MAKALAH

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah : Ulumul Hadits Dosen :Ajahari, M.Pd SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI ( STAIN ) TAHUN AJARAN 2010

OLEH:

MUHAMMAD SUKMA ROHIM (0801130133)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PALANGKARAYA JURUSAN TARBIYAH PRODI FISIKA TAHUN 2010

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kepada sumber dan suara-suara hati yang bersifat mulia. Sumber ilmu pengetahuan, sumber dari segala kebenaran dan kebaikan

yang terendah, sang kekasih tercinta yang tak terbatas pencahayaan cinta-Nya bagi umat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dengan izin dan ridho-Nya sehinga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul ”TAKHRIJ HADITS”. Shalawat serta salam teruntuk Nabi Muhammad SAW, yang telah memberikan serta menyampaikan kepada kita semua ajaran-ajaran Islam yang telah terbukti kebenarannya. Serta makin terus terbukti kebenarannya. Penulis menyadari berbagai kelemahan, kekurangan dan keterbatasan yang ada, sehingga tetap terbuka kemungkinan terjadinya kekeliruan dan kekurangan dalam penulisan dan penyajian materi. Penulis sangat mengharapkan yang kostruktif dari para pembaca, terutama para pakar hadits, dalam rangka penyempunaan makalah ini. Penulis menyadari bahwa sepenuhnya dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan serta kelemahan, oleh karena itu kritik dan saran sangat diharapkan guna kesempurnaan makalah ini. Penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin Yaa Rabbal ‘Alamin

Palangka Raya,

Maret 2010

Tim Penyusun

DAFTAR ISI Halaman

HALAMAN SAMPUL.................................................................................... KATA PENGANTAR..................................................................................... DAFTAR ISI.................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang...................................................................................... BatasanMasalah.................................................................................... Tujuan Penulisan................................................................................... BAB II PEMBAHASAN Pengertian Takhrij Hadis ........ Sejarah takhrij Manfaat Takhrij Metode Takhrij Kepentingan, kegunaan, dan kebutuhan takhrij Pelaksanaan dan metode hadis i ii

BAB IV P E N U T U P Kesimpulan........................................................................................ Saran.................................................................................................. DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Ulumul hadits ( ilmu hadits ) adalah suatu bidang ilmu yang penting di dalam islam, yang sangat diperlukan dalam mengenal dan memahami hadishadis nabi SAW. Hadis adalah sumber ajaran dan hukum islam kedua setelah dan berdampingan dengan Al-Qur’an. penerimaan hadits sebagai sumber ajaran dan hukum islam adalah merupakan realisasi dan iman kepada Rasul SAW. dan dua kalmiat syahadat yang diikrarkan oleh setiap muslim, selain karena fungsi dari hadits itu sendiri, yaitu sebagai penjelas dan penafsir terhadap ayat-ayatAl-Qur’an yang bersifat umum; penjabaran dan petunjuk pelaksanaan dari ayat-ayat Al-Qur’an, terutama yang menyangkut tata cara pelaksanaan berbagai ibadah yang disyariatkan di dalam Islam; dan sebagai sumber hukum dan penetapan dan perumusan hukum, khususnya terhadap masalah-masalah yang dibicarakan secara global oleh Al-Qur’an, atau permasalahan yang tidak dibicarakan sama sekali hukumnya oleh Al-Qur’an.1 Hadis-hadis yang dapat dijadikan pedoman dalam perumusan hukum dan pelaksanaan ibadah, serta sebagai sumber ajarai islam, adalah hadis-hadis yang maqbul (yang diterima), yaitu hadis shahih dan hadis hasan. Selain hadis Maqbul, terdapat juga hadits mardud, yaitu hadis yang ditolak dan tidak sah penggunaannya sebagai dalil hukum atau sumber ajaran islam. Oleh karenanya, adalah merupakan suatu keharusan bagi umat islam untuk mengenali hadis-hadis, sehingga tidak terjerumus kedalam penggunaan hadis Mardud (dha’if). Pengenalan tersebut dapat dilakukan dengan cara mempelajari dan memahami ulumul hadis (ilmu hadis) yang memuat segala permasalahan yang berkaitan dengan hadis.
1Nawir Yuslem, Ulumul Hadits, Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 2001, hal. 390.

Sejalan dengan tujuan dan target yang hendak dicapai, yaitu memahahi ulumul hadits yang mencakup beberapa pokok pembahasan yang diperlukan sebagai alat untuk memahami kandungan hadits, kami akan menguraikan pembahasan tentang takhrij hadits sebagai salah satu bentuk penelitian hadits. B. Batasan Masalah Agar tidak terjadi penyimpangan pada makalah ini, maka kami hanya membatasi masalah pada : a. Pengertian takhrij hadits. b. Sejarah takhrij hadits c. Manfaat takhrij hadits. d. Metode takhrij hadits. e. Kepentingan, kegunaan dan kebutuhan takhrij C. Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan makalah ini antara lain : 1. Mengetahui Pengertian takhrij hadits, 2. Mengetahui sejarah takhrij, 3. Mengetahui manfaat takhrij hadits, 4. Mengetahui metode takhrij hadits’ 5. Mengetahui Kepentingan, kegunaan dan kebutuhan takhrij

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Takhrij Takhrij hadits adalah bagian dari penelian hadits. dua kata lain yang mempuyai kata dasar yang sama dari kata kha-ra-ja, yaitu ikhraj dan istikhraj, yang penggunanya sedikit bebeda antara yang satu dengan yang lain. Takhrij adalah bentuk masdar Takhrij dari fiil Madi horroja – yuharriju – tuhriyjan. Yang secara bahasa berarti mengeluarkan sesuatu dari tempat. takhrij menurut bahasa mempunyai beberapa makna yang paling mendekati disini adalah berasal dari kata kharaja yang artinya Nampak dari tempatnya. demikian juga dengan kata al-ikhraj yang artinya menampakkan dan memperlihatkannya serta al-makraj artinya tempat keluar dan akhrajal-hadits wa kharrajahu artinya menampakan dan memperlihatkan hadits kepada orang dengan menjelaskan tempat keluarnya. menurut istilah adalah menunjukan tempat hadits pada sumber aslinya yang mengeluarkan hadits tersebut dengan sanadnya dan menjelaskan derajatnya ketika diperlukan. 2 Kata ikhraj dalam teminologi ilmu hadits berarti :

Yaitu, periwayatan hadits dengan menyebutkan sanadnya mulai dari mukharrij-nya dan perawinya, sampai kepada Rasul SAW jika hadits tesebut
2Muhammad Ahmad, Ulumul Hadis Untuk Fakultas Tarbiyah, Bandung : PustakaSetia, 2000, hal. 131.

Mawquf, atau sampai kepada Sahabat jika Hadits tersebut Mawquf, atau sampai kepada Tabi’in jika hadis tersebit Maqthu’. Sedangkan istikhraj dalam istilah ilmu hadis adalah :

Yaitu, bahwa seorang hafiz (ahli hadis) menentukan (memilih) suatu kitab kumpulan hadis karya orang lain yang telah disusun lengkap dengan sanadnya, lalu dia men-takhrij hadis-hadisnya dengan sanad-nya sendiri tanpa mengikutu jalur sanad penyusun kitab tersebut. (Akan tetapi) jalur sanadnya itu bertemu dengan sanad penulis buku tersebutpada gurunya atau guru dari gurunya dan seterusnya sampai tingkat sahabat sebagai penerima hadis pertama, dengan syarat bahwa hadis tersebut tidak datang dari sahabat lain, tetapi mestilah dari sahabayang sama. Adapun takhrij menurut bahasa berarti berkumpulnya dua hal yang bertentangan dalam satu masalah. Secara terminology, takhrij berarti :

Mengembalikan (menelusuri kembalikeasalnya)hadis-hadis yang terdapat di dalam berbagai kitab yang tidak memakai sanad kepada kitab-kitab musnad, baik disertai dengan pembicaraan tentang status hadis-hadis tersebut dari segi shahih atau dha’if, ditolak atau diterima, dan penjelasan tentang

kemungkinan illat yang ada padanya, atau hanya sekedar mengembalikannya kepada kitab-kitab asal (sumbernya). Al-Thahha, setelah menyebutkan beberapa macam pengertian takhrijdi kalangan ulama hadis, menyimpulkannya sebagai berikut : Menunjukan atau mengemukakan letak asal hadis pada sumber-sumbernya yang asli yang di dalamnya dikemukakan hdis itu secara lengkap dengan sanadnya masing-masing, kemudian,manakala diperlukan dijelaskan kualitas hadis yang bersangkutan. Pengertian takhrij menurut ahli hadits memiliki tiga (3) macam pengertian yaitu :3 1. Usaha mencari sanad hadits yang terdapat dalam kitab hadits karya orang lain, yang tidak sama dengan sanadyang terdapat dalam kitab tersebut. usaha semacam ini juga disebut istikhraj, misalya seseorang mengambil sebuah hadits dari kitab jamius Shahih Muslim, kemudian ia mencari sanad hadits tersebut yang berbeda dengan sanad yang telah ditetapkan oleh imam muslim. 2. Suatu keterangan bahwa hadits yang dinukilkan ke dalam kitad susunannya itu terdapat dalam kitab lain yang telah disebutkan nama penyusunannya. misalnya. penyusunanhadits mengakhiri penulisan hadits dengan kata-kata : “Akhrajahul Bukhari” artinya bahwa yang dinukil itu terdapat kitab Jamius Shahih Bukhari. bila ia mengakhirinya dengan kata Akhrajahul Muslim berarti hadits tersebut terdapat dalam kitab Shahih Muslim. 3. Suatu usaha mencari derajat sanad dan rawi hadits yang tidak diterangkan oleh penyusun atau pengarang suatu kitab. Misalnya ; takhrij ahadisil Kasysyaaf, karyanya Jamaludi AlHanafi adalah suatu kitab yang mengusahakan dan
3Syaikh Manna’ Al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Hadis, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2005, Hal. 89.

mnerangkan derajat hadits yang terdapat dalam kitab tafsir Kasysyaaf, yang oleh pengarangnya tidak diterangkan derajat haditsnya, apakah shahih hasan atau lainnya. B. Sejarah Takhrij Hadits Penguasaan para ulama terdahulu terhadap sumber-sumber as-Sunah begitu luas, sehingga mereka tidak merasa sulit jika disebutkan suatu hadits untuk mengetahuinya dalam kitab-kitab as-sunah. dengan demikian, para ulama dan peneliti hadits tidak membutuhkan kaidah dan pokok-pokok takhrij (usul takhrij). ketika semangat belajar sudah melemah, mereka kesulitan untuk mengetahui tempat-.tempat hadits yang dijadikan rujukan para ulama dalam ilmu-ilmu syar’i. Maka sebagian dari ulama bangkit dan memperlihatkan hadits-hadits yang ada pada sebagian kitab dan menjelaskan sumbernya dari kitab-kitab as-sunah yang asli. menjelaskan metodenya dan menerangkan hukumnya dari yang shahih atas yang dha’if. Pada mulanya, menurut Al-Thahhan, ilmu takhrij al-hadis tidak dibutuhkan oleh para ulama dan peneliti hadis, karena pengetahuan mereka tentang sumber hadis ketika itu sangat luas dan baik. Hubungan mereka dengan sumber hadis juga sangat kuat sekali, sehingga apabila mereka hendak membuktikan keshahihan sebuah hadis, mereka dapat menjelaskan sumber hadis tersebut dalam berbagai kitab hadis, yang metode dan cara-cara penulisan kitab-kitab hadis tersebut mereka ketahui. Dengan kemampuan yang mereka miliki, mereka dengan mudah dapat menggunakan dan mencari sumber dalam rangka mentakhrij hadis. Bahkan apabila dihadapkan seorang ulama dibacakan sebuah hadis tanpa menyebutkan sumber aslinya, ulama tersebut dengan mudah dapat menjelaskan sumber aslinya. Ketika para ulama mulai merasa kesulitan untuk mengetahui sumber hadis, yaitu setelah berjalan beberapa perode tertentu, dan setelah perkembangannya karya-karya ulama daklam bidang fiqih, tafsir dan sejarah, yang memuat hadis-hadis nabi SAW. yang kadang-kadang tidak

menyebutkan sumbernya, maka ulama hadismendorong untuk melakukan takhrij’ terhadap karya–karya tersebut. Mereka menjelaskan dan menunjukan sumber aslinya dari hadis-hadis yang ada, menjelaskan metodenya dan menetapkan kualitas hadis sesuai dengan statusnya. Pada saat itu munculah kitab-kitab takhrij dan diantaranya kitab-kitab takhrij yang pertama muncul adalah karya Al-Khathib al-Baghdadi (w. 463 H) namun yang terkenal adalah takhrij al-fawa’id, muntakhabah al-shihah wa al-Fawa’ad al-Muntakhabah alshihah wa al- Ghara’ib karya Abi al-Qasim al-Mahrawani, dan takhrij ahadits al-Muhadzdzab oleh Muhammad ibn musa al-Hazimi al-Syafi’I (w. 584 H). Kitab al- Muhadzdzab sendiri adalah kitab fiqih mazhab Syafi’I yang disusun oleh Abu Ishaq al-Syirazi’. Kitab-kitab induk hadis yang ada mempunyai susunan tertentu, dan berbeda antara yang satu dangan yang lainnya, yang hal ini memerlukan cara tertentu sacara ilmiah agar penelitian dan pencarian hadisnya dapat dilakukan dengan mudah. cara praktis dan ilmiah inilah yang merupakan kajian pokok ilmu takhrij’. Menurut Mahdi, ilmu takhrij pada awalnya adalah berupa tuturan yang belum ditulis. hal ini tentu dimaksudkannya sebelum muncul kitab-kitab takhrij seperti takhrij al-Fawa’id al-Muntakhabah karya Abu Qasim al husayni, takhrij a-Hadis al- Muhadzdzab karangan Muhammad ibn Musa alHazimi al-Syafi’I, seperti yang telah disebutkan tadi. Contoh : Berikut ini takhrij dari kitab At-Talkhusul –Habur (karya Ibnu hajar)4 Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata “Hadits Ali bahwasannya Al-‘Abbas meminta kepada Rasullulah tentang mempercepat pembayaran zakat sebelum sampai tiba haulnya. maka Rasulullah SAW. memberikan keringanan untuknya. diriwayatkan oleh Ahmad para penyusun kitab sunnah. Al-Hikim, Ad-Daruquthni, dan Al-Baihaqi : dari hadits Al-Hajjaj bin Dinar. Dari Al-Hakam, dari hajiyah bin Adidari Ali. diriwayatkan oleh A-t- Tirmidzi
4Ridlwan Nasir, Metode Takhrij, Surabaya: PT Bina Ilmu, 1995, hal. 25.

dari riwayat Ismail dari Al- Hakam dari hajar Al-Adawi, dari Ali. AdDaruquthni menyebutkan adanya perbedaan tentang riwayat dari Al-Hakam . dia menguatkan riwayat manshur dari Al-Hakam dari Al-Hasan bin muslim bin yanaq dari Rasulullah dengan derajat mursal . begitu juga Abu Daud menguatkannya Al-Baihaqi berkata .” Imam Asy-Syafi’I berkata : “Diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW. bahwasannya beliau mendahulukan zakat harta Al-Abbas sebelum tiba haul (setahun), aku tidak mengetahui ini benar atau tidak ?” Al-Baihaqi berkata, “Demikianlah riwayat hadis ini dari saya. diperkuat dengan hadits Abi Al-Bakhtari dari Ali bahwasannya nabi bersabda,” kami sedang membutuhkan lalu kami minta AlAbbas untuk mendahulukan zakatnya untuk dua tahun”. dan sebagian periwayatannya tsiqah, hanya saja dalam sanadnya terdapat inqitha. Dan sebagian lafadz menyatakan bahwa nabi bersabda kepada Umar ”kami pernah mempercepat harta Al-Abbas pada awal tahun”. Diriwayatkan oleh Abi Daud Ath-Thayalisi dari hadits Abi Rafi’I” (At- Talkhusul –Habur halaman 162-163). C. Manfaat Takhrij Hadits Ada beberapa mafaat dari takhij hadits antara lain sebagai berikut: 1. Memberikan informasi bahwa suatu hadits termasuk hadits sahih, hasan, ataupun daif, setelah diadakan penelitian dari segi matan atau sanadnya. 2. Memberikan kemudahan bagi orang yang mau mengamalkan setelah tau bahwa suatu haddits adalah hadits makbul (dapat diterima), dan sebaliknya tidak mngamalkanya apabila ddiketahui bahwa suatu hadits adalah mardud (tertolak). 3. Mengutkankan keyakinan bahwa suatu hadis adalah benar-benar berasal darai Rasullah SAW. yang harus kita ikiti karena adanya bukti-bukti yang kuat tentang kebenaran hadits terrsebut, baik dari segi sanad maupun matan. Sedangkan manfaat-manfaat yang lain takhrij banyak sekali, ‘Abd al-

Ahmadi menyimpulkannya sebanyak 20 manfaat, yaitu: 5 1. Memperkenalkan sumber-sumber hadis, kitab-kitab asal dari suatu hadis beserta ulama yang meriwayatkannya, 2. Menambah pembendaharaan sanad hadis melalui kitab-kitab yang ditunjukannya, 3. Memperjelas keadaan sanadnya, sehingga dapat diketahui apakah Munqathi’, Mu’dhal atau lainnya, 4. Memperjelas hukum hadis dengan banyak riwayatnya, seperti hadis dha’if melalui satu riwayat, maka dengan teakhrij kemungkinan akan didapati riwayat lain tyang dapat mengangkat status hadis tersebut lebih tinggi, 5. Mengetahui pendapat-pendapat para ulama sekitar hukum hadis, 6. Memperjelas perwi hadis yang samar, karena dengan adanya takhrij dapat diketahui nama perwi yang sebenarnya secara lengkap, 7. Memperjelas perawi hadis yang tidak diketahui namanya melalui perbandingan diantara sanad-sanadnya, 8. Dapat menafikan pemakaian “an” dalam periwayatan hadis oleh seorang perawi mudallis. Dengan didapatinya sanad yang lain yang memakai kata yang jelas kebersambungan sanadnya, maka periwayatan yang memakai “an” tadi akan tampak pula kebersambungan sanadnya, 9. Dapat menghilangkan kemungkinan terjadinya percampuran riwayat, 10. Dapat membatasi nama perawi yang seharusnya. Hal ini karena mungkin saja ada prawi-prawi yang mempunyai kesamaan gelar. dengan adanya sanat yang lain, maka nama perawi akan jelas, 11. Dapat memperkenalkan periwayatan yang tidak terdapat dalam satu sanat, 12. Dapat memperjelas arti kalimat asing yang terdapat dalam satu sanat , 13. Dapat menghilangkan syadz (dkesendirian riwayat yang menyalahi riwayat perawi yang lebih stiqat) yang terdapat pada suatu hadist melalui perbandingan riwayat, 14. Dapat membedakan hadist yang mudrast (yang mengalami penyusupan sesuatu) dari yang lainya,
5Nawir Yuslem, Ulumul Hadits, hal. 399

15. Dapat mengungkapkan keraguan raguan dan kekeliruan yang dialami seorang perawi, 16. Dapat mengungkap hal-hal yang terlupakan atau diringkas seorang perawi, 17. Dapat membedakan antara proses periwayatan yang dilakukan dengan lafaz dan yang dilakuakan dengan makna saja, 18. Dapat menjelaskan masa dan tempat kejadian timbulnya hadist, 19. Dapat menjelaskan sebab-sebab timbulnya hadist melalui perbandingan sanat-sanat yang ada, 20. Dapat mengungkap kemungkinan terjadinya kesalahan cetak melalui perbandingan-perbandingan sanat yang ada. D. Metode Takhrij Dalam takhrij tedapat beberapa macam metode yang diringkas dengan mengambil pokok-pokoknya sebagai berikut:6 1. Dengan cara mengetahui perawi hadits dari sahabat. Untuk menerap metode takhrij yang pertama ini, dapat memakai tiga macam kitab, yaitu : a. Al-Masanid (musnad-musnad) ; kitab hadits yang diriwayatkan atau disusun berdasarkan nama-nama sanabat dengan kata lain kitab yang menghimpun hadits-hadits sahabat. Selama kita telah mengetahui nama sahabat yang driwayatkan hadits, maka kita mencari hadits sebut dalam kitab Al-Masanaid hinga mendapkan petujuk dalam satu musnad dari kunpulan musnad tersebut. Misalnya, musnad Ahmad bin Hambal (wafat 241 H). Musnad abu Bakar, Abdullah bin Az-Zubair Al-Humandi. b. Al-Ma’ajim (mu’jum-mu’jam) : kitab-kitab hadits yang susunanya berdasarkan urutan musnad para sahabat
6Ibid., hal. 395.

atau syuyukh (guru-guru) atau bangsa (tempat asal) sesuai huruf kamus (hijaiyah). Tetapi pembicaraan kita dalam hal ini hanyalah kitab-kitab mu’jum. Dengan mengetahui nama sahabat dapat memudahkan untuk merajuk haditsnya. Contohnya : kitab Al-Mu’jamul Kabir, Al-Mu’jamul Ausat, Mu’jam As-Sahabah. c. Al- Athraf : kebanyakan kitab-kitab Al- Athraf disusun berdasarkan musnad-musnad para sahabat dengan urutan nama mereka sesuai huruf kamus. jika seorang peneliti mengetahui bagian dari hadits itu, maka dapat merujuk pada sumbrr-sumber yang ditunjukan oleh kitab-kitab Al- Athraf tadi untuk kemudian mengambil hadits secara lengkap. 2. Takhrij dengan mengetahui pemulaan lafaz dari hadits. Cara ini dapat dibantu dengan: Kitab-kitab yang berisi tentang hadits-hadits yang dikenal oleh orang banyak misalnya : Ad-Durar Al –Muntatsirah fil-Ahaaditsi AlMasytaharah “karya As-Suyuti. Al-Maqashidul-Hasanah fii Bayaani Katsiirin minal-Ahaaditsil-Masytahirah ‘alai-Alsinah karya As-Sakhawi ; Tamyiizuth-Thayyibminal-Khabits fiimaa Yaduru ‘ala Alsinatun-Naas minal-Hadits karya Ibnu Ad-Dabi’ Asy-Syaibani : Kasyful-Khafa wa Muziilul-Ilbas’amma Isyahara minal-Ahaadits’ala Alsinatin-Naass karya Al-‘Ajluni. Kitab-kitab hadits yang disusun berdasarkan urutan huruf kamus. misalnya : Al-Jami’us-Shaghiir minal-Ahaaditsil-Basyir AnNadzir karya As-Suyuthi. Petunjuk-petunjuk dan indeks yang disusun para uluma untuk kitab-kitab tertentu. misalnya : Miftah Ash-Shahihain karya At-I’auqadi. Miftah At-Tartiibi li Ahaaditsi Tarikh Al-Khathih karya Sayyid Ahmad AlGhumari; At-Bughiyyah tii Tartubi Ahaaditsi Shahih Muslim karya Muhammad Fuad Abdul-Baqi; Miftah Muwaththa’ Malik karya Muhammad Fuad Abdul-Baqi.

3. Takhrij hadits.

dengan

cara

mengetahui

kata

yang

jarang

penggunaannya oleh orang dari bagian mana saja dari matan Metode ini dapat dibantu dengan kitab Al-Mu’jam Al-Mufahras li Altaadzil-Hadits An-Nabawi, berisi Sembilan kitab yang paling terkenal diantara kitab-kitab hadits, yaitu : kutubus-Sittah. Muwathiha’ Imam Malik. Musnad Ahmad dan musnad Ad-Darimi. Kitab ini disusun oleh seorang orientalis yaitu Dr. Vensink (meninggal 1939 M). Seorang guru bahasa arab di Universitas Leiden Belanda; dan ikut dalam menyebarkan dan mengedarkannya kitab ini adalah Muhammad Fuad Abdul-Baqi. 4. Takhrij dengan cara mengetahui tema pembahasan hadits Jika telah diketahui tema dan objek pembahasan hadits, maka bisa dibantu dalam takhrij-nya dengan karya-karya hadits yang disusun berdasarkan bab-bab dan judul-judul. cara ini banyak dibantu dengan kitab miftah kunuz As-Sunnah yang berisi daftar isi hadits yang disusun berdasarkan judul-judul pembahasan. Kitab ini disusun oleh seorang orientalis berkebangsaan Belanda yang bernama Dr Arinjan Vensink juga kitab ini mencakup daftar isi untuk 14 kitab hadits yang terkenal, yaitu : 1. Shahih Bukhari 2. Shahih Muslim 3. Sunan Abu Dawud 4. Jami’ At-Tirmidzi 5. Sunan An-Nasa’i 6. Sunan Ibnu Majah 7. Muwaththa’ Malik 8. Musnad Ahmad Dalam menyusun kitab ini, penyusun (Dr Vensink) menghabiskan waktunya selama 10 tahun, kemudian diterjemahkan kee dalam bahasa Arab dan diedarkan oleh muhhamad Fuad Abdul-Baqi yang menghabiskan waktu untuk itu selama 4 tahun. 9. Musnad Abu Dawud AthThayalist 10. Sunan Ad-Darimi 11. Musnad Zaid bin ‘Ali 12. Sirah Ibnu Hisyam 13. Maghazi Al-Waqidi 14. Thabaqat Ibnu Sa’ad

5. Dengan cara meneliti keadaan-keadaan hadits. Baik dalam sanad maupun matannya. Dimaksudkan dengan studi sanad hadits adalah mempelajari mata rantai para perawi yang ada dalam sanad hadits. yaitu dengan menitikberatkan pada mengetahui biografi. kuat lemahnya hafalan serta penyebabnya. Mengetahui apakah mata rantai sanad antara seorang perawi dengan yang lain bersambung atau terputus dengan mengetahui waktu lahir dan wafat mereka, dan mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan Al-Jarh wat-Tadil. Setelah mempelajari semua unsur yang tersebut di atas. kemudian kita dapat memberikan hukum kepada sanad hadits. Seperti mengatakan, “sanad hadits ini shahih. Sanad hadits ini lemah, atau sanad Hadits ini dusta”. Ini terkait dengan memberikan hukum kepada sanad hadits. Sedangkan dalam memberikan hukum kepada matan hadits, disamping melihat semua unsur yang ersebut diatas kita dapat melihat usur-unsur yang lain. Seperti meneliti lebih jauh matanya untuk megetahui apakah isinya bertentangan riwayat perawi yang lebih terpecaya atau tidak, dan apakah di dalamnya terdapat illat yang menjadikannya bertolak atau tidak. Kemudian setelah itu kita memberikan hukum kepada matan tersebut. Seperti dengan mengatakan : “hadits ini sahih” atau “hadis ini daif”. memberikan hukum kepada matan hadits lebih sulit daripada memberikan hukum kepada sanad. tidak ada yang mampu melakukannya kecuali yang ahli dalam bidang inidan sudah menjalaninya dalam kurun waktu yang lama. dalam studi sanad ini, buku-buku yang dapat digunakan adalah buku-buku yang membahas tentang Al-Jarh wat-Ta’dil serta biografi para perawi. E. Kepentingan, Kegunaan dan Kebutuhan Takhrij Mengetahui masalah takhrij kaidah dan metodenya adalah suatu yang sangat penting bagi orang yang mempelajari ilmu-ilmu syar’I, agar mampu melacak suatu hadits sampai pada sumber asalnya. Dengan demikian ada dua

hal yang menjadi tujuan takhrij. yaitu:7 1. Untuk mengetahui sumber dari sanad hadits. 2. Mengetahui kualitas dari suatu hadits, apakah dapat diterima (shahih/hasan) atau ditolak (daif). Tidak dapat dipungkiri bahwa kegunaan takhrij ini sangat besar, terutama bagi orang yang mempelajari hadits dan ilmunya. Dengan taknrij, seorang mampu mengetahui tempat hadits pada sumber aslinya yang mulamula dikarang oleh para imam ahli hadits. Kebutuhan takhrij sangat perlu karena orang yang mempelajai ilmu tidak akan membuktikan (menguatkan) dengan satu hadits atau tidak dapat meriwayatkannya, kecuali setelah mengetahui ulama-ulama yang meriwayatkan hadits dalam kitabnya dengan dilengkapi sanadnya. Karena itu, masalah takhrij ini sangat dibutuhkan setiap orang yang membahas atau menekauni ilmu-ilmu syar’I yang sehubungan dengannya. F. Cara pelaksanaan dan metode takhrij Didalam melakukan takhrij, ada lima metode yang dapat djadikan pedoman, yaitu:8 1. Takhrij menurut lafaz-lafaz pertama matan Hadits, 2. Takhrij menurut lafaz-lafaz yang terdapat di dalam matan Hadis, 3. Takhrij menurut perawi perrtama, 4. Takhrij menurut tema Hadits, 5. Takhrij menurut klasifikasi (status) Hadits.

7Ibid., hal. 398. 8Ibid., hal. 404.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Takhrij merupakan bagian dari kegiatan penelitian hadis. biasanya digunakan untuk membuktikan keshahihan sebuah hadis, artinya mereka dapat menjelaskan sumber hadis tersebut dalam berbagai kitab hadis, yang metode dan cara penulisan kitab hadis tersebut yang mereka ketahui. Metode yang digunakan biasanya ada 5 cara yaitu : 1. Dengan cara mengetahui perawi hadis dari sahabat 2. Takhrij dengan mengetahui permulaan lafaz dari hadis 3. Takhrij dengan mengetahui kata yang jarang penggunaannya oleh orang dari bagian mana saja dari matan hadis 4. Dengan cara meneliti keadaan-keadaan hadis, baik sanad ataupun matannya 5. Takhrij dengan cara mengetahui tema pembahasan hadis. Ada dua hal yang menjadi tujuan takhrij. yaitu : 1. Untuk mengetahui sumber dari sanad hadits. 2. Mengetahui kualitas dari suatu hadits, apakah dapat diterima (shahih/hasan) atau ditolak (daif). B. Saran Penulis menyadari berbagai kelemahan, kekurangan dan keterbatasan yang ada, sehingga tetap terbuka kemungkinan terjadinya kekeliruan dan kekurangan dalam penulisan dan penyajian materi. Penulis sangat mengharapkan yang kostruktif dari para pembaca, terutama para pakar hadits, dalam rangka penyempunaan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA Ahmad, Muhammad, 2000, Ulumul Hadis Untuk Fakultas Tarbiyah, Bandung: PustakaSetia. Al-Qaththan, Syaikh Manna’, 2005, Pengantar Studi Ilmu Hadis, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Nasir, Ridlwan, 1995, Metode Takhrij, Surabaya: PT Bina Ilmu. Yuslem, Nawir, 2001, Ulumul Hadits, Jakarta: Mutiara Sumber Widya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful