You are on page 1of 47

EVALUASI KEHILANGAN WAKTU KERJA EFEKTIF TERHADAP

WAKTU KERJA ALAT GALI MUAT DAN ALAT ANGKUT PADA
PENINGKATAN PRODUKSI OVERBURDEN DI
PIT 5 PT. KTC COAL MINING & ENERGY JOB SITE PT. HARFA
TARUNA MANDIRI DESA LEMO KABUPATEN BARITO UTARA
PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

TUGAS AKHIR

OLEH :

FRISKA NATALINA
DBD 109 013

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
2013

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.
Penggunaan peralatan mekanis yang tidak optimal akan menimbulkan
dampak terhadap pencapaian target produksi. Hal ini disebabkan karena masih
rendahnya aktualisasi waktu kerja terhadap waktu kerja efektif dari alat gali-muat,
sehingga menyebabkan menurunnya efisiensi kerja alat yang ditimbulkan oleh
adanya berbagai macam hambatan di lapangan.
Oleh karena itu, diperlukan adanya evaluasi untuk mengetahui hambatanhambatan yang terjadi dan dapat menekan loss time (kehilangan waktu) dari
waktu kerja agar dapat mengoptimalkan waktu kerja efektif dari alat gali-muat.
Karena dengan optimalnya pencapaian waktu kerja efektif akan meningkatkan
utilisasi alat dan produksi yang ditargetkan oleh perusahaan.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang ada pada latar belakang di atas, maka
perumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian tugas akhir ini adalah :

a) Apa saja hambatan kerja yang terjadi dalam kegiatan pengupasan overburden
di PT. KTC Coal Mining & Energy?
b) Bagaimana efisiensi kerja dari rangkaian alat gali-muat dan alat angkut yang
digunakan?
c) Bagaimana waktu kerja efektif dari alat gali-muat dan alat angkut?
d) Bagaimana keterkaitan antara pengalokasian waktu kerja efektif terhadap
utilisasi alat?

1.3 Batasan Masalah
Agar penelitian ini sesuai dengan yang direncanakan, serta lebih jelas dan
terarah maka batasan masalah dalam Penelitian Tugas Akhir ini adalah :
a) Pengamatan hanya pada alat-alat mekanis yang digunakan untuk
mengupas overburden pada pit 5 di front loading 1 yaitu alat gali-muat
excavator backhoe Hitachi ZX870H-3 serta alat angkut ADT Volvo
A40E.
b) Pengamatan dilakukan dengan menitikberatkan pada hambatan kerja
yang terjadi, kesediaan alat, waktu kerja efektif, dan efisiensi kerja dalam
kegiatan pengupasan overburden.

c) Data-data yang diambil hanya dalam shift I saja. Namun dalam
perhitungan kondisi pada shift II dianggap sama dengan shift I sehingga
data yang digunakan sama dengan data pada shift I.

1.4 Tujuan dan Manfaat
Adapun tujuan dilakukannya penelitian adalah :
a) Mengetahui hambatan-hambatan kerja yang terjadi di lapangan.
b) Mengetahui efisiensi waktu kerja dari rangkaian alat gali-muat dan alat
angkut.
c) Melakukan evaluasi kehilangan waktu kerja efektif dari alat gali-muat dan
alat angkut.
d) Menghitung keterkaitan antara pengalokasian waktu kerja efektif terhadap
utilisasi alat guna pencapaian target produksi.
Sedangkan manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini :
a) Memberikan solusi untuk dapat mengurangi hambatan-hambatan yang
terjadi di lapangan.
b) Dapat menekan kehilangan waktu kerja efektif (loss time) alat gali-muat dan
alat angkut, sehingga dapat mengoptimalkan waktu kerja efektif.

2.c) Dengan tercapainya pengalokasian waktu kerja efektif.1.2 Pembersihan Lahan (Land Clearing) Pembersihan lahan ini dilaksanakan untuk memisahkan pepohonan dari tanah tempat pohon tersebut tumbuh.1.1.1 Pengupasan Tanah Penutup (Stripping Overburden) Pengupasan lapisan tanah penutup adalah suatu kegiatan penggalian lapisan tanah penutup yang bertujuan untuk mengambil bahan galian yang berada di bawah lapisan tanah penutup tersebut. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Dalam pelaksanaannya.3 Pengupasan Tanah Pucuk (Top Soil) . pekerjaan ini dibantu oleh alat mekanis bulldozer 2. utilisasi alat dapat dioptimalkan sehingga target produksi dapat tercapai.

1. 2.2. ada 2 (dua) tipe excavator yaitu excavator yang berjalan dengan menggunakan roda rantai (Crawler Excavator) dan excavator yang menggunakan roda karet dipompa (Wheel Excavator). 2.2 Peralatan Mekanis 2..4 Pelaksanaan Pengupasan Tanah Penutup (Overburden) Proses pengupasan tanah penutup ini dapat langsung dilakukan dengan alat mekanis excavator apabila material yang akan digali adalah material lunak. Gerakan excavator dalam beroperasi terdiri dari: 1) Mengisi bucket (land bucket) .1.Pengupasan tanah pucuk ini dilakukan terlebih dulu dan ditempatkan terpisah terhadap tanah penutup (overburden).. 2.5 Penimbunan Tanah Penutup Merupakan tahap akhir dari suatu kegiatan pengupasan lapisan tanah penutup yang nantinya akan dibawa menuju lokasi penimbunan (disposal) dengan menggunakan alat angkut dump truck dan akan ditangani oleh bulldozer sebagai alat bantu untuk pemadatan dan penempatannya. agar pada saat pelaksanaan reklamasi dapat dimanfaatkan kembali.1 Excavator Alat penggali sering juga disebut excavator.

Bulldozer digunakan sebagai alat pendorong tanah lurus ke depan maupun ke samping. 2. dapat bergerak dengan cepat. tergantung pada sumbu kendaraannya.2.2.2 Dump Truck Dump truck termasuk alat berat berupa kendaraan yang dibuat khusus untuk alat angkut karena mempunyai kemampuan yang besar. 2.4 Grader Grader adalah alat yang biasa dipergunakan untuk meratakan tanah timbunan atau memelihara jalanan yang tidak diperkeras. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi produksi alat adalah : . biaya operasional yang murah.2. dan fleksibel.3 Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Alat Produksi alat dapat dilihat dari kemampuan alat tersebut dalam penggunaannya..2) Mengayun (swing loaded) 3) Membongkar beban (dump bucket) 4) Mengayun balik (swing empty) 2. punya kapasitas angkut yang besar.3 Bulldozer Bulldozer dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yakni menggunakan roda rantai (Crawler Tractor Dozer) dan yang menggunakan roda karet (Wheel Tractor Dozer). Grader dapat dibedakan menjadi 2 (dua) jenis yaitu Tower Grader dan Motor Grader 2.

3. a) Kesediaan Mekanis (Mechanical Availability) Faktor yang menunjukkan kesediaan alat dalam melakukan pekerjaan dengan memperhatikan kehilangan waktu yang digunakan untuk memperbaiki mesin. perawatan dan alasan mekanis lainnya. MA  W x 100 % W R Dimana: MA = Mechanical Availability (%) W = Working hours atau jumlah jam kerja (jam) R = Repair hours atau jumlah jam untuk perbaikan alat (jam) b) Kesediaan Fisik (Physical Availability) Physical Availability (PA) adalah catatan tentang kondisi fisik dari alat yang digunakan. PA  W S x 100 % W SR Dimana: PA = Physical Availability (%) W = Working hours atau jumlah jam kerja (jam) .2.1 Kesediaan Alat.

S = Standby hours atau jumlah jam suatu alat yang tidak rusak tapi tidak digunakan (jam) W+S+R = Scheduled hours atau jumlah seluruh jam jalan dimana alat dijadwalkan untuk beroperasi. EU  W x 100 % W SR Dimana: EU = Effective Utilization (%) W = Working hours atau jumlah jam kerja (jam) . c) Penggunaan Kesediaan (Use of Availibility) Use of Availability (UA) menunjukkan berapa persen waktu yang digunakan oleh suatu alat untuk beroperasi pada saat alat itu digunakan. UA  W x 100 % W S Dimana: UA = Use of Availability (%) W = Working hours atau jumlah jam kerja (jam) S = Standby hours atau jumlah jam suatu alat yang tidak rusak tapi tidak digunakan (jam) d) Penggunaan Efektif (Effective Utilization) Faktor yang menunjukkan berapa persen dari seluruh waktu kerja yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk bekerja atau persen waktu yang dimanfaatkan oleh alat untuk bekerja dari sejumlah waktu kerja yang tersedia.

Pola pemuatan berdasarkan posisi alat gai-muat terhadap alat angkut . Gamba r 2. yaitu: 1) Pola pemuatan yang didasarkan pada keadaan alat gali-muat yang berada di atas atau di bawah jenjang. Bottom Loading.3. yaitu alat gali-muat melakukkan penggalian dengan menempatkan dirinya di atas jenjang atau alat angkut berada di bawah alat gali-muat. 2.2 Pola Penggalian dan Pemuatan Pola pemuatan dapat dilihat dari beberapa keadaan yang ditunjukkan alat gali-muat dan alat angkut. yaitu alat gali-muat melakukan penggalian dengan menempatkan dirinya di jenjang yang sama dengan posisi alat angkut. a.S = Standby hours atau jumlah jam suatu alat yang tidak rusak tapi tidak digunakan (jam) W+S+R = Scheduled hours atau jumlah seluruh jam jalan dimana alat dijadwalkan untuk beroperasi. b. Top Loading.

3. Pola pemuatan berdasarkan jumlah penempatan alat angkut 2.3 Waktu Siklus/Edar (Cycle Time) a.2) Pola pemuatan berdasarkan jumlah penempatan posisi alat angkut untuk dimuati terhadap posisi alat gali-muat. a. detik b. Double Back Up. detik T2 = Waktu putar dengan bucket terisi (swing). Single Back Up b. Waktu Siklus Alat Angkut Waktu siklus alat angkut dapat dirumuskan sebagai berikut : Ctm = T1 + T2 + T3 + T4 + T5 + T6 . Gamb ar 2. detik T3 = Waktu menumpahkan muatan (dumping). detik T1 = Waktu menggali material (digging). Waktu Siklus Alat Gali-Muat Waktu siklu alat gali-muat dapat dirumuskan sebagai berikut : Ctm = T1 + T2 + T3 + T4 Keterangan : Ctm = Waktu siklus alat gali-muat. detik T4 = Waktu putar dengan bucket kosong (swing).

menit Waktu kembali kosong. m3 .5 densitas loose densitas insitu x 100 Faktor Pengisian Bucket (Fill Factor) Makin besar faktor pengisian bucket.4 Waktu siklus alat angkut. menit Faktor Pengembangan Bahan (Swell Factor) Material di lapangan jika digali akan mengalami pengembangan.Keterangan : Ctm = T1 = T2 = T3 = T4 = T5 = T6 = 2. Bf = Vn Vs Keterangan : Bf = Faktor isian mangkuk (bucket factor) Vn = Kapasitas nyata mangkuk alat gali-muat. Perbandingan volume sebelum digali (V 1) dan volume setelah digali (V 2) diartikan sebagai faktor pengembangan. menit Waktu mengangkut muatan. menit Waktu pengosongan muatan. maka kemampuan nyata juga akan semakin besar yang berarti pemakaian alat semakin baik. menit Waktu diisi muatan. menit Waktu mengambil posisi untuk dimuati.3. SF = 2.3. menit Waktu mengambil posisi untuk penumpahan.

m3 f = Fill factor (faktor pengisian bucket).Vs = Kapasitas baku mangkuk alat gali-muat (sesuai spesifikasi alat). m3 Sf = Swell factor ( faktor pengembangan bahan). % Sf = Swell factor (faktor pengembangan bahan). menit 2. % Ctm= Waktu edar alat gali-muat. m3 2. % Cta= Waktu edar alat angkut. menit b) Produksi Alat Angkut Q = 60 x n x Cb x Sf x Ek Cta Dimana : n = Jumlah unit Cb = Kapasitas bak.5 Keserasian Kerja (Match Factor) . % Ek = Efisiensi kerja alat.4 Produksi Alat Mekanis Untuk menghitung produksi alat mekanis digunakan rumus sebagai berikut : a) Produksi Alat Gali Muat Q= 60 x C b x f x Sf x Ek Ctm Dimana : Cb = Kapasitas bucket backhoe. % Ek = Efisiensi kerja alat.

Match factor merupakan suatu faktor penting yang digunakan dalam penentuan jumlah alat angkut maupun jumlah alat gali-muat. 1 = Produksi alat angkut Produksi alat gali  muat n Ctm x Na Cta x Nm 1 = n Ctm merupakan waktu yang dibutuhkan oleh alat gali-muat untuk mengisi penuh satu unit alat angkut (CTm). Sehingga persamaan untuk match factor menjadi : CTm x Na Cta x Nm MF = Keterangan : MF = Match Factor atau faktor keserasian Na = Jumlah alat angkut dalam kombinasi kerja (unit) Nm = Jumlah alat gali-muat dalam kombinasi kerja (unit) n = Banyaknya pengisian tiap satu alat angkut . agar terjadi sinkronisasi kerja. Produksi alat gali-muat = Produksi alat angkut Sehingga perbandingan antara alat angkut dan alat gali-muat mempunyai nilai satu.

Cta = Waktu edar alat angkut (menit) Ctm = Waktu edar alat gali-muat (menit) CTm = Lamanya pemuatan ke alat angkut. artinya alat muat bekerja kurang dari 100%.Ctm) Bila hasil perhitungan diperoleh : a. . sehingga tidak terjadi waktu tunggu dari kedua jenis alat tersebut.  Waktu tunggu alat angkut (Wta) Wta  CTm x N a  Cta N gm 2.  Waktu tunggu alat gali-muat (Wtm) Cta x Nm  CTm Na Wtm  b. yang besarnya adalah jumlah pemuatan dikalikan dengan waktu edar alat gali-muat (n. MF = 1. artinya alat muat bekerja 100%. sedang alat angkut bekerja 100% sehingga terdapat waktu tunggu bagi alat muat karena menunggu alat angkut yang belum datang. MF > 1. sehingga terdapat waktu tunggu bagi alat angkut. artinya alat muat dan angkut bekerja 100%.6 Efisiensi Kerja Efisiensi kerja adalah penilaian terhadap pelaksanaan suatu pekerjaan atau merupakan suatu perbandingan antar waktu yang dipakai untuk bekerja dengan waktu yang tersedia. sedangkan alat angkut bekerja kurang dari 100%. c. MF < 1.

Hambatan-hambatan yang terjadi selama jam kerja dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua). Hambatan yang dapat dihindari Hambatan yang dapat dihindari merupakan hambatan yang terjadi karena adanya penyimpangan terhadap waktu kerja yang telah dijadwalkan. yang termasuk tersebut adalah sebagai berikut : a) Terlambat memulai kerja b) Cepat berakhir kerja 2. yaitu : 1. maka waktu kerja efektif dapat dihitung dengan menggunakan rumus: Wke = Wkt – (Whd + Whtd) Dengan : Efisiensi kerja = Dimana : Wke x 100% Wkt . yang termasuk dalam hambatan tersebut adalah sebagai berikut : a) Keperluan operator b) Hambatan pada alat c) Hujan Dengan menghitung keterlambatan-keterlambatan yang terjadi. Hambatan yang tidak dapat dihindari Hambatan yang tidak dapat dihindari merupakan hambatan yang terjadi pada waktu jam kerja yang menyebabkan hilangnya waktu kerja.

menit Whd : Waktu hambatan yang dapat dihindari.Wke : Waktu kerja efektif. menit Whtd : Waktu hambatan yang tidak dapat dihindari. menit BAB III . menit Wkt : Waktu kerja tersedia.

Provinsi Kalimantan Tengah.1 Profil dan Sejarah Perusahaan PT. KTC Coal Mining & Energy secara administratif terletak di Desa Lemo.METODE PENELITIAN 3. Kalimantan Timur.1 Gambaran Umum Wilayah Penelitian 3. Dari Muara Teweh perjalanan dilanjutkan melalui jalan darat dengan jarak tempuh ± 20 km. kemudian menyeberangi sungai dengan . Kecamatan Teweh Tengah.1. Muara Teweh berdiri pada tanggal 9 November 2007. Harfa Taruna Mandiri seluas 3. PT. KTC Coal Mining & Energy adalah sebagai Join Operation (JO) atau mitra kerja dengan 2 (dua) owner yaitu PT. Kabupaten Barito Utara. KTC Coal Mining & Energy Site Lemo. Harfa Taruna Mandiri dan PT.2 Lokasi dan Kesampaian Daerah PT.1. Berkat Bumi Persada. KTC Coal Mining & Energy bergerak di bidang usaha pertambangan yang mulai memproduksi batubara sejak bulan Agustus 2008. yang berada di bawah KTC group dengan Head Office berada di Singapura. Daerah Ijin Usaha Pertambangan (IUP) yang dimiliki PT. Status PT. Lokasi penambangan dapat ditempuh dari Palangka Raya melalui jalur darat ke Muara Teweh dengan jarak  km selama  8 jam. sedangkan Head Office Indonesia berada di Samarinda.

Dusun Bayan. KTC Coal Mining & Energy dan dilanjutkan sekitar ± 11 km menuju mess kantor melalui jalan darat. biawak. berbagai jenis primata seperti kera dan owa-owa. ular.3 Keadaan Iklim dan Curah Hujan Lokasi daerah penelitian berada pada iklim tropis basah. 3.5 Sosial dan Kependudukan Secara umum penduduk Desa Lemo I dan Lemo II yang bermukim di dekat areal pertambangan berasal dari suku Dayak Bakumpai.1.menggunakan speedboat ± 15 menit melalui port / log pond PT.1. serta beberapa jenis burung dan lainnya.1. b) Fauna Jenis–jenis fauna yang terdapat di daerah penelitian dan sekitarnya meliputi babi hutan. Lokasi yang relatif dekat dengan garis khatulistiwa menyebabkan fluktasi yang terjadi sepanjang tahun relatif kecil. Mata pencaharian utamanya adalah berladang . 3. 3. dan Dusun Taboyan. seperti umumnya yang terjadi di wilayah Indonesia..4 Flora dan Fauna a) Flora Vegetasi yang terdapat di daerah penelitian dan sekitarnya merupakan vegetasi hutan yaitu terdiri dari hutan dan semak belukar serta hutan bekas ladang masyarakat. katak.

sedangkan agama lainnya yaitu Kristen Protestan. 3. Katolik.2. Namun sebagian ada juga yang berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). dengan dasar cekungan adalah batuan berumur Pra Tersier. a) Stratigrafi Menurut S. (1995) dan Sutrisno dkk (1994) stratigrafi batuan berumur Tersier Cekungan Barito bagian utara secara berurutan dari tua ke muda adalah sebagai berikut. Supriatna dkk.. yang terdiri dari batuan beku.. 1995) dan peta geologi Lembar Buntok (Soetrisno dkk. yaitu berumur Eosen .dan menyadap karet serta berbagai hasil hutan lainnya seperti damar dan rotan. Di dalam Cekungan Barito bagian utara terdapat beberapa kelompok formasi batuan.1 Geologi Regional Secara geologi daerah Lemo termasuk ke dalam peta geologi Lembar Muara teweh (S. Supriatna (1995) Formasi Tanjung seumur dengan Formasi Batu Kelau dan Batupasir Haloq yang terdapat di bagian Utara daerah Lemo. Hindu Kaharingan. Daerah Lemo terletak di pinggiran Cekungan Barito bagian utara yang terbentuk pada Awal Tersier. Menurut S. Mayoritas penduduk beragama Islam.1994). dan Budha. batuan metamorf dan batuan meta sedimen.2 Keadaan Geologi 3. Formasi Tanjung merupakan batuan Tersier paling tua dan sebagai formasi pembawa batubara. Supriatna dkk.

Selain itu terdapat batuan berumur Eosen Akhir namun terletak di atas Formasi Tanjung. Secara tidak selaras diatas Formasi Warukin terdapat Formasi Dahor yang berumur Plio-Plistosen. dan tidak ditemukan endapan Formasi Karamuan. Batu Kelau dan Batupasir Haloq yang dinamakan Formasi Batu Ayau.Akhir. Selain endapan-endapan yang telah disebutkan di atas terdapat . Kedudukan ketiga formasi tersebut dengan formasi di bawahnya adalah tidak selaras. Di atas Formasi Berai dan Montalat terdapat Formasi Warukin yang mengandung batubara. Formasi Ujohbilang. Endapan yang paling atas adalah Aluvium yang terdiri dari karakal. kerikil dan pasir. berumur Miosen Tengah-Akhir. Selaras di atas Formasi Batu Ayau terdapat Formasi Ujohbilang yang berumur Oligosen Awal. tetapi di sebelah selatan daerah Lemo kontak antara Formasi Tanjung dengan Formasi Berai dan Montalat adalah selaras. Di dalam Formasi Karamuan terdapat Anggota Batugamping Jangkan dan di dalam Formasi Purukcahu terdapat Anggota Batugamping Penuut. Karamuan dan Purukcahu yang berumur Oligosen Akhir. Kontak antara Formasi Warukin dengan formasi di bawahnya tidak selaras. Formasi Purukcahu. Di atas Formasi Ujohbilang terdapat Formasi Berai yang menjari jemari dengan Formasi Montalat. Di bagian daerah Lemo diendapkan Formasi Kelinjau yang seumur dengan Formasi Warukin. Formasi Batu Kelau dan Batupasir Haloq.

Timurlaut sampai Selatan Utara. Secara umum perlapisan batuan di daerah Lemo membentuk perlipatan yang berarah Baratdaya. dinamakan Intrusi Sintang. bahkan ada yang tergeserkan akibat pengaruh sesar. . Di beberapa tempat perlipatan-perlipatan tersebut mengalami penunjaman dan pencuatan.terobosan-terobosan batuan beku bersifat andesitik dan dioritik yang terjadi pada Miosen Awal.

2. Ketebalan batubara berumur Paleogen berkisar antara beberapa sentimeter hingga 7 m. serta Formasi Warukin yang dikelompokan ke dalam batuan sedimen berumur Neogen.Gambar 3.2 Geologi Daerah Penelitian a) Morfologi Berdasarkan kenampakan di lapangan daerah Lemo dibentuk oleh dua satuan morfologi. Satuan morfologi perbukitan menempati kurang lebih 80% wilayah penelitian. sedangkan nilai kalori batuan berumur Neogen berkisar antara 4500 kal/gr – 5000 kal/gr. Stratigrafi Cekungan Barito Utara b) Endapan Batubara Formasi pembawa batubara di Kabupaten Barito Utara adalah Formasi Tanjung dan Formasi Montalat yang dikelompokan menjadi batuan sedimen berumur Paleogen. yaitu satuan morfologi pedataran dan satuan morfologi perbukitan. . sedangkan batubara berumur Neogen bisa mencapai 20 m. 3. Dari hasil analisis laboratorium para penyelidik terdahulu menunjukan bahwa nilai kalori batubara berumur Paleogen berkisar antara 5500 kal/gr – 7000 kal/gr. Apabila dilihat secara kualitas batubara berumur Paleogen lebih baik dari batubara berumur Neogen walaupun jumlahnya tidak sebanyak batubara berumur Neogen.

Satuan morfologi perbukitan penyebarannya meliputi sebelah Selatan Lemo. Pola aliran yang berkembang sampai saat ini menunjukkan pola aliran Rectangular yang mencirikan pola aliran yang terbentuk oleh percabangan sungai-sungai yang membentuk sudut sikusiku. Sementara satuan morfologi pedataran terletak di sebelah Timur di sepanjang aliran sungai Barito. Sungai-sungai yang berkembang di lokasi penelitian berdasarkan tahapan geomorfik merupakan sungai periode muda yang dicirikan dengan adanya tebing terjal dan gradian sungai yang tidak teratur.145 m di atas permukaan laut (dpl). yakni dengan kemiringan lereng antara 25 .30 %. dan menunjukan keadaan morfologi yang bergelombang lemah hingga perbukitan. satuan ini membentuk daratan rendah yang umumnya rawa basah yang terbentuk oleh proses endapan sungai Barito. Daerah penelitian dan sekitarnya menempati wilayah yang cukup landai hingga berbukit dengan ketinggian antara 80 .  Batuan Gunungapi Kasale . b) Stratigrafi Stratigrafi daerah Lemo secara berurutan dari bawah ke atas adalah sebagai berikut . sebelah Barat di sekitar sungai Lemo dan di sebelah Utara di sekitar Sungai Nango.

 Formasi Karamuan . umumnya terdiri dari basal piroksen berwarna abu-abu kehijau-hijauan.  Formasi Tanjung Merupakan batuan Tersier paling tua dan sebagai formasi pembawa batubara. klorit dan kalsit. porfiritik. berumur Kapur Akhir. batulempung dan batulanau.  Formasi Montalat Formasi Montalat menjari-jemari dengan Formasi Berai. Bagian bawah terdiri dari perselingan batupasir. sebagian terubah menjadi lempung. namun di dalam Formasi Montalat daerah Lemo tidak ditemukan endapan batubara. dapat dibedakan menjadi dua bagian. Bagian bawah terdiri dari perselingan batupasir kuarsa dengan lanau bersisipan batugamping dan batubara.  Formasi Berai Terletak selaras di atas Formasi Tanjung terdiri dari batugamping yang kadang-kadang sebarannya membentuk lensa-lensa dengan sisipan batulempung. Formasi Montalat tersingkap di daerah Lemo. terdiri dari batupasir kuarsa bersisipan batulempung dan batubara.Merupakan batuan dasar Cekungan Barito yang berbentuk retas dan ”stock”.

batubara daerah Lemo dikelompokan menjadi beberapa blok. d) Sebaran Batubara Di daerah Lemo ditemukan 18 singkapan batubara yang terdapat dalam Formasi Tanjung dan Warukin. c) Struktur Geologi Secara umum perlapisan batuan di daerah Lemo berarah BaratdayaTimurlaut dengan arah jurus berkisar antara N355oE – N30oE dan N215oE – 240oE. Jelutung dan Blok Layang.Kedudukan Formasi Karamuan menjari-jemari dengan Formasi Berai dan Montalat..  Formasi Warukin Terletak selaras di atas Formasi Berai dan Montalat. terdiri dari batupasir kuarsa bersisipan batulempung. Berdasarkan letak singkapan yang ditemukan. kemiringannya berkisar antara 15o– 60o. sedangkan untuk Formasi Warukin menjadi Blok Juloi dan Blok Berioi. yaitu untuk batubara dalam Formasi Tanjung menjadi Blok Tangucin. Terdiri dari batulumpur bersisipan batugamping dan batulanau. batulanau dan batubara. Nyaung.  Blok Tangucin Batubara disini terdiri dari dua lapisan yang membentuk antiklin berarah Baratdaya-Timurlaut atau dengan arah jurus antara N30oE - .

60 m dengan panjang sebaran ke arah jurus sekitar 1. Tebal lapisan atas pada sayap bagian Barat sekitar 4.500 m.50 m dengan panjang sebaran sekitar 1.N240oE dengan sudut kemiringan berkisar antara 20o – 45o. besar sudut kemiringan lapisan sekitar 40o. kemiringan lapisan sekitar 25o. panjang sebaran sekitar 1. tebal lapisan atas berkisar antara 1. kemiringan lapisan berkisar antara 20o. arah jurus berkisar antara N75 oE .500 m. Tebal lapisan atas pada sayap bagian Timur sekitar 7.10 m.50 m – 2. Tebal lapisan ke dua sekitar 4.20 m dengan panjang sebaran sekitar 2.500 m.000 m.50 m.N40oE dan antara N230oE . tebalnya berkisar antara 2.000 m. panjang sebaran sekitar 1.  Blok Nyaung Batubara di blok ini terdiri dari satu lapisan.10 m – 3.N80oE.50 m. Tebal lapisan ke dua sekitar 2. panjang sebara sekitar 1.000 m.35o.500 m.  Blok Jelutung Batubara di Blok Jelutung terdiri dari dua lapisan dengan arah jurus lapisan berkisar antara N40oE-N60oE.  Blok Layang . panjang sebaran ke arah jurus sekitar 1. Tebal lapisan ke dua sekitar 1.10 m.

kemiringan lapisan sekitar 60o.000 m. kemiringan lapisan sekitar 35 o. Buku Lapangan (Catatan Harian).25 m.00 m. KTC Coal Mining & Energy dikategorikan ke dalam batubara berkalori tinggi dengan nilai kalori 7. kemiringan lapisan sekitar 25o. sebaran ke arah jurus sekitar 1. Batubara pada PT. kemiringan lapisan sekitar 25o.000 kal/gr.3 Alat Dan Bahan Peralatan yang digunakan dalam penelitian antara lain: a.00 m.50 m. arah jurus N25oE. panjang sebaran ke arah jurus sekitar 1. tebal sayap Timur sekitar 2. . kemiringan lapisan 20 o. 3. tebal lapisan atas sekitar 2. tebal lapisan sayap Barat sekitar 1.000 m.000 m. Tebal lapisan ke dua sekitar 1.  Blok Juloi Terdiri dari dua lapisan batubara dengan jurus lapisan sekitar N60oE. panjang sebaran sekitar 1.Batubara di blok ini terdiri dari satu lapisan yang membentuk antiklin dengan arah jurus N220oE dan N70oE.000 – 8.  Blok Berioi Terdiri dari satu lapisan batubara yang tebalnya sekitar 3.25 m.

2 Metode Penelitian . Selanjutnya dilakukan studi lapangan yang berhubungan dengan pengamatan data yang meliputi : 1) Melakukan observasi lapangan 2) Melakukan pengamatan dan pengumpulan data yang berkaitan dengan cycle time. kesediaan alat.4.1 Langkah Kerja Penelitian ini dimulai dengan studi literatur yaitu pengumpulan datadata literatur yang berkaitan dengan penelitian.4. Laptop 3. c. dan hambatan kerja alat gali-muat angkut. Alat Pelindung Diri (APD) e. 3. 4) Hasil evaluasi dari data digunakan untuk mengetahui hambatan apa saja yang terjadi dan bagaimana waktu kerja efektif dari alat gali-muat dan alat angkut sehingga didapat solusi permasalahan yang dapat dilakukan. productivity. Kamera Digital. d. Alat Tulis. 3) Melakukan evaluasi dan pengolahan data. waktu kerja.b.4 Tata Laksana Penelitian 3.

Data lokasi daerah penelitian 3. Pengambilan data sekunder : 1. dilakukan dengan cara mengamati secara langsung kegiatan produksi di lapangan. Efisiensi kerja b. Data plan produksi per bulan. Data tersebut antara lain : 1. Data curah hujan 4. Data produksi 5. 3) Metode Interview (Wawancara) Metode ini dilakukan dengan cara mencari data melalui penjelasan secara langsung atau tanya jawab di lapangan dari pihak perusahaan PT. Productivity dan kesediaan alat 3. Cycle time 2. KTC Coal Mining & Energy. Waktu kerja 4. . 2) Metode Observasi (Pengumpulan Data) a. Pengambilan data primer (pengamatan lapangan). Hambatan yang terjadi 5. Data geologi 2.Metode penelitian yang dilakukan dalam mengumpulkan data-data adalah sebagai berikut : 1) Metode Pustaka (Studi Literatur).

Permasalahan Apa saja hambatan kerja yang terjadi dalam kegiatan pengupasan overburden ? Bagaimana efisiensi kerja dari alat gali-muat dan alat angkut ? Bagaimana waktu kerja efektif dari alat gali-muat dan alat angkut ? Bbygkj Observasi Lapangan Pengambilan Data Data Primer       Data Sekunder     Waktu kerja tersedia Productivity alat Cycle time Kesediaan alat Hambatan kerja yang terjadi Efisiensi kerja   Profil Perusahaan Peta Lokasi Penelitian Curah Hujan Geologi Regional Daerah Penelitian Spesifikasi Alat Data Produksi Analisis Data Mengevaluasi hambatan kerja yang terjadi dan waktu kerja efektif alat guna pencapaian target produksi Pembahasan Kesimpulan dan Saran Selesai Gambar 3.5 Rencana Analisis Hasil Mulai 1.3. 4. 5. 2. Diagram Alir Analisis Hasil Penelitian . 3.

dengan jadwal kegiatan sebagai berikut : Tabel 3.6 Waktu Penelitian Penelitian Tugas Akhir dilaksanakan mulai tanggal 1 November – Desember 2013. Waktu Penelitian Tugas Akhir November Kegiatan Studi Literatur Observasi Lapangan Pengambilan Data Pengolahan Data Penyusunan Laporan 1 2 3 Desember 4 1 2 3 4 .3.

Jenis Bahaya/Klasifikasi Bahaya N Kategori Bahaya Keterangan o (1 (2) (3) ) 1 Housekeeping Masalah Penempatan .BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. 1 Hasil Pengamatan 4.1 Hazard Report Point Point yang terdapat dalam Hazard Report adalah : 1.1. Profil :  Tanggal dan jam kejadian  Work Area Kejadian  Penanggung jawab Area  Identifitas Pelapor (Nama/Id)  Tangan Tangan Pelapor 2.

2 3 4 Electrical LOTO Vehicle Plant Masalah Kelistrikan Masalah LOTO Masalah yang terjadi pada kendaraan 5 6 7 8 9 1 Health & Hygiene Ground Condition Unsafe Condition Unsafe Act Dust Fire Extinguisher bergerak Masalah Kesehatan & Kebersihan Kondisi Tanah yang Kurang Baik Kondisi Berbahaya Tindakan – Tindakan Tidak Aman Masalah Debu Apar 0 1 Vibration / Noise Masalah Bising dan Getaran 1 1 Enviroment Masalag Kerusakan Lingkungan 2 1 Flora dan Fauna Masalah dengan Flora dan Fauna 3 1 Sign Masalah Keberadaan Rambu / Tanggul 4 1 Tools Masalah Peralatan Kerja / Perlengkapan 5 Kerja (1 (2) (3) ) 1 Traffic Masalah Pelanggaran Rambu 6 1 Road Surfice Permukaan Jalan 7 1 APD Masalah Penggunaan dan kondisi PPE 8 .

1 Prosedur Prosedur 9 2 Baricade Pembatas 0 2 Reflector Reflektor 1 2 Tanggul Tanggul 2 2 Other Lain . Description of Hazards/Uraian Bahaya 4.2 Area Pekerjaan di Lokasi Tambang PT. 1. Action taken by you/Tindakan yang anda lakukan 5. Darma Henwa Tbk yang memungkinkan terdapat potensi bahaya dan dapat teridentifikasi bahaya yang timbul : . Berikut adalah Area – area pekerjaan yang berada di lokasi tambang PT.Lain 3 3. Futher Action Requited/Tindakan Lanjutan yang diperlukan  By Who/Oleh Siapa  When/Kapan 4. Darma Henwa Tbk.

Waterfill 17. Tyre Shop 10. Workshop 12. Fuel Station 8. 4. Warehouse 2. Tabel 4. 4. Port 15. Office 13.1. Hauling Road Coal 7. Road Pit Highwall Disposal 6. Washpad 9. Crusher 14. Underpass 11. Clinic 16.3 Bahaya yang paling berpotensi sepanjang bulan Januari – Februari Tahun 2012. Loading Point 3. 5.1 Persentase Potensi Bahaya : No Potensi Bahaya Frekuensi Laporan Persentase (1) (2) (3) (4) .1.

3.1 % 4.6 % 6.5 % 3.1. 9. 10.6% 52.4 Area temuan bahaya sepanjang bulan Januari – Februari Tahun 2012.5 % 0.3% Fuel Station 4 36 0. 2.7% 0. 4.2% 2.3 % 8. 8.9 % 0. 3. 5.9% 1. 6.8% 5.2% 2. 9.7% 6.4 % 3.1. 13. 12 .3 % 5.4 % 19. 6. 12.6% Washpad 2 1. 7. 5.0 % 1. 14.4% . 11.2 Persentase Area Temuan Bahaya No Area Temuan Bahaya Frekuensi Persentase (1) (2) Workshop Road Pit Office Loading point Disposal Disposal Pit 3 Hauling Pit Hauling Road Coal (3) 64 3 284 39 12 13 5 10 29 (4) 11. 2.0 % 100.8 % 6. Tabel 4. 0 % 4.4 % 24. 8. Kondisi jalan rusak Bekas Oli berceceran Tidak ada Rambu Material Jatuh APD Tidak Lengkap Tidak tertib driver Penerangan Kurang Pelanggaran Rambu Masalah Listrik Kondisi berbahaya Kebersihan/kesehatan Prosedur tidak sesuai Posisi Parkir tidak sesuai Tindakan tidak aman Pekerja Total 54 4 35 18 28 22 8 19 2 105 47 37 35 131 545 9. 11. 4. 10 Area AI .1% 7. 0.7 % 6.4% 0. 7.

7% 9 Frekuensi 1.9% 4 0.4% 1 545 0. 22 Pondok Checker .7% 2 0.1% 5 0. 21 Parkiran Baru . 20 Posko Jalan M16 . No 15 Area Temuan Bahaya Crusher .0% 13 Port . 16 Clinic . 19 Fabrication .Lanjutan Tabel 4.7% 6 1.2 (1) (2) (3) (4) 4 0. 14 Tyre Shop .2% 100. 17 Underpass .7% Persentase 5 0. Total . 18 Checkpoint .9% 4 0.7% 4 0.

ASAM ASAM COAL PROJECT .5 Struktur Organisasi Departement HSE STRUKTUR ORGANISASI DEPARTEMEN HSE PT.1.4. DARMA HENWA Tbk.

2 Area Pekerjaan di Lokasi Tambang PT.Tbk Hasil Pengamatan di lapangan. Darma Henwa Tbk.1 Gambar 4.2. 4.21 Struktur Organisasi Departemen HSE Pembahasan Penerapan Hazard Report di PT. di PT.2. . Darma Henwa.2 4. Darma Henwa Tbk Hazard Report disediakan dalam bentuk blangko yang dicetak menyerupai buku saku yang bertujuan agar mudah dalam pengaplikasiannya dilapangan.4.

9. Washpad Washpad merupakan tempat pencucian Alat yang akan masuk ke Workshop. Hauling Pit Hauling Pit adalah akses – akses jalan yang dibuat di area Pit sehingga memudahakan dalam pekerjaan penambangan di Pit. Darma Henwa Tbk. 6. 5. 7. Hauling Road Coal Haulling Road Coal merupakan Jalan angkut Batubara. Warehouse Warehouse merupakan gudang penyimpanan. Disposal Pit Disposal Pit adalah area yang dibuat di Pit sebagai lokasi penimbunan OB atau Over Burden. 4. 10. Pit Pit adalah daerah bukaan tambang dimana proses penggalian batubara dilakukan. 8. karena disini semua proses perawatan dan perbaikan Unit dan Alat dilakukan disini. Highwall Highwall merupakan dinding pembatas yang dibuat di area Pit. Road Road adalah Jalan yang dibuat Perusahaan. dimana perbaikan dan perawatan ban dilakukan disini. 12. Fuel Station Fuel Station merupakan areal Pengisian Bahan Bakar.. 11. Tyre Shop Tyre Shop terletak tidak jauh dari Workshop. 2. Underpass . 1. Workshop Workshop bisa juga disebut Bengkel. 3.Berikut merupakan pembahasan mengenai Area – area Pekerjaan yang terdapat di lokasi Tambang PT..

14.. 15. pengelolaannya dengan menugaskan 2 (dua) Admin Khusus yang bertugas dalam meinput dan mengelola laporan Hazard Report. Crusher Crusher adalah tempat pengolahan Batubara. 17.3 Proses Penginputan Hazard Report di PT. dimana para ahli.2. 4.. Office Office atau Kantor adalah tempat dimana semua kegiatan administrasi dilakukan. 13.Underpass merupakan terowongan bawah tanah yang dibuat. Darma Henwa. Loading Point Loading Point merupakan tempat pengisian Batubara di Pit.Tbk.. 18.4 laporan dan file sehingga diketahui mana Bahaya yang penanggulangannya bersifat closed dan open Pengelolaan Hazard Report di PT. akses jalan ini dibuat menuju ke Port untuk tahap Loading. Perawat dan Dokter ditugaskan untuk melayani pekerja yang mengalami gangguan Kesehatan. Proses penginputan Hazard report ke PC guna membentuknya menjadi sebuah 4.2. Waterfill Waterfill adalah tempat pengisian air bagi Unit Penyiraman. Dimana Sistem Pengelolaannya dikelola secara arsip dan laporan . Port Port atau Pelabuhan adalah tempat dimana Proses Loading Batubara ke Tongkang berlangsung 16. Pengelolaan Hazard Report dikelola oleh Departemen HSE (Healthy Safety and Enviromental). Clinic Clinic merupakan Pusat Medical di Area Lokasi Tambang. Darma Henwa.Tbk.

Dimana dari semua jenis bahaya yang teruraikan dalam Hazard Report dimasukkan ke dalam Penilaian Risiko. 4. . dan progress tindak lanjut dari Hazard Report adalah akan dibahas pada weekly meeting karena pada meeting tersebut akan dilaporkan mana yang status bahayanya bersifat open yang sangat perlu dilakukan penanggulangan secara jangka panjang.5 Jalur Koordinasi Departemen HSE. HOD adalah posisi karyawan tertinggi 4. Analisa Data Potensi Bahaya dan Area Temuan Bahaya Dari Hazard Report yang masuk maka kita dapat menganalisa Bahaya apa yang paling berpotensi terjadi selama Bulan Januari dan Februari 2012 di area pekerjaan tambang.2. Selain itu kita dapat mengetahui area mana yang paling banyak berpotensi bahaya.6 dalam departemen. 4.9 Kendala Dalam Penerapan dan Pengaplikasiannya Hazard Report.4.open.19 Struktur Organisasi Departemen HSE PT.7 Tindak Lanjut Penanggulangan Bahaya dari Hazard Report Dalam Hazard Report terdapat 3 (tiga) jenis status penanggulangan bahaya yaitu closed. dampak terhadap manusia. Darma Henwa Tbk menerangkan dimana tanggung jawab tertinggi di HSE adalah manager atau HOD (Head Of Departement). Jalur Koordinasi yang terdapat di Departemen HSE yang dapat terlihat pada Gambar 4.2.2. Manajemen Risiko adalah termasuk satu tahapan dalam tindak lanjut Penanggulangan Bahaya yang ada.2. 4.2. peralatan dan lingkungan. Penilaian Risiko dilakukan dengan tujuan mengetahui seberapa besar dampak yang ditimbulkan oleh bahaya tersebut.8 Manajemen Risiko.

4. sehingga menyulitkan dalam peinputan.  Tanggung jawab dalam mencegah kecelekaan kerja meningkat. 3. kendala apa yang ada tidak terlalu khusus.  Kepedulian terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) meningkat. Kurangnya kepedulian semua pihak dalam menyampaikan laporan bahaya yang mereka temui. 2. Kurang pahamnya pelapor dalam bahaya apa yang dilaporkan.10 Manfaat Hazard Report Manfaat dari Hazard Report adalah :  Mengurangi resiko kecelakaan. Pelapor tidak menuliskan nama dengan benar.yaitu : 1. 4. Kurang telitinya pelapor bahaya dalam mengisi blangko hazard report. Kurangnya Kesadaran semua pelaku/pekerja di area tambang akan potensi bahaya yang timbul atau yang akan terjadi apabila tidak dilaporkan. 3. Sedangkan dalam penerapan Hazard Report. .  Mendapat masukan dari yang berperan.Beberapa kendala yang ditemukan dalam pengaplikasian dan penerapan Hazard Report.  Dapat meningkatkan Komunikasi. Terkadang pelapor terlambat dalam memberikan laporannya. sehingga mengalami kesulitan dalam menganalisa bahaya apa yang timbul dan tindakan apa yang perlu dilakukan serta sarat dari pelapor susah dalam dibaca. sehingga mengakibatkan keterlambatan juga dalam hal pencegahan bahaya yang ada. kendala yang ada berupa : 1. Susahnya membaca tulisan pelapor. 2.2.

dan kertas yang bewarna kuning diserahkan kepada Departemen HSE (Healthy Safety and Enviromental). Dari analisa data yang didapat dari Hazard Report yang terkumpulkan selama Januari – Februari Tahun 2012. dimana lembar yang bewarna putih diserahkan kepada PIC (Personal Inchange) atau orang yang bertanggung jawab. 2. Darma Henwa Tbk berbentuk buku saku yang bertujuan untuk memudahkan dalam penggunaannya di lapangan.1 Kesimpulan Dari hasil pengamatan dan analisa selama di lokasi penelitian maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1.BAB V PENUTUP 5. Potensi bahaya yang paling banyak mendapatkan Report dengan frekuensi sebanyak 131 kali dengan persentase 24. Pada Hazard Report terdapat 2 (dua) lembar. . Hazard Report yang diterapkan di PT.0%. Hazard Report adalah laporan bahaya dimana bahaya yang dilaporkan merupakan bahaya yang nyaris terjadi atau bahkan terjadi yang kita temukan setiap hari di area kerja tambang yang dapat menimbulkan bahaya.

2 5.3. Dalam Hazard report terdapat 3 (tiga) jenis status penanggulangan bahaya yaitu closed. dan progress tindak lanjut dari Hazard Report adalah akan dibahas pada weekly meeting karena pada meeting tersebut akan dilaporkan mana yang status bahayanya bersifat open yang sangat perlu dilakukan penanggulangan secara jangka panjang. Dalam pelaksanaan di lapangan Hazard Report yang diterapkan sudah berjalan dengan ketentuan yang ada namun dalam hal kesadaran dan tanggung jawab dalam penggunaan Hazard Report belum secara menyeluruh dengan baik diterapkan oleh pekerja Tambang khususnya yang berada dalam pekerjaan – pekerjaan lapangan yang rawan akan bahaya. .2 Saran Saran yang dapat saya berikan dalam pelaksanaan Penelitian Tugas Akhir ini adalah saran yang bersifat membangun guna penggunaan atau pengaplikasian Hazard Report ini dilapangan dapat berjalan dengan baik sesuai prosedur dan dampak positif pelaksanaannya.open. 5.