You are on page 1of 18

I.

MEMILIH AGREGAT
Klasifikasi agregat dapat dibedakan berdasarkan:
a.

Gradasi

Gradasi rapat (dense grading)

Gradasi terbuka (open grading)

Gradasi timpang (gap grading)

b.

Ukuran butiran

Agregat kasar, dengan butiran tinggal diatas saringan no.4

Agregat halus, dengan butiran tinggal lolos saringan no.4 tertahan no
200


c.

Pengisi/filler, dengan butiran lewat saringa no 200
Bentuk butiran, kubikal(cubical), bulat (rounded), tak beraturan (irregular),

dll.
d.

Proses terjadinya, dari aslinya sampai terbentuknya butir agregat dapat terjadi
karena: diangkut air, angin, korosi, pemecahan batu.

e.

Berdasarkan teksture permukaannya/surface texture, kasar, sedang, dan halus.

Memilih agregat untuk bahan perkerasan jalan ada beberapa hal yang harus dipenuhi
yang menyangkut :
1.1. Kesepakatan Susunan Agregat (Consensus Aggregate Properties)
Para ahli lapis keras sepakat bahwa karakteristik agregat sangat menentukan dalam
perbaikan daya tahan dari Hot Mix Asphal (HMA), kesepakatan ini selanjutnya yang
disebut “consensus properties”. Karakteristik-karakteristik yang disepakati antara
lain angularity untuk agregat kasar maupun halus, flat,elongated particles dan
kandungan clay. Keriteria untuk consensus propertis ini juga dipengaruhi oleh tingkat
kepadatan lalu lintas dan posisi dari struktur lapis keras tersebut. Material yang dekat
dengan permukaan lapis keras memerlukan susunan yang lebih keras.

Angularity untuk agregat kasar
Kesepakatan ini menyangkut prosentase berat dari agregat kasar yang tertahan
diatas saringan 4,75 mm yang memiliki 1 bidang pecah atau lebih. Hal ini akan
berpengaruh pada gesekan internal agregat dan rutting.

1

0 <3.3 <1.0 < 10 < 30 <100  100  40 40 45 45 45 45 40 40 40 45 45 Flat and Elongated Particeles Kesepakatan ini menyangkut prosentase masa dari agregat kasar yang memiliki perbandingan dimensi maksimum ke minimum lebih besar dari 5. Diukur dengan sand equivalent test dimana 2 .2 Standar Angularity Agregat Halus (%).0 < 10 < 30 <100  100 % Max 10 10 10 10 10 Catatan : berlaku untuk  > 4.0 75/50/< 10 85/80 60/< 30 95/90 80/75 <100 100/100 95/90 100/100 100/100  100 Catatan : 85/80 diartikan bahwa 85% agregat kasar memiliki 1 atau lebih bidang pecah. Tebal Lapis Permukaan < 100 mm > 100 mm Lalu lintas ESAL (juta) < 0.Tabel 1.3 <1.75 mm  Kandungan Lumpur (Clay Content) Clay content adalah prosentase material lumpur (tanah) yang terkandung dalam agregat yang lolos ayakan 4.3 55/-/<1.75 mm. dan 80% memiliki 2 atau lebih bidang pecah. dimana rongga udara yang tinggi berarti bidang kontak lebih banyak yang diukur dengan alat tertentu (alat angularity agregat halus).1 Standar Angularity Agregat Kasar (%). Tabel 1.  Angularity untuk agregat halus Kesepakatan ini menyangkut prosentase rongga udara dalam agregat padat yang lolos saringan 2.0 65/-/<3.36 mm. Tabel 1. Tebal Lapis Permukaan < 100 mm > 100 mm Lalu lintas ESAL (juta) < 0.3 Flat and Elongated Particeles Lalu lintas ESAL (juta) < 0.0 <3.

 Keuletan (toughness) Keuletan (toughness) merupakan prosentase hilangnya material agregat sepanjang pengujian abrasi los angeles. Tabel 1. ada beberapa karakteristik yang ditentukan oleh sumber/asal agregatnya.0 <3. Pengujian ini untuk memperkirakan daya tahan agregat terhadap pengaruh cuaca selama pelayanan.sand equivalent dihitung sebagai perbandingan dari pasir terhadap ketinggian pembacaan lumpurnya. Source Aggregate Properties Untuk tambahan terhadap kesepakatan properties agregat. pengangkutan dan pelayanan.3 <1. Pengujian ini memeperkirakan daya tahan dari agregat kasar terhadap abrasi dan degradasi mekanis sepanjang pemindahan. kekuatan (soundnees) dan material-material yang hilang (deleterious). Sehingga beberapa propertis agregat yang menyangkut asal dari agregat disepakati ditetapkan oleh badan lokal. maka akibat yang ditimbulkan adalah terjadinya kerusakan berupa rutting.0 < 10 < 30 <100  100 Sumber : Superpave 40 40 40 45 45 50 50 1. Pengujian ini dapat dilakukan pada agregat kasar maupun agregat halus.  Keawetan (Soundness) Keawetan (soundness) merupakan prosentase hilangnya material dari agregat selama pengujian dengan sodium atau magnesium sulfat. dengan memasukkan agregat tersebut ke dalam larutan sodium ataupun magnesium 3 . Apabila nilai tersebut dilampaui.2. Propertis agregat tersebut adalah keuletanan (toughness). sepanjang propertis ini sesuai untuk perencanaan campuran dan propertis ini digunakan juga sebagai kendali dalam penerimaan material.4 Flat and Elongated Particles Lalu lintas ESAL (juta) Sand equipalent minimum (%) < 0. Hasil pengujian adalah prosentase berat yang hilang selama pengujian karena degradasi mekanis. dinyatakan dalam satuan prosentase. Nilai maksimum yang hilang maksimum 40 %.

Berdasar tekstur permukaan/surface texture. serpihan kayu. Prosentase dari berat material yang hilang pada poses pengayakan basah merupakan prosentase dari material yang hilang (yang berupa gumpalan tanah. Maretial yang hilang didefinisikan sebagai prosentase dari berat pencemar yang ada dalam agregat seperti gumpalan tanah.  Material-material yang hilang (deleterious). Analisa ini dapat dilakukan untuk agregat kasar maupun agregat halus. dan lainnya. sedang dan halus. 1. Nilai maksimum yang lolos antara 10% sampai 20% untuk lima putaran. 4 . yaitu dari aslinya sampai terbentuk butir agregat karena diangkut air/water.3. bulat/rounded. serpihan kayu. yaitu dapat berbentuk kasar. Nilai tersebut berada pada skala kurang dari 0. pemecah batu/crusher. Berdasarkan proses terjadinya agregat.sebagai contoh spesifikasi gradasi campuran beton aspal (AC) dan Split Mastic Asphalt (SMA). Gradasi (Gradation) Berdasarkan ukuran butiran untuk pekerjaan jalan dapat dikelompokkan menjadi:  agregat kasar yaitu butiran yang tinggal diatas saringan no 4  agregat halus.2% sampai tertinggi 10% tergantung dari komposisi pencemarnya. yaitu agregat yang tinggal diatara saringan no4-no 200  pengisi/filler yaitu butiran yang lewat saringan no 200 Berdasarkan bentuk butiran yaitu terdapat beberapa bentuk butiran: kubikal/cubical. mika atau batu bara). tak beraturan/irreguler. mika dan batu bara. terdiri dari : a).sulfat kemudian dikeringkan dalam oven. Gradasi agregat adalah bahan agregat campuran dari berbagai diameter butiran agregat yang membentuk susunan campuran tertentu. Pengujian ini dilakukan dengan pengayakan basah menggunakan ayakan khusus. korosi/corosion. Gradation Master Bands Gradasi ini dibedakan menjadi tiga macam yaitu :  gradasi rapat (well graded)  gradasi terbuka (open graded one size)  gradasi timpang (gap graded) Gradasi ini mempunyai batas yang sempit sehingga variasi target gradasi sedikit. angin/wind.

12.59 mm 0.4 mm 19.00 41.50 mm Control Points Rewstricted Zone Boundary Min Max Min Max 90.50 11.60 0. Gradation Control Using Control Points and Restricted Zone Gradasi ini mempunyai batasan yang lebih lebar.30 0.52 mm 4.38 mm 0.50 25.00 34.30 0.60 11.60 0. Sebagai contoh spesifikasi gradasi campuran superpave.70 10.75 2. Secara umum agregat sebagai bahan jalan harus memenuhi syarat sebagai berikut: 5 .30 15.40 39.1 mm 25.00 37.Tabel 1.7 mm 9.7 Gradation Control Points and Rewstricted Zone Sieve (mm) 50.80 18.00 37.36 1.00 1.18 0.40 dan seterusnya untuk ukuran nominal maks 19.00 mm.074 mm 100 80-100 55-75 35-50 18-29 13-23 8-16 4-10 Split Mastic Asphalt (SMA) 0/11 0/8 0/5 45-70 70-80 - 10 25 30-50 20-30 - 100 80-100 70-90 50-70 35-50 18-29 13-23 8-16 4-10 60-70 - b).80 24.00 mm Control Points Rewstricted Zone Boundary Min Max Min Max 90.10 13.1 mm 12.00 34.279 mm 0.30 21.50 30.75 2. sehingga variasi target gradasi dapat dibuat lebih banyak.00 19.149 mm 0.5 Gradation Master Bands Ukuran saringan AC Grading III IV 38.00 100.70 27.00 Tabel 1.6 Gradation Control Points and Rewstricted Zone Sieve (mm) 50.50 mm dan 9.00 0.00 45.70 23.50 15.50 mm.10 17.18 0.00 4.075 Gradasi Superpave Untuk Ukuram Nominal Maks 25.00 90.075 Gradasi Superpave Untuk Ukuram Nominal Maks 37.60 11.00 100.00 100.00 15. Untuk memperbaiki tingkat pelayanan lapis perkerasan jalan maka dipergunakan garadasi jenis ini.00 4.00 100.70 10.36 1.76 mm 2. seperti tabel berikut ini : Tabel 1.00 39.50 26.00 90.50 25.00 6.00 7.

25  5 Pen 100  20 Pen. 4) Kekerasan (hardness). 40  10 Pen 300  45 Pen. kekentalan. agregat harus memiliki tahanan terhadap polishing agar dapat menyediakan koefesien gesekan yang cukup dan dapat bertahan lama. II. PEMILIHAN ASPAL Aspal atau bitumen merupakan material untuk membuat perkerasan yang berfungsi sebagai pengikat apabila dicampur dengan agregat dan berfungsi sebagai perekat apabila digunakan sebagai Prime coat atau Tack coat. Jenis –jenis aspal berdasarkan nilai penetrasi adalah : AC 40-50 AC 60-70 (100 gr / 5 dtk / 0. 15  5 Pen 70  10 Pen.1) Tahan lama ( durable ). Klasifikasi aspal berdasarkan nilai penetrasi nilai penetrasi adalah kedalaman jarum penetrasi dengan beban 100 gr selama 5 detik pada suhu 25 o C masuk ke dalam aspal dalam satuan 0. 50  10 Pen 450  65 6 .1 mm. resistance to slow/rapid loading. 6) Stripping. agregat harus memiliki keuletan yang cukup. agar agregat tahan terhadap stripping harus mempunyai adhesi yang baik dengan bahan ikatnya. akan memberikan tahanan terhadap slow crushing load dan rapid impact load. 35  7 Pen 200  30 Pen. aspal cair dan aspal emulsi. a. Adapun klasifikasi aspal dapat dibedakan berdasarkan penetrasi.1 mm) AC 85-100 AC 120-150 AC 200-300 Sedangkan klasifikasi aspal berdasarkan nilai penetrasi menurut British Standart (BS. 5) Polishing. akan memberikan tahanan terhadap abrasion/attrition. 3) Keuletan (toughness).3690) adalah sebagai berikut: Pen. resistance to abrasive wear 2) Kuat ( Strong).

disebut poise (P) S 1unit 1 pa –s (1N – s/m 2 ) disebut 10 P 4) Thin Film Oven Test yaitu kehilangan berat aspal dalam % berat Rolling Thin Film Oven yaitu karakteristik aspal setelah RTFO test untuk menentukan grading aspal semula dinyatakan dalam AR (age residu ) –viscosity graded series. Medium Curing.b. Slow Curing). Klasifikasi berdasarkan nilai kekentalan yang didapat dari uji kekentalan adalah sbb: 1) Saybolt Furol (SF) Aspal suhu 60 o C mengalir melalui pipa  1/8” untuk mengisi labu dengan volume 60 ml. atau 1 dyne – sec/cm 3 . 2) Kinematis dengan satuan Centi Stokes (cst) 3) Satuan cgs 1 gr/cm –sec. Waktu pengisian menunjukkan kekentalan SF (detik).5 Asphalt Cement – angka menunjukkan AC 5 kekentalan pada 60 o C (140 o F) dalam satuan AC 10 100an poises (toleransi  20%) AC 20 AC 40 AR 1000 Age Residu – angka menunjukkan kekentalan AR 2000 setelah uji RTFO pada suhu 60 o C ( 140 o F) AR 4000 dalam satuan poises (toleransi  25 %) AR 8000 AR 16000 c. Jenis –jenis aspal menurut kekentalannya adalah: AC 2. Aspal Emulsi 7 . bensin atau solar. Jenis aspal cair terdiri dari: Rapid Curing (RC) 0 30 angka menunjukkan kekentalan dalam satuan Medium Curing (MC) 1 70 cst pada suhu 60 o C Slow Curing (SC) 2 250 3 800 4 3000 5 d. Aspal cair Aspal yang merupakan hasil olahan dari aspal keras yang dicairkan dengan menggunakan bahan pencair sepeti kerosen. Aspal cair diklasifikasikan berdasarkan kecepatan penguapan (Rapid Curing.

jika partikel aspalnya bermuatan listrik negatif - Nonionik. Tack Coat dan Prime Coat .paling cocok untuk slurry seal Tabel 2. jika partikel aspalnya tidak bermuatan listrik (netral) Adapun bila ditinjau dari kecepatan pengikatan terdiri dari 3 macam yaitu: - Rapid setting (RS) yaitu aspal emulsi yang memiliki kecepatan pengikatan paling cepat. Pemilihan jenis aspal disesuaikan dengan jenisnya pekerjaan yang akan dilakukan (CRS.CSS) tergantung kecepatan pengikatan kelebihan : .CMS.angka depan menunjukkan suhu 8 .cocok untuk campuran dingin (Cold mix). -46) . aspal emulsi dibedakan menjadi 3 macam yaitu: - Kationik. dimungkinkan penggunaan film aspal tebal S = solvent (more solvent than the orthers) K = kationik/ kental e. - Medium Setting (MS) yaitu aspal emulsi yang memiliki kecepatan pengikatan menengah (medium) - Slow setting (SS) yaitu aspal emulsi yang memiliki kecepatan pengikatan paling lama.penggunaan alat bervariasi (dari alat berat sampai ringan) .yang dibuat dari aspal keras + Emulsifier + air bila dilihat dari muatan listrik pada partikel aspalnya. yaitu apabila partikel aspalnya bermuatan listrik positif - Anionik. -40.mudah pengerjaannya .1 macam –macam aspal emulsi Anionik Kationik BM RS – 1 RS – 2 MS – 1 MS – 2 MS – 2h CRS – 1 CRS – 2 CMS –2 CMS –2h CMS – 2S MC – 1 MC – 2 MS – 1 MS – 2 MSK – 2h MCK – 1 MCK – 2 MSK – 1 MSK – 2 MSK – 2h HF MS – 1 HF MS – 2 HF MS – 2h HF MS – 2s SS – 1 SS – 1h CSS – 1 CSS – 1h ML – 1 ML – 1K MLK – 1 MLK – 1h C = cationik/cepat R = rapid M= medium/mengendap S= slow/sedang S=setting h=harder base asphalt HF= hot float (diukur dengan flaot test.ramah lingkungan . Performance Grade Asphalt PG 46 (-34.

Pav (o C) 5. -40.PG 52 (-10. -34. -34.7 o C T20mm = suhu rencana perkerasan tertinggi. jarak angkut 6. DSR (oC) 4. lain –lain 1. -34. Nyala (o C) PG 82 (-10. Faktor lalu lintas 9 . -16. -16.2289 Lat + 42. -34. RTFO residu (%) 7. faktor lalu lintas 2. -28. -16. Kekentalan (cP) 3.00618 Lat 2 + 0. -16. DTT (oC) 6. Tair = suhu udara tertinggi rata-rata. -22.859 Tair + 1. -28. tenaga kerja 9. -34. -40) . Ttk.9545) – 17. faktor iklim 3. -28. -40) minimum perkerasan PG 70 (-10. ) 2. tuntutan lingkungan 8. volume pekerjaan 7. -28. 7 hari (o C) – untuk T Suhu terendah rata –rata tahunan (o C) untuk T Lat = lokasi perkerasan di garis lintang (derajat) Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan pilihan jenis aspal yang akan digunakan dalam membuat perkerasan adalah: 1. -22. suhu 20 mm di bawah permukaan perkerasan Tmin = suhu rencana perkerasan terendah. -16. -40) .pengujian aspal: PG 76 (-10. -34. -22. -28. ) 1. peralatan yang tersedia 4. gradasi agregat 5. -22.angka belakang menunjukkan suhu PG 64 (-10. suhu di permukaan perkerasan. -22. -22.78 Tmin = 0. creep stiffness (oC) T 20mm = (Tair – 0. -46) maksimum perkerasan PG 58 (-16.2) ( 0. -28. TFO residu (%) 8.

Sebagai contoh untuk perkerasan terminal dimana banyak kendaraan yang parkir. terminal masing masing dinaikkan 1 grade. karena nilai penetrasi yang rendah akan mempunyai nilai stabilitas yang lebih tinggi dibandingkan nilai penetrasi yang tinggi. Sebagai contoh untuk jalan negara atau jalan tol harusnya menggunakan aspal dengan nilai penetrasi 40 –70 ( misal AC 40-50 atau AC 60-70). jumlah lintasan Semakin banyak jumlah lintasan pada suatu jalan yang akan dibuat. untuk lalu lintas lambat dan beban berhenti seperti tempat parkir. sehingga lama pembebanan terhadap perkerasan cukup tinggi. maka jenis aspal yang digunakan harus menggunakan aspal dengan penetrasi rendah misal AC 40-50 atau AC 60-70. maka akibat yang ditimbulkan adalah akan terjadi kerusakan yang lebih cepat sebelum tercapai umur rencana. Akibat yang akan terjadi apabila salah dalam memilih aspal ditinjau dari kecepatan kendaraan adalah terjadinya kerusakan perkerasan jenis deformasi seperti bleeding dan rutting. 10 . Untuk perkerasan yang melayani kendaraan dengan kecepatan rendah seharusnya menggunakan aspal dengan nilai penetrasi yang lebih rendah jika dibandingkan dengan perkerasan yang melayani kendaraan cepat.Faktor lalu lintas akan mempengaruhi jenis aspal yang akan digunakan adalah jumlah lintasan lalu lintas yang diukur dengan ESAL (ekivalen standart axle load) dan kecepatan lalu lintas. a. kecepatan kendaraan (speed) Kecepatan kendaraan akan mempengaruhi lama pembebanan terhadap perkerasan. maka jenis aspal yang akan digunakan harus mempunyai viskositas yang tinggi yang ditunjukkan dengan nilai penetrasi. b. nilai modulus kekakuan perkerasan sangat tergantung oleh modulus kekakuan aspalnya yang dipengaruhi oleh temperatur aspal dan lama pembebanan. Adapun kerusakan yang mungkin terjadi diantaranya adalah fracture dan rutting. Adapun pengaruh kecepatan terhadap perkerasan adalah sebagai berikut: kecepatan akan mempengaruhi lama pembebanan dan berakibat pada perubahan temperatur perkerasan yang akan berpengaruh pada nilai E perkerasan. Untuk memilih aspal berdasarkan kecepatan lalu lintas apabila menggunakan aspal jenis Performance Grade diperlukan koreksi sbb: a. Apabila perkerasan yang melayani beban lalu lintas yang cukup besar (>1 juta SAL) menggunakan aspal AC 80-100 atau penetrasi yang lebih tinggi.

alat pemadat alat yang akan digunakan akan berpengaruh terhadap produktifitas kerja dan pemilihan jenis aspal. 11 . tetapi apabila alat yang tersedia kurang memadai. pemadat). Faktor iklim tersebut meliputi: a. Peralatan yang tersedia (equipment) : Peralatan untuk melaksanakan pekerjaan jalan yang harus dipertimbangkan dalam memilih aspal meliputi : c. maka jenis aspal yang digunakan harus memberikan kesempatan pangerjaan yang lebih lama. c. alat penggelar c. Semakin baik jenis alat yang digunakan maka semakin leluasa dalam memilih jenis aspal. basah/kering yang akan mempengaruhi kadar air perkerasan. Memilih aspal berdasarkan suhu udara berhubungan dengan nilai penetrasi. penggelar.300 dst atau aspal cair jenis SC dsb. d. Iklim Faktor iklim mempunyai peran yang cukup besar dalam menentukan jenis aspal yang akan digunakan. panas/dingin yang berhubungan dengan suhu udara yang akan mempengaruhi suhu perkerasan b. deformasi. rutting.b. Kerusakan perkerasan yang diakibatkan karena kesalahan pemilihan aspal pada kasus ini adalah bleeding. 2. pada daerah dingin lebih cocok apabila digunakan aspal dengan penetrasi tinggi sedangkan pada daerah tropis lebih cocok menggunakan aspal penetrasi rendah (viskositas tinggi). Ketinggian lokasi dari muka air laut yang akan mempengaruhi suhu udara dan tekanan udara yang akhirnya akan berpengaruh terhadap temperatur perkerasan. Sebagai contoh apabila dilapangan alat yang tersedia hanya alat sederhana (alat pencampur. maka dapat digunakan bahan aditive. 3. maka aspal yang digunakan adalah aspal penetrasi 200. Untuk jumlah lalu lintas (ESAL) 1 juta –30 juta atau >30 juta masing –masing dinaikkan 1 grade. Temperatur perkerasan yang dipengaruhi oleh temperatur udara dan letak geografis. Untuk mengatasi apabila aspal yang tersedia tidak sesuai yang diinginkan.alat pencampur (AMP & molen) d.

perbedaan tersebut disebabkan karena prosentase rongga antar agregat. gradasi terbuka dan gradasi timpang. Untuk pekerjaan dengan volume kecil tentunya alat yang digunakan untuk mencampur. Tetapi apabila suhu pencampuran dinaikkan untuk mendapatkan suhu pemadatan yang sesuai dengan spesifikasi. pemadatan tidak memenuhi syarat khususnya syarat temperatur pencampuran. penggelaran. 5. sehingga aspal yang 12 . maka dalam menentukan jenis aspal untuk jarak yang jauh seharusnya digunakan aspal yang tidak begitu peka terhadap perubahan temperatur. Gradasi terbuka maupun gradasi timpang memiliki rongga yang lebih besar jika dibandingkan dengan gradasi rapat. maka akan sulit untuk mendapatkan hasil yang optimal karena saat pencampuran. pemadatan. maka aspalnya yang mengalami kerusakan akibat pemanasan yang berlebihan. hal ini akan berpengaruh terhadap kemudahan aspal untuk memasuki rongga antar butiran agregat. Volume pekerjaan Volume pekerjaan dibedakan antara volume kecil dan volume besar. Jarak angkut antara AMP dengan lokasi pekerjaan. misal dengan menggunakan bahan aditive atau menggunakan aspal cair maupun aspal emulsi. Jarak angkut akan mempengaruhi dalam pemilihan jenis aspal. Untuk mengatasi hal tersebut. menggelar maupun untuk memadatkan adalah alat yang sederhana.Akibat yang ditimbulkan apabila terjadi kesalahan pemilihan aspal melihat alat yang tersedia. Gradasi agregat Gradasi agregat dibedakan menjadi 3 yaitu : gradasi menerus (rapat). hal ini disebabkan karena jarak angkut yang cukup jauh memungkinkan terjadinya penurunan temperatur yang cukup besar sehingga untuk mendapatkan suhu pemadatan yang memenuhi syarat akan kesulitan. 6. Jenis aspal yang cocok untuk gradasi timpang maupun gradasi terbuka adalah aspal yang memiliki viskositas (kekentalan ) yang tinggi sedangkan untuk gradasi rapat jenis aspal yang cocok adalah aspal dengan kekentalan sedang sampai rendah. hal ini akan berpengaruh terhadap pemilihan jenis aspal yang akan digunakan. Disisi lain kebutuhan aspal pada gradasi timpang maupun gradasi terbuka akan membutuhkan aspal yang lebih besar jika dibandingkan dengan gradasi menerus. penggelaran. 4.

7. 8. Sebagai contoh pekerjaan jalan pada sebuah rumah sakit. aspal emulsi maupun aspal Buton.digunakan cukup aspal yang memungkinkan digunakan alat yang sederhana tersebut. Hal ini disebabkan karena tenaga kasar yang tidak terlatih akan membutuhkan waktu yang lebih lama dalam melakukan penggelaran sehingga dimungkinkan akan terjadi penurunan suhu yang cukup besar yang berakibat suhu pemadatan menjadi rendah. apabila aspal yang digunakan merupakan aspal yang dapat menimbulkan polusi saat pelaksanaan. maka dapat digunakan aspal cair atau aspal emulsi yang dicampur secara dingin (Cold mix) sehingga tidak menimbulkan polusi yang cukup besar. Hal ini berarti bahwa sebelum pemadatan dilakukan telah terjadi ikatan awal dan akhirnya akan menyebabkan hasil pemadatan yang kurang baik. 13 . Jenis aspal yang cocok untuk kasus ini adalah aspal cair. Untuk mengatasi hal tersebut. Untuk mengatasi hal ini. maka aspal yang digunakan sebaiknya aspal yang kurang peka terhadap perubahan suhu ( dapat digunakan bahan aditive yang sesuai) atau menggunakan aspal emulsi maupun aspal cair. Buruh (labour) Tenaga kasar (buruh) sebaiknya dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan jenis aspal yang akan digunakan. maka akan mengganggu pasien. Tuntutan lingkungan Tuntutan lingkungan menyangkut hal apakah dalam melaksanakan pekerjaan jalan tersebut menimbulkan polusi yang dapat mengganggu lingkungan dimana pekerjaan tersebut dilaksanakan.

4 55-75 mm No.074 mm 1/2 100 mm 3/8 80-100 mm No.1.1 mm 12.38 0.4 47 100 0. agregat halus (F2) dan filler (F3) yang sesuai dengan spesifikasi/ persyaratan gradasi.7 9. kasar (F1) Ag.76 mm 2. Gradasi Agregat dan Spesifikasi Beton Aspal Grading III Saringan L Spesifikasi O (grading III) Ag.4 mm 19.2. Unruk keperluan peningkatan suatu ruas jalan misalnya akan diproduksi jenis campuran panas aspal agregat beton aspal (AC) grading III dengan spesifikasi yang telah ditentukan menurt Bina Marga 1987 sebagai berikut : Tabel 4.8 35-50 mm No.30 18-29 mm No.3 23 95 0.2 berikut ini.5 23.1 8. Perancangan Campuran (Mix Design) Perancangan campuran (mix design) dimaksudkan untuk menentukan proporsi campuran yaitu agregat kasar (F1).5 18 12 7 100 100 100 85 100 100 58 100 100 15 95 100 2.279 0. Campuran Gradasi/ tekstur Tebal padat(mm) Ukuran saringan 38.279 mm 0.5 36 97 0.52 4.200 4-10 100 90 65 42.1 mm 25.59 mm 0.100 8-16 mm No. Tabel 3.149 0. A.7 mm 9.8 75 S Untuk pelaksanaan dilapangan ada dua metode yang umum dipakai yaitu metode analitis dan grafis. Gradasi Agregat Bahan Susun Beton Aspal No.59 0.38 mm 0. Metode Analitis Didasarkan pada rumus empiris sebagai berikut : 14 .074 mm I II III IV V VI VII VIII IX X XI Kasar Kasar Rapat Rapat Rapat Rapat Rapat Rapat Rapat Rapat Rapat 20-40 25-50 20-40 25-50 40-65 50-75 40-50 20-40 40-65 40-65 40-50 100 62-80 44-60 28-40 20-30 12-20 6-12 100 85-100 65-85 45-65 34-54 20-35 16-26 10-18 5-10 100 85-100 56-78 38-60 27-47 13-28 9-20 4-8 100 74-92 48-70 33-53 15-30 10-20 4-9 % berat yang lolos 100 75-100 35-55 20-30 10-22 6-16 4-12 2-8 100 75-100 60-85 35-55 20-35 10-20 6-16 4-12 2-8 100 80-100 55-75 35-50 18-29 13-23 8-16 4-10 100 80-100 70-90 50-70 35-50 18-29 13-23 8-16 4-10 100 80-100 60-80 48-65 35-50 19-30 13-23 7-15 1-8 100 90-100 82-100 72-90 52-70 40-56 24-36 16-26 10-18 6-12 100 80-100 54-72 42-58 26-38 18-28 12-20 6-12 Sumber : Bina Marga (1987) Kemudian dari hasil pemeriksaan agregat yang ada dilapangan diperoleh gradasi seperti dalam tabel 3.50 13-23 mm No.III. halus (F2) Filler (F3) L O 12.52 mm 4.76 2.149 mm 0.

3 diatas dapat dilihat bahwa hasil penggabungan dari ketiga fraksi yang diperoleh dengan metode analisis masih berada dalam rentang spesifikasinya untuk lebih jelasnya dapat digambarkan seperti pada grafik gradasi campuran terlampir (lampiran 1).6 % (F1) 95  15 Menentukan prosentase (%) dari butir F2 dan F3.3 Tabel 3.76 2.X  F S x100% F C dengan : X = % butir F1 yang akan dicari penggabungannya F = % butir F2 yang lolos saringan No.3 20.6 4 6.3 = 29.1 : 5.4 – 5. 200) perlu 7 %.3 42.6 29.7 Dari tabel 3.5 23.6 = 34.50 13-23 mm No.8 27.8 Dari gradasi yang tersedia diperoleh : F = 95 % S = 42.3 100 55.1 5. ini akan dipenuhi oleh F3 sebanyak :  4 x 100 %  5.8 S = % lolos No. Gabungan butir fraksi dengan metode Analisis Saringan L Spesifikasi O (grading III) F1 x 65.5 x100%  65.100 8-16 mm No.6 %.7 9.200 4-10 100 90 65 42.8 29.8 1.3 72.1 % Jadi susunan gabungan butir fraksi adalah = F1 : F2 : F3 = 65.1 % F3 x 5.30 18-29 mm No.2 6.279 0.52 4.8 dari batas tengah spesifikasi C = % butir F1 yang lolos saringan No.8 =3 %. berarti masih kekurangan sebanyak 7% .4 55-75 mm No. 200 = 34.3 10.38 0.6 13.6 0.5 5.3 % Total L O S 12.5 18 12 7 65.9 0.7 5 11.3.1 5.9 0. 15 .6 : 29.5 9.7 5.1 15.1 29.3 % = 4 %. Setelah didapat F1 = 65.1 2.5 % C = 15 % X  95  42.8 35-50 mm No.3 90.4 % Jumlah F2 yang lolos saringan No.2 38.6 % F2 x 29.3 % 75 Maka F2 = 34. maka F2 =100 – 65.4 % x 8.1 5.149 0.59 0. padahal menurut spesifikasi (batas tengah No.074 mm 1/2 100 mm 3/8 80-100 mm No.7 5.

4 31.1 % F3 x 4.1 4.50 13-23 mm No.2 7. F3.1 4.4 6. Dari grafik yang didapat dihitung proporsi dari masing-masing fraksi.76 2.9 0.1 : 4.4 31.3 11.5 43.5 73.2 Untuk selanjutnya gradasi yang diperoleh ini akan digambarkan seperti pada lampiran 2 .4 % F2 x 31.7 1.1 4.5 90.2 4.30 18-29 mm No.3 37.3 11.38 0.5 14.5 18 12 7 64.6 0. datanya sama dengan metode analitis).52 4.5 20.4 55-75 mm No.100 8-16 mm No.59 0.7 31.4 Gabungan butir fraksi dengan metode Grafis Saringan L Spesipikasi O (grading III) F1 x 64. F2.05 9.B.4 15.7 3. tetapi masih terletak didalam batas spesifikasi seperti yang ditunjukkan dalam tabel 3.6 4.4 : 31.7 9.5 % Total L O S 12.7 0.7 29.5. Metode Grafis Pada metode ini dari tiga fraksi yang tersedia (F1.074 mm 1/2 100 mm 3/8 80-100 mm No.2 4.200 4-10 100 90 65 42. Untuk memperoleh hasil yang lebih sempurna dan meyakinkan maka proporsi yang diperoleh dengan grafik I dikoreksi lagi dengan menggunakan grafik II maka diperoleh hasil sebagai berikut: F1 : F2 : F3 = 64.149 0.4 berikut ini.5 4.8 35-50 mm No. Hasil ini sedikit berbeda dengan yang diperoleh pada metode analitis.279 0. Tabel 3.1 2. 16 . dimana penggabungannya dengan bantuan grafik menggunakan gradasi tengah dari spesifikasi sebagai gradasi ideal (beton aspal grading III) dan selanjutnya didapat grafik dari masing-masing nomor saringan dan kemudian masing-masing fraksi digambarkan kurvenya.5 100 54.5 23.

Ada dua macam cara persiapan benda uji yaitu : A.Persiapan Pembuatan Benda Uji Setelah dilakukan pemeriksaan terhadap kwalitas material (aspal dan agregat) bila telah memenuhi persyaratan. Penyiapan Agregat secara Fraksi. maka dilanjutkan dengan persiapan pembuatan benda uji marshall di laboratorium (untuk penelitian dan atau pembuatan Job Mix Pormula). Penyiapan agregat dengan cara ini didasarkan atas proporsi yang diperoleh dari metode analitis ataupun metode grafis dan untuk kasus ini digunakan proporsi dari metode grafis.0 gram Penyiapan agregat dengan cara ini dapat dilakukan sepanjang agregat yang digunakan berasal dari satu sumber (berat jenisnya tidak jauh berbeda atau hampir sama) untuk kasus materialnya tidak berasal dari satu sumber atau Berat Jenisnya 17 . Proporsi agregat yang diperoleh pada masing-masing fraksi adalah sebagai berikut: Agregat Kasar F1 = 37 % x 1200 gram = 444 gram Agregat Halus F2 = 21 % x 1200 gram = 252 gram Filler F3 = 42 % x 1200 gram = 504 gram 1200.

pada kasus ini ditinjau pada kadar aspal 5%. hal ini dikarenakan gradasi yang didapat dari masing-masing fraksi tidak konstan dan belum mewakili gradasi stok material yang ada (sangat tergantung dari cara pengambilan sampel). campuran yang didapat penyimpangannya cukup besar. Untuk menghindari penyimpangan yang terlalu jauh dianjurkan mengadakan kontrol terhadap gradasi dari masing-masing farksi pada periode waktu tertentu selama pelaksanaan pencampuran.berbeda maka perlu dilakukan koreksi terhadap masing-masing fraksi sehingga diperoleh perbandingan volume. dimana bila diperoleh gradasi yang menyimpang dari gardasi awal sebaiknya dilakukan perhitungan kembali sehingga diperoleh proporsi baru yang sesuai. Agregat halus = 252 gram. Kadar aspal : 5 % x 1200 gram = 60 gram. Sedang kadar aspal dipersiapkan dengan variasi tertentu sesuai dengan kebutuhan/diinginkan untuk di uji. Filler = 504 gram Aspal = 60 gram 18 . Umumnya penyiapan agregat secara fraksi ini. Sehingga secara keseluruhan diperlukan material untuk membuat satu buah benda uji adalah sebagai berikut : Agregat kasar = 444 gram.