You are on page 1of 7

BAB 4

PEMBAHASAN
Pada Bab ini penulis akan membandingkan antara teori dan kasus asuhan
keperawatan jiwa pada Tn. R dengan Isolasi Sosial: Menarik Diri di Ruangan
Cendrawasih Rumah Sakit Jiwa dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang pada tanggal
16 November 2015. Tahapan ini dibuat berdasarkan proses keperawatan, adapun
uraiannya sebagai berikut:
4.1 PENGKAJIAN
Berdasarkan teori, etiologi yang menyebabkan isolasi sosial: Menarik diri
disebabkan oleh faktor presipitasi dan faktor predisposisi, yang termasuk faktor
presipitasi terjadinya isolasi sosial meliputi: Stressor Sosiokultural, Stressor
Psikologi, Penilaian terhadap stressor dan faktor predisposisi

terjadinya isolasi

adalah faktor tumbuh kembang, faktor sosial budaya, Faktor biologis, dan Faktor
komunikasi dalam keluarga. Pada Kasus Tn. R ditemukan Faktor presipitasi yaitu
menurut klien, di bawa RSJ Dr. Radjiman Wideodiningrat Lawang karena berkelahi
dengan orang, senang menyendiri dan klien tidak senang diganggu.
Pada kasus Tn. R dengan masalah keperawatan adalah isolasi sosial: menarik
diri, terdapat kesesuaian antara teori tentang isolasi sosial: menarik diri dengan fakta
yang terjadi. Menurut, Budi Anna Keliat (2006) Isolasi sosial adalah suatu keadaan
dimana seseorang individu mengalami penurunan bahkan sama sekali tidak mampu
berinteraksi dengan orang lain disekitarnya, pasien mungkin merasa ditolak, tidak
diterima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dan tidak
mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain. Menurut Fitria, Nita
(2010) tanda dan gejala kurang spontan, apatis (acuh terhadap lingkungan), ekspresi
wajah kurang berseri, tidak merawat diri dan tidak memperhatikan kebersihan diri,
tidak ada atau kurang komunikasi verbal, mengisolasi diri, tidak atau kurang sadar
terhadap lingkungan sekitarnya, asupan makanan dan minuman terganggu, retensi
urin dan feses, aktivitas menurun, kurang energi, rendah diri.
Hal ini terjadi pada Tn. R yang mana berdasarkan data subjektif bahwa klien
lebih sering menyendiri, klien suka tidur, wajah datar, kontak mata kurang.
Edy Prayogo
2011.C.03A.0162

STIKes Eka Harap Palangka Raya
Program Profesi Ners 2015

Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan. kontak mata kurang. prestasi. dan tidak sanggup membagi pengamatan dengan orang lain. 4. atau kegagalan. tidak ada perhatian. Hasil pengkajian didapatkan bahwa klien ekspresi wajah datar (tanpa ekspresi). yang dimanifestasikan dengan sikap memisahkan diri. Ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain. kontak mata kurang pasien suka tidur.03A.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN Berdasarkan data yang terkaji didapatkan klien“terlihat menyendiri. hal tersebut karena hasil pengkajian tersebut sesuai tanda gejala yang terdapat pada teori.4 IMPLEMENTASI Edy Prayogo 2011. 4.3 INTERVENSI Intervensi yang diangkat diambil sesuai dengan diagnosa keperawatan isolasi sosial: menarik diri yang ada di buku Fitria Nita (2010) dikarenakan lebih mudah dan memiliki kesamaan dengan format intervensi yang ada di format asuhan keperawatan yang diberikan.0162 STIKes Eka Harap Palangka Raya Program Profesi Ners 2015 . saat diajak bicara klien hanya menjawab dengan singkat.C. 4. Hasil teori dan fakta terdapat kesesuaian. suka menyendiri. intervensi yang diberikan pada klien dengan diagnosa isolasi sosial: menarik diri sesuai dengan intervensi yang ada pada teori menurut Fitria Nita (2010). sesuai dengan yang ada pada teori bahwa klien suatu sikap di mana individu menghindari diri dari interaksi dengan orang lain.Dilihat dari hasil teori dan opini didapatkan bahwa terdapat kesesuaian antara keduanya. pikiran. senang menyendiri. Dapat ditarik diagnosa keperawatan isolasi sosial: menarik diri.

meminta klien mengulangi cara berkenalan seperti yang di praktekan pada pertemuan sebelumnya. tidak ada gangguan dari luar. berjalan sesuai intervensi. berikan pujian terhadap kemampuan klien mempraktekkan cara berkenalan.C. Berdasarkan respon ini Edy Prayogo 2011. komunikasi non-verbal yang dapat terkaji yaitu ekspresi klien datar atau tanpa ekspresi. buat kontrak yang jelas. R adalah penerapan SP1. Tahap ini terlihat klien mau berinteraksi dengan satu orang. yaitu dimulai dari tahap klien menyebutkan nama. Menanyakan nama lengkap dan nama panggilan klien. SP2 langkah pada klien berinteraksi secara bertahap yaitu menganjurkan klien untuk melaksanakan kegiatan yang direncanakan. SP2 klien mampu berinteraksi secara bertahap dengan satu orang. kurang kontak mata. Proses klien pada BHSP antara perawat dan klien berlangsung lancar.Langkah awal dalam asuhan keperawatan yang diberikan pada Tn. Setelah satu hari Intervensi SP1 mengidentifikasi masalah pasien serta mengajari pasien cara berkenalan. SP2 dan SP3 dimana dilakukan intervensi membina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik. Menyapa klien dengan ramah baik verbal maupun nonverbal.0162 STIKes Eka Harap Palangka Raya Program Profesi Ners 2015 . menjawab salam. saat dihampiri klien kontak mata kurang. diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan klien bersosialisasi dan berikan pujian terhadap kemampun klien memperluas pergaulannya melalui interaksi. SP2 dan SP3 tanggal 16-19 November 2015. Dan SP3 memperagakan berkenalan dengan 2 orang atau lebih. Respon verbal dan non verbal yang terkaji yaitu klien menjawab salam. berikan perhatian pada klien dan masalah yang sedang dihadapi klien. kemudian mengajari pasien cara berkenalan dengan orang lain. klien mampu memperagakan cara berkenalan dengan teman. Memperkenalkan nama dan tujuan berkenalan. klien berinteraksi secara bertahap dan mampu berkenalan dengan teman-temannya. SP1 dapat melakukan langkah: Mengucap salam. kemudian menjelaskan kepada pasien keuntungan dan kekurangan kalau tidak berinteraksi dengan orang lain. Pada pelaksanaan SP1. SP3 berkenalan dengan dua orang atau lebih. observasi perilaku klien saat berhubungan sosial. ada respon verbal dari klien.03A. berikan motivasi dan bantu klien untuk berkenalan dengan orang lain. ketika ditanya klien menjawab sesuai dengan pertanyaan perawat tetapi dengan jawaban yang singkat.

C. Klien mau terbuka dengan perawat. SP1 SP2 dan SP3 diterapkan pada tanggal 16-19 November 2015.0162 STIKes Eka Harap Palangka Raya Program Profesi Ners 2015 .5 EVALUASI Setiap pelaksanaan SP1. 4. perawat selalu memvalidasi terhadap interaksi sebelumnya. BAB 5 Edy Prayogo 2011. Klien terlihat antusias dengan percakapan dan hanya menjawab seperlunya saja.perawat menyimpulkan bahwa terjadi hubungan saling percaya dengan klien dan klien mampu memperagakan cara berkenalan dengan teman. Klien memberikan respon verbal yang diharapkan.03A.

1.03A. faktor presipitasi.3 Intervensi Keperawatan Edy Prayogo 2011.1 Pengkajian Pada pengkajian menurut fakta dan teori terdapat kesesuaian bahwa klien pada gangguan konsep diri dan proses pikir yang mengakibatkan seseorang mengisolasikan diri dari orang lain dan lingkungan. gangguan konsep dan kurangnya pengetahuan klien tentang isolasi sosial: menarik diri. 5. Hal ini merupakan gejala gangguan jiwa berupa bagaimana konsep diri orang itu berbeda-beda. Hal tersebut terjadi karena koping individu yang tidak efektif.2 Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan pada askep ini adalah isolasi sosial: menarik diri. lingkungan dan sosial.0162 STIKes Eka Harap Palangka Raya Program Profesi Ners 2015 .1 Kesimpulan 5. sehingga mengakibatkan terjadinya kejadian berulang pada klien dengan isolasi sosial:menarik diri.1. seperti koping individu yang tidak efektif kemudian membuat harga diri rendah dan mengisolasi diri dari orang lain.1. perilaku. tidak mau bergaul atau berinteraksi dengan orang lain. Hasil pengkajian didapatkan bahwa klien sering sendiri.C.PENUTUP 5. Seperti faktor predisposisi. 5. dimana orang lain bisa menghadapi suatu masalah namun di sisi lain adajuga yang tidak mampu sehingga menyebabkan orang tersebut mengalami gangguan jiwa. sumber koping dan mekanisme koping.

1. dan SP 3 klien memperagakan cara berkenalan dengan dua orang.0162 STIKes Eka Harap Palangka Raya Program Profesi Ners 2015 . dan mengidentifikasi masalah klien.2. 5. selanjutnya SP2 yaitu klien dapat berinteraksi secara bertahap dengan satu orang dan SP3 mampu berkenalan dengan dua orang.2. 5.03A. 5.3 Bagi Rumah Sakit Edy Prayogo 2011. dan menganalisis masalah pasien serta mengajari klien cara berkenalan dengan orang lain.saja dikarenakan klien dalam 1 kali pertemuan klien belum mampu melaksanakan kriteria evaluasi (masalah teratasi sebagian). disini perawat melakukan interaksi dengan klien untuk mengetahui penyebab dari menarik diri yang terjadi pada klien.Intervensi yang diangkat diambil pada kasus ini sesuai dengan diagnosa keperawatan isolasi sosial: menarik diri yang ada di buku Fitria Nita (2010). Intervensinya adalah SP 1 adalah klien dapat membina hubungan saling percaya.4 Implementasi Implementasi yang di lakukan terhadap Tn. SP 2 klien dapat berinteraksi secara bertahap dengan satu orang.1 Bagi Mahasiswa Bagi mahasiswa agar dapat meningkatkan komunikasi terapeutik dengan klien sehingga dengan mudah membina hubungan saling percaya dengan klien.2 Saran 5.1.R yaitu SP1 dimana perawat dan klien saling berkenalan dan mengetahui nama dari perawat maupun dari klien itu sendiri.C.2. 5. 5.2 Bagi Pendidikan Kepada tenaga pengajar STIKes Eka Harap Palangka Raya agar lebih banyak menjelaskan dan menerangkan langkah-langkah yang sesuai dalam pemberian asuhan keperawatan jiwa pada klien dengan isolasi sosial: menarik diri.5 Evaluasi SP1 SP2 SP3 diterapkan pada tanggal 16-19 November 2015.

Edy Prayogo 2011. Radjiman Wediodiningrat Lawang agar selalu membina hubungan saling percaya dengan pasien dan memberikan asuhan keperawatan jiwa yang tepat dalam melakukan pemulihan untuk klien dengan masalah kejiwaan.C.Kepada RSJ Dr.0162 STIKes Eka Harap Palangka Raya Program Profesi Ners 2015 .03A.