You are on page 1of 14

PORTOFOLIO

Kolesistitis Akut + Kolelitiasis

Disusun oleh:
dr. A.A.G. Anom Indraswara
Pendamping:
dr. Riza Stya Y.
dr. Anton Triyadi

Wahana:
RSUD BELITUNG TIMUR
2015

KOMITE INTERNSHIP DOKTER INDONESIA
PUSAT PERENCANAAN DAN PENDAYAGUNAAN SDM KESEHATAN
BADAN PPSDM KESEHATAN
KEMENTERIAN KESEHATAN RI
2015

Anton T dr. Anak Agung Gede Anom Indraswara Pendamping : dr. Riza Stya Y dr. A. nyeri pada perut bagian bawah. pria 54 tahun. Suhartini Tempat : RSUD Belitung Timur Obyektif Presentasi : Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil Deskripsi : Tn.PORTOFOLIO KASUS Topik : Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) Tanggal Kasus : Presenter : dr. tidak dapat BAK. teraba full blast pada abdomen bagian bawah Tujuan : Melakukan penatalaksanaan pada pasien retensio urine ec BPH. mencegah komplikasi Bahan Bahasan : Cara Membahas : Tinjauan Pustaka Riset Kasus Audit Diskusi Presentasi dan Diskusi Email Pos .

International Continence Society . Riwayat Pengobatan : Pasien belum pernah berobat untuk keluhan ini 3. Lain-lain : - Daftar Pustaka : 1. Br J Urol 1997. Coast J. Girman CJ. Donovan JL.80:712-721. nyeri abdomen bagian bawah.gov/entrez/query. Guess HA. Silva MM. A No. Riwayat Kesehatan/Penyakit :         Riwayat Hipertensi Riwayat Diabetes Melitus Riwayat PJB Riwayat Penyakit Ginjal Riwayat Asma Riwayat Alergi Riwayat Operasi Riwayat keluhan yang sama : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal 4.Data Pasien : Nama : Nama Klinik : Telp : Tn.nih. teraba full blast pada abdomen bagian bawah 2. Lieber MM. Abrama P.ncbi.nlm. http://www.nih. 5.fcgi? cmd=Retrieve&db=PubMed&list_uids=9393291&dopt=Abstract . Chute CG.Nordling J. Oesterling JE. Kay HE. Rentzhog L. The prevalence of prostatism: a population based survey of urinary symptoms. tidak dapat BAK. 6. Riwayat Keluarga : Tidak ada yang pernah mengalami kondisi seperti pasien.fcgi?cmd=Retrieve &db=PubMed&list_uids=7685427&dopt=Abstract 2. Bosch JL. Peters TJ.ncbi.150:85-89. Riwayat Pekerjaan : Pasien mengaku aktivitasnya sehari-hari sebagai seorang petani.Reg : Terdaftar Sejak : Data utama untuk bahan diskusi : 1.Benign Prostatic Hyperplasia. http://www. Barbalias G. Panser LA. Using the ICSQoL to measure the impact of lower urinary tract symptoms on quality of life: evidence from the ICS-‘BPH’ study. Diagnosis / Gambaran Klinis : Retensio urine ec BPH.nlm. de la Rosette JJ. Nissenkorn I. J Urol 1993. Schick E.gov/entrez/query. Matos-Ferreira A. Gajewski JB. Jacobsen SJ.

Mengetahui penatalaksanaan dan komplikasi BPH 3. Pasien mengeluh nyeri perut bagian bawah sejak tidak dapat BAK.ncbi.nih. 7. Chapple CR. 8th edition. Umbas R. 2006. 782-6. 2004. Rudiman R. 1036-42. Hasil Pembelajaran : 1.Lieber MM. Saluran kemih dan alat kelamin lelaki. h. Jacobsen HJ. Masumori N.gov/entrez/query. Kumamoto Y. Awalnya pasien mengeluh mengedan jika ingin BAK dan tidak lampias setelah BAK.nlm. Guess HA.gov/entrez/query. Belldegrun A. Buku ajar ilmu bedah Sjamsuhidajat-De Jong. Miyakr H.3.154:391-395. Edisi 2. diagnosis banding dan patofisiologi BPH 2.. lemas : c. Karnadihardja W. Subyektif : a.nih. Jakarta: Asian Medical. diagnosis. Prostat: Kelainan-kelainan jinak. p. Riwayat keluhan yang sama sebelumnya disangkal. Schwartz’s manual of surgery.fcgi?cmd=Retrieve &db=PubMed&list_uids=7541852&dopt=Abstract 5. In: Brunicardi FC. Prasetyono TOH.fcgi? cmd=Retrieve&db=PubMed&list_uids=10559624&dopt=Abstract 4. http://www. 1999. United States of America: McGraw-Hill Companies. Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke IGD RSUD Belitung Timur dengan keluhan tidak dapat BAK sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. BPH disease management. Mengetahui tentang penyebab. Urology.nlm. Kim HL. manifestasi klinis. Girman GJ. Motivasi untuk dilakukan tindakan operasi Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio : 1. Pasien juga tidak nafsu makan dan lemas. 36(Suppl 3):1-6. Prevalence of prostatism in Japanese men in a population based study with comparison to a similar American study. dan penanganan. BAB tidak ada keluhan. 6. Rahardjo D. Keluhan Tambahan Nyeri perut bagian bawah. http://www. Dalam: Sjamsuhidajat S. editor. Rhodes T. J Urol 1995. Inc. Keluhan Utama : Tidak dapat BAK sejak 1 hari SMRS b. diagnosis. Tsukamoto T. . ncbi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Edukasi tentang penyakit ke pasien dan keluarga 4. Eur Urol 1999.

tidak ada nodul. teraba full blast P : Timpani pada seluruh abdomen.Kreatinin : 1. warna kulit sama dengan sekitar.000/uL Leukosit : 48. permukaan mukosa licin.6 g/dl Ht : 31 % Trombosit : 197. Sklera Ikteric (-/-).Ureum : 53 mg/dl . sianosis (-). permukaan prostat rata kiri dan kanan. tidak ada nyeri tekan.Glukosa : 148 mg/dl . ampula rekti paten. Objektif : Pemeriksaan Fisik :                   Keadaan Umum : Tampak sakit sedang Kesadaran : Composmentis Tekanan darah : 130/80 Nadi : 80 x/menit Frekuensi pernapasan : 16 x/menit Suhu : 37.2. edema (-). Conjuntiva Anemic (-/-). Pemeriksaan Penunjang :  Hasil laboratorium Hb : 9. prostat teraba membesar. konsistensi kenyal prostat kiri dan kanan.2 °c Berat Badan : 55 Kg Tinggi Badan : 165 cm IMT : 20. hidung. P : Supel. refleks bulbokavernosus  baik Ekstremitas : akral hangat. tenggorokan : dalam batas normal Leher : dalam batas normal Thorax : jantung dan paru dalam batas normal Abdomen : I : Datar.2 Gizi : normal Kepala : dalam batas normal Mata : Edema palpebra (-/-). refleks cahaya (+/+).000/uL LED : 30 mm/jam Kimia Darah : .4 mg/dl . Telinga. tonus sfingter ani baik. pergerakan mata kesegala arah baik. pole atas prostat tidak teraba. fisura tidak ada. nyeri ketuk (-) A : Bising usus (+) normal Genital : tidak diperiksa Anus : fistula tidak ada. nyeri tekan pada abdomen bagian bawah. pupil isokor. nyeri tidak ada.

. Androgen. Prevalensi BPH yang bergejala pada pria berusia 40-49 tahun mencapai hampir 15%. sehingga pada usia 50-59 tahun prevalensinya mencapai hampir 25%. Epidemiologi : Pembesaran prostat dianggap sebagai bagian dari proses pertambahan usia. hal ini terjadi mungk karena proliferasisel epitelial dan stromal atau terganggunya proses kematian sel terprogram (apoptosis) yang mengakibatkan akumulasi seluler. bila mereka dapat hidupcukup lama. Oleh karena itulah dengan meningkatnya usia harapan hidup. tidak semua pasien BPH berkembang menjadi BPH yang bergejala (symptomatic BPH). Office of Health Economic Inggris telah mengeluarkan proyeksi prevalensi BPH bergejala di Inggris dan Wales beberapa tahun ke depan7. istilah hipertrofi sebenarnya kurang tepat karena yang sebenarnya terjadi adalah hyperplasia kelenjar periurethra yang mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer sehingga menjadi simpai bedah/Surgical Capsule. diperkirakan akan meningkat menjadi satu setengah kalinya pada tahun 2031. Namun. Angka ini meningkat dengan bertambahnya usia. meningkat pula prevalensi BPH. Pasien BPH bergejala yang berjumlah sekitar 80. Disebut hiperplasia karena secara histopatologi pada BPH terjadi peningkatan jumlah sel epitelial dan stromal pada area periuretral dari prostat. estrogen.3.000 pada tahun 1991. interaksi stromal-epitelia. dan pada usia 60 tahun mencapai angka sekitar 43%. seperti halnya rambut yang memutih. Bukti histologis adanya benign prostatic hyperplasia (BPH) dapat diketemukan pada sebagian besar pria. tetapi sebagai gambaran hospital prevalence di dua rumah sakit besar di Jakarta yaitu RSCM dan Sumberwaras selama 3 tahun (1994-1997) terdapat 1040 kasus. Assessment (Penalaran Klinis) : Definisi : Pembesaran Prostat Jinak dahulu dikenal sebagai Hipertropy Prostat Jinak (Benign Prostate Hypertropy = BPH). Etiologi : Pada BPH. Angka kejadian BPH di Indonesia yang pasti belum pernah diteliti. istilah hipertrofi sebenarnya kurang tepat karena yang terjadi sebenarnya adalah hiperplasia kelenjar periuretral yang mendesak jaringan prostat yang sebenarnya ke perifer dan menjadi simpai bedah. Namun demikian.

dan neurotransmiter dapat berperan. Beberapa teori yang menjelaskan pembesaran kelenjar periuretral. Kemudian DHT akan berikatan dengan reseptor di sel-sel prostat dan mengakibatkan proliferasi sel. Skema Pembesaran Prostat Jinak Patofisiologi : . 3. menyatakan bahwa jaringan periuretral kembali berkembang seperti pada tingkat embriologik sehingga tumbuh lebih cepat dari jaringan sekitarnya. akan dihidrolisis oleh enzim 5-alfa reduktase menjadi dihidrotestosteron (DHT). Testosteron bebas. dikemukakan oleh Isaacs. dalam etiologi proses hiperplasia. akibatnya terjadilah hiperplasi kelenjar periuretral. Seiring bertambahnya usia produksi testosteron akan berkurang dan terjadi konversi testosteron menjadi estrogen pada jaringan adiposa oleh enzim aromatase. Teori yang dikemukakan McConnel menyatakan bahwa hiperplasi kelenjar periuretral disebabkan oleh ketidakseimbangan testosteron dengan estrogen.faktor pertumbuha. Teori Stem Cell. yaitu testosteron yang tidak terikat protein dalam bentuk Serum Binding Hormone. atau faktor pencetus lainnya. estrogen lalu akan mengakibatkan hiperplasi stroma prostat. menyatakan bahwa dalam kondisi normal kelenjar periuretral berada dalam keadaan seimbang antara sel yang tumbuh dengan yang mati. stem cell berproliferasi lebih cepat sehingga sel yang tumbuh lebih banyak daripada sel yang mati. baik tunggal maupun kombinasi. 2. gangguan keseimbangan hormon. yaitu: 1. Teori Reawakening. Kemudian oleh sebab tertentu seperti usia. dikemukakan oleh McNeal.

Pada penderita BPH. Adanya batu di dalam vesika dapat memperberat gejala iritatif dan mengakibatkan hematuria. leher vesika. Peningkatan tekanan intraabdomen dapat mengakibatkan hernia atau hemoroid. Aliran Urin dengan BPH . Obstruksi traktus urinarius kronik dapat mengakibatkan peningkatan tekanan intraabdomen karena penderita harus mengejan pada waktu kencing. Mukosa vesika dapat menerobos antara serat detrusor sehingga membentuk sakula dan bila semakin membesar disebut divertikel. akan terjadi resistensi uretra daerah prostat. Retensi urin yang berjalan kronik mengakibatkan refluks vesikouretral. Retensi urin total yang terjadi menginkatkan tekanan intravesika. Jika keadaan ini berlangsung terus-menerus dapat terjadi penurunan fungsi ginjal dan pada akhirnya akan terjadi gagal ginjal. dan otot detrusor dipersarafi oleh sistem simpatis. bentuknya serupa balok-balok. Sisa urin dalam vesika dapat meningkatkan risiko terjadinya batu endapan dan infeksi. Saat terjadi BPH akan terjadi peningkatan resistensi di daerah prostat dan leher vesika. sedangkan trigonum oleh parasimpatis. Ketika tekanan intravesika lebih tinggi daripada tekanan sfingter uretra. Detrusor yang terus-menerus mengkompensasi pada suatu saat akan jatuh pada fase dekompensasi dimana otot detrusor tidak mampu berkontraksi lagi dan terjadi retesi urin total. leher vesika. dan kekuatan kontraksi otot detrusor. yang semakin diteruskan ke atas mengakibatkan dilatasi ureter (hidroureter) dan sistem pelviokalises ginjal (hidronefrosis). Trigonum. Kontraksi detrusor yang terus-menerus akan mengakibatkan penebalan dan penonjolan serat detrusor ke dalam buli-buli yang disebut pula trabekulasi. Kemudian otot detrusor akan berkontraksi lebih kuat sebagai kompensasinya. tonus trigonum. akan terjadi inkontinensia paradox (overflow incontinence).

Manifetasi Klinis : Gejala pada penderita BPH dibagi menjadi gejala obstruktif dan gejala iritatif. Skor akhir akan menentukan tatalaksana yang akan dilakukan terhadap penderita. IPSS terdiri dari delapan buah pertanyaan mengenai LUTS. di antaranya International Prostate Symptom Score (IPSS) yang disusun oleh World Health Organization dan Madsen Lawson Score.4 Klasifikasi hasil IPSS Skor Kategori Tatalaksana 0-7 Ringan Watchfull waiting 8-18 Sedang Medikamentosa 19-35 Berat Operasi . 2. sedangkan gejala iritatif disebabkan oleh pengosongan yang tidak sempurna saat miksi atau rangsangan pada vesika oleh BPH sehingga vesika sering berkontraksi meskipun belum terisi penuh. Gejala obstruktif dan iritatif pada BPH Obstruktif Iritatif Menunggu pada permulaan miksi (hesitancy) Peningkatan frekuensi miksi (frequency) Miksi terputus (intermittency) Peningkatan frekuensi miksi malam hari (nocturia) Urin menetes pada akhir miksi (terminal dribbling) Miksi sulit ditahan (urgency) Pancaran miksi lemah Nyeri pada waktu miksi (dysuria) Rasa tidak puas setelah miksi (tidak lampias) Beratnya gangguan miksi diidentifikasi dan diklasifikasikan oleh berbagai jenis skoring. Gejala obstruktif disebabkan oleh kegagalan otot detrusor untuk berkontraksi secara adekuat misalnya karena volume prostat pada BPH yang besar.

volume sisa urin. CT Scan dan MRI jarang digunakan karena dianggap tidak efisien. biakan. PSA. simetri. dan indentasi prostat. Pemeriksaan colok dubur (rectal touché. Jika prostat teraba membesar maka diberi deskripsi lebih lanjut mengenai konsistensi. dan kadar glukosa. RT) dilakukan untuk memeriksa tonus sfingter ani. Sedangkan pada adenokarsinoma prostat konsistensinya keras. Jika batas atas prostat masih teraba. Pemeriksaan darah terdiri dari darah perifer lengkap.Diagnosis: Pada pria berusia di atas 60 tahun kira-kira ditemukan 50% dengan pembesaran prostat dan separuhnya akan memberikan keluhan. Pemeriksaan urin terdiri dari urinalisis.9 Tabel. dapat diperkirakan massa prostat kurang dari 60 gram. TAUS digunakan untuk menilai volume buli. volume sisa urin. TRUS digunakan untuk mengukur volume prostat. dan diabetes mellitus. bentuknya simetris. dan nodul untuk menentukan dugaan pembesaran jinak atau ganas. vesika urinaria dapat teraba bila terjadi retensi urin. atau batu buli. Indikasi biopsi prostat . elektrollit. mukosa rektum. maka diperiksa kelianan ginjal yang tergambar lewat pemeriksaan fisik yaitu ginjal dapat teraba pada hidronefrosis.Jika dasar kelainan berada di traktur urinarius bagian atas. prostat digolongkan besar jika volumenya lebih dari 60 gram. Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk mendeteksi adanya komplikasi atau faktor komorbid pada penderita seperti infeksi. Pembesaran prostat jinak biasanya memiliki konsistensi kenyal. TRUS juga dapat mendeteksi kemungkinan keganasan dengan memperlihatkan adanya daerah hypoehoic. penurunan fungsi ginjal. dan prostat. dan teraba benjolan di lipat paha bila ada hernia. Pemeriksaan pencitraan yang dilakukan pada BPH terutama ultrasonografi (USG) secara Trans Abdominal Ultrasound (TAUS) atau Trans Rectal Ultrasound (TRUS). kreatinin. divertikulae. dan bisa dapat dilakukan biopsi prostat dengan jarum yang dituntun TRUS diarahkan ke daerah yang hypoechoic Pencitraan lainnya yang dapat dilakukan yaitu Blaas Nier Overzicht-Intravenous Pyelogram (BNO-IVP) untuk melihat adanya batu saluran kemih. divertikel. dan tes sensitivitas antibiotik. dan terdapat nodul. hidronefrosis. batu saluran kemih. nyeri pinggang dan nyeri ketok regio Flank pada pielonefritis. bentuk asimetris. dan tidak terdapat nodul. tumor. ureum.

atau batu vesika kecil. Sedang bila hanya gejala-gejala iritatif yang menyolok. Pada pasien dengan skor ringan (IPSS ≤ 7 atau Madsen Iversen ≤ 9).9 Penatalaksanaan : 1. Bila pada RT dicurigai adanya keganasan 2. dilakukan watchful waiting atau observasi yang mencakup edukasi.mengurangi minum setelah makan malam (mengurangi nokturia) . prostatitis. Bahkan bagi pasien dengan LUTS sedang yang tidak terlalu terganggu dengan gejala LUTS yang dirasakan juga dapat memulai terapi dengan malakukan watchful waiting. kontraktur leher vesika. elastisitas leher vesika.1. Medical Treatment Ada beberapa jenis pengobatan medikamentosa pada BPH yaitu : . sisa kencing.Penghambat adrenergik alfa Obat ini menghambat reseptor alfa pada otot polos di trigonum. leher vesika. karsinoma in situ vesika. TRUS 2. Selain pada BPH. kontrol periodik. Oleh karena itu kesulitan miksi dapat disebabkan oleh kelemahan detrusor. Saran yan gdiberikan antara lain :9. batu buli-buli kecil. dan kapsul prostat.menghindari obat dekongestan (parasimpatolitik) . keluhan LUTS dijumpai pula pada striktur uretra. sehingga terjadi relaksasi. Qmax. dan resistensi uretra. Nilai PSA > 10 ng/ml atau PSA 4 – 10 ng/ml dengan PSAD > 0. kekakuan leher vesika. infeksi saluran kemih.15 (Standar internasional) 3.22 (Standar Jakarta) Diagnosis Banding: Proses miksi bergantung pada kekuatan otot detrusor.11 . penurunan tekanan di uretra . reasuransi. karsinoma prostat.setiap 3 bulan mengontrol keluhan: sistem skor. dan resistensi uretra. Nilai PSA > 30 ng/ml atau PSA 8 – 30 ng/ml dengan PSAD > 0. batu ureter distal. dan pengaturan gaya hidup. prostat.mengurangi minum kopi dan larang minum alkohol (mengurangi frekuensi miksi) . Watchfull Waiting Tatalaksana pada penderita BPH saat ini tergantung pada LUTS yang diukur dengan sistem skor IPSS. lebih sering ditemukan apda penderita instabilitas detrusor. misalnya pada penderita asma kronik yang menggunakan obat-obat parasimpatolitik. atau kelemahan detrusor.

. infeksi. capek. Komplikasi jangka pendek pada TURP antara lain perdarahan. Pygeum Africanum. volume prostat kurang dari 90 gram. Efek dari obat lain yaitu anti-estrogen. konsentrasi DHT dalam prostat menurun. namun PPygeum Africanum diduga mempengaruhi kerja Growth Factor terutama b-FGF dan EGF.sisa kencing yang banyak . Komplikasi jangka panjang TURP adalah striktur uretra. Indikasi TUIP yaitu keluhan sedang atau berat dan volume prostat tidak begitu besar. Efek samping yang dapat timbul adalah karena penurunan tekanan darah sehingga pasien bisa mengeluh pusing.hematuria makroskopil . dan Secale cereale. dan menurunkan nilai PSA.retensi urin berulang . populus temula. Trans Urethral Incision of the Prostate (TUIP) dapat dilakukan apabila volume prostat tidak begitu besar/ada kontraktur leher vesik / prostat fibrotik. Indikasi absolut untuk melakukan tatalaksana invasif : . Doxazosin. 3. Urtica Sp. dan kondisi pasien memenuhi toleransi operasi. dan menurunkan tonus leher vesika. dan impotensi.pars prostatika. hambat proliferasi sel prostat. Perbaikan gejala baru muncul setelah 6 bulan.infeksi saluran kemih berulang . Banyak mekanisme kerja yang belum jelas diketahui. Terazosin. - Penghambat enzim 5 α reduktase Obat ini menghambat kerja enzim 5 α reduktase sehingga testosteron tidak diubah menjadi DHT. dan efek sampingnya - antara lain melemahkan libido. anti-inflamasi. hiponatremi. Sabal Serulla. Afluzosin. dan lemah. atau Tamsulosin. ejakulasi retrograd. sehingga meringankan obstruksi. retensi karena bekuan darah. Perbaikan gejala timbul dengan cepat. Echinacea pupurea. contohnya Prazosin. Phytoterapi Obat dari tumbuhan herbal ini mengandung Hypoxis Rooperis.penurunan fungsi ginjal Standar emas untuk tatalaksana invasif BPH adalah Trans Urethral Resection of the Prostate (TURP) yang dilakukan untuk gejala sedang sampai berat. anti-androgen. menurunkan sex binding hormon globulin. hidung tersumbat.batu vesika . Tatalaksana Invasif Tatalaksana invasif pada BPH bertujuan untuk mengurangi jaringan adenoma. pengaruhi metabolisme prostaglandin. Curcubita pepo. sehingga sintesis protein terhambat.

11 Komplikasi: Pada BPH yang dibiarkan tanpa tatalaksana dapat menyebabkan komplikasi seperti trabekulasi. yaitu mukosa vesika menerobos serat-serat detrusor. operasi sejenis ini hanya dilakukan apabila ditemukan pula batu vesika yang tidak bisa dipecah dengan litotriptor / divertikel yang besar (sekaligus diverkulektomi) / volume prostat lebih dari 100cc. Batu vesika juga dapat terbentuk sebagai komplikasi akibat sisa urin yang menetap di vesika urinaria. Prognosis : Kebanyakan pasien dengan gejala yang khas BPH dapat mengalami perbaikan dan peningkatan fungsi kemih Plan :  Diagnosis : Retensio urine ec BPH  Pengobatan : Non-Farmakologi: Pasang kateter urin Farmakologi : Ceftriaxon inj. yaitu penebalan serat-serat detrusor menyerupai balok akibat tekanan intravesikal yang terus menerus tinggi akibat obstruksi. Tahap yang terakhir terjadi adalah keadaan dimana otot detrusor mengalami dekompensasi sehingga vesika tidak dapat lagi berkontraksi untuk mengosongkan isinya sehingga terjadi retensi urin total. maka dapat dilakukan operasi terbuka dengan teknik transvesikal atau retropubik.Bila alat yang tersedia tidak memadai. Karena morbiditas dan mortalitas yang tinggi yang ditimbulkannya. hidronefrosis.9. Dan ketika besarnya tekanan vesika melebihi tekanan obstruksi makadapat terjadi overflow incontinence. dan bila ukurannya membesar bisa menjadi divertikel. dan penurunan fungsi ginjal. Kemudian dapat terjadi sakulasi. 2 x 1 gr . Tekanan vesika yang tinggi tadi apabila diteruskan ke struktur di atasnya dapat menyebabkan hidroureter.

Pemberian edukasi untuk dilakukan evaluasi untuk dilakukan operasi. 3 x 15 mg Ranitidin inj.Ketorolac inj. .  Pendidikan : dilakukan kepada pasien dan keluargannya untuk membantu proses penyembuhan dan pemulihan.  Konsultasi : dilakukan secara rasional perlunya konsultasi dengan dokter spesialis bedah. 2 x 1 amp Dilakukan evaluasi untuk melakukan operasi.