You are on page 1of 29

BAB 1

PENDAHULUAN
Kegawatdaruratan secara umum dapat diartikan sebagai suatu keadaan
yang dinilai sebagai ketergantungan seseorang dalam menerima tindakan medis
atau evaluasi tindakan operasi dengan segera. Berdasarkan definisi tersebut the
American

College

of

Emergency

Physicians

states

dalam

melakukan

penatalaksanaan kegawatdaruratan memiliki prinsip awal, dalam mengevaluasi,
melaksanakan, dan menyediakan terapi pada pasien-pasien dengan trauma yang
tidak dapat di duga sebelumnya serta penyakit lainnya.1
Perbaikan pada saat pra rumah sakit dan perawatan gawat darurat dapat
menurunkan morbiditas dan mortalitas pasien.2 Penilaian awal pada pasien-pasien
trauma dapat dibedakan menjadi penilaian primer (primary survey), penilaian
sekunder (secondary survey), dan penilaian tersier (tertiary survey). Penilaian
primer dilakukan dalam 2-5 menit yang memuat ABCDE: airway, breathing,
circulation, disability, dan exposure. 3
Pasien yang mengalami trauma berat, harus dicurigai memiliki trauma
pada abdomen hingga dibuktikan sebaliknya. Sebanyak 20% pasien dengan luka
intraabdomen tidak memiliki rasa sakit atau tanda-tanda iritasi peritoneal (muscle
guarding, nyeri ketuk, ataupun ileus) pada pemeriksaan pertama. Trauma
abdomen sering dibedakan menjadi luka tembus (luka tembak dan luka tusuk) dan
tidak tembus (deselerasi, tabrakan, dan luka kompresi). Trauma tumpul abdomen
merupakan penyebab utama dari morbiditas dan mortalitas dalam trauma, dan
menjadi penyebab utama pada luka intraabdomen.
Trauma abdomen yang berhubungan dengan kendaraan menjadi penyebab
utama dari trauma tumpul abdomen. Kendaraan-kendaraan dan kendaraan-pejalan
kaki dilaporkan menjadi penyebab sekitar 50-75% kasus. Penyebab yang sering
lainnya adalah jatuh, kecelakaan di tempat kerja, maupun kecelakaan sewaktu
rekreasi. Selain itu, penyebab yang agak jarang terjadi adalah iatrogenik sewaktu
resusitasi kardiopulmonal serta manuver Heimlich.

1

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Penilaian Awal
Penilaian awal pada pasien-pasien trauma dapat dibedakan menjadi
penilaian primer (primary survey), penilaian sekunder (secondary survey), dan
penilaian tersier (tertiary survey). Penilaian primer dilakukan dalam 2-5 menit
yang memuat ABCDE: airway, breathing, circulation, disability, dan exposure.
Apabila fungsi dari tiga sistem pertama mengalami gangguan, resusitasi harus
segera dilakukan. Meskipun terdapat urutan ABCDE, tetapi penilaian ini harus
dilakukan secara simultan. Kemudian, monitoring dasar perlu dilakukan, termasuk
elektrokardiograf (EKG), pengukuran tekanan darah, serta saturasi O2. Setelah
dilakukan penilaian primer, maka dilanjutkan penilaian sekunder, kemudian
penilaian tersier.
2.1.1. Primary Survey
1. Airway
Stabilisasi dan mempertahankan jalan napas selalu menjadi prioritas
utama. Apabila pasien dapat berbicara, maka jalan napas biasanya bebas, tetapi
pada pasien yang tidak sadar, maka perlu dipastikan jalan napasnya. Tanda-tanda
yang penting pada obstruksi jalan napas meliputi snoring, gurgling, stridor, dan
gerakan dada yang paradoks. Adanya benda asing perlu dipikirkan pada pasienpasien yang tidak sadar. Penanganan jalan napas lanjutan (intubasi endotrakeal,
krikotiroidotomi, serta trakeostomi) diindikasikan apabila terdapat apnu, obstruksi
yang persisten, luka kepala berat, trauma maksilofasial, luka tembus di leher, atau
luka pada dada yang hebat.
Selain jalan napas, pada airway, perlu diperhatikan tentang kemungkinan
luka pada servikal. Terdapat lima kriteria yang meningkatkan kecurigaan akan
adanya fraktur servikal: (1) nyeri di leher, (2) nyeri hebat di tempat lain, (3) tanda
atau gejala neurologis, (4) intoksikasi, dan (5) hilangnya kesadaran di tempat
kejadian. Fraktur servikal harus dicurigai apabila terdapat salah satu dari kriteria

2

tetapi dapat ditandai dengan adanya krepitasi pada daerah leher. tekanan darah. Circulation Penilaian untuk sirkulasi berdasarkan pada denyut nadi. Listen. disfagia. antara lain: takikardi. Luka terbuka bisa berhubungan dengan perdarahan dari pembuluh darah besar di daerah leher. sehingga jalan napas harus segera diamankan dengan menggunakan bantuan ETT maupun trakeostomi. Bag-valve devices akan menyediakan ventilasi yang adekuat segera setelah intubasi dan saat transportasi pasien. ketinggalan bernapas. hematoma. Sebagian besar pasien-pasien yang mengancam nyawa memerlukan bantuan (atau kontrol) nafas. penggunaan otot bantu pernapasan. maka trakeostomi dapat dipertimbangkan.tersebut. atau luka tembus di dada. Pasien-pasien yang tidak sadar disertai dengan trauma berat. dan luka servikal. tekanan/volume. obstruksi dari hematoma maupun edema. listen. Trauma pada daerah laring akan memperberat keadaan. Drainase pleura mungkin diperlukan sebelum rontgen dada bisa didapatkan. Klinisi wajib memiliki kecurigaan yang besar terhadap adanya pneumotoraks tension dan hemotoraks. atau kesulitan berbicara. Tanda-tanda yang bisa dijumpai apabila terdapat sirkulasi yang tidak adekuat. Look. Feel. untuk emfisema subkutis. dan tanda-tanda dari perfusi jaringan. 3 . meskipun tidak terdapat luka pada daerah di atas klavikula. pendorongan trakea. Untuk manuver yang aman dilakukan adalah dengan menggunakan manuver jaw-thrust untuk mencegah hiperekstensi leher. dengar ada atau tidaknya suara napas. Penilaian tentang analisa gas darah arteri (AGDA) diperlukan untuk menilai konsentrasi oksigen yang dikirimkan ke jaringan. lihat tanda-tanda sianosis. terutama pada pasien-pasien dengan distres nafas. 3. Apabila sulit untuk dilakukan ETT. hemoptisis. 2. and feel. Breathing Penilaian tentang ventilasi akan paling baik dilakukan dengan pendekatan look. maupun fraktur iga. emfisema subkutis. maka harus dipikirkan risiko terjadinya aspirasi. Trauma laring tertutup lebih tidak jelas.

Respon fisiologis yang dapat terjadi adalah takikardi. Untuk kontrol perdarahan. maka diperlukan IV-kateter nomor besar (14-16 G) pada vena yang mudah didapatkan. dingin. Prioritas utama untuk mengembalikan sirkulasi yang adekuat adalah dengan menghentikan perdarahan. harus diketahui asal perdarahan. Luka pada daerah ekstremitas biasanya dapat dengan mudah dikontrol dengan melakukan penekanan. defisit cairan interstisial terkait dengan syok hipovolemik lebih baik diberikan cairan kristaloid. perlu dipertimbangkan monitoring tekanan darah arteri secara invasif. Pada hipovolemia berat. sehingga jalur perifer menjadi pilihan utama untuk resusitasi awal. 4 . Untuk pemilihan cairan. tetapi lebih efektif dan lebih cepat dalam mengembalikan volume intravaskular. Akan tetapi. Koloid jauh lebih mahal dibandingkan dengan kristaloid. mereka akan sangat memakan waktu dan memiliki risiko komplikasi yang mengancam nyawa (pneumotoraks).pulsasi nadi yang lemah hingga tidak teraba. serta delirium. Syok yang sering terjadi pada pasien trauma adalah syok hipovolemik. kemudian lakukan tekanan di daerah luka tersebut. hipotensi. Hematokrit dan hemoglobin bukanlah menjadi tolok ukur utama untung menggambarkan jumlah perdarahan akut. atau sianosis. karena sebagian besar dari cairan kristaloid tidak bertahan lama di dalam kompartemen intravaskular. Pada pasien dengan hemodinamik yang tidak stabil seperti ini. atau kombinasi antara koloid dan kristaloid. maka perlu dipikirkan tentang syok. kedua adalah dengan menggantikan volume intravaskular. Henti jantung selama transportasi ke rumah sakit atau segera setelah luka tembus maupun tumpul pada toraks merupakan suatu indikasi torakotomi emergensi. Pada pasien-pasien dengan trauma berat. dan penurunan dari tekanan nadi. takipnu. kristaloid adalah cairan yang tersedia dengan cepat dan lebih murah. hipotensi. Resusitasi memerlukan jumlah yang lebih banyak. Untuk kepentingan resusitasi dan cairan. perfusi jaringan yang kurang. Meskipun terbukti bahwa pemasangan jalur sentral akan memberikan informasi yang penting terkait status volume pada pasien. serta ekstremitas yang pucat. maka denyut nadi dapat terasa hilang saat fase inspirasi.

Pemeriksaan ekstremitas meliputi fraktur. 5. yang perlu dilakukan perikardiosentesis. 4. Pemeriksaan neurologis meliputi GCS dan evaluasi dari fungsi motorik dan sensorik termasuk refleks-refleks. Analisis dasar laboratorium termasuk darah lengkap. tekanan nadi yang sempit (narrow pulse pressure). Secondary Survey Penilaian sekunder hanya dilakukan apabila ABC sudah dalam kondisi stabil. Exposure Buka pakaian pasien untuk memeriksa luka yang terdapat pada tubuhnya. laboratorium. In-line immobilization harus digunakan jika terdapat kecurigaan adanya luka pada tulang belakang. lakukan auskultasi dan inspeksi kembali untuk melihat fraktur maupun fungsi dari pernapasannya (ketinggalan bernapas). Pemeriksaan kepala meliputi luka pada kulit kepala. serta vena leher yang distensi dapat menunjukkan adanya tamponade jantung. serta palpasi. AGDA juga sangat membantu. Karena tidak ada waktu untuk menggunakan sistem GCS. Pupil yang berdilatasi maksimal tidak selamanya menandakan kerusakan otak yang ireversibel. Painful response. Hilangnya suara napas dapat dicurigai adanya suatu pneumotoraks yang perlu dilakukan pemasangan chest tube. Pemeriksaan dada. Verbal response. mata. Unresponsive. pasien diperiksa dari ujung kepala hingga ujung kaki (head-to-toe examination) dan pemeriksaan lainnya dilakukan (radiografi. prosedur diagnostik lainnya). sehingga bukan menjadi pilihan utama. dislokasi.1. blood urea nitrogen (BUN). maka sistem AVPU lebih digunakan. elektrolit. Pada penilaian sekunder. akan cukup memakan waktu untuk cross-match. Disability Evaluasi untuk disabilitas memerlukan penilaian neurologis yang cepat. 2. Pemeriksaan abdomen meliputi inspeksi. yaitu: Awake. Foto 5 .Sedangkan untuk darah. serta kreatinin.2. dan telinga. gula darah. yakni sekitar 45-60 menit. Pemasangan kateter serta NGT juga dilakukan. auskultasi. suara jantung yang menjauh. Hal yang serupa. dan pulsasi perifer.

Pemeriksaan lainnya berupa FAST dapat dilakukan untuk menilai adanya perdarahan intraperitoneal maupun tamponade jantung. dan luka kompresi). tabrakan. Pasien stabil dengan tanda-tanda peritonitis atau eviserasi harus dilakukan 6 . Kecurigaan adanya fraktur servikal harus dievaluasi dengan memeriksakan ketujuh vertebra servikalis. Evaluasi yang lebih lama ini dapat menyebabkan pasien menjadi lebih sadar. Pasien dapat dikelompokkan menjadi tiga subgrup: (1) pulseless.3. memberikan informasi yang lebih detail tentang mekanisme injuri. Sebanyak 20% pasien dengan luka intraabdomen tidak memiliki rasa sakit atau tanda-tanda iritasi peritoneal (muscle guarding. (2) hemodinamik yang tidak stabil. terutama pada trauma multipel. serta (3) stabil. Organ yang paling sering terkena adalah hepar. Trauma Abdomen Pasien yang mengalami trauma berat. ataupun ileus) pada pemeriksaan pertama. Biasanya terdapat pembuluh darah besar atau organ padat yang terkena luka. Sekitar 2-50 % dari luka trauma dapat terlewatkan di penilaian primer dan sekunder.2.1. Tertiary Survey Beberapa pusat menyarankan adanya penilaian tersier untuk mencegah adanya luka yang terlewatkan. 2. serta penyakit-penyakit penyerta. Trauma abdomen sering dibedakan menjadi luka tembus (luka tembak dan luka tusuk) dan tidak tembus (deselerasi. Luka tembus abdomen biasanya jelas dengan luka masuk pada abdomen maupun di toraks bagian bawah. nyeri ketuk. Hal ini dapat dilakukan dalam 24 jam pertama. 2. harus dicurigai memiliki trauma pada abdomen hingga dibuktikan sebaliknya. Pulseless dan hemodinamik yang tidak stabil (yang tidak dapat mempertahankan tekanan darah sistolik di atas 8090 mmHg) dengan resusitasi 1-2 Liter harus segera dilakukan laparotomi. Jumlah darah yang banyak (hemoperitoneum akut) dapat dijumpai di abdomen (luka di hepar maupun limpa) dengan tanda yang minimal. sehingga dapat berkomunikasi dengan lebih baik.toraks harus segera dilakukan pada semua pasien dengan trauma hebat.

eksplorasi luka. Transfusi darah yang masif harus diantisipasi. serta darah dari rektum. CT-Scan abdomen. limpa. Evaluasi lanjutan pada pasien dengan hemodinamik stabil termasuk pemeriksaan fisik serial. siapkan cairan dan darah untuk resusitasi dengan infus cepat. Penyebab yang sering lainnya adalah jatuh. Hasil FAST scan yang positif pada pasien dengan hemodinamik yang tidak stabil merupakan suatu indikasi untuk dilakukan operasi segera.3.laparotomi sesegera mungkin. Trauma Tumpul Abdomen 2. darah dari NGT. Etiologi Trauma abdomen yang berhubungan dengan kendaraan menjadi penyebab utama dari trauma tumpul abdomen. kecelakaan di tempat kerja. Tanda yang jelas dari adanya injuri intraabdomen adalah adanya free air di bawah diafragma pada foto toraks.2.3. Trauma tumpul abdomen merupakan penyebab utama dari morbiditas dan mortalitas dalam trauma. 2. dan harus dimasukkan per oral apabila terdapat fraktur basis kranii. NGT akan membantu mencegah dilatasi dari lambung. terutama bila trauma abdomen mengenai pembuluh darah besar. Patofisiologi 7 . Penggunaan nitrous oxide dihindarkan untuk mencegah semakin buruknya distensi usus. FAST scan. atau laparoskopi diagnostik. hematuria. penyebab yang agak jarang terjadi adalah iatrogenik sewaktu resusitasi kardiopulmonal serta manuver Heimlich. maupun kecelakaan sewaktu rekreasi. karena efek tamponade dari darah di rongga abdomen (serta distensi usus) hilang secara tiba-tiba. Penggunaan FAST dan CT-Scan abdomen telah menurunkan kebutuhan dari DPL. Hipotensi sering kali terjadi saat pertama kali membuka abdomen. Saat diperlukan.1. dan menjadi penyebab utama pada luka intraabdomen. Robekan atau ruptur pada limpa merupakan yang paling sering terjadi. 2. Selain itu.3. hepar. diagnostic peritoneal lavage (DPL). Kendaraan-kendaraan dan kendaraan-pejalan kaki dilaporkan menjadi penyebab sekitar 50-75% kasus. atau ginjal.

Mekanisme ketiga yang dapat terjadi adalah kompresi eksternal. perdarahan dari saluran pencernaan. Mekanisme pertama adalah deselerasi. dan cenderung tidak akurat. Hal ini akan menyebabkan crushing effect. terutama pada posisi-posisi yang relatif terfiksasi dengan kuat. Sebagai akibatnya. Gaya kompresi ini akan menyebabkan peningkatan tekanan intraabdomen secara tiba-tiba dan akan menyebabkan ruptur dari organ berongga. dan ginjal) menjadi lebih rentan.3. pembuluh darah bisa robek. serta bukti adanya iritasi peritoneal. gaya gesek ini akan menyebabkan aorta menjadi robek. dan lain-lain. menyebabkan organ-organ padat (limpa. Sebagai contoh. 8 . Manifestasi Klinis Penilaian awal dari trauma tumpul abdomen sering kali agak sulit dilakukan. Sebagai hasil. distensi abdomen. hipovolemia. Deselerasi yang terjadi secara cepat akan menyebabkan perubahan dalam struktur yang berdekatan. aorta distal terfiksasi ke torakalis dan akan berdeselerasi lebih cepat dibandingkan lengkung aorta yang cenderung mobile.Luka intraabdomen sekunder terjadi akibat tabrakan antara pasien dan lingkungan luar serta gaya akselerasi dan deselerasi yang bekerja pada organ internal.3. tanda dari kemudi mobil. 2. Isi dalam rongga intraabdomen akan tertekan antara dinding abdomen anterior dan kolumna vertebra. Mekanisme trauma yang terjadi dapat dijelaskan dalam tiga mekanisme. hepar. Beberapa tanda dan gejala yang harus diperhatikan adalah: nyeri. kolumna spinalis). organ padat. akan terjadi gaya gesek sehingga organ berongga. Kemudian. pada pemeriksaan fisik dapat dijumpai adanya pola-pola trauma yang bisa memprediksikan adanya trauma intraabdomen. Mekanisme kedua melibatkan penekanan. antara lain: tanda sabuk pengaman. apakah dari efek pukulan secara langsung atau dari kompresi terhadap objek-objek yang terfiksasi (sabuk pengaman. auskultasi dari suara usus di daerah toraks (menggambarkan trauma diafragma). ekimosis di daerah pinggang atau umbilikus.

DPL dapat diindikasikan pada pasien-pasien dengan: trauma pada tulang belakang. CT-scan juga menyediakan gambaran yang sangat baik untuk pankreas. tidak invasif. Past medical history. Events leading to presentation). Sedangkan pada pasien anak. Angka mortalitas pada pasien-pasien yang dirawat sekitar 5-10%.3. Diagnosis Terdapat beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis trauma tumpul abdomen. serta pasien yang dicurigai trauma abdomen. serta dengan CT-scan.3. CT-scan merupakan standar yang digunakan untuk mendeteksi adanya luka pada organ padat.4. antara lain dengan diagnostic peritoneal lavage (DPL). prognosis pasien dengan trauma tumpul abdomen cukup baik. 2.5. dan sistem genitourinari. 9 . CT-scan dapat mendeteksi sumber perdarahan. Focused Assesment with Sonography for Trauma (FAST). portabel. perihepatik. yang dapat disingkat menjadi AMPLE (Allergies. Pemeriksaan dikatakan positif apabila dijumpai adanya cairan di salah satu dari empat jendela pemeriksaan tersebut. duodenum. FAST merupakan USG yang cepat. Serta. Medications. perilimpa. serta pelvik) dengan pasien dalam posisi supine. Last meal.Harus ditanyakan tentang riwayat pada pasien. Negatif jika tidak dijumpai adanya cairan. dan akurat untuk mendeteksi adanya hemoperitoneum. luka multipel dan syok yang tidak dapat dijelaskan. 2. National Pediatric Trauma Registry melaporkan sekitar 9% pasien anak meninggal akibat trauma tumpul abdomen. tidak seperti DPL dan FAST. Suatu ulasan dari Australia melaporkan bahwa sekitar 85% dari pasien dengan trauma tumpul abdomen terjadi akibat kecelakaan dengan angka mortalitas sekitar 6%. Prognosis Secara keseluruhan. dan indeterminate jika salah satu dari jendela pemeriksaan tidak bisa dinilai secara adekuat. Protokol pemeriksaan FAST terkini mencakup 4 jendela pemeriksaan (perikardiak.

M. nyeri saat bernafas (-). : -. Riwayat Penggunaan Obat 3.1.1.61.30 DF 00. Patient Assessment 10 .BAB III LAPORAN KASUS Tanggal Masuk Waktu Nama R.2.82 3. Riwayat Perjalanan Penyakit Jenis Kelamin. sesak nafas(-). Berat Badan : Perempuan. Cendana Status : Belum Menikah Pekerjaan : Tidak bekerja Tanggal Masuk : 28 Agustus 2014 3. Anamnesis Identitas Pribadi Nama : DF Jenis Kelamin : Perempuan Usia : 13 tahun Suku Bangsa : Batak Agama : Islam Alamat : Desa Gedubang Lk. keluhan trauma pada dada(-).1.42.2. 28 Agustus 2014 16. batuk berdarah (-) Riwayat Penyakit Terdahulu : -. Umur. 13 tahun. 25 kg Keadaan Umum : Nyeri pada bagian dada Telaah :Hal ini dialami pasien sejak pasien tesedak jarum pentul 3 hari yang lalu.

hiposonor (-) Ciculation Pulsasi karotis : (+) HR : 97 x/i (PP) Akral : Hangat/Merah/Kering T/V : kuat/cukup .31 Normal IVFD RL 10 gtt/i Sirkulasi Aman 16. TD: 120/80 mmHg Disabilty Kesadaran : Compos mentis GSC E4V5M6. debris (-) Listen : Snoring (-). Suara Tambahan (-) Feel : hipersonor (-).33 - - - - 11 . crowing (-) Feel : gerakan udara (+) Breathing Look : gerakan dinding dada (+) Listen : aus.30 Adekuat - Sat O2 : 99% RR : 22 x/i 16.32 Compos Mentis - - 16. Gurgling (-). Primary Survey Sign Airway Look : Obstruksi (-). CRT : < 2 detik. vesikuler (+).1. Pupil : isokor ø 3mm/3mm Rc :+/+ Exposure - Diagnosis Treatment Hasil Waktu Clear O2 2 L/i Jalan Nafas Aman 16.

MLP: 1 GL: bebas. DS (-) P: defans (-).00 WIB 10/08/2014 Bone & Ekstremities Oedem (-) Fraktur (-) 3.5 o Brain Kesadaran : compos mentis GCS : 15 Pupil : isokor ø 3mm/3mm Bladder UOP : (-) kateter : (-) Bowel I: distensi (-). SP: vesikuler. ST: RR: 22x/i. simetris (+).3. alergi/asma/batuk/sesak: -/-/-/-. TD : 120/80 mmHg Temp : 36. Diagnose Treatment Result Breathing Establish Clear O2 2 L/i Normal IVFD RL 10 gtt/i Circulation Establish Compos Mentis - - Normal - - Normal - - Sat O2 : 99% RR : 20 x/i Normal Terapi Emergensi 12 Time . NT (-) P: tympani A: peristaltik (+) MMT makan pk. suara tambahan: snoring/gargling/crowing:-/-/Riwayat : Asma(-) sesak(-). debris (-).2. MMT: 13.00 (10/8/2014). Secondary Survey Sign Breathing Inspeksi : Obstruksi (-). DC (-). batuk(-) alergi (-) Blood & Circulation HR : 97 x/i Reguler Akral : Hangat/Merah/Kering T/V : kuat/cukup . CRT : < 2 detik. gerakan dinding dada (+). Perkusi: Sonor Palpasi : stemfremitus Auskultasi : Vesikuler (+). 13.

Ranitidin 50 mg/ iv Inj. Ceftriaxone 1 gr/iv Inj. Ketorolac 30 mg/iv Inj. Asam traneksamat 500mg/iv  Inj.Informed Consent untuk anestesi Puasa dilanjutkan Pasang IV line : abocath 18G dan threeway Medikasi Site of Entry Oral Enteral (NGT) Intravenous          Obat IVFD RL 10 gtt/i Inj. Dexamethason 5mg/iv Intramuskular Rektal - 13 .

00 WIB 29/08/2014 - Operasi mulai pukul 11.3.15 WIB (1 jam) 14 .4.50 WIB Selesai pukul 13. Time Sequence 28/08/2014 - Pasien datang ke RSUP HAM pada pukul 16.30 WIB 28/08/2014 - Pasien dikonsulkan ke Depatemen Anestesi pada pukul 20.

5.5(37.45/320.Hb/Ht/Leu/Tromb : 15/42.Na/K/Cl : 135/3.8)/1.7)/38. AGDA pH/ PCO2/ PO2/ HCO3/ TCO2/ BE/ SaO2 15 .6)/13.Ureum/ Kreatinin : 19.KGDs : 149 .8/107 .3/0.50 2.07 . Darah Lengkap (28 Agustus 2014) .10/18.000 . Laboratorium & Tes Diagnostik Lain 1.3.5(13.9(17.PT/aPTT/TT/INR : 14.

6. Radiologi Foto Thorax Interpretasi : Position : 16 .3.

puasa tidak cukup.8. tidak dipersiapkan seperti halnya pasien elektif.Diagnosis : Tindakan :  PS ASA :  Teknik Anestesia : GA-ETT  Posisi : Supine 3.1. bisa juga atelektasis • Potensial infeksi post operasi • Malnutrisi pasca operasi 17 . dianggap lambung penuh + gangguan motilitas/pasase isi usus transit time memanjang  waktu pengosongan terganggu • Pasien gangguan pasase isi usus dehidrasi (third space loss) • Pasien dengan kondisi abdomen distensi • Dengan trombositopeni  resiko perdarahan Intra operasi: - Pasien dengan tindakan laparatomy  Penguapan besar  Hipothermia Pasien dilakukan tindakan GA dengan explorasi laparatomi  - kemungkinan perdarahan banyak Pasien dengan obstruksi usus Pemberian cairan durante operasi Post operasi: • Insisi tinggi  nyeri akut post op • Takut batuk  retensi sputum  pneumonia orthostatik. Problem List Preoperasi: • Pasien emergensi.

3. Persiapan Alat-Alat dan Obat-Obat Suction 18 .8.2.

Rocuronium 50 mg  sleep apnea  intubasi ETT no. sungkup ketat  Premedikasi midazolam 2.fentanyl 50 mcg  Sellick manuver  Induksi Ketamin 100 mg  eye lid refleks (-) (sleep non apnea) inj. warna kuning B5: I: distensi (-). 7 cuff (+)  SP ka = ki  Fiksasi eksternal  sellick dihentikan  Maintenance : Isoflurane 0.8. snoring/gargling/crowing: -/-/-. Air : 02 2l/i:2l/i  Relaksan Rocuronium 10 mg/ 20 menit.3.5 %.8 . UOP: 0. MLP:1.3. alergi/asma/batuk/sesak: -/-/-/B2: akral: H/M/K. RR: 28x/mnt.5 mg . Teknik Anestesi  Dilakukan suction aktif  NGT dicabut  Preoksigenisasi O2 100 % 3-5 menit. TD: 140/90 mmHg.8. HR: 120 x/mnt. DS (-) P: defans (+) P: hypertimpani A: peristaltik (-) NGT tidak dipasang 19 .1. turgor normal B3: sens: CM.5 cc/kgBB/jam. SP: ves. DC (-).4. T/V: kuat/cukup. Monitoring Pre-operasi B1: airway: clear. ST:-. GL: bebas. pupil isokor Ø: 3 mm/3mm RC:+/+ B4: kateter urin terpasang . Fentanyl 50 mcg/jam 3.

fraktur (-) 3.B6: oedem (-). Monitoring durante OP Durante Operasi • Lama operasi : 3 jam 30 menit • TD : 90-140/60-90 mmHg • HR :100-140 x/i • SpO2 : 99 – 100 % • Cairan : PO = RL 1000 cc DO = RL 1500 cc • Perdarahan + 100 cc • Maintenance + penguapan = 500 cc/jam • UOP : 75 cc/jam kuning 20 .5.8.

pupil isokor Ø 3mm/3mm. reguler B3 : Sens : DPO. HR : 105 x/i.Gambar : Perforasi di yeyenum 54 cm dari lig . pupil isokor Ø 3mm/3mm.terintubasi dengan Tpiece 6L/I RR:24 x/i SP: vesikuler. RC +/+ B4 : UOP (+). B5: Soepel. T/V: Kuat/ cukup. Monitoring Post-Operasi B1: Airway clear.8. TD 120/80 mmHg. ST (-). Luka Operasi tertutup verban B6 : oedem pretibial (-). TD 120/80 mmHg. T/V: Kuat/ cukup. RC +/+ B4: UOP (+). fraktur (-) 2. B5 : Soepel. volume 50 cc .SpO2 99% B2: Akral : H/M/K. HR : 105 x/i.treitz Dilakukan source control dengan pencucian berulang2 Dilakukan pelepasan fibrin2 dari usus B1 : Airway clear. Luka Operasi tertutup verban B6: oedem pretibial (-). warna kuning. SpO2 99% B2 : Akral : H/M/K. warna kuning. terintubasi dengan Tpiece 6L/I RR:24 x/i SP: vesikuler.6.ST(-). fraktur (-) POST OPERATION 21 . reguler B3: Sens : DPO. volume 50 cc .

Head Up 30o • Diet TPN • O2 6 L/i via T piece 22 .Terapi Post Operasi • Bed Rest.

Ceftriaxon 1 gr/12 jam • Inj. Metronidazole 1500 mg/24 jam/IV • Inj. Ketamin 50 mg dalam 50cc NaCl 0. KGD ad Random. AGDA 23 .9% 5 cc/jam via SP • Inj.• IVFD RL 30 tpm • Inj. elektrolit. Albumin. Paracetamol 1 gr/8 jam/IV • Inj. Ranitidin 50 mg/12 jam • Cek darah rutin.

peristaltik(+) lemah B6:oedem pretibial . Asam isokor Ø 3mm/3mm. fraktur (-) 24 . Ketorolac 30mg/8jam (-) . reguler B3:Sens:DPO. HR:97x/i.3. fraktur (-) B1:Airway:clear. head up 30° . reguler B3:Sens:DPO.IVFD RL 10 gtt/i .Tirah baring.Inj.pupil Corpus Alienum o/t Bronkus Dextra . Traneksamat RC +/+ 500mg/8jam B4: B5:Soepel. head Alienum up 30° o/t Bronkus.9. RC +/+ B4: B5:Soepel. Follow up: Tgl S 28 Agu stus 2014 Nyeri Tengg oroka n O B1:Airway:clear.Inj.T/V: Kuat/ cukup.Tirah baring. Sp:Vesikuler B2:Akral:H/M/K. TD120/80mmHg.pupil isokor Ø 3mm/3mm.Inj. Ranitidin 50 mg/12 jam . A P Hasil Pemeriksaan Laboratorium Corpus . Sp:Vesikuler B2:Akral:H/M/K. peristaltik(+) lemah B6:oedem pretibial 29 Agu stus 2014 Nyeri Tengg oroka n (-) . Dexametason 5mg/12jam .IVFD RL 10 gtt/i Dextra TD120/80mmHg.Inj.T/V: Kuat/ cukup. HR:102x/i.Inj. Ceftriaxone 1gr/12jam .

Ceftriaxone B3:Sens:DPO.Ambroxol tab 3x1 B3:Sens:DPO.pupil isokor Ø 3mm/3mm. head up 30° . head up 30° . fraktur (-) B1:Airway:clear.IVFD RL 20 gtt/i .30 Agu stus 2014 Tidak Ada Keluh an B1:Airway:clear.Inj.Tirah baring. Corpus Alienum o/t Bronkus Dextra HR:99x/i.drainage(+) 25 . fraktur (-)B5:Soepel. Sp:Vesikuler B2:Akral:H/M/K.Inj.IVFD RL 10gtt/i .Tab Vit B Comp 3x1 . TD120/80mmHg. Asam Traneksamat 500mg/8jam cukup.Tab Vit C 3x1 .Tirah baring. reguler Corpus Alienum o/t Bronkus Dextra . RC +/+ B4: B5:Soepel. Sp:Vesikuler B2:Akral:H/M/K. peristaltk(+) lemah. reguler .T/V: Kuat/ cukup.pupil 1gr/12jam isokor Ø 3mm/3mm.T/V: Kuat/ . peristaltik(+) lemah B6:oedem pretibial (-) . RC +/+ B4: B5:Soepel. peristaltik(+) lemah B6:oedem pretibial 1 Sept emb er 2014 Tidak Ada Keluh an (-) . TD120/80mmHg. HR:97x/i.

warna kehitaman B6:oedem pretibial (-) . fraktur (-) 26 .

Pasien dikonsulkan untuk tindakan anestesi dan pemasangan CVC untuk persiapan eksplorasi laparatomy. Beberapa tanda dan gejala yang harus diperhatikan adalah: nyeri. airway clear. auskultasi dari suara usus di daerah toraks (menggambarkan trauma diafragma). pasien mengalami takikardi dengan frekuensi nadi 145 x/i. Kendaraan-kendaraan dan kendaraan-pejalan kaki dilaporkan menjadi 27 . hipovolemia. antara lain: tanda sabuk pengaman. Pasien didagnosis dengan diffuse peritonitis d/t hollow organ perforasi d/t blunt abdominal injury. Pada teori dikatakan bahwa penilaian awal dari trauma tumpul abdomen sering kali agak sulit dilakukan. dan lain-lain. pada pemeriksaan fisik dapat dijumpai adanya pola-pola trauma yang bisa memprediksikan adanya trauma intraabdomen. muntah (-). Pada pasien juga dijumpai riwayat trauma pada abdomen akibat terjatuh dari sepeda motor. BAK (+). dan cenderung tidak akurat. tekanan/volume kuat dan cukup. tekanan darah 140/90 mmHg. perdarahan dari saluran pencernaan. serta bukti adanya iritasi peritoneal. distensi abdomen. BAB berdarah (-).BAB 4 DISKUSI DAN PEMBAHASAN Dilaporkan seorang perempuan usia 22 tahun. Kemudian. circulation stabil dengan CRT <2 detik. tanda dari kemudi mobil. pasien sebelumnya dirawat di rumah sakit daerah selama 5 hari. breathing adekuat dengan laju napas 32x/i. Buang angin (-). Penurunan berat badan drastis (-). akral teraba hangat. Mual (+). Riwayat BAB seperti kotoran kambing (-). dan kering. disability kesadaran baik. merah. ekimosis di daerah pinggang atau umbilikus. dimana pada pasien dijumpai keluhan utama nyeri seluruh lapangan perut. dan no exposure. Saat datang ke RSUP HAM. Pada teori dikatakan bahwa trauma abdomen yang berhubungan dengan kendaraan menjadi penyebab utama dari trauma tumpul abdomen. dan pada pemeriksaan fisik abdomen dijumpai distensi dan tidak dijumpai peristaltik. datang ke RSUP HAM dengan keluhan nyeri seluruh lapangan perut yang dialami pasien sejak 1 minggu ini akibat terbentur stang sepeda motor karena terjatuh ke dalam selokan.

penyebab yang agak jarang terjadi adalah iatrogenik sewaktu resusitasi kardiopulmonal serta manuver Heimlich. Selain itu.penyebab sekitar 50-75% kasus. Angka mortalitas pada pasien-pasien yang dirawat sekitar 5-10%. pasien kemudian dilakukan tindakan eksporasi laparotomi. prognosis pasien dengan trauma tumpul abdomen cukup baik. Penyebab yang sering lainnya adalah jatuh. kemudian pasien dipindahkan ke ruangan ICU paska bedah untuk pemantuan lebih lanjut. Sedangkan pada pasien anak. 28 . National Pediatric Trauma Registry melaporkan sekitar 9% pasien anak meninggal akibat trauma tumpul abdomen. berdasarkan follow-up kondisi pasien terlihat membaik yang menunjukkan bahwa prognosis dari pasien tersebut baik. Setelah dilakukan penaganan awal yang meliputi primary survey. maupun kecelakaan sewaktu rekreasi. dan tertiary survey. kecelakaan di tempat kerja. Hal ini sesuai dengan teori yang dijelaskan bahwa. secondary survey.

DAFTAR PUSTAKA 29 .