You are on page 1of 6

Learning issue

Eritropoesis (Hematopoesis)
1. Proses haematopoesis
-

Hematopoiesis merupakan proses produksi (mengganti sel yang mati) dan
perkembangan sel darah dari sel induk / asal / stem sel, dimana terjadi

-

proliferasi, maturasi dan diferensiasi sel yang terjadi secara serentak.
Proliferasi sel menyebabkan peningkatan atau pelipat gandaan jumlah sel,
dari satu sel hematopoietik pluripotent menghasilkan sejumlah sel darah.
Maturasi merupakan proses pematangan sel darah, sedangkan diferensiasi
menyebabkan beberapa sel darah yang terbentuk memiliki sifat khusus yang
berbeda-beda.

2. Tempat terjadinya hematopoiesis pada manusia :
-

Embrio dan Fetus
1. Stadium Mesoblastik, Minggu ke 3-6 s/d 3-4 bulan kehamilan : Sel-sel
mesenchym

di

yolk

sac.

Minggu

ke

6

kehamilan

produksi

menurundiganti organ-organ lain
2. Stadium Hepatik, Minggu ke 6 s/d 5-10 bulan kehamilan : Menurun
dalam waktu relatif singkat. Terjadi di Limpa, hati, kelenjar limfe
3. Stadium Mieloid, Bulan ke 6 kehamilan sampai dengan
-

lahir,

pembentukan di sumsum tulang : Eritrosit, leukosit, megakariosit.
Bayi sampai dengan dewasa
Hematopoiesis terjadi pada sumsum tulang, normal tidak diproduksi di hepar
dan limpa, keadaan abnormal dibantu organ lain.
1. Hematopoiesis Meduler (N)
Lahir sampai dengan 20 tahun : sel sel darah → sumsum tulang. Lebih
dari 20 tahun : corpus tulang panjang berangsur – angsur diganti oleh
jaringan lemak karena produksi menurun.
2. Hematopoiesis Ekstrameduler (AbN)
Dapat terjadi pada keadaan tertentu, misal: Eritroblastosis foetalis,
An.Peniciosa,

Thallasemia,

An.Sickle

sel,

Spherositosis

herediter,

Leukemia. Organ – organ Ekstrameduler : Limpa, hati, kelenjar adrenal,
tulang rawan, ginjal, dll
3. Macam – macam hematopoiesis
-

Seri Eritrosit (Eritropoesis)
Perkembangan eritrosit ditandai dengan penyusutan ukuran (makin tua
makin kecil), perubahan sitoplasma (dari basofilik makin tua acidofilik),

55

dan menghasilkan sel-sel yang memerlukan hemoglobin yang cukup untuk dapat diperlihatkan di dalam sediaan yang diwarnai. Setelah mengalami sejumlah pembelahan mitosis. Intinya secara bertahap menjadi piknotik. kromatin makin padat dan tebal. Inti Polikromatik Eritroblas mempunyai jala kromatin lebih padat dari basofilik eritroblas. Tidak ada lagi aktivitas mitosis. dari biru ungu sampai lila atau abu-abu karena adanya hemoglobin terwarna merah muda yang berbeda-beda di dalam sitoplasma yang basofil dari eritroblas. Inti mempunyai pola kromatin yang seragam. ukuran sel makin kecil. yang lebih nyata dari pada pola kromatin hemositoblas. 4. Intinya mempunyai heterokromatin padat dalam jala-jala kasar. Proeritroblas Proeritroblas merupakan sel yang paling awal dikenal dari seri eritrosit. Retikulosit Retikulosit adalah sel-sel eritrosit muda yang kehilangan inti selnya. Polikromatik Eritroblas (Rubrisit) Polikromatik Eritoblas adalah Basofilik eritroblas yang membelah berkali-kali secara mitotris. dengan diameter sekitar 15-20µm. Akhirnya inti dikeluarkan dari sel bersama-sama dengan pinggiran tipis sitoplasma. Normoblas lebih kecil daripada Polikromatik Eritroblas dan mengandung inti yang lebih kecil yang terwarnai basofil padat. 3. Basofilik Eritroblas Basofilik Eritroblas agak lebih kecil daripada proeritroblas. serta satu atau dua anak inti yang mencolok dan sitoplasma bersifat basofil sedang. proeritroblas menjadi basofilik eritroblas. dan diameternya rata-rata 10µm. Inti yang sudah dikeluarkan dimakan oleh makrofagmakrofag yang ada di dalam stroma sumsum tulang 5.perubahan inti yaitu nukleoli makin hilang. warna inti gelap. sitoplasma warnanya berbeda-beda. dan anak inti biasanya tidak jelas. Ortokromatik Eritroblas (Normoblas) Polikromatik Eritroblas membelah beberapa kali secara mitosis. dan mengandung sisa-sisa asam ribonukleat di dalam 55 . Tahapan perkembangan eritrosit yaitu sebagai berikut : 1. 2. Proeritroblas adalah sel yang terbesar. dan selnya lebih kecil. Sitoplasmanya yang jarang nampak basofil sekali. Setelah pewarnaan Leishman atau Giemsa.

termasuk adanya substansi asal (terutama globin. Pada manusia. Retikulosit dianggap kehilangan sumsum retikularnya sebelum meninggalkan sumsum tulang.sitoplasmanya. Di dalam sumsum tulang memerlukan waktu kurang lebih 2 – 3 hari untuk menjadi matang. Retikulosit terdapat baik pada sumsum tulang maupun darah tepi. dalam studinya bahwa pengukuran radio antara retikulosit di sumsum tulang terhadap retikulosit di darah tepi merupakan ukuran yang pentng untuk bisa memperkirakan beratnya gangguan produksi - SDM. yang berfungsi sebagai koenzim pada proses sintesis. Pada sistem Eritropoesis dikenal juga istilah Eritropoiesis inefektif. setiap eritrosit memiliki diameter sekitar 7.5 µm dan tebal 2 µm. 6. serta masih dapat mensintesis hemoglobin. 55 . vitamin B12. hem dan besi). sel ini berada di dalam sirkulasi selama kurang lebih 120 hari.4 juta/µl dan pada perempuan 4. Tahapan perkembangan myelosit yaitu :  Mieloblas Mieloblas adalah sel yang paling muda yang dapat dikenali dari seri granulosit.8 juta/µl. juga penting untuk pendewasaan normal eritrosit. Jumlah normal pada tubuh laki – laki 5. Choi. Leukosit Granulosit / myelosit Myelosit terdiri dari 3 jenis yaitu neutrofil. Eritrosit Eritrosit merupakan produk akhir dari perkembangan eritropoesis. sesudah itu lepas ke dalam darah. dan faktor intrinsik (normal ada dalam getah lamung). dkk. Seri Leukosit 1. Faktor-faktor lain. Diameter berkisar antara 10-15µm. karena jumlah retikulosit dalam darah perifer normal kurang dari satu persen dari jumlah eritrosit. yang dimaksud Eritropoiesis inefektif adalah suatu proses penghancuran sel induk eritroid yang prematur disumsum tulang. Dalam keadaan normal keempat tahap pertama sebelum menjadi retikulosit terdapat pada sumsung tulang. Sel ini berbentuk lempengan bikonkaf dan dibentuk di sumsum tulang. eosinofil dan basofil yang mengandung granula spesifik yang khas. Perkembangan normal eritrosit tergantung pada banyak macammacam faktor. seperti asam askorbat.

Ketika limfoblas mengalami diferensiasi. Monosit Monosit awalnya adalah monoblas berkembang menjadi promonosit. kromatin intinya menjadi lebih tebal dan padat dan granula azurofil terlihat dalam sitoplasma. inti berubah. Sel-sel akhir pembelahan adalah metamielosit. Mielosit Promielosit berpoliferasi dan berdiferensiasi menjadi mielosit. Sel dewasa (granulosit bersegmen) masuk sinusoid-sinusoid dan mencapai peredaran darah. Intinya besar dan mengandung kromatin yang relatif dengan anak inti mencolok. sel menjadi lebih kecil kemudian berhenti membelah. atau basofil. bentuk.Intinya yang bulat dan besar memperlihatkan kromatin halus  serta satu atau dua anak inti. intinya berbentuk cekungan. yang merupakan sel berukuran relatif besar. Monosit 55 . Ukuran selnya berkurang dan diberi nama prolimfosit. dengan ukuran. Metamielosit Setelah mielosit membelah berulang-ulang. Pada masing-masing tahap mielosit yang tersebut di atas jumlah neutrofil jauh lebih banyak daripada eosinofil dan basofil. Sitoplasmanya homogen dan basofil. Sel-sel tersebut  langsung menjadi limfosit yang beredar. Karena sel-sel bertambah tua. Leukosit non granuler  Limfosit Sel-sel prekursor limfosit adalah limfoblas. inti mengadakan  cekungan dan mulai berbentuk seperti tapal kuda. eosinofil. Sel ini berkembang menjadi monosit. Diameter berkisar 10µm. membentuk lobus khusus dan jumlah lobi bervariasi dari 3 sampai 5. metamielosit dikenal sebagai sel batang. Promielosit Sel ini agak lebih besar dari mielobas. berbentuk bulat. 2. Pada akhir tahap ini. Pada proses diferensiasi timbul grnula spesifik. Intinya bulat atau  lonjong. serta anak inti yang tak jelas. memungkinkan dan sifat seseorang terhadap mengenalnya pewarnaan sebagai yang neutrofil. Metamielosit mengandung granula khas.

Seri Trombosit (Trombopoesis) Pembentukan Megakariosit dan Keping-keping darah Megakariosit adalah sel raksasa (diameter 30-100µm atau lebih). Jakarta : 2010. The Indonesian Journal of pediatrics and Perinatal Medicine.info( akses 2 Desember 2007 ) 9. Atmakusuma. disitu jangka - hidupnya sebagai makrofag mungkin 70 hari. Sutaryo. Kliegman. Inti berlobi secara kompleks dan dihubungkan dengan benang-benang halus dari bahan kromatin. dkk.daviddarling.5-6. Purnamawati. volume 46. Kartoyo. volume 2. Jakarta Pusat: Interna Publishing. page 1630-1634 3. page 134-138 5. RM and Jensen. I Made. RM . . Daftar Pustaka 1. BAmbang. Edisi V. 2003. Sitoplasma memperlihatkan sifat mengandung basofil banyak setempat. United states of america www. 16th edition. H. hal1708-1712 2. Setelah sitoplasma perifer lepas sebagai keping-keping darah. Jakarta : 2005. Arvin: Nelson Ilmu Kesehatan Anak. Penerbit Buku Kedokteran EGC. hlm 64-84 4. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Kliegman. Paediatrica Indonesiana. RE. HB: Nelson Text Book of Pediatrics. megakariosit mengeriput dan intinya hancur. WB Saunders company. THALASSEMIA. Sari Pustaka. Hematologi klinik ringkas. Abdulsalam.meninggalkan darah lalu masuk ke jaringan. Ananta Yovita. Philadelphia: 2000. Sari Pediatri. 05(01): 34-38. 2009. RE.. Maria. Endang. Bakta. 55 . Penerbit Badan Penerbit IDAI. Pengaruh Penimbunan Besi Terhadap Hati pada Thalassemia. Djumhana. edisi 15. Berhman. Indonesian Pediatric Society. 2009. Cetakan ketiga. Permono. Darling D. Terapi Kelasi Pada Thalassemia . No. granula Megakariosit azurofil dan membentuk tonjolantonjolan sitoplasma yang akan dilepas sebagai keping-keping darah. IDG Ugrasena: Buku Ajar Hematologi-Onkologi Anak. Jakarta: 2006. Windiastuti. EGC : Jakarta 8. 7. 2009 6. Berhman.

55 .