kulit
Rini, Noviari Prasetyo. Ringkasan Teknologi Pewarnaan Kulit.
Teknologi Kulit, Yogyakarta

Akademi

Wazah.1997. Bahan Pembantu Penyamak dan Bahan Produk Paten. Akademi
Teknologi Kulit, Yogyakarta.

27

LAMPIRAN

28