You are on page 1of 14

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang
salah. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang
budaya klien. Waham dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan dan perkembangan seperti
adanya penolakan, kekerasan, tidak ada kasih sayang, pertengkaran orang tua dan aniaya
(Budi, 2009).
Waham adalah keyakinan yang salah yang secara kokoh dipertahankan walaupun
tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan realita sosial. (Stuart dan Sunden,
2005).
Sedangkan menurut (Aziz, 2003), waham adalah suatu kepercayaan yang salah
atau bertentangan dengan kenyataan yang tidak tetap pada pemikiran seseorang dan
latarbelakang sosial budaya.
Berdasarkan pengertian di atas maka waham adalah suatu gangguan perubahan isi
pikir yang dilandasi adanya keyakinan akan ide-ide yang salah yang tidak sesuai dengan
kenyataan, keyakinan atau ide-ide klien itu tidak dapat segera diubah atau dibantah
dengan logika atau hal-hal yang bersifat nyata.
B. Tanda dan gejala
1. Data Subyektif :
 Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama, kebesaran,
kecurigaan, keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai
kenyataan.
 Klien merasa tidak ada yang mau mengerti
 Klien merasa orang lain menjauhi
2. Data Obyektif :
 Menunjukkan permusuhan
 Curiga pada orang lain
 Klien tampak tidak mempunyai orang lain/menyendiri
 Klien tampak takut, kadang panik dan sangat waspada
 Tidak tepat menilai lingkungan/ realitas
 Ekspresi wajah klien Tegang, mudah tersinggung
 Marah-marah tanpa sebab
 Banyak kata atau banyak bicara dan berulang-ulang
C. Faktor Predisposisi dan Presipitasi
1.

Faktor predisposisi
Beberapa faktor predisposisi / yang memungkinkan munculnya waham antara lain :
a. Biologis

konflik / kekerasan orangtua ( pertengkaran orangtua. Faktor genetis Gangguan jiwa secara genetis pada schizofrenia dapat diturunkan melalui kromosom-kromosom. kekerasan dalam kehidupan klien. Gejala yang mungkin muncul adalah biasanya terjadi hambatan pada fungsi belajar. keluarga bersikap dingin. peperangan. misalnya kemiskinan. Sikap keluarga. Kembar identik memilik kemungkinan terbesar mengalami shizofrenia 50% lebih banyak bila salah satunya mengalami schizofrenia. dan limbik. PHK.hambatan pelayanan kesehatan. terutama di korteks frontal. dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon psikologis klien. kekerasan rumah tangga / penganiayaan ). kekosongan emosi. terisolasi. neonatus dan masa kanak-kanak. Jika salah satu orangtuanya mengalami shizoftenia maka kemungkinan 15% anaknya berpeluang mangalami penaykit yang sama atau sejenisnya. tidak ada kasih sayang adekuat. d. temporal. Kesehatan Nutrisi kurang. stress menumpuk. c. b. Psikologis Keluarga. a.kurang latihan. Sosial Budaya Kehidupan sosial budaya juga berpengaruh besar terhadap gangguan jiwa. Gangguan perkembangan dan fungsi otak/ susunan saraf pusat. b. Dan jika kedua orangtua mengalami schizofrenia maka kemungkinan anaknya mengalami penyakit yang sama adalah 35 %. perilaku menarik diri atau perlaku kekerasan. perinatal. penolakan dari orangtua / ibu. daya ingat. pengasuh. infeksi. kerusuhan. Lingkungan mencapai .  Pertumbuhan dan perkembangan individu pada prenatal. obat-obat system saraf pusat. lingkungan yang dapat mempengaruhi klien adalah penolakan. berbicara. 2. Faktor presipitasi Faktor yang terkait dengan keadaan klien dan keluarga saat ini / presipitasi / pencetus. kurang tidur.

kehilangan merasa kendali ketidakadekuatan diri obat. dengan respons yang kurang matang dan biasanya dengan aspirasi kurang. isolasi sosial. tidak mendapat pekerjaan / pengangguran c. Proyeksi Menyalahkan orang lain mengenai kesukarannya atau keinginannya yang tidak baik. Tingkat kesadaran Tingkat kesadaran terhadap realitas waktu. dengan tembok-tembok yang tahan logika. kekuasaan atau hubungan khusus dengan dewa atau orang terkenal dan diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai dengan . Mekanisme koping a. Tingkat konsentrasi Kemampuan. c. 7. perilaku kehilangan agresif. ketidakmampuan mempercayai orang lain. tempat dan orang berubah. tidak percaya diri. b. Daya ingat Perilaku mudah lupa. Menarik diri / isolasi Memutuskan pelepasan afektif karena keadaan yang menyakitkan atau memisahkan sikap-sikap yang bertentangan. (demoralisasi). perasaan takut sampai panik. Regresi Mundur ketingkat perkembangan yang lebih rendah. tidak mudah tertarik. motivasi. ketidaktepatan menilai realitas. 4. PHK. tekanan pekerjaan. Penilaian / daya tilik diri D. sukar menyelesaikan tugas. kerusakan berhubungan dengan orang lain. kemiskinan. 5. Rentang Respon / Jenis / Fase-Fase 1. Sikap / perilaku Merasa tidak mampu ( harga diri rendah).Lingkungan yang memusuhi. Waham berdasarkan temanya a.ulang menanyakan sesuatu. kewaspadaan berlebihan. Waham kebesaran Yaitu meyakini ia memiliki kebesaran. kekerasan. perhatian mudah beralih. putus asa. kehilangan kebebasan. kurang dukungan sosial. masalah rumah tangga. 6. 3. memperhatikan sesuatu sering terganggu. klien berulang . sulit berkonsentrasi pada kegiatan dan pekerjaan. kurang mampu menjalankan peraturan yang sudah disepakati. gagal yang bertubi-tubi. kritis.

Waham Menurut Onsetnya a. 2. seperti halusinasi (contoh seseorang yang mendengar suara-suara mungkin akan menjadi percaya bahwa ia diikuti). Contoh: “Saya sakit kanker”. Waham nihilistik Yaitu meyakini dirinya sudah tidak ada di dunia atau meninggal. Waham agama Yaitu memiliki kayakinan terhadap suatu agama secara berlebihan . Yang lainnya .” atau “Saya adalah anak dewa. Contoh: “Kalau saya mau masuk surga saya harus menggunakan pakaian putih setiap hari”. yang ada disini adalah roh-roh”. 2009). Contoh: “Saya ini pejabat di departemen kesehatan lho. Akhirnya mungkin menjadi beberapa jenis. Dan masih banyak lagi jenis waham lainnya (Budi. diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan. diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan. Existing Delusion (contoh seseorang dengan waham bahwa ia telah kehilanagn seluruh uangnya akan mempercayai bahwa ia akan dipenjara karena tidak bayar hutang. b. Waham Primer Merupakan salah satu waham yang muncul secara tiba-tiba dan dengan keyakinan penuh tanpa peranan perilaku kearah itu.kenyataan. Contoh: “Saya tahu. e. diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. Contoh: “Ini khan alam kubur ya.. diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan. setelah pemeriksaan laboratorium tidak ditemukan tanda-tanda kanker namun pasien terus mengatakan bahwa ia terserang kanker. c. b. Waham somatik Yaitu Meyakini bahwa tubuh atau bagian tubuhnya terganggu / terserang penyakit. Beberapa waham sekunder kelihatannya memiliki sebuah fungsi intregratif membuat pengalaman asli menjadi dapat lebih dimengerti pasien seperti contoh pertama.seluruh saudara saya ingin menghancurkan hidup saya karena mereka iri dengan kesuksesan saya”.. Contoh seorang pasien mungkin dengan tiba-tiba dan keyakinan penuh bahwa dia sedang mengalami perubahan kelamin tanpa pernah memikirkan keadaan itu sebelumnya dan tanpa ada ide atau kejadian sebelumnya yang dapat dimengerti atas kesimpulan tersebut. d. Waham Sekunder Dimana waham sekunder dapat dimengerti saat diperoleh dari beberapa pengalaman yang tidak wajar sebelumnya. saya bisa memindahkan gunung itu dengan hanya mengangkat tangan”. Waham kejar atau curiga Yaitu meyakini bahwa ada seseorang atau kelompok yang berusaha merugikan atau mencederai dirinya.

kelihatan sebaliknnya menambah rasa penyiksaan atau kegagalan seperti pada contoh kedua (Aziz R. dkk. 2003). E. Psikopatologi Genetik Ada gejala pemicu Neurologist Gangguan frontal dan korteks Neurotransmi ter Perkembangan psikologis Abnormalit as Gangguan penghantaran kehendak Pengelolaan informasi >>> Mekanisme koping inefektif Stress Cemas Mara h GPP: Waham Merasa Fisik ada somatic/ bagian yang hipokondria Konsep diri (-) tidak wajar Menyalahkan Merasa orang lain orang lain GPP: Waham atas ingin curiga kerusakannya Memberikan Merasa GPP: Waham argumentasi Intelektual punya kebesaran yang tak kekuasaan GPP: Distress Spiritua Waham keyakina l agama n GPP: Merasa Frusta Waham diri Murun Merasa si nihilistik sudah g berdosa GPP:dapat Merasa Tidak Waham diri mengampu dosa bersala ni diri .

F. Diagnosa Keperawatan Utama Gangguan Proses Pikir : Waham .

ada kontak mata. d. jangan meninggalkan klien sendirian. menanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk melakukannya saat ini g. d. a. tidak membicarakan isi sadar dimana ia berada. Membina hubungan saling percaya: hubungan saling percaya a. waham klien. mengucapkan salam terapeutik KH: b. Intervensi Kriteria hasil Klien dapat melakukan 1. membuat kontrak yang jelas ( topik. Intervensi Keperawatan No 1 Diagnosa Tujuan dan keperawatan Gangguan 1. Menggunakan keterbukaan dan kejujuran. dengarkan sampai kebutuhan . menciptakan lingkungan yang tenang mengungkapkan masalahnya e. Membantu berorientasi terhadap realita dengan cara: kepada realitas secara bertahap. b.G. memperkenalkan diri Ekspresi wajah bersahabat. c. Proses Pikir : Waham 2. menjelaskan tujuan interaksi mau duduk bersama perawat. KH: Klien merasa aman. Klien dapat berorientasi 2. mengobservasi apakah wahamnya mengganggu aktifitas harian dan perawatan diri. memberi pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis f. Jangan membantah atau mendukung waham klien : katakan perawat menerima keyakinan klien. waktu. e. tempat ). Jika klien selalu bicara tentang wahamnya. Meyakinkan klien dalam keadaan aman dan terlindungi klien c. menjabat tangan. tidak menunjukkan tingkah laku negatif.

Meningkatkan aktifitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan memerlukan waktu dan tenaga. marah) c. Klien dapat memenuhi 3.waham tidak ada. Menghubungkan klien dengan realitas dengan berbicara dengan klien KH: Klien merasa aman dan dipercaya. Membantu klien menggunakan. b. b.obat dengan prinsip 5 benar ( nama . memperlihatkan kepada klien bahwa klien sangat penting 3. Observasi kebutuhan klien sehari-hari mampu b. Meningkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan fisik dan berinteraksi dengan orang emosional klien. Memberikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien. Klien menggunkan obat 5. orang lain dan lingkungannya). KH: Klien dapat meminum obat dengan benar frekuensi. dalam konteks realitas (diri. KH: Klien mengidentifikasi a. Dengan cara mendiskusikan dengan klien tentang nama obat. lain dan lingkungan. Mengidentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi. 5. Menghubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dengan timbulnya waham d. Mendiskusikan tentang obat yang diminum dengan prinsip 5 benar. cemas. e. dirumah maupun dirumah sakit ( rasa sakit. efek sarnping minum obat. Menyertakan klien dalam terapi aktifitas kelompok : orientasi realitas. Klien mampu 4. a. a. kebutuhan dasar. dosis. Mengatur situasi agar klien tidak mempunyai waktu yang dilakukan untuk memikirkan wahamnya 4. Mendiskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama aspek positif yang dimiliki.

obat. 6. Klien respon keluarga. menunjukkan positif terhadap . Mendiskusikan gejala waham KH: b. Memberikan reinforcement bila klien minum obat dengan benar. a. dosis.pasien. Cara merawat klien c. Lingkungan keluarga dan follow up obat. Berdiskusi dengan keluarga melalui perternuan keluarga dukungan keluarga. c. d. Klien mendapat 6. Menganjurkan klien membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan. cara dan waktu).

Carpenito. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Edisi I. Keliat Budi Ana. Semarang: RSJD Dr. proses pikir dan perawatan klien adekuat. dkk.H. Jakarta : EGC. L. Amino Gondoutomo. Pedoman asuhan keperawatan jiwa. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa.hal dimana klien dapat mengungkapkan isi pikir pembicaraan sesuai keadaan yang sebenarnya. Jakarta. Buku Saku Diagnosa keperawatan (terjemahan). pemberian obat-obatan adekuat. pemanfaatan pelayanan kesehatan serta. Edisi 8.J. Evaluasi Evaluasi dilakukan pada klien waham dan dapat dikatakan berhasil apabila klien secara konsisten dapat kembali ke orientasi realitas yang sesuai. . DAFTAR PUSTAKA Aziz R. 2003. 2009. 2005. Sedangkan evaluasi pada kemampuan keluarga dapat ditunjukkan apabila keluarga dan lingkungan dapat mendukung klien ke arah kestabilan emosi. Hal ini ditunjukkan pada hal .

M. STRATEGI PELAKSANAAN  Masalah  Pertemuan  Ruangan : Waham : ke 1 (satu) : A. Proses Keperawatan . 2008. Principles and Practice of Psykiatric Nursing (5 th ed.C. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan Psikitari (terjemahan).2005.) St. Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.Stuart GW.Louis Mosby Year Book. Townsend. Sundeen.

b. kooperatif. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat. mengucapkan kata berulang-ulang. saya mahasiswa Profesi STIKES Ngudi Waluyo Ungaran. duduk sendiri. 4. tempat ). Mengucapkan salam terapeutik Menjabat tangan. raja. waktu. c. memperkenalkan diri Menjelaskan tujuan interaksi Menciptakan lingkungan yang tenang Membuat kontrak yang jelas ( topik. Perkenalan dan tujuan pertemuan “Perkenalkan nama saya perawat Eko. Diagnosa Keperawatan Gangguan proses pikir : Waham 3. C. Klien mampu mengenali kemampuan diri c. Klien dapat mengenal realitas d. Klien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar B. pejabat. FASE ORIENTASI a. Tujuan a. 2. Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SP) 1. DO : Klien tenang. 2. Kondisi Klien DS : Klien mengatakan dirinya sebagai orang penting : menjadi Nabi.1. Tujuan pertemuan kita pada pagi hari ini adalah kita berkenalan dan membina hubungan saling percaya dengan Bapak. Intervensi Kaeperawatan Membina hubungan saling percaya : 1. Salam terapeutik “Selamat pagi Pak” b. 3. Validasi perasaan dan kondisi pasien . 5.

3. H coba lakukan? setuju Pak. tempatnya di teras ini saja. Evaluasi subjektif Bagaimana perasaan Pak. jadi begitu ceritanya. H. “ Wah. H “. Saya dan perawat-perawat disini akan selalu menjadi teman dan akan mencoba membantu Bapak”. H sudah memiliki rencana dan jadwal untuk diri sendiri “. waktu. “ Tampaknya Pak. seorang Nabi itu adanya pada zaman dahulu kala. apakah ada orang lain yang juga sering mengatur-atur diri Pak. H gelisah sekali. . H ?” “ Kalau Pak. H.. Rencana tindak lanjut “ Bagaimana kalau jadwal ini Pak. Apa saja tadi yang telah kita bicarakan? Iya bagus sekali “. . bagus sekali Pak. bagus sekali Pak. FASE TERMINASI a..“ Bagaimana perasaan Bapak hari ini? Masih merasa menjadi seorang Nabi? Semalam bisa tidur nyenyak?” d. apakah Bapak bersedia? 2. H ingin ada kegiatan diluar rumah karena sangat merasa bosan jika berada di rumah terus menerus ya Pak. apa ada yang ingin ditanyakan?” “ Bapak tidak usah khawatir karena kita berada di tempat yang aman. H merasa menjadi seorang Nabi. tapi sulit bagi saya untuk mempercayainya karena setahu saya. Evaluasi objektif “ Baiklah Pak. “ Saya mengerti bahwa Pak. H sendiri?” “ Siapa menurut Pak. H ceritakan apa yang di rasakan saat ini?” “O. sekarang tidak ada yang nama nya Nabi”. H ?” d. Pak. H takut nanti di atur-atur oleh orang lain dan tidak punya hak untuk mengatur diri Pak. H yang terlalu mengatur-atur Pak. H setelah kita berbincang-bincang tadi?” b. H sendiri inginnya seperti apa?” “O. Kontrak pertemuan berikutnya . FASE KERJA “ Sebelum kita mulai berbincang-bincang. H ?” “ Jadi bapaknya Pak. H yang sering mengatur-atur diri Pak. bisakah Pak. H rasakan? kira-kira membutuhkan waktu ± 15 menit. “ Coba kita tuliskan rencana dan jadwal yang bapak rencanakan”. jadi setiap harinya Pak. tempat Bisa kita berbincang-bincang mengenai apa yang Pak. tadi kita sudah berbincang-bincang. c. Kontrak topik.

H ? oh baiklah Pak H “ “ Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. Wassalamu’alaikum wr.00 WIB bagaimana? di tempat ini saja Pak. H. H. miliki? Besok jam berapa Pak H ada waktunya? jam 09.wb “. H ”. sampai ketemu besok Pak. Pertemuan selanjutnya kita bertemu dan berbincang-bincang lagi tentang kemampuan yang pernah Pak. .“Sementara itu dulu yang kita bicarakan ya Pak.