You are on page 1of 23

BAB II

STATUS PASIEN
A. Identitas Pasien
Nama Pasien

: Ny. Maria Agustini

Tempat/Tanggal Lahir : Palembang, 19 Agustus 1979
Umur

: 36 tahun

No. Rekam Medik

: 135181

Jenis Kelamin

: Perempuan

Alamat

: Buana Vista Indah, Belian

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Agama

: Islam

Suku

: Melayu

Tanggal masuk

: 16 September 2015

B. Anamnesis
Keluhan Utama:
Pasien masuk ke IGD kiriman dari Puskesmas Botania dengan keluhan pusing dan
pandangan kabur.
Keluhan Tambahan:
Pasien merasa nyeri tengkuk, dan terasa mual.
Riwayat Penyakit Sekarang:

Pasien datang ke IGD pukul 14.30 kiriman dari Puskesmas Botania dengan
keluhan pusing dan pandangan kabur dengan G4P2A1 gravid 31-32 minggu
dengan PEB + Inpending eklampsia + HELLP Syndrome.

Sebelumnya pasien berobat ke Puskesmas Botania dengan keluhan pusing,
pandangan kabur + 4 hari SMRS. Pasien juga mengalami nyeri tengkuk dan
nyeri ulu hati disertai mual yang dialaminya sejak + 2 hari SMRS. Kemudian
diperoleh tekanan darah 220/120 mmhg, lalu pasien diberikan nifedipine 5mg
sublingual, PCT 500gr, dipasang infus RL 20 tpm, diberikan MgSO4 5mg IM

pada bokong kanan dan bokong kiri, kemudian tekanan darah turun menjadi
170/120 mmHg lalu pasien dirujuk ke RSUD Embung Fatimah Batam.

Keluar lendir bercampur darah dari kemaluan (-)

Keluar air – air yang banyak dari kemaluan (-)

HPHT : Januari - 2015

ANC : kontrol di bidan Puskesmas Botania sebanyak 3 kali, terakhir kontrol

TP: Oktober - 2015

tanggal 11 September 2015.

Riwayat menstruasi : Menarche usia 13 tahun, siklus teratur 1 x 28 hari,
selama 7 hari, ganti pembalut 2-3 kali per hari, nyeri (-).

Riwayat Penyakit Dahulu

Os pernah menderita PEB pada kehamilan anak ke dua. Tidak pernah
menderita penyakit jantung, paru, hati, ginjal, alergi, DM, dan hipertensi,
riwayat alergi (-).

Riwayat Penyakit Keluarga

(-)

Riwayat Perkawinan : 1 x : tahun 2001
Riwayat Obstetri : G4P2A1H2
1. 2002, laki-laki, 3500 gr, cukup bulan, spontan, hidup
2. 2009, perempuan, 3400 gr, cukup bulan, spontan, bidan, hidup
3. 2012, keguguran usia kehamilan 3 bulan
4. Hamil sekarang
Riwayat Kontrasepsi : (-)
.

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis:
KU

: Baik

Kesadaran

: Komposmentis

Tanda vital

: T: 180/120 mmHg

N: 67 x/menit

pekak pindah (-) Ekstremitas Hepar : sulit dinilai Lien : sulit dinilai : Edema : Ekstremitas superior -/Ekstremitas inferior +/+ Varises : -/- Akral : hangat STATUS OBSTRETRIKUS Pemeriksaan Luar Tinggi Fundus : 23 cm TBJ : 1705 gr Lingkar Perut : Tidak dilakukan DJJ : 138 x/i HIS/10mnit : Tidak ada Leopold : I = Bokong II = Punggung di perut kanan III = Kepala IV = Konvergen . pekak samping (-). pergerakan pernapasan regular Palpasi : Fokal fremitus D/S normal Perkusi : Sonor semua lapangan paru Auskultasi : Vesikuler (+/+).2 oC R: 20 x menit Pemeriksaan Fisik: Kepala : Konjungtiva Sklera Leher Thoraks : tidak anemis : tidak ikterik : KGB : tidak teraba membesar JVP : tidak meningkat Kelenjar thyroid : tidak teraba membesar : Paru-Paru : Inspeksi : tidak ada nafas tertinggal.S : 36. Wh (-/-) Jantung : BJ S1-S2 murni regular. Murmur (-) Gallop (-) Abdomen : Cembung. RH (-/-). lembut. DM (-) .

Pemeriksaan Dalam V/U :(-) Inspekulo : tidak dilakukan Vagina touche : tidak dilakukan LABORATORIUM Darah Lengkap Pre OP (16-09-2015) Hb : 12.5 g/dl Ht : 42 % Leukosit : 14500/ul Eritrosit : 4.0 Leukosit : +1 Eritrosit : +5/ LPB Protein :++++ Glukosa :(-) Keton :(-) Urobilinogen :(-) Bilirubin :(-) RESUME Pasien datang ke IGD pukul 14.30 kiriman dari Puskesmas Botania dengan keluhan pusing dan pandangan kabur dengan G4P2A1 gravid 31-32 minggu dengan . Drah : O / Rh+ HIV : Negatif HbSAg : Negatif Cek Urin Warna : Kuning Kejernihan : Agak keruh BJ :1005 pH : 6.8 juta/ul Trombosit : 126 ribu/ul GDS : 93 Gol.

30     O Os mengatakan ini kehamilan ke-empat dan keguguran satu kali. Keluar air – air yang banyak dari kemaluan (-). DIAGNOSIS KERJA G4P2A1H2 RENCANA PENGELOLAAN  Kontrol tekanan darah  Infus D5% + RL 25-30 tpm  Kateter  Konsul dr.PEB + Inpending eklampsia + HELLP Syndrome. Pusing (+). diberikan MgSO4 5mg IM pada bokong kanan dan bokong kiri. Pasien juga mengalami nyeri tengkuk dan nyeri ulu hati disertai mual yang dialaminya sejak + 2 hari SMRS. lalu pasien diberikan nifedipine 5mg sublingual. Kemudian diperoleh tekanan darah 220/120 mmhg. kemudian tekanan darah turun menjadi 170/120 mmHg lalu pasien dirujuk ke RSUD Embung Fatimah Batam. nyeri ulu hati (+). dan mual (+). dipasang infus RL 20 tpm. Mules-mules (-). Sebelumnya pasien berobat ke Puskesmas Botania dengan keluhan pusing. pandangan kabur + 4 hari SMRS. pandangan kabur (+).14. Sebelumnya pasien juga pernah mengalami PEB pada kehamilan kedua. Keluar lendir bercampur darah dari kemaluan (-).OG  Nifedipine 3x10 mg  Metildopa 3x500 mg  Amoxicilin 3x1 gr FOLLOW UP DI IGD Tanggal : 16/09/2015 S 0914. PCT 500gr. Yanuarman. Sp.30 TD : 180/120 mmHg N : 67x/i R : 20x/i . keluar cair-cairan (-). keluar lendir darah (-) HPHT : Januari/2015 Keadaan Umum : Baik Kesadaran : CM 09. muntah (-).

nyeri kepala (+). nyeri ulu hati (+) KU: Baik Kes: CM TTV : TD: 190/100 mmHg. Nafas: 26 O x/menit. pandangan S berkunang (+). UOP: 700cc Status generalis: edema ekstremitas Status obstetris: DJJ: 130 x/menit.5oC. UOP: 850 cc Status generalis: edema ekstremitas. Status obstetris: DJJ: 132 x/menit. mual (-).00 WIB 17/09/15 07. HIS : (-) G4P2A1H2 gravid 31-32 minggu dengan PEB + Inpending A eklampsia + HELLP Syndrome  IVFD RL 30 tpm P  Metildopa 3x500 mg  Observasi tiap 30 menit S O A P Pandangan kabur (+). muntah (-) KU: Baik Kes: CM TTV : TD: 140/90 mmHg. HIS : (-) G4P2A1H2 gravid 31-32 minggu dengan PEB + Inpending eklampsia + HELLP Syndrome  IVFD RL 30 tpm  Metildopa 3x500 mg .S : 36. Nadi: 84 x/ menit. Nadi: 88 x/ menit.00 WIB Follow up Pasien diterima dari VK IGD pukul 18.5oC. Suhu: 36.30 16.40 HELLP Syndrome  Pasang DC (+)  Pasang O2 2liter (+)  Skin test amoxicilin  Dopamet 500 mg  EKG dilakukan  Konsul dokter penyakit dalam  Inj amoxicilin  Evaluasi TD FOLLOW UP DI RUANG VK Hari/Tanggal 16/09/15 18. Nafas: 22 x/menit.2 oC SPO2 : 98% DJJ : 138 x/i HIS : (-) P/V : (-) VT : belum dilakukan G4P2A1H2 gravid 31-32 minggu dengan PEB + Inpending eklampsia + A P 14.00 dengan permasalahan: Pasien tiba dari IGD dengan kepala pusing (+). Suhu: 36.45 16.

S O 12.2oC.00 WIB O A P 12. mual dan muntah sudah tidak ada lagi KU: Baik Kes: CM TTV : TD: 181/110 mmHg. Suhu: 36. Nafas: 20 x/menit. muntah (+) 2x. Nadi: 112 x/ menit. mual dan muntah sudah tidak ada lagi KU: Baik Kes: CM TTV : TD: 190/133 mmHg. HIS : (-)  G4P2A1H2 gravid 31-32 minggu dengan PEB + Inpending eklampsia + HELLP Syndrome  IVFD RL 30 tpm  Metildopa 3x500 mg  Observasi tiap jam Nyeri tengkuk (+).00 WIB A P S O 18. kepala terasa pusing KU: Baik Kes: CM TTV : TD: 172/99 mmHg.5oC. Nadi: 88 x/ menit. Suhu: 36. Yanuarman. Nafas: 20 x/menit. Nadi: 92 x/ menit. Nafas: 20 x/menit. Suhu: 36. UOP: 1400cc Status generalis: edema ekstremitas Status obstetris: DJJ: 131 x/menit. UOP: 1600cc Status generalis: edema ekstremitas Status obstetris: DJJ: 132 x/menit. perut terasa panas KU: Baik Kes: CM TTV : TD: 190/110 mmHg. Nadi: 87 x/ menit.5oC.00 WIB A P  Observasi tiap jam Pandangan kabur (+).00 WIB S O Keluhan pandangan kabur sudah berkurang. UOP: 1000cc Status generalis: edema ekstremitas Status obstetris: DJJ: 133 x/menit. HIS : (-)  G4P2A1H2 gravid 31-32 minggu dengan PEB + Inpending eklampsia + HELLP Syndrome  IVFD RL 30 tpm  Metildopa 3x500 mg  Observasi tiap jam  Advice dr. UOP: 850cc Status generalis: edema ekstremitas Status obstetris: DJJ: 141 x/menit. Nafas: 20 x/menit. Sp.5oC. pandangan kabur (+).OG: terminasi kehamilan (pasien menolak) 18/09/15 S 07. HIS : (-) G4P2A1H2 gravid 31-32 minggu dengan PEB + Inpending eklampsia + HELLP Syndrome  IVFD RL 30 tpm  Metildopa 3x500 mg  Observasi tiap jam Keluhan pandangan kabur sudah berkurang. mual (+). Suhu: 36. HIS : (-) .

Sp. Suhu: 36.5oC.5oC.JP  Nifedipine stop  Nicardipine pump (1 amp nicardipine dalam 50 cc NaCl) 10 S . Suhu: 36. Nadi: 60 x/ menit.OG: Inj dexamethason 2 x 2 amp. UOP: 1800cc Status generalis: edema ekstremitas Status obstetris: DJJ: 138 x/menit.7oC. Nadi: 60 x/ menit. HIS : (-)  G4P2A1H2 gravid 31-32 minggu dengan PEB + A Inpending eklampsia + HELLP Syndrome  IVFD RL 30 tpm  Metildopa 3x500 mg  Induksi kolf I D5% drip oksitosin 5U 25 tpm menetap P  Advice dr. Nafas: 22 O x/menit. SGOT. mual (-) KU: Baik Kes: CM TTV : TD: 160/82 mmHg. BT. UOP: 850cc Status generalis: edema ekstremitas Status obstetris: DJJ: 138 x/menit.A P 18. Nafas: 20 O x/menit.45 Kepala masih terasa pusing. pandangan kabur (+). UOP: 1700cc Status generalis: edema ekstremitas Status obstetris: DJJ: 142 x/menit.00 WIB 12. Nafas: 20 x/menit. SGPT  Konsul spesialis jantung Advice dr. mual dan muntah sudah tidak ada lagi KU: Baik Kes: CM TTV : TD: 167/82 mmHg. pandangan kabur berkurang. Nadi: 72 x/ menit. APTT. mual (-) KU: Baik Kes: CM TTV : TD: 186/90 mmHg. Sp. Nanang.00 WIB 14. Indri.00 WIB S O A P  G4P2A1H2 gravid 31-32 minggu dengan PEB + Inpending eklampsia + HELLP Syndrome  IVFD RL 30 tpm  Metildopa 3x500 mg  Observasi tiap jam Keluhan pandangan kabur sudah berkurang. Suhu: 36. cek ulang CT. HIS : (-)  G4P2A1H2 gravid 31-32 minggu dengan PEB + Inpending eklampsia + HELLP Syndrome  IVFD RL 30 tpm  Metildopa 3x500 mg  Observasi tiap jam 19/09/15 07. HIS : (-)  G4P2A1H2 gravid 31-32 minggu dengan PEB + A Inpending eklampsia + HELLP Syndrome  IVFD RL 30 tpm P  Metildopa 3x500 mg  Observasi tiap jam S Kepala masih terasa pusing.

Lasik 1-0-0 S Pandangan masih kabur.05 19. Nanang. HIS : (+)jarang  G4P2A1H2 gravid 31-32 minggu dengan PEB + Inpending eklampsia + HELLP Syndrome  IVFD RL drip Oksitosin 5U/12tpm  Nicardipine 1 amp dalam 50 cc (3cc/jam)  Metildopa 3x1gr Pandangan kabur (+). tidak bisa BAB KU: Baik Kes: CM TTV : TD: 150/90 mmHg.2oC. Suhu: 36. Sp. UOP: 1200cc Status generalis: edema ekstremitas Status obstetris: DJJ: 127 x/menit. HIS : (-)  G4P2A1H2 gravid 31-32 minggu dengan PEB + Inpending eklampsia + HELLP Syndrome  IVFD RL drip Oksitosin 5U/12tpm  Nicardipine 1 amp dalam 50 cc (3cc/jam)  Metildopa 3x1gr  Dulcolax 2 amp Pandangan kabur (+). Nadi: 60 x/ menit. Suhu: 36. Nafas: 20 x/menit.7”  SGOT : 40 ul  SGPT : 26 ul S O A P S O 12.5 cc/jam maksimal 20 cc/jam dengan target TD 150 mmHg Tablet ISDN 3x5 mg Inj.  15. Nafas: 20 x/menit.2oC.40 16. kepala pusing (+) KU: Baik Kes: CM TTV : TD: 103/61 mmHg. pusing (+). pusing (+) .5 juta/ul  Trombosit : 132ribu/ul  BT : 2’ 00’’  CT : 3’ 00”  APTT : 35.3 gr/dl  Leukosit :3600  Ht : 31 gr%  Eritrosit: 3. UOP: 1800cc Status generalis: edema ekstremitas Status obstetris: DJJ: 130 x/menit.30 Hasil Labolatorium 20/09/2015 07.00 cc/jam dinaikkan bertahap 3. Nadi: 78 x/ menit.JP:  Turunkan secara bertahap 3.00 Nicardipine pump dimulai TD: 120/80 mmHg Advice dr.00 A P 18.5 cc/jam  Pertahankan 1x24jam Induksi kolf I habis Lanjut induksi kolf II D5% drip oksitosin 8U/12tpm  Hb : 10.

UOP: 1200cc Status generalis: edema ekstremitas Status obstetris: DJJ: 140 x/menit. Nafas: 20 x/menit. Nadi: 72 x/ menit. Nafas: 20 x/menit.5oC. HIS : (-)  G4P2A1H2 gravid 31-32 minggu dengan PEB + Inpending eklampsia + HELLP Syndrome  IVFD RL  Nicardipine 1 amp dalam 50 cc (3cc/jam)  Metildopa 3x1gr  Dulcolax 2 amp Advice dr. HIS : (-)  G4P2A1H2 gravid 31-32 minggu dengan PEB + Inpending eklampsia + HELLP Syndrome  IVFD RL 20 tpm  Nicardipine 1 amp dalam 50 cc (3cc/jam)  Metildopa 3x1gr Os mengatakan saat ini tidak ada keluhan KU: Baik Kes: CM TTV : TD: 117/89 mmHg. Suhu: 36. UOP: 1100cc Status generalis: edema ekstremitas Status obstetris: DJJ: 144 x/menit.OG:  Jika TD > 150/90 naikkan jadi 7 cc/jam Advice dr. Nanang. HIS : (-) .2oC. Suhu: 36. Sp.OG:  Gastrul ¼ tab per vaginam. Sp. UOP: 1200cc Status generalis: edema ekstremitas Status obstetris: DJJ: 134 x/menit. ulangi tiap 8 jam 21/09/15 07. Nafas: 21 x/menit.O A P KU: Baik Kes: CM TTV : TD: 150/90 mmHg. Nadi: 80 x/ menit. HIS : (-)  G4P2A1H2 gravid 31-32 minggu dengan PEB + Inpending eklampsia + HELLP Syndrome  IVFD RL 20 tpm  Nicardipine 1 amp dalam 50 cc (3cc/jam)  Metildopa 3x1gr  Gastrul ¼ tab Os mengatakan saat ini tidak ada keluhan KU: Baik Kes: CM TTV : TD: 148/99 mmHg. UOP: 1000cc Status generalis: edema ekstremitas Status obstetris: DJJ: 139 x/menit.00 S O A P 18. Nadi: 88 x/menit. Yanuarman. perut terasa tegang KU: Baik Kes: CM TTV : TD: 129/90 mmHg. Suhu: 36. Suhu: 36oC.00 S O Pandangan masih sedikit kabur.00 S O A P 12. Nadi: 88 x/ menit.2oC. Nafas: 20 x/menit.

Nanang.A P 22/09/15 07. HIS : (-) G4P2A1H2 gravid 31-32 minggu dengan PEB + Inpending eklampsia + HELLP Syndrome  IVFD RL 20 tpm  Nicardipine 1 amp dalam 50 cc (7cc/jam)  Metildopa 3x1gr Mual (+). Sp. Nadi: 72 x/menit. subkutis pasien digunting. Suhu: 36.JP tentang rencana tindakan SC:  Dopamet 3x500gram  Nicardipine pump 10cc/jam  Inj. kecuali lapangan operasi. pandangan kabur (+) KU: Baik Kes: CM TTV : TD: 170/100 mmHg. Dilakukan insisi pfnannstiel pada diding perut lebih kurang 10 cm. Status generalis: edema ekstremitas Status obstetris: DJJ: 143 x/menit.00 Dilakukan narkose spinal. Nadi: 92 x/ menit. Sp. Suhu: 36oC. pusing (-) KU: Baik Kes: CM TTV : TD: 169/115 mmHg.OG:  Siapkan SC Cito (digantikan oleh dr.2oC. Yanuarman. Acholder. kemudian diperlebar secara tumpul. muntah (+). Peritoneum . Sp. Lasik 1-0-0 LAPORAN OPERASI Diagnosis Pre-operasi G4P2A1H2 gravid 31-32 minggu dengan PEB + Inpending eklampsia + HELLP Syndrome 22 September 2015. operasi dimulai pukul 13.00 S O A P     G4P2A1H2 gravid 31-32 minggu dengan PEB + Inpending eklampsia + HELLP Syndrome IVFD RL 20 tpm Nicardipine 1 amp dalam 50 cc (3cc/jam) Metildopa 3x1gr Pandangan masih sedikit kabur. kemudian dinding abdomen di tutup dengan duk steril. UOP: 1200cc Status generalis: edema ekstremitas Status obstetris: DJJ: 142 x/menit.30 dan selesai pukul 14.OG) Advice dr. Nafas: 20 x/menit.00 S O A P 10. Nafas: 20 x/menit. pusing (-). HIS : (-) G4P2A1H2 gravid 31-32 minggu dengan PEB + Inpending eklampsia + HELLP Syndrome Advice dr.

kontraksi (+). Acholder.40 WIB. tampak uterus gravid. dicari plika uteri. Status obstetris: TFU: 2 jari dbp. dengan bayi lahir pukul 13. Plasenta dilahirkan secara lengkap. BBL: 1100 gr. kemudian diperlebar. pandangan masih terasa kabur dan nyeri luka post-op KU: Baik Kes: CM TTV : TD: 170/100 mmHg.OG:  Cefadroxil 2x1  Asam mefenamat 3x1  Profenid supp Terapi dr. Dilakukan insisi SBR semilunar.kemudian diperluas secara tumpul. Nadi: 100 x/ menit. dilakukan pembersihan cavum uteri. catat urin output Cek Hb post-op Konfirmasi ulang obat dengan dokter spesialis jantung FOLLOW UP DI RUANG MAWAR Hari/Tanggal 24/09/15 S O A P Follow up Os mengatakan masih merasa pusing. Diagnosis Post-operasi P3A1H3 post sctp pre-term dengan PEB + Inpending eklampsia + HELLP Syndrome Terapi Post-operasi         IVFD D5% drip oksitosin 2amp 25tpm Ceftriaxone 2x1 mg IV Metronidazol 2x1 drip Dopamet 3x500mg Alinamin-F 3x1 amp IV Kateter menetap. Nanang. digunting kemudian diperluas secara tumpul. Ketuban dipecahkan. kemudian dilakukan penjahitan luka SBR secara jelujur.JP  Nicardipine pump 10 cc/jam dinaikkan bertahap (target . Nafas: 24 x/menit. didapatkan ketuban jernih. PB: 37 cm. Dilakukan pembersihan rongga abdomen dan penjahitan dinding abdomen lapis demi lapis. Anak dilahirkan dengan mengeluarkan kepala. Sp.digunting. JK: Perempuan. Sp. P/V (+) P3A1H3 post sctp dengan PEB + Inpending eklampsia + HELLP Syndrome Terapi dr. Suhu: 36oC Status generalis: edema ekstremitas.

kepala pusing sudah berkurang KU: Baik Kes: CM TTV : TD: 160/90 mmHg. Suhu: 37oC Status generalis: edema ekstremitas Status obstetris: P/V (+) P3A1H3 post sctp dengan PEB + Inpending eklampsia + HELLP Syndrome  Asam mefenamat 3x1  Profenid supp  Dopamet 3x750mg  ISDN 3x5mg  Nifedipine 3x10mg . turunkan dosis menjadi 6.5 cc/jam  Cedocard 2 amp dalam NaCl 0. Nadi: 80 x/ menit. Nadi: 83 x/ menit. Nafas: 20 x/menit. Nafas: 18 x/menit.9% 50 cc (5cc/jam)  Konsul spesialis mata Pandangan kabur berkurang. P/V (+) P3A1H3 post sctp dengan PEB + Inpending eklampsia + HELLP Syndrome  Cefadroxil 2x1  Asam mefenamat 3x1  Profenid supp  Nicardipine pump 10 cc/jam dinaikkan bertahap (target 150 mmHg)  Jika TD < 140 mmHg. kontraksi (+).5oC Status generalis: edema ekstremitas Status obstetris: TFU: 2 jari dbp. Lasik 1-1-0 Pandangan masih terasa kabur dan tidak berkurang sejak pertama tekanan darah naik. pusing (-) KU: Baik Kes: CM TTV : TD: 168/110 mmHg.  S O 25/09/15 A P S O 26/09/15 A P S O 27/09/15 A P 150 mmHg) Cedocard 2 amp dalam NaCl 0. Nafas: 20 x/menit. Nadi: 76 x/ menit. Suhu: 36.9% 50 cc (5cc/jam) Inj. Suhu: 37oC Status generalis: edema ekstremitas Status obstetrikus: P/V (+) P3A1H3 post sctp dengan PEB + Inpending eklampsia + HELLP Syndrome  Ceftriaxone 2x1  Asam mefenamat 3x1  Profenid supp  Dopamet 3x750mg  ISDN 3x5mg  Nifedipine 3x10mg Os mengatakan sudah tidak ada keluhan KU: Baik Kes: CM TTV : TD: 127/81 mmHg.

8oC Status generalis: edema ekstremitas (-) Status obstetris: P/V (+) normal P3A1H3 post sctp dengan PEB + Inpending eklampsia + HELLP Syndrome  Asam mefenamat 3x1  Profenid supp  Dopamet 3x750mg  ISDN 3x5mg  Nifedipine 3x10mg Advice dr. Nafas: 20 x/menit.1 Preeklampsia terjadi pada umur kehamilan diatas 20 minggu. Sp. Definisi Preeklampsia Preeklampsia merupakan sindrom spesifik kehamilan berupa berkurangnya perfusi organ akibat vasospasme dan aktivasi endotel.S 28/09/15 O A P Os mengatakan sudah tidak ada keluhan KU: Baik Kes: CM TTV : TD: 120/90 mmHg. tetapi dapat juga timbul kapan saja pada . Nadi: 80 x/ menit.OG: pasien boleh pulang BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Suhu: 36. yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah dan proteinuria. paling banyak terlihat pada umur kehamilan 37 minggu. Yanuarman.

10% terjadi sebelum usia kehamilan 27 minggu. gagal ginjal. disfungsi hepatik.2 Eklampsia ialah kejadian akut pada wanita hamil.4 B. dan 20% setelah 37 minggu. Kelainan ini pertama kali dijelaskan oleh Weinstein pada tahun 1982.3 Hellp Syndrome Sindroma HELLP adalah kelainan multisistem yang merupakan komplikasi kehamilan dengan pemeriksaan laboratorium menandakan hemolisis. dan trombositopenia. Kebanyakan wanita kulit putih dengan sindrom HELLP adalah multipara. atau nifas yang ditandai dengan adanya gejala tanda tanda preeklampsi disertai dengan kejang atau koma. Preeklampsia dapat berkembang dari preeklampsia yang ringan sampai preeklampsia yang berat. Kelainan ini dapat berupa murni komplikasi PEB atau merupakan fenomena sekunder pada pasien dengan adult respiratory distress syndrome (ARDS). dan kerusakan organ multipel dengan DIC. Sindrom HELLP postpartum biasanya terjadi pada 48 jam pertama pada wanita dengan proteinuria dan hipertensi yang terjadi saat .pertengahan kehamilan. Pada kondisi seperti ini. Tanda khas eklampsia yaitu adanya kejang tonik-klonik yang timbul pada wanita dengan hipertensi dalam kehamilan.5-0. Epidemiologi Sindroma HELLP terjadi pada kira-kira 0. elevated liver enzyme (EL). Rerata usia kehamilan pada wanita dengan sindrom HELLP lebih tinggi pada wanita dengan preekalmpsia. Sekitar 70% kasus sindrom HELLP terjadi sebelum persalinan dengan frekuensi tertinggi pada usia kehamilan 27-37 minggu.9% dari semua kehamilan dan 10 sampai 20% pada kasus dengan PEB. Eklampsi sering timbul pada trimester akhir kehamilan dan semakin sering terjadi apabila kehamilan mendekati aterm.1 Eklampsia Eklampsia merupakan komplikasi serius dari kehamilan ditandai dengan timbulnya satu atau lebih kejang yang berhubungan dengan sindrom preeklampsia. dalam persalinan. dan kemudian disebut sindroma HELLP yang merupakan akronim dari hemolysis (H).4 Sindroma HELLP paling sering berhubungan dengan preeklampsia berat atau eklampsia. low platelets (LP). resiko kematian maternal dan perinatal meningkat. namun juga bisa didiagnosis tanpa diawali kelainan-kelainan tersebut.

pasien sindrom HELLP secara bermakna lebih tua (rata-rata umur 25 tahun) dibandingkan pasien preeklampsi-eklampsi tanpa sindrom HELLP (rata-rata umur 19 tahun). Faktor Resiko HELLP Syndrome D. Etiopatogenesis Etiologi dan patogenesis dari sindroma HELLP ini selalu dihubungkan dengan preeklampsia. saat terjadinya khas. namun tidak terjadi pada 10-20% kasus. Faktor Resiko Faktor risiko sindrom HELLP berbeda dengan preeklampsi (Tabel 1). walaupun pada 11% pasien muncul pada umur kehamilan <27 minggu. Pada masa post partum. namun dalam dekade terakhir ini perhatian terfokus pada aktivasi atau disfungsi dari sel endotel. Saat ini ada empat buah hipotesis yang sedang diteliti untuk mengungkapkan etiologi dari preeklampsia. Dalam laporan Sibai dkk (1986). . maladaptasi imun dan penyakit genetik.2 Tabel 1. Wanita dengan sindrom HELLP biasanya disertai hipertensi dan proteinuria.2 Sindrom ini biasanya muncul pada trimester ke tiga. pada masa antepartum sekitar 69% pasien dan pada masa postpartum sekitar 31%. Very Low Density Lipoprotein versus aktivitas pertahanan toksisitas.persalinan. 5 C. Sekitar 50% kasus sindrom HELLP diawali dengan edem anasarka. walaupun etiologi dan patogenesis dari preeklampsia sampai saat ini juga belum dapat diketahui dengan pasti. dalam waktu 48 jam pertama post partum. Banyak teori yang dikembangkan dari dulu hingga kini untuk mengungkapkan patogenesis dari preeklampsia. yaitu : iskemia plasenta. Tetapi apa penyebab dari perubahan endotel ini belum juga diketahui dengan pasti. lnsiden sindrom ini juga lebih tinggi pada populasi kulit putih dan multipara.

≤ 100. Low Platelet counts (LP). yaitu Hemolysis (H).Terjadinya sindroma HELLP merupakan manifestasi akhir kerusakan endotel mikrovaskular dan aktivasi platelet intravaskular. Hemolysis + low platelet counts (H+LP).000 . Pada sindroma HELLP terjadi anemia mikroangiopati akibat fragmentasi.000/mm 3 dan kelas III jumlah platelet > 100. Dan sindroma HELLP murni apabila dijumpai perubahan pada ketiga parameter tersebut. Klasifikasi Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium. E. Menurut klasifikasi ini. Selanjutnya sindroma HELLP partial dapat dibagi atas beberapa sub grup. proses imunologis maupun peningkatan jumlah radikal bebas. Menurut Audibert dkk. kelas II jumlah platelet > 50. Penurunan jumlah platelet pada sindroma HELLP disebabkan oleh meningkatnya komsumsi atau destruksi platelet. ada dua klasifikasi pada sindoma HELLP. triangular cell dan burr cell5 Pada sindroma HELLP terjadi perubahan pada hepar.≤ 150.000/ mm3. penurunan produksi prostasiklin. Meningkatnya komsumsi platelet terjadi karena agregasi platelet yang diakibatkan karena kerusakan sel endotel. Martin mengelompokkan penderita sindroma HELLP dalam 3 kategori. schistoscytes. yaitu: kelas I jumlah platelet ≤ 50. Klasifikasi yang kedua hanya berdasarkan jumlah platelet. Pada gambaran histopatologisnya terlihat nekrosis parenkim periportal atau fokal yang disertai dengan deposit hialin dari bahan seperti fibrin yang terdapat pada sinusoid. Pada kasus yang berat dapat dijumpai adanya pendarahan intrahepatik dan hematom subkapsular atau ruptur hepar. Pada gambran darah tepi akan terlihat gambaran spherocytes. dikatakan sindroma HELLP partial apabila hanya dijumpai satu atau lebih perubahan parameter sindroma HELLP seperti hemolysis (H). elevated liver enzymes (EL) dan low platelet (LP).1 . Adanya mikrotrombi dan deposit fibrin pada sinusoid tersebut menyebabkan obstruksi aliran darah di hepar yang akan merupakan dasar terjadinya peningkatan enzim hepar dan terdapatnya nyeri perut kwadran kanan atas. Gambaran nekrosis seluler dan pendarahan dapat terlihat dengan MRI.000/mm3.000 . sel darah merah akan lebih mudah keluar dari pembuluh darah yang telah mengalami kebocoran akibat kerusakan endotel dan adanya deposit fibrin. dan hemolysis + elevated liver enzymes (H+EL).

Pasien sindrom HELLP biasanya menunjukkan peningkatan berat badan yang bermakna dengan udem menyeluruh. Sebagian besar pasien (90%) mempunyai riwayat malaise selama beberapa hari sebelum timbul tanda lain.7 Dalam laporan Weinstein. yang dihambat oleh deposit fibrin intravaskuler. Hal yang penting adalah bahwa hipertensi berat (sistolik160 mmHg. diastolic 110 mmHg) tidak selalu ditemukan. 14. yang lain bergejala seperti infeksi virus. Manifestasi Klinis Pasien sindrom HELLP dapat mempunyai gejala dan tanda yang sangat bervariasi. Klasifikasi HELLP Syndrome F. beberapa mengeluh mual dan muntah (50%).5% bertekanan darah diastolic 90 mmHg. mual dan/atau muntah dan nyeri epigastrium diperkirakan akibat obstruksi aliran darah di sinusoid hati.Tabel 2.7 Pasien biasanya muncul dengan keluhan nyeri epigastrium atau nyeri perut kanan atas (90%). dari yang bernilai diagnostic sampai semua gejala dan tanda pada pasien preeklampsi-eklampsi yang tidak menderita sindrom HELLP. Walaupun 66% dari 112 pasien pada penelitian Sibai dkk mempunyai tekanan darah diastolic 110 mmHg. Penegakkan Diagnosa .7 G.

Beberapa peneliti menganjurkan terminasi kehamilan dengan segera tanpa memperhitungkan usia kehamilan.000.000 untuk menentukan trombositopenia yang buruk. patologi yang signifikan seperti ruptur hepar atau subkapsular hematom dapat terjadi pada pasien dengan sindroma HELLP sebelum penurunan trombosit di bawah 100.000-150. mengingat besarnya resiko maternal serta jeleknya luaran perinatal apabila kehamilan diteruskan.Diagnosis sindroma HELLP yang paling pasti dengan adanya tanda-tanda dan gejala preeklampsia-eklampsia pada pasien hamil bersama dengan tiga serangkai kelainan laboratorium menunjukkan hemolisis mikroangiopati. Diagnosis sindroma HELLP3 Melihat progresi alaminya. Selain itu. Penatalaksanaan Sampai saat ini penanganan sindroma HELLP masih kontroversi.000). H. disebut sebagai morbiditas ganda bagi ibu. Beberapa peneliti lain menganjurkan pendekatan yang konservatif untuk mematangkan paru-paru janin dan memperbaiki gejala . disfungsi hepar dan trombositopenia. tampak bahwa trombositopenia terjadi pertama kali kemudian diikuti oleh peningkatan enzim hati.5 Tabel 3. Tingkat penurunan trombosit biasanya 35-50% per 24 jam (rata-rata penurunan harian 40.000) bekerjasama dengan fungsi hati yang abnormal dan peningkatan laktat dehidrogenase (LDH). dan akhirnya hemolisis. Meskipun dianggap sebagai standar emas. biopsi hati jarang diperlukan untuk menegakkan diagnosis. Membutuhkan hitungan kurang dari 100. Temuan histologis umum di biopsi tersebut meliputi perdarahan periportal dan deposit fibrin di sinusoid hati. ketika pasien dengan preeklamsia berat mengalami gejala ringan trombositopenia (trombosit = 100.

perdarahan dan lobular nekrosis. Namun semua peneliti sepakat bahwa terminasi kehamilan merupakan satu-satunya terapi defenitif. jumlah penumpukan fibrin.8 Penanganan sindroma HELLP lebih sulit bila dibandingkan dengan penanganan preeklampsia. Prioritas pertama adalah stabilisasi kondisi ibu terutama terhadap tekanan darah.8 Karena sifat progresif dari penyakit. janin dievaluasi dengan melacak denyut jantung janin. pasien tersebut harus selalu dirawat di rumah sakit dengan istirahat yang ketat dan perawatan dalam proses persalinan karena potensi untuk memuburuknya kondisi ibu atau janin secara tiba-tiba. disamping itu perlu penanganan multi disiplin. Pasien yang didiagnosis dengan sindroma HELLP sebelum 35 minggu harus dipindahkan ke perawatan tersier.8 . Kadang-kadang hasil pemeriksaan laboratorium tidak menggambarkan jauhnya kerusakan yang terjadi pada jaringan hepar. Transfusi dan pemberian trombosit sering diperlukan untuk membrantas anemi ataupun koagulopati. Setelah penilaian status dan stabilisasi ibu. Pemberian trombosit dapat dipertimbangkan apabila kadar trombosit kurang dari 50. Kontrol terhadap tekanan darah yang tinggi perlu segera dilakukan. pemberian sulfas magnesikus masih merupakan pilihan utama. Itulah sebabnya beberapa peneliti seperti Weinstein kurang menyetujui penanganan konservatif dan lebih menganjurkan untuk segera melakukan terminasi kehamilan. apalagi jika seksio sesarea akan dilakukan. terutama bila dijumpai tanda-tanda iritabilitas syaraf pusat dan kegagalan ginjal. apalagi pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal. Seperti penanganan preeklampsia. tetapi pemberian transfusi darah harus hati-hati dengan memperhitungkan keseimbangan cairan. dan ultrasonografi.000 /mm3. balans cairan dan abnormalitas pembekuan darah.klinis ibu .

gagal ginjal. atau adanya tanda-tanda kegawatdaruratan janin atau jika terdapat komplikasi sindroma HELLP seperti MOD.5 Sindroma HELLP bukan merupakan indikasi untuk operasi caesar. mirip dengan kondisi inflamasi pada preeklamsia berat. Sindroma HELLP dianggap sebagai sindrom respon inflamasi sistemik.Tabel 1 Penatalaksanaan sindroma HELLP5 Persalinan yang segera diindikasikan pada pasien dengan usia kehamilan diatas 34 minggu. selain untuk indikasi membantu kematangan paru-paru janin. edema pulmonum. infark hati atau perdarahan. Persalinan pervaginam diupayakan pada pasien dengan kehamilan di atas 32 . antiinflamasi atau agen imunosupresif seperti kortikosteroid diberikan sebagai pertimbangan untuk pengobatannya. DIC. Tidak ada konsensus mengenai penggunaan steroid dosis tinggi seperti dexamethasone (10mg setiap 12 jam IV) pada kelas 1 dan 2 sindroma HELLP atau kelas 3 sindrom HELLP yang rumit.

terus berlanjut sampai periode intrapartum. Pada pasien dengan usia kehamilan kurang dari 30 minggu dengan serviks yang kurang baik (Bishop skor <5) dan tidak adanya persalinan aktif. Ini dimulai pada awal periode observasi. atau adanya persalinan aktif atau pecah ketuban.minggu. dan kemudian selama 24-48 jam postpartum. operasi caesar merupakan pilihan yang lebih baik. Seksio sesaria elektif juga dianjurkan untuk pasien dengan retardasi pertumbuhan janin atau oligohidramnion. Pemantauan serial tekanan darah diindikasi pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal dengan serum kreatinin lebih dari 1 mg / dl. labetalol dan nifedipin. Regimen standar termasuk dosis awal 6 gram magnesium lebih dari 20 menit diikuti dengan dosis pemeliharaan dua gram per jam secara intravena.5 Tabel 2 Antihipertensi pada Sindroma HELLP5 I. Tekanan darah harus diperiksa setiap 15 menit selama pemberian terapi antihipertensi. Magnesium sulfat harus diberikan selama proses persalinan dan awal postpartum untuk profilaksis terhadap kejang tanpa memandang tekanan darah. dan setelah stabil daat dievaluasi setiap jam. dan atau tekanan diastolik lebih dari 105 untuk menghindari pendarahan intraserebral. Antihipertensi yang menjadi pilihan adalah hydralazine. Komplikasi  Komplikasi terhadap ibu . antihipertensi yang digunakan untuk tekanan darah sistolik di atas 160. Seperti pada pasien dengan preeklamsia berat.

Sibak dkk melaporkan angka kematian ibu pada sindroma HELLP 1.Angka kematian ibu dengan sindrom HELLP mencapai 1. adult respiratory distress syndrome. dengan komplikasi seperti DIC ( 21%).6 . solusio plasenta (16%). solusio plasenta.7%). udema pulmonum (6%). hipoksi intrauterin.9%). disebabkan oleh solusio plasenta. hematom subkapsular. Anak yang ibunya menderita sindroma HELLP mengalami perkembangan janin terhmbat ( IUGR) dan sindroma kegagalan pernapasan. Angka morbiditas dan mortalitas pada anak berkisar 10 – 60% tergantung dari keparahan penyakit ibu. Sindroma HELLP kelas 1 merupakan resiko terbesar untung berulang. dan rupture hati. dan prematur. Prognosis Penderita HELLP mempunyai kemungkinan 19 – 27% untuk mendapat resiko sindroma ini pada kehamilan berikutnya. udem paru.1%.3  Komplikasi terhadap bayi Angka kematian bayi berkisar 10-60%.9%) dan ablasio retina (0. gagal ginjal akut ( 7. hematom subkapsular hepar (0.1%.3 J. Dan mempunyai resiko sampai 43% untuk mendapat preeklampsia pada kehamilan berikutnya. 1-25% berkomplikasi serius seperti DIC. kegagalan hepatorenal. Pengaruh sindrom HELLP pada janin berupa pertumbuhan janin terhambat (IUGR) sebanyak 30% dan sindrom gangguan pernafasan (RDS).