You are on page 1of 18

BABI

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penggunaan obat yang rasional adalah pemilihan dan penggunaan obat
yang efektifitasnya terjamin serta aman, dengan mempertimbangkan
masalah harga, yaitu dengan harga yang paling menguntungkan dan
sedapat mungkin terjangkau. Untuk menjamin efektifitas dan keamanan,
pemberian obat harus dilakukan secara rasional, yang berarti perlu
dilakukan diagnosis yang akurat, memilih obat yang tepat, serta
meresepkan obat tersebut dengan
dosis, cara, interval serta lama
pemberian yang tepat.
Penggunaan obat rasional juga berarti menggunakan obat berdasarkan
indikasi yang manfaatnya jelas terlihat dapat diramalkan (evidence based
therapy) . Manfaat tersebut dinilai dengan menimbang semua bukti tertulis
hasil uji klinik yang dimuat dalam kepustakaan yang dilakukan melalui
evaluasi yang sangat bijaksana.
Menimbang manfaat dan resiko tidak selalu mudah dilakukan, hal-hal yang
perlu diperhatikan untuk menentukannya yaitu derajat keparahan penyakit
yang akan diobati, efektivitas obat yang akan digunakan, keparahan dan
frekuensi efek samping yang mungkin timbul, serta efektivitas dan
keamanan obat lain yang bisa dipakai sebagai pengganti. Semakin parah
suatu penyakit, semakin berani mengambil resiko efek samping, namun
bila efek samping mengganggu dan relatif lebih berat dari penyakitnya
sendiri mungkin pengobatan tersebut perlu diurungkan. Semakin remeh
suatu penyakit, semakin perlu bersikap tidak menerima efek samping.
Kemampuan untuk melakukan telaah terhadap berbagai hasil uji klinik yang
disajikan menjadi amat penting dalam masalah ini. Biasanya dalam
pedoman pengobatan, pilihan obat yang ada telah melalui proses tersebut,
dan dicantumkan sebagai obat pilihan utama (drug of choice), pilihan
kedua, dan seterusnya.
PENGOBATAN RASIONAL
Mengapa diperlukan pengobatan rasional ?
Pengobatan yang tidak rasional dapat menyebabkan :
Pengobatan yang tidak aman
Kambuhnya penyakit
Masa sakit memanjang
Membahayakan dan menimbulkan kekhawatiran pasien
Membengkaknya biaya

Pengertian rasional itu sendiri menurut WHO adalah :


sesuai dengan keperluan klinik
dosis sesuai dengan kebutuhan pasien

diberikan dalam jangka yang sesuai


dengan biaya termurah bagi pasien dan komunitasnya
Dalam konteks biomedis, P.O.R mempunyai kriteria :
Tepat diagnosis
Tepat indikasi
Tepat pemilihan obat (khasiat, keamanan, mutu, biaya)
Tepat dosis, cara dan lama pemberian
Tepat penilaian terhadap kondisi pasien
Tepat peracikan dan pemberian informasi
Kepatuhan pasien
Tepat dalam melakukan upaya tindak lanjut
Penggunaan obat yang rasional memberi perhatian penting kepada
pemberian antibiotika, ada tidaknya poli-farmasi serta pemberian injeksi.
BEBERAPA PERTIMBANGAN DALAM PEMILIHAN OBAT (WHO, 1995 )

Manfaat ( Efecacy )
Kemanfaatan dan Keamanan Obat sudah terbukti Keamanan ( safety )
Resiko pengobatan yang paling kecil dan seimbangdengan manfaat
dan keamanan yang sama danterjangkau oleh pasien ( affordable )
Kesesuaian / suittability ( cost )

Contoh penggunaan obat yang tidak rasional dan harus dihindarkan antara
lain :
Penggunaan obat dimana terapi obat tidak diindikasikan
misal antibiotika untuk ISPA ringan, diare.
Pemilihan obat yang salah untuk indikasi tertentu, misal tetrasiklin untuk
infeksi streptokokus faringitis anak.
Penggunaan obat dengan indikasi meragukan dan status keamanan yang
tidak jelas
Cara pemberian yang salah
Penggunaan obat mahal walaupun alternatif obat yang aman, efektif dan
lebih
murah
tersedia.
Secara umum dan dalam konteks yang lebih luas penggunaan obat yang
tidak rasional dapat memberi dampak ;
terjadinya pemborosan biaya dan anggaran masyarakat,
resiko efek samping dan resistensi,
ketersediaan obat kurang terjamin,
mutu pengobatan dan pelayanan kesehatan buruk,
memberikan persepsi yang keliru tentang pengobatan pada
masyarakat.

ad.1. Menentukan masalah pasien atau melakukan diagnosis.


Merupakan dasar dari tindakan pengobatan rasional. Diagnosis dibuat atas
dasar fakta yang ditemukan dari suatu urutan yang logis yaitu anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang lain yang diperlukan.
Dalam praktek sehari-hari sering diagnosis sudah dibuat sebelum semua

fakta terkumpul, malah sering pula tidak dapat dibuat atau baru dibuat
setelah beberapa waktu bila gejala penyakit berkembang. Dalam proses
membuat diagnosis ini terletak kesulitan pertama yang mengakibatkan
pengobatan lebih ditentukan oleh kebiasaan daripada deduksi ilmiah
rasional. Bila diagnosis belum dapat ditentukan sering dipikirkan berbagai
kemungkinan diagnosis atau differensial diagnosis yang kemudian diobati,
sehingga pengobatan diberikan secara polifarmasi untuk menutupi
berbagai kemungkinan tersebut. Selain itu seringkali diagnosis sulit dibuat
karena pasien tidak mampu membayar pemeriksaan penunjang yang
dibutuhkan.
ad.2. Menetapkan tujuan pengobatan
Sebelum memilih pengobatan harus lebih dahulu ditetapkan tujuan terapi.
Apa sebetulnya yang ingin dicapai. Menguraikan tujuan pengobatan
merupakan cara yang baik untuk menyusun pola berpikir, melakukan
konsentrasi untuk problem sesungguhnya, meminimalkan kemungkinan
pengobatan yang perlu dilakukan sehingga pilihan akhir lebih mudah
ditentukan. Menguraikan tujuan pengobatan mencegah penggunaan obat
yang tidak perlu.
ad.3. Memeriksa kerasionalan penggunaan obat yang dipilih
Setelah menetapkan tujuan pengobatan, jika memang dibutuhkan obat
untuk mengatasi masalah, perlu diperiksa apakah obat yang dipilih sesuai
dengan kondisi pasien. Obat yang dipilih selain harus memenuhi kriteria
efektif,aman, nyaman dan terjangkau, perlu disesuaikan dengan kondisi
masing-masing pasien. Langkah pertama melihat pedoman pengobatan
yang tersedia, apakah bahan aktif, bentuk sediaan, dosis, cara pemberian
dan lama pemberian telah sesuai untuk pasien. Untuk tiap-tiap aspek yang
ditelaah, harus dipertimbangkan masalahefektivitas dan keamanannya.
Meneliti efektivitas mencakup penelaahan indikasi apakah pengobatan
dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan, serta kenyamanan bentuk
sediaan. Keamanan berkaitan dengan kontra indikasi dan kemungkinan
interaksi serta kewaspadaan pada pasien dengan resiko tinggi. Kemampuan
melakukan telaahan mengenai masalah tersebut perlu dilihat dari hasil uji
klinik yang bermutu. Kajian ini sulit dilakukan, karena itu perlu disediakan
informasi yang berisi telaahan efektivitas berbagai obat denan indikasi
serupa, beserta kajian keamanannya, juga informasi mengenai biayanya.
Pedoman pengobatan yang tersedia juga terbatas, sebagian besar berisi
pedoman tata laksana diagnosis dan tindakan medik yang perlu dilakukan,
tetapi tidak mengenai pemilihan dan penggunaan obat.
ad.4 Membuat resep
Resep adalah instruksi dari peresep untuk pemberi obat (dispenser). Setiap
negara mempunyai peraturan mengenai standar pembuatan resep. Secara
umum resep harus jelas, dapat dibaca dan mencantumkan secara tepat
apa yang harus diberikan. Resep seharusnya ditulis dengan nama generik,
namun informasi mengenai obat generik hampir-hampir tidak tidak ada
yang sampai pada peresep. Selain itu, seringkali juga peresep meragukan
mutu obat enerik ini.
a.d.5 Memberi informasi,instruksi dan hal-hal yang perlu diwaspadai

Dikatakan 50% pasien tidak menggunakan obat secara benar, tidak teratur,
atau tidak menggunakan sama sekali. Penyebab yang paling sering adalah
timbulnya efek samping, pasien tidak merasakan manfaat obat, atau cara
penggunaan yang rumit terutama bagi orang tua. Untuk meningkatkan
ketaatan pasien, perlu dilakukan pemilihan obat dengan benar, membina
hubungan baik dokter-pasien serta menyediakan waku untuk memberi
informasi/instruksi/peringatan. Pemberian informasi ini masih jauh dari
harapan karena dianggap memakan waktu.
a.d.6 Melakukan monitoring
Dengan monitoring dapat ditentukan apakah pengobatan memberi hasil
seperti yang diharapkan. Atau perlu dilakukan tindak lanjut. Bila penyakit
telah sembuh obat perlu dihentikan, bila penyakit belum sembuh tetapi
terapi efektif tanpa efek samping pengobatan dapat dilanjutkan, bila timbul
efek samping perlu ditelaah kembali obat yang diberikan. Bila terapi tidak
efektif perlu dipertimbangkan kembali diagnosis yang telah dibuat, obat
yang dipilih, apakah dosis dan cara penggunaannya telah sesuai, dan
apakah cara monitoring telah tepat.
UPAYA IMPLEMENTASI PENGOBATAN RASIONAL
Dunia kedokteran belum sepenuhnya menerima tantangan untuk
memperbaiki penggunaan obat karena sebagian besar pasien ternyata
memperlihatkan perbaikan, sebagian besar obat mempunyai batas
keamanan (margin of safety) yang luas, banyak penyakit yang bersifat self
limiting dan masalah yang timbul karena penggunaan obat seringkali dapat
ditimpakan pada penyakit yang diobatinya.
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kerasionalan
pengunaan obat yaitu :
1. Upaya regulasi
Pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan berperan dalam
pengaturan yang dapat mendukung penggunaan obat yang rasional
2. Upaya pendidikan
Pengajaran penggunaan obat rasional dalam kurikulum Fak.Kedokteran.
Bagi para dokter dapat diberikan post service training melalui berbagai
program pelatihan dan penyegaran mengenai penggunaan obat rasional.
Pendidikan dan pelatihan juga diberikan bagi petugas pelayanan kesehatan
lain serta masyarakat.
3. Upaya manajerial
Dalam upaya ini termasuk pembentukan Komisi farmasi dan Terapi (KFT) di
RS, Penetapan daftar Obat Essensial, penyusunan pedoman pengobatan.
Upaya diatas dapat dirinci sebagai berikut :
1. Pendidikan dan pelatihan P.O.R
Pelatihan/pengajaran farmakologi klinik yang tidak adekuat
menghasilkan praktek peresepan yang tidak rasional. Karenanya
pendidikan
dan
pelatihan
P.O.R
perlu
dilakukan.
2. Pendidikan Berkelanjutan dan supervisi

Pendidikan berkelanjutan, supervisi dan telaah kritis mengenai


peresepan dapat mendukung pengobatan rasional. Sangat sedikit
kesempatan untuk penelaahan rutin kebiasaan peresepan dan sedikit
kesempatan untuk mempelajari obat baru dari sumber yang tidak
bias. Kegiatan penelitian dan pengembangan menyebabkan
pengetahuan juga bertambah baik mengenai pengobatan yang telah
ada maupun pengenalan pengobatan yang sama sekali baru. Untuk
menjamin bahwa pengetahuan ini dapat memberi manfaat bagi
pasien, perlu dilaksanakan program pendidikan berkelanjutan.
3. Pengaturan promosi industri obat
Aktivitas promosi yang dilakukan oleh pabrik obat mengenai produkproduk khusus menghasilkan peresepan yang tidak rasional dan
mahal.
Pengobatan rasional menghadapi problem besar karena informasi
yang tidak seimbang, bias dan tidak etis yang disampaikan oleh
pabrik obat. Diamati pula bahwa ada insentif yang besar bagi dokter
yang dimasukkan dalam biaya promosi untuk menjamin loyalitas.
Menurut laporan CIC (1991), sejumlah industri farmasi membuat
kontrak dengan para dokter untuk selalu menggunakan produk
mereka dalam peresepannya. Direkomendasikan untuk memberikan
informasi obyektif sesuai kebutuhan yang diikuti dengan sistem untuk
melakukan auditnya. Tidak adanya kontrol terhadap bahan promosi
yang diberikan langsung kepada dokter dan imbalan yang rendah
yang diterimadokter pemerintah, mengakibatkan pengaruh insentif
yang menarik dari industri lebih berpengaruh ketimbang kebutuhan
rasional
pasien
4. Penyusunan dan revisi berkala pedoman pengobatan
Umumnya pedoman yang tersedia lebih pada pedoman tata laksana
diagnosis dan tindakan medik. Bila ada pedoman, seringkali sudah
kedaluarsa. Seharusnya pedoman pengobatan berisi terapi yang
paling efektif, aman,dengan biaya yang paling menguntungkan, dan
disusun secara nasional dengan konsensus dari berbagai kelompok
profesi multi disiplin.
5. Drug surveillance
Perlu dilakukan drug surveillance untuk memberikan data pendukung
pengobatan rasional serta menimbulkan keyakinan pada peresep,
apalagi bila mereka dilibatkan secara langsung.
6. Informasi obat
Informasi yang obyektif, berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang
terpercaya berdasarkan uji klinik yang memenuhi standar. Perlu
dibuat terbitan berkala/buletin yang berisi antara lain informasi obat
generik, mutu obat generik, telaahan efektivitas dan keamanan
berbagai obat untuk indikasi yang sama, dan telaahan harga obat
untuk terapi yang serupa. Informasi harus meningkatkan kesadaran
mengenai biaya pengobatan. Profesi dapat memprakarsai penerbitan
informasi ini bersama pihak terkait.
7. Monitoring dan evaluasi
Evaluasi
disertai
umpan
balik
yang
dilaksanakan
secara
berkesinambungan memberi dampak positif terhadap pengobatan
rasional. Penerapan konsep obat esensial dan obat generik di fasilitas
kesehatan publik perlu diperkuat melalui monitoring dan evaluasi
penggunaan obat serta pengendalian suplai obat. Monitoring dan

evaluasi dapat meningkatkan ketaatan pada berbagai ketentuan dan


pedoman yang berlaku
8. Pemberdayaan KFT
KFT atau komisi sejenisnya perlu dibentuk dan diupayakan agar dapat
melaksanakan fungsinya dalam mencermati penggunaan obat dan
kerasionalan pengobatan
9. Ketersediaan sumber daya
Untuk upaya seperti informasi obat, drug surveillance, pemasaran
obat generik yang mendukung peresepan obat rasional, perlu
didukung ketersediaan sumber dana.

Peran Pasien Demi Tercapainya Penggunaan Obat Rasional/POR


(Rational Drug Use/RDU)
POR/RDU bukan semata-mata tanggung jawab tenaga kesehatan. Tetapi
terwujudnya POR/RDU juga sangat dipengaruhi oleh perilaku pasien
sebagai konsumen medis, sehingga pasien pun memiliki tanggung jawab
yang sama besarnya untuk mendukung tercapainya POR/RDU.
Apa saja yang bisa dilakukan pasien dalam mendukung terwujudnya
POR/RDU ?
1. Agar tercapai Tepat Pasien
Bantu tenaga kesehatan agar dapat menilai kondisi pasien dengan
tepat. Informasikan pada tenaga kesehatan jika pasien adalah
seorang ibu menyusui, atau memiliki riwayat alergi terhadap obat
tertentu, memiliki kelainan ginjal, hati , dll. Memang seharusnya hal
ini diajukan oleh tenaga kesehatan sendiri, tetapi tidak ada salahnya
pasien berinisiatif menginformasikannya jika tenaga kesehatan lupa
menanyakan. Toh semua demi kepentingan pasien sendiri.
2. Agar tercapai Tepat Indikasi
Bantu
tenaga
kesehatan
menegakkan
diagnosa
dengan
menginformasikan selengkap-lengkapnya gejala, keluhan atau sakit
yang sedang dialami.
3. Agar tercapai Tepat Obat
Pada saat pasien menerima resep, seharusnya bukan menjadi tanda
bahwa waktu kunjungan ke dokter telah berakhir. Justru konsultasi
harus dilanjutkan guna mendiskusikan obat apa saja yang
diresepkan. Tanyakan pada dokter mengenai komposisinya,
kegunaannya, cara pakai, hingga lama penggunaan obat. Dengan
demikian pasien sudah mendapat gambaran obat apa saja yang akan
diminum dan efek terapinya yang didapatkan sebelum memutuskan
untuk membeli obat tersebut. Jika ada obat yang dirasa tidak sesuai
dengan gejala yang dirasakan, tanyakan pada Dokter. Sebaiknya
pasien aktif bertanya, jangan hanya pasrah dan diam saja karena

yang sedang dibahas adalah kesehatan pasien sendiri. Hal ini juga
akan menjadi fungsi kontrol dari pasien bagi dokter agar selalu
terdorong memberikan obat yang sesuai indikasi.
4. Agar tercapai Tepat Biaya
Pasien harus mengetahui hak-haknya sebagai konsumen medis
termasuk memilih obat yang sesuai dengan keuangannya, apakah
menggunakan obat generik, obat bermerek atau obat originator /
paten.
Mari kembali galakkan penggunaan obat yang rasional demi taraf
hidup sehat yang lebih baik.
B. Tujuan
Agar penggunaan obat yang rasional mempunyai dampak positif yang
cukup
besar
didalam
meningkatkan
mutu
pelayanan kesehatan dan penurunan biaya kesehatan masyarakat.

BAB.II
PEMBAHASAN.
A. Penggunaan Obat Yang Rasional.
Penggunaan Obat secara Rasional (POR) atau Rational Use of Medicine (RUM)
merupakan suatu kampanye yang disebarkan ke seluruh dunia, juga di Indonesia.
Dalam situsnya, WHO menjelaskan bahwa definisi Penggunaan Obat Rasional adalah
apabila pasien menerima pengobatan sesuai dengan kebutuhan klinisnya, dalam dosis
yang sesuai dengan kebutuhan, dalam periode waktu yang sesuai dan dengan biaya
yang terjangkau oleh dirinya dan kebanyakan masyarakat. Dengan empat kata kunci
yaitu kebutuhan klinis, dosis, waktu, dan biaya yang sesuai, POR merupakan upaya
intervensi untuk mencapai pengobatan yang efektif.
Kampanye POR oleh WHO dilatarbelakangi oleh dua kondisi yang bertolak
belakang. Kondisi pertama menunjukkan bahwa terdapat lebih dari 50% obat-obatan di
dunia diresepkan dan diberikan secara tidak tepat, tidak efektif, dan tidak efisien.
Bertolak belakang dengan kondisi kedua yaitu kenyataan bahwa sepertiga dari jumlah
penduduk dunia ternyata kesulitan mendapatkan akses memperoleh obat esensial.
Penggunaan obat dapat diidentifikasi rasionalitasnya dengan menggunakan
Indikator 8 Tepat dan 1 Waspada. Indikator 8 Tepat dan 1 Waspada tersebut adalah
Tepat diagnosis, Tepat Pemilihan Obat, Tepat Indikasi, Tepat Pasien, Tepat Dosis, Tepat
cara dan lama pemberian, Tepat harga, Tepat Informasi dan Waspada terhadap Efek
Samping Obat. Beberapa pustaka lain merumuskannya dalam bentuk 7 tepat tetapi
penjabarannya tetap sama. Melalui prinsip tersebut, tenaga kesehatan dapat
menganalisis secara sistematis proses penggunaan obat yang sedang berlangsung.
Penggunaan obat yang dapat dianalisis adalah penggunaan obat melalui bantuan tenaga
kesehatan maupun swamedikasi oleh pasien.
LANGKAH-LANGKAH MENERAPKAN PENGGUNAAN OBAT SECARA
RASIONAL
WHO action programme on essential drugs (1994), mengemukakan bahwa
untuk menetapkan penggunaan obat secara rasional perlu dilalui
serangkaian langkah yaitu :
1. menentukan masalah pasien
2. menetapkan tujuan pengobatan
3. memeriksa kerasionalan penggunaan obat yang dipilih serta
meneliti efektivitas dan keamanannya
4. membuat resep
5. memberi informasi, instruksi, hal-hal yang perlu diwaspadai
6. melakukan monitoring
PENGGUNAAN OBAT YANG RASIONAL (Rational Drug Use)
Menurut WHO (1987 ), pemakaian obat dikatakan rasional jika memenuhi
kriteria :
Sesuai dengan indikasi penyakit
Tersedia setiap saat dengan harga terjangkau
Diberikan dengan dosis yang tepat
Cara pemberian dengan interval waktu pemberian yang tepat
Lama pemberian yang tepat
Obat yang diberikan harus efektif, dengan mutu terjamin dan aman.

penjabaran dari Indikator Rasionalisasi Obat yaitu 8 Tepat dan 1 Waspada:


1. Tepat Diagnosis
Penggunaan obat harus berdasarkan penegakan diagnosis yang tepat. Ketepatan
diagnosis menjadi langkah awal dalam sebuah proses pengobatan karena ketepatan
pemilihan obat dan indikasi akan tergantung pada diagnosis penyakit pasien.
Contohnya misalnya pasien diare yang disebabkan Ameobiasis maka akan
diberikan Metronidazol. Jika dalam proses penegakkan diagnosisnya tidak
dikemukakan penyebabnya adalah Amoebiasis, terapi tidak akan menggunakan
metronidazol.
2. Tepat pemilihan obat
Berdasarkan diagnosis yang tepat maka harus dilakukan pemilihan obat yang tepat.
Pemilihan obat yang tepat dapat ditimbang dari ketepatan kelas terapi dan jenis
obat yang sesuai dengan diagnosis. Selain itu, Obat juga harus terbukti manfaat dan
keamanannya. Obat juga harus merupakan jenis yang paling mudah didapatkan.
Jenis obat yang akan digunakan pasien juga seharusnya jumlahnya seminimal
mungkin.
3. Tepat indikasi
Pasien diberikan obat dengan indikasi yang benar sesuai diagnosa Dokter. Misalnya
Antibiotik hanya diberikan kepada pasien yang terbukti terkena penyakit akibat bakteri.
4.

Tepat pasien
Obat yang akan digunakan oleh pasien mempertimbangkan kondisi individu yang
bersangkutan. Riwayat alergi, adanya penyakit penyerta seperti kelainan ginjal atau
kerusakan hati, serta kondisi khusus misalnya hamil, laktasi, balita, dan lansia harus
dipertimbangkan dalam pemilihan obat. Misalnya Pemberian obat golongan
Aminoglikosida pada pasien dengan gagal ginjal akan meningkatkan resiko
nefrotoksik sehingga harus dihindari.

5.

Tepat dosis
Dosis obat yang digunakan harus sesuai range terapi obat tersebut. Obat
mempunyai karakteristik farmakodinamik maupun farmakokinetik yang akan
mempengaruhi kadar obat di dalam darah dan efek terapi obat. Dosis juga harus
disesuaikan dengan kondisi pasien dari segi usia, bobot badan, maupun kelainan
tertentu.

6.Tepat cara dan lama pemberian


Cara pemberian yang tepat harus mempertimbangkan mempertimbangkan keamanan
dan kondisi pasien. Hal ini juga akan berpengaruh pada bentuk sediaan dan saat
pemberian obat. Misalnya pasien anak yang tidak mampu menelan tablet parasetamol
dapat diganti dengan sirup. Lama pemberian meliputi frekuensi dan lama pemberian
yang harus sesuai karakteristik obat dan penyakit. Frekuensi pemberian akan berkaitan
dengan kadar obat dalam darah yang menghasilkan efek terapi. Contohnya penggunaan
antibiotika Amoxicillin 500 mg dalam penggunaannya diberikan tiga kali sehari selama
3-5 hari akan membunuh bakteri patogen yang ada. Agar terapi berhasil dan tidak
terjadi resistensi maka frekuensi dan lama pemberian harus tepat.

7.

Tepat harga

Penggunaan obat tanpa indikasi yang jelas atau untuk keadaan yang sama sekali tidak
memerlukan terapi obat merupakan pemborosan dan sangat membebani pasien,
termasuk peresepan obat yang mahal. Contoh Pemberian antibiotik pada pasien ISPA
non pneumonia dan diare non spesifik yang sebenarnya tidak diperlukan hanya
merupakan pemborosan serta dapat menyebabkan efek samping yang tidak
dikehendaki.l
8.

Tepat informasi

Kejelasan informasi tentang obat yang harus diminum atau digunakan pasien akan
sangat mempengaruhi ketaatan pasien dan keberhasilan pengobatan. Misalnya pada
peresepan Rifampisin harus diberi informasi bahwa urin dapat berubah menjadi
berwarna merah sehingga pasien tidak akan berhenti minum obat walaupun urinnya
berwarna merah.
9.

Waspada efek samping

Pemberian obat potensial menimbulkan efek samping, yaitu efek tidak diinginkan yang
timbul pada pemberian obat dengan dosis terapi. Contohnya Penggunaan Teofilin
menyebabkan jantung berdebar. Prinsip 8 Tepat dan 1 Waspada diharapkan dapat
menjadi indikator untuk menganalisis rasionalitas dalam penggunaan Obat. Kampanye
POR diharapkan dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi belanja obat dan
mempermudah akses masyarakat untuk memperoleh obat dengan harga terjangkau.
POR juga dapat mencegah dampak penggunaan obat yang tidak tepat sehingga menjaga
keselamatan pasien. Pada akhirnya, POR akan meningkatkan kepercayaan masyarakat
(pasien) terhadap mutu pelayanan kesehatan.

1. Standard Operating Procedure (SOP) di unit Pelayanan


Kesehatan
- Anamnesis
- Pemeriksaan
- Penegakan Diagnosis
- Pemilihan Intervensi Pengobatan
- Penulisan Resep
- Pemberian Informasi
- Tindak Lanjut Pengobatan
2. Penggunaan Obat Yang Rasional
Memenuhi kriteria :
-

Sesuai dengan Indikasi penyakit

Diberikan dengan dosis yang tepat

Interval waktu pemberian yang tepat

Lama Pemberian yang tepat

Obat yang diberikan harus efektif, dengan mutu terjamin,


murah dan aman.

Tersedia setiap saat dengan harga yang terjangkau.


Haruslah Mencakup :
1. Tepat Diagnosis
Contoh :
Penyakit diare disertai lendir, darah serta gejala tenesmus diagnosis
amoehiasis R / metronidazol
2. Tepat Indikasi
Contoh Infeksi Bakteri antibiotic
Misal : Pada infeksi saluran nafas, adanya Sputummucapuralen atau
banyi kurang dari 2 bulan, dengankecepatan respirasi > 60 x/menit.3.
3. Tepat Pemilihan Obat
Contoh : Demam untuk kasus Infeksi dan inflamasi Parasetamol (paling
aman)
Sedangkan Asam mefenamat dan ibuprofen (anti inflamasi non
steroid)demam yang terjadi akibat proses peradangan / inflamasi
4. Tepat dosis, cara dan lama pemberian pemberian dosis >>> untuk
obat yang bersifat narrow therapeuric margin (rentang terapi yang
sempit (mis : teofilin, digitalis, minoklosida) berisiko timbulnya efek
samping.
Sebaliknya dosis terlalu kecil tidak menjamin terapi yang diinginkan.
5. Kepatuhan pasien
Ketidaktaatan minum obat terjadi pada keadaan :
Jenis/jumlah obat yang diberikan terlalu banyak
Frekuensi pemberian obat perhari terlalu sering
Jenis sediaan obat terlalu beragam (mis : sirup, tablet dan lain-lain)
Pemberian obat dalam jangka panjang (mis : DM, hipertensi)
Pasien tidak mendapatkan penjelasan cukup cara minum dan lainlain.
Timbul efek samping (mis : ruam kulit, nyeri lambung) atau ikutan (urin
menjadi merah karena minum rifampisin)
Program Nasional TBC tanpa supervisi gagal
6. Tepat penilaian terhadap kondisi pasien
Respon terhadap efek obat sangat beragam teofilin dan aminoglikosida
pada kelainan ginjal pemberian aminoglokosida hindarkan
nefrotoksik meningkat.

Yang perlu dipertimbangkan :


- blocker (mis : propanol) tidak diberikan pada hipertensiyang
mempunyai riwayat asma bronkospasmus
Anti inflamasi non steroid sebaiknya dihindarai pada penderita asma
mencetuskan serangan asma.
Simetidin, klorpropamid, aminoglikosida, alopurinal pada usialanjut
ekstra hati-hati oleh karena waktu paruh memanjang secara
bermakna efek toksik meningkat pada pemberian secara berulang.
Peresapan kunilon (mis : siproloksaksin, afloksasin, tetrasiklin,
doksisiklin dan metronidazol pada ibu hamil dihindari (efek buruk
pada janin yang dikandungnya)

1. Tepat pemberian informasi


Contoh : Rifampisin urin berwarna merah
Antibiotika harus diminum sampai habis (1 course
of treatment)
2. Tepat dalam melakukan upaya tindak lanjut
Contoh :
Teofilin sering gejala takikardi, jika terjadi dosis ditinjau
ulang/obatnya diganti
Syok anafilaksis pemberian injeksi adrenali yang kedua perlusegera
dilakukan , jika yang pertama respons sirkulasikardiovaculer
belum seperti yang diharapkan.
Penggunaan Obat Yang Tidak Rasional
Sering
dijumpai
dalam
praktek
sehari-hari,
tanpa
indikasi
yang jelas, penentuan
dosis, cara
dan lama pemberian
yang keliru serta harga yang mahal contoh ketidakrasionalan peresepan.
Tidak rasional dampak negatif yang diterima oleh pasien >>dari
manfaatnya. Dampak negatif (efek samping dan resistensi kuman)dampak
ekonomi (biaya tidak terjangkau) dampak sosial (ketergantungan pasien
terhadap intervensi obat)
Penggunaan obat yang tidak rasional dikategorikan (ciri-ciri) :
1. Peresepan berlebih (over prescribing)Yaitu memberikan obat yang
sebenarnya tidak diperlukanuntuk penyakit yang bersangkutan. Contoh :
2. Pemberian antibiotik pada ISPA non pneumonia (umumnyadisebabkan
oleh virus).
3. Pemberian obat dengan dosis >> dari yang dianjurkan.
4. Jumlah
obat
yang
diberikan
untuk pengobatan penyakit tersebut.

lebih

dari

yang

diperlukan

5. Peresepan kurang (under prescribing)Yaitu jika pemberian obat kurang


dari yang seharusnyadiperlukan, baik dosis, jumlah maupun lama
pemberian. Contoh :

Pemberian antibiotika obat selama 3 hari untuk ISPA Pneumonia


Tidak memberikan oralit pada anak yang jelas menderita diare
6. Peresepan majemuk (multiple prescribing)
Yaitu jika memberikan beberapa obat untuk suatu indikasipenyakit yang
sama, pemberian lebih dari satu obat untuk penyakityang diketahui
dapat disembuhkan dengan satu jenis obat.Contoh : pemberian puyer pada
anak dengan batuk pilek, berisi :
a. Amoksisilin
b. Parasetamol
c. GG
d. Deksametason
e. CTM dan Luminal
7. Peresepan salah (incorrect prescribing)
Yaitu Pemberian obat untuk indikasi yang keliru dengan
resiko
efek samping
Contoh :
Pemberian antibiotic golongan kuinolon (mis: Siprofloksasin dan
Ofloksasin) untuk wanita hamil.
Meresepkan Asam Mefenamat untuk demam pada anak < 2 tahun
Contoh
lain
ketidakrasionalan
prakteksehari-hari:

penggunaan

obat

dalam

1. Pemberian obat untuk penderita yang tidak memerlukan terapiobat


Contoh : Pemberian Robaransia untuk perangsang nafsu makan
pada anak interverensi gizi jauh lebih bermanfaat
2. Penggunaan obat yang tidak sesuai dengan indikasi penyakit.
Contoh : Pemberian Injeksi vitamin B12 untuk keluhan pegel linu
3. Pemberian obat yang tidak sesuai dengan aturan
Contoh :
- Pemberian Ampisilin setelah makan
- Frekuensi Pemberian Amoksilin 4 x sehari, bukannya 3 x
4. Penggunaan obat yang memiliki potensi toksisitas >> sementaraobat
lain dengan mamfaat yang sama tetapi jauh lebih amantersedia.
Contoh : Pemakaian antibiotik
golongan
Aminoglikosida
pada penderita usia lanjut resiko ototolsik dan nefrotoksik,
sementara antibiotik lain yang aman tersedia.
5. Penggunaan obat yang harganya mahal, sementara obat sejenis
denganmutu
yang
sama
dan
harga
lebih
murah tersediaContoh : Peresepan obat
paten
relative
mahal,
padahal ada obat generik murah, manfaat sama
6. Penggunaan obat yang belum terbukti secara ilmiah kemanfaatan
dan keamanannya
Contoh : Obat baru yang belum teruji manfaat, keamanannya
sementaraobat lain telah teruji tersedia.
7. Penggunaan
obat yang
jelas-jelas
akan mempengaruhi
kebiasaan/persepsiyang keliru dari masyarakat terhadap hasil
pengobatan
Contoh : Kebiasaan pemberian injeksi Roboransia penderita dewasa
akan mendorong selalu meminta diinjeksi jika datang dengan keluhan
yang sama.
Contoh penggunaan obat yang tidak rasional
Pemberian injeksi B 12 untuk keluhan pegel linu

Dampak Penggunaan Obat Yang Tidak Rasional


Dampak negative beragam dan bervariasi (efek samping danbiaya mahal)
yang lebih luas (resistensi kuman terhadap antibiotik terterntu ),
mutu pelayanan secara umum.
Secara ringkas dampak negative meliputi :
1. Dampak pada mutu pengobatan dan pelayanan
2. Dampak terhadap biaya pengobatan
3. Dampak terhadap kemungkinan efek samping dan efek lain yangtidak
diharapkan.
4. Dampak terhadap mutu ketersediaan obat.
5. Dampak psikosisial
Ad.1. Dampak pada mutu pengobatan dan pelayanan
Menghambat
upaya
penurunan
angka
morboditas
dan
mortalitas penyakit.
Contoh : Penyakit diare akut non spesifik umumnya
mendapat
antibiotik
dan
obat
injeksi
sementara
pemberian oralit (yang lebih dianjurkan)
kurang banyak dilakukan resiko terjadinya dehidrasi pada anak
membahayakan keselamatan.
ISPA
non
pneumonia
pada
anak
umumnya mendapat
antibiotik yang sebenarnya tidak perlu. Tidak mengherankan
angka kematianbanyi dan balita akibat ISPA dan diare masih cukup
tinggi diIndonesia
Ad.2 Dampak terhadap biaya pengobatan
Pemakaian obat tanpa indikasi yang jelas
Pemakaian obat sama sekali tidak memerlukan terapi obat,
merupakan pemborosan dan membebani pasien.
Peresepan obat mahal, ada murah antibiotik.
Contoh : ISPA non pneumonia antibiotic.
Ad.3. Dampak terhadap kemungkinan Efek Samping dan efek lain yang
tidak diharapkan
Contoh :
- Resiko
terjadinya penularan penyakit (misal:hepatitis danHIV)
meningkat pada penggunaan injeksi yang tidak legeartis (mis : 1 jarum
suntik digunakan untuk lebih dari 1 pasien)
- Kebiasaan memberikan injeksi meningkatkan syok anafilaksis
- Resiko efek samping meningkat secara konsisten banyaknya jenis obat
yang diberikan pasien nyata pada usia lanjut. Kelompok usia ini 1
diantara 6 penderita.
- Terjadi resistensi kuman antibiotic berlebih (over prescribing),
kurang (under prescribing), pemberian yangbukan indikasi (missal :
oleh virus)
Ad. 4. Dampak terhadap mutu ketersediaan obat
Dari studi dasar yang dilakukan oleh bagian farmakologi FKUGM bekerja
sama dengan Dirjen POM Depkes RI 1997
Tahun 1998 lebih dari 80 % keluhan demam, batuk dan pilek antibiotik rata
-rata 3 hari pemberian keluhan puskesmas tidak cukup ketersediaan

antibiotic, akibatnya pasien menderita infeksi bakteri antibiotik sudah


tidak tersedia. Selanjutnya yang terjadi pasien antibiotik yang bukan
menjadi drug of choice dari infeksi tersebut.
Terdapat 2 masalah utama.
-

Seolah-olah mutu ketersediaan obat sangat jauh dari memadai.


Padahal yang terjadi antibiotic telah dibagi rata kesemua pasien
yang sebenarnya tidak memerlukan.

Dengan mengganti jenis antibiotik tidak sembuh pasien (karena


antibiotik yang diberikan mungkin tidak memiliki spektrum anti
bakteri untuk penyakit tersebut (missal : Pneumonia metronidazole)
atau penyakit parah meninggal.

Ad. 5 Dampak Psikososial


Ketidakrasionalan pemberian obat berpengaruh buruk bagi pasien.
Pengaruh buruk dapat berupa :
Ketergantungan terhadap intervensi obat maupun persepsi yang keliru
terhadap pengobatan.
Contoh yang banyak dijumpai sehari-hari :
Kebiasaan dokter/petugas kesehatan injeksi memuaskan pasien
dikaji ulang oral lebih aman dari injeksi. Resiko >> pemberian
tidak lege artis (menggunakan satu jarum secaraberulang-ulang).
Tentunya kenyakinan pada masyarakat injeksi pengobatan terbaik
yang selalu dianjurkan/ditawarkan oleh dokter atau petugas.
Memberikan Roboransia pada anak merangsang nafsu makan
keliru, motivasi orang tua makan bergizi apalagi anak sakit.
Pemberian subtitusi terapi pada diare.
Diare oralit (benar tidak dianjurkan)
Diare akukt non spesifik injeksi, antibiotic (tidak diperlukan)

Akibat penggunaan obat tidak rasional


1. Pemborosan biaya dan anggaran masyarakat
2. Resiko efek samping dan resistensi
3. Mutu ketesediaan obat kurang terjamin.
4. Mutu pengobatan dan pelayanan kesehatan buruk .
5. Memberikan persepsi yang keliru tentang pengobatan padamasyarakat
Upaya Mengatasi Masalah Penggunaan Obat Yang Tidak Rasional
Dikelompokkan dalam beberapa hal
1. Upaya pendidikan (educational strategies)
2. Pendidikan selama masa kuliah (pre-service)
3. Sesudah menjalankan prkatek kepropesian (past-service)
4. Pendidikan past-service antara lain :
Pendidikan berkelanjutan (contining-medical education)
Informasi pengobatan (academic based detailing)
Seminar-seminar, buletin dan lain-lain

Sarana pendidikan yang dapat digunakan untuk intervensi :


Materi cetak buletin, pedoman pengobatan
Pendidikan tatap muka (face to face education) : kuliah
penyegaran, seminar.
Media lain : televise, video dan lain-lain.
Informasi / sumber-sumber informasi
Upaya informasi
- Intervensi informasi bagi dokter.
Informasi ilmiah menunjang praktek keprofesian bebas dari
pengaruh promosi industry farmasi.
- Intervensi apoteker mengenai obat
- Intervensi informasi bagi pasien / masyarakat mentaati upaya
pengobatan
Informasi yang disampaikan ke pasien antara lain :
1. Penyakit yang diderita
2. Jenis dan peran obat yang diberikan dalam proses penyembuhan.
3. Informasi mengenai cara, frekuensi, lama pemberian obat.
4. Kemungkinan resiko efek samping.
5. Cara penanggulangan efek samping.
6. Apa yang harus dilakukan, jika dalam periode tertentu belum memberikan
hasil yang diharapkan.
Informasi yang harus dilakukan, selain pengobatan yang diberikanseperti :
banyak minum bagi penderita demam, istirahat dan makan
minum secukupnya common cold.
Jangan memberikan injeksi bila :
1. Tanpa indikasi yang jelas
2. Tidak dapat menyediakan satu jarum untuk satu pasien
3. Tidak dapat menyediakan adrenalin dan cartison di samping obatsuntik
yang ada.
4. Tidak mengetahui cara penangaaanan syok anafilaksis.
6. Pedoman Pengobatan
a. Yaitu suatu perangkat ilmiah yang dapat digunakan sebagaipedoman
dalam melakukan pengobatan. Pedoman pengobatan hanyamemuat
pilihan utama dan alternatif yang telah terbukti memberikanmamfaat
yang maksimal bagi pasien dengan risiko yang minimal.
b. Pedoman
pengobatan
sangat
diperlukan
sebagai
salah satu
pegangandalam
pengambilan
keputusan
terapetika,
karena
pedomanpengobatan pada dasarnya menganjurkan pilihan terapi utama
danaltrnartif yang sudah terbukti kemanfaatan (efficacy) dan
keamanannya (safety) untuk masing-masing kondisi penyakit
c. Dengan menggunakan pedoman pengobatan maka :
a. Pasien
hanya
akan
menerima
pilihan
obat
yang
baik
(palingbermanfaat, aman, ekonomik dan rasional serta tersedia
setiapsaat diperlukan).
b. Pelaksanaan pengobatan mencerminkan standard keprofesianyang
tinggi.
c. Kesediaan setiap obat lebih terjamin.
d. Pelaksanaan program pengobatan lebih efisien.
e. Secara formal memberi pengamanan hukum bagi dokter.

7. Pemantauan dan Evaluasi Penggunaan Obat Yang Rasional


1. Tujuan Pemantauan Penggunaan Obat yang RasionalUntuk menilai apakah
kenyataan praktek penggunaan obatyang dilakukan telah sesuai dengan
pedoman yang disepakatiM
2. Manfaat Pemantauan :

Dengan
pemantauan
ini
dapat
dideteksi
adanya
kemungkinanpemakaian obat yang berlebih (over prescribing),
kurang(under
prescribing),
boros
(extravagant
prescribing),
maupuntidak tepat incorrect prescribing).
Perencanaan obat.
3. Cara Melakukan Pemantauan Penggunaan Obat
Secara langsung anamnesis sampai penyerahan obat.
4. Apa yang Dipantau
Kecocokan antara gejala/tanda-tanda (symstoms/sings),diagnosis dan
pengobatan yang diberikan
Kesesuaian pengobatan yang diberikan dengan pengobatanyang ada
Pemakaian obat tanpa indikasi yang jelas (antibiotic untuk ISPA non
peneumonia)
Praktek polyfarmasi
Ketepatan indikasi
Ketepatan jenis, jumlah, cara dan lama pemberian.
Monitoring dan Evaluasia.
Indikator Peresepan
Empat parameter utama yang akan dinilai dalam monitoring dan evaluasi
penggunaan obat yang rasional adalah :
- Penggunaan standar pengobatan
- Proses pengobatan (Penerapan SOP)
- Ketepatan diasnostik
- Ketepatan pemilihan intervensi pengobatan
Keempat parameter tersebut dijabarkan dalam indicator penggunaan obat :
Rata-rata jenis obat per kasus
Presentase penggunaan obat antibiotik
Presentase penggunaan injeksi.

BAB III
PENUTUPAN
Kesimpulan
Pemberian obat yang aman dan akurat merupakan salah satu terapi obat
terpenting terhadap pasien. Obat adalah alat utama terapi yang digunakan
dokter untuk mengobati pasien yang memiliki masalah kesehatan.
Walaupun obat menguntungkan pasien dalam banyak hal, beberapa obat
yang menimbulkan efek yang berbahaya akibat efek samping yang
ditimbulkan, memberikan obat dengan tepat, memantau respon dan
membantu pasien menggunakannya dengar benar dan berdasarkan
pengetahuan akan dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan pada pasien.

DAFTAR PUSTAKA
Sneha Ambwani,Dr, A K Mathur ,Dr, Rational Drug Use, Health Administrator Vol : XIX
Number 1: 5-7
http://www.who.int/medicines/areas/rational_use/en/index.html

Iwan Dwiprahasto, Penggunaan obat yang tidak rasional dan implikasinya


dalam sistem pelayanan kesehatan, Bagian Farmakologi & Terapi/Clinical
Epidemiology & Biostatistics Unit
FK-UGM/RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta
Masalah
Penggunaan
www.farklin.com

Obat

di

Institusi

Pelayanan

Rational Use of Antibiotic, http://www.rationalmedicine.org

Kesehatan,