BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan dunia usaha yang dinamis dan penuh persaingan menuntut perusahaan untuk melakukan perubahan orientasi terhadap cara mereka melayani konsumennya, menangani pesaing, dan mengeluarkan produk. Persaingan yang ketat menuntut perusahaan untuk semakin inovatif dalam mengeluarkan produk yang sekiranya disukai konsumen. Tanpa inovasi, produk suatu perusahaan bisa tenggelam dalam persaingan dengan produk-produk lain yang semakin memenuhi pasar. Di lain pihak konsumen juga semakin kritis terhadap apa yang mereka terima dan harapkan dari sebuah produk. Jika ternyata tidak sesuai dengan harapan pelanggan, perusahaan tidak hanya akan kehilangan kepercayaan pelanggan tetapi juga berpotensi akan kehilangan pelanggan potensial. Pelanggan yang puas akan terus melakukan pembelian; pelanggan yang tidak puas akan menghentikan pembelian produk bersangkutan dan kemungkinan akan

menyebarkan berita tersebut pada orang lain (Setiadi, 2003, p.16). Untuk memenuhi kebutuhan, keinginan, dan permintaan pasar maka perusahaan juga harus mempelajari perilaku konsumennya. Memahami konsumen adalah elemen penting dalam pengembangan strategi pemasaran (Peter et al, 1999, p.10). American Marketing Association mendefinisikan perilaku konsumen sebagai ³interaksi dinamis antara pengaruh

1

2

dan kognisi, perilaku, dan kejadian di sekitar kita di mana manusia melakukan aspek pertukaran dalam hidup mereka´. Perilaku konsumen memberikan informasi mengenai berbagai fakta tentang perilaku berbelanja (Setiadi, 2003, p.8), misalnya dalam membeli suatu produk para konsumen memiliki berbagai sikap yang berbeda-beda dalam memandang berbagai atribut yang dianggap relevan dan penting (Kotler, 2005, p.226) . Mereka akan memberikan perhatian lebih besar pada atribut yang memberikan manfaat yang dicarinya. Atribut-atribut ini kemudian akan berperan dalam evaluasi keputusan pembelian. Atribut produk juga memberikan positioning yang jelas terhadap suatu produk. Chandra (1999, p.123) meneliti apakah atribut produk berpengaruh terhadap strategi positioning pemasaran real estate di Surabaya, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa atribut produk merupakan salah satu faktor utama dalam strategi positioning produk. Proses pengambilan keputusan dibagi kedalam tiga jenis yaitu

pengambilan keputusan yang luas, pengambilan keputusan yang terbatas, dan pengambilan keputusan yang bersifat kebiasaan. Proses pengambilan keputusan yang luas terjadi untuk kepentingan khusus bagi konsumen atau untuk pengambilan keputusan yang membutuhkan tingkat keterlibatan yang tinggi, misalnya pembelian produk-produk mahal, mengandung nilai prestis, dan dipergunakan untuk waktu yang lama (Fandi Tjiptono, 1997, p 21), salah satunya adalah keputusan pembelian motor. Industri sepeda motor merupakan industri yang sedang tumbuh pesat di Indonesia belakangan ini. Besarnya minat masyarakat Indonesia untuk memiliki kendaraan roda dua dipengaruhi banyak faktor. Menurut Ketua AISI, Ridwan

3

Gunawan, semua itu dipicu oleh kebutuhan akan alat transportasi pribadi yang cukup tinggi. Ini sebagai dampak masih belum memadainya sarana transportasi umum di Indonesia. Selain itu, sepeda motor adalah kendaraan yang sesuai dengan karakteristik masyarakat. Dilihat dari harganya, seped motor jauh lebih a murah dan terjangkau masyarakat Indonesia dibandingkan kendaraan roda empat, harganya relatif tidak beranjak naik. Komponen sepeda motor yang lebih dari 90% dibuat lokal, membuatnya sangat fleksibel terhadap perubahan harga. Kenaikan harga minyak bumi juga tidak mempengaruhi penjualan motor karena membuat masyarakat mencari sarana transportasi yang berharga terjangkau dan efisien bahan bakar (Media Motor, 2008). Kondisi ini ditunjang dengan cara kepemilikan sepeda motor yang semakin mudah. Dengan uang muka di bawah Rp 1.000.000, masyarakat pun sudah bisa memiliki sepeda motor. Kemudian cicilan yang bisa diangsur sampai 48 bulan membuat kepemilikan sepeda motor semakin tinggi di Indonesia. Rasio kepemilikan sepeda motor dibandingkan mobil bisa diungkap dengan melihat data Asean Region Road Safety Strategy and Action Plan, seperti tercantum dalam situs ADB (Asian Development Bank) cukup tinggi. Indonesia berada pada posisi ketiga dengan angka 75,2% setelah Vietnam dan Laos. Vietnam yang dijuluki negara sepeda motor memiliki angka rasio sangat tinggi yaitu sebesar 94,4% diikuti Laos dengan angka 80%. Indonesia mengalahkan Malaysia, Singapura, dan Thailand soal kepemilikan sepeda motor ini. Bahkan Indonesia sudah menjadi negara ketiga terbesar dalam pasar sepeda motor dunia,

4

setelah

Cina

menjual

12

juta

unit

dan

India

sekitar

5

juta

unit

(www.serayamotor.com, 2002). Dari seluruh penjualan motor di Indonesia dapat diketahui penjualan motor nasional didominasi oleh pabrik motor dari Jepang. Pada dasarnya pangsa pasar utama masih dikuasai oleh 4 perusahaan motor yaitu Honda, Yamaha, Suzuki, dan Kawasaki. Dalam beberapa tahun Honda dapat mempertahankan keunggulannya namun pesaing seperti Yamaha mampu mengejar selisih penjualan per unit-nya dari Honda. Dilihat dari jenis-nya pasar sepeda motor Indonesia terbagi menjadi 3 yaitu, motor matik, cub, dan sport. Namun yang paling dominan penjualannya adalah motor cub, salah satu faktornya karena motor cub lebih mudah dikendarai dan cocok digunakan oleh siapa saja. Pabrikan motor yang tergabung dalam AISI (Honda, Yamaha, Suzuki, Kawasaki, Kymco, dan Piaggio) memproduksi ketiga jenis motor tersebut, kecuali Kymco dan Piaggio yang lebih fokus ke pasar motor skutik atau skuter. Sementara pabrikan pendatang baru dari India yaitu Bajaj konsisten hanya pada pasar motor sport.

5

Gambar 1.1 Pangsa Pasar Sepeda Motor Menurut Jenisnya

Pangsa Pasar Sepeda Motor Indonesia
Motor Bebek Sport Skutik

19% 6%

75%

Sumber : AISI Januari-Mei 2008 Pada tahun 2008 penjualan motor cub masih mendominasi. Namun, pada awal tahun 2009 porsi sepeda motor cub terhadap total pasar nasional turun menjadi 50% per Februari 2009, pangsa pasar motor skutik naik sebesar 33%, pangsa pasar sepeda motor sport juga naik sekitar 8 persen dari total pasar -9 sepeda motor di negeri ini. Suzuki sebagai salah satu produsen motor dengan pangsa pasar terbesar ketiga di Indonesia berusaha mengejar ketertinggalannya dari pesaingnya seperti Yamaha dan Honda. Suzuki mengeluarkan berbagai jenis motor di segmen yang berbeda. Dalam segmen motor cub Suzuki mengeluarkan tiga produk yaitu Suzuki Shogun dengan CC 125, Smash dengan CC 110, dan cub sport Satria Fu. Di segmen sport Suzuki Thunder berusaha mengimbangi Honda Tiger dan Yamaha

6

Vixion. Sedangkan di segmen skutik Suzuki mengeluarkan 3 produk, yaitu Spin, Skydrive, dan Skywave. Dengan desain produk yang semakin inovatif, Suzuki menargetkan segmen konsumen mereka adalah generasi muda. Tabel 1.1 Penjualan Motor Suzuki Tahun 2004 -2009 (unit) Tahun Penjualan nasional Penjualan Suzuki Pangsa Pasar 2004 2005 2006 2007 2008 Semester 1 (2009) 2.534.351 198.117 7.82%

3.900.664 5.074.204 4.427.835 4.688.261 6.214.284 844.235 1.091.962 21.2% 21.52% 596.041 12.85% 637.031 13.59% 794.622 12.79%

Sumber : Kontan Weekly 31 Juli 2009 Dengan berbagai varian produk baru yang diluncurkan dan promosi yang gencar, Suzuki tetap tidak mampu menaikkan market share-nya selama ini. Dari data diatas terlihat kinerja penjualan Suzuki jatuh tahun 2006 dan sampai sekarang tidak mampu mengembalikan tingkat penjualannya seperti tahun 2005. Bahkan market share Suzuki turun lagi tahun 2008 walaupun penjualannya naik dibanding tahun lalu. Hal ini menunjukkan meskipun Suzuki mampu menaikkan angka penjualannya namun para pesaing juga meningkatkan angka penjualannya. Dari berbagai macam produk yang dikeluarkan, Suzuki Smash merupakan produk andalan Suzuki Motor. Untuk tahun 2008 66% dari seluruh tipe yang terjual ditopang oleh penjualan Suzuki Smash (www.kabarbisnis.com, 6 April

7

2009). Karena dominannya penjualan Suzuki Smash maka penelitian ini memfokuskan pada keputusan pembelian Suzuki Smash. Penelitian ini akan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian, terutama keputusan pembelian motor Suzuki Smash. Penelitian ini berjudul ³ANALISIS PENGARUH ATRIBUT PRODUK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN MOTOR SUZUKI SMASH´

1.2

Rumusan Masalah PT Indomobil Sukses Internasional selaku agen tunggal pemegang merek

Suzuki cukup responsif dalam memahami keinginan konsumen yang berbedabeda dengan memproduksi motor di semua segmen. Namun, dengan berbagai varian yang dipasarkan di Indonesia selama 5 tahun belakangan ini penjualan Suzuki tertinggal dari pesaingnya, ini ditunjukkan dengan merosotnya pangsa pasar Suzuki dibandingkan pesaing. Jika permasalahan ini tidak segera diantisipasi oleh Suzuki Indonesia maka dikhawatirkan brand Suzuki sebagai merek motor yang berkualitas akan terpengaruh. Dari rumusan masalah diatas akan menimbulkan pertanyaan -pertanyaan penelitian sebagai berikut: 1. Bagaimana pengaruh harga terhadap keputusan pembelian? 2. Bagaimana pengaruh merek terhadap keputusan pembelian? 3. Bagaimana pengaruh kualitas terhadap keputusan pembelian ?

8

4. Bagaimana pengaruh ciri/ keistimewaan terhadap keputusan pembelian?

1.3

Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1.3.1 Tujuan Penelitian 1. Menganalisis pengaruh harga terhadap keputusan pembelian. 2. Menganalisis pengaruh merek terhadap keputusan pembelian. 3. Menganalisis pengaruh kualitas terhadap keputusan pembelian. 4. Menganalisis pengaruh ciri/keistimewaan terhadap keputusan pembelian 1.3.2 Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan berguna sebagai masukan kepada PT Indomobil Sukses Internasional selaku ATPM Suzuki. mengenai faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi keputusan pembelian motor Suzuki . Bagi kalangan akademik diharapkan penelitian ini bisa menam bah referensi akademis terutama mengenai atribut-aribut apa yang mempengaruhi keputusan pembelian motor. 1.4 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan adalah suatu pola dalam menyusun karya ilmiah untuk memperoleh gambaran secara garis besar bab demi bab. Sistematika penulisan ini dimaksudkan memudahkan pembaca dalam memahami isi dari

9

penelitian ini. Penelitian ini disusun dalam lima bab dengan perincian sebagai berikut. Bab I : Pendahuluan Bab ini menguraikan latar belakang permasalahan, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian serta sistematika penulisan. Bab II : Tinjauan Pustaka Dalam tinjauan pustaka ini diuraikan landasan teori yang digunakan sebagai dasar dari analisis penelitian, penelitian terdahulu, dan kerangka penelitian. Bab III : Metode Penelitian Bab ini menguraikan dan menjelaskan mengenai variabel penelitian dan definisi operasional, penentuan sampel penelitian, jenis dan sumber data yang diperlukan, metode pengumpulan dan metode analisis data Bab IV : Hasil dan Pembahasan Bab ini akan menguraikan mengenai deskripsi objek penelitian, analisis data, dan pembahasan atas hasil pengolahan data. Bab V : Penutup Pada bab ini berisi tentang kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan serta saran-saran yang dapat diberikan kepada perusahaan dan pihak-pihak lain yang membutuhkan.

10

BAB II TELAAH PUSTAKA 2.1 Landasan Teori dan Penelitian Terdahulu 2.1.1 Keputusan Pembelian Pengambilan keputusan konsumen adalah proses pengintegrasian yang mengkombinasikan pengetahuan untuk mengevaluasi dua atau lebih perilaku alternatif dan memilih salah satu diantaranya (Olson, 1996, p.162). Dalam proses dari pengambilan keputusan pembelian, konsumen dihadapkan dengan berbagai pilihan alternatif, berbagai macam pertimbangan baik yang berasal dari dalam maupun dari luar konsumen sebelum menentukan pilihan konsumen. Dengan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian, perusahaan dapat menentukan strategi pemasaran yang tepat. 2.1.1.1 Peran Pembelian Peran pembelian (Kotler, 2005, p.220) ada lima. Pertama adalah pencetus yaitu orang yang pertama kali mengusulkan gagasan untuk membeli produk atau jasa. Pemberi pengaruh yaitu orang yang pandangan atau sarannya mempengaruhi keputusan. Pengambil keputusan yaitu orang yang mengambil keputusan mengenai setiap komponen keputusan pembelian. Pembeli adalah orang yang melakukan pembelian sesungguhnya. Pemakai adalah seseorang yang

mengkonsumsi atau menggunakan produk dan jasa tertentu. Dalam peran pembelian satu orang terkadang menjalankan lebih dari 1 peran sekaligus.

11

2.1.1.2 Perilaku Pembelian Henry Assael (dikutip oleh Kotler, 2005, p.221) membedakan empat jenis perilaku pembelian konsumen berdasarkan tingkat keterlibatan pembeli dan tingkat perbedaan antar merek. Pertama adalah perilaku pembelian yang rumit, konsumen terlibat dalam perilaku pembelian yang rumit bila mereka sangat terlibat dalam pembelian dan sadar akan adanya perbedaan yang besar antar merek. Perilaku ini lazim terjadi bila produknya mahal, jarang dibeli, beresiko, dan sangat mengekspresikan diri. Perilaku pembelian pengurang ketidaknyamanan, konsumen sangat terlibat dalam pembelian namun melihat sedikit perbedaan antar merek. Jika konsumen menemukan perbedaan kecil maka konsumen akan memilih berdasarkan harga dan kenyamanan. Perilaku pembelian karena kebiasaan, produk dibeli dalam keadaan keterlibatan konsumen yang rendah dan tidak ada perbedaan antar merek yang signifikan. Perilaku pembelian mencari variasi, Keterlibatan konsumen rendah tetapi perbedaan antar merek signifikan, dalam situasi ini konsumen sering melakukan perpindahan merek. 2.1.1.3 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Pembelian 1. Faktor Kebudayaan Kebudayaan merupakan faktor penentu yang paling dasar dari keinginan dan perilaku seseorang. Setiap orang mendapatkan seperangkat nilai, persepsi, preferensi dan perilaku melalui suatu proses sosialisasi yang melibatkan keluarga dan lembaga-lembaga sosial penting lainnya. Setiap

12

kebudayaan terdiri dari sub-budaya ± sub-budaya yang lebih kecil yang memberikan identifikasi dan sosialisasi yang lebih spesifik untuk para anggotanya. Sub budaya dapat dibedakan menjadi empat jenis yaitu : Kelompok Nasionalisme, Kelompok Keagamaan, Ras, dan Area

Geografis. Kelas-kelas sosial adalah kelompok-kelompok yang relatif homogen dan bertahan lama dalam suatu masyarakat, yang tersusun secara hierarkhi dan keanggotaannya mempunyai nilai, minat, dan perilaku yang serupa. 2. Faktor Sosial Kelompok Referensi terdiri dari seluruh kelompok yang mempunyai pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap sikap atau perilaku seseorang. Kelompok tersebut antara lain a) Kelompok primer yaitu yang memiliki tingkat interaksi yang berkesinambungan b) Kelompok sekunder yang memiliki tingkat interaksi kurang bersinambungan dan cenderung resmi c) Kelompok aspirasi yaitu kelompok yang seseorang ingin menjadi anggotanya d) Kelompok diasosiatif yaitu kelompok yang nilai atau perilakunya tidak disukai oleh individu. Dalam kehidupan pembeli ada dua keluarga yaitu a) Keluarga orientasi yaitu orang tua seseorang b) Keluarga prokreasi yaitu pasangan-pasangan hidup anak-anak seseorang keluarga merupakan organisasi pembeli dan konsumen yang paling penting dalam suatu masyarakat. Seseorang umumnya berpartisipasi dalam kelompok selama hidupnya, posisi seseorang dalam setiap kelompok dapat diidentifikasikan dalam peran dan status.

13

3. Faktor Pribadi Umur dan tahapan dalam siklus hidup, orang-orang dewasa biasanya mengalami perubahan atau transformasi tertentu pada saat mereka menjalani hidupnya. Pekerjaan, Para pemasar berusaha mengidentifikasi kelompok-kelompok pekerja yang memiliki minat di atas rata-rata terhadap produk dan jasa tertentu. Keadaan ekonomi, terdiri dari pendapatan yang dapat dibelanjakan , tabungan dan hartanya, kemampuan untuk meminjam dan sikap terhadap mengeluarkan lawan menabung. Gaya hidup, adalah pola hidup di dunia yang diekspresikan oleh kegiatan dan minat dan pendapat seseorang. Kepribadian adalah karakteristik psikologi yang berbeda dari setiap orang yang memandang responnya terhadap lingkungan yang relatif konstan. 4. Faktor-faktor Psikologis Motivasi adalah kebutuhan yang cukup mendorong seseorang untuk bertindak, suatu kebutuhan akan menjadi motif jika ia didorong hingga ia mencapai tingkat intensitas yang memadai. Persepsi adalah proses bagaimana seorang individu memilih, mengorganisasi dan

menginterprestasi masukan ± masukan informasi untuk menciptakan gambaran dunia yang memiliki arti. Pengetahuan, Teori pembelajaran mengajarkan pemasar bahwa mereka dapat membangun permintaan atas sebuah prodak dengan mengaitkannya dengan dorongan yang kuat, menggunakan petunjuk yang memberikan motivasi dan memberikan penguatan positif. Keyakinan dan sikap, keyakinan adalah pemikiran

14

deskriptif yang dianut seseorang tentang suatu hal, sikap adalah evaluasi, perasaan emosional, dan kecenderungan tindakan yang menguntungkan dan bertahan lama dari seseorang terhadap beberapa obyek atau gagasan. 2.1.1.4 Tahap-tahap proses pengambilan keputusan. Gambar 2.1 Proses Pengambilan Keputusan
Pengenalan masalah

Pencarian informasi

Eval asi alternatif

Ke tusan Pem elian

Perilaku asca em elian

Sumber : Kotler, 2005, p.224 Proses Pembelian dimulai dengan pengenalan masalah atau kebutuhan yang dihadapi oleh seseorang, kebutuhan tersebut dapat disebabkan rangsangan internal maupun eksternal. Jika suatu kebutuhan diketahui, maka konsumen akan memahami adanya kebutuhan yang segera dipenuhi atau masih ditunda pemenuhannya. Tahap ini adalah proses pembelian mulai dilakukan. Selanjutnya

¡

 

¢

¢  ¡

¡

15

konsumen akan mencari informasi yang relevan dari lingkungan luar untuk memecahkan masalah, atau mengaktifkan pengetahuan dari ingatan. Ada dua level rangsangan, situasi yang lebih ringan dinamakan penguatan perhatian, orang hanya sekedar lebih peka terhadap informasi produk. Level selanjutnya adalah masuk ke pencarian informasi secara aktif. Sumber informasi ini berasal dari pribadi, komersial, publik, dan pengalaman. Tahap selanjutnya adalah evaluasi alternatif. Konsep pertama dari evaluasi alternatif adalah konsumen berusaha memenuhi kebutuhan, kedua konsumen mencari manfaat tertentu dari suatu produk, ketiga konsumen memandang masing-masing produk sebagai sekumpulan atribut dengan kemampuan berbedabeda dalam memberikan manfaat yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan itu. Para konsumen memiliki sikap-sikap yang berbeda dalam memandang berbagai atribut yang dianggap relevan dan penting. Pada tahap ini konsumen membentuk preferensi atas merek-merek yang ada di kumpulan pilihan. Sebelum terjadinya keputusan pembelian terdapat niat pembelian yang muncul diantara keputusan pembelian dan evaluasi alternatif. Dalam

melaksanakan niat pembelian, konsumen membuat lima sub keputusan pembelian : Keputusan Merek, keputusan pemasok, keputusan kuantitas, keputusan waktu, dan keputusan metode pembayaran. Niat pembelian tidak selalu mempengaruhi keputusan pembelian karena adanya sikap orang lain dan faktor situasi yang tidak terantisipasi. Sikap orang lain dapat berupa pengaruh dari keluarga, teman, ulasan produk di internet, dan lain-lain. Sedangkan situasi tidak terantisipasi dapat berasal dari faktor-faktor eksternal.

16

Perilaku pasca pembelian sangat dipengaruhi oleh kepuasan/ketidakpuasan yang dialami pelanggan. Setiap perusahaan ingin memiliki pelanggan yang puas karena pelanggan yang puas memiliki probabilitas lebih tinggi untuk membeli produk lagi. Sedangkan pelanggan yang tidak puas akan merugikan perusahaan karena harus menghadapi komplain atau turunnya kredibilitas merek tersebut dipasaran.

2.1.2 Atribut Produk Definisi produk menurut Stanton ( 1993, p. 222 ± 223 ), adalah ³Sekumpulan atribut yang nyata dan tidak nyata didalamnya sudah tercakup warna, kemasan, prestise pengecer dan pelayanan dari pabrik, serta pengecer yang mungkin diterima oleh pembeli sebagai suatu yang bisa memuaskan

keinginannya.´ Pengertian atribut adalah ciri spesifik atau karakteristik fisik tertentu yang dirancang dalam sebuah produk atau jasa. Pengertian atribut produk adalah ³Unsur-unsur produk yang dipandang penting oleh konsumen dan dijadikan dasar pengambilan keputusan´ (Tjiptono, 1997, p.103). Pemahaman mengenai atribut produk sangat bermanfaat bagi perusahaan karena atribut produk berpengaruh pada proses keputusan pembelian, yakni evaluasi alternatif. Menurut Kotler (2005, p.226) konsep dasar dari evaluasi alternatif salah satunya adalah konsumen memandang masing-masing produk sebagai sekumpulan atribut dengan kemampuan yang berbeda-beda dalam memberikan manfaat yang digunakan untuk memuaskan kebutuhan. Atribut-

17

atribut produk berbeda antara satu dengan yang lainnya. Konsumen akan memberikan perhatian terbesar pada atribut yang memberikan manfaat yang dicari. Atribut produk juga memberikan perusahaan alat untuk

mendiferensiasikan produknya dari produk pesaing, sehingga perusahaan harus membuat atribut produk yang relevan dengan produknya sendiri. Menurut Tjiptono (2008, p.188) dalam kaitannya dengan strategi positioning, pemasar bukan saja berfokus pada atribut penting, namun lebih pada atribut determinan. Dua dimensi yang mendukung suatu atribut menjadi determinan adalah tingkat kepentingan dan keunikan. Sebuah atribut akan dianggap penting jika atribut tersebut memberikan manfaat (benefit) yang diinginkan pembeli. Namun menurut Carpenter, Glazer, dan Nakamoto (dikutip oleh Kotler, 2005, p.347)

mengemukakan bahwa kadang-kadang diferensiasi dapat berhasil dilakukan berdasarkan atribut yang tidak relevan. Menurut Tjiptono (1997, p.103) atribut-atribut yang ada dalam suatu produk adalah 1. Merek Merupakan nama, istilah, tanda, simbol/lambang, desain, warna, gerak, atau kombinasi atribut-atribut produk lainnya yang diharapkan dapat memberi identifikasi dan diferensiasi terhadap pesaing. 2. Kemasan

18

Proses yang berkaitan dengan perancangan dan pembuatan wadah atau pembungkus untuk suatu produk. 3. Labelling Label merupakan bagian dari suatu produk yang menyampaikan informasi mengenai produk atau penjual. 4. Layanan Pelengkap Layanan tambahan yang diberikan terhadap suatu produk inti 5. Jaminan atau garansi. Janji yang merupakan kewajiban produsen atas produknya kepada konsumen, dimana para konsumen akan diberi ganti rugi bila produk ternyata tidak berfungsi sebagaimana yang diharapkan atau dijanjikan.

Sedangkan menurut Kotler (1994, p. 72) atribut produk meliputi tiga hal yaitu : 1. Kualitas Memiliki dua pengertian yaitu mampu bekerja sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan dan tingkat kemampuan kerja 2. Ciri-ciri produk Ciri produk memberikan keuntungan bagi perusahaan yaitu membedakan diri dengan pesaing. Kekhasan yang dimiliki suatu produk juga membantu dalam mengkomunikasikan keistimewaan produk tersebut terhadap masyarakat. 3. Desain.

19

Desain merupakan salah satu perwujudan dari ciri-ciri produk. Namun Desain berbeda dengan gaya karena desain memiliki tujuan. 2.1.2.1 Hubungan Atribut Produk Terhadap Keputusan Pe mbelian. Atribut produk dengan keputusan pembelian sangat erat kaitannya, karena konsumen sebelum melakukan pembelian menempatkan atribut produk sebagai salah satu pertimbangan penting dalam pengambilan keputusan pembelian. Namun atribut produk tidak selamanya relevan bagi konsumen, pertama karena perubahan dalam diri konsumen sendiri, dan yang kedua karena perusahaan lain menawarkan atribut produk yang lebih baik. Hal ini menjadikan perusahaan senantiasa memperbaharui atribut-atribut demi keunggulan bersaing produknya. Randyakso Harwanto (2008) melakukan penelitian mengenai pengaruh atribut produk terhadap keputusan pembelian sepeda motor Yamaha MX. Variabel bebas dalam penelitian tersebut adalah atribut produk yang mencakup kualitas, harga, ciri/keistimewaan, desain, dan pelayanan. Dari hasil penelitian tersebut diketahui atribut produk dengan keinginan membeli Yamaha MX memiliki hubungan searah, yaitu semakin baik atribut produk yang ditawarkan maka semakin tinggi pula keinginan konsumen untuk membeli. Penelitian mengenai kaitan antara keputusan pembelian dengan atribut produk juga dilakukan oleh Prasetyo Budi Kurniawan (2005) yang meneliti keputusan konsumen untuk membeli Honda Karisma. Atribut-atribut persepsi konsumen diwakili oleh produk, merek, harga, iklan, dan pelayanan purna jual.

20

Dari hasil penelitian tersebut diketahui kelima atribut tersebut mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli Honda Karisma

2.1.3 Harga Harga adalah satuan moneter atau ukuran lainnya (termasuk barang dan jasa lainnya) yang ditukarkan agar memperoleh hak kepemilikan atau penggunaan suatu barang atau jasa (Tjiptono, 1997, p.151). Bagi produsen, harga dapat menjadi strategi dalam penjualan produk, ini karena harga merupakan aspek yang tampak jelas bagi para pembeli. Besar kecilnya harga akan mempengaruhi banyak sedikitnya permintaan dari konsumen, di sisi lain produsen tidak bisa sembarangan menetapkan harga karena konsumen seringkali menghubungkan harga dengan kualitas. Harga yang rendah akan memancing minat konsumen lebih besar namun juga dapat memberikan persepsi kualitas yang kurang bagus. Sebagai contoh adalah produk sepeda motor asal China yang dipasarkan dengan harga murah, namun justru dipandang kurang berkualitas. Bagi konsumen harga memiliki dua peranan utama dalam proses pengambilan keputusan para pembeli, yaitu peranan alokasi dan peranan informasi. 1. Peranan alokasi dari harga yaitu fungsi harga dalam membantu para pembeli untuk memutuskan cara memperoleh manfaat atau utilitas tertinggi yang diharapkan berdasarkan daya belinya.

21

2. Peranan informasi dari harga yaitu fungsi harga dalam mendidik konsumen mengenai faktor-faktor produk seperti kualitas. Dalam program penetapan harga ada tiga tipe program yang bisa diterapkan perusahaan (Tjiptono, 2008, p. 481) : 1)Penetapan Harga Penetrasi, Perusahaan menggunakan harga murah sebagai dasar utama untuk menstimulasi pasar. Strategi ini digunakan untuk menembus pasar yang memiliki tingkat persaingan yang tinggi. 2)Penetapan Harga Paritas, Perusahaan menetapkan tingkat harga yang sama atau mendekati tingkat harga pesaing. Pihak perusahaan tidak berfokus pada harga untuk menembus pasar dan lebih mengandalkan program promosi lainnya. 3)Penetapan Harga Premium Perusahaan menetapkan harga diatas tingkat harga pesaing. Penetapan ini dilakukan apabila dalam pasar tersebut tidak ada pesaing langsung. Menurut Kotler (1994, p.141) dalam penetapan harga akhir ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh perusahaan. Pertama Faktor psikologis, konsumen akan membandingkan antara harga dengan kualitas. Bila sejumlah alternatif sumber informasi seperti perbedaan-perbedaan fisik dan citra penjual tersedia, harga akan kehilangan maknanya sebagai indikator mutu. Namun, jika tanda-tanda lain tidak tersedia, harga menjadi petunjuk penting tentang mutu. Kedua Pengaruh unsur-unsur bauran pemasaran lainnya terhadap harga. Ketiga Kebijakan perusahaan dalam harga jual. Keempat Dampak harga terhadap pihak pihak lain seperti pesaing, pelanggan baru, distributor, dan lain-lain.

22

Hasil penelitian Prasetyo Budi Kurniawan (2005) mengenai pengaruh atribut-atribut persepsi terhadap keputusan pembelian Honda Karisma. Diketahui bahwa atribut berupa harga terbukti secara positif mempengaruhi keputusan pembelian. Variabel harga merupakan variabel ketiga yang menentukan dalam pembelian Honda Karisma. Berdasarkan pemikiran tersebut, hipotesis ini disajikan: : Harga berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian

2.1.4 Merek Merek menurut American Marketing Association (dikutip dari Tjiptono, 2008, p.147) adalah ³Nama, tanda, simbol atau desain, atau kombinasi di antaranya, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasikan barang dan jasa dari satu penjual atau sekelompok penjual dan membedakannya dari barang dan jasa para pesaingnya´. Merek memiliki beberapa elemen identitas yang bersifat tangible (nama merek, simbol, slogan, desain grafis, dan sebagainya) maupun intangible (nilai simbolis, ikatan khusus, kepribadian, citra diri dan seterusnya). Merek mempunyai beberapa peran terutama dalam area pemasaran. Menurut Aaker (dikutip oleh Krisjanti, 2007) beberapa diantaranya adalah memberi tanda pada konsumen mengenai sumber produk tersebut dan melindungi konsumen maupun produsen dari para kompetitor yang berusaha memberikan produk-produk yang identik. Kotler (1994, p.81) secara lebih spesifik menjelaskan

23

peran merek terutama dalam aktivitas pemasaran, antara lain nama merek memudahkan penjual untuk mengolah pesanan dan menekan permasalahan. Nama merek dan tanda dagang akan secara hukum melindungi penjual dari pemalsuan ciri-ciri produk. Merek memberi penjual peluang kesetiaan konsumen pada produk. Merek dapat membantu penjual dalam mengelompokkan pasar dalam segmen-segmen. Citra perusahaan juga dapat dibina dengan adanya merek yang baik. Untuk mempertahankan keunggulan merek-nya maka perusahaan harus menciptakan loyalitas konsumen terhadap mereknya. Menurut Reichfield (dikutip oleh Fajrianti, 2005) keuntungan yang diperoleh oleh suatu merek yang memiliki pelanggan yang loyal adalah : 1. Dapat mempertahankan harga secara optimal 2. Memiliki posisi tawar menawar yang kuat dalam saluran distribusi 3. Mengurangi biaya penjualan 4. Memiliki penghalang yang kuat terhadap terhadap produk-produk baru yang memiliki potensi yang besar untuk masuk dalam kategori produk atau layanan yang dimiliki oleh merek tersebut 5. Keuntungan sinergis yang diperoleh dari brand extension yang berhubungan dengan kategori produk atau pelayanan dari merek tersebut. Hasil penelitian Prasetyo Budi Kurniawan (2005) mengenai atribut-atribut persepsi yang mempengaruhi keputusan konsumen pada Honda Karisma menunjukkan dari 5 atribut produk yaitu produk, merek, harga, iklan, dan pelayanan purna jual berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian.

24

Variabel merek merupakan variabel kedua yang memiliki pengaruh kuat pada keputusan pembelian Honda Karisma.

Berdasarkan pemikiran tersebut, hipotesis berikut disajikan: : Merek memiliki pengaruh positif terhadap keputusan pembelian.

2.1.5 Kualitas Kualitas secara singkat pengertiannya adalah kemampuan atau

kehandalan suatu produk untuk melakukan fungsi-fungsinya. Tjiptono dan Chandra (2005, p.115) menjelaskan bahwa kualitas berkaitan erat dengan pelanggan. Kepuasan pelanggan akan timbul jika produk yang dibelinya sesuai dengan spesifikasi yang diberikan oleh perusahaan. Dari kepuasan pelanggan ini lalu menjadi sikap loyal konsumen terhadap produk tersebut. Manfaat produk yang berkualitas bagi perusahaan salah satunya adalah mengurangi biaya. Crosby (dikutip oleh Tjiptono, 2005, p.116) menyatakan bahwa kualitas adalah gratis. Maksudnya adalah biaya untuk mewujudkan produk yang berkualitas jauh lebih kecil dibandingkan biaya yang ditimbulkan apabila perusahaan gagal memenuhi standar kualitas. Manfaat lain dari kualitas yang superior adalah : 1. Loyalitas pelanggan lebih besar 2. Pangsa pasar yang lebih besar 3. Harga saham yang lebih tinggi 4. Harga jual produk/jasa yang lebih tinggi. 5. Produktivitas yang lebih besar.

25

Perusahaan dapat menentukan apakah produk tersebut memiliki kualitas rendah, sedang, tinggi, atau istimewa. Dalam kenyataanya tidak semua barang dapat dibuat dengan kualitas tinggi bergantung pada strategi yang diinginkan perusahaan. Menurut Kotler (1994, p.74) asas menurunnya tingkat laba berlaku bagi mutu yang lebih tinggi lagi, yaitu karena jumlah pembeli yang bersedia untuk membayar untuk mutu yang semakin tinggi akan semakin berkurang. Kualitas selain ditentukan oleh kemampuannya dalam melakukan fungsinya juga harus memperhatikan faktor-faktor lain yang mempengaruhi persepsi konsumen akan kualitas itu sendiri. Kotler (1994, p.74) menyatakan harga, kemasan, distribusi, promosi, reputasi produsen, dan negara asal produk juga ikut mempengaruhi persepsi konsumen akan kualitas. Herry Suryanto (2005) dalam penelitiannya menguji apakah semakin positif persepsi konsumen mengenai kualitas motor buatan Honda maka semakin kuat pula keputusan pembelian konsumen terhadap sepeda motor Merek Honda. Dari hasil penelitian tersebut diketahui bahwa semakin kuat perceived quality , maka keputusan pembelian konsumen akan semakin kuat pula. Berdasarkan pemikiran tersebut, hipotesis berikut disajikan: : Kualitas berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian

2.1.6 Ciri-ciri Produk/Keistimewaan Ciri atau keistimewaan adalah keunikan atau kekhasan yang menjadikan produk atau jasa tersebut berbeda dari produk atau jasa pesaing. Keunikan dipandang penting karena keunikan membuat suatu produk menjadi berbeda dari

26

produk kebanyakan. Menurut Cooper (1973, p. 100) Dimensi paling utama untuk membuat suatu produk baru menuju kesuksesan adalah keunikan produk. Keunikan atau keistimewaan yang ada dalam suatu produk ini memberikan manfaat kepada konsumen antara lain, memberikan fitur-fitur yang tidak ada pada produk pesaing, memungkinkan konsumen untuk mengurangi biaya, dan memiliki kualitas yang lebih baik dari pesaing. Untuk membuat suatu produk berbeda dari produk kebanyakan ada beberapa parameter (Kotler, 2005, p350) yang dapat diubah antara lain, 1) Bentuk Produk, meliputi ukuran, bentuk, lapisan luar,dan lain-lain. 2) Fitur, sebagian besar produk dapat ditawarkan dengan fitur yang berbeda-beda yang melengkapi fungsi dasar produk. 3) Mutu Kinerja, produk dibuat dengan berbagai tingkat mutu yang berbeda. 4) Mutu Kesesuaian, adalah tingkat kesesuaian dan pemenuhan semua unit yang diproduksi terhadap spesifikasi sasaran yang dijanjikan. 5) Daya Tahan, ukuran usia yang diharapkan atas beroperasinya produk dalam kondisi normal atau berat. 6) Keandalan, ukuran probabilitas bahwa produk tersebut tidak akan rusak atau gagal dalam periode tertentu. 7) Mudah diperbaiki, ukuran kemudahan untuk memperbaiki produk ketika produk itu gagal atau rusak. 8) Gaya, penampilan dan perasaan yang ditimbulkan oleh produk itu bagi pembeli. Desain dan gaya merupakan faktor-faktor yang dapat dilihat oleh konsumen dan karena itu menjadi ciri atau keistimewaan yang langsung dapat dibandingkan dengan produk lain. Namun gaya dan desain memiliki dua pengertian yang berbeda. Menurut Kotler (1994, p.78) gaya merujuk pada

27

penampilan sebuah produk tapi tidak mempunyai fungsi, sedangkan desain adalah bentuk yang ditentukan oleh fungsi. Desain yang bagus berkontribusi terhadap manfaat dan sekaligus menjadi daya tarik produk. Yuliadi (2006) melakukan penelitian mengenai pengaruh keunikan produk terhadap minat beli konsumen. Dari hasil penelitiannya faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan konsumen untuk membeli motor sport berturut-turut adalah Harga, Keunikan produk, Layanan Purna Jual, dan Kua litas. Variabel keunikan terbukti berpengaruh secara positif dengan koefisien sebesar 0,284. Berdasarkan pemikiran tersebut, hipotesis ini diajukan : : Ciri/keistimewaan berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian

28

2.2 Kerangka Pemikiran Teoritis Gambar 2.2

Harga (X1)

H1

Merek (X2)

H2 Ke utusan Pem elian (Y)

Kualitas (X3)

H3

H4 Ciri/Keistime waan (X4)

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel-variabel penelitian ini ada empat variabel independen (X) yaitu, Harga(X1), Merek(X2), Kualitas(X3 ), dan Ciri/Keistimewaan(X4 ). Sedangkan variabel dependen dalam penelitian ini ada satu yaitu Keputusan Pembelian (Y). Definisi operasional dimaksudkan untuk menjabarkan variabel-variabel yang timbul dalam suatu penelitian kedalam indikator-indikator yang lebih terperinci.

¤ £

29

Variabel Keputusan Pembelian

Definisi Operasional Keputusan yang diambil konsumen dalam melakukan suatu pembelian -

Indikator Keputusan konsumen untuk menjatuhkan pilihan terhadap motor Suzuki Smash Keputusan konsumen untuk nmembeli motor Suzuki Smash Resistensi konsumen terhadap pilihan lain

Pengukuran Menggunakan skala Likert 1-5

Harga

Satuan moneter atau ukuran lainnya (termasuk barang dan jasa lainnya) yang ditukarkan agar memperoleh hak kepemilikan atau penggunaan suatu barang atau jasa

- Sesuai dengan keistimewaan produk - Relatif terjangkau - Sesuai dengan manfaat yang diterima

Menggunakan skala Likert 1-5

Merek

Nama, tanda, simbol atau desain, atau kombinasi di antaranya, yang

- Citra Merek - Pengenalan Merek - Pengaruh Merek

Menggunakan skala Likert 1-5

30

dimaksudkan untuk mengidentifikasikan barang dan jasa dari satu penjual atau sekelompok penjual dan membedakannya dari barang dan jasa para pesaingnya.

- Kesetiaan Merek - Persepsi Kesesuaian merek dengan kualitas

Kualitas

Kualitas adalah kemampuan atau kehandalan suatu produk untuk melakukan fungsifungsinya

- Kecepatan - Reliable - Keawetan atau daya tahan - Keamanan

Menggunakan skala Likert 1-5

Ciri/Keistimewaan Ciri atau keistimewaan adalah keunikan atau kekhasan yang menjadikan produk atau jasa tersebut berbeda dari produk atau jasa pesaing

- Pilihan warna yang menarik - Type atau jenis sepeda motor yang sesuai dengan kebutuhan - Desain yang menarik

Menggunakan skala Likert 1-5

3.2 Penentuan Populasi Dan Sampel

31

3.2.1 Populasi Populasi adalah gabungan dari seluruh elemen yang berbentuk peristiwa, hal atau orang yang memiliki karakteristik serupa yang menjadi pusat perhatian seorang peneliti karena itu dipandang sebagai semesta penelitian (Ferdinand, 2006). Populasi dalam penelitian ini adalah orang yang melakukan pembelian motor Suzuki Smash di kota Semarang. 3.2.2 Sampel Sampel adalah bagian dari jumlah dan karaketristik yang dimiliki oleh populasi. Ada dua teknik yang biasa dilakukan dalam pengambilan sampel yaitu Probability Sampling dan Nonprobability Sampling. Probability sampling adalah teknik sampling yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Nonprobability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel (Sugiyono, 2005). Dalam penelitian ini populasi penelitian adalah semua orang yang membeli motor Suzuki Smash di wilayah Semarang. Karena populasinya yang tersebar luas di seluruh wilayah Semarang maka hanya sebagian wilayah dan penduduk saja yang akan dijadikan sampel, dalam penelitian ini sampel yang digunakan adalah penduduk kota Semarang. Teknik sampling yang digunakan adalah non-probabilty sampling dengan cara purposive sampling. Purposive sampling adalah pengambilan sampel pada populasi dengan memberikan syarat dan kriteria tertentu kepada sampel. Syarat sampel pada penelitian ini adalah

32

sampel berdomisili atau warga kota semarang. Kriteria sampel pada penelitian ini adalah pengambil keputusan (decider). Zainuddin (1998) dimana apabila proporsi populasi tidak diketahui dengan pasti harga p dianggap = 0,5 dengan perhitungan sebagai berikut:


Dimana : n Z 1,976 P d q = Estimator proporsi populasi = Interval (0,10) = 1 ± p. = Jumlah sampel = Harga interval tergantung dari alpha ( = 1-0,95=0,05), jadi Z-nya =

Z 0,01 0,05 0,10 Perhitungan sampel: 2,576 1,976 1,645

33

!

(1,976 ) 2 (0,5)(0,5) (0,10) 2

!

3,904 x 0, 25 0,01

= 97,6 (dibulatkan menjadi) = 98 sampel Namun nantinya jumlah sampel yang akan dipakai dalam penelitian ini adalah berjumlah 100 orang responden, agar penelitian ini menjadi fit.

3.3 Jenis Dan Sumber Data 3.3.1 Data Primer Data primer adalah sumber data yang langsung memberikan sumber data kepada pengumpul data. Data ini diperoleh dengan cara melakukan wawancara langsung terhadap narasumber atau menyebarkan kuesioner langsung kepada narasumber yaitu pemilik Motor Suzuki Smash di wilayah Semarang. 3.3.2 Data Sekunder Data sekunder adalah sumber yang tidak langsung yang memberikan data kepada pengumpul data. Data sekunder dalam penelitian ini berasal dari surat kabar Kontan edisi Februari 2009, artikel dari internet, buku, jurnal dan berbagai sumber lain. 3.4 Metode Pengumpulan Data

34

3.4.1 Kuesioner Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk menjawabnya. Kuesioner cocok digunakan bila responden cukup besar dan tersebar di wilayah yang luas. Kuesioner yang digunakan adalah berupa pertanyaan tertutup dengan skala Likert (1 sampai 5), dan pertanyaan yang bersifat terbuka. 3.4.2 Wawancara Wawancara dapat dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur, dan dapat dilakukan melalui langsung maupun tidak langsung. Dalam penelitian ini digunakan wawancara terstruktur, wawancara terstruktur digunakan apabila peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi yang akan diperoleh. Wawancara dilakukan dengan bertemu langsung dengan responden 3.5 Teknik Analisis 3.5.1. Uji Reliabilitas Reliabilitas menunjuk pada satu pengertian bahwa sesuatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Reliabilitas menunjuk pada tingkat keterandalan sesuatu (Sugiyono, 2004).

35

Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Suatu konstruktur atau variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai Alpha Cronbach • 0.60 (Ghozali, 2009, p.46). Uji reliabilitas dalam penelitian ini digunakan rumus Alpha (Sugiyono, 2004) sebagai berikut :
2 ¨ k ¸¨ § W b ©1  r11 ! © ¹ W 12 ª k  1 º© ª

¸ ¹ ¹ º

Dimana : r11 k = reliabilitas instrumen = banyaknya butir pertanyaan
2 b

§W
W 12

= jumlah varians butir

= varian total

3.5.2. Uji Validitas Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan sesuai instrumen. Suatu instrumen dikatakan valid atau sahih mempunyai validitas tinggi. Sebaliknya instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah (Arikunto, 2002).

36

Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Uji signifikan dilakukan dengan membandingkan nilai r hitung dengan nilai r tabel. Jika r tiap butir lebih besar dari r dan nilai r positif, maka butir atau pertanyaan tersebut dikatakan valid. Pengujian validitas dilakukan dengan menggunakan uji satu sisi, taraf signifikansi 5% dengan df = n-2. pengukuran validitas dilakukan dengan rumus Product Moment Pearson (Suharsini Arikunto, 2002) sebagai berikut :
N § XY  ( § X )(§ Y ) {N § X 2  (§ X ) 2 }{ N § Y 2  (§ Y 2 )}

rxy

!

Dimana : rxy N ™X ™Y = validitas instrumen, = jumlah sampel, = jumlah dari variabel X, dan = jumlah dari variabel Y.

dengan ketentuan : jika r hitung > r tabel maka Ho ditolak dan Ha diterima (signifikan) jika r hitung < r tabel maka Ho diterima dan Ha ditolak (tidak signifikan)

37

3.5.3. Uji Asumsi Klasik Pengujian asumsi klasik dilakukan untuk mengetahui kondisi data yang ada agar dapat menentukan model análisis yang tepat. Data yang digunakan sebagai model regresi berganda dalam menguji hipotesis haruslah menghindari kemungkinan terjadinya penyimpangan asumsi klasik. 3.5.3.1. Uji Multikolonieritas Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel-variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebasnya (Ghozali, 2009). Dalam penelitian ini teknik untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolonieritas adalah dengan cara mengamati nilai VIF dan tolerance. Jika nilai VIF melebihi nilai 10 dan nilai tolerance kurang dari 0,10 maka model regresi diindikasikan terdapat multikolonieritas (Ghozali, 2009, p.96). 3.5.3.2. Uji Heteroskedastisitas Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke

pengamatan yang lain tetap, maka disebut Homoskedastisitas dan jika berbeda disebut Heteroskedstisitas. Model regresi yang baik adalah yang

homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2009).

38

Cara mendeteksinya adalah dengan melihat grafik plot antara nilai prediksi variabel terikat (dependen) yaitu ZPRED dengan residualnya SRESID. Deteksi ada tidaknya gejala heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antar SRESID dan ZPRED, dimana sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi dan sumbu X adalah residual (Y prediksi - Y sesungguhnya) yang telah di studentized (Ghozali, 2009, p.126). Adapun dasar atau kriteria pengambilan keputusan berkaitan dengan gambar tersebut adalah (Ghozali, 2009): a. Jika terdapat pola tertentu, yaitu jika titik-titiknya membentuk pola tertentu dan teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka diindikasikan terdapat masalah heteroskedastisitas. b. Jika tidak terdapat pola yang jelas, yaitu jika titik-titknya menyebar, maka diindikasikan tidak terdapat masalah heteroskedastisitas. 3.5.3.3. Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal ataukah tidak. Seperti

diketahui bahwa uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Kalau asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi valid untuk jumlah sampel kecil. Untuk menguji apakah distribusi variabel pengganggu atau residual normal ataukah tidak, maka dapat dilakukan analisis grafik atau dengan melihat normal probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari data sesungguhnya dengan distribusi kumulatif dari distribusi normal (Ghozali, 2009, p.147).

39

Sedangkan dasar pengambilan keputusan untuk uji normalitas data adalah (Ghozali, 2009, p.149): a. Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya, menunjukkan distribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas. b. Jika data menyebar jauh dari diagonal dan tidak mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogram, tidak menunjukkan distribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.

3.5.4. Analisis Regresi Linear Berganda Model regresi digunakan untuk mengasumsikan bahwa terdapat hubungan linear antara variabel keputusan pembelian dengan variabel harga, merek, kualitas, dan ciri atau keistimewaan. Adapun model persamaan regresi yang dapat diperoleh dalam analisis ini adalah : Y = b1 X1+b2 X2+b3X3+b4 X4 Keterangan : Y = Keputusan Pembelian

b1, b2, b3 = Koefisien Regresi X1 = Harga

40

X2 X3 X4

= Merek = Kualitas = Ciri atau Keistimewaan

„ „

b: Koefisien Regresi (Sudjana, 2000) 3.5.5. Uji Goodness of Fit Ketepatan fungsi regresi sampel dalam menaksir nilai aktual dapat dinilai dengan Goodness of Fitnya. Secara statistik setidaknya ini dapat diukur dari nilai koefisien determinasi, nilai statistik F dan nilai statistik t. Perhitungan statistik disebut signifikan secara statistik apabila nilai uji statistiknya berada dalam daerah kritis (daerah di mana H0 ditolak), sebaliknya disebut tidak signifikan bila nilai uji statistiknya berada dalam daerah di mana H0 diterima (Ghozali, 2009, p.87). 3.5.6. Koefisien Determinasi (R2) Koefisien determinasi pada intinya untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan

41

hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen (Ghozali, 2009, p.87).

š

›š

” ›š ”

”›š ”›š ”š š š

Keterangan:
š = Korelasi antar variabel X1 dan X2 secara bersama-sama dengan variabel

Y
”›š ”›š ”š š

= Korelasi product moment antara X1 dan Y = Korelasi product moment antara X2 dan Y = Korelasi product moment antara X1 dan X2

3.5.7. Uji Signifikansi Simultan (Uji F) Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen atau bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersamasama terhadap variabel dependen. Untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini digunakan kriteria pengambilan keputusan dengan rumus sebagai berikut:



Keterangan: 

= Koefisiensi determinasi berganda

42

K = Jumlah variabel bebas n = Jumlah sempel Langkah-langkah penentuannya: Ho : b1 = b2 = b3 = b4 = 0 artinya tidak ada pengaruh dari variabel independen (Harga, Kualitas, Merek, dan Ciri atau Keistimewaan) terhadap variabel dependen (Keputusan Pembelian).
y

y

HA : b1  b2  b3  b4  0 artinya ada pengaruh dari variabel independen (Harga, Kualitas, Merek, dan Ciri atau Keistimewaan) terhadap variabel dependen (Keputusan Pembelian).

y

Menentukan kritis (F tabel) Di pilih level of significant = 0.05 Drajat bebas pembilang (df1) = k Drajat bebas pembagi (df2) = n-k-1 F kritis = 0.05, df1, df2 (lihat tabel). Membandingkan hasil perhitungan F hitung dengan F tabel. Kriteria keputusan Ho diterima, Ha ditolak jika F hitung ” F tabel artinya semua variable bebas secara bersama-sama bukan merupakan penjelas yang signifikan terhadap variable terkait

y y

43

-

Ho ditolak, Ha diterima jika F hitung • F tabel artinya semua variable bebas secara bersama-sama merupakan penjelas yang signifikan terhadap variable terkait

3.5.8. Uji Parsial (Uji t) Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas/independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen dengan kriteria sebagai berikut:

–

Keterangan:
” = Korelasi parsial

n = Jumlah sampel t = t hitung

H0 : b1 = 0 artinya variable bebas bukan merupakan penjelas yang signifikan terhadap variable terikat. Ha : b1  0 artinya variable bebas merupakan penjelas yang signifikan terhadap variable terikat Kriteria keputusan
y

Jika probabilitas (signifikansi) lebih besar dari 0,05 (E ), maka variabel independen secara individual tidak berpengaruh terhadap variabel dependen.

44

y

Jika probabilitas (signifikansi) lebih kecil dari 0,05 (E), maka variabel independen secara individual berpengaruh terhadap variabel dependen.

Kriteria pengujian :
y

Ho diterima dan Ha ditolak jika t hitung < dari t tabel. Artinya variabel independen (Harga, Merek, Kualitas, Ciri atau Keistimewaan) tersebut secara parsial tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen (Keputusan Pembelian).

y

Ho ditolak dan Ha diterima jika t hitung > dari t tabel. Artinya variabel independen (Harga, Merek, Kualitas, Ciri atau Keistimewaan) tersebut secara parsial berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen (Keputusan Pembelian).

BAB IV HASIL DAN ANALISIS

45

4.1. Deskripsi Objek Penelitian 4.1.1 Gambaran Umum Perusahaan Kiprah Suzuki di dunia otomotif Indonesia dimulai tahun 1979, dibawah bendera PT.INDOHERO STEEL & ENGINERING Co, dengan diperkenalkannya produk Roda 2 Type A 100 & FR 70. Dibawah kepemimpinan Subronto Laras, Suzuki yang sebelumnya hanya dikenal sebagai produsen sepeda motor, mengembangkan usaha membuat mobil penumpang yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. Gambar 4.1 Logo Suzuki

Kantor Pusat Wisma Indomobil Alamat : Jl. M.T. Haryono Kav. 8, Jakarta 13330 - Indonesia Telpon : (62-21) 8564530, 8564540, 8564550, Fax : (62-21) 8564833 (Sumber: http://www.suzuki.co.id)

46

4.1.2 Gambaran Umum Produk Suzuki Smash diproyeksikan Suzuki untuk mengisi pasar motor dengan kapasitas mesin dibawah 125 cc. Di segmen pasar ini sebelumnya sudah ada Honda Revo dan Yamaha Vega. Dalam hal kualitas Suzuki Smash mampu memecahkan rekor MURI Uji Ketahanan 50 jam Nonstop di sirkuit Sentul, Bogor yang diadakan pada tanggal 27 Juni 2006, untuk memecahkan rekor ini mesin harus hidup selama 50 jam nonstop. Rekor ini mengalahkan rekor sebelumnya yang dipegang Suzuki Shogun 125 yang melakukan uji ketahanan selama 48 jam. Pengakuan akan kualitas Smash juga datang dari tabloid Motor Plus pada pameran Jakarta Motor Show Desember 2008. Suzuki Smash mendapatkan penghargaan dalam kategori motor bebek 110-115 cc dengan teknologi terbaik.

Gambar 4.2 Suzuki Smash

47

Suzuki melakukan berbagai perubahan terhadap teknologi yang dimiliki oleh Suzuki Smash, antara lain : Fitur : Mesin 4 - Tak 110 cc Karakter mesin lebih bertenaga pada putaran rendah sampai menengah (Akselerasi dari 30 km/jam membutuhkan waktu 12,8 detik) Tenaga besar, namun irit bahan bakar (konsumsi bahan bakar diukur berdasarkan kondisi jalan di Jakarta sekitar 55,9 km/L) Pembakaran yang efisien Intake dan exhaust yang efisien Perbadingan reduksi akhir telah dimodifikasi.
y

y

Desain : Posisi lampu sein terpasang di cover depan, memudahkan pengendara lainnya untuk melihat sinyal ketika akan berbelok. Selain itu posisi lampu sein membuat bagian handle cover atau setang terlihat kompak. Penampilan baru lebih memikat dengan body yang lebih sporty, ramping, dan garis desain tegas yang mengikuti trend saat ini. Lampu belakang mendapat sentuhan baru dengan desain yang stylish berbentuk kurva dan reflektor desain bentuk polygon sehingga pantulan yang dihasilkan lebih terang. Knalpot bergaya sporty seperti yang ada pada motor besar.

48

Speedometer

disusun

untuk

memudahkan

pengendara

melihat

indikator kendaraan (sein, lampu utama, kecepatan, posisi gear, dan bensin)
y

Teknologi Efisiensi Intake dan Exhaust meningkat, struktur saringan udara dmodifikasi agar karburator mampu menerima aliran udara dalam jumlah yang memadai. Diameter karburator diubah dari 17 mm menjadi 18 mm agar udara masuk lebih efisien. Efisiensi exhaust dari knalpot ditingkatkan dengan mengubah diameter pipa exhaustdari 22.2 mm menjadi 25.4 mm. Tujuan dari modifikasi ini adalah agar tenaga mesin meningkat. Perpindahan gigi lebih halus, Surface Processing (defric coat) agar perpindahan gigi lebih halus dan mengurangi gesekan. Ball bearing yang diletakkan dalam crankcase membuat pemindahan gigi menjadi lebih halus. Defric coat adalah pelapis yang diciptakan de ngan cara pengolesan pelumas yang solid sepertigrafit,tungsten disulfide, metallic oxides, dan fluorocarbon recin (ethylene tetrafluoride) di atas satu atau lebih macam organic resin yang nantinya akan menkadi pelapis (coating).

y

Ramah Lingkungan dengan Sistem PAIR (Pulsed Secondary Air Injection System) Sistem PAIR (Pulsed-Secondary Air- Injection System) akan membakar habis campuran bensin dan udara yang belum terbakar dalam exhaust port sehingga

49

mengurangi zat-zat sisa yang berbahaya bagi lingkungan seperti hidrokarbon (HC), nitrogen oksida (Nox), dan karbon monoksida (CO). Keunggulannya adalah sesuai dengan peraturan pemerintah Indonesia tentang emisi gas buang sesuai standar EURO II.
y

Chassis Rangka yang diaplikasikan pada New Smash memiliki konstruksi yang berbeda dengan model Smash terdahulu. Rangka yang digunakan memiliki bentuk konstruksi setipe dengan jenis rangka yang diterapkan pada FD 125 Shogun. Keunggulannya adalah bagasi lebih luas, menambah kestabilan dan kenyamanan berkendara.

4.2

Gambaran Umum Responden Responden dalam penelitian ini adalah konsumen pengguna sepeda motor

Suzuki. Ini sesuai dengan metode pengambilan sampel yang dipakai dalam penelitian ini, yaitu non-probabilty sampling. Metode tersebut digunakan karena konsumen sepeda motor Suzuki tersebar luas. Berdasarkan data dari 100 responden yang menggunakan sepeda motor Suzuki Smash, melalui daftar pertanyaan didapat kondisi responden tentang usia, alamat, status pekerjaan, dan pendapatan. Penggolongan yang dilakukan terhadap responden dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara jelas mengenai

50

gambaran responden sebagai objek penelitian. Gambaran umum obyek penelitian tersebut satu per satu dapat diuraikan sebagai berikut. 4.2.1 Gambaran Responden Umum Berdasarkan Umur Berdasarkan usia didapatkan presentase seperti tampak pada Grafik 4.1 berikut ini : Tabel 4.1 Usia Responden Presentase < 15 0 0% 15 - 20 10 10% 21 - 25 40 40% 26 - 30 35 35% > 30 15 15% Sumber : Data primer yang diolah, 2010 Pada Tabel 4.1, menunjukkan bahwa dari 100 responden, responden dengan kelompok umur kurang dari 15 tahun tidak ada responden, Responden yang berusia 15-20 tahun sejumlah 10 responden. Persentase responden berusia 21-25 tahun sebanyak 40 responden. Responden berusia 26-30 tahun sebanyak 35 responden. Responden kelompok usia diatas 30 tahun sebanyak 15 responden. 4.2.2 Gambaran Responden Berdasarkan Status Pekerjaan Berdasarkan status pekerjaan didapatkan presentase seperti tampak pada Grafik 4.1 berikut ini: Tabel 4.2 Status Pekerjaan Usia Jumlah

51

Pekerjaan

Jumlah

PNS 5 Wiraswasta 15 Mahasiswa/pelajar 50 Kartyawan Swasta 30 Tidak Bekerja 0 Sumber :Data primer diolah 2010

Presentase 5% 15% 50% 30% 0%

Pada Tabel 4.2, menunjukkan bahwa dari 100 responden mayoritas pengguna Suzuki Smash adalah pelajar/mahasiswa yaitu sejumlah 50 orang. Karyawan swasta sebesar 30 orang. Wiraswasta sebanyak 15 orang. Pegawai negeri sipil sebanyak 5 orang.

4.2.3 Gambaran Responden Berdasarkan Pendapatan Berdasarkan status pekerjaan didapatkan presentase seperti tampak pada Grafik 4.1 berikut ini: Tabel 4.3 Pendapatan Responden Pendapatan Jumlah < Rp 1 juta 60 Rp 1-5 juta 28 Rp 5 ± 10 juta 10 > Rp 10 juta 2 Sumber : Data promer diolah 2010 Presentase 60% 28% 10% 2%

52

Dari tabel 4.3 diketahui kebanyakan pengguna Suzuki Smash berpenghasilan dibawah Rp 1 juta sebanyak 60, hal ini karena kebanyakan pengguna Smash masih berstatus pelajar/mahasiswa. Responden dengan pendapatan Rp 1-5 juta sebanyak 28 orang. Responden berpenghasilan Rp 5-10 juta sebanyak 10 orang, dan yang berpenghasilan lebih dari Rp 10 juta sebanyak 2 orang.

4.3

Analisis Indeks Jawaban Responden per Variabel Analisis ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran deskriptif mengenai

responden penelitian ini, khususnya mengenai variabel-variabel penelitian yang digunakan. Analisis ini dilakukan dengan menggunakan teknik analisis indeks, untuk menggambarkan persepsi responden atas item-item pertanyaan yang diajukan. Tehnik skoring yang dilakukan dalam penelitian ini adalah minimum 1 dan maksimum 5, maka perhitungan indeks jawaban responden dilakukan dengan rumus berikut: Nilai indeks = ((%F1x1) + (%F2x2) + (%F3x3) + (%F4x4) ((%F5x5))/5 Dimana: F1 adalah frekuensi responden yang menjawab 1 F2 adalah frekuensi responden yang menjawab 2 F3 adalah frekuensi responden yang menjawab 3

53

F4 adalah frekuensi responden yang menjawab 4 F5 adalah frekuensi responden yang menjawab 5 Oleh karena itu, angka jawaban responden tidak berangkat dari angka 0, tetapi mulai dari angka 1 hingga 5, maka indeks yang dihasilkan akan berangkat dari angka 5 hingga 100 dengan rentang sebesar 95, tanpa angka 0. Dengan menggunakan kriteria tiga kotak (Three-box Method), maka akan menghasilkan rentang sebesar 26,67 yang akan digunakan sebagai dasar interpretasi nilai indeks yang dalam contoh ini adalah sebagai berikut: 20 - 46,67 46,68- 73,35 73,36 - 100 = Rendah = Sedang = Tinggi

Dengan dasar ini, peneliti menentukan indeks nilai jawaban responden terhadap variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini

4.3.1. Analisis Indeks Jawaban Harga Harga motor Suzuki Smash sesuai dengan keistimewaan produk yang diberikan = (1 x 0)+(2 x 5)+(3 x 31)+(4 x 35)+(5 x 9)/5. Menghasilkan nilai indeks sebesar 51,6

y

54

Kesimpulan : Indikator harga motor Suzuki Smash sesuai dengan keistimewaan produk yang diberikan bagi responden nilainya adalah sedang.
y

Harga motor Suzuki Smash termasuk terjangkau untuk saya = (1 x 0)+(2 x 13)+(3 x 26)+(4 x47 )+(5 x 14)/5. Menghasilkan nilai indeks sebesar 72,4 Kesimpulan : Indikator harga motor Suzuki Smash termasuk terjangkau untuk saya bagi responden nilainya adalah sedang

y

Harga motor Suzuki Smash sesuai dengan manfaat yang saya dapatkan = (1 x 0)+(2 x 5)+(3 x 23)+(4 x 55)+(5 x 17)/5. Menghasilkan nilai indeks sebesar 76,8 Kesimpulan : Indikator harga motor Suzuki Smash sesuai dengan manfaat yang saya dapatkan bagi responden nilainya adalah tinggi

Sedangkan nilai rata-rata seluruh indikator dari variabel harga adalah (51,6+72,4+76,8)/3 = 66,93 Kesimpulannya adalah, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dimata responden variabel harga adalah sedang dengan nilai sebesar 66,93. Indikator Harga motor Suzuki Smash sesuai dengan manfaat yang saya dapatkan merupakan indikator dengan nilai paling besar yaitu 76,8. Indikator Harga motor Suzuki Smash sesuai dengan keistimewaan produk yang diberikan merupakan indikator dengan nilai paling kecil yaitu 51,6

4.3.2 Analisis Indeks Jawaban Merek

55

y

Suzuki Smash merupakan merek motor yang memiliki citra baik = (1 x 1)+(2 x 5)+(3 x17)+(4 x 59)+(5 x 18)/5. sebesar 77,6 Kesimpulan : Indikator Suzuki Smash merupakan merek motor yang memiliki citra baik bagi responden nilainya adalah tinggi Menghasilkan nilai indeks

y

Jika mendengar nama Suzuki Smash, saya teringat akan sepeda motor = (1 x 0)+(2 x 2)+(3 x 2)+(4 x 47)+(5 x 49)/5. Menghasilkan nilai indeks sebesar 88,6 Kesimpulan : Indikator jika mendengar nama Suzuki Smash, saya teringat akan sepeda motor bagi responden nilainya adalah tinggi

y

Saya membeli motor Suzuki Smash karena mereknya yang terkenal = (1 x 0)+(2 x 17)+(3 x 28)+(4 x 40)+(5 x 15)/5. Menghasilkan nilai indeks sebesar 70,6 Kesimpulan : Indikator saya membeli motor Suzuki Smash karena mereknya yang terkenal bagi responden nilainya adalah sedang

y

Saya hanya akan membeli motor dengan merek Suzuki Smash = (1 x 5)+(2 x 39)+(3 x 27)+(4 x 25)+(5 x 4)/5. Menghasilkan nilai indeks sebesar 56,8 Kesimpulan : Indikator saya hanya akan membeli motor dengan merek Suzuki Smash bagi responden nilainya adalah sedang

y

Kualitas motor Suzuki Smash sesuai dengan citra merek Suzuki yang baik = (1 x 0)+(2 x 4)+(3 x 24)+(4 x 59)+(5 x 13)/5. Menghasilkan nilai indeks sebesar 76,2

56

Kesimpulan : Indikator kualitas motor Suzuki Smash sesuai dengan citra merek Suzuki yang baik bagi responden nilainya adalah tinggi Sedangkan nilai rata-rata seluruh indikator dari variabel Merek adalah (77,6 + 88,6 + 70,6 + 56,8 + 76,2)/5 = 73,96 Kesimpulannya adalah, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dimata responden variabel Merek adalah tinggi dengan nilai 73,96. Indikator Jika mendengar nama Suzuki Smash, saya teringat akan sepeda motor merupakan indikator dengan nilai tertinggi, yaitu 88,6. Indikator Saya hanya akan membeli motor dengan merek Suzuki Smash merupakan indikator dengan nilai terendah yaitu 56,8 4.3.3. Analisis Indeks Jawaban Kualitas Motor Suzuki Smash memiliki kecepatan sesuai yang saya harapkan = (1 x 0)+(2 x 1)+(3 x 28)+(4 x 59)+(5 x 12)/5. Menghasilkan nilai indeks sebesar 76,4 Kesimpulan : Indikator motor Suzuki Smash memiliki kecepatan sesuai yang saya harapkan bagi responden nilainya adalah tinggi.
y

y

Motor Suzuki Smash mampu untuk melewati jalan dalam berbagai kondisi = (1 x 0)+(2 x 0)+(3 x 31)+(4 x 57)+(5 x 12)/5. Menghasilkan nilai indeks sebesar 76,2 Kesimpulan : Indikator motor Suzuki Smash mampu untuk melewati jalan dalam berbagai kondisi bagi responden nilainya adalah tinggi

57

y

Motor Suzuki Smash memiliki daya tahan mesin yang baik = (1 x 0)+(2 x 8)+(3 x 27)+(4 x 52)+(5 x 13)/5. Menghasilkan nilai indeks sebesar 74 Kesimpulan : Indikator motor Suzuki Smash memiliki daya tahan mesin yang baik bagi responden nilainya adalah tinggi

y

Motor Suzuki Smash aman untuk dikendarai karena dilengkapi dengan rem cakram di roda depan = (1 x 0)+(2 x 0)+(3 x 21)+(4 x 61)+(5 x 18)/5. Menghasilkan nilai indeks sebesar 79,4 Kesimpulan : Indikator motor Suzuki Smash aman untuk dikendarai karena dilengkapi dengan rem cakram di roda depan bagi responden nilainya adalah tinggi.

Sedangkan nilai rata-rata seluruh indikator dari variabel Kualitas adalah (76,4 + 76,2 + 74 + 79,4)/5 = 76,5 Kesimpulannya adalah, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dimata responden variabel Kualitas adalah tinggi. Indikator Motor Suzuki Smash aman untuk dikendarai karena dilengkapi dengan rem cakram di roda depan merupakan indikator dengan nilai tertinggi yaitu 79,4. Indikator Motor Suzuki Smash memiliki daya tahan mesin yang baik merupakan indikator dengan nilai terendah yaitu 74.

4.3.4. Analisis Indeks Jawaban Ciri/Keistimewaan

58

y

Warna-warna atau stripping motor yang disediakan oleh Suzuki Smash menarik saya untuk membeli = (1 x 0)+(2 x 2)+(3 x 38)+(4 x 53)+(5 x 7)/5. Menghasilkan nilai indeks sebesar 73 Kesimpulan : Indikator warna-warna atau stripping motor yang disediakan oleh Suzuki Smash menarik saya untuk membeli bagi responden nilainya adalah sedang

y

Tipe atau jenis motor Suzuki yang saya gunakan sekarang sesuai dengan kebutuhan saya = (1 x 0)+(2 x 5)+(3 x 27)+(4 x 56)+(5 x 12)/5. Menghasilkan nilai indeks sebesar 75 Kesimpulan : Indikator tipe atau jenis motor Suzuki yang saya gunakan sekarang sesuai dengan kebutuhan saya bagi responden nilainya adalah tinggi

y

Motor Suzuki Smash memiliki desain yang menarik = (1 x 0)+(2 x 11)+(3 x 22)+(4 x 55)+(5 x 12)/5. Menghasilkan nilai indeks sebesar 73,6 Kesimpulan : Indikator motor Suzuki Smash memiliki desain yang menarik bagi responden nilainya adalah tinggi

Sedangkan nilai rata-rata seluruh indikator dari variabel Ciri/Keistimewaan adalah (73 + 75 + 73,6)/3 = 73,86 Kesimpulannya adalah, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dimata responden variabel Ciri/Keistimewaan adalah tinggi. Indikator Tipe atau jenis motor Suzuki yang saya gunakan sekarang sesuai dengan kebutuhan saya merupakan indikator dengan nilai tertinggi yaitu 75. Indikator Warna-warna atau

59

stripping motor yang disediakan oleh Suzuki Smash menarik saya untuk membeli merupakan indikator dengan nilai terendah yaitu 73.

4.3.5 Analisis Indeks Jawaban Keputusan Pembelian Ketika membutuhkan sepeda motor, saya hanya menjatuhkan pilihan kepada sepeda motor Suzuki Smash = (1 x 4)+(2 x 23)+(3 x 45)+(4 x 24)+(5 x 4)/5. Menghasilkan nilai indeks sebesar 50,6 Kesimpulan : Indikator ketika membutuhkan sepeda motor, saya hanya menjatuhkan pilihan kepada sepeda motor Suzuki Smash bagi responden nilainya adalah sedang
y

y

Walau mendapatkan penawaran dari produsen lain, saya tetap membeli sepeda motor Suzuki Smash = (1 x 3)+(2 x 18)+(3 x 45)+(4 x 31)+(5 x 3)/5. Menghasilkan nilai indeks sebesar 62,6 Kesimpulan : Indikator walau mendapatkan penawaran dari produsen lain, saya tetap membeli sepeda motor Suzuki Smash bagi responden nilainya adalah sedang

y

Apapun saran dari teman, kerabat, atau relasi saya tetap membeli sepeda motor Suzuki Smash = (1 x 2)+(2 x 20)+(3 x 42)+(4 x 33)+(5 x 3)/5. Menghasilkan nilai indeks sebesar 63 Kesimpulan : Indikator apapun saran dari teman, kerabat, atau relasi saya tetap membeli sepeda motor Suzuki Smash bagi responden nilainya adalah sedang.

60

Sedangkan nilai rata-rata seluruh indikator dari variabel Keputusan Pembelian adalah (50,6 + 62,6 + 63)/3 = 58,73 Kesimpulannya adalah, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dimata responden variabel Keputusan Pembelian adalah sedang. Indikator Apapun saran dari teman, kerabat, atau relasi saya tetap membeli sepeda motor Suzuki Smash merupakan indikator dengan nilai tertinggi yaitu 63. Indikator Ketika membutuhkan sepeda motor, saya hanya menjatuhkan pilihan kepada sepeda motor Suzuki Smash merupakan indikator dengan nilai terendah yaitu 50,6. 4.4 Analisis Data 4.4.1 Uji Reliabilitas Reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan alat pengukuran konstruk atau variabel. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang, terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu (Ghozali, 2009). Uji reliabilitas adalah tingkat kestabilan suatu alat pengukur dalam mengukur suatu gejala/kejadian. Semakin tinggi reliabilitas suatu alat pengukur, semakin stabil pula alat pengukur tersebut. Suatu konstruk dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbach Alpha > 0,60 (Ghozali, 2009). Tabel 4.4 Hasil Uji Reliabilitas Cronbach Variabel Alpha Status

61

Harga (X1) Merek (X2) Kualitas (X3) Keistimewaan (X4) Keputusan Pembelian (Y) (Sumber data primer diolah, 2010) 4.4.2 Uji Validitas

0,691 0,627 0,601 0,638 0,886

Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel

Uji validitas menguji masing-masing variabel yang digunakan dalam penelitian ini. Keseluruhan variabel penelitian memuat 12 pernyataan yang harus dijawab oleh responden. Adapun kriteria yang digunakan dalam menentukan valid tidaknya pernyataan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : tingkat kepercayaan = 95 persen (E= 5 persen), derajat kebebasan (df) = n ±4 = 100 ± 4 = 96, didapat r tabel = 0,1986 (uji dua sisi). Jika r hitung (untuk tiap butir dapat dilihat pada kolom Corrected Item ±Total Correlation) lebih besar dari r tabel dan nilai r positif, maka butir pernyataan dikatakan valid (Ghozali, 2009). Tabel 4.5 Hasil Uji Validitas

Varibel Harga

Indikator 1 2 3 1 2 3 4 5 1 2

Merek

Kualitas

Kode Item A1 A2 A3 B1 B2 B3 B4 B5 C1 C2

r hitung 0,755 0,805 0,772 0,601 0,521 0,708 0,721 0,594 0,660 0,726

r tabel 0,1986 0,1986 0,1986 0,1986 0,1986 0,1986 0,1986 0,1986 0,1986 0,1986

Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid

62

3 C3 4 C4 Keistimewaan 1 D1 2 D2 3 D3 Keputusan 1 E1 Pembelian 2 E2 3 E3 (Sumber: Data primer yang diolah, 2010)

0,715 0,591 0,764 0,745 0,772 0,881 0,921 0,905

0,1986 0,1986 0,1986 0,1986 0,1986 0,1986 0,1986 0,1986

Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid

Berdasarkan pengujian pada tabel uji validitas di atas, diketahui bahwa nilai r hitung dari semua indikator lebih besar dari nilai r tabelnya. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa semua indikator dalam penelitian ini adalah valid. 4.4.3 Uji Asumsi klasik 4.4.3.1 Uji Multikolonieritas Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel (Ghozali, 2009). Untuk dapat menentukan apakah terdapat multikolinearitas dalam model regresi pada penelitian ini adalah dengan melihat nilai VIF (Variance Inflation Factor) dan tolerance serta menganalisis matrix korelasi variabel-variabel bebas. Adapun nilai VIF dapat dilihat pada Tabel 4.3 dibawah ini. Tabel 4.6 Nilai Tolerance dan VIF Tolerance 0,565 0,578 0,747

Variabel Harga Merek Kualitas

VIF 1,771 1,731 1,339

63

Keistimewaan

0,694

1,440

(Sumber : Data primer yang diolah, 2010) Dari tabel diatas terlihat bahwa tidak ada variabel yang memiliki nilai VIF lebih besar dari 10 dan nilai tolerance yang lebih kecil dari 10% yang berarti bahwa tidak terdapat korelasi antar variabel bebas yang lebih besar dari 95%.

Tabel 4.7 Matrix Korelasi Variabel Independen

Coefficient Correlations a Model 1 Correlations Keistimewaan Merek Kualitas Harga Covariances Keistimewaan Merek Kualitas Harga a. Dependent Variable: Keputusan Pembelian Keistimewaan Merek 1.000 -.066 -.274 -.314 .015 .000 -.003 -.005 -.066 1.000 -.264 -.490 .000 .007 -.002 -.005 Kualitas -.274 -.264 1.000 -.020 -.003 -.002 .011 .000 Harga -.314 -.490 -.020 1.000 -.005 -.005 .000 .015

Sedangkan dari matrix korelasi variabel independen terlihat dari tabel di atas bahwa variabel bebas yang memiliki korelasi tertinggi adalah merek dengan harga dengan nilai korelasi 49%. Nilai korelasi tersebut masih dapat ditolerir

64

karena dibawah 49%. Sehingga dari hal-hal tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat multikolonieritas antar variabel bebas dalam model regresi.

4.4.3.2 Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal atau tidak. Uji normalitas menghasilkan grafik normal probability plot yang tampak pada Gambar 4.3 berikut : Gambar 4.3 Grafik Normal Probability Plot

Sumber : Data primer yang diolah, 2010

4.4.3.3 Uji Heteroskedastisitas

65

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah data dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Uji heteroskedastisitas menghasilkan grafik pola penyebaran titik (scatterplot) seperti tampak pada Gambar 4.4 berikut. Gambar 4.4 Grafik Scatterplot

Sumber: Data primer yang diolah, 2010 Dari grafik Scatterplot dapat dilihat bahwa tidak ada pola yang jelas serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 (nol) pada sumbu y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

4.4.4 Analisis Regresi Linear Berganda Analisis regresi berganda yang telah dilakukan diperoleh koefisien regresi, nilai t hitung dan tingkat signifikansi sebagaimana ditampilkan pada tabel berikut.

66

Tabel 4.8 Hasil Uji Regresi Linear Berganda

Dari hasil tersebut, persamaan regresi yang diperoleh adalah sebagi berikut : 
    

Keterangan : Y = Keputusan Pembelian X1 = Harga X2 = Merek X3 = Kualitas X4 = Keistimewaan Persamaan regresi berganda tersebut dijelaskan sebagai berikut: 1. Variabel Harga (X1) mempunyai pengaruh positif terhadap

Keputusan Pembelian (Y) dengan nilai 0,221. 2. Variabel Merek (X2 ) mempunyai pengaruh positif terhadap Keputusan Pembelian (Y) dengan nilai 0,320.

67

3. Variabel Kualitas (X3 ) mempunyai pengaruh positif terhadap Keputusan Pembelian (Y) dengan nilai 0,196. 4. Variabel Keistimewaan (X4) mempunyai pengaruh positif terhadap Keputusan Pembelian (Y) dengan nilai 0,184. Namun untuk menguji signifikansi koefisien regresi tersebut, masih diperlukan pengujian hipotesis menggunakan uji t dan uji F seperti yang tersaji berikut. 4.4.5 Uji Goodness of Fit Ketepatan fungsi regresi sampel dalam menaksir nilai aktual dapat dinilai dengan Goodness of Fit-nya. Secara statistik setidaknya ini dapat diukur dari nilai koefisien determinasi, nilai statistik F dan nilai statistik t. Perhitungan statistik disebut signifikan secara statistik apabila nilai uji statistiknya berada dalam daerah kritis (daerah dimana Ho ditolak), sebaliknya disebut tidak signifikan bila nilai uji statistiknya berada dalam daerah dimana Ho diterima ( Ghozali, 2009).

4.4.5.1 Uji F Uji F digunakan untuk menguji ada tidaknya pengaruh variabel-variabel independen terhadap variabel dependen secara simultan (bersama-sama). Tabel 4.9

68

Hasil uji F ANOVAb Sum of Model 1 Regression Residual Total Squares 267.561 259.189 526.750 df 4 95 99 Mean Square 66.890 2.728 F 24.517 Sig. .000a

a. Predictors: (Constant), Keistimewaan, Merek, Kualitas, Harga b. Dependent Variable: Keputusan Pembelian

Berdasarkan uji ANOVA atau F test, maka dapat diperoleh F hitung sebesar 24,517 dengan tingkat signifikansi 0,000. Oleh karena probabilitas jauh lebih kecil daripada 0,05 (0,000 lebih kecil dari 0,05) dan F hitung lebih besar daripada F tabel (24,517 lebih besar daripada 2,46) maka dapat dinyatakan bahwa variabel independen yang meliputi Harga (X1), Merek (X2 ), Kualitas (X3), dan Ciri/Keistimewaan (X4) secara simultan atau bersama-sama mempengaruhi variabel Keputusan Pembelian (Y) secara signifikan. 4.4.5.2 Uji t Uji t yaitu suatu uji untuk mengetahui signifikansi pengaruh variabel bebas secara parsial atau individual terhadap variabel terikat. Tabel 4.10 Hasil Uji t

69

(Sumber : data primer yang diolah, 2010) a. Dari hasil perhitungan SPSS, dapat diketahui signifikansi variabel Harga sebesar 0,23. Oleh karena probabilitas di bawah 0,05 maka koefisien regresi dari harga adalah signifikan, sedangkan t hitung (2,310) lebih besar daripada t tabel (1,9850) maka H0 ditolak dan Ha diterima. Hal ini berarti bahwa harga berpengaruh positif signifikan terhadap proses pengambilan keputusan pembelian sepeda motor Suzuki di Kota Semarang. Berarti hipotesis yang berbunyi: Harga berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian adalah benar. b. Dari hasil perhitungan SPSS, dapat diketahui signifikansi variabel Merek sebesar 0,01. Oleh karena probabilitas di bawah 0,05 maka koefisien regresi dari Merek adalah signifikan, sedangkan t hitung (3,382) lebih besar daripada t tabel (1,984) maka H0 ditolak dan Ha diterima. Hal ini berarti bahwa merek berpengaruh positif dan signifikan terhadap proses pengambilan keputusan pembelian sepeda motor Suzuki di Kota Semarang. Berarti hipotesis yang berbunyi: Merek berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian adalah benar.

70

c. Dari hasil perhitungan SPSS, dapat diketahui signifikansi variabel Kualitas sebesar 0,20. Oleh karena probabilitas di bawah 0,05 maka koefisien regresi dari Kualitas adalah signifikan, sedangkan t hitung (2,357) lebih besar daripada t tabel (1,984) maka H0 ditolak dan Ha diterima. Hal ini berarti bahwa kualitas berpengaruh positif signifikan terhadap proses pengambilan keputusan pembelian sepeda motor Suzuki di Kota Semarang. Berarti hipotesis yang berbunyi: Kualitas berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian adalah benar. d. Dari hasil perhitungan SPSS, dapat diketahui signifikansi variabel Kualitas sebesar 0,36. Oleh karena probabilitas dibawah 0,05 maka koefisien regresi dari Keistimewaan adalah signifikan, sedang t hitung (2,125) lebih besar daripada t tabel (1,984) maka H0 ditolak dan Ha diterima. Hal ini berarti bahwa keistimewaan berpengaruh positif signifikan terhadap proses pengambilan keputusan pembelian sepeda motor Suzuki di Kota Semarang. Berarti hipotesis yang berbunyi: Ciri / keistimewaan berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian adalah benar.

4.5.1 Koefisien Determinasi (R 2 ) Koefisien determinasi (R 2 ) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu (Ghozali, 2001). Nilai koefisien determinasi dapat dilihat pada Tabel 4.8 dibawah ini. Tabel 4.11

71

Hasil Koefisien Determinasi Model Summaryb Model 1 R .713a R Square .508 Adjusted R Square .487 Std. Error of the Estimate 1.652

a. Predictors: (Constant), Keistimewaan, Merek, Kualitas, Harga b. Dependent Variable: Keputusan Pembelian Sumber : Data primer yang diolah, 2010 Dari Tabel 4.24 terlihat tampilan output SPSS model summary besarnya Adjusted R Square adalah 0,487. Hal ini berarti hanya 48,7% variasi Proses pengambilan keputusan pembelian (Y) dapat dijelaskan oleh variabel-variabel independen di atas. Sedang sisanya (100% - 48,7% = 51,3%) dijelaskan oleh sebab-sebab yang lain diluar model. 4.5.2 Pembahasan Dari hasil pengujian Goodness of fit, dapat disimpulkan bahwa variabelvariabel independen dalam penelitian ini mampu menerangkan mengenai 48,7% persen variasi keputusan pembelian. Sedangkan sisanya, 51,3% dipengaruhi oleh sebab lain diluar model. Dari keempat variabel independen yang diuji secara individual yang paling dominan dalam mempengaruhi proses pengambilan keputusan pembelian sepeda motor merek Suzuki Smash adalah merek (dengan koefisien 0,320). Variabel berikutnya yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan pembelian sepeda

72

motor merek Suzuki Smash adalah harga (dengan koefisien 0,221). Variabel berikutnya yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan pembelian sepeda motor merek Suzuki Smash adalah kualitas (dengan koefisien 0,196). Variabel keistimewaan memiliki peran paling kecil dalam mempengaruhi proses pengambilan keputusan pembelian sepeda motor merek Suzuki Smash (dengan koefisien 0,184). Semua variabel independen penelitian berpengaruh positif terhadap proses pengambilan keputusan pembelian sepeda motor merek Suzuki Smash di Kota Semarang.

1.

Hasil perhitungan uji t menunjukkan nilai koefisien harga dengan menggunakan Standardized Beta Coefficient adalah 0,221 dengan nilai t
hitung

sebesar 2,310 dan tingkat signifikansi 0,023. Sedangkan t

tabel

untuk

penelitian ini adalah 1,985. Maka dapat disimpulkan ada pengaruh yang sigifikan antara harga dengan proses pengambilan keputusan pembelian sepeda motor Suzuki di Kota Semarang. Berarti hipotesis pertama yang berbunyi: ³Harga berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian ´ adalah benar adanya. Dalam penelitian ini, indikator yang digunakan untuk mengukur harga adalah : Kesesuaian keistimewaan produk dengan harga, keterjangkauan harga, dan sesuai dengan manfaat yang didapatkan . Masing-masing indikator mendapat tanggapan positif dari 100 responden yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator dalam

73

program promosi tersebut memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap proses pengambilan keputusan pembelian. Berdasarkan alasan dan tanggapan responden yang sudah dijelaskan, maka dapat disimpulkan bahwa harga mempengaruhi konsumen secara kuat dalam proses pengambilan keputusan pembelian sepeda motor merek Suzuki Smash di Kota Semarang. 2. Sedangkan uji t pada hipotesis kedua menunjukkan nilai koefisien merek dengan menggunakan Standardized Beta Coefficient adalah 0,320 dengan nilai t
hitung

sebesar 3,382 dan tingkat signifikansi 0,01. Sedangkan t

tabel

untuk penelitian ini adalah 1,985. Variabel merek berpengaruh secara signifikan terhadap proses pengambilan keputusan pembelian. Berarti hipotesis kedua yang berbunyi: ³Merek berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian´ adalah benar adanya. Dalam penelitian ini

menggunakan indikator : citra merek, pengenalan merek, pengaruh merek, kesetiaan merek, dan persepsi kesesuaian merek dengan kualitas. Masingmasing indikator mendapat tanggapan positif dari 100 responden yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator dalam persepsi merek tersebut memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap proses pengambilan keputusan pembelian. Berdasarkan alasan dan tanggapan responden yang sudah dijelaskan, maka dapat disimpulkan bahwa merek mempengaruhi konsumen secara kuat dalam proses pengambilan keputusan pembelian sepeda motor merek Suzuki di Kota Semarang.

74

3.

Hasil perhitungan uji t menunjukkan nilai koefisien kualitas dengan menggunakan Standardized Beta Coefficient adalah 0,196 dengan nilai t
hitung

sebesar 2,357 dan tingkat signifikansi 0,020. Sedangkan t

tabel

untuk

penelitian ini adalah 1,985. Maka dapat disimpulkan hipotesis ketiga yang berbunyi ³Kualitas berpengaruh poisitif terhadap keputusan pembelian´ adalah terbukti kebenarannya. Dalam penelitian ini, indikator yang digunakan untuk mengukur kualitas adalah: kecepatan, reliable, keawetan atau daya tahan, dan keamanan. Masing-masing indikator mendapat tanggapan positif dari 100 responden yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator dalam kualitas tersebut memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Berdasarkan alasan dan tanggapan responden yang sudah dijelaskan, maka dapat disimpulkan bahwa kualitas mempengaruhi konsumen secara positif dan kuat dalam proses pengambilan keputusan pembelian sepeda motor merek Suzuki di Kota Semarang. 4. Hasil perhitungan uji t menunjukkan nilai koefisien ciri/keistimewaan dengan menggunakan Standardized Beta Coefficient adalah 0,154 dengan nilai t
hitung

sebesar 2,125 dan tingkat signifikansi 0,036. Sedangkan t

tabel

untuk penelitian ini adalah 1,985. Maka dapat disimpulkan ada pengaruh yang sigifikan antara ciri/keistimewaan dengan proses pengambilan keputusan pembelian sepeda motor Suzuki di Kota Semarang dan hipotesis keempat yang berbunyi ³Ciri / Keistimewaan berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian´ adalah terbukti kebenarannya. Dalam

75

penelitian

ini,

indikator

yang

digunakan

untuk

mengukur

ciri/keistimewaan adalah: Pilihan warna yang menarik, tipe atau jenis motor yang digunakan, dan desain yang menarik. Masing-masing indikator mendapat tanggapan positif dari 100 responden yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator dalam ciri/keistimewaan tersebut memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap proses pengambilan keputusan pembelian. Berdasarkan alasan dan tanggapan responden yang sudah dijelaskan, maka dapat disimpulkan bahwa sikap konsumen berpengaruh positif secara kuat dalam proses pengambilan keputusan pembelian sepeda motor merek Suzuki di Kota Semarang.

Kemudian dari hasil uji F memperlihatkan bahwa variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini, yakni harga, merek, kualitas,

ciri/keistimewaan adalah layak untuk menguji variabel dependen, yakni proses pengambilan keputusan pembelian sepeda motor Suzuki Smash di Kota Semarang. Hal tersebut ditunjukkan dari besarnya nilai F sebesar 24,517 dengan tingkat signifikansi 0,000 (kurang dari 0,05).

76

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Berdasarkan penelitian tentang pengaruh harga, merek, kualitas, dan keistimewaan terhadap keputusan pembelian Suzuki Smash pada 100 responden di Kota Semarang, maka dari penelitian tersebut hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut: 1. Diketahui bahwa harga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap proses pengambilan keputusan pembelian. Hal ini ditunjukkan pada hasil pengolahan data dengan SPSS 16, hasil analisis regresi berganda menunjukkan besarnya pengaruh harga (X1) sebesar 0,221 terhadap keputusan pembelian (Y) dan nilai t signifikansi sebesar 0,023 2. Diketahui bahwa merek memiliki pengaruh yang signifikan terhadap proses pengambilan keputusan pembelian. Hal ini ditunjukkan pada hasil pengolahan data dengan SPSS 16, hasil analisis regresi berganda menunjukkan besarnya pengaruh merek (X2) sebesar 0,320 terhadap keputusan pembelian (Y) dan nilai t signifikansi sebesar 0,01 3. Diketahui bahwa kualitas memiliki pengaruh yang signifikan terhadap proses pengambilan keputusan pembelian. Hal ini ditunjukkan pada hasil pengolahan data dengan SPSS 16, hasil analisis regresi berganda
hitung hitung

sebesar 2,310 dengan tingkat

sebesar 3,382 dengan tingkat

77

menunjukkan besarnya pengaruh kualitas (X3) sebesar 0,196 terhadap keputusan pembelian (Y) dan nilai t signifikansi sebesar 0,020 4. Diketahui bahwa ciri/keistimewaan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap proses pengambilan keputusan pembelian. Hal ini ditunjukkan pada hasil pengolahan data dengan SPSS 16, hasil analisis regresi berganda menunjukkan besarnya pengaruh ciri/keistimewaan (X4 ) sebesar 0,184 terhadap keputusan pembelian (Y) dan nilai t dengan tingkat signifikansi sebesar 0,036. 5. Berdasakan penelitian yang telah dilakukan penelitian kepada 100 responden sepeda motor Suzuki di Kota Semarang maka data mentah yang diperoleh selanjutnya diolah dengan progam SPSS 16 dan dari hasil pengolahan data tersebut dihasilkan garis regresi sebagai berikut: 
    
hitung hitung

sebesar 2,357 dengan tingkat

sebesar 2,125

Model tersebut berarti bahwa setiap terjadi kenaikkan harga (X1 ) sebesar satu satuan akan diikuti kenaikkan Keputusan Pembelian (Y) sebesar 0,221 apabila variabel lain yang mempengaruhi dalam keadaan Ceteris Paribus. Kemudian setiap terjadi kenaikkan satu satuan merek (X2) akan diikuti kenaikkan Keputusan Pembelian (Y) sebesar 0,320 apabila variabel lain yang mempengaruhi dalam keadaan Ceteris Paribus, setiap terjadi kenaikkan satu satuan kualitas (X3) akan diikuti kenaikkan Keputusan Pembelian (Y) sebesar 0,196 apabila variabel lain yang mempengaruhi dalam keadaan Ceteris Paribus dan setiap terjadi

78

kenaikkan satu satuan ciri atau keistimewaan (X4 ) akan diikuti kenaikkan Keputusan Pembelian (Y) sebesar 0,184 apabila variabel lain yang mempengaruhi dalam keadaan Ceteris Paribus. Berdasarkan uji ANOVA atau F test, maka dapat diperoleh F hitung sebesar 24,517 dengan tingkat signifikansi 0,000. Oleh karena probabilitas jauh lebih kecil daripada 0,05 (0,000 lebih kecil dari 0,05) dan F hitung lebih besar dari F tabel (24,517 lebih besar dari 2,45) maka dapat dinyatakan bahwa variabel independen yang meliputi harga (X1), merek (X2), kualitas (X3), dan ciri/keistimewaan (X4 ) secara simultan atau bersama-sama mempengaruhi variabel keputusan pembelian konsumen (Y) secara signifikan.

5.2

Keterbatasan Dalam penelitian ini juga memiliki keterbatasan antara lain kurangnya

model untuk mengukur seberapa jauh kemampuan dalam menerangkan variasi variabel dependen terhadap pengaruhnya ke variabel independen dengan hanya menghasilkan R squre sebesar 0,487 maka penelitian ini hanya mampu

menerangkan pengaruh variabel dependen sebesar 48,7 % saja sedangkan 51,3 % lainnya dipengaruhi oleh variabel dependen di luar model penelitian ini.

79

5.3

Saran Saran praktis dimunculkan berdasarkan teori-teori yang telah dibangun

dan didasarkan pada hasil penelitian yang diperoleh. Hasil pengujian analisis dalam penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber tambahan referensi bagi penelitian selanjutnya dan informasi bagi penyusunan rencana strategis pemasaran Suzuki Indonesia. a. Implikasi Kebijakan Berdasarkan hasil penelitian yang menghasilkan urutan pengaruh proses pengambilan keputusan pembelian konsumen terhadap sepeda motor Suzuki yaitu : merek, harga, kualitas, dan keistimewaan. Maka dapat diajukan beberapa saran kepada PT Indomobil Suzuki Internasional umumnya dan Suzuki di Kota Semarang khususnya adalah sebagai berikut : Variabel merek berpengaruh paling besar terhadap proses pengambilan keputusan pembelian sepeda motor Suzuki. Hasil ini menunjukkan konsumen masih menganggap Suzuki merupakan pabrikan sepeda motor dengan citra merek yang baik. Dalam hal kesetiaan merek, konsumen masih membandingkan motor Suzuki Smash dengan merek lain, karena itu dari pihak Suzuki perlu meningkatkan program-program yang dapat menarik konsumen Smash agar tidak berpindah ke merek lain.
y

y

Variabel harga merupakan salah satu pertimbangan utama dalam melakukan pembelian produk. Konsumen akan membandingkan harga yang dikeluarkan dengan manfaat yang diterima. Agar motor Suzuki

80

Smash bisa terjangkau untuk masyarakat bisa dilakukan dengan menurunkan uang muka pembelian motor, kredit dengan bunga ringan, dan souvenir untuk setiap pembelian motor Suzuki Smash.
y

Kualitas sepeda motor Suzuki perlu untuk ditingkatkan lagi. Slogan Suzuki ³Si Gesit Irit´ memang sesuai dengan kenyataan. Motor Suzuki handal dalam kecepatan tinggi, namun juga aman dikendarai karena rem cakram di depan membuat jarak pengereman menjadi lebih dekat. Dalam beberapa hal masih ada bagian yang memerlukan perbaikan kualitas. Kualitas bodi motor masih bisa ditingkatkan lagi dengan memperkuat sambungan bodi plastik dengan kerangka. Kehandalan mesin motor ketika melewati tanjakan perlu diperbaiki lagi.

y

Ciri atau keistimewaan merupakan sarana untuk membuat suatu produk menjadi berbeda dari pesaing. Ciri atau keistimewaan terutama yang tampak adalah stripping atau stiker di bodi motor. Stripping berguna untuk memperindah tampilan motor. Stripping yang disediakan oleh Suzuki dinilai cukup menarik namun Suzuki masih bisa menambah bentuk striping yang lebih banyak agar dapat menarik perhatian konsumen. Desain bodi yang ramping sesuai dengan slogannya yaitu ³Si Gesit Irit´, desain tersebut dirasa beberapa konsumen masih kurang sporty.

81

b. Saran bagi penelitian mendatang Sedangkan bagi penelitian mendatang, bisa ditambahkan variabel-variabel lain dan obyek penelitian yang berbeda dari yang sudah peneliti lakukan. Sampel sebaiknya diluaskan lagi jumlahnya agar model penelitian menjadi kuat dalam penjabaran pengaruh variabel dependen terhadap variabel independennya. Pengisian kuesioner harus benar-benar dipantau agar tidak ada jawaban yang kosong dan tidak terjadi kesalahan pengisian serta yang lebih utama adalah pembuatan butir-butir pertanyaan harus benar-benar diperhatikan agar tidak terjadi kebingungan responden dalam mengisi dan jawaban yang dihasilkan dapat merepresentasikan hal-hal yang ditanyakan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful