You are on page 1of 119

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS GADJAH MADA


YOGYAKARTA

KONTRIBUTOR
dr.Ova Emilia,M.Med.Ed., PhD., SpOG(K)
Ilmu Kebidanan dan Kandungan
dr.Rossi Sanusi, MPH., PhD
Ilmu Kesehatan Masyarakat
Prof.DR.dr.Adi Heru Sutomo, DLSHTM, DCN
Ilmu Kessehatan Masyarakat
dr.Wahyudi Istiono,M.Kes
Ilmu Kesehatan Masyarakat
Dra.Yayi Suryo Prabandari, MSi., PhD
Ilmu Kesehatan Masyarakat
dr.Fatwasari Tetra Dewi, MPH., PhD
Ilmu Kesehatan Masyarakat
Alm. Mariyono Sedyowinarso, SKp., M.Si.
Prodi Ilmu Keperawatan
Totok Harjanto, S.Kep., Ns., M.Kes
Prodi Ilmu Keperawatan
dr. Suryono Yudha Patria, SpA(K)
Imu Kesehatan Anak
dr.Detty, MSc., PhD., SpOG(K)
Ilmu Kebidanan dan Kandungan
dr.Mora Claramita,MHPE., PhD
Bagian Pendidikan Kedokteran
dr.Citra Indriyani, MPH
Ilmu Kesehatan Masyarakat
dr.Hikmawati,MMed.Ed
Bagian Pendidikan Kedokteran
Dr.Nur Azid Mahardinata
Bagian Pusat Kajian Bioetika dan Humaniora Kedokteran
Dr.Emy Huriyati, M.Kes
Prodi Gizi Kesehatan
dr.Fitriana
Tim Kedokteran Keluarga/ Tim CFHC-IPE
dr.Fransisca Kurnia Chandra
Tim CFHC-IPE
dr.Dianing Pratiwi
Tim CFHC-IPE
Editor:
Dra.Yayi Suryo Prabandari, MSi., PhD
dr.Fatwasari Tetradewi, MPH, PhD
dr.Fitriana
Cover:
dr.Fitriana
dr.Fransisca Kurnia Chandra

KATA PENGANTAR
Assalammualaikum wr.wb
Puji syukur yang dalam kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, Yang Maha Pengasih dan
Penyayang atas segala anugerah dan berkah Nya, karena telah selesainya penyusunan buku
Panduan Umum CFHC-IPE bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran. Sebuah tim inter-disipliner
terdiri atas praktisi-praktisi yang berasal dari berbagai macam profesi yang berbeda, yang
berbagi populasi pasien yang sama dan tujuan pelayanan pasien yang sama, memiliki tugas dan
kewajiban yang saling mendukung dan bergantung antar profesi. Tim ini saling bergantung
secara aktif, dengan sarana komunikasi yang memadai diantara anggotanya dan dengan pasien
beserta keluarganya untuk memastikan bahwa semua aspek kebutuhan kesehatan pasien
tertangani secara komprehensif.
Pendidikan profesi kesehatan seringkali bersifat eksklusif sesuai dengan profesinya
masing-masing. Mahasiswa tidak memiliki banyak kesempatan untuk menimba ilmu mengenai
atau bersama-sama dengan mahasiswa dari profesi lain. Untuk dapat berfungsi secara efektif
sebagai sebuah tim, para anggota harus terlebih dahulu memahami peran serta tugas dan
kewajiban profesi lain.
Hubungan kelompok yang sudah terbangun dengan baik menjadi dasar dalam kegiatan di
kurikulum CFHC yang berbasiskan masyarakat dalam bentuk Family Attachment. Kegiatan
CFHC yang merupakan kegiatan longitudinal selama masa pembelajaran di S1 yang akan
menerapkan pembelajaran Patient Safety, Evidence Based Practice, Public Health, Ethic and
Professionalism, Family Medicine, Learning Skills, Clinical Skills Lab, Inter-professional
Education (IPE), Pengembangan Kepribadian, baik dari Pendidikan Dokter maupun Ilmu
Keperawatan dan Gizi Kesehatan.
Tim CFHC-IPE
Fakultas Kedokteran-Universitas Gadjah Mada

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ................................................................................................................. 1
KONTRIBUTOR ....................................................................................................................... 2
KATA PENGANTAR ............................................................................................................... 3
DAFTAR ISI .............................................................................................................................. 4
PENDAHULUAN ..................................................................................................................... 5
BAB I

Family Attachment-Biospychosocia ........................................................................ 7

BAB II

Interprofesssional Education (IPE), Communication,


and Interprofesional Teamwork ............................................................................ 17

BAB III

Need-Want-Demand ............................................................................................. 36

BAB IV

Perjalanan Alamiah Penyakit ............................................................................... 39

BAB V

Upaya Promosi dan Prevensi Kesehatan .............................................................. 46

BAB VI

Keseimbangan Ekologis ........................................................................................ 57

BAB VII Epidemiology (Surveillance And Data Analysis) ................................................ 60


BAB VIII Occupational Health .............................................................................................. 65
BAB IX Menyadari Keterbatasan ......................................................................................... 76
BAB X

Penyuluhan Pada Masyarakat, Intervensi Motivasional Sederhana ...................... 79

BAB XI Communication Action and Communication Empowerment,


Pendekatan dan Pemberdayaan Masyarakat untuk Kesehatan ............................... 98
BAB XII Sistem Rujukan .................................................................................................... 116

PENDAHULUAN
Buku acuan umum CFHC-IPE merupakan rujukan keilmuan yang bersifat praktis. Buku
ini digunakan untuk menambah kejelasan tentang dasar-dasar keilmuan CFHC-IPE secara
sederhana. Untuk pendalaman diperlukan melihat rujukan-rujukan yang ditulis pada masingmasing bab.
Isi buku ini menyangkut masalah dasar-dasar kerja profesional tenaga kesehatan di
tingkat pelayanan primer dengan pendekatan personal atau biopsiososial-kultur-spiritual; Inter
professional education, communication, and teamwork; need, want, dan demand; Upaya
penanggulangan penyakit; perjalanan alamiah penyakit; keseimbangan ekologis; epidemiologi;
occupational health; self awareness; penyuluhan masyarakat; communication action and
communication empowerment, pendekatan dan pemberdayaan masyarakat untuk kesehatan; dan
sistem rujukan.
Pada prinsipnya pelayanan primer akan berhasil bila melibatkan pasien sebagai personal
yang

memiliki

latar

belakang

biopsiososial-kultur-spiritual.

Upaya

personal

dapat

dikelompokkan di dalam keinginan individu, kebutuhan, serta suatu upaya yang harus dipenuhi
(need, want, demand), maka hasil yang diharapkan dari upaya tersebut adalah tercapainya status
kesehatan

individu, keluarga dan masyarakat yang optimal yaitu semua upaya sudah

dilaksanakan termasuk self awareness, penyuluhan masyarakat, communication action and


communication empowerment, pendekatan dan pemberdayaan masyarakat untuk kesehatan, serta
sistem rujukan.
Bagi mahasiswa yang sedang menjalankan pendidikan CFHC-IPE, acuan tersebut diatas
dapat digunakan untuk melaksanakan tugas lapangan baik secara individu maupun kelompok.
Kegiatan CFHC-IPE dilaksanakan secara kelompok karena realitas kegiatan di pelayanan primer
dilakukan oleh tim kesehatan baik dari profesi dokter, perawat, dietisen, dan lain-lain maka
diperlukan pendidikan interprofesi serta pembentukan teamwork seawal mungkin semenjak
mahasiswa semester satu sampai dengan selesai sarjana.

Tujuan pembelajaran CFHC-IPE adalah pendekatan personal di dalam keluarga


dilanjutkan dengan pelayanan komunitas berbasis pada kerjasama tim, maka diperlukan
pengetahuan tentang upaya penanggulangan penyakit di tingkat primer yang meliputi berbagai
komponen antara lain pemahaman perjalanan alamiah penyakit, keseimbangan ekologis, dan
epidemiologi.

Ketua Koordinator CFHC-IPE

BAB I
FAMILY ATTACHMENT-BIOPSYCHOSOCIAL
dr.Wahyudi Istiono, M.Kes
dr.Fransisca Kurnia Chandra
Totok Harjanto, S.Kep., Ns., M.Kes
dr.Emy Huriyati, M.Kes
Editor:
dr.Fatwasari Tetradewi, MPH, PhD dan dr.Fitriana
Biospikososial-kultur-spiritual merupakan suatu konteks dinamika kehidupan individu
terutama di lingkungan keluarga maupun lingkungan kerja. Prinsip pengelolaan kesehatan yang
berbasis pada individual atau personal menggunakan konteks tersebut di atas sebagai prosedur
spesifik keilmuan di bidang pelayanan primer (family medicine). Biopsikososial memberikan
dasar pemahaman menentukan penyakit, mengarahkan pada terapi yang tepat, dan pola
pelayanan kesehatan .
Pendekatan biopsikososial secara sistematis mempertimbangkan faktor biologi, psikologi,
dan sosial dan interaksi kompleks dalam memahami sehat, sakit (illness), dan penyampaian
pelayanan kesehatan. Pendekatan ini menggambarkan karakteristik personal yang lebih lengkap
dan lebih realistis sebagaimana kehidupan sehari-hari klien beserta keluarganya.
Dahulu, terminologi yang dipakai adalah biomedical, di mana kata tersebut hanya
menjelaskan tentang pikiran dan tubuh. Mengingat penyakit primer merupakan kegagalan tubuh
yang dihasilkan dari infeksi, keturunan atau semacamnya, konsekuensi dari pemakaian
terminologi biomedical hanya menjelaskan sebagian dari konsep sehat. Hal tersebut menjadikan
definisi sehat dari WHO menjadi sederhana, yaitu tidak adanya penyakit. Pada sebuah tulisan
yang dibuat oleh Engel, dikatakan paradigma biomedical dan konsep sosial dan psikologi
memberikan pemahaman proses sakit lebih baik. Beberapa tahun ini, model biopsikososial lebih
dipakai dan diterima. Secara umum sekarang sakit dan sehat merupakan hasil dari interaksi
antara faktor biologi, psikologi, dan sosial (Yolanda, 2004).
Tenaga kesehatan sebagai bagian intergral dari pelayanan kesehatan, ikut menentukan
menentukan mutu dari pelayanan kesehatan. Pelayanan tenaga kesehatan sebagai pelayanan
professional merupakan pelayanan yang bersifat humanistik, dilaksanakan berdasarkan ilmu dan

kiat yang berorientasi pada kebutuhan objektif klien baik secara individu, keluarga, kelompok,
komunitas dan masyarakat yang dilandasi etika profesi.
Pengelolaan kesehatan personal juga mempertimbangkan konsep disease/sickness (yang
merujuk pada kesehatan biologis) dan illness (yang merujuk pada fungsi dan makna biologis
dalam kehidupan sehari-hari/psikososial, kultur dan spiritual) yang dirasakan individu dengan
pengertian subjektif. Identifikasi pengelolaan illness dan disease/sickness dapat dilihat dari
dokumen medical record yang informasinya dikelompokkan ke dalam identitas sosial demografi
dan identitas klinik (subjektif, objektif, assessment, dan plan).
Pendekatan pelayanan primer harus mempertimbangkan semua aspek di atas dengan
rincian sebagai berikut:
1. Untuk memahami masalah pada perseorangan atau individu perlu diketahui terlebih dahulu
masalah sosial demografi secara rinci. Output ini digunakan untuk mempertimbangkan faktor
risiko, pencegahan, pendampingan, dan pemberdayaan individu tatkala sakit.
2. Informasi subjektif sebagai hasil anamnesis mempertimbangkan respon pasien terhadap sakit
atau keluhan yang sedang diderita (illness). Respon tersebut digali dengan pendekatan
aktivitas psikologi individu, status sosial dan kegiatan sosial, kultur di lingkungan keluarga
maupun sosial sekitarnya, serta aktivitas spiritual. Indikator kejelasan informasi sakit atau
keluhan yang sedang diderita (illness) dapat berwujud semacam ide, harapan, perasaan, afek
dan fungsi.
3. Informasi objektif adalah upaya aktif pengelolaan pelayanan kesehatan yang berbasis pada
riwayat penyakit, pemeriksaan klinis maupun pemeriksaan laboratorium selama kontak
dengan pasien.
4. Assessment dilakukan untuk menganalisis hasil informasi subjektif maupun objektif berupa
diagnosis banding dan diagnosis utama yang bersifat holistik.
5. Plan merupakan suatu upaya mencari pemecahan atau penyelesaian komprehensif masalah
yang berbasis pada prevensi pada semua level perjalanan alamiah penyakit (five level
prevention of Klark). Plan juga dapat berarti penyelesaian masalah mulai dari faktor risiko
yang didapat pada konteks dinamika kehidupan individu, disease/sickness and illness yang
ditemukan.

Pelayanan primer yang berbasis pada personal (patient center care) pada prinsipnya
mengelola problem individu, tujuan yang diharapkan dan aturan atau prosedur yang akan
diterapkan. Posisi pelayanan primer merupakan upaya pelayanan di tingkat kontak pertama.
Indikator pengelolaan diagnosis holistik dan penanganan yang komprehensif dapat
mengacu pada:
1.

Anamnesis holistik :
a.

Personal social history

b.

Family assessment tool: genogram, family map, family life cycle, family lifeline, family
APGAR (Adaptation, Partnership, Growth, Affection, and Resolve), dan family
SCREEM (Social, Cultural, Religion, Economic, Education, and Medical).

c.

Risk Factor

d.

Disease and illness

2.

Diagnosis holistik meliputi diagnosis psikososial, kultur, dan spiritual serta diagnosis medik.

3.

Plan atau manajemen holistik meliputi:


a.

intervensi psikososial

b.

intervensi medik (diagnosa, treatment dan followup)

c.

intervensi berbasis EBM

d.

Upaya pencegahan diberbagai level perjalanan alamiah penyakit.


Kesadaran tenaga kesehatan akan dampak dari stres yang dirasakan pasien sangat

membantu dalam proses promosi kesehatan dan pengobatan yang tepat untuk pasien. Setiap
individu merupakan pribadi yang unik yang memiliki pengalaman pribadi, tingkat pendidikan,
perilaku, kultur, kepercayaan akan kesehatan, kelemahan pribadi. Hal unik tersebut yang
membuat pasien mendapatkan penanganan yang berbeda-beda.
Dokter memiliki kemampuan untuk menjadikan pasiennya memiliki kesehatan yang lebih
baik. Beberapa kemampuan yang dimiliki dokter:
a. Reward power
Dokter memiliki kemampuan memberi kepuasan kepada pasien melalui suatu hal yang riil.
Hal tersebut seperti obat untuk meringankan nyeri, mengobati penyakit, memberikan
perhatian, informasi dan jaminan.

b. Coercive power
Dokter memiliki hak memberikan masukkan untuk kebaikan pasien, seperti memberikan obat
kepada pasien, memondokkan pasien dan menolak permintaan pasien.
c. Expert power
Walaupun informasi tentang penyakit dapat diperoleh dari banyak sumber, tetapi pasien tetap
menganggap bahwa dokter adalah orang yang paling mengetahui sakitnya.
d. Referent power
Pasien akan menjaga hubungan dengan dokter untuk memperkuat dan mendukung diri
sendiri.
e. Legitimate power
Seorang dokter diberi kuasa untuk memutuskan seseorang boleh atau tidak boleh melakukan
suatu tindakan karena pasien datang dan meminta saran dari dokter dan hal tersebut dilindungi
oleh pemerintah. Beberapa contohnya adalah seorang dokter dapat memberikan ijin pasien
tidak masuk kerja, memondokkan pasien ke rumah sakit jiwa.
Tindakan kolaborasi keperwatan dilakukan dengan tim kesehatan dalam pemberian
asuhan keperawatan, perencanaan terhadap upaya penyembuhan serta pemulihan kesehatan
klien. Kolaborasi keperawatan dapat juga dilakukan secara lintas sektoral untuk pengembangan
dan pelaksanaan program kesehatan dalam upaya peningkatan kesehatan individu, keluarga dan
masyarakat. Peran perawat secara umum adalah sebagai berikut:
1. Care provider, menerapkan keterampilan berfikir kritis dan pendekatan sistem untuk
penyelesaian masalah serta pembuatan keputusan keperawatan dalam konteks pemberian
askep yang komprehensif dan holistik berlandaskan aspek etik dan legal.
2. Community leader, menjalankan kepemimpinan di berbagai komunitas, baik komunitas
profesi maupun komunitas sosial
3. Educator, mendidik klien dan keluarga yang menjadi tanggung jawabnya
4. Manager, mengaplikasikan kepemimpinan dan manajemen keperawatan dalam asuhan
klien
5. Researcher, melakukan penelitian keperawatan dengan cara menumbuhkan kuriositas,
mencari jawaban terhadap fenomena klien, menerapkan hasil kajian dalam rangka
membantu mewujudkan Evidance Based Nursing Practice (EBNP)

10

Mendengarkan secara aktif merupakan salah satu kelebihan tenaga kesehatan dalam
menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi pasien baik biologi, psikologi, dan sosial. Hal
tersebut dapat terjadi karena beberapa hal:
1. Pasien mengharapkan bantuan
Seorang pasien yang datang untuk konsultasi dengan tenaga kesehatan selalu yakin
bahwa akan mendapat pertolongan dari mereka.
2. Hubungan terapetik
Walaupun

seorang

pasien

meyakini

bahwa

seorang

tenaga

kesehatan

dapat

menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya, tetapi seorang pasien tetap dapat
mengggunakan pengetahuan, kemampuan, dan perilaku sehari-harinya untuk menentukan
cara yang digunakan dalam menyelesaikan masalah. Ikatan ini menciptakan hubungan
yang didasari oleh saling menjaga dan memperhatikan satu sama lain.
3. Obtaining an external perspective
Pasien selalu mengharapkan seorang tenaga kesehatan yang bijak dan berpengetahuan
luas agar dapat menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.
4. Encourage a corrective experience
Psikoterapi merupakan suatu pendekatan pengobatan pasien yang efektif. Psikoterapi
dapat mengubah fungsi, reaksi dan respon pasien terhadap suatu masalah.
5. Opportunity to test reality repeatedly
Tenaga kesehatan adalah seseorang yang bisa selalu menjadi tempat pasien berkeluh
kesah. Dokter bertanggungjawab untuk mendampingi pasien menghadapi masalah.
Permasalah klien juga mendapat perhatian dari perawat terhadap penyimpanan dan tidak
terpenuhinya kebutuhan dasar manusia (bio-psiko-sosial dan spiritual) menjadi bidang garapan
dan fenomena yang menjadi objek kelimuan keperawatan yang mencakup seluruh siklus
kehidupan.
Kemampuan tenaga kesehatan dalam menggali masalah psikososial yang sedang dihadapi
pasien sangat penting. Pertanyaan yang diajukan harus sistematis mengingat waktu yang dimiliki
seorang tenaga kesehatan saat praktek sangat terbatas. Untuk mendapatkan hasil maksimal dalam
waktu yang tidak banyak, dapat digunakan akronim BATHE untuk melengkapi SOAP (subjektif,
objektif, assessment, dan plan) dalam rekam medis. BATHE ini dapat membuat hubungan

11

terapetik yang kuat, sehingga bisa saja pasien tidak membutuhkan obat tetapi hanya edukasi.
Komponen BATHE meliputi:
i. Background, pertanyaan tentang tujuan pasien datang.
ii. Affect, pertanyaan tentang perasaan pasien saat ini.
iii. Trouble, pertanyaan yang berfokus pada masalah utama yang sedang dihadapi oleh pasien.
iv. Handling, pertanyaan tentang tindakan yang sudah dilakukan pasien dalam menghadapi
masalah.
v. Empathy, membuat pernyataan yang masuk akal bagi pasien
Penggalian masalah psikososial pasien yang dilakukan oleh tenaga kesehatan tidak
menjadikan tenaga kesehatan tersebut ikut bertanggungjawab dalam masalah pasien, tetapi hal
ini bertujuan untuk membantu dokter menentukan terapi yang paling tepat untuk pasien. Dalam
hal ini tenaga kesehatan hanya mendampingi pasien menyelesaikan masalah dan memastikan
bahwa pasien mengetahui bahwa tenaga kesehatan akan membantu. Penting bagi tenaga
kesehatan untuk menentukan masalah yang sedang dihadapi oleh pasien lebih dominan biomedik
atau psikososial.
Seorang tenaga kesehatan tidak boleh mendikte pasien dalam memilih cara yang akan
dipakai untuk menyelesaikan masalah. Tenaga kesehatan hanya mendampingi pasien
menentukan masalah utama yang dihadapi dan memberikan beberapa macam alternatif
penyelesaian, pada akhirnya pasien yang akan menentukan pilihan. Hal ini lebih baik karena
dapat meningkatkan kekuatan dan kemampuan pasien dalam menganalisa alternatif mana yang
paling baik untuk dirinya.
Ketika seorang pasien sudah putus asa, tenaga kesehatan harus meyakinkan pasien bahwa
selalu ada penyelesaian untuk tiap masalah. Intervensi terapetik ini akan membantu pasien lebih
terbuka terhadap kemungkinan yang ada.
Terdapat beberapa cara dalam menghadapi masalah, seperti (Rakel, 2007):
1. Leaving, menyelidiki kemungkinan hasil terbaik dan terburuk dan merencanakan waktu yang
tepat untuk menentukan sikap.
2. Changing, hal ini membutuhkan investigasi terhadap masalah yang dapat dihadapi dan solusi
yang dimiliki.
3. Accepting, menjelaskan bahwa bila masalah yang dihadapi berubah, mereka harus bisa juga
berubah agar semua masalah dapat tertangani dengan baik.

12

4. Reframing, menemukan cara menginterpretasikan bahwa suatu masalah merupakan


pengalaman positif dan dapat dipakai sebagai pembelajaran di masa yang akan datang.
Bekerja sama dengan keluarga merupakan dasar dari kedokteran keluarga. Keluarga yang
hidup dalam harmoni dapat menciptakan kesehatan mental yang baik untuk setiap anggota
keluarganya dan juga stabilitas sosialnya. Hampir semua keluarga memiliki masalah psikososial
salah satu contohnya seperti perceraian oleh karena itu dokter perlu mengetahui masalah
psikososial yang dialami oleh keluarga tersebut.
Family therapy paling baik dilakukan oleh tenaga kesehatan. Hal ini disebabkan oleh
karena tenaga kesehatan memiliki posisi untuk dapat melakukan perawatan keluarga dan
berkelanjutan. Dari sudut pandang family therapi, bekerjasama dengan keluarga bukan berarti
tenaga kesehatan dapat mendikte yang harus dilakukan oleh keluarga, bertanggungjawab dengan
apa yang keluarga butuhkan, dan menyebabkan keluarga menjadi bergantung pada tenaga
kesehatan. Dari sudut pandang family education, bekerjasama dengan tenaga kesehatan berarti
membantu keluarga mampu menerima perubahan yang baik maupun perubahan yang buruk.
Tenaga kesehatan perlu mengetahui karakteristik keluarga yang dibinanya agar dapat
menilai dan membantu melakukan dari prevensi, promosi, kurasi, dan rehabilitasi. Beberapa
karakteristik yang dimiliki keluarga adalah:
1. Komunikasi yang sehat, anggota keluarga bebas mengekspresikan perasaan dan emosi.
2. Otonomi, yang menunjukkan bahwa setiap anggota keluarga memiliki kesempatan
menentukan keputusan ataupun lainnya secara mandiri serta toleran terhadap kehidupan
anggota keluarga lainnya
3. Fleksibel, anggota keluarga dapat saling menerima perubahan yang terjadi satu sama lain.
4. Apresiasi, anggota keluarga saling mendukung dan memuji untuk membangun kepercayaan
diri.
5. Saling mendukung, tingkat stres seseorang dapat berkurang dengan adanya dukungan dari
keluarga.
6. Waktu keluarga, meluangkan waktu bersama keluarga dapat meningkatkan kebahagiaan
seseorang.
7. Ikatan keluarga, yang dicirikan dengan pola hubungan yang bervariasi misalnya genetic.
Satu atap, satu dapur, satu tempat tidur, serta satu ikatan formal perkawinan ataupun lainnya.

13

8. Tumbuh, individu sebagai bagian dari keluarga maupun keluarga tersebut dapat dikatakan
berkembang dan menjalani pertumbuhan phisik maupun biopsiko social spiritualnya samapai
dengan fase tertentu akan mengalami kemunduran.
9. Nilai spiritual dan religius, keluarga yang memupuk nilai spiritual dan religius memiliki
tingkat kesehatan keluarga yang lebih baik.
Sebuah keluarga terkadang ditimpa oleh masalah seperti sakit, perceraian, dipecat, dan
lain-lain. Kondisi sakit yang terjadi pada salah satu anggota keluarga atau beberapa tidak hanya
mempengaruhi kehidupan yang mengalaminya, tetapi dapat juga mengganggu keseimbangan
sistem dalam keluarga. Tenaga kesehatan perlu meminta peran serta keluarga untuk membantu
pasien dalam menghadapi masalah sakitnya. menghadapi sakit pasien.
Untuk mengetahui manifestasi sakit pasien, tenaga kesehatan harus mengetahui respon
pasien terhadap stimulus stres baik yang berasal dari dalam (keluarga dan pekerjaan) maupun
dari luar (karakter personal).
Untuk memahami masalah yang sedang dialami oleh pasien, seharusnya seorang tenaga
kesehatan juga melihat latar belakang keluarganya sehingga diharapkan dapat memahami pasien
secara holistik. Untuk memahami permasalahan pasien, tenaga kesehatan seharusnya
mengevaluasi dinamika keluarga. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk
mengevaluasinya, seperti:
a. Mengobservasi interaksi antara anggota keluarga.
b. Lakukan konseling dengan seluruh anggota keluarga.
c. Lakukan kunjungan rumah.
d. Buatlah genogram untuk mengetahui struktur dan hubungan keluarga.
Konsep family life cycle dapat dipahami bila kita mengatahui dinamika dalam keluarga.
Beberapa tahapan family life cycle (John, 2011):
1. Meninggalkan rumah, menjadi pribadi yang mandiri dan mulai terpisah secara emosi
dengan orang tua.
2. Menikah, menjalin hubungan dengan suami atau istri, tahap ini membuat hubungan
emosi dengan orangtua menjadi lebih terpisah.
3. Belajar hidup bersama, memulai hidup baru dengan keluarga.
4. Mengasuh anak pertama, memiliki anggota keluarga baru dan menambah peran sebagai
orang tua.

14

5. Hidup dengan remaja, meingkatkan fleksibiltas batasan-batasan dalam keluarga


6. Melepas anak yang telah dewasa, penyesuaian telah berakhirnya peran sebagai orang tua.
7. Pensiun, masa di mana sudah tidak memiliki penghasilan dan membangun hubungan baru
dengan anak, cucu, atau anggota keluarga lainnya.
8. Usia tua, belajar menerima bahwa semakin lemah dan bergantung pada orang lain, belajar
menerima kehilangan pasangan hidup, keluarga, atau teman.
Perawatan kesehatan keluarga adalah pelayanan kesehatan yang ditujukan pada keluarga
sebagai unit pelayanan untuk mewujudkan keluarga yang sehat. Fungsi perawat membantu
keluarga untuk menyelesaikan masalah kesehatan dengan cara meningkatkan kesanggupan
keluarga melakukan fungsi dan tugas perawatan kesehatan keluarga.
Peran perawat dalam melakukan perawatan kesehatan keluarga adalah sebagai berikut:
1. Pendidik
Perawat perlu melakukan pendidikan kesehatan kepada keluarga agar keluarga dapat
melakukan program asuhan kesehatan secara mandiri dan bertanggung jawab terhadap
masalah kesehatan keluarga.
2. Koordinator
Koordinasi diperlaukan pada perawatan agar pelayanan komprehensive dapat dicapai.
Koordinasi juga diperlukan untuk mengatur program kegiatan atau terapi dari berbagai
disiplin ilmu agar tidak terjadi tumpang tindih dan pengulangan.
3. Pelaksana
Perawat dapat memberikan perawatan langsung kepada klien dan keluarga dengan
menggunakan metode keperawatan.
4. Pengawas kesehatan
Sebagai pengawas kesehatan harus melaksanakan home visite yang teratur untuk
mengidentifikasi dan melakukan pengkajian tentang kesehatan keluarga.
5. Konsultan
Perawat sebagai nara sumber bagi keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan. Agar
keluarga mau meminta nasehat kepada perawat, hubungan perawat dan klien harus terbina
dengan baik, kemampuan perawat dalam menyampaikan informasi dan kialitas dari
informasi yang disampaikan secara terbuka dan dapat dipercaya.

15

6. Kolaborasi
Bekerja sama dengan pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dan anggota tim kesehatan
lain untuk mencapai kesehatan keluarga yang optimal.
7. Fasilitator
Membantu keluarga dalam menghadapi kendala seperti masalah sosial ekonomi, sehingga
perawat harus mengetahui sistem pelayanan kesehatan seperti rujukan dan penggunaan
dana sehat.
8. Penemu kasus
Menemukan dan mengidentifikasi masalah secara dini di masyarakat sehingga
menghindarkan dari ledakan kasus atau wabah.
9. Modifikasi lingkungan
Mampu memodifikasi lingkungan baik lingkungan rumah maupun masyarakat agar tercipta
lingkungan yang sehat.

DAFTAR PUSTAKA
Alonso, Y., 2004. The biopsychosocial model in medical research: the evolution of the health
concept over the last two decades. PubMed: 53(2): 239-44.
John, M., 2011. General practice/John Murtagh 5th ed. McGraw-Hill Australia Pty Ltd.
Kaakinen, Joanna Rowe., 2010. Family Health Care Nursing: theory, practice, and research, 4th
edition
Konsil Kedokteran Indonesia., 2012. Standar Kompetensi Dokter Indonesia. Konsil Kedokteran
Indonesia, Jakarta
PPNI, AIPNI & AIPDIKI., 2012. Standar Kompetensi Perawat Indonesia, Jakarta. (diunduh dari
www.hpeq.dikti.go.id)
PPNI, AIPNI & AIPDIKI., 2012. Naskah akademik sistem pendidikan keperawatan, Jakarta.
(diunduh dari www.hpeq.dikti.go.id)
Rakel, E.R., 1990. Textbook of Family Practice 4th. McGraw-Hill, Mexico.
Rakel, R.E., 2007. Textbook of Family Medicine 7th ed. Saunder Elsevier: Philadelphia
Riskesdas., 2013. Diambil dari: depkes.go.id

16

BAB II
INTERPROFESSIONAL EDUCATION (IPE),
COMMUNICATION AND INTERPROFESSIONAL TEAMWORK
Alm. Mariyono Sedyowinarso, S.Kp., M.Si dan dr.Mora Claramita, MHPE., PhD
1.

Interprofessional Education (IPE)


a.

Definisi IPE
Menurut the Center for the Advancement of Interprofessional Education (CAIPE,
1997), IPE adalah dua atau lebih profesi belajar dengan, dari, dan tentang satu sama lain
untuk meningkatkan kolaborasi dan kualitas pelayanan. IPEmerupakan pendekatan
proses pendidikan dua atau lebih disiplin ilmu yang berbeda berkolaborasi dalam proses
belajar-mengajar

dengan

tujuan

untuk

membina

interdisipliner/interaksi

interprofessional yang meningkatkan praktek disiplin masing-masing (ACCP, 2009).


Menurut Cochrane Collaboration, IPE terjadi ketika dua atau lebih mahasiswa profesi
kesehatan yang berbeda melaksanakan pembelajaran interaktif bersama dengan tujuan
untuk meningkatkan kolaborasi interprofessional dan meningkatkan kesehatan atau
kesejahteraan pasien.
b.

Tujuan IPE
Secara umum IPE bertujuan untuk melatih mahasiswa untuk lebih mengenal peran
profesi kesehatan yang lain, sehingga diharapkan mahasiswa akan mampu untuk
berkolaborasi dengan baik saat proses perawatan pasien. Proses perawatan pasien secara
interprofessional akan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan meningkatkan
kepuasan pasien. Menurut Cooper (2001) tujuan pelaksanaan IPE antara lain: 1)
meningkatkan pemahaman interdisipliner dan meningkatkan kerjasama; 2) membina
kerjasama yang kompeten; 3) membuat penggunaan sumberdaya yang efektif dan
efisien; 4) meningkatkan kualitas perawatan pasien yang komprehensif.
WHO (2010) juga menekankan pentingnya penerapan kurikulum IPE dalam
meningkatkan hasil perawatan pasien. Gambar berikut menunjukkan bahwa IPE
merupakan langkah yang sangat penting untuk dapat menciptakan kolaborasi yang

17

efektif antar tenaga kesehatan profesional sehingga dapat meningkatkan hasil perawatan
pasien.

Sumber: Framework for action on interprofessional education & collaboration practice


(WHO, 2010)
c.

Aplikasi Konsep Kurikulum IPE.


Kurikulum IPE tidak dapat dipisahkan dari bagian kolaborasi interprofesional.
Interprofessional education dapat meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan terhadap
praktik kolaborasi. Kompetensi tersebut meliputi pengetahuan, sklill, attitute dan
perilaku terhadap kolaborasi interprofesi. Hal tersebut akan membuat tenaga kesehatan
lebih mengutamakan bekerjasama dalam melakukan perawatan pada pasien ditunjukkan
oleh gambar berikut:

18

d.

Metode Pembelajaran IPE


1) Kuliah klasikal
IPE dapat diterapkan pada mahasiswa menggunakan metode pembelajaran berupa
kuliah klasikal. Setting perkuliahan melibatkan beberapa pengajar dari berbagai
disiplin ilmu (team teaching) dan melibatkan mahasiswa dari berbagai profesi
kesehatan. Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum terintegrasi dari berbagai
profesi kesehatan. Kuliah dapat berupa sharing keilmuan terhadap suatu masalah
atau materi yang sedang dibahas.
2) Kuliah Tutorial (PBL)
Setting kuliah tutorial dapat dilakukan dengan diskusi kelompok kecil yang
melibatkan mahasiswa yang berasal dari berbagai profesi kesehatan. Mereka
membahas suatu masalah suatu masalah dan mencoba mengindentifikasi dan
mencari penyelesaian dari masalah yang dihadapi. Modul yang digunakan adalah
modul terintegrasi. Dosen berupa team teaching dari berbagai profesi dan bertugas
sebagai fasilitator dalam diskusi tersebut.

19

3) Kuliah Laboratorium
Kuliah laboratorium dilaksanakan pada tatanan laboratorium. Modul yang
digunakan adalah modul terintegrasi yang melibatkan mahasiswa yang berasal dari
berbagai profesi kesehatan.
4) Kuliah Skills Laboratorium
Skills Laboratorium merupakan metode yang baik bagi IPE karena dapat
mensimulasikan bagaimana penerapan IPE secara lebih nyata. Dalam pembelajaran
skills laboratorium, mahasiswa dapat mempraktekkan cara berkolaborasi dengan
mahasiswa dari berbagai profesi dalam memberikan pelayanan kesehatan pada
pasien.
5) Kuliah Profesi/Klinis-Lapangan
Pendidikan profesi merupakan pendidikan yang dilakukan di rumah sakit dan di
komunitas. Pada pendidikan profesi mahasiswa dihadapkan pada situasi nyata di
lapangan untuk memberikan pelayanan kepada pasien nyata. Melalui pendidikan
profesi, mahasiswa dapat dilatih untuk berkolaborasi dengan mahasiswa profesi lain
dalam kurikulum IPE.
2. Interprofessional Communication
a.

Definisi komunikasi interprofesi


Komunikasi atau communication menurut bahasa inggris adalah bertukar pikiran, opini,
informasi melalui perkataan, tulisan ataupun tanda-tanda (Hornby et al, 2007).
Komunikasi interprofesi adalah bentuk interaksi untuk bertukar pikiran, opini dan
informasi yang melibatkan dua profesi atau lebih dalam upaya untuk menjalin
kolaborasi interprofesi.

b.

Manfaat komunikasi interprofesi


Komunikasi interprofesi yang sehat menimbulkan terjadinya pemecahan masalah,
berbagai ide, dan pengambilan keputusan bersama (Potter & Perry, 2005). Bila
komunikasi tidak efektif terjadi di antara profesi kesehatan, keselamatan pasien menjadi
taruhannya. Beberapa alasan yang dapat terjadi yaitu kurangnya informasi yang kritis,
salah mempersepsikan informasi, perintah yang tidak jelas melalui telepon, dan
melewatkan perubahan status atau informasi (ODaniel and Rosenstein, 2008).

20

c.

Faktor yang mempengaruhi komunikasi interprofesi


Menurut Potter dan Perry (2005) keefektifan komunikasi interprofesi dipengaruhi oleh :
a) Persepsi yaitu suatu pandangan pribadi atas hal-hal yang telah terjadi. Persepsi
terbentuk apa yang diharapkan dan pengalaman. Perbedaan persepsi antar profesi yang
berinteraksi akan menimbulkan kendala dalam komunikasi; b) Lingkungan yang
nyaman membuat seseorang cenderung dapat berkomunikasi dengan baik. Kebisingan
dan kurangnya kebebasan seseorang dapat membuat kebingunan, ketegangan atau
ketidaknyamanan; c) Pengetahuan yaitu suatu wawasan akan suatu hal. Komunikasi
interprofesi dapat menjadi sulit ketika lawan bicara kita memiliki tingkat pengetahuan
yang berbeda. Keadaan seperti ini akan menimbulkan feedback negatif, yaitu pesan
menjadi akan tidak jelas jika kata-kata yang digunakan tidak dikenal oleh pendengar.

d. Upaya meningkatkan kemampuan komunikasi interprofesi


Menurut Wagner (2011), IPE merupakan langkah yang penting untuk dilakukan karena
melalui IPE, mahasiswa dapat melatih kemampuan komunikasi interprofesi pada situasi
yang tidak membahayakan pasien tetapi tetap mencerminkan situasi yang mendekati
situasi nyata. Kebutuhan akan strategi pembelajaran untuk meningkatkan komunikasi
interprofesi berkembang. Oleh karena itu, pendidik diharapkan mampu mengembangkan
metode dan strategi pembelajaran yang menggabungkan kemampuan komunikasi dan
budaya pasien serta keterampilan teknis sejak tahap akademik (Mitchell, 2010). Salah
satu model IPE yang dapat diterapkan adalah simulasi IPE. Melalui simulasi IPE
tersebut mahasiswa dapat mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dalam
berkomunikasi dengan profesi yang lain. Selain itu mahasiswa juga lebih percaya diri
untuk berkomunikasi dengan profesi yang lain ketika berkolaborasi dengan profesi yang
lain karena mahasiswa sudah memiliki bekal pengalaman sebelumnya. Wagner (2011)
menjelaskan dalam penelitiannya yang berjudul Developing Interprofessional
Communication Skills bahwa simulasi IPE sangat efektif dan diterima dengan baik
sebagai inovasi dalam pembelajaran mahasiswa kesehatan. Simulasi tersebutmerupakan
langkah awal menuju pengembangan budaya yang menumbuhkan kerja sama tim
interprofessional dalam perawatan kesehatan. Selain itu, simulasi tersebut adalah cara
untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan melalui pengembangan kolaborasi

21

interprofesi, karena memberikan kesempatan setiap kelompok untuk belajar berinteraksi


dengan profesi yang lain.
Selain melalui simulasi IPE, pembelajaran IPE juga dapat menggunakan metode
tutorial yang mengintegrasikan berbagai profesi kesehatan. Metode IPE melalui diskusi
tutorial tersebut berpusat pada berbagai aspek peran profesi kesehatan dan komunikasi
antara dokter, tenaga keperawatan serta pasien dalam setting managemen perawatan.
Mitchell (2010) menjelaskan dalam penelitiannya yang berjudul Innovation In Learning
An Interprofessional Approach To Improving Communicationbahwa tutorial sangat
efektif untuk memberikan kesadaran akan pentingnya kolaborasi tim interprofesi dalam
perawatan pasien. Selain itu, diskusi yang terjadi selama tutorial dengan profesi yang
lain dapat melatih mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan komunikasi
interprofesi.
Menurut Berridge (2010), komunikasi interprofesi merupakan faktor yang sangat
berpengaruh dalam meningkatkan keselamatan pasien, karena melalui komunikasi
interprofesi yang berjalan efektif, akan menghindarkan tim tenaga kesehatan dari
kesalahpahaman yang dapat menyebabkan medical error, sehingga perlu adanya
kurikulum pembelajaran IPE yang mampu melatih kemampuan mahasiswa dalam
sebuah kolaborasi interprofesi.
Berikut ini adalah karakter dalam komunikasi interprofesi kesehatan yang kami
temukan melalui serangkaian penelitian ilmiah bersama dengan profesi dokter, perawat,
apoteker dan gizi kesehatan dan telah mendapatkan validasi oleh pakar komunikasi dari
Indonesia maupun Eropa (Claramita, et.al, 2012):
1.

Mampu menghormati (Respect) tugas, peran dan tanggung jawab profesi kesehatan
lain, yang dilandasi kesadaran/sikap masing-masing pihak bahwa setiap profesi
kesehatan dibutuhkan untuk saling bekerjasama demi keselamatan pasien (Patientsafety) dan keselamatan petugas kesehatan (Provider-safety).

2.

Membina hubungan komunikasi dengan prinsip kesetaraan antar profesi kesehatan.

3.

Mampu untuk menjalin komunikasi dua arah yang efektif antar petugas kesehatan
yang berbeda profesi dalam

4.

Berinisiatif membahas kepentingan pasien bersama profesi kesehatan lain.

5.

Pembahasan mengenai masalah pasien dengan tujuan keselamatan pasien bisa

22

dilakukan antar individu ataupun antar kelompok profesi kesehatan yang berbeda.
6.

Mampu menjaga etika saat menjalin hubungan kerja dengan profesi kesehatan yang
lain.

7.

Mampu membicarakan dengan profesi kesehatan yang lain mengenai proses


pengobatan (termasuk alternatif/ tradisional)

8.

Informasi yang bersifat komplimenter/ saling melengkapi: kemampuan untuk


berbagi informasi yang appropriate dengan petugas kesehatan dari profesi yang
berbeda (baik tertulis di medical record, verbal maupun non-verbal).

9.

Paradigma saling membantu dan melengkapi tugas antar profesi kesehatan sesuai
dengan tugas, peran dan fungsi profesi masing-masing.

10. Negosiasi: Kemampuan untuk mencapai persetujuan bersama antar profesi


kesehatan mengenai masalah kesehatan pasien.
11. Kolaborasi: Kemampuan bekerja sama dengan petugas kesehatan dari profesi yang
lain dalam menyelesaikan masalah kesehatan pasien.
3.

Interprofessional Teamwork
a.

Definisi kerjasama interprofesi


Kerjasama merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara bersama untuk
mencapai suatu tujuan. Kerjasama interprofesi dapat diartikan sebagai suatu kolaborasi
yang terkoordinasi di antara berbagai profesi tenaga kesehatan dalam melaksanakan
pelayanan kesehatan kepada pasien untuk mengoptimalkan efektifitas kinerja, efisiensi
biaya dan meningkatkan kepuasan pasien. Praktik kerjasama interprofesi menekankan
tanggung jawab bersama dalam manajemen perawatan, dengan proses pembuatan
keputusan bilateral didasarkan pada masing-masing pendidikan dan kemampuan
praktisi.
Kemitraan tenaga kesehatan dalam kerjasama interprofesi dapat ditumbuhkan dari
hasil hubungan interpersonal yang baik. Kemitraan dapat diciptakan apabila kedua
profesi yang bermitra mampu memperlihatkan sikap saling mempercayai dan
menghargai, memahami dan menerima keberadaan disiplin ilmu masing-masing,
menunjukkan citra diri yang positif, masing-masing anggota profesi yang berbeda dapat
menunjukkan kematangan profesional yang sama yang timbul karena pendidikan dan

23

pengalaman, adanya keinginan dan kesadaran untuk berkomunikasi dan negosisasi


dalam menjalankan tugas yang interdependen dalam pencapaian tujuan bersama. Kedua
profesi memiliki kompetensi klinik dan kemampuan interpersonal, menilai dan
menghargai pengetahuan yang berbeda dan saling melengkapi.
b.

Kerjasama tim dalam proses kolaborasi


Proses kolaborasi memiliki ciri-ciri khas, di antaranya adalah kerjasama,
koordinasi,

saling

berbagi,

kompromi,

rekanan,

saling

ketergantungan

dan

kebersamaan. Menurut Kozier (1997) hal-hal yang dapat dilakukan dalam penerapan
kolaborasi adalah: a) Kebersamaan dalam perencanaan, pengambilan keputusan,
pemecahan masalah, tujuan dan pertanggungjawaban, b) Bekerjasama dalam
memberikan pelayanan, c) Melakukan koordinasi dalam pelayanan, d) Keterbukaan
dalam komunikasi. Menurut Siegler & Whitney (2000) proses kolaborasi harus
memenuhi 3 kriteria berikut ini: a) harus melibatkan tenaga ahli dengan bidang keahlian
yang berbeda, yang dapat bekerjasama timbal balik secara mulus, b) anggota kelompok
harus bersikap tegas dan mau bekerjasama, c) kelompok harus memberikan pelayanan
yang keunikannya dihasilkan dari kombinasi pandangan dan keahlian yang diberikan
oleh setiap anggota tim tersebut.
c.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kerjasama tim interprofesi


Menurut Weaver (2008), fungsi kerjasama tim yang efektif dipengaruhi oleh
faktor anteseden, proses dan hasil. Faktor-faktor tersebut merupakan sesuatu yang dapat
meningkatkan maupun menghambat proses kerjasama dalam tim seperti ditunjukkan
oleh kerangka berikut.
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kerjasama Interprofesi

Sumber: Weaver, T.E., 2008. Enhancing multiple disciplinary teamwork.

24

1) Anteseden (Antecedents)
a) Pertimbangan sosial dan intrapersonal(social and intrapersonal consideration).
Dasar pertimbangan sosial berawal dari kesadaran bahwa seseorang harus
membentuk suatu kelompok agar dapat bekerja secara efektif dan efisien. Sifat
manusia sebagai makhluk sosial yang saling memerlukan dapat menjadi dasar
terbentuknya sebuah tim. Pertimbangan intrapersonal juga merupakan
komponen penting dalam menciptakan kolaborasi yang baik. Anggota tim
harus memiliki tipe kepribadian yang baik dan sikap untuk bekerjasama yang
baik. Selain itu, kolaborasi yang efektif akan tercapai apabila masing-masing
anggota tim kesehatan merupakan pakar dalam profesinya masing-masing,
artinya anggota tim dari profesi yang satu harus seimbang dengan profesi yang
lain baik dari segi pengetahuan, keterampilan, maupun pengalaman yang
dimiliki agar dapat saling berdiskusi secara efektif.
b) Lingkungan fisik (physical environment)
Lingkungan kerja dan kedekatan di antara anggota tim dapat
memfasilitasi atau menghambat kolaborasi. Lingkungan kerja yang baik harus
dapat mendukung kemampuan anggota tim untuk mendiskusikan beberapa ide
maupun menyelesaikan masalah yang mungkin terjadi, sehingga dapat
meningkatkan ikatan dan diskusi penting yang mengarah pada pemahaman dari
perspektif yang berbeda dan dapat menyelesaikan masalah di dalam tim.
c) Faktor organisasional dan institusional (organizational and institutional factor)
Institusi dan kelembagaan sangat berperan dalam mengurangi hambatan
untuk kolaborasi lintas profesi. Kebijakan yang diterapkan oleh suatu institusi
ataupun kelembagaan kesehatan harus dapat mendorong terciptanya kerjasama
antar profesi kesehatan, kebijakan tersebut dapat berupa penerapan kurikulum
interprofessional education maupun penerapan standar pelayanan kesehatan
melalui kolaborasi interprofesi dalam memberikan pelayanan kesehatan di
rumah sakit.

25

2) Proses
a) Faktor perilaku
Perilaku bekerjasama antar profesi kesehatan merupakan kunci untuk
mengatasi hambatan dalam proses kolaborasi. Kesadaran untuk bekerjasama
dan saling membutuhkan harus ditanamkan pada setiap anggota tim agar tidak
ada arogansi maupun egoisme profesi. Perilaku bekerjasama juga bertujuan
untuk meredakan ketegangan di antara profesi yang berbeda, selain itu juga
untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi biaya perawatan pasien.
b) Faktor interpersonal
Interpersonal merupakan cara untuk berhubungan dengan orang lain,
dalam hal ini adalah profesi kesehatan yang lain. Dalam hubungan
interpersonal harus terdapat peran yang jelas. Setiap profesi harus mengetahui
peran profesi yang lain, sehingga mereka dapat berbagi peran sesuai dengan
kompetensi masing-masing profesi. Untuk membentuk hubungan interprofesi
yang baik sangat diperlukan adanya komunikasi interprofesi yang efektif.
Melalui komunikasi interprofesi, anggota tim dapat saling berbagi ide,
perspektif dan inovasi perawatan kesehatan sehingga kolaborasi dapat berjalan
dengan baik.
c) Faktor intelektual
Sebuah institusi pendidikan profesi kesehatan memegang peranan yang
sangat penting dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kolaborasi
interprofesi. Kolaborasi Interprofesi akan berjalan dengan baik apabila setiap
anggota tim mempunyai tingkat pengetahuan dan keterampilan yang setara.
3) Outcome and opportunity
Pengembangan kerjasama dan kolaborasi tim interdisiplin akan sangat
membantu dalam menciptakan ide-ide baru yang berhubungan dengan inovasi
pelayanan kesehatan. Kesadaran terhadap hambatan terbentuknya kerjasama yang
efektif harus ditekankan pada setiap anggota tim sehingga dapat tercipta model
integratis dalam sistem pelayanan kesehatan. Tuntutan

terhadap peningkatan

kualitas pelayanan kesehatan memberikan peluang bagi tenaga kesehatan untuk


menerapkan kolaborasi interprofesi dalam sistem pelayanan kesehatan.

26

c. Upaya meningkatkan kerjasama interprofesi


Kerjasama yang efektif oleh tenaga kesehatan dari berbagai profesi merupakan
kunci penting dalam meningkatkan efektifitas pelayanan kesehatan dan keselamatan
pasien (Burtscher, 2012). Fakta yang terjadi saat ini, bahwa sulit sekali untuk
menyatukan berbagai profesi kesehatan tersebut kedalam sebuah tim interprofesi. Hal
tersebut dikarenakan kurangnya kemampuan tenaga kesehatan untuk menjalin kerjasama
yang efektif seperti kurangnya keterampilan komunikasi interprofesi dan belum
tumbuhnya budaya diskusi bersama profesi lain dalam menentukan keputusan klinis
pasien. Untuk itulah diperlukan adanya kurikulum yang dapat melatih mahasiswa tenaga
kesehatan untuk berkolaborasi sejak masa akademik agar mereka terbiasa berkolaborasi
dengan profesi lain bahkan sampai ketika mereka berada didunia kerja (Reeves, 2011).
Sebuah rekomendasi dari WHO (2010) yang bertema Framework For Action On
Interprofessional

Education

&

Collaborative

Practice

menjelaskan

bahwa

interprofessional education (IPE) merupakan strategi pembelajaran inovatif yang


menekankan pada kerjasama dan kolaborasi interprofesi dalam melakukan proses
perawatan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan pasien. Lebih jauh WHO
(2010) menjelaskan bahwa kerjasama interprofesi merupakan kemampuan yang harus
selalu dipelajari dan dilatih melalui IPE. Kemampuan kerjasama interprofesi yang baik
dapat dilihat dari kemampuan mahasiswa untuk menjadi team leader dan mampu
mengatasi hambatan dalam kerjasama interprofesi.
d. Penerapan kerjasama interprofesi
Tim interprofesi dapat terdiri atas berbagai profesi kesehatan seperti konsultan,
dokter, perawat, dokter spesialis, dan fisioterapis dan tim ini dapat diterapkan pada
berbagai macam tatanan perawatan misalnya pada ruang operasi maupun pada perawatan
geriatri. Dalam penerapan kerjasama interprofesi, anggota tim interprofesi mungkin saja
mengalami konflik karena beragamnya latar belakang profesi. Oleh karena itu
dibutuhkan pemahaman tentang perawatan yang berfokus pada komunikasi dan sikap
yang mengacu pada keselamatan pasien yang merupakan prioritas utama. Selain itu
dibutuhkan kejelasan peran masing-masing profesi dalam menciptakan perawatan yang
optimal, yaitu meliputi peran mandiri tiap profesi dan peran tim interprofesi secara

27

keseluruhan. Penerapan kerjasama tin interprofesi pada beberapa tatanan perawatan


pasien dijelaskan sebagai berikut:
Salah satu metode yang dapat digunakan dalam meningkatkan efektifitas
kerjasama tim adalah Team Mental Models (TMM). TMM didefinisikan sebagai metode
anggota timnya yang dapat saling berbagi pengetahuan maupun pemahaman terkait
kompetensi kinerja klinis tenaga kesehatan. Menurut DeChurch dan Mesmer-Magnus
(2010), TMM telah terbukti memberikan efek yang signifikan terhadap proses kinerja
tim. Berdasarkan kompleksitas kasus pasien, Ruang Operasi (OK) menjadi salah satu
setting yang paling cocok untuk penerapan TMM.
Secara umum, konsep TMM mengacu pada pembagian pemahaman maupun
pengetahuan yang relevan antar anggota dalam mewujudkan kerjasama tim yang efektif.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Burtscher (2012) menyatakan bahwa melalui
TMM, tenaga kesehatan dapat berbagi pengetahuan, sikap, dan pemahaman terkait
peningkatan keselamatan pasien (patient safety). Anggota tim interdisiplin dapat saling
mengidentifikasi peran dan tanggungjawab masing-masing profesi serta dapat
menentukan solusi masalah kerjasama yang mungkin terjadi berdasarkan diskusi tim.
Dalam beberapa tahun terakhir, telah banyak ditemukan potensi masalah di klinis
maupun di masyarakat mengenai perawatan kesehatan pasien, khususnya pada lansia.
Oleh karena itu dibutuhkan kerjasama tim interdisiplin tenaga kesehatan dalam
mewujudkan perawatan geriatri yang optimal (Kagan, 2010). Sebuah tim interdisiplin
perlu meningkatkan dan mengimplementasikan pengetahuan maupun kompetensi asuhan
perawatan akut pada geriatri. Tidak seperti perawatan geriatri jangka panjang, perawatan
akut lebih menitikberatkan pada pemberian perawatan sesuai dengan kebutuhan pasien.
Tenaga kesehatan akan membentuk suatu tim kesehatan yang terdiri atas dokter,
psikiatri, maupun perawat klinis. Kerjasama tim interprofesi pada perawatan geriatri akut
dapat dilakukan misalnya dengan cara perawat dapat memberikan asuhan keperawatan
langsung kepada pasien, dokter berperan dalam perawatan medis, dokter bedah dapat
merencanakan medikasi dan tindakan operatif sesuai indikasi, sedangkan pekerja sosial
dapat mengkoordinasikan discharge planning pasien pada saat akan dipulangkan ke
rumah. Di sisi lain, fisioterapis dapat memberikan intervensi kritis kepada pasien untuk
mengembalikan fungsi tubuh yang hilang (Benedict, 2006).

28

Tantangan Hirarki Ilmu-Ilmu Kedokteran dan Kesehatan


Berikut ini adalah ilustrasi adanya hirarki dalam proses kerjasama antar profesi kesehatan. Kedua
ilustrasi ini merefleksikan kenyataan minimnya komunikasi antar profesi kesehatan
dalam upaya kerjasama interprofesi kesehatan (Claramita, et al. 2012). Harapan
kami, mahasiswa kedokteran dan tenaga kesehatan mampu belajar dari kedua
ilustrasi ini, sehingga ke depan akan melalukan kerjasama antar profesi yang jauh
lebih baik dari yang sudah diilustrasikan di dalam tulisan ini, demi upaya
menjunjung tinggi keselamatan pasien.

Jangan lupa bahwa Tenaga Kesehatan adalah juga seorang individu


yang

unik

yang

mempunyai

berbagai

macam

permasalahan hidup; yang juga adalah seorang pasien

Ilustrasi 1: Kerjasama dan Komunikasi antar profesi kesehatan di tahun awal pendidikan
Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan
Pada sebuah pelatihan Komunikasi Antar Profesi Kesehatan yang diberikan oleh kedua penulis,
bagi mahasiswa tahun pertama, sesaat ketika selesai Pekan Orientasi Fakultas dan Universitas di
tahun 2011 di UGM, sebanyak total 60 mahasiswa dari berbagai profesi kesehatan berpartisipasi.
Sepuluh orang diminta maju ke depan dan memainkan peran sesuai masing-masing profesi
kesehatan yang akan dipelajarinya. Skenarionya adalah bahwa mereka dalam pekan orientasi
yang lalu, ada salah satu dari rekan mahasiswa tiba-tiba pingsan kemudian mereka dipersilakan
merespon sesuai persepsi mereka tentang profesi kesehatan yang akan mereka pelajari.
Respon dari mahasiswa Keperawatan:
Secara otomatis, mengangkat mahasiswa yang pingsan, kemudian membawanya ke tempat yang
teduh, melonggarkan pakaiannya, berusaha mengajak bicara, dan mendampingi mahasiswa
tersebut sampai ia siuman dan mampu kembali lagi ke kelompoknya.

29

Respon dari mahasiswa Gizi Kesehatan:


Berusaha memberikan support kepada mahasiswa yang pingsan melalui usaha mengambilkan air
minum, menanyakan apakah sudah sarapan, berusaha memberikan semangkuk soto dan
menanyakan kebiasaan makan sehari-hari
Respon dari mahasiswa Kedokteran:
Berdiri dari tempatnya, memberikan instruksi bagi mahasiswa yang lain untuk mengambil ini
dan mengambil itu, dalam upayanya menolong mahasiswa yang pingsan. Berusaha menanyakan
ada masalah apa dan ketika mengetahui bahwa mahasiswa tersebut belum sarapan, segera
memberikan nasehat bahwa sarapan pagi itu sangat penting.
Catatan penulis;
Selama proses menolong mahasiswa yang pingsan tersebut terjadi, komunikasi yang terjalin
antar profesi kesehatan amat minimal, dan sebatas instruksi dari dokter, dan tidak sampai
kepada diskusi bersama.
Ilustrasi 2: Kerjasama antar profesi kesehatan di tahun akhir pendidikan kedokteran dan
ilmu-ilmu kesehatan
Sejumlah 90 mahasiswa tingkat sarjana di tahun terakhir, baik dari Kedokteran maupun
Keperawatan dan Gizi Kesehatan, mengikuti pelatihan Komunikasi Antar Profesi Kesehatan
yang diadakan oleh penulis kedua, di FK UGM tahun 2011. Permainan peran diikuti oleh
masing-masing profesi. Skenario yang dibawakan oleh pasien simulasi adalah: Kasus Diabetes
Melitus Tipe II datang dengan luka di kaki yang tidak sembuh. Kasus kedua adalah Diare Akut
Cair. Pasien simulasi adalah seorang pria dewasa.
Respon dari mahasiswa Keperawatan:
Secara serta-merta, mahasiswa menyambut pasien simulasi, menanyakan keluhannya, merespon
kesakitan pasien, melakukan pengukuran vital sign dan membawanya ke meja dokter. Ketika
pasien simulasi dalam proses anamnesis dan pemeriksaan dengan dokter, mahasiswa

30

Keperawatan selalu memperhatikan mimik muka pasien, dan berusaha merespon permintaan dari
pasien. Namun, meskipun mahasiswa Keperawatan mampu berkomunikasi dengan baik dengan
pasien simulasi, selama proses konsultasi ini, mahasiswa Keperawatan tidak pernah berbicara
dengan Dokter.
Respon dari Mahasiswa Gizi Kesehatan:
Mahasiswa Gizi Kesehatan terlihat menunggu giliran untuk mengekplorasi riwayat gizi penderita
dan memberikan penjelasan mengenai asupan gizi yang sesuai. Mahasiswa Gizi Kesehatan
terlihat ingin berkontribusi pada proses konsultasi, akan tetapi selalu tidak sempat dilakukan
karena baik eksplorasi riwayat gizi maupun edukasi gizi terlihat telah dilakukan mahasiswa
Kedokteran. Selama proses konsultasi ini, meskipun mahasiswa Gizi Kesehatan terlihat ingin
berpartisipasi dalam berkomunikasi dengan pasien, ia tidak mengutarakannya pada Dokter.
Respon dari Mahasiswa Kedokteran:
Sebagai calon Dokter, mahasiswa Kedokteran terlihat melakukan profesinya dengan amat detil,
menanyakan seluruh riwayat penyakit, melakukan pemeriksaan yang dipdandang perlu, dan
memberikan edukasi selengkap mungkin. Selama proses konsultasi ini, mahasiswa Kedokteran
hampir tidak pernah meminta pendapat mahasiswa Keperawatan maupun mahasiswa Gizi
Kesehatan. Fokus perhatiannya adalah berkomunikasi dengan pasien.
Pedoman untuk refleksi dan didiskusikan bersama Dosen Pembimbing Lapangan/ Dosen
Pembimbing Kelompok Community and Family Attachment Interprofessional Education:
1. Apakah yang sudah baik dilakukan oleh para mahasiswa dari berbagai profesi kesehatan di
atas? Tulis minimal 2 jawaban untuk masing-masing profesi
2. Apakah yang masih harus diperbaiki, dipelajari, dalam berkomunikasi antar profesi
kesehatan, dalam upaya memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik bagi individu,
keluarga dan masyarakat? Tulis minimal 10 jawaban
3. Kapankah

seharusnya

berbagai

profesi

kesehatan

tersebut

saling

berinisiatif

mengkomunikasikan kepentingan pasien, satu sama lain, demi keselamatan pasien? Jawab
dalam dua kalimat pendek.

31

4. Bagaimana kira-kira ilustrasi kerjasama dan komunikasi antar profesi kesehatan (yang kita
harapkan) setelah masing-masing profesi melakukan praktek professional selama lebih dari
5 tahun, di seting Layanan Primer maupun di Rumah Sakit? Jawab dalam 2 kalmiat pendek.
5. Apa yang sebaiknya dilakukan dalam upaya meminimalisir hirarki yang ada diantara
petugas

kesehatan

dan

mengubahnya

menjadi

paradigma

Saling Menghormati,

Berkolaborasi dan Saling Melengkapi ?

32

DAFTAR PUSTAKA
Barnsteiner, J.H., Disch, J.M., 2007. Promoting interprofessional education. Nursing outlook, 55
(3), pp.144-50. Available at: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17524802 [Accessed
September 5, 2011].
Benedict, L., Robinson, K., Holder, C., 2006. Clinical Nurse Specialist Practice Within The
Acute Care For Elders: Interdisciplinary Team Model. Clin Nurse Specialist.
Berridge, E.-J., Mackintosh, N.J. & Freeth, D.S., 2010. Supporting patient safety: examining
communication within delivery suite teams through contrasting approaches to research
observation. Midwifery, 26(5), pp.512-9. Available at:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20696506 [Accessed March 8, 2012].
Burtscher, M.J. & Manser, T., 2012. Team mental models and their potential to improve
teamwork and safety: A review and implications for future research in healthcare. Safety
Science, 50(5), pp.1344-1354. Available at:
http://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S0925753511003523 [Accessed April 6, 2012].
Claramita M, Sedyowinarso M, Huriyati E, Wahyuningsih MS. 2012. Interprofessional
Communication Guideline using principle of Greet-Invite-Discuss
CIHC. 2007. Interprofessional Education and Core Competencies, Literature Review. Canada.
DeChurch, L.A., Mesmer-Magnus, J.R., 2010. The cognitive underpinnings of effectiveteamwork: a
meta-analysis. Journal of Applied Psychology 95 (1), 3253.

Fox, E., 2000. An audit of inter-professional communication within a trauma and orthopaedic
directorate. Journal of Advanced Nursing, pp.160-169.
Hall, P., Weaver, L., 2001. Interdisiplinary Education and Teamwork: a Long and Winding Road.
Medical Eduction, 35 : 867-875, Blackwell Science Ltd.

Kagan, S.H., 2010. Revisiting interdisciplinary teamwork in geriatric acute care. Geriatric
nursing (New York, N.Y.), 31(2), pp.133-6. Available at:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20381716 [Accessed April 6, 2012].
Lauder, W., Roxburgh, M., Atkinson, J., Banks, P., & Kane, H., 2011. The quality of on-line
communication in a national learning programme for newly qualified nurses, midwives
and allied health professionals. Nurse education in practice, 11(3), pp.206-10. Available
at: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20951646 [Accessed March 25, 2012].

33

Mitchell, A. M., Fioravanti, M., Founds, S., Hoffmann, R. L., & Libman, R., 2010. Using
Simulation to Bridge Communication and Cultural Barriers in Health Care Encounters:
Report of an International Workshop. Clinical Simulation in Nursing, 6(5), p.e193-e198.
Available at: http://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S1876139909005477 [Accessed
March 25, 2012].
Mitchell, M., Groves, M., Mitchell, C., & Batkin, J., 2010. Innovation in learning An interprofessional approach to improving communication. Nurse education in practice, 10(6),
pp.379-84. Available at: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20561823 [Accessed
March 25, 2012].
Reeves, S., Lewin, S., Espin, S., Zwarenstein, M., & Ed, H. B., 2011. Interprofessional
Teamwork for Health and Social Care. , pp.32-33.
Remington, T.L., Foulk, M. A & Williams, B.C., 2006. Evaluation of evidence for
interprofessional education. American journal of pharmaceutical education, 70(3), p.66.
Available at:
http://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?artid=1636959&tool=pmcentrez&renderty
pe=abstract.
Smith, a R. & Christie, C., 2004. Facilitating transdisciplinary teamwork in dietetics education: a
case study approach. Journal of the American Dietetic Association, 104(6), pp.959-62.
Available at: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15175595 [Accessed April 6, 2012].
Wagner, J., Liston, B. & Miller, J., 2011. Developing interprofessional communication skills.
Teaching

and

Learning

in

Nursing,

6(3),

pp.97-101.

Available

at:

http://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S1557308710001149 [Accessed March 25,


2012].
Weaver, T.E., 2008. Enhancing multiple disciplinary teamwork. Nursing outlook, 56(3), pp.108114.e2. Available at: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18501748 [Accessed April 6,
2012].
World Health Organisation., 2010. Framework for Action on Interprofessional Education &
Collaborative Practice.
Zwarenstein, M., Reeves, S., Russell, A., Kenaszchuk, C., Conn, L.G., Miller, K.L., Lingard, L.,
Thorpe, K.E., 2007. Structuring Communication Relationships for Interprofessional

34

Teamwork (SCRIPT): a cluster randomized controlled trial. Journal of Nursing


Education, 8, p.23. Available at:
http://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?artid=2045094&tool=pmcentrez&renderty
pe=abstract [Accessed August 15, 2011].

35

BAB III
NEED-WANT-DEMAND
dr.Wahyudi Istiono, M.Kes
Kontributor: dr.Fransisca Kurnia Chandra dan dr.Fitriana
Wants
Wants adalah keinginan seseorang untuk menjadi lebih baik, lebih sehat dalam hidupnya.
Keinginanan tersebut berdasarkan evaluasi diri terhadap status kesehatannya. Dapat dimaklumi
bahwa sehat adalah modal pokok perseorangan maupun keluarga dalam aktivitas sehari hari.
Keputusan mengenai keinginan ini umumnya lebih pada subjektif individu bersangkutan. Posisi
individu lebih bebas atau tidak terpaksa. Dimungkinkan bahwa hal-hal yang diinginkan belum
tentu dilaksanakan.
Demands
Demands yang dimaksud adalah permintaaan untuk lebih sehat yang diwujudkan dalam
perilaku mencari pertolongan tenaga kedokteran ( demand for health). Biasanya permintaan ini
sudah merupakan keputusan untuk bertindak lebih jauh yang diwujudkan dengan perilaku upaya
mencari pertolongan pihak lain. Sebagai konsekuensi logis bagi yang dimintai penyelenggaraan
pertolongan tenaga kedokteran, diperlukan persiapan kebutuhan pelayanan kedokteran (demands
for health care). Pada tahap ini upaya pelayanan kesehatan dapat direncanakan berdasarkan
jenis jenis permintaan tersebut.
Needs
Dengan mempertimbangkan jumlah penduduk dalam populasi yang tersebar dan karekteristik
gografis berbeda-beda, maka untuk menjawab kebutuhan pelayanan kedokteran

diperlukan

sistem pelayanan kesehatan yang terjangkau, bermutu (kendali mutu) dan efisien (kendali
biaya). Sistem pelayanan yang dipilih adalah sistim pelayanan berjenjang mulai dari fasilitas
pelayanan kesehatan primer, sekunder dan tersier.

36

Faktor yang mempengaruhi kebutuhan pelayanan kesehatan


Banyak faktor berpengaruh secara kompleks dalam perencanaan penyedianan kebutuhan
pelayanan kedokteran, antara lain, evaluasi diri pasien, kebutuhan fisiologis, demografis,
epidemiologi, jumlah tenaga kedokteran, pembiayaan dan tingkat ekonomi, inflasi, kebijakan dan
teknologi kesehatan. Dua hal penting yang mendasari perecanaan kebutuhan kesehatan adalah
konsep prevensi dalam perjalanan alamiah penyakit dan rasio kebutuhan pasien terhadap jenjang
pelayanan pada populasi terpapar.
Determinan ketersediaan layanan kesehatan ditentukan oleh man, money, material, method,
machine, market, time dan teknologi informasi yang tersedia. Banyak variasi penggunaan
maupun penyelenggaraan pelayanan kesehatan namun determinan tersebut di atas banyak
dipakai dalam analisis kebutuhan pelayanan kesehatan yang diperlukan.

Gambar 1.

Gambar 2. Pelayanan kesehatan dalam satu bulan di US

37

Gambar 3.

38

BAB IV
PERJALANAN ALAMIAH PENYAKIT
dr.Ova Emilia,M.Med.Ed.,PhD,SpOG(K) dan dr.Rossi Sanusi, PhD
Peran profesi kesehatan dalam upaya pencegahan penyakit memerlukan pemahaman konsep
perjalanan alamiah penyakit, distribusi populasi dan cara mendeteksi kasus secara awal.
Metafora iceberg of disease mungkin merupakan perumpamaan yang tepat untuk
menggambarkan kasus yang datang ke klinisi. Di lapangan, sesungguhnya lebih banyak lagi
orang yang masih dalam fase preklinik. Juga perlu disadari bahwa pasien yang dijumpai di
rumahsakit oleh petugas kesehatan hanyalah sebagian kecil dari kasus yang ada. Sehingga secara
tidak langsung menunjukkan bahwa profesi kesehatan terutama yang nantinya bekerja di tingkat
layanan primer akan kurang mendapatkan gambaran kasus yang riil di masyarakat.

Kasus yang dijumpai oleh klinisi hanya sebagian


kecil saja.

Keluhan minor, atau kesakitan yang ringan mungkin


saja akan menimbulkan penyakit yang lebih serius.

Gambar 1.

39

Gambar 2.

Gambar 3.

40

Pemahaman tentang perjalanan alamiah penyakit akan membuat petugas kesehatan


mengantisipasi prognosis serta mengidentifikasi kegiatan pencegahan dan pengendalian.
Idealnya pencegahan dilakukan sebelum orang terkena suatu penyakit, sehingga program
pencegahan diberikan pada orang sehat di dalam suatu populasi. Untuk merancang program
demikian maka perlu pemahaman distribusi kondisi di populasi dan cara mengantisipasi kasus
selanjutnya.
Tahap-tahap Pencegahan
Pencegahan penyakit dapat diaplikasikan pada tahap sepanjang perjalanan alamiah penyakit
dengan tujuan mencegah berkembangnya penyakit menjadi lebih berat. Pada penjelasan ini
kegiatan pencegahan dibagi menjadi 4 tahap walaupun sesungguhnya di lapangan batas ini tidak
terlalu tegas.
Tahap pencegahan primordial mencakup kegiatan untuk mengurangi risiko kesehatan ke
depan selain juga mencegah faktor-faktor yang memungkinkan (lingkungan, faktor ekonomi,
faktor sosial, perilaku dan budaya) meningkatnya risiko penyakit. Tahap ini lebih menekankan
pada determinan kesehatan yang lebih luas dari percegahan paparan sisiko personal, misalnya
melarang pemakaian alkohol di beberapa negara merupakan pencegahan primordial, sedangkan
kampanye anti alkohol merupakan contoh pencegahan primer. Contoh lain misalnya
memperbaiki sanitasi (sehingga paparan agen penyebab infeksi tidak akan terjadi), membangun
masyarakat sehat, mempromosikan gaya hidup sehat pada anak (misalnya melalu program nutrisi
pranatal dan program dukungan pada balita) atau mengembangkan ke arah energi hijau.
Tahap pencegahan primer adalah mencegah onset penyakit tertentu melalui penurunan risiko:
misalnya dengan mengubah perilaku atau paparan yang dapat mengakibatkan ke suatu penyakit,
atau dengan meningkatkan dayatahan terhadap efek paparan agen penyakit. Contohnya adalah
berhenti merokok dan vaksinasi. Pencegahan primer menurunkan insidensi penyakit dengan
mengendalikan faktor risiko penyakit atau meningkatkan daya tahan. Beberapa program
melibatkan juga partisipasi aktif, seperti gosok gigi teratur untuk mencegah karies gigi. Program
yang lain bisa juga bersifat pasif misalnya menambahkan fluoride pada air minum penduduk
untuk mengatkan enamel gigi dan mencegah karies. Pencegahan primer ditujukan pada penyebab
spesifik dan faktor risiko spesifik penyakit, tetapi juga ditujukan untuk mempromosikan perilaku
sehat, memperbaiki daya tahan tubuh dan praktek lingkungan aman sehingga menurunkan risiko
penyakit. Konsep pencegahan ini juga dikaji dalam kajian model agen-host-lingkungan.

41

Manajemen penyakit akan efektif bila manajemen masalah klinik baik, faktor risiko pasien
diketahui dan juga determinan yang berkaitan dapat diidentifikasi. Misalnya seorang pasien
dengan keluhan nyeri dada memerlukan terapi segera: terhadap nyeri dan risiko komplikasinya,
kemudikan faktor risiko: merokok dan kurang olahraga, dan determinannya: kemiskinan,
lingkungan, norma sosial. (lihat gambar di bawah)

Gambar 4: The Epidemiological Triad of agent, host, and environmental factor

Tahap pencegahan sekunder mencakup prosedur deteksi dan terapi proses patologik praklinik
sehingga mengendalikan berkembangnya penyakit. Prosedur skrining seperti mamografi
seringkali merupakan langkah awal untuk intervensi dini yang cost effective dibanding invensi
bila gejalanya sudah muncul. Pemeriksaan glukosa darah rutin pada orang usia lebih 40 tahun
merupakan contoh untuk mendeteksi awal diabetes. Skrining bisa dilakukan oleh petugas
kesehatan pada praktek sehari-hari atau melalui suatu program skrining yang dilakukan.
Bila suatu penyakit terlah terjadi dan sudah melalui fase klinik akut, maka dilakukan
pencegahan tersier untuk mengurangi dampak yang disebabkan oleh penyakit terhadap fungsi
tubuh pasien, usia dan kualitas hidupnya. Contohnya rehabilitasi kardiak pasca infark myokard,
mengubah perilaku untuk mengurangi kemungkinan infark ulang. Pencegahan tersier dapat

42

berupa modifikasi faktor risiko seperti mendorong pasien jantung untuk menurunkan berat
badan, atau modifikasi lingkungan untuk menurunkan paparan alergen pasien asma. Bila
penyakit tidak bisa sembuh sempurna maka pencegahan tersier fokus pada rehabilitasi,
membantu pasien mengatasi keterbatasannya/hendayanya.
Contoh pencegahan primer, sekunder dan tersier dengan target pada individu dan
populasi
Penyakit
Kanker
Colorectal

Target

Primer

Individu Konseling gaya hidup:

Sekunder

Tersier

Tes darah tinja

Pemeriksaan follow-up

konseling diet pada yang

untuk deteksi

unt identifikasi rekurensi

berisiko dll

awal kanker

atau metastase:

kolorektal

pemeriksaan fisik, tes


enzim hepar, x-rays
dada, dll.

Populasi Kampanya ubah gaya


hidup unt mencegah

Program skrining

Implementasi model

kolonoskopi

pelayanan kesehatan

kanker colorectal;

yang meningkatkan

promosi diet tinggi serat;

akses pada pelayanan

subsidi unt akses program

berkualitas

OR; kampanye anti rokok


Penyakit

Individu Konseling ttg pemakaian


Skrining untuk infeksi HCV

infeksi:

obat yg aman untuk

hepatitis C

mencegah penularan virus dengan riwayat


hepatitis C (HCV);

bagi pasien

Terapi HCV untuk


mengobati infeksi dan
mencegah transmisi

pemakaian injeksi

konseling ttg seks aman


Populasi Pencegahan HCV
Melakukan sistem tes
meliputi perilaku seks

universal untuk

(Mirip pencegahan
primer): pengendalian

aman, program mencegah kelompok risiko

letak risiko tinggi seperti

berbagi jarum suntik, dll

salon tattoo yang

HCV

43

dikaitkan dengan
kejadian luar biasa
Sindrom
Metabolik

Individu Konseling nutrisiSkrining


dan
diabetes
olahraga

Rujukan klinik
rehabilitasi kardiak

Populasi Menciptakan lingkungan


Program turun berat badan
untuk transport aktif

dan olahraga

(jalan, sepeda bukan naik

untuk

mobil)

mengendalikan

Implementasi klinik
multidisiplin

sindrom
metabolik
Implementing prevention, health protection and health promotion
Program pencegahan dapat dilakukan oleh berbagai pihak termasuk juga klinisi dalam praktek
seperti dokter, perawat, dan bidan. Program pencegahan yang ideal sebaiknya melibatkan
berbagai pihak, sehingga menghindari tumpang tindih program ataupun adanya kesenjangan
yang justru tidak digarap oleh semua pihak. Selain itu sebuah program haruslah
mempertimbangkan situasi lokal karena satu pendekatan belum tentu cocok untuk semuanya.
Istilah proteksi kesehatan adalah kegiatan kesehatan masyarakat yang ditujukan untuk
menghilangkan pengaruh negatif, sehingga bisa mencakup pencegahan primordial dan primer.
Beberapa contoh upaya adalah menyediakan sulpai air bersih dan makanan aman, memberikan
pertimbangan pada badan POM, melingdungi dari ancaman lingkungan dan juga program
pengendalian penyakit infeksi. Contoh lain adalah penanganan makanan di restoran dan aturan
pengendalian rokok. Jadi jelas bahwa proteksi kesehatan adalah mengurangi pengaruh
lingkungan terhadap kesehatan penduduk baik faktor biologis, kemikalia atau fisik yang dapat
menyebabkan epidemi bila tidak dikendalikan. Program proteksi kesehatan juga bervariasi antar
daerah, karena ancaman yang ada juga bervariasi
Konsep lain yang berkaitan adalah promosi kesehatan yang lebih ditujukan untuk meningkatkan
kesehatan melalui kebijakan publik, lingkungan sehat dan ketahanan personal.

44

"Health promotion includes strengthening the skills of individuals to encourage healthy


behaviours, and it also includes building the healthy social and physical environments to support
these behaviours. It involves any combination of health education and related organizational,
economic, and political interventions designed to facilitate behavioural and environmental
changes conducive to health."
Program promosi kesehatan bisa berupa intervensi spesifik seperti berhenti merokok tetapi
intervensi ini merupakan bagian dari program yang lebih besar seperti perubahan lingkungan dan
gaya hidup yang mendukung tanpa rokok. Tujuan umum program adalah untuk membuat orang
merasa bertanggungjawab terhadap kesehatannya sendiri. Rasa tanggungjawab ini penting dan
dirasakan tergerus akhir-akhir ini. Bahkan sebagian berpendapat bahwa menjadi sehat adalah
tanggungjawab negara. Mengingat perilaku sehat sulit berubah bila faktor lingkungan tidak
mendukung, maka promosi kesehatan menggunakan pendekatan ekologis dan memfokuskan
pada keterlibatan komunitas dan perubahan lingkungan untuk mengubah perilaku individu.
DAFTAR PUSTAKA
Beaglehole ,R., Bonita, R., Kjellstrm, T., 1993. Basic epidemiology. WHO: Geneva,
Switzerland.
Bhopal.R., 2002. Concepts of epidemiology. Oxford: Oxford University Press.
Green.L., 1979. National policy on the Promotion of Health. Int J Health Educ;22:161-168.
Porta.M., 2008. Dictionary of epidemiology. New York: Oxford University Press.
Starfield B, et al,. 2008. The concept of prevention: a good idea gone astray? J Epidemiol
Community Health;62:580-583.

45

BAB V
UPAYA PROMOSI DAN PREVENSI KESEHATAN
Dra. Yayi Suryo Prabandari, MSi, PhD dan dr. Fatwa Sari Tetra Dewi, MPH, PhD
Pendahuluan
Memasuki abad ke dua puluh satu, Indonesia masih mempunyai masalah kesehatan yang
beragam. Mulai dari penyakit infeksi yang sampai saat ini masih juga tinggi angka kejadiannya
sampai pada penyakit-penyakit yang sebetulnya bisa dicegah atau ditunda. Selaras dengan
bergesernya pola penyakit, dari penyakit infeksi ke penyakit degeneratif, penyakit di Indonesia
pun mengikuti pola tersebut, meski penyakit infeksi masih juga menjadi masalah.
Berdasarkan literatur dan hasil penelitian, penyakit degeneratif sebetulnya bisa dicegah,
atau paling tidak ditunda kejadiannya. Telah dibuktikan dalam penelitian bahwa dengan
mengubah gaya hidup, beberapa kejadian penyakit ternyata dapat dicegah. Gaya hidup manusia
berkaitan erat dengan perilaku. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa berubahnya atau
bergesernya pola penyakit ditengarai karena berubahnya gaya hidup manusia. Selain itu, bila
kita melihat lebih ke dalam, munculnya beberapa penyakit infeksi dapat disebabkan lingkungan
ataupun hygiene perorangan yang kurang, yang sebetulnya juga berkaitan erat dengan perilaku
manusia.
Meskipun perilaku manusia hanya merupakan salah satu penyebab tidak sehat atau sakit,
namun dengan melihat kemunculan penyakit-penyakit yang sebetulnya bisa dicegah melalui
perubahan perilaku, maka masalah perilaku ini perlu mendapatkan perhatian. Selanjutnya, oleh
karena perilaku ini merupakan titik paling awal dalam kejadian penyakit, maka pencegahan
ataupun yang lebih awal lagi, yaitu kegiatan promosi kesehatan akan sangat berkaitan dengan
masalah perilaku.
Tulisan singkat ini akan didahului dengan kupasan tentang perjalanan alamiah penyakit
dan determinan kesehatan. Selanjutnya, di dalam tulisan ini akan dipaparkan peran perilaku di
dalam kesehatan. Pengertian tentang promosi kesehatan yang berkaitan erat dengan perilaku dan
perubahannya akan melengkapi pula tulisan ini. Pada bagian akhir, akan dipaparkan mengenai
kriteria dan setting promosi kesehatan.

46

Perjalanan Alamiah Penyakit


Perjalanan alamiah penyakit telah dijelaskan dalam Bab sebelumnya di Buku Acuan
Umum ini. Dalam perjalanan alamiah penyakit, terdapat tahapan perkembangan penyakit yang
diderita oleh seseorang mulai dari sehat hingga sembuh, mengalami kecacatan atau meninggal
dunia.
Di setiap tahapan tersebut, berbagai upaya dilakukan untuk memperbaiki status kesehatan
seseorang. Apabila diurutkan sesuai dengan perjalanan alamiah penyakit maka upaya perbaikan
kesehatan tersebut digolongkan menjadi upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.
Perjalanan alamiah penyakit dan upaya perbaikan kesehatan
Sehat
Promotif dan Preventif
Disease or injury
Kuratif
Impairment
Rehabilitatif
Disability
Rehabilitatif
Dependency
Determinan Kesehatan
Definisi WHO (cit. Morton, Greene, & Gottlieb, 1995) tentang arti sehat adalah sebagai berikut:
Health is a state of complete physical, mental and social well-being and not merely the
absence of disease or infirmity
Meskipun definisi WHO tersebut sudah dikenalkan sejak 55 tahun yang lalu atau tepatnya pada
tahun 1947, namun definisi tersebut masih berlaku hingga saat ini. Sehat berarti keadaan sehat
secara fisik, mental dan sosial, dan tidak hanya ketiadaan suatu penyakit. Selanjutnya, berdasar

47

definisi tersebut, maka penentuan status kesehatan tidak hanya dengan angka kematian
(mortalitas) dan angka kesakitan (morbiditas) saja, tetapi dengan melihat pada angka kualitas
hidup. Berikut ini adalah pergeseran pengukuran kesehatan dari yang tradisional ke yang
inovatif.
Tabel 1. Pengukuran Kesehatan Tradisional dan Inovatif
Tradisional

Inovatif

o Mortalitas

o Tahun hidup sehat (Years of Healthy

o Morbiditas

Life)

o Pengukuran kecacatan

o Quality Adjusted Life Years

o Angka harapan hidup

o Self-assessment of Health
o Health Risk Apprasial

Sementara itu Blum (cit. Morton, Greene & Gottlieb, 1995) menyebutkan bahwa kesehatan
manusia ditentukan oleh empat hal yang utama, yaitu :
o Genetik/biologi
Beberapa kejadian kesehatan dapat disebabkan atau dominasi dari keadaan biologis atau
unsure genetik
o Pelayanan kesehatan
Tersedianya pelayanan kesehatan beserta kuantitas serta kualitasnya turut serta
mempunyai distribusi terhadap keadaan kesehatan.
o Lingkungan
Lingkungan yang dimaksud di sini adalah lingkungan sosial (kebijaksanaan, hukum dan
adanya organisasi

sosial baik pemerintah maupun swasta) dan fisik (kelembaban,

temperatur, kebisingan, polusi dsb.) juga turut menyumbang keadaan sehat atau sakit
o Perilaku
Pilihan gaya hidup yang dipengaruhi oleh perilaku, seperti misalnya pengaturan pola
makan, olah raga, istirahat, kebiasaan-kebiasaan lainnya diteliti mempunyai hubungan
yang erat dengan keadaan kesehatan.

48

Terdapat beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan, seperti:


a.

Pendapatan dan status sosial


Pendapatan yang tinggi dan status sosial berhubungan dengan kesehatan yang lebih
baik. Semakin jauh jarak antara orang kaya dengan orang miskin, semakin jauh
tingkat kesehatannya.

b.

Pendidikan
Level pendidikan yang rendah berhubungan dengan kesehatan yang buruk, stres yang
meningkat, dan tingkat kepercayaan diri yang rendah.

c.

Lingkungan fisik
Air bersih, udara bersih, tempat kerja yang sehat, rumah yang aman, komunitas dan
jalan berkontribusi terhadap kesehatan yang baik. Pekerja yang sehat memiliki
kontrol yang pada pekerjaannya.

d.

Jaringan sosial
Dukungan dari keluarga, teman, dan komunitas berhubungan dengan kesehatan yang
baik. Kultur, tradisi, dan kepercayaan dari keluarga dan komunitas utrut memberikan
dampak pada kesehatan.

e.

Genetik
Genetik berperan dalam kejadian sakit, walaupun perilaku dan kemampuan
menghadapi masalah juga mengambil peran dalam kejadian sakit.

f.

Pelayanan kesehatan
Akses dan penggunaan pelayanan kesehatan untuk mencegah dan mengobati
penyakit mempengaruhi kesehatan

g.

Jenis kelamin
Laki-laki dan wanita dapat terkena jenis penyakit yang berbeda dan pada usia yang
berbeda.

Peran Perilaku dalam Kesehatan


Dalam tulisan Tolsma dan Koplan (dalam Donaldson, 1993) disebutkan bahwa merokok,
pengaturan pola makan (diet) dan konsumsi alcohol mempunyai berkontribusi sebesar 24% pada
kematian, 21% life years lost sebelum umur 65 tahun, 21% hospital days dan 16% biaya
kesehatan langsung. Selanjutnya juga disebutkan bahwa dua pertiga kematian di USA

49

berhubungan dengan enam penyebab yang dapat dicegah, yaitu tembakau atau merokok,
konsumsi alcohol, resiko kecelakaan, tingginya tekanan darah, nutrisi yang berlebihan, dan gaps
pada prevensi primer. Merokok disebutkan sebagai penyebab yang terkuat dari kematian, jumlah
tahun hilang (life years lost) dan hari-hari rawat inap (hospital days). Empat penyebab yang
berhubungan erat dengan perilaku kesehatan personal yaitu pemakaian tembakau, tingginya
tekanan darah, nutrisi yang berlebihan dan konsumsi alcohol menyumbangkan kurang lebih 1
juta kematian yang dapat dicegah, 4 juta jumlah kehilangan tahun yang potensial dan 45.5 juta
hari rawat inap.
Dengan melihat eratnya hubungan perilaku dengan keadaan kesehatan, maka tujuan
promosi kesehatan, terutama di negara berkembang adalah untuk meningkatkan kualitas hidup,
menekan kesakitan dan meluaskan harapan hidup aktif. Penekanan kematian juga merupakan
tujuan, meskipun bukan prioritas.
Untuk memperjelas gambaran hubungan antara penyakit yang menyebabkan kematian,
faktor resiko perilaku dan faktor penentu perilakunya, pada tabel 2 akan dipaparkan beberapa
penyakit penyebab kematian yang faktor resikonya adalah perilaku.
Tabel 2. Penyakit Penyebab Kematian, Faktor Resiko dan Penentu Perilaku
Penyebab kematian

Faktor resiko

Penentu perilaku/faktor
resiko fisiologis

Penyakit jantung

Merokok,

Aktivitas

Kolesterol tinggi,

fisik, Diet tinggi lemak


Diet tinggi kalori

Obesitas

Malignant neoplasm

Hipertensi

Diet tinggigaram

DM

Diet tinggi kalori

Merokok
Diet tinggi lemak
Diet rendah serat
Aktivitas fisik
PMS

Perilaku seksual

50

Penyakit serebrovaskuler

Hipertensi

Diet tinggi garam

Aterosklerosis

Diet tinggi lemak

Merokok
Penyakit paru obstruktif kronis

Merokok

Kecelakaan

Alkohol
Menyetir ugal2an
Tak gnk seat belt
Penggunaan obat

Pneumonia & influenza

Penggunaan obat
Status imunisasi

Kegagalan imunisasi

Malnutrisi
Diet
DM

Aktivitas fisik
obesitas

Bunuh diri

Diet tinggi kalori

Alkohol
Penggunaan senjata
Penggunaan obat

HIV

Perilaku seksual
Penggunaan obat

Pembunuhan &

Alkohol

Pelanggaran hukum

Penggunaan senjata
Penggunaan obat

Promosi Kesehatan
Promosi kesehatan merupakan kombinasi proses perubahan yang ditujukan pada
pendidikan, organisasi, ekonomi dan lingkungan yang mendukung kesehatan (Grenn & Johnson,
cit. Morton, Greene, & Gottlieb, 1995). Selanjutnya Dwore & Kreuter (cit. Morton, Greene, &
Gottlieb, 1995) menyebutkan bahwa promosi kesehatan adalah proses advokasi kesehatan yang
dilaksanakan untuk meningkatan kemungkinan personal (individu, keluarga & masyarakat),

51

swasta (profesional dan bisnis) serta pemerintah (nasional, propinsi, lokal) untuk mendukung
praktek kesehatan positif menjadi norma sosial.
Joint Committee of Public Health (cit. Morton, Greene, & Gottlieb, 1995) mendefinisikan
promosi kesehatan lebih spesifik, yaitu promosi kesehatan dan prevensi penyakit adalah
sejumlah kegiatan yang bertujuan dan dirancang untuk meningkatkan kesehatan personal dan
masyarakat melalui kombinasi strategi, termasuk implementasi perubahan perilaku, pendidikan
kesehatan, pengukuran proteksi kesehatan, deteksi resiko kesehatan, serta peningkatan dan
pemeliharaan kesehatan. WHO mendefinisikan promosi kesehatan sebagai berikut:
Health promotion is the process of enabling people to increase control over and improve, their
health
(promosi kesehatan merupakan proses untuk mendorong orang meningkatkan kontrol dan
mengembangkan kesehatannya). Dari definisi tersebut fungsi promosi kesehatan sendiri adalah
untuk memberikan advokasi untuk sehat, mendorong dan membuat orang untuk mencapai
kesehatan yang potensial dan menjadi penengah

minat masyarakat terhadap pencarian

kesehatan.
Berbagai konsep untuk memahami bagaimana seseorang berperilaku telah banyak dipelajari.
Konsep-konsep tersebut sebagai dasar pemikiran mengidentifikasi berbagai faktor yang
mempengaruhi seseorang berperilaku, juga sebagai dasar untuk memperdiksi bagaimana
seseorang akan berperilaku. Salah satu model yang menggambarkan hubungan konsep-konsep
perilaku yang banyak dipakai di bidang promosi kesehatan adalah health belief model (gambar
2). Health Belief Model (HBM), dikembangkan untuk menjelaskan mengapa seseorang
cenderung melakukan atau tidak melakukan tindakan pencegahan penyakit. Misalnya
kecenderungan seseorang untuk mevaksin atau tidak memvaksin BCG anaknya. Kecenderungan
melakukan tindakan pencegahan dipengaruhi oleh tiga variable utama yakni likelihood of action,
modifying factors dan individual perception. Individual perception terdiri dari persepsi
kerentanan terhadap penyakit dan persepsi bahaya penyakit. Semakin rentan seseorang untuk
sakit dan semakin berbahaya suatu penyakit menurut persepsi seseorang maka semakin tinggi
ancaman penyakit. Persepsi ancaman penyakit ini dipengaruhi juga oleh faktor-faktor
pemodifikasi yakni faktor demografis dan sosio-psikologis, variable structural serta faktor
pendorong tindakan. Faktor pemodifikasi mempengaruhi persepsi seseorang terhadap manfaat

52

dan hambatan melakukan tindakan pencegahan, yang akan mempengaruhi kemungkinan


seseorang melakukan tindakan pencegahan

Health behaviour & Health belief


model
Individual
Perception

Persepsi
Kerentanan
thd penyakit
Persepsi
bahaya penyakit

Health Belief
Model

Modifying
factors
Demografik
Sosio-psikologis
Variabel struktural
(pengetahuan penyakit
,penularan penyakit)

Persepsi ancaman
penyakit

Likelihood
of action
Persepsi manfaat
pencegahan
Persepsi hambatan
pencegaha

Keinginan melakukan/
tak melakukan preventif

Pendorong tindakan:
Promosi media massa
Radio
Iklan etc

Gambar 2. Health Belief Model


Tujuan Promosi kesehatan
o Individual: pengetahuan, sikap, perilaku
o Individu dan kelompok: jaringan formal dan informal, termasuk dukungan sosial,
kelompok kerja dan kelompok sebaya
o Organisasi: kebijaksanaan, praktek, program, fasilitas, dan sumber
o Komunitas: kebijaksanaan, praktek, program, fasilitas, dan sumber
o Pemerintah : kebijaksanaan, program, fasilitas, sumber, koordinasi/ legistasi, peraturan
dan penguatan
Sementara itu pendidikan kesehatan diartikan sebagai praktek multidisiplin yang melibatkan diri
mulai dari perancangan, pelaksanaan dan evaluasi program pendidikan yang dapat menyebabkan

53

individu, keluarga, kelompok, organisasi dan komunikasi mempunyai peran aktif di dalam
mencapai, melindungi dan mempertahankan kesehatan .
Kriteria, Setting dan Lingkaran Promosi Kesehatan
Asosiasi Kesehatan Masyarakat menyebutkan (cit. Tolsma & Koplan, 1993) lima kriteria
untuk mengembangkan program promosi kesehatan, yaitu:
o

Suatu program promosi kesehatan sebaiknya memfokuskan pada satu atau dua faktor resiko
yang secara hati-hati didefinisikan, dapat diukur dapat diubah dan prevalensinya cukup
tinggi di antara kelompok terpilih, dan merupakan faktor yang mengancam status kesehatan
serta kualitias hidup dari anggota kelompok terpilih

Program promosi kesehatan sebaiknya merefleksikan pertimbangan dari karakteristik,


kebutuhan dan preferensi yang khusus dari kelompok target

Program promosi kesehatan sebaiknya melibatkan intervensi yang akan mengurangi secara
jelas dan efektif pada faktur resiko target dan tepat ditujukan pada setting yang khusus.

Suatu program promosi sebaiknya mengidentifikasi dan melaksanakan intervensi dengan


sumber yang tersedia secara optimum

Dalam penyusunan dan pengembangannya, program promosi kesehatan sebaiknya


terorganisir, terencana dan dilaksanakan sebaik-baiknya, sehingga efek atau dampaknya
dapat dievaluasi.

Setting Promosi Kesehatan


Promosi kesehatan dapat dilaksanakan di beberapa tempat. Empat setting promosi
kesehatan adalah berikut:
1.

Masyarakat
Sebagai contoh adalah promosi kesehatan untuk pencegahan DBD, adanya pemberantasan
sarang nyamuk melalui 3M

2.

Sekolah
Dilaksanakannya latihan menyatakan tidak untuk merokok, penggunaan NAPZA

3.

Tempat kerja
Promosi penggunaan masker untuk pekerja pabrik

54

4.

Pelayanan kesehatan
Keikutsertaan dokter dan petugas kesehatan lainnya untuk mengingatkan dan membantu
berhenti merokok.

Lingkaran Promosi Kesehatan


Dalam pelaksanaannya, program promosi kesehatan melalui beberapa tahapan. Dignan
dan Carr (1992) menyebutnya sebagai lingkaran promosi kesehatan. Promosi kesehatan dimulai
dari penentuan prioritas atau faktor resiko yang diawali dengan analisis terhadap masyarakat.
Dari analisis terhadap masyarakat, yang datanya bisa diambil secara langsung melalui penelitian
awal (kuantitatif ataupun kualitatif) ataupun tak langsung (data prevalensi atau insidensi
penyakit), akan dilakukan penilaian target, dalam arti pemilihan kelompok target. Baru setelah
kelompok target ditetapkan, maka dirancanglah perencanaan program. Setelah perencanaan,
program promosi kemudian dilaksanakan, untuk kemudian dievaluasi hasilnya. Evaluasinya
sendiri sebetulnya dapat dilaksanakan sejak awal, mulai dari hasil analisis masyarakat,
perencanaannya, kemudian pada proses pelaksanaannya, hingga akhirnya hasil atau dampak dari
pelaksanaan program promosi kesehatan.

Cara untuk melakukan evaluasi dapat dilakukan

dengan secara kuantitatif atau kualitatif (gambar 3).

55

Community analysis

Targeted
assessment

Program plan
development

Evaluation

Implementation

Gambar 3. Tahapan Program Promosi Kesehatan

56

BAB VI
KESEIMBANGAN EKOLOGIS
Prof.DR.dr.Adi Heru Sutomo, MSc, DCN, DLSHTM, PKK
Kontributor: dr.Dianing Pratiwi dan dr.Fitriana
Istilah ekologi pertama kali digunakan oleh ahli biologi pada abad ke-19 yang berarti ilmu
yang mempelajari hubungan antara organisme dengan lingkungannya. Ekosistem sendiri
merupakan sebuah komunitas organisme hidup (tumbuhan, hewan, mikroba) dengan komponen
non-hidup (udara, air, tanah mineral) dan berinteraksi sebagai sistem dalam sebuah lingkungan.
Pada abad ke-20, istilah ekologi manusia muncul dan berfokus pada populasi manusia, organisasi
sosialnya, karakteristik lingkungan tempat tinggalnya, dan teknologi yang mereka gunakan.
Ekologi manusia bertujuan untuk mempelajari interaksi antara manusia dengan lingkungan
sosial, fisik, dan biologisnya. Ilmu ini memberikan pengetahuan yang dapat digunakan untuk
menentukan tindakan yang bisa membawa keseimbangan dan harmoni dalam ekosistem dan
manusia merupakan bagian yang tidak terpisahkan, serta memberikan dasar kesehatan yang baik
(Eisenberg dan Sartorius, 1988).
Ekologi manusia tidak terbatas pada pertimbangan penyakit, kesehatan, gaya hidup, dan
lingkungan, tetapi menilainya bersama dengan determinan pada sistem dinamik. Tidak seperti
epidemiologi, ekologi manusia tidak membatasi diri pada mempelajari perubahan pola penyakit
pada populasi. Ekologi manusia berkaitan dengan sistem, bukan dengan komponennya saja. Ilmu
ini melihat penyakit sebagai bagian tak terpisahkan dari ekosistem dan tahu jika eradikasi
penyakit bisa mengganggu ekosistem secara signifikan dan membuat lebih banyak masalah
daripada penyakit itu sendiri: pemahaman ekologis mampu menghindari ini. Ekologi
menggunakan metode dan pengetahuan dari berbagi disiplin ilmu, salah satunya epidemiologi
(Eisenberg dan Sartorius, 1988).
Di edisi perdana pada tahun 1972, editor Human Ecology: An Interdisciplinary Journal
memberikan pengantar mengenai cakupan topik dalam ekologi manusia, yaitu:
1.

Adaptasi genetik, fisiologis, dan sosial pada lingkungan dan perubahan lingkungan

2.

Peran faktor sosial, kultural, dan psikologis pada pemeliharaan atau gangguan ekosistem

3.

Efek kepadatan populasi pada kesehatan, organisasi sosial, atau kualitas lingkungan

57

4.

Masalah adaptif baru dalam lingkungan urban

5.

Hubungan antara perubahan teknologi dan lingkungan

6.

Pengembangan prinsip-prinsip yang mempersatukan studi adaptasi biologis dan kultural

7.

Timbulnya maladaptasi pada evolusi biologis dan kultural manusia

8.

Hubungan antara kualitas dan kuantitas makanan dengan kinerja fisik dan intelektual, serta
dengan perubahan demografis

9.

Penerapan komputer, alat-alat penginderaan jauh, dan alat dan teknik baru yang lain (Steiner
dan Nauser, 1993).
Dari paparan di atas, tampak bahwa ekologi manusia mempelajari ekosistem manusia.

Ekosistem manusia ini hidup bersama-sama dengan ekosistem alami, bahkan merupakan bagian
dari ekosistem alami. Seperti ekosistem alami, ekosistem manusia juga memiliki batas-batas
untuk menjaga komponen yang berada di dalamnya.
Batas-batas ekosistem adalah zona-zona transisi antara dua habitat yang berdampingan.
Batas-batas ini terjadi secara alami di semua bioma, tetapi jangkauan dari batas-batas ini telah
meningkat banyak karena adanya modifikasi habitat manusia. Zona transisi ini dicirikan dengan
adanya perubahan besar pada komposisi komunitas tumbuhan dan hewan dan transisi tersebut
bisa drastis/tiba-tiba, gradual, maupun terjadi melalui serangkaian tipe habitat intermediet. Batas
ekosistem yang terjadi secara alami terkadang membentuk suatu habitat unik. Spesiesnya telah
beradaptasi secara spesifik, sedangkan batas ekosistem yang diciptakan manusia biasanya terdiri
dari campuran spesies dari kedua ekosistem yang berdampingan dan sering memberikan
pengaruh negatif pada habitat alami. Ekosistem yang berdampingan dihubungkan melalui aliran
energi, materi, dan organisme sepanjang batas ekosistem dan aliran ini dapat memberikan
pengaruh kuat pada fertilitas dan produktivitas ekosistem. Besarnya aliran lintas sistem ini
dimediasi oleh banyak variabel (Banks-Leite dan Ewers, 2009).
Lingkungan dapat berubah-ubah, untuk mencapai keseimbangan, ekosistem harus
beradaptasi. Oleh karena tidak ada lingkungan yang statis, maka perubahan dan adaptasi terusmenerus harus dilakukan untuk mempertahankan keseimbangan tersebut. Di dalam ekologi
perubahan diketahui dan cara adaptasi dilakukan juga dipahami. Sesuai dengan poin-poin yang
dipaparkan editor Human Ecology: An Interdisciplinary Journal di edisi perdananya, tampak
bahwa perubahan dan adaptasi merupakan bagian besar. Adaptasi genetik, fisiologis, dan sosial
pada lingkungan dan perubahan lingkungan adalah hal yang disebutkan pertama kali. Peran

58

faktor sosial, kultural, dan psikologis pada pemeliharaan atau gangguan ekosistem juga
merupakan faktor untuk pertahanan ekosistem. Kepadatan populasi memiliki efek pada
kesehatan, organisasi sosial, dan kualitas lingkungan pula, serta menghadirkan masalah adaptif
baru dalam lingkungan urban. Selain itu, perlu juga dikembangkan prinsip-prinsip yang
mempersatukan studi adaptasi biologis dan kultural. Hal ini berhubungan dengan maladaptasi
pada evolusi biologis dan kultural manusia. Keseimbangan ekologi juga dipengaruhi oleh
kualitas dan kuantitas makanan yang mana berhubungan dengan kinerja fisik dan intelektual,
serta dengan perubahan demografis. Kemudian, seiring dengan perkembangan teknologi,
lingkungan pasti mendapat pengaruh. Penerapan komputer, alat-alat penginderaan jauh, dan alat
dan teknik yang baru juga berhubungan dengan pencapaian keseimbangan ekologis.
DAFTAR PUSTAKA
Banks-Leite, C., Ewers, R. M., 2009. Ecosystem Boundaries. eLS.
Eisenberg, L.; Sartorius, N., 1988. Human Ecology in the Repertoire of Health Development.
World Health Forum,9
Steiner, D., Nauser, M., 1993. Human Ecology. Taylor&Francis e-Library: USA.

59

BAB VII
EPIDEMIOLOGY (SURVEILLANCE AND DATA ANALYSIS)
dr.Citra Indriyani, MPH
Kontributor: dr.Dianing Pratiwi dan dr.Fitriana
Surveilans kesehatan adalah pengumpulan, analisis, dan interpretasi data kesehatan
sistematis yang terus-menerus yang esensial untuk merencanakan, mengimplementasikan, dan
mengevaluasi kegiatan kesehatan masyarakat. Cakupannya luas, mulai dari early warning system
untuk respon cepat pada kasus penyakit menular, hingga respon terencana pada kasus penyakit
kronis yang secara umum memiliki jeda waktu yang lebih lama antara paparan dan penyakit
(Bonita et al, 2006). Tujuan dari dilakukannya surveilans adalah untuk mempelajari pola
kejadian penyakit yang sedang ada dan potensial suatu penyakit pada suatu populasi, sehingga
kita dapat menginvestigasi, mengontrol, dan mencegah suatu penyakit secara efektif pada suatu
populasi (CDC, 1968).
Ada dua macam surveilans, yaitu:
Surveilans aktif, merupakan sistem yang beranggotakan staf yang secara rutin mengontak
petugas kesehatan atau populasi untuk mencari informasi mengenai kondisi kesehatan.
Surveilans aktif memberikan informasi yang akurat dan tepat waktu, tetapi mahal.
Surveilans pasif, terdapat sistem yang tim surveilansnya menerima laporan dari rumah sakit,
klinik, unit kesehatan umum, atau sumber-sumber lain. Surveilans pasif relatif tidak begitu
mahal dan dapat untuk mensiasati wilayah yang luas, serta memberikan informasi kritis untuk
memantau kesehatan masyarakat. Namun, karena surveilans pasif tergantung pada berbagai
macam orang dari institusi berbeda untuk mendapatkan data, kualitas data dan ketepatan
waktunya sulit dikendalikan (Nsubuga et al., 2006).
WHO juga memaparkan fungsi dari surveilans (Bonita et al., 2006):
a. mengenali kasus terisolasi atau terkelompok;
b. menilai pengaruh kejadian pada kesehatan masyarakat dan menilai tren;
c. mengukur faktor kausa suatu penyakit;
d. memantau keefektifan dan mengevaluasi pengaruh upaya pencegahan dan control, strategi
intervensi, dan perubahan kebijakan kesehatan; dan

60

e. merencanakan dan memberikan pelayanan.


Selain memperkirakan besarnya suatu epidemi dan memantau trennya, data juga bisa digunakan
untuk:
a. memperkuat komitmen;
b. mobilisasi komunitas; dan
c. mengadvokasi sumber daya yang sufisien.
Dalam prosesnya, surveilans memiliki prinsip dasar, yaitu surveilans harus dirancang dan
diimplementasikan untuk menyediakan informasi yang valid (benar) kepada pengambil
kebijakan secara tepat waktu dengan biaya serendah mungkin3. Prinsip lain surveilans adalah
surveilans harus hanya mencakup kondisi yang mana surveilans tersebut dapat membawa pada
pencegahan secara efektif dan juga sistem suveilans itu harus mencerminkan beban penyakit
keseluruhan dalam komunitas (Bonita et al., 2006). Kriteria dalam memilih penyakit untuk
dilakukan surveilans di antaranya:
a. insidensi dan prevalensi;
b. indeks keparahan (case-fatality ratio);
c. tingkat mortalitas dan mortalitas premature;
d. indeks produktivitas yang hilang (bed-disability days);
e. biaya kesehatan yang diperlukan;
f. preventabilitas;
g. potensial epidemik;
h. kesenjangan informasi pada penyakit-penyakit baru.
Dalam pengambilan data pada surveilans, terdapat beberapa sumber yang dapat
digunakan, di antaranya:
a. laporan mortalitas,
b. laporan morbiditas,
c. laporan epidemic,
d. laporan penggunaan laboratorium (termasuk hasil uji laboratorium),
e. laporan investigasi kasus individu,
f. laporan investigasi epidemic,
g. survey khusus (contoh: admisi rumah sakit, register penyakit, dan survey serologi),
h. informasi mengenai reservoir dan vector hewan,

61

i. data demografi,
j. data lingkungan (CDC, 1968).
Surveilans terdiri dari berbagai jenis:
1. Surveilans individu
Surveilans ini mendeteksi dan memonitor individu-individu yang mengalami kontak dengan
penyakit serius, misalnya pes, cacar, TB, sifilis, dan sebagainya. Surveilans individu
memungkinkan dilakukannya isolasi institusional segera terhadap kontak, sehingga penyakit
yang dicurigai dapat dikendalikan.
2. Surveilans penyakit
Surveilans penyakit melakukan pengawasan terus-menerus terhadap distribusi dan
kecenderungan insidensi penyakit melalui pengumpulan sistematis, konsolidasi, evaluasi
terhadap laporan-laporan penyakit dan kematian, serta data relevan lainnya. Fokusnya adalah
penyakit dan bukan individu.
3. Surveilans sindromik
Surveilans sindromik melakukan pengawasan terus-menerus terhadap sindroma penyakit,
bukan masing-masing penyakit. Yang diandalkan adalah deteksi indikator-indikator kesehatan
individual maupun populasi yang bisa diamati sebelum adanya konfirmasi diagnosis.
Surveilans sindromik mengamati indikator-indikator individu sakit, seperti pola perilaku,
gejala-gejala, tanda, atau temuan laboratorium, yang dapat ditelusuri dari aneka sumber
sebelum diperoleh konfirmasi laboratorium tentang suatu penyakit.
4. Surveilans berbasis laboratorium
Surveilans berbasis laboratorium digunakan untuk mendeteksi dan memonitor penyakit
infeksi.
5. Surveilans terpadu
Surveilans terpadu menata dan memadukan semua kegiatan surveilans di suatu wilayah
yurisdiksi sebagai sebuah pelayanan publik bersama. Surveilans terpadu menggunakan
struktur, proses, dan personalia yang sama, melakukan fungsi mengumpulkan informasi yang
diperlukan untuk tujuan pengendalian penyakit. Kendatipun pendekatan surveilans terpadu
tetap memperhatikan perbedaan kebutuhan data khusus penyakit-penyakit tertentu.

62

6. Surveilans kesehatan masyarakat global


Perdagangan dan perjalanan internasional di abad modern, migrasi manusia dan binatang serta
organisme, memudahkan transmisi penyakit infeksi lintas negara. Konsekuensinya, masalahmasalah yang dihadapi negara-negara berkembang dan negara maju di dunia makin serupa
dan bergayut. Timbulnya epidemik global (pandemi) khususnya menuntut dikembangkannya
jejaring yang terpadu di seluruh dunia yang menyatukan para praktisi kesehatan, peneliti,
pemerintah, dan organisasi internasional untuk memperhatikan kebutuhan-kebutuhan
surveilans yang melintasi batas-bata- negara. Ancaman aneka penyakit menular merebak pada
skala global, baik penyakit-penyakit yang baru muncul (seperti HIV/AIDS, flu burung, dan
SARS). Agenda surveilans global yang komprehensif melibatkan aktor-aktor baru, termasuk
pemangku kepentingan pertahanan keamanan dan ekonomi (Murti, 2003).
Mengetahui pola spesifik kejadian penyakit di dalam wilayah yurisdiksi institusi kesehatan
diperlukan untuk mengidentifikasi perubahan kejadian penyakit dan potensial penyakit, yang
nantinya akan memicu dilakukannya aksi kesehatan masyarakat. Pengetahuan ini dapat didapat
hanya dari proses kontinyu dan sistematis dari konsolidasi dan analisis data surveilans yang
sudah ada.
1. Waktu
Analisis dasar yang biasa dilakukan adalah mengenai waktu untuk mendeteksi perubahan akut
insidensi penyakit, misalnya adalah dengan membandingkan jumlah laporan kasus yang
diterima pada minggu ini dengan jumlah yang diterima tiap minggunya dalam empat minggu
terakhir. Data ini dapat disusun dan diatur dalam tabel, grafik, atau keduanya. Contoh lain
adalah dengan membandingkan jumlah kasus pada periode sekarang (misal bulan ini) dengan
jumlah yang dilaporkan selama periode yang sama dalam tiga tahun terakhir.
2. Tempat
Jika ditemukan peningkatan insidensi dalam analisis waktu, analisis selanjutnya yang bisa
dilakukan adalah analisis data berdasarkan tempat untuk menentukan di manakah kasus
tersebut terjadi. Di sisi lain, bahkan jika analisis waktu tidak cukup membantu, wabah local
dapat teridentifikasi jika data dianalisis berdasarkan tempat. Namun, dalam praktiknya
sebaiknya kedua analisis (waktu dan tempat) dapat dilakukan secara bersamaan. Untuk
menganalisis berdasarkan tempat, data disusun dan diatur dalam tabel, peta, maupun
keduanya.

63

3. Karakteristik orang
Menganalisis data surveilans berdasar karakterisik orang yang terkena penyakit juga
membantu. Usia dan jenis kelamin paling banyak dipaparkan di sebagian besar laporan kasus.
Ras tidak selalu ada untuk dianalisis. Variabel lain seperti sekolah atau tempat kerja,
pemondokan di rumah sakit, dan faktor risiko penyakit spesifik (seperti perjalanan yang baru
saja dilakukan) bisa juga dilaporkan (CDC, 1968).
DAFTAR PUSTAKA
Bonita.R., Beaglehole, R., Kjellstrm, T., 2006. Basic Epidemiology, 2nd ed. Geneva: WHO.
CDC., 1968. Principles of Epidemiology, 2nd ed. Atlanta: CDC.
Murti, B., 2003. Available at:
http://fk.uns.ac.id/static/materi/Surveilans_-_Prof_Bhisma_Murti.pdf diakses 20 Juli 2014
Nsubuga, P., White, M.E., Thacker, S.B., Anderson, M.A., Blount., S.B., Broome, C.V., Chiller,
T.M., Espitia, V., Imtiaz, R., Sosin, D., Stroup, D.F., Tauxe, R.V., Vijayaraghavan, M.,
Trosle, M., 2006. Available at: http://www.dcp-3.org/sites/default/files/dcp2/DCP53.pdf
diakses 21 Juli 2014

64

BAB VIII
OCCUPATIONAL HEALTH
dr.Luthfan Lazuardi, MPH, PhD
Kontributor: dr.Fransisca Kurnia Chandra dan dr.Fitriana
Kesehatan pekerja merupakan suatu hal yang penting untuk perkembangan sosial dan
ekonomi pada level global, nasional, dan lokal. Kesehatan dan keamanan di tempak kerja
tergantung dari pembuatan kebijakan yang di buat. Pendekatan terhadapap kesehatan dan
keamanan kerja di mulai sejak revolusi industri.
Definisi:
Kesehatan kerja merupakan aktivitas yang melibatkan multidisiplin dalam kedokteran layanan
primer dan bertujuan:
1.

Melindungi dan mempromosikan kesehatan tenaga kerja dengan mencegah dan mengkontrol
penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dan kecelakaan serta mengeliminasi faktor dan
kondisi yang membahayakan kesehatan dan keamanan kerja.

2.

Pengembangan dan promosi kesehatan kerja, keamanan kerja, lingkungan kerja, dan
organisasi kerja.

3.

Meningkatkan kesehatan fisik, mental, sosial tenaga kerja, sosial pekerja serta mendukung
pengembangan dan kapasitas kerja mereka

4.

Mampu mengarahkan produktivitas sosial dan ekonomi pekerja

Interaksi antara pekerjaan dan kesehatan


Masalah sosial dan ekonomi penting untuk diperhatikan. Sebuah penelitian mengatakan
bahwa pekerjaan berperan penting dalam psikologi seseorang. Pekerjaan memberikan kekuatan
yang besar dalam membentuk jati diri seseorang.
Efek positif sehat dalam bekerja
1.

Interaksi dua arah


Terdapat interaksi dua arah antara seseorang dengan fisik dan psikologis lingkungan kerja,
lingkungan kerja memungkinkan peningkatan kesehatan seseorang secara positif atau
negatif terhadap produktivitas. Pekerjaan yang berjalan dengan baik dapat menjadi faktor

65

yang penting dalam promosi kesehatan. Contohnya pada orang yang memiliki disabilitas
tertentu dapat mendapat rehabilitasi fisik dan mental dari hasil pekerjaan yang mereka
lakukan.
2.

Risiko kesehatan
Ketika pekerjaan berpengaruh terhadap risiko kesehatan, pekerjaan dapat menyebabkan
penyakit oleh kerja. Hal tersebut dapat menyebabkan banyak masalah dan menimbulkan
penyakit lainnya atau memperburuk kondisi sakit yang tidak ada hubungan dengan
perkerjaan yang sudah ada sebelumnya.

3.

Kehilangan pekerjaan
Kehilangan pekerjaan dapat mempengaruhi kesehatan psikologis dan mental seseorang. Jika
keadaan ini berlarut-larut, kesehatan seseorang akan menurun terus menerus dan penyakit
kronis akan muncul. Stres mental dan finansial yang disebabkan oleh kehilangan pekerjaan
dapat merambah ke anggota keluarga yang lain. Sebagai tambahan, ternyata seseorang tang
memiliki taraf dan tingkat sosial yang baik bisa memperoleh informasi kesehatan dan
melakukan gaya hidup yang lebih sehat.

Lingkungan Kerja
Pendahuluan dan konsep dasar:
1.

Occupational Hygiene
Praktek penilaian dan pengontrolan faktor lingkungan dan stres yang didapat dari
tempat kerja yang dapat menyebabkan cidera, sakit, penurunan kesehatan. Hal tersebut
meliputi: uji toksikologi, proses industri, kontaminasi udara oleh kimia dan perilaku fisik,
desain dan evaluasi sistem ventilasi, kontrol suara, perlindungan dari radiasi, efek bahaya
pekerjaan terhadap kesehatan.

2.

Analisis tempat kerja


Prosedur ini sangat penting karena membantu menentukkan apa pekerjaan dan
tempat kerja yang berpotesi menimbulkan masalah. Analisis tempat kerja yang paling efektif
adalah dengan cara menganalisis semua pekerjaan, operasi dan aktivitas kerja. Petugas
kesehatan harus melakukan inspeksi, penelitian dan analisis bahan kimia atau risiko fisik
pada tempat kerja mempengaruhi kesehatan pekerja. Jika risiko terhadap kesehatan telah
ditemukan, harus dilakukan koreksi yang tepat.

66

Bila petugas kesehatan atau petugas yang berwenang menemukan adanya


kontaminasi udara yang menyebabkan iritasi mata, hidung dan tenggorok. Petuags tersebut
harus menyarankan untuk dibuat ventilasi disekitar sumber kontaminasi dan jangan sampai
kontak dengan udara bebas.
Mengenali sumber resiko di tempat kerja
1. Inspeksi
Ini merupakan langkah awal evaluasi dan kontrol dan identifikasi material dan proses yang
berpotensi menyebabkan bahaya terhadap pekerja. Inspeksi tempat kerja merupakan
sumber data langsung yang paling relevan tentang resiko terhadap kesehatan.
2. Potensial berbahaya terhadap kesehatan
a

Kontaminasi udara
Kontaminan partikel
i.

Debu

ii.

Asap

iii.

Kabut

iv.

Aerosol

v.

Fiber

Kontaminan gas dan uap


I.
II.

Gas
Uap: bahan yang mudah menguap dari bentuk yang tadinya solid atau cair
karena suhu ruang atau tekanan.

Bahaya kimia
Bahan kimia berbahaya dapat ada dalam bentuk solid, cair, gas, asap, debu,
kabut, bahan mudah menguap yang masuk ketubuh dengan inhalasi, absorpsi (kontak
langsung dengan kulit), atau terdigesti (makan atau minum).

Bahaya biologis
i. Paparan bakteri, virus, jamur, dan organisme hidup lainnya yang dapat
menyebabkan infeksi akut atau kronis. Organisme itu masuk ke dalam tubuh dapat
secara langsung atau melalui kulit yang luka.

67

ii. Pekerjaan yang berhubungan dengan tanaman, hewan, produk yang mereka
hasilkan, makanan, proses pembuatan makanan berpotensi besar terkenan bahaya
biologis.
iii. Petugas laboratorium dan petugas kesehatan berpotensi terkenan bahaya ini.
Orang yang bekerja dalam bidang-bidang tersebut dangan penting menjaga
kebersihan diri dan cuci tangan, mencegah luka minor dan goresan terutama
daerah tangan dan lengan.
iv. Rumah sakit harus menyediakan ventilasi yang sesuai, peralatan proteksi yang
memadai seperti sarung tangan dan masker.
d

Bahaya fisik
Hal ini termasuk suara bising, vibrasi, cahaya dan suhu, dan radiasi
elektromagnet
Dapat dilakukan beberapa hal untuk menangani bahaya fisik.
i. Suara bising meliputi membuat peralatan yang tidak bersuara saat beroperasi,
stutupi alat yang menyebabkan kebisingan, pastikan peralatan mendapat kontrol
rutin, letakkan alat yang menimbulkan kebisingan di tempat tersendiri, jauhkan atau
batasi pekerja dari sumber suara bising, tutupi telinga pekerja.
ii. Radiasi ion meliputi turunkan intensitas terkena paparan, meningkatkan jarak
dengan sumber radiasi, gunakan pelindung
iii. Radiasi non ion, melindungi diri dari radiasi non ion tidak efektif seperti pada laser.
iv. Paparan panas meliputi menggunakan baju pelindung seperti pada pabrik baja.

e. Bahaya ergonomik
Banyak masalah ergonomik yang timbul sebagai hasil dari perubahan teknologi
seperti peningkatan kecepatan dan peningkatan gerakan berulang. Beberapa
masalah timbul karena buruknya konstruksi kerja. Kondisi tersebut dapat
menimbulkan bahaya seperti terlalu banyak getaran, suara bising, mata lelah,
gerakan berulang, mengangkat berat, buruknya desain peralatan atau area kerja.
Gerakan atau goncangan berulang dalam waktu lama dapat menyebabkan iritasi dan
inflamasi tendon tangan dan lengan seperti carpal tunnel syndrome. Bahaya
ergonomik dapat dicegah dengan membuat desain alat kerja atau area kerja sesuai
kebutuhan karyawan.

68

Dengan melakukan analisa tempat kerja, dapat dilakukan perbaikan atau mengontol
bahaya ergonomik seperti:
Menggunakan kontrol teknik yang tepat, seperti mendesain tempat kerja,
pencahayaan, peralatan.
Melatih pegawai melakukan praktik kerja dengan benar, seperti membagi
pegawai pegawai menjadi beberapa kelompok kerja, menurunkan kebutuhan
produksi dan tingkatkan waktu istirahat.
Menyediakan dan melatih pegawai menggunakan peralatan proteksi jika
dibutuhkan.
f. Faktor psikososial
Faktor ini dapat meliputi kebosanan, pekerjaan yang diulang-ulang, tekanan
pekerjaan, stres, gaji rendah, dan kurangnya penghargaan.
g. Faktor kecelakaan
Penyebab utama dari kecelakaan adalah tidak amannya kondisi fisik dan
mekanis, perilaku, dan faktor personal.
3. Teknik mengenali bahaya terhadap kesehatan
Lakukan Inventaris terhadap bahan-bahan yang dipakai, dengan cara:
i.

Mengetahui siapa yang melakukan inventaris terhadap barang tersebut

ii.

Mencari informasi yang dibutuhkan seperti bahan pembuat barang tersebut


(komposisi, toksikologi), kegunaan bahan tersebut (penyimpanan, melakukan
prosedur tertentu), asal muasal bahan tersebut (pabrik pembuat bahan)

4. Evaluasi bahaya terhadap kesehatan


i.

Evaluasi bahaya terhadap kesehatan meliputi pengukuran paparan (dan hal-hal yang
berpotensi),

bandingkan

paparan

dengan

standar

yang

sudah

ada,

dan

merekomendasikan pengontrolan jika diperlukan.


ii. Teknik pengukuran paparan dapat berdasar pada sumber bahaya dan cara kontaknya
terhadap pekerja, seperti: Uji sampel udara dapat menunjukkan konsentrasi partikel
racun, udara, dan bahan menguap yang terhirup oleh pekerja.
iii. Skin wipe dapat digunakan untuk mengukur derajat kontak kulit dengan materi racun
yang masuk ke dalam kulit
iv. Noise desimeters record untuk menentukan total paparan setiap hari.

69

Occupational Disease (OD)


Occupational Disease merupakan kondisi sakit yang diberkaitan dengan paparan kerja
atau lingkungan kerja, seperti paparan:
a. Fisik: panas, suara, radiasi
b. Kimia: pelarut, pestisida, logam berat, debu
c. Biologi: tuberculosis, virus hepatitis B, HIV
d. Ergonimis: peralatan atau lingkungan kerja yang tidak sesuai, gerakan berulang
e. Stressor psikososial: kurangnya control terhadap kerja, kepribadian yang tidak adekuat.
f. Mekanik: lebih sering menyebabkan kecelakan dan luka daripada penyakit oleh kerja.
Karakteristik occupational disease
a. sebagian besar presentasi klinis dan patologis OD identik dengan penyakit yang tidak
disebabkan oleh OD, seperti: astma yang disebabkan oleh kapas pada pabrik pembuatan baju
tidak berbeda dengan asma yang disebabkan oleh hal lain.
b. OD dapat terjadi walaupun setelah berhenti terpapar. Seperti pada paparan oleh asbeston yang
menyebabkan kanker paru, baru muncul 30-40 tahun setelah paparan.
c. Manifestasi klinis OD berhubungan dengan dosis dan paparan, seperti reaksi racun pada
merkuri berlangsung akut dan dapat menyebabkan gagal napas walaupun pada dosis paparan
yang rendah.
d. Faktor pekerjaan dapat berkombinasi dengan faktor yang bukan pekerjaan, seperti paparan
asbestos saja dapat meningkatkan resiko kanker paru antara 50-70 kali.
Pencegahan occupational disease
Pencegahan primer dapat dilakukan dengan menurunkan resiko sakit. Pada kondisi
seseorang masih bekerja, cara yang biasa dipakai adalah menurunkan besarnya paparan substansi
berbahaya sehingga resiko terhadap kesehatan menurun. Penurunan paparan ini dapat dilakukan
dengan menjaga keamanan diri dan mengubah proses produksi, seperti dibuat ventilasi khusus
untuk bahaya yang disebabkan dari menghirup substansi dalam proses pembuatan, memakai
masker khsusus, atau alat proteksi diri lainnya.

70

Pencegahan sekunder, dapat dilakukan dengan mengidentifikasi masalah kesehatan


sebelum penampilan klinisnya muncul. Seperti pada pekerja yang melaporkan merasa sakit dan
member intervensi agar efeknya minimal. Sebagai contoh dari pencegahan sekunder adalah
mengukur kadar logam dalam darah pada pekerja yang berhubungan dengan logam. Peningkatan
kadar logam dalam darah mengindikasikan gagalnya pencegahan primer tetapi masih dapat
dilakukan tindakan sebelum logam meracuni tubuh.
Pencegahan tertier, dapat dilakukan dengan meminimalkan efek klinis yang disebabkan
oleh paparan. Contoh pencegahan tertier adalah mengobati keracunan logam (sakit kepala, sakit
otot, sakit sendi, sakit perut, anemia, disfungsi ginjal) dengan memberikan chelating medicine.
Tujuannya adalah untuk meminimalkan gejala atau rasa tidak nyaman, meminimalkan luka pada
tubuh dan memaksimalkan fungsi.
Deteksi dini occupational disease (OD)
Untuk meminimalkan kerusakan yang disebabkan oleh OD, sebagai alternatif yang paling
baik dapat dilakukan deteksi dini perubahan patologi ketika masih reversibel. Tentu saja paparan
akibat kerja yang menyebabkan perubahan klinis, fungsi, biokimia, fisiologi, atau morfologi
ketika di deteksi lebih dini dapat reversible. Terdapat banyak pemeriksaan klinis dan
laboratorium yang dapat dilakukan untuk mengetahui perubahan dini. Hanya saja belum semua
OD dapat di deteksi saat masih reversibel seperti pada reaksi gas iritan ammonia, asam
hidrosianida, dan asbestosis.
Pemeriksaan rutin pada pekerja yang terkena paparan sangat dianjurkan untuk deteksi
dini. Pemeriksaan rutin tidak harus pemeriksaan lengkap. Pemeriksaan dapat dimulai dengan
pemeriksaan skrining dan bila hasil positif, dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan komprehensif
untuk membuktikan apakah terdapat OD. Tes skrining harus mudah, sensitif, tidak mahal dan
tidak invasif. Tes skrining meliputi pemeriksaan untuk mendeksi:
a. Adanya bahan beracun pada sampel biologis, sebagai indeks paparan bahan bisa dibuktikan
oleh monitor lingkungan, seperti monitor kadar logam dalam darah
b. Adanya metabolit substansi beracun pada sampel biologis, seperti memonitor sulfat organik
dalam urin pada paparan fenol
c. Perubahan fungsi organ sebagai hasil paparan substansi, seperti fungsi ginjal, fungsi liver,
dan fungsi paru.

71

d. Perubahan morfologi pada elemen darah bias merupakan indikasi aksiracun pada sistem
hemopoetik
e. Perubahan jaringan yang iriversibel, seperti katarak karena radiasi sinar merah.
f. Psikomotor dan fungus system saraf pusat, seperti tes yang digunakan untuk mengevaluasi
paparan substansi yang diketahui berefek pada fungsi saraf (magnesium, merkuri, karbon
disulfida).
Seberapa sering pemeriksaan tergantung dari tipe paparan, semakin progresif kondisi,
jarak antara pemeriksaan dapat ditingkatkan. Kondisi darah yang mencerminkan ada efek radiasi,
dapat dilakukan pemeriksaan setiap 1-6 bulan tergantung dari dosis paparan.
Deteksi dini occupational disease yang disebebkan oleh:
1.

Faktor fisik
o

Panas
tingkat keburukkan penyakit tergantung dari suhu, kelembaban, durasi paparan. Efek
panas pada tubuh adalah: tidak nyaman, performa bekerja menurun dan penurunan
konsentrasi, bercak-bercak, heat stroke, heat exhaustion

Suara bising
Suara bising menyebabkan tuli dapat dideteksi dengan menggunakan audiometric.

Vibrasi

Vibrasi dapat menyebabkan gangguan pembuluh darah tangan dan perubahan pada
tulang lingkar tangan. Perubahan pembuluh darah sulit untuk diketahui, tetapi
perubahan pada tulang dapat dideteksi dengan menggunakan sinar X-ray.

Tekanan atmosfer
Paparan pada peningkatan tekanan atmosfer (di bawah air) dapat menyebabkan nekrosis
tulang lutut, pinggul, dan bahu yang dapat di deteksi dengan X-ray.

Radiasi sinar merah


Radiasi sinar merah dapat menyebabkan katarak. Komponen darah merupakan bagian
tubuh yang paling mudah terkena efek, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan secara
periodic. Hitung leukosit dapat dipakai sebagai pemeriksaan.

72

2.

Agen biologis
a.

Tuberculosis paru, dapat dideteksi dengan menggunakan tes BTA, tes mantoux, dan
pemeriksaan X-ray dada.

b.

Virus hepatitis B dan C


Dapat dideteksi dengan pemeriksaan serologi dan marker hepatitis

3.

Bahan kimia
a.

Logam dapat dilakukan pemeriksaan darah, magnesium dapat dilakukan pemeriksaan


urin, mangan dapat diketahui dari manisfestasi neuropsikiatri, arsen dapat dilakukan
pemeriksaan urin.

b.

Pestisida, dapat diketahui dengan memeriksa tingkat aktivitas inhibisi kolin esterase
dalam darah.

Occupational ergonomic
Ergonomis mempelajari tentang hubungan antara aspek manusia, fisik, dan psikologi
dalam lingkungan kerja, kebutuhan kerja, dan metode kerja. Tujuan ergonomis adalah untuk
meningkatkan dan yang paling penting adalah memberikan kenyamanan, keamanan dan efisiensi
pekerja. Keuntungan menerapkan prinsip ergonomis adalah meningkatnya efisiensi, produktifitas
meningkat, penurunan waktu yang hilang saat bekerja karena sakit atau luka dan menurunkan
biaya asuransi.
Prinsip dari ergonomis diterapkan pada semua pekerjaan yang menyebabkan stres baik
fisik maupun mental. Selama stres masih di bawah limit, performa kerja tetap baik dan kesehatan
terjaga. Jika stres melebihi ambang, hal-hal yang tidak diinginkan dapat saja terjadi dalam
bentuk kesalahan pekerjaan, kecelakaan, luka, penurunan kesehatan fisik dan mental.
Contoh luka dan sakit yang berhubungan dengan ergonomis adalah cedera mata, sakit
kepala, penyakit musculoskeletal seperti nyeri kronis, nyeri leher dan bahu, cumulative trauma
disorder (CTDs), repetitive strain injury (RSIs) dan repetitive motion injuries (RSIs).
Contoh pencegahan pada:
1. Kecelakaan
i.

Mendesain pelindung mesin sehingga membuat pekerja dapat mengoperasikan peralatan


dengan tenang dan nyaman.

73

ii.

Mempelajari biomekanik manusia berjalan untuk membedakan kekuatan dan gaya antara
lantai dengan alas kaki. Informasi ini dapat digunakan meningkatkan friksi permukaan
lantai dengan alas kaki, sehingga resiko tergelincir dan jatuh dapat minimal.

2. Kelelahan
i.

Desain posisi komputer (peralatan dan furnitur) sebisa mungkin membuat mata dan
posisi pemakai tidak lelah.

ii.

Evaluasi kebutuhan kebutuhan metabolism pekerjaan, suasana panas dan kelembaban


lingkungan direkomendasikan untuk menghindari heat stress.

3. Penyakit muskoloskeletal
i.

Evaluasi pekerjaan yang berhubungan dengan mengangkat barang untuk mengetahui


biomekanik bawah dan mendesain alat pengangkat untuk memastikan bahwa cedera
punggung bawah tidak terjadi.

ii.

Evaluasi peralatan yang dioperasikan dengan tangan untuk menurunkan resiko


cumulative trauma disorder (CTDs) seperti tendonitis, epikondilitis, tenosinovitis, dan
carpal tunnel syndrome.

Stres dan faktor psikologi dalam bekerja


Banyak hal dapat mempengaruhi seseorang dalam bekerja sehingga menjadi stres dan
psikologisnya dalam suasana kurang baik. Stres ini bisa dipengaruhi oleh dari dalam dirinya
sendiri seperti tidak bisa menerima perubahan kondisi, kemampuan komunikasi yang kurang
baik, dan konflik interpersonal. Konflik ini bisa juga dipengaruhi oleh perkembangan karir di
tempat kerja seperti kesempatan promosi kerja yang kurang, tugas yang lebih berat, tidak
bekerja. Bisa juga berasal dari pekerjaaan seperti terlalu banyaknya pekerjaan atau lingkungan
bekerja seperti masalah ergonomis, bekerja ditempat yang berbahaya, bising, dan berbau. Stres
ini dapat mempengaruhi fisiologi, psikologis seseorang, dan tingkah laku seseorang.
1. Fisiologi
a. Jangka pendek, seperti katekolamin, kortisol, dan tekanan darah meningkat.
b. Jangka panjang, seperti hipertensi, penyakit jantung, ulser, dan asma.
2. Psikologis
a. Jangka pendek, seperti cemas, rasa tidak puas, dan mass psychogenic illness.
b. Jangka panjang, seperti depresi dan mental disorder

74

3. Tingkah laku
a. Jangka pendek, dapat berpengaruh pada pekerjaan seperti sering tidak masuk bekerja,
penurunan produktivitas dan partisipasi. Pada komunitas seperti tidak suka bergaul dan
pada diri sendiri seperti penggunaan alcohol, obat-obatan, dan rokok
b. Jangka panjang, seperti perasaan sendiri.
Pencegahan dan mengontrol stress
Untuk mengatasi stres, dapat dilakukan pencegahan dan kontrol seperti:
1. Individu
a. Pemberian obat, seperti hipertensi, nyeri punggung, depresi
b. Konseling
c. Program pendampingan pada pekerja yang menggunakan alcohol, obat, dan rokok
2. Psikologi individu
a.

Konseling, baik perseorangan atau grup

b.

Program pelatihan seperti relaksasi, medikasi, biofeedback

c.

General support seperti rekreasi

3. Mengurangi stres di lingkungan kerja dengan membuat jadwal pekerjaan yang bervariasi
Prinsip mendesain pekerjaan
a. Jadwal kerja, hindari konflik kebutuhan dengan tanggungjawab di luar pekerjaan.
b. Partisipasi, pekerja harus mampu member masukkan dalam keputusan yang
diambil
c. Beban kerja, pekerjaan tidak boleh melebihi kapabilitas seseorang.
d. Peran dalam pekerjaan harus terinci dengan baik
e. Masa depan yang jelas
DAFTAR PUSTAKA
World Health Organisation., 2001. Occupational Health: A Manual for Primary Health Care
Worker.

75

BAB IX
MENYADARI KETERBATASAN
Dra.Yayi Suryo Prabandari,MSi,PhD
Pendahuluan
Johari window menyatakan bahwa di dalam manusia terdapat empat kwadran seperti gambar
berikut
AT = area terbuka sifat atau karakteristik yang
saya maupun orang lain tahu
ASB= area saya buta sifat atau karakteristik saya
yang tidak saya ketahui namun diketahui
orang lain
AMB = area mereka buta sifat atau karakteristik
saya yang hanya diketahui oleh saya dan
tidak diketahui orang lain
DG = dunia gelap sifat atau karakteristik saya yang
belum diketahui orang lain dan saya
sendiri

Gambar 1.Johari Window

Johari window di atas adalah jendela ideal.AT atau Area terbuka seharusnya adalah daerah yang
paling besar. Seseorang sebaiknya membukakan diri terhadap diri sendiri dan orang lain serta
memperkecil dunia gelap atau DG, area yang diri sendiri maupun orang lain tidak mengetahui.
Secara sederhana sebaiknya kita betul-betul memahami diri kita, menyadari keterbatasan dan
kelebihan diri, namun masih terbuka untuk meminta umpan balik dari orang lain, karena ada halhal yang kita dilakukan namun tidak disadari.Seorang manusia memiliki keterbatasan, dan
membutuhkan orang lain untuk mengerjakan sesuatu atau sekedar memberikan umpan
balik.

76

Setelah mempelajari diri sendiri melalui Johari window, berikut adalah hal-hal yang perlu
dipahami untuk dapat memahami, mengenal dan mempelajari keterbatasan diri.
a.

Sensitive line garis kepekaan

b.

Personal values and moral maturity nilai personal dan kematangan moral

c.

Learning style gaya belajar

d.

Orientation toward change orientasi untuk perubahan

e.

Interpersonal style gaya interpersonal

Sensitive line garis kepekaan


Merupakan titik saat seseorang menjadi defensif atau protektif ketika menjumpai informasi
tentang mereka terutama pada saat hal-hal yang tidak disadari dilakukan/dikatakan diumpan
balikkan ke mereka (pembukaan area saya buta)
Peningkatan pemahaman diri terjadi ketika:
a.

Informasi dapat diverifikasi (dideskripsikan dengan perilaku dan kata-kata yang


dilakukan atau dikatakan), diramalkan dan dimonitor

b.

Belajar untuk lebih terbuka, sehingga orang lain dan diri menjadi lebih paham tentang
perilaku yang dijalankan.

Value - nilai
Merupakan standar fundamental keinginan yang dipilih individu antara alternatif, asumsi dan
realitas alami
a.

Belajar lebih awal, dan senantiasa mengembangkan diri

b.

Pilihan terhadap dorongan dan perilaku

c.

Berbeda didasarkan lingkungan dan budaya, dannilai budaya tersebut:


i.

Luas, orientasi umum yang mewarnai kelompok besar

ii.

Identifikasi cara yang menunjukkan setiap negara berbeda satu dengan yang lain

iii.

Nilai budaya meramalkan nilai individu.

Kematangan
Menurut Kohlberg terdapat tiga tingkatan kematangan dengan enam langkah pengembangan,
yaitu:
a.

Tingkat pemusatan diri (Self-centered) (1) kepatuhan dan hukuman (2) orientasi egois

b.

Tingkat konformitas (3) orang baik, (4) mengerjakan tugas (doing duty)

c.

Tingkatan Prinsip (5) Legalistik kontraktual, (6) Kesadaran pada prinsip orientasi

77

Gaya belajar
Dua dimensi kunci dalam belajar adalah a) perbuatan pada saat menerima informasi dan b) cara
untuk evaluasi dan menerima informasi.
Individu dalam menerima, menginterpretasi dan merespon informasi memerlukan cara tertentu:
a.

Pengalaman nyata belajar melalui pelibatan aktif

b.

Konsepsualisasi membangun teori berdasar logik, ide dan konsep

c.

Experimentasi mengubah situasi dan mempengaruhi orang lain untuk mengetahui yang
sedang terjadi

Kebutuhan Interpersonal
a.

Kebutuhan untuk bekerja dengan orang lain dengan tujuan menyelesaikan pekerjaan

b.

Kebutuhan untuk bekerja dengan orang lain untuk mengurangi kecemasan

c.

Kebutuhan untuk bekerja dengan orang lain untuk mendefinisikan diri

d.

Gaya penentu untuk bekerja dengan orang lain

Mengembangkan kesadaran diri


Berdasarkan penjelasan sebelumnya, untuk mengembangkan dan mengaplikasikan kesadaran diri
mahasiswa perlu untuk berlatih di luar pembelajaran terjadwal FK UGM dengan:
a.

Mengetahui dan mengasah garis kepekaan

b.

Melakukan identifikasi nilai diri dan mengembangkan diri berdasar nilai tersebut

c.

Mencari cara untuk mengembangkan dan memperluas diri

d.

Melakukan identifikasi ketidakmampuan interpersonal

e.

Melibatkan diri keterbukaan

78

BAB X
PENYULUHAN PADA MASYARAKAT
Dra.Yayi Suryo Prabandari,MSi,PhD
Kontributor: dr.Dianing Pratiwi dan dr.Fitriana
Penyuluhan merupakan salah satu upaya promosi kesehatan. Promosi kesehatan adalah
segala bentuk kombinasi pendidikan kesehatan dan intervensi yang terkait dengan ekonomi,
politik, dan organisasi, yang dirancang untuk memudahkan perilaku dan lingkungan yang
kondusif bagi kesehatan (Green, 1979).
WHO (1986) merumuskan promosi kesehatan sebagai proses untuk meningkatkan
kemampuan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Selain itu, untuk
mencapai derajat kesehatan yang sempurna, baik fisik, mental, dan sosial masyarakat harus
mampu mengenal, mewujudkan aspirasinya, kebutuhannya, serta mampu mengubah atau
mengatasi lingkungannya. Oleh karena itu, kesehatan merupakan sumber daya untuk kehidupan
sehari-hari dan bukanlah tujuan hidup itu sendiri. Kesehatan merupakan konsep positif yang
menekankan sumber daya sosial dan diri sendiri, serta kapasitas fisik. Dapat disimpulkan bahwa
promosi kesehatan adalah program-program kesehatan yang dirancang untuk membawa
perubahan (perbaikan), baik di dalam masyarakat sendiri, maupun dalam organisasi dan
lingkungannya (WHO, 1986).
Terdapat beberapa prinsip dalam promosi kesehatan. Prinsip-prinsip tersebut adalah
(Rootman et al., 2001):
1.

Empowering: mendorong individu dan komunitas untuk mampu memiliki kendali lebih pada
faktor personal, sosioekonomi, dan lingkungan yang mempengaruhi kehidupannya.

2.

Participatory: melibatkan semua pihak terkait pada seluruh tahap prosesnya.

3.

Holistic: mencakup kesehatan fisik, mental, sosial, dan spiritual

4.

Intersectoral: melibatkan kolaborasi berbagai pihak dari sektor yang relevan.

5.

Equitable: selalu diawasi kesetaraan dan keadilan sosialnya.

6.

Sustainable: mampu membawa perubahan yang dapat dipertahankan oleh individu maupun
komunitas meski bantuan awal telah selesai.

79

7.

Multistrategy: menggunakan berbagai macam pendekatan, termasuk pengembangan


kebijakan, perubahan organisasi, pengembangan komunitas, legislasi, advokasi, edukasi, dan
komunikasi.
Sebelum memulai melakukan promosi kesehatan, terdapat beberapa langkah yang harus

dilakukan:
1. Menilai kebutuhan
Untuk menilai kebutuhan, diperlukan sumber-sumber dari:
a. data epidemiologi
b. informasi demografi dan sosioekonomi
c. kebutuhan yang dirasakan oleh audiens target
d. kebutuhan yang dinilai oleh profesional yang (pernah) bekerja dengan audiens target
e. asset yang sudah dimiliki audiens target yang dirasa perlu untuk dikembangkan
2. Menilik pada evidence base
Setelah menentukan kebutuhan atau asset yang ingin dikembangkan, sebaiknya kembali
menilik pada evidence base mengenai intervensi apa yang sebaiknya diberikan.
3. Mengidentifikasi sumber daya
Sumber daya yang dimaksudkan di sini adalah peralatan, finansial, dan manusia yang dapat
mendukung kegiatan.
4. Menentukan tujuan
Perlunya tujuan ditentukan dari awal (misal: peningkatan kesehatan, perubahan perilaku)
adalah agar perencanaan kegiatan lebih terarah dan lebih mudah dalam pengevaluasiannya.
5. Menentukan target
Target paling mudah ditentukan dengan numerik (misal penurunan perilaku merokok pada
anak perempuan usia 11-14 tahun sebesar 10% pada tahun 2015).
6. Menentukan tindakan untuk mencapai tujuan
Setelah menentukan tujuan dan target, langkah selanjutnya adalah menentukan tindakan
spesifik untuk mencapainya.
7. Menentukan metode
Metode di sini adalah teknik yang akan digunakan untuk melakukan tindakan untuk mencapai
tujuan.

80

8. Mengevaluasi rencana yang disusun


Sebelum kegiatan dilakukan, rencana harus dievaluasi terlebih dahulu.
9. Menentukan sumber daya yang akan digunakan dan alokasi dana
Langkah terakhir adalah memutuskan sumber daya apa saja yang dapat digunakan dan
pengalokasian dana. Jika dana yang ada tidak sebesar yang dibutuhkan, maka diperlukan
adanya prioritasisasi kegiatan yang akan dilakukan (Davies dan Macdowall, 2006).
Metode penyuluhan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tercapainya suatu
hasil penyuluhan secara optimal. Semua metode akan baik bila digunakan secara tepat yaitu
sesuai dengan kebutuhan. Pada garis besarnya hanya ada dua jenis metode dalam penyuluhan,
yaitu (Lusiani, 2010):
1.

Metode One Way Method


Menitikberatkan pendidik yang aktif, sedangkan pihak sasaran tidak diberi kesempatan
untuk aktif. Yang termasuk metode ini adalah metode ceramah, siaran melalui radio,
pemutaran film, penyebaran selebaran, dan pameran.

2.

Metode Two Way Methode


Pada metode ini terjadi komunikasi dua arah antara pendidik dan sasaran.Yang termasuk
dalam metode ini adalah wawancara, demonstrasi, sandiwara, simulasi, curah pendapat,
permainan peran (role playing), dan tanya jawab. Berdasarkan jumlah sasaran, metode yang
dapat digunakan antara lain:
a.

Kelompok Besar (lebih dari 15 orang), metode yang baik untuk kelompok besar ini
antara lain adalah ceramah, demonstrasi, dan seminar.

b.

Kelompok Kecil (kurang dari 15 orang), metode yang baik untuk kelompok ini antara
lain diskusi kelompok, curah pendapat (brainstorming), memainkan peran (roleplay).

1. Ceramah
Ceramah merupakan suatu cara dalam menerangkan dan menjelaskan suatu ide, pengertian
atau pesan secara lisan kepada sekelompok sasaran disertai tanya jawab, sehingga
memperoleh informasi tentang kesehatan. Ciri-ciri metode ceramah: ada sekelompok sasaran
yang telah dipersiapkan sebelumnya, ada ide, pengertian dan pesan tentang kesehatan yang
akan disampaikan, tidak adanya kesempatan bertanya bagi sasaran, bila ada jumlahnya sangat
dibatasi dan menggunakan alat peraga untuk mempermudah pengertian. Keuntungan metode
ceramah ialah murah dan mudah menggunakannya, waktu yang diperlukan dapat

81

dikendalikan oleh penyuluh, dapat diterima oleh sasaran yang tidak dapat membaca dan
menulis, penyuluh dapat menjelaskan dengan menekankan bagian yang penting. Kerugian
metode ceramah adalah tidak dapat memberikan kesempatan kepada sasaran untuk
berpartisipasi secara pro aktif (sasaran bersifat pasif), cepat membosankan jika ceramah yang
disampaikan kurang menarik sasaran, pesan yang disampaikan mudah untuk dilupakan oleh
sasaran, sering menimbulkan pengertian lain apabila sasaran kurang memperhatikan.
2. Demonstrasi
Demonstrasi adalah suatu cara untuk menujukkan pengertian, ide, dan prosedur tentang
sesuatu hal yang telah dipersiapkan dengan teliti untuk memperlihatkan bagaimana cara
melaksanakan suatu tindakan, adegan dengan menggunakan alat peraga. Metode ini
dipergunakan pada kelompok yang tidak terlalu besar jumlahnya. Ciri-ciri demonstrasi:
memperlihatkan pada kelompok tersebut prosedur untuk membuat sesuatu, dapat meyakinkan
peserta bahwa mereka dapat melakukannya, dan dapat meningkatkan minat sasaran untuk
belajar. Keuntungan demonstrasi: kegiatan ini dapat memberikan suatu keterampilan tertentu
kepada kelompok sasaran, dapat memudahkan berbagai jenis penjelasan karena penggunaan
bahasa yang lebih terbatas, membantu sasaran untuk memahami dengan jelas jalannya suatu
proses prosedur yang dilakukan. Kerugian demonstrasi adalah tidak dapat dilihat oleh sasaran
apabila alat yang digunakan terlalu kecil atau penempatannya kurang pada tempatnya, uraian
atau penjelasan yang disampaikan kurang jelas, waktu yang disediakan terbatas sehingga
sasaran tidak dapat diikutsertakan.
3. Praktik
Praktik adalah cara untuk melihat tindakan yang dilakukan seseorang apakah sudah sesuai
dengan yang diinstruksikan. Untuk mengetahui keterampilan murid dalam menyikat gigi yang
baik dan benar dilakukan praktik menyikat gigi secara bersama-sama (Lusiani, 2010).

82

DAFTAR PUSTAKA
1. Green L., 1979.

National Policy on the Promotion of Health.

Int J Health

Education;22:161-168.
2. WHO. 1986. The Ottawa Charter for Health Promotion. Ottawa: WHO.
3. Rootman, I., et al. 2001. Evaluation in Health Promotion: Principles and Perspective.
WHO Regional Publications, European Series, No. 92.
4. Davies, M.; Macdowall, W. 2006. Health Promotion Theory. Berkshire: McGraw-Hill.
5. Lusiani, Y. 2010. Efektivitas Penyuluhan Yang Dilakukan Oleh Perawat Gigi Dan Guru
Orkes Dalam Meningkatkan Perilaku Pemeliharaan Kesehatan Gigi Dan Mulut Pada
Murid Sd Negeri 060973 Di Kecamatan Medan Selayang. Medan: Universitas Sumatera
Utara.

83

INTERVENSI MOTIVASIONAL SEDERHANA


Dra.Yayi Suryo Prabandari, MSi, PhD
Editor: Totok Harjanto, S.Kep., N.s.,M.Kes
Pendahuluan
Intervensi motivasional telah dikenalkan selama beberapa waktu di bidang kesehatan, terutama
dalam hubungan tenaga kesehatan dan pasien. Intervensi ini dikembangkan untuk mengatasi
keterbatasan waktu yang dimiliki tenaga kesehatan, sehingga tenaga kesehatan yang mempunyai
waktu yang singkat dapat melakukan intervensi ini sesuai dengan kewenangan masing-masing.
Dalam praktek kesehariannya, tenaga kesehatan mempunyai kewajiban untuk melakukan edukasi
pada pasien. Edukasi pasien akan mempunyai dampak yang bermakna bila diberikan dengan
memasukkan unsur memberikan motivasi pada pasien agar pasien tahu, mampu dan mau
melakukan nasehat yang diberikan oleh tenaga kesehatan.
Definisi dan pengertian
Intervensi motivasional didefinisikan sebagai:
Therapeutic style intended to help clinicians work with patients to address the patients
fluctuation between opposing behaviors and thoughts. (sumber Miller and Rollnick,
Motivational Interviewing, 1991).
Secara sederhana, intervensi motivasional merupakan langkah bagi tenaga kesehatan untuk
memotivasi pasien untuk mengikuti nasehat, terutama pasien yang belum mempunyai pikiran
dan keinginan untuk berubah (menuju keadaan sehat ). Sebagai contoh, pasien PTM (penyakit
tidak menular), seperti diabetes, diharuskan untuk mengikuti pola makan yang lebih sehat,
mengurangi gula, garam dan lemak. Tidak semua pasien akan langsung mengikuti nasehat tenaga
kesehatan untuk mengatur pola makan, karena makan dengan pengaturan tidak sederhana dan
belum tentu menyenangkan pasien. Oleh karena itu, pasien perlu dimotivasi.
Jenis Intervensi Motivasional
Dalam intervensi motivasional terdapat empat jenis intervensi, yaitu:
1.

Cognitive Recognition of the problem (e.g., "I guess this is more serious than I thought.")

84

Dalam hal ini seorang profesional kesehatan, untuk memberikan motivasi awal, perlu
mengenalkan pemahaman pasien mengenai penyakit dan keseriusan penyakitnya. Sebagian
pasien mempunyai pemahaman bahwa penyakitnya dan terutama kebiasaannya tidak
mempunyai dampak yang serius. Sebagai contoh, penting bagi seorang yang mempunyai
hipertensi untuk mengelola pola makan dan pola istirahat. Bila tenaga kesehatan mengatakan
bahwa pasien perlu atur makan dan istirahat, hal ini perlu dinyatakan dengan serius, sebagai
contoh (pernyataan dapat dikemukakan dengan berbagai variasi, tidak harus sama persis
dengan di bawah):
Pak Adi, tekanan darah Bapak dalam 3 bulan ini tidak menurun meskipun sudah
minum obat. Meskipun saya akan meninjau kembali obatnya, namun saya perlu
memberitahu Bapak kalau Bapak harus mengatur pola makan dan mencoba untuk
mengurangi pekerjaan. Seperti saya jelaskan sebelumnya, bila tekanan darah tidak
terkendali, risikonya bisa serius, salah satunya adalah terkena serangan stroke. Bapak
nanti dapat pulih dari stroke, namun aktifitas Bapak tidak akan sama seperti sebelum
stroke. Hanya sebagian pasien stroke pulih seperti sediakala, namun setelah melalui
perjuangan yang panjang melalui fisioterapi yang intensif dan waktu yang tidak
singkat. Silakan pertimbangkan antara manfaat dan risikonya Pak Adi. Selain minum
obat secara teratur, Bapak perlu istirahat cukup dan mengatur makan. Saya akan
rujukkan ke ahli gizi supaya Bapak bisa memilih menu yang sesuai tanpa
menghilangkan makanan favorit Bapak. Memang di awal agak merepotkan, harus
memikirkan makan dan mengurangi perkerjaan, yang bisa juga mengurangi
pendapatan, namun manfaat ke depannya, tekanan darah terkendali dan keseriusan
penyakit dapat dicegah
Untuk konteks kehidupan sehari-hari mahasiswa kedokteran yang diberi keluhan teman
tentang kondisi kesehatan, contoh berikut dapat dipelajari:
Sebaiknya Rini pertimbangkan untuk pergi ke dokter, saya masih mahasiswa, belum
menjadi seorang dokter, masih ada keterbatasan dalam pemahaman tentang penyakit.
Dari cerita yang tadi Rini sampaikan, bahwa menstruasinya tidak teratur selama 2

85

tahun terakhir, lebih baik Rini berkonsultasi ke dokter, apalagi Rini merencanakan 2
tahun lagi menikah dan ingin punya anak. Pikirkanlah risikonya kalau nanti
keadaannya tidak sesederhana yang Rini katakan bahwa hanya ketidakteraturan
Upaya mengenalkan pasien atau teman pada keseriusan penyakit atau gejalanya diperlukan
agar mereka akhirnya juga menyatakan bahwa jadi.sakit saya ini serius ya dok?
2. Affective Expression of concern about the perceived problem (e.g., "I'm really worried
about what is happening to me.")
Dalam hal ini dokter perlu menimbulkan ekspresi perasaan untuk kemudian diharapkan
ekspresi perasaan tenaga kesehatan akan membawa pada sentuhan pada emosi pasien.
Contoh berikut ini menunjukkan ekspresi perasaan:
Saya

kuatir jika mas Rudy tetap melanjutkan kebiasaan merokoknya, sesak

nafasnya tidak akan berkurang, dan bahkan lebih parah


Untuk konteks kehidupan mahasiswa, pernyataaan atau ekspresi perasaan dapat
dikemukakan seperti berikut:
Wah senang sekali kalau Rizal bisa mencoba berhenti merokok, sebagai teman
yang kebetulan baru mendapat kuliah tentang akibat merokok, saya sekarang
sangat kuatir kalau melihat teman yang masih merokok
Sebaliknya, pasien dapat mengatakan pada tenaga kesehatan kekuatiran mereka terhadap
sakitnya, dan intervensi motivasional yang dilakukan untuk pasien yang seperti ini adalah
menjelaskan tentang penyakitnya serta merefleksikan tentang kekuatiran mereka.
Penjelasan ada di bagian berikutnya tentang refleksi.

86

3. A Direct or Implicit Intention to change behavior (e.g., "I've got to do something about
this.")
Tenaga kesehatan dapat memberikan pernyataaan yang mendorong pasien untuk
melakukan perubahan, sebagai contoh:
Saya ingin membantu agar bu Riza bisa segera melakukan dietnya
Contoh untuk konteks mahasiswa adalah sebagai berikut:
Ayo saya temani Rina ke dokter, supaya Rina bisa tahu keadaan sebenarnya dan
sayapun sekalian belajar
Dalam konteks pasien yang menyatakan niatnya untuk mengubah perilakunya, misalnya
saja pasien akhirnya ingin berhenti merokok, tenaga kesehatan dapat melakukan
penguatan untuk mempertajam niatnya dan mewujudkan niatnya, seperti contoh berikut
Bagus sekali Bastian ingin berhenti merokok, kapan akan mulai berhenti?
Sebentardua hari lagi tahun baru, mengapa tidak mencoba berhenti di tahun
baru, sekalian melakukan resolusi?
4. Optimism about one's ability to change (e.g., "I know that if I try, I can really do it.")
Tenaga kesehatan juga perlu meyakinkan pasiennya agar mereka dapat mewujudkan
keinginan untuk mengikuti nasehat tenaga kesehatan atau ingin berubah. Agar perilaku
dapat diubah, seseorang perlu mempunyai keyakinan diri (atau disebut sebagai efikasi
diri) untuk dapat berubah. Contoh berikut adalah melanjutkan contoh di uraian
sebelumnya
Bastian pasti bisa berhenti merokok, bukankah tahun lalu pernah mencoba?
Sekali ini cobalah tetapkan niatnya, pikirkan manfaatnya yang lebih besar
daripada risiko bila Bastian meneruskan kebiasaan merokoknya. Saya yakin kalau
Bastian sudah menimbang antara manfaat dan risikonya, pasti Bastian juga yakin
bila bisa berhenti merokok

87

Bila pasien yang mengatakan bahwa dia yakin bisa mengubah perilakunya (sebagai
contoh, mengubah pola makannya), tenaga kesehatan tinggal menambah keyakinan
tersebut dengan menguatkan keyakinannya.
Tipe pasien yang resisten
Intervensi motivasional sebagian dilakukan untuk menghadapi beberapa pasien yang mempunyai
karakteristik ataupun ciri yang dapat dikategorikan sebagai pasien yang resisten. Penjelasan
tentang jenis pasien langsung di bagian ini, namun cara untuk menghadapi dipaparkan pada
bagian keterampilan motivasional. Ada empat jenis pasien resisten, yaitu:
1. Arguing
The patient contests the accuracy, expertise or integrity of the clinician.
Pasien dapat berargumentasi dengan tenaga kesehatan karena pasien meragukan keahlian
atau integritas mereka. Di era keterbukaan informasi dan teknologi, pasien di kota besar
yang sebagian berpendidikan menengah dan tinggi mempunyai akses terhadap informasi.
Semua penyakit dapat dicari informasinya secara virtual, meskipun sumbernya adalah
popular,

sehingga

terkadang

mereka

membawa

informasi

tersebut

untuk

diargumentasikan ke dokternya. Sebagai contoh, pasien akan mengatakan berikut Saya


kemarin mencari tahu di internet dok soal merokok ini, katanya justru merokok
dapat melindungi dari Alzheimer, atau Mengapa saya harus diet Dok?, bukankah
dokter sudah memberi saya obat pengendali gula darah dan saya sudah minta yang
terbaik?
2. Interrupting
The patient breaks in and interrupts the clinician in a defensive manner.
Pasien jenis ini terkadang menyela dan melakukan interupsi pada saat tenaga kesehatan
sedang berbicara. Interupsi pasien dilakukan untuk pertahanan diri, sebagai contoh,
dokter sedang berbicara tentang bahaya asap rokok terhadap kondisi anak yang sedang
sakit maaf dokter, sejak dulu di keluarga kami banyak perokoknya, dan baru
anak saya yang sakit asma, mungkin diturunkan dari istri saya dok, bukan karena
asap rokok saya.

88

3. Denying
The patient expresses unwillingness to recognize problems, cooperate, accept
responsibility, or take advice
Pasien dengan tipe ini melakukan ekspresi ketidakinginannya untuk menjalankan nasehat
tenaga

kesehatan

atau

memahami

permasalahan

yang

dihadapi,

dan

tidak

koperatif.Sebagai contoh, pada saat dokter mendorong agar keduabelah pihak (suami dan
istri) diperiksa supaya dapat diketahui permasalahan dan dibantu penyelesaian masalah
untuk ingin anak, suami mengatakan berikut Mengapa saya harus juga diperiksa
dok? Bukankah yang akan hamil istri saya? Ya istri saya saja dok yang mengikuti
pemeriksaan-pemeriksaan yang dokter sebutkan tadi, saya teratur berhubungan
dengan dia, saya sehat, tidak pernah merokok, tidak minum-minum, dan futsal
teratur, seminggu 2 kali
4. Ignoring
The patient shows evidence of ignoring or not following the clinician.
Pasien jenis ini memperlihatkan bukti bahwa dia tidak mengikuti nasehat tenaga
kesehatan, bahkan terkadang terlihat bangga menunjukkan ketidakpatuhannya terhadap
nasehat tenaga kesehatan. Sebagai contoh adalah pasien berikut Nah dok, tekanan
darah saya sudah turun dua minggu lalu, kebetulan saya mengantar istri ke
Puskesmas dan saya sekalian minta ditensi. Tekanan darahnya sudah tidak seperti
bulan lalu, padahal saya belum minum obat yang diberikan oleh dokter, saya lupa
terus untuk menebus di apotik, tapi saya coba mengurangi gorengan saja, begitu
saja sudah turun dok..saya hari ini menemui dokter karena ingin supaya saya
tidak usah minum obat saja, em.saya paham kalau saya seharusnya minum
obat..tapi kalau hidup sehat bukankah tekanan darah dapat terkendali dok?

89

Keterampilan Motivasional
Keterampilan motivasional dapat dilakukan dengan beberapa cara. Cara berikut akan
melanjutkan contoh pasien yang ada dalam bagian jenis pasien yang resisten.
1.

Simple reflection
The simplest approach to responding to resistance is with nonresistance, by
repeating the patient's statement in a neutral form. This acknowledges and validates what
the patient has said and can elicit an opposite response.
Pendekatan terbaik untuk merespon resistensi adalah dengan melakukan yang disebut
non resisten, dengan cara mengulang pernyataan pasien dengan cara netral. Hal tersebut
untuk mengakui dan memvalidasi perkataan pasien dan kemudian tenaga kesehatan dapat
memberikan respon sebaliknya. Sebagai contoh untuk pasien yang arguing dan mengatakan
Saya kemarin mencari tahu di internet dok soal merokok ini, katanya justru merokok
dapat melindungi dari Alzheimer, dokter dapat mengatakan sebagai berikut :
Bapak tadi mengatakan kalau telah mencari informasi tentang merokok di
internet dan menemukan bahwa merokok dapat melindungi dari Alzheimer. Saya
senang Bapak dapat mencari tahu tentang merokok dan akibatnya. Saya juga pernah
membaca hasil penelitian tersebut di jurnal ilmiah, dan memang demikian hasilnya,
namun penelitiannya masih memerlukan penelitian lanjutan. Saya mengingatkan
Bapak saja, bahwa baru satu penyakit tersebut yang terlindungi oleh perilaku
merokok, sementara masih banyak penyakit yang lebih dari puluhan diakibatkan oleh
perilaku merokok dan telah didukung oleh lebih dari ratusan ribu kajian ilmiah.
Bapak pertimbangkan saja, merokok melindungi satu penyakit, namun menyebabkan
lebih banyak penyakit

2. Shifting focus
You can defuse resistance by helping the client shift focus away from obstacles and
barriers. This method offers an opportunity to affirm your client's personal choice
regarding the conduct of his own life.
Keterampilan lainnya untuk memotivasi adalah memindah. Tenaga kesehatan dapat
melebur resistensi dengan membantu fokus pasien jauh dari hambatan dan tantangan.
Metode tersebut akan menawarkan kesempatan untuk meneguhkan pilihan personal
pasien untuk hidupnya. Untuk pasien yang menyela dokter dan mengatakan berikut

90

maaf dokter, sejak dulu di keluarga kami banyak perokoknya, dan baru anak saya
yang sakit asma, mungkin diturunkan dari istri saya dok, bukan karena asap rokok
saya.. Dokter bisa mengatakan sebagai berikut:
Begini pak, saya tadi mengatakan tentang asap rokok dan saya hanya ingin
menjelaskan bahwa salah satu pemicu asma putra Bapak adalah asap rokok. Bapak
tentnnya ingin putra Bapak asmanya tidak sering kambuh. Bila Bapak belum ingin
untuk berhenti merokok, silakan Bapak merokok di luar rumah dan tidak di dekat
putra Bapak bila sedang di luar rumah. Bila tidak sering terpapar asap, putra
Bapak mudah-mudahan bisa sehat dan tidak kambuh lagi asmanya
3. Reframing
A good strategy to use when a client denies personal problems is reframing--offering
a new and positive interpretation of negative information provided by the client. Reframing
acknowledges the validity of the client's raw observations, but offers a new meaning.
Dalam melakukan motivasi, keterampilan untuk reframing atau membingkai kembali
pernyataan, diperlukan. Strategi ini dapat digunakan pada saat pasien menyangkal
masalahnya dan dokter dapat menawarkan interpretasi baru dan positif dari informasi
negative yang diberikan pasien. Pembingkaian kembali merupakan pengakuan dari akurasi
pengamatan kasar pasien, namun menawarkan arti baru. Sebagai contoh untuk pasien yang
mengatakan berikut Mengapa saya harus diet Dok?, bukankah dokter sudah memberi
saya obat pengendali gula darah dan saya sudah minta yang terbaik, dokter dapat
mengatakan seperti contoh berikut :
Bu Yayuk, saya bulan yang lalu telah memberikan obat pengendali gula darah
seperti yang Ibu inginkan, dan seperti juga telah saya katakan pada perjumpaan
bulan lalu, kadar gula dalam darah sebaiknya dikendalikan tidak hanya dengan
obat saja, tetapi juga hidup sehat, termasuk mengatur pola makan. Saya perlu
menjelaskan bahwa diet adalah pengaturan pola makan bu, dan nanti dengan
bantuan ahli gizi, yang lebih menguasai soal gizi daripada saya, Bu Yayuk akan
dapat mendiskusikan cara mengatur pola makan ini dengan tidak meninggalkan
makanan kesayangan Bu Yayuk dan disesuaikan dengan kebiasaan bu Yayuk yang
cukup sibuk. Obat pengendali gula darah akan mempunyai efek yang lebih optimal
bila disertai dengan menjalankan hidup sehat, yaitu mengatur pola makan, olah

91

raga teratur dan terukur, serta menghindari asap rokok. Selain gula darah akan
terkendali, bu Yayuk akan lebih sehat dan bugar, dan bisa produktif dalam
bekerja
4. Rolling with resistence
a. Momentum can be used to good advantage.
b. Perceptions can be shifted.
c. New perspectives are invited but not imposed.
d. The client is a valuable resource in finding solutions to problems.
Keterampilan

berikutnya

untuk

melakukan

intervensi

motivasional

adalah

memutarbalikkan resistensi dengan menggunakan momentum (misal, kekambuhan atau


alasan menemui dokter). Selain itu persepsi pasien bisa diubah dan perspektif baru
diperkenalkan, meski tidak dipaksakan, pasien dapat menjadi sumber penyelesaian
masalah. Untuk menghadapi pasien yang seperti contoh berikut Mengapa saya harus
juga diperiksa dok? Bukankah yang akan hamil istri saya? Ya istri saya saja dok
yang mengikuti pemeriksaan-pemeriksaan yang dokter sebutkan tadi, saya teratur
berhubungan dengan dia, saya sehat, tidak pernah merokok, tidak minum-minum,
dan futsal teratur, seminggu 2 kali. Dalam kasus ini, dokter dapat memberikan contoh
pernyataan sebagai berikut:
Pak Kun merasa sehat dan telah menjalankan hidup sehat, semoga kebiasaan
makan dan istirahatnya juga demikian. Saya masih ada beberapa pertanyaan lagi,
namun sebelum saya bertanya, saya ingin mengatakan terima kasih Pak Kun telah
datang menemui saya bersama ibu. Pemeriksaan pada pasangan akan lebih akurat,
meskipun yang akan hamil adalah ibu, karena kehamilan bisa terjadi sebagai hasil
dari kolaborasi pasangan. Satu orang saja diperiksa belum dapat menyelesaikan
permasalahan.Kita lihat sisi yang menyenangkan dahulu pak Kun, kebersamaan
dalam menjalani pemeriksaan akan bisa berefek pada kerekatan hubungan Pak
Kun dan ibu, dan bila nanti ditemukan adanya permasalahan di salah satu
pasangan, penyelesaiannya dapat dijalani bersama, apalagi kalau Pak Kun bisa
mengajak ibu untuk menjalankan hidup sehat yang selama ini telah dijalani

92

5. Siding with the negative


One more strategy for adapting to patient resistance is to "side with the negative"-to take up the negative voice in the discussion. If your client is ambivalent, your taking
the negative side of the argument evokes a "Yes, but..." from the patient, who then
expresses the other (positive) side.
Strategi berikutnya untuk intervensi motivasional adalah mengatasi ambivalensi
pasien. Ambivalensi adalah kebingungan dalam memilih pilihan yang kadang-kadang
terjadi karena hambatan dalam melakukan nasehat dokter. Sebagai contoh, pasien tahu
bahwa dia harus mengatur pola makan, namun pekerjaannya menghambat dia untuk
dapat mengatur pola makan , sehingga dia mengatakan yasaya mengerti Dok kalau
saya seharusnya diet, namun... Strategi ini mengangkat sisi negatif pasien dan
kemudian mengangkat sisi lainnya (sisi positif). Untuk menghadapi pasien yang
mengatakan seperti ini Nah dok, tekanan darah saya sudah turun dua minggu lalu,
kebetulan saya mengantar istri ke Puskesmas dan saya sekalian minta ditensi.
Tekanan darahnya sudah tidak seperti bulan lalu, padahal saya belum minum obat
yang diberikan oleh dokter, saya lupa terus untuk menebus di apotik, tapi saya coba
mengurangi gorengan saja, begitu saja sudah turun dok..saya hari ini menemui
dokter karena ingin supaya saya tidak usah minum obat saja, em.saya paham
kalau saya seharusnya minum obat..tapi kalau hidup sehat bukankah tekanan
darah dapat terkendali dok?. Dokter disini dapat mengatakan seperti contoh berikut:
Saya senang mendengar pak Wahyu sudah tidak makan gorengan lagi.
Memang tekanan darah Pak Wahyu dibanding sebulan yang lalu sudah turun pak
dan lebih bagus lagi kalau selalu dikendalikan. Pak Wahyu mengatakan kalau telah
memahami bahwa tekanan darah perlu dikendalikan dengan obat, karena semoga
masih ingat penjelasan saya bulan lalu, ada factor usia yang tidak bisa diubah dan
faktor lainnya selain mengatur makan dengan salah satunya menghindari
gorengan. Pak Wahyu bulan lalu tekanan darahnya sudah masuk kategori tinggi,
dan berdasarkan rekam medis yang ada di klinik perusahaan ini beberapa waktu
yang lalu tekanan darah pak Wahyu juga pernah dalam kategori tinggi. Bulan
depan pak Wahyu akan berusia 52 tahun, sebaiknya dikendalikan dulu dengan
obat. Menjalankan hidup sehat akan bisa memperkuat hasil kerja obat pak. Untuk

93

mereka yang tekanan darahnya belum pernah dalam kategori tinggi, tidak
mengkonsumsi obat dan hanya menjalankan hidup sehat masih dapat dianjurkan
6. Self efficacy
a. The belief that one can perform a behavior or accomplish a particular task
b. Belief in the possibility of change is an important motivator.
c. The client is responsible for choosing and carrying out personal change.
d. There is hope in the range of alternative approaches available.
Self efficacy atau efikasi diri merupakan keyakinan seseorang untuk dapat
melakukan tindakan atau menjalankan tugas. Keyakinan ini diperlukan untuk mengubah
perilaku karena keyakinan untuk dapat berubah adalah motivator utama. Dalam
intervensi motivasional, tenaga kesehatan perlu mendorong keyakinan pasien untuk dapat
mengikuti nasehat. Dorongan terhadap keyakinan disesuaikan dengan perubahan yang
diinginkan terjadi oleh pasien dan dipilih dari beberapa pendekatan. Sebagai contoh
adalah pernyataan dokter berikut:
Saya yakin mas Heru dapat berhenti merokok, bukankah tadi mas Heru
mengatakan sudah sebulan ini berusaha dan berhasil mengurangi jumlah rokok,
dari 2 bungkus menjadi 1 bungkus. Dikuatkan kembali niatnya mas Heru, pelajari
hasil sebulan ini, kalau mengurangi sudah berhasil, berarti bukan tidak mungkin
mas Heru bisa menghentikan.Tadi mas Heru juga cerita kalau calon istri sangat
mendukung keputusan untuk berhenti merokok. Calon istri dapat diminta tolong
untuk selalu mengingatkan dan menjelang pernikahan, saya kira mas Heru akan
sibuk berdua dengan calon istri untuk mempersiapkan. Gunakan kesibukan
tersebut untuk melupakan rokoknya, momen yang tepatmas Heru pasti bisa
berhenti merokok
7. Avoiding arguments
Arguments are counterproductive.
Defending breeds defensiveness.
Resistance is a signal to change strategies.
Labeling is unnecessary.
Menghadapi pasien atau sesorang yang resisten dan berargumen, hindarilah
melawan argumentasinya, karena melakukan argumentasi yang cenderung debat kusir

94

adalah counter productive .Mempertahankan diri mengembangkan sifat bertahan.Resisten


adalah tanda untuk mengubah strategi dan melakukan penyebutan (pasien ini pasti mau
bertahan, pasien ini pasti nanti menjawab bagini) adalah tidak perlu. Sebagai contoh
untuk mengatasi pasien atau seseorang yang tidak mau berhenti merokok dan
memberikan penjelasan panjang lebar mengenai alasan tetap merokoknya, dapat dihadapi
dengan memberikan pernyataan berikut:
Sebagai seorang dokter (atau bila konteksnya mahasiswa sebagai mahasiswa di
kesehatan) sudah merupakan kewajiban saya untuk mengingatkan pasien (atau
Anda) untuk berhenti merokok
8. Open ended questions
Asking open-ended questions helps you understand your clients' point of view and
elicits their feelings about a given topic or situation. Open-ended questions facilitate
dialog; they cannot be answered with a single word or phrase and do not require any
particular response.
Dalam melakukan intervensi motivasional, meskipun sederhana, gunakanlah lebih
banyak pertanyaan terbuka. Pertanyaan terbuka akan dapat membantu memahami
pandangan pasien dan perasaan mereka terhadap satu topic atau situasi. Pertanyaan
terbuka juga dapat memfasilitasi dialog, karena tidak dapat dijawab hanya dengan kata
tunggal, ya atau tidak. Berikut adalah contoh pertanyaan terbuka:
Bu Ruth tadi mengatakan kalau lebih baik olah raganya dikuatkan daripada diet,
apakah Bu Ruth dapat menjelaskan lebih lanjut?
9. Listen reflectively
Reflective listening is a way of checking rather than assuming that you know what
is meant.
Mendengar secara reflektif adalah strategi dalam intervensi motivasional.
Menyampaikan paraphrase (menyatakan kembali perkataan lawan bicara dengan bahasa
kita sendiri) yang dikatakan oleh lawan bicara merupakan cara untuk menunjukkan
bahwa kita mendengarkan. Sebagai contoh untuk menyambung contoh Mengapa saya
harus diet Dok?, bukankah dokter sudah memberi saya obat pengendali gula darah
dan saya sudah minta yang terbaik.

95

Dokter dapat menunjukkan mendengarkan secara reflektif dengan:


Bu Retno menanyakan keharusan untuk diet karena saya telah memberikan obat
pengendali gula darah..
10. Expressing empathy
a. Empathy communicates acceptance, while supporting the process of change.
b. Acceptance facilitates change.
c. Clinician seeks to build up rather than tear down.
d. Skillful reflective listening is fundamental to expressing empathy.
Keterampilan untuk melakukan empati merupakan keterampilan dalam
memotivasi selanjutnya dan keterampilan ini akan dipelajari pada pembelajaran dan
skills lab. Oleh karena itu buku panduan ini membantu untuk memperkenalkan dan
untuk menguatkan. Tabel 1 menunjukkan tahapan empati dan contohnya untuk
memberikan motivasi sederhana.
Tabel 1. Tahapan empati dan contoh untuk memotivasi

Empathy level

Penjelasan

Contoh

Denial of patient

Tidak merespon pasien Mengalihkan pembicaraan pada saat pasien

perspective,

Menghindari

mengatakan kalau sulit mengatur pola

perspektif pasien

makan
Bu Rita bekerja dimana ya?

Perfunctory

Merespon perspektif

recognition of

pasien dengan sekilas

oo begitu pak Soleh.

patient perspective
2

Implicit recognition

Secara implisit

Sulit ya bu Rita untuk diet, bagaimana

of patient

mengenali perspektif

usaha toko roti barunya bu?

perspective

pasien

Acknowledgement

Mengenali dan

Saya bisa memahami kesulitan Pak

mengapresiasi

Radi untuk berhenti merokok, karena

perspektif pasien

pekerjaannya sebagai wartawan yang


dikelilingi oleh banyak perokok

Confirmation

Mengakui atau

Memang

tidak

mudah

untuk

96

mengkonfirmasi

meyakinkan pasangan agar bersedia


mengikuti pemeriksanaan bu Yuli, saya
bisa

membayangkan

reaksi

Bapak

nanti
5

Statement of shared

Memberikan

Mengatur pola makan memang bukan

feeling or

pernyataan tentang

hal yang mudah bu Joko, beberapa

experience

rasa atau pengalaman

pasien saya juga menghadapi beberapa


kendala, dan mereka juga bercerita
panjang cara mengatasinyakita bisa
mendiskusikannya
Joko.barangkali

bu
ada

yang

sesuai

dengan yang diinginkan bu Joko


11. Affirm
When it is done sincerely, affirming your patient supports and promotes self-efficacy
Memberikan afirmasi atau menguatkan pasien dengan dukungan dan meyakinkan pasien
bahwa mereka bisa melakukan diperlukan untuk menutup intervensi motivasional
sederhana.

97

BAB XI
COMMUNITY ACTION AND COMMUNITY EMPOWERMENT
dr.Hikmawati,M.Med.Ed.
Community and Family Health Care (CFHC) merupakan suatu kegiatan pembelajaran
berbasis pada masyarakat/komunitas. Secara tidak langsung, kegiatan ini hendaknya memberikan
manfaat bagi komunitas/masyarakat setempat. Banyak hal yang dapat diberikan kepada
masyarakat. Bab ini akan membahas mengenai empowering community dan strategi dalam
empowering community.
Empowering community atau pemberdayaan masyarakat adalah sebuah pengaturan
mendasar untuk mengatasi permasalahan sosial dan memperbaiki kondisi yang ada (Drier, 1996).
Dalam hal kesehatan, tujuan utama yang akan dicapai adalah perbaikan kesehatan pada
masyarakat, sehingga hal hal yang dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat menjadi
komponen inti yang akan terlibat dalam kegiatan empowering community.
Stakeholder sebagai fasilitator dalam empowering community dapat membuat sebuah
kegiatan pemberdayaan masyarakat secara efektif dengan beberapa cara. Secara umum, Laverack
(2005) mengatakan bahwa kegiatan empowering community dapat dibagi menjadi sembilan
domain:

peningkatan

partisipasi

masyarakat,

mengembangkan

kepemimpinan

lokal,

meningkatkan kapasitas penilaian masyarakat, meningkatkan kemampuan dalam menanyakan


mengapa, membangun struktur organisasi yang efektif dan efisien, meningkatkan sumbersumber yang memiliki mobilitas tinggi, menguatkan hubungan antara organisasi dan masyarakat,
membuat sebuah hubungan eksternal dengan pihak-pihak luar tertentu, dan meningkatkan
kontrol terhadap manajemen program pemerintah. Namun, kunci sebuah program pemberdayaan
masyarakat dapat berhasil terletak pada masyarakat itu sendiri, sehingga proses belajar
masyarakat lah yang sangat diperlukan dalam setiap program pemberdayaan masyarakat. Dalam
mengenalkan masyarakat terhadap proses belajar mereka tidaklah mudah. Dua metode yang saat
ini sudah dikenal secara luas adalah PAR (Participated Action Research) dan PRA
(Participation Rural Appraisal).

98

PAR (Participated Action Research) merupakan sebuah metode riset yang melibatkan
masyarakat. Secara spesifik, PAR merupakan sebuah metode berdasarkan pada refleksi, koleksi
data,

dan

aksi

yang

bertujuan

untuk

meningkatkan

kesehatan

dan

menurunkan

ketidakpemerataan kesehatan dengan melibatkan personal yang kemudian diharapkan melakukan


sesuatu yang akan meningkatkan kesehatan mereka sendiri (Baum, MacDougall, & Smith,
2006). Secara umum, PAR merupakan bagian dari action research yang memiliki siklus. Siklus
tersebut merupakan siklus proses perbaikan secara terus menerus. Diawali dengan sebuah
analisis terhadap masalah yang ada dalam masyarakat, kemudian perumusan penyelesaian
terhadap permasalahan yang ada. Perumusan penyelesaian masalah itulah yang kemudian
menjadi sebuah riset. Apabila riset tersebut telah dilaksanakan maka sebuah proses evaluasi
terhadap permasalahan akan menjadi tahap selanjutnya, sehingga kekurangan dari riset akan
menjadi pembelajaran dan riset yang berkelanjutan. Namun, untuk menjadi sebuah pembelajaran
bagi sebuah komunitas/masyarakat, ada beberapa hal yang menjadi perhatian atau prasyarat.
Menjadi sebuah pembelajaran bagi sebuah masyarakat memerlukan atensi dan partisipasi
dari masyarakat itu sendiri. Dalam hal atensi, kebutuhan masyarakat dan self-belonging
masyarakat terhadap masyarakat itu sendiri menjadi kunci keberhasilan dalam meraih atensi
masyarakat, sehingga menyadarkan masyarakat terhadap permasalahan mereka sendiri menjadi
titik awal dari proses pembelajaran. Proses awal tersebut tidaklah mudah. Ada beberapa cara
yang dapat dilakukan,diantaranya keterlibatan tokoh masyarakat (ToMa) atau melibatkan
organisasi yang ada dalam masyarakat tersebut. Harapannya, ToMa yang terlibat merupakan
tokoh kunci pada struktur masyarakat yang dituju, sehingga dapat terlibat secara langsung dalam
menentukan penelitian yang akan dilaksanakan.
Selanjutnya, analisis dan refleksi terhadap hasil penelitian juga memegang peranan
penting. Analisis hendaknya dilakukan terhadap data penelitian dan penelitian itu sendiri,
sehingga didapatkan gambaran secara menyeluruh terhadap proses. Setelah itu, hasil analisis
tersebut ditelaah secara seksama oleh seluruh pihak yang terlibat, termasuk masyarakat.
Harapannya, masyarakat mampu merefleksikan dan mengambil sebuah pelajaran dari proses
penelitian tersebut. Kedua proses yang terletak diakhir ini merupakan kunci keberhasilan dari
empowering the community.

99

Oleh karena itu, dalam menyelenggarakan PAR, beberapa tahap harus dilalui, di antaranya:
1.

Penentuan masalah, isu, atau perubahan yang diinginkan secara bersama-sama, kemudian
membentuk sebuah komunitas penelitian yang anggotanya adalah tim peneliti dan beberapa
wakil masyarakat yang ditunjuk.

2.

Pertemuan dalam mengkolaborasikan awal antara tim peneliti dan masyarakat setempat
untuk dapat merumuskan sebuah metode dan rencana penelitian yang akan dikerjakan secara
bersama-sama.

3.

Merumuskan aksi-aksi yang sesuai dengan metode dan rencana penelitian.

4.

Pelaksanaan aksi-aksi sehingga tampak outcome yang diharapkan yang kemudian


diobservasi baik oleh komunitas penelitian dan masyarakat yang tertarik dengan penelitian
ini.

5.

Refleksi terhadap aksi dan outcome yang dihasilkan dari aksi yang telah dilakukan.

6.

Refleksi ini mengarahkan kepada sebuah assessment yang akan menilai efektifitas aksi
pertama, kemudian akan berlanjut kepada fase awal siklus selanjutnya

7.

Jikalau dalam refleksi menilai aksi yang pertama tidak berhasil ataupun kurang sesuai
dengan harapan, maka outcome yang dihasilkan dari aksi pertama akan menjadi
pertimbangan pada siklus berikutnya dengan merumuskan sebuah aksi yang baru dan
mungkin berbeda dengan aksi yang pertama.

8.

Siklus ini akan terjadi terus menerus sehingga didapatkan hasil yang diinginkan secara
bersama-sama. (Walter, 2009)
Beberapa keuntungan dan kerugian dari metode PAR dipaparkan oleh Walter (2009).

Beberapa keuntungan dari PAR adalah PAR merupakan penelitian aplikatif yang dapat secara
langsung mengatasi permasalahan kesehatan yang ada pada masyarakat, sebuah penelitian
kolaboratif yang melibatkan masyarakat dan komunitas riset, penelitian berkomitment yang
memungkinkan masyarakat untuk mengenali dirinya sendiri-meningkatkan pengetahuanpenambahan memori secara kolektif, sebuah penelitian yang langsung menyasar permasalahan
penting yang real pada masyarakat dan diagnosis secara independen oleh masyarakat itu sendiri.
Sedangkan kerugian dari metode PAR adalah sebagai berikut: tidak adanya pemimpin penelitian,
sehingga dalam prosesnya sangat mungkin mengarah kepada sebuah penelitian yang kompetitif,
penelitian mungkin sulit untuk diaplikasikan karena keterlibatan masyarakat yang minimal.

100

Penelitian ini tidak memiliki agenda waktu yang jelas, sehingga sangat mungkin sulit untuk
menilai keberhasilan dari metode ini.
Salah satu contoh aplikasi metode adalah pengatasan permasalahan inklusivitas anakanak dengan disabilitas (Erwin, et al, 2012). Dengan adanya metode ini, diharapkan seluruh
masyarakat bersedia menerima dan memperlakukan anak dengan disabilitas tanpa ada perbedaan
yang mencolok. Namun, satu hal yang dipelajari dalam mengimplementasikan PAR pada kasus
ini adalah pentingnya partisipasi dari seluruh masyarakat yang ada.
PRA (Participation Rural Appraisal)
PRA (Participation Rural Appraisal) merupakan sebuah metode yang memberi
kesempatan bagi sebuah komunitas untuk bekerja sama dengan penyedia jasa resmi untuk
mengidentifikasi, menganalisis secara kritis permasalahan yang mereka hadapi sesuai dengan
kemampuan, dan nilai yang mereka miliki, sehingga perubahan itu bisa diaplikasikan secara
mandiri oleh komunitas itu sendiri (Bar-On & Prinsen, 1999). Perbedaan mendasar dengan PAR
adalah pada metode PRA masyarakat tidak terlibat secara langsung dalam penelitiannya. Dalam
artian, pada metode PRA ini penelitian dilakukan oleh sebuah organisasi resmi (baik NGO
ataupun non-NGO), sehingga topik, subjek, dan metode yang dipilih akan tergantung pada agen
yang telah ditunjuk.
Prinsip-prinsip dalam penyelenggaraan PRA dapat dijabarkan ke dalam enam hal: belajar
aktif, triangulasi, fleksibilitas, fokus pada kekuatan, kecukupan pengetahuan, dan analisis
ditempat(Bar-On & Prinsen, 1999). Masyarakat dianggap sebagai pembelajar yang aktif,
sehingga identifikasi masalah yang didapatkan oleh organisasi yang masuk merupakan
kesimpulan yang sebenarnya dari masyarakat. Adanya triangulasi terhadap tiga komponen PRA:
partisipan, alat, dan observasi terhadap lingkungan/lokasi. PRA bersifat sangat dinamis, tujuan
penelitian yang diselenggarakan sangat menyesuaikan dari kebutuhan atau identifikasi pada saat
itu yang sangat mungkin berubah mengikuti waktu. Organisasi akan berfokus terhadap
kelebihan/kekuatan yang dimiliki oleh masyarakat, tindakan aksi yang dipilih akan
memanfaatkan segala kelebihan atau kekuatan yang dimiliki sehingga kekurangan/kelemahan
atau permasalahan yang ada dapat diatasi. Kecukupan pengetahun sangat berpengaruh terhadap
proses penelitian yang ada karena proses penelitian tidak hanya akan berdasarkan pada data

101

instrument namun pada aksi yang dilakukan. Analisis biasanya akan dilakukan pada saat itu juga.
sehingga menunjang proses belajar masyarakat yang cepat.
Oleh karena itu, untuk keberhasilan sebuah metode PRA, langkah-langkah yang harus
dilakukan adalahsebagai berikut:
1.

Kunjungan awal

2.

Identifikasi lokaldan pelatihan ko-fasilitator lokal

3.

Koleksi data dan analisis

4.

Pertemuan masyarakat

5.

Identifikasi organisasi dan rencana aksi

6.

Perencanaan implementasi aksi oleh organisasi

7.

Evaluasi

8.

Pertemuan akhir dengan komunitas/masyarakat (Robinson, 2002)


Salah satu contoh PRA adalah perbaikan sanitasi desa di Alaska (Berardi, 1998). Program

PRA dilaksanakan oleh suatu organisasi pemerintahan dalam upayanya untuk mengatasi
peningkatan biaya kesehatan yang ditimbulkan oleh buruknya sanitasi. Diangkatnya program ini
disebabkan oleh identifikasi permasalahan dari program yang sebelumnya. Dikatakan bahwa
sulitnya mengubah sanitasi desa di Alaska berkaitan dengan budaya, nilai, dan kondisi desa.
Keberhasilan program ini terletak pada kerja sama yang baik dari penduduk lokal Alaska dengan
organisasi pelaksana program.

102

DAFTAR PUSTAKA
Baum, F., MacDougall, C., Smith, D.,2006. Participatory Action Research. Journal
Epidemiology Community Health,60:854857, DOI: 10.1136/jech.2004.028662
Bar-On A.A., Prinsen, G.,1999. Planning, communities, empowerment: An Introduction of
Participatory Rural Appraisal. International Social Work, 42(3): 277 - 294
Berardi, G.,1998. Application of Participatory Rural Appraisal in Alaska. Human Organization,
57(4): 438 446
Drier, P.,1996. Community empowerment Strategies: The Limits and Potential of Community
Organizing in Urban Neighborhood. A Journal of Policy Development and Research, 2(2):
121 159
Erwin, E.J., Puig, E.I., Everson, E.L., Beresford, M., 2012. Community and Connection in
Inclusive Early Childhood Education: A Participatory Action Research. Young Exceptional
Children. DOI: 10.1177/1096250612451759
Laverack , G., 2006. Using a domain approach to build community empowerment. Oxford
University Press and Community Development Journal, 41(1): 4 - 12
Robinson,L.,2002. Participatory Rural Appraisal: A Brief Introduction. A Research and
Application Journal
Walter, M., 2009. Chapter 21: Participatory Action Research. In Social Research Methods (eds).

103

PENDEKATAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT UNTUK KESEHATAN


dr. Fatwa Sari Tetra Dewi, MPH, PhD
A. Pendekatan kepada Masyarakat
Pendekatan kepada masyarakat sangat penting dilakukan di awal kegiatan CFHC agar
kegiatan dapat berjalandengan optimal. Masyarakat memiliki karakter yang berbeda-beda,
ada yang relatif terbuka dan mudah untuk didekati ada juga yang relative tertutup sehingga
membutuhkan waktu lebih lama untuk didekati.
Apabila kita perhatikan tentang proses pendidikan pada masyarakat, sering kita
dapatkan keluhan petugas kesehatan yang menyatakan bahwa masyarakat sulit untuk
diberitahu. Sementara apabila kita mencoba mendengarkan suara masyarakat secara
seksama, kita banyak mendapatkan keluhan bahwa petugas kesehatan sangat suka
menggurui. Hal ini merupakan cerminan miskomunikasi antara petugas kesehatan dengan
masyarakat dengan persepsi mereka masing-masing. Telaah lebih lanjut tentang
miskomunikasi tersebut berasal dari perbedaan latarbelakang dan pola pikir dalam
memandang permasalahan kesehatan. Petugas kesehatan tumbuh dalam pola pikir kesehatan
ala Barat, sementara masyarakat tumbuh dalam pola pikir budaya setempat (adaptasi warga
dalam mengatasi masalah sehari-hari).
Ada beberapa tips untuk mendekati masyarakat:
1. Bersikap sebagaimana orang awam
Sebagai petugas kesehatan kita memiliki ilmu pengetahuan medis yang telah teruji secara
ilmiah, tetapi bahasa ilmiah tidak bisa kita berikan langsung kepada masyarakat. Jika kita
paksakan maka yang akan terjadi adalah kesan menggurui. Yang perlu dilakukan
adalah berusaha memahami pola pikir masyarakat dalam memandang suatu masalah
kesehatan tanpa perlu menghakimi ini benar dan itu salah. Setelah mengetahui pola
pikir masyarakat, identifikasi cara penyampaian ilmu kesehatan ilmiah sebisa mungkin
mengikuti alur pola pikir masyarakat.
2. Mendengarkan secara aktif dan kritis

104

B. Peran Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemecahan Masalah Kesehatan


Masyarakat didefinisikan sebagai: 1) kelompok dengan fungsi dasar kehidupan
masyarakat yang terpenuhi, 2) kelompok dengan interaksi sosial yang serupa, dan 3)
Kelompok dengan identitas simbolik spesifik (Minkler, 1997).
Pemberdayaan adalah proses interaksi yang memungkinkan partisipasi orang-orang,
organisasi, dan komunitas-komunitas dalam meningkatkan kontrol individu, ataupun
kelompok dalam meningkatkan kualitas hidup dan mencapai keadilan sosial (Minkler,
1997).
Pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan adalah proses interaksi sosial yang
memungkinkan partisipasi unsur-unsur dalam kelompok masyarakat untuk meningkatkan
kontrol individu-individu dalam masyarakat dalam memelihara kesehatan kelompoknya.
Pemberdayaan masyarakat ini tak bisa lepas dari pengembangan masyarakat. Pengembangan
masyarakat adalah suatu proses dalam masyarakat yang mengandalkan kekuatan masyarakat
untuk

mengatasi

masalah

masyarakat.

Tahap

pengembangan

masyarakat

adalah

mengidentifikasi masalah, menjaga dan memanfaatkan sumber daya masyarakat yang


dimiliki dalam memecahkan masalahnya (Figueroa et al, 2002).
Pemberdayaan masyarakat adalah suatu proses dengan spektrum yang lebar. Dimulai
dari satu ekstrim di mana usaha perubahan dimotori oleh pihak luar agar masyarakat sasaran
menyetujui dan melakukan yang didentifikasikan perlu dilakukan. Kebalikannya adalah
masyarakat memiliki kebebasan penuh untuk mengambil keputusan mereka terkait dengan
penanganan masalah kesehatan, sementara pihak luar murni sebagai fasilitator (Reinke,
1988).
Sistem kesehatan didesain untuk memudahkan kontrol terhadap output ataupun
praktek yang terstandar. Karakter dalam system kesehatan adalah:
1.

Partisipasi anggota sesuai dengan job description yang telah tertulis dengan jelas
sebelum pegawai bekerja dalam suatu system kesehatan

2.

Hubungan antar anggota sesuai dengan struktur organisasi dengan garis komando yang
bersifat vertikal. Dengan struktur sedemikian rupa memungkinkan atasan mengontrol
bawahan dalam memproduksi praktek atau output yang terstandar.

3.

Kegiatan tergantung pada kebutuhan konsumen dan klien.

105

Sementara itu sistem dalam masyarakat bertujuan untuk meningkatkan kontrol


anggota-anggota masyarakat terhadap masalah di dalam masyarakatnya. Sistem masyarakat
memiliki karakteristik:
1.

Partisipasi anggota tergantung komitmen yang diinginkan oleh masing-masing


anggotanya

2.

Hubungan antar anggota terdistribusi secara merata di antara anggota-anggota yang


berkomitmen.

3.

Kegiatan tergantung pada kebutuhan anggota masyarakat tidak tergantung pada


konsumen.
Perbedaan karakter seperti tersebut di atas menimbulkan beberapa realita berikut ini:

1.

Sistem kesehatan dan sistem pemberdayaan masyarakat merupakan dua alat yang
berbeda dengan tujuan yang berbeda.

2.

Sistem kesehatan tidak mungkin dapat menggantikan pemberdayaan masyarakat,


demikian juga sebaliknya

3.

Sangat berkembangnya system kesehatan akan melemahkan pemberdayaan masyarakat.

4.

Lemahnya pemberdayaan masyarakt akan menurunkan partisipasi masyarakat dan pada


akhirnya akan menurunkan status kesehatan masyarakat. Oleh karena itu untuk
mencapai kesehatan masyarakat yang optimal dan terpelihara secara terus menerus
dibutuhkan kesetaraan antara system kesehatan dengan pemberdayaan masyarakat1.

C. Strategi Pemberdayaan Masyarakat


Ada lima tahap dalam proses pemberdayaan masyarakat yaitu:
1.

Katalisasi

2.

Dialog dalam masyarakat

3.

Aksi kolektif

4.

Perubahan individual dan perubahan Sosial

5.

Dampak sosial

106

Kelima tahap ini bersama sub-sub tahapnya digambarkan pada gambar 1. Penjelasan masingmasing tahap dalam pemberdayaan masyarakat tersebut adalah sebagai berikut:
1.

Katalisasi
Adalah tahap persiapan dalam masyarakat untuk suatu perubahan. Tahap ini adalah
tahap awal dari suatu perubahan dalam masyarakat. Tahap ini dipengaruhi oleh
beberapa faktor sebagai berikut:
1.1. Kesadaran internal
Adanya suatu peristiwa yang tidak biasa terjadi di masyarakat memicu diskusi antar
warga masyarakat untuk merasakan adanya masalah di antara mereka.
1.2. Stimulus eksternal
Masalah terdeteksi bukan oleh warga setempat, yang selanjutnya digagas untuk
didiskusikan lebih lanjut di antara warga masyarakat. Kegiatan ini biasa disebut
sebagai pengenalan kebutuhan yang dirasakan masyarakat.
1.3. Inovasi, kebijakan, teknologi baru
Adanya suatu inovasi baru, misalnya tentang penemuan vaksin baru, memicu
diskusi dalam masyarakat tentang kemungkinan mengadopsi inovasi tersebut. Tak
beda dengan inovasi baru maka kebijakan baru dapat maupun teknologi baru
memicu masyarakat untuk meresponnya.
1.4. Media masa
Adanya pesan-pesan yang memang didesain untuk menstimulasi masyarakat agar
mengubah perilaku mereka, baik perilaku individu maupun perilaku masyarakat.

2.

Dialog dalam masyarakat, terdiri atas tahap-tahap:


2.1. Pengenalan adanya masalah
Seseorang atau sekelompok orang dalam masyarakat mengenali adanya masalah di
sekeliling mereka.
2.2. Identifikasi dan keterlibatan pemimpin maupuan stakeholder
Penemu masalah akan berusaha mendiskusikan masalah tersebut dengan orangorang yang senasib (dipandang terancam oleh masalah tersebut), dengan pimpinan
masyarakat baik formal maupun informal, serta meminta pendapat ahli yang
dikenal. Dalam tahap ini masalah akan secara otomatis diperhatikan tidak hanya
pada tingkat kelompok tetapi sudah sampai pada tingkat masyarakat. Setelah

107

menyadari adanya masalah, masyarakat kemudian akan berusaha memberi nama


masalah yang mereka hadapi.
2.3. Klarifikasi persepsi
Diskusi lebih jauh tentang masalah dan penyebabnya. Sangat mungkin terjadi
perbedaan persepsi antar individu maupun kelompok. Diperlukan satu usaha untuk
mencapai kesepakatan persepsi tentang masalah yang dihadapi. Kesepakatan ini
diperlukan untuk menemukan tindakan yang harus diambil bersama-sama dalam
mengatasi permasalahan tersebut.
2.4. Kebutuhan individual dan kebutuhan bersama
Seluruh unsur dalam masyarakat memiliki kesempatan untuk menyampaikan
pendapat dan kebutuhan yang terkait dengan pemecahan masalah. Sangat penting
untuk diingat bahwa seluruh unsur dalam masyarakat seharusnya dapat
menyampaikan pendapat mereka secara leluasa, tak merasa terancam. Sangat
mungkin timbul perbedaan pendapat dan ketidakpuasan antar individu dan antar
kelompok yang terkait dengan pemecahan masalah tersebut. Pemimpin dalam
masyarakat perlu mencari jalan tengah yang dapat diterima oleh sebagian besar
masyarakat. Bilamana perlu dapat melibatkan pendapat-pendapat pimpinan
masyarakat baru atau stakeholder yang lainnya.
2.5. Visi masa depan
Adalah cita-cita masyarakat di masa yang akan datang. Visi tersebut
merupakan hasil dari kesepakatan masyarakat. Gambaran tentang cita-cita tersebut
harus mewakili seluruh unsur yang ada dalam masyarakat, sehingga tak ada satu
pihak pun yang merasa tak diikutsertakan dalam menyusun cita-cita tersebut.
Gambaran masa depan harus mengekspresikan semua perubahan dan manfaat yang
akan diperoleh oleh semua anggota masyarakat.
2.6. Penilaian kondisi terkini
Perlu dipahami kondisi masyarakat yang terkini, untuk dapat menentukan
tujuan kegiatan bersama. Hasil penilaian masalah terkini dapat menentukan baik
tujuan kegiatan yang akan dilakukan maupun indikator yang dapat dipakai untuk
mengukur keberhasilan tindakan yang akan dilakukan. Tentu saja penilaian kondisi
terkini yang terbaik adalah hasil pemikiran masyarakat itu sendiri.

108

Penilaian kondisi masyarakat terkini dapat dilakukan dengan cara kuantitatif


maupun kualitatif. Penilaian kuantitatif dapat menggambarkan besarnya masalah
yang dihadapi pada situasi terkini, sedangkan penilaian kualitatif dapat
menggambarkan secara lebih detil jenis masalah yang dihadapi masyarakat pada
situasi terkini tersebut.
Contoh penilaian kuantitatif adalah berapa banyak penduduk yang ditengarai
menderita penyakit Malaria. Contoh penilaian kualitatif misalnya adalah Malaria
yang menjadi masalah di satu wilayah saat ini berbeda dengan Malaria yang dahulu
banyak dijumpai di masyarakat karena Malaria saat ini mengenai hampir semua
golongan umur baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan Malaria di masa lalu
hanya mengenai penduduk dewasa terutama laki-laki.
2.7. Penetapan tujuan
Berdasarkan hasil penilaian situasi terkini di masyarakat, ditetapkan tujuan
atau harapan yang dapat dicapai oleh masyarakat dalam rangka memecahkan atau
mengurangi ancaman masalah kesehatan masyarakat. Penetapan tujuan hendaknya
memperhitungkan kemampuan yang dimiliki oleh masyarakat, dan fleksibilitas
tujuan.
Tujuan yang terlalu sulit untuk dicapai menurunkan motivasi masyarakat
untuk berperan serta, karena masyarakat merasa tak mungkin mampu mencapai
tujuan tersebut. Sebaliknya tujuan yang terlampau mudah akan menurunkan
motivasi masyarakat untuk beperan, karena masyarakat merasa bahwa tanpa
berperan pun mereka akan mampu mencapai tujuan tersebut. Tujuan terbaik adalah
tujuan yang cukup sulit, sehingga mampu memotivasi anggota masyarakat untuk
berpartisipasi secara maksimal agar dapat mencapai tujuan yang pada akhirnya
menimbulkan manfaat bagi diri mereka dan lingkungan mereka.
2.8. Pilihan tindakan
Setelah menetapkan harapan bersama yang ingin dicapai, maka masyarakat
perlu mengidentifikasi sumber daya yang dimiliki dan yang mungkin diperoleh dari
pihak luar. Berdasarkan hasil identifikasi sumber daya yang dimiliki maka dapat
dibuat daftar pilihan kegiatan yang potensial dilakukan. Untuk selanjutnya
dilakukan penetapan pilihan berdasarkan prioritas yang paling mungkin, paling

109

murah tetapi paling berhasil guna. Kegiatan penetapan prioritas kegiatan ini perlu
mendapatkan persetujuan dari seluruh unsur dalam masyarakat.
Kemungkinan akan muncul kembali konflik atau ketidakpuasan di antara
anggota masyarakat. Konflik dan ketidakpuasan perlu diatasi semaksimal mungkin,
sehingga penetapan prioritas pilihan tindakan dapat disetujui oleh mayoritas
anggota masyarakat.
Konflik yang terlalu meruncing dapat diredakan dengan berbagai cara
misalnya dengan melakukan break diskusi selama selama beberapa saat agar
seluruh anggota masyarakat dapat berpikir ulang secara lebih jernih dan
menurunkan ketegangan di masyarakat, membagi diskusi menjadi beberapa
kelompok yang lebih kecil, dan mengkaji ulang penetapan prioritas masalah secara
lebih teliti.
2.9. Konsensus tindakan
Langkah ini merupakan pemilihan tindakan berdasarkan prioritas yang telah
ditetapkan. Penetapan tindakan terpilih secara bersama-sama dalam masyarakat,
berarti diharapkan seluruh anggota masyarakat mau mengerahkan sumber daya
yang mereka miliki untuk disumbangkan demi keberhasilan kegiatan. Demikian
pula diharapkan keterlibatan aktivitas dari seluruh anggota masyarakat dalam
pelaksanaan kegiatan terpilih. Oleh karena itu penetapan tindakan terpilih
sebaiknya bersandar pada keinginan sebagian besar atau seluruh anggota
masyarakat.
2.10. Perencanaan kegiatan
Adalah tahap terakhir sebelum kegiatan dilaksanakan. Perencanaan kegiatan
ini mengupas lebih detil tentang pelaksanaan kegiatan. Secara garis besar detil yang
perlu digambarkan adalah siapa yang akan melakukan apa, bagaimana kegiatan
tersebut akan dilakukan, di mana kegiatan akan dilakukan, dan kapan kegiatan
akan dilakukan. Termasuk dalam perencanaan ini adalah anggaran yang dibutuhkan
dan sumber anggaran untuk pelaksanaan masing-masing sub kegiatan. Sangat
disarankan agar rencana monitoring dan evaluasi kegiatan juga ditetapkan pada
tahap ini agar semua pihak dapat turut melakukan pengawasan dan koreksi secara
bersama-sama.

110

3.

Aksi bersama
3.1. Pembagian tugas dan tanggung jawab
Pemimpin dalam masyarakat perlu menetapkan orang atau pihak yang diberi
tugas untuk melaksanakan kegiatan tertentu. Orang atau pihak tertentu
mendapatkan tugas dan tanggung jawab tertentu. Apabila diperlukan maka
disusun tim tugas tersendiri untuk menyelesaikan tugas yang cukup besar, yang
tidak mungkin dilakukan oleh perorangan.
3.2. Mobilisasi organisasi
Media masa memegang peranan penting dalam tahap aksi bersama ini.
Media masa mampu memberikan informasi tentang pelayanan terbaru yang dapat
dimanfaatkan masyarakat, cara memanfaatkan pelayanan terbaru tersebut,
membantu masyarakat memperoleh

legitimasi penguasa, memberikan umpan

balik kegiatan kepada masyarakat, serta memberikan penguatan positif terhadap


segala prestasi yang mampu dicapai oleh masyarakat.
3.3. Implementasi
Adalah pelaksanaan kegiatan yang sesuai dengan pembagian tugas dan
tanggung jawab. Setiap orang atau organisasi melakukan tugas sesuai dengan
waktu, cara dan tempat yang telah ditetapkan. Monitoring dilakukan pula dalam
tahap ini untuk mengetahui kemajuan dan kesesuaian implementasi program
dengan rencana program. Monitoring dilakukan oleh pimpinan masyarakat dan
anggota masyarakat yang tertarik untuk mengikuti jalannya kegiatan mereka
secara detil.
3.4. Hasil
Adalah tahap pengukuran dampak kegiatan terhadap permasalahan yang
telah disepakati sejak awal kegiatan. Observasi dan penghitungan kejadian
sebagai indikator masalah dilakukan untuk mengetahui pencapaian program.
3.5. Evaluasi partisipatif
Adalah kegiatan evaluasi yang melibatkan seluruh anggota masyarakat.
Dalam tahap ini masyarakat dapat membandingkan antara hasil kegiatan dengan
visi bersama dan tujuan yang telah disepakati sebelumnya. Evaluasi partisipatif

111

menimbulkan efek penilaian ulang situasi masalah terkini yang ada di tengah
masyarakata serta penilaian ulang visi masa depan masyarakat. Kegiatan ini
meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan diri mereka dan
pada akhirnya memotivasi pengambangan diri secara berkelanjutan.
3.6. Hambatan dan dukungan eksternal
Adalah faktor-faktor di luar kendali masyarakat yang dapat mempengaruhi
kegiatan masyarakat, baik mendukung maupun menghambat. Sebagai contoh
hambatan eksternal adalah kondisi geografis yang sulit dilalui akan menghambat
masyarakat untuk menghadiri pertemuan. Adanya gedung sekolah milik
pemerintah memungkinkan pertemuan antar orangtua murid untuk membicarakan
permasalahan mereka, ini adalah salah satu contoh dukungan eksternal. Hambatan
dan dukungan faktor eksternal mempengaruhi kegiatan aksi bersama. Masyarakat
perlu dimotivasi untuk

mengenali hambatan dan memanfaatkan dukungan

eksternal yang mungkin terjadi.


4.

Perubahan individual
Salah satu dampak proses pemberdayaan masyarakat terhadap pengembangan
kemampuan sosial anggota masyarakat adalah meningkatnya pengetahuan, nilai,
kepercayaan, persepsi risiko, norma subyektif, respons emosional seperti perasaan
solidaritas, empati, kepercayaan, makin responsif terhadap situasi masyarakat, dan lebih
banyak memberi anjuran terhadap sesama anggota masyarakat lainnya. Makin
berkembangnya sikap mendukung terhadap perilaku baru, mempraktekkan perilaku
baru, dan memiliki ketrampilan untuk mempraktekkan perilaku baru.

5.

Perubahan Sosial
Tampilnya pimpinan model kepemimpinan partisipatif dalam mengambil
kebijakan memberikan dampak yang luas dalam perubahan sosial. Meskipun
dibutuhkan proses yang panjang untuk mengatasi berbagai konflik yang terjadi, tetapi
setiap kali konflik dapat teratasi dengan adanya kesepakatan yang difasilitasi oleh
seorang pemimpin partisipatif, makin meningkat rasa percaya diri pempimpin tersebut,
dan makin tinggi kepercayaan masyarakat terhadap pimpinan tersebut. Semakin banyak
konflik yang dapat terselesaikan, dan semakin sering terjadinya konsensus di atara
masyarakat maka akan makin tinggi keterampilan pemimpin tersebut.

112

Keberhasilan pemecahan masalah tersebut juga akan makin meningkatkan


derajat partisipasi masyarakat untuk mengatasi masalah yang telah disepakati.
Masyarakat memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi untuk menghadapi masalah lain
di masa akan datang. Akan tumbuh rasa memiliki kegiatan karena semua keputusan
ditetapkan bersama dengan masyarakat.
Sebagai hasil akhir perubahan sosial yang terjadi akibat dialog dan aksi kolektif
ini adalah meningkatnya kohesivitas masyarakat, berkurangnya kohesivitas kelompokkelompok atau grup-grup dalam masyarakat, dan terbentuknya norma sosial baru dalam
masyarakat dalam berdialog dan memulai aksi kolektif di kemudian hari.
6.

Dampak sosial
Dampak sosial ini terdiri dari perubahan individu dan perubahan sosial.
Perubahan perilaku individu saja hanya berdampak sosial minimal. Sementara itu
perubahan perilaku sosial saja tanpa diikuti oleh perubahan perilaku individu hanya
menimbulkan dampak meningkatnya kemungkinan peningkatan kesehatan. Oleh karena
itu sangat penting adanya kedua perubahan tersebut baik di tingkat individu maupun
sosial, di mana akan timbul dampak peningkatan kesehatan yang berkesinambungan.
Sebaliknya tanpa adanya perubahan perilaku individu dan tidak adanya perubahan
perilaku sosial tidak akan mengakibatkan perubahan apapun di dalam masyarakat
(Reinke, 1988).

Kesimpulan:
1. Sistem kesehatan dan pemberdayaan masyarakat perlu dilaksanakan secara berimbang dalam
menciptakan dan memelihara kesehatan masyarakat.
2. Proses pemberdayaan masyarakat adalah proses yang lama dan dinamis. Proses
pemberdayaan masyarakat membutuhkan partisipasi masyarakat yang tinggi. Konflik dalam
melaksanakan proses pemberdayaan masyarakat sangat mungkin terjadi, yang penting adalah
bagaimana masyarakat mampu menangani konflik tersebut secara bersama-sama dengan
fasilitasi pimpinan yang berkepribadian partisipatif.
3. Keberhasilan dalam satu proses pemberdayaan masyarakat akan mampu meningkatkan
kompetensi ketrampilan sosial masyarakat, pimpinan masyarakat, serta anggota masyarakat.

113

Sebagai dampak akhir adalah tingginya kemampuan masyarakat untuk memecahkan masalah
kesehatan masyarakat di masa yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Figueroa, M.E., Kincaid, L.D., Rani, M., Lewis, G., 2002. Communication for Sosial Change:
An Integrated Model for Measuring the Process and Its Outcome. The Rockefeller
Foundation and JohnHopkinsUniversityCenter for Communication Programs. New York.
Glanz, K., Lewis, F.M., Rimer, B.K., 1997. Health Behavior and Health Education, Theory,
Research, and Practice, 2nd edition. Jossey Bass Inc. Publishers, San Fransisco, California.
USA.
Minkler M., 1997. Community Organizing and CommunityBuilding for Health. Rutgers. The
StateUniversity. USA.
Reinke W.A., 1988. Health Planning for Effective Management. Oxford University press. New
York.

114

KATALISATOR
Stimulus
internal

Stimulus
eksternal

Inovasi

Kebijakan

Teknologi

Media
masa

DIALOG KOMUNITAS

Identifikasi dan
keterlibatan
pimpinan dan
stakeholder

Penemuan
masalah

Perencanaa
n Kegiatan

Pembagian
tugas
dan
tanggung jawab

Kepentingan
individu dan
sharing
kepentingan

Klarifikasi
persepsi

Konsensus
tindakan

Pilihan
tindakan

Mobilisasi
organisasi

Implementasi
AKSI KOLEKTIF

Visi
depan

Penilaian
kondisi
terkini

Penetapan
tujuan

Hasil
kegiatan

masa

Evaluasi
p
a

Individu
Kelompok
Tim
penggerak
baru
lainnya

Media
Kesehatan
Pendidikan
Agama
Lainnya

t
i
s
i

PERUBAHAN INDIVIDU
Ketrampilan, Intensi, Perilaku
Penemuan ide:
Pengetahuan, sikap, persepsi risiko, norma
subyektif,
Imaginasi diri, Emosi, Penghargaan diri,
Pengaruh sosial, Adokasi personal

PERUBAHAN SOSIAL

Kepemimpinan

Derajat dan kesetimbangan partisipasi

Kesetimbangan informasi

Merasa memiliki

Kohesi sosial

Norma sosial

p
a
s
i

DAMPAK SOSIAL

DAFTAR PUSTAKA

Gambar 1. Tahap-tahap Proses Pemberdayaan Masyarakat


Dikutip dari Figueroa, 2002

115

BAB XII
SISTEM RUJUKAN (REFERRAL SYSTEM) DAN CASE REFERRAL IN COMMUNITY
dr.Yudha Patria,SpA(K) dan dr.Detty,MSc., PhD., SpOG(K)
Kontributor: dr.Fransisca Kurnia Chandra dan dr.Fitriana
Sistem rujukan kesehatan adalah tatacara pengelolaan strategis, pragmatis, dan
koordinatif untuk menjamin pemerataan pelayanan kesehatan paripurna dan komprehensif bagi
masyarakat Indonesia. Dengan sistem ini masyarakat Indonesia dimanapun mereka berada dan
dari golongan sosial-ekonomi manapun, dapat menjangkau layanan optimal sesuai masalahnya.
Pelayanan untuk kesehatan perorangan terdiri dari tiga tingkatan, yaitu:
1.

Pelayanan kesehatan tingkat pertama (puskesmas), merupakan pelayanan kesehatan dasar


yang diberikan oleh fasilitas kesehatan tingkat pertama (non spesialistik) yang meliputi
pelayanan rawat jalan dan rawat inap (BPJS, 2013 dan Kementrian Kesehatan, 2013).
Rawat jalan tingkat pertama adalah pelayanan kesehatan perorangan yang bersifat non
spesialistik yang dilaksanankan pada fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk keperluan
observasi, diagnosis, pengobatan, dan/atau pelayanan kesehatan lainnya. Rawat inap tingkat
pertama adalah pelayanan kesehatan perorangan yang bersifat non spesialistik dan
dilaksanakan pada fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk keperluan observasi, perawatan,
diagnosis, pengobatan, dan/atau pelayanan medis lainnya. Di sini peserta dan/atau anggota
keluarganya dirawat inap paling singkat satu hari (Kementrian Kesehatan, 2013).

2.

Pelayanan kesehatan tingkat kedua (RS tipe C dan D/RS Kabupaten), merupakan pelayanan
kesehatan spesialistik yang dilakukan oleh dokter spesialis atau dokter gigi spesialis yang
menggunakan pengetahuan dan teknologi kesehatan spesialistik (BPJS, 2013)

3.

Pelayanan kesehatan tingkat ketiga, merupakan Pelayanan kesehatan tingkat ketiga (RS tipe
A/RS Pusat dan B/ RS Propinsi) merupakan pelayanan kesehatan sub spesialistik yang
dilakukan oleh dokter sub spesialis atau dokter gigi sub spesialis yang menggunakan
pengetahuan dan teknologi kesehatan sub spesialistik (BPJS, 2013).
Pelayanan rujukan dapat dilakukan secara horizontal maupun vertikal. Rujukan

horizontal adalah rujukan yang dilakukan antar pelayanan kesehatan dalam satu tingkatan
apabila perujuk tidak dapat memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan pasien

116

karena keterbatasan fasilitas, peralatan dan/atau ketenagaan yang sifatnya sementara atau
menetap. Contoh dari rujukan horizontal adalah rujukan antara puskesmas atau antara rumah
sakit yang setipe.
Rujukan vertikal adalah rujukan yang dilakukan antar pelayanan kesehatan yang berbeda
tingkatan, dapat dilakukan dari tingkat pelayanan yang lebih rendah ke tingkat pelayanan yang
lebih tinggi atau sebaliknya. Rujukan vertikal dilakukan apabila pasien membutuhkan pelayanan
kesehatan spesialistik atau subspesialistik dan perujuk tidak dapat memberikan pelayanan
kesehatan sesuai dengan kebutuhan pasien karena keterbatasan fasilitas, peralatan dan/ atau
ketenagaan (BPJS, 2013). Pelayanan kesehatan dimulai dari fasilitas kesehatan primer. Jika
diperlukan pelayanan lanjutan oleh spesialis, maka pasien dapat dirujuk ke fasilitas kesehatan
sekunder. Fasilitas kesehatan sekunder hanya dapat diberikan atas rujukan dari fasilitas
kesehatan primer. Fasilitas kesehatan tersier hanya dapat diberikan atas rujukan dari fasilitas
kesehatan sekunder dan fasilitas kesehatan primer. Pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan
primer yang dapat dirujuk langsung ke fasilitas kesehatan tersier hanya untuk kasus yang sudah
ditegakkan diagnosis dan rencana terapinya, merupakan pelayanan berulang dan hanya tersedia
di fasilitas kesehatan tersier (Kementrian Kesehatan, 2013).
Rujukan vertikal dari tingkatan pelayanan yang lebih tinggi ke tingkatan pelayanan yang
lebih rendah dilakukan apabila:
a. Permasalahan kesehatan pasien dapat ditangani oleh tingkatan pelayanan kesehatan yang

lebih rendah sesuai dengan kompetensi;


b. Kewenangannya dan kompetensi dan kewenangan pelayanan tingkat pertama atau kedua

lebih baik dalam menangani pasien tersebut;


c. Pasien membutuhkan pelayanan lanjutan yang dapat ditangani oleh tingkatan pelayanan

kesehatan yang lebih rendah dan untuk alasan kemudahan, efisiensi dan pelayanan jangka
panjang; dan/atau
d. Perujuk tidak dapat memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan pasien

karena keterbatasan sarana, prasarana, peralatan dan/atau ketenagaan (BPJS, 2013).


Ketentuan pelayanan rujukan berjenjang ini dapat tidak dilakukan (tidak harus rujukan
dari fasilitas kesehatan primer) dalam kondisi:
a. Gawat darurat,
b. Bencana, kriteria bencana ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dan atau Pemerintah Daerah,

117

c. Kekhususan permasalahan kesehatan pasien


untuk kasus yang sudah ditegakkan rencana terapinya dan terapi tersebut hanya dapat
dilakukan difasilitas kesehatan lanjutan pertimbangan geografi
d. Pertimbangan ketersediaan fasilitas (BPJS, 2013).
Mekanisme rujukan berjenjang sangat bermanfaat dalam upaya mengurangi kecacatan,
komplikasi, dan kematian, meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, serta pemerataan dan
peningkatan mutu pelayanan kesehatan masyarakat.
Setiap institusi pelayanan kesehatan mempunyai unit yang mempunyai tanggung jawab
terhadap sistem rujukan. Minimal unit ini akan menyelenggarakan: a) surat rujukan dan yang
menerima rujukan, b) kartu anggota (misalnya BPJS), c) pencatatan yang tepat dan benar d)
kartu monitoring rujukan (misalnya untuk ibu bersalin dan bayi, untuk geritatri).
Jenis rujukan oleh pelayanan kesehatan yang akan melakukan rujukan bisa berupa
a. Rujukan medis, misalnya rujukan pasien, dan rujukan laboratorium atau bahan pemeriksaan.
b. Rujukan kesehatan, misalnya pengiriman tenaga kesehatan (dokter, perawat/bidan, tenaga
laboratorium, dsb) untuk meningkatkan ilmu pengetahuan, teknologi dan ketrampilan.
c. Rujukan manajemen, misalnya pengiriman informasi diagnosis; kebutuhan obat, biaya,
tenaga, peralatan,; permintaan bantuan monitoring epidemiologi, mengatasi wabah (KLB),
dsb.
Sesuai Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial (BPJS) ditetapkan bahwa operasional BPJS Kesehatan dimulai sejak tanggal 1 Januari
2014. BPJS Kesehatan sebagai Badan Pelaksana merupakan badan hukum publik yang dibentuk
untuk menyelenggarakan program jaminan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia.Tujuan
diberlakukannya program Jaminan Kesehatan Nasional ini adalah untuk memenuhi kebutuhan
kesehatan masyarakat yang layak yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran
atau iurannya dibayar oleh Pemerintah. Masyarakat sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional
yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan dan stakeholder terkait tentu perlu mengetahui
prosedur dan kebijakan pelayanan dalam memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan
haknya (BPJS, 2011).
Sistem rujukan juga berlaku pada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Dengan
demikian tetap mewajibkan pasien datang ke puskesmas terlebih dulu, kemudian kalau tidak bisa
ditangani di puskesmas, akan dirujuk ke jenjang atasnya (RS kabupaten) demikian seterusnya.

118

Hal ini berlaku bukan untuk kondisi darurat. Jika kondisi pasien dalam keadaan darurat, bisa
langsung datang ke rumah sakit. Pelayanan-pelayanan BPJS harus dilakukan atas pertimbangan
dan permintaan dokter, bukan atas permintaan pribadi pasien (BPJS, 2011).
Semua warga negara Indonesia disarankan menjadi peserta BPJS ini, termasuk karyawan
swasta, pegawai negeri sipil/TNI, penduduk miskin dan rentan yakni yang temasuk dalam data
kemiskinan BPS; penduduk yang tidak terdata BPS tapi mudah terkena dampak kebijakan
pemerintah dan belum memiliki asuransi; penduduk miskin yang diverifikasi petugas Dinas
Kesehatan; penghuni panti sosial dan rumah singgah yang direkomendasikan Kepala Dinas
Sosial; Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga; korban perdagangan orang; korban bencana.
Demikian juga masyarakat yang termasuk mendapatkan penghargaan yakni lansia; anggota
forum komunikasi dermawan daerah; anggota legiun veteran RI DKI; kader posyandu dan
jumantik yang sudah lima tahun mengabdi; tokoh agama; seniman dan budayawan daerah;
pengurus LMK, RW, dan RT yang masih aktif (BPJS, 2011).
DAFTAR PUSTAKA
BPJS., 2011., Undang-Undang republik Indonesia Nomor 24 tentang Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial
BPJS., 2013. Sistem Rujukan Berjenjang.
Kementrian Kesehatan., 2013. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 71
Tahun 2013 tentang Pelayanan Kesehatan Pada Jaminan Kesehatan Nasional.
Lampiran 1
-

Untuk masyarakat di Propinsi DIY, terdapat Pergub yang mengatur tentang sistem
rujukan kesehatan ini, yaitu Peraturan Gubernur Daerah Istemewa Yogyakarta No 59
Tahun 2012 tentang Pedomam Pelaksanaan Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan.
Pergub ini juga menjadi lampiran makalah ini.

119